• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi pembayaran uang iwadh di pengadilan agama Cibinong

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Implementasi pembayaran uang iwadh di pengadilan agama Cibinong"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI PEMBAYARAN UANG IWADH

DI PENGADILAN AGAMA CIBINONG

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Syariah (S.Sy)

OLEH :

ZULFIKAR AWALUDIN HELMI NIM 1111044100052

K O N S E N T R A S I P E R A D I L A N A G A M A

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

J A K A R T A

(2)

IMPLEMENTASI PEMBAYARAN UANG IWADH DI PENGADILAN AGAMA CIBINONG

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Syariah (S.Sy) Oleh:

Zulfikar Awaludin Helmi Nim 1111044100052

Di Bawah Bimbingan Pembimbing

Drs. Wahyu Widiana, MA NIP. 195209181978031003

K O N S E N T R A S I P E R A D I L A N A G A M A

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

J A K A R T A

(3)
(4)

LEMBARAN PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Strata 1 di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Ciputat, Juni 2015

(5)

ABSTRAK

Zulfikar Awaludin Helmi. NIM (1111044100052) “Implementasi Pembayaran Uang Iwadh di Pengadilan Agama Cibinong” Konsentrasi Peradilan Agama, Program Study Hukum Keluarga, Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, tahun 2015M/1436H, ix+68+38.

Khulu‟ merupakan suatu perceraian dimana seorang isteri membayar sejumlah uang sebagai iwadh (penggangti) kepada suaminya. Iwadh merupakan rukun yang harus ada apabila ingin melakukan khulu‟. Dalam hadist yang mengatur tentang khulu‟ disebutkan bahwa iwadh ini diberikan kepada suami, namun prakteknya di pengadilan agama tidak mesti di serahkan kepada suami. tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: 1)Untuk mengetahui penerimaan dan penyaluran uang iwadh di Pengadilan Agama Cibinong, 2)Untuk mengetahui bagaimana pandangan hukum Islam mengenai implementasi pembayaran uang iwadh tersebut. Dari penelitian ini penlis berfokus pada penerimaan dan penyaluran uang iwadh di Pengadilan Agama Cibinong.

Penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan jenis penelitian normatif empiris, dengan metode kualitatif dengan cara wawancara agar mendapatkan informasi terkait penulisan skripsi ini. Sedangkan sumber datanya berasal dari Pengadilan Agama Cibinong dan dokumen-dokumen yang lain tentang uang iwadh. Analisis yang dipakai adalah analisis kualitatif dengan cara mendeskripsikan dokumen atau berkas pelaporan uang iwadh yang didapat dari Pengadilan Agama Cibinong dan menghubungkan dengan hasil wawancara terhadap hakim dalam menerapkan pelaksanaan uang iwadh tersebut,sehingga dapat ditarik kesimpulan untuk menjawab permasalahan. Penulis belum menemukan penelitian tentang uang iwadh ini adapun penelitian-penellitian yang penulis temukan membahas tentang khulu‟ tidak berfokus pada uang iwadh.

Temuan dari penelitian penulis bahwa implementasi penerimaan dan penyaluran uang iwadh (tebusan) di Pengadilan Agama Cibinong tidak menyalahi aturan yang berlaku. Dalam prakteknya uang iwadh tersebut tidak diberikan kepada suami tetapi diberikan kepada Badan Kas Masjid Pusat untuk kepentingan ibadah sosial yang besarannya Rp. 10.000. Sebagaimana diatur dalam PMA No. 02 tahun tahun 1990 Pasal 11 jo Peraturan Menteri Agama No. 23 tahun 2007 Pasal 23 jo KMA No. 441 tahun 2000.

Dalam hukum Islam tidak terjadi perbedaan pendapat mengenai penyerahan uang iwadh tersebut diserahkan kepada selain suami, namun harus melalui suami terlebih dahulu atau suami telah setuju diberikan kepada yang lain demi kepentingan ibadah dengan alasan qawaid fiqhiyah:

ىلع

لس لا

(6)

Karena uang iwadh di pengadilan agama dilakukan apabila adanya pelanggaran taklik talak.

Kata kunci: khulu’, uang iwadh, Pengadilan Agama Cibinong

(7)

v

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat sehat jasmani dan rohani sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan karya ilmiah ini. Sholawat serta salam tidak lupa juga penulis panjat kepada junjungan baginda alam Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, kepada sahabatnya, serta kepada kita semua selaku umatnya semoga akan mendapatkan syafaatnya di akhirat nanti.

Alhamdulillah, penulis telah menyelesaikan skripsi dengan judul “Implementasi Pembayaran Uang Iwadh di Pengadilan Agama Cibinong” sebagai

syarat kelulusan untuk menerima gelar Sarjana Syariah (S.Sy) pada Fakultas Syariah dan Hukum di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Penulis menyadari dalam penyelesaian penulisan skripsi ini banyak mendapat bantuan dan motivasi dari berbagai pihak. Untuk itu sudah sepatutnya penulis mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada:

1. Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Asep Saepudin Jahar, MA.

2. Ketua Jurusan Prody Ahwal As-Sakhsiyah Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. H. Abdul Halim, M.Ag Beserta Sekretaris Jurusan Prody Ahwal As-Sakhsiyah Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Arip Purqon, MA. 3. Drs. H. Wahyu Widiana, MA, selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan

(8)

vi

4. Afwan Faizin, MA, selaku dosen pembimbing akademik, yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan dalam menentukan judul dan penulisan proposal skripsi.

5. Kedua orang tua penulis ayah Safrudin Helmi, S.Pd.I dan ibu Yoyoh Istiharah. Dan juga kepada kedua adik penulis yaitu Rizal Fahrudin dan Nazwa Hilmina Putri, dan juga kepada bibi penulis Leli Budiawati S.Pd Serta keluarga yang lainnya yang telah memotivasi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

6. Dosen-dosen Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif HIdayatullah Jakarta yang telah memberikan ilmu serta pengarahan kepada penulis sewaktu menempuh perkuliahan.

7. Penjaga perpustakaan Fakultas Syariah dan Hukum serta Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang telah memberikan pelayanan jepada penulis dengan mengadakan referensi-refensi yang dibutuhkan dalam menyeesaikan skripsi ini.

8. Kepada teman-teman Peradilan Agama angkatan 2011, khususnya kepada Didi Nahtadi. Kepada sahabat KKN Chanvash 2014 khususnya yang terbentuk dalam kelompok belajar Ratih Karina, Fadriani, Riski Abdul Basith. Kepada Keluarga Besar Mahasiswa Peradilan Agama (KBPA). Kepada Pelatih serta teman-teman dari Kelatnas Indonesia Perisai Diri. Kepada sahabat dan sahabati PMII Komisariat Fakultas Syariah dan Hukum (komfaksyahum). Kepada dulur-dulur HIMABO (Himpunan Mahasiswa Bogor).

(9)

vii

menyebutkannya satu-persatu namun tidak mengurangi rasa hormat dan terima kasih dari penulis.

Akhirnya hanya kepada Allah SWT, penulis serahkan semoga pihak-pihak yang telah membantu dalam penyusan skripsi ini dibalas segala kebaikannya dengan berlipat ganda. Dan yang terakhir semoga skrip ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya, umunya bagi para pembaca. Untuk itu penulis mengharapkan masukan atau kritikan yang membangun agar dapat memperbaiki kekurangan-kekurangan dalam penulisan skripsi ini atau penulisan-penulisan yang lain.

Ciputat, Juni 2015

(10)

viii

DAFTAR ISI

LEMBAR PERNYATAAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah.………..….……… 1

B. Identifikasi Masalah…….……….……… 7

C. Pembatasan dan Rumusan Masalah….………... 8

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian……….………..…..…….. 9

E. Study Ilmu Terdahulu………...…………..……… 9

F. Metode Penelitian……….…... 11

G. Sistematika Penulisan……….……... 13

BAB II KHULU‟ DAN UANG IWADH A. Pengertian Khulu‟ dan Uang Iwadh………...………14

B. Dasar Hukum Khulu‟……….……... 16

C. Tujuan dan Hikmah………... 19

D. Rukun dan Syarat ………..……... 21

E. Akibat Khulu………..……….. 27

BAB III CERAI GUGAT DI PENGADILAN AGAMA CIBINONG A. Profil Pengadilan Agama Cibinong………... 30

B. Visi dan Misi………. ……... 32

C. Yurisdiksi………... 33

(11)

ix

E. Cerai Gugat di Pengadilan Agama Cibinong……... ……... 40

BAB IV PENERIMAAN DAN PENYALURAN UANG IWADH DI PENGADILAN AGAMA CIBINONG

A. Penerimaan dan Penyaluran Uang Iwadh………… ……... 48 B. Pandangan Hukum Islam………...……... 61

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan……….………... 62 B. Saran-saran……….………….. 63 DAFTAR PUSTAKA………...……….……... 65

(12)

1

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perkawinan merupakan suatu kebutuhan sosial sebagaimana seseorang membutuhkan kepuasan rohani tidak hanya mengejar kepuasan jasmani saja. Untuk itu melalui perkawinan kita dapat memenuhi kepuasan rohani kita. Karena dengan adanya perkawinan itu persetubuhan yang diharamkan menjadi halal.

Perkawinan menurut bahasa ialah berkumpul, sedangkan menurut ahli ushul ialah akad yang dengan akad ini menjadi halal hubungan kelamin antara pria dan wanita. Dan menurut ulama fikih adalah akad yang diatur oleh agama untuk memberikan hak kepemilikan pria dalam penggunaan faraj isteri.1 Hukum asal suatu perkawinan adalah mubah, namun bisa berubah menjadi wajib, haram, dan sunnah,2 adapun yang menyatakan hukumnya makruh.3

Sudah kita ketahui di mana ada perkawinan mungkin ada perceraian, adalah suatu hal yang mungkin terjadi. Karena dalam menjalani hidup pasti ada cobaan, begitupun dalam perkawinan pasti ada cobaan-cobaan. Memang pada dasarnya tujuan dari perkawinan itu adalah untuk menciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Tetapi dalam menggapai tujuan itu kadang kala

terasa sulit, sehingga terjadilah perceraian.

1

Hosen, Ibrahim, Fiqh Perbandingan dalam Masalah Perkawinan, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2003), h. 115-116.

2Sholeh, Asrorun Ni‟am,

Fatwa-fatwa Masalah Pernikahan dan Keluarga, (Jakarta eLSAS, 2008), h. 6.

3

(13)

Perceraian dalam bahasa Arabnya disebut “talak” yang artinya

lepasnya ikatan atau pembebasan4. Menurut istilah perceraian adalah melepas tali perkawinan pada waktu sekarang atau pada waktu yang akan datang5. Menurut istilah fiqih, thalaq disebut juga khulu‟, artinya melepaskan dan menghilangkan,6 atau membuka sesuatu jika yang minta cerai itu pihak isteri. Perceraian merupakan suatu yang dapat memutuskan pernikahan. Jadi dengan perceraian itu status suami isteri yang mereka dapat melalui perkawinan tidak lagi didapatkan.

Khulu‟ adalah suatu perceraian di mana seorang isteri membayar

sejumlah uang sebagai iwadh (penggangti) kepada suaminya. Inipun masih tergantung pada kesediaan suami untuk menerima iwadh, karena tanpa persetujuannya tidak akan terjadi khulu‟.7

Sebagaimana dalam Hadist yang menceritakan bahwa isteri Tsabit bin Qais datang menemui Rasululah SAW, dan ia mengemukakan alasannya untuk bercerai, maka Rasulullah bertanya apakah engkau bersedia mengembalikkan apa yang telah ia berikan, kemudian ia menjawab “ya”, dan Rasulullah

memerintahkan Tsabit bin Qais untuk menerimanya dan menceraikannya.8

4

Az-Zuhaili, Wahbah, Fiqih Islam 9. Penerjemah Abdul Hayyie Al-Kattani(Jakarta: Gema Insani, 2011), h. 318.

5

Sopyan, yayan, Islam Negara, (Jakarta: PT. Semesta Rakyat Merdeka, 2012), h. 173. 6

Az-Zuhaili, Wahbah, Fiqih Islam 9. Penerjemah Abdul Hayyie Al-Kattani (Jakarta: Gema Insani, 2011), h. 418.

7

Ahmad, Zaini Noeh, Peradilan Agama Islam di Indonesia, (Jakarta PT Intermasa, 1979), h. 210.

8

(14)

3 Adapun Menurut Undang-undang No. 1 Tahun 1974 Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa9. Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) disebutkan bahwa perkawinan menurut Hukum Islam adalah pernikahan yaitu akad yang sangat kuat atau miitsaaqan ghaliidzan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah10.

Selain itu untuk melakukan perkawinan harus terpenuhi rukun dan syarat perkawinan, sebagaimana dalam KHI Pasal 14 mengatur tentang rukun perkawinan11, sedangkan syarat perkawinan itu sendiri diatur dalam Bab II UU No. 1 Tahun 1974.12

Sedangkan talak dalam KHI adalah ikrar suami di hadapan sidang pengadilan agama yang menjadi salah satu sebab putusnya perkawinan. Talak terbagi menjadi talak raj‟i, dan talak ba‟in. Talak raj‟i adalah talak satu atau dua

dan boleh rujuk selama masih dalam masa iddah. Sedangkan talak bain itu terbagi dua, yaitu talak bain sughra dan kubra13. Talak bain sughra yaitu talak yang berupa talak satu atau dua dan tidak dapat rujuk tetapi dapat menikah kembali dengan akad yang baru, dan talak bain kubra adalah talak yang dijatuhkan ketiga

9

Subekti, R. S. Tjitrosudibio, R. KUHPer dengan tambahan UUPA dan Undang-undang Perkawinan. ,(Jakarta: PT Pradnya Paramita, 2013), h. 537.

10

Abdurrahman. Kompilasi Hukum Islam. (Jakarta: Akademika Presindo, 2010), h. 144. 11

Abdurrahman. Kompilasi Hukum Islam. (Jakarta: Akademika Presindo, 2010), h. 116. 12

Subekti, R. S. Tjitrosudibio, R. KUHPer dengan tambahan UUPA dan Undang-undang Perkawinan. (Jakarta: PT Pradnya Paramita, 2013), h. 539.

13

(15)

kalinya.14 Pada talak bain sughra yang mengajukan perceraian ialah dari pihak isteri yang diajukan ke pengadilan yang kemudian apabila gugatannya diterima maka hakim akan memutus perceraian tersebut dan memerintahkan suami untuk menjatuhkan talak ataupun dapat juga pihak isteri harus menyerahkan uang tebusan (iwadh) agar suami dapat menceraikannya, dalam Islam lebih dikenal

khulu‟. Dalam talak bain sughra suami isteri tidak dapat rujuk selama dalam masa

iddah, tetapi apabila mereka ingin kembali harus dengan akad yang baru, sedangkan dalam talak bain kubra suami isteri tidak dapat rujuk selama dalam masa iddah dan juga tidak boleh menikah dengan akad yang baru sampai si isteri itu menikah lagi dengan laki-laki lain dan bercerai, setelah masa iddah dengan laki-laki itu habis maka isteri boleh dinikahi kembali dengan suami pertamanya dengan akad yang baru.

Oleh Karena itu khulu‟ adalah perceraian yang terjadi dalam bentuk mengurangi jumlah talak dan tidak dapat dirujuk,15 Hal ini berdasarkan KHI Pasal 161. Jika seorang isteri tidak mempunyai sesuatu apapun yang dapat digunakan untuk menebus dirinya, atau ia memiliki sesuatu tetapi suami tidak mau menerimanya dan ingin mempertahankannya sebagai isteri, sedangkan masih melakukan penganiayaan, dalam masalah ini Islam telah membentangkan jalan bagi isteri untuk mengadukan kasus tersebut kepada hakim, dan megajukan masalah tersebut dengan jelas dan lengkap dengan bukti-bukti yang ada.16

14

Ramulyo, M. Idris, Tinjauan Beberapa Pasal UU No. 1 Tahun 1974 Dari Segi Hukum Perkawinan Islam. (Jakarta: Ind-Hillco 1990), h. 80-81.

15

Ali, Zainuddin, Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2006), h. 78. 16

(16)

5 Berkenaan dengan cerai gugat, gugatan perceraian diajukan oleh isteri atau kuasanya kepada pengadilan agama yang daerah hukumnya mewilayahi tempat tinggal penggugat. Hak untuk memohon memutuskan ikatan perkawinan ini dalam hukum Islam di sebut khulu‟, yaitu perceraian atas keinginan isteri tetapi suami tidak menghendaki. Tentunya dalam mengajukan gugatan itu setidaknya harus terpenuhi satu alasan-alasan perceraian17 sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Perkawinan atau Peraturan Pemerintah atau Kompilasi Hukum Islam.

Perceraian dengan jalan khulu‟ di pengadilan agama harus disertai adanya alasan perceraian atau pelanggaran taklik talak dari pihak suami. Adapun yang dimaksud taklik talak berarti “penggantungan talak”. Taklik talak menurut

pengertian di Indonesia ialah semacam ikrar yang dengan ikrar itu suami menggantungkan terjadinya suatu talak atas isterinya apabila ternyata dikemudian hari melanggar salah satu atau semua yang telah diikrarkannya.18

Bagi masyarakat Indonesia telah tersedia seperangkat hukum positif yang mengatur perceraian19, baik itu yang di lakukan oleh suami atau isteri yang di ajukan ke pengadilan. Dan mengenai uang iwadh dalam KHI di terangkan dalam Pasal 14820, yaitu:

17

Nuruddin, Amiur, dan Tarigan, Azhari Akmal, Hukum Perdata Islam di Indonesia (Studi Kritis Perkembangan Hukum Islam dari Fikih, UU No. 1 tahun 1974 Sampai KHI), (Jakarta: Prenada Media 2004), h. 232-233.

18

Manan, Abdul, Penerapan Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Agama,

(Jakarta: Yayasan Al-Hikmah, 2000), h. 246. 19

Farida, Anik, Perempuan dalam Sistem Perkawinan dan Perceraian di Berbagai Komunitas dan Adat, Departemen Agama RI Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta 2007,h. 26.

20

(17)

1. Seorang isteri yang mengajukan gugatan perceraian dengan jalan khuluk‟, menyanpaikan permohonannya kepada pengadilan agama yang mewilayahi tempat tinggalnya disertai alasan atau alasan-alasannya.

2. Pengadilan agama selambat-lambatnya satu bulan memanggil isteri dan suaminya untuk didengar keterangannya masing-masing.

3. Dalam persidangan tersebut pengadilan agama memberikan penjelasan tentang akibat khulu, dan memberikan nasehat-nasehatnya.

4. Setelah kedua belah pihak sepakat tentang besarnya iwadh atau tebusan, maka pengadilan agama memberikan penetapan tentang izin bagi suami untuk mengikrarkan talaknya di depan sidang pengadilan agama. Terhadap penetapan itu tidak dapat dilakukan upaya banding dan kasasi.

5. Penyelesaian selanjutnya ditempuh sebagaimana yang diatur dalam pasal 131 ayat (5).

6. Dalam hal tidak tercapai kesepakatan tentang besarnya iwadh atau tebusan pengadilan agama memeriksa dan memutusk sebagai perkara biasa.

Besarnya uang iwadh diatur dalam Keputusan Menteri Agama No. 441 tahun 2000 yang besarnya adalah Rp. 10.000,00.21 Namun di Indonesia ini kita ketahui perceraian itu harus dilakukan di depan pengadilan, maka perceraian yang diajukan oleh isteripun harus diputus di depan pengadilan begitupun dengan adanya tebusan (uang iwadh) itu diserahkan melalui pengadilan tidak langsung kepada suami. Beranjak dari sini maka penulis akan mengangkat permasalahan

21

(18)

7 tersebut dalam penulisan skripsi dengan judul “IMPLEMENTASI

PEMBAYARAN UANG IWADH DI PENGADILAN AGAMA CIBINONG”.

B.Identifikasi Masalah

Sebagaimana telah dipaparkan dalam latar belakang di atas maka muncullah permasalahan-permasalahn yang telah ada sebelumnya atau bahkan permasalahan yang baru setelah adanya penelitian-penelitian. Untuk itu dari latar belakang di atas dapat di jabarkan beberapa identifikasi masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana implementasi pembayaran uang iwadh di Pengadilan Agama Cibinong ?

2. Bagaimana pendapat hakim mengenai implementasi pembayaran uang iwadh tersebut ?

3. Siapa saja yang berhak menerima uang iwadh tersebut ?

4. Apakah ada kesepakatan dalam penentuan besarnya uang iwadh tersebut ? 5. Bagaimana persamaan hak-hak suami isteri dalam perkawinan mengenai

pembayaran uang iwadh tersebut ?

6. Bagaimana pandangan hukum Islam mengenai implementasi pembayaran uang iwadh dalam cerai gugat di Pengadilan Agama ?

C.Pembatasan dan Perumusah Masalah

1. Pembatasan Masalah

(19)

tersebut di Pengadilan Agama Cibinong dalam periode tahun kemarin antara tahun 2012-2015.

2. Perumusan Masalah

Di Indonesia perceraian itu harus dilakukan di pengadilan dan suami atau isteri berhak mengajukan perceraian tersebut tentunya dengan alasan-alasan yang di atur dalam KHI Pasal 11622 jo PP No. 09 tahun 197523 agar pemohonan atau gugatan yang diajukan dapat di terima. Namun peraturan di Indonesia tidak mengatur secara rinci mengenai uang iwadh, padahal dalam kasus di Indonesia cerai yang dilakukan oleh pihak isteri semakin banyak yang akan menimbulkan adanya uang iwadh sebagai tebusan. Uang iwadh tersebut hanya diatur mengenai jumlahnya tidak kepada siapa uang iwadh itu berhak diberikan. Tetapi dalam hadist sudah di jelaskan bahwa uang iwadh diserahkan kepada suami tetapi pada praktiknya di pengadilan tidak sepenuhnya dilakukan sebagaimana dalam hadist tersebut. Untuk itu yang menjadi perumusan masalah dalam penulisan skripsi ini adalah:

a. Bagaimana implementasi pembayaran uang iwadh dalam cerai gugat di Pengadilan Agama Cibinong ?

b. Bagaimana pandangan hukum Islam mengenai implementasi pembayaran uang iwadh dalam cerai gugat di Pengadilan Agama Cibinong ?

D.Tujuan dan Manfaat Penelitian

Adapun tujuan yang ingin di capai dalam penelitian ini adalah:

22

Abdurrahman. Kompilasi Hukum Islam. (Jakarta: Akademika Presindo, 2010), h. 141. 23

(20)

9 1. Untuk mengetahui penerimaan dan penyaluran uang iwadh di Pengadilan

Agama Cininong

2. Untuk mengetahui bagaimana pandangan hukum Islam mengenai implementasi pembayaran uang iwadh tersebut.

Sedangkan manfaat dari penelitian ini adalah:

1. Dapat mengetaui bagaimana penerimaan dan penyaluran uang iwadh di Pengadilan Agama.

2. Dapat menambah keilmuan dalam bidang perkawinan khusunya dalam praktik uang iwadh.

E.Study Ilmu Terdahulu

Setahu penulis belum ada penelitian yang membahas secara khusus tentang uang iwadh, namun karena uang iwadh bertalian dengan khulu‟, maka penulis membandingkannya dengan penelitian mengenai khulu‟ tersebut, dari sini penulis akan mengemukakan perbedaan-perbedaan dari apa yang akan penulis tulis:

No. Nama/Judul/Universitas/Tahun Substansi Perbedaan

1 Erni Purwaningsih “Psikopat sebagai alasan khulu (analisis putusan perkara no. 23/Pdt.G/2011/PA.JB) UIN Jakarta 2013

Apakah psikopat dapat dijadikan sebagai alasan

khulu dan

bagaimana

pendapat hakim

Lebih membahas mengenai

(21)

mengenai

puutusan tersebut

(cerai gugat)

2 Ma‟mun “konsekuensi khulu sebagai solusi konflik dalam perkawinan” (analisis putusan

perkara no.

50/Pdt.G/2008/PA.TNG) UIN Jakarta 2010

Apakah konsekuensi khulu sebagai solusi konflik dalam

perkawinan dan bagaimana

pendapat hakim mengenai

putusan tersebut

Bagaimana uang iwadh tersebut apakah harus diberikan kepada suami atau boleh kepada selain suami (baitul mal)

Dari hasil penelitian-penelitian diatas sudah jelas terlihat perbedaannya dengan penelitian yang akan penulis lakukan. Penelitian di atas dilakukan untuk mengetahui apakah psikopat dapat dijadikan alasan khulu‟ serta konsekuensi

khulu‟ sebagai solusi konflik dalam perkawinan dengan analisis putusan, jadi

dapat kita ketahui dari penelitian diatas lebih focus pada konteks khulu‟ dan putusan. Berbeda dengan penulis yang berfokus pada implementasi pembayaran uang iwadh pada saat cerai gugat atau khulu‟.

F. Metode Penelitian

(22)

11 a. Jenis penelitian yang digunakan penulis adalah jenis normatif empiris dengan pendekatan kualitatif dengan cara wawancara agar mendapatkan informasi terkait penulisan skripsi ini.

2. Sumber data dan proses pengumpulan data a. Data primer

Data primer adalah yang berbentuk dokumen atau berkas yang berisi laporan pembayaran uang iwadh yang didapat dari Pengadilan Agama Cibinong dan hasil wawancara terhadap hakim Pengadilan Agama Cibinong.

b. Data sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari dokumen-dokumen lain di Pengadilan, buku-buku, jurnal, internet dan beberapa penelitian yang berhubungan dengan uang iwadh.

c. Alat pengumpul data

Alat pengumpul data diperoleh dari:

1. Wawancara dengan hakim mengenai implementasi pembayaran uang iwadh tersebut.

2. Dokumentasi berupa berkas-berkas atau dokumen-dokumen tetang pelaporan uang iwadh atau yang lainnya yang di dapatkan dari Pengadilan Agama Cibinong.

d. Analisa data

(23)

yang di dapat dari Pengadilan Agama Cibinong dan menghubungkan dengan hasil wawancara terhadap hakim dalam menerapkan pelaksanaan uang iwadh tersebut,sehingga dapat ditarik kesimpulan untuk menjawab permasalahan.

G.Sistematika Penulisan

BAB I Pendahuluan. Dengan memuat diantaranya: Latar Belakang, Identifikasi Masalah, Pembatasan dan Rumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Study Ilmu Terdahulu, Metode Penilitian, dan Sistematika Penulisan.

BAB II Khulu‟ dan Uang Iwadh. Akan membahas tentang: Pengertian Khulu‟ dan Uang iwadh, Dasar Hukum, Tujuan dan Hikmah, Rukun dan Syarat, Akibat Khulu‟.

BAB III Cerai Gugat di Pengadilan Agama Cibinong: Akan membahas tentang: Profil Pengadilan Agama Cibinong, Visi dan Misi, Yurisdiksi, Struktur Organisasi, Cerai gugat di Pengadilan Agama Cibinong. BAB IV Penerimaan dan Penyaluran Uang Iwadh di Pengadilan Agama

(24)

13

BAB II

KHULU’ DAN UANG IWADH

A. Pengertian Khulu’ dan Uang Iwadh

Khulu‟ secara harfiyah berarti “lepas” atau “copot”.24

Kalimat khulu‟ bermakna pemberian ganti rugi oleh seorang wanita atas talak yang diperolehnya. Khulu‟ ialah pemberian seorang isteri kepada suami atas semua harta yang pernah diberikan suami kepadanya.25 Sedangkan secara istilah khulu‟ adalah terjadinya perpisahan hubungan suami-isteri atas keridhaan kedua belah pihak dengan konpensasi (tebusan) yang diberikan isteri kepada suami.26

Khulu‟ bukanlah talak dalam arti yang khusus atau fasakh atau semacam

sumpah, tetapi khulu‟ adalah semacam perceraian yang mempunyai unsur-unsur talak, fasakh dan sumpah. Khulu‟ dikatakan mempunyai unsur talak karena suamilah yang menentukan jatuh atau tidak khulu‟ tersebut. Isteri hanyalah orang yang mengajukan permohonan kepada suaminya agar mengkhuluknya. Sedangkan unsur fasakh dalam khulu‟ adalah sama halnya dengan fasakh maka permohonan khulu dari pihak isteri kepada suami adalah disebabkan timbulnya rasa kurang senang, tidak suka atau benci sehingga isteri menginginkan perceraian dengan suaminya. Shigat khulu‟ mengandung pengertian

24

Syarifudin, Amir, Garis-Garis Besar Fiqih,( Jakarta:Prenada Media, 2003), h. 131. 25

Rusyd, Ibnu, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtasid Buku II Jilid 3 & 4.

Penerjemah:Abdul Rasyad Shidiq,(Jakarta: Akbar Media, 2013), h. 161. 26

(25)

“penggantungan” dan ganti rugi oleh pihak isteri dengan membayar

iwadh yang telah disepakati jumlahnya.27

Keuntungan khulu‟ tidak tergantung pada adanya ta‟lik atau syarat-syarat lain menurut fiqih, tetapi ruginya harus membayar tebusan. Inipun masih tergantung pada kesediaan suami untuk menerima iwadh itu, karena tanpa persetujuannya tidak akan terjadinya khulu‟. Khulu‟ ini berasal dari kebiasaan masyarakat Arab sebelum Islam, yang semula merupakan pengembalian maskawin atau pemberian-pemberian sewaktu bercerai.28

Dari beberapa pemaparan diatas dapat penulis simpulkan bahwa khulu‟ adalah suatu hak seorang isteri yang dapat mengajukan gugatan cerai kepada suaminya dengan disertai tebusan (uang iwadh) yang telah disepakati.

Khulu‟ tidak dapat lepas dari iwadh atau tebusan, Tebusan (iwadh)

adalah apa yang diambil oleh suami dari isterinya sebagai imbalan pelulusan gugatan cerainya.29 Iwadh merupakan ciri khas dari khulu, Selama iwadh belum diberikan oleh pihak isteri kepada suami, maka selama itu pula tergantungnya perceraian. Setelah iwadh diserahkan oleh pihak isteri kepada pihak suami barulah terjadi perceraian.30

27

Muchtar, Kamal, Asas-asas Hukum Islam Tentang Perkawinan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), h. 182-183.

28

S. Lev, Daniel, Islamic Courts In Indonesia.Penerjemah: Zaini Ahmad Noeh, (Jakarta: PT Inetrmasa, 1986), h. 210.

29

Kamal, Abu Malik bin Salim, As-Sayyid, ShahihFiqh Sunnah. Penerjemah: Khairul Amru Harahap, Faisal Shaleh,( Jakarta:Pustaka Azzam 2009),h. 556.

30

(26)

15 Iwadh atau tebusan harus mempunyai nilai, dan jumlahnya boleh sama, kurang atau lebih dari mahar. Segala sesuatu yang dapat dijadikan mahar dapat dijadikan iwadh atau tebusan.31

B. Dasar Hukum Khulu’

Khulu‟ itu perceraian dengan kehendak isteri. Hukumnya boleh atau

mubah.32 Dasar dari kebolehannya dari Al-Qur‟an adalah firman Allah dalam

surat Al-Baqarah ayat 299:

                                                                        

229. Talak (yang dapat dirujuki) dua kali, setelah itu boleh rujuk lagi dengan

cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi

kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka,

kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum

Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat

menjalankan hukum-hukum Allah, Maka tidak ada dosa atas keduanya tentang

bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum

Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar

hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim. (Q.S.

al-Baqarah:299).33

Adapun dasar dari As-Sunnah adalah hadist dari Ibnu Abbas, yaitu:

31

Mughniyah, Muhammad Jawad, Fikih Lima Mazhab: Ja‟fari, Hanafi, Maliki, Syafi‟I, dan

Hambali. Penerjemah:Masykur A.B, dkk,(Jakarta: PT Lentera Basritama, 1999), h. 457. 32

Syarifudin, Amir, Garis-Garis Besar Fiqih,( Jakarta:Prenada Media, 2003), h. 131. 33

(27)

سراي :تلاقف مَّس هيّع ها ىَّص يَّّلا تتأ سيق نب تبات ةأرما َّأ ساَّع نبا نع سيق نب تباث ،ها

لا هركأ يّ ل ،نيدا قّخ يف هيّع بتعأام نيَدرتأ :مَّس هيّع ه ىَّص ها سر اقف .ماسءاا يفرف

.ًةقيّطت ا قَّط ةقيدح هيّع

Hadist yang menceritakan bahwa isteri Tsabit bin Qais datang menemui

Rasululah SAW, dan ia mengemukakan alasannya untuk bercerai, maka

Rasulullah bertanya apakah engkau bersedia mengembalikkan apa yang telah ia berikan, kemudian ia menjawab “ya”, dan Rasulullah memerintahkan Tsabit

bin Qais untuk menerimanya dan menceraikannya.34

Khulu‟ yang terdapat dalam Al-Qur‟an dan As-Sunnah diatas yaitu

seorang wanita yang membenci suaminya dan meminta cerai. Lalu dia mengembalikan mahar atau sebagainya sebagai tebusan atas dirinya, seperti uang tebusan atas tawanan.35 Hadist diatas memberi petunjuk mengenai beberapa hal yang harus diperhaitikan jika ingin melakukan khulu‟ oleh isteri. Hadist ini telah jelas meletakkan isteri sebagai subjek hukum yang mempunyai kewenangan memberi ketentuan. Melalui hadist ini Rasulullah menghargai inisiatif dengan segala pertanggung jawaban dan pertimbangan yang jika diperhatikan lebih lanjut ada persesuaian dengan ajaran yang diajarkan Tuhan kepada beliau melalui ayat 28 surat Al-Ahzab36















34

Al-Asqalani, Ibnu Hajar, Hadis No. 1094, Bulughul Maram min Adillatil Ahkam, Pustaka al-Hidayah.

35

Taimiyah, Ibnu, Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah. Penerjemah:Abu Fahmi Huaidi dan Syamsuri An-Naba, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2002), h. 245.

36

(28)

17 28. Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu: "Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, Maka Marilah supaya kuberikan kepadamu mut'ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.

Adapun dasar pemberian iwadh adalah bahwa isteri waktu akad nikah telah rela menjadi isteri dari suaminya dengan kesediaan menerima mahar sesuai dengan jumlah yang telah disepakati. Karena isteri minta di khulu‟ maka isteri harus mengembalikan sebagian atau seluruh apa yang telah diterima dari suaminya itu.37 Seperti halnya maskawin merupakan pengekangan bagi pihak yang menghendaki perceraian jika yang menghendaki perceraian pihak suami maka isteri berhak mengambil maskawin, tetapi jika yang menghendaki itu pihak isteri, maka suami berhak mengambil kembali maskawin itu.38

Para ulama telah sepakat, kecuali Abu Bakar bin Abdullah Al-Muzanniy yang berpendapat bahwa tidak bolehnya khulu‟, bahkan bila dilakukan maka yang berlangsung adalah talak bukan khulu‟. Alasannya karena khulu‟ yang pada hakikatnya si suami mengambil kembali mahar yang telah dikembalikannya kepada isterinya dalam bentuk iwadh pada ayat tersebut telah di nasakh oleh ayat 20 surat an-Nisa39, yaitu:

                          

20. Dan jika kamu ingin mengganti isterimu dengan isteri yang lain,

sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang

37

Muchtar, Kamal, Asas-asas Hukum Islam Tentang Perkawinan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), h. 182-183.

38

Rusdiana, Kama, dan Aripin, Jaenal, Perbandingan Hukum Perdata, (Jakarta: UIN Jakarta Press 2007), h. 29-30.

39

(29)

banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang

sedikitpun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan

yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata ?.40

Sedangkan Ibnu Sirin dan Abi Qalabah mengatakan bahwa tidak boleh khulu‟ kecuali bila jelas si isteri telah hamil dalam arti dia sudah membuat suatu

perbuatan keji41, sebagaimana dalam surat an-Nisa yat 19:

                   

19. .janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil

kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila

mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata.42

C. Tujuan dan Hikmah

Tujuan dibolehkannya khulu‟ adalah untuk menghindarkan isteri dari kesulitan dan kemudharatan yang dirasakannya bila perkawinan dilanjutkan tanpa merugikan pihak si suami karena ia sudah mendapat iwadh dari isterinya atas permintaan cerai dari isterinya itu. Sedangkan hikmahnya adalah tampaknya keadilan Allah sehubungan dengan hubungan suami isteri. Bila suami berhak melepaskan diri dari hubungan dengan isterinya menggunakan cara talak, isteri juga mempunyai hak dan kesempatan bercerai dari suaminya dengan menggunakna cara khulu‟. Hal ini didasarkan pandangan fiqih bahwa

40

Al-Qur‟an 41

Syarifuddin, Amir, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia Antara Fikih Munakahat dan Undang-Undang, (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2009), h. 233.

42

(30)

19 perceraian itu adalah hak mutlak seorang suami yang tidak dimiliki oleh isterinya, kecuali dengan cara lain.43

Khulu‟ disyariatkan sebagai kebijakan preventif guna menghindari

tindakan pelanggaran ketentuan hukum-hukum Allah bagi suami-isteri, berupa kewajiban saling menggauli dengan baik, melaksanakan hak dan kewajiban masing-masing terhadap pasangannya, disertai penegasan serupa pada hak-hak dan kewajiban melaksanakan apa yang dituntut oleh kepemimpinan laki-laki (suami) atas perempuan (isteri), beserta konsekuensi yang mengharuskan isteri untuk mengurus urusan rumah, merawat dan mengasuh anak, serta tidak mempersulit suami (dengan segala macam beban dan tuntutan).44

Dengan demikian khulu‟ disyariatkan untuk menghilangkan dharar (bahya/ketidaknyamanan) dari isteri ketika harus mempertahankan hubungan perkawinannya dengan suami, sementara ia membencinya. Kemudian pada tingkatan selanjutnya khulu‟ memberikan maslahat bagi suami dan upaya menghilangkan dharar darinya.45

D. Rukun dan Syarat

Khulu‟ adalah suatu penghentian perkawinan dengan izin dan atas

keinginan isteri yang dalam hal itu setuju untuk memberikan ganti rugi kepada

43

Syarifuddin, Amir, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia Antara Fikih Munakahat dan Undang-Undang, (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2009), h. 234.

44

Kamal, Abu Malik bin Salim, As-Sayyid, ShahihFiqh Sunnah. Penerjemah: Khairul Amru Harahap, Faisal Shaleh,( Jakarta:Pustaka Azzam 2009), h. 540.

45

(31)

suami untuk pembebasannya dari ikatan perkawinan.46 Dari pengertian itu dapat disimpulkan yang menjadi rukun dalam khulu‟ adalah:

1. Isteri yang meminta cerai dengan jalam khulu‟

2. Suami yang bersedia menceraikan Isterinya dengan jalam khulu‟ 3. Adanya tebusan (uang iwadh) yang disepakati antara suami dan isteri 4. Adanya sighat khulu‟.47

Dari unsur-unsur di atas terdapat beberapa syarat diantaranya: 1. Isteri yang meminta cerai

Seseorang bisa disebut penggugat cerai jika memenuhi syarat-syarat berikut:

a. Berstatus sebagai isteri yang sah

Sebab tujuan khulu‟ adalah melepaskan diri dari ikatan perkawinan, dan ikatan ini dijalin dalam sebuah akad perkawinan yang sah dan menjadikan isteri yang sah.48

Para ahli fiqh sepakat bahwa isteri yang dapat dikhulu‟ adalah istri yang mukallaf dan telah terikat dengan akad perkawinan yang sah dengan suaminya. Adapaun isteri-isteri yang tidak atau belum mukallaf

46

Mahmudunnasir, Syekh, Islam Konsepsi dan Sejarahnya. Penerjemah:Adang Afandi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005), h. 430-431.

47

Kamal, Abu Malik bin Salim, As-Sayyid, ShahihFiqh Sunnah. Penerjemah: Khairul Amru Harahap, Faisal Shaleh,( Jakarta:Pustaka Azzam 2009), h. 540

48

(32)

21 yang berhak mengajukan permintaan khulu‟ kepada pihak suami ialah walinya.49

Isteri yang sedang menjalani iddah talak raj‟i dengan isteri yang

sedang menjalani iddah talak ba‟in. Status isteri yang berada dalam talak

raj‟i masih sama ststusnya dengan isteri dalam rumah tangga normal

karena talak raj‟i tidak menghilangkan kehalalan dan kepemilikan,

sehingga masih berhak mengajukkan gugatan cerai dengan membayar kompensasi atas keterlepasan dari ikatan suami isteri.50

Sementara isteri yang dalam masa iddah talak ba‟in tidak memiliki hak cerai gugat, karena suami sudah tidak memiliki otoritas apa-apa lagi terhadapnya. Ini adalah pendapat kalangan mazhab Syafi‟i dan Hambali. Sedangkan kalangan mazhab Hanafi dan Maliki menyatakan bahwa seorang isteri yang sedang dalam iddah talak ba‟in tetap sah melakukan gugat cerai, namun ia tidak harus membayar kompensasi, sebab tujuan pemberian kompensasi adalah untuk memperoleh pembebasan tunai sementara hal itu sudah diperolehnya.51

b. Memiliki kemampuan untuk membelanjakan harta

Para ulama sepakat bahwa isteri yang pintarlah yang boleh melakukan khulu‟ untuk dirinya. Sementara budak perempuan tidak boleh melakukan khulu‟ untuk dirinya kecuali dengan izin tuannya.

49

Muchtar, Kamal, Asas-asas Hukum Islam Tentang Perkawinan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), h. 170.

50

Muchtar, Kamal, Asas-asas Hukum Islam Tentang Perkawinan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974),h. 551.

51

(33)

Begitupula tidak boleh bagi isteri yang bodoh berikut walinya. Menurut Imam Malik, seorang ayah boleh mengadakan khulu‟ untuk anak perempuannya yang masih kecil, sebagaimana ia boleh menikahkannya. Begitupula untuk anak lelakinya yang masih kecil, karena menurutnya ayah juga boleh menceraikan atas namanya.52

Sedangkan menurut Imam Syafi‟i dan Abu Hanifah, ayah tidak

boleh mengadakan khulu‟ atas namanya, karena menurut mereka ayah tidak boleh menjatuhkan talak atas namanya,53 Sebab ayah tidak memilikki urusan apapun. Karena penghalalan hubungan intim tidak dapat dinilai dengan materi, adapun penggantinya adalah materi yang memiliki nilai tertentu.54

2. Suami yang bersedia menceraikan

Para fuqaha sepakat bahwa tergugat cerai mesti memenuhi syarat sebagai pihak yang memiliki kuasa menceraikan. Karena itu jumhur ulama kalangan mazhab Maliki, Syafi‟i dan Hambali, membolehkan gugatan cerai

atas suami yang “mahjur alaih” (orang yang dibekukan kemampuannya

dalam bertranksaksi) lantaran pailit, idiot, atau berstatus budak, sebab bagaimanapun juga mereka tetap memiliki kuasa talak. Akan tetapi uang

52

Rusyd, Ibnu, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtasid Buku II Jilid 3 & 4.

Penerjemah:Abdul Rasyad Shidiq,(Jakarta: Akbar Media, 2013),h. 164 53

Rusyd, Ibnu, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtasid Buku II Jilid 3 & 4.

Penerjemah:Abdul Rasyad Shidiq,(Jakarta: Akbar Media, 2013),h. 164 54

(34)

23

kompensasi tidak boleh diserahkan kepada tergugat yang “mahjur alaih”

sebab ia dibekukan kemampuannya dalam penggunaan harta tersebut.55 Syarat suami yang menceraikan isterinya dalam bentuk khulu‟ sebagaimana yang berlaku dalam talak adalah seorang yang dapat diperhitungkan secara syara‟, yaitu akil baligh, dan bertindak atas kehendaknya sendiri dan dengan kesengajaan. Berdasarkan syarat ini, bila suami masih belum dewasa atau suami sedang dalam keadaan gila, maka yang menceraikannya dengan khulu‟ adalah walinya. 56

3. Tebusan

Mayoritas ulama menempatkan iwadh (tebusan) sebagai rukun yang tidak boleh ditinggalkan untuk sahnya khulu.57 Iwadh merupakan cirri khas dari khulu. Selama iwadh belum diberikan oleh pihak isteri kepada suami, maka selama itu pula tergantungnya perceraian. Setelah iwadh diserahkan oleh pihak isteri kepada pihak suami barulah terjadi perceraian.58

Iwadh atau tebusan berfungsi untuk mengingatkan isteri bahwa ketika perkawinan berlangsung, suami memberikan mahar, dan memberikan

55

Kamal, Abu Malik bin Salim, As-Sayyid, ShahihFiqh Sunnah. Penerjemah: Khairul Amru Harahap, Faisal Shaleh,( Jakarta:Pustaka Azzam 2009), h. 549.

56

Syarifuddin, Amir, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia Antara Fikih Munakahat dan Undang-Undang, (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2009),h. 235.

57

Syarifuddin, Amir, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia Antara Fikih Munakahat dan Undang-Undang, (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2009), h. 235.

58

(35)

nafkah. Maka sesuatu yang wajar jika isteri menuntut cerai dengan jalan khulu‟ dengan memberikan tebusan.59

Bentuk iwadh sama dengan bentuk mahar, dengan demikian benda yang dijadikan mahar dapat pula dijadikan iwadh. Mengenai jumlah iwadh yang terpenting adalah persetujuan suami dan isteri, apakah jumlah yang disetujui itu kurang, atau sama, atau lebih dari jumlah mahar yang pernah diberikan oleh suami kepada isteri di waktu akad nikah.60 Ketentuan ini tidak disebutkan dalam Al-Qur‟an dan hadist, hanya disebutkan secara umum saja, firman Allah:

                                    

229. jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat

menjalankan hukum-hukum Allah, Maka tidak ada dosa atas keduanya

tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah

hukum-hukum Allah, Maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa

yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang

zalim. (Q.S. al-Baqarah:299).61

4. Shigat Khulu‟

Shigat atau ucapan cerai yang disamakan suami yang dalam

uangkapannya dinyatakan “uang ganti” atau “iwadh”. Tanpa penyebutan itu

59Umam, Khairul. “Khuluk

Sebagai Penyelesaian Sengketa Perkawinan Akibat Pelanggaran Taklik Talak (Studi Kasus di Pengadilan Agama Jakarta Selatan). Skripsi S1 Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta,2006, h. 19-20.

60

Muchtar, Kamal, Asas-asas Hukum Islam Tentang Perkawinan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), h. 171

61

(36)

25 ia hanya menjadi talak biasa. Dalam hal shigat ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama, diantarnya:

a. Menggunakan lafadz yang jelas dan terang atau sharih. Contonhya:”saya

khulu‟kamu dengan iwadh sebesar Rp 10.000”

b. Menggunakan lafadzh kinayah yaitu lafadz lain yang tidak langsung berarti perceraian tetapi dapat digunakan untuk itu. Terjadinya khulu‟ dengan lafadz kinayah disyaratkan dengan harus adanya niat.

Contonhya:”pulanglah kamu kepada orang tuamu dengan membayar

iwadh Rp. 10.000”

Ada diantara ulama yang tidak menempatkan shigat sebagai rukun khulu‟ yaitu pendapat dari imam Ahmad. Alasan yang digunakan, yaitu

peristiwa yang terjadi tentang Tsabit bin Qais yang dalam cerainya tidak mengucapkan apapun setelah menerima tebusan dari isterinya.62

E. Akibat Khulu’

Bila telah diucapkan shigat khulu‟ oleh suami atas kehendak sendiri dan telah pula memberikan tebusan, maka perkawinan putus dalam bentuk talak bain

sughra dan dalam arti tidak boleh rujuk, namun dibolehkan melangsungkan

perkawinan sesudah itu tanpa muhallil63.64 Dari penjelasan ini kita tahu di Indonesia khulu‟ sama dengan cerai gugat karena pada hakikatnya sama yaitu yang meminta cerai adalah pihak isteri.

62

Syarifuddin, Amir, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia Antara Fikih Munakahat dan Undang-Undang, (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2009), h. 236-237.

63

Muhallil adalah seorang pria yang menikahi wanita agar ia dapat menikah dengan mantan suaminya setelah jatuh talak tiga

64

(37)

Dalam hal akibat khulu‟, terdapat persoalan apakah perempuan yang menerima khulu‟ dapat diikuti dengan talak atau tidak. Imam Malik berpendapat bahwa khulu‟ itu tidak dapat diikuti dengan talak, kecuali jika pembicaraanya bersambung. Sedangkan Imam Hanafi mengatakan bahwa khulu‟ dapat diikuti dengan talak tanpa memisahkan antara penentuan waktunya, yaitu dilakukan dengan segera atau tidak. Jumhur fuqaha telah sepakat bahwa suami yang telah menjatuhkan khulu‟ tidak dapat merujuk mantan isterinya pada masa iddah.65

Mengenai masa iddah khulu‟ terdapat dua pendapat yang kedua-duanya pendapat Imam Ahmad. Pertama, cukup dengan satu kali suci dari haid. Kedua, harus menunggu tiga kali bersih dari haid.66

Karena di Indonesia khulu‟ sama dengan cerai gugat, maka akibatnyapun sama yaitu merupakan talak bain sughra, sebagimana dalam KHI Pasal 119 ayat (1), yaitu: talak Ba`in Shughraa adalah talak yang tidak boleh dirujuk tapi boleh akad nikah baru dengan bekas suaminya meskipun dalam iddah. Talak Ba`in Shughraa sebagaimana tersebut pada ayat (1) adalah :

a. Talak yang terjadi qabla al dukhul b. Talak dengan tebusan atau khulu

c. Talak yang dijatuhkan oleh pengadilan agama.67

Sedangkan waktu iddahnya diatur dalam Pasal 155 yaitu waktu tunggu yang putus perkawinannya karena khulu‟ yaitu sama dengan masa iddah talak.

65

Tihami, M.A, dan Sahrani, Sohari, Fikih Munakahat Kajian Fikih Nikah Lengkap,(Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2009), h.315-316.

66

Taimiyah, Ibnu, Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah. Penerjemah:Abu Fahmi Huaidi dan Syamsuri An-Naba, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2002), h. 251.

67

(38)

27 Dan Pasal 161 mengatakan bahwa akibat khulu‟ adalah mengurangi jumlah talak dan tidak dapat dirujuk.68

Ada persamaan dan perbedaan antara khulu‟ cerai gugat di pengadilan agama. Persamaannya, yaitu khulu‟ dan cerai gugat sama-sama dimintakan oleh isteri, sedangkan perbedaannya, yaitu khulu‟ harus disertai dengan uang iwadh (tebusan) serta harus dengan alasan pelanggaran taklik talak, tetapi cerai gugat tidak mesti disertai dengan uang iwadh (tebusan) dan tidak mesti dengan alasan pelanggaran taklik talak.69

Maka dalam putusan pengadilan dibedakan antara perceraian karena khulu‟ dan cerai gugat biasa. Dalam cerai gugat karena khulu‟ putusannya akan

di hukumkan talak satu khul‟i, sedangkan dalam cerai gugat biasa di hukumkan

dengan talak bain shugra.70

68

Abdurrahman. Kompilasi Hukum Islam. (Jakarta: Akademika Presindo, 2010), h. 151.

69

Wawancara Pribadi dengan Bpk. Muhtar Ali, M.Hum. Jakarta 01 juni 2015

70

(39)

28

BAB III

CERAI GUGAT DI PENGADILAN AGAMA CIBINONG

A. Profil Pengadilan Agama Cibinong

Pengadilan Agama Cibinong berkedudukan di jalan Bersih Komplek Pemda Kecamatan Cibinong Kabupatrn Bogor, Tlp. (021) 87907651, Fax (021) 8790765. Gedung Pengadilan Agama Cibinong dibangun diatas tanah seluas 1650 m dengan luas bangunan tanah 419, 70 m terdiri dari dua lantai yang dibangun pada tahun 2002.71

Sejarah kelahiran Pengadilan Agama Cibinong erat kaitannya dengan sejarah pembentukan pengadilan agama pada umumnya di seluruh Indonesia khususnya di daerah Bogor Jawa Barat. Dasar hukum pembentukan Pengadilan Agama Cibinong adalah berdasarkan Kepres No. 85 Tahun 1996 tentang Pembentukan Sembilan Pengadilan Agama.72

Pengadilan Agama Cibinong terbentuk sejalan dengan perjalanan singkat Kabupaten Bogor yang dibentuk tahun 1075, dimana pemerintahan pusat menginstruksikan bahwa Kabupaten Bogor harus memiliki pusat pemerintahan wilayah sendiri dan pindah dari pusat pemerintahan Kota Madya Bogor. Atas dasar tersebut, Pemerintah Tingkat II Bogor mengadakan penelitian di beberapa wilayah Kabupaten Tingkat II Bogor untuk dijadikan sebagai calon Ibu Kota sekaligus berperan sebagai pusat pemerintahan. Alternatif lokasi yang akan dipilih di antaranya Ciawi (Rancamaya), Leuwiliang, Parung, dan Kecamatan

71

Profil Pengadilan Agama Cibinong, Cibinong 2007, h. 3 72

(40)

29 Cibinong (Desa Tengah), maka dari hasil penelitian tersebut sidang pleno DPRD Kabupaten daerah Tingkat I Bogor pada tahun 1980 ditetpakan bahwa calon Ibu Kota Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor terletak di Desa Tengah Kecamatan Cibinong.73

Penetapan calon Ibu Kota diusulkan kembali ke Pemerintahan Pusat dan mendapat persertujuan serta dikukuhkan dengan PP No. 06 tahun 1982 yang menegaskan bahwa Ibu Kota Pusat Pemerintahan Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor berkedudukan di Desa Tengah Kecamatan Cibinong di wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor. Atas dasar tersebut pengadilan agama dibentuk berdasarkan Kepres No. 85 Tahun 1996 Tanggal 1 November 1996 dimana pengoperasiannya diresmikan oleh Bapak Direktur DIRBIN BAPERA ISLAM pada tanggal 25 Juni 1997.

Adapun dasar hukum pembentukan daerah Tingkat II di wilayah Pengadilan Agama Cibinong Kabupaten Bogor adalah:

1. PP No. 2 Tahun 1995 tentang Perubahan Batas Wilayah Kota Madya dan Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor.

2. Kemendagri No. 49 Tahun 1989 tentang Pedoman Perubahan Batas Wilayah Kota Madya Daerah Tingkat II Bogor.

3. Keputusan DPRD Kabupaten Daerah Tingkst II Bogor No. 650/03/KPTS/DPRD/1986 tanggal 03 Juli 1986 tentang Persetujuan Prinsip Terhadap Rencana Perluasan Wilayah Kota Madya Daerah Tingkat II Bogor.

73

(41)

4. Surat Keputusan Pimpinan DPR tanggal 12 Oktober Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor No. 650/SK Pem 21/DPRD/1990 tanggal 12 Oktober 1990 tentang Persetujuan Pengembangan Bogor Raya.

5. Kesepakatan Bersama antara Pemerintah Kota Madya Daerah Tingkat II Bogor dan Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor.74

B. Visi dan Misi

Pengadilan Agama Cibinong merefleksikan peranan dan kondisi yang ingin di wujudkan adalah melalui visi sebagai berikut;

''Mewujudkan Peradilan Agama Yang Mandiri, Bersih Dan Berwibawa Dalam Memberikan Pelayanan Hukum Kepada Masyarakat Pencari Keadilan Sesuai Azas Sederhana, Cepat Dan Biaya ringan''

Dalam rangka mewujudkan visi tersebut, maka misi yang ditetapkan adalah: 1. Meningkatkan profesionalisme aparatur Pengadilan Agama Cibinong. 2. Meningkatkan kualitas pelayanan hukum.

3. Meningkatkan penyeleggaraan managemen Peradilan dan Administrasi Umum.

4. Meningkatkan sarana dan prasarana. 5. Meningkatkan pengawasan internal.75

C. Yurisdiksi

Yang dimaksud wilayah yuridiksi adalah kekuasaan mengadili, lingkup kuasa kehakiman, lingkungan hak dan kewajiban serta tanggung jawab disuatu

74

Profil Pengadilan Agama Cibinong, Cibinong 2007, h.6-7. 75

(42)

31 wilayah atau lingkungan kerja tertentu.76 Pada pembahasan ini bermuara pada istilah memeriksa, memutus, dan menyelesaikan suatu perkara bagi pengadilan.

Dalam istilah “kewenangan” sinonim dari kata “kekuasaan”. Adapun yang

dimaksud kewenangan dan kekuasaan itu terdapat dalam HIR yang dikenal dengan istilah kompetensi.77 Adapun pembahasan kompetensi ini terbagi pada dua aspek, yaitu:

1. Kompetensi absolut, yaitu kewenangan atau kekuasaan pengadilan yang berhubungan dengan jenis perkara atau jenis pengadilan perkara atau tingkat pengadilan, dalam perbedaannya dengan jenis perkara atau jenis pengadilan atau pengadilan lainnya.78 UU No. 03 Tahun 2006 jo UU No. 07 Tahun 1998 tentang Pengadilan Agama disebutkan dalam Pasal 49 mengenai kekuasaan pengadilan, yaitu pengadilan agama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam di bidang:

a. Perkawinan b. Waris c. Wasiat d. Hibah e. Zakat f. Infak

76

KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)

77Sari, Ade Puspita, “Penyelesaian Perkara Wali „Adal di Pengadilan Agama Cibinong”, Skripsi S1 Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008, h. 25.

78

(43)

g. Shadaqah

h. Ekonomi Syariah.79

Semua kompetensi yang disebutkan di atas diatur berdasarkan Undang-Undang Perkawinan, Kewarisan, dan Perwakafan yang berlaku.

2. Kompetensi relatif, yaitu berhubungan dengan daerah hukum suatu pengadilan, baik pengadilan tingkat pertama maupun pengadilan tingkat banding. Artinya, cakupan dan batasan kekuasaan relative pengadilan ialah meliputi daerah hukumnya berdasarkan peraturan perundang-undangan.80 Kewenangan atau kekuasaan untuk memeriksa, memutus, dan meyelesaikan perkara bagi pengadilan yang berhubungan dengan wilayah atau domisili pihak-pihak pencari keadilan. Hal tersebut terdapat dalam ketentuan sebagai berikut:

a. HIR Pasal 118 ayat 1, 2, 3, dan 4 jo 142 R.Bg

b. UU No. 03 Tahun 2006 jo UU No. 07 Tahun 1998 tentang Undang-Undang Peradilan Agama Pasal 66 ayat 1-5 dan Pasal 1-3 tentang kompetensi relative. Adapun kompetensi relatif Pengadilan Agama Cibinong adalah melingkupi 39 wilayah kecamatan, 423 Desa dan 7 Kelurahan. Wilayah kecamatan terdiri dari desa dan keurahan sebagai berikut:

1. Kecamatan Ciawi 13 Desa

2. Kecmatan Cisarua 09 Desa

79

UU No. 03 tahun 2006 tentang Peradilan Agama 80

(44)

33 3. Kecamatan Caringin 11 Desa

4. Kecamatan Cijeruk 12 Desa 5. Kecamatan Taman Sari 18 Desa 6. Kecamatan Ciomas 11 Desa 7. Kecamatan Cibinong 12 Desa 8. Kecamatan Dramaga 10 Desa 9. Kecamatan Gunung Putri 10 Desa 10.Kecamatan Citereup 12 Desa 11.Kecamatan Babakan Madang 03 Desa 12.Kecamatan Sukaraja 13 Desa 13.Kecamatan Mega Mendung 10 Desa 14.Kecamatan Sukamakmur 14 Desa 15.Kecamatan Jonggol 12 Desa 16.Kecamatan Cileungsi 09 Desa 17.Kecamatan Klapa Nunggal 20 Desa

18.Kecamatan Cariu 09 Desa

(45)

26.Kecamatan Pamijahan 13 Desa 27.Kecamatan Rumpin 15 Desa 28.Kecamtan Cibungbulang 19 Desa 29.Kecamatan Ciampea 15 Desa 30.Kecamatan Jasinga 09 Desa

31.Kecamatan Tenjo 11 Desa

32.Kecamatan Parung Panjang 11 Desa 33.Kecamatan Nanggung 09 Desa 34.Kecamatan Sukajaya 09 Desa 35.Kecamatan Cigudeg 15 Desa 36.Kecamatan Leuwisedang 08 Desa 37.Kecamatan Tajur Halang 07 Desa 38.Kecamatan Tenjolaya 57 Desa 39.Kecamatan Cigombong 08 Desa.81

D. Struktur Pengadilan Agama Cibinong

Adapun susunan Pengadilan Agama Cibinong adalah sebagai berikut: 1. Daftar nama Hakim di Pengadilan Agama Cibinong

No. Nama Jabatan

01 Drs. H. M. Hasany Nasir, SH, MH. Hakim/Ketua 02 Dra. Ernida Basry, MH Hakim/Wakil Ketua 03 Drs. H. Hasan Basri, SH, MH Hakim

81

(46)

35 04 Dra. Sulkha Harwiyanti, SH Hakim

05 Ahmad Bisri, SH, MH Hakim

06 Drs. H. A. Baidowi, MH Hakim 07 Drs. H. Subarkah, SH, MH Hakim

08 Drs. H. Yusri Hakim

09 H. S. Solahudin, SH, MH Hakim 10 Drs. H. Fikri Habibi, SH, MH Hakim 11 Dr. Nasich Salam Suharto, Lc, LLM. Hakim

2. Daftrar nama pejabat Kepaniteraan di Pengadilan Agama Cibinong

No. Nama Jabatan

01 Drs. Harun Al-Rasyid Panitera

02 Pupu Syaripudin, S.Ag Wakil Panitera

03 Nani Nuraeni, SH Panitera Muda Gugatan

04 Nuryani, S. Ag Panitera Muda

Permohonan

05 Rachmat Firmansyah, S. Ag Panitera Muda Hukum

06 Fina Agustina, S. Kom Panitera Muda

Permohonan

07 Choirul Cholid, S. Ag Panitera Muda

Permohonan

08 Suryadi, S. Ag Panitera Pengganti

(47)

10 Hj. Tati Sunengsih, SH, MH. Panitera Pengganti 11 Dra. Hj. Siti Zulaikha, MH. Panitera Pengganti 12 Dra. Siti Maryam Adam Panitera Pengganti 13 Helda Fitriyah, SH. Panitera Pengganti

3. Daftar nama pejabat Kesekretariatan di Pengadilan Agama Cibinong

No Nama Jabatan

01 Suprianto, SE. Wakil Sekretaris

02 Indra Ari Setiawan Kasubag Keuangan

03 Retno Sulis Setyani, SHI. Kasubag Keuangan 04 Dicky Mulyawan, Amd Kasubag Kepegawaian 05 Marwan Hasbialloh, SHI Kasubag Umum 4. Daftar nama pejabat Kejurusitaan di Pengadilan Agama Cibinong

No Nama Jabatan

01 Holid, SH Juru Sita

02 Bahrun Kostiawan Juru Sita

03 Supartini, SH Juru Sita Pengganti

(48)
[image:48.610.106.539.99.521.2]

37

Gambar struktur organisasi di Pengadilan Agama Cibinong.82

E. Cerai Gugat di Pengadilan Agama Cibinong

Terdapat dua bentuk perkara yang diajukan kepada pengadilan, yaitu perkara permohonan dan perkara gugatan. Pada dasarnya perkara permohonan merupakan perkara yang tidak mengandung sengketa yang diajukan oleh seorang atau lebih secara bersama kepada pengadilan untuk minta ditetapkan sesuatu hak bagi dirinya atau tentang kedudukan hukum

82

(49)

tertentu. Sedangkan gugatan merupakan suatu perkara yang mengandung sengketa atau konflik antara pihak-pihak, yang menuntut pemutusan dan penyelesaian pengadilan. Dalam suatu gugatan terdapat pihak-pihak seorang atau lebih yang merasa haknya telah dilanggar oleh pihak lain seorang atau lebih, mengajukkan gugatan kepada pihak yang melanggar hak itu. Pihak yang mengajukan gugatan itu disebut penggugat sedangkan pihak yang digugat disebut tergugat.83

Tata cara mengajukan gugatan diatur dalam Pasal 73 UU No. 07 tahun 1989 yang artinya bahwa gugatan itu diajukan oleh isteri atau kuasanya kepada pengadilan yang mewilayahi tempat tinggal penggugat.84 Dalam mengajukan gugatannya harus disertai dengan alasan-alasan perceraian sebagaimana tertera dalam pasal 19 PP No. 09 tahun 197585 jo KHI pasal 116, yang mana dalam KHI ini ada penambahan alasan perkawinan pada poin (g) dan (h) yang isinya adalah suami melanggar taklik talak dan peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidak rukunan dalam rumah tangga.86

Perkara cerai gugat yang masuk ke Pengadilan Agama Cibinong tahun 2012, adalah sebagai berikut:

N o

Bulan Sisa

Perkara Bulan Perkara yang Masuk Perkara yang dikabulk Perkara yang ditolak Perkara yang digugurka 83

Bisri, Cik Hasan, Peradilan Agama di Indonesia, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), h. 244-245.

84

UU No. 07 tahun 1989 tentang Peradilan Agama 85

PP No. 09 tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU No. 01 tahun 1974 tentang Perkawinan 86

(50)

39

Lalu an n

01 Januari 308 133 114 00 03

02 Februari 321 132 104 02 02

03 Maret 342 116 128 00 05

04 April 319 127 104 00 00

05 Mei 334 124 105 00 00

06 Juni 353 117 117 02 00

07 Juli 351 45 129 00 00

08 Agustus 264 66 62 00 00

09 September 263 180 88 00 00

10 Oktober 346 157 130 00 04

11 Nopember 366 133 149 00 02

12 Desember 345 132 98 00 02

13 Jumlah 3.912 1.462 1.328 04 18

Perkara cerai gugat yang masuk ke Pengadilan Agama Cibinong tahun 2013, sebagai berikut:

N o

Bulan Sisa

Perkara Bulan

Lalu

Perkara yang Masuk

Perkara yang dikabulka

n

Perkara yang ditolak

Perkara yang digugurka

n

01 Januari 374 183 149 01 01

02 Februari 401 138 151 00 00

03 Maret 383 128 171 00 00

(51)

05 Mei 288 179 155 01 04

06 Juni 297 142 147 01 01

07 Juli 282 101 154 02 01

08 Agustus 218 109 82 00 01

09 September 238 185 123 01 02

10 Oktober 293 158 137 03 03

11 Nopember 294 147 147 00 04

12 Desember 281 130 114 00 01

13 Jumlah 3.688 1.757 1.733 10 21

Perkara cerai gugat yang masuk ke Pengadilan Agama Cibinong tahun 2014, sebagai berikut:

No Bulan

Sisa Perkara

Bulan Lalu

Perkara yang Masuk

Perkara yang dikabulkan

Perkara yang ditolak

Perkara yang digugurkan

01 Januari 292 160 132 00 04

02 Februari 312 160 142 00 05

03 Maret 321 170 141 02 01

04 April 340 238 178 02 04

05 Mei 385 170 149 00 02

06 Juni 397 154 180 01 04

07 Juli 349 79 134 00 07

08 Agustus 279 82 128 00 02

(52)

41

10 Oktober 262 221 210 00 06

11 Nopember 232 222 171 03 09

12 Desember 234 192 179 02 09

13 Jumlah 3.619 2.100 1.906 11 60

Perkara cerai gugat yang masuk ke Pengadilan Agama Cibinong tahun 2015, sebagai berikut:

No Bulan

Sisa Perkara

Bulan Lalu

Perkara yang Masuk

Perkara yang dikabulkan

Perkara yang ditolak

Perkara yang digugurkan

01 Januari 194 208 166 00 08

02 Februari 200 209 152 00 05

03 Maret 235 239 186 01 08

04 April 254 224 220 00 10

05 Mei 215 234 139 04 05

06 Jumlah 1.098 1.114 863 05 36

(53)

perkara yang digugurkan sekitar 135an, maka setiap bulannya dapat disimpulkan perkara yang di putus mencapai 83an, perkara yang ditolak mencapaai 2, dan perkara yang digugurkan mencapai 11an.

Ini baru data perceraian karena gugatan cerai dari isteri belum lagi apabila ditambah dengan perkara cerai talak dari suami, jumlah perkara akan bertambah banyak. Nampaknya ini menjadi pekerjaan yang cukup sulit bagi instansi yang terkait untuk mengurangi jumlah perceraian yang terjadi di Indonesia khususnya di Pengadilan Agama Cibinong, segala upaya telah dilakukan namun apa dayanya setiap perceraian tidak dapat dipaksakan untuk tidak bercererai karena cobaan akan selalu datang dalam kehidupan.

Contoh kasus yaitu penggugat yang bernama Ibu NN 45 tahun melawan tergugat bapak

Gambar

Gambar struktur organisasi di Pengadilan Agama Cibinong.82
Gambar.1  Gambar.2
Gambar.3

Referensi

Dokumen terkait

Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat membantu memahami penerapan kegiatan pembelajaran pengenalan bentuk geometri melalui metode demonstrasi pada

Dalam hal ini, praktek pembatalan khitbah yang dilakukan oleh pihak perempuan dengan mengembalikan semua barang-barang yang telah di berikan ketika proses khitbah dengan di

Penerapan strategi belajar aktif tipe LSQ pada pokok bahasan hidrokarbon dapat menimbulkan keaktifan siswa karena suasana pembelajaran yang menyenangkan dan lebih menarik

Partisipasi warga masyarakat dalam program PNF tidak akan berjalan seperti yang diharapkan jika tidak menyentuh minat warga masyarakat. Warga masyarakat PNF umumnya adalah

Tutkimuksissa on näyttöä siitä, että vahvistamalla ikääntyneiden sosiaalisia suhteita ja aktiivista osallistumista sosiaalisiin tilanteisiin voidaan vaikuttaa myös

diakui dalam perhitungan KPMM secara konsolidasi - of which: instruments issued by subsidiaries subject to phase out Instrumen yang diterbitkan Entitas Anak yang termasuk

1) Dari segi pemilihan dan pengangkatannya, Wakil Presiden dipilih langsung oleh rakyat, diangkat dan diberhentikan oleh MPR, Sehingga Presiden tidak dapat

Tanggung jawab hukum pengguna jasa konstruksi menurut Undang-Undang nomor 2 tahun 2017 adalah pengguna barang atau jasa adalah pejabat pemegang kewenangan