SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Ushuluddin (S.Ud)
Oleh:
AHMAD HARFA NIM:106034001208
JURUSAN TAFSIR HADITS
FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
ii
Ahmad Harfa, “Keseimbangan Penciptaan Bumi Menurut Al-Qur’an Dan Sains” Salah satu keistimewaan yang diberikan oleh Allah Swt, kepada manusia adalah kemampuan berpikir dengan mengunakan akal yang sehat. Kemampuan ini sangat membantu manusia dalam menemukan kebenaran dan keyakinan. Selain itu, kemampuan berpikir yang baik dan benar dapat menjadi jalan untuk mengantarkan seseorang dalam meraih kebenaran dan akan membawa kemaslahatan bagi orang lain. Sebaliknya, berpikir juga bisa menjadi pemicu munculnya kemudaratan, khususnya jika seseorang salah dalam mengunakan pikiranya. Pemikiran seseorang tersebut harus lah menggunakan akal yang sehat dan hati nurani sehingga mampu menghasilkan sebuah kebenaran yang mengokohkan keimanan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keselarasan dan keharmonisan antara al-Qur’an dan sains, sehingga membuktikan kebenaran akan tanda-tanda kebesaran-Nya.
Penelitian ini berpijak dari pemikiran bahwa setiap kalam-Nya haruslah sesuai dengan ciptaan-Nya dalam hal penciptaan Bumi. Adalah sebuah kemustahilan bila al-Qur’an benar bertentangan dengan ilmu pengetahuan sains modern yang meneliti dengan tepat. Dapun jika perbedaan ini terjadi maka sangat dimungkinkan bahwa ada salah satu yang salah diantara keduanya.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode tafsir
maudhu’i (tematik), yang secara umum menggunakan langkah-langkah: menetapkan masalah yang akan dibahas (topik); menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah, menyusun pembahasan dalam kerangka yang sempurna (outline); dan mempelajari ayat-ayat tersebut. Selain itu, penulis juga menggunakan metode content analisis atau analisis isi, yang dengan metode ini dua message yang berbeda yang memiliki kaitan erat dengan keseimbangan Bumi dari Ayat-ayat al-Qura’an dan sains dapat dibandingkan.
Data yang ditemukan menunjukkan bahwa ayat-ayat yang mengisyaratkan mengenai keseimbangan penciptaan Bumi dapat di temukan dalam al-Qur’an. Yang secara umum berkaitan erat dengan masalah keseimbangan penciptaan Bumi.
iii
Dengan ini saya menyatakan :
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi
salah satu persyaratan gelar strata 1 (S1), di UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya
cantumkan sesuai ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya
atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia
menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta,15 November 2011
Penulis,
iv
KESEIMBANGAN PENCIPTAAN BUMI MENURUT AL-
QUR’AN DAN SAINS
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Ushuluddin
( S.Ud )
Oleh :
AHMAD HARFA NIM. 106034001208
Di bawah Bimbingan :
Dr. Mafri Amir, MA NIP. 195803011992031001
JURUSAN TAFSIR HADITS
FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
v
Skripsi ini berjudul Keseimbangan Penciptaan Bumi Menurut Al Quran Dan Sains
telah di ujikan dalam sidang munaqasah Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta pada 19 Desember 2011.
Skripsi ini telah diterima sebagai syarat memperoleh gelar Sarjana Ushuluddin (S.Ud)
pada Jurusan Tafsir Hadits.
Jakarta, 20 Desember 2011
SIDANG MUNAQASAH
Ketua Sidang, Sekertaris Sidang,
Dr. M. Suryadinata, MA Dr. Lilik Ummi Kaltsum, MA NIP. 19600908 198903 1 005 NIP. 19711003 199903 2 001
Anggota,
Penguji I, Penguji II,
Dr. M. Suryadinata, M.A Dr. Lilik Ummi Kaltsum, MA NIP. 19600908 198903 1 005 NIP. 19711003 199903 2 001
Pembimbing,
vi
PEDOMAN TRANSLITERASI1
Konsonan
Huruf Arab Huruf Latin Keterangan
tidak dilambangkan
B Bep
T Te
Ts te dan es
J Je
H h dengan garis bawah
Kh ka dan ha
D da
Dz De dan zet
R Er
Z Zet
S Es
Sy es dan ye
S es dengan garis bawah
D de dengan garis bawah
T te dengan garis bawah
Z zet dengan garis bawah
„ koma terbalik keatas, menghadap ke kanan
Gh ge dan ha
1
vii
F Ef
Q Ki
K Ka
L El
M Em
N En
W We
H Ha
„ Apostrof
Y Ye
Vokal
Vokal dalam bahasa Arab, seperti bahasa Indonesia, terdiri dari vokal
tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau diftong. Untuk vokal tunggal alih
aksaranya adalah sebai beeriku:
Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan
___
___ a fathah
______ i kasrah
___
___ u dammah
Adapun untuk vokal rangkap, ketentuan alih aksaranya sebagai berikut:
Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan
ي__َ__ ai a dan i
__َ __
viii
Vokal Panjang (Madd)
Ketentuan alih aksara vokal panjang (Madd), yang dalam bahasa Arab dilambangkan dengan harakat dan huruf, adalah sebagai berikut:
Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan
اَــ â a dengan topi di atas
يــ î i dengan topi di atas
وـــ û u dengan topi di atas
Kata Sandang
Kata sandang, yang dalam sistem aksara Arab dilambangkan dengan
huruf, yaitu alif dan lam, dialih aksarakan menjadi huruf /l/ , baik diikuti oleh
huruf syamsyiah maupun qamariyah. Contoh: al-rijâl bukan ar-rijâl, al-dîwân bukan ad-dîwân.
Syaddah (Tashdid)
Syaddah atau tasydid yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan sebuah tanda, dalam alih aksara ini dilambangkan dengan huruf, yaitu
dengan menggandakan huruf yang diberi tanda syaddah itu. Akan tetapi, hal ini tidak berlaku jika huruf yang menerima tanda syaddah itu terletak setelah kaata sandang yang diikuti oleh huruf-huruf syamsiyyah. Misalnya yang secaraa lisan berbunyi ad-daruurah, tidak ditulis “ad-darûrah”, melainkan “al-darûrah”, demikian seterusnya.
Ta Marbûtah
Berkaitan dengan alih aksara ini, jika huruf tamarbûtah terdapat pada kata yang berdiri sendiri, maka huruf tersebut dialihaksarakan manjadi huruf /h/ (lihat
ix
Contoh:
no Kata Arab Alih aksara
1 tarîqah
2 al-jâmî ah al-islâmiyyah
3 wahdat al-wujûd
Huruf Kapital
Meskipun dalam tulisan Arab huruf capital tidak dikenal, dalam alih
aksara ini huruf capital tersebut juga digunakan, dengan memiliki ketentuan yang
berlaku dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) bahasa Indonesia, antara lain
yang menuliskan kalimat, huruf awal nama tempat nama bulan, nama diri, dan
lain-lain. Penting diperhatikan, jika nama didahului oleh kata sandang, maka yang
ditulis dengan huruf capital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal
atau kata sandangnya. Contoh: Abû Hâmid al-Ghazâli bukan Abû Hamid
x
Segala Puji dan syukur penulis sanjungkan hanya kepada Allah Swt, yang
dengan taufiq-Nya, penelitian berjudul “Keseimbangan Penciptaan Bumi
Menurut Al-Qur‟an Dan Sains” ini, dapat diselesaikannya tugas akhir penulisan
skripsi ini. Shalawat dan salam penulis haturkan kepada Nabi Muhammad Saw,
keluarga dan para sahabatnya, yang merupakan suri tauladan bagi seluruh umat
manusia.
Tentunya di dalam penelitian ini masih terdapat banyak kekurangan dan
kesalahan, yang kelak ditemukan oleh mereka yang mau menelaahnya dengan
teliti. Segala kesalahan tersebut tak lain adalah bukti keterebatasan penulis di
dalam melakukan penelitian ini.
Penelitian ini merupakan wujud kepedulian dan rasa keingintahuan penulis
terhadap beberapa masalah yang kelihatannya sepele namun memiliki pengaruh
yang sangat besar dalam bidang tafsir. Penulis juga menyadari bahwa, penelitian
ini tidak luput dari jasa lembaga dan orang-orang tertentu yang telah membantu
penulis, baik moril maupun materil. Maka pada kesempatan ini, izinkanlah
penulis mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya, khusus kepada:
1. Prof. Dr. Komaruddin Hidayat (Rektor), Prof. Dr. Zainun Kamaluddin Fakih
M.A (Dekan Fakultas Ushuluddin), Dr. Bustamin, M.Si (Ketua Jurusan Tafsir
xi hingga selesai skripsi ini.
3. Dr. M. Suryadinata, MA, yang banyak memberikan masukan, arahan dan
motivasi kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
4. Segenap dosen Fakultas Ushuluddin, khususnya dosen-dosen di jurusan
Tafsir Hadits yang telah banyak berbagi ilmu kepada penulis, sehingga berkat
merekalah penulis mendapatkan setetes air dari samudra ilmu pengetahuan.
5. Yang tercinta Ayahanda Makmun Nawawi dan Ibunda Iis Sutianah yang
senantiasa mencurahkan kasih sayang dan perhatian dengan segenap hati dan
yang selalu mendoakan ananda untuk mencapai kesuksesan di masa depan,
semoga penulis selalu mendapat ridho mereka dan dapat berbakti kepadanya.
kepada, adik-adikku (Fahmi Hakim, M. Ramdan, M. Najwan, Siti Nabilah,
dan Syaid Hasbi) serta saudara-saudaraku tercinta yang memberikan motivasi
dan membantu penulis baik materil maupun inmaterial sehingga dapat
menyelesaikan skripsi ini.
6. Untuk teman UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, khususnya
teman-teman Jurusan Tafsir Hadits angkatan 2006/2007, khususnya kelas TH-A:
Amir Mu’min, Ahmad Hazami, Didit, Junaedi, Irfan, Haikal, Kholid, Ust.
Ubaid, Ahmad Firdausi, Hasan, Adi, Aang, Malik, Umam, dll. yang dengan
ikhlas turut membantu menyelesaikan skripsi ini. Teman-teman KKN 80 dan
seluruh pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian
xii
Fajar, Wahyu, Kendari, Yudo rada-rada, Fuad, Fauzan Bin Abdul Azis, Mas
Afud, Om Bode, Mas Dermawan, Mas Dedwi dan semua rekan-rekan
seperjuangan yang selalu memberi Support dalam menyelesaikan penulisan
skripsi ini.
8. Terakhir, untuk orang yang pernah melihat saya (ra‟ânî yaqazatan kâna am fi
al-manân), bertemu dengan saya (laqiyanî), belajar bersama saya (jâlasanî), tinggal bersama saya (aqâma ma‟î), pernah mendengar suara dan ocehan saya
(sami‟a minnî wa akhaza „annî syai‟an), semua orang yang mau menerima
dan memperkenankan saya untuk mengambil hikmah darinya (wa akhaztu
„anhu al-hikam wa al-„ulûm), dan semua orang yang hidup semasa dengan saya („asaranî). Ini bukan karena saya yang istimewa, melainkan anda semua
lah yang begitu spesial bagi saya. Bolehlah saya berharap dan ber-tafa‟ul
kepada nabi agar semua orang yang tersebut di atas menjadi orang yang
beruntung, sekali lagi- bukan karena saya, tetapi karena kita dianugerahkan
oleh Allah Swt untuk bisa saling berhubungan. Teriring doa, “ Tûbâ liman
ra‟ânî (bifadlih), wa tubâ liman ra‟â man ra‟ânî (bifadlih)”. Atas semua
kebaikan tersebut, tidak ada suatu yang dapat penulis sampaikan, kecuali
ucapan terima kasih yang tidak terhingga, serta doa; semoga amal kebaikan
kita semua diterima dan dibalas oleh Allah Swt. Jazâkumullâh ahsan al-jazâ,
xiii khususnya bagi penulis. Amin
Jakarta, 17 November 2011
Ttd,
Ahmad Harfa
xiv
HALAMAN JUDUL………... i
ABSTRAKSI….……….. ii
LEMBAR PERNYATAAN………….………... iii
PERSETUJUAN PEMBIMBING………. iv
PERSETUJUAN TIM PENGUJI……….. v
PEDOMAN TRANSLITERASI……… vi
KATA PENGANTAR………. x
DAFTAR ISI……… xiv
BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah... 11
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian... 12
D. Studi Terdahulu yang Relevan... 13
E. Metodologi Penelitian... 14
F. Sistematika Penulisan... 16
BAB II : LANDASAN TEORITIS TENTANG PENCIPTAAN PLANET BUMI A. Pengertian Planet Bumi ………..………….………... 17
B. Teori Penciptaan Bumi a. Menurut Pandangan Ilmuwan dan Filosof…………...………... 27
xv
A. Keseimbangan Bumi……… 38
a. Suhu Bumi……….. 44
b. Medan Magnet Bumi ………...…..……… 47
c. Ketepatan Atmosfer Bumi ………. 51
d. Keseimbangan Untuk Kehidupan……… 57
B. Hikmah Dibalik Keseimbangan Penciptaan Bumi………... 63
BAB IV : PENUTUP A. Kesimpulan……….. 67
B. Saran……… 68
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Alam semesta, di sana terdapat ribuan galaksi yang dihiasi jutaan
cahaya yang bergerak dengan keteraturanya masing-masing, milyaran planet
yang mengarungi jagad raya dengan struktur pembentuknya yang di dalamnya
terdapat tanda-tanda yang membimbing manusia kepada Allah swt serta
kegaiban dan keangungan-Nya.
Pengetahuan manusia tentang benda langit semakin luas dengan
semakin majunya teknologi yang ada. Pikiran manusia menjelajah hingga ke
hal yang terkecil sekalipun. Pikiran manusia menerawang tentang sebuah
bentuk keseimbangan dalam penciptaan.
Allah swt, yang telah menciptakan alam semesta, memberikan isyarat
kepada manusia akan tanda-tanda kebesaran-Nya dalam al Qur’an. Dalam
dimensi ilmu pengtahuan, Al Qur’an telah memberi ilmu mengenai fenomena
jagad raya dan membantu pikiran manusia untuk melakukan terobosan
terhadap rahasia-rahasia keseimbangan jagad raya dan planet-planet yang
terdapat di alam semesta. Dan al Qur’an menunjukkan kepada Realitas
Intelektual Yang Maha Besar, yaitu Allah SWT melalui ciptaan-Nya
Dalam sistem keyakinan Islam, al Qur’an adalah sumber ajaran yang
menjadi petunjuk bagi manusia untuk mencapai kesejahteraan di dunia dan di
dirumuskan dalam sebuah konsep yang membahas segi-segi
kemujizatannya(i’jazal Qur’an). Diskursus seputar ini dimulai sejak abad ke
-2 H/ awal abad ke-3 H,1dan menjadi bagian tersendiri dalam ilmu-ilmu al
Qur’an.
Dalam hal ini, hubungan antara al Qur’an dengan ilmu pengetahuan
dan informasi kontemporer, kalangan muslim menyakini bahwa al Qur’an
telah mengisyaratkan ilmu-ilmu pengetahuan modern. Intinya al Qur’an
selalu selangkah lebih dulu dari ilmu pengetahuan yang baru.
Ian G. Barbour berpendapat, dalam salah satu tipologi tentang
munculnya hubungan sains dengan kitab suci yaitu tipologi integrasi nature
theology, terdapat klaim bahwa eksistensi tuhan dapat disimpulkan dari bukti tentang desain alam, yang dari alam tersebut dapat menyadari adanya Tuhan.2
Tentunya dalam hal ini kitab suci yang dimaksud adalah al Qur’an. Allah swt
memberikan tanda-tanda akan keberadaan-Nya melalui sebuah kesempurnaan
segala ciptaan-Nya yang diatur dengan keteraturan dan keseimbangan yang
begitu mengagumkan. Argumen kosmologi Ian G. Barbour ini menegaskan
bahwa setiap pristiwa harus memiliki “sebab” sehingga harus mengakui
“sebab pertama” yaitu Allah swt.
Menurut Ahmad Khan, al Quran secara mutlak tidak bertentangan
dengan hukum alam. Mengenai prinsip ini, sejak awal, Ahmad Khan telah
mendeklarasikan bahwa alam dan al Qur’an sama-sama hasil kreasi Allah
1
Mustafa Muslim, Mabahis Fi ijaz al-Qur’an, ( Jeddah: Dar al-Manar As-Saudiyah, 1988 M/1408 H), cet. I, hal. 13.
2
swt; alam merupakan hasil kerja-Nya sedangkan Al Qur’an merupakan
kalam-Nya. Atas dasar itu tidak akan ada kontradiksi antara science modern dengan firman Allah swt yang terdapat al Qur’an. Prinsipnya adalah: “The
word of God (Alquran) must be in harmony with the work of God (nature)”.
al Qur’an adalah kalam Allah, sedangkan hukum alam adalah hasil
perbuatan-Nya (Nature is the “Work of God” and the Qur’ân is the “Word of God”). Atas dasar itu dapat dipastikan bahwa mustahil terjadi pertentangan antara
perkataan dan perbuatan-Nya sendiri, atau tidak ada kontradiksi antara
pernyataan Al Qur’an dengan sains modern.3
Lebih lanjut, seorang muffasir seperti Muhammad Kamil Daww menulis dalam bukunya al-Qur’an al-Karim wa Ulum al-Hadits bahwa keajaiban muatan “ilmiah” al Qur’an lebih besar daripada keajaiban kefasihan
bahasa yang tak ada bandingnya. Kesesuaian antara al Qur’an dan ilmu
pengetahuan bagi muffasir ilmiah modern merupakan suatu bukti kejujuran Nabi Muhammad saw yang menyakan dan karenanya merupakan kebenaran
dari semua peryataan al Qur’an, termasuk yang berkaitan dengan Tuhan, Hari
Akhir, Hari kebangkitan dan seterusnya. Mereka tidak pernah bosan bahwa
bagaimanapun keajaiban besar bahwa awal abad ke-7 seorang Nabi pembawa
pesan yang berisi ibarat-ibarat ilmu pengetahuan yang tidak dikembangkan
hingga abad ke-19. Para ulama generasi awal berpendapat bahwa kebesaran
alam membuktikan adanya Tuhan dan secara tidak langsung menyatakan
3
sifat-sifatnya.4 Sebagai contoh muatan ilmiah yang disebutkan dalam al
Qur’an adalah, firman Allah swt:
“Dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman?”5
Sungguh bukan suatu kebetulan belaka al-Qur’an yang telah
diwahyukan empat belas abad yang lalu sebagai penerang jalan kemanusiaan.
Telah menyampaikan informasi bagaimana alam semesta ini tercipta. Allah
swt secara tegas menyatakan bahwa Dia telah menciptakan alam semesta dari
ketiadaan untuk hal yang khusus, disertai dengan sistem dan keseimbangan
yang dirancang khusus untuk menunjang kehidupan manusia.
Jika penelitian ini menunjukan adanya keserasian dan keseimbangan
dalam hukum-hukum alam semesta merupakan sebuah bentuk akan
keberadaan Allah swt yang mengusai seluruh alam semesta yang berada
dalam kendali-Nya atau sebaliknya.6 Hukum dan fenomenanya teratur dan
tepat meliputi ruang yang maha luas sampai pada unsur terkecil dalam alam
semesta, tunduk kepada suatu pola dan susunan yang sama. Sungguh hanya
4
Fakruddin ar-Razi, Mafatihul Ghayb,(Beirut: Dar Al-Fikri, 1994), juz. V, hal. 501.
5 QS. Al-Anbiyaa’: 30
6
Allah swt yang menciptakan alam semesta dengan berjuta galaksi bintang dan
planet yang tunduk pada aturan yang ditetapkan secara sempurna.7
Maha besar Allah dengan firman-Nya:
“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu Lihat sesuatu yang tidak seimbang?. Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam Keadaan payah”8.
Dalam al Qur’an dinyatakan bahwa manusia harus melihat dan
mempertimbangkan semua sistem dan keseimbangan di alam semesta yang
telah diciptakan Allah swt untuknya serta mengambil pelajaran dari
pengamatannya:
“Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan
7
Afzalur Rahman, Al-Qur’an Sumber Ilmu Pengetahuan, terj.H. M. Arifin, (Jakarta: PT. Rineka Cipta,1992), cet. II, hal. 5.
8
perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (Nya),”9
Menurut M.Quraish Shihab, tanda-tanda kekuasaan Allah swt yang
telah disebutkan dalam firman di atas hanya kaum yang berakal yang mau
memanfaatkan akalnya untuk memahami apa-apa yang terjadi pada
tanda-tanda kebesaran-Nya.10
Kebenaran nyata yang dipaparkan al Qur’an juga ditegaskan oleh
sejumlah penemu penting ilmu astronomi modern, Galileo, Kepler, dan
Newton. Semua menyadari bahwa sruktur alam semesta, rancangan tata surya,
hukum-hukum fisika dan keadaan seimbang semuanya diciptakan Tuhan11.
Allah mengajak kepada manusia untuk mempertimbangkan kebenaran
ini dalam ayat berikut:
“Apakah kamu yang lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membinanya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya”12
Menurut M. Quraish Shihab, dalam ayat tersebut Allah Swt
menunjukan bukti kuasa-Nya yang dapat ditarik dari alam raya. Allah
berfirman sekaligus “bertanya” dengan tujuan mengecam bahwa penciptaan
9
QS. An Nahl : 12
10
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah:Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), Vol. 7, hal. 198.
11
Harun yahya, The Creation of The Universe, (London: Ta-Ha publisher Ltd, 2000), cet. I, hal. 2
12QS. An Nazi’at : 27
langit lebih sulit dari pada penciptaan manusia. Ayat ini menjelaskan
kuasanya mengenai penciptaan langit yang kokoh dan harmonis. Dia
meninggikan bagunannya sehingga langit menjadi bagaikan atap bagi Bumi,
dan juga meninggikan gugusan-gugusan bintangya lalu menyempurnakannya
sehingga menjadi padu tanpa sedikit ketimpanganpun dan jarak pun menjadi
sesuai untuk menunjang kehidupan di bumi. Kata samkahâ terambil dari kata
As-samk yang dari segi bahasa antara lain diartikan atap atau jarak antara
bagian atas sesuatu dan bagian bawahnya. Para ulama memahami kata tersebut sebagai bermakna jarak antara Bumi dan benda langit lainnya
sehingga kehindupan di bumi bisa berlangsung dengan nyaman.13
Sementara Hamka dalam tafsirnya mengambil pendapat dari ulama
tafsir lain yaitu, Syekh Muhammad Abduh dalam tafsir juz’ammanya
menjelaskan tentang ayat ini:
“Bagunan itu menggabungkan sudut-sudut yang tersebar keseleruh penjuru hingga jadi satu kesatuan, terikat demikian rapat dalam satu bangunan. Demikian Allah swt mengatur bintang-bintang. Sama sekali terletak ditempat yang teratur dan seimbang diantara hunbungan yang satu dengan yang lain; semua berjalan dijalannya sendiri,”14
Senada dengan pernyataaan di atas seorang ilmuwan bernama George
Watherill dalam karyanya “how special Jupiter is” :
“Tanpa planet besar yang dengan tepat ditempatkan di posisi Yupiter, bumi tentunya telah ditabrak ribuan kali lebih sering oleh komet atau
13
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah:Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), Vol. 15, hal. 44.
14
meteor serta serpihan antar planet. Jika saja tanpa Yupiter, kita tidak mungkin ada untuk mempelajari asal-usul tata surya”15
Dari pernyataan-peryataan para ulama tafsir dan ilmuwan bahwa
benarlah memang tanpa disadari oleh sebagian manusia bumi telah diciptakan
khusus untuk menunjang sebuah kehidupan bgai manusia dan mhaluk lainya.
Keberadaan planet Bumi yang tepat pada posisi dimana sebuah kehidupan
bisa berlangsung sebagai mana Allah Swt dalam firman-Nya telah
menempatkan Bumi diposisi yang sangat begitu teliti sehingga belengsung
kehidupan yang nyaman.
Ini menjadi sebuah jawaban besar akan kebenaran-Nya dan
keberadaan-Nya melalui firman-Nya di dalam al Qur’an yang ditunjukan bagi
kaum yang mau memikirkan ciptaan-Nya termasuk dalam keseimbangan
penciptaan bumi.
Tidak diragukan lagi al Qur’an menegaskan tanpa ragu bahwa seluruh
ciptaan merupakan satu kesatuan yang mematuhi hukum tunggal dari Maha
pencipta. Jika tidak demikian maka tidak mungkin ada keseimbangan,
keserasian serta pertimabangan yang sempurana. Kerjasama dan kesesuaian
antara berbagai bagaian alam semesta, dan semuanya berfungsi dalam
keharmonisan yang saling menlengkapi tugas antara yang satu dan yang
lain.16
Keseimbangan penciptaan juga terdapat dalam penciptaan planet
Bumi. Bumi merupakan planet dengan atmosfer yang ramah, kondisi
15
Harun yahya, The Creation of The Universe, (London: Ta-Ha publisher Ltd, 2000), cet. I, hal. 68
16
permukaan, suhu permukaan, medan magnet, ketersediaan unsur-unsur, serta
posisi pada jarak tepat pada matahari, tampak telah dirancang secara khusus
untuk tempat hidup.
Keseimbangan yang terdapat dalam penciptaan bumi merupakan
sebuah tanda dari kebesaran Allah swt.
Maha besar Allah dalam firman-Nya :
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”17
Selain itu, ada ayat lain yang menyebutkan akan kebesaran Allah
melalui penciptaan langit dan bumi dalam al Quran :
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”18
17
QS. Al Fushsilat : 53
18
Ini menandakan terdapat keselarasan atau tanda-tanda kebesaran Allah
dalam penciptaan Bumi sehingga dapat dihuni oleh manusia dan mahluk
lainnya. Penulis mencoba menelisik lebih jauh akan tanda-tanda yang terdapat
dalan keseimbangan penciptaan Bumi melalui penafsiran para ulama tafsir
dan ilmuwan, sehingga bisa menghasilkan sebuah kesimpulan akan kebenaran
tanda-tanda kebesaran Allah dalam penciptaan Bumi sehingga dapat
menopang kehidupan.
Penulis menganggap permasalahan ini menarik untuk dibahas karena
jarang sekali yang memikirkan akan ciptaan Allah yang sangat sempurna ini
yaitu Bumi sehingga bisa dihuni oleh manusia. Pembahasaan ini pula dapat
menambah keyakinan kepada Allah melalui sisi lain akan sebuah keyakinan.
Berdasarkan deskripsi di atas, penulis akan mengadakan penelitian
tentang “KESEIMBANGAN PENCIPTAAN BUMI DALAM
PERSPEKTIF ALQUR’AN DAN SAINS”.
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
Al Qur’an adalah sumber ilmu pengetahuan yang mencakup segala
aspek kehidupan termasuk sesuatu yang berkaitan dengan kosmologi. Dalam
al Qur’an banyak sekali yang membahas penciptaan Bumi, kurang lebih ada
350 ayat yang membahas tentang Bumi beberapa diantaranya: 2:22, 4: 97, 7:
10, 11: 7 dan seterusnya19. akan tetapi penulis hanya akan membatasi pada
permasalahan yang menyangkut tentang keseimbangan penciptaan bumi yang
19
bersifat materi seperti atmosfer, suhu, medan magnet dan keseimbangan yang
menopang kehidupan di Bumi. Adapun identifikasi ayat-ayatnya adalah20 :
1. Ayat-ayat yang mengisyaratkan tentang Atmosfer Bumi dan Magnet
Bumi adalah : (QS 40:64, 67:15), (QS 21:32), (QS 40:64), (QS 2: 22),
dst.
2. Ayat-ayat yang mengisyaratkan tentang Suhu Bumi dan Keseimbangan
Yang Menjadi Penopang Kehidupan Di Bumi adalah : ( QS 29:44), (QS
79: 27-33), (QS 91: 1-5), (QS 2: 116), (QS 36: 26), (QS 31: 20), (QS 2:
116), (QS 45: 13 ), (QS 6: 73), (QS 14:19), (QS 3:3), (QS 44:39), (QS
45:22), (QS 64:3), dst..
Dikarenakan dalam al Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang
mengisyaratkan keseimbangan penciptaan Bumi dan memiliki
kesamaan makna. Maka hanya dibatasi pada permasalahan dan
ayat-ayat berikut:
1. Suhu Dan Medan Magnet Bumi : (QS. 29:44),(QS 21:23)
2. Atmosfer Bumi Dan Keseimbangan Yang Menjadi Penopang
Kehidupan Di Bumi : (QS. 40:64), (QS. 67: 15), (QS. 79:27-33).
Berdasarkan pembatasan masalah di atas maka penulis merumuskan
permasalahannya tentang Bagaimana sudut pandang al-Qur’an dan sains
dalam keseimbangan penciptaan Bumi?
20
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan
Berdasarkan perumusan masalah yang telah disebutkan maka tujuan
penulisan ini adalah:
1. Untuk mengetahui pandangan alquran dan sains tentang konsep
keseimbangan penciptaan bumi
2. Untuk mengetahui tujuan dibalik adanya keseimbangan dalam
penciptaan bumi
3. Untuk memenuhi syarat akhir studi S1 di Fakultas Ushuluddin dan
Filsafat.
Adapun manfaat atau kegunaan penulisan skripsi ini adalah:
1. Secara akademis tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk menambah
khazanah keilmuan tentang literatur, sehingga berguna bagi menjadi setetes pengetahuan yang bermanfaat bagi para pemikir dan praktisi
yang haus akan pengetahuan .
2. Penelitian ini juga diharapkan dapat menambah wawasan bagi para
teoritis, praktisi dan aktivis Islam pada umumnya termasuk juga civitas
akademika Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta.
D. Studi Terdahulu
Dalam kajian ini bukanlah kajian baru, telah banyak yang memilih
kajian-kajian yang hampir mirip judul tersebut namun penulis belum
1. Mudrika, Bumi sebagai poros: studi penafsiran Muhammad Shalih atas
ayat rotasi dan revolusi dalam Al-Qur’an, Skripsi S1 Fakultas Ushuluddin, Uin Syarif Hidayatullah,2008.
Dalam skripsi ini membahas tentang rotasi bumi, skripsi ini hanya
terbatas kepada ayat-ayat yang berkaitan dengan rotasi bumi, melalaui
penafsiran Muhammad Shalih al-Utsaimin. Contoh penafsiran Muhammad
Shalih al-Utsaimin ketika menafsirkan bahwa ketika Allah SWT menerbitkan
matahari, sehingga jelas sekali menunjukan bahwa mataharilah yang bergerak
mengelilingi bumi. Seandainya bumi yang berotasi niscaya Allah SWT tidak
mengatakan bahwa mataharilah yang terbit.
2. Ridwan, I’jaz Al-Qur’an Dalam Mengungkap Rotasi Bumi: Sebuah
Analisa Tafsir Ilmi, skripsi S1 fakultas Ushuluddin, Uin syarif Hidayatullah,2004.
Skripsi ini membahas tentang rotasi bumi, dalam hal ini ayat-ayat
yang berhubungan dengan rotasi bumi yang terbatas surat Yassin ayat 40 dan
Al Anbiyaa’ ayat 33. Dalam skripsi ini hanya menguraikan sebatas bagaimana
teori-teori astronomi dapat dikompromikan dengan al Qur’an khususnya pada
ayat-ayat tersebut.
3. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Penciptaan Bumi Dalam
Perspektik Al-Qur’an Dan Sains (Tafsir ‘Ilmi), (Jakarta: Lajnah
Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2010)
Buku ini membahas tentang penafsiran al-Qur’an tentang ayat-ayat
penciptaan bumi melalui pandangan al-Qur’an dan sains. Buku ini pula yang
akan menjadi rujukan peneliti dalam menjelaskan keseimbangan penciptaan
Bumi dalam al-Qur’an dan sains.
Adapun kaitannya dengan skripsi yang akan penulis bahas, skiripsi dan
buku tersebut mencakup apa yang akan penulis bahas hanya pada sedikit
bagian pengertian bumi sebagai sebuah planet. Namun bedanya tulisan di atas
dengan penelitian yang akan penulis angkat di sini adalah bahwa hubungan
sains dengan al Qur’an, khususnya bumi bukan hanya sebatas rotasi saja,
sementara itu ayat yang menjelaskan bumi tidak hanya mencakup itu saja dan
keseimbangan tentang penciptaan bumi adalah salah satunya, inilah yang akan
penulis kaji.
E. Metodologi Penelitian
Metode penelitian yang akan penulis gunakan tentang bagaimana
keseimbangan penciptaan bumi dalam perspektif alquran dan sains ini adalah
sebagai berikut:
Pertama. penulis menggunakan penelitian kepustakaan (library research) dengan mengumpuikan data-data tertulis yang bersifat primer dari
al-Quran itu sendiri, yaitu yang berhubungan dengan masalah keseimbangan
alam, juga sumber-sumber yang bersifat sekunder yaitu kitab-kitab,
buku-buku dan jurnal atau sejenisnya, serta penunjang lainnya yang bersifat
pelengkap.
untuk rnemaparkan ayat-ayat yang berkaitan dengan permasalahan yang
dibahas berdasarkan sumber data yang ada untuk kemudian dianalisa, dan
menyeleksi data sehingga dapat terbentuk suatu susunan yang logis dan
obyektif tentang permasalahan tersebut.
Ketiga. dalam penelitian ini penulis menggunakan metode yang ditempuh, yaitu isi (content analysys). Analisa di sini yaitu dengan melakukan tinjauan secara ayat demi ayat, berdasarkan pengertian yang terkandung
dalam ayat itu, kemudian diadakan pengelompokkan terhadap ayat-ayat
al-Qur„an dan disusun secara logis, sehingga diharapkan dalam melakukan
penelitian ini al-Qur„an dapat mengungkapkan secara keseluruhan dan utuh
tentang keseimbangan penciptaan Bumi dalam persfektif al-Qur'an dan sains.
Penulisan skripsi ini berpedoman kepada buku Pedoman Penuiisan Karya
Iimiah Skripsi, Tesis, dan Disertasi dengan tim penulis Dr. Hamid Nasuhi,
MA. dkk tahun 2007.
F.Sistematika Penulisan
Penyusunan penulisan ini terbagi dalam lima bab, di mana setiap
babnya mempunyai spesifikasi dan penekanan tersendiri mengenai topik
tertentu adapun urutan penulisan adalah sebagai berikut:
Bab II : Tinjauan teoritis tentang planet dan Bumi, meliputi pengertian planet bumi dan teori penciptaan Bumi menurut pandangan ilmuwan, ulama sains dan filosof, pengertian keseimbangan, serta hikmah dibalik keseimbangan penciptaan Bumi. Bab dua ini sangat lah penting untuk mengetahui bagaimana Bumi tercipta sehingga akan menjelaskan hipotesis-hipotesis serta permasalahan yang ditawarkan pada bab sebelumnya
Bab III : Konsep keseimbangan Bumi menurut al-Qur'an dan Sains, meliputi inventaris ayat-ayat yang berhubungan dengan konsep keseimbangan, suhu, massa, medan magnet Bumi, ketetapan atmosfer Bumi dan keseimbangan untuk kehidupan, serta analisis tentang keseimbangan penciptaan Bumi menurut al-Qur’an dan Sains. Bab tiga ini akan menjalaskan ketika pengertian tentang kesimbangan dan bumi itu sendiri telah diketahui maka saatnya lah untuk menjelaskan serta menguji hipotesi-hipotesis pada bab sebelumnya.
17
LANDASAN TEORITIS TENTANG PENCIPTAAN PLANET
BUMI
A. Pengertian Planet Bumi
Planet diambil dari kata dalam bahasa Yunani “Asteres Planetai” yang artinya “Bintang Pengelana”. Dinamakan demikian karena berbeda dengan bintang biasa, Planet dari waktu ke waktu terlihat berkelana
(berpindah-pindah) dari rasi bintang yang satu ke rasi bintang yang lain. Perpindahan ini
(pada masa sekarang) dapat dipahami karena planet beredar
mengelilingi matahari.1
Dalam Dictionary of astronomi, Jacqueline Milton menjelaskan planet
sebagai berikut2:
“Planet An astronomical body, with not enough mass to become a star or a brown dwarf. The upper mass limit for a planet is about 0.013 solar masses (equivalent to about 13 jupiter masses). Thouhgt planets have traditionally been considered as object in the orbit around parent star, isolated bodies of very low mass discovered in regions of star formation have also described as “ free-floating planet.”To qualify as planet in the solar system, a body must be in orbit around the sun, and massive enough both to take on a shape close to spherical and to have swept away most smaller objects from the vicinity of the orbit, under this definition, there are eight planet in the solar system.”
Artinya:
“Planet merupakan Sebuah benda astronomi, dengan massa yang tidak cukup untuk menjadi bintang atau “brown dwarf”. Batas atas
1“planet” diakses pada Pkl. 20:21, 11 juli 2011, dari
http://id.wikipedia.org/wiki/Planet,
diubah pada Pkl. 19:12, 29 Juni 2011. 2
untuk massa planet adalah sekitar 0,013 massa matahari (setara dengan sekitar 13 massa Jupiter). Pemikiran planet secara tradisional dianggap sebagai obyek diorbit sekitar bintang induknya, benda yang terisolasi dengan massa yang sangat rendah ditemukan juga di daerah formasi bintang yang digambarkan sebagai "planet mengambang bebas." Untuk memenuhi syarat sebagai planet di tata surya, sebuah benda harus berada diorbit mengelilingi matahari, dan cukup besar baik untuk mengambil bentuk dekat “spherical” dan memiliki berat yang paling kecil dari sekitar orbit, dibawah definisi ini, ada delapan planet di tata surya”
Lebih lanjut lagi Jacqueline Milton menjelaskan tentang planet yang
termasuk dalam sistem tata surya, dalam hal ini planet yang berada di orbit
sekitar matahari.sebagai berikut3:
“planet may be basically rocky object, such as the inner planet - Mercury, Venus, Earth and Mars, or primarily liquid and gas with small solid core like the outer planet – Jupiter, Saturn, Uranus and Neptune. These eight are regreded as the major planets of the solar system.historically, Pluto was also considered to be a major planet, but that catagorrization was called in to question by the discover of other transneptutian object similar in sixe to Pluto, or even larger. In 2006, the International Astronomy Union adopted the term dwarf planet to describe Pluto, the largest asteroid Ceres, and the other similarly sized bodies orbiting the sun.”
Artinya:
“Planet mungkin pada dasarnya objek berbatu, seperti planet dalam Merkurius, Venus, Bumi dan Mars, atau terutama cairan dan gas dengan inti padat kecil seperti planet luar - Yupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus. Ini adalah delapan yang diterima sebagai planet utama dari surya sistem. Menurut sejarah, Pluto juga dianggap sebagai sebuah planet besar, akan tetapi katagorisasi itu membawa kedalam sebuah masalah dengan mengemukakan objek “transneptutian” serupa lainnya dalam masalah seperti Pluto, atau bahkan lebih besar. Pada tahun 2006, Persatuan Astronomi Internasional mengadopsi istilah “planet kerdil” untuk menggambarkan Pluto, Asteroid terbesar Ceres , dan benda berukuran hampir sama lain yang mengorbit matahari.
Demikian beberapa definisi mengenai kata planet. Adapun Bumi
merupakan sebuah planet yang akan menjadi objek pemikiran kali ini
3
merupakan salah satu planet yang mengorbit Mathari sebagai bintang induknya,
adalaha sebuah planet yang memiliki keistimewaan tersendiri.
Bumi adalah planet yang mengelilingi matahari, garis tengah bumi
sekitar 17.560 km, massa bumi sekitar 598x 1000 ton, volume bumi sekita 1 juta
cu km. Bumi memerlukan 365 hari, 6 jam, 9 menit, dan 9 detik untuk
menyelesaikan perjalanan mengelilingi matahari. 4 Keadaan bumi paling dekat
dengan matahari yaitu pada bulan januari tanggal 3 atau 4, ketika jarak matahari
terhadap bumi 147.0 juta Km. Kemudian, enam bulan selanjutnya bumi berada
pada jarak terjauh dengan matahari sekitar 152.0 juta Km.5
Bumi juga mempunyai gerakan lain, yaitu berotasi pada porosnya,
sebuah garis maya yang menghubungkan kutub utara dan kutub selatan. Bumi
berotasi sekali 24 jam ( tepatnya 23 jam, 56 menit, dan 4 detik)6. Perputaran
rotasi bumi memiliki garis kemiringan khatulistiwa sekitar 23027’ terhadap orbit
bumi. Dikarenakan kemiringan ini menyebabkan munculnya musim siklus
tahunan7.
Dalam dictionary of astronomy, difinisi bumi “Earth” dijelaskan sebagai berikut8:
“Earth the third planet from the sun. like Mercury, Venus, and Mars, Earth is the one of rocky, smaller planets in the inner solar system know as the terrestrial planets. Is the only of the four with a large natural satellite-the Moon”.
4
Budianto, Risalah Alam Semesta Dan Kehidupan, (Jakarta: G-Kreatif, 2006), Cet. Ke-1, hal. 40.
5
Jacqueline Milton, Cambrige Illustrated Dictionary Of Astronomy, hal. 94.
6
Budianto, Risalah Alam Semesta Dan Kehidupan , Cet. Ke-1, hal. 40.
7
Jacqueline Milton, Cambrige Illustrated Dictionary Of Astronomy, hal. 94.
8
Artinya:
“Bumi planet ketiga dari Matahari. seperti Merkurius, Venus, dan Mars, Bumi adalah salah satu planet yang padat, planet kecil di tata surya bagian dalam. Yang diketahui Sebagai “Planet Terestrial”. Bumi merupakan salah satu dari empat planet dengan satelit alam yang besar yaitu Bulan.
Struktur bumi terdiri dari beberapa unsur, yaitu: kerak, mantel dan inti
bumi. Jari-jari di kutub bumi adalah 6.356,8 km, sedangkan jari-jarinya di
ekuator adalah 6.378,2 km. kondisi kutub utara dan selatan agak pepat. Pepatnya
bola bumi ini disebabkan pada saat baru terbentuk bumi belum terlalu padat, dan
rotasinya membuat mengembung pada bagian yang tegak lurus sumbu rotasi,
yakni bagian ekuator. Luas permukaan bumi kurang lebih 510.101.000 km2 dan
volumenya adalah 1.083.320.000.000.000.000 km3.9
Ukuran bumi ini begitu tepat, tidak terlalu kecil sehingga akan kehilangan
atmosfernya, karena gravitasi yang kecil gagal mencegah gas lepas ke angkasa.
Dan ukuran bumi tidak terlampau besar sehingga gravitasinya menahan begitu
banyak atmosfir gas yang berbahaya.10
Abdul Rahman Ritonga, Alam Semesta, (Jakarta: FE UI, 1997), hal. 125
10
Harun Yahya, The Creation of The Universe, (London: Ta-Ha publisher Ltd, 2000), cet. I, hal. 82.
11
Budianto, Risalah Alam Semesta Dan Kehidupan, hal. 41.
12
1. Batuan beku
Dibentuk dari bahan batu yang panas yang berupa cairan (magma) yang
kemudian membeku dan mengeras. Karena berbagai alasan, magma sering
keluar menuju permukaan dan memancarkan keluar melalui retakan dikerak
bumi. Jika aliran magma ini cukup lama berlasung, sebuah gunung api dapat terbentuk. Magma yang keluar ke permukaan bumi disebut lahar sebagian besar
lahar mengeras dalam beberapa minggu setelah keluar ke permukaan.
2. Batuan sedimen
Batuan sedimen terbentuk dari pasir, lumpur, atau bahan-bahan lain yang
tersimpan di laut yang terbawa oleh aliran air dari daratan. Simpanan ini disebut
sedimen. Batuan sedimen bearti batuan yang terbuat dari sedimen. Sebagaian
terbuat dari mineral lautan yang mengendap ketika air menyusut atau atau
mongering. Endapan tersebut menjadi batuan setelah waktu yang berabad-abad.
3. Batuan metamorf
Batuan metamorf beaarti batuan yang telah diubah. Jika magma naik ke
atas, maka banyak batuan yang sudah ada terkena tekenan suhu yang besar.
Karena tekanan dan suhu ini, menyebabkan perubahan penting pada batuan.
Mantel, dibawah lapisan bumi terdapat lapisan batuan padat yang tebal yang disebut mantel. Tebalnya kira-kira 2.880 km dan suhunya 2.760 C. Mantel ini merupakan sumber batuan mencair/meleleh yang menjadi magma gunung
alumunium. Bila gunung merapi meletus, semburan gas batuan
meleleh(magma). Dan lahar yang keluar berasal dari lapisan mantel bumi.13
Setelah mantel adalah inti bumi, inti bumi terbentuk pada suhu sekitar 6000 C elemen-elemen berat seperti besi mengumpul sebagai inti bumi yang
dibagian dalam padat dikarenakan tekanan yang semakin dalam semakin
tinggi.14 inti bumi mempunyai tebal kira-kira 2.240 km dan terbuat dari nikel
dan besi cair. Setelah lapisan inti adalah inti bagian dalam yang berbentuk bola. Suhunya kira-kira 4.982 C. para ilmuwan menduga inti bagian dalam juga
terbuat dari nikel dan besi15.
Suhu dan atmosfer adalah unsur terpenting pertama bagi kehidupan di
Bumi. Bumi memiliki suhu yang memungkinkan untuk hidup dan atmosfer yang
digunakan mahluk hidup untuk bernafas, khususnya bagi mahluk hidup yang
kompleks seperti manusia. Faktor yang menentukan bumi begitu ideal sehingga
bias ditempati oleh manusia dan mahluk hidup lainnya. Dikarenakan posisi bumi
yang dengan matahari. Bumi tidak akan menjadi memeiliki sebuah kehidupan
anada saja bumi berada lebih dekat terhadap matahari seperti Venus yang
bersuhu hingga 4500 C atau lebih jauh seperti Yupiter yang bersuhu -1430 C.16
Molukul berbasis karbon hanya mampu bertahan pada suhu antara -200 C dan
1200 C, dan bumi satu-satunya planet dengan suhu rata-rata dalam batas
tersebut.17
13
Budianto, Risalah Alam Semesta Dan Kehidupan, hal. 41.
14
Achmad Baiquni, AlQuran Dan Ilmu Pengetahuan Kealaman, hal. 100.
15
Budianto, Risalah Alam Semesta Dan Kehidupan, hal. 42.
16
Setiawan Sandi, Gempita Tarian Cosmos, (Yogyakarta: Andi Offset, 1994), hal 121.
17
Jika melihat alam semesta secara keseluruhan, mendapati ruang suhu
yang sangat sempit untuk menunjang sebuah kehidupan ini merupakan hal yang
sangat sulit karena suhu diseluruh alam semesta bervariasi dari beberapa juta
derajat pada bintang terpanas hingga nol derajat mutlak (-2730 C). dalam selang
suhu yang begitu lebar, toleransi suhu yang memungkinkan adanya kehidupan
sangatlah sempit, namun bumi memilikinya.18
Bumi diselubungi oleh campuran gas yang bias disebut udara. Udara
merupakan zat yang sangat penting untuk menunjang kehidupan untuk seluruh
mahluk hidup di bumi. Udara atau atmosfer terdiri dari campuran
bermacam-macam gas dengan nitrogen sebagai unsur yang paling banyak terdapat (78%).
Gas yang kelimpahannya berada di bawah nitrogen adalah oksigen (21%),
kemudian diikuti oleh gas-gas seperti Argon, Karbondioksida, uap air dan
sebagainya.19
Kadar oksigen yang hanya 21 % bukan merupakan sebuah kebetulan
melainkan hasil dari kesempurnaan Allah swt dalam menentukan kadar yang
tepat bagi berlasungnya sebuah kehidupan. Kadar oksigen yang hanya 21%
berkaitan langsung dengan kehidupan manusia dan mahluk lainnya di bumi. Para
peneliti berpendapat bahwa seandainya kada oksigen 15%, maka apai tidak akan
menyala. Karena, kandungan oksigen tidak akan cukup untu berinteraksi.
18
Harun Yahya, The Creation of The Universe, hal. 79.
19
Seandainya kadar oksigen mencapai lebih dari 25% maka segala yang ada di
bumi akan hangus tanpa perlu disulut api, cukup dengan panas matahari saja.20
Atmosfer mungkin tampak sebagai udara tipis belaka, namun
sesungguhnya atmosfer memiliki struktur yang sangat kompleks. Atmosfer
memiliki karakteristik sendiri, yaitu dari troposfer yang berputar di atas tanah
hingga eksosfer jernih yang jauh tinggi diluar angkasa. Atmosfer memiliki
kedalaman sekitar 700 km, namun tidak ada batas yang nyata. Atmosfer lenyap
begitu saja diangkasa ketika udara menjadi semakin tipis. Adpun lapisan-lapisan
atmosfer atmosfer sesuai perbedaan suhu dan ketinggiannya. Di troposfer
sebagai terbawah kemudian stratosfer, mesosfer terletak diatas stratosfer,
merupakan lapisan gas tipis di mana suhu turun dengan sangat cepat. Gas-gas
dalam tiga lapisan terakhir atmosfer-ionosfer, termosfer, dan eksosfer-menjadi
semakin tipis. Dalam lapisan atmosfer terbawah, yaitu troposfer, udara terus
menerus begerak karena ada perbedaan tekanan. Ini dipicu oleh distribusi panas
matahari yang tidak merata antara daerah kutub dan ekuator. Gerakan
berkelanjutan menyebabkan perbedaan kondisi cuaca di seluruh dunia. Dan
menimbulkan keberanekaragaman flora dan fauna yang ada. Tanpa atmosfer
bumi tidak akan memiliki kehidupan. Atmosfer menjaga agar bumi tetap hangat,
melindungi dari sinar matahari yang berbahaya dan dari meteor.21
Selain itu, dikarenakan gravitasi bumi yang tepat maka bumi mampu
menyimpan air yang cukup bagi kehidupan. Air merupakan salah satu penunjang
20
Hisham Thalbah dkk, Esiklopedia Mukjizat Alquran Dan Hadits, terj. Syarif Hade Masyah dkk, ( Jakarta : PT. Sapta Sentosa, 2009), cet. III, vol 8, hal . 33.
21
kehidupan yang sangat penting, air dapat ditemukan hampir disemua kehidupan
yang ada di bumi. Tubuh manusia 70% nya adalah air. Oksigen yang berguna
untuk manusia, hewan dan tumbuhan salah satu unsur pembentuknya adalah air.
Air adalah salah satu molekul yang paling berlimpah di bumi. sekitar. ada
sekitar 350 juta kilometer kubik air di planet ini. hampir 97% dari semua
air ditemukan di lautan, yang mencakup dua pertiga dari luas permukaan
planet. sekitar 90% dari semua air segar beku dalam es di kutub utara
dan selatan. Dan 1% dari semua air di bumi yang tersedia untuk konsumsi, dan
sebagian besar adalah ditemukan di bawah tanah akuifer.22
A. E. Needhem seorang ahli biokimia, menunjukan betapa pentingnya air
bagi pembentukan kehidupan. Jika hukum alam semesta memungkinkan
keberadaan zat padat atau gas saja, maka tidak akan pernah ada kehidupan.
Alasannya adalah bahwa atom-aton zat padat berikatan terlalu rapat dan terlalu
statis dan sama sekali tidak memungkinkan proses mulekuler dinamis yang
penting bagi terjadinya kehidupan. Sebaliknya, dalam gas, atom-atom bergerak
bebas dan acak. Mekanisme kompleks bentuk kehidupan tidak mungkin
berfungsi dalam struktur seperti itu.23
Dengan demikian, lingkungan cair mutlak diperlukan untuk
pembentukan suatau kehidupan. Perlu dingatkan ini terjadi dikarenakan ukuran
bumi yang tepat sehingga memungkinkan terbentuknya suatu kehidupan di
bumi.
22
K. Lee Lerner dkk, U.X.L Encylopedia of Water Science, (USA : Thomson Gale, 2005), hal. 1.
23
Ukuran dan massa bumi merupakan sesuatu yang spesial dari jutaan
kemungkinan penciptaan bumi. Ahli geologi Amerika Frank Press dan Raymond
siever meberikan komentar tentang ketepatan ukuran bumi seperti yang dikutip
oleh Harun Yahya24:
“Dan ukuran bumi begitu tepat tidak terlalu kecil sehingga kehilangan atmosfernya, karena gravitasi yang kecil gagal mencegah gas lepas ke angkasa, dan tidak terlalu besar sehingga gravitasinya menahan begitu banyak atmosfer, termasuk gas yang berbahaya”.
Kemudian selain massa dan ukuran bumi, inti bumi dirancang khusus.
Disebabkan intinya, bumi memiliki medan magnet yang kuat yang berperan
dalam menjaga kelangsungan hidup. Menurut press dan siever 25:
“Perut bumi luar biasa besar, namun merupakan mesin penghasil panas yang diseimbangkan secara rumit dengan bahan bakar radio aktif. Andai bekerja lebih lambat, aktivitas geologi akan berjalan lebih lambat. Besi tidak mungkin mencair dan terbenam membentuk inti cair, dan medan magnet tidak pernah terbentuk andai lebih banyak bahan bakar radioaktif, dan mesin bekerja lebih cepat, gas dan debu vulkanik tentu telah menghalangi matahari, sehingga atmosfer menjadi pekat mematikan. Dan permukaan bumi diguncang oleh gempa dan letusan gunung api setiap hari.”
Singkatnya, jika proses yang terjadi didalam perut bumi tidak stabil
maka tidak akan terbentuk medan magnet yang melindungi bumi dari energi
yang mematikan.
Dari penerangan mengenai bumi sebagai sebuah planet, bumi memang
dirangcang khusus untuk menopang sebuah kehidupan.
24
Harun Yahya, The Creation of The Universe, hal.82 .
25
B. Teori Penciptaan Bumi
a. Menurut Pandangan Ilmuwan dan Filosof
Pada proses penciptaan planet-planet, khususnya planet-planet yang
mengitari matahari, termasuk diantaranya planet bumi yang permukaannya
terdapat mahluk hidup. Para ilmuwan belum sepakat seputar pembentukan
planet di sekitar bintang-bintangnya atau bulan di sekitar
planet-planetnya. Namun sejumlah ahli telah mencoba untuk merumuskan teori untuk
menjelaskan cara pembentukan planet-planet di sekitar bintang.
Teori yang paling popular adalah teori yang menyatakan bahwa meteri
yang membentuk planet mengitari matahari tersebut berasal dari luar matahari
dan bersandar pada keyakinan bahwa kuantitas unsur-unsur alami yang terdapat
dalam planet-planet tersebut, terutama bumi, tidak mungkin dihasilkan dari
matahari. Pendapat ini menyatakan bahwa materi planet berasala dari hasil
ledakan bintang yang berjumlah banyak setelah kehabisan bahan bakar yang
berupa hidrogen dan unsur ringan lainya yang berubah menjadi
unsur-unsur alami yang berbeda-beda. Materi-materi bintang yang berterbangan jatuh
pada seluruh gravitasi matahari, lalu mulai berotasi mengelilingi matahari dan
akhirnya membentuk planet-planet yang berbeda26.
Teori lain mengatakan, asal usul terciptanya bumi berasal dari radiasi
yang dipancarkan oleh matahari yang baru lahir menolak materi awan debu
disekitarnya. Yang tersisa hanyalah sebuah cakram debu yang mengitari
matahari. Perlahan-lahan butir-butir tersebut saling bergabung dalam proses
26
yang disebut akresi. Lambat laun, cakram debu berubah menjadi sejumlah
planet, yang salah satunya adalah bumi. Massa bumi terus bertambah sehingga
medan gravitasinya terus meningkat. Hingga terus memampat dan terbentuklah
bola padat yang intinya meleleh. Inti bumi terdiri dari lelehan besi pekat, yang
diselimuti oleh mantel silikat padat. Aktivitas gunung api dan gempuran hujan
meteor membentu rupa permukaan planet bumi. Ketika pembentukan bumi
hamper rampung, sebuah benda seukuran planet mars membenturnya sehingga
terlemparlah awan materi ke jalur orbit bumi. Selanjutnya, awan debu tersebut
memampat dan menjadi satelit bumi dengan nama bulan.27
Menurut teori lain, bumi dulu merupakan suatu massa yang terdiri dari
gas yang berputar yang terlempar dari matahari pada saat matahari masih muda.
Gas tersebut perlahan menjadi dingin, bentuknya berubah menjadi cairan. Cairan
ini, yaitu magma, menjadi dingin dan mineral yang terkandung didalamnya
mulai mengkristal. Mineral-mineral berat cenderung tenggelam kedalam cairan
magma, sedangkan mineral yang ringan terapung diatas mineral yang berat.
Sementara pendinginan terus berlanjut, batuan mulai memadat. Pada waktunya
batuan ini membentuk kerak bumi. Pada saat magma mengeras menjadi kerak bumi, sering terjadi magma dalam jumlah yang besar dan pada suhu yang sangat
tinggi akan terjebak/terkurung dalam kerak bumi. Gas yang terdapat dalam
magma akan mengeluarkan tekanan yang sangat besar yang menekan batuan
kerak bumi yang di atasnya. Batuan tersebut sering tidak dapat menahan
27Charles Taylor dkk,“ Ensiklopedia Sains untuk pelajar dan umum”terj. Tim Penerbit
tekanannya sehingga magma akan naik membentuk lapisan-lapisan yang lebih
tinggi.dan terbentuklah gunung berapi28.
Selain terjadi batuan kerak bumi, karena posisi bumi yang sangat
istimewa terhadap matahari, terbentuk juga materi bumi yang lain yang sangat
penting yaitu air yang menggenang diatas kerak bumi sebagai lautan. Permukaan
bumi saat ini 2/3 nya merupakan air dan 1/3 nya berupa daratan. Dari siklus air
yaitu penguapan-hujan-mengalir kembali kelaut serta angin dan perubahan suhu
siang-malam, batuan-batuan tersebut lama-lama menjadi pecah-pecah.
Pecahan-pecahan tersebut terbawa air dan terdampar didanau atau bagian laut yang
dangkal. Pecahan-pecahan ini saling menekan karena berat yang semakin
bertamabah dan dengan perlahan berubah menjadi batuan sedimen29.
Pada tahun 1755 M, Immanuel kant salah seorang filsuf terbaik Jerman
berpendapat30:
“ The solar system –The Sun, Planets, Moons, Comets and the rest- were formed from a Nebula-a great mass of thin and like gas”
Artinya:
“Sistem tata surya seperti Matahari, Planet-planet, Bulan, Komet-komet dan sisanya terbentuk dari sebuah Nebula yaitu sebuah massa yang besar dan seperti gas.”
Dalam waktu yang bersamaan, naturalis Perancis George Louis leclerc,
Comte the Buffon, memberikan jawabannya sendiri atas pertanyaan31:
28
Budianto, Risalah Alam Semesta Dan Kehidupan, hal. 44.
29
Budianto, Risalah Alam Semesta Dan Kehidupan, hal. 44.
30
Howard Graham dkk, The Book of Popular Science,( Canada: Grolier Limited, 1977), vol 1, hal. 27
31
”how was the earth born?he belived that, ages ago, the Sun collided whith a comet and that, as a result, a great deal of material was forced out of it. This material later cooled and gave rise to the planets ”
Artinya:
“Bagaimana bumi telah tercipta? Dia Percaya Bahwa, pada masa lalu, Matahari bertabrakan dengan komet dan bahwa, sebagai hasilnya, banyak Bahan Dipaksa Keluar. Bahan ini kemudian didinginkan dan memunculkan planet-planet.”
Pendapat Buffon ini sangat disayangkan, bahwa sebuah komet yang
bertabrakan dengan sama sekali tidak dapat mempengaruhi itu. Walau
bagaimanapun, teori ini menjadi awal untuk hipotesis-hipotesis modern
mengenai sebuah idea tabrakan benda langit.
Sekitar tahun 1900 M, seorang astronome Forest Ray Moulton dan
seorang geolog T. C. chamberlin, menyajikan sebuah teori baru, yang mereka
sebut “planetesimal hypothesis, menurut Moulton dan Chamberlin32:
“a star speeding through space came very close to our sun. the greatly increased gravitational forces between the two star caused each to raise great tides in the hot gaseous body of the other. As the solar tides by the pull of the passing star become greater and greater, masses of gas were thrown clear of the sun and began whirling round and round. Some of the followed the orther star as it dashed off into space;held by the attraction of the sun, started to move around that body. The great solar tides subsided when the orther star move on; the masses of gas flung off from the sun settled down into orderly paths around it. As they became cooler, they changed into liquid form and the gradually became small solid masses. These fragments-planetesimal-eventually drew together to form planet. ”
Artinya:
“Sebuah bintang datang melaju dari ruang angkasa mendekati matahari kita. Gaya gravitasi sangat meningkat antara kedua bintang disebabkan oleh masing-masing panas gas yang meningkatkan di dalam kedua benda. Sebagai tata surya yang sedang naik dengan tarikan bintang yang lewat menjadi lebih besar dan lebih besar, massa gas terlempar dari matahari dan mulai berputar-putar. Beberapa bintang mengikuti yang lainnya melesat keangkasa, di tahan oleh daya tarik Matahari, mulai bergerak di sekitar benda itu. Arus tata surya yang besar berkurang ketika bintang lainnya mulai bergerak, massa gas terlempar dari matahari mereda ke
32
jalan yang teratur disekitarnya. Karena mereka menjadi dingin, mereka berubah menjadi bentuk cair dan bertahap menjadi massa padat yang kecil. Fragmen ini -planetesimal- akhirnya menarik bersama untuk membentuk planet.”
Kemudian sekitar tahun 1918 M, Sir James jeans and H. jefreys, dua
ilmuwan Inggris, mengeluarakan sebuah teori yang disebut “Tidal Theory” teori
ini terinspirasi dari “Teori Tabrakan”. Menurut mereka33:
“The planets were formed directly from the priginal mass of gas pulled out of the sun by passing the star, and not by the building up of large solid bodies from small particles. The tidal theory, as the star approached, or even sidewiped our sun, its gravitational, pull drew out a long cigarshaped filament of gas from the sun a filaments largest in the middle section and tapering at boths end.”
Artinya:
Planet-planet terbentuk secara langsung dari massa gas asli yang ditarik keluar dari matahari oleh bintang yang lewat, dan bukan merupakan bangunan benda padat yang besar dari partikel-partikel yang kecil. “Teori tidal”, sebagai bintang mendekati, atau bahkan pada sisi lain, Matahari kita, gaya gravitasi ini, tarik menarik sebuah filamen berbentuk cerutu panjang gas dari Matahari sebuah filamen terbesar dibagian
“the solar system to be was at the first a vast cloud of cosmic dust and gasses which assumed a disclike shape. irregularities whithin the cloud brought about rotation; the rotating dust and gases became concentrated and the cloud collapsed. the solid particles within it collided, stuck together and became planets.the gases at the center of the former cloud developed into the sun.”
Artinya :
“sistem tata surya yang pada awalnya adalah sebuah gumpalan awan debu kosmik dan gas yang belum memiliki bentuk. Ketidak teraturan dalm awan yang disebabkan oleh rotasi; perputaran debu dan gas menjadi terkonsentrasi dan awan memadat. Partikel partikel padat di dalmnya
33
Howard Graham dkk, The Book of Popular Science, vol 1, hal. 29
34
saling bertabrakan, saling menempel dan menjadi planet-planet. Gas yang berada di bagian tengah awan berubah bentuk menjadi Matahari.”
Itulah beberapa teori yang diusul untuk memperediksi bagaimana Bumi
tercipta. Tidak ada salah satu teoripun yang dianggap dapat memberikan
jawaban yang memuaskan mengenai kelahiran Bumi dan planet lainnya. Ini
dikarenakan teori-teori tersebut berbasis spekulasi dan merupakan sebuah
dugaan yang cerdas.
Namun, para astronom modern percaya bahwa terciptanya Bumi secara
teratur dan bertahap bukan hanya pada sebuah bencana tabrakan yang
beruntung.seperti yang tertulis dibuku “The Book of Popular Science”35:
“Many modern astronomers are inclined to discount theories based on the collision or the near-collision between a sun and passing star. they believe that the universe as a whole has evolved in a gradual and orderly fashion, and not through chance catastrophes beyond the normal course of events.”
Artinya:
“Banyak astronom modern cenderung mengabaikan teori – teori yang didasarkan kepada tabrakan atau hampir mendekatinya antara Matahari dan bintang yang lewat. Meraka percaya bahwa alam semesta secara keselurahan telah berkembang secara bertahap dan teratur, dan bukan melalui bencana dari sebuah kemungkinan dari kejadian yang luar biasa.”
Pengakuan para astronom mengindikasikan ada sebuah kekomplekan yang
teratur dari jutaan kesempatan sebuah penciptaan.
b. Menurut Pandangan Muffasir
Adapun al Qur’an memberikan informasi mengenai penciptaan langit dan
Bumi dalam waktu enam hari. Maha besar Allah Dalam firman-Nya:
35
“Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. tidak ada bagi kamu selain dari padanya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa'at. Maka Apakah kamu tidak memperhatikan?36.
Akan tetapi al Qur’an belum cukup menyebutkan hakikat alam ini. Oleh
karena itu, ada hakikat pendukung tentang penjelasan dari hari-hari penciptaan
langit dan bumi tersebut. Begitu juga tentang keadaan alam ketika pertama kali
diciptakan. pada hakikatnya penciptaan bumi tidak memakan waktu selama
enam hari. Hal ini seperti yang termaktub dalam firman-Nya berikut:
“Katakanlah: "Sesungguhnya Patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam". Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku
36