• Tidak ada hasil yang ditemukan

Study on Type and Shape of Urban Forest in Danau Raja Area, Rengat City, Indragiri Hulu Regency, Riau Province

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Study on Type and Shape of Urban Forest in Danau Raja Area, Rengat City, Indragiri Hulu Regency, Riau Province"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

KAJIAN TIPE DAN BENTUK HUTAN KOTA KAWASAN DANAU RAJA KOTA RENGAT,

KABUPATEN INDRAGIRI HULU, PROPINSI RIAU

(

Study on Type and Shape of Urban Forest in Danau Raja Area, Rengat City, Indragiri Hulu

Regency, Riau Province

)

RACHMAD HERMAWAN1,NANDI KOSMARYANDI2, JOJO ONTARJO2

1

Bagian Hutan Kota dan Jasa Lingkungan Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB 2

Bagian Manajemen Kawasan Konservasi Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB

Diterima ... / Disetujui ...

ABSTRACT

Based on on the space use general plan of Rengat City year of 2003-2012, one of areas allocated for an urban green space is Danau Raja area. The area can be developed as an urban forest. The urban forest can increase aesthetical value, quality of urban environment and lead to a good image in sustainable development. Urban forest developed in the area is recreation type with the shape of a dispersed thing.

Keywords: urban forest, type, shape

PENDAHULUAN

Seringkali pembangunan di kota mengabaikan pertimbangan ekologi, orang lebih menitikberatkan pada pembangunan ekonomi dan fisik yang memberikan keuntungan dalam jangka pendek dan instan, sebagai contoh sering terjadi konversi areal bervegetasi menjadi penggunaan lain. Kondisi yang demikian menyebabkan perkembangan ekonomi lebih cepat, tetapi dengan kondisi ekologi yang menurun, sehingga dapat menyebabkan menurunnya kualitas dan daya dukung lingkungan.

Keadaan tersebut menyebabkan masyarakat perkotaan hidup kurang nyaman dan harmonis dengan lingkungannya. Oleh karena itu dalam menata ruang kota harus mengatur keseimbangan lingkungan antara luas terbangun dengan ruang terbuka hijau (RTH). RTH merupakan bagian yang tak terpisahkan dan merupakan komponen utama dari suatu kota untuk mendukung ekosistem kota yang berkelanjutan. Salah satu bentuk RTH yang dapat dikembangkan adalah hutan kota.

Setelah adanya Peraturan Pemerintah (PP) No. 63 Tahun 2002 tentang Hutan Kota, maka Pemerintah Kabupaten/Kota diharuskan mengalokasikan minimal 10 % dari wilayah kota ditetapkan sebagai hutan kota. Pembangunan hutan kota juga dirangsang dengan adanya penilaian Adipura yang mensyaratkan adanya hutan kota yang dikelola dengan baik. Kondisi seperti di atas tidak terkecuali untuk Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu. Sebagai langkah awal adalah membangun hutan kota di Rengat yang merupakan ibukota kabupaten.

Berdasarkan Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) Kota Rengat tahun 2003-2012 salah satu wilayah yang dialokasikan untuk RTH kota adalah Kawasan Danau Raja, yang dapat dikembangkan menjadi kawasan hutan kota. Dengan pembangunan hutan kota maka akan meningkatkan nilai estetika dan kualitas lingkungan kota serta membentuk citra (image) Rengat sebagai kota yang hijau, teduh dan nyaman.

Kondisi kawasan Danau Raja saat ini belum tertata dengan baik dan juga belum memberikan manfaat maksimal. Sebagai dasar dalam penataan dan pengem-bangan hutan kota Danau Raja, perlu terlebih dahulu ditetapkan tipe dan bentuk hutan kota berdasarkan potensi dan pemasalahan yang ada.

Studi ini dilakukan dengan tujuan untuk menentukan tipe dan bentuk hutan kota Kawasan Danau Raja Kota Rengat Kabupaten Indragiri Hulu Propinsi Riau.

METODOLOGI

Waktu dan Lokasi Studi

Pengambilan data lapangan dilaksanakan pada bulan Oktober sampai dengan November 2007. Studi secara intensif dilaksanakan di kawasan Danau Raja, Kota Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu. Propinsi Riau.

Tahapan Studi

(2)

ekonomi masyarakat, kondisi sarana dan prasarana, kepentingan serta kebutuhan pengembangan wilayah secara umum pada masa yang akan datang. Untuk lebih jelasnya, pendekatan Kajian Tipe dan Bentuk Hutan Kota Kawasan Danau Raja Kota Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Propinsi Riau ini dapat dilihat pada Gambar 1.

1. Pengumpulan Data

Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah pengumpulan data baik melalui survey primer maupun sekunder. Kegiatan survey primer yang dilakukan lebih cenderung ke arah observasi lapangan dan pengamatan visual untuk memperoleh data mengenai kondisi biofisik kawasan, pola penggunaan lahan, kondisi dan karakteristik sarana dan prasarana pendukung wilayah yang ada. Untuk mengetahui kondisi sosial, budaya, dan ekonomi terutama mengenai persepsi, motivasi dan preferensi masyarakat tentang pengembangan Kawasan Hutan Kota Danau Raja dilakukan wawancara dengan keyperson.

Data sekunder yang diperlukan dalam studi ini antara lain: 1) peraturan perundang-undangan terkait dengan dasar hukum yang melandasi pembangunan Kabupaten Indragiri Hulu, Kota Rengat, dan peraturan mengenai pengelolaan lingkungan serta hutan kota; 2) Master Plan ataupun segala dokumen perencanaan wilayah (RTRW Kabupaten Indragiri

Hulu, RUTRK Rengat 2003-2012 dan Rencana

Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Indragiri Hulu 2006-2010); 3) Data Umum Lingkungan Hidup Kabupaten Indragiri Hulu, Kabupaten Indragiri Hulu dalam Angka.

2. Analisis Data

a. Aspek Kajian

Secara garis besar, tahap analisis dilakukan dengan memperhatikan beberapa karakteristik spesifik kawasan. Analisis dilakukan terhadap aspek :

(1) Kebijakan, review atas dokumen rencana dan pedoman legal perencanaan ruang Kota Rengat dan perencanaan yang relevan dengan pengembangan Danau Raja.

(2) Biofisik, aspek ini mencakup kajian antara lain :kondisi fisik-kimia kawasan yang meliputi faktor edafis dan klimatis; biotik, yang meliputi jenis dan sebaran; potensi view (keindahan); pola penggunaan lahan; keberadaan sarana dan prasarana.

(3) Sosial Ekonomi Budaya, aspek ini meliputi karakteristik masyarakat, motivasi, persepsi dan

preferensi masyarakat untuk mendukung

pengembangan Kawasan Hutan Kota Danau Raja. (4) Kelembagaan, aspek ini untuk mengetahui pengelolaan

kawasan Danau Raja saat ini, sehingga dapat ditentukan kelembagaan pengelolaan untuk di masa mendatang.

b. Metode Analisis

Analisis dilakukan secara deskriptif kualitatif yang meliputi :

(1) Kondisi Fisik Lingkungan: analisis ini dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai daya dukung lingkungan fisik serta potensi dan kendala pengem-bangan kawasan untuk Danau Raja.

(2) Kebutuhan Sarana dan Prasarana Pendukung: analisis dilakukan untuk mengetahui pola pelayanan secara spasial dari sarana dan prasarana yang ada saat ini. (3) Kondisi Biotik: analisis dilakukan untuk mengetahui

jenis dan kondisi vegetasi dan satwaliar yang mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi salah satu daya tarik kawasan Danau Raja.

(4) Sosial Ekonomi Budaya Masyarakat: analisis aspek ini untuk melihat sampai sejauh mana pemanfaatan Kawasan Danau Raja oleh masyarakat serta untuk mengetahui harapan masyarakat terhadap pem-bangunan hutan kota Kawasan Danau Raja.

(3)

Gambar 1. Tahapan kajian tipe dan bentuk hutan kota Kawasan Danau Raja Kota Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau

3. Sintesis dan Perumusan Tipe dan Bentuk Hutan Kota

Berdasarkan analisis potensi, permasalahan lingkungan dan kebutuhan masyarakat di masa mendatang maka akan ditentukan tipe hutan yang akan dikembangkan. Bentuk hutan kota yang akan dikembangkan didasarkan pada bentuk lahan yang ada.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi Umum

Letak dan Luas

Kawasan Hutan Kota Danau Raja secara administratif berada di Desa Kampung Dagang, Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Propinsi Riau. Kawasan Hutan Kota Danau Raja tersebut mempunyai luas 21,6 ha dengan luas danau sekitar 7,8 ha, yang terletak di pintu gerbang masuk Kota Rengat dengan rona lingkungan seperti terlihat pada Gambar 2.

Rencana Umum Tata Ruang Kota Perda-perda Kota Dokumen Rencana pengembangan lainnya Kajian data pendukung lainnya

Kajian komprehensif

Klimatis (suhu, kelembaban, curah hujan, angin, intensitas

sinar matahari

Polutan Udara

Edafis (sifat fisik dan kimia tanah, kedalaman

solum)

Kualitas dan kuantitas air

Sifat-sifat hidrologi

Potensi wisata

Biologi (flora dan fauna)

Sosial ekonomi budaya

Tataguna dan bentuk lahan

Aspek Kebijakan

Aspek Biofisik

Aspek Sosial Ekonomi

Budaya

Aspek Kelembagaan

Aspek Pengembangan

Wisata

ANALISIS

(4)

Gambar 2. Rona kawasan Danau Raja Kota Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Propinsi Riau

Aksesibilitas

Rute perjalanan dari Jakarta menuju Pekanbaru dengan mengunakan pesawat udara adalah ± 1,5 jam. Selanjutnya perjalanan dari Kota Pekanbaru menuju Rengat dapat ditempuh dengan jalan darat melewati Jalan Lintas Timur Sumatera. Waktu yang diperlukan untuk perjalanan sekitar 4 jam dengan jarak ± 228 Km, melewati sisi selatan Kawasan Danau Raja.

Penggunaan Lahan

Kawasan Hutan Kota Danau Raja memiliki beberapa tipe penggunaan lahan. Secara umum terdiri dari : ruang terbangun (gedung, perumahan), badan-badan air (danau, sungai, kolam), ruang terbuka, jalan raya, kebun, jalur hijau, taman bermain, semak belukar. Adapun rincian seperti tercantum pada Tabel 1.

Tabel 1. Berbagai tipe penutupan lahan di kawasan hutan kota Danau Raja

No. Nama Lokasi Luas ( m2 )*) Persentase (%)

1. Danau Raja 78.19 36,23

2. Kolam Ikan 14.179 6,57

3. Jalan Utama 17.584 8,15

4. Taman Bermain 6.024 2,79

5. Semak Belukar 8.015 3,71

6. Kebun-Pekarangan 15.932 7,38

7. Bangunan 38.713 17,94

8. Lahan Terbuka 37.205 17,24

Luas Total 215.838 100,0

(5)

Topografi

Wilayah Kota Rengat merupakan daerah dataran endapan (aluvium) muda dan tua yang merupakan daerah dataran dengan kemiringan 0-2% dan ketinggian 0-10 meter, yang menempati sebagian besar wilayah Kabupaten Indragiri Hulu. 28,20oC (rata-rata 28,0oC). Kelembaban udara bulanan 91,4 – 93,3 % (rata-rata 92,29 %). Kecepatan angin maksimum 3,3 m/detik, minimum 1,6 m/detik (rata-rata 2,45 m/detik). Arah angin dominan bertiup dari arah utara sampai timur laut. Intensitas penyinaran matahari 208,4 – 255,1 cal/cm2/hari (rata-rata 232 cal/cm2/hari).

Kondisi Biotik

Secara umum tipe vegetasi sekitar Danau Raja pada masa lalu merupakan tipe hutan rawa yang kaya dengan keanekaragaman hayati. Seiring berjalannya waktu, kondisi vegetasi dewasa ini telah mengalami perubahan yang sangat signifikan, sebagian besar bukan merupakan vegetasi asli, melainkan hasil introduksi vegetasi dari luar.

Jenis satwaliar yang dapat dijumpai adalah burung dan ikan. Jenis burung yang dijumpai adalah tekukur, perkutut, kutilang, pipit, kapinis, raja udang dan burung gereja). Sedangkan jenis ikan adalah jalai, nila, baung, kapoh, gabus, puyuh, ruan, ringau, sepat, sepat siam, siangit, singkat tangkolek, gurame, patin, lembat dan toman.

Situs Bersejarah

Situs budaya yang ada di Kawasan Danau Raja yang secara fungsional kemungkinan berpengaruh terhadap pengembangan Kawasan Hutan Kota Danau Raja adalah Danau Raja itu sendiri dan juga Replika Istana Kerajaan Indragiri yang berada tepat di samping Danau Raja. Bangunan ini merupakan salah satu daya tarik wisata yang dapat diakses oleh pengunjung pada saat berkunjung ke Danau Raja.

Pengelolaan Kawasan Danau Raja Saat Ini

Kawasan Danau Raja saat ini berada dibawah pengelolaan Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu. Berdasarkan kenyataan fisik di lapangan terdapat banyak pihak berkepentingan dengan pembangunan dan penggunaan kawasan Danau Raja yaitu Dinas Perkerjaan Umum, Dinas Pariwisata dan Olah Raga, Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda), Dinas Pasar dan Pertamanan, PT Telkom, PLN, Yayasan Adat Melayu, Keluarga Kerajaan dan Yayasan Islamic Center dan Masyarakat Umum.

Analisis Potensi Pengembangan

1. Analisis Biofisik Kawasan

Kawasan Danau Raja terletak pada lokasi yang strategis yaitu pintu gerbang masuk ke kota Rengat. Lokasi persis di tepi jalan besar Pekanbaru-Tembilahan dengan posisi seperti pada Gambar 3. Letak yang strategis merupakan suatu potensi bagi pengembangan kawasan hutan kota. Selain itu di sekeliling Danau Raja telah dibuat jalur/track dengan semen yang merupakan sirkulasi untuk melihat panorama danau.

Gambar 3. Peta orientasi kawasan hutan kota Danau Raja

0 40 Sistem Grid UTM WGS 84 Zona 48 S

Penyusunan Site Plan

224.400 m 224.600 m 224.800 m 225.000 m

(6)

Di Kawasan Hutan Kota Danau Raja telah dikembangkan penanaman dan penataan vegetasi seperti berikut : glodogan, gmelina, johar dan angsana; penanaman belum dilakukan secara teratur dan rapi, masih sporadis. (3) Kebun-pekarangan yang terletak di perumahan penduduk terutama berupa tanaman produktif (buah-buahan) seperti kemang, pisang, kelapa.

(4) Semak belukar, terletak di pinggir Sungai Indragiri. Berdasarkan uraian di atas secara umum terlihat bahwa vegetasi yang ada belum direncanakan dan ditata dengan baik, sehingga masih perlu penataan ulang sehingga dapat memberikan manfaat maksimal.

Potensi view (pemandangan) utama di Kawasan Hutan Kota Danau Raja adalah danau itu sendiri. Selain itu, Sungai Indragiri juga merupakan potensi pemandangan yang indah. Ada beberapa pemandangan yang kurang menarik di dalam kawasan ini, yaitu sampah yang dibuang sembarangan, bangunan rusak di sisi sebelah selatan, danau yang dipagari seng, semak belukar.

Selain memiliki potensi, Kawasan Hutan Kota Danau Raja juga mempunyai kendala dalam pengembangannya. Bagian utara yang berbatasan dengan Sungai Indragiri seringkali tergenang apabila musim hujan. Genangan berasal dari luapan air sungai. Hal ini penting kaitannya dengan pemilihan jenis tanaman dan penanganan drainase.

2. Aspek Sosial Ekonomi Budaya

Laju perekonomian masyarakat Kabupaten Indragiri Hulu mempunyai kecenderungan meningkat dengan pertumbuhan sebesar 8,26 % (tanpa migas). Dengan makin membaiknya perekonomian daerah merupakan peluang yang baik bagi pengembangan sektor lain. Peningkatan pendapatan dan daya beli masyarakat akan mendorong untuk melakukan perjalanan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya, baik primer maupun sekunder, termasuk kegiatan rekreasi (wisata).

Masyarakat mempunyai kebudayaan yang telah berkembang sejak kerajaan Indragiri atau Melayu seperti seni tari, kain tenun, makanan tradisional dan upacara adat Melayunya. Selain itu, masyarakat juga mempunyai keahlian dalam budidaya tanaman, terutama untuk perkebunan, keahlian ini merupakan produk budaya dari jaman Belanda. Nilai-nilai budaya kerajaan dan perkebunan ini dapat dikemas untuk mendukung pengembangan Hutan Kota.. Masyarat Kabupaten Indragiri Hulu umumnya dan Kota Rengat khususnya, walaupun belum banyak memahami dengan apa yang disebut Hutan Kota, akan

tetapi mereka mengharapkan pentingnya perlindungan dan pelestariaan peninggalan sejarah Danau Raja dalam pengembangan Hutan Kota.

Selain Danau Raja, Replika Kerajaan Indragiri yang dibangun merupakan tambahan daya tarik bagi kawasan ini. Bentuk arsitektur bangunan Kerajaan Indragiri merupakan suatu produk budaya yang menjadi ciri khas dan membedakan dengan kerajaan-kerajaan lain pada masanya. Kerajaan Indragiri sudah tidak ada, tetapi upaya Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu untuk menampilkan Replika Istana Kerajaan Indragiri merupakan upaya untuk melestarikan produk budaya sehingga generasi penerus akan mengetahuinya.

3. Aspek Wisata

Masyarakat Kabupaten Indragiri Hulu dan kabupaten sekitarnya merupakan pengunjung potensial, karena kemudahan akses transportasi yang baik dengan Kawasan Danau Raja. Namun dengan memperhatikan keterbatasan luasan, maka dapat diperkirakan bahwa kawasan Danau Raja hanya memungkinkan untuk penggunaan kegiatan wisata harian. Dengan demikian praktisnya hanya penduduk kota Kecamatan Rengat dan Rengat Barat yang berjumlah 75.302 jiwa (atau sekitar 24% penduduk kabupaten Indragiri Hulu) dapat dikatakan sebagai pelaku utama kegiatan wisata harian.

Berdasarkan faktor umur, dapat diduga sebagai pelaku utama tersebut adalah yang berumur di atas 19 tahun sampai dengan umur 64 tahun dengan persentase 73,1%, atau sekitar 55.046 orang. Dengan memperhitungkan faktor ekonomi (33% miskin) dan faktor lainnya (pendidikan, mobilitas, pekerjaan), diperkirakan sekitar 10% saja atau sebanyak 5505 orang yang potensial akan menjadi pengunjung aktual untuk setiap bulannya.

Sumberdaya wisata dari Kawasan Danau Raja yang dikembangkan adalah wisata alam harian dan wisata budaya. Wisata alam harian adalah kunjungan ke tempat alam terbuka yang tidak untuk tujuan bermalam, terdiri dari rekreasi aktif dan rekreasi pasif. Wisata budaya adalah kunjungan dengan tujuan untuk mengetahui, mengenal atau memahami nilai-nilai budaya melelalui benda-benda peninggalan budaya/sejarah, kesenian, arsitektur lansekap, adat istiadat, legenda, dan lain sebagainya

(7)

(warming up) dengan melakukan jogging di taman-taman sekeliling gedung atau dapat mengelilingi Danau Raja. Demikian juga halnya pengunjung dapat menikmati berbagai kegiatan olah raga di dalam gedung.

4. Aspek Kelembagaan

Berdasarkan telaahan di lapangan bahwa Kawasan Danau Raja sudah dikelola oleh berbagai pihak sesuai dengan kepentingan masing-masing. Akibat negatif dari hal ini adalah terjadinya tumpang tindih pekerjaan sehingga dapat menyebabkan kontra produktif dalam pengelolaan kawasan Danau Raja. Hal lain yang dapat terjadi adalah tidak tumbuhnya partisipasi masyarakat dan pihak swasta.

Disisi lain, dengan adanya beberapa pihak yang terlibat dalam pengelolaan Kawasan Danau Raja merupakan sebuah potensi apabila program-program yang dilaksanakan dapat disinergikan. Untuk dapat mensinergikan program, maka perlu adanya suatu wadah yang dapat meng-koordinasikan berbagai kegiatan.

Sintesis dan Perumusan Tipe dan Bentuk Hutan Kota

Keberadaan obyek wisata atau tempat rekreasi di Kota Rengat relatif terbatas sehingga perlu adanya pengembangan obyek-obyek baru. Ada indikasi bahwa masyarakat Kota Rengat yang mempunyai ekonomi mapan setiap akhir pekan berekreasi ke luar kota atau bahkan sampai ke Pekanbaru. Dengan adanya pengembangan tempat rekreasi yang menarik dan nyaman, kemungkinan dapat mengurangi jumlah masyarakat yang berekreasi ke luar kota atau bahkan menjadi daya tarik bagi masyarakat di kabupaten lain. Pengembangan obyek wisata baru diharapkan dapat memberikan multiplier effect pada ekonomi kerakyatan.

Kawasan Danau Raja sudah dijadikan sebagai tempat rekreasi bagi masyarakat Kota Rengat terutama pada hari libur akhir pekan atau hari-hari besar. Area rekreasi masih terbatas pada sisi bagian selatan Danau Raja sehingga pada saat-saat tertentu dirasakan sangat penuh. Aktivitas yang selama ini dilakukan terbatas hanya berkumpul-kumpul menikmati pemandangan danau, memancing dan berkeliling menggunakan becak air. Pada area ini, pengelolaannya telah dikerjasamakan dengan pihak swasta. Pada bagian utara kawasan ini terdapat Replika (miniatur) Istana Kerajaan Indragiri, sehingga menjadi tambahan daya tarik tersendiri untuk berekreasi atau berwisata.

Melihat anemo masyarakat yang berekreasi ada kecenderungan meningkat seiring dengan meningkatnya aktivitas masyarakat kota, keterbatasan area untuk beraktivitas, serta penataan kawasan yang belum maksimal, maka perlu penataan dan pengembangan pada area-area lain di kawasan Danau Raja. Untuk berekreasi perlu kondisi dan suasana yang sejuk, nyaman, indah dan tenang. Sebagian

wilayah belum terdapat vegetasi sehingga masih terkesan gersang dan panas.

Tipe hutan kota ditentukan berdasarkan pada obyek yang dilindungi, hasil yang ingin dicapai dari obyek tersebut atau lokasi yang dibuat untuk tujuan tertentu (Fakultas Kehutanan IPB, 1987). Tujuan pembangunan hutan kota didasarkan pada berbagai pertimbangan : a) permasalahan lingkungan kota Rengat, b) letak kawasan, c) kondisi biofisik, d) historis penggunaan kawasan, e) potensi

view (keindahan), f) penggunaan kawasan saat ini oleh masyarakat, g) keberadaan obyek dan daya tarik wisata di dalam kawasan.

Secara umum permasalahan lingkungan di Kota Rengat belum begitu menonjol, hanya bersifat insidentil pada saat terjadi kebakaran hutan dan lahan sehingga menimbulkan kabut asap. Selain itu, ada rencana pembangunan pabrik di beberapa lokasi di Kota Rengat yang kemungkinan juga akan memberikan kontribusi terhadap meningkatnya konsentrasi pencemaran. Walaupun demikian, berdasarkan berbagai pertimbangan di atas, maka

kawasan Danau Raja mempunyai kecenderungan

dikembangkan sebagai hutan kota yang berfungsi utama untuk rekreasi. Oleh karena itu, tipe hutan kota yang dikembangkan adalah tipe hutan kota rekreasi. Pengembangan tipe hutan kota rekreasi, tidak berarti bahwa kawasan ini hanya mementingkan aspek rekreasi, tetapi juga harus mengakomodir fungsi-fungsi lain yaitu konservasi lingkungan dan pendidikan lingkungan. Menurut penjelasan Pasal 14 PP No.63 tahun 2002 bahwa tipe hutan kota rekreasi berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan rekreasi dan keindahan, dengan jenis pepohonan yang indah dan unik. Pepohonan yang dikembangkan mempunyai karakteristik indah dan atau penghasil bunga/buah (vector) yang digemari oleh satwa, seperti burung, kupu-kupu.

Sesuai Pasal 15 PP No. 63 Tahun 2002 bahwa bentuk hutan kota disesuaikan dengan karakteristik lahan, yang terdiri dari bentuk jalur, mengelompok dan menyebar. Untuk masing-masing kelompok baik yang berbentuk jalur atau kelompok yang terpisah luas minimum 0,25 (dua puluh lima per seratus) hektar tetap diberlakukan pada setiap kelompok dan bukan merupakan akumulasi luas dari kelompok-kelompok yang tersebar itu meskipun merupakan satu kesatuan pengelolaan.

(8)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan kajian terhadap berbagai potensi dan kendala pengembangan Kawasan Hutan Kota Danau Raja, maka dapat disimpulkan:

1) Kawasan Hutan Kota Danau Raja lebih tepat dikembangkan sebagai tipe hutan kota rekreasi yang berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan rekreasi dan keindahan, dengan jenis pepohonan yang indah dan unik.

2) Di Kawasan Hutan Kota Danau Raja terdapat karakteristik lahan yang dapat dikembangkan untuk hutan kota dengan bentuk jalur dan mengelompok. Oleh karena kedua bentuk hutan kota tersebut masih dalam satu kesatuan pengelolaan, maka hutan kota di kawasan Danau Raja mempunyai bentuk hutan kota menyebar.

Saran

1) Dalam pengembangan hutan kota tipe rekreasi, juga harus memperhatikan fungsi konservasi dan pendidikan lingkungan. Oleh karena itu dalam pemilihan jenis vegetasi harus dipertimbangkan pemanfaatan jenis-jenis endemik/langka/ dilindungi, selain itu juga dibutuhkan alokasi ruang yang tepat sehingga ketiga fungsi tersebut dapat terjamin.

2) Perlu adanya Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang berperan sebagai koordinator untuk mensinergikan berbagai program dari instansi/lembaga yang berkepentingan dalam pengelolaan Kawasan Hutan Kota Danau Raja.

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih disampaikan kepada : 1) Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Indragiri Hulu, 2) Ir. Jastin Ruzian Alwi, yang memfasilitasi studi sehingga tersusun tulisan ini.

DAFTAR PUSTAKA

Bappeda Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu. 2002. Rencana umum tata ruang kota Rengat Tahun 2003-2012.

BPS Kabupaten Indragiri Hulu. 2005. Kabupaten Indragiri Hulu dalam angka.

Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Indragiri Hulu. 2007. Penyusunan site plan hutan kota Rengat. Fakultas Kehutanan IPB. 1987. Konsepsi pengembangan

hutan kota. Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.

Gambar

Gambar 1. Tahapan kajian tipe dan bentuk hutan kota Kawasan Danau Raja Kota Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau
Tabel 1.  Berbagai tipe penutupan lahan di kawasan hutan kota Danau Raja
Gambar 3.  Peta orientasi kawasan hutan kota Danau Raja

Referensi

Dokumen terkait

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,