MANAJEMEN PEMUPUKAN KELAPA SAWIT
(Elaeis guineensis Jacq.) TANAMAN MENGHASILKAN DI
ANGSANA ESTATE, PT LADANGRUMPUN SUBURABADI,
TANAH BUMBU, KALIMANTAN SELATAN
HERLINA NUR FATIYAH
A24090089
AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR 2013
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Manajemen Pemupukan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Tanaman Menghasilkan di Angsana Estate, PT Ladangrumpun Suburabadi, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Desember 2013
Herlina Nur Fatiyah
ABSTRAK
HERLINA NUR FATIYAH. Manajemen Pemupukan Kelapa Sawit (Elaeis
guineensis Jacq.) Tanaman Menghasilkan di Angsana Estate, PT Ladangrumpun
Suburabadi, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Dibimbing oleh ADE WACHJAR
Kegiatan magang yang dilaksanakan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman bekerja secara nyata baik teknis maupun manajerial di perkebunan kelapa sawit. Tujuan khusus kegiatan magang adalah mempelajari secara mendalam mengenai manajemen pemupukan tanaman kelapa sawit. Kegiatan magang dilaksanakan di Angsana Estate, PT Ladangrumpun Suburabadi, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan pada bulan Februari - Juni 2013. Pemupukan salah satu faktor yang mempengaruhi produksi. Ketepatan dosis di Angsana Estate belum sepenuhnya tepat, hanya mencapai 96.89 % untuk pupuk RP dan 98.67 % untuk pupuk Kieserite. Dalam hal ketepatan waktu pemupukan, masih ada beberapa jenis pupuk yang tidak diaplikasikan tepat waktu. Realisasi dosis pemupukan yang tidak mencapai 100 % pada tahun 2010/2011 tidak mempengaruhi produksi karena pemupukan yang belum terealisasi dilakukan pada periode tahun berikutnya dengan dosis yang sama.
Kata kunci: kelapa sawit, manajemen pemupukan, tanaman menghasilkan
ABSTRACT
HERLINA NUR FATIYAH. Fertilization Management of Oil Palm (Elaeis guineensis Jacq.) Mature Plant at Angsana Estate, PT Ladangrumpun
Suburabadi, Tanah Bumbu, South Kalimantan. Supervised by ADE WACHJAR
Internship activities carried out to improve the knowledge, skills, and experience of working in both technical and managerial real in oil palm plantations. The specific objective of internship is to learn about fertilizer management of oil palm plantations. Internship activities carried out in the Angsana Estate, PT Ladangrumpun Suburabadi, regency of Tanah Bumbu, South Kalimantan Province in February - June 2013. Fertilization is one of the factors that affect production. The accuracy of the doses at Angsana Estate yet fully right, it is only reached 96.89 % for the RP fertilizer and 98.67 % for the Kieserite fertilizer. In terms of Timeliness fertilizations there are still some types fertilizers that are not applied on time. Realization dosage of fertilization does not reach 100 % in 2010 to 2011 and it does not give the affect production due to fertilization unrealized conducted over the next year with the same doses.
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian
pada
Departemen Agronomi dan Hortikultura
MANAJEMEN PEMUPUKAN KELAPA SAWIT
(Elaeis guineensis Jacq.) TANAMAN MENGHASILKAN DI
ANGSANA ESTATE, PT LADANGRUMPUN SUBURABADI,
TANAH BUMBU, KALIMANTAN SELATAN
HERLINA NUR FATIYAH
A24090089
AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR 2013
Judul Skripsi: Manajemen Pe:c:;....: :-.-:: Ke]apa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Tanaman r _ i-an di Angsana Estate, PT Ladangrumpun Suburabadi, T a ~ Bum u, Kalimantan Selatan
Nama : HerlinaNur Fat· . ~
NIM : A24090089
Disetujui oleh
w·..·Ketua Departemen
Judul Skripsi : Manajemen Pemupukan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Tanaman Menghasilkan di Angsana Estate, PT Ladangrumpun Suburabadi, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan
Nama : Herlina Nur Fatiyah NIM : A24090089
Disetujui oleh
Dr Ir Ade Wachjar, MS Pembimbing
Diketahui oleh
Dr Ir Agus Purwito, MSc.Agr. Ketua Departemen
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul Manajemen Pemupukan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Tanaman Menghasilkan di Angsana Estate, PT Ladangrumpun Suburabadi, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Kadarsih dan Bapak Irman Husein, Spd selaku orang tua penulis serta seluruh keluarga besar atas segala doa dan kasih sayangnya.
2. Dr Ir Ade Wachjar, MS selaku pembimbing skripsi yang telah memberikan masukan dan saran selama penyusunan skripsi.
3. Dr Ir Supijatno, MSi dan Dr Ir Heni Purnamawati, MSc.Agr. selaku dosen penguji yang telah memberikan saran dalam perbaikan skripsi.
4. Dr Ir Darda Efendi, MSi selaku pembimbing akademik yang memberikan bimbingan dan arahan selama proses kegiatan akademik.
5. Direksi PT Ladangrumpun Suburabadi yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan kegiatan magang.
6. Bapak Puji Sasmito sebagai Manajer Angsana Estate; Bapak Jaka Istiarta sebagai Senior Asisten; Bapak Roisul Ustad sebagai Asisten Divisi I; Bapak Purmono sebagai Asisten Divisi III; Bapak Muchammad suhadak sebagai Kelapa Tata Usaha; dan Bapak Ginandar sebagai Asisten Gunung Sari Estate yang telah memberikan bimbingan kepada penulis selama melakukan kegiatan magang.
7. Leo Herdana, Panji Jaswaty dan keluarga atas perhatian dan kasih sayang selama penulis magang, serta teman-teman Socrates 46.
Semoga skripsi ini bermanfaat.
Bogor, Desember 2013
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL vii
DAFTAR GAMBAR vii
DAFTAR LAMPIRAN viii
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Tujuan 2
TINJAUAN PUSTAKA 2
Pupuk dan Pemupukan 2
Manajemen Pemupukan Kelapa Sawit 4
Rekomendasi Pemupukan 6
METODE MAGANG 7
Tempat dan Waktu 7
Metode Pelaksanaan 7
Pengamatan dan Pengumpulan Data 7
Analisis Data dan Informasi 8
KEADAAN UMUM 8
Letak Geografi dan Letak Wilayah Administrasi 8
Keadaan Iklim dan Tanah 9
Luas Areal dan Tata Guna Lahan 10
Keadaan Tanaman dan Produksi 10
Struktur Organisasi dan Ketenagakerjaan 11
PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG 12
Aspek Teknis 12
Aspek Manajerial 31
PEMBAHASAN 33
Keefektifan Pupuk 33
Prestasi Tenaga Kerja Penabur 36
Hambatan dan Upaya Peningkatan Keefektifan Pemupukan 36
Defisiensi Unsur Hara Tanaman 37
Produktivitas 38
KESIMPULAN DAN SARAN 3839
DAFTAR PUSTAKA 39
DAFTAR TABEL
Halaman 1. Tipe Pupuk Anorganik Berdasarkan Beberapa Kriteria yang Umum
Dipergunakan 3
2. Kisaran Dosis Pemupukan Tanaman Kelapa Sawit Menghasilkan pada Tanah Mineral 6
3. Jenis Tanah dan Topografi Angsana Estate 10
4. Populasi Tanaman Kelapa Sawit di Angsana Estate 11
5. Produksi dan Produktivitas Tandan Buah Segar di Angsana Estate 11
6. Jumlah Karyawan Staf dan Non Staf di Angsana Estate Tahun 2013 12
7. Kandungan Hara Daun Kelapa Sawit di Angsana Estate Tahun 2004 - 2012 18
8. Standar Hara dalam Daun Kelapa Sawit pada Kondisi Defisiensi, Optimum, dan Berlebihan 19
9. Pengamatan Visual Defisiensi Unsur Hara pada Tanaman Kelapa Sawit di Angsana Estate 19
10. Prestasi Kerja Penabur Pupuk di Angsana Estate Tahun 2013 21
11. Kandungan Unsur Hara pada Pupuk yang Diaplikasikan di Angsana Estate Tahun 2013 21
12. Realisasi Pemupukan di Angsana Estate Tahun 2011/2012 22
13. Ketepatan Dosis Pupuk Kieserite dan RP pada Tanaman Kelapa Sawit di Angsana Estate Semester II Tahun 2012/2013 22
14. Waktu Pemupukan Tanaman Kelapa Sawit di Angsana Estate Tahun 2010/2011 - 2012/2013 23
15. Ketepatan Cara Pemupukan pada Tanaman Kelapa Sawit di Blok C012 Tahun Tanam 1998 Angsana Estate 24
16. Jarak Tabur Pupuk RP dan Kieserite dari Pokok Sampai Titik Tabur di Angsana Estate 24
17. Peralatan Panen yang Digunakan di Angsana Estate 28
18. Kriteria Tandan Buah Segar dan Batas Toleransi di Angsana Estate 29
DAFTAR GAMBAR
1. Rata-rata Curah Hujan Bulanan di Angsana Estate Periode Tahun 2003 - 2012 92. Konservasi Tanah dan Air 14
3. Contoh Tanda-tanda pada Pokok Contoh dalam LSU 17
4. Aplikasi Pemupukan RP 20
5. Proses Aplikasi Janjang Kosong 25
6. Beneficial plants 26
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman 1. Jurnal Harian Kegiatan Magang sebagai Karyawan SKU di Angsana
Estate Tahun 2013 42
2. Jurnal Harian Kegiatan Magang sebagai Pendamping Mandor di
Angsana Estate Tahun 2013 43
3. Jurnal Harian Kegiatan Magang sebagai Pendamping Asisten Divisi di
Angsana Estate Tahun 2013 44
4. Hari Hujan dan Curah Hujan Bulanan di Angsana Estate Tahun
2003 - 2012 46
5. Peta Areal Statement Angsana Estate Tahun 2013 47 6. Struktur Organisasi di Angsana Estate Tahun 2013 48 7. Perbandingan Produktivitas dengan Realisasi Pemupukan di
Angsana Estate 49
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan tanaman perkebunan penghasil minyak makanan, minyak industri, maupun bahan bakar nabati (biodiesel) (Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian 2008). Kelapa sawit memiliki peranan yang sangat penting bagi perekonomian Indonesia. Kelapa sawit merupakan komoditas perkebunan yang menjadi andalan ekspor dan penyumbang devisa non migas yang cukup besar bagi Indonesia (Lubis 2008). Selain itu industri kelapa sawit mempunyai peranan sebagai sumber lapangan pekerjaan dan meningkatkan pendapatan bagi masyarakat sekitarnya.
Usaha perkebunan kelapa sawit sangat berkembang pesat. Salah satu produk utama kelapa sawit adalah minyak sawit (CPO = Crude Palm Oil). Setiap tahun volume ekspor minyak sawit mengalami peningkatan yang pesat. Pada tahun 2006 ekspor minyak sawit mencapai 10 471 915 ton dengan nilai US$ 3 522 810 dan pada tahun 2010 meningkat menjadi 16 291 856 ton dengan nilai US$ 13 468 966. Pada tahun 2006 luas areal perkebunan kelapa sawit mencapai 6 594 914 ha dengan produksi minyak sawit 17 350 848 ton dan diperkirakan pada tahun 2014 luas areal perkebunan kelapa sawit menjadi 10 586 339 ha dengan produksi minyak sawit 29 412 691 ton (data estimasi) (Direktorat Jenderal Perkebunan 2011). Prospek industri minyak sawit akan terus berkembang karena permintaan minyak nabati dunia akan terus meningkat. Indonesia mempunyai peluang yang besar untuk meningkatkan pasokan minyak sawit (Purba et al. 2008).
Pemerintah memberikan dukungan dengan mengadakan program revitalisasi perkebunan untuk perluasan areal maupun peremajaan tanaman kelapa sawit yang tidak produktif (Kurniawan 2008). Luas areal kelapa sawit yang meningkat dari tahun ke tahun, harus diimbangi dengan teknik budidaya yang baik agar dapat meningkatkan produksi kelapa sawit. Menurut Rahutomo et al. (2008) pemupukan merupakan salah satu kegiatan paling diperhatikan dalam teknik budidaya di perkebunan kelapa sawit.
Pemupukan pada tanaman kelapa sawit tidak 100 % menggunakan pupuk anorganik, melainkan sebagian menggunakan pupuk organik atau limbah-limbah kelapa sawit sebagai substitusi pupuk anorganik. Menurut Karsono et al. (2005) pemupukan yang tepat merupakan kunci keberhasilan budidaya kelapa sawit. Selanjutnya Mangoensoekarjo (2007) menyatakan manajemen pemupukan pada kelapa sawit belum sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini dibuktikan dengan masih rendahnya produktivitas kelapa sawit.
Menurut Lubis (2008) pemupukan tanaman menghasilkan sangat penting diperhatikan baik jenis, dosis, waktu, cara dan penempatan pemupukan, karena biaya pemupukan sangat besar yaitu kurang lebih 60 % dari biaya perawatan. Pada pemupukan kelapa sawit jenis pupuk, dosis, teknik aplikasi, dan waktu pemupukan bergantung pada jenis tanah, umur tanaman, tingkat produksi yang ingin dicapai, realisasi pemupukan sebelumnya, tenaga kerja yang tersedia, dan analisis kadar hara pada daun. Menurut Rahutomo et al. (2008) kualitas
2
pemupukan meliputi tepat jenis, dosis, waktu, dan metode aplikasi sangat menentukan produktivitas tanaman.
Tujuan
Tujuan umum kegiatan magang yang dilaksanakan adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan bekerja secara nyata baik teknis maupun manajerial di perkebunan kelapa sawit. Tujuan khusus kegiatan magang adalah mempelajari secara mendalam mengenai manajemen pemupukan tanaman kelapa sawit. Selain itu menganalisis permasalahan serta mencari solusi untuk mengatasi permasalahan di perkebunan kelapa sawit.
TINJAUAN PUSTAKA
Pupuk dan Pemupukan
Pupuk merupakan salah satu sumber unsur hara utama yang sangat menentukan tingkat pertumbuhan dan produksi kelapa sawit. Menurut Pahan (2012) pupuk yang digunakan untuk kelapa sawit terdiri atas pupuk anorganik dan pupuk organik.
Pupuk Anorganik
Pupuk anorganik terdiri atas pupuk tunggal dan pupuk majemuk. Pupuk tunggal adalah pupuk yang hanya mengandung satu unsur hara. Pupuk majemuk adalah pupuk yang mengandung lebih dari satu unsur hara (Hardjowigeno 2007). Tipe pupuk anorganik berdasarkan beberapa kriteria yang umum digunakan dapat dilihat pada Tabel 1.
Pupuk majemuk merupakan alternatif untuk mengatasi penyediaan pupuk tunggal yang tidak tepat waktu (Lubis 2008). Menurut Adiwiganda (2005) ada tujuh keunggulan pupuk majemuk, sebagai berikut:
1. Pupuk majemuk dapat mensuplai unsur hara dalam satu kali aplikasi, hal ini bertujuan untuk mencukupi kebutuhan hara makro dan mikro tanaman secara cepat.
2. Aplikasi pemupukan lebih efisien tenaga kerja dan waktu yang dipergunakan mulai dari penanganan di gudang sampai kegiatan di lapangan.
3. Tanaman efektif menyerap unsur hara dari tanah, karena unsur hara tersedia secara bertahap di dalam tanah.
4. Murah dan mudah dalam transportasi.
5. Kesehatan penabur pupuk dan pekerja di gudang lebih terjaga. 6. Gudang untuk menyimpan pupuk lebih sedikit.
3 Tabel 1. Tipe Pupuk Anorganik Berdasarkan Beberapa Kriteria yang
Umum Dipergunakan
No. Tipe/Kriteria Pupuk Keterangan Contoh Pupuk
1. Metode Produksi
- Alam (natural) - Buatan (sintetik)
Diambil dari alam, hanya sedikit diproses Dibuat dari proses industri
Rock Phospate Urea, MOP 2. Jumlah Hara - Pupuk tunggal (straight) - Pupuk Majemuk (compound)
Hanya mengandung 1 unsur hara (baik makro ataupun mikro)
Mengandung lebih dari 2 unsur hara makro Urea, MOP NPK compound 3. Jenis Pencampuran - Pupuk campuran (mix) - Pupuk kompleks (complex)
Campuran 2 atau lebih unsur hara tunggal atau unsur hara majemuk secara fisik
Campuran 2 atau lebih unsur hara tunggal atau unsur hara majemuk secara kimia NPK mix Nitro Phospate, ZA 4. Keadaan Fisik - Padat (solid) - Cair (liquid) - Gas (gaseous)
Berupa kristal, tepung, dan butiran dengan ukuran beragam
Berupa larutan atau suspensi Berupa cairan pada tekanan rendah
Urea, TSP, RP, SP36, MOP Pupuk daun Gandasil Ammonia 5. Cara kerja - Bereaksi cepat (quick acting) - Bereaksi lambat (slow acting)
Mudah larut dalam air dan segera tersedia
Mengalami transformasi sebelum
menjadi bentuk larut yang tersedia bagi tanaman
Urea TSP, RP
Sumber : Pahan (2012)
Pemupukan yang menggunakan pupuk majemuk akan memberikan penghematan biaya pemupukan. Hal itu disebabkan rendahnya kehilangan unsur hara dan biaya aplikasinya lebih sedikit dibandingkan dengan pupuk tunggal (Adiwiganda 2005). Pupuk majemuk mempunyai beragam komposisi haradan adanya penambahan beberapa unsur mikro.
Pupuk Organik
Pupuk organik merupakan pupuk yang berasal dari bahan organik. Di perkebunan kelapa sawit, pupuk organik yang diaplikasikan berasal dari limbah pabrik kelapa sawit dan sisa-sisa daun kacang-kacangan yang sengaja ditanam saat pembukaan lahan. Pupuk organik bermanfaat untuk memperbaiki struktur tanah dan memberikan hara bagi tanaman kelapa sawit (Pahan 2012).
4
Menurut Pahan (2012) penambahan bahan organik akan mempengaruhi sifat kimia tanah melalui beberapa hal, sebagai berikut :
- Peningkatan nilai KTK tanah karena erapan (sorption) hara oleh asam humat. - Persediaan hara dari dekomposisi humus dan mineral-mineral tanah yang
terlarut.
- Pengikatan hara dalam kompleks senyawa organik.
- Pengaruh dari pengatur tumbuh yang dihasilkan tanah. Misalnya, bahan organik dapat mengakumulasi zat penghambat tumbuh pada monokultur. Selain itu, bahan organik dapat menghasilkan antibiotik yang merangsang pertumbuhan tanaman karena membunuh sejumlah bakteri sumber penyakit (patogen) tanaman.
Manajemen Pemupukan Kelapa Sawit
Pemupukan kelapa sawit dilakukan pada 3 tahap perkembangan tanaman, yaitu pada tahap pembibitan, tanaman belum menghasilkan (TBM), dan tanaman menghasilkan (TM). Menurut Harahap et al. (2005) pemupukan di pembibitan bertujuan untuk menjamin kecukupan dan keseimbangan hara tanaman. Selanjutnya Lubis (2008) menyatakan pemupukan tanaman belum menghasilkan dilakukan agar tanaman dapat tumbuh prima dan berproduksi tepat waktu. Pemupukan tanaman menghasilkan dapat memberikan produksi tandan buah segar (TBS) yang optimal.
Kebutuhan Hara Tanaman
Unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah besar disebut unsur hara makro, sedangkan unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit disebut unsur hara mikro. Unsur hara makro terbagi menjadi dua yaitu unsur hara makro melimpah terdiri atas karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O); unsur hara makro terbatas terdiri atas nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), belerang atau sulfur (S), kalsium (Ca), dan magnesium (Mg). Unsur hara mikro terdiri atas boron (B), besi (Fe), mangan (Mn), tembaga (Cu), seng (Zn), molybdenum (Mo), dan khlorin (Cl) (Hanafiah 2004).
Translokasi unsur hara merupakan penyerapan unsur hara dari akar ke bagian atas tanaman atau bagian yang sedang tumbuh kemudian ke bagian produksi. Unsur N, P, K, Mg, dan Cl merupakan unsur hara yang mobil, gejala defisiensi berasal dari bagian tanaman yang tua, sedangkan unsur Ca, S, B, Fe, Zn, Mo, Cu, dan Mn merupakan unsur hara yang immobil, gejala defisiensi berasal dari bagian tanaman yang muda.
Unsur hara yang dibutuhkan oleh kelapa sawit antara lain unsur hara makro N, P, K, dan Mg serta unsur hara mikro Cu dan B (Mangoensoekarjo 2007). Fungsi unsur hara harus diperhatikan untuk meningkatkan keefektifan pupuk terhadap produksi tanaman. Beberapa fungsi unsur hara yang penting bagi tanaman kelapa sawit, antara lain:
1. Nitrogen (N), berfungsi untuk memperbaiki pertumbuhan vegetatif tanaman dan pembentukan protein. Gejala kekurangan N adalah tanaman menjadi kerdil, tajuk tanaman tetap hijau tetapi daun-daun tua secara merata
5 menguning kemudian mengering dan gugur, dan pertumbuhan akar terbatas. Sumber unsur hara N adalah Urea atau ZA.
2. Fosfor (P), berfungsi untuk pembelahan sel, pembentukan bunga, buah, dan biji, memperkuat batang agar tidak mudah roboh, pertumbuhan akar, dan untuk metabolisme karbohidrat, serta meningkatkan mutu buah. Kekurangan P menyebabkan tanaman tumbuh kerdil dan daun berwarna keunguan. Sumber unsur hara P antara lain pupuk SP-18, Rock Phosphate, SP-36.
3. Kalium (K), berfungsi untuk pembentukan pati, pembukaan stomata, daya tahan tanaman terhadap kekeringan dan penyakit tinggi, dan mempengaruhi proses fisiologis pada tanaman. Unsur K juga diperlukan dalam jumah banyak, penting untuk penyusunan minyak dan mempengaruhi jumlah dan ukuran tandan. Kekurangan unsur K akan terjadi pada daun tua karena unsur K diangkut ke daun muda. Kekurangan unsur K ditandai dengan gejala klorosis dan terdapat bercak kecil yang terletak pada bagian tepi atau ujung daun dan antara tulang daun, lalu mengering. Sumber unsur hara K adalah pupuk KCl. 4. Magnesium (Mg), berfungsi sebagai penyusun klorofil dalam proses
fotosintesis dan pembentukan minyak. Kekurangan unsur Mg ditandai dengan gejala klorosis pada daun-daun muda, ujung dan tepi daun menggulung dan menguning atau kemerahan. Sumber unsur hara Mg adalah Dolomit.
5. Tembaga (Cu), berfungsi sebagai pembentuk klorofil daun dan katalisator berbagai proses fisiologis tanaman. Kekurangan unsur Cu ditandai dengan gejala krolosis pada daun muda berwarna hijau pusat sampai kuning keputih-putihan. Sumber unsur hara Cu adalah CuSO4.
6. Boron (B), berperan penting dalam menstimulir kegiatan meristematik tanaman, sintesis gula dan karbohidrat, metabolisme asam nukleat dan protein. Kekurangan unsur B ditandai dengan munculnya daun pancing, daun kecil dan daun sirip ikan, daun rapuh berwarna hijau gelap. Sumber unsur hara B adalah Borax
Ketepatan Pemupukan
Pemberian pupuk harus memperhatikan beberapa hal yang menjadi kunci keefektifan pemupukan, diantaranya jenis dan dosis pupuk, waktu pemberian, cara pemberian dan penempatan pupuk serta daya serap akar tanaman. Pemupukan yang tepat akan meningkatkan produksi kelapa sawit, mempercepat pertumbuhan dan perkembangan tanaman kelapa sawit (Mangoensoekarjo 2007).
Tepat jenis. Jenis pupuk yang sering digunakan di perkebunan kelapa sawit,
yaitu pupuk Urea atau ZA (unsur N), Rock Phosphate atau SP-36 (unsur P), MOP atau KCl (unsur K), Dolomit atau Kieserite (unsur Mg), dan HGF-Borat (unsur B). Pupuk yang digunakan harus sesuai dengan rekomendasi pemupukan kelapa sawit.
Tepat dosis. Pemupukan yang optimal adalah pemupukan yang sesuai
dengan dosis rekomendasi. Tepat dosis artinya pupuk harus diberikan sesuai dengan kebutuhan tanaman tidak berlebihan dan juga tidak kekurangan. Dosis pupuk yang berlebihan tidak hanya menyebabkan biaya pemupukan semakin tinggi, tetapi juga merugikan tanaman. Beberapa kisaran dosis pemupukan tanaman kelapa sawit menghasilkan pada tanah mineral dapat dilihat pada Tabel 2.
6
Tabel 2. Kisaran Dosis Pemupukan Tanaman Kelapa Sawit Menghasilkan pada Tanah Mineral
Kelompok Umur (tahun)
Jenis dan Dosis Pupuk
Urea SP-36 MOP Kieserite Jumlah
……….………. (kg/pohon) ……… 3 – 8 2.00 1.50 1.50 1.00 6.00 9 – 13 2.75 2.25 2.25 1.50 8.75 14 – 20 2.50 2.00 2.00 1.50 7.75 21 – 25 1.75 1.25 1.25 1.00 5.25 Sumber: Lubis (2008)
Tepat waktu. Pemupukan yang efektif dilakukan pada saat tanah
mengandung cukup air yaitu pada awal atau akhir musim hujan. Pemupukan di lakukan dua kali dalam setahun. Waktu pemupukan harus disesuaikan dengan keadaan tanaman dan curah hujan. Waktu yang tepat untuk aplikasi pemupukan pada kelapa sawit adalah pagi sampai siang hari.
Tepat cara dan tempat.Ada dua cara pemupukan yang umum dipakai pada
tanaman kelapa sawit yaitu dibenam (pocket) dan tabur langsung di atas piringan pohon. Pada sistem tabur langsung, pupuk ditabur pada daerah piringan pohon atau di sekitar bawah tajuk tanaman secara merata. Pupuk yang digunakan harus remah dan tidak menggumpal.
Aplikasi pupuk pada tanaman menghasilkan untuk kelapa sawit dibedakan atas sifat masing-masing sebagai berikut :
(a) Nitrogen sebaiknya ditaburkan antara batang tanaman sampai ujung bokoran. (b) P2O5dan MgO (Phosphate dan Magnesium) ditaburkan sekitar 25 cm dari
tanaman sampai ujung bokoran. Akan tetapi apabila Rock Phosphate yang digunakan, maka tempat penaburan pupuknya adalah di gawangan, di pinggir rumpukan pelepah dan di atas gulma lunak yang tumbuh di sekitarnya.
(c) K2O (Kalium) ditaburkan di ujung bokoran. Rekomendasi Pemupukan
Menurut Sugiyono et al. (2005) rekomendasi pemupukan tanaman kelapa sawit untuk menentukan dosis dan jenis pupuk menggunakan beberapa pertimbangan antara lain: hasil analisis tanah, hasil analisis daun, gejala defisiensi hara dan kondisi tanaman di lapangan, produktivitas kelapa sawit, serta keadaan iklim terutama curah hujan. Selanjutnya Lubis (2008) menyatakan dosis pupuk pada tanaman menghasilkan kelapa sawit ditentukan berdasarkan berbagai faktor antara lain hasil analisis daun, kesuburan tanah, produksi tanaman, percobaan lapangan, dan pengamatan visual tanaman.
Menurut Hakim (2007) rekomendasi pemupukan dapat dikelompokkan pada 3 kriteria yaitu: (1) maintenance program, rekomendasi dosis pemupukan yang akan menghasilkan produktivitas seperti tahun-tahun sebelumnya; (2) down grade
program, rekomendasi dosis pemupukan yang akan menurunkan produksi; (3) up grade program, rekomendasi dosis pemupukan yang akan menghasilkan
peningkatan produktivitas sesuai dengan keinginan agar laba usaha maksimal dapat dicapai.
7
METODE MAGANG
Tempat dan Waktu
Kegiatan magang dilaksanakan di Angsana Estate, PT Ladangrumpun Suburabadi, Minamas Plantation, Desa Bayansari, Kecamatan Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan, selama 4 bulan mulai dari bulan Februari sampai Juni 2013.
Metode Pelaksanaan
Kegiatan magang yang dilakukan adalah melaksanakan pekerjaan di lapangan dan kantor pada berbagai tingkat pekerjaan sesuai tahapannya mulai dari karyawan Syarat Kerja Umum (SKU) sampai pendamping asisten divisi. Pada bulan pertama penulis bekerja sebagai karyawan SKU, kemudian satu bulan berikutnya menjadi pendamping mandor, dan dua bulan terakhir menjadi pendamping asisten divisi. Penulis mempelajari secara mendalam mengenai manajemen pemupukan kelapa sawit.
Pekerjaan yang dilakukan pada saat sebagai karyawan SKU adalah pengendalian gulma, pemupukan, aplikasi limbah cair dan padat (janjang kosong), pemanenan, dan pengangkutan hasil panen (Lampiran 1). Pekerjaan yang dilakukan sebagai pendamping mandor adalah perencanaan, pengorganisasian dan pengawasan. Pekerjaan yang diawasi adalah pengendalian gulma, pemupukan, sensus generatif dan sensus vegetatif, pemanenan, dan pengangkutan hasil panen (Lampiran 2). Penulis membuat laporan harian mandor, melakukan apel pagi, mengawasi karyawan yang bekerja di lapangan.
Pekerjaan yang dilakukan sebagai pendamping asisten divisi adalah perencanaan, pengorganisasian dan pengawasan. Pekerjaan yang diawasi adalah perawatan jalan, pemupukan, Leaf Sampling Unit (LSU), dan pemanenan (Lampiran 3). Penulis membuat rencana kerja harian dan rencana kerja bulanan, melaksanakan kegiatan yang telah disusun dan mengawasi semua kegiatan yang sedang berlangsung di lapangan.
Pengamatan dan Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan terhadap data primer dan data sekunder. Data primer merupakan informasi yang diperoleh secara langsung baik melalui pengamatan lapangan maupun berupa hasil diskusi atau wawancara dengan asisten divisi, mandor dan karyawan. Pengumpulan data primer dilakukan melalui pengamatan atau kegiatan lapangan terhadap kegiatan yang berlangsung di perkebunan. Data sekunder diperoleh dari laporan manajemen kebun meliputi lokasi dan letak geografis kebun, keadaan tanah dan iklim, luas areal dan tata guna lahan, kondisi tanaman, produktivitas dan produksi, rekomendasi pemupukan, struktur organisasi dan ketenagakerjaan. Selain itu dilakukan studi pustaka baik berupa buku teks, jurnal, dan sumber pustaka lainnya. Berikut pengamatan yang dilakukan selama magang:
8
1) Ketepatan jenis pupuk. Penulis mengamati jenis pupuk dan realisasi pemupukan yang dicapai di Angsana Estate.
2) Ketepatan dosis pupuk. Data diperoleh dengan cara menimbang pupuk yang diaplikasikan sebanyak 3 ulangan setiap penabur. Hasil penimbangan pupuk dibandingkan dengan standar dosis rekomendasi pupuk yang ditetapkan oleh kebun.
3) Ketepatan waktu. Penulis mengamati waktu realisasi pemupukan kemudian menganalisis berdasarkan data curah hujan serta mengamati kesesuaian waktu realisasi pemupukan di lapangan dengan waktu rekomendasi.
4) Ketepatan jarak tabur pupuk dan cara pelaksanaan pemupukan. Data diperoleh dengan cara mengukur jarak tabur pupuk dari pokok sampai titik tabur pemupukan sebanyak 10 ulangan. Penulis juga mengamati 20 tanaman contoh setiap penabur untuk ketepatan cara menabur pupuknya, lalu dibandingkan dengan ketetapan kebun.
5) Gejala defisiensi hara. Penulis mengamati gejala defisiensi hara yang muncul pada tanaman contoh di baris 10, 20, 30, 40, 50, 60, 70, 80, 90, 100, dan 110 sebanyak 3 blok. Pengamatan gejala defisiensi hara ini dilakukan secara visual dan objektif dengan membandingkan gejala defisiensi pada tanaman dengan gejala defisiensi dari pustaka yang ada.
6) Efisiensi tenaga kerja. Data diperoleh dengan menghitung prestasi kerja penabur, lalu dibandingkan dengan standar kerja yang telah ditetapkan kebun.
Analisis Data dan Informasi
Semua data dan informasi yang diperoleh selama kegiatan magang dianalisis dengan menggunakan perhitungan matematis yang meliputi nilai rata-rata, persentase, ataupun perhitungan matematis sederhana lainnya. Setelah itu, data dan informasi tersebut dibandingkan dengan standar dan aturan kerja dari setiap kegiatan yang berlaku. Data yang diperoleh kemudian di analisis dengan metode deskriptif.
KEADAAN UMUM
Letak Geografi dan Letak Wilayah Administrasi
Angsana Estate terletak di Desa Bayansari, Kecamatan Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan. Angsana Estate merupakan bagian dari PT Ladangrumpun Suburabadi (LSI) yang terdiri atas 2 kebun yaitu Angsana Estate dan Gunung Sari Estate serta 1 pabrik kelapa sawit. Angsana Estate terdiri atas 3 Divisi yaitu Divisi I, II, dan III. Jarak Angsana Estate dari Banjarmasin ± 205 km dengan waktu tempuh sekitar 3.5 - 4 jam perjalanan darat. Secara geografis kebun tersebut terletak pada koordinat diantara 3o 38' 45" - 3o 35' 39" Lintang Selatan dan 115º 34' 04" - 115º 38' 11" Bujur Timur. Ketinggian tempat Angsana Estate sekitar 15 m di atas permukaan laut dengan suhu berkisar antara 28 - 32 ºC. Wilayah Angsana Estate di sebelah utara berbatasan dengan Hutan
9 Tanaman Industri (HTI), di sebelah selatan berbatasan dengan Gunung Sari Estate (GSE), di sebelah barat berbatasan dengan PT Buana Karya Bakti (BKB) dan di sebelah timur berbatasan dengan Sungai Sebamban.
Keadaan Iklim dan Tanah
Curah hujan rata-rata tahunan di Angsana Estate dari tahun 2003 sampai 2012 adalah 2 673 mm/tahun dengan rata-rata hari hujan tahunan 140 hari. Data curah hujan Angsana Estate tahun 2003 - 2012 disajikan pada Lampiran 4. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan April dengan rata-rata 304 mm, sedangkan curah hujan terendah terjadi pada bulan September dengan rata-rata 122 mm dapat dilihat pada Gambar 1. Tahun 2010 curah hujan tahunannya mencapai 4512 mm dengan 12 bulan basah, tidak mengalami bulan kering.
Gambar 1. Rata-rata Curah Hujan Bulanan di Angsana Estate Periode Tahun 2003 - 2012
Keadaan iklim di Angsana Estate termasuk ke dalam tipe B menurut Schmidth - Ferguson yaitu daerah basah karena dengan rata-rata bulan basah (BB) sebanyak 9 bulan dan bulan kering (BK) 2 bulan, sehingga didapatkan nilai Q 17.39%. Kriteria tipe iklim B menurut Schmidth - Ferguson apabila nilai Q lebih dari 14.3% sampai 33.3%. Bulan basah sering terjadi pada bulan Februari - April, sedangkan bulan kering sering terjadi pada bulan Agustus - Oktober. Pada bulan Juni ada curah hujan mencapai 823 mm, tetapi pada bulan Juni bukan merupakan bulan basah karena terdapat curah hujan di bawah 100 mm (bulan basah > 100 mm).
Hasil analisis tanah yang dilakukan Minamas Research Center (MRC), tanah di Angsana Estate termasuk ordo oxisol. Jenis tanah oxisol terbentuk pada daerah berombak sampai berbukit, memiliki warna tanah kuning sampai merah gelap, kandungan unsur N, P, K rendah dan memiliki tingkat kemasaman (pH < 5.5). Keadaan jenis tanah dan topografi di Angsana Estate disajikan pada Tabel 3. Angsana Estate terbagi atas tiga Satuan Peta Lahan (SPL), yaitu SPL 1, SPL 2, dan SPL 3. Berdasarkan tingkat kesesuaian lahan kelapa sawit, kelas lahan di SPL 1 dan SPL 2 tergolong kelas kurang sesuai (S3), sedangkan kelas lahan di SPL 3 tergolong kelas sesuai (S2). Semua SPL berpotensi menjadi kelas sesuai (S2) dengan produksi yang optimal.
0 50 100 150 200 250 300 350
10
Tabel 3. Jenis Tanah dan Topografi Angsana Estate
SPL Ordo Seri Tanah Lereng
(%)
Luas
ha %
1 Oxisol MM – 18 Petroferric Hapludox 8 - 15 1 855 59 2 Oxisol MM – 18 Petroferric Hapludox 15 - 20 389 12 3 Oxisol MM – 19 Plinthic Hapludox 3 - 8 903 29 Sumber : Minamas Research Center (2006)
Luas Areal dan Tata Guna Lahan
Angsana Estate memiliki konsesi areal sebesar 3 249.99 ha. Luas areal yang ditanami tanaman kelapa sawit menghasilkan (TM) seluas 3 047.56 ha atau 94% dari luas keseluruhan. Areal yang digunakan untuk prasarana seluas 121.59 ha, daerah bukit, sungai dan lembah seluas 46.33 ha. Angsana Estate terdiri atas 3 divisi dengan luas areal yang ditanami di Divisi I seluas 1 149.12 ha, Divisi II seluas 825.85 ha, dan Divisi III seluas 1 072.59 ha. Peta Areal Statement Angsana Estate disajikan pada Lampiran 5.
Angsana Estate memiliki penomoran blok lama dan baru. Penomoran blok baru untuk meminimalkan nomor blok. Satu blok baru memiliki tahun tanam yang
sama. Penomoran blok baru di Divisi I Angsana Estate terdiri atas blok A010 - A015, B011 - B016, dan C011 - C016, sedangkan penomoran blok lama di
Divisi I Angsana Estate terdiri atas A023 - A036, A24 - A36, dan B24 - B36. Penomoran blok baru di Divisi II Angsana Estate terdiri atas D011 - D016 dan E011 - E017, sedangkan penomoran blok lama di Divisi II Angsana Estate terdiri atas C24 - C36 dan D24 - D38. Penomoran blok baru di Divisi III Angsana Estate terdiri atas A007 - A009, B007 - B010, C007 - C010, D007 - D010, dan E010, sedangkan penomoran blok lama di Divisi III Angsana Estate terdiri atas A14 - A22, A14 - A23, B14 - B23, C14 - C23 dan D21 - D23.
Keadaan Tanaman dan Produksi
Tanaman kelapa sawit yang terdapat di Angsana Estate adalah varietas Tenera, hasil persilangan Dura dan Pisifera. Varietas Tenera yang digunakan berasal dari Tenera Marihat (PPKS), Tenera Socfindo, dan Tenera Guthrie. Jarak tanam yang digunakan di Angsana Estate adalah 9.2 m x 9.2 m x 9.2 m dengan tata tanam segitiga sama sisi, populasi 136 tanaman/ha. Pada kenyataannya jumlah populasi tanaman di Angsana Estate rata-rata 123 tanaman/ha, populasi tersebut selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4.
11 Tabel 4. Populasi Tanaman Kelapa Sawit di Angsana Estate
Tahun Tanam Asal Varietas Luas (ha) Jumlah Tanaman (pokok) Populasi (tanaman/ha) 1996 Socfindo 629.55 80 840 128 1998 Marihat 1 622.27 204 479 126 1999 Socfindo 167.38 19 842 119 2000 Socfindo 84.04 9 795 117 2006 Guthrie 325.44 35 362 109 2007 Guthrie 182.00 21 084 116 2008 Guthrie 36.62 5 100 139 Total 3 047.30 376 502 123
Sumber : Kantor Besar Angsana Estate (2013)
Keadaan produksi tandan buah segar (TBS) di Angsana Estate dari tahun 2007 hingga Juni 2013 dapat dilihat pada Tabel 5. Produksi TBS di Angsana Estate selama 6 tahun terakhir rata-rata sebesar 49 318.52 ton/tahun dengan produktivitas TBS rata-rata sebesar 17.80 ton/ha/tahun. Produksi TBS terendah terjadi pada tahun 2008/2009 sebesar 38 451.91 ton dan tertinggi pada tahun 2012/2013 sebesar 57 339.13 ton.
Tabel 5. Produksi dan Produktivitas Tandan Buah Segar di Angsana Estate
Tahun Luas (ha) Produksi (ton) Produktivitas (ton/ha/tahun) 2007/2008 2 484 47 169.94 18.81 2008/2009 2 484 38 451.97 15.48 2009/2010 2 506 48 943.76 19.53 2010/2011 3 048 53 541.87 17.57 2011/2012 3 048 50 464.44 16.56 2012/2013 3 045 57 339.13 18.83 Rata-rata 2 769 49 318.52 17.80
Sumber : Kantor Besar Angsana Estate (2013)
Struktur Organisasi dan Ketenagakerjaan
Angsana Estate dipimpin oleh estate manager. Dalam melaksanakan tugasnya estate manager dibantu oleh satu orang senior asisten, dua orang asisten divisi, dan satu orang kepala tata usaha. Kepala tata usaha bertanggung jawab terhadap administrasi kebun. Senior asisten bertugas mengkoordinasikan seluruh asisten divisi, bertanggungjawab atas traksi, bengkel, dan emplasement. Asisten divisi bertugas dan bertanggungjawab dalam mengelola seluruh kegiatan kebun. Asisten kebun dibantu oleh mandor I dan krani divisi. Mandor I bertugas mengontrol dan mengawasi seluruh kegiatan mandor lainnya. Krani divisi bertugas dalam kegiatan administrasi di divisi dan melaporkannya ke kantor besar. Struktur organisasi Angsana Estate disajikan pada Lampiran 6.
Hari kerja di Angsana Estate secara umum dilaksanakan selama 6 hari kerja dalam seminggu (Senin - Sabtu). Lamanya jam kerja rata-rata selama 7 jam yang
12
dimulai pukul 07.00-12.00 WITA, istirahat selama dua jam (12.00-14.00 WITA), lalu dilanjutkan bekerja selama dua jam dari pukul 14.00-16.00 WITA. Status karyawan di Angsana Estate terdiri atas karyawan staf dan karyawan non staf. Karyawan staf terdiri atas estate manager, senior asisten, asiten divisi, kepala tata usaha, dan dokter, sedangkan karyawan non staf terdiri atas karyawan SKU bulanan dan karyawan SKU harian. Jumlah karyawan staf dan non staf Angsana Estate dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Jumlah Karyawan Staf dan Non Staf di Angsana Estate Tahun 2013 Karyawan Staf Jumlah
(orang)
Karyawan Non Staf Jumlah (orang)
Estate Manager 1 SKU-B Kantor 23
Senior Asisten 1 SKU-B Traksi 29
Asisten Divisi 2 SKU-B Divisi 24
Kepala Tata Usaha 1 SKU Harian 409
Dokter 1
Total 6 485
Sumber : Kantor Besar Angsana Estate (2013)
PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG
Aspek Teknis
Aspek teknis dari kegiatan magang yang dilakukan di Angsana Estate meliputi kegiatan sensus generatif dan sensus vegetatif, konservasi tanah dan air, pengendalian gulma secara manual dan kimia, pemupukan, aplikasi limbah cair dan padat, pengendalian hama dan penyakit, penunasan, perawatan jalan, pemanenan dan pengangkutan hasil panen.
Pelaksanaan kegiatan magang yang dilakukan oleh penulis, yakni sebagai karyawan SKU. Pelaksanaan kegiatan dimulai dari mengikuti apel pagi pukul 06.00 WITA dan wolon (istirahat) pukul 10.30 - 11.00 WITA. Apel pagi dipimpin oleh asisten divisi atau mandor I. Mandor I menyampaikan kegiatan hari ini serta evaluasi hari sebelumnya lalu dilanjutkan oleh asisten. Setelah apel pagi, semua mandor melakukan apel dengan pekerja masing-masing kemandoran.
Sensus Generatif dan Sensus Vegetatif
Di Angsana Estate terdapat satu blok riset yaitu Blok A015. Blok riset merupakan salah satu blok yang digunakan untuk uji progeny trial di bawah Departemen Minamas Research Center. Percobaan terdiri atas 43 plot persilangan, setiap plot terdiri atas 12 pokok, masing-masing percobaan menggunakan empat ulangan. Setiap plot nomor persilangannya tidak sama. Kegiatan yang terdapat di blok riset adalah sensus produksi, sensus generatif dan sensus vegetatif. Tenaga kerja yang ada di blok riset sebanyak 8 orang, yaitu satu tim panen terdiri atas satu orang pemanen, satu orang penimbang TBS dan brondolan sekaligus mencatat
13 hasil timbangannya, satu orang pemberondol, satu orang yang mengeluarkan buah serta empat orang lainnya sebagai tim perawatan. Sensus produksi, generatif dan vegetatif dilakukan di ulangan 1 plot 1 sampai ulangan 4 plot 43.
Sensus produksi adalah pendataan hasil produksi dari kegiatan panen, dengan menimbang berat tandan buah segar. Sensus generatif adalah kegiatan pendataan jumlah bunga jantan, bunga betina, dan bunga hermaprodit. Sensus vegetatif adalah kegiatan pengukuran perkembangan vegetatif tanaman kelapa sawit meliputi tinggi pelepah dari permukaan tanah, panjang pelepah, jumlah anak daun, lebar dan panjang anak daun, total pelepah pokok, dan penambahan pelepah dari sensus sebelumnya. Kegiatan sensus produksi, generatif dan vegetatif dilakukan di seluruh plot percobaan.
Sensus generatif dilakukan tiga bulan sekali. Sensus generatif bertujuan untuk mengetahui penambahan buah selama 3 bulan mendatang. Dalam sensus generatif tenaga kerja yang dibutuhkan adalah tiga orang per tim sensus, dengan prestasi kerja 15 sampai 20 plot per tim sensus per hari. Sensus vegetatif dilakukan enam bulan sekali. Tenaga kerja yang dibutuhkan adalah empat orang per tim sensus dengan prestasi kerja 6 sampai 7 plot per tim sensus per hari dengan kondisi normal di lapangan. Waktu pengambilan data dan pengukuran tiap plot harus pada hari yang sama agar tidak terjadi perbedaan waktu pengamatan yang menyebabkan data kurang valid.
Konservasi Tanah dan Air
Kegiatan konservasi tanah dan air di Angsana Estate yaitu perumpukan pelepah (U-Shape Front Stacking), pembuatan long bed, siltpite, road sidepite, penanaman Neprolephis biserata (Gambar 2). Kegiatan konservasi tanah dan air bertujuan untuk pencegahan erosi tanah, peningkatan bahan organik, menjaga kelembaban tanah, dan perbaikan drainase tanah. Tanah mempunyai fungsi antara lain sebagai sumber unsur hara bagi tanaman, tempat pertumbuhan akar, dan penyimpanan air tanah. Fungsi tanah akan hilang jika kegiatan konservasi tanah dan air tidak dilakukan dengan baik. Apabila kegiatan konservasi tanah dan air tidak optimal, pemupukan tidak akan menghasilkan output yang maksimal.
Pembuatan long bed, siltpite, road sidepite sebagai tempat penyimpanan air yang bertujuan untuk persediaan air selama musim kemarau sehingga tanaman kelapa sawit tidak kekurangan air. Perumpukan pelepah (U-Shape Front Stacking), penanaman Neprolephis biserata berfungsi sebagai mulsa untuk menekan pertumbuhan gulma, menghambat laju aliran air agar air tidak langsung terbuang, menjaga kelembaban dan mempertahankan kesuburan lahan. Penanaman
Neprolephis biserata dapat menjadi tanaman inang predator ulat api. Kegiatan
konservasi tanah dan air akan menekan kehilangan masa dan hara oleh aliran permukaan, meningkatkan keefektifan pemupukan dan membantu kelancaran panen serta aktivitas pekerjaan lainnya.
Perumpukan pelepah dilakukan bersamaan dengan pemanenan. Rumpukan pelepah disusun atau dirumpuk di gawangan mati. Pelepah disusun memanjang searah dengan barisan pokok, tidak berserakan dan pangkal pelepah letaknya seragam. Pada areal berbukit, pelepah disusun dengan arah memotong kemiringan lereng, dengan tujuan sekaligus konservasi tanah yaitu mengurangi laju run off bila terjadi hujan. Rumpukan pelepah dapat sebagai bahan pupuk organik yang bertujuan untuk menambah unsur hara tanah, menjaga struktur tanah dan
14
kelembaban sehingga merangsang pertumbuhan akar sawit di daerah gawangan mati.
(A) (B)
(C) (D)
Gambar 2. Konservasi Tanah dan Air: (A) Perumpukan Pelepah (U-Shape Front Stacking), (B) Penanaman Neprolephis
biserata, (C) Siltpite, (D) Long Bed
Pengendalian Gulma
Pengendalian gulma adalah kegiatan mengendalikan pertumbuhan gulma untuk menekan persaingan antara tanaman utama dengan gulma. Pengendalian gulma bertujuan untuk mengurangi kompetisi unsur hara, air dan cahaya matahari, meningkatkan efisiensi pemupukan, mempermudah pengutipan brondolan, mempermudah pengawasan panen dan pemupukan, dan menekan populasi hama. Pengendalian gulma di Angsana Estate dilakukan pada tiga tempat yaitu piringan, gawangan dan tempat penyimpanan hasil (TPH). Pengendalian gulma di Angsana Estate dilakukan secara manual dan kimia. Kegiatan pengendalian gulma secara manual terdiri atas penggarukan gulma di piringan (garuk piringan) dan pembabadan gulma di gawangan (babad gawangan).
Garuk piringan. Piringan harus bebas dari gulma karena akar halus
tanaman kelapa sawit terletak di piringan agar tidak terjadi kompetisi dengan gulma. Pembersihan gulma dilakukan dengan cara menggaru gulma, sekaligus membersihkan kentosan dan sisa-sisa brondolan yang ada di piringan. Jenis gulma
15 yang dominan di piringan antara lain Ageratum conyzoides, Cyperus rotundus,
Axonopus compressus, Paspalum conjugatum dan Melastoma malabathricum.
Pekerjaan garuk piringan dilakukan oleh tenaga kerja SKU. Tenaga kerja SKU dapat dialokasikan untuk semua pekerjaan bergantung keperluan perusahaan. Rotasi garuk piringan tiga kali setahun dengan norma kerja 2 ha/HK, sedangkan prestasi kerja karyawan SKU sebesar 0.25 - 0.5 ha/HK. Kendala yang dihadapi penulis saat melakukan kegiatan garuk piringan adalah ada beberapa pekerja yang tidak membawa penggaruk gulma dan penggarukan tidak dilakukan sesuai dengan rotasi sehingga terdapat kentosan di piringan tanaman kelapa sawit.
Babad gawangan. Pekerjaan membabad gawangan dilakukan bersamaan
dengan dongkel anak kayu. Gawangan harus bebas dari gulma kayu-kayuan seperti Chromolaena odorata (putihan), Melastoma malabathricum (senduduk),
Lantana camara (tahi ayam) dan Clidemia hirta (haredong). Untuk kegiatan
tersebut alat yang digunakan adalah cados (cangkul dodos) dan parang. Dongkel anak kayu dilakukan dengan cara membongkar gulma sampai perakarannya. Rotasi babad gawangan dilakukan dua kali setahun dengan norma kerja sebesar 4 - 5 ha/HK. Prestasi kerja yang dihasilkan karyawan SKU sebesar 1 ha/HK, sedangkan prestasi penulis hanya sebesar 0.5 ha/HK. Kendala yang dihadapi penulis adalah topografi kebun yang bergelombang dan tenaga kerja yang digunakan tenaga kerja wanita dengan umur di atas 50 tahunan, sehingga pekerjaan tidak sesuai dengan norma kerja perusahaan yaitu sebesar 4 - 5 ha/HK. Selain itu topografi kebun banyak yang bergelombang dan daerah rendahan sehingga gulma banyak tumbuh di daerah tersebut.
Di Angsana Estate pengendalian gulma secara kimia menggunakan sistem
Block Spraying System (BSS). Block Spraying System adalah sistem
penyemprotan yang terkonsentrasi pada satu blok tertentu, tim semprot harus bergerak bersamaan sehingga tidak ada tenaga kerja yang arahnya berlawanan. Sistem yang digunakan adalah sistem rayon, yaitu pengendalian gulma dikelola oleh satu divisi tertentu yaitu Divisi III. Pengendalian gulma secara kimia terdiri atas dua kemandoran yaitu kemandoran Tim Semprot Kebun (TSK) yang menggunakan alat semprot manual dan kemandoran yang menggunakan alat
Micron Herby Sprayer (MHS). Pengendalian gulma secara kimia, baik TSK
maupun MHS dilakukan dengan sistem hanca giring tetap.
Kemandoran TSK. Alat yang digunakan oleh TSK adalah knapsack
sprayer Solo. Tempat kegiatan penyemprotan TSK yaitu gawangan. Tenaga kerja
yang digunakan adalah tenaga kerja SKU dengan jumlah 18 orang. Rotasi penyemprotan gawangan adalah dua kali setahun dengan norma kerja 3 ha/HK atau 12 kep/HK. Pekerja mendapatkan premi tetap sebesar Rp 2 500,00 per hari. Herbisida yang digunakan adalah Prima up dengan bahan aktif isopropilamina glifosat sebanyak 480 g/l. Dosis Prima up yang digunakan 250 ml/ha dengan konsentrasi 0.5 %. Prima up digunakan untuk gulma berdaun lebar dan diaplikasikan pada saat gulma tumbuh subur. Pada kemandoran TSK, sistem penyemprotan hanya sampai pasar tengah untuk meningkatkan efisiensi penyemprotan.
Kemandoran MHS. Alat yang digunakan oleh pekerja untuk penyemprotan
herbisida adalah Micron Herby Sprayer. Tempat kegiatan penyemprotan MHS yaitu piringan, TPH, dan pasar rintis. Tenaga kerja yang digunakan adalah tenaga kerja SKU dengan jumlah 7 orang. Rotasi penyemprotan adalah tiga kali setahun
16
dengan norma kerja 4 - 5 ha/HK. Pekerja mendapatkan premi tetap sebesar Rp 2 500,00 per hari. Herbisida yang digunakan adalah Prima up dan Starane yang berbahan aktif fluroksipir metal heptil ester 295 g/l. Dosis Prima up yang digunakan 200 ml/ha dengan konsentrasi 2 % sedangkan dosis Starane yang digunakan 30 ml/ha dengan konsentrasi 0.1 %. Starane merupakan herbisida purna tumbuh sistemik dan selektif untuk mengendalikan gulma berdaun lebar dan tanaman kacangan penutup tanah pada tanaman kelapa sawit.
Penyemprotan MHS dilakukan dengan sistem satu hancak, artinya setiap karyawan menyemprot sampai tembus blok, berbeda dengan TSK yang hanya sampai pasar tengah. Satu kep MHS mempunyai kapasitas volume 10 l yang dapat diaplikasikan untuk luas areal satu ha. Keunggulan alat MHS adalah dosis herbisida luas areal per hektarnya lebih rendah daripada menggunakan TSK, hasil semprotan berupa butiran halus dengan ukuran yang seragam, menggunakan konsentrasi yang tinggi, alat ringan dan mudah pemakaiannya sehingga prestasi kerja karyawan tinggi.
Pemupukan
Prinsip utama dalam aplikasi pemupukan di perkebunan kelapa sawit adalah setiap pokok harus diberi semua jenis pupuk sesuai dosis yang telah direkomendasikan oleh departemen riset untuk mencapai produktivitas tanaman yang menjadi tujuan akhir dari bisnis perkebunan. Biaya pemupukan sangat signifikan mencapai 60 % dari total biaya pemeliharaan, oleh karena itu ketepatan aplikasi pemupukan sangat penting untuk diperhatikan. Sistem pemupukan yang digunakan di Angsana Estate adalah Blok Manuring System (BMS), yaitu sistem pemupukan yang terkonsentrasi dalam hancak pemupukan per kebun, dikerjakan blok per blok dengan sasaran mutu pemupukan yang lebih baik, supervisi lebih fokus dan produktivitas yang lebih tinggi.
Leaf Sampling Unit (LSU). Salah satu cara penentuan rekomendasi
pemupukan adalah dengan menggunakan hasil analisis daun. Analisis daun sangat tepat dilaksanakan pada tanaman kelapa sawit karena tanaman kelapa sawit memproduksi daun dan tandan sepanjang tahun secara teratur sehingga memudahkan tim pengambil daun untuk melaksanakan pengumpulan daun sampel. Penyusunan rekomendasi pupuk tahun berikutnya hasil analisis daun dihubungkan dengan data produksi pada periode sebelumnya, realisasi pemupukan dan hasil pengamatan defisiensi hara di lapangan sebagai tanda akibat dari pemupukan pada tahun sebelumnya. Tanaman kelapa sawit biasanya sangat responsif terhadap pupuk pada dosis yang mendekati tingkat optimum.
Kegiatan Leaf Sampling Unit (LSU) dilakukan setahun sekali. Pengambilan LSU di Angsana Estate yaitu pada bulan April sampai awal Mei dua bulan sebelum periode baru. Pengambilan LSU dilakukan pagi hari pada interval waktu pukul 07.00-12.00 WITA. Jika hari hujan lebih dari 20 mm, maka pengambilan LSU ditunda hingga 24 jam berikutnya. Alat dan bahan yang digunakan saat pengambilan LSU adalah kertas label yang berisi keterangan: nama kebun/divisi, blok dan tahun tanam, nomor LSU, sistem pengambilan LSU, nama pengambil dan tanggal pengambilan LSU, egrek, gunting atau pisau, cat warna biru, kuas yang dibuat dari ujung pelepah sawit.
Tanaman kelapa sawit tidak boleh dipakai sebagai tanaman contoh dalam kegiatan LSU apabila pokok terletak di pinggir jalan, sungai, parit, dan bangunan;
17 bersebelahan dengan pokok mati atau kosong; pokok steril atau terserang penyakit; pokok abnormal. Jika hitungan jatuh pada pokok-pokok tersebut di atas maka harus digeser ke depan atau ke belakang satu pokok, kecuali jika hitungan jatuh pada pokok mati maka harus digeser 2 pokok.
Sistem yang digunakan dalam pengambilan LSU adalah 10 x 10 yang artinya 10 selang pokok dalam barisan dan perpindahan antar barisan mempunyai selang 10 baris. Arah penghitungan pokok pertama adalah barat-selatan. Tanaman contoh pertama dari pokok ketiga pada baris ketiga, dari tanaman contoh pertama selang 10 tanaman ke dalam baris sebagai tanaman contoh kedua. Jika jumlah pokok menjelang batas blok kurang dari jumlah pokok sistem pengambilan, maka hitungannya dilanjutkan pada baris berikutnya.
Setiap pokok contoh diberi nomor urut dari pokok contoh awal hingga pokok contoh terakhir. Pada nomor pokok paling awal dan pokok paling akhir diberi garis datar ganda di bawahnya, sedangkan pada pokok-pokok contoh diantaranya diberi garis datar tunggal. Contoh tanda-tanda pada pokok contoh dalam LSU dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar A. Tanda Masuk Barisan Gambar B. Tanda Pindah Barisan
1 2 30
Gambar C. Penomoran Pokok Contoh
Gambar 3. Contoh Tanda-tanda pada Pokok Contoh dalam LSU
Contoh daun yang diambil adalah pelepah daun ke-17. Pelepah ke-17 menunjukkan pertumbuhan tanaman kelapa sawit yang optimal. Dalam menentukan pelepah ke-17, mencari pelepah daun pertama yaitu daun termuda yang sudah membuka sempurna minimal 90 %, di bawah pelepah pertama adalah pelepah daun ke-9 dan di bawah pelepah daun ke-9 adalah pelepah daun ke-17. Kemudian pelepah daun ke-17 diturunkan dengan egrek untuk diambil contoh daunnya.
Setelah itu 4 helai daun kiri dan kanan yang terletak di titik perubahan permukaan pelepah diambil (total 8 helai/pelepah). Helaian daun dipotong
18
dengan menggunakan gunting lalu diambil bagian tengahnya (bagian terlebar) sepanjang 20 cm dan lidinya dibuang serta dipisahkan antara helaian daun sisi kiri dan kanan (A dan B). Helaian daun dipotong kecil-kecil dengan tujuan mempercepat pengeringan, kemudian dimasukkan ke dalam plastik sampel. Sampel daun harus dijaga jangan sampai kotor dan terkena cat. Setelah pengambilan sampel pada pokok terakhir selesai, maka label dimasukkan ke dalam plastik sampel untuk selanjutnya dikirim ke kantor divisi.
Sampel helaian daun A dan B kemudian dikeringkan menggunakan oven dengan suhu 110 oC selama 24 jam. Daun dinyatakan kering apabila sudah rapuh dan mudah dipatahkan, tetapi warna masih nampak hijau. Selama proses pengeringan harus dikontrol setiap jam dan sampel dipindahkan dari rak atas ke bawah dan sebaliknya agar pengeringan dapat merata, seragam, dan menghindarkan daun menjadi gosong. Sampel A dikirim ke laboratorium untuk dianalisis. Sampel B disimpan sebagai duplikat atau cadangan bila sampel A hilang atau rusak.
Analisis daun merupakan salah satu cara untuk mengetahui status hara daun yang digunakan sebagai pertimbangan dalam penyusunan rekomendasi pemupukan. Kandungan hara daun tahun 2004 - 2012 di Angsana Estate dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Kandungan Hara Daun Kelapa Sawit di Angsana Estate Tahun 2004 - 2012
Periode LSU
Jumlah LSU (unit)
Rata-rata Kandungan Hara Daun
N P K Mg B ……….(%)…..……….. (ppm) 2004 51 2.35 0.149 1.063 0.300 15.8 2005 87 2.51 0.158 1.088 0.300 17.3 2006 87 2.54 0.153 0.951 0.259 13.7 2007 89 2.80 0.172 1.216 0.317 12.5 2008 88 2.60 0.151 1.118 0.211 13.2 2009 120 2.77 0.168 1.094 0.258 12.6 2010 48 2.72 0.150 0.944 0.228 14.1 2011 48 2.81 0.155 0.918 0.254 13.3 2012 107 2.72 0.157 0.996 0.308 15.7 Rata-rata 81 2.65 0.157 1.043 0.271 14.24
Status Hara Optimum Optimum Optimum Optimum Cukup Sumber : Minamas Research Center (2012)
Kandungan hara daun kelapa sawit di Angsana Estate tahun 2004 - 2012 memiliki rata-rata kandungan unsur N sebesar 2.65 %, unsur P sebesar 0.157 %, unsur K sebesar 1.043 %, unsur Mg sebesar 0.271 %, dan unsur B sebesar 14.24 ppm. Standar hara pada daun kelapa sawit dapat dilihat pada Tabel 8. Kandungan hara daun kelapa sawit di Angsana Estate masih dalam kondisi optimum baik unsur N, P, K, Mg, dan kondisi cukup untuk unsur B.
19 Tabel 8. Standar Hara dalam Daun Kelapa Sawit pada Kondisi Defisiensi,
Optimum, dan Berlebihan
Unsur Hara
Kondisi Defisiensi Kondisi Optimum Kondisi Berlebihan
Tanaman Muda < 6 Tahun Tanaman Tua > 6 Tahun Tanaman Muda < 6 Tahun Tanaman Tua > 6 Tahun Tanaman Muda < 6 Tahun Tanaman Tua > 6 Tahun N (%) < 2.50 < 2.30 2.60 - 2.90 2.40 - 2.80 > 3.1 > 3.0 P (%) < 0.15 < 0.14 0.16 - 0.19 0.15 - 0.18 > 2.5 > 2.5 K(%) < 1.00 < 0.75 1.10 - 1.30 0.90 - 1.20 > 1.90 > 1.90 Mg (%) < 0.20 < 0.20 0.30 - 0.45 0.25 - 0.40 > 0.70 > 0.70 B (ppm) < 8 < 8 15.00 - 25.00 15.00 - 25.00 > 35 > 40
Sumber : Von Uexkull, 1992 dalam Pahan (2012)
Hasil pengamatan gejala kekurangan unsur hara juga dilakukan secara visual terhadap daun kelapa sawit dengan panduan gambar-gambar gejala defisiensi dapat dilihat pada Tabel 9. Jumlah tanaman kelapa sawit yang sehat di Angsana Estate sebesar 61.08 % dari jumlah pokok yang diamati, sedangkan tanaman kelapa sawit yang mengalami defisiensi unsur hara sebesar 38.04 % dari jumlah pokok yang diamati. Jumlah pokok yang diamati yaitu 1 033 pokok, tetapi terdapat 9 pokok yang sakit sebesar 0.87 %.
Tabel 9. Pengamatan Visual Defisiensi Unsur Hara pada Tanaman Kelapa Sawit di Angsana Estate
Ulangan Jumlah Pokok Diamati Jumlah Pokok Sehat Jumlah Pokok Sakit Defisiensi Hara N K P Mg B ………...(pokok)……… 1 342 199 5 5 21 14 80 18 2 348 236 3 4 20 8 58 19 3 343 196 1 1 67 5 58 15 Total 1 033 631 9 10 108 27 196 52 Persentase (%) 61.08 0.87 0.97 10.46 2.61 18.97 5.03
Sumber : Data Primer(2013)
Perencanaan pemupukan. Rekomendasi pemupukan harus diterima kebun
selambat-lambatnya pada bulan Oktober untuk program tahun berikutnya. Permintaan pembelian pupuk harus mengacu pada rekomendasi pemupukan dan perkiraan stok pupuk akhir tahun. Jika perencanaan dan aktual pemupukan dilakukan dengan benar, seharusnya tidak ada sisa stok pupuk. Jadwal penerimaan pupuk bulanan dibuat kebun dan dilampirkan bersama dengan permintaan pembelian pupuk dan dikirimkan ke Departemen Purchasing. Pupuk yang akan diaplikasikan untuk semester I dan semester II selambat-lambatnya diterima pada bulan November. Jika ada perubahan keperluan pupuk untuk semester II dan telah mendapat persetujuan General Manager Estate, maka koreksi permintaan pembelian harus dikirimkan ke Departemen Purchasing, paling lambat bulan Maret.
Penyimpanan pupuk. Pupuk yang telah dibeli oleh perusahaan disimpan di
20
terlebih dahulu ditimbang di jembatan timbang sehingga dapat diketahui berapa jumlah pupuk yang masuk ke gudang dan akan disesuaikan dengan jumlah permintaan.
Pelaksanaan pemupukan. Pelaksanaan pemupukan dimulai dari pengangkutan pupuk dari gudang ke lahan dengan menggunakan truk, kemudian pupuk didistribusikan ke blok atau petak yang akan dipupuk dengan mengecer pupuk di pinggir jalan blok. Selanjutnya pupuk diecer menggunakan mobil pengecer pupuk dengan setiap TPH 3 sak pupuk. Dalam pengeceran pupuk perlu diperhatikan kondisi areal dan panjang jalur atau barisan pokok kelapa sawit. Mandor memberikan hancak kepada setiap Kelompok Kecil Pekerja (KKP), tiap KKP terdiri atas 3 orang penabur. Alat yang digunakan untuk pemupukan adalah ember kapasitas 17 kg dan mangkok tabur dengan kapasitas 1.25 kg.
Cara pengaplikasian pupuk pada tanaman menghasilkan (TM) yaitu dengan menabur pupuk NK Blend dan Kieserite di atas rumpukan pelepah secara merata.
Rock Phosphate diaplikasikan dengan cara menabur di permukaan tanah dengan
bentuk U, sedangkan HGFB diaplikasikan di pinggiran rumpukan. Dalam aplikasi pemupukan semua pupuk tidak diperbolehkan ada yang menggumpal dan menumpuk di satu titik saja. Aplikasi pemupukan RP dapat dilihat pada Gambar 4.
(A) (B) (C)
Gambar 4. Aplikasi Pemupukan RP: (A) Pengisian Pupuk ke dalam Ember, (B) Cara Penaburan Pupuk RP, (C) Pengukuran Jarak Tabur Pupuk dari Pokok sampai Titik Penaburan
Kegiatan pasca pemupukan yang dilakukan adalah menggumpulkan karung pupuk. Satu gulung pupuk terdiri atas 10 karung pupuk. Karung pupuk dikumpulkan di collection road. Mandor pupuk mengambil gulungan karung kemudian diberikan ke asisten. Asisten menghitung jumlah karung yang dikumpulkan, kemudian disesuaikan dengan jumlah karung dikeluarkan dari gudang pusat.
Tenaga kerja pemupukan. Karyawan yang melakukan penaburan pupuk
harus memakai pelindung diri lengkap (topi, baju kerja berlengan panjang, masker, sarung tangan, sepatu bot). Pemupukan tidak dilakukan pada waktu turun hujan untuk menghindari kerugian serta menjamin keselamatan karyawan. Tenaga kerja pemupuk di Angsana Estate terdiri atas satu kemandoran. Tenaga kerja yang
21 digunakan adalah tenaga kerja borongan dan tenaga kerja SKU yang terdiri atas 8 orang penabur dan 4 orang pelangsir.
Upah untuk tenaga kerja borongan adalah Rp 70,00/kg untuk semua pupuk, tidak diberlakukan sistem basis, sedangkan pengupahan untuk tenaga kerja SKU selain mendapatkan gaji pokok juga terdapat sistem basis. Basis pada pupuk NK
Blend sebesar 650 kg/HK, RP dan Kieserite sebesar 500 kg/HK, sedangkan untuk
pupuk HGFB sebesar 10 ha/HK. Tenaga kerja SKU mendapatkan premi hadir sebesar Rp 2 500,00/orang serta lebih basis dihitung borong sebesar Rp 70,00/kg sedangkan pupuk HGFB lebih basis sebesar Rp 1/ha. Prestasi kerja penabur di Angsana Estate dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Prestasi Kerja Penabur Pupuk di Angsana Estate Tahun 2013 Jenis Pupuk Standar Kerja (kg/HK) Luas (ha) Jumlah Pupuk Diaplikasikan (kg) Tenaga Kerja (orang) Prestasi kerja kg/HK ha/HK RP 500 31.86 6 046 10 604.6 3.2 500 30.00 5 838 11 530.7 2.7 500 61.15 12 399 11 1 127.2 5.6 Rata-rata 500 41.00 8 094 11 754.2 3.8 Kieserite 500 88.47 14 364 23 624.5 3.9 500 91.65 16 700 27 618.5 3.4 500 71.62 13 898 26 534.5 2.8 Rata-rata 500 83.91 14 987 25 592.5 3.4
Sumber : Data Primer (2013)
Ketepatan pemupukan. Ketepatan dalam pemupukan meliputi ketepatan
jenis, dosis, waktu, cara danjarak tabur pupuk yang diaplikasikan. Ketepatan pemupukan harus diperhatikan karena pemupukan sangat mempengaruhi produktivitas.
(1) Ketepatan jenis
Jenis pupuk yang diaplikasikan di Angsana Estate adalah pupuk Rock
Phosphate (RP), Kieserite, NK Blend, dan HGFB (Borat). Frekuensi pemupukan
di Angsana Estate dilakukan dua kali setahun dan sekali setahun. Pupuk NK
Blend diberikan dua kali setahun, sedangkan RP, Kieserite, dan HGFB diberikan
sekali setahun. Kandungan unsur hara pada pupuk yang diaplikasikan di Angsana Estate dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Kandungan Unsur Hara pada Pupuk yang Diaplikasikan di Angsana Estate Tahun 2013
Jenis Pupuk Unsur hara Kandungan
Unsur %
Rock Phosphate (RP) Fosfor (P) P2O5 28
Kieserite Magnesium (Mg) Sulfur (S) MgO S 26 21 NK Blend Nitrogen (N) Kalium (K) N K 13 36 HGFB Borate (B) H2BO3 47
22
Rekomendasi pemupukan tahun 2011/2012 dengan dosis pupuk RP berkisar 1.00 - 1.75 kg/pokok, pupuk Kieserite 1.00 - 1.50 kg/pokok, pupuk NK Blend 2.50 - 2.75 kg/pokok, dan pupuk HGFB 0.10 kg/pokok. Total pupuk yang direkomendasi sebesar 2 895 377 kg, terealisasi sebesar 2 895 525 kg. Persentase realisasi pemupukan di Angsana Estate tahun 2011/2012 sebesar 100.1 % dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Realisasi Pemupukan di Angsana Estate Tahun 2011/2012 Luas Areal
(ha)
Jenis Pupuk Rekomendasi (kg) Realisasi (kg) Dosis Rekomendasi 3 084 Rock Phosphate (RP) 462 347 462 397 1.00 – 1.75 Kieserite 477 676 477 700 1.00 – 1.50 NK Blend 1 917 704 1 917 756 2.50 – 2.75 HGFB 37 650 37 672 0.10 Total 2 895 377 2 895 525 % Realisasi 100.01 %
Sumber : Kebun Angsana Estate (2013) (2) Ketepatan dosis
Penulis mengamati kegiatan di lapangan yaitu ketepatan dosis saat tenaga kerja menabur pupuk ke pokok. Pupuk yang diamati yaitu pupuk Kieserite dan RP. Penulis menimbang pupuk yang ditabur ke pokok oleh tenaga kerja penabur dengan 3 ulangan setiap penabur. Hasil pengamatan dapat dilihat pada Tabel 13.
Tabel 13. Ketepatan Dosis Pupuk Kieserite dan RP pada Tanaman Kelapa Sawit di Angsana Estate Semester II Tahun 2012/2013
Penabur Contoh Dosis Pupuk Rekomendasi (g/pokok) Kieserite RP Dosis Rata-rata Penabur (g/pokok) Realisasi terhadap Rekomendasi (%) Dosis Rata-rata Penabur (g/pokok) Realisasi terhadap Rekomendasi (%) 1 1 250 1 300 104.00 1 167 93.33 2 1 250 1 233 98.67 1 300 104.00 3 1 250 1 233 98.67 1 150 92.00 4 1 250 1 283 102.64 1 217 97.33 5 1 250 1 317 105.36 1 317 105.36 6 1 250 1 033 82.67 1 117 89.33 Rata-rata 1 233 98.67 1 211 96.89
Sumber : Data Primer (2013)
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan diperoleh persentase rata-rata realisasi pupuk terhadap rekomendasi pupuk Kieserite di Blok E015 tahun tanam 1998 sebesar 98.67 %. Hasil pengamatan ketepatan dosis pupuk Rock Phosphate di Blok B016 tahun tanam 1998 diperoleh persentase rata-rata realisasi pupuk RP terhadap rekomendasi sebesar 96.89 %. Setiap pokok harus terpupuk sesuai dengan dosisnya, pokok yang tidak terpupuk akan mengakibatkan defisiensi hara.
23 (3) Ketepatan waktu
Aplikasi pemupukan di Angsana Estate terdiri atas dua semester yaitu semester I dan semester II. Aplikasi pupuk semester I di Angsana Estate pada bulan Juli - Desember dan semester II pada bulan Januari - Juni. Waktu rekomendasi dan aktual pemupukan tanaman kelapa sawit di Angsana Estate tahun 2010/2011 - 2012/2013 dapat dilihat pada Tabel 14.
Ketepatan waktu akan meningkatkan keefektifan dan efisiensi pemupukan. Penentuan waktu pemupukan didasarkan pada kondisi iklim yaitu curah hujan. Waktu pemupukan yang optimal apabila curah hujan berkisar 100 - 250 mm
dengan batas minimal curah hujan 60 mm/bulan dan batas maksimal 300 mm/bulan. Waktu pemupukan dimulai jika sudah turun hujan 50 mm/10 hari.
Pemupukan yang dilakukan pada curah hujan yang tinggi akan menyebabkan kehilangan pupuk melalui pencucian sedangkan curah hujan yang rendah (musim kemarau) kehilangan pupuk melalui penguapan.
Tabel 14. Waktu Pemupukan Tanaman Kelapa Sawit di Angsana Estate Tahun 2010/2011 - 2012/2013
TahunA plikasi
Waktu
Pelaksanaan Pupuk
Bulan Aplikasi Pupuk Angsana Estate 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 2010 s/d 2011 Rekomendasi RP * * Aktual Rekomendasi Dolomite * Aktual * * * Rekomendasi HGFB * Aktual * * Rekomendasi NK Blend * * ** ** Aktual **a * * * * ** 2011 s/d 2012 Rekomendasi RP * Aktual * * * * Rekomendasi Kieserite * Aktual * * * Rekomendasi HGFB * Aktual * Rekomendasi NK Blend * * ** ** Aktual * * * ** ** ** ** 2012 s/d 2013 Rekomendasi RP * * Aktual * * * * * Rekomendasi Kieserite * Aktual * Rekomendasi HGFB * Aktual * * * Rekomendasi NK Blend * * ** ** Aktual * * * * *
Keterangan * : aplikasi pertama ** : aplikasi kedua **a : aplikasi kedua dilakukan pada Juni 2011
Sumber : Kantor Besar Angsana Estate (2013) (4) Ketepatan cara aplikasi
Ketepatan cara akan mempengaruhi keefektifan penyerapan unsur hara oleh tanaman kelapa sawit. Ketepatan cara yang diamati adalah penyebaran pupuk yang merata, pupuk tidak menggumpal saat diaplikasikan di lapangan. Blok yang