• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Pendidikan Akhlak: Studi Pemikiran Buya Hamka

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Konsep Pendidikan Akhlak: Studi Pemikiran Buya Hamka"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

KONSEP PENDIDIKAN AKHLAK (Studi Pemikiran Buya Hamka)

SKRIPSI

Oleh:

IBNU AL QOYYIM NIM. 07110005

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG FAKULTAS AGAMA ISLAM

(2)

KONSEP PENDIDIKAN AKHLAK (Studi Pemikiran Buya Hamka)

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang untuk memenuhi sala satu persyaratan

dalam menyelesaikan Program Sarjana Strata Satu (S-1)

Oleh:

IBNU AL QOYYIM NIM. 07110005

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG FAKULTAS AGAMA ISLAM

(3)

LEMBAR PERSETUJUAN

KONSEP PENDIDIKAN AKHLAK (Studi Pemikiran Buya Hamka)

SKRIPSI

Oleh:

IBNU AL QOYYIM NIM. 07110005

Disetujui oleh:

Pembimbing I

Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si

(4)

LEMBAR PENGESAHAN

SKRIPSI

Dipertahankan di depan Dewan Penguji Skripsi Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang

dan diterima untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Pada Tanggal: 26 April 2014

Mengesahkan, Fakultas Agama Islam

(5)

MOTO:

Orang yang tulus beramal tidak membayangkan bagaimana orang-orang akan ramai memuji ketika ia sukses menyudahi suatu pekerjaan, tetapi bagaimana amal

(6)

PERSEMBAHAN

Karya ini kupersembahkan kepada:

(7)

SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Ibnu Al Qoyyim

NIM : 07110005

Tempat/ Tgl. Lahir : Malang, 18 Oktober 1987

Fak./Jurusan : Agama Islam / Pendidikan Agama (Tarbiyah) Menyatakan bawah Tugas Akhir / Skripsi dengan jurnal :

Konsep Pendidikan Akhlak (Studi Pemikiran Buya Hamka)

adalah bukan merupakan karya tulis orang lain, baik sebaian maupun keseluruhan, kecuali dalam bentuk kutipan yang telah kami sebutkan sumbernya.

Demikian surat pernyataan ini kami buat dengan sebenar-benarnya dan apabila pernyataan ini tidak benar, kami bersedia mendapat saksi akademis.

(8)

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah. Kami memuji, memohon pertolongan, dan ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kapada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal-amal kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, tiada seorang pun yang dapat menyesatkannya. Barangsiapa yang disesatkan Allah, tiada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tiada

Illah selain Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Hamba dan Rasul-Nya, amma ba’d.

Begitu besar rasa syukur yang kami sampaikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’alla yang menolong kami dalam menghadapi setiap ujian hidup kami, termasuk terselesaikannya skripsi ini. Skripsi ini kami ajukan untuk memenuhi persyaratan lulus dari jurusan Pendidikan Agama Islam di Universitas Muhammadiyah Malang. Semoga Allah Subhanahu wa ta’alla menambah kemuliaan kepada lembaga pendidikan yang telah membangun bangsa dan menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar ini, menambah kemudahan bagi peserta didik yang ingin mencari ilmu, dan segala sarana didalamnya menjadi berkah untuk setiap generasi.

(9)

1. Allah Subhanahu wa ta’alla yang telah memberikan akal, perasaan, dan tubuh ini sehingga terbentuk pada satu tempat yaitu: fitrah manusia. 2. Keluarga yang selalu memberikan sarana yang tidak terhitung jumlahnya

sehingga penulis bisa menyelesaikan pendidikan hingga jenjang universitas. Semoga Allah membalas segala pengorbanan yang diberikan khususnya kedua orang tua peneliti. Semoga Allah meridhai mereka, menjadikan jiwa mereka tenteram, dan kembali dengan keridhaan Allah

Subhanahu wa ta’alla.

3. Bapak dan Ibu dosen yang sabar, tulus, dan ikhlas berjuang mencerdaskan peserta didik. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’alla membalas dengan kelapangan dada, jiwa besar, memiliki tambahan ilmu yang luas, bermanfaat dunia akhirat, bangsa dan negara, serta seluruh alam.

4. Teman sejawat yang senantiasa menghiasi hidup penulis, canda tawa, duka sengsara, suka ceria, entah apalagi yang bisa penulis ungkapkan. Semoga saja Allah Subhanahu wa ta’alla memberikan petunjuk dan menjaga semuanya.

5. Teman seperjuangan, yaitu teman organisasi penulis. Semoga mereka tetap pada perjuangan kebenaran bukan kebohongan, kejujuran bukan pengkhianatan.

(10)
(11)

DAFTAR ISI

2.2 Pengertian dan Tujuan Pendidikan ... 11

2.3 Pengertian Moral dan Etika ... 16

2.4 Pengertian Akhlak ... 18

2.4.1 Ruang Lingkup Akhlak... 21

2.4.2 Ciri-ciri Akhlak Dalam Islam ... 22

2.4.3 Macam-macam Akhlak ... 24

2.4.3 Urgensi Penanaman Akhlak ... 25

2.5 Pengertian Insan Kamil ... 27

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 31

3.2 Pendekatan Penelitian ... 31

3.3 Sumber Data ... 32

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 33

3.5 Teknik Analisis Data ... 34

(12)

4.1.1 Kehidupan ... 36

4.1.2 Karir ... 38

4.1.3 Daftar Karya ... 42

4.2 Pemikiran Hamka Tentang Akhlak ... 47

4.1.1 Penelusuran Istilah Etika, Akhlak dan Padanannya ... 49

4.1.2 Pengertian Akhlak Menurut Hamka ... 51

4.1.3 Sumber Akhlak Pada Diri ... 53

4.1.4 Pengertian Adab ……….. 56

4.1.5 Pembagian Adab ……….. 57

4.1.6 Tauhid Sebagai Sumber Moral ……… 61

4.1.7 Etika (Akhlak) dalam Struktur Ajaran Islam ……….. . 62

(13)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

(14)

DAFTAR PUSTAKA

Ali. Yunasril, (1997). Manusia Cinta Ilahi: Pengembangan Konsep Insan Kamil Ibn ‘Arabi oleh al-Jilli, cet. petama. Jakarta: Paramadina Bertens, K. (1994). ETIKA, cet. kedua. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka

Utama.

Bungin, Burhan, (2001). Metodologi Penelitian Sosial: Format-format Kutitatif dan Kualitatif. Cet. pertama. Surabaya: Airlangga University Press.

_______ (2012). Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. ed. Kedua. Cet. keenam. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

_______ (2013). Metodologi Penelitian Kuantitatif: Komunikasi, Ekonomi, dan Kebijakan Publik Serta Ilmu-ilmu Sosial Lainnya.

ed. Kedua. cet. ketujuh. Jakarta, Kencana Presada Media Group.

Buya Hamka dan Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Pahlawan Nasional,

Diakses pada 20 Desember 2011 dari http:// www.al-azhar.ac.id. Cukup Allah sebagai Pelindung: Kisah Hamka di Penjara Sukabumi, 26

November 2011. Diakses pada tanggal 20 Desember 2011 dari http:// www.republika.co.id.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1995). Kamus Besar Bahasa Indonesia. cet. Ketujuh. Jakarta: Balai Pustaka.

Dirdjosisworo, Soedjono. (1984). Filsafat Hukum Dalam Konsepsi dan Analisa, Bandung: Alumni.

HAMKA, (1982). Prinsip Dan Kebijaksanaan Da’wah Islam, Cet. pertama. Jakarta: UMMINDA.

________ (1960). Pelajaran Agama Islam. cet, kedua. Jakarta: Bulan Bintang.

________ (1984). Falsafah Hidup. cet. kesebelas. Jakarta: Pustaka Panjimas.

________ (1961). Tasawuf Moderen. cet. kesebelas. Jakarta: Jayamurni. ________ (1991). Lembaga Hidup. cet. kesepuluh Jakarta: Pustaka

Panjimas.

________ (1985). Lembaga budi. cet. sembilan. Jakarta: Pustaka Panjimas.

___________ (1992). Pandangan Hidup Muslim. cet.empat. Jakarta: Bulan Bintang.

__________ (1982). Pribadi. cet. XI. Jakarta: Bulan Bintang.

(15)

__________ Tafsir Al-Azhar I-XXX, Jakarta: Pustaka Panjimas.

Haris, Abd, (2010). Etika Hamka: Kontruksi Etik Berbasis Rasional- Religius. Cet: pertama. Yogyakarta: LKiS.

Ilyas, Yunahar. (2001). Kuliah Akhlaq. cet. 4, Yogyakarta: Lembaga Pengajian dan Pengembangan Islam (LPPI).

Jazairi, Syeikh Abu Bakar Jabir. (2001). Pedoman Hidup Seorang Muslim. Jakarta: PT Megatama Sofwa Pressindo.

Jauziyah, Ibnu Qoyyim. (2011). Hikmah al-Ibtila’. (terj. Ahmad Anis dan Fauzi Bahreisy.) Jakarta: Zaman.

__________ (2002). Talbis Iblis. (Terj. Kathur Suhardi). cet. Keenam. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

__________ (2012). Roh. (Terj. Kathur Suhardi.) cet. Keduapuluh Sembilan. Jakarta Timur: Pustaka Kautsar.

Maktabah Kobro, Inkelopedi Muslim, 2008

Mujianto, Gigit, et. al. (2005). Bahasa Indonesia untuk Karangan Ilmiah Makalah-Skripsi-Tesis-Disertasi. cet. Kedua. Malang: UMM Press.

Munawwir, A.W. (1997). Kamus Al-Munawwir: Arab-Indonesia. Surabaya: Pustaka Progresif.

Muthahhari, Murtadha, (1994). Manusia Sempurna: Pandangan Islam Tentang Hakikat Manusia. cet. kedua. Jakarta: Lentera.

Nawawi, Imam Yahya bin Syarif ad-Diin. matan arba’in an-Nawawiyah. Mesir: Ngisa al-bab al-khalab wa Syirkah.

Nizar, Samsul, (2008). Memperbincangkan Dinamika Imtelektual dan Pemikiran HAMKA Tentang Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana.

P.Gwinn, Robert et. al. (1990). The New Encyclopaedia Britannica/III.

Chicago: Encyclopaedia Britanica. Inc

Peter G. Riddell, (2001). Islam and the Malay-Indonesian World. C. Hurst & Co.

Purwanto, M. Ngalim, (2007). Ilmu Pendidikan Teoritis Dan Praktis. cet. 18 ed. Kedua. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. (2003). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Cet. ketiga. Ed. 3. Jakarta: Balai Pustaka Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. (2003). Kamus Besar

Bahasa Indonesia. Cet. ketujuh. Jakarta: Balai Pustaka. Qarni, Aidh, (2010). Jangan Takut, Cet. pertama. Jogjakarta: Bening.

(16)

Salaim, Peter, Dan Yenny Salaim (1991). Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer. ed. 1. Jakarta: Modern English Press.

Shadily, Hasan et al. (1983). Ensiklopedi Indonesia. Jakarta: Gramedia-Printing Division.

Shiddiqy, T.M. Hasbi, (1964). Al-Islam. cet. ketiga. Jakarta:PT. Bulan Bintang.

Solomon. Robert C. (1987). Etika Suatu Pengantar. Jakarta Erlangga Sukardjo, dan Ukim Komarudin, (2010). Landasan Pendidikan Konsep

dan Aplikasinya. cet. ketiga. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Suwarno, (1988). Pengantar Umum Pendidikan. cet. ketiga. Jakarta: Bina

Aksara.

Yamani, Syeh Yahya bin Hamzah.. (2012). Tashfiyat al-Qulub min Daran al-Awzar wa al-Dzunub, (terj. Maman Abdurrahman Assegaf). cet. Kesatu. Jakarta:Zaman.

Yunus, H. Mahmud. (1961). Pokok- Pokok Pendidikan dan Pengajaran. Jakarta: PT. Hidakarya Agung.

Zainuddin, et al. (1991). Seluk-Beluk Pendidikan dari Al-Ghazali. Cet. pertama. Jakarta: Bumi Aksara.

Zubair, Achmad Charris, (1990). Kuliah Etika. cet. Kedua. Jakarta, Rajawali Press.

(17)

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah

Masa ini merupakan masa terjadinya berbagai peristiwa dan fitnah.

Banyak ilmu sedikit manfaatnya, banyak orang tahu sesuatu tetapi sedikit yang

mengamalkannya. Hanya sebatas menilai tak mampu merubah apa yang salah,

terasa kesombongan melekat pada diri makhluk yang diciptakan sebaik-baik

bentuk. Sedikit akan nasehat dan memberi manfaat kepada yang

lainnya/sesamanya. Banyak teman dan hubungan sosial yang memberatkan

tanggungan hidup dan sedikit orang yang rela dan ikhlas untuk meringankan

beban hidup saudaranya, seperti pada perayaan khitan atau walimahan di

lingkungan desa. Biasanya orang yang diundang dalam perayaan hajat memiliki

niat untuk menabung. Tabungan ini akan dimanfaatkan pada kebutuhan yang

sama, seperti meminta timbal-balik dari yang diundang kepada yang mengundang.

Masuklah orang yang masuk, banyaklah percampuran, diabaikan

janji-janji dan berkurangnya agama. Banyak orang yang tidak meletakkan sesuatu pada

tempatnya. Setiap orang bisa ikut andil dalam segala hal, yang penting bisa bicara

walaupun sedikit pengetahuannya terutama pada agama yang akan

membahayakan pada kerusakan keyakinan bukan menunjukkan kepada kebenaran

(Q.S. al-„Ashr: 3). Bid‟ah, keraguan, dan akan melahirkan subhat dan waham.

Seperti pada realita yang ada, sedikit masyarakat/umat Islam yang mau

merespon belajar agama. Mereka merasa agama sudah cukup dipelajari oleh satu

(18)

2

orang saja. Kemudian yang lainnya mencari kebutuhan dunia atau mengutamakan

dunia untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya sendiri. Bila sudah kaya, segala

kebutuhan hidup dunia terpenuhi, banyak yang lupa untuk kembali belajar agama.

Bobroknya masyarakat atau umat dari peradabannya, dikarenakan

rusaknya diri dari nilai pribadi sendiri, yaitu tidak ada lagi orang yang mau

menghargai ilmu dan pengetahuan. Moh. Athiyah Al Abrasyi yang dikutip

Zainuddin terhadap pemikiran Imam al-Ghazali mengatakan, “di antara prinsip-

prinsip pendidikan Islam yang mesti ada bagi masyarakat Islam yang paling

mengagumkan adalah pengagungan ilmu dan pengetahuan, pengagungan ulama‟

(sarjana-sarjana) dan guru-guru.”1

Sebab manusia hidup karena Allah SWT yaitu yang menjadikan manusia

ada dan hidup di dunia ini karena Allah SWT hidup-matipun karena kehendak

Allah saja. Ketika ulama diambil dari muka bumi ini, baru masyarakat/umat Islam

resah, berkeluh-kesah karena tidak ada lagi orang yang dapat menggantikan

kedudukan ulama dalam mengarahkan/menjelaskan agama Islam dalam

kemurniannya di dalam masjid. Berkat masyarakat (umat Islam) miskin ilmu

agamanya sendiri, masjid yang seharusnya dekat dengan petunjuk maka berubah

menjadi jauh dari petunjuk. Isi dalam masjid hanya orang yang menghancurkan

pondasi iman bukan membangun iman lagi.

Jauh umat dari belajar agama, jauh pula umat memperhatikan dirinya dan

sikap/akhlaknya. Kalau tersinggung karena sebab ucapan orang atau kekuasaan

pemerintahan dalam wilayah (desa), menjauhlah mereka dari urusan itu dengan

1 Zainuddin. dkk., Seluk-Beluk Pendidikan dari al-Ghazali (Jakarta: Bumi Aksara,1991),

(19)

3

membawa prasangka buruk. Dahulu dekat dengan masjid sekarang menjadi jauh

dari masjid.

Setelah masyarakat jauh dari ilmu agama, ketika datang suatu pemikiran

agama banyak masyarakat yang adu mulut, tiada lagi yang mampu menjelaskan

kemurnian agama Islam. Golongan-golongan (firqah) keagamaan saling

bermunculan, agama Islam ikut pula terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan

satu golongan tetap pada agama Islam yang murni. Seperti dalam hadits yang

diriwayatkan Abu Daud di dalam Sunan-nya, dari Mu‟awiyah bin Abu Sufyan,

bahwa dia berdiri seraya berkata,”Ketahuilah bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi

wa Sallam pernah berdiri di tempat kami ini, seraya bersabda,

.

“Ketahuilah, bahwa di antara orang-orang sebelum kalian dari Ahli Kitab terbagi-bagi menjadi tujuh puluh dua golongan, dan sesungguhnya agama ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Tujuh puluh dua di dalam neraka dan satu golongan di dalam surga, yaitu Al-Jama‟ah. Sesungguhnya dari umatku ini akan muncul segolongan orang yang berjalan beriringan dengan berbagai nafsu, sebagai anjing yang berjalan beriringan dengan rekannya.”2

Hal seperti ini terjadi karena iman yang lemah, aqidah tidak kuat bersama

ilmu yang minim akan sedikit melahirkan hakikat dan mengantarkan manusia

pada petunjuk agama. Ilmu yang minim, intelektual yang rendah bermula dari

pendidikan yang kurang dari kesempurnaannya, tidak ada ketetapan dari

2 Ibnu-Jauzy, Talbis Iblis, tej. Kathur Suhardi, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar,2002), cet.

(20)

4

cita/ideologi yang didambakan. Mungkin ada tetapi kurang dalam keyakinan

yang melahirkan kecintaan (mencintai ideologi tersebut), kurang mengetahui cara

menerapkan cita-cita/ideologi tersebut. Kurang dalam berusaha meraihnya melalui

cara tersebut dan bersabar dalam hal itu.

Kurangnya kesempurnaan pendidikan tidak terlepas dari segala faktor

pendukung. Pendidik yang kurang mampu atau kurang ahli dalam bidangnya tidak

bisa menghantarkan peserta didik pada cita-cita/ideologi yang didambakan

sehingga melahirkan akhlak yang buruk, perkelahian antar pelajar, peserta didik

yang merokok, peserta didik berbohong kepada pendidik atau tidak serius dalam

belajar. Pendidik yang seharusnya ahli dalam bidangnya pandai menghantarkan

peserta didik pada keteguhan iman/pendirian hidup (humanis). Semua mata

pelajaran akan tertuju pada agama sehingga menimbulkan akhlak mulia.

Selain itu, peserta didik dari berbagai lingkungan memiliki corak

perbedaan baik akhlak/perilaku keseharian maupun intelektual dalam setiap

memahami kehidupan (suka dan duka hidup). Segi keturunan ikut mempengaruhi

diri peserta didik. Baik-buruknya dan cara perlakuan orang tua terhadap anak akan

memberi corak kepada anak tersebut yang akan dibawa ke lingkungan sekolah.

Pemerintah yang seharusnya mendukung kelangsungan pendidikan

ternyata kurang mampu dalam pelaksanaannya. Biasanya pemimpin yang

memiliki ideologi dalam penerapannya akan tertuang atau nampak pada dunia

pendidikan. Selain itu, sedikit ilmuwan yang termanfaatkan di Indonesia ini yang

semuanya terlalu banyak berada di luar negeri. Salah satu dari kurangnya

menghargai ilmu yang berdampak kurangnya kesejahteraan pendidik atau

(21)

5

pendidikan (sekolah) hanya untuk mencari pekerjaan (menjadi pekerja) bukan

menjadi orang berilmu dan berpendirian.

Berbeda dengan masa lampau yang memiliki watak keras dalam

berpendirian, berjiwa tegas terhadap hidup, berfikir keras dalam menghadapi

kenyataan hidup, bersusah payah dalam hidup. Menghasilkan generasi berwatak

teguh, berpikir luas sampai dihargai/disegani dalam pandangan masyarakat luas.

Salah satunya adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang biasa disebut dengan HAMKA atau Buya HAMKA. Seorang yang mendapatkan pendidikan masa lampau dan berfikiran luas memiliki kejelian dalam mengoreksi

segala permasalahan. Dari beliau terdapat contoh pendidikan masa lampau yang

menghasilkan pendirian hidup dan memiliki pemikiran yang jeli dalam

mengoreksi setiap permasalahan hidup. Baik dari diri beliau atau dari yang sudah

digariskan dalam tinta buku beliau.

Sudah banyak intelektual yang mengakui akan keilmuan beliau baik dari

dalam atau luar negeri. Dari penelitian yang mereka lakukan, mereka memberikan

penilaiannya terhadap beliau dengan menyebut beliau sebagai seorang ulama,

aktivis, politikus, jurnalis, editor dan sastrawan. Ia juga seorang pendidik yang

otodidak.3 Selain itu dengan pemikirannya, Hamka juga dikenal sebagai seorang

yang mampu dalam beberapa bidang keilmuan antara lain tafsir, tasawuf, fiqh,

sejarah, filsafat, dan sastra.4

Dari penelitian mereka pula, Buya Hamka juga disebut sebagai seorang

mufasir melalui Tafsir al-Azharnya, sastrawan melalui roman-romannya,

3 Samsul Nizar, Memperbincangkan Dinamika Imtelektual dan Pemikiran HAMKA

Tentang Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana,2008),, hal: v

4 Abd. Haris, Etika Hamka Kontruksi Etik Berbasis Rasional- Religius (Yogyakarta:

(22)

6

sejarawan melalui sejarah Islamnya, “sufi” melalui Tasawuf Modern-nya, atau

da‟i dengan kemampuan retorikanya yang baik5 atau dengan bukunya Prinsip

Dan Kebijaksanaan Da‟wah Islam6, ataupun seorang pioner modernisasi Islam di

Indonesia yang dinilai/beri predikat oleh Fachri Ali kepada beliau maupun

predikat seorang antropolog, ahli politik, jurnalis, dan islamolog oleh James Rush,

Karel A. Stenbrink, dan Gerard Moussay.7

1.2Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang diambil dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Adakah BUYA HAMKA membuat atau mempunyai konsep pendidikan

akhlak yang membentuk moral manusia menuju kepribadian paripurna (

al-insan al-kamil)?

2. Bila ada konsep pendidikan akhlak yang membentuk moral manusia menuju

kepribadian paripurna (al-insan al-kamil), bagaimana konsep atau karakter

konsep tersebut?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini agar dapat memahami konsep pemikiran Hamka

mengenai pendidikan akhlak yang membentuk kepribadian paripurna (al-insan

5 Samsul Nizar, Memperbincangkan . . . .Hal: 1

6 Buku ini sebenarnya merupakan artikel panjang yang pernah ditulis Almarhum Prof. Dr.

Hamka secara bersambung di dalam majalah Panji Masyarakat terbitan tahun 1978- 1979, ketika itu berjudul “Dakwah Islam”. Ternyata banyak permintaan artikel tersebut di susun kembali menjadi sebuah buku. Ide yang baik itu Alhamdulillah di terima oleh pangarangnya dan atas persetujuannya tersusunlah naskah berupa buku dengan judul “PRINSIP DAN KEBIJAKANSANAAN DA‟WAH ISLAM”. HAMKA, Prinsip Dan Kebijaksanaan Da’wah Islam, (Jakarta: UMMINDA, 1982), Cet: pertama.

7 Abd. Haris, Etika Hamka Kontruksi Etik Berbasis Rasional- Religius (Yogyakarta:

(23)

7

al-kamil) sehingga bisa diterapkan pada diri peneliti atau pada masyarakat (umat

Islam) atau semua orang yang ingin mengetahui pemikiran HAMKA kelak akan

bermanfaat membangun umat.

1.4 Manfaat Penelitian

Dalam penelitian ini dapat dimanfaatkan dalam lingkup tiga hal. Lingkup

umat Islam, lingkup pendidikan, dan lingkup diri sendiri.

1. Lingkup umat Islam

Banyak umat Islam yang kenal agamanya, tetapi sedikit umat Islam mengenal

akan hakikat agama Islam. Sedikit umat Islam yang masuk rumah Allah SWT

(masjid). Sedikit umat Islam berakhlak al-karimah, yaitu baik dari lisan maupun

dari perbuatan. Sedikit umat Islam yang mengamalkan as-Sunnah Rasulullah

SAW dan dianggap hal yang tidak ada manfaatnya atau ketinggalan zaman, usang

tidak layak dipakai. Sedikit umat Islam yang mempelajari agama Islam, kalaupun

ada hanya sebatas mencari pengetahuan (ilmu) saja tidak mencari jalan untuk

mencari ridha Allah SWT. Terlalu banyak umat Islam suka terhadap hal-hal yang

menggembirakan dengan dampak kepada kemaksiatan dan kedhaliman yang

sedikit umat Islam sadar akan bencana yang datang. Oleh karena itu, dengan

penelitian ini diharapkan agar bisa bermanfaat untuk umat Islam menjadi umat

yang berwatak as-sunnah Rasulullah SAW. Menjadikan umat Islam tidak

tertinggal ditelan zaman dan menunjukkan agama Islam adalah agama rahmatan

(24)

8

2. Lingkup pendidikan

Dilihat dari permasalahan umum (global) dalam umat Islam, maka manfaat dari

menelitian ini dalam lingkup pendidikan berupa arah dan tujuan bagaimana

menjadi seorang pendidik berjiwa keislaman dan bagaimana akan menjadikan

peserta didik berkepribadian paripurna (insan kamil). Bermoral Islam (al-akhlaq

al-karimah) melalui ucapan, perbuatan, dan niat atau cita-cita dalam hati.

Mengikuti dan mengambil contoh pada teladan baik (uswatun khasanah) serta

menjadi pribadi berkarismatik yang memberi penghias lingkungan (umat Islam).

3. Lingkup diri sendiri

Pada lingkup diri sendiri ini, merupakan lingkup yang khusus untuk nasihat dan

memperbaiki diri sendiri. Menjadikan diri menjadi muslim yang paham tentang

agama Islam yang bisa dijadikan pedoman hidup. Serta menjadikan diri menjadi

pendidik yang benar-benar pendidik, baik dalam lingkungan lembaga sekolah

maupun dalam lingkungan masyarakat (umat).

1.5Definisi Operasional

(1) Konsep adalah rancangan dasar dari suatu pemikiran dalam memahami suatu

obyek. Maksud konsep pada penelitian ini yaitu langkah-langkah yang

mengarah kepada terciptanya tujuan hidup.

(2) Pendidikan adalah tuntunan kepada pertumbuhan manusia mulai lahir sampai

terciptanya kedewasaan, dalam arti jasmani dan rohani. Maksud pendidikan

pada penelitian ini yaitu suatu gambaran/wawasan yang dapat diterapkan pada

(25)

9

(3) Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan

perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan

pertimbangan. Maksud akhlak pada penelitian ini ialah perilaku/sikap mulia

akan melekat pada diri manusia yang nantinya akan menjadi kesempurnaan

dalam hidup.

(4) Pemikiran merupakan corak manusia dalam menggunakan akalnya dalam

menggambarka obyek. Maksud pemikiran dalam penelitian ini adalah

memahami cara berfikirnya seseorang (tokoh) dalam memahami dan

menggambarkan suatu obyek.

(5) Buya Hamka adalah tokoh Islam kelahiran Sumatera Barat, 17 Februari 1908.

Hamka merupakan sastrawan Indonesia, sekaligus ulama, ahli filsafat, dan aktivis

politik. Ia dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia setelah dikeluarkannya

Keppres No. 113/TK/Tahun 2011 pada tanggal 9 November 2011.

Gambar

Gambar

Referensi

Dokumen terkait

pemikiran Buya Hamka di dalam dunia pendidikan, di masyarakat dapat dilihat.. juga dua institusi pendidikan yang secara tidak langsung memiliki

Yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana konsep pendidikan akhlak bagi peserta didik menurut pemikiran Prof.. Penelitian yang penulis

(2) tawakal kepada Allah dalam keadaan diri yang istiqamah seperti disebutkan di atas dan ditambah dengan tawakal kepada Allah SWT untuk menegakkan, memberantas bid'ah,

Mengingat luasnya permasalahan seperti yang dijelaskan di atas, maka ruang lingkup dalam penelitian ini dibatasi pada pembahasan mengenai pemikiran Syed Muhammad

Namun, yang perlu diperhatikan pada fase ini diberikan kebebasan dan peraturan yang tegas oleh dirinya sendiri (self-disiplin). Jadi pendidikannnya harus bertahap dan

Dengan demikian, mereka mampu berperan dalam setiap bidang kehidupan dengan sebaik- baiknya.Jadi, inti bangunan konsep pemikiran pendidikan Islam menurut Buya Hamka

Pengenalan berarti menemukan tempat yang tepat sesuai dengan apa yang dikenalinya, dan pengakuan berarti tindakan yang bertalian dengan hal itu (amal) yang nampak

Pendidik yang baik, menurut Buya Hamka harus memenuhi syarat sekaligus kewajiban sebagai seorang pendidik, yaitu: a Berlaku adil dan obyektif pada setiap peserta didiknya; b Memelihara