SKRIPSI
Oleh :
Sukino
X.7102035
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2009
Oleh :
S U K I N O
X 7102035
Skripsi
Ditulis Dan Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Mendapatkan Gelar Sarjana Jurusan Ilmu Pendidikan Program Pendidikan
Guru Sekolah Dasar
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Gugus Gajah Mada Kecamatan Laweyan”, telah disetujui untuk dipertahankan dihadapan Tim Penguji
Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Persetujuan Pembimbing,
Pembimbing I Pembimbing II
Gugus Gajah Mada Kecamatan Laweyan” telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi
persyaratn mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.
Pada hari : Kamis
Tanggal : 16 April 2009
Tim Penguji Skripsi
Nama Terang Tanda Tangan
Ketua : Drs. .Kartono, M.Pd ...
Sekretaris : Drs. Hasan Mahfud, M.Pd ...
Anggota I : Drs. Usada, M.Pd ...
Anggota II : Drs. Suwarto WA, M.Pd ...
Disahkan oleh :
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret
Dekan,
GUGUS GAJAH MADA KECAMATAN LAWEYAN
( EKSPERIMEN PADA SEMESTER GENAP TAHUN 2003/2004). Skripsi, Surakarta : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta,2009
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh metode pembelajaran secara eksperimen dengan menggunakan media Kit IPA SEQIP terhadap hasil belajar IPA kelas V Gugus Gajah Mada Kecamatan Laweyan pada Semester Genap Tahun Pelajaran 2003/2004.
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD Segugus Gajah Mada Kecamatan Laweyan kota Surakarta tahun pelajaran 2003/2004. Sampel diambil dengan teknik non random sampling. Adapun sampel yang diambil sejumlah 50 siswa sebagai anggota kelompok metode konvensional dan 60 siswa sebagai anggota kelompok eksperimen media Kit IPA SEQIP. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu teknik tes. Teknik tes yang digunakan yaitu tes prestasi belajar yang diberikan secara terulis dalam bentuk tes pilihan ganda.Teknik analisis data yang digunakan yaitu dengan rumus t-tes.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan : ( 1 ) tidak terdapat perbedaan prestasi pre-test
antara kelompok metode konvensional (K11) dengan kelompok metode eksperimen media Kit IPA
SEQIP (K21) dengan rerata kelompok eksperimen media Kit IPA SEQIP sedikit lebih baik
dibandingkan rerata kelompok metode konvensional, yaitu 5,43 : 5,70.(2) terdapat perbedaan prestasi rerata pre-test dan post-test yang signifikan pada kelompok metode konvensional hal ini ditunjukkan dengan hasil thitung = -1.629 > t tabel = -1.980 atau-1.980<-1.629. (3) terdapat perbedaan prestasi pre-tes
dan post-tes yang signifikan pada kelompok eksperimen media Kit IPA SEQIP hal ini ditunjukkan dengan hasil thitung = -28.737 < ttabel -2.048 atau – 28.373 < - 2.048. (4) terdapat perbedaan prestasi
post-tes yang signifikan antara kelompok metode konvensional (K1) dan kelompok metode eksperimen
media Kit IPA SEQIP (K2) hal ini ditunjukkan dengan hasil t hitung = -4.827 lebih kecil dibandingkan t tabel = -2.048 atau -4.827 < -2.048 .
MADA KECAMATAN LAWEYAN (THE EXPERIMEN ON EXACTLY SEMESTER IN THE YEAR OF 2003/2004). Thesis, Surakarta: Teacher Training and Education Faculty, Sebelas Maret University,2009.
The aim of this research is to find out the influence of experimentaly learning method by using the KIT Natural Science SEQIP media towards the results study of natural science of 5th grade students
of Gugus Gajah Mada Kecamatan Laweyan on exactly semester in the year of 2003/2004.
This research used the experiment method. The population of this research is all the fifth grade students of elementary school in Gugus Gajah Mada Group Kecamatan Laweyan Surakarta in the year 2003/2004. The sample is taken by using non random sampling technique. The sample taken is as much as so students as the member of conventional method group and 60 students as the member KIT Natural Science SEQIP media group. The technique of collecting data used is the test technique. It is the written study achievement test is the multiple choice form. The data analysis technique used is the test is t-test formula
Based on the research outcone, it can be concluded like this, (1) There is no the difference of pre-test achievement between conventional method group (K11) and the group of KIT Natural Science
SEQIP media experiment.(K21). It concluded that the mean of experiment the Group of KIT Natural
Science media experiment, is a little bit better than the mean of convensional method group, that is 5,43 : 5, 70. (2) there is the significant differenece of pre-test and past test achievment in the conventional method group. It can be showed by the result of thitung = -1.629 > ttabel = -1.980 or -1.980 < -1. 629. (3)
There is a significant difference of the group of KIT Natural Science SEQIP media experiment that can be showed by the result of thitung = -28.737 < ttabel = -2.048 or -28.373 < -2.048. (4) there is a significant
difference of post test achievement between conventional method group and the group of KIT Natural Science SEQIP media experiment that can be showed by the result of thitung = -4.827 is less than ttabel =
-2.048 or -4.827<--2.048.
The negative result showed that the mean of natural science study achievement grade for the students whose learning used the conventional method is lower than the students natural science study achievement using the experiment KIT Natural Science SEQIP method.
MOTTO
Orang yang cerdik adalah orang yang rendah hati dan beramal untuk sesudah mati,sedang orang yang lemah adalah orang yang dirinya mengikuti hawa nafsunya, dan ia berangan-angan terhadap Allah.
skripsi ini dapat terselesaikan. Skripsi ini disusun untuk memenuhi persyaratan mendapatkan gelar
Sarjana Pendidikan pada Program Studi PGSD, Jurusan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Dalam penulisan skripsi ini penulis memperoleh bimbingan dan pengarahan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya
kepada :
1. Prof. Dr.HM Furqon Hidayatullah, M.Pd selaku Dekan FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta
yang telah memberi ijin serta kesempatan belajar kepada penulis.
2. Drs.Rusdiana Indianto, M.Pd selaku Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan FKIP Universitas Sebelas
Maret Surakarta.
3. Drs. Kartono, M.Pd selaku Ketua Program PGSD Jurusan Ilmu Pendidikan FKIP Universitas
Sebelas Maret Surakarta.
4. Drs. Usada, M.Pd selaku pembimbing I, yang telah banyak membimbing dan memberikan
pengarahan dalam penulisan skripsi ini.
5. Drs. Suwarto WA, M.Pd selaku pembimbing II, yang telah banyak membimbing dan memberikan
pengarahan dalam penulisan skripsi ini.
6. Kepala Sekolah Dasar di Gugus Gajah Mada Kecamatan laweyan yang telah memberi ijin dalam
pengambilan data untuk penelitian ini.
7. Berbagai pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, yang telah membantu dalam
penulisan skripsi ini.
Atas bantuan yang diberikan semua, semoga Allah berkenan memberikan imbalan yang berlipat
ganda. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan namun penulis mengharapkan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan pembaca.
Surakarta, 29 Januari 2009
HALAMAN PENGAJUAN ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ... iii
HALAMAN PENGESAHAN ... iv
HALAMAN ABSTRAK ... v
HALAMAN ABSTRACT ... vi
HALAMAN MOTTO ... vii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TABEL... xii
DAFTAR GAMBAR... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 3
C. Pembatasan Masalah ... 4
D. Perumusan Masalah ... 4
E. Tujuan Penelitian ... 4
F. Manfaat Penelitian ... 5
BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka ... 6
1. Metode Pembelajaran ... 6
2. Tinjauan Pembelajaran Konvensional (Ceramah)... 12
3. Tinjauan Pembelajaran Eksperimen ... 13
4. Tinjauan Media Pendidikan ... 15
5. Tinjauan Belajar dan Prestasi Belajar ... 23
6. Ilmu Pengetahuan Alam ... 33
B. Metode Penelitian ... 38
C. Populasi,Sampel,dan Sampling ... 42
D. Teknik Pengumpulan Data ... 43
E. Teknik Analisis Data ... 46
BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Data ... 49
1. Prestasi Belajar IPA Kelompok Eksperimen ... 49
2. Prestasi Belajar IPA Kelompok Kontrol ... 50
B. Pengujian Persyaratan Analisis ... 51
1. Hasil Uji Nurmalitas ... 52
2. Hasil Uji Homogenitas ... 53
C. Pengujian Hipotesis ... 54
D. Pembahasan Hasil Analisis Data ... 55
BAB V KESIMPULAN,IMPLIKASI,DAN SARAN A. Kesimpulan ... 56
B. Implikasi ... 56
C. Saran ... 57
Metode Konvensional ( K11 ) ... 49
Tabel 4.3 Distribusi Frekwensi Nilai Pre-test Kelompok Pembelajaran
Metode Eksperimen Media Kit IPA SEQIP ( K21 ) ... 51
Tabel 4.5 Uji Normalitas Data Post-tes Kelompok Tanpa Kit IPA ... 52 Tabel 4.7 Uji Normalitas Pos test Kelompok Metode Eksperimen
Menggunakan Kit IPA SEQIP... 52 Tabel 4.8 Ringkasan Hasil Uji Normalitas Data untuk Kelompok Metode
Konvensional dan Kelompok Metode Eksperimen
nakan Media Kit IPA SEQIP... 53
Tabel 4.10 Ringkasan Hasil Uji Homogenitas Data untuk Kelompok Metode Konvensional dan Kelompok Metode Eksperimen
Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pemikiran... 37 Gambar 3.1 Bagan Prosedur Eksperimen ... 41
Gambar 4.1 Histogram Distribusi Frekuensi Skor Hasil Belajar IPA Kelas V Kelompok diajar menggunakan Kit IPA
SEQIP... 50 Gambar 4.3 Histogram Distribusi Frekuensi Skor Hasil Belajar
IPA Kelas V Kelompok diajar tanpa menggunakan Kit
IPASEQIP... 51
Lampiran 1 Jadwal Kegiatan penelitian ... 63
Lampiran 2 Kisi-kisi penyusunan Soal Tes ... 64
Lampiran 3 Soal Tes Prestasi Belajar ... 69
Lampiran 4 Data Induk Penelitian... 77
Lampiran 5 Uji Z kedua kelompok Sampel ... 78
Lampiran 6 Mean,Median,Varian,Simpangan Baku dan Modus Data Pre- tes Kelompok Metode Konvensional ... 79
Lampiran 7 Mean,Median,Varian,Simpangan Baku dan Modus Data Pre-tes Kelompok Metode Eksperimen Media Kit IPA SEQIP ... 82
Lampiran 8 Mean,Median,Varian,Simpangan Baku dan Modus Data Post-tes Kelompok Metode Konvensional ... 85
Lampiran 9 Mean,Median,Varian,Simpangan Baku dan Modus Data Post-tes Kelompok Metode Eksperimen Media Kit IPA SEQIP ... 88
Lampiran 10 Uji Normalitas Data Pre-tes Kelompok Metode Konvensional ... 91
Lampiran 11 Uji Normalitas Data Pre-tes Kelompok Metode men Media Kit IPA SEQIP... 93
lampiran 12 Uji Normalitas Data Post-tes Kelompok Metode Konvensional ... 95
Lampiran 13 Uji Normalitas Data Post-tes Kelompok Metode Eksperi-men Media Kit IPA SEQIP... 97
lampiran 14 Uji Homogenitas Data Post-tes Kelompok Metode Konvensional ... 99
Lampiran 17 Uji beda Mean (t) Post-test Pestasi Belajar IPA antara Kelompok Metode Konvensional (K1) dengan Kelompok
A. Latar belakang Masalah
Pendidikan merupakan usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Adanya jaminan pendidikan tertuang dalam UUD 1945 pasal 31, ayat (1) Tiaptiap warga negara berhak mendapat
pengajaran. Pendidikan mempunyai peranan yang sangat strategis dalam mengembangkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas agar bangsa kita mempunyai SDM yang ahli, terampil, kreatif, dan
inovatif. Kualifikasi SDM seperti ini sangat diperlukan jika Indonesia ingin menjadi negara yang berhasil dalam menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan
industrialisasi sehingga mampu menghadapi persaingan global. Hal ini bahkan telah menjadi amanat rakyat sebagaimana disebutkan dalam Ketetapan MPR-RI Nomor IV/MPR/1999 tentang
GBHN yang menyebutkan bahwa salah satu visi pembangunan bangsa adalah terwujudnya masyarakat Indonesia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk mewujudkan visi
tersebut dalam GBHN 1999 telah dinyatakan bahwa salah satu arah kebijakan dalam pembangunan pendidikan adalah melakukan pembaharuan dan pemantapan sistem pendidikan nasional berdasarkan
prinsip desentralisasi, otonomi keilmuan dan manajemen.
Jenjang pendidikan di Sekolah Dasar merupakan dasar dari pendidikan selanjutnya. Dalam
pengelolaan pendidikannya hares direncanakan dan dilaksanakan secara teratur, terarah dan terpadu. Pendidikan dapat dikatakan berhasil apabila dapat menimbulkan adanya perubahan tingkah laku yang tercermin dalam nilai, sikap dan pengetahuan. Untuk mencapai keberhasilan pendidikan perlu
adanya kerja sama antara orang tua, sekolah, masyarakat dan pemerintah.
Salah satu faktor yang menentukan kualitas pendidikan adalah diselenggarakannya pembelajaran
yang dirancang secara sistematis sesuai kaidahkaidah pembelajaran yang efektif. Guru harus mampu bertindak sebagai perancang (disainer) sekaligus proses pembelajaran (Roestiyah, 1982: 10).
Sebagai perancang pembelajaran guru perlu menguasai prinsip-prinsip perancangan pembelajaran. Karena pembelajaran adalah merupakan sistem, rancangan pembelajaran seharusnya dilakukan secara
sistematis. Dalam kerangka model pendidikan inilah, pemilihan metode dan pendekatan-pendekatan pembelajaran harus mendapat perhatian secara seksama untuk menciptakan pengelolaan proses
belajar-mengajar yang efektif.
Peningkatan mutu pembelajaran di sekolah dasar telah diupayakan antara lain melalui pendekatan pembelajaran yang lebih berpusat kepada aktivitas siswa. Paradigma pendekatan pembelajaran ini
menekankan pada pemberian kesempatan kepada siswa sebanyak-banyaknya untuk melakukan observasi serta eksplorasi sederhana untuk menemukan sendiri konsep-konsep yang dibahas pada
saat proses pembelajaran berlangsung.
Direktorat Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar Ditjen Dikdasmen Departemen Pendidikan
Nasional melalui Proyek peningkatan Mutu Pembelajaran IPA atau SEQIP (Senior Education Quality
Improvement Project) melakukan pembenahan dengan menitikberatkan pada peningkatan mutu proses dan hasil belajar IPA SD melalui pengembangan profesional guru yang dilengkapi dengan buku IPA guru,
buku percobaan IPA, Kit IPA guru dan Kit IPA murid, pelatihan teknis tentang penggunaan Kit IPA dalam proses pembelajaran serta perawatan dan perbaikan Kit IPA.
Proyek SEQIP mendukung upaya pencapaian tujuan Pendidikan Nasional dan menyumbangkan program peningkatan kualitas sumber daya manusia dengan maksud menghasilkan tenaga kerja yang
lebih bermutu agar dapat memenuhi tujuan pembangunan Indonesia.
Melalui berbagai pelatihan dari pelatihan konsultan, pelatihan PBS, pelatihan guru IPA hingga
pengadaan Kit memerlukan waktu, tenaga dan biaya yang cukup besar. Peralatan Kit IPA SEQIP sebelum diproduksi secara masal dilakukan uji prototype QAT (Quality Acceptance Test). Setelah Kit
diproduksi secara masal dilakukan uji kualitas QAST (Quality Assurance Test) di gudang. Kemudian Kit didistribusikan dan sampai di sekolah dilakukan uji kualitas oleh SD QRT (Quality Receiver Test).
Perangkat alat sangat lengkap dan bagus, Kit Murid terdiri atas 20 paket Kit IPA yang dapat digunakan untuk 45 jenis percobaan murid. Satu paket terdiri dari 10 set alat yang dapat dibagikan
pada 10 kelompok murid, sebanyak 20 paket Kit Murid disimpan dalam almari, akan tetapi tersedianya alat-alat pelajaran di sekolah tidak akan menjamin berlangsungnya pembelajaran yang bermutu dan
peningkatan prestasi belajar kalau alat-alat tersebut tidak digunakan seefektif mungkin oleh guru dan murid pada saat yang tepat.
Masih sering kita jumpai guru mengajar IPA tanpa bantuan alat peraga. Mereka menganggap
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, banyak muncul permasalahan-permasalahan dalam pembelajaran I1mu Pengetahuan Alam. Permasalahan itu dapat diidentifikasikan sebagai berikut
1. Banyak jenis metode pembelajaran yang digunakan untuk sarana penyampaian materi pokok bahasan mata pelajaran di sekolah dasar, akan tetapi tidak semua metode cocok untuk pembelajaran
Ilmu Pengetahuan Alam.
2. Metode eksperimen dengan menggunakan media Kit IPA SEQIP dapat untuk menyampaikan
materi pokok bahasan I1mu Pengetahuan Alam dengan tunjuk buku pada media Kit untuk membantu memecahkan permasalahan tentang IPA, namun media Kit IPA SEQIP ini belum tentu dipilih atau
dimanfaatkan oleh guru dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, sehingga siswa belum berhasil baik.
3. Metode klasikal adalah salah satu di antara banyak jenis metode yang dapat untuk menyalurkan pesan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.
4. Untuk meningkatkan prestasi belajar perlu digunakan metode pembelajaran, antara lain metode
klasikal dan metode eksperimen dengan menggunakan media Kit IPA SEQIP.
C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas, penulis dalam penelitian ini membatasi masalah agar penelitian ini dapat mencapai tujuan dan mempunyai arah yang jelas.
Penelitian ini dibatasi pada masalah penggunaan metode eksperimen dengan menggunakan Kit IPA SEQIP.
Adapun pembatasan masalah dalam penelitian adalah hanya menelaah pengaruh penggunaan Kit IPA SEQIP terhadap basil belajar IPA siswa kelas V semester II SD segugus Gajah Mada tahun
pelajaran 2003/2004.
D. Perumusan Masalah
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode pembelajaran secara eksperimen
dengan menggunakan media Kit IPA SEQIP terhadap hasil belajar IPA Kelas V gugus Gajah Mada Kecamatan Laweyan pada Semester Genap Tahun Pelajaran 2003/2004.
F. Manfaat Penelitian
Ada dua manfaat utama dalam penelitian ini, yaitu manfaat teoretis dan manfaat praktis. Adapun
uraian tentang dua manfaat tersebut sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini dapat memberi berbagai masukan bagi pengembangan teori atau konsep tentang Kit IPA SEQIP. Di samping itu juga masukan teoretis tentang pengaruh penggunaan Kit IPA SEQIP bagi
peningkatan hasil belajar IPA di SD.
2.
Manfaat Praktis Ada beberapa manfaat praktis dari penelitian ini yaitu:
a. Dapat memberikan masukan atau bahkan pedoman dalam penggunaan dpengembangan Kit IPA SEQIP dalam pembelajaran IPA secara operasional
BAB II
LANDASAN TEORIC)
A. Tinjauan Pustaka
Dalam bab ini akan dijelaskan beberapa pengertian tentang pengertian metode pembelajaran, media pendidikan, peranan dan kegunaan media
pendidikan, dasar pertimbangan dan kriteria pemilihan media, media yang diteliti, teori belajar, prestasi belajar.
1.
Metode Pembelaiaran
Metode di dalam pembelajaran memegang peranan yang sangat penting, karena merupakan tata cara dalam menentukan langkah-langkah pembelajaran
untuk mencapai sesuatu tujuan. Dengan menggunakan metode secara tepat dan akurat, guru akan mampu mencapai tujuan dalam pembelajaran. Jadi guru
sebaiknya menggunakan metode mengajar yang dapat menunjang kegiatan belajar-mengajar, sehingga dapat dijadikan sebagai alat yang paling efektif untuk
mencapai tujuan pengajaran (Syaiful Bahri Djamarah dan Asmawan Zain, 1996:109).
Metode mengajar yang biasa digunakan di sekolah, antara lain:: metode ceramah, penugasan, Tanya jawab, diskusi, demonstrasi, bermain peran,
eksperimen, widya wisata, latihan, simulasi, brain storming, kerja kelompok dan lain-lain. Sebagai guru yang profesional harus dapat memilih metode yang
tepat untuk materi pembelajaran khususnya pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dengan ketepatan metode yang diterapkan oleh guru,
diharapkan aktivitas guru dan siswa lebih aktif sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai secara optimal.
a. Pengertian Metode Pembelaiaran
Untuk memahami pengertian tentang metode pembelajaran berikut diketengahkan beberapa pendapat :
mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada siswa di dalam kelas agar
pelajaran tersebut dapat ditangkap, dipahami dan digunakan siswa dengan baik (Roestiyah, 1998 :1).
2) Metode merupakan teknik atau cara yang hares dilalui untuk melakukan suatu pekerjaan dalam rangka mencapai suatu tujuan (Roestiyah, 1998:1).
3) Metode adalah cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dan untuk memberikan kemudahan kepada siswa menuju tercapainya tujuan
tertentu (Saliwangi, 1994:1).
4) Metode adalah suatu cara yang berfungsi membagi alat untuk mencapai tujuan
pengajaran (Mansyur, 1994:39).
Dari pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud
dengan metode adalah: cara yang dianggap efisien yang digunakan oleh guru di dalam menyampaikan materi pembelajaran tertentu kepada siswa agar pembelajaran yang dirumuskan sebelumnya dapat tercapai secara optimal.
Metode yang digunakan untuk memotivasi siswa agar mampu menggunakan pengetahuan untuk memecahkan suatu masalah yang dihadapi ataupun untuk
menjawab suatu pertanyaan akan berbeda dengan metode yang digunakan untuk tujuan agar siswa mampu berpikir dan mengemukakan pendapatnya
sendiri-sendiri dalam menghadapi persoalan.
Untuk tujuan yang berbeda digunakan metode penyajian yang berbeda.
Seorang guru perlu mengenal, mempelajari dan menguasai banyak metode penyajian pembelajaran, agar dapat menggunakan dengan variasinya, sehingga
mampu menimbulkan proses belajar-mengajar yang disenangi oleh siswa sehingga berhasil guna dan berdaya guna.
b. Jenis-ienis Metode Pembelajaran
Jenis Jenis metode pembelajaran dapat diklasifkasikan menurut beberapa pendapat
paling efisien untuk menyampaikan informasi dengan cara guru
bercerita. (b) Tanya jawab, menilai tingkat pemahaman siswa terhadap isi bacaan atau materi yang diberikan. (c) Diskusi kelompok, ssaling
mengemukakan pendapat mengenai suatu hal tertentu untuk menguj i kebenaran pendapatnya. (d) Pemberian tugas, siswa diharapkan ikut serta
secara aktif ~Z dalam suatu proses belajar-mengajar. (e) Studi kasus, teknik menganalisis masalah, menghubungkan masalah dengan
kehidupan sehari-hari. (f) Brain storming (meramu pendapat), teknik meramu pendapat merupakan perpaduan antara teknik tanya jawab dengan
teknik diskusi.(g) Eksperimen, guru mendemonstrasikan secara langsung dan siswa memperhatikannya pada kesempatan berikutnya siswa
mencobanya sendiri. (h) Simulasi, sebagai tiruan dari keadaan yang sesungguhnya. (i) Sosiodrama, suatu cara di mana siswa mendramatisasikan sekaligus memecahkan masalah kehidupan di
masyarakat.
2) Metode pembelajaran dalam Kurikulum Pendidikan Dasar (Depdikbud,
1994: 37 - 47), diklasifikasikan sebagai berikut:
(a) menurut penugasan. suatu cara memberikan Kesempatan kepada siswa
untuk melaksanakan tugas berdasarkan petunjuk yang dipersiapkan guru. (b) metode eksperimen. suatu cara memberikan kepada siswa secara
perseorangan atau kelompok, untuk melatih melakukan suatu proses percobaan secara mandiri. (c) Metode proyek, cara memberikan
kesempatan kepada siswa untuk menghubungkan dan mengembangkan sebanyak mungkin pengetahuan yang telah diperoleh dari berbagai
mata pelajaran. (d) metode diskusi. cara penugasan bahan pelajaran melalui wahana tukar pendapat berdasarkan pengetahuan dan
pengalaman yang diperoleh guna memecahkan suatu masalah untuk mecapai suatu kesepakatan. (e) Metode widyawisata. cara penguasaan
pengembangan imajinasi, daya ekspresi dan penghayatan siswa. (g)
Metode demonstrasi, cara mengajar dengan mempertunjukkan suatu benda atau cara kerja sesuatu. (h) Metode tanya jawab, suatu cara penyajian bahan
pelajaran melalui berbagai bentuk pertanyaan yang dijawab oleh siswa. (i) Metode latihan, metode yang memberikan kesempatan kepada siswa
untuk berlatih melakukan suatu keterampilan tertentu berdasarkan petunjuk guru. (i) Metode ceramah, suatu cara mengajar dengan
penyajian melalui penuturan dan penerangan lisan kepada siswa. (k) Metode pameran, metode pameran digunakan untuk memberikan
kesempatan kepada siswa untuk menyajikan dan menjelaskan apa yang telah dipelajari. (l) Metode cerita, suatu cara penamaan nilai-nilai kepada
siswa dengan mengungkapkan kepribadian tokoh-tokoh melalui penuturan hikayat, legenda, dongeng dan sejarah lokal. (m) Metode simulasi, suatu cara penyajian bahan pelajaran melalui kegiatan praktek
langsung tentang pelaksanaan nilai-nilai penerapan pengetahuan dan keterampilan sehari-hari.
3) Menurut Roestiyah (1982: 89)
Macam-macam metode adalah: (a) Metode diskusi, proses interaksi dua
atau lebih individu saling tukar pengalaman, informasi, memecahkan masalah semua aktif. (b) Metode kerja kelompok, cara mengajar di
mana siswa di dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok. (c) Metode penemuan, proses mental di mana siswa mampu
mengasimilasi sesuatu konsep. (d) Metode simulasi, adalah tingkah laku seseorang untuk berlaku seperti orang yang dimaksud. (e) Metode brain
storming (sumbang saran), adalah suatu teknik atau cara mengajar yang dilakukan guru di dalam kelas, dengan cara melontarkan suatu masalah
kemudian siswa menjawab. (f) Metode esperimen, cara mengajar di mana siswa melakukan percobaan suatu hal, mengamati prosesnya serta
seseorang guru menunjukkan suatu proses siswa melihat, mengamati,
mendengar mungkin meraba dan merasakan proses yang dipertunjukkan oleh guru tersebut. (h) Metode karya wisata, cara mengajar
yang dilakukan dengan cara mengajak siswa ke suatu tempat diluar sekolah untuk mempelajari atau menyelidiki sesuatu. (i) Metode
sosiodrama dan bermain peran, siswa mendramatisasikan tingkah laku atau ungkapan gerakgerik wajah seseorang dalam hubungan sosial
antarmanusia. (j) Metode latihan dan driil, cara mengajar dimana siswa melaksanakan kegiatan latihan, agar memiliki ketangkasan atau
keterampilan yang lebih tinggi dari pada yang telah dipelajari. (k) Metode latihan dan driil, cara megajar di mana siswa melaksanakan kegiatan
latihan, agar memiliki ketangkasan atau keterampilan yang lebih tinggi dari pada yang telah dipelajari. (1) Metode tanya jawab, suatu metode untuk memberi motivasi kepada siswa agar bangkit pemikirannya untuk
bertanya atau guna mengaj ukan pertanyaan, siswa menjawab. (m) Metode ceramah, usaha menularkan pengetahuan kepada siswa secara
lisan.
Demikianlah jenis jenis metode pembelajaran telah dijelaskan di atas,
memang masing-masing metode memiliki kelemahan dan keunggulan tersendiri sehingga pada hakekatnya metode yang paling tepat untuk setiap
mata pelajaran sukar ditentukan. Begitu juga guru, sukar menggunakan metode yang bervariasi, mengkombinasikan dengan metode lain yang
sesuai dan saling menunjang. Namun dapat disimpulkan bahwa setiap metode pengajaran itu dikatakan baik apabila memenuhi kriteria
sebagai berikut: (1)Sesuai dengan tujuan; (2) Dapat dilakukan sesuai dengan kemampuan guru; (3) Tergantung dengan kemampuan siswa; (4)
sesuai dengan besarnya kelompok; (5) Melihat waktu pengumuman; (6) melihat fasilitas yang ada. Metode yang digunakan alam penelitian ini
c. Kualitas Pembelaiaran dan Ciri-ciri Kualitas Pembelajaran
Pembelajaran menyangkut kegiatan belajar (siswa) dan mengajar (guru).
Pembelajaran terkandung pengertian baik buruknya siswa dalam proses belajar dan guru dalam proses membelajarkan siswa. Sedangkan menurut Nana
Sudjana, kualitas pengajaran (pembelajaran) ialah tinggi rendahnya atau efektif tidaknya proses belajar-mengajar dalam mencapai tujuan pengajaran (Nana
Sudjana, 1989: 40). Pengajaran efektif adalah pengajaran yang dapat memenuhi target yang diinginkan, dalam arti tujuan yang dirumuskan sebelum
berlangsungnya proses belajar-mengajar dapat dicapai. Ada tiga unsusr dalam kualitas pembelajaran IPA yang mempengaruhi terhadap hasil belajar siswa, yaitu:
1) Kompetensi guru
Artinya kemampuan dasar yang dimiliki guru, baik di bidang kognitif
(intelektual) seperti penguasaan bahan, bidang perilaku seperti keterampilan memiliki strategi dan pendekatan mengajar serta penerapannya dalam proses
pembelajaran, menilai hasil belajar, dan bidang sikap seperti cinta profesinya.
2) Karakteristik kelas, antara lain:
G. Besarnya kelas, artinya banyak sedikitnya jumlah siswa yang belajar dalam kelas.
H. Suasana belajar, suasana belajar yang demokratis akan memberi peluang mencapai hasil belajar yang optimal.
I. Fasilitas dan sumber belajar yang tersedia, artinya kelas harus menyediakan berbagai sumber belajar seperti buku pelajaran, alat peraga
dan lain-lain. 3) Karakteristik sekolah
Karakteristik sekolah berkaitan dengan disiplin sekolah, perpustakaan sekolah, letak geografis sekolah, lingkungan sekolah, estetika dalam arti
sekolah memberikan rasa nyaman, kepuasan belajar, bersih, rapi dan teratur.
d.
Strategi belajar-mengajar merupakan kegiatan guru untuk memikirkan dan
mengupayakan terjadinya konsistensi antara aspek-aspek dari komponen pembentuk sistem instruksional, dimana untuk itu guru menggunakan caracara
tertentu. Karena sistem instruksional merupakan suatu kegiatan, maka pemikiran dan pengupayaan pengkonsistensian aspek-aspek komponennya tidak hanya
sebelum dilaksanakan tetapi juga pada saat dilaksanakan. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa suatu rancangan tidak selalu tepat pada saat dilakukan. Dengan
demikian, strategi belajar-mengajar memiliki dua dimensi sekaligus, yaitu strategi belajar-mengajar pada dimensi perancangan dan strategi belajar-mengajar pada
Strategi belajar-mengajar pada dimensi perancangan, merupakan pemikiran
dan pengupayaan secara strategis untuk merumuskan, memilih, dan menetapkan aspek-aspek dari komponen pembentuk sistem instruksional sehingga dapat
konsisten antara aspek-aspek tersebut. Strategi belajar-mengajar pada dimensi perancangan, terlihat secara jelas dalam rancangan instruksional atau persiapan
mengajar seorang guru. Kejelasan strategi belajar-mengajar dimensi perancangan, akan banyak membantu penciptaan situasi kegiatan belajar-mengajar
yang efektif.Strategi belajar-mengajar pada dimensi pelaksanaan, merupakan pemikiran dan pengupayaan secara strategi dari seorang guru untuk memodifikasi
dan menyelaraskan aspek-aspek pembentuk sistem instruksional. Pemikiran dan pengupayakan strategi ini hanya dilakukan terhadap aspek-aspek yang mungkin
dimodifikasi atau diselaraskan untuk memperoleh konsistensi antaraspek-aspek komponen pembentuk sistem instruksional. Adapun jenis jenis strategi belajar yaitu:
1) Strategi belajar-mengajar ekspositoris
Strategi belajar-mengajar ekspositori adalah strategi belajar-mengajar
yang menyiasati agar semua aspek dari komponen-komponen sistem instruksional mengarah pada tersampaikannya isi pelajaran (informasi)
kepada siswa secara langsung. Dalam strategi belajar-mengajar ekspositori, siswa tidak perlu mencari dan menemukan sendiri fakta, prinsip, dan
konsep yang dipelajari. Semua fakta, prinsip, dan konsep yang dibutuhkan oleh siswa telah disajikan secara jelas melalui aspek-aspek dari komponen
yang langsung berhubungan dengan para siswa dalam kegiatan belajar-mengajar.
2) Strategi belajar-mengajar heuristik
Strategi belajar-mengajar heuristik adalah strategi belajar-mengajar yang
menyiasati agar aspek-aspek dari komponen-komponen pembentuk sistem instruksional mengarah kepada pengaktifan siswa untuk mencari dan
instruksional, harus mengusahakan sendiri mencari dan menemukan fakta,
prinsip, dan konsep yang mereka butuhkan.
2.
Tinjauan Tentang Pembelajaran Klasikal f. Pengertian Pengajaran Klasikal
Pengajaran klasikal ini berlaku sejak abad ke XIX dengan pelopor Y.H.
Prestalozz (1746-1827: 3). Menurut Ad Rooijakkers, mengemukakan bahwa pengajaran secara klasikal maksudnya adalah pengajar memberi penjelasan
secara klasikal artinya pengajar memberi penjelasan kepada sejumlah murid secara lisan.
g. Ciri -ciri Pengajaran Klasikal
Adapun ciri-ciri pengajaran klasikal menurut Roestiyah N.K. (1982;36, adalah :
viii. Seorang guru menghadapi kelas yang terdiri dari sejumlah siswa. ix. Siswa-siswa tersebut sebaya dalam umumya.
x. Pada waktu yang sama guru memberikan pelajaran yang sama kepada siswa tersebut serta mengerjakan secara bersama-sama.
xi. Pada awal tahun pelajaran siswa melalui program pengajaran bersama
sama pada akhir tahun pelajaran sebagian besar naik kelas secara bersama-sama.
Dasar dari pengajaran klasikal adalah karena kelas terdiri dari anakanak yang sebaya, padahal anak-anak yang sebaya itu relatif memiliki perhatian, minat,
pengalaman dan taraf kepandaian yang sama pula, maka kepada mereka dapat diberikan program pengajaran yang sama. Memang diakui adanya perseorangan
di antara siswa-siswa dalam satu kelas, namun perbedaan perseorangan itu dianggap tidak penting sehingga dapat diabaikan. Sistem pengajaran klasikal
lebih menitikberatkan persamaan dari pada perbedaan individu dalam kelas. Pengajaran klasikal merupakan konsekuensi pelaksanaan demokratisasi
Namun pengajaran klasikal itu mempunyai banyak kelemahan antara
lain:
1) Pengajaran kalsikal mengabaikan perbedaan individual, beberapa siswa dalam
suatu kelas dapat belajar dengan cepat dari teman-temannya. Di antara siswa tersebut terdapat perbedaan ability, kebutuhan, minat dan pengalaman
yang berdasar dai lingkungan sosial masing-masing.
2) Dalam pengajaran klasikal potensi-potensi dalam diri siswa tidak
dikembangakan secara optimal.
3) Pengajaran kalsikal siswa cenderung pasif dan reseptif, sedangkan guru bersifat
dominan, siswa sangat tergantung, kurang inisiatif dan tidak dilatih berdiri sendiri.
l. Hal-hal yang diperhatikan dalam Pengaiaran Klasikal
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam Pengajaran Klasikal memiliki daya
guna seperti yang diharapkan, menurut Ad Rooijakkers adalah : xiii. Persiapan jam pelajaran
Persiapan yang baik merupakan jaminan hasil dalam pelaksanaan. Oleh sebab itu setiap mengajar hendaknya mempersiapkan pelajarannya secara baik dan
sungguh-sungguh. xiv. Pelaksanaan.
Selama mengajar hendaknya seorang guru mengamati apakah penjelasannya cukup baik atau tidak, apakah masalah yang diterangkan dapat dimengerti oleh
murid atau belum. Penjelasan yang kurang jelas mengakibatkan negatif bagi murid yang berakibat murid tidak bergairah lagi untuk memperhatikan pelajaran.
xv. Umpan balik (feedback).
Seorang guru perlu mengetahui sejauh mana bahan yang dijelaskan dapat
dimengerti oleh mereka, karena di sinilah tergantung apakah dia dapat melanjutkan bahan pelajaran berikutnya.
3.
Menurut Saliwangi (1994: 61) mengatakan bahwa metode eksperimen
adalah metode yang digunakan untuk mengajarkan suatu topik tertentu, guru mendemonstrasikan secara langsung dan siswa memperhatikannya. Pada
kesempatan berikutnya siswa mencobanya sendiri.
Menurut Roestiyah (1998: 80) mengatakan bahwa metode eksperimen
adalah salah satu cara mengajarkan topik tertentu, di mana siswa melakukan percobaan, mengamati serta menuliskan percobaan untuk disampaikan di kelas
dan guru mengevaluasi.
b. Tujuan Penggunaan Metode Eksperimen
1) Agar siswa mampu mencari dan menemukan sendiri berbagai jawaban
atas persoalan-persoalan yang diharapkan dengan mengadakan percobaan
sendiri.
2) Siswa dapat berlatih dalam cara berfikir ilmiah.
3) Siswa menemukan bukti kebenaran dari sesuatu yang sedang dipelajari.
c. Keunggulan Metode Eksperimen
Teknik esperimen kerap kali digunakan karena memiliki keunggulan
sebagai berikut :
1) Dengan eksperimen siswa telah terlatih menggunakan metode ilmiah dalam
menghadapi segala masalah, sehingga tidak mudah percaya pada sesuatu yang belum pasti kebenarannya dan tidak mudah percaya pada kata orang sebelum
bisa membuktikan kebenarannya.
2) Mereka lebih aktif berfikir dan berbuat, hal itu sangat dikehendaki dalam
kegiatan belajar-mengajar yang modem, di mana siswa lebih banyak aktif belajar sendiri dengan bimbingan guru.
3) Siswa dalam melaksanakan ekperimen di samping memperoleh ilmu pengetahuan juga menemukan pengalaman praktis serta keterampilan
dalam menggunakan alat-alat percobaan.
5) Dengan eksperimen membuktikaan kebenaran suatu teori, sehingga akan
mengubah sikap mereka yang tahayul yaitu peristiwa-peristiwa yang tidak masuk akal (Roestiyah, 1998 : 82 - 83).
d. Kekurangan Metode Eksperimen Kekurangan metode eksperimen adalah
1) Memerlukan alat percobaan yang komplit.
2) Dapat mengubah laju pembelajaran dalam penelitian yang memerlukan waktu
cukup lama.
3) Menimbulkan kesulitan bagi guru dan siswa apabila kurang pengalaman
dalam penelitian.
4) Kegagalan dan kesalahan dalam eksperimen akan berakibat kesalahan
menyimpulkan (Sumantri, 2000: 159).
4.
Tinjauan Tentang Media Pendidikan a. Pengertian Media Pendidikan
Untuk memahami tentang media pendidikan, berikut ini diketengahkan beberapa pendapat ahli:
1) Menurut Gagne dalam Arief S. Sadiman et al (1990:6), berpendapat
bahwa:"Media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk dapat belajar. Menurut penulis sebagai jenis
komponen itu dapat berupa perangkat keras (hard ware) ataupun perangkat lunak (soft ware). Perangkat keras itu antara lain adalah kebun sekolah,
kolam, batuan, air, halaman sekolah dan lain-lain. Sedangkan perangkat lunak antara lain program pengajaran, program kaset radio pendidikan, dan
semua program demi terlaksananya semua proses belajar-mengajar. Kesemuanya ditempuh demi merangsang siswa agar dapat belajar lebih efektif
dan efisien.
2) Briggs (1970:6) juga menyatakan pendapat bahwa media adalah segala bentuk
berbagai alat fisik adalah semua benda yang dapat dilihat dan diraba. Wujud
itu, dapat berupa benda yang dirancang penggunaan (by design) atau benda yang tidak dirancang penggunaannya, contoh: globe, peta, torso, dan lain-lain.
Benda yang tidak dirancang penggunaannya, contoh:halaman sekolah, kebun sekolah, kapur, kursi dan lain-lain.
3) Media endidik adalah orang, benda atau kejadian yang menciptakan suasana yang memungkinkan seseorang untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan
dan sikap tertentu (Lilian D.Tedja Sudhana, 1990:218).
Menurut penulis lebih cenderung definisi yang tiga, karena lebih luas
cakupannya yang meliputi orang, berarti boleh siswa, guru atau masyarakat. Benda dapat berupa perangkat keras ataupun perangkat lunak. Sedangkan kata
kejadian adalah semua peristiwa yang dialami siswa baik di dalam sekolah atau di luar sekolah.
Dari beberapa definisi di atas dapat ditarik kesimpulan, ada beberapa
persamaan pengertian, di antaranya media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan informasi dari pengirim kepada penerima
sehingga dapat merangsang adanya proses belajar untuk mendapatkan pengetahuan keterampilan, dan sikap tertentu. Pesan pengajaran yang
disampaikan dengan media pendidikan dapat merangsang dan membangkitkan minat belajar lebih luas dan kaya, sehingga persepsi lebih tajam dan pengertiannya
lebih cepat.
b. Peranan dan Kegunaan Media Pendidikan dalam Proses Belajar-Mengajar
1) Peranan Media Pendidikan Dalam Proses Belajar-mengajar
Proses belajar-mengajar pada hakekatnya adalah proses komunikasi, yaitu
proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran atau media tertentu ke penerima pesan. Pesan, sumber pesan, media dan penerima pesan adalah
komponen proses komunikasi.
kurikulum. Sumber pesannya berasal dari guru atau penulis buku prosedur
media. Salurannya adalah media pendidikan dan pemerimanya adalah siswa atau mungkin juga guru. Bahan pelajaran yang akan disampaikan guru
dalam bentuk simbul verbal maupun non verbal atau simbul visual.
Proses penuangan pesan ke dalam simbul disebut encoding. Penerima
pesan menafsirkan simbul-simbul komunikasi sehingga memperoleh pesan. Proses penafsiran simbul komunikasi ini disebut decoding.
Ada kalanya penafsiran simbul-simbul tersebut mengalami gangguan. Gangguan dapat datang dari diri anak bersifat psikologis dan fisis. Hambatan
psikologis misalnya: hubungan antarsiswa yang kurang baik, siswa takut pada guru. Hambatan fisis misalnya: cacat tubuh, keterbatasan daya indra, lelah, sakit.
Media pendidikan sebagai salah satu sumber belajar dapat menyalurkan pesan yang berbeda, membantu mengatasi hambatan. Perbedaan gaya belajar, minat, intelegensi, keterbatasan daya indra, hambatan jarak geografis dapat
diatasi dengan pemanfaatan media pendidikan.
Untuk mengefektifkan proses belajar siswa dan mewujudkan tujuan
instruksional, maka para pembelajar di dalam strateginya menggunakan berbagai media yang tepat , di mana di dalam penggunaannya diintegrasikan dan
dikonsistensikan dengan tujuan, isi, metode karakteristik siswa dan komponen instruksional lainnya.
Dengan demikian media merupakan teknologi pembawa pesan atau informasi yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran yang berupa
sarana fisik untuk menyampaikan materi pengajaran.
Jadi media sebagai komponen sistem komunikasi instruksional dapat
membantu menyajikan pesan bersama guru. Siswa berinteraksi lewat media yang mereka hadapi. Media juga berfungsi sebagai komponen sistem komunikasi
instruksional dapat membantu menyajikan pesan bersama guru. Sedangkan siswa berinteraksi lewat media yang mereka hadapi.
2) Kegunaan Media Pendidikan Dalam Proses Belajar-Mengajar
cara tertentu, sehingga menunjang diperolehnya perubahan tingkah laku siswa,
sesuai dengan yang dirumuskan dalam tujuan. Dengan demikian, sarana direncanakan sedemikian rupa sehingga perubahan tingkah laku siswa yang
dikehendaki dalam rumusan tujuan instruksional dapat tercapai secara optimal. Berdasarkan pada uraian di atas maka sarana pendidikan secara umum
mempunyai kegunaan untuk mengatasi hambatan dalam komunikasi, keterbatasan fisik dalam kelas, sikap positif anak didik serta mempersamakan pengamatan
anak.
Jadi dapatlah dipaparkan bahwa media pendidikan mempunyai kegunaan
dalam proses belajar-mengajar sebagai berikut :
a) Memperjelas penyajian pesan agar tidak verbalistis.
b) Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indra, seperti misalnya: (1) Objek yang terlalu besar dapat diganti dengan model, gambar,
realitas.
(2) Objek yang kecil dibantu dengan proyektor mikro, film atau gambar.
(3) Gerak yang terlalu lambat atau terlalu cepat dapat dibantu dengan time lapse atau high speed photograpy.
(4) Kejadian masa lalu dapat ditampilkan lewat film, rekaman, video. (5) Objek yang terlalu kompleks dapat disajikan dengan model,
diagram.
(6) Komplek yang terlalu luas, dapat difisualisasikan dalam bentuk
gambar, film.
c) Mengatasi sikap pasif peserta didik, yaitu:
(1) Menimbulkan Kegairahan Belajar
Melalui media pendidikan siswa memperoleh pengalaman belajar luas dan
banyak sehingga tanggapan akan lebih tajam dan pengertian lebih tepat, dengan demikian akan menimbulkan keinginan-keinginan serta minat
belajar baru.
Dengan menggunakan media pendidikan akan terjadi interaksi langsung
dengan lingkungannya. Dalam pengajaran dengan pendekatan berorientasi pada guru, siswa menerima pengertian lewat mendengarkan ceramah atau
membaca buku sehingga tidak ada kontak langsung secara sosial dan alam sekitarnya. Tetapi dalam pengajaran dengan berorientasi pada siswa materi
disampaikan dengan memakai media. Siswa dibawa ke dalam kontak langsung dengan keadaan yang sesungguhnya atau berinteraksi dengan
media yang dihadapi misalnya percobaan, karya wisata, diagram, torso, globe.
(3) Siswa Belajar Mandiri Menurut Kemampuan dan Minatnya
Misalnya pengajaran dengan modul. Dengan pengajaran modul siswa akan
mendapat kesempatan banyak belajar mandiri. Siswa mengerjakan tugas mengecek penyelesaiannya benar atau salah. Karena setiap siswa dalam batas tertentu dapat maju sesuai dengan irama, kecepatan dan kemampuan
masing-masing. Dengan kata sistem modul mengutamakan terkuasainya bahan pelajaran sekalipun dalam waktu yang berbeda-beda.
d) Dengan memperhatikan kekhususan sifat, lingkungan ataupun pengalaman siswa yang berbeda-beda sedangkan kurikulum dan materi pelajaran
ditentukan sama untuk semua siswa, maka guru akan mengalami kesukaran jika semuanya itu dikerakan sendiri. Masalah tersebut dapat diatasi dengan
media pendidikan yaitu yang berfungsi untuk: (1) Memberi perangsang yang sama
(2) Mempersamakan pengalaman
(3) Menimbulkan persepsi yang sama (Arief S. Sadiman, 1990:7).
c. Media Kit IPA SEQIP 1) Pengertian
Kit IPA yang keluar sebelumnya Kit ini juga berupa kotak peralatan IPA.
Ilmu Pengetahuan Alam) adalah proyek bilateral Indonesia-Jerman yang
bermaksud meningkatkan mutu pengajaran IPA di Sekolah Dasar dengan menekankan penggunaan strategi dan metode-metode pembelajaran interaktif
dengan berbagai sumber belajar (Tim SEQIP, 2002:9). 2) Sistem Peralatan Pembelajaran IPA SEQIP
Sistem pembelajaran IPA SEQIP dirancang untuk Sekolah Dasar dan terdiri dari tiga bagian, yaitu :
a) Kit murid (KM) untuk percobaan yang dilakukan oleh siswa sendiri dalam kelompok-kelompok kecil.
Adapun macam-macam alat Kit IPA SEQIP untuk kelas V adalah:
(1) Kit mineral untuk pembelaj aran pokok bahasan sumber daya alam.
(2) Kit batu bara dan minyak untuk pembelajaran pokok bahasan sumber daya alam.
(3) Kit neraca untuk pembelajaran pokok bahasan gaya.
(4) Kit optik untuk pembelajaran pokok bahasan cahaya dan penglihatan.
(5) Kit pesawat sederhana untuk pembelajaran pokok bahasan Pesawat sederhana.
(6) Kit panas ntuk pembelajaran pokok bahasan panas. (7) Kartu energi untuk pokok bahasan energi.
(8) Kartu sistem pencernaan untuk pembelajaran pokok bahasan makanan pencernaan.
(9) Kartu binatang untuk pembelajaran pokok bahasan makhluk hidup.
b) Kit Guru (KG) untuk program dan percobaan yang dilakukan oleh guru dan siswa. Kit guru terdiri dari dua bagian sisip atas dan sisip bawah.
Adapun macam-macam kit guru dan kegunaannya adalah sebagai berikut:
Sisip atas
(1) Lensa - Cahaya dan penglihatan
(2) Lampu senter - Cahaya dan penglihatan
(3) Pipa tembaga - Panas
(4) Termometer - Panas
(5) Neraca - Gaya
(6) Bola logam - Gaya
(7) Penggulung asap - Udara, panas
(8) Kukus kayu - Gaya
(9) Penggaris dengan pemegang - Listrik, magnet
(10) Bola lampu - Listrik
(11) Sakelar tertutup - Listrik
(12) Baterai dan pemegang - Listrik
(13) Kumparan - Magnet, listrik
(14) Penjepit rambut - Udara
(15) Paku - Magnet
(16) Sakelar terbuka - Magnet dan listrik
(17) Pasak - (umum)
(18) Tali - Gaya
(19) Meter gaya - Gaya
(20) Kabel - Listrik
(21) Pemanjangan - (Umum)
(22) Katrol - Pesawat sederhana
(23) Multimeter - Listrik
(24) Cermin - Cahaya dan penglihatan
(25) Bel listrik - listrik
Sisip bawah
(1) Keran - Air
(2) Bejana air - Air
(4) Indikator permukaan - Air
(5) Bak cuci - Air
(6) Bejana transparan - Air, udara
(7) Pompa - Air
(8) Balon - Udara
(9) Gelas kimia - Udara, air, panas
(10) Penampung air - Air
(11) Pemegang pipa - Panas
(12) Pemegang erlenmeyer - Panas
(13) Pembakar spirtus - Panas
(14) Pendingin - Panas
(15) Selang - Air
(16) Sumbat karet - Panas, udara (17) Gelas Erlenmeyer - Panas, udara
(18) Skala - Panas
(19) Bejana bercerat - Air
(20) Boneka - Air
(21) Sepasang cerobong - Udara, panas
(22) Lilin - Panas
(23) Roda - Air
(24) Pompa hisap - Air
(25) Penyambung selang - Air
c) Percobaan-percobaan yang dirakit sendiri dengan panduan buku percobaan
IPA menggunakan bahan yang ditemukan di lingkungan tempat tinggal siswa. Bahan-bahan tersebut misalnya: sendok atau garpu untuk menjelaskan tentang
perpindahan panas konduksi, cara menggunakannya yaitu sendok yang dipegang dipanaskan di atas lilin yang dinyalakan, manfaatkannya adalah
penghantar panas.
Sistem peralatan adalah satu di antara enam komponen SEQIP untuk meningkatkan mutu pembelajaran IPA. Keenam komponen tersebut, yaitu
sistem pelatihan, bantuan profesional bagi guru, sistem peralatan, pemeliharaan dan perbaikan, pengembangan bahan tertulis, dan sistem
monitoring dan evaluasi, diimplementasikan secara simultan untuk mencapai perbaikan yang berarti pada proses dan hasil pembelajaran siswa.
Sistem peralatan pembelajaran dikembangkan SEQIP berdasarkan kurikulum 1994 selama dua setengah tahun yakni pada fase percobaan proyek
(April 1994 - September 1996). Saat ini sudah disesuaikan dengan kurikulum 1994 yang disempurnakan tahun 1999. Peralatan dikembangkan SEQIP ini
membutuhkan laboratorium dan semua percobaan dapat dilakukan di dalam kelas atau lingkungan sekolah. Percobaan yang tercakup dalam dua komponen utama, Kit Murid dan Kit Guru, adalah pilihan dari banyak
kemungkinan yang ditawarkan kurikulum. Proses pemilihan dan pengembangan sistem peralatan diarahkan oleh satu kelompok kerja lintas
disiplin (Kelompok Kerja Peralatan) yang berasal dari semua lembaga terkait. Peralatan dan percobaan dikembangkan berdasarkan proses
pembelajaran tertentu. Ini berarti bahwa proses pembelajaranlah yang menentukan sarana pembelajaran dan bukan sebaliknya. Percobaan pada
umumnya tidak didominasi proses belajar-mengajar dan diselesaikan hanya dalam waktu 15 sampai 20 menit. Peralatan dirancang untuk mempermudah
proses pembelajaran yang aktif dan menyenangkan. Pembelajaran ini sesuai dengan KBM yang berlangsung selama 40 atau 80 menit. Pembelajaran
disusun menurut tujuan-tujuan tertentu. Percobaan-percobaan dalam KBM dapat dimasukkan dengan cara-cara yang berbeda, misalnya:
E. Suatu percobaan dapat menggunakan Kit Murid, Kit Guru ataupun alat dari lingkungan yang cocok dengan pembelajaran tersebut.
Agar dapat menggunakan sistem peralatan ini secara optimal, guru harus
dilatih. Di samping itu komponen-komponen proyek lainnya harus diimplementasikan secara simultan.
3) Orientasi Pengembangan Kit
Pengembangan peralatan Kit berorientasi pada sejumlah kriteria, yaitu:
a) Hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan murid sehari-hari. b) Resiko bahaya/cidera kecil.
c) Cara penanggulangannya mudah (cocok untuk ukuran anak). d) aminan tidak akan pecah/rusak bila penanganannya salah.
e) Penyimpanan alat tidak membutuhkan tempat yang besar. f) Corak, bentuk warna yang estetis dan menarik.
g) Harga ekonomis.
h) Dapat dibuat di Indonesia saat ini maupun yang akan datang.
5. Tinjauan Tentang Belajar dan Prestasi Belajar a. Belajar
Belajar adalah "Penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau
angka yang diberikan oleh guru". (Kamus Umum Bahasa Indonesia, edisi II, 1986: 747).
Menurut Herman Hudoyo (1988:2), belajar adalah suatu proses kegiatan dalam diri seseorang yang mengakibatkan adanya suatu perubahan tingkah laku.
Jadi teori ini mengarah pada teori belajar behaviorisme yang mana titik beratnya pada tingkah laku manusia. Perubahan tingkah laku akibat stimulus dan
respon. Atau dengan kata lain perubahan yang dialami siswa dalam kemampuan afektif, kognitif maupun psikomotorik. Sedangkan tingkah laku manusia dapat
berujud konkrit dan dapat abstrak.
Menurut W. S . Winkell (1991:36), belajar adalah suatu proses aktivitas
sikap.
Menurut M. Dimyati Mahmud, (1990:14), belajar adalah perubahan dari dalam diri seseorang yang terjadi karena pengalaman. Ada pepatah yang mengatakan
"pengalaman adalah guru yang terbaik" kemungkinan selaras dengan pengertian di atas. Dengan demikian belajar yang paling efektif dan berkualitas adalah
belajar melalui pengalaman. Dalam proses belajar seseorang berinteraksi langsung dengan objek, menggunakan semua alat inderanya.
Dari definisi-definisi tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa ada beberapa unsur yang termasuk ciri-ciri adanya proses belajar yaitu:
1) Usaha untuk memperoleh sejumlah pengetahuan, nilai dan sikap. 2) Belajar menghasilkan adanya perubahan tingkah laku.
3) Belajar yang efektif adalah melalui pengalaman.
4) Fenomena tingkah laku adalah hasil interaksi aktif dengan lingkungannya.
Siswa yang belajar dipandang sebagi organisme yang hidup dan sebagai keseluruhan yang bulat. la selalu aktif dan senantiasa mengadakan interaksi
dengan lingkungannya , menerima, menolak, mencari sendiri dan juga mengubah terhadap lingkungannya.
b. Teori Belajar
Masalah teori belajar telah banyak diselidiki dan dibahas oleh para ahli, maka di sini akan penulis kemukakan tentang beberapa teori belajar tersebut.
1) Connectionisme
Tokoh teori ini adalah Edward Lee Thorndike. Dasar teori belajar ini
adalah asosiasi antara kesan panca indera dengan impuls untuk bertindak atau stimulus (S) - Respon (R). Hubungan antara S dan R ini disebut "bond" atau
"connection". Sehingga disebut teori connectionisme atau bond psikologi (Siti Partini Suardiman, 1998: 63).
selecting and connecting". Belajar menurut teori ini adalah dengan cara
mencoba-coba. Atas dasar percobaan ini Thorndike mengemukakan tiga macam hukum primer atau hukum belajar pokok adalah:
2) The law of readiness / Hukum Kesiapan Menurut hukum ini:
a) Kalau suatu unit tingkah laku sudah siap dilakukan, maka akan membawa kepuasan.
b) Kalau sudah siap, tetapi tidak dilakukan akan menimbulkan ketidakpuasan.
c) Kalau tidak siap dilakukan dipaksa untuk dilakukan, maka akan menimbulkan ketidakpuasan. Sehingga menimbulkan tindakan-tindakan
lain untuk mencurangi atau mengadakan ketidakpuasan itu yang bersifat mengganggu.
3) The law of exercise / Hukum Latihan Hukum ini mempunyai dua aspek:
a) The law of use / Hukum Menggunakan
Hubungan akan bertambah kuat kalau ada latihan-latihan.
b) The law of disuse / Hukum Tak Menggunakan
Hubungan-hubungan akan menjadi lemah atau terlupa apabila latihan
atau penggunaannya dihentikan. 4) The law of effect / Hukum Effek
Menurut hukum ini, bila hubungan itu memuaskan kekuatan hubungan bertambah, sebaliknya, apabila hubungan itu tidak memuskan, kekuatan
hubungan berkurang.
Dari hukum-hukum tersebut di atas maka dapat dilihat bahwa dalam
belajar itu sangat dipentingkan adanya latihan yang terus-menerus sehingga apa yang dipelaj ari akan tahu betul-betul.
5) Teori Classical Conditioning
Menurut teori ini belajar adalah pembentukan kebiasaan-kebiasaan
1998: 69). Penemu teori ini adalah Ivan Petrovitch Pavlov sehingga teori ini
juga disebut Pavlovisme. Menurut teori ini usaha-usaha dapat ditumbuhkan atau dapat dibangkitkan dengan cara memberikan stimulus atau rangsang baik
yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan.
Faktor pengalaman merupakan bagian terpenting dalam proses
belajar-mengajar. Setiap teori berbeda pendapat tentang cara-cara memperoleh suatu pengalaman, antara lain
1) Hubungan Antara Pengalaman dan Belajar
Menurut Winarno Surakhmad (1975: 78), bahwa ada tingkatan
pengalaman belajar yaitu
a) Pengalaman Melalui Benda Sebenarnya
Pengalaman diperoleh dengan jalan mengalami secara langsung dalam kondisi sesungguhnya.
b) Pengalaman Melalui Benda Pengganti
Pengalaman diperoleh dengan mengamai benda-benda pengganti merupakan pengalaman "bantuan" atau pengalaman tak langsung
terhadap kenyataan sebenarnya.
c) Pengalaman Melalui Bahasa:tulisan maupun lisan
2) Belajar dari Persepsi ke Tingkat Konsepsi
a) Belajar dari tingkat paling dasar disebut perceptual learning, anak
belajar dengan pengamatan melalui penginderaan:mata, telinga, perasa, pembau (Oemar Hamalik, 1989:33).
Pada tingkatan ini perlu diberi pelayanan terhadap anak-anak yang bertipe sebagai berikut :
(1) Tipe visual, anak mudah mendapatkan pengalaman banyak melalui jendela penginderaan mata, apa yang diamati mudah dikuasai.
(2) Tipe auditif, anak belajar dengan mudah melalui indra penginderaan, pesan, instruksi, disajikan melalui bahasa audio atau
bahasa lisan.
melalui gerak. Penyajian pesan instruksional dituangkan dalam
bahasa nonverbal.
(4) Tipe akustik, anak mendapatkan pengalaman melalui indra
pembau. Supaya anak yang bertipe akustik mendapatkan pelayanan pengajaran dengan menunjukkan specimen benda yang
mengandung pesan bau-bauan. Ini akan lebih bermakna daripada disajikan secara verbal semata.
(5) Tipe taktik, anak mudah mendapatkan pengalaman belajar lewat indera perabaan.
Penyampaian pesan instruksional dibantu dengan menunjukkan model sehingga di samping anak-anak mengamati secara visual juga meraba,
menyentuh, memegang media-media yang disajikan oleh guru.
Pada kenyataan di lapangan adalah berbagai macam tipe anak, maka untuk melayani yang berbagai macam tipe tersebut, guru hares
menggunakan metode mengajar yang bervariasi dan media yang sesuai. b) Semakin bertambah usia, tingkat belajar semakin tinggi.
Anak mudah belajar dengan pengertian. Maka pada tingkatan ini disebut conceptual learning (Oemar Hamalik, 1989:33). Pada tingkatan ini
penggunaan media semata-mata sebagai alat bantu agar memudahkan anak mendapatkan pengertian tentang sesuatu.
3) Prosedur Belajar dari Tingkat Kongkrit ke Tingkat Abstrak Prosedur ini terdiri empat tingkat, yaitu
a) Prosedur belajar langsung melalui masyarakat, untuk ini diperlukan metode karya wisata, nara sumber, pengabdian sosial,
survei dan lain sebagainya.
b) Belajar langsung melalui kegiatan ekspresi, misalnya:
menggambar, menari dan olah raga.
c) Belajar tidak langsung melalui media audio visual,
misalnya: model, televisi, radio.
ceramah, diskusi buku dan lain-lain (Oemar hamalik, 1989:34).
Berdasarkan teori-teori di atas ditarik kesimpulan bahwa terdapat kesamaan-kesamaan untuk memperoleh pengalaman yaitu melalui benda
aslinya, benda pengganti dan lambang bahasa.
Dari teori-teori tersebut di atas memberi wawasan kepada guru bahwa
jika menyampaikan materi kepada siswa hendaknya menggunakan media yang sesungguhnya. Apabila hal tersebut tidak dapat dilaksanakan
karena alasan biaya, untuk mengadakan sarana tersebut, atau tidak dapat menghadirkan media maka dapat disediakan media pengganti,
yaitu menyediakan foto, gambar, sketsa atau apa saja yang dapat menginformasikan terhadap suatu pelajaran. Sehingga jangan sampai siswa
mendapatkan informasi yang verbalistis.
c. Aktivitas Belaiar
Dalam belajar seseorang telah mempunyai tujuan tertentu dan telah
memiliki cara yang tepat untuk mencapai tujuan itu. Tetapi tindakan-tindakan untuk mencapai tujuan sangat dipengaruhi beberapa situasi. Berikut ini
dikemukakan beberapa aktivitas belajar dalam berbagai situasi 1) Mendengarkan
Dalam pergaulan terjadi komunikasi verbal berupa percakapan.
Mendengarkan disebut aktivitas belajar jika ada kebutuhan, motivasi dan set dari individu yang mendengarkan.
2) Memandang atau aktivitas sosial
Memandang disebut belajar jika aktivitas tersebut mengandung set-set
tertentu untuk mencapai tujuan yang mengakibatkan perkembangan. 3) Meraba, membau, mengecap
Aktivitas tersebut disebut belajar jika didorong motivasi untuk memahami dan memanfaatkan informasi bagi perkembangan pribadi kita.
4) Menulis dan mencatat
dan memanfaatkan informasi bagi perkembangan pribadi kita.
5) Membaca
Materi belajar disesuaikan dengan set belajar. Membaca teknis dan
mendetail perlu membaca lambat. Materi bacaan popular dan impresif (mengesan) perlu kecepatan membaca tinggi sehingga membantu menyerap
bacaan secara komprehensip.
6) Membuat ikhtisar dan menggaris bawahi
Hal ini membantu menemukan kembali materi-materi itu di kemudian hari.
7) Mengamati tabel, diagram, bagan
Aktivitas tersebut membantu pemahaman tentang sesuatu.
8) Menyusun paper atau kertas kerja
Paper yang baik perlu menyediakan sumber yang relevan untuk menyusun ide-ide.
9) Mengingat
Mengingat dikatakan aktivitas belajar jika didasari tujuan belajar lainnya.
10) Berfikir
Menghubungkan antara tanggapan yang satu dengan yang lainnya,
sehingga memperoleh rumusan bare dan mengerti tentang sesuatu. 11) Latihan dan praktek
Dalam kegiatan praktek segenap tindakan terjadi secara integrative dan terarah pada tujuan. Hasilnya berupa pengalaman yang mampu mengubah diri
subyek dengan lingkungannya (Wasty Soemanto, 1990:107).
d. Prinsip-prinsip belajar
Prinsip-prinsip belajar menurut pendapat Abu Ahmadi dalam bukunya
"Tehnik Belajar Yang Tepat" yang telah dikutip oleh Dewa Ketut Sukardi (1983 : 27) mengatakan sebagai berikut
2) Belajar memerlukan bimbingan. Baik bimbingan dari guru atau buku
pelajaran itu sendiri.
3) Belajar memerlukan pemahaman atas hal-hal yang dipelajari sehingga
diperoleh pengertian-pengertian.
4) Belajar memerlukan latihan dan ulangan agar apa-apa yang telah dipelajari
dapat dikuasainya.
5) Belajar adalah suatu proses aktif di mana terjadi saling pengaruh secara
dinamis antara murid dengan lingkungannya.
6) Belajar harus disertai keinginan dan kemauan yang kuat untuk mencapai
tujuan.
7) Belajar dianggap berhasil apabila telah sungguh menterapkan ke dalam
bidang praktek se hari-hari.
Orang yang telah melakukan kegiatan belajar, akan terdapat peningkatan yang lebih baik. Karena dengan belajar, yang tadinya belum tahu setelah belajar
menjadi tahu yang selanjutnya berusaha untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari yang disesuaikan dengan tingkat kemampuannya. Peningkatan
kehidupan akan lebih baik bagi seseorang yang telah melalui kegiatan belajar. Karena setelah seseorang mengikuti kegiatan belajar daya intelektualnya akan
lebih cerdas, setiap perkataan dan perbuatan dilakukan dengan hati-hati, dan pekerjaan yang dilakukan setiap hari akan lebih efisien tenaga, karena pekerjaan
dilakukan dengan banyak pikiran dan sedikit tenaga dan imbalannya akan lebih banyak yang dapat digunakan untuk mencukupi keluarga dalam kehidupan
sehari-hari. Suatu contoh di masyarakat bahwa seseorang yang telah belajar lebih tinggi, maka pekerjaan yang diperoleh sedikit mengeluarkan tenaga tetapi
banyak membutuhkan pikiran, jabatan yang diperoleh lebih tinggi jika dibandingkan dengan masyarakat yang rendah pendidikannya atau masyarakat
yang tidak mengenyam pendidikan sama sekali.
Pada akhirnya belajar ialah "Proses perubahan tingkah laku sebagai akibat
ada". (M. Alisuf Sabri, 1995 : 60). Dalam kenyataan sehari-hari bisa dilihat bahwa
orang yang telah melalui pendidikan yang lebih tinggi, maka akan mendapatkan kesempatan yang besar untuk mendapatkan posisi jabatan dan
lapangan pekerjaan yang menjanjikan untuk masa depan. Lain dengan orang yang tidak berpendidikan, mereka mendapatkan pekerjaan pada umumnya ada di
bawah dan menggantungkan dengan tenaga. Bagi orang yang berpendidikan tinggi pekerjaan yang dilakukan menggunakan tenaga sedikit tetapi dan pikirannya
digunakan lebih banyak.
e. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar Kegiatan belajar dipengaruhi oleh dua faktor yaitu
1) Faktor yang ada pada diri organisme itu sendiri yang kita sebut faktor individual, dan
2) Faktor yang ada di luar individu yang kita sebut faktor sosial. Yang termasuk ke dalam faktor individual antara lain: faktor
kematangan/pertumbuhan, kecerdasan, latihan, motivasi, dan faktor pribadi. Sedangkan yang termasuk faktor sosial antara lain faktor
keluarga/keadaan rumah tangga, guru dan cara mengajarnya, alat-alat yang dipergunakan dalam belajar-mengajar, lingkungan dan kesempatan yang tersedia, dan motivasi sosial. (M. Ngalim Purwanto,
1990: 102).
Kedua faktor tersebut sangat mempengaruhi anak dalam melakukan
kegiatan belajar. Karena kalau ada salah satu faktor yang tidak normal atau cacat akan berdampak tidak mendukung anak dalam belajar. Sehingga yang
diharapkan kedua faktor belajar tersebut selalu dalam keadaan baik atau normal yang akan berdampak positif bagi anak untuk melaksanakan kegiatan belajar baik
di bangku sekolah maupun belajar yang dilakukan di rumah.
Belajar merupakan suatu "Perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan
Purwanto, 1990: 85).
f. Prestasi Belajar
Menurut Anton M. Moeliono et al (1993:700), prestasi yaitu hasil yang telah dicapai setelah seseorang melakukan kegiatan.
Jadi prestasi seseorang dapat dinilai baik buruknya, tinggi rendahnya setelah seseorang melakukan suatu pekerjaan. Bukan saja terbatas pada bidang
pendidikan tetapi juga pada bidang-bidang lain.
Menurut Ngalim Purwanto (1989:3), menyatakan bahwa hasil belajar adalah
suatu yang digunakan untuk menilai hasil pelajaran yang telah diberikan kepada siswa dalam waktu tertentu. Ini penilaiannya hanya terbatas bidang
pendidikan saja yaitu hasil pelajaran yang berupa pengetahuan, nilai sikap dan keterampilan. Hasil belajar biasanya diambil pada akhir pokok bahasan, setiap
semester atau pada ujian akhir sekolah.
Prestasi belajar adalah "Hasil yang telah dicapai atau dilakukan". (Kamus
Umum Bahasa Indonesia, edisi II, Poerwadarminta, 1986: 787). Siswa setelah mengikuti kegiatan belajar di bangku sekolah pada akhirnya akan dapat dilihat
hasilnya yang dibuktika