i
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN
COOPERATIVE LEARNING
DENGAN STRATEGI LSQ
TERHADAP HASIL BELAJAR KIMIA SISWA SMA N
1 BERGAS KELAS XI IPA MATERI LARUTAN
PENYANGGA dan HIDROLISIS
skripsi
disajikan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan
oleh Yunita Wulansari
4301410060
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Motto:
1. Percaya itu baik tapi cek dulu itu lebih baik. (Prof. B.J Habibie)
2. Jika sore tiba, janganlah tunggu waktu pagi, jika pagi tiba, janganlah tunggu waktu sore. Manfaatkan masa sehatmu sebelum tiba masa sakitmu, dan manfaatkan masa hidupmu sebelum tiba ajalmu. (Umar bin Khattab)
Skripsi ini untuk:
1. Ayah dan Ibu tercinta;
2. Kakak-kakakku, Awaliyah, dan Awal;
3. Sahabat-sahabatku, pika, musa, dini, lidia, mas toni, mas wahyu, mas
ersa,waridi, dan nino;
v
PRAKATA
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang selalu melimpahkan rahmat dan nikmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran Cooperative Learning dengan StrategiLSQ Terhadap Hasil Belajar Kimia Siswa SMA N 1 Bergas Kelas XI Materi Larutan Penyangga dan Hidrolisis”.
Penulis menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan bantuan moral dan materi dalam penyelesaian skripsi ini kepada:
1. Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kemudahan dalam administrasi penelitian maupun pelaporan hasil penelitian.
2. Dekan FMIPAUniversitas Negeri Semarang yang telah memberikan izin penelitian.
3. Ketua Jurusan KimiaFMIPA Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan izin penelitian dan membantu kelancaran ujian skripsi.
4. Drs. Ersanghono kusuma, M.S, pembimbing yang telah tulus dan sabar membimbing dan mengarahkan penulis serta atas kemudahan yang beliau berikan.
5. Kepala Sekolah SMA N 1 Bergas yang telah memberikan izin dan kemudahan saat melakukan penelitian.
6. Drs. Agus Pramono Guru di SMA N 1 Bergas yang telah banyak membantu dalam penelitian.
vi 8. Seluruh siswa SMA N 1 Bergas
9. Teman-teman kost kinanti dan kost reyna
10.Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Hanya ucapan terima kasih dan doa, semoga apa yang telah diberikan tercatat sebagai amal baik dan mendapatkan balasan dari Allah SWT.
Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat dan kontribusi dalam kemajuan dunia pendidikan dan secara umum kepada semua pihak.
Semarang, Juli2014
vii
ABSTRAK
Wulansari, Yunita. Pengaruh Model Pembelajaran Cooperative Learning Dengan Strategi LSQ Terhadap Hasil Belajar Kimia siswa SMA N 1 Bergas kelas XI IPA Materi Penyangga dan Hidrolisis. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing Drs. Ersanghono Kusumo M.S.
Kata Kunci: Hasil Belajar; Cooperative Learning; LSQ;
Pembelajaran berpusat pada guru menyebabkan siswa tidak dapat membangun pengetahuannya sendiri sehingga siswa menjadi pasif. Model pembelajaran cooperative learning dengan strategi LSQ merupakan model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dalam membangun pengetahuan. Penelitian dilakukan di SMA N 1 bergas pada materi penyangga dan hidrolisis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran
cooperative learning dengan strategi LSQ. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPA SMA N 1 Bergas tahun pelajaran 2013/2014. Desain penelitian yang digunakan adalah posttest only control design. Teknik sampling yang digunakan yaitu cluster random sampling, dengan kelas XI IPA 1 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI IPA 2 sebagai kelas kontrol. Hasil penelitian diperoleh rata-rata hasil belajar kelas eksperimen 79,68, sedangkan kelas kontrol 69,06. Hasil analisis data menunjukkan adanya pengaruh model pembelajaran
viii
ABSTRACT
Wulansari, Yunita. Pengaruh Model Pembelajaran Cooperative Learning Dengan Strategi LSQ Terhadap Hasil Belajar Kimia siswa SMA N 1 Bergas kelas XI IPA Materi Penyangga dan Hidrolisis. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing Drs. Ersanghono Kusumo M.S.
Keywords: Learning Outcomes; Cooperative Learning; LSQ;
ix
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
PERNYATAAN ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... iv
PRAKATA ... v
ABSTRAK ... vii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiv
BAB1. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 5
1.3 Tujuan Penelitian ... 5
1.4 Manfaat Penelitian ... 5
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 7
2.1 Landasan Teori ... 7
2.2 Kerangka Berfikir ... 18
2.3 Hipotesis ... 19
BAB 3. METODE PENELITIAN ... 20
3.1 Penentuan Obyek Penelitian ... 20
3.2 Variabel Penelitian... 21
3.3Desain Penelitian ... 21
3.4Metode Pengumpulan Data ... 23
3.5Instrumen Penelitian ... 24
x
4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 43
4.1 Hasil Penelitian ... 43
4.2 Pembahasan ... 48
5. PENUTUP ... 62
5.1 Simpulan ... 62
5.2 Saran ... 62
DAFTAR PUSTAKA ... 63
xi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. Daftar Nama Siswa Kelas XI IPASMA N 1 Bergas Tahun Ajaran
2013/2014.... ... 67
2. Daftar Nilai Semester Kimia XI IPA ... 68
3. Uji Normalitas Data Awal Nilai UAS Kelas XI IPA SMA N I Bergas tahun Pelajaran 2013/2014 ... 69
4. Uji Homogenitas Populasi ... 72
5. Uji Kesamaan Keadaan Awal Populasi (Uji Anava) ... 73
6. Silabus Larutan Penyangga dan Hidrolisis ... 74
7. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Eksperiment ... 78
8. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Kontrol ... 85
9. Kisi-kisi Soal Uji CobaSoal ... 89
10.Soal Uji Cobalarutan Penyangga dan Hidrolisis ... 90
11.Analisis Validitas, Daya Pembeda, Indeks Kesukaran, dan Reliabilitas ... 100
12.Perhitungan Validitas Soal Uji Coba ... 102
13.Perhitungan Daya Pembeda Soal Uji Coba ... 104
14.Perhitungan Indeks Kesukaran Soal Uji Coba ... 105
15.Perhitungan Reliabilitas Soal Uji Coba ... 106
16.Pedoman Penyekoran Aspek Afektif Siswa ... 107
17.Pedoman Penilaian Pada Ranah Psikomotorik ... 111
18.Angket Tanggapan Siswa Terhadap Pembelajaran ... 118
19.Lembar Kerja Siswa ... 119
20.Kisi-kisi Soal Postest ... 124
21.Soal Postest Larutan Penyangga dan Hidrolisis ... 125
22.Data Hasil BelajarPostest Siswa ... 132
23.Uji Normalitas Nilai Postest Kelompok Eksperimen dan Kontrol ... 133
24.Uji Kesamaan dua Varians Data Hasil Belajar ... 135
xii
26.Analisis Pengaruh Model Pembelajaran Cooperative dengan Strategi LSQ
Terhadap Hasil Belajar ... 137
27.Hasil dan Perhitungan Nilai Afektif Siswa ... 138
28.Rekapitulasi Nilai Aspek Psikomotorik siswa ... 142
29.Hasil Angket Tanggapan Siswa ... 144
30.Dokumentasi Penelitian ... 145
xiii
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1.1 Presentase Ketuntasan Nilai Materi Larutan Penyangga dan Hidrolisis ... 3
3.1Desain Penelitian Postest Only Control Design ... 22
3.2Pembatasan Uji Coba Soal Postest ... 25
3.3Kriteria Daya Pembeda ... 30
3.4Klasifikasi Indeks Kesukaran ... 31
3.5Klasifikasi Reliabilitas Instrumen Angket ... 32
3.6 Klasifikasi Reliabilitas Instrumen Lembar Observasi ... 33
3.7Data Nilai Ujian Akhir Semester Ganjil ... 34
3.8Hasil Uji Normalitas Populasi ... 35
3.9Hasil Uji Homogenitas Populasi ... 36
3.10 Hasil Uji Kesamaan Keadaan Awal Populasi (Uji Anava) ... 37
3.11 Pedoman Untuk Memberikan Interprestasi Terhadap Rb ... 39
3.12Kriteria Nilai Afektif dan Psikomotorik ... 41
3.13Kriteria Nilai Rata-rata Afektif dan Psikomotorik ... 41
3.14Kriteria Nilai Angket ... 42
4.1Data Nilai Postest MateriPenyangga dan Hidrolisis ... 43
4.2Hasil Uji Normalitas Data Nilai Postest... 44
4.3Hasil Uji Kesamaan Dua Varian Data Postest ... 44
4.4Hasil Uji Ketuntasan Belajar Kelas Eksperimen dan Kontrol ... 46
4.5Rata-rata Nilai Afektif Kelas Eksperimen dan Kotrol ... 46
xiv
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
2.1. Kerangka Berpikir ... 19 4.1. Hasil Analisis Tanggapan Siswa Terhadap model pembelajaran cooperative
1
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Pendidikan memegang peranan penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia di masa sekarang dan di masa yang akan datang. Proses belajar dan mengajar merupakan faktor penting dalam dunia pendidikan. Agar pelaksanaan belajar dan mengajar dapat berlangsung sesuai yang diharapkan, perlu mendapatkan perhatian yang serius baik oleh guru, orang tua dan pemerintah.
Peran guru dalam proses pembelajaran di sekolah sangat dibutuhkan untuk membantu siswanya dalam mencapai hasil belajar yang optimal. Seorang guru harus memberi perhatian lebih pada cara penyajian materi pembelajaran supaya dapat ditangkap dengan baik oleh siswa, serta dapat merangsang siswa untuk berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran. Keterampilan mengajar perlu dikembangkan oleh guru untuk memenuhi berbagai macam tuntutan akan kebutuhan pengajaran yang efektif dikelas (Pope, 2007: 52). Pengajaran yang efektif dapat diwujudkan dengan memilih metode yang tepat dalam mengajar.Salah satu strategi yang dapat dikembangkan pada siswa adalah dengan mendorong serta menggunakan interaksi antar siswa, serta antara guru dan siswa (Cornu& Peters, 2005: 58).
prinsip-prinsip penting. Dalam interaksi ini siswa akan membentuk komunitas yang memungkinkan antara satu sama lain untuk proses belajar.
Interaksi antar siswa dapat ditumbuhkan melalui kegiatan bertanya. Bertanya adalah cara untuk mengungkapkan rasa keingintahuan akan jawaban yang tidak atau belum diketahui. Rasa ingin tahu merupakan dorongan atau rangsangan yang efektif untuk belajar dan mencari jawaban.Kualitas hidup seseorang ditentukan oleh kualitas pertanyaannya, semakin progresif sebuah pertanyaan semakin sukses orang tersebut menjalani kehidupannya. Bertanya merupakan bagian pembelajaran dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran. Penyampaian materi pelajaran yang diberikan guru dapat dilakukan dengan efektif jika melibatkan peserta didik secara aktif bertanya. Peserta didik mengumpulkan pertanyaan yang ditulis, kemudian guru hanya menyampaikan pelajaran dengan menjawab pertanyaan yang telah diajukan peserta didik (Riswani &Widayati, 2012: 10).
Berdasarkan studi lapangan tersebut diperlukan suatu solusi pembelajaran dengan strategi pembelajaran yang sesuai agar hasil belajar siswa dapat meningkat.
Observasi awal yang telah dilakukan peneliti di SMAN 1 Bergas Kelas XI IPA diketahui bahwa hasil belajar siswa materi larutan penyangga dan hidrolisis masih rendah.Hal Tersebut dapat dilihat pada tabel 1.1 berikut.
Tabel 1.1 Presentase Ketuntasan Nilai Materi Penyangga dan Hidrolisis
Melihat kenyatan ini diperlukan suatu solusi pembelajaran yang bisa mengaktifkan siswa, karena materi penyangga dan hidrolisis itu suatu materi yang didalamnya ada banyak masalah yang harus diselesaikan serta dibutuhkan kesiapan saat mengikuti pembelajaran, agar saat pembelajaran berlangsung dapat dengan mudah memahami konsep-konsep yang dijelaskan. Model pembelajaran yang dapat diterapkan adalah model pembelajaran Cooperative dengan strategi
Learning Start With a Question (LSQ), karena dengan model pembelajaran ini sebelum mulai pembelajaran siswa harus membaca buku terlebih dahulu sehingga siswa akan siap dan aktif dalam mengikuti pembelajan.
LSQ merupakan salah satu strategi pembelajaran aktif, dimana siswa akan aktif dalam bertanya. Agar siswa aktif dalam bertanya siswa diminta untuk mempelajari materi yang akan diajarkan terlebih dahulu. Belajar sesuatu yang baru itu akan lebih efektif jika peserta didik itu aktif bertanya dari pada hanya
No. Tahun ajaran Nilai terendah
Nilai tertinggi
Persentase ketuntasan
1 2009-2010 50 80 32,43%
2 2010-2011 45 85 31,03%
3 2011-2012 47 85 36,66%
menerima apa yang disampaikan oleh guru. Salah satu cara untuk membuat peserta didik belajar secara aktif adalah dengan membuat mereka bertanya tentang materi pelajaran sebelum mendapat penjelasan dari guru, selain itu guru juga dapat memberikan pertanyaan kepada peserta didik untuk mengetahui seberapa paham siswa dalam mempelajari materi tersebut.
Ahriani (2013: 8) melaporkan bahwa ada pengaruh penggunaan model pembelajaran cooperative terhadap hasil belajar kimia materi pokok ikatan kimia.Selain itu, menurut penelitian yang dilakukan oleh Dani (2011) terdapat pengaruh penerapan pembelajan aktif tipe belajar berawal dari bertanya yang dikolaborasikan dengan permainan belajar Sucker Ball terhadap pemahaman konsep matematis. Penelitian tentang pengaruh penerapan strategi pembelajaran aktif tipe Learning Starts With a Question oleh Hasan et al (2011) pada pelajaran biologi terdapat pengaruhterhadap aktivitas dan hasil belajar biologi siswa.
Beberapa hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran Coopertive dengan strategi LSQdapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Hal itu mendorong peneliti untuk menerapkan model pembelajaran
Cooperative dengan strategi LSQ yang selanjutnya dilihat pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa pada materi larutan penyangga dan hidrolisis di SMAN 1 Bergas.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan pada latar belakang, dapat dirumuskan permasalahan yaitu;
a. Adakah pengaruh penerapan model Cooperative Learning dengan strategi LSQ terhadap hasil belajar kimia siswa SMAN 1 Bergas kelas XI IPA pada materi larutan penyangga dan hidrolisis?
b. Berapakah besarnya pengaruh penerapan model Cooperative Learning
dengan strategi LSQ terhadap hasil belajar kimia siswa SMAN 1 Bergas kelas XI IPA pada materi larutan penyangga dan hidrolisis?
1.3
Tujuan Penelitian
Mengacu perumusan masalah di atas, maka yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah
a. Mengetahui ada tidaknya pengaruh penerapan model pembelajaran
Cooperative Learning dengan strategi LSQ terhadap hasil belajar kimia siswa SMAN 1 Bergas kelas XI IPA pada materi penyangga dan hidrolisis. b. Mengetahui berapa besar pengaruh penerapan model pembelajaran
Cooperative Learning dengan strategi LSQ terhadap hasil belajar kimia siswa SMAN 1 Bergas kelas XI IPA pada materi penyangga dan hidrolisis.
1.4
Manfaat penelitian
Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi para pembacanya, antara lain:
a. Bagi siswa
b. Bagi guru
Memberikan informasi atau wacana tentang manfaat penerapan model pembelajaranCooperative Learning dengan strategi LSQ terhadap hasil belajar siswa SMAN 1 Bergas kelas XI IPA pada materi larutan penyangga dan hidrolisis.
c. Bagi peneliti
7
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Landasan Teori
2.1.1 Belajar
Menurut Morganet al (1986) dalam saptorini (2011: 3) belajar merupakan perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan terjadi sebagai hasil latihan dan pengalaman. Seseorang yang belajar akan mengalami perubahan tingkah laku, dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mengerti menjadi mengerti. Perubahan tingkah laku tersebut terjadi karena latihan dan pengalaman yang di alami selama proses berlangsung dan perubahan yang terjadi bersifat relatif tetap menetap dalam jangka waktu tertentu dan cukup lama.
Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, keterampilam dan nilai sikap menurut Winkel (1986:30).Belajar terjadi dalam interaksi dengan lingkungan, dalam bergaul dengan orang, dalam memegang benda dan dalam menghadapi peristiwa manusia belajar. Namun tidak sembarang berada ditengah-tengah lingkungan, menjamin adanya proses belajar. Orang tersebut harus aktif sendiri, melibatkan diri dengan segala pemikiran, kemauan dan perasaannya.
Menurut Anni (2006 : 6) hasil belajar adalah perolehan sesuatu yang baru pada tingkah laku setelah seseorang melakukan kegiatan belajar. Setiap keberhasilan belajar diukur dari seberapa jauh hasil belajar yang dicapai.Akibat dari belajar dapat diketahui dengan memperhatikan hasil belajar. Sedangkan menurut Dimyati (1994: 11), hasil belajar merupakan suatu puncak proses belajar, yang dipengaruhi oleh proses-proses penerimaan, keaktifan, pra-pengolahan, pengolahan, penyimpanan, serta pemanggilan untuk pembangkit pesan dan pengalaman.
Kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Benyamin S. Bloom dalam Anni (2006 : 6) membagi hasil belajar menjadi tiga taksonomi yang disebut dengan ranah belajar, yaitu ;
(1) Ranah kognitif (cognitive domain) yang mencakup : ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi.
(2) Ranah afektif (affective domain) yang mencakup : penerimaan, penanggapan, penilaian, pengorganisasian, dan pembentukan pola hidup.
(3) Ranah psikomotorik (psychomotoricdomain) yang mencakup : persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan biasa, gerakan kompleks, penyesuaian, dan kreatifitas.
belajar, proses berfikir, intelegensi, sikap, perasaan, dan emosi. Faktor yang terdapat dalam diri siswa terutama kemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai (Sudiana: 1998). Menurut Clark dalam Sudiana (1998: 57) bahwa hasil belajar siswa di sekolah 70 % dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30 % dipengaruhi oleh lingkungan. Kedua, faktor eksternal, adalah faktor yang berada di luar anak didik tersebut, seperti: bahan pelajaran, metode mengajar, media pendidikan dan situasi lingkungan. Kedua faktor tersebut memiliki peranan penting dalam mempengaruhi hasil belajar siswa.
Atas dasar di atas peneliti tertarik untuk meneliti pengaruh salah satu faktor eksternal yaitu metode pembelajaran khususnya metode Cooperative learning
dengan strategi LSQ terhadap hasil belajar siswa.
2.1.3 Model Pembelajaran
Model pembelajaran adalah suatu perencanaan yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat–perangkat pembelajaran termasuk didalamnya buku-buku, sumber belajar, kurikulum, dan lain-lain. Setiap model pembelajaran mengarahkan pembelajaran untuk membantu peserta didik sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran tercapai. Istilah model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari pada strategi, metode atau prosedur. Model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak dimiliki oleh strategi, metode atau prosedur.
(1) Rasional teoritik logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya. (2) Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar.
(3) Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.
(4) Tingkah laku mengajar yang diperoleh agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil.
Untuk melihat tingkat kelayakan suatu model pembelajaran maka untuk aspek validitas dibutuhkan ahli dan praktisi untuk memvaliditas model pembelajaran yang dikembangkan. Untuk aspek kepraktrisan dan efektivitas diperlukan suatu perangkat pembelajaran untuk melaksanakan pembelajaran yang dikembangkan, sehingga untuk melihat kedua aspek ini perlu dikembangkan suatu perangkat pembelajaran yang dikembangkan. Instrumen penelitian juga perlu dikembangkan sesuai tujuan pembelajaran yang diinginkan.
2.1.4 Model Pembelajaran CooperativeLearning dengan strategi LSQ
Menurut Wena, (2008) dalam saptorini (2011: 72) pembelajaran kooperatif adalah sistem pembelajaran yang berusaha memanfaatkan teman sejawat sebagai sumber belajar, disamping guru dan sumber belajar yang lain. Dalam pembelajaran kooperatif terdapat elemen-elemen yang sangat terkait, yaitu saling ketergantungan positif, interaksi tatap muka, akuntabilitas individual, dan keterampilan untuk menjalin hubungan antar pribadi (Saptorini,2011:72).
kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Sedangkan menurut slavin (1985) dalam isjoni (2010:15), pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya 4-6 orang dengan struktur kelompok heterogen.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas belajar dengan model kooperatif dapat diterapkan untuk memotivasi siswa berani mengemukakan pendapatnya, menghargai pendapat teman, dan saling memberikan pendapat. Selain itu dalam belajar biasanya siswa dihadapkan pada latihan soal-soal atau pemecahan masalah. Oleh sebab itu pembelajaran kooperatif adalah salah satu pembelajaran yang dapat membuat siswa menjadi aktif.
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan berpijak pada beberapa pendekatan yang diasumsikan mampu meningkatkan proses dan hasil belajar siswa. Pendekatan yang dimaksud adalah belajar aktif, konstruktivistik, dan kooperatif.
aktivitas-aktivitas yang membangun kerja kelompok dan dalam waktu yang singkat membuat mereka berpikir tentang materi pelajaran.
Ada banyak strategiActive Learning salah satunya Learning Start With a Question (LSQ) merupakan suatu strategi pembelajaran aktif dalam bertanya, dimana agar siswa aktif dalam bertanya maka siswa diminta untuk mempelajari materi yang akan dipelajari yaitu dengan membaca terlebih dahulu. Dengan membaca maka siswa memiliki gambaran tentang materi yang akan dipelajarinya sehingga apabila dalam membaca atau membahas materi tersebut terjadi kesalahan konsep akan terlihat dan dapat dibahas serta dibenarkan secara bersama-sama di dalam kelas (Zaini et al., 2008:10).
Langkah-langkah pembelajaran LSQ: (1) Pilih bahan bacaan yang sesuai.
(2) Minta siswa untuk mempelajari bacaan secara sendirian atau dengan teman. (3) Minta siswa untuk memberi tanda pada bagian bacaan yang tidak dipahami.
Anjurkan mereka untuk memberi tanda sebanyak mungkin. Jika waktu memungkinkan, gabungkan pasangan belajar dengan pasangan belajar yang lain, kemudian minta mereka untuk membahas poin-poin yang tidak di ketahui yang telah di beri tanda.
(5) Sampaikan materi pelajaran dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan.(Silberman, 2011: 89)
Kelebihan dari model LSQ adalah siswa menjadi siap mulai pelajaran, karena siswa belajar terlebih dahulu sehingga memiliki sedikit gambaran dan menjadi lebih paham setelah mendapatkan tambahan penjelasan dari guru, siswa akan lebih aktif untuk membaca, materi akan dapat diingat lebih lama. Kecerdasan siswa diasah pada saat siswa mencari informasi tentang materi tanpa bantuan guru, mendorong tumbuhnya keberanian mengutarakan pendapat secara terbuka dan memperluas wawasan melalui bertukar pendapat secara kelompok.
Model LSQ juga memiliki beberapa kelemahan. Adapun kelemahan dari model LSQ adalah : Ada beberapa siswa yang malu untuk bertanya sehingga guru tidak mengetahui kesulitan yang dialami oleh siswa, tidak semua siswa membaca materi pelajaran di rumah sehingga siswa sulit untuk memahami konsep materi pelajaran. Untuk mengatasi masalah di atas, guru dapat menyuruh siswa untuk menuliskan kesulitan yang dialami pada saat membaca materi kemudian dikumpulkan sehingga guru dapat mengetahui semua kesulitan yang dialami siswa.
2.1.5 Materi Pembelajaran
2.1.5.1Larutan Penyangga
Larutan penyangga adalah larutan yang dapat mempertahankan pHnya jika ditambahkan sedikit asam atau basa dan jika di encerkan.
2.1.5.1.1 Komponen Larutan Penyangga
penyangga basa.
(1) Larutan penyangga asam mengandung suatu asam lemah (HA) dengan basa konjugasinya (A-).
Contoh:
CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O
Asam lemah = CH3COOH
Basa Konjugasinya = CH3COO
-(2) Larutan penyangga basa mengandung basa lemah (B) dengan asam konjugasinya (BH+).
Contoh:
NH4OH + HCl NH4Cl + H2O
Basa lemah = NH4OH
Basa Konjugasinya = HCl
2.1.5.1.2 Pembentukan Larutan Penyangga
(1) Mencampurkan asam lemah dengan basa konjugasinya atau basa lemah dengan asam konjugasinya.
Contoh: H2CO3 dicampur dengan NaHCO3, NaHCO3 membentuk ion
HCO3– sehingga terbentuk larutan penyangga H2CO3/HCO3–.
(2) Mencampurkan asam lemah berlebih dengan basa kuat atau basa lemah berlebih dengan asam kuat.
Contoh: Campuran larutan CH3COOH dengan larutan NaOH akan bereaksi
dengan persamaan reaksi:
Jika jumlah CH3COOH berlebih yang direaksikan dengan NaOH maka akan
terbentuk CH3COONa dan ada sisa CH3COOH sehingga terjadi larutan
penyangga CH3COOH/CH3COO–.
2.1.5.1.3 pH Larutan Penyangga
(1) Sistem Penyangga Asam Lemah dan Basa Konjugasinya
(2) Sistem Penyangga Basa Lemah dan Asam Konjugasinya
2.1.5.1.4 Pengaruh Pengenceran dan Penambahan Sedikit Asam atau Basa pada Larutan Penyangga
2.1.5.1.5
2.1.5.1.6 Kegunaan larutan penyangga
Pada makhluk hidup terdapat berbagai macam cairan seperti air, sel darah, dan kelenjar.Cairan ini berfungsi sebagai pengangkut zat makanan dan pelarut zat kimia di dalamnya.Berlangsungnya reaksi itu bergantung pada enzim tertentu, dan tiap enzim bekerja efektif pada pH tertentu (pH optimum).Oleh sebab itu, cairan dalam makluk hidup mengandung larutan penyangga untuk mempertahankan pHnya.
OH- = Kb X [H+] = Ka X
(1) Larutan Penyangga dapat mempertahankan pH-nya jika ditambah sedikit asam
atau basa
Kegunaan larutan penyangga tidak terbatas pada tubuh makhluk hidup, reaksi-reaksi kimia di bidang industri dan di laboratorium juga menggunakan larutan penyangga. (Sudarmo, 2006: 89)
2.1.5.2Hidrolisis Garam
Reaksi hidrolisis yaitu reaksi penguraian garam oleh air atau reaksi ion-ion dari garam dengan air.
2.1.5.2.1 Sifat- sifat larutan garam
Sifat-sifat larutan garam ada 3 macam yaitu :
(1) Larutan garam yang bersifat netral yaitu garam yang terbentuk dari asam kuat dan basa kuat. Contoh : NaCl
(2) Larutan garam yang bersifat asam yaitu garam yang terbentuk dari asam kuat dan basa lemah. Contoh : NH4Cl, Al2(SO4)3
(3) Larutan garam yang bersifat basa yaitu garam yang terbentuk dari basa kuat dan asam lemah. Contoh : CH3COONa, Na2CO3
Larutan garam yang terbentuk dari asam lemah dan basa lemah dapat bersifat asam, basa, atau netral. Karena garam ini terhidrolisis total, maka harga pH bukan tergantung pada konsentrasi garamnya, tetapi bergantung pada harga Ka dan Kb-nya.
(1) Jika Ka = Kb ,larutan garam bersifat netral (pH=7)
(2) Jika Ka > Kb , larutan garam bersifat asam (pH<7)
(3) Jika Ka < Kb , larutan garam bersifat basa (pH>7)
(1) Terbentuk dari asam kuat dan basa kuat ,bersifat netral contohnya NaCl,K2SO4
(2) Terbentuk dari asam kuat dan basa lemah, bersifat asam, contohnya NH4Cl
dan Al2(SO4)3
(3) Terbentuk dari asam lemah dan basa kuat , bersifat basa, contohnya CH3COONa,HCOOK,Na2CO3
(4) Terbentuk dari asam lemah dan basa lemah, sifatnya tergantung harga Ka dan Kb, contohnya (NH4)2CO3 (Purba, 2006:121).
2.1.5.2.2 pH larutan garam
(1) Garam yang berasal dari Asam kuat dan Basa kuat tidak mengalami hidrolisis.
pH= ½ pKw
(2) Garam yang berasal dari Asam lemah dan Basa kuat hanya mengalami hidrolisis sebagian dalam air.
[OH-] =
(3) Garam yang berasal dari Asam kuat dan Basa
lemah hanya mengalami hidrolisis sebagian dalam air.
[H+]=
(4) Garam yang berasal dari Asam lemah dan Basa lemah mengalami hidrolisis total dalam air.
Pokok materi ini sangat penting karena berkaitan dengan kehidupan sehari-hari sehingga dalam proses pembelajarannya harus bisa memunculkan rasa keingin tahuan siswa dari dalam dirinya sehingga mudah diingat. Maka pembelajaran aktif learning diterapkan dalam pembelajaran ini agar parameter hasil belajar siswa meningkat.
2.2Kerangka Berfikir
SMAN 1 Bergas merupakan salah satu SMA di Kabupaten Ungaran, metode pembelajaran disini kurang membuat siswa itu menjadi aktif, kebanyakan siswanya pasif sehingga hasil belajar dari siswa tersebut rendah tidak sesuai dengan KKM. Berawal dari permasalahan ini, maka perlu adanya suatu metode yang dapat membantu siswa dalam mempelajari materi kimia. Penelitian ini menggunakan dua metode yaitu model pembelajaran Cooperative Learning
Gambar 2.1 Kerangka Berfikir
2.3Hipotesis
Berdasarkan tinjauan pustaka di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:
Dibandingkan Pendalaman materi denganmodel
pembelajaran cooperative learning dengan strategi LSQ
Pendalaman materi dengan metode konvensional
Hasil belajar Hasil belajar
Ada pengaruh penggunaan model pembelajaran
cooperative learning dengan strategi LSQ Proses Belajar
mengajar
Siswa pasif
Kesulitan memahami materi Nilai rendah
SMAN 1 Bergas
Kelas eksperimen
Pembelajaran text book
Ada pengaruh penggunaan model pembelajaran Cooperative Learning
20
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1
Penentuan Objek Penelitian
3.1.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI program studi ilmu pengetahuan alam semester 2 SMAN 1 Bergas tahun pelajaran 2013/2014. Populasi dalam penelitian ini terdiri dari 3 kelas yaitu kelas X1 IPA 1 terdiri atas 33 siswa, kelas XI IPA 2 terdiri atas 32 siswa, dan XI IPA 3 terdiri atas 32 siswa. Berdasarkan data tersebut, maka jumlah populasi dalam penelitian ini sebanyak 97 siswa.
3.1.2 Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Suharsimi 2006:131). Teknik pengambilan sampel yang dilakukan adalah teknik cluster random sampling yaitu secara acak dipilih dua kelas sebagai sampel, dengan syarat populasi tersebut harus memiliki kualitas yang sama, yaitu homogenitasnya dan rata-ratanya sama.
sedangkan pada kelompok kontrol adalah XI IPA 2 mendapat perlakuan model pembelajaran konvensional.
3.2
Variabel Penelitian
Variabel merupakan objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian (Suharsimi, 2006:121). Dalam penelitian ini variabel yang digunakan yaitu:
3.2.1 Variabel Bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajara.Pada kelas eksperimen menggunakan model pembelajara Cooperative Learning dengan strategi LSQ sedangkan pada kelas kontrol menggunakan model pembelajaran konvensional.
3.2.2 Variabel Terikat
Variabel terikat dalam penelitian ini adalahhasil belajar kimia materi pokok penyangga dan hidrolisis siswa kelas XIIPA SMAN 1Bergas Tahun Ajaran 2013/2014.
3.2.3 Variabel Kontrol
Variabel kontrol dalam penelitian ini adalah kurikulum, guru yang sama, materi dan jumlah pelajaran jam yang sama.
3.3
Desain Penelitian
Tabel 3.1 Desain Penelitian Postest Only Control Design
Keterangan:
X = pembelajaran dengan model pembelajaran Cooperative Learning dengan strategi LSQ.
Y = pembelajaran konvensional T = postes
3.3.1 Tahap Penelitian
3.3.1.1Tahap Persiapan
Langkah-langkah yang dilakukan dalam tahap persiapan terdiri atas:
(1) Penyusunan perangkat pembelajaran berupa silabus dan rencana pembelajaran;
(2) Penyusunan instrumen dan dikonsultasikan pada para ahli;
(3) Uji coba soal untuk mengetahui validitas, daya pembeda, indeks kesukaran dan reliabilitas soal;
(4) Penentuan sampel melalui uji normalitas, homogenitas dan kesamaan rata-rata.
3.3.1.2Tahap Pelaksanaan
Langkah-langkah yang dilakukan dalam tahap pelaksanaan terdiri atas: (1) Analisis hasil belajar siswa melalui wawancara dengan pihak sekolah dan
dokumentasi dari pihak sekolah;
(2) Guru melakukan pembelajaran dengan model pembelajaran cooperative learning dengan strategi LSQ pada kelas eksperimen dan pembelajaran konvensional pada kelas kontrol. Selama proses pembelajaran guru dan observer mengamati aktivitas dan sikap siswa;
Kelompok Perlakuan Tes
Eksperimen X T
(3) Pemberian postest untuk mengetahui hasil belajar siswa;
(4) Evaluasi hasil postest untuk mengetahui pengaruh penggunaan model pembelajaran cooperative learning dengan strategi LSQ terhadap hasil belajar siswa;
(5) Pemberian angket kepada siswa untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran.
3.4
Metode Pengumpulan Data
3.4.1 Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh data mengenai nama-nama siswa anggota sampel dan data nilai ulangan semester 1 mata pelajaran kimia yang diambil dari daftar nilai SMAN 1 Bergas.Data nilai digunakan untuk analisis tahap awal.
3.4.2 Metode Tes
Metode tes dalam penelitian ini digunakan untuk mengukur hasil belajar kognitif siswa kelas eksperimen dikaitkan dengan penggunaan model pembelajaran Cooperative Learning dengan strategi LSQ pada materi pokok larutan penyangga dan hidrolisis.
3.4.3 Metode Observasi
afektif dan psikomotorik selama proses pembelajaran berlangsung. Observasi dilakukan oleh guru mitra dan mahasiswa.
3.4.4 Metode Angket
Angket diberikan kepada siswa yang berasal dari kelompok eksperimen pada akhir pembelajaran yang bertujuan untuk mengetahui pendapat siswa tentang suasana pembelajaran dengan menggunakan model Cooperative Learning dengan strategi LSQ. Hasil angket dianalisis secara deskriptif dengan membuat tabel frekuensi jawaban siswa kemudian ditarik kesimpulan.
3.5
Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat ukur yang digunakan peneliti untuk memperoleh data yang diharapkan agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis sehingga lebih mudah diolah (Sukardi, 2011). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
3.5.1 Materi dan Bentuk Instrumen
Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah larutan penyangga dan hidrolisis yang merupakan materi pokok pelajaran kimia kelas XI semester 2.Bentuk instrumen yang digunakan berupa silabus, RPP, LKS, soal Postes, lembar observasi psikomotorik dan afektif serta angket.
3.5.2 Langkah-langkah Penyusunan Instrumen
3.5.2.1Langkah-langkah Penyusunan Instrumen Uji Coba Soal Posttest
(1) Mengadakan pembatasan dan penyesuaian bahan-bahan instrumen dengan kurikulum meliputi :
Tabel 3.2 Pembatasan Uji Coba Soal Posttest
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator Memahami sifat-sifat
larutan asam basa, metode pengukuran, dan terapannya.
Mendiskripsikan sifat larutan penyangga dan peranan larutan penyangga dalam tubuh makhluk hidup
1. Menganalisis larutan penyangga dan bukan penyangga melalui percobaan 2. Menghitung pH atau
pOH larutan
penyangga
3. Menghitung pH larutan penyangga dengan penambahan sedikit asam atau sedikit basa atau dengan pengenceran 4. Menjelaskan fungsi
larutan penyangga
dalam tubuh
makhluk hidup. Menentukan jenis garam
yang mengalami hidrolisis dalam air dan pH larutan garam tersebut.
1. Menentukan ciri-ciri beberapa jenis garam yang dapat terhidrolisis dalam
air melalui
percobaaan
2. Menentukan sifat
garam yang
terhidrolisis dari persamaan reaksi ionisasi.
(2) Merancang soal postest hasil belajar kognitif siswa. (3) Menentukan tabel spesifikasi atau kisi-kisi soal. (4) Menyusun butir-butir soal.
(5) Menguji cobakan soal.
(6) Menganalisis hasil uji coba, yaitu validitas, reliabilitas, daya beda, dan tingkat kesukaran perangkat tes yang digunakan.
3.5.2.2Langkah-langkah Penyusunan Instrumen Lembar Observasi
Langkah-langkah penyusunan instrumen lembar observasi sebagai berikut: 1) Menentukan jumlah aspek yang akan diamati.
2) Menentukan tipe atau bentuk lembar observasi yang berupa daftar check list.
3) Menyusun aspek-aspek yang telah ditentukan dalam bentuk lembar observasi. 4) Mengkonsultasikan lembar observasi afektif dan psikomotorik yang telah
tersusun kepada ahli.
3.5.2.3Langkah-langkah Penyusunan Instrumen Angket
Langkah-langkah penyusunan instrumen lembar angket terdiri atas :
(1) Menetukan jumlah indikator yang akan diamati untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran yang dilakukan.
(2) Menetukan tipe atau bentuk angket respon yang berupa daftar check list
3.5.3 Standarisasi Instrumen Penelitian
Data yang dihasilkan dari instrumen akan diolah kemudian dianalisis untuk mengetahui instrumen yang diberikan sudah memenuhi syarat tes yang baik atau belum. Adapun teknik standarisasi instrumen penelitian adalah sebagai berikut.
3.5.3.1Instrumen Soal Uji Coba Postes Hasil Belajar Kognitif
3.5.3.1.1 Analisis validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan (Suharsimi, 2006: 168).
Pengujian seperti silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran, dan angket menggunakan metode expert validity yaitu validitas yang disesuaikan dengan kurikulum dan dikonsultasikan dan disetujui oleh ahli yaitu dosen pembimbing, dosen ahli, dan guru SMA.
Akan tetapi untuk lembar pengamatan dan angket juga harus memenuhi validitas isi oleh karena itu sebelum instrumen disusun, peneliti menyusun kisi-kisi soal terlebih dahulu berdasarkan kurikulum yang berlaku, selanjutnya dikonsultasikan dengan dosen pembimbing dan guru pengampu.
Validitas soal-soal post test dalam penelitian ini ada dua macam yaitu validitas isi soal dan validitas butir soal.
(1) Validitas Isi Soal
menyusun kisi-kisi soal terlebih dahulu berdasarkan kurikulum yang berlaku, selanjutnya dikonsultasikan dengan guru pengampu dan dosen pembimbing. (2) Validitas Butir Soal
Untuk menghitung validitas butir soal digunakan rumus Korelasi point biserial yaitu sebagai berikut:
q p S
M M r
t t p pbis
(Suharsimi, 2010: 258). Keterangan :
p
M
= rata-rata skor total yang menjawab benar pada butir soal t
M
= rata-rata skor total t
S = standar deviasi skor total
p = proporsi siswa yang menjawab benar pada tiap butir soal q = proporsi siswa yang menjawab salah pada setiap butir soal
rpbis yang diperoleh dimasukkan ke dalam rumus thitung, dengan rumus:
2
1
2
pbis pbis
r n r t
Kriteria : jika thit> ttab, maka butir soal valid, dengan dk = (n-2) dan n adalah
jumlah siswa (Sudjana, 2005: 377).
Setelah dilakukan perhitungan validitas tiap-tiap butir soal dihitung dengan menggunakan rumus korelasi point biseral kemudian dikonsultasikan dengan tabel r point biseral dengan dk = k-2 = 30, α = 5% diperoleh t tabel = 2, 042. Berdasarkan analisis tes uji coba pada lampiran 8 diperoleh bahwa soal yang tidak valid adalah nomor 1, 2, 15, 16, 21, 24, 25, 33, 34, 36, 38, 39, 41, 42, dan 43. Oleh karena itu soal tersebut tidak digunakan lagi.
Sebuah tes dikatakan reliabel apabila tes tersebut dapat menunjukkan hasil yang relatif atau tetap, jika tes tersebut digunakan pada kesempatan yang lain. Rumus yang digunakan pada penelitian ini adalah KR-21, dengan rumus sebagai berikut:
r 11=
Vt M K M K
K 1 1
Keterangan:
r11 = Reliabilitas tes secara keseluruhan
Vt = S2t = variasi skor total M =
N Y
= rata-rata skor total
K = Jumlah butir soal (Suharsimi, 2007: 103)
Harga r11yang diperoleh dimasukkan ke dalam rumus thitung, di mana suatu
instrumen dikatakan reliabel apabila harga thitung> ttab, dengan dk = (n-2) dan n
adalah jumlah siswa (Sudjana, 2005: 377).
2
1 2
r n r t
Perhitungan menghasilkan harga r11 sebesar 0,714. Harga r11 tersebut
kemudian dimasukkan kedalam thitungdiperoleh 5,6 dengan harga t pada
tabeldengan taraf signifikansi 5 % dan n = 50 yaitu 2,01.Kriteria reliabel soal yaitu, suatu soal disebut relliabel bila harga thitung> ttab, dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa soal uji coba penelitian ini reliabel.
3.5.3.1.3 Analisis Daya Pembeda
soal.Daya pembeda sebuah butir soal adalah kemampuan butir soal untuk membedakan antara testee yang berkemampuan tinggi dengan testee yang berkemampuan rendah. Langkah-langkah yang digunakan untuk menghitung daya pembeda soal adalah sebagai berikut :
(1) Merangking skor hasil tes uji coba, yaitu mengurutkan skor hasil tes siswa mulai dari skor tertinggi hingga skor terendah.
(2) Mengelompokkan seluruh peserta tes menjadi dua kelompok yaitu kelompok atas dan kelompok bawah.
Daya pembeda soal dihitung menggunakan rumus :
A B A
JS JB JB
DP atau
B B A
JS JB JB
DP (Sudijono, 2006 : 389)
Keterangan:
A
JB = jumlah siswa kelompok atas yang menjawab soal dengan benar.
B
JB = jumlah siswa kelompok bawah yang menjawab soal dengan benar.
A
JS = jumlah siswa kelompok atas.
B
JS = jumlah siswa kelompok bawah.
Tabel 3.3 Kriteria Daya Pembeda
Inteval Kriteria
DP 0,00 0,00<DP 0,20 0,20<DP 0,40 0,40<DP 0,70 0,70<DP 1,00
Jelek sekali jelek cukup baik baik sekali
24, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 44, 46, 48, 49 dan 50. Soal yang mempunyai daya pembeda baik ada 17 soal, yaitu soal nomor 3, 5, 6, 7, 10, 14, 17, 18, 20, 22, 23, 32, 35, 37, 40, 45 dan47. Soal yang mempunyai daya pembeda sangat baik ada 1 soal, yaitu soal nomor 4.
Butir soal yang digunakan sebagai instrumen penelitian untuk mengukur hasil belajar adalah butir soal dengan kriteria daya pembeda sangat baik, baik dan cukup.
3.5.3.1.4 Analisis Tingkat Kesukaran
Menurut Suharsimi (2006: 208), bilangan yang menunjukkan sukar atau mudahnya soal disebut indeks kesukaran (difficulty index). Besarnya indeks kesukaran antar 0,00 sampai 1,00.
Tingkat kesukaran soal dihitung menggunakan rumus: P=
JS B
Keterangan:
P = Indeks kesukaran
B = Banyaknya siswa yang menjawab benar JS = Jumlah seluruh siswa peserta tes
[image:46.595.192.436.591.696.2]Kriteria yang menunjukkan tingkat kesukaran soal adalah Tabel 3.4 Klasifikasi Indeks Kesukaran
Interval Kriteria
IK = 0,00
0,00 <IK 0,30 0,30 <IK 0,70 0,70 <IK 1,00
IK = 1,00
Terlalu sukar Sukar
Sedang Mudah
Terlalu mudah
Berdasarkan perhitungan hasil tes uji coba pada kelas uji coba maka diperoleh hasil tingkat kesukaran yang berbeda-beda. Hasil perhitungan dapat dilihat pada lampiran 8. Soal yang berkriteria mudah adalah nomor 1, 2, 10, 12, 14, 21, 25, 30, 33, 36, 38 dan 42; soal yang berkriteria sedang adalah soal nomor 3, 4, 5, 6, 7, 11, 13, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 22, 23, 24, 26, 27, 28, 29, 31, 32, 35, 37, 39, 40, 41, 43, 44, 45, 46, 47, 48, 49 dan 50; sedangkan soal yang berkriteria sukar adalah soal nomor 8, 9 dan 34.
3.5.4 Analisis Instrumen Lembar Angket
Lembar angket tanggapan diuji validitas isi yang disesuaikan dengan kondisi siswa dan dikonsultasikan dan disetujui oleh ahli dosen pembimbing I. setelah dilakukan validitas isi kemudian diuji reliabilitas dengan menggunakan rumus r11.
Reliabilitas untuk instrumen ini menggunakan rumus Alpha Cronbach
yaitu:
(Suharsimi, 2006:189)
Varians: Keterangan :
= reliabilitas instrumen = jumlah kuadrat skor butir = banyak butir pertanyaan = jumlah kuadrat skor total = jumlah varians skor butir = varians total
= kuadrat jumlah skor butir = kuadrat jumlah skor total = banyaknya subjek
[image:47.595.114.465.499.671.2]Klasifikasi reliabilitas dapat dilihat pada Tabel 3.5
0,8 < r11≤1.0
0,6 < r11≤ 0,8
0,4 < r11≤ 0.6
0,2 < r11≤ 0,4
r11≤ 0,2
Sangat tinggi Tinggi Cukup Rendah Sangat rendah
(Suharsimi, 2006:190) Analisis lembar angket menghasilkan harga r11sebesar 0,75. Kedua harga
r11 tersebut kemudian dihitung dengan thitung diperoleh sebesar6,48dan
dibandingkan dengan ttabeldengan α = 5% dan n = 10 yaitu 2,03 . Kriteria lembar
angket reliabel yaitu apabila harga thitung> ttabel
.
Berdasarkan hasil analisis didapatbahwa lembar angket ini reliabel yang ditunjukkan dengan nilai thitung> ttabel.
3.5.5 Analisis Lembar Observasi
Instrumen-instrumen lembar obesrvasi diuji validitas isi yang disesuaikan dengan materi pelajaran, kondisi siswa dan dikonsultasikan dan disetujui oleh ahli yaitu dosen penguji dan guru SMA.Setelah dilakukan validitas isi kemudian di uji reliabilitas dengan menggunakan rumus r11.
Untuk mencari reliabilitas lembar observasi, digunakan rumus Spearman
yaitu:
(Suharsimi, 2006:196) Keterangan :
r11 = reliabilitas instrumen
n = jumlah objek yang diamati = jumlah varians beda butir
[image:48.595.218.408.111.192.2]Klasifikasi reliabilitas dapat dilihat pada tabel 3.6.
0,8 < r11≤1.0
0,6 < r11≤ 0,8
0,4 < r11≤ 0.6
0,2 < r11≤ 0,4
r11≤ 0,2
Sangat tinggi Tinggi Cukup Rendah Sangat rendah
(Suharsimi, 2006:197) Analisis lembar observasi afektif menghasilkan harga r11sebesar 0,73
dalam kategori tinggi sedangkan lembar observasi psikomotorik menhasilkan r11
sebesar 0,76 dalam kategori tinggi. Kedua harga r11 tersebut kemudian dihitung
dengan thitungdan dibandingkan dengan ttabel dengan α = 5% dan n = 10, untuk
lembar observasi afektif diperoleh thitung sebesar 3,07 dan ttabel sebesar 2,31,
sedangkan lembar observasi psikomotorik diperoleh thitung sebesar 3,31 dan ttabel
sebesar 2,31 . Kriteria lembar observasi reliabel yaitu apabila harga thitung> ttabel
.
Berdasarkan hasil analisis didapat bahwa lembar observasi psikomotorik dan afektif ini reliabel yang ditunjukkan dengan nilai thitung> ttabel.
3.6 Teknik Analisis Data
Analisis data digunakan untuk mengolah data yang diperoleh setelah mengadakan penelitian, sehingga akan didapat suatu kesimpulan tentang keadaan yang sebenarnya dari obyek yang diteliti.
3.6.1 Analisis tahap Awal
[image:49.595.256.428.112.188.2]analisis data tahap awal digunakan untuk mengetahui adanya kesamaan kondisi awal populasi penelitian sebagai pertimbangan dalam pengambilan sampel. Data yang digunakan adalah nilai ujian akhir semester ganjil SMA N 1 Bergas yang dapat dilihat pada tabel 3.7.
Tabel 3.7 Data Nilai Ujian Akhir Semester Ganjil No. Kelas Jumlah
siswa
Nilai Tertinggi
Nilai
Terendah Rata-rata
1 XI IPA 1 33 85 53 65,03 8,91
2 XI IPA 2 32 88 38 66,53 10,53
3 XI IPA 3 32 88 48 66,50 10,74
Analisis data tahap awal meliputi uji normalitas, uji homogenitas, serta uji kesamaan rata-rata.
3.6.1.1Uji Normalitas
Uji kenormalan dilakukan untuk mengetahui data berdistribusi normal atau tidak sehingga langkah selanjutnya tidak menyimpang dari kebenaran dan dapat dipertanggung jawabkan. Uji statistik yang digunakan adalah uji chi kuadrat yaitu:
i i i
E E O X
2 2
Keterangan:
X2 = harga Chi Kuadrat
Oi = frekuensi hasil pengamatan Ei = frekuensi yang diharapkan
Kriteria pengujian, jika X2hitung X2tabeldengan dk = k-3, maka data
[image:50.595.108.495.114.158.2]distribusi normal (Sudjana, 2005: 273).
Tabel 3.8 Hasil Uji Normalitas Populasi
No. Kelas X2hitung X2tabel Kriteria
1 XI IPA 1 5,0202 7,81 Distribusi normal
2 XI IPA 2 5,6547 7,81 Distribusi normal
3 XI IPA 3 3,3753 7,81 Distribusi normal
Berdasarkan Tabel 3.8 hasil uji normalitas populasi diperoleh X2hitung
X2tabel, maka populasi berdistribusi normal sehingga telah memenuhi salah satu
[image:50.595.152.531.537.604.2]3.6.1.2Uji homogenitas
Uji homogenitas ini digunakan untuk menunjukkan bahwa populasi benar-benar homogen. Rumus yang digunakan adalah uji Bartlett, yaitu:
2 2
log 1 10
ln B ni Si
dengan 1 logS2 ni B
1 /
1 2
i i
i S n
n S
Keterangan: 2
= besarnya homogenitas B = koefisien Barlet S2 = varians total
Si = varians masing-masing kelas
ni = jumlah masing-masing kelompok
Kriteria pengujian jika Kriteria 2hitung < 2tabel (1-α)(k-1) didapat dari distribusi chi
[image:51.595.127.459.522.564.2]kuadrat dengan peluang (1-α) dan dk = k-1, maka populasi homogen.(Sudjana, 2005: 263).
Tabel 3.9 Hasil Uji Homogenitas Populasi
Data 2
hitung 2tabel Kriteria
Niali UAS 1,272 5,99 Homogen
Berdasarkan tabel 3.9 diperoleh 2hitung =1,272 <
2
tabel (1-α)(k-1) =5,99 , maka
dapat disimpulkan bahwa H diterima yang berarti varians dari populasi tidak berbeda atau sama (homogen).
3.6.1.3Uji Kesamaan Keadaan Awal Populasi (Uji Anava)
Perhitungan uji ini ada beberapa langkah yaitu :
a) Menentukan jumlah kuadrat rata-rata (RY)
n x RY
2
) (
b) Menentukan jumlah kuadrat antar kelompok (AY)
RY ni
xi AY
2
) (
c) Menentukan jumlah kudrat total (JK total) JKtot = RY-AY
[image:52.595.176.462.432.469.2]d) Menentukan jumlah kudrat dalam kelompok (DY) DY = JKtot – RY – AY
Tabel 3.10 Hasil uji kesamaan keadaan awal populasi (Uji Anava) Data Fhitung Ftabel Kriteria
Nilai UAS Kimia 0,033 3,09 Homogen
Ketiga anggota populasi telah terbukti berdistribusi normal, memiliki homogenitas yang sama dan memiliki kesamaan rata-rata sehingga dapat dilakukan pengambilan smapel cluster random sampling yang menghasilkankelas XI IPA 1 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI IPA 2 sebagai kelas kontrol.
3.6.2 Analisis Tahap Akhir
3.6.2.1Uji normalitas data
Uji ini digunakan untuk mengetahui normal tidaknya data yang akan dianalisis. Uji statistik yang digunakan adalah uji chi-kuadrat.
i i i
E E O X
2 2
Keterangan: 2
= chi kuadrat i
O = frekuensi pengamatan i
E = frekuensi yang diharapkan K = banyaknya kelas
Membandingkan harga chi kuadrat data dengan tabel chi kuadrat dengan taraf signifikan 5% kemudian menarik kesimpulan, jika 2hitung< 2tabel(1-α)(k-3)
maka data berdistribusi normal.
3.6.2.2Uji Kesamaan Dua Varians
Uji kesamaan 2 varians bertujuan untuk mengetahui kesamaan varians dari populasi agar menaksir dan menguji bisa berlangsung. Hipotesis yang diajukan yaitu ;
Ho : 1
2
= 22 Ha :
1
2 2
2
Ho diterima apabila Fhitung F1/2
F =
terkecil terbesar ians
ians var var
Kriteria pengujian; jika harga Fhitung< Ftabel (nb-1): (nk-1), maka kedua
3.6.2.3Analisis terhadap pengaruh antar variabel
Rumus yang digunakan untuk menganalisis pengaruh antar variabel adalah:
Sy u
pq Y Y rb
. ) ( 1 2 Keterangan :
rb = koefisien biserial
Y1 = rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen
Y2 = rata-rata hasil belajar kelompok kontrol
p = proporsi pengamatan pada kelompok eksperimen q = proporsi pengamatan pada kelompok kontrol
u = tinggi ordinat dari kurva normal baku pada titik z yang memotong bagian luas normal baku menjadi bagian p dan q
[image:54.595.175.446.463.549.2]Sy = Simpangan baku dari kedua kelompok (Sudjana, 2005: 390) Tingkat hubungan antar variabel dapat dilihat pada tabel.
Tabel 3.11 Pedoman Untuk Memberikan Interprestasi Terhadap Koefisien Korelasi Biserial (Rb)
Analisis terhadap pengaruh antar variabel setelah didapat kemudian dimasukkan kedalam thitung dan dibandingkan dengan ttabel.
2
1 2
r n r t
(Soeprodjo, 2002: 108)
Kriteria analisis pegaruh antar variabel berpengaruh terhadap hasil belajar jika thitung> ttabel
.
Interval Koefisien Tingkat Hubungan 0,00 – 0,199
0,20 – 0,399 0,40 – 0,599 0,60 – 0,799 0,80 – 1,000
3.6.2.4Penentuan Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi merupakan koefisien yang menyatakan berapa persen (%) besarnya pengaruh suatu variabel bebas terhadap variabel terikat, dalam hal ini pengaruh penggunaan metode pembelajaran eksperimen terhadap hasil belajar siswa
Rumus yang digunakan adalah :
KD = rb2 x 100%
Keterangan:
KD : koefisien determinasi
rb : indeks determinasi yang diperoleh dari harga kuadrat rb koefisien biserial 3.6.2.5Uji Ketuntasan Hasil Belajar
Uji ketuntasan belajar bertujuan untuk mengetahui ketuntasan nilai kelompok eksperimen dan kontrol. Ketuntasan belajar individu dalam penelitian ini dilihat dari nilai postes. Hasil belajar dikatakan tuntas jika nilai postes lebih dari sama dengan 75. Ketuntasan belajar diuji dengan uji t (Sudjana, 2004: 239) sebagai berikut:
t = Keterangan :
x = rata-rata hasilbelajar s = simpangan baku n = banyaknya siswa Hipotesis:
Ho : µ < 71 Ha : µ ≥ 71
Kriteria yang digunakan adalah: Ha diterima jika t hitung >t(n- 1)(1-α)
keberhasilan kelas dapat dilihat dari sekurang-kurangnya 85% dari jumlah siswa yang ada di kelas tersebut telah mencapai ketuntasan individu.
Ketuntasan Klasikal = x 100%
3.6.2.6Analisis Deskriptif Untuk Data Hasil Belajar Afektif dan Psikomotorik
Pada analisis tahap akhir ini, digunakan data hasil belajar afektif. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui nilai afektif dan psikomotorik siswa baik kelompok kontrol maupun eksperimen. Rumus yang digunakan untuk menghitung nilai afektif siswa adalah :
Nilai =
total skor skor jumlah
x 100
Tabel 3.12 Kriteria Nilai Afektif dan Psikomotorik Siswa
Nilai siswa Kriteria
x ≥ 80 60 ≤ x < 80 40 ≤ x < 60 20 ≤ x < 40
x < 20
Sangat Baik Baik Cukup
Jelek Sangat Jelek
Tiap aspek dari hasil belajar afektif dan psikomotorik dianalisis untuk mengetahui rata-rat nilai tiap aspek dalam stau kelas dengan rumus:
Rata-rata nilai tiap aspek =
[image:56.595.158.415.624.714.2]Klasifikasi kriteria skor afektif dan psikomotorik dapat dilihat pada tabel 3.14. Tabel 3.13 Kriteria Nilai Rata-rata Afektif dan Psikomotorik
Nilai siswa Kriteria
3,40 < x ≤ 4,00 2,80 x ≤ 3,40 2,20 ≤ x ≤ 2,80 1,60 ≤ x ≤ 2,20 1,00 < x ≤ 1,60
Sangat Baik Baik Cukup
3.6.2.7Analisis Data Angket
Tanggapan siswa terhadap proses pembelajaran yang telah dilakukan pada kelas eksperimen diukur dengan menggunakan angket. Dimana analisis yang dilakukan ialah dalam bentuk skala Likert, yakni setiap pertanyaan diikuti dengan beberapa respon yang menunjukkan tingkatan (Suharsimi 2010: 194).Respon atau tanggapan terhadap masing-masing pertanyaan dinyatakan dalam 4 kategori, yaitu SS (sangat setuju), S (setuju), TS (tidak setuju), dan STS (sangat tidak setuju). Dimana bobot untuk masing-masing kategori SS = 4; S = 3; TS = 2; STS = 1. Perhitungan keseluruhan dilakukan dengan persentase (%) masing-masing tanggapan.Besarnya presentase tanggapan siswa dihitung dari jumlah skor siswa.
% tanggapan =
[image:57.595.151.428.414.566.2]Rata-rata nilai angket tiap aspek =
Tabel 3.14 Kriteria Nilai Angket
Nilai siswa Kriteria
3,40 < x ≤ 4,00 2,80 x ≤ 3,40 2,20 ≤ x ≤ 2,80 1,60 ≤ x ≤ 2,20 1,00 < x ≤ 1,60
Sangat Baik Baik Cukup
43
BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil Penelitian
Untuk mengetahui hasil penelitian, maka dilakukan analisis data yang diperoleh dari data hasil penelitian atau analisis data akhir. Analisis data tersebut akan menghasilkan simpulan apakah hipotesis yang diajukan ditolak atau diterima.
4.1.1 Analisis Data Tahap Akhir
Tujuan dari analisis tahap akhir adalah untuk menjawab hipotesis yang telah dikemukakan. Data yang digunakan untuk analisis tahap ini adalah data nilai post test, baik pada kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol.
4.1.2 Analisis Nilai Posttest
Analisis nilai posttest dilakukan dengan uji normalitas, uji kesamaan dua varians, uji ketuntasan hasil belajar, analisis pengaruh antar variabel, penentuan koefisien determinasi, analisis nilai afektif, psikomotorik, dan analisis angket. Adapun hasil analisis posttest yaitu sebagai berikut :
4.1.2.1Deskripsi Hasil Penelitian
[image:58.595.110.531.685.743.2]Hasil posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol terdapat pada Tabel 4.1. Tabel 4.1 Data Nilai Posttest Materi Penyangga dan Hidrolisis
Kelas N
Rata-rata SD
Nilai Tertinggi
Nilai Terendah
Eksperimen (XI IPA 1) 33 79,68 5,6 93,3 70
4.1.2.2Uji Normalitas
[image:59.595.109.508.171.227.2]Hasil uji normalitas data nilai posttest terdapat pada Tabel 4.2. Tabel 4.2 Hasil uji Normalitas data Nilai Posttest
Kelas hitung DK tabel Kriteria
Eksperimen 2,62 3 7,81 Berdistribusi Normal
Kontrol 2,05 3 7,81 Berdistribusi Normal
Data yang dianalisis adalah nilai posttest materi pokok larutan penyangga dan hidrolisis.Berdasarkan hasil analisis tersebut diperoleh hasil untuk hitung
setiap data< tabel maka dapat disimpulkan bahwa data tersebut berdistribusi
normal, sehingga uji selanjutnya memakai statistika parametrik.
4.1.2.3Uji Kesamaan Dua Varians Data Post Test
Hasil analisis perhitungan uji kesamaan dua varian data post test dapat dilihat pada table 4.3
Tabel 4.3 Hasil Uji Kesamaan Dua Varians Data Post Test
Data Fhitung Ftabel Kriteria
Post Test 1,077 2,04 Berdistribusi Homogen
Pada perhitungan uji kesamaan dua varians data post test antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diperoleh harga Fhitung = 1,077. Berdasarkan
tabel distribusi F untuk taraf signifikansi 2,5 % dengan dk = (32:31) diketahui harga F(0,025)(32:31) = 2,04. Harga Fhitung lebih kecil dari Ftabel maka dapat
disimpulkan bahwa Ho diterima. Hal ini berarti bahwa kedua kelompok mempunyai varians yang sama (homogen).
4.1.2.4Uji Hipotesis
learning dengan strategi LSQ pada pembelajaran kimia. Data posttest dianalisis menggunakan uji terhadap pengaruh pengaruh antar variabel, penentuan koefisien determinasi dan uji ketuntasan hasil belajar.
4.1.2.4.1 Analisis Terhadap Pengaruh Antar Variabel
Untuk menentukan besarnya pengaruh penerapan metode eksperimen berbasis lingkungan terhadap hasil belajar siswa materi pokok larutan penyangga dan hidrolisis digunakan rumus koefisien korelasi biserial.
Berdasarkan data diperoleh besarnya Y1 = 79,68; Y2 = 69,06; Sy = 8,68; p =
0,46; q = 0,54 dan u = 0.3973, menghasilkan koefisien korelasi biserial hasil belajar siswa (rb) sebesar 0,766 selanjutnya dimasukkan kedalam rumus thitung dan
didapat thitung sebesar 6,52 dan ttabel 2, 04. thitung> t tabel menunjukkan bahwa
model pembelajaran cooperativedengan strategi LSQ berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.
4.1.2.4.2 Penentuan Koefisien Determinasi
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh besarnya koefisien korelasi biserial hasil belajar (rb) sebesar 0,766, sehingga besarnya koefisien determinasi (KD)
adalah 58,66%. Jadi, besarnya kontribusi penerapan model pembelajaran
cooperative learning dengan strategi LSQ terhadap hasil belajar siswa materi pokok larutan penyangga dan hidrolisis adalah sebesar 58,66%.
4.1.2.4.3 Uji Ketuntasan Hasil Belajar
ketuntasan belajar atau tidak. Untuk mengetahui ketuntasan belajar individu dapat dilihat dari data hasil belajar siswa. Siswa dikatakan belajar jika hasil belajarnya mandapat nilai 71 atau lebih. Hasil uji ketuntasan dimuat pada tabel 4.4.
Tabel 4.4 Hasil Uji Ketuntasan Belajar kelas Eksperimen dan kontrol Kelas thitung T(0,95)(n-1) Kriteria
Eksperimen 8,903 2,037 Tuntas
kontrol 1,397 2,040 Tidak Tuntas
Hasil perhitungan uji ketuntasan belajar untuk kelas eksperimen diperoleh thitung> -t(0,95)(n-1), dapat disimpulkan bahwa rata-rata hasil belajar kelas
eksperimen lebih dari 71 atau dapat dinyatakan telah mencapai ketuntasan belajar. Sedangkan untuk kelas kontrol thitung< -t(0,95)(n-1), dapat disimpulkan bahwa
rata-rata hasil belajar kelas kontrol kurang dari 71 atau tidak dapat mencapai ketuntasan hasil belajar.
4.1.2.4.4 Analisis Deskriptif Data Hasil Belajar Afektif
[image:61.595.58.571.623.751.2]Penilaian dilakukan dengan penilaian afektif selama kegiatan belajar mengajar di kelas. Tiap aspek dianalisis secara deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui aspek mana yang dimiliki siswa dan aspek mana yang perlu dibina dan dikembangkan lagi. Rata-rata nilai afektif kelas eksperimen dan kontrol dapat dilihat pada Tabel 4.5.
Tabel 4. 5 Rata-rata Nilai Afektif pada Kelas Eksperimen dan kontrol
No Aspek
Kelas eksperimen Kelas kontrol Nilai
rerata
Kriteria Nilai rerata
Kriteria
1 Kehadiran siswa di kelas 5,0 Sangat Tinggi 5 Sangat Tinggi
2 Keseriusan mengerjakan tugas 4,9 Sangat tinggi 3,7 Tinggi
3 Keseriusan siswa bertanya 4,3 Sangat tinggi 3,8 Tinggi
Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat dikatakan rata-rata nilai aspek afektif kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol.
4.1.2.4.5 Analisis Deskriptif Data Hasil Belajar Psikomotorik
[image:62.595.114.519.348.602.2]Ranah psikomotorik yang digunakan untuk menilai siswa ada 8 aspek. Tiap aspek dianalisis secara deskriptif bertujuan untuk mengetahui aspek mana yang dimiliki siswa untuk dibina dan dikembangkan. Rata-rata nilai psikomotorik kelas kesperimen dan kontrol dapat dilihat pada tabel 4.6
Tabel 4. 6 Rata-rata Nilai Psikomotorik Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
No Aspek
Kelas Eksperimen Kelas Kontrol Nilai
rata-rata
Kriteria Nilai rata-rata
Kriteria 1 Persiapan praktikum
4,0 Sangat
Tinggi
3,9 Sangat tinggi 2 Dinamika kelompok
3,5 Sangat
Tinggi
2,8 Tinggi 3 Kelengkapan
persiapan alat dan bahan
4 Sangat
Tinggi
3,9 Sangat Tinggi 4 Ketrampilan dalam
menggunakan alat praktikum
3,6 Sangat
Tinggi
2,8 Tinggi
5 Penguasaan prosedur
kerja 3,0 Tinggi
2,8 Tinggi
6 hasil praktikum 3,3 Tinggi 3,2 Tinggi
7 Kebersihan
3,6 Sangat
Tinggi
2,5 Cukup
4.1.2.4.6 Analisis Angket Tanggapan Siswa Terhadap Pembelajaran
Data tanggapan siswa diperoleh dengan menggunakan angket. Penyebaran angket dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketertarikan siswa terhadap proses pembelajaran.
[image:63.595.130.496.402.587.2]Berdasarkan hasil perhitungan dapat disimpulkan siswa menyukai pembelajaran dengan model pembelajaral cooperative learning dengan strategi LSQ karena lebih menyenangkan, menarik, dan dapat membuat siswa lebih mudah memahami materi, hal ini dapat dilihat dari rasa ingin tahu siswa yang meningkat dalam pembelajaran dan mereka lebih termotivasi untuk giat belajar. Hasil penyebaran angket dapat dilihat pada gambar 4.1.
Gambar 4.1. Hasil Analisis Tanggapan Siswa terhadap model pembelajaran
cooperative learning dengan strategi LSQ
4.2
Pembahasan
penggunaan model pembelajaran cooperative dengan strategi LSQ terhadap hasil belajar siswa. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari – Maret 2014 di SMA N 1 Bergas. Alokasi Waktu pembelajaran pada kedua kelas relatif sama yakni 16 jam pelajaran dalam 7 kali pertemuan untuk pembelajaran di kelas termasuk praktikum, dan 1 kali pertemuan untuk posttest.
4.2.1 Kondisi Awal Sampel Penelitian
Populasi dalam penelitian ini yaitu siswa kelas XI IPA SMA N 8 Semarang tahun ajaran 2013/2014 yang terdiri atas 3 kelas dengan jumlah 97 siswa. Hasil analisis data awal menunjukkan populasi berdistribusi normal sehingga memenuhi syarat dalam menentukan uji statistik yaitu menggunakan uji statistik parametrik (Sudjana, 2005: 270). Kedua kelas kemudian diberi materi yang sama yaitu materi larutan penyangga dan hidrolisis dengan perlakuan yang berbeda. Pembelajaran di kelas eksperimen menggunakan model pembelajaran
cooperative dengan strategi LSQ dan kelas kontrol menggunakan model pembelajaran ceramah.