1
MISORIENTSI : ANCAMAN
PEMBANGUNAN TAPAN RENCANA
Oleh: Reza Fahmi MA.
Penulis adalah Ketua Lakpesdam Nahdlatul Ulama Kota Padang
Perubahan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi Universitas Islam Negeri Imam Bonjol merupakan hasil kerja keras segenap civitas akademika IAIN Imam Bonjol Padang, yakni salah satu lembaga pendidikan ke-Islaman negeri ditanah air tercinta. Alih status lembaga bukan hanya memiliki intepretasi tentang semakin meluasnya mandat lembaga untuk mengembangkan ilmu keagamaan di satu pihak, kemudian pada pihak lain untuk juga mengembangkan ilmu umum. Namun ini merupakan konsekuensi logis dari alih satus yang dijalankan.
Sehingga tantangan yang lebih besar adalah bagaimana lembaga tadi juga mengembangkan sarana dan prasaran penunjang realisasi perubahan status itu. Di mana perluasan kampus dengan membangun gedung-gedung baru menjadi tantangan tersendiri. Dengan demikian tidak-lah berlebihan bila kampus IAIN yang akan menjadi UIN Imam Bonjol Padang kemudian melaksanakan pembangunan kampus III di daerah Sungai Bangek.
Hanya saja pengembangan paradigma keilmuan yang semakin universal juga menuntut pemikiran yang matang untuk mereposisi pemindahan kampus ke-Islaman tersebut secara bertahap. Apabila kesalahan kebijakan untuk merelokasi fakultas yang akan dipindahkan secara bertahap itu dilaksanakan maka, tidak menutup kemungkinan akan banyak mahasiswa yang bertumbangan alias Drop Out dari kampus, karena mayoritas mahasiswa IAIN Imam Bonjol Padang berasal dari kelas menengah ke bawah (middle and lower income society).
Mereka umumnya akan tidak mampu membiayai kegiatan perkuliahan karena belum ada sarana penunjang bagi infrastruktur yang ada. Di mana belum ada trayek angkutan umum yang dibuka oleh pemerintah daerah kota Padang untuk memfasilitasi kemudahan transportasi mahasiswa. Kemudian belum ada asrama atau tempat kos serta pemondokan yang jumlahnya memadai untuk menampung mahasiswa. Ditambah lagi kalau pemindahan tersebut dimulai dari fakultas yang “miskin” jumlah mahasiswa. Dengan demikian potensi tergerusnya jumlah mahasiswa akan menjadi sebuah kenyataan pahit yang berpotensi pada matinya fakultas yang “miskin” mahasiswa tersebut.
Sungguhpun IAIN telah menggandeng Islamic Development Bank untuk membantu merealisasikan pembangunan kampus yang akan dilaksanakan secara bertahap. Namun ianya perlu pemikiran matang untuk memindahkan fakultas-fakultas yang ada karenanya hal tersebut dapat berdampak negatif bagi keberlangsungan lembaga ini. Mengingat pembangunan gedung-gedung kampus itu berdasarkan utang yang perlu dibayar, baik suka atau tidak suka dikemudian hari.
2
Imam Bonjol Padang, namun lebih kepada sikap prihatin dan perlunya pertimbangan dan kehati-hatian agar realisasi alih status IAIN menjadi UIN Imam Bonjol padang bisa berjalan secara terencana dengan pertimbangan rasional.
Soslusi yang ditawarkan adalah: (1) Perlunya pematangan unsur infrastruktur penunjang keberlangsungan keberadaan kampus. Utamanya penyediaan sarana transportasi bagi mahasiswa. Karena tidak semua mahasiswa memiliki kendaraan bermotor (baca: sepeda motor). Bahkan masih banyak mahasiswa yang menggunakan sepeda ke kampus untuk menghemat biaya transportasi. Sehingga trobosan kepada pemerintah daerah kota dan propinsi untuk meminta disediakan trayek angkutan kota khusus yang memudahkan transportasi ke kampus baru di Sungai Bangek tersebut. Mengingat biaya ojek dari simpang kalumpang ke daerah kampus III Sungai Bangek juga relatif mahal, antara Rp 7000 sampai dengan Rp 10.000 sekali jalan. Dan apabila dikalikan dua puluh lima hari saja sudah mencapai lebih kurang Rp 350.000 sampai dengan Rp 500.000,-. Tentunya hal ini sangat menyulitkan bagi mahasiswa yang memiliki uang saku hanya Rp 500.000- sebulan atau kurang.
(2) Belum tersedianya pemondokan juga memberikan makna bahwa,
lobby-lobby intens kepada pemerintah daerah di seluruh Sumbar yang konon berjanji untuk membangunkan fasilitas asrama bagi mahasiswa yang berasal dari daerah tertentu perlu semakin konkrit. Sehingga membangun asrama dengan
3
(4) Sarana jalan menjadi kebutuhan vital bagi proses akses transportasi yang menunjang kemudahan menuju kampus. Sehingga lobby-lobby kepada pemerintah propinsi yang intens perlu dijalankan. Mengingat pembangun jalan ke arah kampus bukan tanggung jawab pribadi atau golongan (para dosen dan karyawan IAIN Imam Bonjol semata), namun juga merupakan tanggungjawab pemerintah daerah dan propinsi serta masyarakat dalam menunjang kemajuan daerah tertinggal atau terisolir. Mengingat Sungai Bangek pernah menjadi salah satu daerah Inpres Desa Tertinggal (IDT) pada zaman Presiden Soeharto. Dengan kata lain daerah ini merupakan bagian dari kawasan minus atau sarang kemiskinan. Lobby pembangunan asrama tidak saja bisa dilakukan kepada pemerintah Kota Padang atau Propinsi Sumatera Barat. Bahkan bisa melalui pemerintah pusat dengan meminta bantuan kepada Kementerian Perumahan Rakyat atau lembaga perbankan untuk memfasilitasi terwujudnya asrama itu. Di mana IAIN Imam Bonjol Padang bisa meminta dibangunkan asrama kemudian biaya sewa asrama dari para mahasiswa yang tinggal pada asrama tersebut menjadi dana jaminan pengembalian keuangan pada pihak perbankan sebagai sebuah misalan.
(5) Memindahkan fakultas miskin mahasiswa (seperti; Fakultas Ekonomi dan Bisnis atau FEBI), tanpa mempersiapkan infrastruktur yang dibutuhkan akan berpeluang “bunuh diri”. Fakultas ini merupakan fakultas baru yang menjadi bentuk pengembangan Fakultas Syariah. Dengan demikian fakultas tersebut belum memiliki banyak mahasiswa. Walaupun Fakultas ini telah membuktikan menjadi fakultas terfavorit di IAIN Imam Bonjol Padang tahun lalu. Namun peminat akan semakin berkurang, ketika mereka mengetahui bahwa fakultas tersebut berada di luar kota padang yang minim infrastruktur dan sarana transportasi. Dengan itu tidak menutup kemungkinan fakultas ini semakin minim mahasiswa dan berakhir tragis “tinggal nama”.
(6) Fakultas yang selayaknya dipindahkan adalah Fakultas Tarbiyah dan Keguruan yang memiliki mahasiswa terbanyak dan terfavorit di IAIN Imam Bonjol Padang. Di mana 40% mahasiswa IAIN Imam Bonjol Padang berasal dari fakultas pendidikan dan keguruan tersebut. Sehingga kalaupun akan terjadi pengurangan jumlah maka prosentasenya masih sangat kecil berbanding peminat yang ingin memasuki fakultas pencetak para guru tersebut. Yang otomatis akan memberikan percepatan pengembangan wilayah terisolir tadi menjadi sebuah kota baru yang memiliki infrastruktur dan sarana transportasi yang memadai. Di mana semakin besar jumlah mahasiswa yang telah dipindahkan maka, semakin berlomba-lomba investor untuk memulai bisnis kos-kosan atau pemondokan mahasiswa. Kemudian semakin akan menjamurnya warung-warung yang memfasilitasi kebutuhan dasar mahasiswa. Ditambah lagi semakin gairah pengembang untuk membangun perumahan. Dengan demikian mengikut teori
Sosiologi Perkotaan dapat difahami secara sederhana bahwa “...Kota baru atau kota satelit akan terbentuk setelah penduduk semakin ramai dan insfrastutur dan transportasi serta sentra bisnis telah terbentuk dan berjalan lancar”.
4