• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ketahanan Fiber Plastic Composite (FPC) Dengan Penambahan Maleat Anhirida (MAH) Sebagai Compatibilizer Dan Benzoil Peroksida (BPO) Sebagai Inisiator Terhadap Serangan Rayap Tanah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Ketahanan Fiber Plastic Composite (FPC) Dengan Penambahan Maleat Anhirida (MAH) Sebagai Compatibilizer Dan Benzoil Peroksida (BPO) Sebagai Inisiator Terhadap Serangan Rayap Tanah"

Copied!
69
0
0

Teks penuh

(1)

KETAHANAN

FIBER-PLASTIC COMPOSITE

DENGAN

PENAMBAHAN MALEAT ANHIRIDA (MAH) SEBAGAI

COMPABILITIZER DAN BENZOIL PEROKSIDA

(BPO) SEBAGAI INISIATOR TERHADAP

SERANGAN RAYAP

SKRIPSI

Oleh:

PANDAPOTAN CHRISTIAN PURBA 091201058/ TEKNOLOGI HASIL HUTAN

PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS PERTANIAN

(2)

KETAHANAN

FIBER-PLASTIC COMPOSITE

DENGAN

PENAMBAHAN MALEAT ANHIRIDA (MAH) SEBAGAI

COMPABILITIZER DAN BENZOIL PEROKSIDA

(BPO) SEBAGAI INISIATOR TERHADAP

SERANGAN RAYAP

SKRIPSI

Oleh:

PANDAPOTAN CHRISTIAN PURBA 091201058/ TEKNOLOGI HASIL HUTAN

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara

PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS PERTANIAN

(3)

LEMBAR PENGESAHAN

Judul : Ketahanan Fiber Plastic Composite (FPC) Dengan

Penambahan Maleat Anhirida (MAH) Sebagai Compatibilizer Dan Benzoil Peroksida (BPO) Sebagai Inisiator Terhadap Serangan Rayap Tanah

Nama : Pandapotan Christian Purba

NIM : 091201058

Program Studi : Kehutanan

Minat Studi : Teknologi Hasil Hutan

Menyetujui, Komisi Pembimbing

Luthfi Hakim, S.Hut., M.Si Ridwanti Batubara, S.Hut., M.P Ketua Anggota

Mengetahui,

Siti Latifah, S.Hut., M. Si., Ph. D Ketua Program Studi Kehutanan

(4)

Pandapotan Christian Purba. The Durability of Fiber–Plastic Composite with Maleic Anhydride (MAH) as Compabilitizer and Benzoyl Peroxide (BPO) as

Initiator toward Termits Attack. Supervised by Luthfi Hakim and Ridwanti

Batubara.

ABSTRACT

The use of plastic fiber composite (FPC) for exterior purposes as one alternative to solid wood has a variety of power requirement one of which is resistant to termites. This study aimed to test the durability of fiber composite plastic derived from recycled corrugated old paper fibers and polypropylene (PP) with the addition of maleic andhirida (MAH) as compabilitizer and benzoyl peroxide (BPO) to termite attack. This research used Completely Randomized Design (CRD) factorial, there are two factors: comparison of corrugated old paper fibers and polypropylene (PP), which consists of 50:50, 60:40 and 70:30 and additive factors maleit anhirida (MAH) 1% and 2% and the results were compared with JIS A 5905-2003 S20 hardboard and JIS A 5908-2003 particleboards type 13 for physical properties and SNI 01 7202-2006 to test the grave yard test termites. The results showed after trials testing the grave for 100 days, the physical properties of the fiber composite plastic does not entirely meet the testing standards JIS A 5905-2003 S20 hardboard and JIS A 5908-2003 particleboards type 13. To test resistance to termite attack, some fiber plastic composite that meets the ISO standard FPC 50:50 01 7202-2006 1% MAH, 1% MAH 60:40, 60:40 and 70:30 2% MAH MAH while the remaining 2% are outside the standard.

(5)

Pandapotan Christian Purba. Ketahanan Fiber Plastic Composite (FPC) Dengan Penambahan Maleat Anhirida (MAH) Sebagai Compatibilizer Dan Benzoil Peroksida (BPO) Sebagai Inisiator Terhadap Serangan Rayap Tanah. Dibawah bimbingan Luthfi Hakim dan Ridwanti Batubara.

ABSTRAK

Penggunaan fiber plastic composite (FPC) untuk keperluan diluar ruangan sebagai salah satu alternatif pengganti kayu solid memiliki berbagai persayaratan salah satunya adalah daya tahan terhadap rayap. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji ketahanan fiber plastic composite yang berasal dari serat kardus daur ulang dan propilen (PP) dengan penambahan maleat andhirida (MAH) dan benzoil peroksida (BPO) terhadap serangan rayap. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial, 2 faktor: perbandingan serat kardus dan propilen (PP) yang terdiri dari 50:50, 60:40 dan 70:30 dan faktor zat aditif maleit anhirida (MAH) 1% dan 2% dan hasilnya dibandingkan dengan JIS A 5905-2003 hardboard S20 dan JIS A 5908-2003 particleboards type 13 untuk sifat fisis dan SNI 01 7202-2006 untuk pengujian rayap secara grave yard test. Hasil penelitian menunjukkan setelah pengujian uji kubur selama 100 hari, sifat fisis dari fiber plastic composite tidak seluruhnya memenuhi standar pengujian JIS A 5905-2003 hardboard S20 dan JIS A 5908-2003 particleboards type 13. Untuk pengujian ketahanan terhadap serangan rayap, beberapa fiber plastic composite

yang memenuhi standar SNI 01 7202-2006 yakni FPC 50:50 1% MAH, 60:40 1% MAH, 60:40 2% MAHn dan 70:30 2% MAH sedangkan sisanya berada diluar standar.

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis merupakan putri dari Ayahanda Bismark E.M Purba, SH dan

Ibunda Dra. Lusdiana Saragih yang dilahirkan pada tanggal 8 April 1992 di Kota

Medan. Penulis putra pertama dari tiga bersaudara.

Penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar HKBP Sidorame Medan

Barat pada tahun 2003, pendidikan tingkat Sekolah Menengah Pertama dari SMP

Budi Murni I Medan tahun 2006 dan pendidikan tingkat Sekolah Menengah Atas

dari SMA Negeri 3 Medan tahun 2009. Pada tahun 2009 penulis lulus seleksi

penerimaan perguruan tinggi negeri melalui jalur Ujian Masuk Bersama (UMB)

pada Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara,

dan pada semester VII memilih minat studi Teknologi Hasil Hutan.

Semasa kuliah penulis merupakan anggota pada organisasi Himpunan

Mahasiswa Sylva (HIMAS) USU. Penulis juga pernah menjadi Asisten Sifat Fisis

dan Mekanis Kayu pada tahun 2011, Praktikum Pengenalan Ekosistem Hutan

selama 10 hari di Tongkoh, Sumatera Utara tahun 2011, Praktikum Anatomi dan

Identifikasi Kayu pada tahun 2012. Pada tahun 2013 penulis juga pernah bekerja

sebagai salah satu karyawan di restoran Pizza Hut Medan di Sumatera Utara.

Penulis mengikuti Praktik Pengenalan Ekosistem Hutan (PPEH) di Taman

Hutan Raya Bukit Barisan, Gunung Barus dan Hutan Pendidikan USU Kabupaten

Karo selama 10 hari. Penulis juga telah menyelesaikan Praktik Kerja Lapang di

PT Sumalindo Hutani Jaya II, Sei Mao, Kalimantan Timur. Dan pada semester

VII penulis melakukan penelitian yang berjudul “Ketahanan Fiber Plastic

(7)

Serangan Rayap Tanah” sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar

(8)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala

berkat dan anugerahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Skripsi ini berjudul “Ketahanan Fiber Plastic Composite (FPC) Dengan

Penambahan Maleat Anhirida (MAH) Sebagai Compatibilizer Dan Benzoil

Peroksida (BPO) Sebagai Inisiator Terhadap Serangan Rayap Tanah”.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas Fiber Plastic

Composite (FPC) yaitu sifat fisis, kualitas FPC dan ketahanan terhadap serangan

rayap tanah serta pola serangan rayap. Hasil penelitian diharapkan mendapat suatu

perbandingan komponen penyusun Fiber Plastic Composite (FPC) yang tepat

untuk dapat direkomendasikan agar dapat digunakan untuk keperluan eksterior.

Dalam penyelesaian skripsi ini Penulis menyadari keterbatasan yang

Penulis miliki sehingga melibatkan banyak pihak, untuk itu Penulis

menyampaikan terima kasih kepada:

1. Komisi Pembimbing yang terhormat Bapak Luthfi Hakim S.Hut., M.Si. dan

Ibu Ridwanti Batubara, S.Hut., M.P. yang telah membimbing, memberi

masukan dan semangat.

2. Kedua orang tua terkasih yang selalu mendukung dalam doa, semangat dan

materi, kepada adik-adik terkasih Yohana Mariza Purba dan Maria Elisa Purba

beserta seluruh keluarga besar yang senantiasa memberikan semangat dan doa.

3. Sarmauli Purba yang telah turut mendukung dalam semangat dan materi..

4. Teman-teman seperjuangan penelitian, Vicky Fadliansyah Sihombing, Sari

(9)

5. Teman-teman tim PKL dan Sahabat terkasih Rudi Meirawan Pohan, Nicho

Chandra Siregar, dan Kaya Muda Lubis terima kasih untuk kerja sama,

bantuan, semangat dan kebersamaan kita.

6. Teman-teman Kehutanan USU stambuk 2009 THH, BDH, MNH yang tidak

dapat penulis sebutkan satu per satu. Keluarga besar THH 2009 terima kasih

untuk kebersamaan, kehangatan kekeluargaan, semangat dan doa.

Penulis menyadari masih ada kekurangan maupun kesalahan dalam skripsi

ini, untuk itu penulis mohon maaf. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih

dan berharap skripsi ini bermanfaat dan menjadi sumber informasi.

Medan, September 2013

(10)

DAFTAR ISI

Manfaat Penelitian ... 4

Hipotesis Penelitian ... 4

TINJAUAN PUSTAKA Papan Komposit ... 5

Wood Plastic Composite... 7

Plastik ... 10

Serat Kardus... 13

MAH (Maleat anhirida) ... 14

BPO (benzoil peroxide) ... 15

Rayap Sebagai Perusak Bahan berlignolselulosa ... 15

Rayap Tanah (Macrotermes gilvus Hagen) ... 16

METODOLOGI Waktu dan Tempat Penelitian ... 19

Bahan dan Alat Penelitian ... 19

Prosedur Penelitian ... 19

Persiapan Contoh Uji ... 19

Pembuatan Lubang Tanam ... 20

(11)

Pengujian Kualitas Papan ... 23

Pengukuran Tingkat Serangan Rayap ... 24

Analisis Data ... 24

HASIL DAN PEMBAHASAN Sifat Fisis Fiber Plastic Composite ... 27

Kerapatan ... 27

Kadar Air ... 31

Daya Serap Air ... 34

Pengembangan Tebal ... 36

Uji Ketahanan Papan FPC Terhadap Serangan Rayap Tanah ... 39

Pola Serangan Rayap ... 42

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 45

Saran ... 45

(12)

DAFTAR TABEL

No Halaman

1. Kualifikasi Papan Pertikel Menurut FAO (1958) dan USDA (1955)... 21

2. Nilai Sifat Fisis Papan Komposit Menurut Standar JIS A 5905-2003

Hardboard S20 dan JIS A 5908-2003 particleboard type 13 ... 23

3. Klasifikasi Ketahanan Kayu Atau Produk Kayu Terhadap

Serangan Rayap... 23

4. Kelas Ketahanan Terhadap Serangan Rayap Dari Papan FPC Termodifikasi Berdasarkan SNI 01 7202-2006 ... 41

(13)

DAFTAR GAMBAR

No Halaman

1. Letak Lubang Tanam FPC Terhadap Sarang Rayap Tanah ... 20

2. Pola Pengacakan Contoh Uji FPC Pada Lubang Tanam ... 21

3. Grafik Rata-Rata Kerapatan FPC Termodifikasi ... 27

4. Grafik Nilai Rata-Rata Kadar Air FPC Termodifikasi ... 31

5. Grafik Rata-Rata Daya Serap Air FPC Termodifikasi... 34

6. Grafik Rata-Rata Pengembangan Tebal Papan FPC Termodifikasi ... 37

7. Grafik Rata-Rata Nilai Penurunan Berat Papan FPC Termodifikasi ... 39

8. FPC 50:50 2% Setelah Pengujian Serangan Rayap ... 43

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

No Halaman

1. Data Kerapatan FPC Termodifikasi ... 49

2. Data Analisis Sidik Ragam Kerapatan FPC Termodifikasi ... 49

3. Data Kadar Air FPC Termodifikasi ... 49

4. Data Analisis Sidik Ragam Kadar Air FPC Termodifikasi ... 49

5. Data Uji Duncan Kadar Air FPC Termodifikasi ... 50

6. Data Pengembangan Tebal FPC Termodifikasi ... 50

7. Data Analisis Sidik Ragam Pengembangan Tebal FPC Termodifikasi ... 50

8. Hasil Uji Duncan Pengembangan Tebal FPC Termodifikasi ... 50

9. Data Daya Serap Air FPC Termodifikasi ... 51

10. Data Analisis Sidik Ragam Daya Serap Air FPC Termodifikasi ... 51

11. Hasil Uji Duncan Daya Serap Air FPC Termodifikasi ... 51

12. Data Penurunan Berat FPC Termodifikasi... 51

13. Data Analisis Sidik Ragam Penurunan Berat FPC Termodifikasi ... 52

14. Data Uji Duncan Penurunanan Berat FPC Termodifikasi` ... 52

15. Data Kerapatan FPC Sebelum Pengujian Grave Yard Test ... 52

16. Data Berat FPC Sebelum Uji Grave Yard Test (BA Sebelum Oven) ... 53

(15)

Pandapotan Christian Purba. The Durability of Fiber–Plastic Composite with Maleic Anhydride (MAH) as Compabilitizer and Benzoyl Peroxide (BPO) as

Initiator toward Termits Attack. Supervised by Luthfi Hakim and Ridwanti

Batubara.

ABSTRACT

The use of plastic fiber composite (FPC) for exterior purposes as one alternative to solid wood has a variety of power requirement one of which is resistant to termites. This study aimed to test the durability of fiber composite plastic derived from recycled corrugated old paper fibers and polypropylene (PP) with the addition of maleic andhirida (MAH) as compabilitizer and benzoyl peroxide (BPO) to termite attack. This research used Completely Randomized Design (CRD) factorial, there are two factors: comparison of corrugated old paper fibers and polypropylene (PP), which consists of 50:50, 60:40 and 70:30 and additive factors maleit anhirida (MAH) 1% and 2% and the results were compared with JIS A 5905-2003 S20 hardboard and JIS A 5908-2003 particleboards type 13 for physical properties and SNI 01 7202-2006 to test the grave yard test termites. The results showed after trials testing the grave for 100 days, the physical properties of the fiber composite plastic does not entirely meet the testing standards JIS A 5905-2003 S20 hardboard and JIS A 5908-2003 particleboards type 13. To test resistance to termite attack, some fiber plastic composite that meets the ISO standard FPC 50:50 01 7202-2006 1% MAH, 1% MAH 60:40, 60:40 and 70:30 2% MAH MAH while the remaining 2% are outside the standard.

(16)

Pandapotan Christian Purba. Ketahanan Fiber Plastic Composite (FPC) Dengan Penambahan Maleat Anhirida (MAH) Sebagai Compatibilizer Dan Benzoil Peroksida (BPO) Sebagai Inisiator Terhadap Serangan Rayap Tanah. Dibawah bimbingan Luthfi Hakim dan Ridwanti Batubara.

ABSTRAK

Penggunaan fiber plastic composite (FPC) untuk keperluan diluar ruangan sebagai salah satu alternatif pengganti kayu solid memiliki berbagai persayaratan salah satunya adalah daya tahan terhadap rayap. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji ketahanan fiber plastic composite yang berasal dari serat kardus daur ulang dan propilen (PP) dengan penambahan maleat andhirida (MAH) dan benzoil peroksida (BPO) terhadap serangan rayap. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial, 2 faktor: perbandingan serat kardus dan propilen (PP) yang terdiri dari 50:50, 60:40 dan 70:30 dan faktor zat aditif maleit anhirida (MAH) 1% dan 2% dan hasilnya dibandingkan dengan JIS A 5905-2003 hardboard S20 dan JIS A 5908-2003 particleboards type 13 untuk sifat fisis dan SNI 01 7202-2006 untuk pengujian rayap secara grave yard test. Hasil penelitian menunjukkan setelah pengujian uji kubur selama 100 hari, sifat fisis dari fiber plastic composite tidak seluruhnya memenuhi standar pengujian JIS A 5905-2003 hardboard S20 dan JIS A 5908-2003 particleboards type 13. Untuk pengujian ketahanan terhadap serangan rayap, beberapa fiber plastic composite

yang memenuhi standar SNI 01 7202-2006 yakni FPC 50:50 1% MAH, 60:40 1% MAH, 60:40 2% MAHn dan 70:30 2% MAH sedangkan sisanya berada diluar standar.

(17)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pada era modern sekarang, kebutuhan akan kegunaan kayu semakin

meningkat. Kebutuhan kayu kebanyakan diperuntukkan bagi kegiatan

pembangunan suatu bangunan. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan

teknologi, kebutuhan manusia pun semakin meningkat dan beraneka ragam,

termasuk kebutuhan terhadap kayu dan plastik. Berbagai macam produk yang

terbuat dari kayu dan plastik banyak terdapat di sekitar kita, baik berupa mainan

anak-anak, maupun sebagai komponen bahan bangunan. Karena sifat dan

karakteristiknya yang unik, kayu merupakan bahan yang paling banyak digunakan

untuk keperluankonstruksi. Dipihak lain, seiring dengan perkembangan makan

kebutuhan akan plastik pun tidak terelakkan.

Penggunaan kayu untuk keperluan bahan bangunan membutuhkan

persyaratan yang ketat dan baik. Kayu dengan kualitas yang baik tentu saja

memiliki kelas kekuatan dan keawetan yang baik pula. Akan tetapi, ketersediaan

kayu dengan kriteria tersebut sangat sulit untuk didapatkan. Salah satu yang dapat

dilakukan adalah dengan pemanfaatan bahan subsitusi berupa papan serat.

Produksi papan serat dari limbah-limbah produksi kayu merupakan salah satu

solusi untuk mengatasi masalah kelangkaan kayu saat ini, baik sebagai bahan

baku papan struktural (papan konstruksi) maupun nonstruktural (interior dan

pelapis). Produk komposit tersebut dapat berupa papan partikel, papan serat, OSB,

comply, WPC dan produk komposit lainnya.

Salah satu jenis papan serat yang dikembangkan dewasa ini adalah jenis

(18)

merupakan campuran bahan plastik dengan bahan berlignoselulosa lainnya

dengan kadar tertentu. Fiber plastic composite (FPC) tersusun atas serat bahan

berlignoselulosa yang dicampur dengan bahan plastik dengan kadar tertentu.

Adapun bahan berlignoselulosa dapat digunakan serat kardus. Hal ini dikarenakan

limbah kardus yang terdapat di Indonesia dapat dikatakan cukup besar. Serat

kardus itu sendiri selain mudah didapatkan juga mudah diberi perlakuan jika ingin

memodifikasi atau memisahkan seratnya.

Limbah plastik dan sekam jumlahnya cukup besar di Indonesia. Jumlah

sampah plastik telah mencapai 1,6 juta ton per tahun atau sekitar 4.400 ton per

hari (harian Sinar Harapan, 2001) dan jumlah itu akan terus meningkat seiring

dengan meningkatnya produksi plastik setiap tahunnya. Sedangkan menurut BPS

(2007) produksi padi sekitar 57,05 juta ton per tahun dan sekam yang dapat

dihasilkan sekitar 11,41 juta ton per tahun. Jika jumlah dari limbah plastik dan

sekam terus meningkat dikawatirkan akan memberikan dampak yang buruk

terhadap lingkungan. Untuk itu perlu ada alternatif untuk menggunakan kembali

limbah plastik dan sekam. Alternatif yang dapat digunakan adalah dengan

menggunakan kedua bahan tersebut menjadi bahan baku papan serat. Plastik yang

digunakan adalah plastik daur ulang jenis Polypropylene. Disamping dapat

mengurangi limbah plastik dan sekam, papan serat yang dibuat dapat menjadi

subtitusi kayu.

Akan tetapi dalam proses pembuatan sebuah produk papan serat seperti

FPC, diperlukan bahan aditif lainnya untuk proses pengikatan antar molekul serat

kardus dan polypropylene. Bahan kimia yang dapat dijadikan berupa maleat

(19)

sebagai coupling agent yang berfungsi untuk mengikatkan molekul polypropylene

dengan serat kardus.

Papan serat ataupun papan partikel senantiasa menggunakan perekat di

dalam proses pembuatannya. Perekat sintetis yang bersifat termosetting seperti

Urea Formaldehida (UF), Phenol Formaldehida (PF), dan Melamin Formaldehida

(MF) sangat sering dipakai. Sebagi perekat, khususnya Melamin Formaldehida,

banyak digunakan untuk membuat peralatan rumah tangga seperti piring,

mangkok dan cangkir. Krisis energi mendorong untuk mendapatkan perekat kayu

dari sumber daya terbarukan, yaitu dari bahan-bahan berligninselulosa. Meskipun

demikian, kekuatan dari perekat papan partikel belum mencapai hasil yang

optimal yang diharapkan (Ruhendi, 2000).

Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan dari Sdr. Erika Jayanta

Sianturi yang berjudul “ Kualitas Fiber Composite Dengan Penambahan Maleit

Anhirida (MAH) dan Benzoil Peroksida (BPO)”. Pengujian terhadap rayap

merupakan pengujian untuk melihat seberapa jauh suatu produk papan serat dapat

bertahan menghadapi organisme perusak seperti rayap. Hal ini juga berhubungan

dengan masa pakai suatu produk papan serat mengingat frekuensi serangan rayap

pada bahan berlignoselulosa di pemukiman meningkat seiring dengan semakin

sempitnya area penyebaran alami rayap (Kusnadi, 2003)

Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah :

1. Untuk menguji ketahanan Fiber Plastic Composite yang dibuat dari serat

kardus dan polipropilena dengan penambahan maleat anhidrida (MAH)

(20)

terhadap serangan rayap tanah serta mengidentifikasi jenis rayap tanah yang

menyerangnya.

2. Untuk melihat pola serangan rayap terhadap Fiber Plastic Composite yang

dibuat dari serat kardus dan polipropilena dengan penambahan maleat

anhidrida (MAH) sebagai coupling agent dan benzoil peroksida (BPO)

sebagai katalisator.

Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah untuk memberikan informasi mengenai

ketahanan papan Fiber Plastic Composite (FPC) terhadap serangan rayap tanah

dan untuk memberikan solusi alternatif pengganti kayu sebagai bahan bangunan

yang tahan akan serangan rayap.

Hipotesis

1. Interaksi antara faktor perbandingan Polipropilen (PP) dengan kardus dan

penambahan zat aditif (MAH dan BO) berpengaruh terhadap serangan

rayap.

2. Perbandingan Polipropilen (PP) dengan kardus dan penambahan zat aditif

(21)

TINJAUAN PUSTAKA

Papan Komposit

Papan serat adalah papan tiruan yang di buat dari serat kayu atau lignin

selulosa lain, dengan cara tenunan serat yang dikejutkan dengan penekanan oleh

kempa plat atau rol. Bahan perekat atau bahan lain dapat ditambahkan untuk

meningkatkan sifat papan seperti sifat mekanis, ketahanan kelembaban, ketahanan

terhadap api maupun serangga. Dewasa ini komposit kayu plastik (Wood-Plastic

Composite) adalah salah satu sektor yang paling dinamis dari industri plastik.

Material ini terdiri dari campuran serat kayu atau sejenisnya dengan polimer yang

bersifat termoplastik seperti polietilena (PE), polipropilena (PP) dan sebagainya.

Polimer termoplastik akan lunak bila dipanaskan dan akan mengeras setelah

dingin. Sifat-sifat ini memungkinkan material lain seperti partikel kayu atau

sejenisnya dapat bercampur dengan plastik jenis ini membentuk suatu material

komposit (Manning et. al, 2006).

Sifat papan serat baik sifat fisis maupun mekanis, tidak terlepas dari

faktor-faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor ini digunakan sebagai

pertimbangan dalam pembuatan papan serat untuk mendapatkan hasil sesuai

kriteria yang diinginkan. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap sifat papan

serat yaitu:

1. Bahan Baku

a. Berat Jenis

Panshin dan Zeeuw (1952) menyatakan bahwa kayu yang

(22)

digepengkan. Hal ini disebabkan kayu yang mempunyai berat jenis tinggi

umumnya mempunyai dinding sel yang tebal sehingga daya tahan terhadap

pengembangan lebih besar. Keadaan tersebut akan mempengaruhi sifat fisis

dan mekanis papan serat yang dihasilkan.

b. Kandungan Kimia

Zat ekstraktif berupa minyak dan lemak mengurangi daya ikat papan

serat, sedangkan resin dan tanin berpengaruh baik terhadap kekuatan papan

serat. Zat ekstraktif dapat juga menimbulkan noda pada papan serat yang

dihasilkan serta meningkatkan pemakaian perekat dan daya serap air

(Maloney 1993).

c. Dimensi Serat

FAO (1958) diacu dalam Yandesman (1998), mengemukakan bahwa

serat yang berdinding tebal akan mempertahankan bentuk pipa dan bersifat

kaku. Hal ini menyebabkan pengikatan tidak sempurna. Sebaliknya serat

yang berdinding tipis akan mudah menjadi pipih, sehingga permukaan

pengikatan lebih luas.

2. Bahan Penolong

a. Perekat

Pemberian perekat pada pembuatan papan serat proses kering harus

dilakukan, sedang pada proses basah perekat ditambahkan hanya untuk

memperbaiki ikatan antar serat dan ketahanan terhadap cuaca. Perekat yang

biasa digunakan dalam pembuatan papan serat adalah urea formaldehida,

(23)

disukai karena harganya lebih murah, penanganannya mudah, dan tidak

menimbulkan pewarnaan pada produk akhir (Maloney 1993).

b. Bahan Tambahan Khusus (additives)

Pemberian bahan tambahan khusus dimaksudkan untuk

memperbaiki sifat-sifat tertentu papan serat. Bahan tambahan yang sering

digunakan pada pembuatan papan serat yaitu parafin (wax) sebagai bahan

penolak air (water repellant), asam sulfur untuk menurunkan pH adonan

(slurry), dan natrium bikarbonat untuk meningkatkan pH adonan ke tingkat

yang diinginkan (Koch 1985 diacu dalam Yandesman 1998).

Wood Plastic Composite (WPC)

Penerapan industri terhadap serat alami membutuhkan pembuatan serat

berkualitas tinggi yang terus tersedia dalam jumlah besar dengan harga yang

kompetitif dan independen dari kondisi cuaca dan hasil tahunan. Teknologi

pengolahan konvensional tidak dapat memenuhi tuntutan yang ketat dari industri

modern. Akibatnya, teknologi baru harus dikembangkan agar berhasil mendirikan

pabrik dengan proses yang kuat untuk mengahasilkan serat kulit pohon alami.

Oleh karena itu serat alami dapat berfungsi sebagai penguat tidak hanya dengan

meningkatkan kekuatan dan kekakuan dan juga mengurangi berat bahan komposit

yang dihasilkan, meskipun sifat dari serat alami bervariasi dalam hal

pembuatannya. Dalam rangka meningkatkan kinerja dari komposit, matriks atau

penguatan sering perlu dimodifikasi. Banyak proses pembuatan bekerja pada

modifikasi permukaan lingo-selulosa serat dan kain dengan memperkuat atau

(24)

dengan bahan penghubung dengan polimer yang berbeda WPC merupakan salah

satu turunan dari papan partikel. Tersusun atas material utama berupa kayu (dapat

berupa serpihan, partikel, ataupun serat) dan plastik (umumnya plastik daur ulang

seperti polietilen ataupun polipropilen). Secara garis besar, bahan komposit terdiri

dari dua macam yaitu bahan komposit (Ruhendi, 2000).

Partikel (particulate composite) dan bahan komposit serat (fiber

composite). Bahan komposit partikel terdiri dari partikel-partikel yang diikat oleh

matriks. Bentuk partikel ini dapat bermacam-macam, seperti : bulat, kubik,

tetragonal atau bahkan bentuk-bentuk yang tidak beraturan secara acak, tetapi

secara rata-rata berdimensi sama. Sedang bahan komposit serat terdiri dari

serat-serat yang diikat oleh matriks. Bahan komposit serat-serat ini juga terdiri dari dua

macam yaitu serat panjang (continuous fiber) dan serat pendek (short fiber atau

whisker). Pada komposit berbasis selulosa, faktor yang mempengaruhi kekuatan

komposit serat dengan matriks termoplastik adalah penyebaran serat, gaya ikat

serat matriks, aspek perbandingan serat (Lf/Df), fraksi serat dan orientasi serat.

(Kumar, et.al, 2011).

Sejak 1980-an, kayu-polimer komposit (WPC) telah banyak digunakan

untuk produk bangunan , bahan kemasan, dan aplikasi lainnya. Oleh karena itu,

WPC telah menjadi salah satu bahan yang tumbuh paling dinamis dalam industri

kayu. Diperkirakan bahwa permintaan untuk WPC akan mencapai lebih dari 1,4

miliar dolar di seluruh dunia pada tahun 2007. Seperti komposit kayu dan kayu,

WPC rentan pada serangan jamur dan rayap karena komponen kayu terbungkus

dalam matriks termoplastik. Penelitian telah menunjukkan bahwa lebih kayu

(25)

komposit diproduksi dengan partikel besar dan kerentanan peluruhan meningkat

dengan adanya konten kayu dan ukuran partikel. Pada akhir-akhir ini telah

dilakukan upaya untuk meningkatkan ketahanan peluruhan WPC dengan

penggunaan borat seng dan bahan kimia lainnya (Duan, et.al, 2007).

Keunggulan terbesar Wood Plastic Composite (WPC) adalah sifatnya

yang ramah lingkungan yang merupakan pendekatan dari penggunaan sisa-sisa

kayu dan material plastik daur ulang. WPC memiliki biaya perawatan yang rendah

jika dibandingkan dengan kayu solid. Salah satu alasan dari penggunaan WPC

yang akan semakin meningkat adalah biaya siklus hidup yang rendah dari WPC

itu sendiri (Smith and Wolcott, 2006).

Umumnya, WPC memiliki biaya 15% lebih mahal jika dibandingkan

dengan jenis papan partikel berbasis bahan berlignoselulosa lainnya, tetapi WPC

memiliki biaya perawatan yang lebih rendah. Stabilitas dimensi yang sempurna

dengan variabilitas yang rendah juga dapat dilihat sebagai salah satu keunggulan

dari produk-produk WPC. Banyak penelitian di banyak negara berkonsentrasi

dalam meningkatkan ketahanan dan perpanjangan masa pakai WPC mengingat

ketertarikan dalam hal penggunaan WPC untuk keperluan diluar ruangan.

Kenyataannya, WPC pada dasarnya diproduksi sebagai produk yang memiliki

daya tahan terhadap serangan fungi ataupun rayap dan serangga lainnya.

Bagaimanapun juga, berdasarkan hasil pengamatan didapati bahwa WPC masih

dapat menyerap sedikit air yang nantinya akan menjadi katalis pertumbuhanan

jamur meski hal tersebut jauh lebih rendah dibandingakan produk kayu solid

(26)

Pada umumnya penelitian papan komposit kayu plastik yang ada saat ini

lebih terfokus pada extruded material dimana serbuk kayu digunakan sebagai

bahan pengisi atau penguat (reinforcement) pada matriks termoplastik, dan baru

sedikit yang terfokus pada penggunaan plastik pada produk panel seperti papan

partikel maupun papan serat (Wolcott, 2003). Selanjutnya dikatakan bahwa

penggunaan termopastik dalam pembuatan papan partikel dapat dilakukan dengan

teknik pengempaan panas.

Plastik

Penggunaan plastik yang semakin meningkat akhir-akhir ini juga

meningkatkan jumah limbahnya. Data dari Biro Pusat Statistik volume impor

bahan-bahan plastik tahun 2009 adalah sebesar 1.038,5 ton (Depperin,2009), dan

kemungkinan meningkat setidaknya 10 % pertahun. Plastik sebagai limbah sangat

sulit terdekomposisi di alam sekitar, sehingga kemungkinan terbaiknya adalah

dengan mendaur ulangpemanfaatannya menjadi produk lain. Limbah plastik yang

dapat didaur ulang potensial untuk digunakan sebagai matriks dalam pembuatan

kayu komposit berpadu dengan plastik. Plastik mempunyai sifat hidrofibik,

sehingga komposit yang dihasilkan lebih tahan terhadap air dan kelembaban.

Selain itu bahan plastik tidak disukai rayap, sehingga tanpa perlakuan

pengawetan, papan komposit berbahan plastik tidak akan dimakan rayap, bebas

emisi formaldehida dan ramah lingkungan (Massiyaya et al. 1999).

Secara garis besar plastik dapat dibedakan atas dua tipe yaitu plastik yang

(27)

a. Termoplastik

Termoplastik adalah plastik yang dapat dilunakkan berulang kali (recycling)

dengan temperatur tinggi (panas). Termoplastik merupakan polimer yang akan

menjadi keras apabila didinginkan. Jika dipanaskan, material ini memiliki

kemampuan untuk mengalir atau mencair kembali. Polimer termoplastik terdiri

dari dua tipe struktur yang berbeda yaitu amorf dan semi kristalin.Polimer amorf

merupakan polimer dengan struktur molekul yang tersusun secara acak. Pada suhu

di bawah Glass Transition Temperature (Tg), rantai polimer amorf beku pada

keadaan tertentu dan polimer menjadi zat yang keras atau mudah hancur dan

rapuh. Dengan naiknya suhu mendekati Tg, polimer menjadi lebih kenyal dan

cukup air. Contoh polimer yang termasuk amorf termoplastik adalah polystyrene,

polymethyl methacrylate, polycarbonate, unplastikized polyvinyl chloride, dan

plastikized polyvinyl chloride. Contoh polimer semi kristalin adalah High Density

Polyethylene (HDPE), Low Density Polyethylene (LDPE), Polypropylene (PP),

Polyamida dan Polytetrafluoroethylene (Osswald dan Menges 1996).

Terdapat empat jenis sampah plastik yang populer dan banyak di produksi

yaitu polietilena (PE), polietilena kerapatan tinggi (High Density Polyethylene )

selanjutnya disingkat HDPE , polipropilena (PP), dan asoi. HDPE termasuk salah

satu jenis bahan yang memiliki sifat padat, keras, kuat dan kedap air, yang sukar

terdegradasi secara alamiah, sehingga merupakan penyebab pencemaran

lingkungan yang potensial (Hartono, 1998)

Plastik High Density Polyethylene (HDPE) merupakan termoplastik

Polyethylene yang dibuat dari petroleum. HDPE merupakan jenis polyethylene

(28)

dari Low Density Polyethylene (LDPE), tetapi kurang bisa diperpanjang. HDPE

merupakan salah satu bahan plastik yang sedikit lebih aman untuk digunakan

karena kemampuan untuk mencegah reaksi kimia antara kemasan plastik berbahan

HDPE dengan makanan atau minuman yang dikemas dengan plastik jenis ini.

Walau begitu, plastik jenis ini juga direkomendasikan hanya untuk sekali pakai,

karena pelepasan senyawa antimoni trioksida yang dapat meningkat seiring

dengan waktu. Plastik jenis ini biasanya diberi kode 2 dan biasanya dipakai untuk

botol susu yang berwarna putih susu, tupperware, galon air minum, dan lain-lain.

LDPE atau low density polyethylene adalah jenis plastik yang biasa dipakai untuk

tempat makanan (Tupperware), plastik kemasan makanan, dan beberapa

botol-botol yang dipakai untuk kemasan minuman. Jenis plastik ini biasa diberi dengan

kode 4. Jenis plastik ini dapat di daur ulang dan baik untuk barang-barang yang

memerlukan fleksibilitas tetapi kuat. Jenis plastik dengan kode 4 cukup sulit untuk

dihancurkan tetapi tetap baik untuk tempat makanan karena sulit bereaksi secara

kimiawi dengan makanan yang dikemas dengan jenis plastik ini. Polystyrene (PS)

biasa dipakai sebagai bahan tempat makan jenis styrofoam, tempat minum sekali

pakai, dan lain-lain. Bahan Polystyrene bisa membocorkan bahan styrine ke dalam

makanan ketika makanan tersebut bersentuhan. Bahan Styrine sangat berbahaya

untuk kesehatan otak, mengganggu hormon estrogen pada wanita yang berakibat

pada masalah reproduksi, dan sistem syaraf. Bahan ini harus dihindari di beberapa

negara maju seperti Amerika dan beberapa negara di eropa telah melarang

penggunaan plastik ini (Massijaya, dkk, 2000)

Polypropylene merupakan salah satu jenis termoplastik. Plastik jenis ini

(29)

Polypropylene termasuk jenis plastik Olefin dan merupakan polimer dari

Propylene. Diantara material plastik lainnya, Polypropylene memiliki kerapatan

yang paling rendah, yaitu berkisar antara 0.9 – 0.915 dengan Tg berkisar -200C,

serta titik leleh yang tinggi (165 – 1700C). Dengan sifat yang tahan terhadap panas

dan bahan-bahan kimia, Polypropylene merupakan satu-satunya plastik yang

mampu dikombinasikan untuk berbagai tujuan elektrikal. Rigiditas, kekerasan,

stabilitas dimensi, permukaan, dan melt flow lebih baik dibandingkan material

termoplastik lainnya. Selain itu harganya juga lebih murah. Selanjutnya karena

sifat-sifatnya tersebut, Polypropylene memiliki potensi sebagai matrik molding

dalam pembuatan produk dalam skala besar (Kusnadi, 2003).

Serat Kardus

Telah diketahui bahwa bahan berlignoselulosa merupakan bahan yang

bersifat higroskopis, karena dinding selnya mengandung gugus hidroksil yang

reaktif. Pada lingkungan yang mengandung uap air, komponen lignolselulosa

yang kering akan menyerap uap air sampai kadar kesetimbangan dengan

lingkungan. Begitu juga kayu yang jenuh air ketika ditempatkan ditempat yang

kelembapan relatifnya lebih rendah akan kehilangan uap air sampai kadar air

kesetimbangan dengan lingkungannya. Dimensi dari suatu bahan berlignoslulosa

akan berubah sejalan dengan perubahan kadar air dalam dinding sel, karena di

dalam dinding sel terdapat gugus OH (hidroksil) dan oksigen lain yang bersifat

menarik uap air melalui ikatan hidrogen. Kembang susut kayu yang paling besar

berturut-turut adalah pada bidang tangensial, radial, dan aksial. Stabilitas dimensi

kayu adalah kemampuan kayu itu untuk menahan perubahan dimensi karena

(30)

Kardus atau Corrugated Old Paper sebagai sebuah bahan dasar kemasan

memiliki daur hidup yang sangat singkat, dihargai hanya selama proses distribusi

produk dari produsen kekonsumen berlangsung. Material kardus untuk saat ini

dipandang sebagai kebutuhan sekunder dalam suatu proses produksi industri.

Kenyataannya kardus sangat rasionil dan potensial dalam satu rekayasa desain,

memenuhi kriteria untuk digunakan sebagai bahan baku utama. Kardus sebagai

bahan dasar kemasan yang memiliki daur hidup singkat, memiliki kelebihan dan

kelemahan, dalam pengaplikasiannya pada produk turunan lain, yaitu :

a. Struktur kardus olahan atau hasil recycle tidak jauh berbeda dengan kardus

baru, perbedaan utamanya adalah ketebalan yang terjadi karena penambahan

lapisan gelombang.

b. Proses cetak dilakukan dengan sistem cetak sablon (silk-screen printing),

masking, atau hand-painting. Teknik pencetakan sablon cukup sulit untuk

diterapkan karena permukaan material ini tidak begitu rata, disebabkan alur

gelombang atau flute; sehingga bagian yang cekung tidak dapat tercapai oleh

screen sablon dan tinta tidak dapat tercetak dengan merata.

c. Berasal dari bahan baku yang dapat didaur ulang, dan karena penambahan

unsur lain (perekat) berbasis air; maka material ini layak untuk diproses daur

ulang, dan bersifat bio-degradable (dapat diurai oleh tanah) (Hon, 1996).

MAH (Maleat anhirida)

Asam maleat atau Asam (Z)-butenadioat atau asam toksilat adalah

senyawa organik yang merupakan asam dikarboksilat. Molekul ini terdiri dari

gugus etilena yang berikatan dengan dua gugus asam karboksilat. Asam maleat

(31)

isomer transnya. Isomer cis kurang stabil; perbedaan kalor pembakarannya adalah

22,7 kJ/mol. Sifat-sifat asam maleat sangatlah berbeda dengan asam fumarat.

Asam maleat larut dalam air, sedangkan asam fumarat tidak; titik lebur asam

maleat adalah (130-139 °C), juga lebih rendah dari titik lebur asam fumara (287

°C). Perbedaan sifat ini dapat dijelaskan oleh ikatan hidrogen intramolekul yang

terjadi pada asam maleat.Dalam bidang industri, asam maleat diturunkan dari

maleat anhidrida dengan hidrolisis. Maleat anhidrida diproduksi dari benzena atau

butena melalui proses oksidasi. Adapun MAH (maleat anhirida) berfungsi

sebagai coupling agent. Coupling agent adalah fungsi yang dilakukan MAH untuk

menyempurnakan kombinasi pengikatan antar molekul plastik dengan bahan

berlignoselulosa berupa serat bahanberlignoselulosa (Tajvidil, et.al, 2006)

BPO (Benzoil Perokisda)

BPO atau yang sering disebut dengan benzoil peroksida merupakan

inisiator pada proses pembuatan papan serat. Selain berfungsi sebagai katalisator

untuk mempercepat proses perekatan antara matrikis dengan filler, BPO juga

berperan dalam memperbaiki sifat fisi dan mekanik yang akan dihasilkan dari

proses pembuatan papan serat tersebut. Walaupun demikian, sifat termal yang

dimiliki oleh FPC tersebut masih belum mencapai standar yang cukup optimal

dalam pengujian (Maulana dkk, 2011).

Rayap Sebagai Perusak Bahan Berlignoselulosa

Bahan berlignoselulosa berupa papan komposit juga dapat diserang

(32)

termasuk banyaknya ragam jenis tumbuhan di Indonesia sangat mendukung

kehidupan rayap. Lebih dari 80% daratan Indonesia merupakan habitat yang baik

bagi kehidupan berbagai serangga ini (Nandika et al.1996).

Indonesia sebagai negara tropis dengan iklim dan cuaca yang hangat

sepanjang tahun merupakan suatu tempat hidup yang sangat sesuai bagi

organisme perusak kayu ini (Tarumingkeng, 2004). Sampai dengan tahun 1971

para ahli hama telah menemukan kira-kira 2000 jenis rayap yang tersebar di

seluruh dunia dan sekitar 120 spesies merupakan serangga hama, sedangkan di

Indonesia sendiri telah ditemukan tidak kurang dari 200 jenis rayap yang dikenal

baru sekitar 20 spesies yang diketahui berperan sebagai hama perusak kayu serta

hama hutan/pertanian (Tarumingkeng, 1971).

Siklus hidup rayap mengalami metamorfosis bertahap atau gradual

(hemimetabola), dari telur kemudian nimfa sampai menjadi dewasa melalui

beberapa instar (bentuk diantara dua tahap perubahan). Perubahan yang gradual

ini berakibat terhadap kesamaan bentuk badan secara umum, cara hidup, dan jenis

makanan antara nimfa dan dewasa. Namun, nimfa yang memiliki tunas, sayapnya

akan tumbuh sempurna pada instar terakhir ketika rayap telah mencapai tingkat

dewasa (Nandika, et al, 2003).

Rayap Tanah (Macrotermes gilvus Hagen)

Rayap Macrotermes gilvus Hagen. termasuk ke dalam famili Termitidae,

sub-famili Macrotermitidae dan genus Macrotermes. Kepala rayap ini berwarna

coklat tua. Mandibel berkembang dan berfungsi, mandibel kiri dan kanan simetris

dan tidak memiliki gigi marginal. Mandibel melengkung pada ujungnya dan

(33)

Labrum ini memiliki hyalin pada ujungnya. Antena terdiri atas 16-17 ruas

(Nandika et. al., 2003).

Taksonomi dari rayap tanah M. gilvus Hagen. adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Divisi : Avertebrata

Kelas : Insecta

Ordo : Isoptera

Famili : Termitidae

Sub famili : Macrotermitidae

Genus : Macrotermes

Spesies : Macrotermes gilvus Hagen.

Rayap adalah serangga sosial anggota bangsa Isoptera yang dikenal luas

sebagai hama penting kehidupan manusia. Rayap bersarang did an memakan kayu

perabotan atau kerangka rumah sehingga menimbulkan banyak kerugian secara

ekonomi. Sebutan rayap mengacu pada hewannya secara umumnya. Dalam

koloni, rayap tidak memiliki sayap. Namun demikian, beberapa rayap dapat

mencapai bentuk bersayap pada awal musim penghujan di petang hari dan

berterbangan mendekati cahaya yang dikenal dengan bentuk laron atau anal-anal

(Anton, 2001)

Rayap tanah Captotermes spp. adalah salah satu dari banyak hama yang

menyebabkan kerusakan serius pada produk hasil kayu khususnya sebagai

material bangunan.. Di antara kerusakan kayu yang diakibatkan oleh serangga,

rayap tanah merupakan jenis rayap yang menimbulkan kerusakan paling besar dan

(34)

ganas dalam menyerang kayu adalah rayap tanah (Coptotermes cun'ignathus

Holmgren). Serangan rayap ini adalah yang paling mencolok dibandingkan

dengan kerusakan oleh serangan organisme perusak yang lain, dan keadaan ini

diperburuk dengan penggunaan spesies-spesies kayu yang keawetannya rendah.

Oleh karena itu, selain pengendalian untuk rayap itu sendiri, penggunaan bahan

lain yang bersifat anti terhadap serangan rayap perlu diaplikasikan baik dalam

(35)

METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat Penelitian

Pelaksanaan penelitian ini dilakukan mulai bulan Desember 2012 – Maret

2013. Penelitian dilaksanakan di 2 lokasi yaitu di Laboratorium Teknologi Hasil

Hutan Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian Medan untuk pengujian sifat

fisis contoh uji papan, di Hutan Thri Darma Universitas Sumatera Utara untuk

pengujian ketahanan contoh uji papan terhadap serangan rayap tanah.

Bahan dan Alat Penelitian

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel uji Fiber Plastic

Composite (FPC) berukuran 10 x 5 x 1 cm sebanyak 36 sampel dengan komposisi

perbandingan polipropilena dengan serat kardus (50:50, 60:40 dan 70:30),

persentase penambahan zat aditif benzoil peroksida dan maleat anhidrida (1 %

dan 2 %) sebanyak 6 ulangan, kertas lakmus, cat minyak,dan papan seng,

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kaliper, mikrometer

sekrup, timbangan dengan ketelitian 0,01( sampai dua desimal dibelakang koma) ,

oven, desikator, cutter, camera digital, dan Program Pengolah Data SPSS versi 20.

Prosedur Penelitian

1. Persiapan Contoh Uji

Contoh uji merupakan Fiber Plastic Composite yang dibuat dari serat

kardus dan polipropilena dengan penambahan maleat anhidrida (MAH)

sebagai coupling agent dan benzoil peroksida (BPO) sebagai katalisator

sebanyak 36 sampel yang berukuran 10 x 5 cm x 1 cm. Sebelum ditanam,

dilakukan pengovenan pada suhu 80oC terhadap FPC untuk mencapai berat

(36)

2. Pembuatan Lubang Tanam

Lubang tanam yang akan dibuat berfungsi sebagai tempat dikuburnya

sampel uji ( FPC ) yang berukuran 10 x 5 cm. Lokasi lubang tanam dibuat

sedekat mungkin dengan sarang rayap tanah. Ukuran kedalaman lubang

tanamnya adalah sedalam 8 cm. Adapun polanya adalah sebagai berikut :

Gambar 1. Letak Lubang Tanam FPC Terhadap Sarang Rayap Tanah

3. Penanaman Contoh Uji

Contoh uji FPC sebanyak 36 buah di tanam pada kedalaman 8 cm di

bawah permukaan tanah. Lamanya penanaman contoh uji adalah selama 100

hari. Peletakan contoh uji dilakukukan secara acak ( random ) dan diusahakan

sedekat mungkin dengan sarang rayap tanah. Adapun pola penyebarannya

adalah sebagai berikut :

Sarang Rayap

(37)

Gambar 2. Pola Penanaman Contoh Uji FPC Pada Lubang Tanam

4. Pengamatan

Pengamatan dilakukan sekali dalam kurun waktu penelitian yakni

pada saat akhir masa kubur contoh uji (FPC) yakni 100 hari.

5. Pengujian Sifat Fisis

Pengujian sifat fisis papan Fiber Plastic Composite (FPC) antara lain

kerapatan, kadar air, daya serap air dan pengembangan tebal.

a. Kerapatan

Pengujian kerapatan dilakukan pada kondisi kering udara dan volume

kering udara. Contoh uji berukuran 10 cm x 5 cm x 1 cm ditimbang beratnya,

lalu diukur rata-rata panjang, lebar, dan tebalnya untuk menentukan volume

contoh uji. Nilai kerapatan papan FPC dihitung dengan rumus :

Kerapatan (g/cm3) =

) (

) (

3 cm Volume

gram Berat

Standar pengujian kerapatan juga disesuaikan dengan klasifikasi papan

partikel (serat) menurut FAO (1958) dan USDA (1955) seperti tabel dibawah

(38)

Tabel 1. Klasifikasi Papan Partikel Menurut FAO (1958) dan USDA (1955)

Papan serat lunak agag kaku, SRF (Semi Rigid) 0,02–0,15 1,25-9,5 Papan serat lunak kaku, RF (Rigid) 0,15-0,40 9,5-25

Ditekan

Papan serat sedang (MDF) 0,40-0,80 25-50 Papan serat keras (Hardboard/HF) 0,80-1,20 50-75 Papan serat spesial (SDHF) 1,20-1,45 75-90 Sumber : Kollmann et al. (1975)

b. Penurunan Berat

Pengujian penurunan berat dilakukakan dengan cara menghitung selisih

berat awal (Ba) sebelum ditanam dalam keadaan BKO (Berat Kering Oven)

dengan berat akhir (Bo) yaitu berat contoh uji setelah masa penanaman di

lokasi sarang rayap selama 100 hari. Perhitungannya dapat dirumuskan

sebagai berikut :

Penurunan Berat = Berat awal (Ba) – Berat akhir (Ba) Berat awal (Ba)

c. Kadar Air (KA)

Contoh uji yang digunakan untuk menguji kadar air papan komposit

berukuran 10 cm x 5 cm x 1 cm. Kadar air papan partikel dihitung

berdasarkan berat awal (BA) dan berat kering tanur (BKT) selama 6 jam pada

suhu 80 °C. Nilai kadar air papan FPC dihitung berdasarkan rumus :

(39)

d. Daya Serap Air (DSA)

Contoh uji berukuran 10 cm x 5 cm x 1 cm ditimbang berat awalnya (B1).

Kemudian ditanam di dalam tanah selama 100 hari, setelah itu ditimbang

beratnya (B2). Nilai daya serap air papan FPC dihitung berdasarkan rumus :

Daya Serap Air (%) = 100%

e. Pengembangan Tebal

Contoh uji berukuran 10 cm x 5 cm x 1 cm sama dengan contoh uji daya

serap air. Pengembangan tebal didasarkan pada tebal sebelum (T1) yang

diukur pada keempat sudut dan dirata-ratakan dalam kondisi kering udara dan

tebal setelah penanaman (T2) selama 100 hari. Nilai pengembangan tebal

papan komposit dihitung berdasarkan rumus :

Pengembangan Tebal (%) = 100%

6. Pengujian Kualitas Papan

Pengujian sifat fisis dan mekanis dilaksanakan berdasarkan standar JIS

(Japanese International Standard) A 5905-2003 dan standar JIS A

(40)

pengembangan tebal, dan daya serap air (untuk sifat fisis). Nilai standar JIS A

5905-2003 hardboard S20 dan JIS A 5908 (2003) particleboards type 13

ditampilkan pada Tabel 1.

Tabel 2. Nilai Sifat Fisis Papan Komposit Menurut Standar JIS A 5905-2003

Hardboard S20 Dan JIS A 5908-2003 Particleboardstype 13

No. Sifat Fisis Mekanis JIS A 5905-2003

hardboard S20

7. Pengukuran Tingkat Serangan Rayap Tanah

Sampel uji yang telah kering oven dengan suhu 800C selama 6 jam setelah

penanaman selama 100 hari, dibelah menjadi 2 bagian pada bagian tebalnya

untuk melihat tingkat serangan rayap tanah di dalam sampel uji. Tingkat

serangan dinilai berdasarkan perbandingan bagian yang rusak dengan luas

permukaan yang diukur. Untuk menilai tingkat serangan penilaian dapat

dilihat seperti pada Tabel 2.

Tabel 3. Klasifikasi Ketahanan Kayu atau Produk Kayu Terhadap Serangan Rayap Tanah.

Sumber : SNI 01. 7202-2006

8. Analisis Data

Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial,

dengan dua faktor perlakuan yaitu faktor A adalah perlakuan perbandingan

(41)

B adalah perlakuan zat aditif yaitu benzoil peroksida sebanyak 1% dan 2%

dari berat maleat anhidrida. Contoh uji dilakukan sebanyak 6 kali ulangan.

Sehingga jumlah papan komposit kayu plastik yang diproduksi sebanyak 36

papan. Model statistik yang digunakan adalah:

Yijk = µ + αi + βj + (αβ)ij + ∑ijk

Keterangan :

Yijk : Pengamatan perlakuan pemberian perbandingan plastik : bahan baku

taraf ke-i (polipropilena : serat kertas kardus), zat aditif taraf ke-j (MAH

dan BPO) dan ulangan taraf ke-k (1, 2, 3).

µ : Rataan umum/nilai tengah.

Αi : Pengaruh perbandingan plastik : bahan baku taraf ke-i (polipropilena :

serat kertas kardus)

Βj : Pengaruh zat aditif taraf ke-j (MAH).

(αβ)ij :Pengaruh interaksi perlakuan pemberian perbandingan plastik : bahan baku

taraf ke-i (polipropilena : serat kertas kardus) dan zat aditif taraf ke-j

(MAH).

∑ijk : Pengaruh acak galat percobaan dari perlakuan pemberian perbandingan

plastik : bahan baku taraf ke-i (polipropilena : serat kertas kardus), zat

aditif taraf ke-j (MAH) dan ulangan ke-k (1, 2, 3).

Ada tidaknya pengaruh perlakuan terhadap respons maka dilakukan

analisis sidik ragam berupa uji F pada tingkat kepercayaan 95% menggunakan

perangkat lunak SPSS 20.0. Untuk mengetahui pengaruh dari perlakuan-perlakuan

yang dicoba, dilakukan analisis keragaman dengan kriteria uji jika F hitung ≤ F

(42)

hitung kedua faktor tunggal yaitu perbedaan komposisi polipropilena : serat

kardus (50:50, 60:40, dan 70:30) dan persentase benzoil perosida (BPO) dari berat

maleat anhidrida (MAH) (1 % dan 2 % ) serta interaksi antara keduanya

(43)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sifat Fisis Fiber Plastic Composite

Kerapatan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerapatan FPC dengan zat aditif

MAH (maleat anhirida) 1 dan 2 % setelah di uji coba ketahanan rayap selama 100

hari dengan grave yard test dan perbandingannya dengan saat sebelum uji grave

yard test adalah seperti pada Gambar 3.

Gambar 3. Grafik Rata-Rata Kerapatan FPC Termodifikasi

Berdasarkan grafik rata-rata kerapatan FPC pada Gambar 3 di atas

diketahui bahwa terdapat penurunan nulai kerapatan setelah masa pengujian FPC

selama 100 hari dengan metode grave yard test. Penurunan tingkat kerapatan

terjadi pada seluruh sampel uji kecuali pada sampel uji dengan per;akuan 60:40

1%. Berdasarkan standar uji yang digunakan yakni JIS A 5905-2003 hardboard

S20, contoh uji yang memenuhi standar tersebut adalah contoh uji dengan

perlakuan 50:50 1%, 60:40 1%, 60:40 2%, 0:30 1% dan 70:30 2%. Hasil yang

(44)

ditunjukkan pada Gambar 3 menyatakan bahwa kerapatan yang diperoleh

perlakuan FPC 60:40 1% mengalami kenaikan dibandingkan dengan kerapatan

FPC tersebut sebelum grave yard test. Hal ini terjadi diduga memiliki hubungan

dengan tingginya daya serap air pada perlakuan FPC 60:40 1% (berdasarkan

Gambar 5 sebesar 3,43%) dibandingkan dengan sampel pengujian lainnya.

Tingginya kemampuan FPC 60:40 1% menyerap air memungkinkan air tersimpan

pada gugus penyusun FPC tersebut selama proses pengujian yang menyebabkan

bertambahnya massa dari papan FPC tersebut.Apabila dikaitkan dengan kadar air

(Gambar 4), maka kenaikan massa dari FPC 60:40 1% setelah pengujian grave

yard test dapat dikatakan normal. Pengaruh peningkatan massa pada FPC dengan

perlakuan 60:40 1% diduga akibat pengaruh kenaikan kadar air sebesar 3,81%

sesudah pengujian serangan rayap adalah lebih tinggi dibandingkan sebelum

pengujian.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan nilai rata-rata kerapatan yang

diperoleh pada FPC termodifikasi (diberi perlakuan PP:SK (50:50, 60:40, 70:30)

dan MAH 1% dan 2%) setelah 100 hari pengujian grave yard test berkisar antara

0,75 s.d 0,9 g/cm3. Nilai kerapatan tertinggi adalah 0,9 g/cm3 yakni pada FPC

70:30 2% . Nilai kerapatan terendah terdapat pada papan FPC 50:50 2% yakni

sebesar 0,75 g/cm3. Walaupun demikian, secara keseluruhan nilai kerapatan papan

FPC termodifikasi sudah memenuhi standar JIS A 5908 (2003) yang memiliki

kisaran kerapatan standar yakni 0,400 s.d 0,900 g/cm3.

Adanya variasi dari besaran nilai kerapatan pada FPC termodifikasi dapat

disebabkan beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut dapat dibagi atas komposisi PP

(45)

konsentrasi zat aditif MAH (maleat anhirida) pada FPC. Komposisi PP dan serat

kardus yang memiliki nilai kerapatan terbaik adalah 70:30 2% yaitu 0,9 g/cm3.

Kandungan PP yang cukup tinggi (70:30) terhadap serat kardus membuat

kerapatan selama masa pengujian grave yard test tidak banyak berubah. Hal ini

juga diduga karena propylene merupakan jenis plastik yang memiliki kekerasan

dan stabilitas yang cukup baik. Semakin tinggi konsentrasi PP terhadap serat

kardus dapat meningkatkan kestabilan kerapatan papan FPC selama masa

pengujian grave yard test. Hal ini sesuai dengan Kusnaedi (2003) polypropylene

merupakan satu-satunya plastik yang mampu dikombinasikan untuk berbagai

tujuan. Rigiditas, kekerasan, stabilitas dimensi, permukaan, dan melt flow lebih

baik dibandingkan material termoplastik lainnya.

Berdasarkan Gambar 5 terlihat bahwa nilai kerapatan pada papan FPC

berbeda-beda dan terdapat variasi yang berbeda juga antarkonsentrasi. Variasi

nilai ini diduga oleh ukuran serat yang digunakan tidak sama sehingga tidak

meratanya penyebaran tiap-tiap komponen pada tahap penyatuan PP dan serat

kardus saat proses pembuatan FPC. Distribusi komponen dalam papan FPC yang

tidak menyebar merata menyebabkan saat proses pengempaan, tekanan yang

diterima pada tiap lembaranpapan FPC tidak sama. Hal ini dapat menyebabkan

selama pengujian grave yard test, kemampuan tiap-tiap FPC dalam

mempertahankan stabilitas terhadap serangan rayap dan kondisi iklim

berbeda-beda sehingga pada akhirnya meskipun volume papan FPC sama tetapi berat

papan dapat berbeda.

Adanya zat aditif pada papan FPC membuat sifat-sifat tertentu pada papan

(46)

atas standar JIS 5908 A (2008) yakni FPC 70:30 2% (0,9g/cm3) membuktikan

bahwa selain komposisi PP:serat kardus yang tinggi, adanya zat aditif dalam

konsentrasi yang lebih akan memperbaiki sifat-sifat tertentu pada papan FPC

sehingga terkait dengan serangan rayap, FPC tersebut dapat mempertahankan

kerapatannya sendiri dengan baik. Hal ini sesuai dengan Yandesman (1998)

bahwa pemberian bahan tambahan khusus dimaksudkan untuk memperbaiki

sifat-sifat tertentu papan serat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa FPC termodifikasi yang diuji dengan

grave yard test termasuk dalam kategori papan serat keras (Hardboad/HF)

berdasarkan klasifikasi papan partikel (serat) menurut FAO (1958) dan USDA

(1955) pada tabel 1. Hal ini ditunjukkan pada nilai kerapatan papan FPC yang

berkisar antara 0,75 s.d 0,9 g/cm3. Meskipun demikian, terdapat 1 papan FPC

yang memiliki kerapatan dibawah kategori papan serat keras, yakni FPC 50:50

2% yang hanya memilikin kerapatan 0,67 g/cm3(dibawah standar FAO (1958) dan

USDA (1955) yakni < 8g/cm3 ), sehingga dikategorikan sebagai papan serat

sedang (MDF).

Berdasarkan hasil analisis sidik ragam perbedaan nilai kerapatan yang

diperoleh pada setiap papan FPC tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan

dan faktor perbandingan PP:serat kardus dan adanya zat aditif MAH (1% dan 2%)

tidak berpengaruh nyata terhadap kerapatan papan FPC selama pengujian grave

yard test. Hal tersebut didukung dari hasil analisis ragam kerapatan papan serat

FPC yang dilakukan bahwa faktor perbandingan PP dan serat kardus dan zat aditif

tidak mempengaruhi kerapatan papan serat. Demikian juga, faktor interaksi antara

(47)

mempengaruhi kerapatan papan serat FPC yang diuji (Lampiran 2). Hal ini karena

kerapatan yang diperoleh dari pengujian grave yard test hampir sama pada setiap

perlakuan.

Kadar Air

Hasil penelitian rata-rata kadar air FPC dengan zat aditif MAH 1 % dan

2% setelah di uji coba ketahanan rayap selama 100 hari dengan grave yard

testdisajikan pada Gambar 4 dan dapat dilihat lengkap pada Lampiran 3 dan 4.

Gambar 4. Grafik Nilai Rata-Rata Kadar Air FPC Termodifikasi

Berdasarkan Gambar 4 di atas ditunjukkan bahwa terdapat perubahan

rataan nilai keadaan kadar air pada seluruh sampel FPC yang diuji sebelum dan

sesudah uji grave yard test selama 100 hari. Kadar air tertinggi diperoleh FPC

dengan perlakuan 50:50 2% MAH dan kadar air terendah diperoleh FPC dengan

perlakuan 70:30 2% MAH. Perubahan signifikan terjadi pada FPC 50:50 2% dan

FPC 70:30 1%. Menurut JIS A 5905-2003 hardboard S20 dan JIS A 5908-2003

particleboards type 13 disebutkan bahwa sebelum pengujian grave yard test FPC

50:50 2% dan FPC 70:30 1% masuk dalam kriteria kedua standar. Akan tetapi,

(48)

setelah pengujian grave yard test kedua FPC tersebut berada diluar kedua standar

pengujian yang digunakan. Hal ini diduga terjadi akibat bentuk FPC yang

menunjukkan tidak meratanya penyebaran serat kardus dan plastik PP pada proses

awal pembentukan FPC termodifikasi ini. Ketidakmerataan penyebaran ini dapat

menyebabkan lemahnya ikatan plastik PP dengan serat kardus yang akhirnya

mempermudah masuknya molekul air kedalam gugus OH yang tedapat pada serat

kardus yang merupakan bahan berlignoselulosa.

Berdasarkan JIS A 5905-2003untuk hardboard dan JIS A 5908 (2003),

papan yang nilai kadar airnya berada dibawah 5% adalah papan FPC 50:50 1%

MAH dan 70:30 2% MAH. Variasi nilai kadar air pada masing-masing papan

FPC termodifikasi itu sendiri memiliki kecenderungan yang tidak normal. Seperti

terlihat pada FPC 50:50 2% MAH yang memiliki nilai kadar air dengan perbedaan

yang sangat jauh dengan contoh uji lainnya. Hal ini diduga akibat kondisi dan

letak papan FPC pada lokasi pengujian grave yard testdan juga perbedaan kondisi

terkait dengan keberadaan air selama masa pengujian pada masing-masing lokasi

penanaman papan FPC berpengaruh terhadap perbedaan nilai kadar air pada

papan FPC 50:50 2% MAH dibandingkan dengan papan FPC termodifikasi

lainnya. Satu papan FPC termodifikasi lain yang memiliki nilai rata-rata kadar air

yang berada diluar standar JIS A 5905-2003 adalah FPC 70:30 1% MAH dengan

nilai rata-rata kadar air sebesar 13,34%.

Gambar 4 menunjukkan bahwa terdapat beberapa papan FPC

termodifikasi yang memiliki nilai kadar air dibawah 5 %. Hal ini diduga terjadi

karena molekul air sulit menembus gugusan komponen FPC yang tersusun atas

(49)

diduga berpengaruh terhadap penangkapan molekul air dimana serat kardus

mengandung gugus selulosa yang mampu mengikat molekul air. Dan apabila

keberadaan gugus selulosa sedikit maka akan sulit untuk menyerap dan mengikat

molekul air ke dalam papan FPC termodifikasi.

Faktor lain yang mempengaruhi nilai kadar air pada papan FPC adalah

kerapatan papan FPC. Semakin tinggi kerapatan pada papan FPC, maka kadar

airnya akan semakin rendah. Beberapa FPC yang membuktikan hal ini adalah

FPC 70:30 2% dan C dan 60:40 1% dan 2% serta 50:50 1%. Hal ini terbukti pada

papan FPC dengan nilai kerapatan yang tinggi seperti pada Gambar 3 memiliki

kadar air yang rendah seperti tampak pada Gambar 4.

Kadar air papan FPC juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan karena

papan FPC dalam campurannya terdiri dari bahan berlignoselulosa yang memiliki

sifat higroskopis sehingga dapat menyerap dan mengeluarkan molekul air dari

atau ke dalam papan FPC itu sendiri. Selain itu faktor kelembaban dari keadaan

disekelilingnya akan membantu bahan berlignoselulosa itu dalam hal menyerap

atau melepaskan air. Berdasarkan pengamatan pada keadaan lokasi pengujian

grave yard test, dapat diketahui keadaan pada lokasi pengujian dan keadaan lokasi

tanam tergolong memiliki kadar air tinggi baik di dalam lokasi penanaman

maupun udara sekitar lokasi penenaman sampel uji coba FPC termodifikasi.

Berdasarkan analisis ragam kadar air papan FPC termodifikasi

menunjukkan bahwa faktor perbandingan PP:serat kardus dan zat aditif MAH (1%

dan 2%) tidak berpengaruh nyata terhadap kadar air papan FPC termodifikasi.

(50)

kardus dan zat aktif MAH (1% dan 2%) pada Lampiran 2 berpengaruh nyata

terhadap kadar air papan FPC termodifikasi.

Hasil uji Duncan pada perlakuan interaksi perbandingan PP:serat kardus

dan zat aditif MAH (1 % dan 2%) didapati bahwa hasil rata-rata kadar air papan

FPC termodifikasi tidak berbeda nyata antara konsentrasi 50:50, 60:40 dan 70:30

dengan zat aditif MAH 1% dan 2%.

Daya Serap Air

Hasil penelitian rata-rata daya serap air pada FPC dengan zat aditif MAH

1 % dan 2%setelah di uji coba ketahanan rayap selama 100 hari dengan grave

yard test disajikan pada Gambar 5 dan dapat dilihat lengkap pada Lampiran 9

dan 10.

Gambar 5. Grafik Rata-Rata Daya Serap Air FPC Termodifikasi

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan nilai daya serap air papan

FPC termodifikasi berkisar antara 1,27 % - 3,63 %. NIlai daya serap air terendah

terdapat pada perlakuan papan FPC 70:30 dengan zat aditif MAH 2% dan nilai

daya serap air tertinggi terdapat pada perlakuan papan FPC 50:50 dengan zat

(51)

JIS A 5908 (2003) type 13 tidak mensyaratkan nilai daya serap air.

Walaupun demikian, uji daya serap air perlu dilakukan sebagai pertimbangan

untuk menentukan aplikasi penggunaan dari papan FPC didasari pada sifat

pengujian grave yard test, apakah papan FPC ini tahan digunakan pada

lingkungan dengan kelembapan tinggi atau rendah. Akan tetapi, jika dinilai dari

kerapatan papan FPC termodifikasi yang diantara mencapai nilai > 0,9 g/cm3,

maka berdasarkan standar JIS A 5905-2003 hardboard 820, nilai daya serap air

seluruh FPC termodifikasi berada dibawah 30% yang artinya memenuhi standar

JIS A 5905-2003 untuk hardboard. Oleh karena nilai daya serap air yang rendah

maka papan FPC termodifikasi yang telah diuji dengan metode grave yard test ini

dapat direkomendasikan untuk penggunaan eksterior maupun interior.

Nilai rata-rata daya serap air yang rendah ini disebabkan karena adanya zar

aditif pada papan FPC. Berdasarkan hasil sidik ragam daya serap air papan FPC

termodifikasi (Lampiran 10) diperoleh bahwa faktor perlakuan yakni zat aditif

MAH berpengaruh nyata terhadap nilai daya serap air. Hal ini dikarenakan MAH

(benzoil peroksida) merupakan salah satu zat aditif yang ditambahkan pada papan

FPC dengan tujuan sebagai katalisator dan berfungsi juga untuk memperbaiki

sifat-sifat yang dimiliki oleh papan FPC tersebut. Hal ini sesuai dengan Maulana

(2011) yang menyatakan bahwa MAH juga berperan dalam memperbaiki sifat

fisis dan mekanik yang akan dihasilkan dari proses pembuatan papan serat

tersebut.

Rendahnya nilai daya serap air pada papan FPC termodifikasi setelah

pengujian grave yard test ini dapat disebabkan oleh perbedaan tinggi rendahnya

(52)

FPC termodifikasi ini menyebabkan sedikitnya ruang bagi bahan berlignoselulosa

untuk dapat menyerap molekul air dari lingkungan sekitarnya. Adanya bahan

plastik (PP) pada papan FPC juga turut berperan terhadap rendahnya daya serap

air pada papan FPC termodifikasi ini. Berdasarkan hasil uji lanjutan Duncan

seperti pada Lampiran 11 terhadap rata-rata nilai daya serap air tidak

menunjukkan perbedaan yang nyata dari masing-masing konsentrasi MAH 1%

dan 2% pada setiap tingkat perbandingan PP dan serat kardus ( 50:50, 60:40,

70:30).

Adapun faktor lain yang menyebabkan daya serap air pada papan FPC

termodifikasi ini rendah adalah keberadaan PP (propylene) itu sendiri Seperti

diketahui PP merupakan salah satu HDPE (High Density Polyetilhene). Hal ini

menyebabkan papan FPC termodifikasi ini tidak memiliki kemampuan menyerap

air dalam jumlah yang banyak. Karena salah satu sifat HDPE adalah kemampuan

kedap (anti) airnya yang cukup tinggi. Hal ini dibuktikan dalam pernyataan

Hartono (1998) yang menyatakan bahwa polietilena (PE), polietilena kerapatan

tinggi (High Density Polyethylene ) selanjutnya disingkat HDPE , polipropilena

(PP), dan asoi. HDPE termasuk salah satu jenis bahan yang memiliki sifat padat,

keras, kuat dan kedap air, yang sukar terdegradasi secara alamiah.

Pengembangan Tebal

Hasil penelitian pengembangan tebal papan FPC termodifikasi dari PP dan

serat kardus dengan penambahan zat aditif MAH 1% dan 2 % disajikan pada

(53)

Gambar 6. Grafik Rata-Rata Pengembangan Tebal Papan FPC Termodifikasi

Gambar 6 menunjukkan bahwa nilai pengembangan tebal papan FPC

termodifikasi berkisar antara -9,94% - 15,16%. Pengembangan tebal papan FPC

terendah diperoleh pada perlakuan FPC 60:40 dengan zat aditif MAH 1 %

(menyusut) dan nilai pengembangan tebal tertinggi diperoleh pada perlakuan FPC

50:50 dengan zat aditif MAH 1%. Berdasarkan JIS A 5908 (2003) type 13

pengembangan tebal yang diperbolehkan adalah ≤ 12%. Berdasarkan s tandar

tersebut maka papan FPC yang memenuhi standar adalah FPC dengan perlakuan

PP:serat kardus 50:50 2% MAH, 60:40 1% MAH, 60:40 A 2% MAH, 70:30

masing-masing 1% dan 2% MAH.

Adanya perbedaan pengembangan tebal yang tidak wajar (menyusut)

diduga dipengaruhi oleh sifat kembang susut kayu yang masih dimiliki oleh

komponen berlignoslulosa pada FPC termodifikasi ini. Berdasarkan perubahan

pengembangan tebal pada FPC yang mengalami penyusutan (FPC 70:30 1% dan

2%, FPC 50:20 2%, dan FPC 60:40 1%) dapat diketahui bahwa keadaan kondisi

pengujian yang lembab (graveyard test) tidak membuat sifat hidropilik dari serat

Gambar

Gambar 1. Letak Lubang Tanam FPC Terhadap Sarang Rayap Tanah
Gambar 2. Pola Penanaman Contoh Uji FPC Pada Lubang Tanam
Tabel 1. Klasifikasi Papan Partikel Menurut FAO (1958) dan USDA (1955)
Tabel 2. Nilai Sifat Fisis Papan Komposit Menurut Standar JIS A 5905-2003      Hardboard S20 Dan JIS A 5908-2003 Particleboardstype 13
+7

Referensi

Dokumen terkait