KETAHANAN
FIBER-PLASTIC COMPOSITE
DENGAN
PENAMBAHAN MALEAT ANHIRIDA (MAH) SEBAGAI
COMPABILITIZER DAN BENZOIL PEROKSIDA
(BPO) SEBAGAI INISIATOR TERHADAP
SERANGAN RAYAP
SKRIPSI
Oleh:
PANDAPOTAN CHRISTIAN PURBA 091201058/ TEKNOLOGI HASIL HUTAN
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN
KETAHANAN
FIBER-PLASTIC COMPOSITE
DENGAN
PENAMBAHAN MALEAT ANHIRIDA (MAH) SEBAGAI
COMPABILITIZER DAN BENZOIL PEROKSIDA
(BPO) SEBAGAI INISIATOR TERHADAP
SERANGAN RAYAP
SKRIPSI
Oleh:
PANDAPOTAN CHRISTIAN PURBA 091201058/ TEKNOLOGI HASIL HUTAN
Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN
LEMBAR PENGESAHAN
Judul : Ketahanan Fiber Plastic Composite (FPC) Dengan
Penambahan Maleat Anhirida (MAH) Sebagai Compatibilizer Dan Benzoil Peroksida (BPO) Sebagai Inisiator Terhadap Serangan Rayap Tanah
Nama : Pandapotan Christian Purba
NIM : 091201058
Program Studi : Kehutanan
Minat Studi : Teknologi Hasil Hutan
Menyetujui, Komisi Pembimbing
Luthfi Hakim, S.Hut., M.Si Ridwanti Batubara, S.Hut., M.P Ketua Anggota
Mengetahui,
Siti Latifah, S.Hut., M. Si., Ph. D Ketua Program Studi Kehutanan
Pandapotan Christian Purba. The Durability of Fiber–Plastic Composite with Maleic Anhydride (MAH) as Compabilitizer and Benzoyl Peroxide (BPO) as
Initiator toward Termits Attack. Supervised by Luthfi Hakim and Ridwanti
Batubara.
ABSTRACT
The use of plastic fiber composite (FPC) for exterior purposes as one alternative to solid wood has a variety of power requirement one of which is resistant to termites. This study aimed to test the durability of fiber composite plastic derived from recycled corrugated old paper fibers and polypropylene (PP) with the addition of maleic andhirida (MAH) as compabilitizer and benzoyl peroxide (BPO) to termite attack. This research used Completely Randomized Design (CRD) factorial, there are two factors: comparison of corrugated old paper fibers and polypropylene (PP), which consists of 50:50, 60:40 and 70:30 and additive factors maleit anhirida (MAH) 1% and 2% and the results were compared with JIS A 5905-2003 S20 hardboard and JIS A 5908-2003 particleboards type 13 for physical properties and SNI 01 7202-2006 to test the grave yard test termites. The results showed after trials testing the grave for 100 days, the physical properties of the fiber composite plastic does not entirely meet the testing standards JIS A 5905-2003 S20 hardboard and JIS A 5908-2003 particleboards type 13. To test resistance to termite attack, some fiber plastic composite that meets the ISO standard FPC 50:50 01 7202-2006 1% MAH, 1% MAH 60:40, 60:40 and 70:30 2% MAH MAH while the remaining 2% are outside the standard.
Pandapotan Christian Purba. Ketahanan Fiber Plastic Composite (FPC) Dengan Penambahan Maleat Anhirida (MAH) Sebagai Compatibilizer Dan Benzoil Peroksida (BPO) Sebagai Inisiator Terhadap Serangan Rayap Tanah. Dibawah bimbingan Luthfi Hakim dan Ridwanti Batubara.
ABSTRAK
Penggunaan fiber plastic composite (FPC) untuk keperluan diluar ruangan sebagai salah satu alternatif pengganti kayu solid memiliki berbagai persayaratan salah satunya adalah daya tahan terhadap rayap. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji ketahanan fiber plastic composite yang berasal dari serat kardus daur ulang dan propilen (PP) dengan penambahan maleat andhirida (MAH) dan benzoil peroksida (BPO) terhadap serangan rayap. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial, 2 faktor: perbandingan serat kardus dan propilen (PP) yang terdiri dari 50:50, 60:40 dan 70:30 dan faktor zat aditif maleit anhirida (MAH) 1% dan 2% dan hasilnya dibandingkan dengan JIS A 5905-2003 hardboard S20 dan JIS A 5908-2003 particleboards type 13 untuk sifat fisis dan SNI 01 7202-2006 untuk pengujian rayap secara grave yard test. Hasil penelitian menunjukkan setelah pengujian uji kubur selama 100 hari, sifat fisis dari fiber plastic composite tidak seluruhnya memenuhi standar pengujian JIS A 5905-2003 hardboard S20 dan JIS A 5908-2003 particleboards type 13. Untuk pengujian ketahanan terhadap serangan rayap, beberapa fiber plastic composite
yang memenuhi standar SNI 01 7202-2006 yakni FPC 50:50 1% MAH, 60:40 1% MAH, 60:40 2% MAHn dan 70:30 2% MAH sedangkan sisanya berada diluar standar.
RIWAYAT HIDUP
Penulis merupakan putri dari Ayahanda Bismark E.M Purba, SH dan
Ibunda Dra. Lusdiana Saragih yang dilahirkan pada tanggal 8 April 1992 di Kota
Medan. Penulis putra pertama dari tiga bersaudara.
Penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar HKBP Sidorame Medan
Barat pada tahun 2003, pendidikan tingkat Sekolah Menengah Pertama dari SMP
Budi Murni I Medan tahun 2006 dan pendidikan tingkat Sekolah Menengah Atas
dari SMA Negeri 3 Medan tahun 2009. Pada tahun 2009 penulis lulus seleksi
penerimaan perguruan tinggi negeri melalui jalur Ujian Masuk Bersama (UMB)
pada Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara,
dan pada semester VII memilih minat studi Teknologi Hasil Hutan.
Semasa kuliah penulis merupakan anggota pada organisasi Himpunan
Mahasiswa Sylva (HIMAS) USU. Penulis juga pernah menjadi Asisten Sifat Fisis
dan Mekanis Kayu pada tahun 2011, Praktikum Pengenalan Ekosistem Hutan
selama 10 hari di Tongkoh, Sumatera Utara tahun 2011, Praktikum Anatomi dan
Identifikasi Kayu pada tahun 2012. Pada tahun 2013 penulis juga pernah bekerja
sebagai salah satu karyawan di restoran Pizza Hut Medan di Sumatera Utara.
Penulis mengikuti Praktik Pengenalan Ekosistem Hutan (PPEH) di Taman
Hutan Raya Bukit Barisan, Gunung Barus dan Hutan Pendidikan USU Kabupaten
Karo selama 10 hari. Penulis juga telah menyelesaikan Praktik Kerja Lapang di
PT Sumalindo Hutani Jaya II, Sei Mao, Kalimantan Timur. Dan pada semester
VII penulis melakukan penelitian yang berjudul “Ketahanan Fiber Plastic
Serangan Rayap Tanah” sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala
berkat dan anugerahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Skripsi ini berjudul “Ketahanan Fiber Plastic Composite (FPC) Dengan
Penambahan Maleat Anhirida (MAH) Sebagai Compatibilizer Dan Benzoil
Peroksida (BPO) Sebagai Inisiator Terhadap Serangan Rayap Tanah”.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas Fiber Plastic
Composite (FPC) yaitu sifat fisis, kualitas FPC dan ketahanan terhadap serangan
rayap tanah serta pola serangan rayap. Hasil penelitian diharapkan mendapat suatu
perbandingan komponen penyusun Fiber Plastic Composite (FPC) yang tepat
untuk dapat direkomendasikan agar dapat digunakan untuk keperluan eksterior.
Dalam penyelesaian skripsi ini Penulis menyadari keterbatasan yang
Penulis miliki sehingga melibatkan banyak pihak, untuk itu Penulis
menyampaikan terima kasih kepada:
1. Komisi Pembimbing yang terhormat Bapak Luthfi Hakim S.Hut., M.Si. dan
Ibu Ridwanti Batubara, S.Hut., M.P. yang telah membimbing, memberi
masukan dan semangat.
2. Kedua orang tua terkasih yang selalu mendukung dalam doa, semangat dan
materi, kepada adik-adik terkasih Yohana Mariza Purba dan Maria Elisa Purba
beserta seluruh keluarga besar yang senantiasa memberikan semangat dan doa.
3. Sarmauli Purba yang telah turut mendukung dalam semangat dan materi..
4. Teman-teman seperjuangan penelitian, Vicky Fadliansyah Sihombing, Sari
5. Teman-teman tim PKL dan Sahabat terkasih Rudi Meirawan Pohan, Nicho
Chandra Siregar, dan Kaya Muda Lubis terima kasih untuk kerja sama,
bantuan, semangat dan kebersamaan kita.
6. Teman-teman Kehutanan USU stambuk 2009 THH, BDH, MNH yang tidak
dapat penulis sebutkan satu per satu. Keluarga besar THH 2009 terima kasih
untuk kebersamaan, kehangatan kekeluargaan, semangat dan doa.
Penulis menyadari masih ada kekurangan maupun kesalahan dalam skripsi
ini, untuk itu penulis mohon maaf. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih
dan berharap skripsi ini bermanfaat dan menjadi sumber informasi.
Medan, September 2013
DAFTAR ISI
Manfaat Penelitian ... 4
Hipotesis Penelitian ... 4
TINJAUAN PUSTAKA Papan Komposit ... 5
Wood Plastic Composite... 7
Plastik ... 10
Serat Kardus... 13
MAH (Maleat anhirida) ... 14
BPO (benzoil peroxide) ... 15
Rayap Sebagai Perusak Bahan berlignolselulosa ... 15
Rayap Tanah (Macrotermes gilvus Hagen) ... 16
METODOLOGI Waktu dan Tempat Penelitian ... 19
Bahan dan Alat Penelitian ... 19
Prosedur Penelitian ... 19
Persiapan Contoh Uji ... 19
Pembuatan Lubang Tanam ... 20
Pengujian Kualitas Papan ... 23
Pengukuran Tingkat Serangan Rayap ... 24
Analisis Data ... 24
HASIL DAN PEMBAHASAN Sifat Fisis Fiber Plastic Composite ... 27
Kerapatan ... 27
Kadar Air ... 31
Daya Serap Air ... 34
Pengembangan Tebal ... 36
Uji Ketahanan Papan FPC Terhadap Serangan Rayap Tanah ... 39
Pola Serangan Rayap ... 42
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 45
Saran ... 45
DAFTAR TABEL
No Halaman
1. Kualifikasi Papan Pertikel Menurut FAO (1958) dan USDA (1955)... 21
2. Nilai Sifat Fisis Papan Komposit Menurut Standar JIS A 5905-2003
Hardboard S20 dan JIS A 5908-2003 particleboard type 13 ... 23
3. Klasifikasi Ketahanan Kayu Atau Produk Kayu Terhadap
Serangan Rayap... 23
4. Kelas Ketahanan Terhadap Serangan Rayap Dari Papan FPC Termodifikasi Berdasarkan SNI 01 7202-2006 ... 41
DAFTAR GAMBAR
No Halaman
1. Letak Lubang Tanam FPC Terhadap Sarang Rayap Tanah ... 20
2. Pola Pengacakan Contoh Uji FPC Pada Lubang Tanam ... 21
3. Grafik Rata-Rata Kerapatan FPC Termodifikasi ... 27
4. Grafik Nilai Rata-Rata Kadar Air FPC Termodifikasi ... 31
5. Grafik Rata-Rata Daya Serap Air FPC Termodifikasi... 34
6. Grafik Rata-Rata Pengembangan Tebal Papan FPC Termodifikasi ... 37
7. Grafik Rata-Rata Nilai Penurunan Berat Papan FPC Termodifikasi ... 39
8. FPC 50:50 2% Setelah Pengujian Serangan Rayap ... 43
DAFTAR LAMPIRAN
No Halaman
1. Data Kerapatan FPC Termodifikasi ... 49
2. Data Analisis Sidik Ragam Kerapatan FPC Termodifikasi ... 49
3. Data Kadar Air FPC Termodifikasi ... 49
4. Data Analisis Sidik Ragam Kadar Air FPC Termodifikasi ... 49
5. Data Uji Duncan Kadar Air FPC Termodifikasi ... 50
6. Data Pengembangan Tebal FPC Termodifikasi ... 50
7. Data Analisis Sidik Ragam Pengembangan Tebal FPC Termodifikasi ... 50
8. Hasil Uji Duncan Pengembangan Tebal FPC Termodifikasi ... 50
9. Data Daya Serap Air FPC Termodifikasi ... 51
10. Data Analisis Sidik Ragam Daya Serap Air FPC Termodifikasi ... 51
11. Hasil Uji Duncan Daya Serap Air FPC Termodifikasi ... 51
12. Data Penurunan Berat FPC Termodifikasi... 51
13. Data Analisis Sidik Ragam Penurunan Berat FPC Termodifikasi ... 52
14. Data Uji Duncan Penurunanan Berat FPC Termodifikasi` ... 52
15. Data Kerapatan FPC Sebelum Pengujian Grave Yard Test ... 52
16. Data Berat FPC Sebelum Uji Grave Yard Test (BA Sebelum Oven) ... 53
Pandapotan Christian Purba. The Durability of Fiber–Plastic Composite with Maleic Anhydride (MAH) as Compabilitizer and Benzoyl Peroxide (BPO) as
Initiator toward Termits Attack. Supervised by Luthfi Hakim and Ridwanti
Batubara.
ABSTRACT
The use of plastic fiber composite (FPC) for exterior purposes as one alternative to solid wood has a variety of power requirement one of which is resistant to termites. This study aimed to test the durability of fiber composite plastic derived from recycled corrugated old paper fibers and polypropylene (PP) with the addition of maleic andhirida (MAH) as compabilitizer and benzoyl peroxide (BPO) to termite attack. This research used Completely Randomized Design (CRD) factorial, there are two factors: comparison of corrugated old paper fibers and polypropylene (PP), which consists of 50:50, 60:40 and 70:30 and additive factors maleit anhirida (MAH) 1% and 2% and the results were compared with JIS A 5905-2003 S20 hardboard and JIS A 5908-2003 particleboards type 13 for physical properties and SNI 01 7202-2006 to test the grave yard test termites. The results showed after trials testing the grave for 100 days, the physical properties of the fiber composite plastic does not entirely meet the testing standards JIS A 5905-2003 S20 hardboard and JIS A 5908-2003 particleboards type 13. To test resistance to termite attack, some fiber plastic composite that meets the ISO standard FPC 50:50 01 7202-2006 1% MAH, 1% MAH 60:40, 60:40 and 70:30 2% MAH MAH while the remaining 2% are outside the standard.
Pandapotan Christian Purba. Ketahanan Fiber Plastic Composite (FPC) Dengan Penambahan Maleat Anhirida (MAH) Sebagai Compatibilizer Dan Benzoil Peroksida (BPO) Sebagai Inisiator Terhadap Serangan Rayap Tanah. Dibawah bimbingan Luthfi Hakim dan Ridwanti Batubara.
ABSTRAK
Penggunaan fiber plastic composite (FPC) untuk keperluan diluar ruangan sebagai salah satu alternatif pengganti kayu solid memiliki berbagai persayaratan salah satunya adalah daya tahan terhadap rayap. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji ketahanan fiber plastic composite yang berasal dari serat kardus daur ulang dan propilen (PP) dengan penambahan maleat andhirida (MAH) dan benzoil peroksida (BPO) terhadap serangan rayap. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial, 2 faktor: perbandingan serat kardus dan propilen (PP) yang terdiri dari 50:50, 60:40 dan 70:30 dan faktor zat aditif maleit anhirida (MAH) 1% dan 2% dan hasilnya dibandingkan dengan JIS A 5905-2003 hardboard S20 dan JIS A 5908-2003 particleboards type 13 untuk sifat fisis dan SNI 01 7202-2006 untuk pengujian rayap secara grave yard test. Hasil penelitian menunjukkan setelah pengujian uji kubur selama 100 hari, sifat fisis dari fiber plastic composite tidak seluruhnya memenuhi standar pengujian JIS A 5905-2003 hardboard S20 dan JIS A 5908-2003 particleboards type 13. Untuk pengujian ketahanan terhadap serangan rayap, beberapa fiber plastic composite
yang memenuhi standar SNI 01 7202-2006 yakni FPC 50:50 1% MAH, 60:40 1% MAH, 60:40 2% MAHn dan 70:30 2% MAH sedangkan sisanya berada diluar standar.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pada era modern sekarang, kebutuhan akan kegunaan kayu semakin
meningkat. Kebutuhan kayu kebanyakan diperuntukkan bagi kegiatan
pembangunan suatu bangunan. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi, kebutuhan manusia pun semakin meningkat dan beraneka ragam,
termasuk kebutuhan terhadap kayu dan plastik. Berbagai macam produk yang
terbuat dari kayu dan plastik banyak terdapat di sekitar kita, baik berupa mainan
anak-anak, maupun sebagai komponen bahan bangunan. Karena sifat dan
karakteristiknya yang unik, kayu merupakan bahan yang paling banyak digunakan
untuk keperluankonstruksi. Dipihak lain, seiring dengan perkembangan makan
kebutuhan akan plastik pun tidak terelakkan.
Penggunaan kayu untuk keperluan bahan bangunan membutuhkan
persyaratan yang ketat dan baik. Kayu dengan kualitas yang baik tentu saja
memiliki kelas kekuatan dan keawetan yang baik pula. Akan tetapi, ketersediaan
kayu dengan kriteria tersebut sangat sulit untuk didapatkan. Salah satu yang dapat
dilakukan adalah dengan pemanfaatan bahan subsitusi berupa papan serat.
Produksi papan serat dari limbah-limbah produksi kayu merupakan salah satu
solusi untuk mengatasi masalah kelangkaan kayu saat ini, baik sebagai bahan
baku papan struktural (papan konstruksi) maupun nonstruktural (interior dan
pelapis). Produk komposit tersebut dapat berupa papan partikel, papan serat, OSB,
comply, WPC dan produk komposit lainnya.
Salah satu jenis papan serat yang dikembangkan dewasa ini adalah jenis
merupakan campuran bahan plastik dengan bahan berlignoselulosa lainnya
dengan kadar tertentu. Fiber plastic composite (FPC) tersusun atas serat bahan
berlignoselulosa yang dicampur dengan bahan plastik dengan kadar tertentu.
Adapun bahan berlignoselulosa dapat digunakan serat kardus. Hal ini dikarenakan
limbah kardus yang terdapat di Indonesia dapat dikatakan cukup besar. Serat
kardus itu sendiri selain mudah didapatkan juga mudah diberi perlakuan jika ingin
memodifikasi atau memisahkan seratnya.
Limbah plastik dan sekam jumlahnya cukup besar di Indonesia. Jumlah
sampah plastik telah mencapai 1,6 juta ton per tahun atau sekitar 4.400 ton per
hari (harian Sinar Harapan, 2001) dan jumlah itu akan terus meningkat seiring
dengan meningkatnya produksi plastik setiap tahunnya. Sedangkan menurut BPS
(2007) produksi padi sekitar 57,05 juta ton per tahun dan sekam yang dapat
dihasilkan sekitar 11,41 juta ton per tahun. Jika jumlah dari limbah plastik dan
sekam terus meningkat dikawatirkan akan memberikan dampak yang buruk
terhadap lingkungan. Untuk itu perlu ada alternatif untuk menggunakan kembali
limbah plastik dan sekam. Alternatif yang dapat digunakan adalah dengan
menggunakan kedua bahan tersebut menjadi bahan baku papan serat. Plastik yang
digunakan adalah plastik daur ulang jenis Polypropylene. Disamping dapat
mengurangi limbah plastik dan sekam, papan serat yang dibuat dapat menjadi
subtitusi kayu.
Akan tetapi dalam proses pembuatan sebuah produk papan serat seperti
FPC, diperlukan bahan aditif lainnya untuk proses pengikatan antar molekul serat
kardus dan polypropylene. Bahan kimia yang dapat dijadikan berupa maleat
sebagai coupling agent yang berfungsi untuk mengikatkan molekul polypropylene
dengan serat kardus.
Papan serat ataupun papan partikel senantiasa menggunakan perekat di
dalam proses pembuatannya. Perekat sintetis yang bersifat termosetting seperti
Urea Formaldehida (UF), Phenol Formaldehida (PF), dan Melamin Formaldehida
(MF) sangat sering dipakai. Sebagi perekat, khususnya Melamin Formaldehida,
banyak digunakan untuk membuat peralatan rumah tangga seperti piring,
mangkok dan cangkir. Krisis energi mendorong untuk mendapatkan perekat kayu
dari sumber daya terbarukan, yaitu dari bahan-bahan berligninselulosa. Meskipun
demikian, kekuatan dari perekat papan partikel belum mencapai hasil yang
optimal yang diharapkan (Ruhendi, 2000).
Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan dari Sdr. Erika Jayanta
Sianturi yang berjudul “ Kualitas Fiber Composite Dengan Penambahan Maleit
Anhirida (MAH) dan Benzoil Peroksida (BPO)”. Pengujian terhadap rayap
merupakan pengujian untuk melihat seberapa jauh suatu produk papan serat dapat
bertahan menghadapi organisme perusak seperti rayap. Hal ini juga berhubungan
dengan masa pakai suatu produk papan serat mengingat frekuensi serangan rayap
pada bahan berlignoselulosa di pemukiman meningkat seiring dengan semakin
sempitnya area penyebaran alami rayap (Kusnadi, 2003)
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk menguji ketahanan Fiber Plastic Composite yang dibuat dari serat
kardus dan polipropilena dengan penambahan maleat anhidrida (MAH)
terhadap serangan rayap tanah serta mengidentifikasi jenis rayap tanah yang
menyerangnya.
2. Untuk melihat pola serangan rayap terhadap Fiber Plastic Composite yang
dibuat dari serat kardus dan polipropilena dengan penambahan maleat
anhidrida (MAH) sebagai coupling agent dan benzoil peroksida (BPO)
sebagai katalisator.
Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah untuk memberikan informasi mengenai
ketahanan papan Fiber Plastic Composite (FPC) terhadap serangan rayap tanah
dan untuk memberikan solusi alternatif pengganti kayu sebagai bahan bangunan
yang tahan akan serangan rayap.
Hipotesis
1. Interaksi antara faktor perbandingan Polipropilen (PP) dengan kardus dan
penambahan zat aditif (MAH dan BO) berpengaruh terhadap serangan
rayap.
2. Perbandingan Polipropilen (PP) dengan kardus dan penambahan zat aditif
TINJAUAN PUSTAKA
Papan Komposit
Papan serat adalah papan tiruan yang di buat dari serat kayu atau lignin
selulosa lain, dengan cara tenunan serat yang dikejutkan dengan penekanan oleh
kempa plat atau rol. Bahan perekat atau bahan lain dapat ditambahkan untuk
meningkatkan sifat papan seperti sifat mekanis, ketahanan kelembaban, ketahanan
terhadap api maupun serangga. Dewasa ini komposit kayu plastik (Wood-Plastic
Composite) adalah salah satu sektor yang paling dinamis dari industri plastik.
Material ini terdiri dari campuran serat kayu atau sejenisnya dengan polimer yang
bersifat termoplastik seperti polietilena (PE), polipropilena (PP) dan sebagainya.
Polimer termoplastik akan lunak bila dipanaskan dan akan mengeras setelah
dingin. Sifat-sifat ini memungkinkan material lain seperti partikel kayu atau
sejenisnya dapat bercampur dengan plastik jenis ini membentuk suatu material
komposit (Manning et. al, 2006).
Sifat papan serat baik sifat fisis maupun mekanis, tidak terlepas dari
faktor-faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor ini digunakan sebagai
pertimbangan dalam pembuatan papan serat untuk mendapatkan hasil sesuai
kriteria yang diinginkan. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap sifat papan
serat yaitu:
1. Bahan Baku
a. Berat Jenis
Panshin dan Zeeuw (1952) menyatakan bahwa kayu yang
digepengkan. Hal ini disebabkan kayu yang mempunyai berat jenis tinggi
umumnya mempunyai dinding sel yang tebal sehingga daya tahan terhadap
pengembangan lebih besar. Keadaan tersebut akan mempengaruhi sifat fisis
dan mekanis papan serat yang dihasilkan.
b. Kandungan Kimia
Zat ekstraktif berupa minyak dan lemak mengurangi daya ikat papan
serat, sedangkan resin dan tanin berpengaruh baik terhadap kekuatan papan
serat. Zat ekstraktif dapat juga menimbulkan noda pada papan serat yang
dihasilkan serta meningkatkan pemakaian perekat dan daya serap air
(Maloney 1993).
c. Dimensi Serat
FAO (1958) diacu dalam Yandesman (1998), mengemukakan bahwa
serat yang berdinding tebal akan mempertahankan bentuk pipa dan bersifat
kaku. Hal ini menyebabkan pengikatan tidak sempurna. Sebaliknya serat
yang berdinding tipis akan mudah menjadi pipih, sehingga permukaan
pengikatan lebih luas.
2. Bahan Penolong
a. Perekat
Pemberian perekat pada pembuatan papan serat proses kering harus
dilakukan, sedang pada proses basah perekat ditambahkan hanya untuk
memperbaiki ikatan antar serat dan ketahanan terhadap cuaca. Perekat yang
biasa digunakan dalam pembuatan papan serat adalah urea formaldehida,
disukai karena harganya lebih murah, penanganannya mudah, dan tidak
menimbulkan pewarnaan pada produk akhir (Maloney 1993).
b. Bahan Tambahan Khusus (additives)
Pemberian bahan tambahan khusus dimaksudkan untuk
memperbaiki sifat-sifat tertentu papan serat. Bahan tambahan yang sering
digunakan pada pembuatan papan serat yaitu parafin (wax) sebagai bahan
penolak air (water repellant), asam sulfur untuk menurunkan pH adonan
(slurry), dan natrium bikarbonat untuk meningkatkan pH adonan ke tingkat
yang diinginkan (Koch 1985 diacu dalam Yandesman 1998).
Wood Plastic Composite (WPC)
Penerapan industri terhadap serat alami membutuhkan pembuatan serat
berkualitas tinggi yang terus tersedia dalam jumlah besar dengan harga yang
kompetitif dan independen dari kondisi cuaca dan hasil tahunan. Teknologi
pengolahan konvensional tidak dapat memenuhi tuntutan yang ketat dari industri
modern. Akibatnya, teknologi baru harus dikembangkan agar berhasil mendirikan
pabrik dengan proses yang kuat untuk mengahasilkan serat kulit pohon alami.
Oleh karena itu serat alami dapat berfungsi sebagai penguat tidak hanya dengan
meningkatkan kekuatan dan kekakuan dan juga mengurangi berat bahan komposit
yang dihasilkan, meskipun sifat dari serat alami bervariasi dalam hal
pembuatannya. Dalam rangka meningkatkan kinerja dari komposit, matriks atau
penguatan sering perlu dimodifikasi. Banyak proses pembuatan bekerja pada
modifikasi permukaan lingo-selulosa serat dan kain dengan memperkuat atau
dengan bahan penghubung dengan polimer yang berbeda WPC merupakan salah
satu turunan dari papan partikel. Tersusun atas material utama berupa kayu (dapat
berupa serpihan, partikel, ataupun serat) dan plastik (umumnya plastik daur ulang
seperti polietilen ataupun polipropilen). Secara garis besar, bahan komposit terdiri
dari dua macam yaitu bahan komposit (Ruhendi, 2000).
Partikel (particulate composite) dan bahan komposit serat (fiber
composite). Bahan komposit partikel terdiri dari partikel-partikel yang diikat oleh
matriks. Bentuk partikel ini dapat bermacam-macam, seperti : bulat, kubik,
tetragonal atau bahkan bentuk-bentuk yang tidak beraturan secara acak, tetapi
secara rata-rata berdimensi sama. Sedang bahan komposit serat terdiri dari
serat-serat yang diikat oleh matriks. Bahan komposit serat-serat ini juga terdiri dari dua
macam yaitu serat panjang (continuous fiber) dan serat pendek (short fiber atau
whisker). Pada komposit berbasis selulosa, faktor yang mempengaruhi kekuatan
komposit serat dengan matriks termoplastik adalah penyebaran serat, gaya ikat
serat matriks, aspek perbandingan serat (Lf/Df), fraksi serat dan orientasi serat.
(Kumar, et.al, 2011).
Sejak 1980-an, kayu-polimer komposit (WPC) telah banyak digunakan
untuk produk bangunan , bahan kemasan, dan aplikasi lainnya. Oleh karena itu,
WPC telah menjadi salah satu bahan yang tumbuh paling dinamis dalam industri
kayu. Diperkirakan bahwa permintaan untuk WPC akan mencapai lebih dari 1,4
miliar dolar di seluruh dunia pada tahun 2007. Seperti komposit kayu dan kayu,
WPC rentan pada serangan jamur dan rayap karena komponen kayu terbungkus
dalam matriks termoplastik. Penelitian telah menunjukkan bahwa lebih kayu
komposit diproduksi dengan partikel besar dan kerentanan peluruhan meningkat
dengan adanya konten kayu dan ukuran partikel. Pada akhir-akhir ini telah
dilakukan upaya untuk meningkatkan ketahanan peluruhan WPC dengan
penggunaan borat seng dan bahan kimia lainnya (Duan, et.al, 2007).
Keunggulan terbesar Wood Plastic Composite (WPC) adalah sifatnya
yang ramah lingkungan yang merupakan pendekatan dari penggunaan sisa-sisa
kayu dan material plastik daur ulang. WPC memiliki biaya perawatan yang rendah
jika dibandingkan dengan kayu solid. Salah satu alasan dari penggunaan WPC
yang akan semakin meningkat adalah biaya siklus hidup yang rendah dari WPC
itu sendiri (Smith and Wolcott, 2006).
Umumnya, WPC memiliki biaya 15% lebih mahal jika dibandingkan
dengan jenis papan partikel berbasis bahan berlignoselulosa lainnya, tetapi WPC
memiliki biaya perawatan yang lebih rendah. Stabilitas dimensi yang sempurna
dengan variabilitas yang rendah juga dapat dilihat sebagai salah satu keunggulan
dari produk-produk WPC. Banyak penelitian di banyak negara berkonsentrasi
dalam meningkatkan ketahanan dan perpanjangan masa pakai WPC mengingat
ketertarikan dalam hal penggunaan WPC untuk keperluan diluar ruangan.
Kenyataannya, WPC pada dasarnya diproduksi sebagai produk yang memiliki
daya tahan terhadap serangan fungi ataupun rayap dan serangga lainnya.
Bagaimanapun juga, berdasarkan hasil pengamatan didapati bahwa WPC masih
dapat menyerap sedikit air yang nantinya akan menjadi katalis pertumbuhanan
jamur meski hal tersebut jauh lebih rendah dibandingakan produk kayu solid
Pada umumnya penelitian papan komposit kayu plastik yang ada saat ini
lebih terfokus pada extruded material dimana serbuk kayu digunakan sebagai
bahan pengisi atau penguat (reinforcement) pada matriks termoplastik, dan baru
sedikit yang terfokus pada penggunaan plastik pada produk panel seperti papan
partikel maupun papan serat (Wolcott, 2003). Selanjutnya dikatakan bahwa
penggunaan termopastik dalam pembuatan papan partikel dapat dilakukan dengan
teknik pengempaan panas.
Plastik
Penggunaan plastik yang semakin meningkat akhir-akhir ini juga
meningkatkan jumah limbahnya. Data dari Biro Pusat Statistik volume impor
bahan-bahan plastik tahun 2009 adalah sebesar 1.038,5 ton (Depperin,2009), dan
kemungkinan meningkat setidaknya 10 % pertahun. Plastik sebagai limbah sangat
sulit terdekomposisi di alam sekitar, sehingga kemungkinan terbaiknya adalah
dengan mendaur ulangpemanfaatannya menjadi produk lain. Limbah plastik yang
dapat didaur ulang potensial untuk digunakan sebagai matriks dalam pembuatan
kayu komposit berpadu dengan plastik. Plastik mempunyai sifat hidrofibik,
sehingga komposit yang dihasilkan lebih tahan terhadap air dan kelembaban.
Selain itu bahan plastik tidak disukai rayap, sehingga tanpa perlakuan
pengawetan, papan komposit berbahan plastik tidak akan dimakan rayap, bebas
emisi formaldehida dan ramah lingkungan (Massiyaya et al. 1999).
Secara garis besar plastik dapat dibedakan atas dua tipe yaitu plastik yang
a. Termoplastik
Termoplastik adalah plastik yang dapat dilunakkan berulang kali (recycling)
dengan temperatur tinggi (panas). Termoplastik merupakan polimer yang akan
menjadi keras apabila didinginkan. Jika dipanaskan, material ini memiliki
kemampuan untuk mengalir atau mencair kembali. Polimer termoplastik terdiri
dari dua tipe struktur yang berbeda yaitu amorf dan semi kristalin.Polimer amorf
merupakan polimer dengan struktur molekul yang tersusun secara acak. Pada suhu
di bawah Glass Transition Temperature (Tg), rantai polimer amorf beku pada
keadaan tertentu dan polimer menjadi zat yang keras atau mudah hancur dan
rapuh. Dengan naiknya suhu mendekati Tg, polimer menjadi lebih kenyal dan
cukup air. Contoh polimer yang termasuk amorf termoplastik adalah polystyrene,
polymethyl methacrylate, polycarbonate, unplastikized polyvinyl chloride, dan
plastikized polyvinyl chloride. Contoh polimer semi kristalin adalah High Density
Polyethylene (HDPE), Low Density Polyethylene (LDPE), Polypropylene (PP),
Polyamida dan Polytetrafluoroethylene (Osswald dan Menges 1996).
Terdapat empat jenis sampah plastik yang populer dan banyak di produksi
yaitu polietilena (PE), polietilena kerapatan tinggi (High Density Polyethylene )
selanjutnya disingkat HDPE , polipropilena (PP), dan asoi. HDPE termasuk salah
satu jenis bahan yang memiliki sifat padat, keras, kuat dan kedap air, yang sukar
terdegradasi secara alamiah, sehingga merupakan penyebab pencemaran
lingkungan yang potensial (Hartono, 1998)
Plastik High Density Polyethylene (HDPE) merupakan termoplastik
Polyethylene yang dibuat dari petroleum. HDPE merupakan jenis polyethylene
dari Low Density Polyethylene (LDPE), tetapi kurang bisa diperpanjang. HDPE
merupakan salah satu bahan plastik yang sedikit lebih aman untuk digunakan
karena kemampuan untuk mencegah reaksi kimia antara kemasan plastik berbahan
HDPE dengan makanan atau minuman yang dikemas dengan plastik jenis ini.
Walau begitu, plastik jenis ini juga direkomendasikan hanya untuk sekali pakai,
karena pelepasan senyawa antimoni trioksida yang dapat meningkat seiring
dengan waktu. Plastik jenis ini biasanya diberi kode 2 dan biasanya dipakai untuk
botol susu yang berwarna putih susu, tupperware, galon air minum, dan lain-lain.
LDPE atau low density polyethylene adalah jenis plastik yang biasa dipakai untuk
tempat makanan (Tupperware), plastik kemasan makanan, dan beberapa
botol-botol yang dipakai untuk kemasan minuman. Jenis plastik ini biasa diberi dengan
kode 4. Jenis plastik ini dapat di daur ulang dan baik untuk barang-barang yang
memerlukan fleksibilitas tetapi kuat. Jenis plastik dengan kode 4 cukup sulit untuk
dihancurkan tetapi tetap baik untuk tempat makanan karena sulit bereaksi secara
kimiawi dengan makanan yang dikemas dengan jenis plastik ini. Polystyrene (PS)
biasa dipakai sebagai bahan tempat makan jenis styrofoam, tempat minum sekali
pakai, dan lain-lain. Bahan Polystyrene bisa membocorkan bahan styrine ke dalam
makanan ketika makanan tersebut bersentuhan. Bahan Styrine sangat berbahaya
untuk kesehatan otak, mengganggu hormon estrogen pada wanita yang berakibat
pada masalah reproduksi, dan sistem syaraf. Bahan ini harus dihindari di beberapa
negara maju seperti Amerika dan beberapa negara di eropa telah melarang
penggunaan plastik ini (Massijaya, dkk, 2000)
Polypropylene merupakan salah satu jenis termoplastik. Plastik jenis ini
Polypropylene termasuk jenis plastik Olefin dan merupakan polimer dari
Propylene. Diantara material plastik lainnya, Polypropylene memiliki kerapatan
yang paling rendah, yaitu berkisar antara 0.9 – 0.915 dengan Tg berkisar -200C,
serta titik leleh yang tinggi (165 – 1700C). Dengan sifat yang tahan terhadap panas
dan bahan-bahan kimia, Polypropylene merupakan satu-satunya plastik yang
mampu dikombinasikan untuk berbagai tujuan elektrikal. Rigiditas, kekerasan,
stabilitas dimensi, permukaan, dan melt flow lebih baik dibandingkan material
termoplastik lainnya. Selain itu harganya juga lebih murah. Selanjutnya karena
sifat-sifatnya tersebut, Polypropylene memiliki potensi sebagai matrik molding
dalam pembuatan produk dalam skala besar (Kusnadi, 2003).
Serat Kardus
Telah diketahui bahwa bahan berlignoselulosa merupakan bahan yang
bersifat higroskopis, karena dinding selnya mengandung gugus hidroksil yang
reaktif. Pada lingkungan yang mengandung uap air, komponen lignolselulosa
yang kering akan menyerap uap air sampai kadar kesetimbangan dengan
lingkungan. Begitu juga kayu yang jenuh air ketika ditempatkan ditempat yang
kelembapan relatifnya lebih rendah akan kehilangan uap air sampai kadar air
kesetimbangan dengan lingkungannya. Dimensi dari suatu bahan berlignoslulosa
akan berubah sejalan dengan perubahan kadar air dalam dinding sel, karena di
dalam dinding sel terdapat gugus OH (hidroksil) dan oksigen lain yang bersifat
menarik uap air melalui ikatan hidrogen. Kembang susut kayu yang paling besar
berturut-turut adalah pada bidang tangensial, radial, dan aksial. Stabilitas dimensi
kayu adalah kemampuan kayu itu untuk menahan perubahan dimensi karena
Kardus atau Corrugated Old Paper sebagai sebuah bahan dasar kemasan
memiliki daur hidup yang sangat singkat, dihargai hanya selama proses distribusi
produk dari produsen kekonsumen berlangsung. Material kardus untuk saat ini
dipandang sebagai kebutuhan sekunder dalam suatu proses produksi industri.
Kenyataannya kardus sangat rasionil dan potensial dalam satu rekayasa desain,
memenuhi kriteria untuk digunakan sebagai bahan baku utama. Kardus sebagai
bahan dasar kemasan yang memiliki daur hidup singkat, memiliki kelebihan dan
kelemahan, dalam pengaplikasiannya pada produk turunan lain, yaitu :
a. Struktur kardus olahan atau hasil recycle tidak jauh berbeda dengan kardus
baru, perbedaan utamanya adalah ketebalan yang terjadi karena penambahan
lapisan gelombang.
b. Proses cetak dilakukan dengan sistem cetak sablon (silk-screen printing),
masking, atau hand-painting. Teknik pencetakan sablon cukup sulit untuk
diterapkan karena permukaan material ini tidak begitu rata, disebabkan alur
gelombang atau flute; sehingga bagian yang cekung tidak dapat tercapai oleh
screen sablon dan tinta tidak dapat tercetak dengan merata.
c. Berasal dari bahan baku yang dapat didaur ulang, dan karena penambahan
unsur lain (perekat) berbasis air; maka material ini layak untuk diproses daur
ulang, dan bersifat bio-degradable (dapat diurai oleh tanah) (Hon, 1996).
MAH (Maleat anhirida)
Asam maleat atau Asam (Z)-butenadioat atau asam toksilat adalah
senyawa organik yang merupakan asam dikarboksilat. Molekul ini terdiri dari
gugus etilena yang berikatan dengan dua gugus asam karboksilat. Asam maleat
isomer transnya. Isomer cis kurang stabil; perbedaan kalor pembakarannya adalah
22,7 kJ/mol. Sifat-sifat asam maleat sangatlah berbeda dengan asam fumarat.
Asam maleat larut dalam air, sedangkan asam fumarat tidak; titik lebur asam
maleat adalah (130-139 °C), juga lebih rendah dari titik lebur asam fumara (287
°C). Perbedaan sifat ini dapat dijelaskan oleh ikatan hidrogen intramolekul yang
terjadi pada asam maleat.Dalam bidang industri, asam maleat diturunkan dari
maleat anhidrida dengan hidrolisis. Maleat anhidrida diproduksi dari benzena atau
butena melalui proses oksidasi. Adapun MAH (maleat anhirida) berfungsi
sebagai coupling agent. Coupling agent adalah fungsi yang dilakukan MAH untuk
menyempurnakan kombinasi pengikatan antar molekul plastik dengan bahan
berlignoselulosa berupa serat bahanberlignoselulosa (Tajvidil, et.al, 2006)
BPO (Benzoil Perokisda)
BPO atau yang sering disebut dengan benzoil peroksida merupakan
inisiator pada proses pembuatan papan serat. Selain berfungsi sebagai katalisator
untuk mempercepat proses perekatan antara matrikis dengan filler, BPO juga
berperan dalam memperbaiki sifat fisi dan mekanik yang akan dihasilkan dari
proses pembuatan papan serat tersebut. Walaupun demikian, sifat termal yang
dimiliki oleh FPC tersebut masih belum mencapai standar yang cukup optimal
dalam pengujian (Maulana dkk, 2011).
Rayap Sebagai Perusak Bahan Berlignoselulosa
Bahan berlignoselulosa berupa papan komposit juga dapat diserang
termasuk banyaknya ragam jenis tumbuhan di Indonesia sangat mendukung
kehidupan rayap. Lebih dari 80% daratan Indonesia merupakan habitat yang baik
bagi kehidupan berbagai serangga ini (Nandika et al.1996).
Indonesia sebagai negara tropis dengan iklim dan cuaca yang hangat
sepanjang tahun merupakan suatu tempat hidup yang sangat sesuai bagi
organisme perusak kayu ini (Tarumingkeng, 2004). Sampai dengan tahun 1971
para ahli hama telah menemukan kira-kira 2000 jenis rayap yang tersebar di
seluruh dunia dan sekitar 120 spesies merupakan serangga hama, sedangkan di
Indonesia sendiri telah ditemukan tidak kurang dari 200 jenis rayap yang dikenal
baru sekitar 20 spesies yang diketahui berperan sebagai hama perusak kayu serta
hama hutan/pertanian (Tarumingkeng, 1971).
Siklus hidup rayap mengalami metamorfosis bertahap atau gradual
(hemimetabola), dari telur kemudian nimfa sampai menjadi dewasa melalui
beberapa instar (bentuk diantara dua tahap perubahan). Perubahan yang gradual
ini berakibat terhadap kesamaan bentuk badan secara umum, cara hidup, dan jenis
makanan antara nimfa dan dewasa. Namun, nimfa yang memiliki tunas, sayapnya
akan tumbuh sempurna pada instar terakhir ketika rayap telah mencapai tingkat
dewasa (Nandika, et al, 2003).
Rayap Tanah (Macrotermes gilvus Hagen)
Rayap Macrotermes gilvus Hagen. termasuk ke dalam famili Termitidae,
sub-famili Macrotermitidae dan genus Macrotermes. Kepala rayap ini berwarna
coklat tua. Mandibel berkembang dan berfungsi, mandibel kiri dan kanan simetris
dan tidak memiliki gigi marginal. Mandibel melengkung pada ujungnya dan
Labrum ini memiliki hyalin pada ujungnya. Antena terdiri atas 16-17 ruas
(Nandika et. al., 2003).
Taksonomi dari rayap tanah M. gilvus Hagen. adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Divisi : Avertebrata
Kelas : Insecta
Ordo : Isoptera
Famili : Termitidae
Sub famili : Macrotermitidae
Genus : Macrotermes
Spesies : Macrotermes gilvus Hagen.
Rayap adalah serangga sosial anggota bangsa Isoptera yang dikenal luas
sebagai hama penting kehidupan manusia. Rayap bersarang did an memakan kayu
perabotan atau kerangka rumah sehingga menimbulkan banyak kerugian secara
ekonomi. Sebutan rayap mengacu pada hewannya secara umumnya. Dalam
koloni, rayap tidak memiliki sayap. Namun demikian, beberapa rayap dapat
mencapai bentuk bersayap pada awal musim penghujan di petang hari dan
berterbangan mendekati cahaya yang dikenal dengan bentuk laron atau anal-anal
(Anton, 2001)
Rayap tanah Captotermes spp. adalah salah satu dari banyak hama yang
menyebabkan kerusakan serius pada produk hasil kayu khususnya sebagai
material bangunan.. Di antara kerusakan kayu yang diakibatkan oleh serangga,
rayap tanah merupakan jenis rayap yang menimbulkan kerusakan paling besar dan
ganas dalam menyerang kayu adalah rayap tanah (Coptotermes cun'ignathus
Holmgren). Serangan rayap ini adalah yang paling mencolok dibandingkan
dengan kerusakan oleh serangan organisme perusak yang lain, dan keadaan ini
diperburuk dengan penggunaan spesies-spesies kayu yang keawetannya rendah.
Oleh karena itu, selain pengendalian untuk rayap itu sendiri, penggunaan bahan
lain yang bersifat anti terhadap serangan rayap perlu diaplikasikan baik dalam
METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini dilakukan mulai bulan Desember 2012 – Maret
2013. Penelitian dilaksanakan di 2 lokasi yaitu di Laboratorium Teknologi Hasil
Hutan Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian Medan untuk pengujian sifat
fisis contoh uji papan, di Hutan Thri Darma Universitas Sumatera Utara untuk
pengujian ketahanan contoh uji papan terhadap serangan rayap tanah.
Bahan dan Alat Penelitian
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel uji Fiber Plastic
Composite (FPC) berukuran 10 x 5 x 1 cm sebanyak 36 sampel dengan komposisi
perbandingan polipropilena dengan serat kardus (50:50, 60:40 dan 70:30),
persentase penambahan zat aditif benzoil peroksida dan maleat anhidrida (1 %
dan 2 %) sebanyak 6 ulangan, kertas lakmus, cat minyak,dan papan seng,
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kaliper, mikrometer
sekrup, timbangan dengan ketelitian 0,01( sampai dua desimal dibelakang koma) ,
oven, desikator, cutter, camera digital, dan Program Pengolah Data SPSS versi 20.
Prosedur Penelitian
1. Persiapan Contoh Uji
Contoh uji merupakan Fiber Plastic Composite yang dibuat dari serat
kardus dan polipropilena dengan penambahan maleat anhidrida (MAH)
sebagai coupling agent dan benzoil peroksida (BPO) sebagai katalisator
sebanyak 36 sampel yang berukuran 10 x 5 cm x 1 cm. Sebelum ditanam,
dilakukan pengovenan pada suhu 80oC terhadap FPC untuk mencapai berat
2. Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam yang akan dibuat berfungsi sebagai tempat dikuburnya
sampel uji ( FPC ) yang berukuran 10 x 5 cm. Lokasi lubang tanam dibuat
sedekat mungkin dengan sarang rayap tanah. Ukuran kedalaman lubang
tanamnya adalah sedalam 8 cm. Adapun polanya adalah sebagai berikut :
Gambar 1. Letak Lubang Tanam FPC Terhadap Sarang Rayap Tanah
3. Penanaman Contoh Uji
Contoh uji FPC sebanyak 36 buah di tanam pada kedalaman 8 cm di
bawah permukaan tanah. Lamanya penanaman contoh uji adalah selama 100
hari. Peletakan contoh uji dilakukukan secara acak ( random ) dan diusahakan
sedekat mungkin dengan sarang rayap tanah. Adapun pola penyebarannya
adalah sebagai berikut :
Sarang Rayap
Gambar 2. Pola Penanaman Contoh Uji FPC Pada Lubang Tanam
4. Pengamatan
Pengamatan dilakukan sekali dalam kurun waktu penelitian yakni
pada saat akhir masa kubur contoh uji (FPC) yakni 100 hari.
5. Pengujian Sifat Fisis
Pengujian sifat fisis papan Fiber Plastic Composite (FPC) antara lain
kerapatan, kadar air, daya serap air dan pengembangan tebal.
a. Kerapatan
Pengujian kerapatan dilakukan pada kondisi kering udara dan volume
kering udara. Contoh uji berukuran 10 cm x 5 cm x 1 cm ditimbang beratnya,
lalu diukur rata-rata panjang, lebar, dan tebalnya untuk menentukan volume
contoh uji. Nilai kerapatan papan FPC dihitung dengan rumus :
Kerapatan (g/cm3) =
) (
) (
3 cm Volume
gram Berat
Standar pengujian kerapatan juga disesuaikan dengan klasifikasi papan
partikel (serat) menurut FAO (1958) dan USDA (1955) seperti tabel dibawah
Tabel 1. Klasifikasi Papan Partikel Menurut FAO (1958) dan USDA (1955)
Papan serat lunak agag kaku, SRF (Semi Rigid) 0,02–0,15 1,25-9,5 Papan serat lunak kaku, RF (Rigid) 0,15-0,40 9,5-25
Ditekan
Papan serat sedang (MDF) 0,40-0,80 25-50 Papan serat keras (Hardboard/HF) 0,80-1,20 50-75 Papan serat spesial (SDHF) 1,20-1,45 75-90 Sumber : Kollmann et al. (1975)
b. Penurunan Berat
Pengujian penurunan berat dilakukakan dengan cara menghitung selisih
berat awal (Ba) sebelum ditanam dalam keadaan BKO (Berat Kering Oven)
dengan berat akhir (Bo) yaitu berat contoh uji setelah masa penanaman di
lokasi sarang rayap selama 100 hari. Perhitungannya dapat dirumuskan
sebagai berikut :
Penurunan Berat = Berat awal (Ba) – Berat akhir (Ba) Berat awal (Ba)
c. Kadar Air (KA)
Contoh uji yang digunakan untuk menguji kadar air papan komposit
berukuran 10 cm x 5 cm x 1 cm. Kadar air papan partikel dihitung
berdasarkan berat awal (BA) dan berat kering tanur (BKT) selama 6 jam pada
suhu 80 °C. Nilai kadar air papan FPC dihitung berdasarkan rumus :
d. Daya Serap Air (DSA)
Contoh uji berukuran 10 cm x 5 cm x 1 cm ditimbang berat awalnya (B1).
Kemudian ditanam di dalam tanah selama 100 hari, setelah itu ditimbang
beratnya (B2). Nilai daya serap air papan FPC dihitung berdasarkan rumus :
Daya Serap Air (%) = 100%
e. Pengembangan Tebal
Contoh uji berukuran 10 cm x 5 cm x 1 cm sama dengan contoh uji daya
serap air. Pengembangan tebal didasarkan pada tebal sebelum (T1) yang
diukur pada keempat sudut dan dirata-ratakan dalam kondisi kering udara dan
tebal setelah penanaman (T2) selama 100 hari. Nilai pengembangan tebal
papan komposit dihitung berdasarkan rumus :
Pengembangan Tebal (%) = 100%
6. Pengujian Kualitas Papan
Pengujian sifat fisis dan mekanis dilaksanakan berdasarkan standar JIS
(Japanese International Standard) A 5905-2003 dan standar JIS A
pengembangan tebal, dan daya serap air (untuk sifat fisis). Nilai standar JIS A
5905-2003 hardboard S20 dan JIS A 5908 (2003) particleboards type 13
ditampilkan pada Tabel 1.
Tabel 2. Nilai Sifat Fisis Papan Komposit Menurut Standar JIS A 5905-2003
Hardboard S20 Dan JIS A 5908-2003 Particleboardstype 13
No. Sifat Fisis Mekanis JIS A 5905-2003
hardboard S20
7. Pengukuran Tingkat Serangan Rayap Tanah
Sampel uji yang telah kering oven dengan suhu 800C selama 6 jam setelah
penanaman selama 100 hari, dibelah menjadi 2 bagian pada bagian tebalnya
untuk melihat tingkat serangan rayap tanah di dalam sampel uji. Tingkat
serangan dinilai berdasarkan perbandingan bagian yang rusak dengan luas
permukaan yang diukur. Untuk menilai tingkat serangan penilaian dapat
dilihat seperti pada Tabel 2.
Tabel 3. Klasifikasi Ketahanan Kayu atau Produk Kayu Terhadap Serangan Rayap Tanah.
Sumber : SNI 01. 7202-2006
8. Analisis Data
Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial,
dengan dua faktor perlakuan yaitu faktor A adalah perlakuan perbandingan
B adalah perlakuan zat aditif yaitu benzoil peroksida sebanyak 1% dan 2%
dari berat maleat anhidrida. Contoh uji dilakukan sebanyak 6 kali ulangan.
Sehingga jumlah papan komposit kayu plastik yang diproduksi sebanyak 36
papan. Model statistik yang digunakan adalah:
Yijk = µ + αi + βj + (αβ)ij + ∑ijk
Keterangan :
Yijk : Pengamatan perlakuan pemberian perbandingan plastik : bahan baku
taraf ke-i (polipropilena : serat kertas kardus), zat aditif taraf ke-j (MAH
dan BPO) dan ulangan taraf ke-k (1, 2, 3).
µ : Rataan umum/nilai tengah.
Αi : Pengaruh perbandingan plastik : bahan baku taraf ke-i (polipropilena :
serat kertas kardus)
Βj : Pengaruh zat aditif taraf ke-j (MAH).
(αβ)ij :Pengaruh interaksi perlakuan pemberian perbandingan plastik : bahan baku
taraf ke-i (polipropilena : serat kertas kardus) dan zat aditif taraf ke-j
(MAH).
∑ijk : Pengaruh acak galat percobaan dari perlakuan pemberian perbandingan
plastik : bahan baku taraf ke-i (polipropilena : serat kertas kardus), zat
aditif taraf ke-j (MAH) dan ulangan ke-k (1, 2, 3).
Ada tidaknya pengaruh perlakuan terhadap respons maka dilakukan
analisis sidik ragam berupa uji F pada tingkat kepercayaan 95% menggunakan
perangkat lunak SPSS 20.0. Untuk mengetahui pengaruh dari perlakuan-perlakuan
yang dicoba, dilakukan analisis keragaman dengan kriteria uji jika F hitung ≤ F
hitung kedua faktor tunggal yaitu perbedaan komposisi polipropilena : serat
kardus (50:50, 60:40, dan 70:30) dan persentase benzoil perosida (BPO) dari berat
maleat anhidrida (MAH) (1 % dan 2 % ) serta interaksi antara keduanya
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sifat Fisis Fiber Plastic Composite
Kerapatan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerapatan FPC dengan zat aditif
MAH (maleat anhirida) 1 dan 2 % setelah di uji coba ketahanan rayap selama 100
hari dengan grave yard test dan perbandingannya dengan saat sebelum uji grave
yard test adalah seperti pada Gambar 3.
Gambar 3. Grafik Rata-Rata Kerapatan FPC Termodifikasi
Berdasarkan grafik rata-rata kerapatan FPC pada Gambar 3 di atas
diketahui bahwa terdapat penurunan nulai kerapatan setelah masa pengujian FPC
selama 100 hari dengan metode grave yard test. Penurunan tingkat kerapatan
terjadi pada seluruh sampel uji kecuali pada sampel uji dengan per;akuan 60:40
1%. Berdasarkan standar uji yang digunakan yakni JIS A 5905-2003 hardboard
S20, contoh uji yang memenuhi standar tersebut adalah contoh uji dengan
perlakuan 50:50 1%, 60:40 1%, 60:40 2%, 0:30 1% dan 70:30 2%. Hasil yang
ditunjukkan pada Gambar 3 menyatakan bahwa kerapatan yang diperoleh
perlakuan FPC 60:40 1% mengalami kenaikan dibandingkan dengan kerapatan
FPC tersebut sebelum grave yard test. Hal ini terjadi diduga memiliki hubungan
dengan tingginya daya serap air pada perlakuan FPC 60:40 1% (berdasarkan
Gambar 5 sebesar 3,43%) dibandingkan dengan sampel pengujian lainnya.
Tingginya kemampuan FPC 60:40 1% menyerap air memungkinkan air tersimpan
pada gugus penyusun FPC tersebut selama proses pengujian yang menyebabkan
bertambahnya massa dari papan FPC tersebut.Apabila dikaitkan dengan kadar air
(Gambar 4), maka kenaikan massa dari FPC 60:40 1% setelah pengujian grave
yard test dapat dikatakan normal. Pengaruh peningkatan massa pada FPC dengan
perlakuan 60:40 1% diduga akibat pengaruh kenaikan kadar air sebesar 3,81%
sesudah pengujian serangan rayap adalah lebih tinggi dibandingkan sebelum
pengujian.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan nilai rata-rata kerapatan yang
diperoleh pada FPC termodifikasi (diberi perlakuan PP:SK (50:50, 60:40, 70:30)
dan MAH 1% dan 2%) setelah 100 hari pengujian grave yard test berkisar antara
0,75 s.d 0,9 g/cm3. Nilai kerapatan tertinggi adalah 0,9 g/cm3 yakni pada FPC
70:30 2% . Nilai kerapatan terendah terdapat pada papan FPC 50:50 2% yakni
sebesar 0,75 g/cm3. Walaupun demikian, secara keseluruhan nilai kerapatan papan
FPC termodifikasi sudah memenuhi standar JIS A 5908 (2003) yang memiliki
kisaran kerapatan standar yakni 0,400 s.d 0,900 g/cm3.
Adanya variasi dari besaran nilai kerapatan pada FPC termodifikasi dapat
disebabkan beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut dapat dibagi atas komposisi PP
konsentrasi zat aditif MAH (maleat anhirida) pada FPC. Komposisi PP dan serat
kardus yang memiliki nilai kerapatan terbaik adalah 70:30 2% yaitu 0,9 g/cm3.
Kandungan PP yang cukup tinggi (70:30) terhadap serat kardus membuat
kerapatan selama masa pengujian grave yard test tidak banyak berubah. Hal ini
juga diduga karena propylene merupakan jenis plastik yang memiliki kekerasan
dan stabilitas yang cukup baik. Semakin tinggi konsentrasi PP terhadap serat
kardus dapat meningkatkan kestabilan kerapatan papan FPC selama masa
pengujian grave yard test. Hal ini sesuai dengan Kusnaedi (2003) polypropylene
merupakan satu-satunya plastik yang mampu dikombinasikan untuk berbagai
tujuan. Rigiditas, kekerasan, stabilitas dimensi, permukaan, dan melt flow lebih
baik dibandingkan material termoplastik lainnya.
Berdasarkan Gambar 5 terlihat bahwa nilai kerapatan pada papan FPC
berbeda-beda dan terdapat variasi yang berbeda juga antarkonsentrasi. Variasi
nilai ini diduga oleh ukuran serat yang digunakan tidak sama sehingga tidak
meratanya penyebaran tiap-tiap komponen pada tahap penyatuan PP dan serat
kardus saat proses pembuatan FPC. Distribusi komponen dalam papan FPC yang
tidak menyebar merata menyebabkan saat proses pengempaan, tekanan yang
diterima pada tiap lembaranpapan FPC tidak sama. Hal ini dapat menyebabkan
selama pengujian grave yard test, kemampuan tiap-tiap FPC dalam
mempertahankan stabilitas terhadap serangan rayap dan kondisi iklim
berbeda-beda sehingga pada akhirnya meskipun volume papan FPC sama tetapi berat
papan dapat berbeda.
Adanya zat aditif pada papan FPC membuat sifat-sifat tertentu pada papan
atas standar JIS 5908 A (2008) yakni FPC 70:30 2% (0,9g/cm3) membuktikan
bahwa selain komposisi PP:serat kardus yang tinggi, adanya zat aditif dalam
konsentrasi yang lebih akan memperbaiki sifat-sifat tertentu pada papan FPC
sehingga terkait dengan serangan rayap, FPC tersebut dapat mempertahankan
kerapatannya sendiri dengan baik. Hal ini sesuai dengan Yandesman (1998)
bahwa pemberian bahan tambahan khusus dimaksudkan untuk memperbaiki
sifat-sifat tertentu papan serat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa FPC termodifikasi yang diuji dengan
grave yard test termasuk dalam kategori papan serat keras (Hardboad/HF)
berdasarkan klasifikasi papan partikel (serat) menurut FAO (1958) dan USDA
(1955) pada tabel 1. Hal ini ditunjukkan pada nilai kerapatan papan FPC yang
berkisar antara 0,75 s.d 0,9 g/cm3. Meskipun demikian, terdapat 1 papan FPC
yang memiliki kerapatan dibawah kategori papan serat keras, yakni FPC 50:50
2% yang hanya memilikin kerapatan 0,67 g/cm3(dibawah standar FAO (1958) dan
USDA (1955) yakni < 8g/cm3 ), sehingga dikategorikan sebagai papan serat
sedang (MDF).
Berdasarkan hasil analisis sidik ragam perbedaan nilai kerapatan yang
diperoleh pada setiap papan FPC tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan
dan faktor perbandingan PP:serat kardus dan adanya zat aditif MAH (1% dan 2%)
tidak berpengaruh nyata terhadap kerapatan papan FPC selama pengujian grave
yard test. Hal tersebut didukung dari hasil analisis ragam kerapatan papan serat
FPC yang dilakukan bahwa faktor perbandingan PP dan serat kardus dan zat aditif
tidak mempengaruhi kerapatan papan serat. Demikian juga, faktor interaksi antara
mempengaruhi kerapatan papan serat FPC yang diuji (Lampiran 2). Hal ini karena
kerapatan yang diperoleh dari pengujian grave yard test hampir sama pada setiap
perlakuan.
Kadar Air
Hasil penelitian rata-rata kadar air FPC dengan zat aditif MAH 1 % dan
2% setelah di uji coba ketahanan rayap selama 100 hari dengan grave yard
testdisajikan pada Gambar 4 dan dapat dilihat lengkap pada Lampiran 3 dan 4.
Gambar 4. Grafik Nilai Rata-Rata Kadar Air FPC Termodifikasi
Berdasarkan Gambar 4 di atas ditunjukkan bahwa terdapat perubahan
rataan nilai keadaan kadar air pada seluruh sampel FPC yang diuji sebelum dan
sesudah uji grave yard test selama 100 hari. Kadar air tertinggi diperoleh FPC
dengan perlakuan 50:50 2% MAH dan kadar air terendah diperoleh FPC dengan
perlakuan 70:30 2% MAH. Perubahan signifikan terjadi pada FPC 50:50 2% dan
FPC 70:30 1%. Menurut JIS A 5905-2003 hardboard S20 dan JIS A 5908-2003
particleboards type 13 disebutkan bahwa sebelum pengujian grave yard test FPC
50:50 2% dan FPC 70:30 1% masuk dalam kriteria kedua standar. Akan tetapi,
setelah pengujian grave yard test kedua FPC tersebut berada diluar kedua standar
pengujian yang digunakan. Hal ini diduga terjadi akibat bentuk FPC yang
menunjukkan tidak meratanya penyebaran serat kardus dan plastik PP pada proses
awal pembentukan FPC termodifikasi ini. Ketidakmerataan penyebaran ini dapat
menyebabkan lemahnya ikatan plastik PP dengan serat kardus yang akhirnya
mempermudah masuknya molekul air kedalam gugus OH yang tedapat pada serat
kardus yang merupakan bahan berlignoselulosa.
Berdasarkan JIS A 5905-2003untuk hardboard dan JIS A 5908 (2003),
papan yang nilai kadar airnya berada dibawah 5% adalah papan FPC 50:50 1%
MAH dan 70:30 2% MAH. Variasi nilai kadar air pada masing-masing papan
FPC termodifikasi itu sendiri memiliki kecenderungan yang tidak normal. Seperti
terlihat pada FPC 50:50 2% MAH yang memiliki nilai kadar air dengan perbedaan
yang sangat jauh dengan contoh uji lainnya. Hal ini diduga akibat kondisi dan
letak papan FPC pada lokasi pengujian grave yard testdan juga perbedaan kondisi
terkait dengan keberadaan air selama masa pengujian pada masing-masing lokasi
penanaman papan FPC berpengaruh terhadap perbedaan nilai kadar air pada
papan FPC 50:50 2% MAH dibandingkan dengan papan FPC termodifikasi
lainnya. Satu papan FPC termodifikasi lain yang memiliki nilai rata-rata kadar air
yang berada diluar standar JIS A 5905-2003 adalah FPC 70:30 1% MAH dengan
nilai rata-rata kadar air sebesar 13,34%.
Gambar 4 menunjukkan bahwa terdapat beberapa papan FPC
termodifikasi yang memiliki nilai kadar air dibawah 5 %. Hal ini diduga terjadi
karena molekul air sulit menembus gugusan komponen FPC yang tersusun atas
diduga berpengaruh terhadap penangkapan molekul air dimana serat kardus
mengandung gugus selulosa yang mampu mengikat molekul air. Dan apabila
keberadaan gugus selulosa sedikit maka akan sulit untuk menyerap dan mengikat
molekul air ke dalam papan FPC termodifikasi.
Faktor lain yang mempengaruhi nilai kadar air pada papan FPC adalah
kerapatan papan FPC. Semakin tinggi kerapatan pada papan FPC, maka kadar
airnya akan semakin rendah. Beberapa FPC yang membuktikan hal ini adalah
FPC 70:30 2% dan C dan 60:40 1% dan 2% serta 50:50 1%. Hal ini terbukti pada
papan FPC dengan nilai kerapatan yang tinggi seperti pada Gambar 3 memiliki
kadar air yang rendah seperti tampak pada Gambar 4.
Kadar air papan FPC juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan karena
papan FPC dalam campurannya terdiri dari bahan berlignoselulosa yang memiliki
sifat higroskopis sehingga dapat menyerap dan mengeluarkan molekul air dari
atau ke dalam papan FPC itu sendiri. Selain itu faktor kelembaban dari keadaan
disekelilingnya akan membantu bahan berlignoselulosa itu dalam hal menyerap
atau melepaskan air. Berdasarkan pengamatan pada keadaan lokasi pengujian
grave yard test, dapat diketahui keadaan pada lokasi pengujian dan keadaan lokasi
tanam tergolong memiliki kadar air tinggi baik di dalam lokasi penanaman
maupun udara sekitar lokasi penenaman sampel uji coba FPC termodifikasi.
Berdasarkan analisis ragam kadar air papan FPC termodifikasi
menunjukkan bahwa faktor perbandingan PP:serat kardus dan zat aditif MAH (1%
dan 2%) tidak berpengaruh nyata terhadap kadar air papan FPC termodifikasi.
kardus dan zat aktif MAH (1% dan 2%) pada Lampiran 2 berpengaruh nyata
terhadap kadar air papan FPC termodifikasi.
Hasil uji Duncan pada perlakuan interaksi perbandingan PP:serat kardus
dan zat aditif MAH (1 % dan 2%) didapati bahwa hasil rata-rata kadar air papan
FPC termodifikasi tidak berbeda nyata antara konsentrasi 50:50, 60:40 dan 70:30
dengan zat aditif MAH 1% dan 2%.
Daya Serap Air
Hasil penelitian rata-rata daya serap air pada FPC dengan zat aditif MAH
1 % dan 2%setelah di uji coba ketahanan rayap selama 100 hari dengan grave
yard test disajikan pada Gambar 5 dan dapat dilihat lengkap pada Lampiran 9
dan 10.
Gambar 5. Grafik Rata-Rata Daya Serap Air FPC Termodifikasi
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan nilai daya serap air papan
FPC termodifikasi berkisar antara 1,27 % - 3,63 %. NIlai daya serap air terendah
terdapat pada perlakuan papan FPC 70:30 dengan zat aditif MAH 2% dan nilai
daya serap air tertinggi terdapat pada perlakuan papan FPC 50:50 dengan zat
JIS A 5908 (2003) type 13 tidak mensyaratkan nilai daya serap air.
Walaupun demikian, uji daya serap air perlu dilakukan sebagai pertimbangan
untuk menentukan aplikasi penggunaan dari papan FPC didasari pada sifat
pengujian grave yard test, apakah papan FPC ini tahan digunakan pada
lingkungan dengan kelembapan tinggi atau rendah. Akan tetapi, jika dinilai dari
kerapatan papan FPC termodifikasi yang diantara mencapai nilai > 0,9 g/cm3,
maka berdasarkan standar JIS A 5905-2003 hardboard 820, nilai daya serap air
seluruh FPC termodifikasi berada dibawah 30% yang artinya memenuhi standar
JIS A 5905-2003 untuk hardboard. Oleh karena nilai daya serap air yang rendah
maka papan FPC termodifikasi yang telah diuji dengan metode grave yard test ini
dapat direkomendasikan untuk penggunaan eksterior maupun interior.
Nilai rata-rata daya serap air yang rendah ini disebabkan karena adanya zar
aditif pada papan FPC. Berdasarkan hasil sidik ragam daya serap air papan FPC
termodifikasi (Lampiran 10) diperoleh bahwa faktor perlakuan yakni zat aditif
MAH berpengaruh nyata terhadap nilai daya serap air. Hal ini dikarenakan MAH
(benzoil peroksida) merupakan salah satu zat aditif yang ditambahkan pada papan
FPC dengan tujuan sebagai katalisator dan berfungsi juga untuk memperbaiki
sifat-sifat yang dimiliki oleh papan FPC tersebut. Hal ini sesuai dengan Maulana
(2011) yang menyatakan bahwa MAH juga berperan dalam memperbaiki sifat
fisis dan mekanik yang akan dihasilkan dari proses pembuatan papan serat
tersebut.
Rendahnya nilai daya serap air pada papan FPC termodifikasi setelah
pengujian grave yard test ini dapat disebabkan oleh perbedaan tinggi rendahnya
FPC termodifikasi ini menyebabkan sedikitnya ruang bagi bahan berlignoselulosa
untuk dapat menyerap molekul air dari lingkungan sekitarnya. Adanya bahan
plastik (PP) pada papan FPC juga turut berperan terhadap rendahnya daya serap
air pada papan FPC termodifikasi ini. Berdasarkan hasil uji lanjutan Duncan
seperti pada Lampiran 11 terhadap rata-rata nilai daya serap air tidak
menunjukkan perbedaan yang nyata dari masing-masing konsentrasi MAH 1%
dan 2% pada setiap tingkat perbandingan PP dan serat kardus ( 50:50, 60:40,
70:30).
Adapun faktor lain yang menyebabkan daya serap air pada papan FPC
termodifikasi ini rendah adalah keberadaan PP (propylene) itu sendiri Seperti
diketahui PP merupakan salah satu HDPE (High Density Polyetilhene). Hal ini
menyebabkan papan FPC termodifikasi ini tidak memiliki kemampuan menyerap
air dalam jumlah yang banyak. Karena salah satu sifat HDPE adalah kemampuan
kedap (anti) airnya yang cukup tinggi. Hal ini dibuktikan dalam pernyataan
Hartono (1998) yang menyatakan bahwa polietilena (PE), polietilena kerapatan
tinggi (High Density Polyethylene ) selanjutnya disingkat HDPE , polipropilena
(PP), dan asoi. HDPE termasuk salah satu jenis bahan yang memiliki sifat padat,
keras, kuat dan kedap air, yang sukar terdegradasi secara alamiah.
Pengembangan Tebal
Hasil penelitian pengembangan tebal papan FPC termodifikasi dari PP dan
serat kardus dengan penambahan zat aditif MAH 1% dan 2 % disajikan pada
Gambar 6. Grafik Rata-Rata Pengembangan Tebal Papan FPC Termodifikasi
Gambar 6 menunjukkan bahwa nilai pengembangan tebal papan FPC
termodifikasi berkisar antara -9,94% - 15,16%. Pengembangan tebal papan FPC
terendah diperoleh pada perlakuan FPC 60:40 dengan zat aditif MAH 1 %
(menyusut) dan nilai pengembangan tebal tertinggi diperoleh pada perlakuan FPC
50:50 dengan zat aditif MAH 1%. Berdasarkan JIS A 5908 (2003) type 13
pengembangan tebal yang diperbolehkan adalah ≤ 12%. Berdasarkan s tandar
tersebut maka papan FPC yang memenuhi standar adalah FPC dengan perlakuan
PP:serat kardus 50:50 2% MAH, 60:40 1% MAH, 60:40 A 2% MAH, 70:30
masing-masing 1% dan 2% MAH.
Adanya perbedaan pengembangan tebal yang tidak wajar (menyusut)
diduga dipengaruhi oleh sifat kembang susut kayu yang masih dimiliki oleh
komponen berlignoslulosa pada FPC termodifikasi ini. Berdasarkan perubahan
pengembangan tebal pada FPC yang mengalami penyusutan (FPC 70:30 1% dan
2%, FPC 50:20 2%, dan FPC 60:40 1%) dapat diketahui bahwa keadaan kondisi
pengujian yang lembab (graveyard test) tidak membuat sifat hidropilik dari serat