PENGESAHAN PANITIA UJIAN
Skripsi berjudul Konsep Manusia menurut R. Paryana Suryadipura telah diujikan dalam siding munaqasyah Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 16 September 2008. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Filsafat Islam pada Program Studi Aqidah Filsafat.
Jakarta, 16 September 2008
Sidang Munaqasyah
Ketua Sidang Munaqasyah Sekretaris
Harun Rasyid, M.A H. Rifqi Muchtar,M.A
NIP. 150 232 921 NIP. 150 282 120
Penguji I Penguji II
Agus Darmaji, M.Fils Edwin Syarif, M.A
NIP. 150 262 447 NIP. 150 283 228
Pembimbing
Konsep Manusia Menurut Paryana Suryadipura
Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Filsafat Islam
Martinda Rifai NIM. 204033103091
PROGRAM STUDI AQIDAH FILSAFAT
FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
ABSTRAK Manusia dalam Pemikiran R.Paryana Suryadipura
Pemikiran R.Paryana Suryadipura mengenai manusia adalah rumusan yang sangat saintis dan filosofis lalu mengarah kepada metafisika. Menurutnya hal itu telah melatarbelakangi munculnya kesadaran manusia terhadap Tuhan. Prinsip yang terpenting dari manusia adalah berpikir dengan sadar akan nilai religiusitas, spiritualitas. Karena itu manusia adalah Dualimus, yaitu antara Spiritualimus dan Materialimus, dengan maksud ruh dapat membangkitkan materi, badan, atau sebaliknya materi bisa membangkitkan ruh.
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah s.w.t. Yang sudah memberikan kemudahan
untuk dapat menyelesaikan skripsi ini. Dikarenakan ada sebab pertamalah aku
berada di sini. Semoga Ilmu yang telah tertulis dalam skripsi ini menjadi pemacu
untuk lebih baik.
Terima kasih kepada orang tua yang memberikan kekuatan untuk maju
hingga sampai sekarang ini. Serta adik-adik yang selalu memberikan kerinduan
keceriaan.
• Kedua orang tua Penulis: Ayahanda H.Triono Satrio Putro, S.E, dan Ibunda Hj.Farinia.
• Kedua Adik Penulis: Sora Yuninda Putri, yang baru SMP kelas 1, dan Shila yang baru masuk TK dan sangat pintar sekali membaca.
Terima kasih kepada dosen-dosen yang telah memberikan inpirasi agar
aku lebih berkembang kedepan.
• Dosen-dosen yang Membuat Pencerahan: Prof.Dr.Zainun Kamal, Prof. Dr. Aziz Dahlan. Prof. Dr. Fauzan, Fakhruddin M.Fils,
Dr.Syamsuri, M.Ag.
• Dosen-dosen yang Mengarahkan Skripsi: .Agus Darmaji, M.Fils. Rosmaria, M.Fils., Harun Rosit, M.Ag.
Terima kasih kepada pegawai Perpus Ushuluddin yang dengan senang hati
selalu memberikan kemudahan-kemudahan, serta kekeluargaannya yanga tak bisa
• Kepada Staf Perpustakaan Ushuluddin: Pak Agus perpustakaan yang senang hati selalu melayani. Edwin, terima kasih
persahabatannya. Ibu Yana, secara pengertian dan
kekeluargaannya.
Terima Kasih terhadap teman-teman seperjuangan serta diskusinya yang
sangat seru serta bantuan pinjaman buku.
• Satra teman skosan yang telah baik meminjamkan buku dan kini kos bersama di Jl. Sedap Malam no. 40, RW/RT 08/08. Ocit
(Rosit) yang setiap pagi dan sore membuat kosan tidak pernah
menjadi sepi. Abi yang telah memberikan petunjuk penting dalam
menambah refrensi skripsi ini. Serta tidak lupa kepada Anden
calon Dukun Indonesia tercinta, juga terima kasih atas pinjaman
bukunya Harun Hadiwijono, Manusia dalam Kebatinan Jawa dan hadirnya menjadi semangat saya untuk pergi ke kampus.
• Luluk yang mengingatkan adanya pertemuan di kampus itu penting. Via yang telah sungguh ingin lulus bersama dan terima
kasih ongkosnya untuk menemukan secara tidak sengaja Keluarga
Dipura, yang berhubungan tokoh utama dalam skripsi ini.
• Kepada yang Tersayang Nuraida, M.Psi. membuat dorongan perasaan untuk segera menyelesaikan skripsi ini, juga fasilitas
Penulis berdoa semoga Allah s.w.t membalas di dunia dan di akhirat.
Semoga Allah akan memberi anugrah dan memberikan yang terbaik dari
kita semua. Dari keadaan menyenangkan saya berterima kasih kepada Fakultas
Ushuluddin dan Filsafat tercinta. Tanpa kampus ini mungkin tiada kesan dan
kenangan berfilsafat.
Jakarta 21 Agustus 2008
Penulis
DAFTAR ISI
ABSTRAK... i
KATA PENGANTAR... ii
DAFTAR ISI ... v
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah.. ... 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 9
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 10
D. Metode Penelitian ... 10
E. Sitematika Penulisan... 11
BAB II PRIHAL TENTANG MANUSIA-MANUSIA ... 13
A. Pengertian Filsafat Manusia... 13
B. Manusia Pandangan Hinduisme ... 15
1. Artha ... 16
2. Kama... 16
3. Dharma... 16
4. Moksa ... 17
C. Manusia Pandangan Filosof Cina ... 17
1. Confucius ... 18
2. Lou Tse... 19
D. Manusia Pandangan Filosof Yunani Kuno ... 21
1. Protagoras... 22
3. Plato ... 24
E. Manusia Pandangan Kitab Suci... 24
1. Injil... 24
2. Al-Quran ... 26
F. Manusia Pandangan Sufisme ... 27
1. Jasad ... 28
2. Ruh... 28
3. Jiwa ... 29
G. Manusia Pandangan Filosof Barat... 29
1. Rene Decartes ... 30
2. Henri Bergson... 30
BAB III PANDANGAN MANUSIA R. PARYANA SURYADIPURA... 32
A. Biografi R.Paryana Suryadipura... 32
B. Filsafat Manusia R.Paryana Suryadipura... 34
C. Susunan Jasad... 35
D. Susunan Rohani... ... 37
E. Kesadaran... 39
F. Hakikat Aku ... 40
BAB IV PARA PENGAMAT DAN PENGKRITIK PEMIKIRAN R.PARYANA SURYADIPURA ... 41
A. Penulis dan Kritikus R.Paryana Suryadipura ... 41
1. A.Seno-Sastroamidjojo ... 42
3. Rahnip ... 43
4. Suwarno Imam... 43
BAB V PENUTUP... 44
A. Kesimpulan ... 44
B. Saran-saran ... 46
BAB I PENDAHULUAN
! "
!
#
"
#
" $ #
%
Kesalahan pemikiran tersebut membuat kaum muda serba mempunyai
pola pikir yang cenderung kepada tidak percaya lagi kepada Tuhan. Paryana
sebagai dokter yang melihat keadaan yang pemikiran manusia yang multi krisis.
Inilah yang menjadi pemikiran Paryana sebagai dokter ternyata tak puas akan
pandangan saintis yang masih belum final. A. Creassy pun melihat betapa
hebatnya menyelidiki adanya ketuhanan diberikan The Royal of Great Britain
sebesar $ 48,000.-.2 Hal itu sangat luar biasa perkembangan di dunia Barat serta
mempengaruhi Indonesia pada masa itu dengan paham materialistis hingga ateis.
Kita bisa perhatikan pemikiran Indonesia tersebut dengan adanya tulisan
Soekarno, Di bawah Bendera Revolusi. Tulisan tersebut mengawali dengan penjelasan buku tersebut dengan Nasionalisme, Islamisme, Komunisme.3
Bagaimana perkembangan pemikiran Pancasila? Alisjahbana mengungkapkan:
”Kesukaran lain dengan Pancasila pada masa ini ialah bahwa Soekarno telah merumuskan Pancasila dan mengembangkannya dengan diperinci secara amat jauh, seperti Nasakom, sosialisme Indonesia, dan lain-lain, dan ini yang kita tolak. Kita belum mempunyai rumusan mitos Pancasila yang baru. ... .” 4
1 A. Creassy Morrison,
Menjingkapkan Dunia Modern, penerjemah Hilman Madewa dan
Mr. Muchtar Kusumaatmadja, cet-1, (Kebangsaan, Djakarta: 1958), h. 9. 2 A. Creassy Morrison, Menjingkapkan Dunia Modern, h. 8. 3 Soekarno, Di bawah Bendera Revolusi, (Djakarta:1963), h. 1. 4 Harsja W. Bachtiar,
!
"
$ #
"
!
&
"
' (
"
$
" )
$
5 Alexis Carrel, Mesteri Manusia, penerjemah Kurnia Roesli dkk, (Remaja Karya, Bandung: 1987), h. 121-120.
6 R. Paryana Suryadipura,
# " *
Skeptisisme terhadap agama di kaum pelajar serta mahasiswa berkembang
dikarenakan adanya lapangan pengetahuan saintis yang serba jelas ketimbang
agama, spritual, dan filsafat. Bila pemuda saat itu sedang meninggikan saintis
ketimbang spiritualitas, religiusitas, filsafat maka Paryana mengambil jalan
penghubung antara saintis dan dunia metafisik. Sebab, pemikiran pemuda saat
masa itu kontras dengan efek-efek materialisme, positivisme, dan rasionalisme,
dengan begitu Paryana pun merekonstruksi pemikiran yang ada dan mengangkat
apa yang ada di dalam saintis itu supaya keluar menuju dunia metafisis yaitu
ruhani, jiwa, atau yang lebih tinggi lagi sadar akan Tuhan.
Dalam merekonstruksi pemikiran yang telah ada Paryana ingin
menunjukan ada benang merah antara kitab suci al-Quran, Injil, Regveda, serta
pemikiran para filosof Yunani Kuno, para filosof China, filosof Islam, sufi,
hingga filsafat Barat, dan saintis yang telah berkembang pesat, lalu ia membuat
garis penghubung yang sangat jelas bahwa semua mengemukakan sesuatu yang
metafisis, yaitu hubungan antara fisis dan metasis atau hubungan tubuh dan jiwa,
antara otak dan akal, antara manusia dan Tuhan.
Dikarenakan pemikiran Paryana terbilang mendaur pemikiran apa yang
tersirat supaya dapat kembali menjadi bangunan pemikiran yang saintis dan tidak
melupakan spiritualitas kepada Tuhan maka Paryana adalah seorang yang yakin
akan Tuhan dengan landasan yang sangat rinci melalui pembahasan otak manusia
sampai kesadaran yang sesungguhnya.
Hampir satu abad di Indonesia, ternyata karya Paryana belum ada
menandingi untuk bisa dijadikan acuan saintik dan metafisik. Landasan yang
spekulatifnya pun menjadikan tulisannya kepada landasan filosofis dalam menilai
karya-karya saintik yang memiliki kelebihan tersendiri. Karena Paryana berdiri
pada dunia saintik dan metafisik, maka kodrat manusia adalah antara jasmani dan
ruhani. Spekulatif tersebut terlihat seorang Paryana sangguh untuk
mengkomplasikan semua gagasan yang bersifat saintis dan juga gagasan filosofis.
Gagasan itu di sambut dari banyak penulis, yaitu A.Seno-Sastroamidjojo, Harun
Hadiwijono, Rahnip, Suwarno Imam. Walau pun demikian dari buku-buku
mereka masih belum koridor penulis deskripsi dan kritikus. Dan hasilnya mereka
hanya melihat sisi luarnya saja dari pemikiran Paryana.
Ini terbukti tulisan buku Harun Hadiwijono, Konsep tentang Manusia dalam Kebatinan Jawa. Terlihat sangat meringkas, dan hanya mengartikan dari sisi kebatinan saja dalam mengartikan pemikiran manusia menurut Paryana dan
itu hanya sebatas kesimpulan.
Rahnip, melihat Paryana selalu dari sisi religius keislaman melulu, bila
untuk menganggapnya pemikiran filsafat Rahnip mengakui namun pemikiran
filsafatnya di luar dari Islam.
Yang lebih baik dari penulis itu adalah A.Seno-Sastroamidjojo, walaupun
mengkritik Paryana dikarenakan belum menuntaskan masalah Hakekat Hidup
”Menurut dokter Paryana Suryadipura, ”mengerti rahasia hidup itu berarti mengerti kehidupan yang sejati”. Sayang sekali, bahwa tidak diterangkan lebih jauh apakah sebenarnya yang dimaksudkan dengan” kehidupan, mengkritik tujuan dari manusia yang belum dijabarkan sebagai sejati manusia hidup yang belum dijelaskannya.”8
Di luar dari tanggapan penulisan terhadap Pemikiran Paryana, kita bisa
melihat argumentasi untuk melihat Islam dari banyak aspeknya. Terutama untuk
mengkoreksi pemikiran Rahnip atas Paryana yang selalu dibenturkan kepada
al-Quran. Maka kita dapat melihat pendapat Harun Nasution dalam buku, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, yaitu:
”Jadi Islam, berlainan dengan apa yang umum diketahui, bukan hanya mempunyai satu-dua aspek, tetapi mempunyai berbagai aspek. Islam sebenarnya mempunyai aspek teologi, aspek ibadat, aspek moral, aspek mistisisme, aspek falsafah, aspek sejarah, aspek kebudayaan dan lain sebagainya.”9
Berarti bila membicarakan Islam masih sangat luas sekali dalam
menganalisa pemikiran, dan disesuaikan aspek mana yang akan dikaji. Bagaimana
J.W.M. Bakker menulis tentang kebudayaan itu dapat diarahkan kepada tingkatan
yang sudah dirumuskan karena ilmu filsafat pun sampai kepada menyelidiki
hakikat kebudayaan.10 Dengan begitu kita harus mengkaji pemikiran Paryana dari
segi filsafat yang memang berlandasan pemikiran yang sangat universal.
8 A.Seno-Sastroamidjojo,
Hakekat Hidup, Suatu Tafsiran, (Timun Mas, Djakarta: 1963), h.72.
9 Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, jilid I, cet 5, (UI Press, Jakarta:1985), h. 27.
10 J.W.M. Bakker SJ,
+ ,
-.
/
' '0
$ #
' .%%
Dukungan tersebut ditambah lagi dengan tulisan Suwarno Imam S.
Dengan menulis buku Konsep Tuhan Manusia, Mistik dalam berbagai Kebatinan Jawa, dan ini menambah jelas bahwa Paryana merupakan termasuk aliran kebatinan Jawa. Walau pun demikian apa yang dimaksud Suwarno Imam bukan
sesuatu yang negatif dalam penjelasan arti dari kebatinan.12 Namun dari
pengungkapan tersebut telah mengundang titik kotras yang berlawanan dengan
definisi kebatinan menurut Kamil Kartapradja yang berdasarkan pada Departeman
Agama.13 Sebab, perkembangan kebatinan sudah masuk kedalam mitos dan
tingkatannya tidak pernah sistematiskan menjadi nilai filosofis, dan dalam tulisan
Kamil Kartapradja, tersebut Paryana tidak dianggap termasuk aliran kebatinan.
11 Rahnip,
Aliran Kepercayaan dan Kebatinan dalam Sorotan, (Pustaka Progresif, Surabaya: 1997), h. 155.
12 Suwarno Imam, Konsep Tuhan Manusia, Mistik dalam berbagai Kebatinan Jawa, (Rajagrafindo, Jakarta:2005), h. V.
13 Kamil Kartapradja,
Aliran Kebatinan dan Kepercayaan di Indonesia, yang di tulis oleh Kamil Kartapradja, ada dua golongan besar yaitu:
”Pertama, golongan kepercayaan yang animistis tradisional tidak terdapat filosofinya dan tidak ada mistiknya, misalnya: Kaharingan kepercayaan suku Dayak di Kalimantan, Pelbegu dan Perlamin kepercayaan rakyat di Tapanuli, kepercayaan-kepercayaan rakyat di Irian di Lembah x dan sebagainya, dan masih banyak lagi di beberapa pulau di Indonesia ini.
Kedua, golongan kepercayaan rakyat yang ada filosofinya disertai ajaran mistik yang memuat ajaran-ajaran bagaimana caranya agar manusia dapat bersatu dengan Tuhan atau sedikitnya dapat sedekat mungkin. Ajarannya selalu membicarakan yang ada sangkut pautnya dengan batin atau hal-hal yang gaib. Oleh karena itu golongan kepercayaan ini disebut golongan kebatinan, bahkan pada beberapa tahun yang lalu ada badan koordinasinya yang dipimpin oleh Mr. Wongsonegoro, dengan nama BKKI singkatan dari kata-kata ”Badan Kongres Kebatinan Indonesia” dan sekarang badan tersebut menjelma dengan nama Sekretariat Kerjasama Kepercayaan Indonesia.
Dari Aliran Kepercayaan yang dulunya berkumandang dengan nama Aliran Kebatinan, seperti PANGESTU, paguyuban Sumarah, Sapta Darma dan lain-lain... .”14
Berarti penjelasan dari Kamil Kartapradja menegaskan Paryana tidak ada
hubungan dengan aliran kebatinan yang berkembang di Indonesia.
Pada akhirnya kita memang masih belum terbiasa dengan tradisi
kebudayaan berbeda pendapat mengenai adanya berkeyakinan ataupun
menganalisa pemikiran mengenai apa mengenai hal yang metafisika. Dengan
begitu pemikiran filsafat masih belum berkembang pada tingkat mahasiswa dan
pada penulis di Indonesia untuk patut dicermati.
Dengan demikian kita bisa melihat aliran yang merupakan kebatinan
tersebut banyak di Indonesia menurut Kamil tiada nama Paryana Suryadipura di
ikut sertakan termasuk aliran kebatinan. Namun, tidak bisa dielakkan bahwa
Paryana memang mengarahkan dari kehidupan manusia berakhir dengan masa
kebatinan (geestelijke periode).15 Yang berbeda antara kebatinan dengan yang dipahami sebagai sekte kebatinan.
Menurut Paryana adalah ’masa kebatinan’ adalah waktu disaat pemuda
berumur dua puluh tahun, dan disaat itu pemuda sedang berada di Perguruan
Tinggi, yang di dalamnya memiliki kesulitan dengan pelajaran, kesukaran di
dalam bidang politiek, moral dan kemasyarakatan, kesukaran dengan ekonomi dan kehidupan, kesukaran dilapangan keasmaraan, maka pada masa itu dibutuhkan
pendidikan kebatinan dan pendidikan kemasyarakatan: religi, filsafat, ilmu jiwa dan sosiologi.16 Dengan begitu kaum muda yang dicetak oleh universitas dan
fakultas bukan menghasilkan ”homo economicus” yang terutama adalah ”animal metaphysicum”.17 Dikarenakan untuk memahami manusia sebagai makhluk yang biologis dengan logika, rasio, lalu di seimbangkan dengan manusia sebagai
makluk ruhani dengan intuisi, kesadaran akan dunia spiritual.
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
"
!
% 1 2 , 3 ! 4
(
15 R. Paryana Suryadipura, Alam Pikiran, h. 270. 16 R. Paryana Suryadipura,
" 5
1 5
, 5 $
"
! ! ,
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penulisan skripsi mengambil tokoh R. Paryana Suyadipura untuk
memperkenal salah satu filusuf Indonesia, semoga dapat menjadi bahan rujukan
sebagai filusuf Indonesia. Dikarenakan banyak tokoh yang berada pada dunia
pemikiran di Indonesia masih sangat asing sekali orang Indonesia mengenalnya
sebagai filusuf atau pun pemikir.
Tokoh yang dikaji ialah ”Konsep Manusia menurut R. Paryana
Suryadipura”, diharapkan pemikirannya tentang manusia dapat menjadi nilai
orientasi pengembangan diri pemuda Indonesia. Dengan begitu semoga alasan
yang filosofis terhadap manusia dapat menjadi berkembang di Indonesia. Oleh
karena itu penulisan tentang R. Paryana Suryadipura, menjadikan nilai tersendiri
setelah kita mengenal filsafat Barat dan filsafat lainnya. Dengan demikian harapan
terbesar dari tulisan skripsi ini adanya perkenalan Filsafat Indonesia yang terasing
D. Metode Penelitian
Penelitian yang akan digunakan adalah metode deskriptif dan analitik.
Dengan begitu skripsi ini akan banyak menjelaskan melalui karya Paryana
Suryadipura dengan buku Alam Pikiran sebagai referensi primer Manusia dengan Atomnya dalam Keadaan Sehat dan Sakit.
Peneliti juga untuk menambah sistem penulisan dengan buku Pedoman Akademik 2004-2005 fakultas Ushuluddin dan Filsafat. Di tambah lagi dengan buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, (Skripsi, Tesis, dan Disertasi) penerbit CeQda 2008. Dengan begitu, semoga dapat mensistematikan apa saja yang
dianggap penulis skripsi menjadi lebih baik untuk menjelaskan kontes masalah
dalam penulisan skripsi.
E. Sistematika Penulisan
BAB I, dalam bab awal ini skripsi ini mengajak pembaca pada dunia
manusia yang modern, serta pemikirannya yang harus dikenal sebagai materialis,
jika demikian gambaran manusia modern sampai ragu kepada Tuhan. Ditambah
lagi kita bisa melihat penafsiran yang keliru kepada para penulis dan pembaca
bisa melihat penjelasan aliran kebatinan secara lebih relatif, ketimbangan
pengetahuan yang telah disistematikkan.
BAB II, mulai merumuskan pengertian Filsafat Manusia, karena dari
zaman India Kuno, Cina Kuno, Yunani Kuno, hingga Filsafat Barat modern masih
terus berkemban. Pembahasan itu penting dikala Paryana telah terpengaruh
BAB III, dalam bab ini menjelaskan biografi R.Paryana Suryadipura.
Dalam bab ini menjelaskan siapa saja yang berpengaruh untuk lahirnya buku
tersebut. Penghormatan orang-orang sekelilingnya berguna untuk melihat
pengaruh terbesar pada masa itu. Sebab, biodatanya dalam skripsi ini masih
terhitung minim. Pengambilan informasi pun dapat menemui titik terang dikala
ada sisilah latar belakang keluarga. Rupanya nama R.Paryana Suryadipura,
berasal dari keluarga Dipura.
BAB IV, dalam bab ini membicara poin penting skripsi, yaitu Konsep
Manusia menurut Paryana Suryadipura. Manusia akan dijawab dengan adanya
pertanyaan dipembatasan masalah. Secara jelas Konsep Manusia, Susunan
Jasmani, Ruhani, Kesadaran, dan Hakikat Aku. Dengan demikian pembahasan
tersebut adalah sistesa besar antara pengetahuan yang berlandasankan teori,
dengan nuansa filosofis.
BAB V, bab ini adalah bagaimana konsep manusia Paryana Suryadipura
sebagai secara garis besar. Semoga saran-saran yang ada menjadi pemacu bagi
penulis dan pembaca skripsi ini dalam memahami Filsafat Indonesia. Sebab,
perkembangan Filsafat Indonesia masih terasing di negeri sendiri. Bisa
dibayangkan fokus filsafat di luar filsafat Indonesia yang belum direduksi,
akhirnya generasi sekarang sebagai buntut yang tidak tahu perkembangan
BAB II
PRIHAL TENTANG MANUSIA-MANUSIA
A. Pengertian Filsafat Manusia
Filsafat manusia sesungguhnya dimulai dengan adanya mempertanyakan
manusia itu berasal dari apa? Dari mana? Lalu akan kemana? Sehingga timbulnya
pertanyaan tersebut untuk dijawab dengan berspekulasi bahwa manusia berasal
dari material, dan immaterial.18 Bila adanya jawaban dengan keduanya berarti
kerangka pemikirannya termasuk dualimus.19 Atau pun salah satunya saja yang lebih melihat manusia sebagai material semata. Oleh karena itu, landasan itu
penting untuk bisa dijadikan alasan yang sangat mendalam tentang manusia.
Lahirlah sebuah pemikiran yang selalu dikatakan materialis, spritualis,
idealis, serta konsep ketuhanan yang bisa terbilang imajinatif untuk mengatakan
manusia adalah makhluk tuhan yang transendental.
Manusia masih tanda tanya? Dari kalangan Agama, dikatakan sebagai
hasil karya Tuhan. Di dalam kalangan Ilmuwan dikatakan sebagai makhluk
biologis. Lalu berlainan lagi di dalam pemikiran filosof-filosof yang penuh
dengan jawaban bertentangan atau pun mendukung dari beberapa sumber
keyakinan. Hingga terbiasa di anggap sebagai manusia yang sempurna
dibandingkan binatang. Terlihatlah sangat nampak sekali bagaimana jawaban
tersebut sangat jelas ketika pembahasan tentang manusia itu dipertanyakan
sebagai manusia, Aku siapa? Mungkin aku hanya binatang yang berpikir, oleh
18 Immateri tersebut dalam arti Spiritualimus.
19 Lihat pada Abstrak skripsi dan pada BAB IV, Penulis menjelaskan kearah
sebab pemikiran yang membedakan aku dengan hewan yang sibuk akan
makannya dan harus berlutut
Walau terlihat sangat sederhana untuk berspekulasi, hal tersebut telah
menjadikan polemik yang masih bersifat esensial dalam pembahasan filsafat
manusia. Dikarenakan manusia dalam tingkatan berpikir masih berpolemik akan
kemanusiaannya. Sebab, landasan awal tersebutlah yang sekiranya penting
dipertahankan sampai manusia terlihat sangat jelas darimana manusia dan untuk
apa? Lalu berakhir manuju kemana?
Semakin dipertanyakan manusia yang jelas akan menjadi terlihat
samar-samar, tujuan akan kemana manusia? Mungkin yang lebih membingungkan lagi
aku berada dimana? Hingga untuk apa? Lalu berakhir kemana? Pertanyaan itu
sudah jelas, namun ternyata jawaban yang panjang terlalu tidak menjelaskan.
Walau pun demikian apa yang telah berkembang hanya menjadi permasalahan
yang akan dijawab oleh di jawab oleh filusuf Yunani hingga Barat, China dan
dapat menjadi koreksi penjelasan manusia secara jelas.
Dalam penjelasan N. Drijarkara S.J.
”Manusia itu adalah makhluk yang berhadapan dengan diri sendiri dalam dunianya”.20
Setidaknya fungsi sebagai manusia dapat jelas menjadi dirinya sendiri. Hal
itu sebagai respon keadaan manusia haruslah disadari oleh manusia. Dengan jelas
siapa saja yang menyatakan dirinya manusia sebagai makhluk lalu siapa pun dia
akan bermasalah, atau merasakan kesenangan dan menyenangkan, menyedihan,
serta keadaan yang sangat sulit sekali yang didapati, dan semua itu karena diri
sediri didalam keadaannya, dan dunianya.
Sekilas pemikiran itu adalah bagaimana cara melihat dunia manusia yang
sangat berbagai rumusan sehingga terlihat matematis sekali dalam
memandangnya. Dan sebenarnya menurut Bakker Antropologi Metafisik, ia menerangkan bahwa rusmusan filsafat manusia tiada lagi yang baru. Memang bila
arahnya materi dan immateri tiada yang akan berbeda. Pernyataan seperti itu juga
sama ketika ada pernyataan ”semua orang dewasa dipastikan dari masa
kanak-kanaknya”.21 Pemikiran tentang manusia bisa saja menjadi nilai yang
bermacam-macam, segi biologis, segi religius, segi filsafat, segi budaya, segi sosiologis,
hingga segi spekulasi subtasi saat membicarakan ruh, jiwa, juga ketuhanan.
B. Manusia Pandangan Hinduisme
Lembah Indus merupakan lahirnya peradaban dunia lebih kurang 2500
SM. Hal itu terlihat adanya situs purbakala di sungai Ravi dan Mahenjo Daro di
sungai Hindus.22 Pemikiran India adalah bertujuan membuka kesadaran, dalam hal
ini penemuan Diri (atman), sesuatu yang kekal, yaitu tidak mengalami perubahan ruang waktu.23
21 Penulis menilai Manusia sebagai perjalannya secara permulaan adalah sama dan secara subtansi masih selalu relative, kita bisa saksikan tiap harinya membicarakan tentang manusia di seluruh televisi, dan di dalam tulisan-tulisan yang bernada untuk bercinta dan begitu banyak pembicaraan manusia dalam tulisan dengan bernada religious. Lalu semua itu untuk apa? Jikalau tidak untuk manusia.
22 Tim Redaksi Driyakara, Jelajah Hakikat Pemikiran Timur, cet-1, (Gramedia, Jakarta: 1993), h. 19
Menurut Heinrich, ide filsafat India terdiri ada 4, yaitu 1.Artha, 2.Kama,
3.Dharma, 4.Moksa. Dalam hal ini harus seorang manusia hendak menjalani tahap
tersebut sehingga mendapat ketenangan hidupnya. Yang berarti manusia adalah
mempunyai sisi material dan jiwa.
1. Artha
Artha, bertujuan mempunyai material, seperti mengusai ilmu pengetahuan yaitu,
ilmu ekonomi, politik, menjahui kebencian. Artha yang berarti benda, objek, substansi.
Dengan arti hal ini mencakupi kesenangan inderawi.24
2. Kama
Kama adalah kesenangan dan cinta, Kama adalah bagian dari Dewa Asmara yang
memiliki selembar bunga dan mempunyai lima anak panah yang mampu mengetarkan
hati. Ajaran Kama muncul untuk mencegah frustasi dalam hubungan suami-isteri. Karya
klasik India di tulis Vatsyayana, lalu dikenal sebagai abisius dalam seksualitas.25
3. Dharma
Dharma adalah kewajiban moral, Dharmasutra buku-buku hukum tersebut
dimanifestasikan kepada tokoh-tokoh hayal. Seperti Manu sebagai nenek moyang
manusia, guru-guru Brahma.26
4. Moksa
Moksa, apavarga, nirvttim atau nivrtti, dengan pembersihan dosa, atau
pembebasan spiritual. Muk, adalah melepaskan, membebaskan, mengeluarkan,
meninggalkan, lari, keluar. Apavarga dari kata kerja, menghacurkan, menghilang,
melepaskan, mencabut, mengeluarkan. 27
”... . Moksa itu melampaui bintang-bintang, bukan berkelana dijalanan desa. ... . Moksa adalah teknik untuk mentransendensikan perasaan dalam rangka menemukan, mengetahui dan tinggal di sebuah relitas abadi yang melatari mimpi
kehidupan dunia”.28
C. Manusia Pandangan Filosof Cina
Cina menjadi pradaban yang tertua dan hingga masih kini bertahan.
Ketimbang Sumeria, Assyria-Babylon, Mesir, dan Yunani-Roma. Walau pun
Mongol dan Manchus mengalahkan Cina, namun budaya Cina memenangkan. 29
Jusuf Sutanto menulis buku Kearifan Kuno di Zaman Modern, di dalam pendahuluannya dia menafikan stikma tidak rasional kepada pemikiran Timur
dengan The Tao of Phisics, karya Fritjof Capra, yang menjelaskan ada paralelisme antara fisika subatomik dengan kearifan kuno, dan pengetahuan modern hanya
mereduksinya.30
Konfusianisme telah menjadi aliran filsafat terpenting di Cina, Korea, dan
juga berkebang Jepang.31 Itu menandakan landasan filosofis tersebut sangatlah
membumi sehingga mempunyai landasan etika. Sedangkan sebaliknya menurut
27 Heinrich Zimmer, Sejaraha Filsafat India, h. 38. 28 Heinrich Zimmer, Sejaraha Filsafat India, h. 41-42. 29 Ong Hang,
Keajaiban Seni Motivasi Bangsa Cina Kuno, penerjemah Nadjamuddin (Prestasi Asia Pustaka, Jakarta: 2007), h. 1.
30 Jusuf Sutanto, Kearifan Kuno di Zaman Modern, Penyejuk Manusia dalam Mencari Kebenara, cet-1, (Hikmah, Jakarta:2004), h. 4
31Rochiati Wiriaatmadja, dkk,
semakin seseorang mempelajari etika semakin dapat menipu siapa pun dalam
perbuatannya, berarti biarkan kebaikan itu hadir dengan alaminya, sehingga
manusia itu dapat jujur dan jauh dari menipu siapa pun dalam perbuatannya.
3. Confucius
Confucius dilahirkan di negara Lu yang sekarang Chu Fu (diwilayah
Shatung).32 Ajaran moralitasnya tentang bernegara hingga rumah tangga dan
berkawan pun diajarkan Confucius. Masyarakat Cina mengenal ajaran Confucius
dengan nama Ju Chiau sebagai ajaran yang telah di kenal sebagai ajaran filsafat tentang moralnya.33 Fungsi dari moralitas adalah untuk manusia dapat
menempatkan pribadinya dalam keluarga, kawan, dan negara.
Konsepsi dari negara menurutnya adalah feodal, yaitu kesetiaan dan
ketaatan kepada yang memimpin dengan moralitas, bawahan yang taat kepada
atasan dan atasan memberikan membela melindungi bawahannya. Orang muda
menghormati yang tua, dan orang tua mencintai orang muda. Hingga kepala
negara harus taat kepada raja dan raja harus memerhatikan bawahannya dan
rakyatnya. Ketertiban tersebut dikenal Wu Lun, yaitu lima hubungan, yaitu:
”1. Hubungan antara raja atau pemerintah dan rakyat, 2. Hubungan ayah dan anak, 3. Hubungan suami dan istri, 4. Hubungan kakak dan adik, hubungan kawan dan kawan”.34
Hal itu adalah yang harus dipelajari untuk menjadikan manusia baik. Bila
seorang raja dapat memerintahkan rakyatnya dengan sejahtera, dengan
32Rochiati Wiriaatmadja, dkk, Sejarah Peradaban Cina, h.110. 33 Rochiati Wiriaatmadja, dkk, Sejarah Peradaban Cina, h. 112. 34 Rochiati Wiriaatmadja, dkk,
perlindungan terhadap bawahannya, maka berikanlah keadilan kepada rakyatnya,
keluarga pun akan menjadi sejahtera. Begitu juga anak dengan orang tuanya
membimbing dan memberikan kebutuhan, maka seorang anak harus taat
semestinya untuk membantu kedua orang tuanya.
4. Lou Tse
Lou Tse di kenal sebagai filusuf dengan karyanya Tao Te Ching. Lou Tse dikenal pada 4 abad SM akhir.35 Pemikirannya tentang Tao telah mempengaruh
sendi-sendi kehidupann masyarakat Cina. Dengan gagasan yang mudah dipahami,
termanivestasikan pemikirannya mengenai negara. Menurutnya negara yang
menggunakan aturan yang mudah, menjadikan masyarakat itu menjadi taat, dan
sebaliknya banyaknya aturan dapat menjadikan masyarakat menjadi penjahat.
Ajarannya mengenai Tao telah menjadi ispirasi untuk manusia, semua
tidak mesti harus bersusah payah dan manusia hanya menjalankan dan jangan
melawan alam. Pada kitab Tao Te Ching, Lou Tse menjelaskan tentang Tao dan ini terlihat sangat mendalam.
”Tao yang dapat dibicarakan bukanlah Tao yang sebenarnya atau yang abadi dan nama yang dapat diberikan bukanlah nama yang sejati”.36 Sungguh sangat imjinatif sekali pemikiran Lou Tse, sebagai bentuk
filosofis yang tergambar puitis. Hingga banyak tafsiran dalam sangat panjang
lebar. Termasuk Lim Tji Kay menafsirkan dengan makna yang lebih mendalam:
35 Rochiati Wiriaatmadja, dkk, Sejarah Peradaban Cina, h.122. 36 Lou Tse,
”... . Bagaimana manusia yang tinggal di bumi ini dapat mengetahui tentang keadaan semesta alam. Pengetahuan manusia sangat terbatas, bagaikan katak di dalam perigi (sumur), pengetahuan tentang dunia saja masih belum sepenuhnya diketahui, bagaimana dpat mengetahui Tao? Tidak mungkin bukan? Di atas telah diterangkan bahwa luasnya Tao tidak terbatas, sesuatu yang tidak terbatas tidak dapat dibicarakan, dan sesuatu yang tidak dapat dibicarakan, tidak dapat di beri nama, bila nama itu dengan paksa diberikan bukanlah nama yang sejati lagi.”37
Dengan begitu manusia yang dianggap sebagai manusia adalah yang telah
menyatu dengan alam semesta. Semua itu layaknya air yang mengikuti kemana
saja tempatnya. Inilah way of life for human, the one nature, berarti manusia harus sederhana dan seimbang denga alamiahnya. Dikala manusia bicara harus juga
dengan diam, dan diamnya adalah gerakan. Berarti tidak mesti manusia
beraktifitas, atau harus mati-matian karena obyek tujuannya. Hal tersebut bila kita
pastikan akan menjadi sia-sia belaka. Adanya Tao adalah yang diartikan sesuatu
yang tinggi dan di lain sisi lain adalah sesuatu adanya hukum semesta ini yang
kemudian manusia tidak dapat melepaskan kecuali dengan disesuaikannya dengan
hukum alam.38
Lou Tse memandang manusia kebaikan ataukah kejahatan setelah manusia
cerdik dan pandai. 39 Oleh karena itu perbuatan manusia dapat dipandang baik
disebabkan menyesuaikan dirinya dengan Tao.40 Lou Tse melihat kehidupan
diumpakan air, karena kelembutannya dapat hidup, berarti kekerasan benda
lainnya selain air dapat hancur dengan sendirinya. Kesimpulannya bahwa
D. Manusia Pandangan Filosof Yunani Kuno
Pandangan yang berkembang pada masa Yunani Kuno telah menjadi peran
tersendiri di kala menjadi rumusan besar pada pemikiran Filsafat Patrestik
Skolastik dan Filsafat Islam, hingga Filsafat Barat mengembangkan arah
pemikiran yang arah perkembangan rasio dapat dijadikan alasan. Di zaman
Yunani Kuno lah seorang dapat mengelurkan pemikiran tersebut dengan terbuka.
Hal itu bisa lihat karya Andrew Gregory, Eureka! Lahirnya Ilmu Pengetahuan, yang diterjemahkan oleh Syafruddin Hasani, bahwa banyak sesuatu lahir pada
masa itu Yunani Kuno kita tidak dapati di zaman Kekaisaran Romawi Barat, serta
kebangkitan Kristen awal telah menjatuhkan ilmu pengetahuan yang sudah
berkembang.41
1. Protagoras
Relativisme dalam bahasa Latin, relativus, yang berarti ’nisbi, relativ’.42 Pandangan penganut pemikiran ini akan memberi penilaian relativ pada apa saja.
Bila ditanyakan mana yang dapat bisa dikatakan hukum yang pasti? Mereka akan
mengatakan kepastian adalah semuanya dalam hukum yang relativ. Tiada yang
sanggup menyamakan kebenaran yang satu dengan yang lain. Ini selaras dengan
pandangan Protagoras berazazkan nilai relativ yang menilai tak menentu untuk
41 Andrew Gregory, Eureka! Lahirnya Ilmu Pengetahuan, penerjemah Syafruddin Hasani, cet-1, (Jendela, Yogyakarta: 2002), h. 166.
42 A. Mangunhardjana,
menjawab kebenaran pada diri manusia, dan lebih jauh lagi ia menilai relavisme
adalah manusia menentukan sendiri nilai dari kebenaran.
Dalam memaknai manusia yang sangat tinggi sekali adalah Protagoras
sebagai tokoh sofis abad ke-5 masehi dalam sejarah ialah dianggap pertama kali
dengan pernyataannya bahwa Manusia ukuran segalanya. Walau pun ia terbilang sofis dikarenakan bisa mengambil pertimbangan sosiolog dan antropolog,43
namun telah memaknai manusia sebagai kekuatan yang sangat bebas sekali untuk
menilai dengan persepsi apapun. Dia mengambil jalur relativme untuk menilai
etika pula. Mungkin hal tersebut bukanlah menilai manusia secara subtansi
tentang keberadaan manusia berasal dari mana, namun hanya berdasarkan
bagaimana etika itu sebenarnya bersifat relativ dan bebas nilai, maka
pandangannya tentang manusia bebas menentukan nilai.
2. Socrates
Socrates (+470-399 SM)44 lahir di Athena dan hidup hingga mati
mempertaruhkan pendapatnya mengenai eksistensi jiwa yang kekal, ini
terdokumentasi oleh Phaedo yang menceritakan saat-saat Sokrates membela
keabasian jiwa.45
Pada saat keadaan yang penting juga tokoh filosof dari Yunani mucul
dengan warna yang berlawanan. Ini penting sebagai penentuan keabsolutan pada
43 Mohammad A. Shomali, Relativisme Etika, penerjemah Zaimul Am, (Serambi dan ICAS, Jakarta:2005), h. 45.
44 Linda Smith/William Raeper, dan Agama, Dulu dan Sekarang, penerjemah P. Hadono Hadi, cet-5, (Kanisius, Yogyakarta: 2004), h. 11.
diri manusia yaitu, manusia menginginkan kebenaran. Hal semakin jelas lagi
ketika pemikiran antara keabsolutan dan kerelativan terhadap menilai obyek
menjadi berlawan sekali. Bila ditanyakan tentang bagaimana tentang kebenaran,
maka Socrates dengan jelas mengatakan kebenaran adalah ada pada diri manusia.
Sedangkan bila ditanyakan kembali tentang tanggapan yang berbeda-beda
manusia menyikapinya, Socrates pun menganggapnya mereka mengatakan
kebenaran yang mereka ketahui dan semua manusia mencari kebenaran.
Jadi dalam diri manusia menginginkan kebenaran dan Sokrates
menganggapnya hal ini penting, berarti keabsolutan kebenaran itu ada, dan jauh
bersifat relativ. Melalui jalan diskusi-diskusi dan teknik kebidanan (maieutikê tekhnê). Ia mencari idea-idea umum yang terdapat dalam jiwa. ”Kenalilah dirimu sendiri” (gnôthi seauton), demikian semboyannya.46
3. Plato
Sebagai pemikiran yang sangat ideal sekali Plato sebagai murid meniru
Socrates sebagai guru memandang manusia hingga negara. Hal ini wajar, bila
mengambil rumusan bahwa kebenaran merupakan keabsolutan, dan ini
berkembang sampai kepada rumusan yang lebih melebar ketataran yang terdalam
pada diri manusia.
Plato melihat bagaimana keadilan yang bertitik tolak pada manusia lalu
merumuskan pembagian jiwa atas tiga fungsi, epithymia: bagian keinginan,
thymos: bagian energik, logos: rasional sebagai puncak segala lingkup.47 Namun jauh dari itu Plato mensistematiskan dari manusia yang terbagi menjadi tiga
bagian tersebut yang pertama epithymia adalah golongan produktif yang terdiri dari buruh, petani dan pedagang. Kedua thymos adalah golongan penjaga terdiri prajurit-prajurit. Dan ketiga logos adalah pejabat yang memegang pucuk pimpinan.48
E. Manusia Pandangan Kitab Suci
1. Injil
Karya Maurice Bucaille, yang telah di terjemahkan oleh Rahmani Astuti,
Asal-Usul Manusia Menurut Bibel Al-Quran Sains. Itu dapat dianggap sebagai langkah
terpenting untuk merealistiskan agenda apologetik yang sudah tertinggal. Walau hal itu
masih terlihat mengikuti perkembangan saintik tentang manusia yang diteliti para
ilmuwan zoologi. Ternyata hal itu masih terlihat wajar-wajar saja, disebabkan dunia
ilmiyah adalah bisa digeluti oleh siapa saja dan dari pemahaman apa saja.
Apa yang menarik dari penjelasan Maurice adalah ketika penelitian tentang
manusia itu dikumpulkan untuk di kaji. Sementara tidak sedikit pula data-data yang
dikembangkan dari Perjanjian Lama serta Perjanjian Baru Bibel, mau pun al-Quran
menjadi acuan. Pentingnya kajian yang menjelaskan manusia pada penciptaan. Kisah
pertama; Sakerdotal (Kitab Genesis, seluruh bab pertama dan bab 2, ayat 1 sampai 4a),
kitab ini yang di susun oleh para pendeta kuil Yarusalem dan kita itu lebih dari dari abad
47 P.A. van der Weij,
kenam masehi. Kitab ini dinamakan versi ’Sakerdotal’, yang menceritakan tentang
penciptaan langit dan bumi.49
”Versi Sakerdotal secara bijaksana menempatkan kemunculan manusia di atas bumi setelah kemunculan kelompok-kelompok makhluk hidup lainnya, tapi, sebagaimana telah kita catat untuk bagian dunia hewan lainnya, urutan kemunculan yang dilukiskan dalam kisah itu tidak sesuai dengan fakta-fakta paleontologi yang telah jelas terbukti.
Penjelasan mengenai hari ketujuh mengacu pada hari istirahat Tuhan, sebab itulah makna kata Ibrani ’Shabbath’; inilah asal-usul hari istirahat bagi orang-orang Yahudi, ... .”50
Kisah kedua; Yahwis (inti dari versi ini menceritakan manusia), versi ini berlawanan dengan versi modern tentang sejarah bumi:
”Tuhan Yahweh belum mengizinkan hujan turun di atas bumi dan belum ada manusia yang mengolah tanah”.51
Penjelasan itu mengisyaratkan bahwa manusia terbuat dari debu.52
Sedangkan dalam Perjanjian Baru, mencari genealogi Yesus, lalu sampai Ibrahim
dan Adam. Pencarian tersebut dalam Injil karang Matius dan Lukas.53 Dalam Lukas yang menarik adalah memuat tujuh puluh enam nama nenek-moyang Yesus sampai
Adam. Kita bisa melihat Lukas (3, 23-38).54 Secara jelas pemikiran Maurice termasuk saintik lalu kearah dokmatis teologis.
2. Al-Quran
Dengan begitu apa yang tergambarkan adalah gambaran manusia pada
tingkatan religiusitas dan bernilai ilmiah. Ini menjadi argumentasi yang
49 Maurice Bucaille,
Menurut Bibel Al-Quran Sains, penerjemah Rahmani Astuti, cet-5, (Mizan, Bandung: 1992), h. 47.
50 Maurice Bucaille, Asal-Usul Manusia, h. 173. 51 Maurice Bucaille, Asal-Usul Manusia, h. 174. 52 Maurice Bucaille, Asal-Usul Manusia, h. 174. 53 Maurice Bucaille,
menguatkan arti dari agama dan saintik, atau pun bersifat filosofis dalam
penyuguhannya. Al-Quran pun menyuguhkan lebih saintik yang sejalan dengan
sains modern.55
Ayat-ayat mutasyabihat dapat saja menjadi petunjuk penting dengan Allah memberikan petunjuk kepada orang yang menginginkan kebenaran.56 Dengan arti
yang sangat luas makna terkandung di dalam al-Quran, maka landasan
pengungkapan kebenaran dapat saja menambah landasan ide pemikiran untuk
menafsirkan manusia.
Harun Yahya penentang Dawinisme sebagai penggagas evolusi manusia
yang berasal dari kera. Sebagai pertanyaan pertanyaan yang mendasar adalah:
”1. Teori evolusi ini sama sekali tidak mampu menerangkan bagaimana kehidupan ini muncul di muka bumi; 2. Tidak ada penemuan ilmuah yang menunjukkan bahwa ”mekanisme evolusi” yang di canakan oleh teori ini memiliki kekuatan untuk membenarkan semua itu; 3. Rekaman fosil yang ada secara lengkap membuktikan seesuatu yang sangat bertentangan dengan semua kemungkinan yang ditawarkan oleh teori evolusi.”57
Harun Yahya berkeyakinan bahwa semua yang ada telah diciptakan dan
memandang al-Quran sebagai wahyu tentang terjadinya alam semesta, hingga
hujud dari manusia yang sangat otentik dari manusia dan bukan karena pengaruh
evolusi yang melihat manusia berkembang dari hewan kepada manusia.
F. Manusia Pandangan Sufisme
55 Maurice Bucaille, Asal-Usul Manusia, h. 186.
56 Harun Yahya, Misinterpretasi terhadap Al-Quran, Mewaspadai Penyimpangan dalam menafsirkan Al-Quran, penerjemah Samson Rahman, cet-1 (Robani Pres, Jakarta:2001), h. 15.
Sufisme adalah pandangan tentang kesucian diri manusia, dalam
sejarahnya mereka menjauhkan dari dunia politik, dan harta benda serta keihlasan
yang tinggi kepada Allah dan manusia. Manusia dalam pandangan sufi
bermacam-macam, dan secara garis besar terbagi menjadi dua, yaitu Jasad, dan Ruh.
Pemakaian kata sufi diperkirakan oleh Abu Hasyim al-Kufi (wafat tahun
150 H).58 Dalam itemologi yang ahl al–Suffah yang dengan maksud orang yang
ikut pindah dari Mekah ke Madinah, dalam keadaan yang kesulitan berada di sisi
rosullullah di mesjid dengan dengan berbantas pelana yaitu suffah. Ada juga yang mengidentikkan dengan Saf yang berarti barisan terdepan, dan Suf yaitu kain yang
terbuat dari wol.59
Tasawuf adalah membahas tentang interpretasi tentang diri kepada Allah.
Bukan hanya melulu kepada persoalan akhirat. Walau demikian persepsi yang
dikemkembang oleh orang sufi pada umumnya cenderung kepada akhirat,
sedangkan pembahasan diri masih pembahasan yang terbuka sangat luas.
Pembahasan antara jasad dan ruh, merupakan sesuatu yang mendasar
dalam membahas manusia. Jasad yang berasal dari tanah, dan akan punah. Lalu
ruh yang berasal dari Tuhan akan kekal dan bila manusia itu mati akan kembali
kepada Tuhan. Begitulah manusia yang dipandang dualistik, jasad dianggap
adalah keburukan dan ruh adalah kebaikan.
Dalam al-Quran dalam Sûrat al-Baqarah/185, ”Jika hamba-Ku bertanya
kepadamu tentang diri-Ku, maka Aku dekat dan mengabulkan seruan yang
58 Harun Nasution, Falsafat dan Mistisme dalam Islam, cet-11, (Bulan Bintang, Jakarta: 2004), h. 47.
memanggil jika Aku di panggil ... .” Sering dijadikan argumentasi tentang
pengenalan diri dan mempunyai diri manusia itu dengan Allah.
1. Jasad
Jasad telah menjadi sesuatu yang akan punah dengan waktu yang relatif cepat.
Kita pun aku mengalami pase kelahiran, bayi, anak, remaja, tua dan kematian. Dalam
pase yang sangat singkat tubuh kita pun akan melemah dengan banyaknya kelemahan
tubuh yang tak bisa dihindari. Kita adalah tubuh, yang dipastikan dari unsur tanah.
Dengan demikian para sufistik akan memandang asal manusia yang berasal dari bumi
atau tanah adalah kotor, hina, rendah, terhadap tubuh manusia.
Itulah yang sering selalu dianggap sebagai bagian dari kejahatan yang sangat bisa
dimaklumi, contoh lapar perut mendekati kepada pencurian. Sebagai buktinya semua
masih bertanya kepada perut.
2. Ruh
Ruh berasal dari Allah yang telah menghidupkan manusia. Proses tersebut
biasa dengan dalil ”Aku tiupkan sebagaian ruhKu” sebagai kiasan bahwa manusia
adalah mempunyai proses pembaitan yang sangat tinggi sekali antara manusia dan
Allah. Nilai subtasi dari manusia adalah kehidupan. Tanpa adanya ruh mungkin
seseorang akan mengagap adanya kenyataan adalah mayat. Ruh mengetahui
berasal dari keabadian yang merupaakan dari Tuhan.60
3. Jiwa
60 Laleh Bakhtiar,
Arti jiwa adalah nafs, dengan begitu adanya penyatuan ruh dan jasad lalu
terlahirlah jiwa yang berarti kemauan. Tanpa adanya korelasi antara ruh dan jasad tidak
mungkin dapat terlahir menjadi jiwa, berarti jiwa berada antara ruh dan jasad.61
Landasan hal tersebut seperti itu menandakan kebebasan dari Tuhan kepada
manusia. Sedangkan manusia itu tidak bisa terlepas dari tanggung jawab nantinya kepada
Allah.
Jiwa terbagi menjadi tiga, yaitu nafs nabatiyyah, nafs hayawaniyyah, dan nafs
nathiqah. Nafs nabatiyyah adalah mempunyai keinginan untuk keinginan makan tubuh.
Nafs hayawniyyah adalah mempunyai keinginan untuk bergerak dan kelahiran.62 Nafs Nathiqah adalah mempunyai keinginan menghujudkan kemampuan diri.63
G. Manusia Pandangan Filosof Barat
Filsafat Barat telah melanjutkan pemikiran Yunani Kuno dengan caranya
sendiri. Pemikiran modern masa itu telah meninggal Gereja dengan rasionalitas
yang sudah menjadi barometer kebenaran. Alasan yang tidak ril pun dianggap
omong kosong semata tanpa adanya dalil realistis. Bila berpikir hanya kepada
peran pemikiran agama dapat menjadi alasan yang mudah untuk dianggap tidak
masuk akal. Pada masa zaman pencerahan hadirlah Rene Descartes dengan
konsep rasionalitas dia dianggap bapak filsafat modern.
1. Rene Descartes
61 Laleh Bakhtiar, Perjalanan Menuju Tuhan, h. 34. 62 Laleh Bakhtiar,
Rene Descartes (1596-1650)64 adalah bapak filosof Barat Modern, dengan
begitu setidaknya ia berlainan dengan karya-karya Skolastik Paterstik. Dia
mengembangkan cara skeptisisme sampai ke rasionalisme. Layaknya sebuah
perjalanan pemikiran yang sangat bertentangan sekali dengan pola pemikiran
gereja. Tidak bisa dibayangkan di saat itu pemikirannya tentang keterbukaan
berlawanan dengan mengambil jalannya dengan menghadirkan nilai rel yang
masih tersamar-samar lalu dapat pula menjadi kemutlak. Maka ungkapan yang
dikenal ”aku berpikir maka aku ada”.
Descartes melihat manusia ada dua subtansi, yakni jiwa dan materi.
Setidak-nya ia melihat rasio lah yang membedakan manusia dengan binatang.
Karena jiwalah, manusia yang paling dungu dapat meliki kebebasan.65 Kesan
bahwa seorang baik atau pun jahat terletak pada rasio.
2. Henri Bergson (1859-1941)
Henri Bergson adalah filsuf Prancis, dia berketurunan bapak Polandia dan
ibu Ingris. Dia terkenal cerdas dan merebut peringkat pertama untuk pelajaran
filsafat dan matematika. Dia pun melanjutkan di Ecole normale superiure, yang melahirkan Emile Durheim sebagai ahli besar dala sosiolog.66
Manusia menurut Bergson mempunyai Materi dan Ingatan mempelajari hubungan antara jiwa dan tubuh, antara roh dan materi, dan hal tersebut bersifat
dualistis. Karena Bergson melihat Materialisme dan epifenomenalisme67 sebagai
64 Linda Smith/William Raeper, Ide-Ide Filsafat, h. 60.
65 F. Budi Hardiman, Filsafat Modern: dari Machiavelli sampai Nietzche, (Gramedia, Jakarta: 2004), h. 40-41.
66 K. Bertens,
pendirian mereka yang sudah berkembang pada abad 19, sebagai bagian yang
dievaluasi secara filosofis.68
BAB III
PANDANGAN MANUSIA R.PARYANA SURYADIPURA
A. Biografi R. Paryana Suryadipura
R. Paryana Suryadipura lahir pada tahun 1901,69 Dia hanya di kenal dokter
dan pensiun sebagai mantan kepala rumah sakit Umum Pusat Semarang.
Karyanya penulis baru ketahui ada dua yaitu, pertama; Alam Pikiran, Penerbit Sumur Bandung.70 dan kedua; Manusia dengan Atomnya, di terbitkan oleh PT Usaha Mahasiswa, Semarang.
Dilihat dari gelarnya selain dokter, dia juga seorang raden, karena gelar
tersebut tidaklah didapatkan secara belajar dan memang dapat dikatakan ia adalah
keturunan kerajaan. Dia adalah salah satu keturunan dari keluarga Dipura, yaitu
keturunan dari Prabu Siliwangi, ini diketahui dari salah satu anak Sastradipura.
Ternyata keturunan Prabu Siliwangi tersebut tersebar dimana-mana dengan nama
keluarga Dipura. Hingga ada yang menjadi dokter, dll. Hal ini didapati dari
informasi pak Ucup. Dia adalah penghubung yang dapat menghubungkan saya
dengan keluarga yang besar yang berada di Tasik. Informasi itu penting untuk
perkembangan pemikiran filsafat di Indonesia. Sebab, terdahulu sangat minim
sekali pengetahuan filosofis pada sebelum masa Indonesia merdeka atau pun
sesudahnya dalam kalangan orang-orang pribumi.
69 Daftar Tajuk Nama Pengarang Indonesia, (perpustakaan Nasional RI:2006), h. 232. 70 Soesanto Kartoatmodjo,
Memang dia terlihat aktif sekali dalam lingkungan kampus dalam kerja
sama penerbitan dan itu terlihat dari buku keduanya. Setidaknya dia masih
mendiskusikan tentang pemikirannya secara terbuka kepada mahasiswa sebagai
generasi pelanjut. Penerbitan Usaha Mahasiswa, itu terlihat dari minat kepada
kaum muda untuk bisa berkembang dan memberikan kesempatan yang lebih
untuk dapat berkembang.
Dalam penjelasannya tentang filsafat terlihat adalah secara keilmuan telah
mencukupi. Apalagi secara sistematika dia terlihat telah menguasai filsafat secara
akdemik. Bila pun ternyata mempelajari filsafat secara otodidak itu
ketidakmungkinan dan bisa saja terjadi interpretasi yang berlainan. Dengan begitu
tampak dia adalah seorang yang mempelajari filsafat secara akademik, atau yang
lebih dapat memungkinkan seringnya dia berdiskusi dengan zamannya untuk
mendiskusikan filsafat, karena dalam buku Alam Pikiran dalam sebuah kata pengantar hanya berterima kasih kepada Dr. R. A. Baudisch, yang telah
memberikan pinjaman naskah-naskah yang diperlukan.71
Cara penulisannya tentang menempatkan fot not pun di dalam buku Alam Pikiran terlihat sudah baik dan buku yang keduanya Manusia dengan Atomnya dalam Keadaan Sehat dan Sakit. Dengan begitu saya yakin dia seorang penulis ilmiah modern.
Dalam buku Manusia dengan Atomnya dalam Keadaan Sehat dan Sakit, dia berterima kasih kepada Prof. Dr. M. Sardjito sebagai orang Pimpinan
Perguruan Tinggi Kedokteran dan Lembaga Pasteur di Kelaten pada dekade
1940.72 Ternyata kedekatan dengan Lembaga Pasteur tersebut adalah studi
penelitian untuk percobaan, dia berterima kasih kepada R. Mohammad Hadi, dan
R. Timbul Masjono.73 Buku keduanya dalam pengantar, buku tersebut bermaksud
”Mengenal diri sendiri adalah mengenal Tuhan” yang diartikannya dari kuil di Delphi, ”KEN UZELF”74kepada Dewa Apollo.75
Tulisan Paryana berlandasan filosofis, yaitu induktif dan deduktif, untuk membuktikan hakikat insani bersumber dari Yang Satu, Sang Maha Penciptaan
dan juga hubungan Ciptaannya.76 Lalu bagaimana seorang orang yang berada
pada aliran filsafat positivisme pun dianggap sebagai tumbuhnya egoisme,
liberalisme, materialisme, kapitalisme, imprialisme.77 Oleh karena itu kesadaran
diperlukan dalam melihat diri untuk mencapai titik kesadara akan kemampuaan.
Itulah kesadaran secara immaterial yang ingin dikemukan oleh Paryana kesadaran
. Dari semua penjelasan tentang tentang otak manusia yang dapat melakukan
peroses ’memikir’ hingga dapat dikatakan insan kamil.
B. Filsafat Manusia R.Paryana Suryadipura
Dalam memahami konsep filsafat manusia Paryana Suryadipura dapat
dilihat dari bukunya Manusia dengan Atomnya dalam Keadaan Sehat dan Sakit. Disana ada kejelasan tentang manusia adalah Susunan Jasmani dan Rohani, lalu
memiliki Kesadaran kepada hingga Hakikat Aku. Bila melihat pemikirannya
72 Paryana Suryadipura,
Manusia dengan Atomnya dalam Keadaan Sehat dan Sakit, (Bumi Aksara, Jakarta: 1994), V.
73 Paryana Suryadipura, Manusia dengan Atomnya, h. VII. 74 Tulisan itu berdasarkan test asli.
75 Paryana Suryadipura, Manusia dengan Atomnya, h. VI. 76 Paryana Suryadipura,
tersebut dari buku Alam Pikiran, mengenai pemikirannya termasuk dalam dualismus, yaitu manusia Materialismus dan Spiritualimus, yang berarti roh bisa dijelaskan dari jasad dan sebaliknya jasad bisa menjelma menjadi roh.78
Bagaimana mengungkap pemikiran Anaxagoras, Aristoteles, Rene Decartes, dan
Arnold Geulincx telah terpengaruh oleh Decartes, bahwa Tuhan berhubungan
ketika mempunyai kesempatan (occasio), dengan lalu perumusan dengan Occasionalismus. Lalu, Spinoza berteori badan dan jiwa, yaitu (attribuut) dan (substantie).79
Landasan manusia adalah hayat (hidup) sebagai bagian materi dan rohani
yang karena berhubungan dengan penciptaan dunia, maka penjelasannya bumi
terdahulu adalah panas lalu menjadi dingin, berarti hayat datangnya dunia luar.80
C. Susunan Jasmani
Jasmani menurut Paryana adalah berhubungan dengan ’hayat’,81
menurutnya hayat dari luar dunia. Dikarenakan pada pase pertama dunia ini panas
lalu menjadi dingin, maka makhluk-makhluk dapat hidup di dunia, dari penjelasan
tersebut ’hayat’ berasal dari luar dunia. Hayat adalah di dalam elektron, dalam hal
ini elektron adalah kata-kata Tuhan.82 Sehingga memiliki tenaga yang besar sekali
dari proses sebelumnya, terbukti dari adanya bom atom.83
78 R. Paryana Suryadipura,
Alam Pikiran, h. 144. 79 R. Paryana Suryadipura, Alam Pikiran, h. 144-145. 80 Paryana Suryadipura, Manusia dengan Atomnya, h. 259.
81 Hayat adalah kutipan langsung dari Paryana, Manusia dengan Atomnya.h. 269. 82 Paryana Suryadipura,
Otak manusia adalah berfungsi sebagai tempat berpikir. Dalam
membicarakan otak adalah berlainan secara subtantif dengan hewan. Walau
hewan memiliki besar dalam otaknya yaitu paus dan gajah sebagai otak yang
terbesar, dan dibandingan manusia hanya 1400 sampai 1500 gram, karena
memiliki perbandingan berat badannya dengan otaknya maka otak manusia
terbilang besar 1: 40½, bila dibandingan gajah 1: 40.000.84
Dalam penjelasan filsafat manusia memang ia sangat menitik beratkan
pada bagaimana manusia dari individu yang mempunyai budi, yaitu subyek
memiliki hujud fisik yang otak yang baik. Sebab, dari apa yang kita fikirkan
merupakan dari otak yang memiliki pusat-pusatnya tersendiri. Sehingga ia
memiliki kesadaran yang benar-benar terjaga. Hal tersebut penjelasannya tentang
orang-orang jahat dengan orang-orang yang baik dari ukuran kepalanya. Seakan
percaya tidak percaya sudah ditemukan bahwa hujud kepala bisa saja menjadi
patokan baik ataukah jahat. Namun yang mencengangkan adalah ketika seorang
otak seperti orang biasa-biasa saja dalam lingkarannya dapat menulis 50 bahasa.85
Paryana dalam membahas tentang tubuh manusia adalah panca indra.
Persoalan terbesar adalah mengapa pancaindra mata apakah bersifat fisik ataukah
non-fisik? Sebab, pancaindra itu mengapa seperti mata yang tertutup masih
mampu untuk membaca. Dalam hal ini Paryana memberikan contoh Kuda Bux,
yang ditest oleh Harry Price dari The University London Council for Psychical Investigation Investigation,86 untuk membaca buku sedangkan matanya dalam kondisi tertutup, namun setelah di dalam ruang tertutup yang awalnya terang dan
84 R. Paryana Suryadipura, Alam Pikiran, h. 7. 85 R. Paryana Suryadipura,
Alam Pikiran, h. 8.
kini tidak adanya listrik, sinar matahari yang masuk dalam ruangan tersebut, Kuda
Bux tidak dapat membaca lagi, versi yang lain adalah dikarenakan Kuda Bux,
tidak mengizinkan hidungnya di tutup.87
Dalam menjawab permasalah Kuda Bux tentang pancaindra, Paryana
mengutip gagasan Al-Ghazali, dalam mambahas akal pada buku Ihya Ulumuddin,
yaitu Akal lahir hanya berfungsi di kala terang, dan Akal batin dapat berfungsi di
kala terang, maupun gelap.88
”... . Tubuh manusia merupakan susunan resonator-resonator, (resonatoren-systeem) seperti alat radio. Alat radio hanja berbunji apabila gelombangnja sesuai dengan gelombang setasion penjiar jang sedang dihubungkan dengan alat radio itu. ... .
Resonator-resonator dari tubuh manusia ialah Pantjainderanja”.89
Paryana dalam proses memikir ini mengambil kutipan langsung Arthur E.
Baines.
”Seluruh rasam dari susunan persarafan, risa, takik sambungan sumsum-punggung, sarung-saraf, simpul-saraf dsb. Merupakan suatu susunan listrik dengan banjak tangkupan arus, patahan, tjabang-tjabang dan sebagainja dan kita mnundjukkan dahulu, bahwa dasar tenaga tubuh ialah phenomeen listrik.”90
D. Susunan Rohani
”Elektron-elektron bebas yang terdapat di dalam tiap-tiap inti dan di dalam darah adalah badan halus kita yang berasal dari zat anorganis, dan oleh karena itu disebut roh zat anorganis atau anima meneralis.”91
87 R. Paryana Suryadipura, Alam Pikiran, h. 24. 88 R. Paryana Suryadipura, Alam Pikiran, h. 26. 89 R. Paryana Suryadipura, Alam Pikiran, h.36-37. 90 R. Paryana Suryadipura,
Alam Pikiran, h. 55.
Karena elektron ada hidup di dalamnya yang berasal aether dan itu berasal
dari ucapan Tuhan.92 Paryana mengungkap dalam al-Quran ”Jadilah kamu!” Maka
jadilah dia.93 Ayat dan surat yang dimaksud adalah Surat Yasin, ayat 82. Itulah
yang menjadikan landasan segala sesuatu yang metafisik kepada fisik. Di mulai
dari sesuatu yang mutlak yang tak bisa dan tidak dapat terbagi-bagi lagi. Lalu
butir-butir aether mempunyai unsur negatif dan positif berlawanan dan saling
menghancurkan dan munculah butir-butir elektron butir-butir lainnya.94
Elektron dianggap sebagai ruhani manusia yang menghidupkan. Berarti
Paryana menitik beratkan kepada spiritualimus untuk dapat menghidupkan. Walau
pun menurut al-Quran manusia berasal dari tanah, namun Paryana menjelaskan
unsur-unsur tanah tersebut dengan segala unsurnya di dalam unsur tersebut
haruslah disinari dengan elektron supaya dapat hidup.95
Menjelaskan tantang sesuatu yang subtantif dalam diri manusia Paryana
menjelaskan binatang siput dan tardagradus yang dikeringkan bertahun-tahun
dapat hidup kembali.96 Lalu seorang Yogi, telah dikubur berhari-hari hidup
kembali. Dari itu semua Paryana mempunyai keyakinan dari elektron menyusun
atom.97 Bila dihubungkan dengan tubuh maka elektron tersebut menjadi impuls
listrik ke otak dan dari otak tersebut pancaindara, insting, dan juga kedalam pusat
92 Paryana Suryadipura,
Manusia dengan Atomnya, h. 98. 93 Paryana Suryadipura, Manusia dengan Atomnya, h. 99. 94 Paryana Suryadipura, Manusia dengan Atomnya, h. 97. 95 Paryana Suryadipura, Manusia dengan Atomnya, h. 160. 96 Paryana Suryadipura,
kesadaran.98 Maka arus listrik itu mengalir ke pusat kesadaran lalu ke pusat akal
yang berbentuk ruh menjelma menamakan dirinya Aku.
E. Kesadaran
”Segera setelah Aku lupa akan diri sendiri, maka roh yang menamakan dirinya Aku keluar dari otak dan menjadi badan pikiran (corpus mentalis) yang bersifat metafisis dan sadar akan badan kasar (jasmani) dan badan halusnya
(rohani). Inilah yang dinamakan kesadaran diri sendiri yang murni (het
zuiverzelfbewustzijn), yaitu kesadaran akan diri sendiri suatu totalitas.
Apabila Aku ini mencapai ketenangan dan rasa damai di dalam batin secara mutlak atau kesadaran sudah mencapai taraf mutmainah, maka berhentilah gerakan elektron-elektron yang menyusunnya, baik gerakan berputar maupun gerakan ulang-alik, dan elektron-elektron ini berubah menjadi aether kembali.
Dengan melewati badan pikiran (metal lichaam), elektron-elektron ini memasuki
budi serta menjadi kesadaran yang sadar akan isi seluruh semesta alam. Kesadaran ini disebut kesadaran alam semesta (het cosmisch bewustzijn).
Setelah kesadaran ini tercapai, maka tenaga kesadaran ini makin lama makin bertambah banyak sehigga meluap ke luar dari budi. Dan dengan meliputi roh rabbani dan jasmani, tenaga ini berubah menjadi roh rahmani yang sama bagi setiap pemiliknya. Mereka hanya sadar akan adanya Yang Satu. Kesadaran yang
demikian dinamakan kesadaran bersama (het collectief bewustzijn) yang
menimbukan agama.
Kesadaran bersama inilah yang mendorong umat manusia untuk beragama, tanpa mengetahui sebab-sebabnya dan tidak mengetahui hakikat apa yang disembah, akan tetapi mereka sadar bahwa di atas segala yang nyata ini harus ada kekuasaa yang tertinggi. Dengan kata lain segala yang nyata ini harus ada penciptaNya.”99
Gambaran kesadaran yang dikembangkan oleh Paryana dimulai dengan Aku lupa
akan diri sendiri. Dengan begitu terlihat seperti seperti berhubungan dengan metafisika,
98 Paryana Suryadipura,