• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KOTA LAYAK ANAK BIDANG PENDIDIKAN DI KOTA YOGYAKARTA TAHUN 2015 (Studi Kasus : Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta Tahun 2016)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KOTA LAYAK ANAK BIDANG PENDIDIKAN DI KOTA YOGYAKARTA TAHUN 2015 (Studi Kasus : Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta Tahun 2016)"

Copied!
111
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KOTA LAYAK ANAK BIDANG PENDIDIKAN DI KOTA YOGYAKARTA TAHUN 2015

(Studi Kasus : Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta Tahun 2016)

SKRIPSI

Oleh : DIDI MULYADI

20130520144

JURUSAN ILMU PEMERINTAHAN

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS MUHAMMDIYAH YOGYAKARTA

(2)

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KOTA LAYAK ANAK BIDANG PENDIDIKAN DI KOTA YOGYAKARTA TAHUN 2015

(Studi Kasus : Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta Tahun 2016)

SKRIPSI

Oleh : DIDI MULYADI

20130520144

JURUSAN ILMU PEMERINTAHAN

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS MUHAMMDIYAH YOGYAKARTA

(3)

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : Didi Mulyadi

NIM : 20130520144

Program Studi : Ilmu Pemerintahan

Fakultas : FISIPOL

Menyatakan dengan ini sebenar - benarnya yang saya tulis ini merupakan hasil karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan dari penulis lain yang telah disebutkan dalam teks dan dicamtumkan dalam daftar pustaka dibagian akhir skripsi ini. Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan skripsi ini hasil jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.

Yogyakarta, Desember 2016

Yang Membuat Pernyataan

(4)

HALAMAN PERSEMBAHAN

Dengan rasa hormat dan bangga, saya persembahkan Skripsi ini untuk :

 Kedua Orang Tuaku, Jemaat.SP dan Nur Jannah yang selalu berdoa untuk keberhasilannku, kasih sayangnya sungguh besar dan budimu tidak akan pernah bisa terbalaskan.

 Kakek ku M.Amin dan Nenek ku dari pihak Mamak selalu mendoakan cucunya

 Kakek ku Wahab dari pihak bapak selalu mendoakan cucunya

 Paman ku Nur Husin dan Inepun ku Ramlah selalu mendoakan dan memberi semangat untuk dapat menyelesaikan Skripsi ini

 Abng ku Yusnar Ariffin dan kakak Ipar Via selalu memberi bantuan secara pinansial selama kuliah

 Adikku Ruh Mini dan Ikhlas Riski dan Nasbullah Porang (paling bangsu) yang selalu mendukung, mendoakanku dan sudah membantuku dalam banyak hal.

 Seluruh keluarga besarku atas bantuan morilnya selama ini.

(5)

MOTTO

Berjalanlah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga

Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada

(Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberikanNya

kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan

( Surat At-Taubah, 9:105 )

Barang siapa yang tidak pernah merasakan pahit getirnya menuntut ilmu

meskipin sedikit, tentulah ia akan terjerumus kedalam kebodohan

selamanya.

( Imam Safi’i )

Saya sangat bahagia menjadi seorang muslim Allah tidak membutuhkanku,

melainkan akulah yang membutuhkan Allah

(6)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillahirobbil’alamin, segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada kehadirat Allah SWT, karena dengan melimpahkan rahmat dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan judul

“Implementasi Kebijakan Pengembangan Kota Layak Anak Bidang Pendidikan Di Kota Yogyakarta Tahun 2015”. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Penulis menyadari sepenuhnya dalam proses penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan atas dukungan dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas segala bimbingan dan bantuan yang telah diberikan kepada penulis dari awal sampai akhir penulisan, kepada :

1. Bapak Ali Muhammad, S.IP, MA., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

2. Ibu Dr. Titin Purwaningsih, S.IP., M.Si. selaku Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

3. Ibu Dian Eka Rahmawati, S.IP., M.Si. selaku Dosen Pembimbing, terimakasih atas bimbingan, dorongan, waktu, pengalaman, bantuan pemikiran dan inspirasi yang sangat membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

(7)

5. Bapak Dr. Ulung Pribadi. M.Si. selaku Dosen Penguji 2 Skripsi yang banyak memberikan masukan dalam pembuatan skripsi.

6. Ibu Mumarwantini selaku Kepala Seksi PAUD Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, ibu Suryatni selaku Kepala Unit Pelayanan Teknis Jaminan Pendidikan Daerah Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, Bapak Sukoco selaku Staf Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, ibu Lis selaku Staf Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, bapak Hendro Basuki selaku seksi Pengembangan Partisipasi Perempuan Kantor Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan Kota Yogyakarta, ibu Nani selaku staf bagian Perencanaan Badan Pemerintah Kota Yogyakarta.

7. Kedua Orang Tuaku, Jemaat.SP dan Nur Jannah yang selalu berdoa untuk keberhasilannku, kasih sayangnya sungguh besar dan budimu tidak akan pernah bisa terbalaskan.

8. Kakek ku M.Amin dan Nenek ku dari pihak Mamak selalu mendoakan cucunya

9. Kakek ku Wahab dari pihak bapak selalu mendoakan cucunya

10.Paman ku Nur Husin dan Inepun ku Ramlah selalu mendoakan dan memberi semangat untuk dapat menyelesaikan Skripsi ini

11.Abng ku Yusnar Ariffin dan kakak Ipar Via selalu memberi bantuan secara pinansial selama kuliah

12.Adikku Ruh Mini dan Ikhlas Riski dan Nasbullah Porang (paling bangsu) yang selalu mendukung, mendoakanku dan sudah membantuku dalam banyak hal.

13.Seluruh keluarga besarku atas bantuan morilnya selama ini.

14.Teman (Team Futsal IP) dan sahabat-sahabat IP-UMY yang telah membantu dalam memberikan motivasi dan semangat dalam pembuatan skripsi ini.

15.Seluruh keluarga besarku, terimakasih atas segala dukungannya baik materi maupun non materi.

(8)

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa kemampuan yang ada pada penulis sangat terbatas. Untuk itu dengan kerendahan hati penulis mohon kepada para pembaca untuk memberikan saran dan kritik yang membangun. Akhir kata semoga atas bantuannya, baik moril maupun material akan mendapat balasan dari Allah SWT. Dan penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Amin.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Yogyakarta, Desember 2016 Penulis

(9)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

b. Implementasi Kebijakan ... 11

c. Kota Layak Anak ... 17

E. DEFINISI KONSEPSIONAL ... 21

F. DEFINISI OPERASIONAL ... 22

G. METODE PENELITIAN ... 23

a. Jenis Penilitian ... 23

b. Unit Analisis Data ... 23

c. Jenis Data ... 23

d. Teknik Pengumpulan Data ... 25

e. Teknik Analisa Data ... 27

BAB II GAMBARAN OBYEK PENELITIAN ... 29

(10)

b. Posisi Wilayah ... 30

c. Demografi ... 31

d. Pendidikan ... 35

BAB III PEMBAHASAN ... 38

A. Implementasi Program KLA Bagian Pendidikan ... 40

a. Jaminan Pendidikan Daerah ... 40

b. Program Inklusi ... 48

c. Peningkatan Layanan Pendidikan Usia Dini (PAUD) ... 50

B. Faktor (Komunikasi, Sumber Daya, Disposisi, Struktur Birokrasi) ... 56

a. Komunikasi ... 56

b. Sumber Daya ... 62

c. Disposisi ... 68

d. Struktur Birokrasi ... 78

BAB IV KESIMPULAN ... 82

SARAN ... 84

DAFTAR PUSTAKA ... 85

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1. Jumlah Siswa Putus Sekolah Menurut Jenjang Pendidikan Daerah

Kota Yogyakarta ... 3

Tabel 1.2. Indikator Kampung Ramah Anak Kota Yogyakarta ... 19

Tabel 1.3. Jumlah Informan Penelitian ... 23

Tabel 1.4. Data Primer Penelitian ... 24

Tabel 1.5. Data Sekunder Penelitian ... 25

Tabel 1.6. Narasumber Penelitian ... 26

Tabel 2.1. Luas Wilayah Berdasarkan Ketinggian Wilayah Kecamatan Di Kota Yogyakarta (di atas Permukaan Laut) Tahun 2014 ... 30

Tabel 2.2. Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Tahun 2011- 2014 ... 33

Tabel 2.3. Persentase Penduduk Berusia 10 Tahun ke atas Menurut Tingkat Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Tahun 2013-2014 ... 35

Tabel 2.4. Jumlah Sekolah SD, SMP, SMA dan SMK Di Kota Yogyakarta Menurut Kecamatan dan Status 2015 ... 36

Tabel 3.1. Jaminan Pendidikan Daerah Dalam dan Luar Kota Tahun 2015 (Tahap 1 dan 2) ... 47

Tabel 3.2. Jumlah Sekolah Inklusif (ABK, Anak-Anak Cerdas Dan Berbakat), Jumlah Ruang Kelas dan Jumlah Siswa Menurut Jenjang Pendidikan Se-Kota Yogyakarta Tahun 2014 ... 50

Tabel 3.3. Jumlah Sekolah Inklusif (ABK, Anak-Anak Cerdas dan Berbakat), Jumlah Ruang Kelas dan Jumlah Siswa Menurut Jenjang Pendidikan Se-Kota Yogyakarta Tahun 2014 ... 61

Tabel 3.4. Jumlah Penerima Jaminan Pendidikan Daerah Dalam dan Luar Kota Tahun 2015 (Tahap 1 dan 2) ... 66

Tabel 3.5. Jumlah Anak Putus Sekolah Se-Kota Yogyakarta ... 71

(12)

DAFTAR BAGAN

Bagan 1.1. Tahap-tahap Kebijakan ... 8

Bagan 1.2. Dampak Langsung dan Tidak Langsung pada Implementasi ... 16

Bagan 3.1. Proses Implementasi Jaminan Pendidikan Daerah ... 41

Bagan 3.2. Proses Sosialisasi ... 42

Bagan 3.3. Sosialisasi ke Jenjang Sekolah ... 43

Bagan 3.4. Proses Sosialisasi ... 44

Bagan 3.5. Proses Pendataan Penerima JPD ... 45

Bagan 3.6. Langkah-Langkah Mendapatkan Kartu Menuju Sejahtera ... 47

Bagan 3.7. Hierarki Implementasi ... 70

Bagan 3.8. Perubahan Kondisi Kelompok Sasaran Menggambarkan Pencapaian Tujuan Implementasi ... 76

(13)
(14)

SINOPSIS

Skripsi ini mengambil judul “Implementasi Kebijakan Pengembangan Kota Layak Anak Bagian Pendidikan Di Kota Yogyakarta Tahun 2015 (Studi Kasus : Di Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta 2016). Berbicara tentang program Kota Layak Anak berarti memenuhi lima Hak-hak Anak (Hak Hidup, Hak Tumbuh Hak Berkembang, Hak Berpartisifasi, Hak Perlindungan), disini kita lihat realitanya masih ada siswa yang putus sekolah karena faktor pendidikan semakin mahal, dan tidak mendapatkan layanan biaya sekolah tambahan JPD (Jaminan Pendidikan Daerah), Dinas Pendidikan menyelenggarakan layanan anak berkebutuhan khusus (Inklusi) untuk memenuhi hak anak yang berkebutuhan khusus, Peningkatan Layanan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Untuk mengetahui sejauh mana Dinas Pendidikan mengimplementasikan program KLA bagian pendidikan maka dalam penelitian ini akan menjawab, Bagaimana Implementasi Kebijakan Pengembangan Kota Layak Anak bagian pendidikan Di Kota Yogyakarta Tahun 2015 dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Implementasi Kebijakan Pengembangan Kota Layak Anak di Bagian Pendidikan Di Kota Yogyakarta pada Tahun 2015.

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan melakukan wawancara dengan pihak Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, Kantor Perlindungan Masyarakat dan Perempuan Kota Yogyakarta, Badan Pemerintah Daerah Kota Yogyakarta. Bentuk Implementasi yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan terhadap program Kota Layak Anak (KLA) tahun 2015 adalah dengan Implementasi program KLA yang ada Di Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta Terhadap Program Jaminan Pendidikan Daerah (JPD), Sekolah Inklusi, Peningkatan Pendidikan Usia Dini (PAUD).

Dinas Pendidikan telah mengimplementasikan programJaminan Pendidikan Daerah, Peningkatan Layanan Pendidikan Anak Usia Dini dan Program Inklusi berjalan dengan baik, walau masih ada beberapa faktor yang membuat program Jaminan Pendidikn Daerah sedikit terhambat dalam mengimplementasikan, diakibatkan karena Faktor Internal: Konten Kebijakan, Kapasitas Organisasi dan Faktor Ekternal : Lingkungan Kebijakan dan Kelompok sasaran program.

Kendala atau kesulitan yang muncul di dalam program KLA sebagai dampak program Kota Layak Anak Di Kota Yogyakarta dari Dinas Pendidikan yaitu kurang maksimalnya pelayanan masyarakat yang mengurus JPD Di Dinas Pendidikan dan tidak melakukan pemantauan lanjutan ke masing-masing desa karena terkendala jumlah personil yang ada di Dinas Pendidikan pelayanan JPD, sehingga jumlah staf di bidang JPD harus di tambah karena jumlah yang ditangani sangat banyak akibatnya pelayananpun terhambat.

(15)

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Indonesia merupakan salah satu negara yang meratifikasi Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang hak-hak anak, melalui Keputusan Presiden (Keppres) No. 36/0 tanggal 25 Agustus 1990. Dengan adanya konvensi tersebut, berarti secara hukum negara berkewajiban menjamin dan melindungi hak anak-anak, baik sosial, politik, budaya, dan ekonomi (Hardius Usman & Nachrowi Djalal Nachrowi, 2004, hal. 1). Kota Layak Anak (KLA) adalah istilah yang diperkenalkan pertama kali oleh Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan tahun 2005 melalui Kebijakan Kota Layak Anak. Karena alasan untuk mengakomodasi pemerintahan kabupaten dan kota yang ada di wilayah Indonesia.

(16)

dari hulu sampai hilir dengan basis utama pada penguatan pendidikan masa keemasan anak (http://www.kpai.go.id. 2016).

Keberadaan KLA akan memberikan kontribusi bagi kesejahteraan anak, khususnya masyarakat yang tinggal dan menetap di Wilayah Kota Yogyakarta. Kontribusi yang diberikan misalnya anak mampu memanfaatkan waktu luang untuk kegiatan belajar, serta yang terpenting anak mendapatkan hak-haknya seperti putus sekolah dan meraih cita-cita anak, yang dapat membahayakan anak itu sendiri.

Selain itu, bertujuan untuk menyatukan potensi sumber daya manusia, sumberdaya alam, sumber daya sarana prasarana dan teknologi yang ada pada pemerintah, masyarakat dan dunia usaha yang terencana secara menyeluruh dan berkelanjutan dalam program dan kegiatan pemenuhan hak anak (Permen PP dan PA Nomor 12 Tahun 2011).

Menyandang predikat sebagai Kota Layak Anak (KLA) merupakan suatu kebanggaan bagi Kota Yogyakarta, sekaligus menjadi tantangan bagi pemerintah Kota Yogyakarta. Dengan demikian, Kota Yogyakarta terus berbenah diri untuk menerapkan dan menjadikan Kota Yogyakarta sebagai Kota Layak Anak, di samping sebagai kota pendidikan dan kota budaya. Hal ini sudah menunjukkan bahwa Kota Yogyakarta memperolehnya kategori tingkat Madya (http://jogja.tribunnews.com. 2016) untuk menuju kota layak anak tingkatan Kota Layak Anak dibagi menjadi 5 (lima) kategori, yaitu : Pertama, Madya, Nindyaa, Utama, dan Kabupaten/Kota Layak Anak (Sutama, 2012, hal. 6).

(17)

anak. Hal ini terbukti bahwa berdasarkan riset yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta pada tahun 2012-2013, hanya mengalami sedikit penurunan pelajar putus seperti tabel berikut :

Tabel 1.1. Jumlah Siswa Putus Sekolah Menurut Jenjang Pendidikan

Daerah Kota Yogyakarta

No Tahun SD SMP SMA Jumlah

1 2012 8 7 6 5 110 43 179

2 2013 8 4 31 13 104 17 177

Sumber : Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta

Supaya dapat menjadi Kota Layak Anak, Pemerintah Kota Yogyakarta harus memenuhi indikator yang ditentukan dalam Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 12 Tahun 2011 tentang Indikator Kabupaten/Kota Layak Anak, salah satu persyaratan pokok utama adalah adanya instrumen hukum daerah yang menjamin pemenuhan hak-hak anak. Hal ini tentunya sangat penting dan harus dicermati agar jangan sampai intrumen tersebut hanya digunakan untuk memenuhi persyaratan administrasi untuk mencapai predikat kota layak anak kususnya bidang pendidikan tingkat PAUD, TK, SD, SMP, SMA. Tetapi yang paling penting adalah bagaimana hak-hak anak dan perlindungan terhadap anak dapat terpenuhi.

(18)

Rencana Aksi Daerah (RAD) Pengembangan Kota Layak Anak. Berdasarkan siswa putus sekolah dan siswa berkebutuhan kusus berhak mendapatkan pendidikan layaknya anak normal lainnya yang perlu di cari jalan keluarnya.

Peneliti ini tertarik menganalisa implementasi program Kota Layak Anak Di Kota Yogyakarta bagian pendidikan di Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta seperti Jaminan Pendidikan Daerah (JPD), Peningkatan Layanan Pendidikan Usia Dini (PAUD), Program Inklusi. Berdasarkan wawancara bersama ibu Nani yang peneliti dapatkan tentang pelaksanaan program KLA mengatakan :

“Program KLA tidaklah mudah membalik telapak tangan dibutuhkan komitmen setiap sektor seperti sektor Pendidikan. Pemerintah, Masyarakat dan Dunia Usaha untuk sama-sama terlibat dalam mewujudkan Kota Yogyakarta sebagai Kota Layak Anak” (Wawancara dengan Ibu Nani selaku staf BAPPEDA bagian perencanaan pada tanggal 11 November 2016).

Selain gambaran implementasi program KLA di Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta peneliti juga ingin mengetahui bagaimana implementasi kebijakan pengembangan KLA bagian Pendidikan Di Kota Yogyakarta tahun 2015 dan Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi implementasi program KLA Di Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta. Menurut ibu Mumarwantini selaku Kepala Seksi PAUD :

“Komitmen Pemerintah Kota Yogyakarta sangat mempengaruhi keberhasilan maupun kegagalan implementasi program KLA” (Wawancara dengan Ibu Mumarwantini selaku Kepala Seksi PAUD Dinas Pendidikan pada tanggal 10 November 2016).

(19)

kemauan dan komitmen dari pemerintah Kota Yogyakarta maka program KLA akan berjalan dengan baik. Hal inilah yang menjadi salah satu fokus dari penelitian tentang implementasi program KLA di Kota Yogyakarta bagian pendidikan.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana Implementasi Kebijakan Pengembangan Kota Layak Anak Bagian Pendidikan di Kota Yogyakarta Tahun 2015 ?

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Implementasi Kebijakan Pengembangan Kota Layak Anak Di Bagian Pendidikan Di Kota Yogyakarta pada Tahun 2015?

C. TUJUAN DAN MANFAAT

1. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

Untuk mengetahui Implementasi yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta untuk melakukan Implementasi Kebijakan Pengembangan Kota Layak Anak Bagian Pendidikan di Kota Yogyakarta pada Tahun 2015 dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Implementasi Kebijakan Pengembangan Kota Layak Anak Di Bagian Pendidikan Di Kota Yogyakarta pada Tahun 2015.

2. Manfaat Penelitian

(20)

maupun praktis. Oleh karena itu kegunaan penelitian dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Secara Teoritis, diharapkan hasil penelitian ini dapat memperkaya pengetahuan Ilmu Pemerintahan khususnya tentang Implementasi Program Daerah Kota Yogyakarta.

b. Sasaran Praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan atau referensi tambahan bagi Pemerintah Kota Yogyakarta dalam upaya melakukan pemberdayaan hak-hak anak.

D. KERANGKA TEORI

a. Kebijakan Publik

Kebijakan menurut Amir Santoso mengatakan proses kebijakan terdiri dari enam tahapan yakini : perumusan masalah, pembuatan agenda, pembuatan kebijakan, adopsi kegiatan, penerapan kebijakan dan evaluasi kebijakan (Santoso, 1990, hal. 23)

(21)

sumber-sumber daya yang ada untuk memecahkan masalah publik atau pemerintah (Subarsono, 2012, hal. 2).

William N.Dunn dalam buku Subarsono, Kebijakan Publik adalah suatu rangkaian pilihan-pilihan yang saling berhubungan yang dibuat oleh lembaga atau pejabat Pemerintah pada bidang-bidang yang menyangkut tugas Pemerintahan, sepeti pertahanan, keamanan, energi, kesehatan, pendidikan, kesejahteraan masyarakat, kriminalitas, perkotaan, dan lain-lain (Subarsono, 2012, hal. 2).

Shfritz & Russel dalam Subarsono mendefinisikan kebijakan publik dengan sederhana dan menyebut “is whatever governments dicides to do or

not to do” (Subarsono) dan Chaizi Nasucha mengatakan bahwa kebijakan

publik adalah kewenangan Pemerintah dalam pembuatan suatu kebijakan yang digunakan dalam perangkat peraturan hukum. Kebijakan tersebut bertujuan untuk menyerap dinamika sosial dalam masyarakat, yang akan dijadikan perumusan kebijakan agar tercipta hubungan sosial yang harmonis (Subarsono, 2012, hal. 2).

Thomas L. Dye dalam buku Thomas, Kebijakan Publik sebagai: “Pilihan Pemerintah untuk bertindak atau tidak bertindak”. Dalam bukunya

yang berjudul” The Political Sytem” (Thomas L. Dye, 1972, hal. 27).

Menurut Budi Winarno tahap-tahap kebijakan sebagai berikut:

(22)

Bagan 1.1. Tahap-tahap Kebijakan

a. Tahap Penyusunan Agenda

Para pejabat yang dipilih dan diangkat menetapkan masalah pada agenda publik. Sebelum masalah-masalah ini berpetensi terlebih dahulu untuk dapat masuk ke agenda kebijakan. Pada akhirnya, beberapa masalah masuk ke agenda kebijakan para perumus kebijakan. Pada tahap ini suatu masalah mungkin tidak disentuh sama sekali dan beberapa yang lain pembahasan untuk masalah tersebut ditunda dalam waktu yang lama. b. Tahap Formulasi Kebijakan

Masalah yang telah masuk dalam agenda kebijakan kemudian dibahas oleh para pembuat kebijakan. Masalah-masalah yang didefinisikan untuk

Tahap Penyusunan Agenda

Tahap Formulasi Kebijakan

Tahap Implementasi Kebijakan Tahap Adopsi

Kebijakan

(23)

kemudian dicari pemecahan masalah terbaik. Pemecahan masalah tersebut berasal dari alternatif yang ada. Sama halnya dengan perjuangan suatu masalah untuk masuk dalam agenda kebijakan, dalam tahap perumusan kebijakan masing-masing alternatif bersaing untuk dapat dipilih sebagai kebijakan yang diambil untuk memecahkan permasalahan. Pada tahap ini, masing-masing aktor akan bermain untuk mengusulkan pemecahan masalah terbaik

c. Tahap Adopsi Kebijakan

Dari sekian banyak alternatif kebijakan yang ditawarkan oleh para perumus kebijakan, pada akhirnya salah satu alternatif kebijakan tersebut diadopsi dengan dukungan dari mayoritas legislatif, konsensus antara lembaga atau keputusan peradilan.

d. Tahap Implementasi Kebijakan

Suatu kebijakan program hanya akan menjadi catatan-catatan elite, jika program tersebut tidak diimplementasikan. Oleh karena itu, program kebijakan yang telah diambil sebagai alternatif pemecahan masalah yang harus diimplementasikan, yakni dilaksanakan oleh badan-badan administrasi yang memobilisasikan sumber daya finansial dan manusia pada tahap implementasi ini berbagai kepentingan akan saling bersaing. Beberapa organisasi kebijakan mendapat dukungan para pelaksana, namun beberapa yang lain akan ditentang oleh para pelaksana.

(24)

Pada tahap ini kebijakan yang telah dijalankan akan dinilai atau dievaluasi untuk melihat sejauh mana kebijakan yang dibuat telah mampu memecahkan masalah. Kebijakan publik pada dasarnya dibuat untuk meraih dampak yang diinginkan. Dengan hal ini, memperbaiki masalah yang dihadapi masyarakat. Oleh karena itu, ditentukanlah ukuran-ukuran atau kriteria-kriteria yang menjadi dasar untuk menilai apakah kebijakan publik telah meraih dampak yang diinginkan.

Nugroho dalam buku Kismartini, Kebijakan Publik adalah jalan mencapai tujuan bersama yang dicita-citakan. Sehingga kebijakan publik mudah untuk dipahami dan mudah diukur, bahwa terdapat beberapa hal yang terkandung dalam kebijakan yaitu: (Kismartini, dkk, 2005, hal. 16).

a) Tujuan tertentu yang ingin dicapai. Tujuan tertentu adalah tujuan yang berpihak kepada kepentingan masyarakat.

b) Serangkaian tindakan untuk mencapai tujuan. Serangkaian tindakan untuk mencapai tujuan adalah strategi yang disusun untuk mencapai tujuan dengan lebih mudah yang acapkali dijabarkan ke dalam bentuk program dan proyek.

c) Usulan tindakan dapat berasal dari perseorangan atau kelompok dari dalam ataupun luar pemerintahan,

d) Penyediaan input untuk melaksanakan strategi. Input berupa sumber daya baik manusia maupun bukan manusia.

(25)

Berdasarkan pengertian-pengertian kebijakan publik di atas, maka disimpulkan bahwa kebijakan adalah serangkaian tindakan pemerintah yang bersifat mengatur dalam rangka merespon permasalahan yang dihadapi masyarakat dan mempunyai tujuan tertentu, berorientasi kepada kepentingan masyarakat dan bertujuan untuk mengatasi permasalahan, memenuhi keinginan dan tuntutan seluruh anggota masyarakat. Kebijakan juga memuat semua tindakan pemerintah baik yang dilakukan maupun tidak dilakukan oleh pemerintah yang dalam pelaksanaannya terdapat unsur pemaksaan kepada pelaksana atau pengguna kebijakan agar dipatuhi, bahwa kebijakan mengandung nilai paksaan yang secara sah dapat dilakukan pemerintah sebagai pembuat kebijakan (Nawawi, 2009, hal. 19).

b. Implementasi Kebijakan

Implementasi Kebijakan pada prinsipnya adalah cara agar sebuah kebijakan dapat mencapai tujuannya. Tidak lebih dan tidak kurang. Untuk mengimplementasikan kebijakan publik, maka ada dua pilihan langkah yang ada, yaitu langsung mengimplementasikan dalam bentuk program-program atau melalui formulasi kebijakan derivat atau turunan dari kebijakan publik tersebut (Nugroho R. , Public Policy, 2003, hal. 657).

Implementasi kebijakan yang operasionalnya adalah program, dalam prosesnya terdapat tiga unsur pendukung yang penting dan mutlak, yaitu adanya : (Syukur, 1998, hal. 52)

(26)

b. Target group yaitu kelompok yang menjadi sasaran penerima manfaat program dan

c. Unsur pelaksana, yaitu organisasi atau perorangan yang bertanggung jawab dalam pengelolaan dan pengawasan proses implementasi tersebut

Menurut Mazmanian dan Sabatier dalam buku Solichin, “Memahami apa yang senyatanya terjadi sesudah suatu program dinyatakan berlaku atau dirumuskan merupakan fokus perhatian implementasi kebijaksanaan, yakni kejadian-kejadian dan kegiatan-kegiatan yang timbul sesudah disahkannya pedoman kebijaksanaan negara, yang mencakup baik usaha untuk mengadministrasikannya maupun untuk menimbulkan akibat nyata pada masyarakat atau kejadian (Solichin, 1991, hal. 65).

Menurut Meter dan Horn dalam buku Solichin, “Implementasi adalah tindakantindakan yang dilakukan baik oleh individu/pejabat atau kelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan pada terciptanya tujuan-tujuanyang telah digariskan dalam keputusan kebijaksanaan (Solichin, 1991, hal. 65). Dan menurut Riant Nugroho D “Cara agar sebuah kebijakan dapat mencapai tujuannya tidak lebih dan tidak kurang” (Riant Nugroho D, 2003, hal. 158).

(27)

atau tidak langsung dapat mempengaruhi perilaku dari semua pihak yang terlibat dan pada akhirnya berpengaruh terhadap dampak, baik yang diharapkan ataupun tidak diharapkan.

Suatu implementasi tentunya mempunyai tujuan untuk memperoleh keberhasilan jika memenuhi lima kriteria keberhasilan. Menurut Nakamura memiliki tujuan sebagai berikut (Solichin, 1991, hal. 43).

a. Pencapaian tujuan kebijakan b. Efisien

c. Kepuasan kelompok sasaran d. Daya tanggap klien

e. Sistem pemeliharaan

Menurut Edward III (1980) dalam buku Suranto studi implementasi kebijakan adalah krusial bagi administrasi publik termasuk di dalamnya kebijkan publik. Implementasi kebijakan adalah tahap pembuatan kebijakan antara pembuatan kebijakan dan konsekuensi-konsekuensi kebijakan bagi masyarakat yang dipengaruhinya (Suranto, 2014, hal. 38).

Edward III (1980) mengungkapkan pendapatnya bahwa terdapat empat faktor atau variabel kritis dalam implementasi kebijakan publik, yaitu Komunikasi, Sumber daya, Disposisi (sikap kecenderungan) dan Struktur Birokrasi.

Adapun secara terperinci Edwards III (1980) menjelaskan empat faktor tersebut sebagai berikut:

(28)

Agar implementasi dapat efektif dan penanggungjawab impelemntasi sebuah keputusan harus mengetahui apa yang mesti dilakukan. Dalam implementasi kebijakan komunikasi, perintah untuk mengimplementasikan kebijkan harus ditransmisikan kepada persoalan yang tepat dan perintah harus jelas, akurat dan konsisten. Dengan demikian dalam faktor komunikasi terdapat tiga aspek pokok, yaitu : Tranmisi, kejelasan dan konsistensi. 2. Sumber Daya

Untuk dapat mengimplementasikan kebijakan secara efektif maka dibutuhkan sumberdaya yang cukup. Implementasi kebijakan akan tidak efektif apabila para implementor kekurangan sumberdaya yang penting untuk melaksanakan kebijakan. Dimana sumber daya tersebut berupa sumber daya manusia (SDM) sebagai pelaksana kebijakan atau sumber dana untuk mendukung kelancaran pelaksanaan kebijakan yang mutlak diperlukan. a. Staf

Jumlah staf yang mencukupi dan memeiliki skill yang memadai untuk pelaksanaan tugas.

b. Informasi

(29)

c. Wewenang

Wewenang akan berbeda-beda dari satu program ke program lain serta memiliki bentuk yang berbeda-beda seperti misalnya : hak untuk mengeluarkan surat panggilan untuk datang ke pegadilan, mengeluarkan perintah kepada pejabat lain, menarik dana dari suatu program, menyediakan danam membeli barang, jasa dan memungut pajak.

d. Fasilitasi-fasilitas

Fasilitas-fasilitas meliputi bangunan, perlengkapan, perbekalan. 3. Disposisi (Sikap Kecenderungan)

Jika para pelaksana bersikap baik pada suatu kebiakan tertentu, maka kemungkinan besar mereka akan melaksanakan kebijakan sebagaimana yang diinginkan oleh para pembuat awal keputusan. Demikian juga sebaliknya apabila sikap-sikap dan persfektif implementor berbeda dari pembuatan keputusan, maka proses pelaksanaan suatu kebijakan semakin sulit.

(30)

Komunikasi

Struktur Birokrasi

disposisi sumberdaya

implementasi implementor adalah dengan mengubah sikap implementor melalui manipulasi insentif-insentif.

4. Struktur Birokrasi

Menurut Edwards III struktur yang tepat dapat memeberikan dukungan kuat terhadap kelancaran implementasi kebijakan. Terdapat dua hal penting dalam struktur birokrasi yaitu prosedur-prosedur kerja standar (Standard Operating Procedures) dan (Fragmentation). Berikut faktor yang dapat memepengaruhi keberhasilan dan kegagalan dalam proses implementasi kebijakan dapat terlihat pada gambar berikut.

Bagan 1.2. Dampak Langsung dan Tidak Langsung pada Implementasi

(31)

c. Kota Layak Anak

Kota Layak Anak merupakan istilah yang diperkenalkan pertama kali oleh Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan tahun 2005 melalui Kebijakan Kota Layak Anak. Untuk mengakomodasi pemerintahan kabupaten, belakangan istilah Kota Layak Anak menjadi Kabupaten/Kota Layak Anak dan kemudian disingkat menjadi KLA.

Menurut Nirwono Joga, Kota Layak Anak adalah suatu kota yang di dalamnya telah diramu semangat untuk memberikan jaminan perlindungan terhadap anak dan hak-haknya dalam proses pembangunan kota yang berkelanjutan. Kota yang menciptakan lingkungan yang kondusif bagi anak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, mendapat perlindungan dari kekerasan (fisik dan nonfisik) serta diskriminasi (http://bincang2cupleez.multiply.com.02-09-2016). Berdasarkan pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa kota layak anak merupakan kota yang mempunyai sistem pembangunan berbasis hak anak dan di dalamnya terdapat jaminan untuk perlindungan terhadap anak.

(32)

dan kegiatan untuk menjamin terpenuhinya hak anak (http://www.kla.or.id 20-10-2016).

Dinas Pendidikan menyelenggarakan tiga program yang berkaitan dengan KLA untuk memenuhi Hak-hak anak seperti Jaminan Pendidikan Daerah (JPD), Peningkatan Layanan Pendidikan Usia Dini (PAUD), Program Inklusi.

Prasyarat Mewujudkan KLA bertitik dari uraian penelitian di atas, untuk mewujudkan KLA, bukanlah hal yang mudah dan bukanlah hal yang sulit. Akan tetapi, ada semacam suatu pra-syarat untuk mencapainya. Pra-syarat yang dimaksud adalah: (Hamid Patilima.2009)

a) Adanya Kemauan dan komitmen pimpinan daerah: membangun dan memaksimalkan kepemimpinan daerah dalam mempercepat pemenuhan hak dan perlindungan anak yang dicerminkan dalam dokumen peraturan daerah.

b) Baseline data: tersedia sistem data dan data dasar yang digunakan untuk perencanaan, penyusunan program, pemantauan, dan evaluasi.

c) Sosialisasi hak anak: menjamin penyadaran hak-hak anak pada anak dan orang dewasa.

d) Produk hukum yang ramah anak: tersusunnya sedia peraturan perundangan mempromosikan dan melindungi hak-hak anak.

(33)

mereka; mendengar pendapat mereka dan mempertimbangkannya dalam proses pembuatan keputusan.

f) Pemberdayaan keluarga: adanya program untuk memperkuat kemampuan keluarga dalam pengasuhan dan perawatan anak.

g) Kemitraan dan jaringan: adanya kemitraan dan jaringan dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak.

h) Institusi Perlindungan Anak: Adanya kelembagaan yang mengkoordinasikan semua upaya pemenuhan hak anak.

Indikator Kampung Ramah Anak Kota Yogyakarta bagian pendidikan yang memiliki empat level penilaian, semakin besar level yang dicapai akan semakin baik dalam indikator Kota Layak Anak dan sebaliknya semakin rendah level penilaian maka semakin tidak baik, sebagaimana tabel dibawah ini:

Tabel 1.2. Indikator Kampung Ramah Anak Kota Yogyakarta

Kelompok 2 Jumlah anak putus sekolah yang

sekolah di non-formal (pusat

3 Ada dan berfungsinya kelompok anak/komunitas anak (kelompok belajar,taman pendidikan Al-PAUD Sejenis Pos Al-PAUD RW

(34)

5 Ada dan berfungsinya SPS Pos setempat yang terlayani pendidikannya

<25% 25-49% 50-79% 80-100%

7 Ada dan berjalannya jam belajar masyarakat di lingkungan beasiswa, Kartu Menuju Sejahtera)

<25% 25-49% 50-79% 80-100%

(35)

E.DEFINISI KONSEPSIONAL

1. Kebijakan Publik

Kebijakan publik adalah rangkaian keputusan yang dibuat oleh pemerintah berupa program-program yang akan dijalankan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

2. Implementasi Kebijakan

Implementasi kebijakan merupakan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh pemerintah, individu ataupun kelompok, yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan dalam keputusan. Termasuk didalamnya adalah upaya menstransformasikan keputusan ke dalam tahap operasional untuk mencapai perubahan besar maupun kecil seperti yang ditetapkan dalam keputusan tersebut.

3. Kota Layak Anak

(36)

F. DEFINISI OPERASIONAL

Definisi operasional yang dimaksudkan untuk memperjelas dan memperinci konsep yang telah dikemukakan. Dalam penelitin ini, yang dimaksud adalah Implementasi Kebijakan Pengembangan Kota Layak Anak Bidang Pendidikan Di Kota Yogyakarta Tahun 2015 sesuai dengan teori Edward III.

Pelaksanaan Implementasi kebijakan kota layak anak Bidang Pendidikan bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengawasan yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, untuk menghindari masalah-masalah dalam pelaksanaan Peraturan Wali Kota tersebut yaitu :

1. Implementasi Program KLA oleh Dinas Pendidikan a. Jaminan Pendidikan Daerah (JPD)

b. Peningkatan Layanan Pendidikan Usia Dini (PAUD) c. Program Inklusi

2. Empat Faktor Implementasi a) Komunikasi

b) Sumber Daya

(37)

G. METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif yaitu suatu penelitian yang analisisnya dilakukan secara deskriptif dengan menggunakan analisis data kualitatif. Dengan menggunakan teknik analisis data diantaranya wawancara dan dokumentasi.

a. Jenis Penilitian

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor dalam buku Moleong, penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau secara lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati (Moleong, Lexy J, 2011) Pendekatan ini diarahkan pada latar dari individu tersebut secara holistik, serta tidak boleh mengisolasi individu atau organisasi kedalam variabel atau hipotesis, tetapi perlu memandangnya sebagai bagian dari suatu keutuhan. b. Unit Analisis Data

Informan dalam penelitian sebagai berikit:

Tabel 1.3. Jumlah Informan Penelitian

No INSTANSI JUMLAH

1 Badam Pemerintah Daerah Kota Yogyakarta 1

2 Kantor Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan (KPMP) Kota Yogyakarta

1

3 Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta 4

c. Jenis Data

(38)

1. Data Primer

Data primer dalam penelitian ini adalah semua informasi mengenai Kota Layak Anak (KLA), yang diperoleh secara langsung dari unit analisa yang dijadikan obyek penelitian. Adapun data primer dalam penelitian ini bersumber dari hasil wawancara denga informan, adalah sebagai berikut:

Tabel 1.4. Data Primer Penelitian

Teknik Pengumpulan Data

Data Sumber

Wawancara Kewenangan BAPPEDA

dalam program KLA

Badan Pemerintah Daerah Kota Yogyakarta

Kebijakan

Pengembangan KLA Kota Yogyakarta

Kantor Perlindungan Masyarakar dan Perempuan (KPMP) Kota Yogyakarta Implementasi Kebijakan

Pengembangan Dinas

Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta

Hasil laporan lapangan Data temuan lapangan

2. Data Sekunder

(39)

Tabel 1.5. Data Sekunder Penelitian

Teknik Pengumpulan Data

Nama Data Sumber Data

Dokumentasi Indikator kampung ramah anak. Lampiran Keputusan Walikota No 43 tahun 2016 Tentang Pembentukan gugus tugas Kota Layak Anak Kota Yogyakarta, Check list potensi (KLA Bagian Pendidikan).

Kantor Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan (KPMP) Kota Yogyakarta

Data Jaminan Pendidikan Daerah (JPD) tahun 2015, Rekap Data sekolah lanjutan anak penerima PPA-PKH Tahun 2016

Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah: 1. Wawancara

(40)

Tabel 1.6. Narasumber Penelitian

No Nama Jabatan Kantor

1 Ibu Mumarwantini Kepala Seksi PAUD Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta

2 Ibu Suryatni Kepala Unit Pelayanan Teknis Jaminan

Pendidikan Daerah (UPT.JPD)

Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta

3 Bapak Sukoco Staf Dinas Pendidikan Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta

4 Ibu Lis Staf Dinas Pendidikan Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta

Badan Pemerintah Kota Yogyakarta

2. Dokumentasi

Adalah teknik pengumpulan data dengan cara memilih data-data, dokumen-dokumen dalam rangka pengumpulan data-data yang berkaitan dengan obyek penelitian yang diambil dari beberapa sumber demi kesempurnaan penganalisaan seperti :

a) Indikator Kampung Ramah Anak Kota Yogyakarta. Lampiran Keputusan Wali Kota Nomor 43 tahun 2016 Tentang Pembentukan Gugus tugas Kota Layak Anak Kota Yogyakarta.

b) Data Jaminan Pendidikan Daerah (JPD) Tahun 2015, Rekap Data Sekolah Lanjutan Anak penerima PPA-PKH Tahun 2016

(41)

e. Teknik Analisa Data

Manurut Patton dalam Moleong, (Moleong, Lexy J, 2012) teknik analisis data adalah proses kategori urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar, ia membedakannya dengan penafsiran, yaitu memberikan arti yang signifikan terhadap analisis, menjelaskan pola uraian dan mencari hubungan di antara dimensi-dimensi uraian yang terdiri dari:

1. Reduksi Data

Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.

2. Penyajian Data

Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya. Yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif.

3. Menarik Kesimpulan atau Verifikasi

(42)
(43)

BAB II

GAMBARAN OBYEK PENELITIAN

Deskripsi Kota Yogyakarta

a. Geografi

Luas wilayah Kota Yogyakarta kurang lebih hanya 1,02 % dari seluruh luas wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu 32,5 km2. Terbagi menjadi 14 wilayah kecamatan dan 45 wilayah kelurahan yang sebagian besar tanahnya regosol dengan

formasi geologi batuan sedimen old andesit.

Secara administratif, Kota Yogyakarta berbatasan dengan : 1) Sebelah utara : Kabupaten Sleman

2) Sebelah timur : Kabupaten Bantul dan Sleman 3) Sebelah selatan : Kabupaten Bantul

(44)

Sumber : BPS Tahun 2016

1) Sungai Code yang mengalir di bagian tengah kota 2) Sungai Winongo yang mengalir di bagian barat kota b. Posisi Wilayah

Wilayah Kota Yogyakarta terletak antara 110o 20’ 41” sampai 110o 24’

14” Bujur Timur dan 07o 45’ 57” sampai 07o 50’ 25” Lintang Selatan, dengan

ketinggian tanah rata-rata 75 meter sampai dengan 132 meter di atas permukaan air laut.

Wilayah utara pada umumnya mempunyai permukaan tanah yang lebih tinggi dibandingkan wilayah-wilayah kecamatan di bagian selatan. Luas wilayah berdasarkan tinggi tempat dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2.1. Luas Wilayah Berdasarkan Ketinggian Wilayah Kecamatan Di

Kota Yogyakarta (di atas Permukaan Laut) Tahun 2014

(45)

Sumber Data : Kantor Pertanahan Kota Yogyakarta

c. Demografi

Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kependudukan Dan Catatan Sipil Kota Yogyakarta menunjukkan bahwa dalam satu tahun ini terjadi kenaikan jumlah penduduk. Pada tahun 2013 sebanyak 406,660 jiwa dan pada tahun 2014 sebanyak 413,936 jiwa sehingga mengalami kenaikan 1,75 % atau sebanyak 7,276 jiwa. Karena itu kepadatan penduduk Kota Yogyakarta juga mengalami kenaikan menjadi 12.740 jiwa/km2.

Grafik 2.1

Jumlah Penduduk Kota Yogyakarta Tahun 2011-2014

(46)

Bila dibandingkan antara laki-laki dan perempuan, jumlah penduduk Kota Yogyakarta dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2014 lebih banyak yang perempuan, walaupun tidak terpaut banyak. Pada tahun 2014 ini, dari seluruh penduduk, jumlah perempuan mencapai 51,12 %, sedangkan jumlah laki-laki hanya 48,87 % yang berarti terdapat selisih sebesar 2,1 % atau sebanyak 9.344 jiwa.

Grafik 2.2 Jumlah Penduduk Laki Laki dan Perempuan di Kota Yogyakarta

Tahun 2014

(47)

Data selengkapnya mengenai jumlah penduduk dirinci menurut laki-laki, perempuan, dan kepadatan penduduk di Kota Yogyakarta selama tahun 2011 – 2014 adalah sebagai berikut :

Tabel 2.2. Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Tahun 2011- 2014

Item Th. 2011 Th. 2012 Th. 2013 Th. 2014

Laki-laki 217.378 jiwa 210.433 jiwa 198.892 jiwa 202.296 jiwa Perempuan 222.765 jiwa 217.113 jiwa 207.768 jiwa 211.640 jiwa Jumlah

penduduk

440.143 jiwa 427.546 jiwa 406.660 jiwa 413936 jiwa Kepadatan

Sumber Data : BPS Kota Yogyakarta

Dengan mengetahui jumlah penduduk di tiap kelompok umur, dapat diketahui seberapa banyak penduduk yang berpotensi sebagai beban yaitu penduduk yang belum produktif (usia 0 – 14 tahun) dan penduduk yang dianggap kurang produktif (65 tahun ke atas). Dengan demikian dapat dihitung angka ketergantungannya (Dependency Ratio). Selain itu juga diketahui seberapa banyak usia reproduksi (15 – 49 tahun). Dilihat dari kacamata kesehatan usia produktif (15 – 64 tahun) dapat lebih mandiri dalam menjaga kesehatannya dan sebaliknya pada usia yang belum dan kurang produktif.

(48)

usia kurang produktif ini perlu mendapatkan perhatian lebih karena lebih rentan terhadap penyakit dan masalah kesehatan.

Dilihat dari jumlah penduduk menurut jenis kelamin tidak begitu tampak perbedaannya kecuali pada usia 75 tahun ke atas. Namun dengan banyaknya wanita usia reproduktif maka diperlukan perhatian yang lebih intensif dalam rangka menurunkan angka kematian ibu, kematian neonatus dan kematian bayi.

Grafik 2.3 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur di Kota Yogyakarta

Tahun 2014

(49)

d. Pendidikan

Pendidikan merupakan fakta penting dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Tingkat pendidikan masyarakat yang lebih baik dapat berpengaruh pada peningkatan derajat kesehatan. Dalam profil ini juga disajikan data tingkat pendidikan masyarakat dan jumlah melek huruf pada usia >10 tahun. Jumlah penduduk melek huruf di Kota Yogyakarta dilaporkan sudah mencapai 100 % dari seluruh jumlah penduduk berusia > 10 tahun.

Adapun jumlah penduduk berusia 10 tahun ke atas adalah sebanyak 355,921 jiwa, atau 85,98 % dari seluruh penduduk. Bila dilihat pendidikannya menunjukkan bahwa perempuan mempunyai tingkat pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki. Jumlah penduduk perempuan yang tamat universitas lebih banyak, sedangkan jumlah penduduk yang tamat SMA lebih banyak pada laki-laki. Apabila dibandingkan dengan data tahun lalu maka selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2.3. Persentase Penduduk Berusia 10 Tahun ke atas Menurut Tingkat

Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Tahun 2013-2014

(50)

5 SMA/SMK/ Sumber Data : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Yogyakarta

Tabel 2.4. Jumlah Sekolah SD, SMP, SMA dan SMK di Kota Yogyakarta

Menurut Kecamatan dan Status, 2015

Kecamatan SD SMP SMA SMK

Sumber : Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta

Visi dan Misi Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta

(51)

bermakna serta Kota Yogyakarta menjadi kota yang unggul dalam bidang pendidikan, pariwisata, dan pelayanan jasa. adapun VISI dan MISI Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta adalah sebagai berikut.

Visi

Terwujudnya pendidikan berkualitas, berkarakter dan inklusif dengan dukungan sumber daya manusia yang professional.

Misi

1) Mewujudkan pendidikan berkualitas, berkarakter dengan dukungan sumberdaya yang professional.

(52)

BAB III

PEMBAHASAN

Pada bab ini peneliti akan menguraikan data dan hasil penelitian tentang permasalahan yang telah dirumuskan pada bab 1, yaitu permasalahan Bagaimanakah Implementasi Kebijakan Pengembangan Kota Layak Anak Bagian Pendidikan di Kota Yogyakarta pada Tahun 2015, dan Apa saja faktor yang mempengaruhi implementasi Kebijakan Pengembangan Kota Layak Anak Bagian Pendidikan Di Kota Yogyakarta pada Tahun 2015 (studi kasus : Di Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta Tahun 2015) dan hasil penelitian ini sesuai dengan indikator yang telah dijelaskan peneliti dalam definisi operasional.

(53)

Untuk mengetahui perkembangan program Peningkatan Layanan Pendidikan Usia Dini (PAUD), Jaminan Pendidikan Derah (JPD), Sekolah Bertarap Inklusi, yang diimplementasikan oleh Dinas Pendidikan. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa implementasi program KLA terhadap Program Peningkatan Layanan Pendidikan Usia Dini (PAUD), Jaminan Pendidikan Derah (JPD), Sekolah Bertarap Inklusi Di Kota Yogyakarta dilakukan dalam satu tahun, implementasi dilakukan Dinas Pendidikan, mengadakan sosialisasi, Workshop, Seminar, Pelatihan, terkait implementasi Peningkatan Layanan Pendidikan Usia Dini (PAUD) bersama guru pengajar, pembicara ahli di bidangnya, JPD bersama kepala sekolah, sekolah Inklusi bersama guru pengajar tingkat TK samapai sekolah menengah, implementasi yang dilakukan Dinas Pendidikan yang mengidentifikasi masalah dan penyimpangan yang muncul pada Peningkatan Layanan Pendidikan Usia Dini (PAUD), Jaminan Pendidikan Derah (JPD), Sekolah Inklusi Di Kota Yogyakarta.

(54)

A.Implementasi Program KLA Bagian Pendidikan

a. Jaminan Pendidikan Daerah

Kebijakan Pemerintah Kota Yogyakarta dalam meningkatkan jenjang pendidikan wajib belajar sampai jenjang pendidikan menengah yang diberikan biaya tambahan bagi masyarakat yang kurang mampu yaitu kebijakan JPD yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta. Kebijakan ini digunakan untuk memenuhi kekurangan BOS dari pemerintah dan juga kebijakan pemberian bantuan tunggakan biaya pendidikan sebagaimana sudah di atur dalam Peraturan Pemerintah Kota Yogyakarta Nomor 47 tahun 2008.

Dinas Pendidikan melakukan sosialisasi langsung dengan penerima kebijakan agar pelaksana harus memahami betul mengenai apa yang harus dilakukan berkaitan dengan kebijakan tersebut. Selain itu kelompok sasaran kebijakan juga harus diinformasikan mengenai apa yang terjadi pada tujuan dan sasaran kebijakan tersebut. Komunikasi dengan masyarakat luas mutlak diperlukan dalam upaya mensosialisasikan kebijakan KLA di Kota Yogyakarta. Dengan komunikasi yang berjalan dengan baik maka masyarakat akan berpikiran bahwa para pemimpin bangsa yang sekaligus merupakan pembuat keputusan adalah para pelaksana dari aspirasi masyarakat Kota Yogyakarta. Sinergi antara pemerintah dan masyarakat melalui komunikasi yang baik akan memudahkan dalam menjalankan kebijakan tersebut.

(55)

Walikota Nomor 4 tahun 2015 Tentang Pedoman Pemberian JPD, juga Peraturan Walikota Nomor 19 Tahun 2010 Tentang Pedoman Pemberian JPD. Dalam peraturan walikota tersebut dijelaskan bahwa pasal 6 ayat (1) mengatakan bahwa kegiatan pemberian JPD dilakukan oleh Dinas Pendidikan Yogyakarta melalui unit pelayanan teknis jaminan pendidikan daerah (UPT JPD). Sosialisasi dapat dilakukan melalui berbagai macam cara Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta.

Sosialisasi mengenai JPD merupakan wewenang dari Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta dan dilakukan dengan melibatkan sekolah-sekolah, masyarakat dan media massa demi mensukseskan program JPD Di Kota Yogyakarta.

Bagan 3.1. Proses Implementasi Jaminan Pendidikan Daerah

Menurut Ibu Suryatni selaku Kepala unit pelayanan teknis jaminan pendidikan daerah mengungkapkan bahwa :

Perwal nomor 19 Tahun 2010 dan 04 tahun 2015 DINAS

PENDIDIKAN

UPT. JPD SOSIALISASI masyarakat dan

(56)

“Langkah paling tepat dalam melakukan penyampaian informasi kepada masyarakat Kota Yogyakarta secara bertatap muka langsung dalam menyampaikan kebijakan akan mempermudah dalam menerima masukan masalah keperluan yang dibutuhkan masyarakat penerima kebijakan”.(Wawancara dengan Ibu Suryatni selaku Kepala Unit Pelayanan Teknis Jaminan Pendidikan pada tanggal 10 November 2016)

hal ini sebagai wujud komunikasi yang dilakukan Dinas Pendidikan dalam mensosialisasi kebijakan JPD sebagai berikut :

a) Sosialisasi Langsung Kepada Masyarakat

Bagan 3.2. Proses Sosialisasi

Sosialisasi dengan masyarakat dilakukan Di Balai Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta satu kali pada tahun 2015, sosialisasi yang dilakukan kepada masyarakat dengan mengundang tokoh masyarakat serta 45 Kelurahan Kota Yogyakarta pada Juni 2015. Melalui tokoh-tokoh masyarakat ini diharapkan informasi mengenai JPD dapat disampaikan kepada masyarakat diwilayahnya masing-masing.

TOKOH

MASYARAKAT SOSIALISASI

UPT.JPD

(57)

b) Melakukan Sosialisasi Disekolah (SD, SMP, SMA)

Bagan 3.3. Sosialisasi ke Jenjang Sekolah

Sosialisasi mengenai kebijakan JPD, sekolah dilakukan dari sekolah dasar (SD) dilakukan sosialisasi sejumlah 153 sekolah, Sekolah Menengah Pertama (SMP) dilakukan sosialisasi sejumlah 51 sekolah dan Sekolah Menengah Atas (SMA) dilakukan sosialisasi sejumlah 42 sekolah. Dilakukan secara langsung terjun kelapangan oleh Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta. Menurut ibu Suryatni :

“Sosialisasi yang dilakukan UPT JPD kepada sekolah salah satu contok, SMPN 10 Yogyakarta pada 4 Maret 2015 sebanyak 68 wali murid pemegang KMS. Sosialisasi dilaksanakan dengan cara yang berbeda-beda, setiap jenjangnya Sekolah Di Kota Yogyakarta dibentuk unit pelayanan teknis utara, timur, selatan, dan barat. Masing-masing sekolahnya nanti bergabung sesuai dengan wilayahnya sendiri”. (Wawancara dengan Ibu Suryatni selaku Kepala Unit Pelayanan Teknis Jaminan Pendidikan pada tanggal 10 November 2016)

Pada tanggal 4 Maret 2015 dilakukan sosialisasi program JPD untuk 1. SD (153)

3. SMA (42)

2. SMP (51)

UPT.JPD

(58)

diikuti oleh orang tua siswa kelas VII pemegang KMS, yaitu sebanyak 68 orang. Pada kesempatan tersebut Kepala Sekolah mengajak seluruh orang tua untuk bersyukur dengan adanya program JPD dari Pemerintah Kota Yogyakarta ini. Adanya JPD (Jaminan Pendidikan Daerah) ini sangat membantu orang tua yang memiliki keterbatasan ekonomi dalam membiayai kebutuhan sekolah bagi anak-anaknya. Dengan adanya bantuan dari Pemerintah ini, tidak ada lagi alasan untuk tidak sekolah atau putus sekolah.

Dinas Pendidikan dalam sosialisasinya selalu menekankan kepada peserta didik pemegang KMS untuk memilih sekolah sesuai dengan minat dan keinginannya sendiri. Selain itu Dinas Pendidikan menghimbau agar peserta didik pemegang KMS untuk memilih atau mendaftarkan diri dalam PPDB di sekolah yang tidak terlalu jauh dari rumahnya dan penerima JPD dalah satu tahun memiliki batasan penerima JPD tergantung masing-masing sekolah seperti tabel jenjang SMP berikut :

c) Melakukan Sosialisasi dengan Media Massa

Bagan 3.4. Proses Sosialisasi

Media Massa UPT.JPD

(unit pelaksana teknis)

(59)

Sosialisasi kebijakan JPD melalui media massa, diharapkan mampu menjangkau masyarakat yang sebelumnya belum tersentuh kebijakan jaminan pendidikan daerah. Menurut Ibu Suryatni :

“UPT JPD menjalin kerja sama dengan berbagai media massa yang ada di Kota Yogyakarta, baik yang elektronik maupun cetak seperti : Televisi, Radio, Surat Kabar, Tribun Jogja, dan lain-lain”. (Wawancara dengan Ibu Suryatni selaku Kepala Unit Pelayanan Teknis Jaminan Pendidikan pada tanggal 10 November 2016)

d) Melakukan Komunikasi Dengan Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi

Bagan 3.5. Proses Pendataan Penerima JPD

Dinas Pendidikan kota Yogyakarta ikut terlibat dalam proses uji publik yang dilakukan Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi di masyarakat, proses pendataan penerimaan JPD dilakukan dengan para meter yang telah dibuat Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Kartu Menuju Sejahtera berlaku hanya selama 1 (satu) tahun dan bisa

Perpanjang Akir Tahun Satu Tahun

KMS

Pendataan Akhir Tahun

Per Tahun

(60)

diperpanjang melalui pendataan pada akhir tahun. Pendataan Keluarga Miskin dilakukan pada setiap satu tahun sekali karena pemetaan keluarga miskin sangat dinamis. Keluarga yang masuk tahun ini masuk dalam kriteria miskin, memungkinkan tahun depan sudah tidak termasuk dalam kreteria keluarga miskin lagi, Dinas Pendidikan ikut bekerja sama dengan dinas sosial, tenaga kerja dan transmigrasi dalam uji publik keluarga penerima KMS. Dinas Pendidikan menghimbau bagi masyarakat yang memerlukan bantuan pendidikan untuk segera mendaftarkan diri ke Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi, seperti yang di ungkapkan Ibu Suryatni :

“Untuk bisa mendapat bantuan JPD masyarakat harus bisa menunjukkan kartu menuju sejahtera (KMS) yang diurus di Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang sudah di atur dalam Peraturan Walikota Yogyakarta”. (Wawancara dengan Ibu Suryatni selaku Kepala Unit Pelayanan Teknis Jaminan Pendidikan pada tanggal 10 November 2016)

(61)

Bagan 3.6. Langkah-Langkah Mendapatkan Kartu Menuju

Sejahtera (KMS)

Berikut data siswa penerima Jaminan Pendidikan Daerah (JPD) tahun 2015 yang terdaftar Se-Kota Yogyakarta yang dilakukan dengan bertahap, tahap pertama sejumlah 14.579 siswa dan tahap kedua sejumlah 481 siswa, seperti tabel berikut :

Tabel 3.1. Jaminan Pendidikan Daerah Dalam dan Luar Kota Tahun 2015

(Tahap 1 dan 2) SD Negeri 4.948 3.463.600.000 149 104.300.000 SD Swasta 1.242 2.111.400.000 65 110.500.000 SMP Negeri 2.226 1.780.800.000 33 26.400.000 SMP Swasta 1.242 3.105.000.000 87 217.500.000 SMA Negeri 343 1.029.000.000 7 21.000.000

SMA Swasta 270 945.000.000 26 91.000.000

SMK Negeri 1.966 5.898.000.000 45 135.000.000 SMK Swasta 599 2.695.500.000 36 162.000.000 Sumber : Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta

(62)

TK/RA/TKLB, SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB dan SMK.

Upaya-upaya yang dilakukan Dinas Pendidikan untuk memperbaiki Program yaitu:

1. Melakukan sosialisasi langsung kepada Masyarakat lebih mendalam agar masyarakat lebih mengerti mengenai isi kebijakan.

2. Dinas Pendidikan bekerjasama dengan Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi dalam melakukan penerimaan bantuan JPD.

3. Menambah sumber daya manusia Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, Khususnya unit pelayanan teknis JPD, untuk sekarang jumlah staf yang ada di UPT.JPD seluruhnya ada 6 orang termasuk kepala umum.

b. Program Inklusi

Dinas Pendidikan menyelenggarakan Program Sekolah Inklusi, sekolah Inklusi akan menerima anak berkebutuhan khusus (ABS), yang paling pasti menerima sekolah Inklusi adalah sekolah yang sudah standar KLA sebagai mana yang dikatakan Bapak Hendro Basuki :

(63)

Sejauh ini semua lembaga terdapat 51 lembaga sudah ber SK (Surat Kuasa) di tahun 2015 lembaga tersebut terdiri dari SD, SMP, SMA. Pada saat penelitian, Dinas Pendidikan belum mendata ulang sekolah mana saja yang menerima anak berkebutuhan khusus (inklusi) Di Kota Yogyakarta tahun 2015. Program Inklusi di lakukan oleh Dinas Pendidikan agar anak berkebutuhan khusus mendapatkan Hak-haknya mendapatkan pendidikan layaknya anak normal lainnya, sebagaimana dikatakan IbuMurmarwantini :

“Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta penyelenggara program inklusi karena Kota Yogyakarta menuju kota inklusif, antara lain Sekolah harus menerima anak berkebutuhan khusus, tidak berpihak dan tanpa seleksi”. (Wawancara dengan IbuMurmarwantini selaku KASI PAUD pada tanggal 10 November 2016)

Pendidikan untuk semua anak Normal dan berkebutuhan khusus Di Kota Yogyakarta baik negeri maupun swasta, tidak diperbolehkan menolak untuk anak berkebutuhan khusus, Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta mengadakan bimtek untuk para pendidiknya , setidak nya dengan guru yang ada di sekolah bisa membantu dan menangani anak yang berkebutuhan khusus (donsendrom, super aktif, dll) sebagaimana dikatakan oleh ibu Murmarwantini :

(64)

Tabel 3.2. Jumlah Sekolah Inklusif (ABK, Anak-Anak Cerdas dan

Berbakat), Jumlah Ruang Kelas dan Jumlah Siswa Menurut Jenjang

Pendidikan Se-Kota Yogyakarta Tahun 2014

Kabupaten/Kota

Sekolah Inklusif

Jenjang Pendidikan

Jumlah Siswa

SD SMP SMA

SD SMP SMA L P L P L P

Yogyakarta 16 5 7 198 99 35 19 28 32

Sumber : Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta

Upaya-upaya yang dilakukan Dinas Pendidikan untuk memperbaiki Program yaitu:

1. Dinas Pendidikan harus mencukupi jumlah guru pendamping untuk siswa yang berkebutuhan khusus

2. Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta bekerja sama dengan kampus UNY dalam mencukupi jumlah guru pendamping

c. Peningkatan Layanan Pendidikan Usia Dini (PAUD)

(65)

a) Diklat PAUD Tingkat Dasar

Dinas Pendidikan membekali diklat dasar jam pelajaran sebanyak 48 JPL dengan tatap muka, harus praktek di lembaga PAUD sebanyak 200 jam dilaksanakan selama 25 hari jam kerja, setelah itu membuat laporan, di kumpulkan laporan dan di gabungkan dengan mengikuti pembelajaran selama 48 jam pelajaran, apabila lulus dengan standar nilai yang sudah ditetapkan oleh Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta selanjutnya akan mendapat sertifikat, setelah selesai diklat dasar kemudian lanjut ke Diklat Lanjud

b) Diklat PAUD Tingkat Lanjud

Dinas Pendidikan membekali diklat lanjut jam pelajaran lebih banyak dari diklat dasar yaitu 63 JPL dengan tatap muka, kemudian melakukan tugas mandiri atau magang sebanyak 200 jam, dilakukan selama 25 hari jam kerja, setelah itu membuat laporan, di kumpulkan laporan dan di gabungkan dengan mengikuti pembelajaran selama 63 jam pelajaran, apabila lulus dengan standar nilai yang sudah ditetapkan oleh Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta selanjutnya akan mendapat sertifikat hal ini semua untuk peningkatan kompetensi pendidik.

c) Workshop Kurikulum PAUD Berbasis Budaya

(66)

d) Pembinaan Lembaga PAUD Berprestasi

Dinas Pendidikan mengadakan pembinaan lembaga PAUD berprestasi dengan jumlah 14 lembaga di selenggarakan DI Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta

e) Pengelolaan Insentif Pendidik PAUD

Dinas Pendidikan memberikan penghargaan kepada para pendidik berupa insentif bagi pendidik yang suka rela yang di adakan di Rukun Warga jam mengajar berbeda-beda tergantung masing-masing Rukun Warga (1 kali per minggu dan ada yang 2 kali per minggu), Insentif sudah berjalan selama 4 tahun terakir.

f) Pembinaan Gugus PAUD

Perlombaan sampai tingkat Nasional, berjenjang mulai dari Kabupaten, Provinsi dan Nasional, pembinaan gugus PAUD mencapai 14 lembaga yang ada di Kota Yogyaakarta

g) Pelatihan Peningkatan Kapasitas Lembaga PAUD

Dinas Pendidikan mengadakan Lomba kepada Pendidik seperti : 1) Lomba pidato bahasa jawa bermaksud untuk melestarikan budaya jawa,

dengan bisa berpidato bahasa jawa maka pengajar akan bisa mengjarkan kepada anak didiknya.

(67)

karena pembelajaran anak sambil bermain, alat permainan edukatif nantinya dapat difungsikan untuk bahan ajar edukasi kepada murid. 3) Lomba cerita bergambar, untuk meningkatkan pendidik, perpaduan

bagaimana kreatifitas pendidik itu untuk menuangkan ide-ide pendidik, serta untuk meningkatkan pendidik untuk bisa menggambar hasil karya sendiri, juga disertakan seni cerita dari hasil gambar pendidik dan seni menggambar maka dampak positif akan di dapatkan oleh anak seperti, penanaman karakter, seni budaya dari gambar, suka menolong dilihat dari gambar tersebut.

h) Pengelolaan Bantuan PAUD

Pengelolaan bantuan PAUD di dapatkan dari anggaran Pemerintah Kota yang dilimpahkan ke ratusan Lembaga yang ada Di Wilayak Kota Yogyakarta.

i) Pengelolaan Data PAUD

Dinas Pendidikan memberikan Program kepada Pengelola PAUD, yaitu meningkatkan kreatifitas pengelola supaya dapat meningkatkan skil menulis, dengan cara Dinas Pendidikan mengadakan lomba karya nyata, bagi pengelola, besprektisi.

j) Workshop Akreditas Lembaga PAUD

Dinas Pendidikan Mengadakan Workshop akreditas lembaga PAUD mencapai puluhan lembaga yang ada Di Kota Yogyakarta.

(68)

Pendampingan akreditasi lembaga PAUD Bertujuan untuk mengukur mutu lembaga paud, PAUD tingkat negeri ada 2 lembaga, TK 1 (satu) dan TK 2 (dua) sudah terakreditasi A. Dengan adanya akreditasi untuk menilai mutu pelayanan meningkat otomatis kepedulian terhadap anak terus meningkat.

l) Monitoring dan Evaluasi SPS PAUD Se-Kota

Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta selalu melakukan Monitoring dan Evaluasi SPS PAUD Se-Kota Yogyakarta dan di bantu gugus tugas KLA Kota Yogyakarta agar tahun selanjutnya program yang akan dibutuhkan akan di rencanakan dengan lebih maksimal.

m) Workshop pengelola PAUD

Workshop pengelola PAUD dilakukan satu kali oleh Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta bertujuan untuk pengelola PAUD semakin berkualitas sesuai dengan indikator KLA

n) Gebyar PAUD tingkat kota

Gebyar PAUD ajang kreatifitas keberanian bagi usia PAUD seperti pentas seni untuk anak PAUD terdiri dari sps, kb, tpa dan TK. Berfungsi untuk mengajari anak untuk berani tampil di depan umum, mandiri, kreatifitas anak, dan untuk mencapai pengembangan KLA.

o) Pengembangan lembaga PAUD

(69)

dan perawatan, yakni melalui penyelenggaraan, kelembagaan, dan pelayanan terpadu, seperti model POS PAUD

p) Pembekalan Teknis Pendidikan PAUD

Peningkatan kompetensi pendidik PAUD untuk pengajar yang ada di SPS yang ada di RW-RW, dibekali dengan pengajar, bagi pendidik PAUD yang ada di SPS (satuan PAUD yang ada di RW-RW) yang biasanya dilaksanakan disore hari, (seminggu 1 kali pertemuan, ada yang 2 kali) tergantung masing-masing Lembaga.

q) Seminar PAUD

Dinas Pendidikan mengadakan Seminar dengan Jumlah peserta 100 pendidik PAUD, mendatangkan nara sumber ahli dari perguruan tinggi, seminar bertema “komunikasi efektif untuk anak usia dini tahun 2015” di

selenggarakan Di Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta.

r) Workshop Menciptakan Lagu Anak

(70)

lagu sesuai dengan usia anak ada unsur didik di dalam lagu, terdapat pendidikan karakter, budaya, Nara sumber dari lembaga khusus musik.

Upaya-upaya yang dilakukan Dinas Pendidikan untuk memperbaiki Program Jumlah guru pengajar yang ada di Satuan Paud Sejenis (SPS) di Rukun Warga (RW) terus ditingkatkan jumlah pendidik

B. Faktor (Komunikasi dan Sumber Daya)

a. Komunikasi

1. Komunikasi (JPD)

Konten kebijakan menjadi aspek variabel penting untuk dijelaskan sebagai faktor yang memengaruhi implementasi kebijakan Jaminan Pendidikn Daerah (JPD). Idealnya semakin jelas dan rinci isi sebuah kebijakan yang diatur dalam peraturan Pemerintah Kota Yogyakarta Nomor 47 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar. maka akan semakin mudah pula diimplementasikan karena implementor mudah memahami dan menerjemahkan dalam tindakan (action) nyata. Sebaliknya, ketidak jelasan isi kebijakan merupakan potensi lahirnya distorsi dalam implementasi kebijakan.

(71)

pada tujuan dan sasaran kebijakan tersebut. Komunikasi dengan masyarakat luas mutlak diperlukan dalam upaya mensosialisasikan kebijakan KLA di Kota Yogyakarta. Dengan komunikasi yang berjalan dengan baik maka masyarakat akan berpikiran bahwa para pemimpin bangsa yang sekaligus merupakan pembuat keputusan adalah para pelaksana dari aspirasi masyarakat Kota Yogyakarta. Sinergi antara pemerintah dan masyarakat melalui komunikasi yang baik akan memudahkan dalam menjalankan kebijakan tersebut. Dasar hukum mengenai wewenang Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta.

Kota Yogyakarta dalam mensosialisasikan JPD kepada masyarakat berdasarkan Peraturan Walikota Nomor 19 tahun 2010 Tentang Pedoman Pemberian JPD Juga Peraturan Walikota Nomor 4 tahun 2015 Tentang Pedoman Pemberian Jaminan Pendidikan Daerah. Dalam peraturan walikota tersebut dijelaskan bahwa pasal 6 ayat (1) mengatakan bahwa kegiatan pemberian JPD dilakukan oleh Dinas Pendidikan Yogyakarta melalui unit pelayanan teknis jaminan pendidikan daerah (UPT JPD). Sosialisasi dapat dilakukan melalui berbagai macam cara Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta.

Gambar

Tabel 1.1. Jumlah Siswa Putus Sekolah Menurut Jenjang Pendidikan
Tabel 1.2. Indikator Kampung Ramah Anak Kota Yogyakarta
Tabel 1.3. Jumlah Informan Penelitian
Tabel 1.4. Data Primer Penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Program penelitian mahasiswa yang berjudul “Implementasi Program Tunggakan Biaya Pendidikan di Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta” ini memliki tujuan

Untuk itu Direktorat Pendidikan Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda, Departemen Pendidikan Nasional menyelenggarakan Program Pendidikan Kesetaraan

Masalah HIV dan AIDS di masyarakat dipengaruhi oleh banyak faktor seperti perilaku, tingkat pendidikan dan kemiskinan. Berdampak sangat luas terhadap keadaansosial

Komunikasi yang berlangsung pada saat sosialisasi dalam pelaksanaan Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) non formal di Kabupaten Purworejo kurang

Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kebijakan Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru dalam meningkatkan kualitas Pendidik di Sekolah Dasar tahun 2015, belum berjalan dengan baik

Proses sosialisasi yang dilakukan belum efektif karena sosialisasi yang dilakukan langsung kepada masyarakat masih kurang baik hal tersebut dibuktikan dengan

Dalam kenyataannya sumber daya aparatur yang dimiliki Dinas Pendidikan, khususnya yang mengelola kegiatan belanja langsung, diakui tenaganya masih terbatas, seperti

Kedudukan dinas sosial kota pekanbaru adalah umur pelaksanaan pemerintah daerah dibidang kesejahteraan sosial kota pekanbaru yang ada pada saat ini dipimpin oleh seorang kepala dinas