2015)
THE EFFECT OF EARNINGS VOLATILITY ON PROFIT FORECAST ERROR
(Comparative Study on Banking Companies with Income Smoothing and without Income Smoothing in Indonesian and Malaysia 2013-2015)
Disusun Oleh:
BELA SUCI RAHMAWATI 20130420500
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
THE EFFECT OF EARNINGS VOLATILITY ON PROFIT FORECAST ERROR
(Comparative Study on Banking Companies with Income Smoothing and without Income Smoothing in Indonesian and Malaysia 2013-2015)
SKRIPSI
Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana di Fakultas Ekonomi Bisnis Program Studi Akuntansi
Univesitas Muhammadiyah Yogyakarta
Disusun Oleh:
BELA SUCI RAHMAWATI 20130420500
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
Nomor Mahasiswa : 20130420500
Menyatakan bahwa skripsi ini dengan judul: “PENGARUH VOLATILITAS LABA TERHADAP KESALAHAN PERAMALAN LABA (Studi Komparatif pada Perusahaan Perbankan yang Melakukan Perataan Laba dan Tidak Melakukan Perataan Laba di Indonesia dan Malaysia Tahun 2013-2015)” tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjangn pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertuli diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar putaka, apabila ternyata dalam skripsi ini diketahui oleh orang lain maka bersedia karya tersebut dibatalkan.
Yogyakarta, 9 Desember 2016
Materai, 6000,-
ىف ف ْل يبس ىَتح ْ ري ْعج
Dari annas bin malik berkata : telah bersabda rasulullah SAW: barang siapa keluar rumah untuk menuntut ilmu maka ia dalam jihad fisabilah hingga
kembali
Ridho Allah berada pada ridho kedua orang tuanya, dan murka Allah (akibat) murka kedua orang tuanya .
Allah SWT yang selalu memberikan kesehatan, kemudahan serta nikmatnya
sehingga aku dapat menyelesaikan gelar sarjana dengan waktu yang tepat.
Terimakasih ya Allah atas berkat dan rahmat Engkau sehingga hamba dapat
menyelesaikan studi di Universitas Muhammadya Yogyakarta dengan tepat
waku.
Bapak ibuku tercinta, terimakasih karena sudah selalu mendoakanku,
mendukung setiap pilihanku, memberikan semangat, membimbingku, serta
selalu memberikan kasih sayang yang tidak terbatas. Aku akan selalu berusaha
untuk membahagiakan bapak ibu, dan aku akan berusaha menjadi anak yang
berbakti kepada bapak ibu.
Kakak-kakakku tersayang, terimakasih sudah selalu membantu disetiap
kesulitanku, serta mendorongku agar menjadi orang yang lebih baik.
Ibu Dr. Ietje Nazaruddin, S.E., M.Si., Ak., CA, terimakasih banyak atas segala
bimbingan dan wejangannya yang sudah ibu berikan kepadaku sehingga
skripsiku dapat selesai dengan tepat waktu dan sukses.
Untuk sahabatku Dynar, terimakasih sudah selalu menemaniku, susah seneng
kita lewatin bersama, selalu menghiburku, memberiku semangat, dan selalu
Untuk temen-temenku Yani, Mustika, Tia, dan Putri terimakasih sudah
memberikan hidupku berwarna selama 3 tahun ini.
Untuk temen-temen KKN 46, terimakasih atas doa dan dukungannya
Untuk teman-teman almamaterku dan teman-teman seperjuangan di kampus
yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Mari kita lanjutkan perjuangan kita di
dan rahmat dalam penulisan skripsi dengan judul “Pengaruh Volatilitas Terhadap
Kesalahan Peramalan Laba (Studi Komparatif pada Perusahaan Perbankan yang
Melakukan Perataan Laba dan Tidak Melakukan Perataan Laba di Indonesia dan
Malaysia Tahun 2013-2015)”.
Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam
memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta. Penulis mengambil topik ini dengan harapan dapat
memberikan masukan bagi organisasi dalam penggunaan taktik mempengaruhi
dalam pengambilan keputusan organisasional dan memberikan ide pengembangan
bagi penelitian selanjutnya,
Penyelsaian skripsi ini tidak terlepas dari bimbingan dan dukungan berbagai
pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang
sebanyak-banyaknya kepada:
1. Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang telah
memberikan petunjuk, bimbingan dan kemudahan selama penulisan
menyelsaikan studi.
2. Bu Dr. Ietje Nazaruddin, S.E., M.Si., Ak., CA. yang dengan penuh kesabaran
telah memberikan masukan dan bimbingan selama proses penyelasian karya
4. Semua pihak yang telah memberikan dukungan, bantuan, kemudahan dan
semangat dalam proses penyelsaian tugas akhir (skripsi) ini.
Sebagai kata akhir, penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam skripsi
ini. Oleh karena itu, kritik, saran, dan pengembangan penelitian selanjutnya sangat
diperlukan untuk kedalaman karya tulis dengan topik ini.
Yogyakarta, 9 Desember 2016
HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERNYATAAN ... iv
MOTTO ... v
HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi
INTISARI ... viii
ABSTRAK ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR GAMBAR ... xv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Penelitian ... 1
B. Rumusan masalah... 4
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Manfaat Penelitian ... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6
A. Landasan Teori ... 6
1. Agency Theory ... 6
2. Kesalahan Peramalan Laba ... 7
BAB III METODA PENELITIAN ... 17
A. Obyek/Subyek Penelitian ... 17
B. Jenis Data dan Sumber Data ... 17
C. Teknik Pengambilan Data ... 18
D. Teknik Pengumpulan Data ... 18
E. Definisi Operasional Variabel Penelitian ... 19
F. Uji Kualitas Data ... 22
G. Uji Hipotesis dan Analisis Data ... 24
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 26
A. Gambaran Umum Subyek Penelitian ... 26
B. Uji Kualitas Instrumen dan Data ... 28
C. Hasil Penelitian (Uji Hipotesis) ... 41
D. Pembahasan (Interpretasi) ... 48
BAB V SIMPULAN, SARAN DAN KETERBATASAN PENELITIAN ... 53
A. Simpulan ... 53
B. Saran ... 54
C. Keterbatasan Penelitian ... 55
DAFTAR PUSTAKA
b. Prosedur Pemilihan Sampel ... 27
c. Uji Statistik Deskriptif di Indonesia ... 28
d. Uji Statistik Deskriptif di Malaysia ... 30
e. Uji Normalitas di Indonesia ... 33
f. Uji Normalitas di Malaysia ... 34
g. Uji Heteroskedastisitas di Indonesia ... 35
h. Uji Heteroskedastisitas di Malaysia... 36
i. Uji Multikolinearitas di Indonesia ... 37
j. Uji Multikolinearitas di Malaysia ... 38
k. Uji Autokolerasi di Indonesia ... 39
l. Uji Autokorelasi di Malaysia ... 40
m. Uji R Square di Indonesia ... 41
n. Uji R Square di Malaysia ... 42
o. Uji Independent Sample Test Hipotesis 3 ... 43
p. Chow Test Perusahaan di Indonesia dan Malaysia ... 44
q. Uji T Hipotesis 1 ... 44
r. Uji T Hipotesis 2 ... 45
2015. Pemilihan sampel dengan metode purposive sampling dan diperoleh sampel sebesar 119 perusahaan yang dapat diteliti. Hipotesis diuji dengan menggunakan model regresi sederhana.
Hasil penelitian menunjukan bahwa volatilitas laba berpengaruh positif terhadap kesalahan peramalan laba di seluruh perusahaan perbankan di Indonesia dan Malaysia, serta pada perusahaan yang melakukan perataan laba di Indonesia. Namun, volatilitas laba tidak berpengaruh terhadap kesalahan peramalan laba di perusahaan yang melakukan perataan laba di Malaysia. Pada perusahaan yang melakukan perataan laba dan tidak melakukan perataan laba di Indonesia berbeda, sedangkan di Malaysia tidak berbeda.
purposive sampling and obtained a sample of 119 companies that can be researched. The hypothesis was tested using a simple regression model.
The results showed that the positive effect on the earnings volatility forecasting error profits across the banking company in Indonesia and Malaysia, as well as on corporate income smoothing in Indonesia. However, earnings volatility forecast error had no effect on earnings in the corporate income smoothing in Malaysia. In corporate income smoothing and income smoothing in Indonesia is different, whereas in Malaysia is no different.
Keyword: Earnings Volatility, Profit Forecast Error, Income Smoothing
1
A. Latar Belakang
Laba merupakan alat untuk mengukur keadaan perusahaan bagi para
invetor. Baik buruknya keadaan perusahaan bergantung pada naik turunnya
laba yang dilaporkan oleh perusahaan. Sekarang sudah banyak perusahaan di
Indonesia dan Malaysia yang telah go public. Hal tersebut mendorong
perusahaan-perusahaan agar membuat laporan keuangan dengan laba yang
baik agar para investor tertarik untuk berinvestasi diperusahaan. Laba yang
dilaporkan tidaklah selalu meningkat. Setiap tahun atau periode laba yang
dilaporkan akan berubah. Naik turunnya laba perusahaan ini disebut dengan
volatilitas laba. Fudenberg dan Tirole (1995) menyatakan bahwa investor
menghindari perusahaan yang memiliki tingkat volatilitas laba yang tinggi
karena memiliki risiko yang besar. Dapat disimpulkan bahwa para investor
lebih menyukai perusahaan dengan tingkat volatilitas laba yang rendah.
Terjadinya volatilitas laba yang tinggi juga dapat mendorong
terjadinya kesalahan dalam meramalkan laba (Wijayanti dan Diyanti, 2016).
Kesalahan peramalan laba (profit forecast error) terjadi bila laba yang
diperkirakan akan diperoleh pada periode saat ini berbeda dengan yang
diperoleh sebenarnya. Kesalahan ini mengakibatkan berkurangnya
sebenarnya dilakukan oleh manajer untuk memperkirakan atau
menganggarkan keuangan di periode yang akan datang, sehingga manajer
dapat memperkirakan biaya-biaya yang dibutuhkan pada periode yang akan
datang. Bila peramalan laba yang dilakukan salah, maka biaya yang disiapkan
untuk periode yang akan datang pun salah. Perusahaan pun memiliki
kecenderungan untuk rugi, bila laba yang dihasilkan ternyata lebih kecil
daripada yang diperkirakan.
Menurut penelitian dari Lambertides dan Mazouz (2013) menyatakan
bahwa para analis dan investor akan semakin pandai dalam melakukan
peramalan laba. Hal ini ditandai dengan adanya penurunan kesalahan
peramalan laba setelah IFRS diadopsi di Eropa. Dengan menurunnya
kesalahan peramalan laba, maka semakin banyak investor untuk berinvestasi
pada perusahaan. Selain itu, manajer juga melakukan manajemen laba untuk
menarik investor. Dengan melakukan manajemen laba, laporan keuangan akan
terlihat baik dan investor tertarik untuk berinvestasi. Manajemen laba
merupakan tindakan manajer dalam memanipulasi laporan perolehan laba
perusahaan agar terihat baik. Tetapi manajemen laba tidak merupakan
pelanggaran etika profesi, bila tetap mengikuti aturan yang ada.
Menurut penelitian dari Scott (2003) menyatakan bahwa earning
management dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu taking a bath, income
maximization, income minimization, serta income smoothing. Dari empat jenis
manajemen laba tersebut, manajemen laba yang sering terjadi di Indonesia
Pada pelakuan income smoothing, manager meratakan laba yang diperoleh
tahun lalu dengan tahun berjalan agar laporan laba dari perusahan terlihat
bagus. Bila laporan laba dari perusahaan terlihat bagus maka para investor
akan tertarik untuk berinvestasi diperusahaan. Penelitian dari Rosa dan Hilda
(2015) berpendapat bahwa pelaksanaan manajemen laba, termasuk income
smoothing, dapat meningkatkan volatilitas laba. Karena laba yang dilaporkan
bukan laba sebenarnya sehingga tingkat kestabilan laba pun berkurang
(volatilitas laba meningkat).
Motivasi dari penelitian ini adalah peneliti ingin mengetahui
hubungan antara volatilitas laba dengan kesalahan peramalan laba yang terjadi
di Indonesia dan Malaysia. Karena masih ada perusahaan yang memiliki laba
yang stabil namun manajer masih salah melakukan peramalan. Alasan
memilih Indonesia dan Malaysia karena perusahaan di Indonesia dan Malaysia
memiliki karakteristik yang sama (Siregar dan Vivian, 2015). Banyak investor
yang ingin berinvestasi di Indonesia dan besarnya investasi berdasarkan
ekspektasi investor, kreditor, dan pihak-pihak lain yang berkepentingan
(Baskoro dan Wardani, 2014). Dengan alasan tersebut, maka peneliti ingin
meneliti hubungan antara tingkat volatilitas laba dengan kesalahan peramalan
laba yang melakukan perataan laba dan tidak melakukan perataan laba.
Penelitian ini mereplikasi penelitian dari Sarv, dkk (2015) yang
berjudul “The Effect of Earnings Volatility on Profit Forecast Error with an
Emphasis on Income Smoothing”. Perbedaan antara penelitian ini dengan
diambil. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah
perusahaan-perusahaan perbankan yang berada di Bursa Efek Indonesia dan Bursa
Malaysia pada tahun 2013-2015. Untuk penelitian pada penelitian Sarv, dkk
(2015) adalah perusahaan-perusahaan yang masuk dalam Bursa Efek Teheran
tahun 2009-2013.
Dari uraian diatas, maka peneliti ingin meneliti hubungan antara
volatilitas laba dengan kesalahan peramalan laba pada perusahaan yang
melakukan perataan laba dan tidak melakukan perataan laba pada sektor
perusahaan perbankan yang berada di Indonesia dan Malaysia. Penelitian ini
mengunakan sampel perusahaan perbankan yang ada di Bursa Efek Indonesia
dan Bursa Malaysia pada tahun 2013-2015, sehingga judul penelitian ini
adalah “Pengaruh Volatilitas Laba Terhadap Kesalahan Peramalan Laba”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah yang dapat
menjelaskan hubungan volatilitas laba dengan kesalahan peramalan laba
adalah sebagai berikut:
1. Apakah tingkat volatilitas laba berpengaruh positif terhadap tingkat
kesalahan peramalan laba?
2. Apakah tingkat volatilitas laba berpengaruh positif terhadap tingkat
3. Apakah ada perbedaan yang signifikan antara perusahaan yang melakukan
perataan laba dengan perusahaan yang tidak melakukan perataan laba
dalam kesalahan peramalan laba?
C. Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan
dari penelitian ini yaitu:
1. Untuk mengetahui apakah volatilitas laba berpengaruh positif terhadap
tingkat kesalahan peramalan laba
2. Untuk mengetahui apakah volatilitas laba berpengaruh positif terhadap
kesalahan peramalan laba pada perusahaan yang melakukan perataan laba
3. Untuk mengetahui adanya perbedaan yang signifikan antara perusahaan
yang melakukan perataan laba dengan perusahaan yang tidak melakukan
perataan laba dalam kesalahan peramalan laba.
D. Manfaat Penelitian 1. Bagi calon investor.
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan
manfaat bagi calon investor dalam mempertimbangkan perusahaan mana
yang akan dipilih untuk berinvestasi. Penelitian ini pun dapat membantu
investor dalam mengukur perusahaan yang memiliki tingkat volatilitas
laba yang rendah. Dan investor juga dapat menilai perusahaan mana saja
yang memiliki peramalan labayang baik.
Penelitian ini diharapkan dapat membantu peneliti selanjutnya
yang melakukan penelitian dengan variabel yang sama. Penelitian ini juga
dapat dijadikan acuan dalam penyusunan hipotesis atau teori dalam
6 A. Landasan Teori
1. Agency theory.
Teori agensi adalah teori yang menjelaskan hubungan antara pihak
yang melakukan tugas (agent) sesuai dengan perintah dari pihak lain
(principal). Menurut Halim dan Abdullah (2006) ada dua pihak yang
bersepakat atau melakukan kontrak dalam hubungan keagenan yaitu
pemberi kewenangan atau kekuasaan disebut principal dan penerima
kewenangan disebut agent. Disini yang menjadi agent adalah manajer dan
principal adalah investor (pemegang saham) dan pemilik. Baskoro dan
Wardhani (2014) berpendapat bahwa perbedaan kepentingan antara
manajer dan pemegang saham juga menjadi masalah. Pemilik ingin
memaksimalkan Return on Investasi (ROI) dan kestabilan harga saham,
sedangkan manajer ingin memaksimalkan kepuasannya baik dari segi
pesikologis dan ekonominya.
Manajer didorong untuk mendapatkan laba yang maksimal oleh
pemilik, sehingga manajer melakukan segala cara agar mendapatkan laba
yang besar. Namun, pendapatan laba tidak selalu stabil, sehingga
mengakibatkan tingkat volatilitas laba yang tinggi. Bila tingkat volatilitas
laba tinggi maka tingkat kesalahan peramalan laba pun semakin besar.
Harga saham perusahaan pun ikut berfluktuasi. Keadaan tersebut
manajer. Hal ini mendorong manajer untuk melakukan manajemen laba
agar tidak terjadi volatilitas laba dan kesalahan peramalan laba. Selain itu,
laba yang diperoleh pun tetap stabil.
Manajer memiliki keleluasaan yang besar dalam membuat laporan
keuangan. Manajer juga lebih banyak mengetahui informasi perusahaan
daripada pemegang saham. Dengan keadaan tersebut, maka manajer dapat
dengan leluasa melakukan manajemen laba tanpa diketahui oleh pemegang
saham. Hal ini disebut sebagai asimetri informasi. Asimetri informasi
merupakan perbedaan informasi yang dimiliki oleh agent dengan informasi
yang dimiliki oleh principal. Bila principal kurang memonitori kerja agent,
maka agent dapat bekerja sesuai hatinya dan dapat mengumpulan
keuntungan untuk kelompoknya (Hartanto dan Probohudono, 2013).
Manajer dituntut untuk membuat laporan keuangan yang baik oleh
pemilik saham, maka manajer melakukan manajemen laba. Tindakan
manajer ini tidak diketahui oleh pemegang saham. Pemegang saham hanya
tahu bahwa laporan keuangan perusahaan dalam keadaan baik dan laba yang
diperoleh stabil atau cenderung meningkat. Pemegang saham hanya puas
dengan hasil akhir laporan keuangan, dan manajer senang karena mendapat
gaji atau bahkan bonus karena kinerjanya yang terlihat baik oleh pemegang
saham.
2. Kesalahan peramalan laba.
Menurut Render dan Heizer (2001) menyatakan bahwa Peramalan
akan terjadi di masa depan dengan menggunakan data historis dan
memproyeksikannya ke masa depan dengan menerapkan model matematis.
Peramalan dibuat untuk meminimalisir pengaruh ketidakpastian terhadap
sebuah permasalahan dimasa depan. Dengan adanya peramalan ini dapat
membantu manajer dalam mempersiapkan masalah yang mungkin akan
terjadi di periode yang akan datang. Dalam melakukan peramalan
diupayakan untuk tidak terjadi kesalahan meramal (forecast errors). Untuk
peramalan laba pada perusahaan yang memiliki laba yang stabil lebih
mudah dan akurat dalam perhitungannya (Dicho & Tang, 2010).
Peramalan laba dilakukan oleh manajer-manajer yang berada di
perusahaan. Bila dalam meramalkan laba selalu tepat, maka para investor
percaya akan kinerja manajer yang baik. Peramalan laba sebenarnya dapat
membantu menarik para calon investor untuk berinvestasi di perusahaan,
dengan catatan bila peramalannya tepat untuk beberapa periode. Namun,
bila peramalan laba tersebut salah maka beberapa investor akan ragu untuk
tetap berinvestasi di perusahaan tersebut.
3. Volatilitas laba.
Volatilitas laba adalah pergerakan naik turunya laba yang
diperoleh perusahaan pada periode tertentu. Menurut Khurniaji dan Raharja
(2013) beragumen bahwa volatilitas laba merupakan alat untuk mengukur
kestabilan laba yang diperoleh perusahaan. Jadi, bila tingkat volatilitas laba
perusahaan naik maka para investor dengan cepat menjual saham
para calon investor dengan cepat membeli saham perusahaan. Hal ini dipicu
karena adanya keraguan para investor terhadap kinerja dari manajer
perusahaan.
Respon para investor tersebut juga dijelakan oleh Petrovich Et. Al
(2006), dimana para investor akan memperhatikan kondisi fluktuasi laba
pada perusahaan dan respon mereka akan cepat bila laba pada suatu
perusahaan naik dengan cepat. Begitu juga sebaliknya, respon mereka juga
akan cepat bila laba perusahaan turun dengan cepat. Jadi, volatilitas laba
merupakan proyeksi akan risiko laba yang akan diterima oleh para investor
di periode yang mendatang, maka investor harus cepat dalam menyikapinya.
4. Manajemen laba.
Tindakan manajemen laba adalah tindakan memanipulasi laporan
keuangan oleh manajer dengan cara membuat laba perusahaan selalu stabil.
Tetapi tindakan ini tidak melanggar peraturan atau etika yang ada, jika
sesuai dengan peraturan yang ada (Suhendah dan Imelda, 2012). Karena
manajemen laba sebenarnya dilakukan dengan memilih metode yang
diijinkan untuk digunakan dan sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Jenis
dari manajemen laba ada 4 yaitu taking a bath, income maximization,
income minimization, serta income smoothing (Scott, 2000).
Taking a bath digunakan bila perusahaan dalam keadaan yang
tidak menguntungkan, sehingga manager mengakui biaya-biaya dimasa
depan dan mengakui kerugian pada periode berjalan. Taking a bath biasanya
sehingga perusahaan memilih untuk melakukan tindakan ini. Income
maximization adalah keadaan dimana laba yang diperoleh pada periode
berjalan menurun sehingga manager menaikan laba agar para investor tidak
melepaskan sahamnya. Tindakan ini dilakukan bila laba yang diperoleh
menurun secara signifikan. Income minimization adalah melakukan
manajemen laba dengan meminimalisir keuntungan yang didapat agar tidak
dikenai pajak yang besar. Karena pajak di negara Indonesia searah dengan
laba yang diperoleh perusahaan. Semakin tinggi laba yang diperoleh, maka
pajak yang dikenakan semakin tinggi. Income smoothing adalah perilaku
manager untuk meratakan laba yang diperoleh pada periode sebelumnya
dengan periode yang sedang berjalan. Manajer melakukan income
smoothing dengan membandingakan laba yang diperoleh sekarang dengan
laba pada tahun sebelumnya.
B. Hasil Penelitian Terdahulu dan Penurunan Hipotesis 1. Volatilitas laba dengan kesalahan peramalan laba.
Volatilitas laba merupakan pergerakan naik turunnya laba yang
diperoleh perusahaan disetiap periodenya (Baskoro dan Wardani, 2012).
Pergerakan laba disetiap periodenya tidaklah selalu stabil. Jika laba sebuah
perusahaan berfluktuasi tinggi maka volatilitas laba menjadi tinggi. Bila
terjadi voatilitas laba yang tinggi maka laba yang diperoleh dimasa depan
tidak dapat diperkirakan dengan pasti. Sebaliknya, bila laba memiliki
menurun atau rendah. Bila volatilitas laba rendah, maka laba yang diperoleh
lebih stabil sehingga manajer lebih mudah dalam melakukan peramalan laba
dan kecenderungan manajer dalam melakukan kesalahan peramalan laba
lebih kecil. Jadi, volatilitas laba berpengaruh pada hasil dari peramalan laba.
Menurut Sarv, dkk (2015) peramalan laba adalah seni atau ilmu
dalam memprediksi pendapatan laba berdasarkan data historis dari
perusahaan tersebut. Peramalan laba ini dilakukan oleh manajer perusahaan.
Bila manajer harus memprediksi perolehan laba untuk periode masa depan,
namun perusahaan memiliki tingkat volatilitas laba yang tinggi, maka
manajer kesulitan dalam meramalkan pendapatan laba dimasa depan dan
hasilnya pun cenderung kurang akurat. Jadi, dapat disimpulkan bahwa
tingkat volatilitas laba memiliki hubungan positif dengan kesalahan
peramalan laba.
Ada beberapa penelitian yang mendukung terhadap pernyataan
bahwa volatilitas laba mempengaruhi tingkat kesalahan peramalan laba,
seperti penelitian dari Rose dan Hilda (2015), serta Lambertides dan
Mazouz (2013) yang menyatakan bahwa peningkatan kualitas laba akan
mengurangi risiko kesalahan laba dan laba yang akan di dapat cenderung
akan stabil (volatilitas laba turun). Untuk penelitian dari Baskoro dan
Wardani (2014) mengungkapkan bahwa bila volatilitas laba turun maka
kesalahan dalam peramalan laba pun semakin kecil, dan sebaliknya bila
volatilitas laba naik maka kesalahan peramalan laba pun akan semakin
Namun, ada penelitian yang menyatakan bahwa volatilitas laba
tidak mempengaruhi tingkat kesalahan peramalan laba, yaitu penelitian dari
Fang (2009) dan Sarv, dkk (2015). Penelitian tersebut menyatakan bahwa
akurasi perkiraan dengan manajemen kesalahan pemikiran memiliki
hubungan yang negatif. Dari hasil beberapa penelitian diatas, maka dapat
disimpulkan bahwa hipotesis yang pertama adalah:
H1A: Volatilitas laba berpengaruh positif terhadap kesalahan peramalan laba
pada seluruh perusahaan perbankan di Indonesia.
H1B: Volatilitas laba berpengaruh positif terhadap kesalahan peramalan laba
pada seluruh perusahaan perbankan di Malaysia.
2. Volatilitas laba dengan kesalahan peramalan laba pada perusahaan yang
meratakan laba.
Perataan laba adalah tindakan yang dilakukan oleh manajer untuk
menaikan atau menurunkan laba agar laba terlihat stabil. Hal ini dilakukan
agar volatilitas laba berkurang dan perusahaan terlihat baik dimata investor
(Siregar dan Vivian, 2012). Perataan laba dapat dilakukan dengan cara
memindahkan pendapatan pada periode yang memiliki pendapatan yang
tinggi ke periode dimana pendapatan sangat rendah atau rendah (Ashari,
dkk, 1994). Dengan melakukan perataan laba maka tingkat volatilitas laba
akan semakin kecil dan kesalahan peramalan laba pun akan semakin kecil.
Jadi, pelakukan perataan laba pada perusahaan dapat memperkuat hubungan
Ada beberapa penelitian yang menjelaskan bahwa tingkat
volatilitas laba berpengaruh positif terhadap kesalahan peramalan laba pada
perusahaan yang melakukan perataan laba. Penelitian ini diantaranya, Fang
(2009) serta Dicho dan Tang (2010), yang menyatakan bahwa peramalan
laba pertama biasanya lebih dari keuntungan yang sebenarnya. Taker &
Zerarvin (2010) juga menemukan bahwa perataan laba memperkuat
hubungan antara return saham dan laba masa depan. Tiara dan Sutaryo
(2015) juga menyatakan bahwa penerapan IFRS di Indonesia dapat
mengurangi manajemen laba, sehingga kesalahan peramalan laba pun
berkurang.
Namun, ada penelitian yang mengemukakan bahwa perlakuan
perataan laba tidak berpengaruh terhadap volatilitas laba dan kesalahan
laba. Penelitian tersebut diantaranya, penelitian dari Modarres (2008), dan
Kurdistani (2009) mengemukakan bahwa perataan laba tidak berpengaruh
terhadap volatilitas laba dan kesalahan peramalan laba.
Jadi, ada penelitian dari Dicho dan Tang (2010), Taker & Zerarvin
(2010), Fang (2009), dan Tiara dan Sutaryo (2015) yang mendukung bahwa
perataan laba memperkuat hubungan antara volatilitas laba dan kesalahan
peramalan laba. Untuk penelitian dari Modarres (2008) menolak bahwa
perataan laba memperkuat hubungan antara volatilitas laba dan kesalahan
H2A: Volatilitas laba berpengaruh positif terhadap kesalahan peramalan laba
pada perusahaan yang melakukan perataan laba di Indonesia.
H2B: Volatilitas laba berpengaruh positif terhadap kesalahan peramalan laba
pada perusahaan yang melakukan perataan laba di Malaysia.
3. Perbedaan perusahaan dengan perataan laba dan tanpa perataan laba dalam
kesalahan peramalan laba.
Tujuan dari perataan laba itu sendiri untuk menghindari pajak
pemerintah, dan menarik para investor untuk berinvestasi di perusahaan
(Siregar dan Vivian, 2015). Namun, ada beberapa perusahaan yang tidak
melakukan perataan laba. Perusahaan yang melakukan perataan laba biasanya
perusahaan kecil (Juniati dan Corolina, 2005). Perusahaan tidak melakukan
perataan laba karena perusahaan besar biasanya menjadi sorotan para investor,
sehingga tidak mudah untuk melakukan perataan laba.
Ada beberapa penelitian yang mengungkapkan bahwa perusahaan
yang melakukan perataan laba berbeda dengan perusahaan yang tidak
melakukan perataan laba dalam kesalahan peramalan laba. Penelitian dari
Sarv, dkk (2015) menyatakan bahwa perusahaan yang melakukan perataan
laba sangat besar melakukan kesalahan peramalan laba dibandingkan
perusahaan yang tidak melakukan perataan laba. Penelitian dari Astuti dan
Widyarti (2013), dan Dewi dan Zulaikha (2015) menyimpulkan bahwa
Tetapi ada penelitian yang menyatakan bahwa adanya perataan laba
maupun tidak, tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Yaitu penelitian dari
Suhendah dan Imelda (2012) yang menyataan bahawa manajemen laba dengan
kinerja masa depan memiliki hubungan negatif. Berdasarkan penelitian
terdahulu, penelitian dari Sarv (2015), Astuti dan Widyari (2013), Juniati dan
Corolina (2005) serta Dewi dan Zulaikha (2015) mendukung adanya
perbedaan yang signifikan dari perusahaan yang meratakan laba dengan
perusahan yang tidak meratakan laba, dan Suhendah dan Imelda (2012)
menolak argument tersebut.
H3A: Ada perbedaan signifikan antara perusahaan yang meratakan laba dengan
perusahaan yang tidak melakukan perataan laba pada kesalahan peramalan
laba di Indonesia
H3B: Ada perbedaan signifikan antara perusahaan yang meratakan laba dengan
perusahaan yang tidak melakukan perataan laba pada kesalahan peramalan
laba di Malaysia.
C. Model Penelitian
Berdasarkan rerangka teori dan penurunan hepotesis, volatilitas laba
dengan kesalahan peramalan laba memiliki hubungan yang positif. Pergerakan
laba yang diperoleh oleh perusahaan berpengaruh terhadap kesalahan
peramalan laba di periode yang akan datang. Dalam penelitian ini, peneliti akan
membandingkan keakuratan perusahaan yang melakukan perataan laba dengan
hipotesis, untuk perusahaan yang melakukan perataan laba dan yang tidak
melakukan perataan laba memiliki perbedaan yang signifikan pada kesalahan
peramalan laba. Model dari penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
GAMBAR 2.1 Model Penelitian
H1: +
Volatilitas Laba
(Seluruh Perusahaan)
Kesalahan Peramala Laba
H2: +
Volatilitas Laba
(Perusahaan dengan Perataan Laba)
Perataan Laba H3: + Kesalahan
17
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Objek / Subyek Penelitian
Subyek dari penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan perbankan
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Bursa Malaysia pada tahun
2013-2015. Alasan mengapa menggunakan perusahaan perbankan karena
karakteristik perusahaan yang khusus, berbeda dengan perusahaan lainnya.
Selain itu, kemungkinan terjadinya kesalahan peramalan laba pada perbankan
seharusnya kecil. Perusahaan-perusahaan ini juga cenderung memiliki
karakteristik yang sama dalam operasional perusahaannya. Untuk kriteria
pengambilan samaple penelitian diantaranya:
1. Perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan Bursa
Malaysia pada tahun 2013-2015
2. Perusahaan selalu mengungkapkan laporan keuangan tahunan secara
lengkap ke publik pada tahun 2013-2015
3. Perusahaan yang tidak mengalami kerugian pada tahun 2013-2015
4. Perusahaan yang tidak melakukan merger atau akuisisi dari tahun
2013-2015
B. Jenis Data
Jenis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah data
kuantitatif. Karena dalam penelitian ini menggunakan data yang berisi
termasuk data sekunder. Dimana data sekunder merupakan data yang sudah
dimiliki oleh beberapa entitas, dalam penelitian ini yaitu laporan keuangan dari
perusahaan-perusahaan yang menjadi sampel penelitian.
C. Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini
adalah dengan menggunakan purposive sampling, yaitu dengan memilih
sampel berdasarkan kriteria dan tujuan tertentu sesuai dengan tujuan penelitian.
Kriteria yang digunakan untuk mengambil sampel penelitian diantaranya:
1. Perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan Bursa
Malaysia pada tahun 2013-2015
2. Perusahaan selalu mempublikasi laporan keuangan tahunan pada tahun
2013-2015
3. Perusahaan yang tidak mengalami kerugian pada tahun 2013-2015
4. Perusahaan yang tidak melakukan merger atau akuisisi dari tahun
2013-2015.
D. Teknik Pengumpulan Data
Karena data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder
maka peneliti mengumpulkan data dengan teknik studi pustaka dan metode
dokumentasi. Studi pustaka adalah kajian literature atau kajian teori yang
mendukung penelitian ini.
Metode dokumentasi adalah mempelajari arsip-arsip atau laporan
perusahaan. arsip-arsip atau laporan yang diambil adalah arsip atau laporan
yang sesuai atau mendukung dalam penelitian ini.
E. Definisi Operasional Variable Penelitian 1. Variable dependen.
Variable dependen adalah variable terikat yang dipengaruhi oleh
variable independen. Variable ini akan berubah bila dipengaruhi oleh
variable independen. Dalam penelitian ini yang menjadi variable dependen
adalah kesalahan peramalan laba (profit forecast error). Kesalahan
peramalan laba merupakan kesalahan yang dilakukan oleh manajer dalam
memperkirakan biaya yang dibutuhkan dan pendapatan yang diperoleh pada
periode yang akan datang.
Peramalan perolehan laba di periode yang akan datang dilakukan
oleh manajer. Peramalan laba dilakukan untuk meminimalisir terjadinya
masalah yang akan dihadapi dimasa depan. Bila manajer dapat meramalkan
laba yang diperoleh dengan benar, maka manajer dapat memperkirakan
masalah yang terjadi di masa depan. Dengan begitu, kesalahan peramalan
laba akan semakin kecil. Variabel ini akan diukur menggunakan
perhitungan sebagai berikut:
FEit = ABS (AEPSit – FEPSit)/ AEPSit
Dimana FEit merupakan kesalahan peramalan laba di perusahaan
i pada periode ke t. AEPSit merupakan laba aktual per tahun di perusahaan
tahun dari perusahaan i pada periode ke t, dan ABS adalah nilai ekonomi
dari nilai absolut (Sarv, 2015). Jika nilai tersebut terjadi sebelum ada
hubungan, maka nilai absolut dari hubungan tersebut sudah kuat.
2. Variable independen.
Variable independen adalah variable yang mempengaruhi variable
dependen. Dalam penelitian ini variabel independennya adalah volatilitas
laba dan perataan laba. Volatilitas laba merupakan pergerakan naik turunnya
(fluktuasi) laba yang diperoleh perusahaan pada periode tertentu. Bila laba
yang diperoleh perusahaan semakin tidak stabil, maka tingkat fluktuasi laba
perusahaan pun semakin tinggi.
Volatilitas laba dapat dilihat dari laporan yang dilaporkan oleh
perusahaan. Bila tingkat volatilitas laba tinggi maka keadaan perusahaan
dalam keadaan buruk dan kinerja dari manajer pun tidak baik. Para investor
menghindari perusahaan yang memiliki keadaan tersebut. Untuk dapat
mengetahu tingkat volatilitas laba, maka dapat diukur dengan rumus sebagai
berikut:
dengan mengakarkan hasil dari jumlah ROA pada tahun tertentu dikurangi
jumlah ROA pada tahun t ke T yang dibagi dari jumlah t dengan T. Setelah
dikurangi dengan hasil pembagian dari kuadrat jumlah pendapatan 3 tahun
sebelumnya sampai sekarang yang dibagi 3, lalu dibagi 3 (Putra, 2015).
Maka ketemulah volatilitas laba.
Untuk variabel independen ke 2 adalah perataan laba. Perataan
laba adalah manipulasi yang dilakukan oleh manajemen perusahaan,
namun tidak merupakan tindakan yang dilarang. Perataan laba dilakukan
agar keuangan perusahaan terlihat stabil. Tujuan utama dari tindakan
perataan laba adalah untuk menghindari penarikan pajak yang tinggi dan
agar kinerja manajer terlihat bagus oleh pemilik perusahaan. Perataan laba
dapat diukur dengan rumus sebagai berikut :
� � �� � = (�� ∆ )�� ∆ �
Dimana CV I merupakan koefisien variabel dari jumlah laba, dan
CV S adalah koefisien variabel dari jumlah penjualan (Sarv, 2015).
Berdasarkan rumus diatas, income smoothing ECKLE menghitung tingkat
perataan laba dengan membagi koefisien variabel jumlah laba dengan
koefisien variabel dari jumlah penjualan. Bila hasil dari perhitungan lebih
besar dari 1 (x > 1), maka perusahaan tidak melakukan perataan laba.
Sebaliknya bila hasil dari perhitungan kurang dari 1 (x < 1), maka
F. Uji Kualitas Data
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan uji regresi linear
sederhana dimana setiap variabel akan diuji hubungannya. Penelitian
menggunakan uji regresi linear sederhana karena hanya terdapat 2 variabel
disetiap hipotesisnya (pngujiannya). Selain itu, skala dari data yang diuji
termasuk pada skala interval.
Dalam pengujian ini akan dilakukan uji asumsi klasik yang terdiri dari
uji normalitas, uji heteroskedastisitas, uji multikolinearitas, dan uji
autokolerasi. Uji asumsi klasik merupakan persyaratan yang harus dipenuhi
untuk analisis regresi linear.
a. Uji normalitas.
Uji normalitas dilakukan untuk melihat apakah residual data yang
digunakan untuk penelitian berdistribusi normal atau tidak. Bila residual
data yang diteliti berdistribusi normal, maka data yang digunakan baik
untuk diuji. Alat yang digunakan untuk uji normalitas adalah dengan
Kolmogorov-Smirnov Z (1-Sample K-S). Nilai residu dikatakan normal bila
nilai Asymp.Sig.(2-tailed) lebih besar dari pada 5% (Ghozali,2009).
b. Uji heteroskedastisitas.
Pengujian heteroskedastisitas dilakukan untuk mengetahui bahwa
varian dari residual data dalam pengujian sama atau tidak. Data penelitian
yang baik adalah data yang varian dari nilai residualnya tidak sama untuk
menggunakan uji Glesjer, dimana data yang diuji adalah variable
independen dan nilai absolute residual. Nilai residual dikatakan tidak
heteroskedastisitas apa bila nilai signifikansinya lebih dari 5% (0,05).
c. Uji multikolinearitas.
Pengujian ini bertujuan untuk mengetahu apakah ada hubungan
korelasi antar variabel (Ghozali, 2009). Untuk melihat adanya korelasi
dalam data penelitian ini adalah dengan melihat kolom Variance Inflation
Factor (VIF). Jika nilai VIF lebih dari 10, maka data tersebut terdapat
multikolinearitas. Sebaliknya jika nilai VIF kurang dari 10, maka tidak ada
multikolinearitas. Untuk data yang baik adalah data yang tidak
mengandung multikolinearitas.
d. Uji autokolerasi.
Uji autokorelasi berguna untuk mengetahui ada atau tidaknya
penyimpangan asumsi klasik autokorelasi yaitu korelasi antara residual
satu pengamatan dengan pengamatan lain pada model regresi. Deteksi
adanya autokorelasi dapat dilihat dari angka DW (Durbin-Watson)
dengan ketentuan:
1. Angka D-W dibawah -2 berarti ada autokorelasi positif.
2. Angka D-W diantara -2 sampai +2 berarti tidak ada autokorelasi.
G. Uji Hipotesis dan Analisis Data 1. Uji T.
Uji t digunakan untuk mengetahui hubungan antara variable
dependen dan variable independen dalam persamaan regresi linear. Jadi,
pengujian ini untuk mengetahui seberapa besar variabel independen
menjelakan variabel dependen. Dalam pengujian ini, hipotesis diterima jika
nilai signifikansinya lebih besar dari 5% (0.05). Untuk arahnya dapat dilihat
pada kolom .
Berdasarkan model penelitian diatas dapat dituliskan persamaan
statistik sebegai berikut:
H1: y = 0 + 1 X1+ e
Kesalahan peramalan data = 0 + 1 + e
Volatilitas laba = 1.
H2: y = 0 + 1 X1+ e
Kesalahan peramalan laba: 0 + 1 X1+ e
Volatilitas: 1
2. Uji independent sample t test.
Uji independent sample t test digunakan untuk mengetahui
perbedaan dari 2 sampel yang tidak berhubungan. Dalam penelitian ini,
independent sample t test digunakan untuk mengukur adanya perbedaan
perusahaan yang melakukan perataan laba dan perusahaan yang tidak
melakukan perataan laba. Untuk mengetahui sukses tidaknya tes ini, kita
3. Uji chow test.
Chow test digunakan untuk membandingkan 2 kelompok sampel
yang berbeda. Untuk kasus ini, peneliti menggunakan chow test untuk
membandingkan antara perusahaan di Indonesia dan peruahaan di Malaysia.
Syarat diterimanya hipotesis adalah fhitung > ftabel. Rumus yang digunakan
adalah:
F=
�− � � /��−�
SSRr: sum of squared residual – unrestricted regression
SSRu: sum of squared residual – restricted regression (regresi total)
n: jumlah data
r: jumlah variable independen pada regricted regression
26
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Subyek Penelitian
Sempel yang digunakan dalam penelitian ini merupakan perusahaan
perbankan yang ada di Bursa Efek Indonesia dan Bursa Malaysia pada tahun
2013-2015. Metode penyempelan yang digunakan dalam penelitian ini adalah
purposive sampling. Berdasarkan kriteria yang sudah ditetapkan di bab 3, maka
diperoleh 94 perusahaan yang menjadi sampel. Sampel dari Indonesia sejumlah
52 perusahaan dan perusahaan dari malaysia sebesar 42 perusahaan. Pemilihan
sampel penelitian sebagai berikut:
TABEL 4.1
Prosedur Pemilihan Sampel di Indonesia
NO Kriteria Sampel Jumlah
1 Perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia tahun 2013-2015 105
2 Perusahaan perbankan yang mengalami kerugian di
Indonesia (12)
3 Perusahaan perbankan yang tidak memiliki data
lengkap di Indonesia (12)
4 Outliers (29)
5 Total perusahaan yang menjadi sampel 52 Sumber: Data diolah peneliti
Data perusahaan yang terdaftar di BEI sebesar 105 perusahaan
negara Indonesia sebesar 12 perusahaan. Perusahaan yang tidak melaporkan
laporan keuangan secara lengkap di Indonesia sebesar 12 perusahaan. Untuk
perusahaan yang merupakan data outliers untuk Indonesia sebesar 29
perusahaan. Total perusahaan yang menjadi sampel penelitian sebesar 52
perusahaan.
TABEL 4.2
Prosedur Pemilihan Sampel di Malaysia
NO Kriteria Sampel Jumlah
1 Perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa
Malaysia tahun 2013-2015 105
2 Perusahaan perbankan yang mengalami kerugian di
Malaysia (15)
3 Perusahaan perbankan yang tidak memiliki data
lengkap di Malaysia (24)
4 Outliers (24)
5 Total perusahaan yang menjadi sampel 42 Sumber: Data diolah peneliti
Data perusahaan yang terdaftar di Bursa Malaysia sebesar 105
perusahaan perbankan di tahun 2013-2015. Perusahaan yang mengalami
kerugian di negara Malaysia sebesar 15 perusahaan. Perusahaan yang tidak
melaporkan laporan keuangan secara lengkap di Malaysia sebesar 24
perusahaan. Untuk perusahaan yang merupakan data outliers untuk Malaysia
sebesar 24 perusahaan. Total perusahaan yang menjadi sampel penelitian
B. Uji Kualitas Instrumen dan Data
Dalam penelitian ini, peneliti melakukan 2 proses pengujian yaitu uji
statistik deskriptif dan uji asumsi klasik. Tujuan dari pengujian tersebut untuk
melihat kualitas data dari sampel penelitian ini. Hasil dari pengujian sebagai
berikut:
1. Analisis deskriptif.
Uji analisis deskriptif berfungsi untuk mengetahui deskripsi dari
variabel-variabel penelitian, baik jumlah sampel, nilai rata-rata, dan
lainnya. Dengan adanya informasi tersebut, maka pembaca dapat lebih
mudah memahami variabel-variabel yang diteliti. Hasil dari uji statistik
deskriptif sebagai berikut:
a. Perusahaan di Indonesia.
TABEL 4.3
Uji Statistik Deskriptif di Indonesia
Untuk uji statistik deskriptif dari seluruh perusahaan di
Indonesia, didapatkan hasil dimana jumlah sampel dari kesalahan
peramalan laba sebesar 52 perusahaan dengan nilai minimum 0,00
atau 0% yaitu dari perusahaan BTPN, nilai maksimum sebesar 0,27
atau 27% yaitu perusahaan BMAS, nilai rata-rata sebesar 0,0865 atau
8,65% dan simpangan baku sebesar 0,06630 atau sebesar 6,63%.
Untuk variabel volatilitas laba, jumlah sampel sebanyak 52 sampel
dengan nilai minimum sebesar 0,01 atau 1% yaitu perusahaan ARGO,
nilai maksimum sebesar 0,35 atau 35% yaitu perusahaan PNMBM,
nilai rata-rata sebesar 0,0670 atau 6,7% dan simpangan baku sebesar
0,08631 atau 8,63%.
Untuk uji statistik deskriptif dari perusahaan yang melakukan
perataan laba di Indonesia didapatkan hasil dimana jumlah sampel
dari kesalahan peramalan laba sebesar 48 perusahaan, nilai minimum
sebesar 0,006 atau 0,6% yaitu perusahaan BBKP, nilai maksimum
sebesar 0,354 atau 35,4% yaitu perusahaan INPC, nilai rata-rata
sebesar 0,0625 atau 6,25% dan nilai simpangan baku sebesar 0,08394
atau 8,39%. Untuk variabel volatilitas laba didapatkan hasil dimana
jumlah sampel sebesar 48 perusahaan, nilai minimum sebesar 0,001
atau 0,1% yaitu perusahaan BKSW, nilai maksimum sebesar 0,266
atau 26%, nilai rata-rata sebesar 0,0906 atau 9,06% dan nilai
Untuk uji statistik deskriptif dari perusahaan yang tidak
melakukan perataan laba di Indonesia didapatkan hasil dimana jumlah
sampel dari variabel kesalahan peramalan laba sebesar 4 perusahaan,
nilai minimum sebesar 0,00 atau 0% yaitu perusahaan BBRI, nilai
maksimal sebesar 0,10 atau 10% yaitu perusahaan BBNI, nilai
rata-rata sebesar 0,0372 atau 3,72% dan nilai simpangan baku sebesar
0,04145 atau 4,145%. Untuk variabel volatilitas laba, jumlah sampel
sebesar 4 perusahaan, nilai minimal sebesar 0,012 atau 1,2% yaitu
perusahaan BBNI, nilai maksimal sebesar 0,248 atau 24,8% yaitu
perusahaan BBNI, nilai rata-rata sebesar 0,121 atau 12,1% dan nilai
simpangan baku sebesar 0,1099 atau 10,9%.
b. Perusahaan di Malaysia.
TABEL 4.4
Uji Statistik Deskriptif di Malaysia
Sumber: Hasil olah data peneliti, 2016 Seluruh
perus-ahaan di Malaysia N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
PFE 42 -0,197 0,237 -0,01760 0,101693
VOL 42 0,005 0,866 0,10375 0,179712
Perusahaan dengan perataan
laba di Malaysia N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
PFE 30 -0,10 0,16 0,0353 0,07290
VOL 30 0,00 0,20 0,0643 0,07663
Perusahaan tanpa perataan laba di
Malaysia N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
PFE 23 -15,462 0,244 -1,08083 3,233526
Untuk uji statistik deskriptif dari seluruh perusahaan di
Malaysia, didapat hasil dimana jumlah sampel dari kesalahan
peramalan laba sebesar 42 perusahaan dengan nilai minimum -0,197
atau -19,7% yaitu perusahaan Muamalat Bank, nilai maksimum
sebesar 0,237 atau 23,7% yaitu perusahaan Amanah Bank, nilai
rata-rata sebesar -0,01760 atau -1,8% dan simpangan baku sebesar
0,101693 atau 10,17%. Untuk variabel volatilitas laba, jumlah sampel
sebanyak 42 sampel dengan nilai minimum sebesar 0,005 atau 0,5%
yaitu Bank Muamalat, nilai maksimum sebesar 0,866 atau 86,6%
yaitu Bank Amanah, nilai rata-rata sebesar 0,10375 atau 10,37% dan
simpangan baku sebesar 0,179712 atau 17,97%.
Untuk uji statistik deskriptif dari perusahaan yang melakukan
perataan laba di Malaysia didapatkan hasil dimana jumlah sampel dari
kesalahan peramalan laba sebesar 30 perusahaan, nilai minimum
sebesar -0,10 atau -10% yaitu perusahaan Citi Bank, nilai maksimum
sebesar 0,16 atau 16% yaitu perusahaan CIMB Bank, nilai rata-rata
sebesar 0,0353 atau 3,53% dan nilai simpangan baku sebesar 0,07290
atau 7,29%. Untuk variabel volatilitas laba didapatkan hasil dimana
jumlah sampel sebesar 30 perusahaan, nilai minimum sebesar 0,00
atau 0% yaitu Citi Bank, nilai maksimum sebesar 0,20 atau 20% yaitu
CIMB Bank, nilai rata-rata sebesar 0,0643 atau 6,435 dan nilai
Untuk uji statistik deskriptif dari perusahaan yang tidak
melakukan perataan laba di Malaysia didapatkan hasil dimana jumlah
sampel dari variabel kesalahan peramalan laba sebesar 23 perusahaan,
nilai minimum sebesar -15,462 atau -154% yaitu SCB, nilai maksimal
sebesar 0,244 atau 24,4% yaitu RHB, nilai rata-rata sebesar -1,08083
atau -108,8% dan nilai simpangan baku sebesar 3,233526 atau 323%.
Untuk variabel volatilitas laba, jumlah sampel sebesar 23 perusahaan,
nilai minimal sebesar 0,000 atau 0% yaitu SCB, nilai maksimal
sebesar 0,784 atau 78% yaitu RHB, nilai rata-rata sebesar 0,13330
atau 13% dan nilai simpangan baku sebesar 0,228381 atau 23%.
2. Uji asumsi klasik.
Uji asumsi klasik merupakan syarat yang harus dipenuhi dalam
melakukan uji regresi. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan uji
normalitas, uji heteroskedastisitas, uji multikolinearitas, dan uji
autokorelasi. Pengujian dilakukan per hipotesis, karena data yang
digunakan dalam pengujian berbeda disetiap hipotesisnya. Hasil uji
asumsi klasi yaitu:
a. Uji normalitas.
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah residual
data tersebut berdistribusi normal atau tidak. Metode pengujian
Kolmogorov-Smirnov Test. Data dikatakan normal bila nilai sig > 0,05
(Gozali, 2005). Hasil pengujian data penelitian sebagai berikut:
i.) Perusahaan Indonesia.
TABEL 4.5
Uji Normalitas di Indonesia
Sumber: Hasil olah data peneliti, 2016
Berdasarkan tabel 4.5, uji normalitas untuk seluruh
perusahaan di Indonesia (H1A) dihasilkan output dimana nilai
Kolomgorov-Smirnov Z sebesar 0,992 dan jumlah nilai Asymp.
Sig (2-tailed) sebesar 0,279 > a (0,05). Dari hasil tersebut dapat
disimpulkan bahwa residual dari hipotesis 1A berdistribusi
normal. Jadi, model regresi dapat memenuhi asumsi normalitas.
Uji normalitas untuk perusahaan yang melakukan
perataan laba di Indonesia (H2A) dihasilkan output dimana nilai
Kolomgorov-Smirnov Z sebesar 1,034 dan jumlah nilai Asymp.
Sig (2-tailed) sebesar 0,236 > a (0,05). Dari hasil tersebut dapat
disimpulkan bahwa residual dari hipotesis 2A berdistribusi
normal. Jadi, model regresi dapat memenuhi asumsi normalitas.
Seluruh perusahaan di Indonesia Unstandardized Residual
Kolmogorov-Smirnov Z 0,992
Asymp. Sig. (2-tailed) 0,279
Perusahaan dengan perataan laba di
Indonesia Unstandardized Residual
Kolmogorov-Smirnov Z 1,034
1) Perusahaan di Malaysia.
TABEL 4.6 Uji Normalitas di Malaysia
Seluruh perushaan di Malaysia Unstandardized
Residual
Kolmogorov-Smirnov Z 0,790
Asymp. Sig. (2-tailed) 0,560
Perusahaan dengan perataan laba di Malaysia
Unstandardized Residual
Kolmogorov-Smirnov Z 0,522
Asymp. Sig. (2-tailed) 0,948
Sumber: Hasil olah data peneliti, 2016
Berdasarkan tabel 4.6, uji normalitas untuk seluruh
perusahaan di Malaysia (H1B) dihasilkan output dimana nilai
Kolomgorov-Smirnov Z sebesar 0,790 dan jumlah nilai Asymp.
Sig (2-tailed) sebesar 0,560 > a (0,05). Dari hasil diatas dapat
disimpulkan bahwa residual dari hipotesis 1B berdistribusi
normal. Jadi, model regresi dapat memenuhi asumsi normalitas.
Uji normalitas untuk perusahaan yang melakukan
perataan laba di Malaysia (H2B) dihasilkan output dimana nilai
Kolomgorov-Smirnov Z sebesar 0,522 dan jumlah nilai Asymp.
Sig (2-tailed) sebesar 0,948 > a (0,05). Dari hasil diatas dapat
disimpulkan bahwa residual dari hipotesis 2B berdistribusi
b. Uji heteroskedastisitas.
Uji heteroskedastisitas dilakukan untuk menguji adanya
ketidaksamaan variance dari residual satu variabel ke variable yang
lain dalam model regresi. Jika, variance dari residual satu variabel ke
veriabel tetap maka data tersebut memiliki nilai residual yang baik.
Metode yang digunakan dalam pengujian heteroskedastisitas adalah
dengan menggunakan uji Glejser. Hasil uji heteroskedastisitas dalam
penelitian ini yaitu:
Model Unstandardized Coefficients
Sig.
B Std. Error
VOL -0,045 0,070 0,522
Sumber: Hasil olah data peneliti, 2016
Berdasarkan tabel 4.7, dapat dilihat bahwa nilai signifikan
dari hasil uji heteroskedastisitas untuk sampel seluruh perusahaan
di Indonesia (H1A) sebesar 0,880 > a (0,05). Nilai absolut dari
residual data tidak mengandung heteroskedastisitas. Jadi, model
regresi memenuhi asumsi bebas dari heteroskedastisitas.
Nilai signifikan dari uji heteroskedastisitas pada
> a (0,05). Nilai absolut residual data dari penelitian ini tidak
mengandung heteroskedastisitas. Jadi, data lolos dari uji
heteroskedastisitas.
2) Perusahaan di Malaysia.
TABEL 4.8
Uji Heteroskedastisitas di Malaysia
Sumber: Hasil olah data peneliti, 2016
Berdasarkan tabel 4.8, dapat dilihat bahwa nilai signifikansi
dari seluruh perusahaan di Malaysia (H1B) sebesar 0,792 > a (0,05).
Dapat disimpulkan bahwa nilai absolut residual data dari penelitian
ini tidak mengandung heteroskedastisitas, sehingga lolos uji
heteroskedastisitas.
Untuk nilai signifikansi dari perusahaan yang
melakukan pertaan laba di Malaysia (H2B) sebesar 0,657 > a
(0,05). Dapat disimpulkan bahwa nilai absolut residual data tidak
mengandung heteroskedastisitas, sehingga lolos dari uji
heterooskedastisitas.
Seluruh perusahaan Unstandardized Coefficients
c. Uji multikolinearitas.
Uji multikolinearitas digunakan untuk mengetahui adanya
korelasi antar variabel independen dalam model regresi. Uji
multikolinearitas dalam penelitian dapat dilihat dari nilai Tolerance
atau Variance Inflation Factor (VIF). Hasil uji multikolinearitas
dalam penelitian yaitu:
1) Perusahaan di Indoneisa.
TABEL 4.9
Uji Multikolinearitas di Indonesia
Sumber: Hasil olah data peneliti, 2016
Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa nilai VIF
dari seluruh peruahaan di Indonesia (H1A) sebesar 1,000 < a (10),
maka data penelitian ini bebas dari multikol. Dengan demikian
maka data bebas dari uji multikolinearitas.
Untuk nilai VIF dari perusahaan yang melakukan perataan
laba di Indonesia (H2A) sebesar 1,000 < a (10), maka data penelitian
ini bebas dari multikol. Dengan demikian maka, data dari
Coefficients Sig. Collinearity Statistics
B Std. Error Tolerance VIF
perusahaan yang melakukan laba di Indonesia lolos uji
multikolinearitas.
2) Perusahaan di Malaysia.
TABEL 4.10
Sumber: Hasil olah data peneliti, 2016
Berdasarkan tabel diatas, nilai VIF dari seluruh
perusahaan di Malaysia (H1B) sebesar 1,000 < a (10), maka data
penelitian ini bebas dari multikol dan dapat digunakan untuk
pengujian selanjutnya. Untuk hasil uji multikolinearitas pada
regresi ke dua sebagai berikut:
Untuk nilai VIF dari perusahaan yang melakukan perataan
laba di Malaysia (H2B) sebesar 1,000 < a (10), maka data penelitian
ini bebas dari multikol. Dengan demikian maka data penelitian ini
d. Uji Autokorelasi.
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah antara
variabel pengganggu masing-masing variabel saling mempengaruhi
dalam model regresi. Uji autokorelasi dalam penelitian ini dilakukan
dengan pendekatan DW (Durbin-Watson). Hasil uji autokorelasi
dalam penelitian ini ditunjukkan pada tabel di bawah ini.
1) Perusahaan di Indonesia.
TABEL 4.11
Seluruh perusahaan 0,112 0,094 2,008
Perusahaan dg perataan laba
0,144 0,125 2,070
Sumber: Hasil olah data peneliti, 2016
Berdasarkan tabel 4.11, nilai durbin-watson (dw) dari
seluruh perusahaan di Indonesia (H1A) sebesar 2,008. Untuk jumlah
sampel pada regresi ini sebesar 52, sehingga dl sebesar 1,5135 dan
dU sebesar 1,5917. Rumusnya dl < dw < 4-du, dan untuk penelitian
ini yaitu 1,5135 < 2,008 < 2,4083. Jadi, dapat disimpulkan bahwa
data dari regresi ini bebas dari autokorelasi.
Untuk nilai durbin-watson (dw) dari perusahaan yang
melakukan perataan laba di Indonesia (H2A) sebesar 2,070. Untuk
sebesar 1,5135 dan dU sebesar 1,5917. Rumus untuk penelitian ini
yaitu 1,5135 < 2,070 < 2,4083. Data dari penelitian ini bebas dari
autokorelasi.
2) Perusahaan di Malaysia.
TABEL 4.12
Uji Autokorelasi di Malaysia
R Square Adjusted R
Square
Durbin-Watson
Seluruh perusahaan 0,192 0,172 1,928
Perusahaan dg perataan laba 0,041 0,007 2,129
Sumber: Hasil olah data peneliti, 2016
Berdasarkan tabel 4.12, nilai durbin-watson (dw) dari
seluruh perusahaan di Malaysia (H1B) sebesar 1,928. Untuk jumlah
sampel pada regresi ini sebesar 42, sehingga dl sebesar 1,4562 dan
dU sebesar 1,5534. Rumus untuk uji autokorelasi adalah dl < dw <
4-du. Aplikasi untuk penelitian ini yaitu 1,4562 < 1,928 < 2,4466.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa data dari regresi ini bebas dari
autokorelasi.
Untuk nilai durbin-watson (dw) dari perusahaan yang
melakukan perataan laba di Malaysia (H2B) sebesar 2,129. Untuk
jumlah sampel pada regresi ini sebesar 30 perusahaan, sehingga dl
sebesar 1,3520 dan dU sebesar 1,4894. Untuk penelitian ini yaitu
C. Hasil Penelitian (Uji Hipotesis)
Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui apakah hipotesis sementara
dari peneliti diterima atau ditolak. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan uji
hipotesis dengan menggunakan uji r square, uji beda (independent sample t
test), chow test dan uji t.
1. Uji r square.
Uji koefisien determinasi bertujuan untuk mengukur seberapa
kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variasi perubahan
variabel dependen. Besarnya nilai koefisien determinan diukur dengan
rumus 0 < R2 < 1. Bila nilai koefisien determinan mendekati 1, maka
variabel independ memiliki pengaruh yang semakin kuat. Hasil uji
koefisien determinasi dalam penelitian ini ditunjukkan pada tabel di
bawah ini.
a. Perusahaan di Indonesia.
TABEL 4.13 Uji R Square di Indonesia
R Square Adj. R Square
Std. Error of the Estimate
Selutuh perusahaan 0,192 0,172 0,092545
Perusahaan dengan perataan
laba 0,144 0,125 0,062298
Sumber: Hasil olah data peneliti, 2016
Dari hasil regresi dapat dilihat bahwa nilai R square dari
penelitian untuk seluruh perusahaan di Indonesia (H1A) sebesar 0,192,
menjelaskan variabel kesalahan peramalan laba sebanyak 19,2%,
sisanya dijelaskan oleh faktor lain.
Untuk hasil regresi di perusahaan yang melakukan perataan
laba di Indonesia (H2A) dapat dilihat bahwa niali R square sebesar
0,144, maka dapat disimpulkan bahwa variabel volatilitas laba dapat
menjelaskan variabel kesalahan peramalan laba sebanyak 14,4%,
sisanya dijelaskan oleh faktor lain.
b. Perusahaan di Malaysia.
TABEL 4.14 Uji R Square di Malaysia
R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
Seluruh perusahaan 0,192 0,172 0,092545
Perusahaan dengan perataan
laba 0,041 0,007 0,07263
Sumber: Hasil olah data peneliti, 2016
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai R square dari seluruh
perusahaan di Indonesia sebesar 0,192, maka dapat disimpulkan bahwa
variable volatilitas dapat menjelaskan variable kesalahan peramalan laba
sebanyak 19,2%, sisanya dijelaskan oleh faktor lain.
Dapat dilihat bahwa R square dari regresi 1 sebesar 0,041, maka
dapat disimpulkan bahwa variable volatilitas dapat menjelaskan variabel
kesalahan peramalan laba sebanyak 4,1%, sisanya dijelakan oleh faktor
2. Uji beda (independent sample t test).
TABEL 4.15
Uji Independent Samples Test Hipotesis 3 t-test for Equality of Means
Sig. (2-tailed) Mean
Std. Error Difference
Perusahaan di Indonesia 0,029 0,31629 0,14229
Perusahaan di Malaysia 0,160 0,747268 0,525153
Sumber: Hasil oleah data peneliti, 2016
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai sig dari perusahaan
Indonesia sebesar 0,029 < a (0,05), maka dapat dijelaskan bahwa terdapat
perbedaan yang signifikan antara perusahaan yang melakukan perataan
laba dan yang tidak melakukan perataan laba di Indonesia.
Hasil dari regresi untuk perusahaan yang melakukan perataan
laba dan tidak melakukan perataan laba di Malaysia memiliki nilai sig
sebesar 0,160 > a (0,05), maka dapat disimbulkan bahwa tidak ada
perbedaan antara perusahaan yang melakukan perataan laba dan yang
tidak melakukan perataan laba di Malaysia.
3. Uji chow test.
Chow test digunakan untuk membandingkan 2 sampel atau
lebih. Uji ini bertujuan untuk mengetahui adanya berbedaan yang
TABEL 4.16
Chow Test Perusahaan di Indonesia dan Malaysia
Sum of Squares df Mean Square
Regresi dua negara 56,852 154 0,369
Regresi perusahaan Indonesia 14,499 79 0,184
Regresi perusahaan di
Malaysia 41,701 73 0,571
Sumber: Hasil olah data peneliti, 2016
Dari tabel 4.16 dapat dilihat bahwa nilai residual dari uji regresi
dari negara Indonesia dan Malaysia sebesar 56,852. Nilai residual dari uji
regresi Indonesia sebesar 14,499. Nilai residual dari uji regresi Malaysia
sebesar 41,701. Dari hasil diatas maka dapat dihitung bahwa SSRr sebesar
56,852, SSRu sebesar 56,2 (hasil penjumlahan dari 14,499 dan 41,701).
Untuk nilai r: 1, nilai n: 147 dan nilai k: 2. Maka, sesuai dengan rumus di
bab 3 dihasilkan nilai dari uji chow sebesar 1,675.
4. Uji signifikan nilai t.
Uji parsial (Uji T) bertujuan untuk menguji apakah variabel
independen mempunyai pengaruh secara parsial terhadap variabel dependen
dalam model penelitian. Hasil uji parsial (Uji T) dalam penelitian ini
ditunjukkan pada tabel di bawah ini.
TABLE 4.17
Uji T Hipotesis 1 (Seluruh Perusahaan)
Unstandardized Coefficients
Sig.
B Std. Error
Seluruh perusahaan di Indonesia 0,257 0,102 0,015
Seluruh perusahaan di Malaysia 0,248 0,080 0,004