EVALUASI KINERJA INELASTIK STRUKTUR RANGKA BETON BERTULANG TERHADAP GEMPA DUA ARAH
TUGAS AKHIR
PESSY JUWITA 050404004
BIDANG STUDI STRUKTUR DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
ABSTRAK
Analisis statik non linier pushover merupakan analisis non-linier yang cukup sederhana, namun diharapkan dapat meramalkan perilaku seismik struktur secara akurat. Studi ini mempelajari tingkat keakuratan analisis pushover dalam meramalkan perilaku seismik struktur rang beton bertulang simetris secara 3 dimensi bila terjadi gempa dua arah, karena pada kenyataannya sebagian besar gempa yang terjadi memiliki dua komponen arah yang saling tegak lurus dan tidak dapat diramalkan arah terjadinya.
Makalah ini memberikan gambaran pemeriksaan kinerja struktur bangunan 6 dan 10 tingkat, yang dianalisa dengan analisis pushover dan analisis riwayat waktu sebagai pembandingnya. Beban gempa yang dikapai dalam analisis riwayat waktu adalah gempa El Centro 18 Mei 1940 komponen North-South dan komponen East-West yang dimodifikasi sesuai dengan konsep ke-5 SNI 1726-2002. perbandingan besar kedua gempa modifikasi yang saling tegak lurus tersebut adalah sama dengan perbandingan besar peak ground acceleration dari kedua gempa asli tersebut,. Data output yang digunakan dalam membandingkan kedua analisis diatas adalah kurva kapasitas, posisi sendi plastis, simpangan antar tingkat dan evaluasi tingkat kinerja struktur.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
ABSTRAK ... ii
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR LAMPIRAN ... iv
DAFTAR GAMBAR ... v
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR NOTASI ... viii
1. PENDAHULUAN ... 1
1.1. LATAR BELAKANG MASALAH ... 1
1.2. PERUMUSAN MASALAH ... 2
1.3. TUJUAN PENELITIAN ... 2
1.4. MANFAAT PENELITIAN ... 2
1.5. RUANG LINGKUP PEMBAHASAN ... 3
1.6. METODOLOGI PENELITIAN ... 6
2. DASAR TEORI ... 7
2.1.UMUM ... 7
2.2.STRENGTH BASED DESIGN ... 7
2.3.PERFORMANCE BASED DESIGN ... 8
2.3.1. Asian Concrete Model Code ... 9
2.3.2. Analisis Pushoveer ... 13
2.3.3. Performance Point ... 14
3. PERSYRATAN GEMPA RENCANA MENURUT KONSEP KE-5 SNI 1726-2002 ... 19
3.1.UMUM ... 19
3.2.GEMPA RENCANA DAN KATEGORI GEDUNG ... 19
3.4.PERCEPATAN TANAH MAKSIMUM... 21
3.5.SPEKTRUM RESPOS ELASTIK ... 22
3.6.BEBAN GEMPA DASAR NOMINAL ... 26
3.7.KEKAKUAN STRUKTUR EFEKTIF ... 27
3.8.PEMBATASAN WAKTU GETAR ALAMI FUNDAMENTAL ... 27
3.9.ANALISIS BEBAN GEMPAT STTIK EKUIVALEN ... 28
4. KONSEP DESAIN STRUKTUR BETON BERDASARKAN DENGAN SNI 03-2847-02 ... 29
4.1. UMUM ... 29
4.2. PERENCANAAN STRUKTUR DENGAN TINGKAT DAKTILITAS PENUH ... 29
4.2.1.Perencanaan Balok Portal Terhadap Beban Lentur ... 29
4.2.2.Perencanaan Balok Portal Terhadap Beban Geser ... 31
4.2.3.Perencanaan Kolom Portal Terhadap Beban Lentur-Aksial ... 33
4.2.4.Perencanaan Kolom Portal Terhadap Beban Geser 36 4.3. PERSYARATAN PERENCANAAN SEISMIK ... 42
4.3.1. Komponen Struktur Rangka yang Menahan Beban Lentur (Balok) ... 42
4.3.2. Komponen Struktur Rangkat Yang Menahan Beban Lentur Dan Aksial (Kolom) ... 43
5. INFORMASI PERENCANAAN DAN ANALISIS STRUKTUR ... 45
5.1.UMUM ... 45
5.2.INFORMASI PERENCANAAN ... 45
5.3.ANALISIS BEBAN STATIK EKUIVALEN ... 48
5.3.1. Bangunan 6 Tingkat ... 48
5.3.2. Bangunan 10 Tingkat ... 50
5.4.ANALISIS STRUKTUR DENGAN ETABS VERSI 7.2. ... 50
5.4.1. Hasil perencanaan Struktur Bangunan 6 Tingkat ... 55
5.4.2. Hasil perencanaan Struktur Bangunan 10 Tingkat ... 55
5.5.2. Perhitungan Momen Kapasitas Balok ... 58
5.5.3. Perhitungan Tulangan Kapasitas Balok ... 60
5.6.CONTOH PERHITUNGAN TULANGAN KOL64OM ... 64
5.6.1. Perhitungan Tulangan Lentur Kolom ... 64
5.6.2. Perhitungan Tulangan Geser Kolom ... 73
6. PEMERIKSAAN KINERJA STRUKTUR AKIBAT BEBAN GEMPA ... 76
6.1. UMUM ... 76
6.2. ANALISIS STATIK NON-LINIER PUSHOVER ... 76
6.2.1.Idealisasi Struktur ... 76
6.2.2.Inpur Program ... 78
6.3. ANALISIS DINAMIK NON-LINIER RIWAYAT WAKTU DENGAN PROGRAM SAP ... 81
6.3.1. Idealisasi Struktur ... 81
6.3.2. Input Program ... 81
6.3.3. Beban Gempa yang Digunakan ... 84
6.4. FAKTOR PEAK GROUND ACCELERATION YANG DIGUNAKAN . 7. HASIL PEMERIKSAAN KINERJA STRUKTUR ... 88
7.1.UMUM ... 88
7.2.KURVA KAPASITAS ... 88
7.3.POLA KERUSAKAN STRUKTUR BANGUNAN ... 91
7.4.EVALUASI TINGKAT KINERJA STRUKTUR DARI BANGUNAN YANG DITINJAU ... 91
8. DISKUSI KESIMPULAN DAN SARAN ... 93
8.1.DISKUSI... 93
8.1.1. Perbandingan Kurva Kapasitas Hasil Analisis Pushover dengan Hasil Analisis Riwayat Waktu ... 93
8.1.2. Perbandingan Pola Kerusakan Struktur Bangunan Hasil Analisis Pushover dengan Hasil Analisis Riwayat Waktu ... 114
8.2.KESIMPULAN ... 115
DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN
1. Tabel Penulangan Elemen Struktur Bangunan 6 Tingkat
DAFTAR GAMBAR
GAMBAR HALAMAN
1.1. Penampang dari Model Komputer Bangunan yang Ditinjau ... 3
1.2. Posisi Sumbu Lokal dan Balok Struktur ... 5
1.3. Posisi Sumbu Lokal dari Kolom Struktur ... 6
2.1. Contoh Tingkat dan Sasaran Kinerja yang Digunakan dalam Perencanaan .. 12
2.2. Kurva Kapasitas dari Hasil Analisis Pushover (ATC 40, 1997) ... 14
2.3. Modifikasi Kurva Kapasitas Menjadi Spektrum Kapasitas ... 16
2.4. Perubahan Format Respons Percepatan ... 16
2.5. Penentuan Performance Point ... 18
3.1. Spektrum Respons Elastik Gempa Rencana untuk Jenis Tanah Lunak dan Terletak pada Wilayah Tiga ... 24
3.2. Wilayah Gempa Indonesia dengan Percepatan Puncak Batuan Dasar dengan Periode Ulang 500 Tahun ... 4.1. Perencanaan Geser untuk Balok dan Kolom (SNI 03) ... 31
4.2. Sendi Plsatis pada Kedua Ujung Balok Portal ... 33
4.3. Pertemuan Balok dan Kolom Portal dalam Kondisi Terjadinya Sendi- Sendi Plastis pada Kedua Ujung Balok ... 35
(Diaktilitas Penuh) ... 38
5.1. Denah Model Struktur Bangunan 6 Tingkat yang Ditinjau ... 46
5.2. Denah Model Struktur Bangunan 10 Tingkat yang Ditinjau ... 47
5.3. End Offset dari Element Portal ... 55
6.1. Idealisasi Struktur dari Struktur Rangka Beton Bertulang Tiga Dimens Simetri 6 Tingkat pada Program ETABS versi 9.0.7. ... 77
6.2. Idealisasi Struktur dan Struktur Rangka Beton Bertulang Tiga Dimensi Simetri 6 Tingkat pada Program ETABS versi 9.0.7 ... 77
6.3. Posisi Sumbu Lokal dari Balok Struktur pada ETABS versi 9.0.7 ... 78
6.4. Posisi Sumbu Lokal dari Kolom Struktur pada ETABS versi 9.0.7 ... 79
6.5. Faktor Peak Ground Acceleration yang Digunakan (Susila, I.G.M, 2000) ... 85
7.1. Penampang Bangunan yang Ditinjau Baik 6 Maupun 10 Tingkat Dilihat dari Bidang X Global – Y Global ... 88
8.2. Kurva Kapasitas Analisis Pushover untuk Struktur 6 Tingkat ... 90
8.3. Kurva Kapasitas Analisis Pushover untuk Struktur 10 Tingkat ... 90
8.4. Kurva base shear 6 tingkat arah X………..94
8.5. Kurva Displacement 6 tingkat pada arah gempa X ... 94
8.6. Kurva base shear 6 tingkat arah Y………..95
8.7. Kurva Displacement 6 tingkat pada arah gempa X ... 95
8.8. Kurva base shear 5 tingkat arah X………..96
8.10. Kurva base shear 5 tingkat arah Y………..97
8.11. Kurva Displacement 5 tingkat pada arah gempa Y... ………. . 97
8.12. Kurva base shear 4 tingkat arah X……… 99
8.13. Kurva Displacement 4 tingkat pada arah gempa X... 99
8.14. Kurva base shear 4 tingkat arah Y……….100
8.15. Kurva Displacement 4 tingkat pada arah gempa X... … 100
8.16. Kurva base shear 3 tingkat arah X……… .101
8.17. Kurva Displacement 3 tingkat pada arah gempa X………101
8.18. Kurva base shear 3 tingkat arah Y……….102
8.19. Kurva Displacement 3 tingkat pada arah gempa X... 102
8.17. Kurva base shear 10 tingkat arah X……… .103
8.18. Kurva Displacement 10 tingkat pada arah gempa X ... 104
8.19. Kurva base shear 10 tingkat arah Y……… ……105
8.20. Kurva Displacement 10 tingkat pada arah gempa Y ... 105
8.21. Kurva base shear 19 tingkat arah X……… .106
8.22. Kurva Displacement 9 tingkat pada arah gempa X... 107
8.23. Kurva base shear 9 tingkat arah Y……… ……108
8.24. Kurva Displacement 9 tingkat pada arah gempa Y... 108
8.25. Kurva base shear 8 tingkat arah X……… .109
8.26. Kurva Displacement 8 tingkat pada arah gempa X 110
8.29. Kurva base shear 7 tingkat arah X……… .112
8.30. Kurva Displacement 7 tingkat pada arah gempa X... 113
8.31. Kurva base shear 7 tingkat arah Y……… ……114
DAFTAR TABEL
TABEL HALAMAN
1.1. Dimensi Elemen Struktur dan Bangunan yang Dtinjau ... 3
3.1. Faktor Keutamaan 1 untuk Berbagai Kategori Gedung ... 20 3.2. Parameter Daktilitas Struktur Gedung ... 21 3.3. Percepatan Puncak Batuan Dasar dan Percepatan Puncak Muka Tanah
Untuk Masing-masing Wilayah Gempa Indonesia ... 21 3.4. Nilai Waktu Getar Alami Sudut (Tc) untuk Berbagai Jenis Tanah ... 22
3.5. Koefisien yang Membatasi Waktu Getar Alami Fundamental
Struktur Gedung ... 27 5.1. Dimensi Element Struktur 6 Tingkat yang Ditinjau ... 46
5.2. Dimensi Element Struktur 10 Tingkat yang Ditinjau ... 46 5.3. Distribusi Gaya Lateral dengan Analisis Beban Statik Ekivalen untuk
Bangunan 6 Tingkat ... 51 5.4. Distribusi Gaya Lateral dengan Analisis Beban Statik Ekivalen untuk
Bangunan 10 Tingkat ... 51
6.1. Batasan Tipe Bangunan pada Analisis Pushover ... 78 6.2. Hubungan Antar Faktor PGA yang Dipakai dengan Periode Ulang
DAFTAR NOTASI
C1 = Faktor respons gempa rencana yang didapat dari spektrum respons gempa
rencana
Fe’ = Kuat Tekanan Beton (Mpa)
Fi = Gaya geser yang bekerja pada masing-masing lantai
Fy = Tegangan lelah tulangan G = Percepatan gravitasi
l = Faktor keutamaan bangunan
I1 = Faktor keutamaan untuk menyesuaikan periode ulang gempa berkaitan dengan penyesuaian proabilitas terjadinya gempa itu selama umur gedung
I2 = Faktor keutamaan untuk menyesuaikan periode ulang gempa berkaitan dengan penyesuaian umur gedung
ioff = Panjang Enda Offset di joint i pada suatu frame joff = Panjang Enda Offset di joint j pada suatu frame K = Faktor jenis struktur
L = Panjang total frame
P1p = Performance Index Possesed, Nilai yang menunjukkan kapasitas seismik
yang dimiliki oleh struktur
P1R = Performance Index Required, Nilai yang menunjukkan kepasitas seismik
yang dimiliki oleh struktur
R = Faktor reduksi untuk percepatan tanah maksimum yang tergantung dari
tingkat daktilitas struktur.
Sa = Spectral Acceleration pada Format ADRS Sa (T) = Spectral respons elastik gempa rencana
Sd = Spectral displacement pada format ADRS T = Waktu getar alami gedung
V = Beban geser dasar nominal yang bekerja pada tingkat dasr struktur WDL = Berat total beban mati
WLL = Berat total beban hidup
WT = Berat total gedung, termasuk beban hidup Ф = Amplitudo of mode
Δ = Simpangan antar gedung
ABSTRAK
Analisis statik non linier pushover merupakan analisis non-linier yang cukup sederhana, namun diharapkan dapat meramalkan perilaku seismik struktur secara akurat. Studi ini mempelajari tingkat keakuratan analisis pushover dalam meramalkan perilaku seismik struktur rang beton bertulang simetris secara 3 dimensi bila terjadi gempa dua arah, karena pada kenyataannya sebagian besar gempa yang terjadi memiliki dua komponen arah yang saling tegak lurus dan tidak dapat diramalkan arah terjadinya.
Makalah ini memberikan gambaran pemeriksaan kinerja struktur bangunan 6 dan 10 tingkat, yang dianalisa dengan analisis pushover dan analisis riwayat waktu sebagai pembandingnya. Beban gempa yang dikapai dalam analisis riwayat waktu adalah gempa El Centro 18 Mei 1940 komponen North-South dan komponen East-West yang dimodifikasi sesuai dengan konsep ke-5 SNI 1726-2002. perbandingan besar kedua gempa modifikasi yang saling tegak lurus tersebut adalah sama dengan perbandingan besar peak ground acceleration dari kedua gempa asli tersebut,. Data output yang digunakan dalam membandingkan kedua analisis diatas adalah kurva kapasitas, posisi sendi plastis, simpangan antar tingkat dan evaluasi tingkat kinerja struktur.
BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang Masalah
Kebutuhan akan analisis non-linier yang sederhana namun dapat meramalkan perilaku seismik suatu struktur secara tepat semakin meningkat. Analisis dinamis non-linier riwayat waktu yang merupakan analisis yang paling
tepat mencerminkan perilaku seismik dari suatu struktur , merupakan analisis yang rumit dan harganya berupa program komputer yang menyediakan fasilitas
ini dengan keterbatasan–keterbatasannya. Analisis statis non- linier pushover (ATC 40, 1997) yang merupakan analisis non-linier yang cukup sederhana, diharapkan mampu menjawab kebutuhan tersebut.
Dasar dari analisis pushover ini sederhana , yaitu dengan memberi suatu pola beban statis tertentu dalam arah lateral pada pusat massa tiap lantai dari
suatu bangunan. Penambahan beban dilakukan secara incremental sampai keruntuhan elemen struktur tercapai atau mencapai target displacement tertentu.
Penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian-penelitian
sebelumnya, tetapi dengan pembeban gempa dua arah yang saling tegak lurus, pembebeban gempa dua arah ini dilakukan karena pada kenyataannya gempa yang
yang digunakan membandingkan kedua analisis tersebut adalah kurva kapasitas,
posisi sendi plastis atau pola kerusakan struktur, simpang antar tingkat, dan tingkat kinerja seismik struktur.
I.2 Perumusan Masalah
Apakah analisis statik non linier pushover dapat secara rasional dan cukup tepat meramalkan perilaku inelastik suatu struktur yang simetris akibat
pembebanan gempa dua arah yang ditinjau secara tiga dimensi bila dibandingkan dengan analisis dinamis non linier riwayat waktu ?
I.3 Tujuan Penelitian
Mengetahui kekurangan hasil analisis statik non-linier pushover terhadap
analisis dinamis dan non-linier riwayat waktu di dalam menggambarkan perilaku seismik struktur yang simetris secara tiga dimensi ketika mengalami pembebanan gempa dua arah.
I.4 Manfaat Penelitian
Dengan adanya penelitian ini , diharapkan dapat diketahui keakuratan hasil analisis statik non-linier pushover terhadap analisis dinamis non-linier riwayat waktu ketika mengalami pembebanan gempa dua arah. Bila hasil dari analisis
struktur yang simetris ketika mengalami pembebanan gempa dua arah, maka
analisis ini dapat dipergunakan sebagai salah satu alternatif yang baik untuk mengetahui perilaku inelastik struktur yang simetris. Hal memberikan
keuntungan karena penggunaan analisis pushover ini lebih sederhana dan lebih praktis , bila dibandingkan dengan analisis dinamis non-linier riwayat waktu.
I.5 Ruang Lingkup Pembahasan
Dalam penelitian ini ditinjau 2 bangunan yaitu bangunan struktur rangka
beton bertulang simetris 6 dan 10 tingkat, direncanakan dengan metode Daktilitas penuh. Denah bangunan ditunjukan dalam Gambar 1.1. sedangkan dimensi elemen struktur ditabulasikan pada tabel 1.1.
Gambar 1.1 Penampang dari Model Komputer Bangunan yang Ditinjau
KETERANGAN 6 TINGKAT 10 TINGKAT
Luas Bangunan 24 x 24 m2 24 x 24 m2
Tinggi Bangunan 6 Tingkat, 12 m 10 Tingkat, 35 m
Tinggi antar Tingkat 3,5 m 3,5 m
Balok Induk 0,4 x 0.6 m2 0,4 x 0.6 m2
Kolom 0,5 x 0,5 m 2 0,7 x 0,7 m 2
Plat lantai Tebal =0,12 m Tebal =0,12 m
Mutu Beton (fc’) 30 MPa 30 MPa
Tulangan Longitudinai (fy) 400 MPa 400 MPa
Sengkang (fy) 240 MPa 240 MPa
Peraturan-peraturan yang Digunakan : • Asian Concrete Model code
• Standar Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Gedung, Konsep Ke-5
SNI 1726-2002
• Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk bangunan Gedung, SKSNI T-15.
1991-03. disesuaikan dengan SNI 03.
Beban - beban yang Bekerja dalam Desain Struktur :
Beban Mati : Berat sendiri struktur
Beban Hidup : Beban hidup lantai
Beban Gempa statik ekuivalen disesuaikan dengan standar perencanaan
Analisis yang dipakai dalam Meramalkan Perilaku Seismik Struktur :
Analisis dinamis non-linier riwayat waktu, dengan program SAP versi 10.
Dilakukan pembebanan gempa dua arah pada analisis dinamis non-linier riwayat waktu.
o Gempa dua arah yang dipakai adalah gempa El Centro 18 Mei 1940 komponen North-South dan komponen East-West. Kedua komponen gempa tersebut ke -5 SNI 1726-2002, dengan periode ulang
27,67,135,260,500dan 1050 tahun
o Pembebanan gempa modifikasi dua arah yang selalu saling tegak lurus ini dilakukan sejajar dengan permukaan tanah (gempa horizontal).
o Perbandingan besar kedua gempa modifikasi tersebut sama dengan perbandingan peak ground acceleration dari gempa aslinya, yakni 0.615.
o Pembebanan gempa modifikasi dilakukan dalam arah sudut pembebanan 00. 22.50 dan 450, berlawanan arah jarum jam terhadap sumbu global bangunan. Hal ini dilakukan mengingat bahwa arah
terjadinya gempa tidak dapat diramalkan.
Analisis statik non-linier pushover, dengan program ETABS versi 9.0.7,
dengan langkah-langkah yang akan dijelaskan pada Bab 2.
- Letak sendi plastis di asumsikan pada tepi muka kolom maupun tepi
muka balok
- Untuk balok, jenis hinge properties yang dipakai ialah Momen M, yang
berarti sendi plastis hanya terjadi karena momen searah sumbu lokal 3 (lihat gambar -1.2)
- Untuk kolom, jenis hinge properties yang dipakai ialah P-M2-M3 yang
berarti sendi plastis terjadi karena interaksi aksial dengan momen searah sumbu lokal 2 dan momen sumbu lokal 2 (lihat gambar 1.3)
Gambar 1.3 Posisi Sumbu Lokal dari Kolom Struktur
I.6 Metodologi Penelitian
Langkah-langkah penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Perumusan masalah, penetuan tujuan dan ruang lingkup penelitian 2. Peninjauan Pustaka
3. Pembuatan model komputer bangunan, dengan rincian sebagai berikut :
a. Pembuatan struktur rangka beton bertulang simetris 6 dan 10 tingkat b. Perencanaan Struktur
c. Analisis perilaku seismik terhadap bangunan tersebut.
d. Pembandingan hasil dari kedua analisisi diatas berdasarkan kurva kapasitas, posisi sendi plastis atau pola kerusakan struktur, struktur,
BAB II DASAR TEORI
II.1 Umum
Pada bab ini akan dibahas sekilas tentang konsep Strength Based Design dan uraian konsep Performance Based Design, yang selanjutnya akan lebih terfokus pada
perencanaan struktur dan analisis kinerja struktur pada konsep ini.
II.2 Strength Based Design
Selama ini perencanaan struktur terhadap gempa memakai konsep strength
based design dimana setiap struktur harus direncanakan mampu menahan suatu beban
geser dasar akibat gempa. Konsep ini diterjemahkan dalam suatu metode desain kapasitas dimana pengendalian pola keruntuhan struktur dilakukan melalui
pemanfaatan sifat daktail dari struktur secara maksimal.
Dua macam batasan kinerja struktur dalam konsep strength based design (Paulay, 1992) adalah sebagai berikut :
a) Servicability Limit State
Titik berat dari kriteria ini adalah pengontrolan dan pembatasan displacement
diperkenankan terjadi kelelehan tulangan elemen struktur. Dalam kriteria ini,
intensitas gempa sangat berhubungan erat dengan faktor penggunaan bangunan. Misalnya, seorang perencana struktur cukup memakai batasan gempa dengan
periode ulang 50 tahun untuk bangunan perkantoran, namun ia dituntut untuk menggunakan batasan gempa dengan periode ulang yang lebih tinggi untuk bangunan yang memiliki taraf fungsional lebih tinggi dari perkantoran, seperti :
rumah sakit, pusat telekomunikasi, dan lain-lain. b) Survival Limit State
Prinsip utama dari kriteria ini adalah sedapat mungkin mencegah kehilangan nyawa manusia ketika terjadi gempa yang paling kuat. Ketika suatu struktur mengalami pemindahan lateral yang besar. Kehilangan kekuatan untuk
menahan sedikit mungkin dan kemampuan struktur untuk menahan beban gravitasi harus tetap dapat dipertahankan.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa konsep strength based design juga memperhatikan tingkat kinerja struktur, walaupun terbatas pada kondisi elastis dan runtuh .
Kelemahan dari konsep ini adalah tidak dapat diketahuinya tingkat kinerja struktur secara eksplisit pada kondisi inelastic karena analisis yang digunakan
adalah analisis elastis.
Tingkat kinerja struktur pada kondisi inelastic ini mulai diperhatikan pada suatu pendekatan terbaru dari konsep perencanaan bangunan tahan gempa yang
II.3 Performance Based Design
Performance Based Design adalah suatu konsep dalam perencanaan dan
analisi seismic struktur bangunan, menetapkan berbagai tingkat kinerja struktur (multiple performance objective levels). Tingkat kinerja ini adalah tingkat kinerja bangunan yang diharapkan terjadi pada saat struktur dilanda gempa dengan tingkat
intensitas tertentu. Tingkat kinerja (performance) ini merupakan suatu pilihan yang harus ditentukan oleh perencanaan struktur pada tahap awal, dimana tingkat kinerja
ini dapat dievaluasi dari beberapa kondisi batas. Kondisi batas ini bersifat fleksibel, karena merupakan kesepakatan dari pihak perencana strutur dengan pihak yang memiliki bangunan (owner).
Perencanaan berdasarkan konsep performance based design dapat dilakukan dengan displacement based design. Hal terpenting yang perlu diperhatikan pada
konsep performance based design adalah pemeriksaan kinerja benar-benar dilakukan secara eksplisit. Hal ini berbeda dengan perencanaan yang pada umumnya dilakukan berdasarkan standar yang berlaku, misalnya standar Indonesia, dimana pemeriksaan
tingkat kinerja secara eksplisit .Hal ini membuat pihak pemilik dan pihak perencana dapat memiliki kebebasan dalam menentukan tingkat kinerja struktur bangunan yang
akan dibangun.
Elemen utama dari performance based design adalah demand dan capacity.
adalah kombinasi pembebanan maksimum yang terjadi pada elemen tersebut.
Sedangkan capacity adalah kapasitas yang dimiliki oleh struktur. Salah satu analisis yang dapat menggambarkan kapasitas struktur secara keseluruhan adalah analisis
pushover. Suatu performance point yang dihasilkan dari analisis pushover berupa
titik perpotongan antara kurva demand dan kurva capacity. Performance point adalah suatu estimasi untuk keadaan dimana demand sama dengan capacity. Tingkat
kerusakan dari struktur berupa simpangan antar tingkat yang dibaca dari performance
point ini dibandingkan dengan sasaran performance yang lebih direncanakan
sebelumnya (ATC 40, 1997). Untuk lebih jelasnya, konsep performance point dapat dilihat di bab II butir 2.3.3.
II.3.1 Asian Concrete Model Code
Asian Concrete Model Code (ACMC) adalah suatu standar yang diharapkan
dapat memberikan standarisasi terhadap berbagai macam standar negara-negara di
wilayah Asia. Pendekatan yang digunakan adalah dengan menggunakan konsep
performance based design.
Sesuai dengan tujuan performance based design, yaitu penetapan tingkat
kinerja struktur dari berbagai tingkat intensitas gempa dan beberapa kondisi batas rencana. ACMC menetapkan tiga tingkat intensitas gempa dengan rentang periode
ulang gempa yang dapat disesuaikan, tergantung kepada fungsi dan umur efektif bangunan, yaitu :
a. Gempa kecil atau sedang (Minor), yaitu gempa yang dapat terjadi beberapa kali
b. Gempa kuat (Moderate), yaitu gempa yang dapat terjadi sekali selama umur
efektif bangunan.
c. Gempa sangat kuat (Ultimate/Servere), yaitu gempa terkuat yang mungkin terjadi
pada sekitar lokasi bangunan rencana atau pada suatu kawasan rawan gempa yang lebih luas.
Sampai saat ini, belum ditetapkan batasan-batasan periode ulang gempa yang
sesuai untuk beberapa wilayah di Indonesia. Beberapa faktor yang dapat digunakan untuk menentukan periode ulang gempa, antara lain : umur bangunan, peluang
terjadinya gempa dalam umur efektif bangunan, wilayah, jenis bangunan, dan keadaan ekonomi negara yang bersangkutan.
Selain itu, ACMC menetapkan tiga kondisi batas yang dapat disesuaikan oleh
perencana struktur sebagai dasar untuk memeriksa dan mengevaluasi kinerja seismik struktur bangunan. Masing-masing kondisi batas harus memiliki beberapa kriteria
penilaian, seperti tingkat kerusakan, batasan simpangan antara tingkat dan sebagainya. Tiga kondisi batas pada ACMC adalah sebagai berikut :
a. Serviceability Limit State
Pada batasan ini, fungsi bangunan dapat dipertahankan, dalam arti kegiatan operasional tetap berfungsi. Pada batasan ini, kerusakan hanya terjadi pada
Pada batasan ini kerusakan yang terjadi pada daerah sendi plastis berada dalam
kondisi yang dapat diperbaiki. Untuk daerah yang berada diluar sendi plastis tidak mengalami kelelehan. Pada elemen-elemen struktur yang ada tidak mengalami
kegagalan geser. c. Safety Limit State
Pada batasan ini, kehilangan ketahanan struktur secara drastis di dalam memikul
beban lateral tidak terjadi dan integritas struktur untuk memikul beban gravitasi masih efektif, tetapi struktur sudah tidak dapat dipakai lagi.
Hal yang penting adalah memberikan berbagai gambaran dan deskripsi yang jelas terhadap semua kriteria penilaian. Gambaran ini misalnya dengan mendeskripsikan kerusakan apa yang akan terjadi pada suatu kriteria tingkat
kerusakan (damage index) atau suatu kriteria simpangan antar tingkat tertentu. Dengan adanya gambaran ini, maka pihak perencana dan pihak yang memiliki
bangunan (owner), dapat memilih kriteria yang paling tepat. Dalam studi ini pada kondisi batas serviceability, digunakan kriteria tingkat kerusakan sebesar 0.1 – 0.25 dan simpangan antar tingkat maksimum sebesar 0.5%. Pada kondisi batas Damage
Control, digunakan kriteria tingkat kerusakan sebesar 0.25 – 0.40 dan simpangan antar tingkat maksimum sebesar 1%. Sedangkan pada konsisi batas safety, digunakan
kriteria tingkat kerusakan sebesar 0.4 – 1.0 dan simpangan antar tingkat maksimum sebesar 2%.
Gambar 2.1. Contoh Tingkat dan Sasaran Kinerja yang digunakan dalam suatu perencanaan.
Pada tahapan perencanaan, ACMC memberikan acuan bahwa secara
kuantitatif, tingkat kinerja seismik suatu struktur dapat dilakukan dengan melakukan perhitungan tingkat kinerja (performance index), yang terdiri dari :
• Performance Index Possessed (PIp), yaitu suatu nilai yang menunjukkan kapasitas
seismik yang dimiliki oleh struktur. PIp dapat dinyatakan dalam batas
perpindahan lateral nominal bagi struktur tersebut untuk setiap kondisi batas dan untuk setiap kekuatan elemen struktur.
• Performance Index Required (PIR), yaitu suatu nilai yang menunjukkan kapasitas
seismik yang dibutuhkan oleh struktur. PIR dapat dinyatakan sebagai perpindahan
Untuk setiap kondisi batas, besarnya perpindahan dan gaya maksimum akibat
gempa dapat diperoleh dari hasil analisis struktur dengan berbagai metode analisis linier maupun non linier. Kinerja seismik struktur harus diperiksa untuk setiap
kondisi batas dengan ketentuan agar PIP > PIR.
II.3.2 Analisis Pushover
Analisis statik non linier pushover (ATC 40, 1997) merupakan salah satu komponen performance based design yang menjadi sarana dalam mencari kapasitas
dari suatu struktur. Dasar dari analisis pushover sebenarnya sangat sederhana yaitu memberikan pola beban statik tertentu dalam arah lateral yang ditingkatkan secara bertahap pada suatu struktur sampai struktur tersebut mencapai target displacement
tertentu atau mencapai pola keruntuhan tertentu. Dari hasil analisis tersebut dapat diketahui nilai-nilai gaya geser dasar untuk perpindahan lantai atap tertentu.
Nilai-nilai yang didapatkan tersebut kemudian dipetakan menjadi kurva kapasitas dari struktur. Selain itu, analisis pushover juga dapat memperlihatkan secara visual perilaku struktur pada saat kondisi elastis, plastis dan sampai terjadinya keruntuhan
pada elemen-elemen strukturnya.
Meskipun dasar dari analisis ini sangat sederhana, tetapi informasi yang
dihasilkan akan menjadi berguna karena mampu menggambarkan respons inelastis bangunan ketika mengalami gempa. Analisis ini memang bukan cara yang terbaik untuk mendapatkan jawaban terhadap masalah-masalah analisis maupun desain,
non-linier yang dapat dipakai sebagai ukuran performance suatu bangunan pada
waktu digoncang gempa kuat. Prosedur perhitungan dengan analisis pushover (ATC 40, 1997) adalah sebagai berikut :
• Pembuatan model komputer struktur yang akan dianalisis secara dua atau tiga
dimensi
• Dimensi suatu kriteria performance, seperti batas ijin simpangan pada lantai atap
pada titik sendi tertentu, dan lain-lain
• Pembebanan struktur dengan gaya gravitasi sesuai dengan rencana
• Pembebanan dengan pola beban statik tertentu yang didapatkan dari standar yang
berlaku di masing-masing negara
• Penentuan Titik Kendali tertentu untuk memantau perpindahan, biasanya titik
pada lantai atap
• Struktur didorong (push) dengan pola pembebanan yang ditentukan sebelumnya
secara bertahap hingga mencapai batas ijin simpangan atau mencapai keruntuhan
yang direncanakan
• Penggambaran kurva kapasitas, yaitu kurva hubungan antara Gaya Geser Dasar
Gambar 2.2 Kurva Kapsitas dari Hasil Analisis Pushover (ATC 40, 1997)
II.3.3 Performance Point
Seperti yang telah dijelaskan diatas, performance point adalah titik dimana
capacity sama dengan demand. Salah satu analisis yang dapat digunakan untuk
mendapatkan performance point, seperti diisyaratkan pada ACMC dan konsep ke-5 SNI 1726-2002 (Departemen Pekerjaan Umum, 2002), adalah analisis statik
non-linier pushover. Hasil dari analisis pushover adalah kurva kapasitas (capacity curve).
Agar kurva kapasitas dan kurva kebutuhan ini dapat dibandingkan secara langsung,
maka kurva kapasitas struktur harus digambarkan menjadi satu dengan kurva kebutuhan dalam format Acceleration (Sa) and Displacement (Sd) Respons Spectrum (ADRS). Kurva kapasitas hasil analisis pushover diubah menjadi spektrum kapasitas
(lihat gambar 2.3) melalui persamaan (2.1) sampai (2.4).
W V Sa
. 1
α
rooof roof d PF S 1 1φ ∆
= ………ATC 40, 1997 (2.2)
− =
∑
∑
∑
= = = N i i i N i i N i i i g Q W g W g Q W 1 1 2 1 1 1 .α ………ATC 40, 1997 (2.3)
∑
∑
= = = N t i i N i i g w g wi PF 1 2 1 . . 1 φ φ………ATC 40, 1997 (2.4)
Dimana :
Sa = Spectral acceleration Sd = Spectral displacement
α1 = Modal mass coefficient untuk mode pertama
PF1 = Modal participation factor untuk mode pertama V = Base shear
W = Berat mati bangunan ditambah berat hidup tereduksi ∆roof = Roof displacement
φ1i = Amplitudo of first mode pada level i
g wi
Gambar 2.3 Modifikasi Kurva Kapasitas Menjadi Spektrum Kapasitas
Sedangkan pada kurva kebutuhan (demand) diperoleh dengan mengubah
kurva respons spektrum ke dalam format Acceleration Displacement Response
Spectrum (ADRS) (lihat Gambar 2.4) melalui persamaan (2.5)
Gambar 2.4 Perubahan Format Respons Percepatan menjadi ADRS
Pada gambar 2.4 terlihat bahwa hasil grafik respons spectrum dalam format standar harus diubah terlebih dulu menjadi grafik respons spectrum dalam format ADRS. Kemudian dalam mendapatkan kurva kebutuhan (demand spectrum), respons
spectrum dalam format ADRS ini direduksi dengan suatu konstanta. Untuk respons
spektrum dengan percepatan yang konstan (lihat gambar 2.4b), direduksi dengan SRa,
sedangkan untuk respons spektrum dengan kecepatan yang konstan (lihat gambar 2.4b), direduksi dengan SRY, dimana :
12 . 2 5 ) ( 7 . 63 68 . 0 21 . 3 + − −
= pi pi
pi y y y A d a a d d a K In
SR ……ATC 40, 1997
(2.6) 65 . 1 5 ) ( 7 . 63 41 . 0 31 . 2 + − −
= pi pi
pi y y y Y d a a d d a K In
SR ……ATC 40, 1997
(2.7)
Atau dapat ditulis dalam bentuk yang lebih sederhana :
12 . 2 68 . 0 21 . 3 eff A In
SR = − β ……….. ATC 40, 1997
65 . 1
41 . 0 31 .
2 eff
Y
In
SR = − β ………. ATC 40, 1997
(2.9)
Dimana :
ay, dy = titik koordinat dari titik leleh efektif dari kurva kapasitas api dpi = titik trial performance point
K = faktor modifikasi damping
βeff = effective damping ratio akibat perubahan kekakuan struktur setelah
terjadi sendi plastis (dalam %)
Selanjutnya hasil dari kurva sederhana dan kurva kapasitas dalam format
ADRS ini diplotkan ke dalam satu grafik, dan perpotongan antara dua kurva tersebut adalah performance point yang menggambarkan perpindahan struktur maksimum
Gambar 2.5 Penentuan Performance Point
Setelah performance point diperoleh, dapat diketahui nilai simpangan antar tingkat pada posisi sendi plastis untuk berbagai periode ulang gempa. Selain itu,
BAB III
PERSYARATAN GEMPA RENCANA MENURUT KONSEP KE-5 SNI 1726-2002
III.1 Umum
Pada bab ini akan dibahas mengenai peraturan ketahanan gempa untuk struktur bangunan gedung yang digunakan pada penelitian ini, yaitu konsep ke-5 SNI
1726-2002. Pembahasan dalam bab ini akan dibatasi pada faktor keutamaan bangunan, faktor daktilitas struktur, percepatan muka tanah, spektrum respons elastik,
besar gempa dasar nominal, kekakuan struktur efektif, pembatasan waktu getar alami fundamental dan analisis beban statik ekuivalen.
III.2 Gempa Rencana dan Kategori Gedung
Standar ini menentukan pengaruh Gempa Rencana yang harus ditinjau dalam
perencanaan struktur gedung serta berbagai bagian dan peralatannya secara umum. Akibat pengaruh Gempa Rencana, struktur gedung secara keseluruhan harus masih berdiri, walaupun sudah berada dalam kondisi di ambang keruntuhan. Gempa rencana
ditetapkan mempunyai periode ulang 500 tahun.
Bergantung pada probabilitas terjadinya keruntuhan struktur gedung selama
umur gedung tersebut yang diharapkan, pengaruh Gempa Rencana terhadapnya harus dikalikan dengan suatu Faktor Keutamaan I menurut persamaan:
Dimana I1 adalah Faktor Keutamaan untuk menyesuaikan periode ulang gempa
berkaitan dengan penyesuaian probabilitas terjadinya gempa itu selama umur gedung, sedangkan I2 adalah Faktor Keutamaan untuk menyesuaikan periode ulang gempa
[image:40.612.115.503.259.526.2]berkaitan dengan penyesuaian umur gedung tersebut. Faktor-faktor Keutamaan I1, I2 dan I ditetapkan menurut Tabel 3.1.
Tabel 3.1. Faktor Keutamaan 1 untuk Berbagai Kategori Gedung
Kategori Gedung Faktor Keutamaan
I1 I2 I
Gedung umum seperti untuk penghunian, perniagaan dan perkantoran
1,0 1,0 1,0
Monumen dan bangunan monumental 1,0 1,6 1,6 Gedung penting pasca gempa seperti rumah sakit,
instalasi air bersih, pembangkit tenaga listrik, puast penyelamatan dalam keadaan darurat, fasilitas radio dan televisi
1,4 1,0 1,4
Gedung untuk menyimpan bahan berbahaya seperti gas, produk minyak bumi, asam bahan beracun.
1,6 1,0 1,6
Cerobong, tangki diatas menara 1,5 1,0 1,5
Catatan :
III.3 Pembebanan Gempa Nominal dan Daktilitas Struktur Gedung
Pembebanan gempa nominal yang harus ditinjau akibat beban gempa rencana harus disesuaikan dengan daktilitas struktur yang akan digunakan. Masing-masing
[image:41.612.161.468.303.542.2]tingkat daktilitas struktur mempunyai faktor reduksi gempa yang digunakan untuk mereduksi beban gempa rencana menjadi beban gempa nominal yang secara singkat dapat dilihat pada tabel 3.2
Tabel 3.2. Parameter Daktilitas Struktur Gedung
Taraf kinerja struktur gedung µ R = 1.6 µ
Elastis penuh 1,0 1,6
Daktail parsial
1,5 2,0 2,5 3,0 3,5 4,0 4,5 5,0
2,4 3,2 4,0 4,8 5,6 6,4 7,2 8,0
Daktail penuh 5,3 8,5
III.4 Percepatan Tanah Maksimum
Jika tidak dilakukan analisis khusus, percepatan tanah maksimum dapat ditentukan dari tabel 3.3.
Muka Tanah untuk Masing-masing Wilayah Gempa Indonesia
Wilayah Gempa
Percepatan puncak batuan dasar
PBA (‘g’)
Percepatan puncak muka tanah Ao PGA (‘g’)
Tanah Keras
Tanah Sedang
Tanah Lunak
Tanah Khusus 1
2 3 4 5 6
0,04 0,10 0,15 0,20 0,25 0,30
0,04 0,12 0,18 0,24 0,28 0,33
0,05 0,15 0,23 0,28 0,32 0,36
0,08 0,20 0,30 0,34 0,36 0,38
Diperlukan evaluasi khusus di
setiap lokasi
Dari tabel diatas tampak bahwa wilayah gempa di Indonesia terbagi dalam 6 wilayah gempa, dimana wilayah gempa 1 adalah wilayah dengan tingkat kegempaan
paling tinggi. Pembagian wilayah gempa ini didasarkan atas percepatan puncak batuan dasar akibat pengaruh Gempa Rencana dengan periode ulang 500 tahun.
Percepatan puncak muka tanah adalah percepatan minimum yang harus diperhitungkan dalam perencanaan struktur gedung. Percepatan respons maksimum dari masing-masing wilayah gempa adalah sebesar 2.5 kali dari percepatan puncak
Spektrum Respons Elastik Gempa Rencana menurut konsep ini adalah
spektrum percepatan Sa(T), dimana T adalah waktu getar alami (detik). Spektrum Respons Elastik gempa rencana ini berbeda antara satu dengan lainnya, yaitu
berdasarkan zone gempa dan jenis tanah. Spektrum Respons Elastik Gempa ini
diperuntukkan bagi struktur dalam kondisi elastik (R = 1.6, µ = 1) (Tabel 3.2).
Spektrum Respons Elastik Gempa Rencana Sa(T) ini terdiri dari tiga bagian, yaitu:
Untuk 0 < T ≤ 0.2 :
Sa(T) = T
A A A
A m
0 0 0
−
+ ………SNI-1726 (3.2)
Untuk 0.2 < T ≤ Tc detik :
Sa(T) = Am ……… SNI-1726 (3.3)
Untuk T > Tc detik :
Sa(T) = Am / T ……… SNI-1726 (3.4)
Dimana :
Ao = Percepatan puncak muka tanah (PGA) (x g)
Am = Percepatan respons maksimum = 2.5 Ao (x g)
Tabel 3.4 Nilai Waktu Getar Alami Sudut (Tc) Untuk Berbagai Jenis Tanah
Jenis Tanah Tc (detik)
Tanah keras Tanah sedang
Tanah lunak
Gambar 3.2 Wilayah Gempa Indonesia dengan Percepatan Puncak Batuan Dasar dengan Periode Ulang 500 tahun
Menurut peta gempa Indonesia dalam Konsep ke-5 SNI 1726-2002, Untuk gempa dengan wilayah 5 dan kondisi tanah lunak, maka Spektrum Respons Elastik
Gempa Rencana Sa(T) menjadi : Untuk 0 < T ≤ 0.2 detik :
Sa(T) = T 0.2 3.6T 2
. 0
2 . 0 0 . 1 2 .
0 + − = + ……… SNI-1726
(3.5)
Untuk 0.2 < T ≤ 1.0 detik : ……… SNI-1726
(3.6)
Sa(T) = Am = 0.90
Untuk T > 1.0 detik ……… SNI-1726
(3.7)
Sa(T) = Am / T = 0.90 / T
III.6 Beban Gempa Dasar Nominal
Besarnya Beban Geser Dasar Nominal Statik Ekivalen (V) yang bekerja pada
tingkat dasar (pada taraf penjepitan lateral) pada struktur rumah dan gedung, dapat dihitung dari Spektrum Respons Elastik menurut persamaan (3.8) :
1 1 1
W R C
Dimana :
C1 = Nilai respons elastik gempa rencana, yang didapat dari gambar 3.1
untuk waktu getar alami fundamental dari bangunan
1 = Faktor keutamaan gedung, yang didapat dari Tabel 3.1 R = Faktor daktilitas struktur, yang didapat dari tabel 3.2 W1 = Berat total gedung, termasuk beban hidup tereduksi
III.7 Kekakuan Struktur Efektif
Dalam perencanaan struktur gedung terhadap pengaruh Gempa Rencana,
pengaruh keretakan beton pada unsur-unsur struktur dari beton bertulang, beton pratekan dan baja komposit harus diperhitungkan terhadap kekakuannya. Untuk itu, momen inersia penampang unsur struktur dapat ditentukan sebesar momen inersia
penampang utuh dikalikan dengan suatu prosentase efektifitas penampang sebagai berikut :
- untuk kolom dan balok rangka beton bertulang terbuka : 75%
Untuk mencegah penggunaan struktur gedung yang terlalu fleksibel, nilai
waktu getar alami fundamental T1 dari struktur gedung harus dibatasi, bergantung pada koefisien ζ untuk wilayah gempa tempat struktu gedung berada dan jumla
tingkat bangunan (n) menurut persamaan (3.9) :
T1< ζ n ……… SNI-1726
[image:50.612.172.453.315.465.2](3.9) dimana koefisien ζ ditetapkan menurut Tabel 3.5
Tabel 3.5 Koefisien ζ yang Membatasi Waktu Getar Alami Fundamental Struktur Gedung
Wilayah Gempa ζ
1 2 3 4 5 6
0,20 0,19 0,18 0,17 0,16 0,15
III.9 Analisa Beban Gempa Statik Ekuivalen
∑
= = ni
i i
i i i
z W
z W F
1
……….. SNI-1726
(3.10)
dimana Wi adalah berat lantai tingkat ke-i termasuk beban hidup tereduksi zi adalah ketinggian lantai tingkat ke-i diukur dari taraf penjepitan lateral, sedangkan n adalah
nomor lantai tingkat paling atas.
Apabila rasio antara tinggi struktur gedung dan lebar bentang dalam arah
pembebanan gempa sama dengan atau melebihi 3, maka 0,1 V harus dianggap sebagai beban horisontal terpusat yang bertitik tangkap pada pusat massa lantai tingkat paling atas, sedangkan 0,9 V sisanya harus dibagikan sepanjang tinggi
BAB IV
KONSEP DESAIN STRUKTUR BETON BERDASARKAN DENGAN SNI 03-2847-2002
IV.1 Umum
Sebagai tahapan awal dalam setiap perencanaan struktur, perlu dilakukan
pengumpulan informasi selengkapnya. Beberapa informasi umum seperti kegunaan bangunan, sistem struktur bangunan, wilayah gempa, dan sebagainya perlu
diperhatikan dengan baik.
Pada bab ini akan dibicarakan mengenai langkah-langkah dan persyaratan dalam mendesain struktur rangka beton bertulang untuk bangunan 6 tingkat dan
bangunan 10 tingkat. Standar perencanaan yang disesuaikan dengan SNI 03-2847-2002. SNI ini merupakan standar perencanaan yang paling baru di dalam menghitung
struktur beton untuk bangunan gedung.
I.2 Perencanaan Struktur Dengan Tingkat Daktilitas Penuh
IV.2.1 Perencanaan Balok Portal Terhadap Beban Lentur Berdasarkan SNI 03-2847- 2002
Kuat lentur perlu balok portal (Mu,b) harus ditentukan dengan kombinasi pembebanan kuat perlu sebagai berikut :
Mu,b = 1.2 MD + 1.6 ML ……… SNI-2847
Mu,b = 1.2 MD + 0.5 ML ± 1.1 ME ……… SNI-2847
(4.2)
Mu,b = 0.9 MD ± 1.1 ME ……….… SNI-2847
(4.3)
dimana :
MD = momen lentur balok akibat beban mati tak berfaktor
ML = momen lentur balok akibat beban hidup tak berfaktor ME = momen lentur balok akibat beban gempa tak berfaktor
Agar sesuai dengan perencanaan dengan konsep desain kapasitas, maka perlu dicari besarnya nilai momen kapasitas balok, yaitu :
Mpr = φ0 Mn ……… SNI-2847
(4.4)
dimana :
Mpr = Kuat momen lentur mungkin dari suatu komponen struktur, dengan atau tanpa beban aksial, yang ditentukan menggunakan sifat-sifat
komponen struktur pada muka join dengan menganggap kuat tarik pada tulangan longitudinal sebesar minimum 1.25 fy dan faktor
Mn = Momen nominal penampang
atau secara umum dikenal sebagai :
Mkap = φo Mnak.b ……… SNI-2847
(4.5)
dimana :
Mkap = kapasitas lentur aktual balok yang pada pusat pertemuan balok kolom,
memperhitungkan luas tulangan terpasang sebenarnya, dengan
menganggap kuat tarik minimum tulangan 1.25 dan faktor reduksi
kekuatan φ.
Mnak = kapasitas lentur aktual balok yang pada pusat pertemuan balok kolom,
memperhitungkan luas tulangan terpasang sebenarnya, dengan
memperhitungkan faktor reduksi kekuatan φ.
φo = faktor penambahan kekuatan, yang ditetapkan sebesar
1.25 untuk fy < 400 MPa
1.4 untuk fy ≥ 400 Mpa
Kuat geser rencana balok harus dihitung sesuai dengan desain kapasitas, yaitu
dengan memperhitungkan terjadinya sendi-sendi plastis di ujung-ujung balok. Sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 4.1. dan dapat dipergunakan perumusanya
sebagai berikut :
2 2
1 W
L M M
Ve= pr + pr + ……… SNI-2847
(4.6)
Untuk kolom :
H M M
Ve= pr1 + pr2
Gambar 4.1 Perencanaan Geser untuk Balok dan Kolom (SNI-03-2847-2002) dimana :
Mpr2 = Mpr diujung sebelah kanan
L = bentang balok W = beban gravitasi
H = tinggi kolom
atau secara umum dikenal sebagai :
L D
kap kap
V V
M M
Vub 1.2 0.5
ln
) (
7 . 0
+ +
+ ×
=
− +
… SNI-2847
(4.7)
Kuat geser balok portal yang dibebani oleh beban gravitasi sepanjang bentangnya harus dihitung dalam kondisi terjadi sendi-sendi plastis pada kedua ujung balok portal tersebut, dengan arah tanda yang berlawanan seperti yang terlihat pada
gambar 4.2. Tetapi kuat geser balok rencana ini tidak perlu lebih besar dari yang ditentukan yaitu sebesar :
E L
D V
K V V
Vubmax =1.2 +0.5 +5.3 … SNI-2847
(4.8) dimana :
Mkap =kapasitas lentur aktual balok yang pada pusat pertemuan balok kolom,
ln = bentang bersih balok
VD = gaya geser balok akibat beban mati tak berfaktor VL = gaya geser balok akibat beban hidup tak berfaktor
VE = gaya geser balok akibat beban gempa tak berfaktor
K = faktor jenis struktur yang berlaku untuk struktur yang ditinjau
Gambar 4.2 Sendi plastis pada kedua ujung balok portal
IV.2.3 Perencanaan Kolom Portal Terhadap Beban Lentur-Aksial
Untuk mensimulasikan pengaruh gempa rencana yang arah terjadinya tidak beraturan, kombinasi pembebanan antara beban gravitasi dengan beban gempa, harus
Kuat lentur kolom portal pada pusat hubungan balok kolom harus
direncanakan sesuai dengan kemungkinan terjadinya kapasitas sendi plastis di kedua ujung balok tersebut (lihat Gambar 4.3), atau secara singkat adalah sebagai berikut :
∑
Me≥ Mg 5 6……… SNI-2847
(4.9) dimana :
Me = momen pada muka join, yang berhubungan dengan kuat lentur
nominal kolom yang merangka pada join tersebut, yang dihitung untuk beban aksial terfaktor, konsisten dengan arah gaya lateral yang
ditinjau, yang menghasilkan kuat lentur terendah. N-mm
Mg = momen pada muka join, yang berhubungan dengan kuat lentur nominal balok (termasuk plat yang berada dalam kondisi tarik) yang
merangka pada join tersebut. N-mm
Atau secara umum dikenal sebagai (SKSNI T15-1991-03) :
) 3
. 0 (
ln 1 7 .
0
∑
. +∑
.= a Mkapbx Mkapby
hn h
Muk ω … SNI-2847
(4.10)
dan tidak perlu lebih besar dari :
) 3 . 0 (
3 . 5 5
. 0 2
. 1
.bx Dk Lk Ek Ey
kap
u M M
K M
M
M = + + + … SNI-2847
h = panjang bentang balok
hn = panjang bersih bentang balok
ωd = faktor pembesar dinamis yang memperhitungkan terjadinya sendi plastis
secara keseluruhan, diambil sebesar
5 6
α = faktor distribusi momen pada pertemuan hubungan balok-kolom. Faktor
α terdiri dari 4 macam, yakni :
αax = faktor distribusi momen arah sumbu x yang mewakili distribusi
momen bagian atas kolom lantai ke-i dan bagian bawah kolom lantai ke-i+1
αbx = faktor distribusi momen arah sumbu x yang mewakili distribusi
momen bagian bawah kolom lantai ke-i dan bagian atas kolom lantai ke-i-1
αay = faktor distribusi momen arah sumbu y yang mewakili distribusi
momen bagian atas kolom lantai ke-i dan bagian bawah kolom
lantai ke-i+1
αby = faktor distribusi momen arah sumbu y yang mewakili distribusi
momen bagian bawah kolom lantai ke-i dan bagian atas kolom lantai ke-i-1
MD.k = momen pada kolom akibat beban mati tak berfaktor
[image:60.612.167.485.175.341.2]ML.k = momen pada kolom akibat beban hidup tak berfaktor ME.k = momen pada kolom akibat beban gempa tak berfaktor
Gambar 4.3 Pertemuan balok dan Kolom Portal dalam Kondisi Terjadinya Sendi-sendi Plastis pada Kedua Ujung Balok
Sedangkan untuk beban aksial rencana (Nu.k) yang bekerja pada kolom portal,
direncanakan dengan rumusan sebagai berikut :
] ) (
3 . 0 ) [(
7 . 0 5
. 0 2
. 1 .
y kapka kapki
x kapka kapki
V L
D k
u
M M
M M
L R N
N N
∑
−∑
∑
∑
+ −
+ +
=
..
SNI-2847(4.12)
dalam segala hal tidak perlu lebih besar dari :
) 3 . 0 (
3 . 5 5
. 0 2
. 1
.kmak D L Ex Ey
u N N
K N N
N = + + + ..SNI-2847
dimana :
RV = faktor reduksi yang ditentukan sebesar 1.0 untuk 1< n < 4
1.1 – 0.025 n untuk 4 < n < 20
0.6 untuk n > 20
n adalah jumlah lantai diatas kolom yang ditinjau
L = adalah bentang balok yang bersesuaian
ND = gaya aksial kolom akibat beban mati tak berfaktor NL = gaya aksial kolom akibat beban hidup tak berfaktor
NE = gaya aksial kolom akibat beban gempa tak berfaktor
IV.2.4 Perencanaan Kolom Portal Terhadap Beban Geser
Kuat geser perlu pada kolom harus diperhitungkan dengan kemungkinan terjadinya sendi plastis pada kedua ujung balok (lihat gambar 4.4). Besarnya kuat
geser ini adalah sebagai berikut :
H M M
Ve = pr1 + pr2 ……… SNI-2847
(4.14) dimana :
atau secara umum lebih dikenal sebagai :
Hn M M
Vu.k = u.katas + u.kbawah ……… SNI-2847
(4.15) Untuk kolom tingkat pertama
Hn M M
Vu.k = u.katas + kap.kbawah ………SNI-2847
(4.16)
Untuk kolom tingkat teratas
Hn M M
Vu.k = kap.katas + kap.kbawah ……… SNI-2847
(4.17)
Dalam segala hal, besarnya nilai diatas tidak perlu lebih besar dari
E L
D mak
k
u V
K V V
V . =1.2 +0.5 +5.3 ……… SNI-2847
(4.18) dimana :
Mu.k = momen rencana kolom pada ujung kolom Mkap = momen kapasitas kolom pada ujung kolom
VL = gaya geser kolom akibat beban hidup tak berfaktor
[image:63.612.215.428.148.329.2]VE = gaya geser kolom akibat beban gempa tak berfaktor
Gambar 4.4 Kolom Portal dalam Kondisi Terjadinya Sendi-sendi Plastis pada Kedua Ujung Balok yang Bertemu dengan Kolom tersebut
Urutan langkah perencanaan selengkapnya di dalam mendesain bangunan 6 tingkat
dan bangunan 10 tingkat dapat dilihat pada gambar 4.5
DIAGRAM ALIR PERENCANAAN BANGUNAN 6 TINGKAT DAN BANGUNAN 10 TINGKAT
Mulai
Informasi perencanaan Umum 1
Gambar 4.5 Diagram Alir perencanaan Struktur pemikul MomenKhusus(Daktilitas penuh)
benar telah yang F V T
V z W
z W F
W R
I C V
Cn
asalkan T
Sembarang Trial
n
n
1 1
1 1
1 1 1
, , * * * *
∑
= = = <=Interstory Drift 5
T > 0,7 : 1.2 (d1-d1)/h1<0,02 T < 0,7 : 1.2 (d1-d1)/h1>0,025 Program komputer Analisis Struktur 6
Momen Rencana Balok portal(PIR.M) 7
Mu, b = 1,2 M1 + 1,6 M1 Mu, b = 1,2 M1 + 0,5 M1± 1,1 ME
Mu, b = 0,9 M1 ± 1,1 ME
Penulangan Lentur Tumpuan 8 dan Lapangan Balok Portal (PIR.M)
) (
max ,
,
2
lentur M P M P
Mu b Mn
d x b x p As
bd b Mu
IR IP >
> = φ
Geser Rencana Balok Portal (Desain Kapasitas) RIR.V9 0 2 1 ) ( ) 2 ( ' ) ' ( ) ( 5 , 0 2 , 1 ) ( 7 , 0 3 , 5 5 , 0 2 , 1 5 , 0 2 , 1 ) ( 7 , 0 , * 4 , 1 , * * , max ' ' _ _ 2 = > + − − = + − − = − − + = + + = + + + = == + + Vc maka Vub Vub Jika Vub Vub Vub x Ln n Ln Vub Vub Vub Vub x Ln d Ln Vub V V Ln M M x Vub V K V V Vub V V Ln M M x Vub b Mnak b Mkap d b Rn b Mnak dalam Luar dalam dalam E D kap kap E E D E D kap kap 1
Penulangan geser Balok (P IP,V )10
) ( . ) ( . . 6 , 0 ' 6 / 1 0 Geser V Pi V Pi Vu Vc Vs Vs d fy Av S Vc Vub Vs d bw fc Vc platis Sendi Luar Di Vc is SendiPlast Pada g g maks plentra > > + Φ = − = = =
Momen rencana Kolom11
Gambar 4.5 (Lanjutan)
Momen Maksimum Kolom 12 2 ) 3 , 0 ( 3 , 5 5 , 0 2 , 1 ) 3 , 0 ( 3 , 5 5 , 0 2 , 1 max max Ex Ey Ly Eh kx u Ey Ex Lx Eh kx u M M K M M M M M K M M M + + + + + + = =
Momen Desain Kolom(P IR.M )13
MX Design = minimum (Maksimum Mu.kx rencana : Mu.kx maksimum) My Design = minimum (Maksimum Mu.ky rencana : Mu.ky maksimum )
Gaya aksila rencana kolom14
[
]
[
]
[
]
[
kaps kaps y kapks kapks x]
u L D ky u x kapks kapks y kaps kaps u L D ky u y kapks kapks x kaps kaps u L D kx u y kapks kapks x kaps kaps u L D kx u M M M M L R N N M M M M L R N N M M M M L R N N M M M M L R N N ) ( 3 , 0 ) ( 7 , 0 5 , 0 2 , 1 . ) ( 3 , 0 ) ( 7 , 0 5 , 0 2 , 1 . ) ( 3 , 0 ) ( 7 , 0 5 , 0 2 , 1 . ) ( 3 , 0 ) ( 7 , 0 5 , 0 2 , 1 . min max min max
∑
∑
∑
∑
∑
∑
∑
∑
∑
∑
∑
∑
∑
∑
∑
∑
− + − + + = − + − + + = − + − + + = − + − + + =Gaya Aksial Maksimum Kolom15
) 3 , 0 ( . 3 , 5 5 , 0 2 , 1 ) 3 , 0 ( . 3 , 5 5 , 0 2 , 1 ) 3 , 0 ( . 3 , 5 5 , 0 2 , 1 ) 3 , 0 ( . 3 , 5 5 , 0 2 , 1 min max min max EX EY L D uky EX EY L D uky EY EX L D ukx EY EX L D ukx N N K N N N N N K N N N N N K N N N N N K N N N + + = + + = + + = + + =
Gaya Aksial Desain Kolor
[image:66.612.149.570.72.682.2]Gambar 4,5 (lanjutan)
Penulangan kolom akibat MU.k dan Nu.k desain 17
) ( . ) ( , . . . aksial N Pi V Pi N Nn Lentur M Pi M Pi M M gx RX k u R k u n > > Φ > > Φ 2 3 Momen Kapasitas Kolom 18 Mkap = 1,4’ Mnak : fy = 400 Mpa
Gaya Geser Rencana Kolom19
hn M M
Vx.k = xkxatas + xkxbawah
Gaya Geser maksimum kolom 20
E E D k u V K V V
V min =1,2 +0,5 +5,3
Gaya Geser Desain Kolom (Pir.y) 21
Vu.kx Desain = minimum Vu.kx (rencana maksimum) Vu.ky Desain = minimum Vu.ky (rencana maksimum)
Penulangan geser kolom (Pir.y)22
IV.3 Persyaratan Perencanaan Seismik
IV.3.1 Komponen Struktur Rangka yang Menahan Beban Lentur (Balok)
1. Gaya tekan aksial terfaktor yang bekerja pada komponen struktur tersebut tidak boleh melebihi 0.1 Agfc’.
2. Bentang bersih komponen struktur tidak boleh kurang dari empat kali tinggi efektifnya
3. Perbandingan lebar terhadap tinggi tidak boleh kurang 0.3
4. Lebarnya tidak boleh (a) kurang dari 250 mm, dan (b) lebih dari lebar komponen struktur pendukung (diukur pada bidang tegak lurus terhadap
sumbu longitudinal komponen struktur lentur) ditambah jarak pada tiap sisi komponen struktur pendukung yang tidak melebihi tiga perempat
tinggi komponen struktur lentur
5. Pada setiap irisan penampang komponen struktur lentur, jumlah tulangan atas dan bawah tidak boleh kurang dari 1.4bwd/fy, dan rasio tulangan p
tidak boleh melebihi 0.025. Sekurang-kurangnya harus ada dua batang tulangan atas dan dua batang tulangan bawah yang dipasang secara
menerus.
sepanjang bentang tidak boleh kurang dari seperempat kuat lentur terbesar
yang disediakan pada kedua muka kolom tersebut.
7. Sambungan lewatan pada tulangan lentur hanya diijinkan jika ada
tulangan spiral atau sengkang tertutup yang mengikat bagian sambungan lewatan tersebut. Spasi sengkang yang mengikat daerah sambungan lewatan tersebut tidak melebihi d/4 atau 100 mm. Sambungan lewatan
tidak boleh digunakan (a) pada daerah hubungan balok-kolom, (b) pada daerah hingga jarak dua kali tinggi balok dari muka kolom, dan (c) pada
tempat-tempat yang berdasarkan analisis, memperlihatkan kemungkinan terjadinya leleh lentur akibat perpindahan lateral inelastis struktur rangka. 8. Sambungan mekanis dan sambungan las harus sesuai dengan SNI 03 pasal
23.3(6) dan 23.3(1).
9. Sengkang tertutup harus dipasang pada komponen struktur pada
daerah-daerah dibawah ini :
a. Pada daerah hingga dua kali tinggi balok diukur dari muka tumpuan ke arah tengah bentang, di kedua ujung komponen struktur lentur
b. Di sepanjang daerah dua kali tinggi balok pada kedua sisi dari suatu penampang dimana lebih lentur diharapkan dapat terjadi sehubungan
dengan terjadinya deformasi inelastik struktur rangka
melebihi (a) d/4, (b) delapan kali diameter terkecil tulangan memanjang,
(c) 24 kali diameter batang tulangan sengkang tertutup, dan (d) 300 mm. 11.Pada daerah yang memerlukan sengkang tertutup, tulangan memanjang
pada perimeter harus mempunyai pendukung lateral sesuai SNI 03.
12.Pada daerah yang tidak memerlukan sengkang tertutup, sengkang dengan kait gempa pada kedua ujungnya harus dipasang dengan spasi tidak lebih
dari d/2 di sepanjang bentang bentang komponen struktur tersebut.
IV.3.2 Komponen Struktur Rangka yang menahan Beban Lentur dan Aksial
(Kolom) :
1. Ukuran penampang terkecil, diukur pada garis lurus yang melalui titik pusat geometris penampang, tidak kurang dari 300 mm.
2. Perbandingan antara ukuran terkecil penampang terhadap ukuran dalam arah tegak lurusnya tidak kurang dari 0.4
3. Rasio penulangan ρg tidak boleh kurang dari 0.01 dan tidak boleh lebih
dari 0.06
4. Tulangan transversal harus berupa sengkang tunggal atau ganda. Tulangan
pengikat silang dengan diameter dan spasi yang sama dengan diameter dan spasi sengkang tertutup boleh dipergunakan. Tiap ujung tulangan pengikat silang harus terkait pada tulangan longitudinal terluar. Pengikat
5. Bila tebal selimut beton di luar tulangan transversal pengekang melebihi
100 mm, tulangan transversal tambahan perlu dipasang dengan spasi tidak melebihi 300 mm. Tebal selimut di luar tulangan transversal tambahan
tidak boleh melebihi 100 mm.
6. Tulangan transversal harus diletakkan dengan spasi tidak lebih daripada (a) satu per empat dari dimensi terkecil komponen struktur, (b) enam kali
diameter tulangan longitudinal, dan (c) tidak perlu lebih besar daripada 150 mm.
7. Tulangan pengikat silang tidak boleh dipasang dengan spasi lebih daripada 350 mm dari sumbu ke sumbu dalam arah tegak lurus sumbu komponen struktur.
8. Tulangan transversal sesuai dengan SNI 03 pasal 23.4(4(1)) sampai 23.4(4(3)) harus dipasang sepanjang 1o dari setiap muka hubungan balok
kolom dan juga sepanjang 1o pada kedua sisi dari setiap penampang yang berpotensi membentuk leher lentur akibat deformasi lateral inelastis struktur rangka. Panjang 1o ditentukan tidak kurang daripada
a. Tinggi penampang komponen struktur pada muka hubungan balok-kolom atau ada segmen yang berpotensi membentuk leher lentur
BAB V
INFORMASI PERENCANAAN DAN ANALISIS STRUKTUR
V.1 Umum
Pada bagian ini akan diuraikan mengenai informasi perencanaan awal dan
analisis statik struktur dari model komputer bangunan yang akan ditinjau. Informasi perencanaan awal ini mencakup dimensi, mutu bahan terpakai, lokasi dan idealisasi
struktur dari bangunan yang ditinjau. Untuk analisis struktur, akan dijelaskan mengenai hasil perhitungan analisis beban statik ekuivalen dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan analisis suatu program. Pada bagian ini pula, akan
diperlihatkan contoh perhitungan penulangan salah satu balok dan kolom dari bangunan 6 tingkat.
V.2 Informasi Perencanaan
Model struktur yang digunakan di dalam penelitian ini adalah dua buah
bangunan perkantoran yang berada pada wilayah 5 Peta Gempa Indonesia dengan kondisi tanah lunak sesuai dengan konsep ke-5 SNI 1726-2002 (Departemen
Permukiman dan Prasarana Wilayah, 2002).
Model bangunan simetris yang nantinya dianalisis secara tiga dimensi menggunakan sistem struktur rangka beton bertulang dengan tingkat Daktilitas
bangunan 6 tingkat dan tinggi bangunan 10 tingkat dan tinggi masing-masing tingkat
adalah 3.5 meter.
Untuk keseluruhan bangunan menggunakan mutu beton (fc’) 30 MPa. Untuk
tulangan longitudinal digunakan mutu baja fy = 400 MPa dan untuk tulangan sengkang digunakan mutu baja fy = 240 MPa.
Dimensi elemen struktur untuk bangunan 6 tingkat dapat dilihat pada Tabel
[image:73.612.176.450.358.576.2]5.1 dan Gambar 5.1. Sedangkan untuk bangunan 10 tingkat dapat dilihat pada Tabel 5.2 dan Gambar 5.2
Tabel 5.1 Dimensi Elemen Struktur 6 Tingkat yang Ditinjau
Elemen Keterangan
Luas Bangunan 24 x 24 m2 Tinggi Bangunan 6 tingkat, 21 m Tinggi antar Tingkat 3.5 m
Balok Induk 0.4 x 0.6 m2
Kolom 0.5 x 0.5 m2
Plat Lantai Tebal = 0.12 m Mutu Beton (fc’) 30 MPa Tulangan Longitudinal (fy) 400 MPa
Gambar 5.1 Denah Model Struktur Bangunan 6 Tingkat yang Ditinjau
Tabel 5.2 Dimensi Elemen Struktur 10 Tingkat yang Ditinjau
Elemen Keterangan
Luas Bangunan 24 x 24 m2
Tinggi Bangunan 10 tingkat, 35 m
Tinggi antar Tingkat 3.5 m
Balok Induk 0.4 x 0.6 m2
Kolom 0.7 x 0.7 m2
Plat Lantai Tebal = 0.12 m
Sengkang (fy) 240 MPa
Gambar 5.2 Denah Model Struktur Bangunan 10 Tingkat yang Ditinjau
Peraturan-peraturan yang digunakan dalam melakukan analisis struktur adalah :
1. Konsep standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Rumah dan Gedung, Konsep ke-5 SNI 1726-2002 (Departemen Pemukiman dan Prasarana
Wilayah, 2002).
2. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung, SKSNI
3. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung, SNI
03-2847-2002 (Badan Standarisasi Nasional, 27 September 03-2847-2002).
4. Asian Concrete Model Code, Level 1 & 2 Document, Second Draft (International
Committee on Concrete Model Code : Japan, March 1999)
V.3 Analisis Beban Statik Ekuivalen V.3.1 Bangunan 6 Tingkat
Data-data yang diperlukan di dalam mencari Gaya Geser Dalam (V) :
• Spektrum respon yang digunakan adalah gempa wilayah 3 pada Peta
Gempa Indonesia jenis tanah lunak. Waktu getar alami bangunan
diperoleh dari output program ETABS versi 7, yakni 0,9