• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH BERMAIN SOSIAL PURA-PURA TERHADAP PERILAKU PROSOSIAL PADA ANAK PRA SEKOLAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH BERMAIN SOSIAL PURA-PURA TERHADAP PERILAKU PROSOSIAL PADA ANAK PRA SEKOLAH"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH BERMAIN SOSIAL PURA-PURA TERHADAP

PERILAKU PROSOSIAL PADA ANAK PRA SEKOLAH

SKRIPSI

Oleh : Indah Yunita Sari

06810125

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

(2)

PENGARUH BERMAIN SOSIAL PURA-PURA TERHADAP

PERILAKU PROSOSIAL PADA ANAK PRA SEKOLAH

SKRIPSI

Diajukan Kepada Universitas Muhammadiyah Malang sebagai salah satu persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Oleh : Indah Yunita Sari

06810125

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

(3)
(4)
(5)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melipahkan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Pengaruh Bermain Sosial Pura-pura terhadap Kecenderungan Berperilaku Prososial pada Anak Pra Sekolah”, sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Psikologi di Universitas Muhammadiyah Malang.

Dalam proses penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan dan petunjuk serta bantuan yang bermanfaat dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Drs. Tulus Winarsunu, M. Si selaku dekan fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang.

2. Dra. Tri Dayakisni, M.Si dan Ni’matuzahroh, M.Si selaku dosen pembimbing I dan dosen pembimbing II yang telah banyak meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan dan arahan yang sangat berguna hingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

3. M. Salis Yuniardi, S.Psi., M.Si selaku dosen wali yang telah mendukung dan memberi pengarahan sejak awal perkuliahan hingga selesainya skripsi ini.

4. Dra. Iswinarti, M. Si yang sudah banyak memberi arahan dan masukan kepada penulis dari judul, outline sampai Alat tes hingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

(6)

6. Guru-guru TK. Dharma Wanita Persatuan Landungsari Malang yang bersedia membantu selama penelitian, serta murid-murid TK. Dharma Wanita Persatuan Landungsari Malang yang telah bersedia menjadi subyek penelitian.

7. Ayah dan ibuk yang senantiasa selalu memberi dukungan, do’a, kasih sayang serta motivasi sehingga penulis memiliki motivasi untuk segera menyelesaikan skripsi ini.

8. Mas Kiki dan Mas Fery yang telah memberikan dukungan secara materil maupun spiritual kepada penulis.

9. Linda, Mega, dan Mbak Umbar yang telah membantu dalam pelaksanaan pengumpulan data.

10.Mbak Zhiro dan Hayu yang selalu memberikan semangat, dukungan dan selalu sabar mendengarkan keluhan penulis setiap penulis menemui kesulitan selama proses menyelesaikan skripsi ini.

11.Teman-teman kost Anisa Warladupan yang sering memberikan hiburan disaat penulis sedang penat.

12.Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah banyak memberikan bantuan pada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari tiada satupun karya manusia yang sempurna, sehingga kritik dan saran demi perbaikan karya skripsi ini sangat penulis harapkan. Meski demikian, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi peneliti khususnya dan pembaca pada umumnya.

Malang, 21 April 2011 Penulis

(7)

DAFTAR ISI

A.3 Tugas Perkembangan Anak Prasekolah ………. 10

B. Perilaku Prososial B.1 Pengertian Perilaku Prososial ……… 11

B.2 Cara Meningkatkan Perilaku Prososial ……….... 12

B.3 Faktor-faktor yang Mendasari Perilaku Prososial ……… 13

C. Bermain Sosial Pura-pura C.1 Pengertian Bermain Pura-pura ………. 13

C.2 Manfaat Bermain Pura-pura ………. 15

C.3 Tahapan Permainan Pura-pura ………. 16

(8)

D. Sumber Data ……….. 25

E. Lokasi dan Waktu Penelitian ………. 25

F. Subyek Penelitian ……….. 25

G. Instrumen Penelitian ………... 26

H. Prosedur Penelitian 1. Tahap persiapan ………...…….………. 29

2. Tahap pengambilan data ……….……... 29

3. Tahap Penelitian (pelaksanaan bermain pura-pura) ………. 30

I. Teknik Analisa Data ……… 31

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data A.1 Deskripsi Data Subyek Penelitian Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol TK Dharma Wanita Persatuan Landungsari Malang ……… 33

A.2 Deskripsi Hasil Pretest dan Posttest Perilaku Prososial Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen a. Deskripsi Hasil Pretest Perilaku Prososial Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen ……… 33

b. Deskripsi Hasil Posttest Perilaku Prososial Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen ……..……..………... 34

c. Deskripsi Hasil Pretest dan Posttest Perilaku Prososial Kelompok Kontrol ……….……….………. 36

(9)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 : Tindakan-tindakan Perilaku Prososial ……….…….…. 26 Tabel 2 : Rentang Skala Perilaku Prososial ...…….………..…… 28

Tabel 3 : Data Subyek Penelitian Kelompok Eksperimen dan Kelompok

Kontrol TK Dharma Wanita Persatuan Landungsari Malang ……… 33

Tabel 4 : Hasil Pretest Perilaku Prososial

Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen ………..………….. 34

Tabel 5 : Hasil Posttest Perilaku Prososial

Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen ……..……….. 35

Tabel 6 : Hasil Pretest dan Posttest Perilaku Prososial

Kelompok Kontrol ………...… 36

Table 7 : Hasil Pretest dan Posttest Perilaku Prososial

Kelompok Eksperimen ……….…….. 38

Tabel 8 : Perbandingan Perubahan Skor Perilaku Prososial Hasil Pretest

dan Posttest Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen ………... 40

Tabel 9 : Uji Beda Antar Kelompok

(Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen) ...……….... 41

Tabel 10 : Hasil T-test Antar Kelompok

(10)

DAFTAR GRAFIK

Grafik 1 : Perkembangan Hasil Pretest dan Posttest

Perilaku Prososial Kelompok Kontrol ………...…. 37

Grafik 2 : Perkembangan Hasil Pretest dan Posttest

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Alat tes (pretest) Perilaku Prososial ... 53

Lampiran 2 : Alat tes (posttest) Perilaku Prososial ………..……….. 65

Lampiran 3 : Hasil Pretest “Perilaku Prososial” Kelompok Eksperimen ……. 77

Lampiran 4 : Hasil Pretest “Perilaku Prososial” Kelompok Kontrol ……….... 82

Lampiran 5 : Hasil Posttest “Perilaku Prososial” Kelompok Eksperimen …… 87

Lampiran 6 : Hasil Posttest “Perilaku Prososial” Kelompok Kontrol ……….. 92

Lampiran 7 : Skenario Bermain Pura-pura …...………... 97

Lampiran 8 : Hasil Observasi ……..……….…… 102

Lampiran 9 : Hasil Perhitungan Analisa Data …...………..….… 108

Lampiran10: Surat Penelitian ………... 111

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Anas, Z. (2009). Pendidikan dalam budaya. Diakses 25 Juni 2010 dari http://fikrieanas.wordpress.com/budaya-dan-pendidikan/

Astrilia, A. (2009). Peranan orang tua dalam membentuk perilaku prososial remaja (Studi tentang kontribusi perilaku prososial remaja terhadap kesejahteraan sosial di kelurahan Surabaya kecamatan Kedaton Bandar Lampung). Skripsi. Lampung: Universitas Lampung.

Azwar, S. (2005). Dasar-dasar psikometri. Yogyakarta : Pustaka pelajar.

Brigham, J. C (1991). Social psychology second edition. Florida : Harper Collins Publisher.

Brodkin, A. M. (2005). The power of pretend play. Diakses 01 Juli 2010 dari http://place.scholastic.com/earlylearner/expert/behavior/3_5dramaticplay.ht ml

Dayakisni, T., & Hudaniah (2001). Psikologi sosial. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang Press.

Djaali. (2000). Pengukuran dalam bidang pendidikan. Jakarta : Program Pasca Sarjana.

Hughes, F. P. (1991). Children play and development. Allyn and Bacon A Devision of simon & Schuster inc massachusetts.

Hurlock. E. B. (1978). Perkembangan anak jilid 1. Jakarta : Erlangga.

___________. (1980). Psikologi perkembangan. Jakarta : Erlangga.

Indranegara, S. (2010). Anak-anak kita seringkali menghabiskan waktu dengan

bermain. Diakses 02 Januari 2011 dari

(13)

Latipun. (2004). Psikologi eksperimen. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang Press.

Natanael, Y & Sufren. (2010). Peran media televisi terhadap perilaku prososial anak-anak TK (kajian non-empiris). Skripsi. Jakarta: Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara.

Patmonodewo, S. (2003). Pendidikan anak prasekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

Rohmah, D. A. (2007). Efektivitas jigsaw learning terhadap pembentukan perilaku pro-sosial santri PP Nurul Huda Mergosono Malang. Skripsi. Malang: Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri.

Santrock. J. W. (2002). Life span development. Jakarta : Erlangga.

Sears, D. O., Freedman, J. L., Peplau, L. N. (2001). Psikologi sosial. Jakarta : Erlangga.

Sulaiman. W. (2003). Statistik non parametric : Contoh kasus dan pemecahannya. Yogyakarta: Andi.

Virdhani, M. H. (2009). 5 ribu anak Indonesia tersangkut kasus hukum. Diakses 11 Januari 2011 dari http://news.okezone.com/ edisi 21 Juli 2009.

(14)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kasus anak yang terlibat dalam pelanggaran hukum, dari tahun ke tahun secara kuantitas mengalami peningkatan. Berbagai pelanggaran dari yang berskala ringan hingga berat tentu saja membutuhkan perhatian dari pihak-pihak yang memiliki kompetensi dalam hal penegakan hukum (Kedaulatan Rakyat, 12 Juli 2007). Bahkan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Anak menyebutkan sebanyak 5 ribu anak di Indonesia saat ini tersangkut hukum pidana, dan tengah menjalani proses persidangan (Virdhani, 2009). Kondisi seperti ini menunjukkan lunturnya perilaku prososial pada anak sekarang ini. Oleh karena itu sangatlah penting pembelajaran dan pengarahan prososial harus ditanamkan sejak sedini mungkin atau sebelum anak memasuki bangku sekolah (pra sekolah) karena pada masa ini adalah masa emas untuk penanaman perilaku prososial pada anak.

Dunia anak-anak memang serba ingin tahu, apa yang dilihatnya pasti akan segera ditirunya (Inderanegara, 2010). Masa anak merupakan fase meniru dan fase berkelompok dengan teman sebayanya. Pada masa ini anak akan mengembangkan perilaku sosialnya berdasarkan hal-hal yang dilihatnya sehari-hari baik secara langsung maupun tidak langsung seperti melalui media masa serta pengaruh sosial dari lingkungan sekitar dan teman sebayanya.

(15)

2

Brigham (1991) menyimpulkan beberapa cara untuk meningkatkan perilaku prososial antara lain melalui penanyangan model perilaku proses melalui media komunikasi dengan cara modeling dan memiliki efek bersosialisasi dengan anggapan positif tentang sifat-sifat manusia dalam diri setiap individu, dengan menciptakan suatu pandangan bahwa setiap orang adalah bagian dari keluarga besar manusia didunia sehingga dapat meningkatkan empati, menekankan perhatian pada norma-norma sosial seperti tanggung jawab sosial yang dapat ditanamkan orang tua dan guru atau pendidik baik tokoh masyarakat ataupun pemerintah juga memberi motivasi masyarakat untuk bertindak prososial seperti mengadakan perancangan program-program sosial.

Rohmah (2007) melakukan penelitian tentang Efektivitas Jigsaw Learning Terhadap Pembentukan Perilaku Prososial Santri PP Nurul Huda Mergosono

Malang. Hasil penelitiannya menunjukkan, pada kelompok eksperimen diketahui

mayoritas subjek memiliki tingkat perubahan perilaku prososial, dengan kategori tinggi pada saat pretest dan posttest. Dari hasil tersebut, diketahui mean pada saat sebelum dan sesudah perlakuan mengalami kenaikan atau perbaikan cukup tinggi. Pada kelompok kontrol juga sama, mayoritas subjek memiliki tingkat perubahan perilaku prososial pada kategori tinggi. Namun perbedaannya tidak begitu tampak. Dari datanya, diketahui mean pada saat sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok ini mengalami kenaikan, namun kenaikannya tidak begitu tinggi. Uji t terhadap variabel pembelajaran jigsaw learning (X) didapatkan thitung sebesar -3,276 dengan signifikansi t sebesar 0,004. Karena thitung lebih besar ttabel (-3,276>1,993) atau signifikansi t lebih kecil dari 5% (0,004>0,05), maka secara parsial variabel pembelajaran jigsaw learning (X) berpengaruh signifikan terhadap variabel perilaku prososial (Y). Dengan kata lain, pembelajaran jigsaw learning sangat efektif dalam menumbuhkan perilaku prososial santri PP. Salafiyah Syafi’iyah Nurul Huda Mergosono Malang.

(16)

3

Religi. Adapun bentuk-bentuk perilaku prososial tersebut antara lain: berbagi, bekerjasama, menolong, jujur, menyumbang dan merawat. Perilaku prososial mempunyai konsekuensi sosial positif yang ditujukan bagi kesejahteraan sosial (social welfare). Bentuk-bentuk dari kesejahteraan sosial yang merupakan hasil dari perilaku prososial remaja tersebut antara lain terciptanya kerukunan, interaksi yang baik antar warga, erat persaudaraan, dan tidak adanya diskriminasi dalam masyarakat.

Hasil penelitian Nathanael & Sufren (2010) tentang peran media televisi terhadap perilaku prososial anak-anak TK (kajian non empiris) menunjukkan bahwa televisi sebagai salah satu media massa yang paling kuat dalam memberikan pengaruh kepada masyarakat, terutama dalam hal respons perilaku. Respons perilaku tersebut dapat berupa perilaku positif atau negatif tergantung dari informasi yang disajikan oleh tayangan televisi tersebut. Kasus Prita merupakan salah satu contoh tayangan yang memberikan respons perilaku positif kepada anak-anak pra sekolah. Perilaku positif yang muncul adalah perilaku prososial, yaitu mengumpulkan koin.

Masa anak-anak adalah masa yang sangat penting bagi perkembangan dan pendidikan anak untuk ke depannya. Pada masa anak-anak ini, anak belajar untuk menjalin hubungan pertemanan dan menjalin hubungan sosial dengan orang lain. Anak akan menirukan pembicaraan yang di dengarnya dan menirukan perilaku atau perbuatan yang dilihatnya. Hasil pembelajaran dan pengalaman yang diperoleh anak nantinya akan menentukan bagaimana penyesuaian dirinya dengan orang lain. Untuk dapat menyesuaikan diri dengan baik, anak perlu banyak mendapatkan pembelajaran dan contoh-contoh yang baik dimana semua itu harus diberikan sejak anak berusia empat sampai lima tahun, karena pada saat itu anak mulai berinteraksi dan bermain dengan teman sebayanya.

(17)

4

perkembangan kedewasaan. Dalam arti, mereka meningkat sesuai usia mereka melalui tahun-tahun pra sekolah.

Menurut Hurlock (1980) masa kanak-kanak dimulai setelah masa bayi yang penuh dengan ketergantungan, yakni kira-kira usia 2 tahun sampai saat anak mengalami kematangan secara seksual, yaitu untuk wanita 13 tahun dan 14 tahun untuk laki-laki. Hurlock (1980) mengatakan bahwa awal masa kanak-kanak berada pada usia 2-6 tahun dimana pada masa itu menyebutnya sebagai usia prasekolah atau “prakelompok”. Anak prasekolah adalah mereka yang berusia 3-6 tahun. Mereka biasanya mengikuti program prasekolah. Umumnya pada usia 3 tahun anak mengikuti program Play Group dan setelah itu biasanya mereka mengikuti program Taman Kanak-kanak pada usia 4-6 tahun.

Anak mempunyai rasa ingin tahu terhadap hal-hal yang beru dilihatnya, juga mengenai tubuhnya sendiri dan tubuh orang lain (Hurlock, 1980). Anak selalu ingin mencoba sesuatu atau hal baru yang belum pernah dia kerjakan dan terus bertanya apabila dia belum mendapatkan jawaban yang memuaskan baginya. Tidak jarang anak memperhatikan, membicarakan, dan bertanya tentang berbagai hal yang pernah dilihat dan didengarnya.

Menurut Hughes (1991) anak usia 3-6 tahun pada umumnya melakukan permainan pura-pura sebagai suatu refleksi dari kematangan sosialnya. Pada usia ini anak mulai bertanya pada orang lain jika hendak melakukan sesuatu, hal ini diikuti oleh interaksi sosialnya dengan melakukan kerjasama pada teman sebayanya serta terlibat pada nilai-nilai keanggotaan kelompok bermainnya. Perilaku anak yang muncul sangat dipengaruhi oleh teman sebayanya karena pada masa ini merupakan masa dimana anak suka berkelompok dan mengutamakan penerimaan pada kelompoknya.

(18)

5

memberikan pengetahuan dan permainan tentunya orang tua dan guru dapat memilih metode yang tepat dalam kegiatan pembelajaran yang sesuai pada anak usia dini.

Bermain merupakan dunianya anak-anak. Melalui bermain mereka akan mengenal sekaligus belajar tentang berbagai hal akan kehidupannya. Bruner (dalam Hurlock, 1980) mengatakan bahwa bermain dalam masa kanak-kanak adalah “kegiatan yang serius” yang merupakan bagian penting dalam perkembangan tahun-tahun pertama masa kanak-kanak.

Permainan yang paling sering digunakan pada awal masa kanak-kanak di Taman Kanak-kanak dan Play Group adalah permainan pura-pura yang bersifat simbolis. Bermain pura-pura merupakan salah satu metode yang dapat digunakan pada anak pra sekolah di taman kanak-kanak. Bermain pura-pura merupakan permainan yang memerankan tokoh-tokoh atau benda-benda di sekitar anak sehingga dapat mengembangkan daya khayal atau imajinasi mereka untuk menggantikan objek atau situasi sesungguhnya. Menurut Santrock (2002) permainan pura-pura atau simbolis terjadi ketika anak mentransformasikan lingkungan fisik ke dalam suatu simbol. bermanfaat bagi anak dalam meningkatkan penggunaan benda-benda di dalam permainan simbolis mereka. Mereka belajar mentransformasikan benda-benda dengan menggantikan benda itu dengan benda lain dan memperlakukan benda tersebut seperti benda yang digantikannya.

Mengingat permainan pura-pura bermanfaat dalam peningkatan perilaku prososial anak, maka peneliti mencoba menggabungkan kedua jenis permainan tersebut, yakni permainan pura-pura dan permainan sosial yang disebut bermain sosial pura-pura. Bermain sosial pura-pura adalah upaya menggabungkan permainan pura-pura dan permainan sosial. Dengan metode bermain sosial pura-pura tersebut dapat bermanfaat pada anak dalam merangsang kepekaan sosial, mengembangkan kemampuan bekerjasama, berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan dapat memahami hubungan antar sesama. Dengan bermain sosial pura-pura ini anak bisa lebih berempati terhadap lingkungan dan orang lain. Dalam bermain sosial pura-pura, anak diberikan permainan pura-pura yang berkenaan dengan kegiatan sosial dengan teman sebayanya agar anak juga bisa berperan dan berbagi kepada sesama.

(19)

6

prososial anak. Dengan demikian anak dapat mengetahui bahwa orang lain memiliki pikiran dan kebutuhan yang berbeda-beda, dengan ini anak lebih bisa berempati terhadap lingkungan dan orang lain. Hal ini disebabkan karena perilaku prososial dapat meningkatkan empati dimana empati menurut Staub merupakan salah satu dasar terbentuknya prososial (dalam Dayakisni dan Hudaniah, 2001).

Permasalahan pada kemampuan prososial anak dapat mempengaruhi tugas perkembangan anak dan beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya pada masa kanak-kanak. Apabila anak mengalami hambatan dalam bersosialisasi akibatnya anak akan lebih senang menyendiri dan kurang pandai dalam berteman serta tidak jarang anak merasa terkucilkan dari lingkungannya dan ini sangat berpengaruh pada penyesuaian sosial dan pribadi anak nantinya. Oleh karena itu, perilaku prososial sebaiknya ditanamkan sejak anak usia pra sekolah melalui salah satu tugas perkembangan anak yaitu dengan metode bermain.

Berdasarkan hasil pengamatan peneliti di salah satu Taman Kanak-kanak di wilayah Kota Malang, selama ini guru dalam menyajikan kegiatan pembelajaran melalui metode bermain masih belum membedakan antara mana anak yang mempunyai perilaku sosial serta mana yang kurang memiliki perilaku sosial. Metode pembelajaran yang digunakan juga jarang sekali menggunakan metode bermain sosial pura-pura karena adanya alasan masih susahnya untuk mengatur anak-anak dan permainan pura-pura ini sangat menyita waktu untuk memainkannya serta masih kurangnya sarana yang ada. Padahal metode bermain sosial pura-pura ini dapat melatih keterampilan dan kemampuan sosial pada anak serta aspek-aspek perkembangan lainnya.

(20)

7

meningkatkan daya jelajah, dan memberi tempat berteduh yang aman bagi perilaku yang secara potensial berbahaya.

Dari latar belakang permasalahan di atas, peneliti tertarik untuk meneliti tentang pengaruh bermain sosial pura-pura terhadap perilaku prososial pada anak pra sekolah.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah bermain sosial pura-pura dapat mempengaruhi perilaku prososial pada anak pra sekolah?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh bermain sosial pura-pura terhadap perilaku prososial pada anak pra sekolah.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat teoritis

Hasil penelitian ini di harapkan dapat memberikan sumbangan ilmiah sebagai bahan masukan bagi perkembangan ilmu psikologi, khususnya yang berkaitan dengan psikologi pendidikan dan perkembangan.

2. Manfaat praktis a. Bagi siswa

Dengan adanya hasil penelitian ini dapat memberikan suasana baru dalam proses pembelajaran yang menyenangkan, karena dalam penelitian ini disajikan langsung dengan melibatkan siswa-siswi secara penuh melalui bermain sosial pura-pura.

b. Bagi guru dan sekolah

(21)

8

pengaruh bermain sosial pura-pura terhadap perilaku prososial pada anak pra sekolah.

c. Bagi peneliti

Peneliti memperoleh informasi terpercaya mengenai pengaruh bermain sosial pura-pura terhadap perilaku prososial pada anak pra sekolah serta dapat dijadikan bekal untuk meningkatkan dan mengembangkan kreativitas, inovasi, keterampilan dalam menyusun, menyajikan pembelajaran yang menarik.

d. Bagi orang tua

Referensi

Dokumen terkait

perilaku prososial tidak terjadi ketika seorang anak ada pada situasi dimana orang1. lain membutuhkan bantuannya akan tetapi pada saat itu ada orang lain

Maka dari itu peneliti melakukan penelitian dengan menggunakan metode storytelling karena perilaku prososial banyak sekali manfaat bagi anak selain agar anak dapat

Hasil penelitian menunjukkan; terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara pola asuh orang tua dengan perilaku prososial remaja di SMA N 1 Merangin dengan nilai

Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh tersebut, maka hipotesis yang menyatakan bahwa ada pengaruh pemberian lagu anak-anak terhadap perilaku prososial anak usia 4- 5

Tujuan penelitian adalah melakukan eksplorasi dan mendeskripsikan bentuk-bentuk perilaku dan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku prososial anak prasekolah. Subjek

Pengukuran perilaku prososial dan pengukuran ekspresi mRNA gen OXTR pada anak usia 4 – 6 tahun ini dapat membantu mengidentifikasi gambaran kepribadian yang merupakan

Altruisme adalah salah satu jenis yang spesifik dari perilaku prososial, yaitu perilaku sukarela yang ditujukan untuk memberi keuntungan kepada orang lain dengan

Oleh karena itu, hal ini dapat menimbulkan reaksi agresif pada anak salah satunya dengan cara marah dan berontak pada orang lain, serta adanya ekspresi verbal dengan cara mengucapkan