• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hukum Progresif dalam Krisis Undang Unda

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Hukum Progresif dalam Krisis Undang Unda"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Hukum Progresif dalam Krisis: Undang-Undang Pornografi, Perlindungan ataukah Objektifikasi Tubuh Perempuan

Rian Adhivira Prabowo1

Satjipto Rahardjo Institute Abstrak

Meski memiliki dampak yang konon berbahaya, pengaturan perihal Pornografi seperti pedang bermata dua. Tahun 2008 silam, ketika Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi masih berupa Rancangan Undang-Undang (selanjutnya penulis sebut dalam singkatan RUU), terjadi dua gelombang demonstrasi yang cukup masif. Kubu yang mendukung pada umumnya berlatar belakang agama dengan mengedepankan isu seputar moralitas, sementara pada sisi lain kubu yang menolak Undang-Undang Pornografi mengangkat isu pluralisme adat kebiasaan dan kriminalisasi tubuh perempuan, dan pada kubu yang kedua inilah yang menjadi tumpuan eksplorasi dalam tulisan ini, dengan catatan bahwa kubu yang kala itu menolak diundangkanya RUU Pornografi dan Pornoaksi dan UU Pornografi juga tidak mendukung persebaran Pornografi. Permasalahan mengenai objektifikasi tubuh perempuan menjadi isu sentral dalam tulisan ini dikarenakan beberapa alasan : pertama, definisi mengenai pornografi yang tak memenuhi kaidah lex certa dan rancu dalam rumusan Undang-Undang Pornografi, pada akhirnya rumusan yang demikian longgar tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai siapakah yang berhak menafsirkan apa yang disebut pornografi maupun yang bukan pornografi. Berangkat dari alasan pertama, poin

kedua bahwa perlindungan tubuh perempuan sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Pornografi memiliki resiko dimana justru perempuanlah yang menjadi obyek dari pengaturan tubuh pornografi itu sendiri, dengan kata lain, tubuh perempuan diterjemahkan dalam kerangka moralitas maskulin yang notabene mendominasi tatanan sosial masyarakat.

Untuk menterjemahkan bagaimana peran hukum dan tubuh perempuan, keberpihakan jelas merupakan hal yang tak dapat dihindari. Tulisan ini akan mengeksplorasi Undang-Undang Pornografi dalam perspektif Feminist Legal Theory. Pada terminal keberangkatan ini pula, hukum progresif berada dalam titik uji yang paling rentan dan dalam konteks Pornografi, ia mengembalikan hukum Progresif dari sisi moral menjadi sisi yang paling manusiawi, yaitu sebagai upaya politik emansipasi dalam kerangka perlindungan tubuh perempuan.

Kata Kunci : Pornografi, Teori Hukum Feminis, Hukum Progresif

1

(2)

Kodifikasi Tubuh

Seksualitas adalah rezim representasi, ia tidak hanya berbicara melulu perihal bagaimana penis melakukan penetrasi terhadap vagina, namun, sebagai kebenaran yang meresap kemana-mana, seksualitas menampilkan dirinya dalam beragam fascade. Meski seksualitas meresap sebagai representasi atas berbagai hal, namun ia juga dilarang,2 fantasi dan kenikmatan dihalangi lewat kekuasaan menabukan perayaan atas kebenaran seksualitas melalui sentuhan. Sikap kita mendua dihadapan seks; pada satu pihak ia harus ditutup-tutupi namun di sisi lain seks juga dikejar untuk diutarakan secara vulgar dengan kata lain ia dikejar sebagai suatu yang jorok, namun juga sekaligus menggairahkan (Sindhunata, 2003). Contoh baru-baru ini mengenai sikap seksualitas yang terus dikejar tersebut dapat dilihat pada anjuran MUI yang menganjurkan “segregasi” bagi siswi SMP/SMU yang tidak perawan.3

Dari penampakanya yang beragam tersebut, barangkali tidak ada yang menampilkan representasi atas kodifikasi tubuh dan tata laku kenikmatan dibandingkan dengan apa yang dilabelkan sebagai “pornografi”. Pornografi dengan segala kerancuanya sebagaimana dikatakan oleh Nicola Lacey melampaui ranah perdebatan antara publik dan privat (Lacey, 1993;103)4, Carol Smart mengatakan bahwa permasalahan pornografi adalah pertaruhan mengenai bagaimana feminisme itu sendiri dapat menjalankan peranya dalam bidang hukum (Smart, 1989;114).5 Pornografi menjadi permasalahan pelik, mengingat ia bukan hanya perbincangan mengenai moralitas yang berhubungan dengan nilai-nilai kesusilaan; antara tubuh yang dilarang dan diperbolehkan, namun juga permasalahan mengenai bagaimana penilaian atas tubuh itu dilakukan, suatu hal yang berkaitan dengan penghargaan atas

2

Freud misalnya, berpendapat bahwa seksualitas adalah pemicu dari lahirnya tatanan moralitas manusia melalui tabu primordial dan drama psikoanalisa pembunuhan sang-ayah sebagai prasyarat atas kebebasan (Freud,2003;158) pendapat tersebut setidaknya memberikan gambaran mengenai bagaimana seksualitas sesungguhnya memiliki poin krusial dalam peradaban.

3

http://regional.kompas.com/read/2013/08/20/1259325/MUI.Tes.Keperawanan.Perlu.Masuk.Undang-undang

diakses tanggal 23 Agustus 2014.

4

Dalam negara hukum dengan corak liberal, permasalahan pornografi menjadi permasalahan yang berkaitan dengan perdebatan antara publik dan privat, mengenai sejauh mana negara melalui hukum dapat mengatur tubuh (sebagai hal yang privat) warganegaranya (Lacey, 1993; 371-372). Lacey mendorong perdebatan lebih jauh lagi karena pada dasarnya feminisme tidak hanya permasalahan teori, namun juga strategi praktis (Lacey, 1993: 7 ) bahwa the personal is political . Maka perdebata e ge ai publik-privat menjadi tidak relevan mengingat permasalahan pornografi itu sendiri bagi lacey tidak hanya permasalahan diskriminasi seksual pun ekonomi, melainkan juga subordinasi sosial tentang bagaimana perempuan direndahkan (Lacey; 1993; 368).

5

(3)

tubuh; yaitu permasalahan mengenai identitas dalam artianya yang luas.6 Perdebatan antara feminis menjadi perihal yang tak dapat dihindarkan, bagaimana para feminis dengan beragam aliran maupun latar belakang memandang pornografi merupakan satu sumbangsih besar mengenai sisi preskriptif dalam pengaturan pornografi apakah ia dibebaskan, atau dimasukkan dalam rezim larangan baik berupa pembatasan maupun pelarangan sama sekali.

Karena sikapnya yang mendua tersebut, seksualitas kemudian menjadi perlu untuk diatur, dalam berbagai bentuk, dari tabu hingga hukum, diatur untuk dikendalikan dan dikontrol kebenaran tentangnya. Secara etimologi Pornografi terdiri dari dua kata; Porne yang berarti pelacur [whore] dan Graphos yang berarti tulisan ataupun gambar. Pornografi memiliki arti yang-seksual yang secara eksplisit terdapat dalam suatu karya, dan berbagai hal dalam kehidupan yang mencerminkan hal-hal mengenai pelacur (Danardono, 2009;122).

Perlindungan atau Objektifikasi ?

Permasalahan seputar pornografi sebagaimana diulas diatas, tercermin secara gamblang pada Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi. Rancunya pengertian pornografi, yang menjadi tulang punggung dari Undang-Undang Pornografi memunculkan pertanyaan penting; semangat apakah yang terkandung dalam Undang-Undang Pornografi, apakah ia menjadi pelindung atas pengalaman kebertubuhan perempuan, ataukah ia merupakan instrumen untuk menjustiflasi tubuh perempuan dengan menjadikanya objek. Semenjak diundangkan, Undang-Undang Pornografi sesungguhnya berlaku tidak hanya pada perempuan semata, melainkan juga pada laki-laki. Argumen tersebut pada dasarnya berangkat dari kebutaan asas kesamaan dimuka hukum [equality before the law] yang di Indonesia dijamin dalam Pasal 27 ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945. Apa yang dilupakan adalah bahwa dalam banyak hal, mulai dari pembentukan di gedung dewan hingga penegakan hukum dijalan sesungguhnya ia tidak berlaku secara buta, hukum berjalan dan hanya dapat berjalan dengan mengambil sejumlah nilai-nilai, yang pada dirinya tak pernah netral maupun bebas, hukum, justru bekerja dengan klaim atas kuasa yang saling mengandung kontradiksi satu dengan yang lain, bahwa hukum bekerja melalui klaim terhadap kebenaran yang kemudian menjadi dasar legitimasinya (Smart, 1989;4, 162,164).

Pada masa pembentukanya, Berdasarkan catatan Komnas Perempuan, RUU Pornografi dan RUU Pornografi dan Pornoaksi telah menyedot perhatian besar. Sikap mendukung dan menolak pengaturan Pornografi dilandaskan atas dua hal; wacana moralitas agama dan

6

(4)

wacana pluralisme dan objektifikasi tubuh perempuan (Komnas Perempuan,2011;22-50).7

Kedua titik tersebut, sebagaimana telah diulas oleh Smart dan Danardono, sesungguhnya masih berada dalam satu kerangka berpikir yang sama; yaitu Pornografi sebagai kekerasan. Meskipun begitu, Argumen ormas keagamaan HTI (Danardono, 2009;133) maupun studi akademis dari Ahmad Junaidi (Junaidi, 2012;4), juga penelitian dari Kemenkumham (Kemenkumham, 2010; 138) keliru dengan tidak melihat bagaimana pornografi sebagai sebuah rezim yang dilarang dapat berjalan. Pandangan reduksionis tersebut tidak memperhitungkan satu skema identitas plural, juga bagaimana relasi antar habitus dapat membentuk satu persepsi tentang kebenaran, tentu, yang jadi permasalahan adalah bagaimana satu set kebenaran tersebut bekerja, siapa yang diuntungkan, dan siapa yang tidak. Kelemahan lain adalah bahwa mereka tidak kembali pada acuan normatif yang sesungguhnya menjadi akar permasalahan. Karena kedua argumen berlandaskan satu kerangka berpikir yang sama, yaitu pornografi sebagai kekerasan, maka pemaparan dibawah akan meminjam alur logika yang sama sebagai bentuk kritik. Apabila dirunut dari pendefinisian pornografi, Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi mendefinisikan pornografi sebagai berikut :

Pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foro, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh atau bentuk pesan lainya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat.

Ketentuan sosiologis dalam definisi pornografi yang menjadi tumpuan dari seluruh pasal lain dalam undang-undang tersebut dapat terlihat pada frasa “[...] yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat” mengingat kondisi

masyarakat Indonesia yang plural dengan beragam nilai yang berbeda satu sama lain, ketentuan tersebut mensyaratkan kepekaan yang luar biasa pada nilai-nilai tempat undang-undang tersebut diterapkan sehingga dalam implementasinya tidak bisa dipersamakan satu sama lain. Rancunya definisi pornografi tersebut tampak kontradiktif pada Pasal 2 yang menyatakan sebagai berikut :

Pengaturan pornografi berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa, penghormatan terhadap harkat dan martabat kemanusiaan, kebinekaan, kepastian hukum, nondiskriminasi, dan perlindungan terhadap warga negara.

Menurut Pasal 2, undang-undang pornografi dilahirkan untuk memberikan jaminan kepastian hukum, yaitu sisi legalitas, namun disisi lain, ketentuan dari definisi mengenai apa yang disebut sebagai porno berikut batasan mengenai pornografi dan yang bukan pornografi tak pernah jelas, hal tersebut diperburuk dengan tidak adanya keterangan lebih lanjut. Dalam bagian penjelasan, definisi mengenai pornografi dalam pasal 1 angka 1 adalah “cukup jelas”.

7

(5)

Kontradiksi ini menunujukkan satu hal, bahwa definisi klasik dikotomis yang menganggap bahwa hukum adalah salah satu dari bentuk “kebiasaan” maupun “yang tertuang dalam undang-undang” sudah tak dapat lagi mencukupi untuk memahami mekanisme dalam pengaturan undang-undang pornografi bekerja.

Definisi Pornografi yang bersifat tautologi tersebut mengarah pada pernyataan bahwa pada satu sisi untuk melakukan kualifikasi delik pornografi yang terjadi –tentu saja- dalam kehidupan sosial, ia harus tercantum sesuai dengan rumusan Undang-Undang sebagaimana tertera dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP dan Pasal 6 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman, namun pada sisi lain Undang-Undang mengembalikan definisi tersebut kepada yang sosial. Patut diingat bahwa pencarian atas delik pornografi dapat dilangsungkan melalui “kejelian” hakim sebagaimana terdapat dalam Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman menyatakan bahwa hakim wajib menggali nilai yang hidup di masyarakat dan Doktrin Hukum Pidana mengenai Sifat Melawan Hukum Materiil dalam Artian yang positif juga memungkinkan pemidanaan sesuai dengan nilai dan norma setempat. Namun argumentasi tersebut tidak dapat dijadikan acuan yang berguna dalam studi ini, ia tidak relevan sejauh masih memberi acuan pada tatanan nilai secara telanjang, alih-alih interpretasi kritis atas nilai tersebut. Namun pada titik inilah saya mengajukan satu pendapat; bahwa disinilah pornografi mengalami deadlock, jalan buntu pornografi. Hal ini membawa kita pada satu permasalahan metodologi dalam merumuskan peraturan mengenai pornografi, yaitu bahwa penentuan mengenai norma maupun nilai yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan batas kesusilaan tidak dapat diterima begitu saja secara an sich, interpretasi dankeberpihakan, dengan demikian, menjadi dua hal krusial yang dipertaruhkan.

Maka argumen para kubu penolak RUU maupun UU Pornografi akan objektivikasi tubuh perempuan menjadi dapat dimengerti.8 Simone de Beauvoir, feminis sekaligus filsuf dalam

The Second Sex menyatakan bahwa dihadapan tatapan laki-laki, perempuan, entah dalam masyarakat maternal maupun paternal adalah objek sang patriark, yang membuat perempuan kehilangan subyektivitasnya. Simone mengatakan :

“When man makes of woman The Other, he may, then expect her to manifest deep-seated tendency towards complicity. Thus woman may fail to lay claim to the status of subject because she lacks definite resources, because she feel the necessary bond that ties her to man regardless of the reciprocity” (de Beauvoir, 1956; 20)

Disamping kelemahanya yang mengandaikan pemisahan dikotomis antara laki-laki dan perempuan, argumen Simone –dan tentu saja Gilligan- memberikan satu sumbangsih penting dengan menunjukkan bahwa nilai-nilai dan struktur merupakan nilai yang disuntikkan oleh laki-laki kepada perempuan (de Beauvoir, 1956;159). Jadi mengikuti argumen ini, perempuan selalu berada dalam posisi yang tidak menguntungkan, perempuan berada di dunia dimana akumulasi dan sirkulasi nilai maskulin menjadi acuan, perempuan kehilangan diri dan tak

8

Meski bukan tanpa catatan, karena kedua pihak baik penolak maupun pendukung sesungguhnya sama-sama menolak peredaran pornografi dengan alasan bahwa pornografi memberikan dampak buruk. Argumen ini

sesu gguh ya gagal elihat por ografi sebagai sebuah situs perlawa a terhadap or alitas tubuh ya g

(6)

pernah menjadi diri.9 Maka menjadi jelas disini, alih-alih melindungi, sebagaimana tertera dalam Pasal 2, UU Pornografi melalui kerancuan definisi dan segala bentuk adopsi nilai-norma-moral secara ansich justru merupakan objektivikasi terhadap perempuan.

Sampai disini saya bersepakat dengan Donny Danardono maupun Carol Smart, yang mengatakan bahwa pornografi adalah masalah representasi, yaitu bagaimana ia dipandang sebagai perwakilan atas suatu gambaran terlarang atas satu konten seksualitas tertentu. Namun saya melihat bahwa kritik Danardono atas sikap Smart tentang “festisisme hukum” (Smart, 1989;136-137) sebagai satu sikap pesimis (Danardono, 2006;22) adalah tidak memadai. Danardono yang menyadari rancunya definisi dalam Undang-Undang Pornografi tidak melihat bahwa hal itu justru membuat kritik festisisme hukum menjadi relevan. Danardono melihat bahwa upaya Smart untuk “decentring-the-law” adalah upaya untuk sama sekali meninggalkan hukum, namun sesungguhnya Smart pada awal bukunya telah memberikan klarifikasi, tujuan ia bukan secara simpel meninggalkan hukum, melainkan memberikan perlawanan pada hegemoni sistem hukum (Smart, 1989;5).10 Kelanjutan argumen ini akan diperjelas diakhir tulisan.

Saya telah utarakan sebelumnya, bahwa studi mengenai pornografi baru akan menemukan titik kritisnya apabila ia selalu bersikap curiga terhadap nilai yang menjadi sumber dari sisi preskriptif dalam pembentukan peraturan yang menyangkut tubuh. Pornografi secara gamblang dapat dikatakan sebagai gambaran tentang pelacur. Definisi tersebut menurut Dworkin adalah gambaran paling tepat mengenai bagaimana pornografi seharusnya dipandang; yaitu sebagai gambaran perempuan sebagai pelacur (Dworkin, 1989; 200), satu pandangan pornografi sebagai kekerasan, namun Dworkin, bersama Mackinnon sesungguhnya telah beranjak dari definisi tersebut. Sebagaimana dikatakan Smart, Dworkin bersama Mackinnon memberikan sumbangsih besar ketika menyusun Mineassota Ordinance (Smart, 1989; 134-135).11 Melalui Human Right Ordinance of the City of Minneapolis, meski pada akhirnya gagal, Dworkin dan Mackinnon telah melangkah dari perspektif sensor, bahwa pornografi sebagai kekerasan dari erotisasi relasi seksual, yang menolak pornografi sama sekali (Mackinnon, 1987; 134-145),12 menuju pemahaman mengenai kesetaraan relasi, mereka memberikan satu definisi baru mengenai pornografi sebagai berikut;

Pornography is defined as the graphic, sexually explicit subordination of women in pictures and/or words that also includes women presented dehumanized as sexual objects, things or commodities; or women presented as sexual objects who experience

9

Bagi Simone, tata rias, perkawinan adalah topeng dan tembok yang menghalangi perempuan untuk berinteraksi secara langsung dengan realitas. Nilai maskulin dengan demikian mengatur juga dunia mitos mengenai tubuh perempuan. Misalkan pada mitos virginitas/keperawanan, entah dimana keperawanan menjadi satu yang sakral (properti) maupun sebagai suatu yang tabu (iblis), keduanya berada dalam penandaan laki-laki (de Beauvoir, 1956; 172-173).

10“ art e gataka

I am not suggesting we can simply abolish law,but we can resist the move toward more law and the creeping hege o y of legal order

11 Meski ke udia “ art bersikap waspada terhadap fetisis e huku , yaitu pe a baha terus

-menerus dosis aturan, dimana seolah-olah rezim peraturan akan menyelesaikan masalah begitu saja.

12

(7)

sexual pleasure in being raped; or women presented as sexual objects tied up or cut up or mutilated or bruised or physically hurt; or women presented in postures or positions of sexual sub mission, servility, or display; or women’s body parts-including but not limited to vainas, breasts, buttocks-exhibited such that women are reduced to those parts; or women presented as whores by nature; or women presented being penetrated by objects or animals; or women presented in scenarios of degradation, injury, torture, shown as filthy or inferior, bleeding, bruised, or hurt in a context that makes these conditions sexual. If men, children or transsexuals are used in any of the same ways, the material also meets the definition of pornography. (Dworkin, 1989;xxxiii)

Definisi tersebut menarik karena ia menjembatani antara dua aliran besar feminis sebagaimana disebutkan diatas; sebagai kekerasan atau representasi, juga menjembatani perdebatan antara ruang publik dan privat. Definisi ini tidak menolak sama sekali sensor, melainkan mengatur relasi seksual yang “setara”, delik kejahatan baru terpenuhi apabila dalam tulisan maupun gambar yang bersangkutan memuat konten yang merendahkan pasangan seksualnya. Selain itu, Andrea mengatakan bahwa definisi yang kongkrit diatas memungkinkan bagi siapapun yang merasa dirugikan oleh pornograf untuk mengajukan tuntutan. Tapi definisi tersebut bukan tanpa kritik, memang betul definisi tersebut telah menjawab permasalahan privat, juga apabila ditaruh dalam konteks delik aduan (semisal seseorang merasa dirugikan apabila video pribadinya dibocorkan ke publik), namun pada ranah publik, bagaimana menjawab kejahatan publik mengenai kejahatan atas moralitas/kesusilaan publik, definisi bahwa pornografi dikatakan menyimpang bila mengandung muatan ketimpangan seksual tentu akan memperoleh banyak pertentangan di negara dunia ketiga (seandainya ada wacana untuk mengadopsi draft tersebut).

Hukum Progresif; Khotbah Moralitas atau Harapan Emansipasi?

Aspek kedua dalam tulisan ini adalah menguji status hukum progresif dengan problem pornografi; bahwa permasalahan mengenai pornografi, sebagaimana telah dijelaskan menghadapi deadlock, permasalahan yang terdapat dalam dua sisi sekaligus; dari sisi normatif yaitu lewat pengaturan yang tidak jelas definisinya dan dari sisi sosiologis karena pada dasarnya definisi dalam UU Pornografi mengembalikan kepada yang-sosial yang sebagaimana telah dijelaskan juga, mengandung “potensi” mengenai ketimpangan sosial. Hukum Progresif yang pada dasarnya hanya bisa hidup dalam satu kondisi khusus, yaitu untuk melampaui kebuntuan normatif maupun kebuntuan prosedural dalam berhukum dengan mengambil yang lain, melalui penggalian terhadap bidang yang lain (Rahardjo, 2008; 42-45).13

Hukum Progresif, dihadapan permasalahan seputar Pornografi-sebagai pelindung maupun objektifikasi perempuan berada dalam pertaruhan, sebuah pertanyaan yang merupakan kajian teoritik dalam tulisan ini. Adegium “Hukum untuk manusia” menjadi tolok uji disini; apabila

13

(8)

memang hukum untuk manusia, maka manusia macam apa yang layak untuk dilindungi secara hukum. Satu hal yang kerapkali luput dari perhatian para peminat kajian Hukum Progresif adalah jebakanya untuk masuk terlalu dalam kepada kubangan khotbah moralitas14 daripada kesadaran akan kebutaan kita untuk melihat bahwa pada dasarnya konsepsi mengenai manusia tak pernah lepas dari satu konteks historis.15 Terlebih pada permasalahan perempuan, yang dalam banyak konteks berada pada marjinalisasi ganda, baik kelas, maupun seks. Pornografi tidak dapat diselesaikan dengan moralitas, sebagaimana tertera dalam Pasal 1 angka 1 dan Pasal 2 UU Pornografi karena persis dari situlah masalahnya, tak jelas moralitas apa yang dijadikan acuan meski kecurigaan harus tetap diarahkan pada moralitas patriarkis sebagaimana dikatakan de Beuvoir.

Apakah problem pornografi ini akhir dari –taruhlah- status teorisasi hukum progresif? Saya kira jawabanya tidak. Apabila kita memperluas definisi hukum itu sendiri Hukum Progresif justru menjadi relevan meski dengan catatan bahwa pertama-tama harus dimengerti bahwa hukum progresif bukan kebenaran, melainkan “sarana” kebenaran, barang tentu antara yang pertama (kebenaran) berbeda dengan yang kedua (sarana). Hukum, dengan demikian bukan hanya permasalahan otoritas, namun juga legitimasi, dalam artian atas kepentingan siapakah hukum tersebut berlaku. Pertanyaan mengenai legitimasi membuat adegium “Hukum untuk manusia” kehilangan momenya yang sakral yang membuat ia dengan sendirinya benar (karena adegium itu sendiri merupakan sarana), ia menjadi profan, dan tentu tidak ada yang salah dengan hal ini. Maka “Hukum untuk manusia” menjadi sama kedudukanya dengan upaya-upaya rekognisi terhadap hukum (positif), yang berarti sekaligus merupakan pengakuan hak (Douzinas,2007 ;7). Lebih jauh lagi, “Hukum untuk manusia”, membuat kata Progresif itu sendiri selalu merupakan pertaruhan atas subyektivitas dalam hal rekognisi tadi. Maka argumen moral-pun dapat diterima disini, tentu bukan dalam rangka pengkhotbahan, melainkan sebagai salah satu upaya untuk mencapai tujuan tertentu, yaitu dalam artianya yang politis, dan selalu merupakan satu pertaruhan. “Hukum untuk Manusia” memperoleh kedudukan yang sama dengan gerakan-gerakan yang mengguncang kemapanan hukum, ia menjadi setara dan sekaligus bersinonim dengan –sebagia contoh- “Tanah untuk Rakyat”, “Seni untuk Rakyat”,

Apa konsekuensi dari perluasan cara berpikir tersebut? Ketiadaan definisi pornografi membuat upaya yang tersandar dalam peraturan menjadi buntu, dan untuk mengatasi kebuntuan tersebut, sebagaimana dikatakan oleh Smart, satu-satunya jalan adalah melalui

14

Meski sesungguhnya Satjipto beberapa kali menyinggung perihal moralitas.

15

(9)

perlawanan terhadap bagaimana hukum bekerja, melalui pertanyaan atas landasan asumsi bagaimana hukum bekerja (Smart, 1989; 165).16 Apabila betul bahwa pornografi merupakan gambaran dari kekerasan, juga representasi kondisi seksualitas, maka perlawanan subversif atas pemberian definisi tentang “seks” dan “gender” yang “menyimpang” sebagaimana terdapat dalam penjelasan Pasal 4 ayat (1) huruf a yang mengkategorikan perilaku seksual lesbian dan homoseksual sebagai menyimpang17 menjadi perlawanan untuk mengguncang definisi seks dan gender itu sendiri yang dengan sendirinya merupakan perlawanan terhadap normalitas (McLaughlin, 2003; 140-141). Lebih jauh lagi, perlawanan subversif dapat dilakukan justru melalui media pornografi atau batas-batas pornografi itu sendiri, melalui penampilan seni, fotografi, puisi yang bermain-main dengan definisi baik seks maupun gender, menuju seks, gender alternatif maupun melampaui batas-batas biologi, juga makna dari identitas itu sendiri (Butler, 2007;41, 88), dimana gender-seks menjadi rancu dan semata hanya dapat dilihat sebagai hal yang performatif (Butler, 2007;190).

Akhirnya

Uraian diatas menunjukkan beberapa hal yang saya kira penting; (1) UU Pornografi beserta masalah pendefinisianya (2) Problem Pornografi vis a vis Hukum Progresif. Problem kedua, yang merupakan konsekuensi dari deskripsi problem sebelumnya menunjukkan bahwa apa yang dimaksud dengan Hukum Progresif adalah selalu hukum dalam artianya yang luas, karena ia tak dapat bekerja dari definisi sempit mengenai hukum (positif) saja, sebagai konsekuensinya, pergeseran dari yang sakral menuju yang profan tentu tidak dapat dihindari, meletakkanya sebagai instrumen kebenaran, ia tak benar pada dirinya. Kembali pada problem pornografi, hasil deskripsi dari kedua bahasan tersebut merujuk pada problem metodologis, yaitu bahwa pengambilan “nilai” sebagai tambalan atas rancunya definisi pornografi begitu saja tidaklah menyelesaikan masalah karena apa yang disebut nilai memiliki potensi bahwa dirinya merupakan hasil luaran dari struktur sosial –maskulin- yang mapan dan memberi objektivikasi tubuh perempuan. Jalan keluar yang dihadirkan jelas ; melalui redefinisi baik hukum (sebagaimana dilakukan oleh Dworkin dan Mackinnon), maupun perlawanan subversif melalui seruan terhadap kemampuan hukum dalam melakukan klaim atas kebenaran. Pada akhirnya pokok permsalahan bukan permasalahan pengaturan, melainkan bagaimana tubuh-tubuh berbicara.

Daftar Pustaka

Danardono, Donny. Teori Hukum Feminis: Menolak Netralitas Hukum, Merayakan Difference dan Anti-essensialisme dalam Irianto, Sulistyowati (ed). Perempuan dan Hukum;

16

Smart mengatakan Law a ot e ig ored pre isely e ause of its power to defi e, ut fe i is ’s strategy should be focused in this power rather than on constructing legal policies whihc only legigimate the legal forum

a d the for of law . Jelas, bagi Smart menoleh pada hukum semata jelas bukanlah jawaban karena hukum

hanyalah akan mereproduksi bahasa hukum dan hanya berlaku di momen tertentu. Jauh lebih penting untuk melakukan perlawanant terhadap kekuasaan hukum dalam melakukan definisi dengan memberikan pandangan feminis untuk meredifinisi klaim hukum terhadap kebenaran.

17

(10)

Menuju Hukum yang Berperspektif Kesetaraan dan Keadilan. Yayasan Obor Indonesia. 2006. Jakarta.

Danardono, Donny. Post –Pornografi: Paradoks Hukum dalam Mengatur Grafis Seks dalam Cahyadi, Antonius & Donny Danardono(ed). Sosiologi Hukum Dalam Perubahan. Yayasan Obor Indonesia. 2009. Jakarta.

de Beauvoir, Simone. The Second Sex. Jonathan Cape. 1956. London.

Dworkin, Andrea. Pornography; Man Possessing Women. A Plume Book. 1989. New York.

Douzinas, Costas. Human Right and Empire. Routledge-Cavendish. 2007. New York.

Freud, Sigmund. Totem and Taboo. Routledge. 2003. New York & London.

Mackinnon, Catherine. Feminism Unmodified, Discourses on Life and Law. Cambridge, Massachusetts & London. 1987.Harvard University Press.

McLaughlin, Janice. Feminist Social and Political Theory, Contemporary Debates and Dialogues. Palgrave Macmillan. 2003. New York.

Minow, Martha. Feminist Reason: Getting it and Losing it dalam Weizberg, Kelly (ed).

Feminist Legal Theory Foundations. Temple University Press. 1993. Philadelpia.

Rahardjo, Satjipto. Ilmu Hukum. Citra Aditya. 2006. Bandung.

Rahardjo, Satjipto. Membedah Hukum Progresif. Kompas. 2008. Jakarta.

Sindhunata. Seks Undercover; Ikon Bokong Inul. Majalah Basis No 03-04. Maret-April 2003.

Smart, Carol. Feminism and The Power of Law. Routledge. 1989. New York & London.

Komnas Perempuan. Seksualitas dan Demokrasi, Kasus Perdebatan UU Pornografi di Indonesia. Jakarta. 2011.

Junaidi, Ahmad. Porno! Feminisme, Seksualitas dan Pornografi di Media. Grafindo. 2012. Jakarta.

Kemenkumham RI. Analisis dan Evaluasi Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi. Jakarta. 2010.

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu tidak mungkin membahas seluruh persoalan dalam satu tulisan yang relatif singkat, maka permasalahan studi ini difokuskan dalam tiga permasalahan utama

Pendekatan yuridis adalah suatu pendekatan yang dilakukan atau yang digunakan untuk menjadi acuan dalam menyoroti permasalahan aspek-aspek hukum yang berlaku, pendekatan

Berdasarkan hal tersebut, politik hukum yang akan dipilih oleh penyusun RUU Perubahan Kedua UU Narkotika untuk mengatasi peredaran zat psikoaktif baru di Indonesia adalah dengan

Tulisan ini mengkaji 1.Bagaimana kedudukan hukum anak angkat terhadap hak waris dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdatadanhukum Islam ?2.Manakah di antara kedua sistem hukum

Tulisan ini mengkaji 1.Bagaimana kedudukan hukum anak angkat terhadap hak waris dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdatadanhukum Islam ?2.Manakah di antara kedua sistem hukum

Struktur negara Indonesia adalah di antaranya sebagaimana terdapat di dalam Pasal 18 ayat (1) Amandemen kedua UUD 1945, yaitu : “Negara Kesatuan Republik Indonesia

Kedua, dalam aspek pengembangan objek pemajuan kebudayaan, termaktub bahwa setiap orang dapat melakukan pengembangan objek pemajuan kebudayaan, sesuai Pasal 30 Ayat 2; yang dijelaskan

Dari uraian mengenai permasalahan kedua yang sedang di teliti pada pasal 4 ayat 1 Undang-undang Pornografi yang dipahami oleh penulis perlu adanya penyusunan kembali dalam kata