PENGARUH EFEKTIVITAS KOMITE AUDIT, UKURAN
PERUSAHAAN DAN LEVERAGE TERHADAP KUALITAS
LAPORAN KEUANGAN
(Analisis Laporan Tahunan Perusahaan Real Estate Property DanKonstruksi
Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Pada 2010-2014)
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi
Disusun Oleh :
FITRIA WARDANI
1111082000070
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
I. IDENTITAS
1. Nama : Fitria Wardani
2. Tempat & Tanggal Lahir : Wonogiri, 13 Februari 1993
3. Alamat : Jl. Inpres No.6 Rt 004/009, Pamulang 2
4. Telepon : 085711539835
5. Email : [email protected]
6. Ayah : Warimin
7. Ibu : Wakik
8. Anak ke- : 1 dari 3 bersaudara
II.PENDIDIKAN FORMAL
1999-2005 : SDN Bangka 01 – Jakarta Selatan
2005-2008 : SMP Taruna Mandiri – Tangerang Selatan
2008-2011 : SMAN 2 Kota Tangerang Selatan
2011-2015 : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
III. PENGALAMAN ORGANISASI
1. Kadiv. Pengembangan Minat dan Bakat (PMB) Koperasi Mahasiswa UIN
Jakarta 2014
2. Divisi Publikasi dan Dekorasi Laboratorium Pojok Bursa FEB UIN
Jakarta 2013
IV. PENGALAMAN KERJA
1. Magang sebagai Junior Auditor di KAP Drs. Basri Harjosumarto
(Maret 2015 – Mei 2015)
ABSTRACT
The Effect of Effectiveness of Audit Committee, Firm Size and Leverage to
Financial Reporting Quality
The purpose of this research is to determine impact of the effectiveness of audit committee (size of audit committee, frequency of meeting of audit committee, accounting expert of audit committee), firm size and leverage to financial reporting quality. This research was conducted by selecting 25 real estate properties and constructions firms listed in Indonesia Stock Exchange period 2010 to 2014. This research was tested by purposive sampling and multiple regression analyzing method.
This research shows that size of audit committee and frequency of meeting audit committee have significant effect to financial reporting quality with significance level 0,040 and 0,010. Meanwhile, accounting expert has significant effect to financial reporting quality with significance level 0,058 using alpha10%. Firm size and leverage have no significant effect to financial reporting quality. The effectiveness of audit committee (size, frequency of meeting, accounting expert), firm size and leverage simultaneously have significant effect to financial reporting quality with significance level 0,013.
ABSTRAK
Pengaruh Efektivitas Komite Audit, Ukuran Perusahaan dan Leverage
Terhadap Kualitas Laporan Keuangan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas komite audit (ukuran, jumlah rapat dan keahlian akuntansi komite audit), ukuran perusahaan dan leverage terhadap kualitas laporan keuangan yang diproksikan dengan kualitas akrual. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan sampel 25 perusahaan real estate, property dan konstruksi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode tahun 2010 hingga 2014. Penelitian ini diuji dengan metode purposive sampling dan analisis regresi berganda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran komite audit dan jumlah rapat komite audit berpengaruh signifikan terhadap kualitas laporan keuangan dengan tingkat signifikansi 0,040 dan 0,010. Sementara keahlian akuntansi komite audit berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas laporan keuangan dengan tingkat signifikansi 0,058 menggunakan alpha 10%. Ukuran perusahaan dan leverage tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas laporan keuangan. Ukuran komite audit, jumlah rapat komite audit, keahlian akuntansi komite audit, ukuran perusahaan dan leverage secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kualitas laporan keuangan dengan signifikansi sebesar 0,013.
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Segala puji dan syukur bagi Allah SWT atas rahmat dan karuniaNya,
penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Efektivitas
Komite Audit, Ukuran Perusahaan dan Leverage terhadap Kualitas Laporan
Keuangan (Analisis Laporan Tahunan Perusahaan Real Estate, Property dan
Konstruksi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada 2010-2014).”
Shalawat serta salam tidak lupa penulis haturkan kepada Nabi Muhammad SAW,
yang telah mengantarkan kita dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang
benderang.
Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Ekonomi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Selama pembuatan skripsi ini, penulis
menyadari banyaknya hambatan dan rintangan yang ada. Meskipun begitu,
penulis juga menyadari bahwa penulis mendapatan bimbingan, arahan, dukungan,
bantuan, semangat dan doa dari banyak pihak. Pada kesempatan ini, penulis ingin
menyampaikan terima kasih yang tulus kepada :
1. Kedua orang tercinta, yaitu Ayah Warimin dan Ibu Wakik. Dengan cinta kasih,
sayang, kesabaran, dukungan baik moril dan materil serta doa yang selalu
mengiringi penulis dalam pengerjaan skripsi ini.
2. Kedua adik penulis, yaitu Yulio Dwi Wardhana dan Marcella Putri Cahyani.
Dua makhluk lucu yang menghibur di kala penulis mengalami patah semangat
dalam pengerjaan skripsi ini.
3. Bapak Dr. M. Arief Mufraini, Lc., M.si selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan
Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Bapak Dr. Yahya Hamja, MM selaku Dosen Pembimbing I yang telah
memberikan arahan, saran, dan semangatnya pada penulis selama pengerjaan
5. Ibu Ismawati Haribowo SE., M.Si. selaku Dosen Pembimbing II yang telah
meluangkan waktunya untuk mengarahkan, membimbing dan memberikan
saran kepada penulis selama pengerjaan skripsi.
6. Ibu Yessi Fitri, SE., M.Si., Ak., CA selaku Ketua Jurusan Akuntansi.
7. Bapak Hepi Prayudiawan, SE., Ak., MM selaku Sekretaris Jurusan Akuntansi.
8. Seluruh Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
yang telah memberikan ilmunya selama masa kuliah penulis.
9. Sahabat tercinta saya Radini, Marisa, dan Asih yang selalu memberi keyakinan
dan semangat untuk saya.
10. Teman-teman Jurusan Akuntansi 2011, khususnya AKUKECE (Akuntansi
Kelas C) Sella, Ilfi, Fazril, Eva, Faisal, Mumu, Opi, Chandra, Bonita, Fahmi,
Irvan, Hadi, Oji yang sama-sama berjuang dan saling membantu dalam
perkuliahan dan pengerjaan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna
dikarenakan keterbatasan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki penulis.
Maka dari itu, penulis sangat terbuka untuk menerima kritik dan saran yang
membangun dari berbagai pihak. Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih
kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini, baik
langsung maupun tidak langsung.
Wassalamualaikum wr. Wb
Jakarta, Juli 2015
DAFTAR ISI
Lembar Pengesahan Skripsi……….. ii
Lembar Pengesahan Ujian Komprehensif………iii
Lembar Pengesahan Ujian Skripsi……… iv
Surat Pernyataan Keaslian Skripsi……… v
Daftar Riwayat Hidup………. vi
Abstract……… vii
Abstrak………... viii
Kata Pengantar……….....ix
Daftar Isi………....xi
Daftar Tabel……… xv
Daftar Gambar……….. xvi
Daftar Lampiran……….. xvii
BAB I PENDAHULUAN ...1
A. Latar Belakang Penelitian ... 1
B. Perumusan Masalah ... 11
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 12
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...15
A. Teori yang Relevan ... 15
1. Teori Keagenan (Agency Theory) ... 15
2. Kualitas Laporan Keuangan ... 17
3. Efektivitas Komite Audit ... 23
c. Keahlian Akuntansi Komite Audit ... 28
4. Ukuran Perusahaan ... 29
5. Leverage ... 30
B. Penelitian Sebelumnya ... 32
C. Kerangka Pemikiran ... 37
D. Keterkaitan Antara Variabel ... 38
1. Pengaruh Ukuran Komite Audit terhadap Kualitas Laporan Keuangan ... 38
2. Pengaruh Jumlah rapat Komite Audit terhadap Kualitas Laporan Keuangan ... 38
3. Pengaruh Keahlian Akuntansi Komite Audit dengan Kualitas Laporan Keuangan ... 39
4. Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Kualitas Laporan Keuangan ... 40
5. Pengaruh leverage terhadap Kualitas Laporan Keuangan ... 41
6. Pengaruh Efektivitas Komite Audit, Ukuran Perusahaan dan Leverage terhadap Kualitas Laporan Keuangan ... 42
E. Hipotesis ... 43
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ...44
A. Ruang Lingkup Penelitian ... 44
B. Metode Penentuan Sampel ... 44
C. Metode Pengumpulan Data ... 45
D. Metode Analisis Data ... 46
1. Statistik Deskriptif ... 46
2. Uji Asumsi Klasik ... 47
b. Uji Multikolonieritas ... 47
c. Uji Autokorelasi ... 48
d. Uji Heterokedastisitas ... 49
3. Uji Koefisien Determinasi ... 50
4. Uji Hipotesis ... 50
a. Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F) ... 51
b. Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji statistik t) ... 52
E. Operasionalisasi Variabel ... 52
1. Kualitas Laporan Keuangan ... 53
2. Ukuran Komite Audit ... 54
3. Jumlah Rapat Komite Audit ... 54
4. Keahlian Akuntansi Komite Audit ... 54
5. Ukuran Perusahaan... 55
6. Leverage ... 56
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ...58
A. Gambaran Objek Penelitian ... 58
B. Hasil Uji Analisis Data Penelitian ... 59
1. Hasil Uji Statistik Deskriptif ... 60
2. Hasil Uji Asumsi Klasik ... 61
a. Uji Normalitas ... 61
b. Uji Multikolinearitas ... 62
c. Uji Autokorelasi ... 63
d. Uji Heteroskedastisitas ... 64
3. Hasil Uji Hipotesis ... 65
b. Uji Signifikansi Simultan (Uji F) ... 66
c. Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji t) ... 67
C. Pembahasan ... 71
1. Pengaruh Ukuran Komite Audit terhadap Kualitas Laporan Keuangan ... 71
2. Pengaruh Jumlah Rapat Komite Audit terhadap Kualitas Laporan Keuangan ... 72
3. Pengaruh Keahlian Akuntansi Komite Audit terhadap Kualitas Laporan Keuangan ... 73
4. Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Kualitas Laporan Keuangan ... 73
5. Pengaruh Leverage terhadap Kualitas Laporan Keuangan .... 75
BAB V PENUTUP ...77
A. Kesimpulan ... 77
B. Saran ... 78
DAFTAR PUSTAKA……….. 80
DAFTAR TABEL
Tabel Judul Hal
Tabel 2.1 Daftar Penelitian Sebelumnya ...33
Tabel 3.1 Operasionalisasi Variabel ...57
Tabel 4.1 Proses Seleksi Sampel...58
Tabel 4.2 Daftar Sampel Perusahaan ...59
Tabel 4.3 Hasil Uji Statistik Deskriptif ...60
Tabel 4.4 Hasil Uji Normalitas ...62
Tabel 4.5 Hasil Uji Multikolinearitas ...63
Tabel 4.6 Hasil Uji Autokorelasi ...64
Tabel 4.7 Hasil Uji Heteroskedastisitas ...65
Tabel 4.8 Hasil Uji Adjusted R2...66
Tabel 4.9 Hasil Uji F ...67
DAFTAR GAMBAR
Gambar Judul Hal
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Judul Hal
Lampiran 1 Daftar Sampel Penelitian………. 87
Lampiran 2 Data Sampel Penelitian………... 89
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penelitian
Perkembangan zaman yang diikuti dengan perkembangan bisnis tak bisa
lagi dibendung. Perkembangan bisnis yang terus mengalami peningkatan
menuntut pelaku bisnis untuk dapat bersaing di dalamnya, karena itulah, terdapat
banyak kompetitor dalam dunia bisnis. Meningkatnya persaingan bisnis
mendorong setiap perusahaan untuk memberikan performa terbaiknya dalam
menarik investor, terutama yang menyangkut laporan keuangan. Laporan
keuangan merupakan gambaran dari suatu perusahaan pada waktu tertentu yang
menunjukkan kondisi keuangan yang telah dicapai suatu perusahaan dalam
periode tertentu (Maulia, 2014). Hal inilah yang menjadi pertimbangan investor
dalam mengambil keputusan untuk berinvestasi.
Laporan keuangan merupakan sebuah alat penting bagi para pelaku dunia
bisnis. Laporan keuangan memuat catatan-catatan tentang kegiatan bisnis yang
dilakukan oleh sebuah entitas dalam suatu periode tertentu. Laporan keuangan
juga mempunyai peranan penting sebagai alat komunikasi antar para pelaku bisnis
(Toding dan Wirakusuma, 2013).
Menurut Payamta (2006) dalam Maulia (2014), kualitas laporan keuangan
akan meningkatkan kualitas yang disajikan dalam laporan keuangan, sehingga
keputusan. Hal ini dikarenakan keputusan yang akan diambil telah didasarkan
pada informasi yang telah dipersiapkan dengan baik, disetujui dan diaudit secara
transparan, dapat dipertanggungjawabkan dan berkualitas. Kualitas pelaporan
keuangan berhubungan dengan kinerja keseluruhan perusahaan yang
tergambarkan dalam laba (Fanani, 2009).
Pengertian kualitas pelaporan keuangan hingga saat ini masih beragam.
Salah satunya adalah kualitas pelaporan keuangan berkaitan erat dengan kinerja
perusahaan yang diwujudkan dalam laba perusahaan yang diperoleh pada tahun
berjalan. Pelaporan keuangan dikatakan tinggi (berkualitas) jika laba tahun
berjalan dapat menjadi indikator yang baik untuk laba perusahaan dimasa yang
akan datang (Lev dan Thiagarajan, 1993) atau berasosiasi secara kuat dengan arus
kas operasi di masa yang akan datang (Dechow dan Dichev, 2002 dan Cohen,
2003).
Menurut penelitian Choi dan Pae pada 2011, kualitas laporan keuangan
sangat bervariasi. Misalnya, kualitas pelaporan dipengaruhi oleh tingkat
manajemen laba, tingkat bagaimana akurat akrual memprediksi arus kas operasi
masa depan dan tingkat akuntansi konservatisme. Dalam laporan keuangan, laba
akuntansi dianggap sebagai salah satu indikator utama kinerja keuangan
perusahaan. Angka laba yang tersedia pada laporan keuangan selain memberikan
informasi mengenai laba juga mempengaruhi pemakai informasi dalam
pengambilan keputusan mengenai perusahaan, baik keputusan investasi maupun
keputusan kredit. Laba merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur
laba di masa depan. Rendahnya kualitas laba akan dapat membuat kesalahan
pembuatan keputusan para pemakainya seperti investor, kreditor, sehingga nilai
perusahaan akan berkurang (Siagallan dan Mahfoedz, 2006).
Menurut Karami dan Akhgar (2014), kualitas laporan keuangan adalah
mengembangkan transparansi dan menerbitkan laporan tahunan berkualitas tinggi
melalui pengungkapan lengkap dan komprehensif. Kualitas laporan keuangan
selalu menjadi topik yang menarik dari dewan direksi, pemegang saham, peneliti
dan akuntan profesional sendiri. Kualitas sangat dibutuhkan dalam pelaporan
keuangan dan pengungkapan prediksi yang lebih baik mengenai arus kas masa
depan perusahaan untuk investor dan pengguna laporan keuangan lainnya.
Menurut International Accounting Standards Board (IASB) informasi yang berkualitas harus memenuhi komponen relevance dan faithful representation, dimana tingkat kegunaan informasi tersebut akan meningkat jika informasi tersebut comparable, verifiable, timely dan understandable (IASB, 2010). PSAK 1 Penyajian Laporan Keuangan menyatakan terdapat empat
karakteristik laporan keuangan dikatakan berkualitas. Laporan keuangan
dikatakan berkualitas jika dapat dipahami, relevan, andal dan dapat
diperbandingkan. Informasi dikatakan relevan jika dapat memengaruhi keputusan
ekonomi pemakai dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu,
masa kini atau masa depan, menegaskan, atau mengkoreksi hasil evaluasi mereka
di masa lalu. Sementara informasi dapat diandalkan apabila disajikan secara netral
atau tidak memihak pada salah satu pemakai, dapat diuji kebenarannya
Beberapa tahun terakhir ini, skandal akuntansi yang terjadi di masyarakat
keuangan internasional telah menyebabkan meningkatnya pertanyaan dan
kekhawatiran tentang kualitas pelaporan keuangan (Agrawal dan Chadha dalam
Klai, 2011). Beberapa perusahaan terkemuka seperti Enron, Worldcom, Marconi,
Parmalat, Cadbury, Bank Oceanichave dan Toshiba berpartisipasi dalam penipuan
keuangan. Hal ini menyebabkan melemahnya kepercayaan investor terhadap
manajerial dan laporan keuangan (Klai, 2011). Salah satu contohnya pada kasus
Enron, dimana perusahaan Enron melakukan manipulasi laporan keuangan dengan
mencatat keuntungan 600 juta Dollar AS padahal perusahaan mengalami
kerugian. Manipulasi keuntungan disebabkan keinginan perusahaan agar saham
tetap diminati investor.
Selain Enron, skandal akuntansi lain yang menjadi perhatian adalah kasus
Toshiba. Skandal akuntansi Toshiba, salah satu yang paling merusak melanda
Jepang dalam beberapa tahun terakhir, dimulai ketika regulator sekuritas
menemukan kejanggalan setelah menyelidiki neraca perusahaan awal tahun ini.
Dengan temuan yang dirilis Senin (20/7/2015), Toshiba harus menyatakan
kembali keuntungan sebesar 151,8 miliar yen untuk periode antara April 2008
hingga Maret 2014. (Kompas.com)
Berdasarkan sampel penelitian pada perusahaan Enron, ternyata kasus
manipulasi data akuntansi ini melibatkan berbagai pihak. Pihak-pihak terlibat
justru meryupakan bagian dari dalam perusahaan itu sendiri, misalnya CEO,
Sementara, salah satu kasus yang terjadi di Indonesia adalah PT.
Indofarma Tbk. Perusahaan ini diduga melakukan pelanggaran berkaitan dengan
penyajian laporan keuangan. Berdasarkan hasil pemeriksaan Bapepam, nilai
barang dalam proses dinilai lebih tinggi dari yang seharusnya (overstated) dalam penyajian nilai persediaan barang dalam proses pada tahun buku 2001 sebesar Rp.
28.870.000.000 (dua puluh delapan miliar delapan ratus tujuh puluh juta rupiah).
Akibat overstated persediaan, maka harga pokok penjualan akan understated sebesar Rp. 28.870.000.000 dan laba bersih juga akan mengalami overstated dengan nilai yang sama.
Berdasarkan dua kasus tersebut, baik Enron maupun Indofarma memiliki
penyebab yang sama, yaitu masih lemahnya penerapan GCG dan fungsi internal control yang ada di dalam perusahaan. Kasus ini memberikan pelajaran berharga. Pertama, implementasi GCG di Indonesia ternyata masih sekedar formalitas
belaka. Kedua, terlihat bahwa terjadi kerjasama sistemik melakukan rekayasa
keuangan yang dilakukan karena lemahnya fungsi internal control. Hal ini menunjukkan bahwa pihak-pihak yang melakukan internal control mulai dari Dewan Komisaris sampai dengan Internal Audit tidak melakukan fungsinya
dengan baik (http:/// www.hrcentro.com 8 Februari 2015).
Millstein (1999) dalam Wardhani dan Joseph (2010) menyatakan bahwa
praktik good corporate governance menunjukan bahwa pembentukan komite audit sebagai sebuah titik pusat dalam peningkatan kualitas laporan keuangan.
Mekanisme yang tepat untuk memastikan realibilitas, kualitas yang tinggi dari
menjaga kepentingan stakeholder khususnya dalam sisi kualitas informasi laporan keuangan perusahaan (Yaputro, 2012). Selain itu, Bapepam juga menegaskan
bahwa adanya komite audit, sangat membantu para dewan komisaris untuk
mengawasi kegiatan operasional perusahaan.
Umumnya, peran pengawasan komite audit meliputi tiga fungsi, yaitu
pelaporan keuangan, pengendalian internal, dan aktivitas audit eksternal (Braiotta,
2004). Untuk memastikan reliabilitas dan kualitas laporan keuangan sutau
perusahaan, komite audit memperbaiki mutu laporan keuangan dengan mengawasi
laporan keuangan. Komite audit memastikan bahwa laporan keuangan disajikan
secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum (KNGCG,
2006). Komite audit menelaah laporan keuangan dengan memastikan bahwa
laporan keuangan sudah dibuat berdasarkan prinsip-prinsip akuntansi yang tepat
(Sawyer dan Dittenhoffer, 2006). Oleh karena itu, komite audit diharapkan
meninjau semua laporan keuangan yang dibuat manajemen baik interim maupun
tahunan sebelum disetujui dewan komisaris dan sebelum disebarluaskan ke publik
untuk meyakinkan obyektivitas laporan keuangan (Mohiuddin & Kharbhari,
2010).
Pada akhir tahun 2012, pemerintah melalui Bapepam-LK mengeluarkan
aturan baru yaitu Keputusan Ketua Bapepam-LK No. Kep- 643/BL/2012 terkait
dengan Pembentukan dan Pedoman Pelaksanaan Kerja Komite Audit yang
mengubah aturan yang sama yang dikeluarkan pada tahun 2004. Dalam peraturan
tersebut terdapat persyaratan yang lebih ketat atas keanggotaan komite audit dan
komite audit. Aturan tersebut mengindikasikan diperlukannya komite audit yang
lebih kompeten dan peran komite audit dalam memastikan kualitas laporan
keuangan perusahaan menjadi semakin dibutuhkan.
Melalui peningkatan pengaturan tata kelola perusahaan tersebut, peran dan
fungsi komite audit membantu tugas dewan komisaris juga semakin diperjelas di
mana poin mengenai keahlian anggota komite audit, komposisi serta jumlah
pertemuan komite audit menjadi semakin penting dan harus dicantumkan dengan
rinci (Mutmainnah dan Wardhani, 2013). Menurut Suaryana (2005), kualitas laba
yang tinggi didapatkan pada perusahaan yang memiliki komite audit dibanding
perusahaan yang tidak memiliki komite audit. Keputusan Ketua Bapepam-LK
No. Kep- 643/BL/2012 terkait dengan Pembentukan dan Pedoman Pelaksanaan
Kerja Komite Audit mensyaratkan komite audit terdiri dari 3 orang. Selain itu,
Anderson, Daniel dan Stuart (2003) menemukan bahwa semakin kecil anggota
komite, maka kualitas laba akan semakin baik.
Efektivitas komite audit dapat diukur dengan proksi frekuensi pertemuan
atau rapat yang diadakan komite audit dalam satu tahun. Anderson et al., (2003) menemukan bahwa informasi terkait earning meningkat dengan adanya pertemuan yang dilaksanakan komite audit. Pertemuan yang sering dilakukan
komite audit untuk membahas laporan keuangan dianggap sebagai kontrol rutin
terhadap perkembangan laba pada perusahaan. Penelitian terdahulu yang
dilakukan oleh Dechow (1996) dalam Mutmainnah dan Wardhani (2013)
keuangan kemungkinan besar tidak mempunyai komite audit atau komite auditnya
tidak bekerja secara efektif dan efisien dalam setiap rapat yang dilaksanakan.
Komite audit yang efektif harus memiliki independensi dan
pengetahuan di bidang akuntansi dan audit. Berdasarkan Keputusan Ketua
BAPEPAM-LK Nomor: KEP-643/BL/2012 dijelaskan bahwa komite audit
memiliki paling kurang satu anggota yang berlatar belakang pendidikan dan
keahlian di bidang akuntansi dan/atau keuangan. Menurut Suaryana (2005),
keberadaan komite audit independen serta memiliki keahlian dalam bidang
akuntansi dan keuangan adalah sinyal persepsi kredibilitas dan kualitas laba
perusahaan yang lebih baik.
Selain efektivitas komite audit, ukuran perusahaan dan leverage juga dianggap dapat mempengaruhi kualitas laporan keuangan. Perusahaan yang besar
akan memiliki kestabilan dan operasi yang dapat diprediksi lebih baik, sehingga
kesalahan estimasi yang ditimbulkan akan menjadi lebih kecil. Selain itu,
perusahaan besar akan memiliki kemampuan diversifikasi yang lebih baik dan
mempunyai efek variasi portofolio antar divisi-divisi dan aktivitas bisnisnya
sehingga dapat mengurangi efek relatif kesalahan estimasi. Meskipun demikian,
perusahaan besar akan banyak menghadapi sensitivitas politik yang tinggi dan
menghadapi kos politikal yang lebih tinggi dari pada perusahaan kecil (Gu, Lee
dan Rosset dalam Fanani, 2009).
Perusahaan yang besar akan berpengaruh positif terhadap kualitas laporan
keuangan, karena perusahaan yang besar memiliki asset dan memperoleh laba
dapat dilihat dari besar kecilnya modal yang digunakan, total asset yang dimiliki,
dan total penjualan yang diperoleh, serta kapitalisasi pasarnya dapat berpengaruh
terhadap kualitas laporan keuangan
Perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi, memiliki risiko pelanggaran perjanjian utang yang mengakibatkan timbulnya suatu biaya seperti
sanksi pembatasan atas pembayaran dividen atau pembatasan penambahan utang
dan serta menghambat kerja manajemen. Diduga, perusahaan yang memiliki
tingkat leverage yang tinggi akan mempunyai dorongan (incentives) yang lebih besar untuk mendorong kinerja akuntansi dengan tujuan untuk memenuhi
perjanjian dalam kontrak utang maupun untuk mendapatkan utang baru (Dechow,
Ge, Larson dan Sloan, 2010). Ketika menghadapi pelanggaran perjanjian utang,
manajer akan lebih menggunakan kebijakan akrual agar dapat melaporkan laba
sekarang lebih tinggi dibandingkan laba di masa depan, sehingga manajer dapat
terhindar dari pelanggaran perjanjian utang (debt covenant).
Beberapa penelitian mengenai kualitas laporan keuangan telah dilakukan
pada periode waktu sebelumnya. Pada 2003, penelitian Felo dan Krishnan
menunjukkan ukuran komite audit memiliki hubungan yang positif dengan
kualitas laporan keuangan. Sementara Aldamen dan Duncan (2011) menunjukkan
komite audit yang lebih kecil dengan lebih banyak pengalaman dan keahlian
keuangan lebih mungkin terkait dengan kinerja perusahaan yang positif di pasar.
Penelitian Badolato & Danelson (2014) serta Kusnadi, Leong, Suwardi dan Wang
(2015) menyatakan komite audit yang memiliki keahlian keuangan akan
Berdasarkan penelitian Widi dan Elisabet (2012), leverage tidak berpengaruh signifkan terhadap kualitas laporan keuangan. Sementara penelitian
Fanani dan Ningsih (2009) serta Karami dan Akhgar (2014) menyatakan leverage berpengaruh negatif signifikan terhadap kualitas laporan keuangan.
Penelitian-penelitian yang ada sebelumnya berfokus pada pengukuran
kualitas laporan keuangan melalui manajemen laba dan restatements. Selain itu, objek penelitian lebih banyak berfokus pada perusahaan manufaktur ataupun
seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Belum banyak
penelitian yang melihat kualitas laporan keuangan pada perushaaan real estate, property dan konstruksi padahal banyak investor, baik asing maupun domestik yang lebih sering berinvestasi pada sektor tersebut. Salah satu investor asing
berbasis di Singapura, Keppel Land, masih memandang Indonesia sebagai
peluang positif, dengan ceruk pasar besar. Populasi sebanyak 250 juta dijadikan
sebagai motivasi utama mereka dalam menggenjot investasinya. (Kompas.com)
Tidak hanya investor asing, melainkan investor domestik juga memiliki
ketertarikan untuk berinvestasi di sektor real estate, property dan konstruksi. Hal ini diperkuat juga dengan memasuki MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN),
dimana pemerintah banyak melakukan pembangunan infrastruktur, sehingga akan
semakin banyak keuntungan yang diperoleh jika berinvestasi di sektor tersebut.
Hal ini membuat inverstor tertarik untuk berinvestasi di sektor real estate, property dan konstruksi.
Penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian yang ada
konstruksi. Selain itu, yang membedakan penelitian ini dengan sebelumnya adalah
pengukuran kualitas laporan keuangan menggunakan salah satu atribut akuntansi,
yatiu kualitas akrual dari perubahan modal kerja. Sementara penelitian yang
pernah ada sebelumnya, kualitas laporan keuangan diukur menggunakan
ketepatwaktuan, restatements, dan manajemen laba.
Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya serta uraian yang telah
dijelaskan di atas, maka peneliti ingin meneliti mengenai “Pengaruh Efektivitas
Komite Audit, Ukuran Perusahaan dan Leverage terhadap Kualitas Laporan
Keuangan Pada Perusahaan Real Estate, Property dan Konstruksi yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada 2010-2014.”
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Apakah ukuran komite audit berpengaruh terhadap kualitas laporan
keuangan ?
2. Apakah jumlah rapat komite audit berpengaruh terhadap kualitas
laporan keuangan ?
3. Apakah keahlian akuntansi komite audit berpengaruh terhadap kualitas
laporan keuangan?
4. Apakah ukuran perusahaan berpengaruh terhadap kualitas laporan
keuangan?
6. Apakah ukuran komite audit, jumlah rapat komite audit, keahlian
akuntansi komite audit, ukuran perusahaan, dan leverage berpengaruh secara simultan terhadap kualitas laporan keuangan?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk :
a. Menganalisis adanya pengaruh antara ukuran komite audit terhadap
kualitas laporan keuangan.
b. Menganalisis adanya pengaruh antara jumlah rapat komite audit
terhadap kualitas laporan keuangan.
c. Menganalisis adanya pengaruh antara keahlian akuntansi komite audit
terhadap kualitas laporan keuangan.
d. Menganalisis adanya pengaruh antara ukuran perusahaan terhadap
kualitas laporan keuangan.
e. Menganalisis adanya pengaruh antara leverage terhadap kualitas laporan keuangan.
f. Menganalisis pengaruh ukuran komite audit, jumlah rapat komite
audit, keahlian akuntansi komite audit, ukuran perusahaan, dan
2. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik bagi
kontribusi teoritis dan kontribusi praktis. Adapun penjelasan manfaat dari
penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Kontribusi Teoritis
1) Ilmu Pengetahuan
Penelitian ini berguna untuk menambah literatur dan sebagai
bentuk pengembangan ilmu akuntasi, khususnya mengenai kualitas
laporan keuangan. Penelitian ini juga berguna sebagai bahan
referensi dan pembanding untuk penelitian selanjutnya.
2) Masyarakat
Penelitian ini berguna untuk menambah informasi masyarakat,
khususnya Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis mengenai
kualitas laporan keuangan.
3) Peneliti
Penelitian ini sebagai sarana untuk memperluas wawasan serta
menambah referensi mengenai kualitas laporan keuangan agar
diperoleh hasil yang bermanfaat bagi penulis di masa yang akan
b. Kontribusi Praktis
1) Bagi perusahaan
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi perusahaan
untuk memperbaiki tata kelola perusahaannya sebagai salah satu
upaya meningkatkan kualitas laporan keuangan.
2) Bagi praktisi
Penelitian ini juga diharapkan mampu menjadi evaluasi bagi para
praktisi khususnya pembuat kebijakan atau standard, serta sebagai
acuan bagi komite audit untuk lebih berperan dalam
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Teori yang Relevan
1. Teori Keagenan (Agency Theory)
Terori keagenan (agency theory) merupakan kontrak antara pemilik (principal) dan manajemen (agent), dimana agent diberi wewenang lebih untuk menjalankan operasional perusahaan dan mempertanggunjawabkan sumber daya
yang dipercayakan kepada manajemen (Jensen dan Meckling, 1976 dalam Saptiti
Adharia, 2013). Teori agensi menyatakan bahwa terdapat pemisahan antara
pemilik sebagai pemegang saham dan manajer sebagai agen yang menjalankan
perusahaan. Agen dikontrak untuk melakukan tugas tertentu serta mempunyai
tanggung jawab atas tugas yang diberikan pemilik. Pemilik diasumsikan hanya
tertarik pada pengembalian keuangan yang diperoleh dari investasi mereka pada
perusahaan. Sedangkan agen diasumsikan akan menerima kepuasan tidak hanya
dari kompensasi keuangan tetapi juga dari tambahan lain yang terlibat dalam
hubungan keagenan.
Hubungan agensi seperti ini rawan konflik, yaitu konflik kepentingan
pribadi (konflik agensi). Konflik tersebut terjadi karena pemilik modal berusaha
menggunakan dana sebaik-baiknya dengan risiko sekecil mungkin, sedangkan
manajer cenderung mengambil keputusan pengelolaan dana untuk
memaksimalkan keuntungan yang sering bertentangan dan cenderung
Jensen dan Meckling (1976) dalam Mutmainnah dan Wardhani (2013)
menyatakan bahwa terdapat dua mekanisme untuk mengatasi konflik keagenan
yaitu mekanisme pengikatan (bonding) dan mekanisme pengawasan (monitoring). Konflik keagenan yang masih ada yang tidak dapat diatasi oleh kedua mekanisme
tersebut disebut sebagai residual loss. Mekanisme pengikatan merupakan mekanisme yang mengikat agen sehingga dapat berperilaku yang sejalan dengan
kepentingan prinsipal. Mekanisme ini dijalankan diantaranya melalui kebijakan
kompensasi, penetapan KPI (key performance indicator) bagi manajemen, dan kepemilikan manajerial. Sedangkan mekanisme pengawasan dijalankan oleh
pihak internal maupun eksternal perusahaan Pemilikan dan pengelolaan
perusahaan yang terpisah meningkatkan konflik agensi antara manajer dan
pemegang saham karena timbulnya asimetri informasi.
Asimetri informasi tersebut menurunkan kualitas informasi yang
digunakan sebagai dasar pelaporan keuangan sehingga menimbulkan
kesalahan-kesalahan pada pelaporan keuangan. Menurut Krishnan dan Lee (2011) dalam
Awalia (2014) kualitas pelaporan keuangan merupakan salah satu kontributor
penting terhadap lingkungan informasi perusahaan. Salah satu cara yang
digunakan untuk memonitor masalah keagenan dan membatasi perilaku
opportunistic management adalah corporate governance. Untuk memperkecil asimetris informasi, maka pengelolaan perusahaan harus diawasi dan
dikendalikan.
Teori keagenan menunjukkan bahwa pemegang saham memerlukan
kepentingan pemilik (Jensen dan Meckling, 1976). Oleh karena itu, dewan
komisaris muncul untuk melindungi kepentingan pemegang saham (Joshi dan
Wakil, 2004). Dewan komisaris memiliki tanggung jawab yang beragam dan
beberapa hal tersebut didelegasikan kepada komite audit. Tujuan dibentuknya
komite audit ialah membantu dewan komisaris dalam menjalankan proses
pengawasan. Komite audit membantu dewan komisaris mengembangkan serta
memelihara kerangka akuntabilitas perusahaan (Braiotta, 2004).
2. KualitasLaporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan informasi akuntansi yang disediakan oleh
perusahaan untuk membantu para pengguna laporan keuangan dalam membuat
keputusan alokasi modal terkait dengan perusahaan yang bersangkutan (Kieso dan
Warfield, 2011). Menurut PSAK No.1 (2012), laporan keuangan adalah suatu
penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas.
Laporan keuangan merupakan bagian dari pelaporan keuangan.
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia dalam PSAK 1 (2012), tujuan laporan
keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan,
kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu entitas yang bermanfaat bagi
sejumlah besar pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi. Laporan
keuangan juga menunjukkan apa yang telah dilakukan manajemen (stewardship), atau pertanggung jawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan
kepadanya.
keputusan serupa yang rasional bagi investor serta kreditur saat ini atau potensial
dan para pemakai lainnya. (2) Memberikan informasi yang berguna dalam menilai
prospek arus kas, jumlah, penetapan waktu dan ketidakpastiaan penerimaan. (3)
Menggambarkan dengan jelas sumber daya perusahaan, klaim terhadap sumber
daya dan perubahan dalam sumber daya tersebut.
Menurut PSAK (2012), karakteristik kualitatif merupakan ciri khas yang
membuat informasi dalam laporan keuangan berguna bagi pengguna. Terdapat
empat karakteristik kualitatif pokok yaitu :
a. Dapat dipahami
Kualitas penting informasi yang ditampung dalam laporan keuangan
adalah kemudahannya untuk segera dapat dipahami oleh pengguna.
Pengguna diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai tentang
aktivitas ekonomi dan bisnis, akuntansi, serta kemauan untuk
mempelajari informasi dengan ketekunan yang wajar.
b. Relevan
Agar bermanfaat, informasi harus relevan untuk memenuhi kebutuhan
pengguna dalam proses pengambilan keputusan. Informasi memiliki
kualitas relevan kalau dapat mempengaruhi keputusan ekonomi
pengguna dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu,
masa kini atau masa depan, menegaskan, atau mengoreksi, hasil
1) Materialitas
Informasi dipandang material kalau kelalaian untuk mencantumkan
atau kesalahan dalam mencatat informasi tersebut dapat
mempengaruhi keputusan ekonomi pengguna yang diambil atas
dasar laporan keuangan. Materialitas bergantung pada besarnya pos
atau kesalahan yang dinilai sesuai dengan situasi khusus dari
kelalaian dalam mencantumkan atau kesalahan dalam mencatat.
c. Keandalan
Informasi memiliki kualitas andal jika bebas dari pengertian yang
menyesatkan, kesalahan material, dan dapat diandalkan penggunanya
sebagai penyajian yang tulus atau jujur dari yang seharusnya disajikan
atau yang secara wajar diharapkan dapat disajikan.
1) Penyajian jujur
Agar dapat diandalkan, informasi harus menggambarkan dengan
jujur transaksi serta peristiwa lainnya yang seharusnya disajikan
atau secara wajar dapat diharapkan untuk disajikan.
2) Substansi mengungguli bentuk
Jika informasi dimaksudkan untuk menyajikan dengan jujur
transaksi serta peristiwa lain yang seharusnya disajikan, maka
peristiwa tersebut perlu dicatat dan disajikan sesuai dengan
substansi dan realitas ekonomi dan bukan hanya bentuk hukumnya.
Substansi transaksi atau peristiwa lain tidak selalu konsisten
3) Netralitas
Informasi harus diarahkan pada kebutuhan umum pengguna, dan
tidak bergantung pada kebutuhan dan keinginan pihak tertentu.
Tidak boleh ada usaha untuk menyajikan informasi yang
menguntungkan berapa pihak, sementara hal tersebut akan
merugikan pihak lain yang mempunyai kepentingan yang
berlawanan.
4) Pertimbangan sehat
Pertimbangan sehat mengandung unsur kehati-hatian pada saat
melakukan perkiraan dalam kondisi ketidakpastian, sehingga
asset atau penghasilan tidak dinyatakan terlalu tinggi dan liabilitas
atau beban tidak dinyatakan terlalu rendah.
5) Kelengkapan
Informasi dalam laporan keuangan harus lengkap dalam batasan
materialitas dan biaya. Kesengajaan untuk tidak mengungkapkan
mengakibatkan informasi menjadi tidak benar atau menyesatkan
dan karena itu itu tidak dapat diandalkan dan tidak sempurna
ditinjau dari segi relevansi.
d. Dapat dibandingkan
Pengguna harus dapat memperbandingkan laporan keuangan entitas
antar periode untuk mengidentifikasi kecenderungan posisi dan
laporan keuangan antar entitas untuk mengevaluasi posisi keuangan,
kinerja, serta perubahan posisi keuangan secara relatif.
Menurut Kasmir (2011) laporan keuangan yang berkualitas yaitu laporan
keuangan yang sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum dan
bebas dari tindakan atau kegiatan yang dilakukan dan disengaja oleh pihak
manajemen perusahaan agar laporan keuangan tersebut memiliki integritas yang
tinggi.
Kualitas pelaporan keuangan adalah fitur penting tidak hanya untuk
perusahaan tetapi juga bagi para pemangku kepentingan dan untuk pasar modal
secara keseluruhan. Misalnya, telah disampaikan bahwa kualitas pelaporan
memiliki efek positif pada efisiensi investasi. Namun, Choi, et.al., (2011) menyatakan bahwa kualitas laporan keuangan bervariasi. Banyak faktor
berpengaruh pada kualitas laporan keuangan pada penelitian sebelumnya.
Misalnya, kualitas pelaporan dipengaruhi oleh tingkat manajemen laba, tingkat
bagaimana akurat akrual memprediksi arus kas operasi masa depan dan tingkat
akuntansi konservatisme.
Tujuan pelaporan keuangan secara umum adalah untuk menyediakan
informasi keuangan perusahaan yang dapat bermanfaat bagi investor, kreditor, dan
pihak berkepentingan lain dalam pembuatan keputusan ekonomi atas perusahaan
tersebut. Tujuan tersebut juga memperjelas pentingnya kebutuhan tentang
informasi aliran kas bagi investor dan kreditor. Akuntansi merupakan bahasa
khusus yang digunakan untuk mengkomunikasikan informasi keuangan
Lebih spesifik lagi, akuntansi keuangan membahas tentang penyediaan informasi
keuangan yang relevan bagi pengguna eksternal.
Tujuan utama akuntansi keuangan adalah menyediakan informasi bagi
investor dan kreditor guna membantu mereka dalam pengambilan keputusan.
Informasi tersebut harus mampu membantu investor dan kreditor untuk menilai
jumlah, waktu, dan ketidakpastian arus kas yang akan diterima di masa datang.
Investor, kreditor, dan pembuat keputusan lainnya akan berusaha mendapatkan
informasi mengenai arus kas perusahaan di masa datang. Informasi ini dapat
mereka peroleh melalui laporan yang dihasilkan perusahaan. Basis akrual
menyediakan informasi ini dengan melaporkan arus kas masuk dan arus kas
keluar yang berhubungan dengan aktifitas earning. Basis akrual merupakan salah satu asumsi dasar penyusunan laporan keuangan. Basis ini mengakui pendapatan
saat diperoleh dan membebankan pendapatan tanpa mempertimbangkan waktu
pembayaran diterima atau dikeluarkan. Dengan kata lain, basis akrual membantu
memprediksi arus kas masa depan dengan melaporkan transaksi dan kejadian
dengan konsekuensi kas yang diterima saat transaksi atau kejadian terjadi, bukan
saat kas diterima atau dibayar. Piutang dan utang merupakan akun utama yang
menjadi indikator estimasi untuk arus kas masuk dan keluar masa depan.
Keberadaan akrual penting untuk suatu laporan keuangan. Akrual merupakan
komponen utama pembentuk laba. Secara teknis, akrual merupakan perbedaan
3. Efektivitas Komite Audit
Menurut Keputusan Ketua BAPEPAM-LK Nomor: KEP-643/BL/2012,
komite audit adalah komite yang dibentuk oleh dan bertanggung jawab kepada
Dewan Komisaris dalam membantu melaksanakan tugas dan fungsi Dewan
Komisaris. Pembentukan Komite Nasional Good Corporate Governance di Indonesia menegaskan peran komite audit. Peran dan tanggung jawab komite
audit dituangkan dalam charter komite audit yang secara umum dikelompokkan menjadi tiga bagian besar, yaitu financial reporting, corporate governance, dan risk and control management.
SEC (Security of Exchange and Commision) mengindikasikan bahwa komite audit memiliki peran penting dalam sistem pelaporan keuangan dengan
melakukan pengawasan kegiatan manajemen dan auditor dalam proses pelaporan
keuangan (SEC, 1999 dalam Bryan et al., 2004). Perusahaan publik diwajibkan
membentuk komite audit sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan oleh Ketua
BAPEPAM-LK Nomor: KEP-643/BL/2012.
Bryan et al. (2004) menyatakan bahwa tanggung jawab komite audit adalah melakukan penunjukkan terhadap auditor eksternal dan mengevaluasi
laporan keuangan perusahaan, berinteraksi dengan manajer keuangan internal dan
auditor internal dan mereview pengendalian internal perusahaan. Komite audit membantu dewan komisaris untuk memonitor proses pelaporan keuangan oleh
manajemen untuk meningkatkan kredibilitas laporan keuangan (Anderson et al., 2003). Komite Audit berwenang untuk mengakses catatan atau informasi tentang
pelaksanaan tugasnya, dan bekerja sama dengan auditor internal dalam
melakukan pengawasan (BAPEPAM-LK Nomor: KEP-643/BL/2012).
Klein (2006) menyebutkan bahwa area penyelidikan komite audit
mencakup penilaian manajemen, estimasi akuntansi, penyesuaian audit,
ketidaksepahaman manajemen dan auditor eksternal, dan transaksi antara
perusahaan dan karyawan. Komite audit juga meneliti masalah hukum dan
peraturan pemerintah karena mereka berhubungan dengan laporan keuangan
perusahaan dan untuk menilai profil risiko kegiatan perusahaan dan pengendalian
internal. Komite Audit menyediakan komunikasi formal antara dewan,
manajemen, auditor eksternal dan auditor internal (Bradbury, Mak dan Tan, 2004
dan Klein, 2006). Komite audit juga bertugas sebagai pihak penengah apabila
terjadi selisih pendapat antara manajemen dan auditor mengenai interpretasi dan
penerapan prinsip akuntansi yang berlaku umum (Dye, 1988; Atle dan
Nalebuff, 1991 dalam Bradbury et al, 2004). Adanya komunikasi formal antara komite audit, auditor internal, dan auditor eksternal akan menjamin proses audit
internal dan eksternal dilakukan dengan baik. Proses audit internal dan eksternal
yang baik akan meningkatkan akurasi laporan keuangan dan kemudian
meningkatkan kepercayaan terhadap laporan keuangan (Anderson et al. 2003). Price Waterhouse (1980) dalam Siallagan dan Machfoedz (2006) menyatakan bahwa investor, analis dan regulator menganggap komite audit
memberi kontribusi dalam kualitas pelaporan keuangan dengan meningkatkan
integritas dan kredibilitas melalui: (1) Pengawasan atas proses pelaporan termasuk
(2) Mengawasi proses audit secara keseluruhan. Bryan et al. (2004) menekankan peran komite audit dalam pengawasan pada kegiatan pelaporan keuangan,
terutama dalam penyusunan laba di perusahaan dengan melihat independensi dan
efektivitas komite audit.
Penelitian yang pernah ada sebelumnya menyarankan ukuran komite audit,
independensi, keahlian dan jumlah rapat komite audit mempengaruhi efektivitas
komite audit dalam melakukan pengawasan atau monitoring (DeZoort dan Salterio, 2001; Klein, 2002; Siregar and Utama, 2008; Metawee, 2013 dalam
Soliman dan Ragab, 2014).
a. Ukuran Komite Audit
Komite audit terdiri dari sekurang-kurangnya satu orang komisaris
independen dan sekurang-kurangnya dua orang anggota lainnya berasal
dari luar emiten atau perusahaan publik (Keputusan Ketua BAPEPAM-LK
Nomor: KEP-643/BL/2012). Untuk membuat komite audit yang efektif
dalam pengendalian dan pemantauan atas kegiatan pengelolaan
perusahaan, komite harus memiliki anggota yang cukup untuk
melaksanakan tanggungjawab (Kristanti dan Syafrudin, 2012). Jumlah
anggota komite audit yang harus lebih dari satu orang ini
dimaksudkan agar komite audit dapat mengadakan rapat dan bertukar
pendapat satu sama lain. Hal ini dikarenakan masing-masing anggota
komite audit memiliki pengalaman tata kelola perusahaan dan
pengetahuan keuangan yang berbeda-beda (Kristanti dan Syafrudin,
Anderson et al. (2003) menemukan bahwa ukuran komite audit yang lebih kecil memiliki efektivitas yang lebih besar dan dapat
meningkatkan kualitas laba yang dilaporkan. Menurut teori ketergantungan
sumber daya, efektivitas komite Audit meningkat ketika ukuran komite
meningkat, karena komite memiliki sumber daya yang lebih untuk
menangani masalah-masalah yang dihadapi oleh perusahaan (Kristanti dan
Syafruddin, 2012). Oleh karena itu, diharapkan keberadaan komite audit
yang efektif dapat membantu dalam meningkatkan kualitas laba yang
dilaporkan.
b. Jumlah Rapat Komite Audit
Untuk menentukan efektivitas komite audit dalam meningkatkan
kualitas laporan keuangan, Hrici (2010) dalam Salehi, Zanjirdar dan Zarei
(2012) menggunakan aktivitas atau jumlah rapat komite audit sebagai
salah satu faktornya. Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI) mewajibkan komite audit untuk mengadakan rapat tiga sampai
empat kali dalam satu tahun (Kristanti dan Syafrudin, 2012). Efektivitas
Komite Audit dalam melaksanakan peran pengawasan atas proses
pelaporan keuangan dan pengendalian internal memerlukan rapat rutin
yang akan membantu komite audit dalam memeriksa sistem pengendalian
internal, dan dalam hal menjaga informasi manajemen (McMullen dan
Raghunandan, 1996 dalam Kristanti dan Syafrudin, 2012).
Klein (2006) menemukan bahwa frekuensi pertemuan atau rapat
Collier dan Gregory (1999) dalam Kristanti, et.al., (2012) mengungkapkan bahwa komite audit yang menyelenggarakan jumlah rapat
yang lebih sering memberikan mekanisme pengawasan dan pemantauan
kegiatan keuangan yang lebih efektif, meliputi persiapan dan pelaporan
informasi keuangan perusahaan. Dengan melakukan rapat secara periodik,
komite audit dapat mencegah dan mengurangi kemungkinan terjadinya
kesalahan dalam pembuatan keputusan oleh manajemen karena aktivitas
pengendalian internal perusahaan dilakukan secara terus menerus dan
terstruktur sehingga setiap permasalahan dapat cepat terdeteksi dan
diselesaikan dengan baik oleh manajemen.
Sharma (2009) dalam Barua (2010) membuktikan bahwa
perusahaan yang memiliki komite audit dengan tingkat frekuensi
pertemuan yang kecil akan cenderung menghasilkan laporan keuangan
yang kurang berkualitas. Treadway Commission (National Commission on Fraudulent Financial Reporting, 1987), Public Oversight Board (1993), SEC Chairman Levitt (1998) dan the Blue Ribbon Committee (BRC, 1999) dalam (Barua, 2010) menyarankan agar komite audit sering melakukan
pertemuan agar memungkinkan untuk komunikasi yang lebih baik antara
anggota komite audit dan auditor (eksternal dan internal) dan
memungkinkan komite audit menjadi lebih efektif dalam melakukan
c. Keahlian Akuntansi Komite Audit
Tugas utama komite audit adalah untuk mengawasi proses
keuangan perusahaan, maka sangat penting untuk mempercayai bahwa
anggota komite audit dengan keahlian keuangan (terutama keahlian
akuntansi) memiliki sarana yang lebih efektif untuk memonitor
manajemen praktek pelaporan keuangan untuk menghasilkan laporan
keuangan yang berkualitas tinggi. Temuan dari studi akademik yang ada
umumnya mendukung prediksi dan menemukan bahwa kehadiran anggota
komite audit dengan keahlian keuangan secara positif terkait dengan
kualitas pelaporan keuangan. Misalnya, Carcello dan Neal (2006) dalam
Kusnadi (2015) menemukan bahwa audit independen anggota komite
dengan keahlian akuntansi dan beberapa jenis non-akuntansi keahlian
keuangan yang paling efektif dalam mengurangi manajemen laba.
Melalui pengendalian internal yang lemah sebagai ukuran kualitas
pelaporan keuangan, Zhang dan Zhou (2007) menemukan bahwa
perusahaan lebih mungkin untuk diidentifikasi dengan kelemahan
pengendalian internal jika komite audit mereka memiliki sedikit keahlian
akuntansi keuangan dan keahlian non-akuntansi keuangan. Namun, dua
studi terbaru menemukan hasil bertentangan tentang peran keahlian
akuntansi dan keahlian non-akuntansi.
Krishnan dan Visvanathan (2008) meneliti komposisi audit komite
untuk sampel dari S & P 500 perusahaan, menemukan bahwa hanya
yang positif terkait dengan konservatisme, sifat dasar laporan keuangan.
Di sisi lain, Goh (2009) dalam Kusnadi, et.al. (2015), menemukan bahwa hanya non-akuntansi keahlian keuangan, bukan selain akuntansi keahlian
keuangan, berhubungan positif dengan ketepatan waktu perusahaan
diremediasi kelemahan material dalam pengendalian internal. Selain itu
komite audit harus memiliki integritas tinggi, kemampuan, pengetahuan
dan pengalaman yang memadai sesuai dengan latar belakang
pendidikannya, serta mampu berkomunikasi dengan baik.
4. Ukuran Perusahaan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ukuran diartikan sebagai: (1)
Hasil mengukur; (2) panjang lebar, luas, besar sesuatu (3) bilangan yang
menunjukkan besar satuan ukuran suatu benda; (4) Alat untuk mengukur (seperti
meter, jengkal,dll). Soemarso (2004) dalam Fajri (2013), ukuran perusahaan
adalah suatu organisasi yang didirikan oleh seseorang atau sekelompok orang atau
badan lain yang kegiatannya adalah melakukan produksi dan distribusi guna
memenuhi kebutuhan ekonomis manusia.
Ukuran perusahaan adalah suatu skala dimana dapat diklasifikasikan besar
kecilnya perusahaan menurut berbagai cara, antara lain: total aktiva, log size nilai pasar saham, jumlah karyawan dan lain-lain. Menurut Machfoedz (1999) dalam
Fajri (2013), pada dasarnya ukuran perusahaan hanya terbagi dalam tiga kategori
kemampuan manajemen untuk mengoperasikan perusahaan dengan berbagai
situasi dan kondisi yang dihadapinya.
Secara teoritis, perusahaan yang lebih besar biasannya memiliki kepastian
(certainty) dan tingkat return yang lebih besar pula daripada perusahaan yang relatif kecil sehingga mengurangi ketidakpastian atau risiko mengenai prospek
perusahaan ke depan, sehingga hal tersebut dapat membantu para investor dalam
memprediksi risiko yang mungkin akan terjadi jika investor tersebut berinvestasi
pada perusahaan tersebut. Firt dan Smit (1992) dalam Fajri (2013) menjelaskan
alasan perusahaan besar mampu lebih baik adalah karena memiliki kontrol yang
lebih baik terhadap pasar. Dengan demikian mereka mampu menghadapi
persaingan ekonomi atau rentan terhadap fluktuasi ekonomi.
5. Leverage
Financial leverage adalah pembiayaan sebagian asset perusahaan melalui hutang dengan tingkat pengembalian yang nilainya tetap yang diharapkan akan
meningkatkan laba para investor (Keown, 2000). Menurut Supriadi (2010),
leverage keuangan adalah penggunaan sumber dana yang menimbulkan beban tetap keuangan. Kurniawati (2015) menyatakan financial leverage dapat meningkatkan tingkat profitabilitas perusahaan khususnya laba para investor.
Tingkat leverage sendiri menggambarkan tingkat kemampuan bertahan hidup perusahaan dilihat dari sisi jangka panjang. Konsep leverage keuangan juga mengacu pada jumlah pendanaan utang dalam struktur modal perusahaan
segala kewajiban finansialnya seandainya perusahaan pada saat itu dilikuidasi.
Rasio leverage merupakan rasio yang memperlihatkan tingkat aktifitas perusahan yang dibiayai dari penggunaan utang. Perusahaan yang tingkat leveragenya tinggi berarti perusahaan tersebut sangat bergantung dari hutang dari pihak luar untuk
membiayai aktifitasnya.
Leftwitch, Watt dan Zimmerman (1981) dalam Karami dan Akhgar (2014)
menunjukkan bahwa perusahaan dengan leverage yang tinggi memiliki biaya yang lebih tinggi. Semakin tinggi tingkat leverage (rasio utang/ekuitas) semakin besar kemungkinan perusahaan akan melanggar perjanjian kredit sehingga
perusahaan akan berusaha untuk melaporkan laba sekarang lebih tinggi (Belkaoui
& Karpik, 1989 dalam Anugerah, 2010). Supaya laba yang dilaporkan tinggi
maka manajer harus mengurangi biaya-biaya (termasuk biaya untuk
mengungkapkan informasi).
Dengan demikian mewakili lebih banyak permintaan untuk pengawasan.
Oleh karena itu, kualitas pelaporan keuangan berkaitan dengan struktur pendanaan
perusahaan. Besarnya leverage perusahaan akan menyebabkan perusahaan meningkatkan kualitas pelaporan keuangan dengan tujuan untuk mempertahankan
kinerja yang baik di mata investor dan auditor. Dengan kinerja yang baik tersebut
maka diharapkan kreditor tetap memiliki kepercayaan terhadap perusahaan, tetap
mudah mengucurkan dana, dan perusahaan akan memperoleh kemudahan dalam
proses pembayaran (Cohen, 2003 dalam Karami dan Akhgar, 2014 ).
Teori agensi juga sangat digunakan untuk menjelaskan hubungan antara
rasio utang terhadap kenaikan modal, transfer kekayaan dilakukan dari pihak yang
diutamakan (kreditur, pemilik obligasi dan saham istimewa dari perusahaan) ke
seluruh pemegang saham perusahaan. Financial leverage dapat diukur dengan degree of financial leverage (DFL), debt ratio (DR), total debt to equity ratio (DER), dan time interest earned ratio (TIER).
B. Penelitian Sebelumnya
Berikut ini adalah penelitian-penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya
Tabel 2.1
Daftar Penelitian Sebelumnya
No Penelitian (Tahun) Judul Penelitian Metodologi Penelitian Hasil Penelitian
Tabel 2.1 (Lanjutan)
No Penelitian (Tahun) Judul Penelitian Metodologi Penelitian Hasil Penelitian
Persamaan Perbedaan
4. Nina Pertiwi (2012) Hubungan Antara Performa Komite Audit
Tabel 2.1 (lanjutan)
No. Penelitian (Tahun) Judul Penelitian Persamaan Metodologi PenelitianPerbedaan Hasil Penelitian
Tabel 2.1 (lanjutan)
No. Penelitian (Tahun) Judul Penelitian Metodologi Penelitian Hasil Penelitian
Persamaan Perbedaan
9. Yuanto Kusnadi, Kwong Sin Leong, Themin Suwardy, Jiwei Wang (2015)
Audit Committees and Financial Reporting Quality in Singapore
Ukuran Komite Audit dan Keahlian
Akuntansi Komite Audit
Jumlah rapat komite audit, ukuran
perusahaan, leverage
Kualitas pelaporan keuangan akan lebih bernilai tinggi jika komite audit memiliki keahlian dalam akuntansi, keuangan dan pengawasan
Variabel Independen
Terjadinya skandal laporan keuangan dengan pelaporan keuangan yang menyesatkan
2. Jumlah Rapat (X2)
Uji Asumsi Klasik Koefisien Determinasi (AdjR2)
1. Uji Multikolinearitas Uji Hipotesis
2. Uji Autokorelasi 1. Uji F
3. Uji Heterokedastisitas 2. Uji t
Pembahasan
1. Ukuran Komite Audit (X1)
(Felo et.al, 2003) (Aldamen et.al, 2011) (Mutmainnah et.al, 2013)
D. Keterkaitan Antara Variabel
1. Pengaruh Ukuran Komite Audit terhadap Kualitas Laporan Keuangan
Anderson et al. (2003) menemukan bahwa semakin kecil komite audit maka akan semakin meningkat kualitas laba yang dilaporkan. Penelitian
Felo, et al. (2003) menunjukkan adanya hubungan positif antara ukuran komite audit dan kualitas laporan keuangan. Sementara, menurut Hassan
(2013), komite audit yang lebih besar lebih mungkin untuk dapat
mencurahkan waktu dan usaha yang cukup untuk memastikan bahwa
informasi yang diungkapkan dalam laporan keuangan yang akurat dan tepat
waktu dan karenanya meningkatkan kualitas pelaporan keuangan.
Lin dan Yang (2006) dalam Mutmainnah dan Wardhani (2013)
menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah anggota komite audit dalam
sebuah perusahaan, maka kesalahan dalam laporan keuangan akan semakin
kecil. Dengan semakin banyaknya anggota komite audit dalam suatu
perusahaan, cakupan dalam aspek monitoring terhadap risiko-risiko yang dihadapi perusahaan menjadi lebih baik. Hal ini tentunya akan meningkatkan
kualitas laporan keuangan.
2. Pengaruh Jumlah Rapat Komite Audit terhadap Kualitas Laporan
Keuangan
komunikasi yang lebih baik antara anggota komite audit dan auditor. Hal ini
memungkinkan komite audit menjadi lebih efektif dalam melakukan tugasnya
(Barua, 2010). Bryan et al. (2004) menemukan bahwa efektivitas atas komite audit direkomendasikan untuk meningkatkan pengawasan komite audit dari
proses pelaporan laporan keuangan dan menyarankan elemen Sarbanes-Oxley
Act untuk meningkatkan kualitas laba.
Menon dan William (1994) dalam Hassan (2013) menyatakan komite
audit yang bertemu hanya sekali tidak mungkin memonitor secara efektif
sementara komite audit yang bertemu beberapa kali mengerahkan upaya yang
lebih serius dalam pengelolaan pemantauan yang meningkatkan kualitas
informasi keuangan yang akan dilaporkan. Penelitian Tiras (2004) dalam
Mutmainnah dan Wardhani (2013) menyatakan bahwa komite audit yang
mengadakan rapat atau pertemuan secara teratur akan berpengaruh positif
terhadap kualitas laporan keuangan perusahaan. Jumlah rapat ini
memproksikan monitoring. Semakin tingginya intensitas rapat yang dilakukan oleh komite audit, maka kualitas monitoring yang dijalankan semakin baik dan hal tersebut akan meningkatkan kualitas laporan keuangan
perusahaan.
3. Pengaruh Keahlian Akuntansi Komite Audit terhadap Kualitas Laporan
Keuangan
Kusnadi, et. al (2015) menyatakan salah satu tugas utama komite audit adalah untuk mengawasi proses keuangan perusahaan, maka anggota
tentunya lebih efektif dalam memonitor manajemen dalam praktek pelaporan
keuangan untuk menghasilkan laporan keuangan yang berkualitas tinggi.
Sementara, Aldamen, et al. (2011) menyatakan komite audit yang memiliki lebih banyak pengalaman dan keahlian keuangan lebih mungkin terkait
dengan kinerja perusahaan yang positif di pasar.
Anggota komite audit seharusnya memiliki kemampuan dan keahlian
dalam bidang keuangan dan akuntansi. Hal ini diharapkan agar komite audit
dapat memperbaiki pengerjaan kualitas laporan keuangan (Salehi, et.al, 2012). Zhang et al. (2007) menggunakan kelemahan pengendalian internal sebagai ukuran kualitas pelaporan keuangan menemukan bahwa perusahaan
lebih mungkin memiliki kelemahan pengendalian internal jika komite audit
mereka memiliki keahlian keuangan. Penelitian terdahulu juga menunjukkan
bahwa komite audit dengan tingkat keahlian di bidang akuntansi dan
keuangan akan berpengaruh positif terhadap kualitas informasi keuangan
yang disajikan perusahaan (McDaniel, 2004) dalam Mutmainnah dan
Wardhani (2013)
4. Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Kualitas Laporan Keuangan
Chtourou dan Courteau (2001) menemukan bahwa ukuran perusahaan
di Amerika Serikat berpengaruh negatif terhadap manajemen laba.
Perusahaan yang lebih besar kurang memiliki dorongan untuk melakukan
manajemen laba dibandingkan perusahaan kecil. Sedangkan penelitian di
Indonesia oleh Siregar dan Utama (2006) menemukan bahwa ukuran
ekuitas perusahaan pada akhir tahun berpengaruh signifikan negatif terhadap
besaran pengelolaan laba, artinya semakin besar ukuran perusahaan semakin
kecil besaran pengelolaan labanya.
Berbeda dengan penelitan yang sebelumnya, Nasution dan Setiawan
(2007) yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh
signifikan terhadap manajemen laba.
5. Pengaruh leverage terhadap Kualitas Laporan Keuangan
Peningkatan leverage akibat aktivitas pinjaman mungkin berdampak terhadap earnings management behavior. Makin lama perusahaan memungkinkan makin kecilnya diskresi dalam kualitas pelaporan keuangan
dan akan mempunyai sedikit variabilitas dalam akrual (Gu et.al, 2002 dalam Fanani, 2009). Manajer memiliki insentif laporan keuangan yang berkualitas
tinggi seiring dengan peningkatan konflik agensi antara shareholder dengan debtholder yang timbul dari jumlah leverage pada struktur modal perusahaan (Barton dan Waymire, 2004 dalam Hidayat, 2012).
Besarnya leverage perusahaan akan menyebabkan perusahaan meningkatkan kualitas pelaporan keuangan dengan tujuan untuk
mempertahankan kinerja yang baik di mata investor dan auditor. Dengan
kinerja yang baik tersebut maka diharapkan kreditor tetap memiliki
kepercayaan terhadap perusahaan, tetap mudah mengucurkan dana, dan
perusahaan akan memperoleh kemudahan dalam proses pembayaran
(Cohen, 2003). Penelitian Karami dan Akhgar (2014) menunjukkan bahwa