KINERJA PERTUMBUHAN IKAN GURAME Osphronemus gouramy Lac. YANG DIPELIHARA PADA MEDIA BERSALINITAS 0, 3, 6 DAN 9 ppt
DENGAN PAPARAN MEDAN LISTRIK
RASMAWAN
SKRIPSI
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN AKUAKULTUR FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul :
KINERJA PERTUMBUHAN IKAN GURAME Osphronemus gouramy Lac. YANG DIPELIHARA PADA MEDIA BERSALINITAS 0, 3, 6 DAN 9 ppt DENGAN PAPARAN MEDAN LISTRIK
adalah benar merupakan karya sendiri dan belum digunakan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Bogor, Maret 2009
RINGKASAN
RASMAWAN. Kinerja Pertumbuhan Ikan Gurame Osphronemus gouramy Lac. yang Dipelihara pada Media Bersalinitas 0, 3, 6 dan 9 ppt dengan Paparan Medan Listrik. Dibimbing oleh KUKUH NIRMALA.
Salah satu kendala dalam usaha budidaya ikan gurame adalah pertumbuhannya yang relatif lambat dibandingkan dengan ikan air tawar lainnya. Strategi yang dilakukan dalam meningkatkan pertumbuhan ikan gurame antara lain melalui pendekatan lingkungan yaitu dengan memanfaatkan media pemeliharaan bersalinitas dan paparan medan listrik. Salinitas berpengaruh terhadap proses osmoregulasi dan nilai konduktivitas air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media pemeliharaan bersalinitas 0, 3, 6 dan 9 ppt terhadap kinerja pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan gurame yang diberi paparan medan listrik 10 volt selama tiga menit sebelum pemberian pakan.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli hingga September 2008 bertempat di Laboratorium Lingkungan Akuakultur, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Ikan dipelihara dalam akuarium berukuran 20 x 20 x 20 cm3 dengan volume air 5 liter dan kepadatan 3 ekor/liter. Ikan uji yang digunakan adalah ikan gurame dengan ukuran panjang 7,18±0,30 cm dan bobot 5,68±0,67 gram/ekor. Sebelum diberi perlakuan ikan diadaptasikan terlebih dahulu dengan salinitas 3, 6, dan 9 ppt. Pemberian paparan medan listrik dilakukan selama 3 menit sebelum ikan diberi pakan dan dilakukan 3 kali sehari setiap ikan akan diberi pakan. Pemberian pakan dilakukan setiap hari sebanyak 3 kali yaitu pukul 07.00, 12.00, dan 17.00 WIB. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL), dengan 4 perlakuan, yaitu Kontrol (tanpa salinitas atau 0 ppt), 3 (salinitas 3 ppt), 6 (salinitas 6 ppt), dan 9 (salinitas 9 ppt) dan masing-masing 3 kali ulangan. Pengamatan dilakukan setiap sepuluh hari sekali. Parameter yang diamati berupa data kelangsungan hidup, laju pertumbuhan bobot harian, pertumbuhan bobot, pertumbuhan panjang mutlak, rasio PU/PT, efisiensi pakan dan kualitas air.
KINERJA PERTUMBUHAN IKAN GURAME Osphronemus gouramy Lac. YANG DIPELIHARA PADA MEDIA BERSALINITAS 0, 3, 6 DAN 9 ppt
DENGAN PAPARAN MEDAN LISTRIK
RASMAWAN
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan Pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Institut Pertanian Bogor
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN AKUAKULTUR FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
Judul : KINERJA PERTUMBUHAN IKAN GURAME Osphronemus gouramy Lac. YANG DIPELIHARA PADA MEDIA BERSALINITAS 0, 3, 6 DAN 9 ppt DENGAN PAPARAN MEDAN LISTRIK
Nama : Rasmawan Nomor Pokok : C14104029
Menyetujui, Pembimbing
Dr. Kukuh Nirmala NIP. 131691469
Mengetahui,
Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prof. Dr. Ir. Indra Jaya, M.Sc. NIP. 131 578 799
KATA PENGANTAR
Alhamdulillaahirabbil’aalamin, puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah Swt karena atas rahmat, hidayah dan karunia-Nya Skripsi yang berjudul “Kinerja Pertumbuhan Ikan Gurame Osphronemus gouramy Lac. yang Dipelihara pada Media Bersalinitas 0, 3, 6 dan 9 ppt dengan Paparan Medan Listrik” ini dapat diselesaikan. Penulisan Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Dalam kesempatan ini Penulis mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada :
1. Bapak Dr. Kukuh Nirmala selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah memberikan bimbingan dan arahan selama studi. Selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan dan masukan dalam menyelesaikan skripsi ini.
2. Bapak Prof. Dr. Komar Sumantadinata dan Ibu Dr. Widanarni selaku Dosen Penguji Tamu yang telah memberikan banyak masukan dalam menyelesaikan skripsi ini.
3. Ayahanda Soleh, Ibunda Rasimah, adikku Leha Yunita, Roby Darwis dan Nurlela Gustiawati atas kasih sayang, doa, dukungan semangat baik moril dan materi.
4. Pak Jajang, Kang Abe, Mba Desi, Pak Marijanta, Kang Asep, Mba Yuli atas bantuan yang diberikan.
5. Yuly Aini, Ema, Klory, Phyto, Bayu, Rizki, Ima, Yudha dan Firman atas kebersamaan, kerjasama dan dukungannya.
6. Teman-teman BDP 41, kakak kelas BDP’40, BDP’39 dan BDP’38 adik kelas BDP 42 dan 43 atas persahabatan dan bantuan yang diberikan.
Akhir kata semoga skripsi ini bermanfaat khususnya bagi Penulis dan juga bagi semua pihak yang memerlukan informasi yang berhubungan dengan tulisan ini. Amin.
Bogor, Maret 2009
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Bandar Lampung, 25 Maret 1985, adalah anak pertama dari empat bersaudara dari ayah bernama Soleh dan ibu Rasimah. Pendidikan formal yang dilalui penulis yaitu SDN 6 Gedung Air Bandar Lampung , SLTPN 1 Bandar Lampung, SMUN 10 Bandar Lampung, Lampung. Pada tahun 2004, Penulis mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tinggi ke Intitut Pertanian Bogor di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan pada Program Studi Teknologi dan Manajemen Akuakultur melalui Jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB).
DAFTAR ISI
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Biologi Ikan Gurame ... 3
2.7 Efek Medan Listrik terhadap Jaringan Hidup ... 9
2.8 Pencernaan pada Ikan ... 10
2.9 Pertumbuhan dan Tingkat Kelangsungan Hidup ... 11
2.10 Kualitas Air ... 11
3.4.4 Perlakuan dan Pemeliharaan Ikan Uji ... 19
3.4.5 Pemberian Paparan Medan Listrik ... 19
3.5 Parameter yang Diamati ... 21
3.5.1 Parameter Biologi ... 21
3.5.2 Parameter Kualitas Air... 23
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil ... 25
4.1.1 Tingkat Kelangsungan Hidup ... 25
4.1.2 Laju Pertumbuhan Bobot Harian ... 26
4.1.3 Pertumbuhan Bobot... 27
4.1.4 Pertumbuhan Panjang Mutlak ... 28
4.1.5 Rasio Panjang Usus Terhadap Panjang Total Tubuh (PU/PT) .. 29
4.1.6 Efisiensi Pemberian Pakan ... 30
4.1.7 Kualitas Air ... 31
4.2 Pembahasan ... 32
V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 41
5.2 Saran ... 41
DAFTAR PUSTAKA ... 42
DAFTAR TABEL
Halaman 1. Persentase nilai amonia tidak terionisasi yang terlarut dalam air pada suhu
dan pH yang berbeda (Boyd, 1988) ... 14 2. Klasifikasi Perairan Berdasarkan Nilai Kesadahan... 16 3. Kisaran Parameter Kualitas Air Media Pemeliharaan Benih Ikan Gurame
Osphronemus gouramy Lac. Pada Setiap Wadah Perlakuan Selama
KINERJA PERTUMBUHAN IKAN GURAME Osphronemus gouramy Lac. YANG DIPELIHARA PADA MEDIA BERSALINITAS 0, 3, 6 DAN 9 ppt
DENGAN PAPARAN MEDAN LISTRIK
RASMAWAN
SKRIPSI
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN AKUAKULTUR FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul :
KINERJA PERTUMBUHAN IKAN GURAME Osphronemus gouramy Lac. YANG DIPELIHARA PADA MEDIA BERSALINITAS 0, 3, 6 DAN 9 ppt DENGAN PAPARAN MEDAN LISTRIK
adalah benar merupakan karya sendiri dan belum digunakan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Bogor, Maret 2009
RINGKASAN
RASMAWAN. Kinerja Pertumbuhan Ikan Gurame Osphronemus gouramy Lac. yang Dipelihara pada Media Bersalinitas 0, 3, 6 dan 9 ppt dengan Paparan Medan Listrik. Dibimbing oleh KUKUH NIRMALA.
Salah satu kendala dalam usaha budidaya ikan gurame adalah pertumbuhannya yang relatif lambat dibandingkan dengan ikan air tawar lainnya. Strategi yang dilakukan dalam meningkatkan pertumbuhan ikan gurame antara lain melalui pendekatan lingkungan yaitu dengan memanfaatkan media pemeliharaan bersalinitas dan paparan medan listrik. Salinitas berpengaruh terhadap proses osmoregulasi dan nilai konduktivitas air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media pemeliharaan bersalinitas 0, 3, 6 dan 9 ppt terhadap kinerja pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan gurame yang diberi paparan medan listrik 10 volt selama tiga menit sebelum pemberian pakan.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli hingga September 2008 bertempat di Laboratorium Lingkungan Akuakultur, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Ikan dipelihara dalam akuarium berukuran 20 x 20 x 20 cm3 dengan volume air 5 liter dan kepadatan 3 ekor/liter. Ikan uji yang digunakan adalah ikan gurame dengan ukuran panjang 7,18±0,30 cm dan bobot 5,68±0,67 gram/ekor. Sebelum diberi perlakuan ikan diadaptasikan terlebih dahulu dengan salinitas 3, 6, dan 9 ppt. Pemberian paparan medan listrik dilakukan selama 3 menit sebelum ikan diberi pakan dan dilakukan 3 kali sehari setiap ikan akan diberi pakan. Pemberian pakan dilakukan setiap hari sebanyak 3 kali yaitu pukul 07.00, 12.00, dan 17.00 WIB. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL), dengan 4 perlakuan, yaitu Kontrol (tanpa salinitas atau 0 ppt), 3 (salinitas 3 ppt), 6 (salinitas 6 ppt), dan 9 (salinitas 9 ppt) dan masing-masing 3 kali ulangan. Pengamatan dilakukan setiap sepuluh hari sekali. Parameter yang diamati berupa data kelangsungan hidup, laju pertumbuhan bobot harian, pertumbuhan bobot, pertumbuhan panjang mutlak, rasio PU/PT, efisiensi pakan dan kualitas air.
KINERJA PERTUMBUHAN IKAN GURAME Osphronemus gouramy Lac. YANG DIPELIHARA PADA MEDIA BERSALINITAS 0, 3, 6 DAN 9 ppt
DENGAN PAPARAN MEDAN LISTRIK
RASMAWAN
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan Pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Institut Pertanian Bogor
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN AKUAKULTUR FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
Judul : KINERJA PERTUMBUHAN IKAN GURAME Osphronemus gouramy Lac. YANG DIPELIHARA PADA MEDIA BERSALINITAS 0, 3, 6 DAN 9 ppt DENGAN PAPARAN MEDAN LISTRIK
Nama : Rasmawan Nomor Pokok : C14104029
Menyetujui, Pembimbing
Dr. Kukuh Nirmala NIP. 131691469
Mengetahui,
Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prof. Dr. Ir. Indra Jaya, M.Sc. NIP. 131 578 799
KATA PENGANTAR
Alhamdulillaahirabbil’aalamin, puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah Swt karena atas rahmat, hidayah dan karunia-Nya Skripsi yang berjudul “Kinerja Pertumbuhan Ikan Gurame Osphronemus gouramy Lac. yang Dipelihara pada Media Bersalinitas 0, 3, 6 dan 9 ppt dengan Paparan Medan Listrik” ini dapat diselesaikan. Penulisan Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Dalam kesempatan ini Penulis mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada :
1. Bapak Dr. Kukuh Nirmala selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah memberikan bimbingan dan arahan selama studi. Selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan dan masukan dalam menyelesaikan skripsi ini.
2. Bapak Prof. Dr. Komar Sumantadinata dan Ibu Dr. Widanarni selaku Dosen Penguji Tamu yang telah memberikan banyak masukan dalam menyelesaikan skripsi ini.
3. Ayahanda Soleh, Ibunda Rasimah, adikku Leha Yunita, Roby Darwis dan Nurlela Gustiawati atas kasih sayang, doa, dukungan semangat baik moril dan materi.
4. Pak Jajang, Kang Abe, Mba Desi, Pak Marijanta, Kang Asep, Mba Yuli atas bantuan yang diberikan.
5. Yuly Aini, Ema, Klory, Phyto, Bayu, Rizki, Ima, Yudha dan Firman atas kebersamaan, kerjasama dan dukungannya.
6. Teman-teman BDP 41, kakak kelas BDP’40, BDP’39 dan BDP’38 adik kelas BDP 42 dan 43 atas persahabatan dan bantuan yang diberikan.
Akhir kata semoga skripsi ini bermanfaat khususnya bagi Penulis dan juga bagi semua pihak yang memerlukan informasi yang berhubungan dengan tulisan ini. Amin.
Bogor, Maret 2009
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Bandar Lampung, 25 Maret 1985, adalah anak pertama dari empat bersaudara dari ayah bernama Soleh dan ibu Rasimah. Pendidikan formal yang dilalui penulis yaitu SDN 6 Gedung Air Bandar Lampung , SLTPN 1 Bandar Lampung, SMUN 10 Bandar Lampung, Lampung. Pada tahun 2004, Penulis mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tinggi ke Intitut Pertanian Bogor di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan pada Program Studi Teknologi dan Manajemen Akuakultur melalui Jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB).
DAFTAR ISI
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Biologi Ikan Gurame ... 3
2.7 Efek Medan Listrik terhadap Jaringan Hidup ... 9
2.8 Pencernaan pada Ikan ... 10
2.9 Pertumbuhan dan Tingkat Kelangsungan Hidup ... 11
2.10 Kualitas Air ... 11
3.4.4 Perlakuan dan Pemeliharaan Ikan Uji ... 19
3.4.5 Pemberian Paparan Medan Listrik ... 19
3.5 Parameter yang Diamati ... 21
3.5.1 Parameter Biologi ... 21
3.5.2 Parameter Kualitas Air... 23
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil ... 25
4.1.1 Tingkat Kelangsungan Hidup ... 25
4.1.2 Laju Pertumbuhan Bobot Harian ... 26
4.1.3 Pertumbuhan Bobot... 27
4.1.4 Pertumbuhan Panjang Mutlak ... 28
4.1.5 Rasio Panjang Usus Terhadap Panjang Total Tubuh (PU/PT) .. 29
4.1.6 Efisiensi Pemberian Pakan ... 30
4.1.7 Kualitas Air ... 31
4.2 Pembahasan ... 32
V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 41
5.2 Saran ... 41
DAFTAR PUSTAKA ... 42
DAFTAR TABEL
Halaman 1. Persentase nilai amonia tidak terionisasi yang terlarut dalam air pada suhu
dan pH yang berbeda (Boyd, 1988) ... 14 2. Klasifikasi Perairan Berdasarkan Nilai Kesadahan... 16 3. Kisaran Parameter Kualitas Air Media Pemeliharaan Benih Ikan Gurame
Osphronemus gouramy Lac. Pada Setiap Wadah Perlakuan Selama
DAFTAR GAMBAR
Halaman 1. Denah Susunan Akuarium Percobaan... 18 2. Skema Susunan Alat Percobaan... 20 3. Histogram Tingkat Kelangsungan Hidup (%) Benih Ikan Gurame Pada
Setiap Perlakuan Selama Pemeliharaan ... 25 4. Histogram Laju Pertumbuhan Bobot Harian (%) Benih Ikan Gurame Pada
Setiap Perlakuan Selama Pemeliharaan ... 26 5. Hubungan lama waktu pemeliharaan (X) dengan bobot rata-rata (Y) benih
ikan gurame yang diberi perlakuan salinitas 0, 3, 6, dan 9 ppt dengan
paparan listrik 10 volt. ... 27 6. Histogram Pertumbuhan Panjang Mutlak (cm) Benih Ikan Gurame Pada
Setiap Perlakuan Selama Pemeliharaan ... 28 7. Histogram Rasio PU/PT Benih Ikan Gurame Pada Setiap Perlakuan
Selama Pemeliharaan ... 29 8. Histogram Efisiensi Pemberian Pakan (%) Benih Ikan Gurame Pada
DAFTAR LAMPIRAN
1
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ikan gurame Osphronemus gouramy sebagai komoditas ikan air tawar
memiliki alat pernapasan tambahan berupa labirin yang mulai terbentuk pada
umur 18 hari–24 hari sehingga dapat bertahan hidup pada perairan yang kurang
oksigen karena mampu mengambil oksigen dari udara bebas (Standar Nasional
Indonesia (SNI): 01-6485.2-2000). Ikan gurame yang rasa dagingnya sangat lezat
ini memiliki potensi untuk dibudidayakan secara komersial karena mempunyai
nilai ekonomis tinggi. Usaha budidaya ikan gurame dapat dikelompokkan menjadi
usaha pembenihan, usaha pendederan dan usaha pembesaran. Akan tetapi, masih
banyak ditemukan kendala dalam usaha budidaya ikan gurame, salah satu
kendalanya adalah pertumbuhannya yang relatif lambat dibandingkan dengan ikan
air tawar lainnya. Untuk mencapai ukuran konsumsi dengan berat badan minimal
500 gram dari benih yang berukuran 1 gram memerlukan waktu pemeliharaan
lebih dari satu tahun (Sarwono dan Sitanggang, 2007).
Strategi yang dilakukan dalam meningkatkan pertumbuhan ikan gurame
antara lain melalui pendekatan lingkungan yaitu dengan memanfaatkan media
pemeliharaan bersalinitas dan paparan medan listrik. Salinitas sebagai salah satu
parameter kualitas air secara langsung berpengaruh terhadap metabolisme tubuh
ikan, terutama proses osmoregulasi. Salah satu aspek fisiologi ikan yang
dipengaruhi oleh salinitas adalah tekanan osmotik dan konsentrasi cairan tubuh
(Holiday, 1969). Salinitas berhubungan erat dengan tekanan osmotik air. Semakin
tinggi salinitas, semakin tinggi tekanan osmotik air (Boyd, 1982). Darah ikan air
tawar memiliki tekanan osmotik sekitar 6 atm atau setara dengan 7000 mg/l
sodium klorida (NaCl) (Mackee dan Wolf, 1963 dalam Boyd, 1982). Ikan air
tawar dapat hidup baik pada air laut dengan level salinitas tersebut. Hasil
penelitian Dewi (2006), benih ikan gurame ukuran 3-6 cm yang dipelihara pada
media bersalinitas 3 ppt memiliki tingkat kelangsungan hidup yang tinggi yaitu
92,27%. Salinitas juga berpengaruh terhadap nilai konduktivitas air. Menurut
Nybakken (1988), air yang bersalinitas lebih tinggi, memiliki konduktivitas yang
2
elektrolit yang bermuatan negatif lebih tinggi, sehingga daya hantar listriknya
meningkat.
Paparan medan listrik sebagai faktor eksternal dari lingkungan yang berupa
rangsangan induksi medan listrik. Mekanisme interaksi induksi medan listrik
dapat menimbulkan efek pada jaringan biologi (Itegin dan Gunay, 1993 dalam
Sitio, 2008). Menurut Nair (1989), induksi pada benda hidup disebabkan adanya
muatan-muatan listrik bebas yang terdapat pada ion kaya cairan seperti darah,
getah bening, saraf dan otot yang dapat terpengaruh gaya yang dihasilkan oleh
aliran arus listrik. Ikan dapat merespon arus listrik karena memiliki organ
electroreceptor (Lismann dan Machin, 1958 dalam Hoar dan Randall, 1971).
Dengan demikian, induksi medan listrik diharapkan dapat merangsang kerja otot
polos pada usus ikan dan dapat membantu penyerapan sari-sari makanan dalam
usus ikan menjadi lebih baik, sehingga pertumbuhan ikan juga menjadi lebih baik.
Dari beberapa hasil penelitian di atas, pendekatan lingkungan yang
memanfaatkan media pemeliharaan bersalinitas dan paparan medan listrik
menunjukkan hal yang sama dan sinergis yaitu memberikan pengaruh positif
terhadap tingkat kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan gurame. Hasil
penelitian Sitio (2008), pemberian medan listrik hingga 10 volt pada media
pemeliharaan bersalinitas 3 ppt masih memberikan pengaruh yang baik terhadap
tingkat kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih ikan gurame ukuran 2-4 cm.
Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh media
pemeliharaan bersalinitas yang lebih tinggi konsentrasinya terhadap kinerja
pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan gurame yang diberi paparan
medan listrik 10 volt.
1.2 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media pemeliharaan
bersalinitas 0, 3, 6 dan 9 ppt terhadap kinerja pertumbuhan dan kelangsungan
hidup benih ikan gurame ukuran 6-8 cm yang diberi paparan medan listrik 10 volt
3
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Biologi Ikan Gurame
Ikan gurame Osphronemus gouramy Lac. sebagai ikan budidaya sudah
ditulis orang sebagai ikan konsumsi dan ikan hias sejak tahun 1802. Publikasi
secara besar-besaran tentang ikan gurame berlangsung pada tahun 1895. Ikan
gurame asli berasal dari Kepulauan Sunda Besar, penyebarannya sebagai ikan
budidaya meliputi wilayah di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Malaysia, Thailand,
Cina, India, Srilangka, Kepulauan Sychillin, dan Australia (Sarwono dan
Sitanggang, 2007).
Adapun klasifikasi ikan gurame menurut Standar Nasional Indonesia (SNI):
01-6485.2-2000 adalah sebagai berikut :
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Perciformes
Subordo : Belontiidae
Famili : Osphronemidae
Genus : Osphronemus
Spesies : Osphronemus gouramy Lac.
Ikan gurame memiliki badan yang pipih, agak panjang dan lebar. Badan itu
tertutup sisik yang kuat dengan tepi agak kasar. Mulutnya kecil, letaknya miring,
bibir bawah terlihat menonjol sedikit dibandingkan bibir atas, ujung mulut dapat
disembulkan. Ikan ini biasa hidup di sungai, rawa, dan danau serta cocok
dipelihara di air tenang. Selain di air tawar, ikan gurame dapat pula menyesuaikan
diri dan hidup di perairan payau yang kadar garamnya rendah (Sarwono dan
Sitanggang, 2007). Ikan ini tergolong ikan yang peka terhadap suhu rendah, suhu
optimal untuk ikan gurame berkisar antara 28-32 oC (Huet, 1971 dan Hardjamulia,
1978 dalam Dewi, 2006).
Ikan gurame bersifat omnivora, jenis makanan yang diberikan dibedakan
berdasarkan stadia umur, untuk larva atau benih biasanya diberikan berbagai jenis
4
dan Daphnia, sedangkan ikan gurame dewasa biasanya diberikan daun tumbuhan
yang lunak dan pakan buatan (Jangkaru, 2003).
2.2 Osmoregulasi dan Salinitas
Osmoregulasi adalah proses pengaturan tekanan osmotik cairan tubuh yang
layak bagi kehidupan organisme air termasuk ikan yang menyebabkan proses
fisiologis organ tubuh berjalan normal (Rahardjo, 1980). Proses fisiologis dalam
tubuh akan berjalan normal apabila keseimbangan konsentrasi garam cairan tubuh
dengan lingkungannya dapat dipelihara dan dijaga. Menurut Watanabe (1988),
secara signifikan, sejumlah mineral dapat diabsorbsi dari air secara langsung.
Lebih jauh lagi, sebagian besar vertebrata hanya mampu mengekskresikan
regulasi minimal dari mineral yang terabsorbsi melalui makanan. Walaupun
demikian, sebagian besar spesies dapat melakukan regulasi apabila konsentrasi
ion-ion dalam cairan tubuhnya demikian dijaga, agar lingkungan internalnya tetap
konstan. Hal ini dicapai oleh ikan melalui proses pengaturan ion dan osmotik pada
ginjal dan insang.
Gilles dan Jeaniaux (1979) dalam Dewi (2006) menyatakan bahwa
osmoregulasi pada organisme akuatik dapat dilakukan dalam dua cara diantaranya
yaitu: 1. Menjaga osmokonsentrasi cairan di luar sel (ekstraseluler) organ tetap
konstan terhadap apapun yang terjadi pada salinitas medium eksternalnya, 2.
memelihara isoosmotik cairan dalam sel atau (interseluler) terhadap cairan luar sel
(ekstraseluler). Tiap spesies memiliki kisaran salinitas optimum. Di luar kisaran
ini ikan harus mengeluarkan energi lebih banyak untuk osmoregulasi daripada
untuk pertumbuhan (Boyd, 1990).
Cairan tubuh ikan air tawar mempunyai tekanan osmotik yang lebih besar
daripada lingkungannya, sehingga garam-garam tubuh cenderung keluar dan air
cenderung masuk ke dalam tubuhnya secara osmotik melalui permukaan kulit
yang semipermiabel (Gilles dan Jeaniaux, 1979 dalam Dewi, 2006). Menurut
Stickney (1979), salah satu cara penyesuaian ikan terhadap lingkungan ialah
pengaturan keseimbangan air dan garam dalam jaringan tubuhnya, karena
sebagian hewan vertebrata air mengandung garam dengan konsentrasi yang
5
untuk memelihara keseimbangan cairan tubuhnya setiap waktu. Pengaturan
tekanan osmotik ini merupakan faktor pengatur fungsi fisiologis organ tubuh yang
memerlukan energi. Apabila salinitas lingkungan mendekati salinitas cairan tubuh
ikan, maka energi hasil metabolisme hampir tidak dipergunakan untuk
penyesuaian diri dengan tekanan osmotik lingkungannya. Ikan yang dipelihara
dalam air media dengan salinitas lingkungan yang tidak sesuai dengan konsentrasi
garam fisiologis tubuhnya, menyebabkan energi dari anabolisme makanan dipakai
untuk keperluan kegiatan fisik dan pergantian sel tubuh dengan lingkungannya
(metabolisme basal), sehingga proses pertumbuhan terhambat (Stickney, 1979).
Tekanan osmotik air akan semakin meningkat dengan meningkatnya
salinitas. Darah ikan air tawar memiliki tekanan osmotik sekitar 6 atm atau setara
dengan 7000 mg/l sodium klorida (NaCl) (Mackee dan Wolf, 1963 dalam Boyd,
1982). Ikan air tawar dapat hidup baik pada air laut dengan level salinitas tersebut.
Menurut Dewi (2006), benih gurame ukuran 3-6 cm yang dipelihara pada media
bersalinitas 3 ppt memiliki tingkat kelangsungan hidup yang tinggi yaitu 92,27%.
Salah satu fungsi homeostatis yang terpenting pada organisme hidup adalah
regulasi lingkungan osmotik internal yang tepat, mekanisme pengaturan
keseimbangan cairan tubuh inilah yang merupakan fungsi osmoregulasi (Yuwono,
2001).
Salinitas adalah konsentrasi total ion yang terdapat di perairan (Boyd, 1988).
Menurut Effendi (2003), salinitas menggambarkan padatan total di dalam air,
setelah semua karbonat dikonversi menjadi oksida, semua bromida dan iodida
digantikan oleh klorida, dan semua bahan organik telah dioksidasi. Salinitas
dinyatakan dalam satuan g/kg atau promil (o/oo).
Tujuh ion utama yang berkontribusi terhadap salinitas adalah sodium,
potassium, kalsium, magnesium, chloride, sulfate, dan bicarbonate. Air biasanya
hanya mengandung sedikit unsur phosphorus, inorganik nitrogen, besi, mangan,
zinc, copper, boron, dan unsur lain. Pada daerah estuari, salinitas air diestimasi
berdasarkan konsentrasi chloride (Swingel, 1969 dalam Boyd, 1982).
Menurut Holliday (1969), dalam batas-batas tertentu, setiap organisme
mempunyai daya tahan atau tingkat toleransi terhadap perubahan lingkungan.
6
ketahanan jaringan dan pengaturan tekanan osmotik cairan tubuh. Jika
perubahannya di luar kisaran toleransi, maka laju pertumbuhan ikan dapat
menurun dan bahkan dapat menyebabkan kematian mendadak atau
berangsur-angsur.
Salinitas berhubungan erat dengan tekanan osmotik air. Semakin tinggi
salinitas, semakin tinggi tekanan osmotik air (Boyd, 1982). Salinitas
mempengaruhi kondisi internal hewan air. Tekanan osmotik dan konsentrasi ion
cairan tubuh merupakan salah satu faktor yang ada dalam sifat kimia air dan
keberadaannya di dalam air dapat menjadi faktor penghambat atau pemacu
pertumbuhan ikan.
2.3 Medan Listrik
Medan listrik alami terdapat pada banyak lingkungan perairan berasal dari
faktor abiotik dan biotik. Medan listrik alami yang berasal dari faktor abiotik,
sebagian besar merupakan Direct Current (DC) atau dalam frekuensi yang rendah
jenis Alternating Current (AC), dalam selang kurang dari satu atau beberapa
putaran per sekon (Hz). Medan listrik yang terbentuk, berasal dari proses-proses
geochemical dan aliran air menuju medan magnet bumi. Medan listrik alami yang
berasal dari faktor biotik berada dalam Direct Current (DC) berasal dari
kumpulan oscillator, dimana semua sel-sel mengalami kebocoran atau kehilangan
ion-ion dan itulah yang menjadi sumber dari arus DC. Hal yang menjadi sumber
paling penting secara ekologi dari kutub medan oscilasi adalah diproduksi oleh
ritme dari kontraksi otot sepanjang ventilasi insang dan pergerakan undulatori.
Lebih dari 60 spesies hewan, 9 filum yang telah diketahui memiliki frekuensi
rendah dari medan listrik di seluruh permukaan tubuhnya (Albert dan Crampton,
2006).
Menurut Kanginan (1995), medan listrik merupakan vektor, yaitu memiliki
besaran dan arah. Kuat medan listrik pada dua keping sejajar yang diberi muatan
listrik yang sama tetapi berlawanan jenis positif dan negatif, dipengaruhi oleh
potensial listrik (volt) dan jarak antara kedua keping (m). Semakin besar jarak
7
2.4 Sifat Listrik dalam Air
Menurut Suharyanto (2003), bila elektroda logam dicelupkan ke dalam air,
maka voltase maupun arus listrik akan menyebar dengan pola garis-garis
lengkung yang menghubungkan katoda dan anoda. Sedangkan garis-garis
equipotential digambarkan memotong garis-garis arus secara tegak lurus sehingga
membentuk garis berpola melingkar dan bertitik pusat pada kedua elektroda.
Pada air yang bersalinitas lebih tinggi memiliki konduktivitas yang lebih
tinggi pula, sehingga garis-garis equipotential cenderung lebih menyebar. Hal ini
disebabkan air bersalinitas mengandung garam-garam elektrolit yang bermuatan
negatif lebih tinggi sehingga daya hantar listriknya meningkat. Sebaliknya pada
air bersalinitas rendah, garis-garis ini cenderung lebih mengumpul (Nybakken,
1988). Cowx dan Lamarque (1990) dalam Suharyanto (2003), menyatakan bahwa
di dalam air, semakin jauh jarak antara elektroda akan menyebabkan arus listrik
semakin lemah dan gradien voltase semakin rendah. Berdasarkan kekuatan arus
atau gradien tersebut, terbentuklah zona atau area efektif dan area berbahaya.
Bagi ikan-ikan yang berada disekitar elektroda dalam air akan mendapatkan
area berbahaya (danger zone) yang terletak dekat pusat elektroda dan area efektif
yang terletak disebelah luar area berbahaya. Semua garis-garis potensial di air
tawar didistorsi dengan arah mengumpul pada tubuh ikan sehingga ikan
terpengaruh dengan baik oleh medan listrik (Halsband, 1959 dalam Arnaya, 1980).
2.5 Respon Ikan terhadap Medan Listrik
Media yang dapat dialiri arus listrik dan bersifat konduktor listrik pada ikan
adalah otot dan cairan tubuhnya (Suharyanto, 2003). Perbedaan daya hantar atau
konduktivitas di antara tubuh ikan (γf) dan air (γw) sangat menentukan biota air
tersebut mudah atau sukar dalam merespon arus listrik. Jika γf ≤γw maka biota air
sulit merespon medan listrik demikian juga sebaliknya jika γf >γw ikan akan lebih
mudah merespon medan listrik. Nilai konduktivitas γf dan γw mempengaruhi nilai
body voltage (voltase antara kepala dan ekor). Pada air yang memiliki nilai
konduktivitas yang tinggi akan diikuti nilai body voltage yang tinggi juga.
8
karena arus listrik mengalir secara terpusat melalui tubuh ikan (Holzer, 1957 dan
Halsband, 1959 dalam Suharyanto, 2003).
2.6 Elektroreseptor pada Ikan
Elektroreseptor pada ikan merupakan modifikasi dari bagian horizontal
skeletogenous septum (lateral line) (Hoar dan Randall, 1971). Ikan dapat
merespon arus listrik karena memiliki organ elektroreseptor. Pemberian listrik
yang rendah di sekitarnya dapat menimbulkan respon yang luar biasa pada
elektroreseptor tersebut. Menurut Albert dan Crampton (2006), elektroreseptor
merupakan sensor, seperti indera pendengaran, informasi dari elektrosensori
diatur menggunakan waktu dan frekuensi isyarat. Seperti indera penglihatan,
informasi dari elektrosensori ditransmisikan hampir secara langsung. Seperti
indera penciuman, rasa, dan pendengaran intensitas yang dirasakan dari
rangsangan elektrik meningkat dengan semakin dekatnya jarak dengan sumber
rangsangan. Seperti indera peraba, input dari elektrosensori menyampaikan
informasi tentang bentuk dan tekstur elektrik dari objek pada lingkungan sekitar.
Hanya vertebrata yang diketahui memiliki sistem sensor khusus yang dapat
mengubah sinyal non listrik menjadi bermuatan listrik pada daerah sekitar medan
listrik menjadi aksi potensial dengan fungsi dari sel-sel sensori dan mengirimkan
informasi tersebut dengan integritas spasial, artinya diberikan oleh serabut-serabut
syaraf kepada pusat sel syaraf. Kemampuan untuk memproduksi sistem
koordinasi, stereotipe medan listrik eksternal, atau organ elektrik khusus juga
diketahui hanya terdapat pada ikan (Albert dan Crampton, 2006). Hal tersebut
digunakan untuk kegiatan predasi, pertahanan, orientasi, atau komunikasi. Karena
aliran listrik memerlukan medium penghantar, semua spesies akuatik memiliki
elektroresepsion atau elektrogenesis.
Pada vertebrata ada yang memiliki passive electroreception dan active
electroreception (Albert dan Crampton, 2006). Passive electroreception adalah
deteksi dari medan listrik eksternal secara alami atau yang bersal dari jaringan
hidup yang digunakan dalam orientasi dan keberadaan mangsa. Hewan yang
memiliki passive electroreception berbeda dengan active electroreception. Pada
9
mendeteksi objek. Passive electroreception pada vertebrata diasosiasikan dengan
sederetan peripheral (syaraf tepi) dan struktur pusat neural (syaraf), termasuk sel
kulit, reseptor sel rambut sebelah dalam yang sama dengan syaraf-syaraf pada
lateral line, dengan target utama pada bagian khusus inti otak bagian sebelah
belakang dan pusat pemrosesan dalam otak bagian belakang, otak bagian tengah,
dan thalamus.
2.7 Efek Medan Listrik terhadap Jaringan Hidup
Menurut Fathony (2004), medan dan arus listrik pada frekuensi rendah
apabila berinteraksi dengan jaringan biologik dapat mengakibatkan efek fisiologik
maupun psikologik. Medan listrik diduga dapat menimbulkan efek pada jaringan
hidup (Itegin dan Gunay, 1993 dalam Nuryandani, 2005). Mekanisme interaksi
medan listrik dengan benda hidup berupa induksi medan dan juga arus listrik pada
jaringan biologi. Induksi pada benda hidup disebabkan adanya muatan-muatan
listrik bebas yang terdapat pada ion kaya cairan seperti darah, getah bening, syaraf,
dan otot yang dapat terpengaruh gaya yang dihasilkan oleh muatan-muatan dan
aliran arus listrik (Nair, 1989).
Besaran medan dan arus listrik ditentukan oleh hubungan kompleks diantara
banyak faktor, termasuk frekuensi dan intensitas medan, sifat kelistrikan jaringan
tubuh, dan kondisi paparan. Jika tubuh menyerap intensitas medan listrik dan
magnetik yang relatif cukup, maka hal ini akan merangsang sistem syaraf dan
otot-otot dalam tubuh. Bahkan pada intensitas yang rendah pun, akan berpengaruh
pada aktivitas modulasi di dalam otak maupun sifat syaraf (Fathony, 2004).
Pemberian medan listrik memberikan pengaruh pada amplitudo dan
frekuensi kontraksi otot polos pada usus halus kelinci (Nuryandani, 2005). Otot
polos dapat dirangsang oleh berbagai stimulus antara lain melalui saraf dan
hormon (Hill dan Wayse, 1989 dalam Nuryandani, 2005). Salah satu perubahan
fisis selama terjadi kontraksi otot pada usus adalah perubahan tegangan dan
10
2.8 Pencernaan pada Ikan
Ikan termasuk hewan yang memiliki saluran pencernaan yang lengkap.
Saluran pencernaan ikan terdiri dari segmen mulut, rongga mulut, faring, esofagus,
lambung, piloric cecae, usus, rektum, dan anus. Menurut Michel (2006), sebelum
terjadi pencernaan makanan di dalam tubuh ikan, keberhasilan ikan dalam
mendeteksi makanan menjadi faktor penting. Oleh karena itu, sistem sensor kimia
pada ikan atau chemoreseption disusun untuk mendeteksi substansi kimia yang
terlarut di dalam air, dimana rangsangan kimia memainkan peranan yang penting
dalam pencarian makanan dan kebiasaan makan pada ikan. Rangsangan kimia ini
akan ditangkap oleh sistem olfactory yang mampu mempelajari rangsangan
pemberian pakan.
Usus sebagai salah satu segmen saluran pencernaan ikan yang berfungsi
sebagai tempat terjadinya pencernaan dan penyerapan sari-sari makanan.
Perbandingan panjang usus dengan panjang tubuh ikan herbivora (pemakan
nabati) adalah 3,70-6,0, ikan omnivora (pemakan nabati dan hewani) 1,30-4,20
dan ikan karnivora (pemakan hewani) adalah 0,50-2,40 panjang tubuh
(Opuszynski dan Shireman, 1995).
Ikan gurame adalah salah satu jenis ikan pemakan tumbuh-tumbuhan air
yang mempunyai usus yang pendek dibandingkan ikan jenis herbivora lainnya.
Menurut Affandi (1993), ikan gurame yang panjang total tubuhnya antara 3,8-5,0
cm mempunyai rasio panjang usus terhadap panjang total tubuh (PU/PT) sebesar
0,62-1,02, yang berukuran panjang total 8,9-11,9 cm mempunyai rasio panjang
usus terhadap panjang total tubuh sebesar 1,11-1,64. Sedangkan yang berukuran
panjang total 13,5-15 cm mempunyai rasio panjang usus terhadap panjang total
tubuh sebesar 1,31-2,31. Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa saluran
pencernaan ikan gurame masih mengalami perkembangan walaupun strukturnya
telah sempurna (memiliki segmen-segmen yang lengkap). Dengan demikian
selama pertumbuhannya, ikan gurame mengalami perubahan dalam hal
11
2.9 Pertumbuhan dan Tingkat Kelangsungan Hidup
Menurut Effendie (1979), pertumbuhan dapat didefinisikan sebagai
perubahan ukuran panjang, berat dan volume dalam jangka waktu tertentu.
Menurut Watanabe (1988), pertumbuhan pada hewan didefinisikan sebagai
korelasi antara pertambahan bobot tubuh pada waktu tertentu, bergantung pada
spesies. Pertumbuhan dipengaruhi oleh faktor internal seperti spesies, genetic
strain, jenis kelamin dan faktor eksternal seperti kualitas pakan, serta lingkungan
yaitu suhu, ketersediaan oksigen, zat-zat terlarut, dan faktor lingkungan lainnya.
Laju pertumbuhan adalah karakteristik setiap spesies dan termasuk ke dalam tahap
perkembangan.
Pertumbuhan dibagi menjadi dua, yaitu pertumbuhan mutlak dan
pertumbuhan nisbi (Effendie, 1979). Pertumbuhan mutlak adalah ukuran rata-rata
ikan pada umur tertentu, sedangkan pertumbuhan nisbi adalah panjang atau berat
yang dicapai dalam satu periode waktu tertentu yang dihubungkan dengan
panjang atau berat pada awal periode tersebut. Pertumbuhan maksimum baik
bobot maupun ukuran tercapai jika ditunjang oleh nutrisi yang optimum.
Pertumbuhan yang sesungguhnya meliputi peningkatan dalam struktur jaringan
seperti otot dan tulang serta organ-organ (Watanabe, 1988).
Kelangsungan hidup secara langsung dipengaruhi oleh lingkungan perairan
(Holiday, 1969 dalam Dewi, 2006). Salinitas merupakan salah satu faktor penting
untuk kelangsungan hidup dan metabolisme ikan. Selain itu pada konsentrasi
tertentu, garam juga berfungsi mematikan bakteri air tawar, parasit, dan jamur
ikan tertentu. Kelangsungan hidup ikan air tawar di dalam lingkungan bergantung
pada jaringan insang, laju konsentrasi oksigen, daya tahan atau toleransi jaringan
terhadap garam-garam, dan kontrol permeabilitas (Black, 1957 dalam Sitio, 2008).
2.10 Kualitas Air
Air sebagai media tempat hidup biota akuatik yang salah satunya adalah
ikan, sehingga harus mampu memenuhi persyaratan secara kualitas dan kuantitas
agar dapat mendukung pertumbuhan dan kelangsungan hidup biota akuatik
12
yang mempengaruhi kehidupan organisme akuatik adalah suhu, pH, oksigen
terlarut, amonia, dan nitrit.
2.10.1 Suhu
Suhu suatu badan air dipengaruhi oleh musim, lintang (latitude), ketinggian
dari permukaan laut (altitude), waktu dalam hari, sirkulasi udara, penutupan awan,
dan aliran serta kedalaman badan air. Perubahan suhu berpengaruh terhadap
proses fisika, kimia, dan biologi badan air. Suhu juga sangat berperan
mengendalikan kondisi ekosistem perairan. Organisme akuatik memiliki kisaran
suhu tertentu (batas atas dan bawah) yang disukai bagi pertumbuhannya (Effendi,
2003). Peningkatan suhu mengakibatkan peningkatan viskositas, reaksi kimia,
evaporasi, dan volatilisasi. Peningkatan suhu juga menyebabkan penurunan
kelarutan gas dalam air, misalnya gas O2, CO2, N2, CH4, dan sebagainya
(Haslam,1995 dalam Effendi, 2003).
Menurut Effendi (2003), peningkatan suhu juga menyebabkan peningkatan
kecepatan metabolisme dan respirasi organisme air, dan selanjutnya
mengakibatkan peningkatan konsumsi oksigen. Peningkatan suhu perairan sebesar
10o C menyebabkan terjadinya peningkatan konsumsi oksigen oleh organisme
akuatik sekitar 2-3 kali lipat. Suhu yang optimal untuk pertumbuhan ikan gurame
adalah berkisar pada suhu 24,9o C – 28o C ( Hardjamulia, 1978 dalam Khairuman
dan Amri, 2003).
2.10.2 pH
Nilai pH didefinisikan sebagai log negatif dari konsentrasi ion hidrogen
(Boyd, 1990; Goldman dan Horne, 1990 dalam Sitio, 2008). pH air memiliki
hubungan yang erat dengan kehidupan ikan. Nilai pH yang mematikan bagi ikan,
yaitu kurang dari 4 dan lebih dari 11. Pada pH kurang dari 6,5 atau lebih dari 9,5
dalam waktu yang lama, akan mempengaruhi pertumbuhan dan reproduksi ikan.
Perairan yang produktif adalah perairan yang mempunyai kisaran pH antara 6,5-9
(Boyd, 1982).
Mackereth et al. (1989) dalam Effendi (2003), berpendapat bahwa pH juga
berkaitan erat dengan karbondioksida dan alkalinitas. Pada pH < 5, alkalinitas
dapat mencapai nol. Semakin tinggi nilai pH, semakin tinggi pula nilai alkalinitas
13
toksisitas suatu senyawa kimia. Senyawa amonium yang dapat terionisasi banyak
ditemukan pada perairan yang memiliki pH rendah. Amonium tidak bersifat
toksik, namun pada suasana pH yang tinggi, lebih banyak ditemukan amonia yang
tidak terionisasi dan bersifat toksik.
2.10.3 Oksigen Terlarut
Oksigen terlarut dalam air berasal dari hasil fotosintesis oleh fitoplankton
atau tanaman air dan difusi dari udara bebas (Effendi, 2003). Ketersediaan
oksigen terlarut merupakan faktor pembatas dalam pemeliharaan ikan. Menurut
Goddard (1996) dalam Sitio (2008), oksigen merupakan kebutuhan vital bagi
organisme untuk menghasilkan energi. Energi tersebut penting untuk fungsi
metabolisme, termasuk penyerapan dan asimilasi makanan serta pertumbuhan.
Jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh organisme akuatik bergantung pada
spesies, ukuran, jumlah pakan yang dimakan, aktivitas, suhu air, konsentrasi
oksigen terlarut dan lain-lain (Boyd, 1990). Kandungan oksigen < 1 mg/l bersifat
lethal bagi ikan bila terpapar dalam waktu beberapa jam, dalam air yang
mengandung oksigen 1-5 mg/l ikan dapat bertahan tetapi pertumbuhannya lambat,
sedangkan pada air dengan kandungan oksigen terlarut >5 mg/l ikan dapat hidup
dan tumbuh secara normal (Swingel, 1969 dalam Boyd, 1982). Menurut Sarwono
dan Sitanggang (2007), kandungan oksigen terlarut yang terbaik untuk
pemeliharaan gurame antara 4-6 mg/l.
2.10.4 Daya Hantar Listrik
Daya Hantar Listrik (DHL) atau konduktivitas adalah gambaran numerik
dari kemampuan air untuk meneruskan aliran listrik. Oleh karena itu, semakin
banyak garam-garam terlarut yang dapat terionisasi, semakin tinggi pula nilai
DHL. Reaktivitas, bilangan valensi, dan konsentrasi ion-ion terlarut sangat
berpengaruh terhadap nilai DHL. Asam, basa, dan garam merupakan penghantar
listrik atau konduktor yang baik (APHA,1976; Mackereth et al., 1989 dalam
Effendi, 2003).
Menurut Yuwono (2001), daya hantar listrik atau konduktivitas adalah
ukuran kemampuan suatu zat menghantarkan arus listrik dalam temperatur
tertentu yang dinyatakan dalam micromhos per centimeter oC (μmhos/cm oC).
14
(μSiemens/cm). Air suling (aquades) memiliki nilai DHL sekitar 1 μmhos/cm,
sedangkan perairan alami sekitar 20-1500 μmhos/cm (Boyd, 1988 dalam Effendi,
2003). Perairan laut memiliki nilai DHL yang sangat tinggi karena banyak
mengandung garam terlarut (APHA, 1976 dalam Effendi, 2003).
2.10.5 Amonia
Sumber-sumber amonia di perairan berasal dari metabolisme ikan,
pemupukan, dan pembusukan hasil aktivitas bakteri pengurai komponen nitrogen
(Boyd, 1982). Di perairan alami, pada suhu dan tekanan normal amonia (NH3)
berada dalam bentuk gas dan membentuk kesetimbangan dengan gas amonium
(NH4+). Kesetimbangan antara gas amonia dan gas amonium ditunjukan dalam
persamaan reaksi sebagai berikut.
NH3 + H2O NH4+ + OH-
Amonia bersifat toksik pada ikan sedangkan ion amonium relatif tidak
bersifat toksik pada ikan. Total nilai dari NH3 dan NH4+ dikenal dengan Total
Amonia Nitrogen (TAN). Menurut Novotny dan Olem (1994) dalam Effendi
(2003), amonia yang terukur di perairan berupa amonia total (NH3 dan NH4+).
Amonia bebas tidak dapat terionisasi, sedangkan amonium (NH4+) dapat
terionisasi. Hubungan antara kadar amonia total dan amonia bebas pada berbagai
pH dan suhu ditunjukkan dalam (Tabel 1). Persentase amonia bebas meningkat
dengan meningkatnya nilai pH dan suhu perairan. Pada pH 7 atau kurang,
sebagian besar amonia akan mengalami ionisasi. Sebaliknya, pada pH lebih besar
dari 7, amonia tak terionisasi yang bersifat toksik terdapat dalam jumlah yang
lebih banyak.
Tabel 1. Persentase nilai amonia tidak terionisasi yang terlarut dalam air pada suhu dan pH yang berbeda (Boyd, 1988)
15
Amonia bebas (NH3) yang tidak terionisasi (unionized) bersifat toksik
terhadap organisme akuatik. Toksisitas amonia terhadap organisme akuatik akan
meningkat jika terjadi penurunan kadar oksigen terlarut, pH, dan suhu. Ikan tidak
dapat bertoleransi terhadap kadar amonia bebas yang terlalu tinggi karena dapat
mengganggu proses pengikatan oksigen oleh darah dan pada akhirnya dapat
mengakibatkan sufokasi (Effendi, 2003).
Kadar amonia pada perairan alami biasanya kurang dari 0,1 mg/l (McNeely
et al., 1979 dalam Effendi, 2003). Kadar amonia bebas yang tidak terionisasi
(NH3) pada perairan tawar sebaiknya tidak lebih dari 0,02 mg/l. Jika kadar amonia
bebas lebih dari 0,2 mg/l, perairan bersifat toksik bagi beberapa jenis ikan
(Sawyer dan McCarty, 1978 dalam Effendi, 2003). Menurut Affiati dan Lim
(1986) dalam Haryati (1995), pertumbuhan benih gurame masih baik, dimana
kadar amonia dalam air sebesar 0,0-0,12 mg/l.
2.10.6 Nitrit
Menurut Wedemeyer (1996), nitrit terbentuk dari oksida yang merupakan
buangan dari metabolisme ikan dan dekomposisi dari feses dan pakan yang tidak
termakan oleh ikan. Kandungan nitrit yang berlebihan di perairan dapat
mengganggu kesehatan ikan. Menurut Boyd (1990), kandungan nitrit yang
berlebihan di perairan, diserap oleh ikan melalui insang ke dalam darah. Nitrit
dalam darah mengoksidasi hemoglobin menjadi methemoglobin. Methemoglobin
yang terbentuk tidak mampu mengikat oksigen. Menurut Wedemeyer (1996),
konsentrasi methemoglobin yang normal dalam darah adalah 1-3%. Apabila
konsentrasi methemoglobin dalam darah mencapai 50%, ikan akan mengalami
hipoxia yang dapat menyebabkan kematian terutama apabila konsentrasi oksigen
terlalu rendah.
Kadar nitrit (NO2) pada perairan relatif kecil karena segera dioksidasi
menjadi nitrat (NO3). Perairan alami mengandung nitrit sekitar 0,001 mg/l dan
sebaiknya tidak melebihi 0,06 mg/l (Canadian Council of Resource and
Environment Ministers, 1987 dalam Effendi, 2003). Di perairan, kadar nitrit
jarang melebihi 1 mg/l (Sawyer dan McCarty, 1978 dalam Effendi, 2003). Kadar
nitrit yang lebih dari 0,05 mg/l dapat bersifat toksik bagi organisme perairan yang
16
2.10.7 Alkalinitas
Alkalinitas adalah gambaran kapasitas air untuk menetralkan asam, atau
dikenal dengan sebutan acid-neutralizing capacity (ANC) atau kuantitas anion di
dalam air yang dapat menetralkan kation hidrogen. Alkalinitas juga diartikan
sebagai kapasitas penyangga (buffer capacity) terhadap perubahan pH perairan
(Effendi, 2003). Kation utama yang mendominasi perairan tawar adalah kalsium
dan magnesium, sedangkan pada perairan laut adalah sodium dan magnesium.
Anion utama pada perairan tawar adalah bikarbonat dan karbonat, sedangkan pada
perairan laut adalah klorida (Barnes, 1989 dalam Effendi, 2003).
Nilai alkalinitas yang baik berkisar antara 30-500 mg/l CaCO3. Nilai
alkalinitas di perairan berkisar antara 5 hingga ratusan mg/l CaCO3. Nilai
alkalinitas pada perairan alami adalah 40 mg/l CaCO3 (Boyd, 1988).
2.10.8 Kesadahan
Menurut Boyd (1982), kesadahan didefinisikan sebagai konsentrasi ion-ion
logam divalen dalam air yang digambarkan sebagai milligram per liter kalsium
karbonat. Kesadahan total biasanya berhubungan dengan alkalinitas total karena
anion dari alkalinitas dan kation dari kesadahan berasal dari peluruhan mineral
karbonat. Menurut Peavy et al. (1985) dalam Effendi (2003), klasifikasi perairan
berdasarkan nilai kesadahan ditunjukkan dalam Tabel 2.
Tabel 2. Klasifikasi Perairan Berdasarkan Nilai Kesadahan
Kesadahan (mg/l CaCO3) Klasifikasi Perairan
<50 50 – 150 150 – 300
>300
lunak (soft)
menengah (moderately hard) sadah (hard)
sangat sadah (very hard)
Nilai kesadahan perairan tawar disarankan pada kisaran antara 10-400 mg/l
CaCO3. Menurut Boyd (1982), kesadahan yang baik untuk kegiatan budidaya ikan
adalah >20 mg/l CaCO3.
17
III.BAHAN DAN METODE
3.1 Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli hingga September 2008
bertempat di Laboratorium Lingkungan Akuakultur, Departemen Budidaya
Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah akuarium yang terdiri dari
12 buah berdimensi 20 x 20 x 20 cm3, instalasi aerasi, 4 buah lampu bohlam
berdaya 10 watt, 1 unit transformator DC 5 A, 4 unit dioda, 1 unit kapasitor 500
μF, 1 unit socket dengan 4 lubang penyalur tegangan 10 volt, dan 24 buah lempeng alumunium berdimensi 10 cm x 15 cm, jangka sorong, timbangan pocket
digital kapasitas 200 gram dengan ketelitian 0,01 gram, alat tulis,
spektrofotometer, refraktometer, conductivitymeter, termometer raksa, DO meter,
pH meter, buret, gelas piala, erlenmeyer, dan pipet volumetrik.
Sedangkan bahan yang digunakan adalah benih ikan gurame ukuran panjang
total 7,18±0,30 cm dan bobot rata-rata awal 5,68±0,67 gram/ekor, pakan ikan
(pellet) berkadar protein 30%, air laut salinitasnya 32 ppt, reagent pengukuran
kualitas air, dan media pemeliharaan berupa air bersalinitas 3, 6, dan 9 ppt.
3.3 Rancangan Percobaan
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak
lengkap (RAL), dengan 4 perlakuan dan tiga ulangan, yaitu K (tanpa salinitas atau
0 ppt), 3 (salinitas 3 ppt), 6 (salinitas 6 ppt), dan 9 (salinitas 9 ppt). Model
rancangan percobaan : Yij = μ + τij + εij
Keterangan : Yij = pengamatan perlakuan ke-i ulangan ke-j
μ = rataan umum populasi
τij = pengaruh perlakuan ke-i
εij = galat percobaan perlakuan ke-i ulangan ke-j
18
K2
63
62
61
K3
33
91
31
K1
32
92
93
Gambar 1. Denah Susunan Akuarium Percobaan
3.4 Prosedur Penelitian 3.4.1 Persiapan Wadah
Sebelum digunakan akuarium dicuci dengan menggunakan sabun, setelah itu
dibilas dengan air bersih dan dibiarkan sampai kering. Seluruh alat yang akan
digunakan dalam penelitian seperti akuarium, selang aerasi, batu aerasi, dan
serokan direndam dengan larutan klorin 3 mg/l selama satu hari. Selanjutnya,
alat-alat tersebut dibilas dengan air bersih sampai bau klorinnya hilang.
3.4.2 Media Pemeliharaan Ikan
Media pemeliharaan ikan gurame adalah air tawar (0 ppt) dan air bersalinitas
3, 6, dan 9 ppt yang diperoleh dari hasil pengenceran air laut bersalinitas 32 ppt.
Air tawar yang digunakan dalam pembuatan air bersalinitas 3, 6, dan 9 ppt,
terlebih dahulu ditreatmen menggunakan tawas dengan dosis 50 mg/l, kemudian
diendapkan selama satu minggu. Setelah itu, air tersebut dialirkan pada tandon air
tawar dan didiamkan selama 3 hari dengan diberi aerasi.
3.4.3 Pengadaptasian Ikan
Ikan uji dipelihara dalam akuarium berdimensi 100 x 50 x 60 cm3. Pada saat
awal tebar ikan dipuasakan selama satu hari. Selanjutnya, ikan diadaptasikan
dengan pakan berupa pelet komersil berkadar protein 30% dan secara gradual ikan
19
3.4.4 Perlakuan dan Pemeliharaan Ikan Uji
Wadah perlakuan dan pemeliharaan ikan uji berupa akuarium yang telah
didesinfeksi dengan kaporit dosis 3 mg/l, diisi dengan air bersalinitas 3, 6, dan 9
ppt sebagai perlakuan. Kemudian, ikan uji dimasukkan ke dalamnya dengan padat
tebar 3 ekor/l. Ikan tersebut dipelihara selama 40 hari dengan pemberian pakan
berupa pelet berkadar protein 30% dengan tingkat pemberian pakan (Feeding
Rate) sebesar 2 % perhari dari bobot biomassa ikan. Pemberian pakan dilakukan
setiap hari sebanyak 3 kali yaitu pukul 07.00, 12.00, dan 17.00 WIB. Untuk
mempertahankan kualitas air media pemeliharaan, dilakukan pergantian air 2 kali
pagi dan sore setiap hari sebanyak 20% dari volume air total.
3.4.5 Pemberian Paparan Medan Listrik
Pemberian paparan medan listrik dilakukan selama 3 menit sebelum ikan
diberi pakan. Paparan ini, dilakukan 3 kali sehari setiap ikan akan diberi pakan.
Input listrik berasal dari listrik arus bolak-balik AC yang dialirkan pada
transformator untuk diproses menjadi listrik arus searah DC (Direct Current).
Agar listrik yang dihasilkan memiliki tegangan yang sesuai dengan
kebutuhan, maka aliran listrik DC tersebut dialirkan ke socket yang terdiri dari 4
lubang penyalur tegangan 10 volt. Sehingga, output yang dihasilkan berupa listrik
dengan tegangan 10 volt. Selanjutnya, listrik tersebut masing-masing dialirkan ke
media pemeliharaan kontrol (air tawar) dan air bersalinitas 3, 6, dan 9 ppt melalui
kabel tembaga yang pada bagian ujungnya telah dihubungkan dengan lempengan
alumunium berdimensi 10 x 15 cm. Lempengan alumunium ini digantung di
kedua sisi akuarium secara berhadapan. Pengaktifan transformator ini dilakukan
20
Socket
Transformator DC 5 A Akuarium
Alumunium
21
3.5 Parameter yang Diamati 3.5.1 Parameter Biologi a. Laju Pertumbuhan Harian
Laju pertumbuhan harian atau Spesific Growth Rate (SGR) merupakan laju
pertambahan bobot individu dalam persen dan dinyatakan dalam persamaan
sebagai berikut :
Menggambarkan pertambahan bobot rata-rata benih ikan gurame yang
dipelihara selama perlakuan. Nilai pertumbuhan bobot ini diperoleh dari selisih
bobot benih gurame saat awal pemeliharaan dengan bobot benih ikan gurame saat
akhir pemeliharaan.
c. Pertumbuhan Panjang Mutlak
Panjang total tubuh ikan gurame diukur setiap satu minggu sekali dengan
menggunakan jangka sorong. Pertumbuhan panjang mutlak dihitung dengan
menggunakan persamaan sebagai berikut :
0
Keterangan : Pm = Pertumbuhan panjang mutlak (cm)
= Panjang rata-rata akhir (cm)
22
d. Tingkat Kelangsungan Hidup
Tingkat kelangsungan hidup atau Survival Rate (SR) merupakan persentase
jumlah ikan hidup pada akhir pemeliharaan dibandingkan dengan jumlah ikan
pada awal tebar yang dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut :
SR = (Nt/No) x 100%
Keterangan : SR = Derajat kelangsungan hidup (%)
Nt = Jumlah ikan hidup pada akhir pemeliharaan (ekor)
No = Jumlah ikan pada awal pemeliharaan (ekor)
(Effendie, 1979)
e. Rasio Panjang Usus Terhadap Panjang Tubuh (PU/PT)
Pengukuran rasio panjang usus dan panjang tubuh (PU/PT) dilakukan pada
awal dan akhir pemeliharaan, dengan persamaan sebagai berikut :
Rasio Panjang Usus/Panjang Tubuh = Pu/Pt
Keterangan : Pu = Panjang Usus (cm)
Pt = Panjang tubuh (cm)
(Effendie, 1979)
f. Efisiensi Pemberian Pakan
Pada penelitian ini perhitungan efisiensi pakan menggunakan rumus sebagai
23
3.5.2 Parameter Kualitas Air a. Suhu
Pengukuran suhu pada media pemeliharaan menggunakan termometer air
raksa (Hg) dengan satuan oC.
b. Oksigen terlarut
Oksigen terlarut Dissolved Oxygen (DO) merupakan jumlah mg/liter gas
oksigen yang terlarut dalam air. Pengukuran DO dilakukan dengan metode
instrumentasi menggunakan alat DO-meter.
c. pH
pH adalah suatu faktor lingkungan yang dipengaruhi oleh kadar CO2 terlarut
dan alkalinitas. Pengukuran pH dilakukan dengan metode instrumentasi
menggunakan alat pH-meter.
d. Daya Hantar Listrik (DHL)
Daya hantar listrik (DHL) atau conductivity adalah gambaran numerik dari
kemampuan air untuk menghantarkan arus listrik. Nilai DHL dipengaruhi oleh
kandungan garam-garam terlarut yang dapat terionisasi dalam air pada suhu saat
pengukuran dilakukan. Nilai DHL dinyatakan dalam satuan mS/cm. Pengukuran
DHL dilakukan dengan metode instrumentasi menggunakan alat
Conductivitymeter.
e. Alkalinitas
Alkalinitas adalah gambaran kapasitas air untuk menetralkan asam (Effendi,
2003). Pengukuran alkalinitas dengan metode titrasi menggunakan HCl 0,02 N.
Dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut :
Alkalinitas Total (mg CaCO3/liter) =
sampel
Kesadahan (hardness) adalah gambaran kation logam divalen (Effendi,
2003). Kesadahan diukur menggunakan metode titrasi dengan Na-EDTA,
persamaan yang digunakan dalam pengukuran kesadahan adalah :
Kesadahan total (mg CaCO3/liter) =
24
g. Total Amonia-Nitrogen (TAN)
Pengukuran total amonia-nitrogen dilakukan dengan metode phenat. Kadar
amonia yang terukur pada metode ini adalah amonia total yaitu terdiri dari NH3
dan NH4+, karena pada larutan bersuasana basa kuat semua amonia berada dalam
bentuk NH3. Ini berarti, amonia yang terukur adalah amonia yang secara alami
ada dalam air ditambah NH3 yang berasal dari reduksi amonium (NH4+).
Perhitungan konsentrasi NH3-N total (TAN) dilakukan dengan persamaan
berikut :
Keterangan : Cst = konsentrasi larutan standar (mg/L)
Ast = nilai absorbance larutan standar
As = nilai absorbance larutan sampel
Konsentrasi amonia tidak terionisasi yang dinyatakan dalam milligram NH3
per liter dipengaruhi oleh nilai pH dan suhu (Tabel 1) (Boyd,1988).
h. Nitrit-Nitrogen
Nitrit-nitrogen diukur menggunakan metode Sulfanilamide (APHA, 1989).
Konsentrasi (mg/l) NO2-N yang terukur pada metode ini merupakan kadar
nitrogen yang terdapat pada nitrit dalam satuan mgN/liter. Untuk mengetahui
kadar nitrit dalam mg NO2/L digunakan persamaan sebagai berikut :
mg NO2/L = ppm NO2-N x
Keterangan : BM = berat molekul
BA = berat atom
3.6 Analisa Data
Data yang telah diperoleh kemudian ditabulasi dan dianalisis menggunakan
Excell Ms. Office 2003 untuk uji Analisis Ragam (ANOVA) dengan uji F pada
selang kepercayaan 95%, sedangkan program SPSS 11.5 digunakan untuk
menentukan apakah perlakuan berpengaruh nyata terhadap derajat kelangsungan
hidup dan pertumbuhan. Apabila berpengaruh nyata, untuk melihat perbedaan
25
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1 Tingkat Kelangsungan Hidup
Tingkat kelangsungan hidup benih ikan gurame yang dipelihara selama 40
hari berkisar antara 60,00-93,33% (Gambar 3). Nilai tertinggi dicapai pada
perlakuan 3 ppt sebesar 93,33% dan nilai terendah pada perlakuan 9 ppt sebesar
60,00%. Dari analisa statistik ragam (ANOVA) pada selang kepercayaan 95%
(p<0,05), diperoleh hasil bahwa kontrol (0 ppt) dan perlakuan (3, 6, dan 9 ppt)
yang diberi paparan listrik 10 volt tidak berbeda nyata terhadap tingkat
kelangsungan hidup benih ikan gurame.
66.67
Gambar 3. Histogram Tingkat Kelangsungan Hidup (%) Benih Ikan Gurame Pada Setiap Perlakuan Selama Pemeliharaan Keterangan : Huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata (p>0,05).
Dari hasil uji lanjut polinom orthogonal menunjukkan hubungan antara
salinitas 0, 3, 6, dan 9 ppt (X) terhadap tingkat kelangsungan hidup (Y) benih ikan
gurame membentuk pola kuadratik (Gambar 3). Dengan persamaan kuadratik
sebagai berikut Y = -12,5x2 + 59,501x + 20,83 dan nilai koefisien determinasi
(R2) sebesar 0,9610. Nilai determinasi yang didapat menunjukkan bahwa garis
dugaan dari percobaan yang dilakukan mendekati keadaan sebenarnya sebesar
26
4.1.2 Laju Pertumbuhan Bobot Harian
Laju pertumbuhan bobot harian benih ikan gurame yang dipelihara selama
40 hari berkisar antara 0,46-1,02% (Gambar 4). Nilai tertinggi dicapai pada
perlakuan 3 ppt sebesar 1,02% dan nilai terendah pada perlakuan 9 ppt sebesar
0,46%. Dari analisa statistik ragam (ANOVA) pada selang kepercayaan 95%
(p<0,05), diperoleh hasil bahwa kontrol dan perlakuan berpengaruh nyata
terhadap laju pertumbuhan bobot harian benih ikan gurame.
0.62
Gambar 4. Histogram Laju Pertumbuhan Bobot Harian (%) Benih Ikan Gurame Pada Setiap Perlakuan Selama Pemeliharaan
Keterangan : Huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata (p>0,05).
Dari hasil uji lanjut Tuckey atau beda nyata jujur pada selang kepercayaan
95% (p<0,05), diperoleh hasil yang berbeda nyata antara kontrol 0 ppt dengan
perlakuan 3 ppt dan 6 ppt, tetapi tidak berbeda nyata antara kontrol 0 ppt dengan
perlakuan 9 ppt. Sedangkan antara perlakuan 3 ppt dengan 6 ppt tidak berbeda
nyata. Akan tetapi, antara perlakuan 3 ppt dan 6 ppt dengan perlakuan 9 ppt
berbeda nyata. Dari hasil uji lanjut polinom orthogonal menunjukkan hubungan
antara salinitas 0, 3, 6, dan 9 ppt (X) terhadap laju pertumbuhan bobot harian (Y)
benih ikan gurame membentuk pola kuadratik (Gambar 4). Dengan persamaan
kuadratik sebagai berikut Y = -0,2009x2 + 0,9423x – 0,111 dan nilai koefisien
determinasi (R2) sebesar 0,975. Nilai determinasi yang didapat menunjukkan
bahwa garis dugaan dari percobaan yang dilakukan mendekati keadaan
27
4.1.3 Pertumbuhan Bobot
Pertumbuhan bobot benih ikan gurame yang dipelihara selama 40 hari, pada
awal hingga hari ke-20 terjadi penurunan. Akan tetapi, mengalami peningkatan
dengan bertambahnya waktu hingga akhir pemeliharaan hari ke-40.
y = -0.0107x2 + 0.4194x + 4.2817
Gambar 5. Hubungan lama waktu pemeliharaan (X) dengan bobot rata-rata (Y) benih ikan gurame yang diberi perlakuan salinitas 0, 3, 6, dan 9 ppt dengan paparan listrik 10 volt.
Dari hasil uji lanjut polinom orthogonal menunjukkan peningkatan bobot
rata-rata benih ikan gurame yang diberi perlakuan salinitas 0, 3, 6, dan 9 ppt
dengan paparan listrik 10 volt dan membentuk pola kuadratik (Gambar 5).
Berdasarkan persamaan regresi yang diperoleh pada kontrol (0 ppt) kemudian
perlakuan 3, 6, dan 9 ppt, setiap penambahan waktu pemeliharaan selama satu hari
masing-masing akan menaikkan bobot benih ikan gurame sebesar -0,0107 gram,
0,2189 gram, 0,1848 gram, dan 0,1137 gram. Nilai koefisien determinasi (R2)
yang diperoleh pada kontrol (0 ppt) kemudian perlakuan 3, 6, dan 9 ppt
masing-masing sebesar 0,9766; 0,8873; 0,9094; 0,7588. Nilai determinasi yang didapat
menunjukkan bahwa garis dugaan dari percobaan yang dilakukan mendekati
28
4.1.4 Pertumbuhan Panjang Mutlak
Pertumbuhan panjang mutlak benih ikan gurame yang dipelihara selama 40
hari berkisar antara 0,23-0,56 cm (Gambar 6). Nilai tertinggi dicapai pada
perlakuan 3 ppt sebesar 0,56 cm dan nilai terendah pada perlakuan 9 ppt sebesar
0,23 cm. Dari analisa statistik ragam (ANOVA) pada selang kepercayaan 95%
(p<0,05), diperoleh hasil bahwa kontrol dan perlakuan berpengaruh nyata
terhadap pertumbuhan panjang mutlak benih ikan gurame.
0.56 0.50
Gambar 6. Histogram Pertumbuhan Panjang Mutlak (cm) Benih Ikan Gurame Pada Setiap Perlakuan Selama Pemeliharaan
Keterangan : Huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata (p>0,05).
Dari hasil uji lanjut Tuckey atau beda nyata jujur pada selang kepercayaan
95% (p<0,05), diperoleh hasil yang berbeda nyata antara kontrol 0 ppt dengan
perlakuan 3 ppt, tetapi tidak berbeda nyata antara kontrol 0 ppt dengan perlakuan
6 ppt dan 9 ppt. Sedangkan antara perlakuan 3 ppt dengan 6 ppt tidak berbeda
nyata. Akan tetapi, antara perlakuan 3 ppt dengan perlakuan 9 ppt berbeda nyata.
Antara perlakuan 6 ppt dengan perlakuan 9 ppt tidak berbeda nyata. Dari hasil uji
lanjut polinom orthogonal menunjukkan hubungan antara salinitas 0, 3, 6, dan 9
ppt (X) terhadap pertumbuhan panjang mutlak (Y) benih ikan gurame membentuk
pola kuadratik (Gambar 6). Dengan persamaan kuadratik sebagai berikut Y =
-0,1443x2 + 0,7101x – 0,3085 dan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,9847.
Nilai determinasi yang didapat menunjukkan bahwa garis dugaan dari percobaan
29
4.1.5 Rasio Panjang Usus Terhadap Panjang Total Tubuh (PU/PT)
Rasio panjang usus terhadap panjang total tubuh (PU/PT) benih ikan gurame
pada awal pemeliharaan sebesar 0,96. Setelah 40 hari pemeliharaan rasio PU/PT
benih ikan gurame menjadi 1,18 – 1,56 (Gambar 7). Nilai tertinggi dicapai pada
perlakuan 3 ppt sebesar 1,56 cm dan nilai terendah pada perlakuan 9 ppt sebesar
1,18 cm. Dari analisa statistik ragam (ANOVA) pada selang kepercayaan 95%
(p<0,05), diperoleh hasil bahwa kontrol (0 ppt) dan perlakuan (3, 6, dan 9 ppt)
yang diberi paparan listrik 10 volt tidak berbeda nyata terhadap rasio PU/PT benih
ikan gurame.
Gambar 7. Histogram Rasio PU/PT Benih Ikan Gurame Pada Setiap Perlakuan Selama Pemeliharaan
Keterangan : Huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata (p>0,05).
Dari hasil uji lanjut polinom orthogonal menunjukkan hubungan antara
salinitas 0, 3, 6, dan 9 ppt (X) terhadap rasio PU/PT (Y) benih ikan gurame
membentuk pola kuadratik (Gambar 7). Dengan persamaan kuadratik sebagai
berikut Y = -0,1465x2 + 0,6987x + 0,7189 dan nilai koefisien determinasi (R2)
sebesar 0,9799. Nilai determinasi yang didapat menunjukkan bahwa garis dugaan
30
4.1.6 Efisiensi Pemberian Pakan
Efisiensi pemberian pakan menunjukkan jumlah pakan yang dimanfaatkan
oleh ikan dari total pakan yang diberikan. Nilai efisiensi pakan benih ikan gurame
yang dipelihara selama 40 hari berkisar antara 32,85-43,43% (Gambar 8). Nilai
tertinggi dicapai pada perlakuan 3 ppt sebesar 43,43% dan nilai terendah pada
kontrol 0 ppt sebesar 32,85%. Dari analisa statistik ragam (ANOVA) pada selang
kepercayaan 95% (p<0,05), diperoleh hasil bahwa kontrol (0 ppt) dan perlakuan
(3, 6, dan 9 ppt) yang diberi paparan listrik 10 volt tidak berbeda nyata terhadap
nilai efisiensi pemberian pakan benih ikan gurame.
32.85
Gambar 8. Histogram Efisiensi Pemberian Pakan (%) Benih Ikan Gurame Pada Setiap Perlakuan Selama Pemeliharaan
Keterangan : Huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata (p>0,05).
Dari hasil uji lanjut polinom orthogonal menunjukkan hubungan antara
salinitas 0, 3, 6, dan 9 ppt (X) terhadap efisiensi pemberian pakan (Y) benih ikan
gurame membentuk pola kuadratik (Gambar 8). Dengan persamaan kuadratik
sebagai berikut Y = -2,3107x2 + 11,917x + 24,644 dan nilai koefisien determinasi
(R2) sebesar 0,3605. Nilai determinasi yang didapat menunjukkan bahwa garis
dugaan dari percobaan yang dilakukan tidak mendekati keadaan sebenarnya,