• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh ukuran perusahaan, Leverage, economic value added, return on investment, dan earning pershare terhadap return yang diterima pemegang saham (studi empiris pada industri makanan dan minuman di Bursa Efek Indonesia)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh ukuran perusahaan, Leverage, economic value added, return on investment, dan earning pershare terhadap return yang diterima pemegang saham (studi empiris pada industri makanan dan minuman di Bursa Efek Indonesia)"

Copied!
123
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH UKURAN PERUSAHAAN, LEVERAGE, ECONOMIC VALUE ADDED, RETURN ON INVESTMENT, DAN EARNING PER

SHARE TERHADAP RETURN YANG DITERIMA PEMEGANG SAHAM

(Studi Empiris pada Industri Makanan dan Minuman di Bursa Efek Indonesia)

Oleh: RURIANA ULFA NIM: 107082003607

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(2)

“PENGARUH UKURAN PERUSAHAAN, LEVERAGE, ECONOMIC VALUE ADDED, RETURN ON INVESTMENT, DAN EARNING PER SHARE TERHADAP RETURN YANG DITERIMA PEMEGANG SAHAM”

(Studi Empiris pada Industri Makanan dan Minuman di Bursa Efek Indonesia)

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis untuk Memenuhi Syarat-syarat Meraih Gelar Sarjana Ekonomi

Oleh: Ruriana Ulfa NIM: 107082003607

Di bawah Bimbingan

Pembimbing I Pembimbing II

Prof. Dr. Abdul Hamid, M.Si Zuwesty Eka Putri, SE, M.Ak NIP: 195706171985031002 NIP: 19800416 200901 200 6

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(3)

 

Hari ini Senin Tanggal empat belas Maret Tahun Dua Ribu Sebelas telah dilakukan Ujian Komprehensif atas nama Ruriana Ulfa NIM: 107082003607 dengan judul Skripsi “PENGARUH UKURAN PERUSAHAAN, LEVERAGE, ECONOMIC VALUE ADDED, RETURN ON INVESTMENT, DAN

EARNING PER SHARE TERHADAP RETURN YANG DITERIMA

PEMEGANG SAHAM (Studi Empiris pada Industri Makanan dan Minuman di Bursa Efek Indonesia)”

.

Memperhatikan penampilan mahasiswi tersebut selama ujian berlangsung, maka skripsi ini sudah dapat diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 14 Maret 2011

Tim Penguji Ujian Komprehensif

Reskino, SE., Ak., M.Si Erika Amelia, SE., M.Si

Penguji II Penguji III

(4)

Hari ini Rabu Tanggal dua puluh tiga Maret Tahun Dua Ribu Sebelas telah dilakukan Sidang Skripsi atas nama Ruriana Ulfa NIM: 107082003607 dengan judul Skripsi “PENGARUH UKURAN PERUSAHAAN, LEVERAGE, ECONOMIC VALUE ADDED, RETURN ON INVESTMENT, DAN

EARNING PER SHARE TERHADAP RETURN YANG DITERIMA

PEMEGANG SAHAM

(Studi Empiris pada Industri Makanan dan Minuman di Bursa Efek Indonesia)

.

Memperhatikan penampilan mahasiswi tersebut selama ujian berlangsung, maka skripsi ini sudah dapat diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 23 Maret 2011

Tim Penguji Ujian Skripsi

Prof. Dr. Abdul Hamid, MS Zuwesty Eka Putri, SE, M.Ak

Pembimbing I Pembimbing II

Prof. Dr. Ahmad Rodoni Yessi Fitri, SE, Ak., M.Si

Ketua Sekretaris

(5)

SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama Mahasiswi : Ruriana Ulfa

NIM : 107082003607

Jurusan : Akuntansi

Menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil karya sendiri yang merupakan hasil penelitian, pengolahan, dan analisis saya sendiri serta bukan saduran dari hasil karya atau hasil penelitian orang lain.

Apabila terbukti skripsi ini merupakan plagiat, maka skripsi ini dainggap gugur dan harus melakukan penelitian ulang untuk menyusun skripsi baru dan kelulusan serta gelarnya dibatalkan.

Demikian pernyataan ini dibuat dengan segala akibat yang timbul di kemudian hari menjadi tanggung jawab saya.

Jakarta, Maret 2011

(6)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

I. IDENTITAS PRIBADI

1. Nama Lengkap : Ruriana Ulfa

2. Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 28 Maret 1989

3. Alamat : Jl. Swadaya No. 8, Rt 11/Rw 11, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan, 12330

4. No. Telepon : 021-98567179/08567303160

5. E-mail : [email protected]

II. PENDIDIKAN

1. SD : SDN 04 Pagi Jakarta 2. SMP : SMPN 178 Jakarta 3. SMA : SMAN 86 Jakarta

4. S1 : Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

III. PENGALAMAN ORGANISASI

1. Anggota ROHIS Periode 2003/2004, ROHIS SMPN 178 Jakarta 2. Sekretaris ROHIS Periode 2006/2007, ROHIS SMAN 86 Jakarta 3. Ketua Karang Taruna Periode 2008/2009, Karang Taruna Remaja Rt

(7)

Effect of Company Size, Leverage, Economic Value Added, Return On Investment, and Earning Per Share of Shareholder Return Received (Empirical Studies in Food and Beverage Industries in Indonesia Stock

Exchange)

By: Ruriana Ulfa

ABSTRACT

This study aims to analyze the effect of company size, leverage, Economic Value Added, Return On Investment, and Earning Per Share of Return received shareholders. The data used secondary data in the form of financial statements of the food and beverage industries that have been audited from the years 2007-2009 on the Indonesia Stock Exchange (IDX). From 17 companies listed on the Sock Exchange only 13 companies that used as a sample of this study. Samples were selected by using the technique of selection non probabilistic sampling with judgment sampling. To analyze the data, this study used regression and then test significance level of 0.05.

The result of this study indicate that partial company size, leverage, and EVA significantly effect stock returns. In other hand ROI and EPS partially have no effect on stock return. Simultaneously, company size, leverage, EVA, ROI, and EPS significantly influence stock returns.

(8)

Pengaruh Ukuran Perusahaan, Leverage, Economic Value Added, Return On Investment, dan Earning Per Share terhadap Return yang Diterima Pemegang

Saham

(Studi Empiris pada Industri Makanan dan Minuman di Bursa Efek Indonesia)

Oleh: Ruriana Ulfa

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Ukuran Perusahaan, Leverage, Economic Value Added, Return On Investment, dan Earning Per Share terhadap Return yang diterima pemegang saham. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa laporan keuangan perusahaan pada industri makanan dan minuman yang telah diaudit dari tahun 2007-2009 pada Bursa Efek Indonesia (BEI). Dari 17 perusahaan yang terdaftar di BEI hanya berjumlah 13 perusahaan yang digunakan sebagai sampel penelitian ini. Sampel dipilih dengan menggunakan nonprobabilistic sampling dengan teknik judgement sampling. Untuk menganalisis data, penelitian ini menggunakan regresi linier berganda kemudian dilakukan uji hipotesis dengan uji t (secara parsial) dan uji F (secara simultan) dengan tingkat signifikansi 0,05.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan secara parsial bahwa ukuran perusahaan, leverage, dan EVA berpengaruh secara signifikan terhadap return saham. Sedangkan ROI dan EPS secara parsial tidak berpengaruh terhadap return saham. Secara simultan, ukuran perusahaan, leverage, EVA, ROI, dan EPS berpengaruh signifikan terhadap return saham.

(9)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin penulis panjatkan puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat, pertolongan, dan kasih sayang-Nya yang tak terhingga, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya. Tak lupa juga shalawat serta salam senantiasa teriring kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW, yang selalu memberikan syafaat pada umatnya, semoga beliau beserta keluarga dan sahabatnya selalu berada dalam rahmat Allah SWT. Semoga kita selalu berada di dalam keridhaan-Nya.

Terselesaikannya skripsi ini adalah merupakan nikmat yang telah Allah berikan kepada penulis. Penulis menyadari, bahwa selama penyusunan skripsi ini hingga selesai tidak lepas dari dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak dan Ibuku tercinta yang telah memberikan dukungan secara moriil dan materiil, serta segala doa yang telah mereka panjatkan untuk penulis. Terima kasih atas kasih sayang yang tiada batasnya yang telah dicurahkan kepada penulis, yang tidak dapat penulis balas walau dengan apapun. Tak lupa juga kepada adik-adikku (Ebi dan Ikang) serta keluarga yang telah memberikan dukungan, semoga Allah SWT memberikan yang terbaik.

2. Bapak Prof. Dr. Abdul Hamid, MS. selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah sekaligus dosen pembimbing I yang telah memberikan ilmu, pengarahan, dan bimbingannya selama ini.

3. Ibu Zuwesty Eka Putri, SE, M.Ak, selaku dosen pembimbing II yang telah memberikan pengarahan, masukan, dan bimbingannya kepada penulis dengan sabar, terima kasih ibu.

4. Ibu Rahmawati SE, MM. selaku Ketua Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah.

(10)

6. Para penguji ujian komprehansif, Bapak Prof. Dr. Abdul hamid, MS., Ibu Reskino, SE, Ak, M.Si, dan Ibu Erika Amelia, SE, M.Si.

7. Para penguji ujian skripsi, Bapak Prof. Dr. Azzam Jasin, MBA., Bapak Prof. Dr. Ahmad Rodoni, dan Ibu Yessi Fitri SE, Ak, M.Si.

8. Bapak Hepi Prayudiawan, SE, Ak, MSi yang telah memberikan masukan dan pengarahan dalam membuat proposal, serta atas ilmu dan nasihat yang telah beliau berikan selama penulis proses kuliah. Seluruh dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat bagi penulis. Serta Pak Ismet, Bu Ani, Bu Siska dan staf jurusan akuntansi lainnya.

9. Teman-teman seperjuangan dan sahabat tercinta penulis khususnya, Firda, Karina, Vikha, Ocha, Kabul, dan Silvy. Setiap moment yang telah kita lewati bersama ketika senang maupun sedih tidak akan pernah penulis lupakan. Semoga kita bisa tetap menjalin silaturrahmi dan menjadi sahabat selamanya, amin. Sukses selalu ya.

10.Hadi yang selalu memberikan support, semangat, dan masukan pada penulis setiap saat dengan sabar. Tak lupa juga Kak Beber dan Kak Yusar yang telah memberikan masukan pada penulis serta teman-teman Akuntansi C dan Akuntansi Manajemen yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Terima kasih atas dukungannya.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan skripsi ini, oleh karena itu diharapkan penelitian selanjutnya dapat menyempurnakannya. Akhir kata, semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca dan semua pihak yang membutuhkannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jakarta, Februari 2011

(11)

DAFTAR ISI

Keterangan Halaman

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI ... i

LEMBAR PENGESAHAN UJIAN KOMPREHENSIF ... ii

LEMBAR PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI ... iii

SURAT PERNYATAAN ... iv

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... v

ABSTRACT ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 8

C. Tujuan Penelitian ... 8

D. Manfaat Penelitian ... 9

BAB II PEMBAHASAN ... 11

A. Landasan Teori ... 11

1. Perusahaan ... 11

(12)

3. Ukuran Perusahaan ... 13

4. Leverage ... 15

5. Economic Value Added (EVA) ... 20

a. Definisi Economic Value Added (EVA) ... 20

b. Rumus Menghitung EVA ... 22

c. Kelemahan dan Keunggulan EVA ... 23

6. Return On Investment (ROI) ... 25

a. Definisi ROI ... 25

b. Keunggulan dan Kelemahan ROI ... 27

7. Earning Per Share (EPS) ... 28

8. Return Saham ... 30

a. Definisi Return Saham ... 30

b. Komponen Return ... 30

c. Jenis-Jenis Return ... 31

d. Rumus Return Saham ... 32

B. Penelitian Terdahulu ... 33

C. Kerangka Pemikiran ... 37

D. Keterkaitan Antar Variabel ... 38

1. Ukuran perusahaan dengan Return Saham ... 38

2. Leverage dengan Return Saham ... 39

3. EVA dengan Return Saham ... 40

4. ROI dengan Return saham ... 41

(13)

E. Hipotesis ... 43

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 45

A. Ruang Lingkup Penelitian ... 45

B. Metode Penentuan Sampel ... 45

C. Metode Pengumpulan Data ... 46

D. Metode Analisis Data ... 47

1. Uji Asumsi Klasik ... 47

a. Uji Multikolinearitas ... 47

b. Uji Autokorelasi ... 48

c. Uji Normalitas ... 48

d. Uji Heterokedastis ... 49

2. Uji Hipotesis ... 50

a. Koefisien Determinasi (UjiR2) ... 51

b. Uji Statistik t ... 51

c. Uji Statistik F ... 52

E. Definisi Operasional Variabel dan Pengukurannya ... 52

1. Variabel Independen (X) ... 52

a. Ukuran Perusahaan (X1) ... 52

b. Leverage (X2) ... 53

c. EVA (X3) ... 54

d. ROI (X4) ... 55

e. EPS (X5) ... 56

(14)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 58

A. Gambaran Umum Objek Penelitian ... 58

1. Sejarah Singkat Perusahaan ... 59

B. Hasil Uji Instrumen Penelitian ... 70

1. Pengujian Asumsi Klasik ... 70

a. Hasil Uji Multikolinearitas ... 70

b. Hasil Uji Autokorelasi ... 71

c. Hasil Uji Normalitas ... 72

d. Hasil Uji Heterokedastis ... 73

2. Hasil Uji Hipotesis ... 74

a. Hasil Uji Koefisien Determinasi (Adjusted R-Square) ... 74

b. Hasil Uji Statistik t ... 75

c. Analisis Regresi Linier Berganda ... 82

d. Hasil Uji Statistik F ... 83

BAB V PENUTUP ... 86

A. Kesimpulan ... 86

B. Implikasi ... 87

C. Saran ... 88

DAFTAR PUSTAKA ... 90

(15)

DAFTAR TABEL

No Keterangan Halaman

2.1 Tabel Perbedaan Penelitian Terdahulu ... 35

4.1 Kriteria Sampel Penelitian ... 58

4.2 Hasil Uji Multikolinearitas ... 70

4.3 Hasil Uji Autokorelasi ... 71

4.6 Hasil Uji Adjusted Square ... 74

4.7 Hasil Uji Statistik t ... 76

(16)

DAFTAR GAMBAR

No Keterangan Halaman

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

No Keterangan Halaman

1 Surat Izin Penelitian di Bursa Efek Indonesia ... 95 2 Daftar Sampel Perusahaan ... 96 3 Ukuran Perusahaan Makanan dan Minuman Tahun 2007-2009 ... 97 4 Rasio Leverage Industri Makanan dan Minuman Tahun

2007-2009 ... 98 5 Economic Value Added Industri Makanan dan Minuman

Tahun 2007-2009 ... 99 6 Return On Investment Industri Makanan dan Minuman

Tahun 2007-2009 ... 100 7 Earning Per Share Industri Makanan dan Minuman Tahun

2007-2009 ... 101 8 Return Saham Industri Makanan dan Minuman Tahun

(18)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pasar modal merupakan sarana untuk melakukan investasi yang memungkinkan para investor untuk melakukan penempatan dananya pada suatu asset sesuai dengan risiko yang bersedia mereka tanggung dengan tingkat keuntungan yang diharapkan. Soleman (2008:411) mengungkapkan pasar modal menyediakan fasilitas atau wahana yang mempertemukan dua kepentingan yaitu pihak yang mempunyai dana (investor) dan pihak yang memerlukan dana (issuer). Terjadinya krisis global pada tahun 2008 lalu, menyebabkan gangguan dalam pasar modal Indonesia karena harga saham menjadi tidak stabil. Kondisi ini mempengaruhi keputusan para investor yang menanamkan sahamnya di BEI. Kondisi yang mungkin terjadi adalah investor dengan cepat menarik dananya dari produk-produk perbankan disaat harga masih tinggi sehingga hal ini memacetkan perputaran uang.

(19)

terhadap prospek laba di masa yang akan datang serta kualitas dari manajemennya.

Kegiatan investasi yang dilakukan investor adalah kegiatan untuk menempatkan dana pada suatu atau lebih suatu asset selama periode tertentu dengan harapan dapat memperoleh sejumlah keuntungan dimasa yang akan datang (Indra, 2006:239). Dari keuntungan tersebut, investor akan mendapatkan pengembalian (return) dari dana yang diinvestasikannya. Jika perusahaan dapat memberikan return yang cukup besar, tentunya investor akan semakin menambah investasinya, dan hal ini tentunya dapat memberikan dampak positif bagi nilai perusahaan di pasar. Return menurut Wirama (2009:2) adalah imbalan yang diperoleh investor yang menginvestasikan dananya dengan cara membeli saham. Return setidaknya terdiri atas dua komponen, yaitu komponen peningkatan harga (capital gain) dan dividen.

(20)

Dalam menilai kinerja perusahaan, investor biasanya berpedoman pada prospektus dan laporan keuangan perusahaan. Salah satu informasi yang terdapat di dalam laporan keuangan adalah informasi mengenai laba perusahaan. Bagi pemilik saham, laba berarti peningkatan nilai ekonomis yang akan diterima, melalui pembagian dividen. Laba juga digunakan sebagai alat untuk mengukur kinerja manajemen perusahaan selama periode tertentu yang pada umumnya menjadi perhatian pihak-pihak tertentu terutama dalam menaksir kinerja pertanggungjawaban manajemen dalam pengelolaan sumber daya serta dapat dipergunakan untuk memperkirakan prospeknya di masa depan. Kualitas laba menurut Boediono (2005:176) dapat diindikasikan sebagai kemampuan informasi laba memberikan respon kepada pasar. Kuatnya reaksi pasar terhadap informasi laba yang tercermin dari tingginya earnings response coefficients (ERC) yang menunjukkan laba yang dilaporkan berkualitas.

(21)

laba dengan menggunakan total aktiva yang ada. Dengan demikian rasio ini menghubungkan keuntungan yang diperoleh dari operasinya perusahaan (net operation income) dengan jumlah investasi atau aktiva yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan operasi tersebut.

Rasio pasar dapat diukur melalui Price Book Value (PBV), Price Earning Ratio (PER), dan Earning Per Share (EPS). Dalam penelitian ini, rasio pasar yang digunakan adalah EPS karena dapat menggambarkan tingkat laba yang diperoleh para pemegang saham, dimana tingkat laba menunjukkan kinerja perusahaan terutama dari kemampuan laba yang dikaitkan dengan pasar. Menurut Djazuli (2006:53) salah satu kriteria bagi calon investor untuk mengambil keputusan dalam membeli saham suatu perusahaan tercermin dalam EPS. Jadi semakin meningkatnya EPS akan meningkatkan daya tarik investor dalam menanamkan dana ke dalam perusahaan, sehingga harga saham akan meningkat. Meningkatnya harga saham tentunya akan berpengaruh terhadap meningkatnya total return yang diperoleh investor.

(22)

beban biaya modal (cost of capital) yang timbul sebagai akibat investasi yang dilakukan.

Siddharta Uatama (1997:10) dalam Rizal dan Sari (2008:4) mengungkapkan, Economic Value Added (EVA) dipopulerkan pertama kali oleh Stern Steward Management, analisis keuangan dari Stern Steward & Co. of New York City. Stern Steward menghitung EVA sebagai laba operasi setelah pajak dikurangi dengan total biaya modal. Total biaya modal dihitung dengan cara mengalikan total biaya dengan total modal yang diinvestasikan.

EVA memfokuskan pada efektivitas manajerial dalam satu tahun tertentu (Kartini dan Hermawan, 2008:356). Dalam hubungannya dengan penilaian kinerja keuangan perusahaan, tingkat kesehatan perusahaan bagi para pemegang saham sangatlah penting untuk mengetahui kondisi sebenarnya suatu perusahaan, agar modal yang diinvestasikan cukup aman dan mendapatkan tingkat hasil pengembalian (rate of return) yang menguntungkan dari investasi yang ditanamkannya. Menurut Kartini dan Hermawan (2008:356) EVA menjadi relevan untuk mengukur kinerja berdasarkan value karena EVA adalah ukuran nilai tambah ekonomis yang dihasilkan oleh perusahaan sebagai akibat dari aktivitas atau strategi manajemen. Bagi pihak manajemen perusahaan, penilaian kinerja ini akan sangat mempengaruhi dalam penyusunan rencana usaha perusahaan yang akan diambil untuk masa yang akan datang demi kelangsungan hidup perusahaan.

(23)

menginvestasikan uangnya, dan karyawannya. Para penyedia dana tentunya akan mengharapkan tingkat pengembalian yang besar untuk investasi yang ditanamkannya, sedangkan pihak karyawan menginginkan kelangsungan hidup dari perusahaan dapat terjamin sehingga kesejahteraan mereka juga akan ikut terjamin. Penerapan konsep EVA dalam suatu perusahaan akan membuat perusahaan lebih memfokuskan perhatian pada penciptaan nilai perusahaan.

Akan tetapi, tidak hanya rasio-rasio tersebut saja yang harus diperhatikan dalam penerimaan return saham tetapi juga harus melihat rasio utang (leverage) perusahaan. Jika perusahaan tersebut memiliki rasio leverage yang cukup tinggi tentunya investor akan mengharapkan return yang besar karena perusahaan itu dinilai memiliki risiko yang cukup tinggi. Menurut Pribawati (2007:6), semakin tinggi leverage ratio (Debt to Asset (DTA) dan Debt to Equity Ratio (DER)) berdampak buruk karena tingkat hutang yang semakin tinggi berarti beban bunga akan semakin besar yang berarti mengurangi keuntungan.

(24)

maka laba perusahaan pun akan besar dan ini tentu akan memberikan return yang cukup besar pula bagi pemegang saham.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Ulupui (2007) pada 13 perusahaan makanan dan minuman, menemukan bahwa return saham dipengaruhi oleh rasio likuiditas, leverage, dan profitabilitas. Sedangkan menurut penelitian Kartini dan Hermawan (2008), EVA dan MVA secara bersama-sama mempengaruhi harga saham, akan tetapi tidak berpengaruh signifikan terhadap return yang diterima pemegang saham. Dari beberapa penelitian tersebut, penulis merasa tertarik untuk mengetahui apakah ada pengaruh signifikan antara ukuran perusahaan, leverage, EVA, ROI, dan EPS terhadap return yang diterima pemegang saham.

Penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian I G. K. A. Ulupui (2007). Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah:

1. Penelitian ini ingin mengetahui adanya return yang diterima pemegang saham dengan menambahkan variabel independen yang berbeda yaitu ukuran perusahaan, EVA, dan EPS. Sedangkan penelitian sebelumnya menggunakan current ratio dan total asset turn over.

2. Tahun pengamatan penelitian ini adalah 2007-2009 sedangkan penelitian sebelumnya pada tahun 1999-2005.

(25)

B. Rumusan Masalah

Mengacu pada latar belakang penelitian di atas, maka rumusan masalah yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah ukuran perusahaan memiliki pengaruh terhadap return yang diterima oleh pemegang saham?

2. Apakah leverage memiliki pengaruh terhadap return yang diterima oleh pemegang saham?

3. Apakah EVA memiliki pengaruh terhadap return yang diterima oleh pemegang saham?

4. Apakah ROI memiliki pengaruh terhadap return yang diterima oleh pemegang saham?

5. Apakah EPS memiliki pengaruh terhadap return yang diterima oleh pemegang saham?

6. Apakah ukuran perusahaan, leverage, EVA, ROI, dan EPS secara simultan memiliki pengaruh terhadap return yang diterima oleh pemegang saham?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui atas hal-hal berikut: 1. Menganalisis pengaruh ukuran perusahaan terhadap return yang

diterima pemegang saham.

(26)

3. Menganalisis pengaruh EVA terhadap return yang diterima pemegang saham.

4. Menganalisis pengaruh ROI terhadap return yang diterima pemegang saham.

5. Menganalisis pengaruh EPS terhadap return yang diterima pemegang saham.

6. Menganalisis pengaruh ukuran perusahaan, leverage, EVA, ROI, dan EPS secara simultan terhadap return yang diterima pemegang saham.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi: 1. Investor

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan informasi dalam melakukan investasi, serta sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi pada perusahaan yang diinginkan.

2. Perusahaan

Sebagai bahan masukan dan pertimbangan untuk dapat menilai sendiri kinerja manajemennya dengan menggunakan rasio keuangan, serta sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil kebijakan perusahaan sehingga dapat menguntungkan perusahaan serta pemegang saham.

3. Dunia penelitian dan akademis

(27)

4. Peneliti

(28)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori 1. Perusahaan

Definisi perusahaan menurut Griffin dan Ebert (2006:110) adalah bisnis yang secara hukum dianggap sebagai satu entitas yang terpisah dari pemilik-pemiliknya dan bertanggung jawab atas hutang-hutangnya sendiri (tanggung jawab pemilik terbatas pada besarnya investasi mereka). Menurut Mangkuprawira (2009), suatu perusahaan atau organisasi yang baik dan bertanggung jawab serta ingin memelihara kesinambungan bisnis dalam jangka panjang, harus sudah memikirkan kepeduliannya pada saat awal pendirian perusahaan, yaitu dengan cara menetapkan visi, misi dan tujuan perusahaan.

Visi merupakan suatu pernyataan tentang cita-cita organisasi yang berisikan arahan yang jelas dan apa yang akan diperbuat oleh perusahaan di masa yang akan datang. Untuk mewujudkan visi tersebut maka perusahaan melakukan pengembangan misi yang akan dijalani dalam tiap aktivitas. Misi merupakan penetapan tujuan dan sasaran perusahaan yang mencakup kegiatan jangka panjang tertentu dan jangka pendek yang akan dilakukan, dalam upaya mencapai visi yang telah ditetapkan (Mangkuprawira, 2009).

(29)

benar akan sangat berpengaruh pada proses pencapaian tujuan dan pengukuran kinerja nantinya. Karena kesalahan menentukan tujuan akan berakibat pada kesalahan strategi yang diambil. Menurut Sulaiman dan Handi (2008:111) menyatakan tujuan pokok perusahaan adalah memperoleh laba semaksimal mungkin serta meningkatkan nilai pasar perusahaan tersebut. Tujuan perusahaan lainnya menurut Anthony dan Govindarajan (2005:61) dalam mencari laba adalah memaksimalkan nilai pemegang saham.

2. Karakteristik Perusahaan

Karakteristik perusahaan menurut Soleman (2008:413) adalah sifat khas atau spesifikasi suatu perusahaan yang membedakannya dengan perusahaan lain, yang terdiri dari seperti pertumbuhan asset, volatilitas pendapatan, ukuran perusahaan, dan profitabilitas perusahaan.

Wald (1999) dalam Soleman (2008:143) mengemukakan bahwa adanya perbedaan karakteristik perusahaan, akan menyebabkan perbedaan pada komposisi stuktur modalnya, dan keputusan pemenuhan sumber dana perusahaan. Karakteristik yang digunakan adalah pertumbuhan asset, ukuran perusahaan, volatilitas pendapatan perusahaan, dan inventaris.

(30)

3. Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan menurut Ibrahim (2008:19) merupakan suatu skala pengklasifikasian besar kecilnya perusahaan menurut berbagai cara antara lain dengan total aktiva, total penjualan, nilai pasar saham, dan lain-lain. Adapun menurut Hartono (2000) dalam Maberya dan Suaryana (2009:4), besar kecilnya perusahaan dapat diukur dengan total aktiva/besar harta perusahaan dengan menggunakan perhitungan nilai logaritma total aktiva. Jadi, berdasarkan beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa ukuran perusahaan adalah skala besar kecilnya perusahaan yang dapat diukur melalui total asset, total penjualan, dan kapitalisasi pasar.

Pada dasarnya ukuran perusahaan terbagi menjadi tiga yaitu, perusahaan besar, perusahaan sedang, dan perusahaan kecil. Pengukuran ini didasarkan pada total asset perusahaan. Karena biasanya perusahaan yang besar memiliki aktiva yang besar pula dan ini akan mencerminkan bahwa perusahaan tersebut mampu menghasilkan laba yang lebih besar dibandingkan dengan perusahaan kecil. Selain itu juga dapat memberikan kepastian untuk prospek masa depan perusahaan bagi investor dalam memprediksi risiko yang akan terjadi jika berinvestasi.

(31)

a. Kapitalisasi besar (big cap)

Yaitu saham-saham yang dinilai kapitalisasi pasarnya lebih besar sampai dengan Rp 5 trilyun. Saham berkapitalisasi besar ini disebut saham lapis pertama.

b. Kapitalisasi sedang (middle cap)

Merupakan saham-saham yang nilai kapitalisasi pasarnya berkisar antara Rp 1 trilyun sampai dengan Rp 5 trilyun. Saham berkapitalisasi sedang ini disebut juga saham lapis kedua.

c. Kapitalisasi kecil (small cap)

Merupakan saham-saham yang nilai kapitalisasi pasarnya kurang dari Rp 1 trilyun. Saham berkapitalisasi kecil ini disebut juga saham lapis ketiga.

Perusahaan yang berukuran besar tentunya dapat menarik investor untuk menanamkan investasi karena dianggap dapat mengelola saham dengan baik sehingga mampu memberikan return yang diharapkan oleh investor. Menurut Marberya dan Suaryana (2009:4), ukuran perusahaaan menunjukkan jumlah pengalaman dan kemampuan tumbuhnya suatu perusahaan yang mengindikasikan kemampuan dan tingkat risiko dalam mengelola investasi yang diberikan para stockholder untuk meningkatkan kemakmuran mereka.

(32)

diharapkan memberikan laba yang superior bagi pemilik perusahaan. Jadi, dapat dikatakan bahwa ukuran perusahaan yang besar akan dapat memberikan return yang lebih besar dibandingkan dengan perusahaan yang lebih kecil.

4. Leverage

Sumber pendanaan bagi perusahaan terbagi menjadi dua yaitu pendanaan internal dan pendanaan eksternal. Pendanaan internal dapat diperoleh dari laba ditahan dan modal pemilik, sedangkan pendanaan eksternal diperoleh dari pinjaman kreditur (utang). Menurut Van Horne dan Wachowicz (2005:209), leverage merupakan rasio yang menunjukkan sejauh mana perusahaan dibiayai oleh utang.

Leverage digunakan untuk mengukur tingkat utang yang digunakan untuk membiayai kegiatan operasi perusahaan. Menurut Soleman (2008:414) rasio leverage adalah rasio yang mengukur seberapa besar asset perusahaan dibiayai oleh pihak luar atau kreditor.

(33)

Menurut Sudana dan Intan (2008:230), pembiayaan dengan menggunakan utang, memiliki beberapa implikasi yaitu:

1) Memperoleh dana melalui utang membuat pemegang saham dapat mempertahankan pengendalian atas perusahaan dengan investasi yang terbatas sebesar modal disetor.

2) Kreditur melihat ekuitas, atau dana yang disetor pemilik untuk memberikan margin pengaman, apabila pemegang saham hanya memberikan sebagian kecil dari total pembiayaan, maka risiko perusahaan sebagian besar ada pada kreditur.

3) Jika perusahaan memperoleh pengembalian yang lebih besar atas investasi yang dibiayai dengan dana pinjaman dibandingkan pembayaran bunga, maka pengembalian atas modal pemilik akan lebih besar atau ”leveraged”.

Jenis leverage terbagi menjadi dua yaitu leverage operasi (operating leverage) dan leverage keuangan (financial leverage):

(34)

menggunakan biaya operasi tetap untuk memperbesar pengaruh dari perubahan penjualan terhadap laba sebelum bunga dan pajak.

2) Leverage Keuangan (Financial Leverage) merupakan ukuran bagi risiko keuangan dan dapat diketahui dari biaya tetap dari dana utang yang digunakan. Jika financial leverage tinggi maka akan menyebabkan financial risk yang tinggi juga sehingga biaya modal juga tinggi. Menurut Handojo (2007:4), financial leverage merupakan rasio untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai oleh hutang. Jika perusahaan menggunakan hutang semakin banyak, maka semakin besar beban tetap berupa bunga dan angsuran pokok pinjaman yang harus dibayar.

Rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur leverage perusahaan yaitu dengan menggunakan debt to total equity ratio. Rasio utang terhadap total ekuitas (debt to total equity ratio) diperoleh dari membagi total hutang perusahaan dengan total ekuitasnya. Rasio ini menggambarkan mengenai struktur modal yang dimiliki oleh perusahaan yang berasal dari utang jangka panjang dan modal yang berasal dari ekuitas. Jika rasio ini semakin besar, menunjukkan bahwa struktur modal yang berasal dari utang semakin besar digunakan untuk mendanai ekuitas yang ada.

(35)

Leverage = Total Debt Total Equity Keterangan:

TotalDebt = Total kewajiban TotalEquity = Total ekuitas

Leverage dapat membantu investor dan perusahaan untuk berinvestasi atau beroperasi namun dengan risiko yang lebih besar yaitu risiko bagi pemberi pinjaman. Jika ukuran utang terhadap kapitalisasi total semakin tinggi rasionya, maka makin mengindikasikan utang yang berlebihan yang menandakan kemungkinan suatu perusahaan jadi tidak mampu menghasilkan pendapatan yang memadai untuk memenuhi kewajiban utang-utangnya. Hal ini tentu dapat menimbulkan pengaruh negatif bagi investor yang akan menanamkan investasinya. Karena, perusahaan yang memiliki rasio leverage yang besar, tentunya harus membagikan dividen lebih kecil karena laba yang diperoleh digunakan untuk melunasi kewajiban.

(36)

equipment-nya. Debt untuk mendanai kegiatan semacam itu harus bersifat jangka panjang agar sesuai dengan jangka waktu aset yang diperoleh.

Tingkat risiko dan return saham perusahaan merupakan faktor penting yang harus dipertimbangkan calon investor sebelum mengambil keputusan investasi saham. Return saham dan risiko sangat berhubungan dengan leverage yang akan digunakan oleh perusahaan. Apabila risiko tinggi maka para pemegang saham akan meminta return saham yang tinggi pula, disamping itu penggunaan leverage juga dapat meningkatkan nilai perusahaan.

(37)

5. Economic Value Added (EVA) a. Definisi EVA

Definisi dari EVA menurut Hansen dan Mowen (2009:585) adalah laba bersih (laba operasi setelah pajak) dikurangi total biaya modal tahunan. EVA merupakan ukuran nilai tambah ekonomis yang dihasilkan perusahaan sebagai akibat dari aktifitas atau strategi manajemen.

Menurut Kaur dan Narang (2009:17), definisi EVA adalah: “EVA is a measure of value created/destroyed that compares the returns from operations with the cost of financing those operations. It is the only performance measure that links directly with the intrinsic value of the business”.

Sedangkan menurut Rizal dan Sari (2008:4) EVA dapat didefinisikan sebagai keuntungan operasional setelah pajak dikurangi dengan biaya modal. Konsep EVA dilandasi oleh pemikiran bahwa pengukuran laba suatu perusahaan harus riil dan adil mampu mempertimbangkan harapan-harapan para pemegang saham. Berdasarkan beberapa definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa EVA adalah pengukuran laba operasional setelah dikurangi pajak dengan biaya modal yang dapat menciptakan nilai bagi perusahaan.

Rizal dan Sari (2008:5) mengungkapkan, EVA dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

(38)

2) EVA akan menyebabkan perusahaan lebih memperhatikan kebijaksanaan struktur modalnya.

3) EVA dapat digunakan untuk mengidentifikasi kegiatan atau proyek yang memberikan pengembalian yang lebih tinggi daripada biaya modalnya.

Jika EVA positif, maka perusahaan telah menciptakan kekayaan. Tetapi jika EVA negatif, maka perusahaan telah merusak modalnya. EVA juga menghasilkan tingkat pengembalian seperti ROI karena menghubungkan penghasilan bersih (pengembalian) dengan modal yang dipakai. Intinya, EVA menekankan pada laba operasi setelah pajak dan biaya aktual dari modal. EVA sebagai alat penilaian kinerja berdasarkan value based pada dasarnya berfungsi sebagai indikator tentang adanya penciptaan nilai dari sebuah investasi dan sebagai indikator kinerja sebuah perusahaan dalam setiap kegiatan operasionalnya ekonomisnya.

Kartini dan Hermawan (2008:358) menyatakan EVA adalah suatu estimasi laba ekonomis yang sesungguhnya dari perusahaan dalam tahun berjalan. EVA menunjukkan sisa laba setelah semua biaya modal termasuk modal ekuitas dikurangkan. Prinsip EVA adalah memberikan sistem pengukuran yang baik untuk menilai suatu kinerja dan prestasi keuangan manajemen perusahaan karena EVA berhubungan langsung dengan nilai pasar suatu perusahaan.

(39)

yang semakin tinggi menandakan semakin baik kinerja perusahaan, karena meningkatnya kemampuan dalam menciptakan laba setelah dikurangi dengan risiko perusahaan yang berupa biaya modal. Hal ini tentu dapat meningkatkan tingkat pengembalian saham pada investor.

Indikator EVA menurut Kartini dan Hermawan (2008:359) yaitu: 1) Bila EVA < 0 menujukkan nilai perusahaan berkurang sebagai akibat

tingkat pengembalian yang dihasilkan lebih rendah daripada tingkat pengembalian yang diharapkan penyedia dana atau dengan kata lain tidak ada nilai tambah pada perusahaan tersebut karena laba yang tersedia tidak memenuhi harapan-harapan para penyedia dana terutama pemegang saham.

2) Bila EVA = 0 artinya bahwa perusahaan secara ekonomis berada dalam keadaan impas karena semua laba yang tersedia telah digunakan untuk membayar kewajiban kepada penyedia dana, baik kreditur maupun pemegang saham.

3) Bila EVA > 0 memiliki arti bahwa tingkat pengembalian yang dihasilkan melebihi tingkat biaya modal/tingkat yang diminta investor atas investasi yang dilakukannya. Keadaaan seperti ini yang menunjukkan bahwa perusahaan telah berhasil menciptakan nilai bagi pemilik modal karena telah memaksimalkan nilai perusahaan. b. Rumus Menghitung EVA

(40)

menggambarkan hasil penciptaan nilai di perusahaan, sedangkan biaya modal merupakan pengorbanan yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan nilai tersebut.

EVA dapat dihitung dengan cara berikut (Kartini dan Hermawan, 2008:362):

EVA = NOPAT – (WACC x Invested Capital) Keterangan:

NOPAT = Net Operating Profit After Tax = EBIT - Tax Expense

WACC = Weighted Average Cost of Capital = (Biaya Ekuitas x Presentase Ekuitas) x (Biaya Utang x Presentase Utang) Invested Capital = Modal yang diinvestasikan c. Kelemahan dan Keunggulan EVA

Keunggulan EVA sebagai penilai kinerja perusahaan adalah dapat digunakan sebagai penciptaan nilai (value creation). Keunggulan EVA sebagai alat pengukuran kinerja keuangan perusahaan menurut Anthony dan Govindarajan (2005:350) meliputi:

1) Dengan EVA seluruh unit usaha memiliki sasaran laba yang sama untuk perbandingan investasi.

(41)

3) Adanya tingkat suku bunga yang berbeda dapat digunakan untuk jenis aktivayang berbeda pula.

4) EVA memiliki korelasi positif yang lebih kuat tehadap perubahan-perubahan dalam nilai pasar perusahaan.

Selain berbagai keunggulan tersebut, konsep EVA juga memiliki kelemahan-kelemahan menurut Mirza (1999) dalam Rizal dan Sari (2008:5) EVA memiliki kelemahan sebagai berikut:

1) EVA hanya menggambarkan penciptaan nilai pada suatu tahun tertentu, sedangkan nilai suatu perusahaan adalah akumulasi EVA selama umur perusahaan.

2) Prosedur perhitungan EVA memerlukan estimasi atas biaya modal dan estimasi untuk perusahaan yang belum go public sulit dilakukan dengan tepat.

3) EVA kurang valid karena perhitungan EVA sesungguhnya cukup rumit dan mengandung unsur ketidakpastian, artinya bahwa tinggi rendahnya EVAdapat dipengaruhi oleh gejolak yang terjadi di pasar modal.

4) EVA bukanlah tolak ukur kinerja yang baik, karena hanya mengukur kinerja keuangan perusahaan saja, sehingga tidak komprehensif. 5) EVA hanya mengukur hasil akhir (outcome) dan tidak mengukur

(42)

6. Return On Investement (ROI) a. Definisi ROI

Return On Investment (ROI) merupakan salah satu rasio profitabilitas yang digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan di dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva yang dimilikinya. Definisi ROI menurut Hansen dan Mowen (2009:592) adalah rasio laba operasi terhadap aktiva operasi rata-rata. Menurut Djazuli (2006:54) ROI merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan yang akan digunakan untuk menutup investasi yang akan dikeluarkan.

Sedangkan menurut Suharli dan Oktorina (2005:290) ROI merupakan tingkat pengembalian investasi atas investasi perusahaan pada aktiva. Jadi, dapat disimpulkan bahwa ROI adalah rasio keuntungan bersih sebelum pajak dengan aktiva untuk menilai seberapa besar tingkat pengembalian dari investasi yang dimiliki oleh perusahaan.

(43)

aktiva operasi. Hal ini menunjukkan produktivitas aktiva yang digunakan untuk menghasilkan penjualan.

Soleman (2008:414) menyatakan bahwa ROI menunjukkan kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan perusahaan. Jadi, ROI yang semakin tinggi menandakan semakin baik kinerja perusahaan, karena meningkatnya kemampuan dalam menghasilkan keuntungan yang digunakan untuk menutup investasi yang telah dikeluarkan. Hal ini tentu dapat meningkatkan tingkat pengembalian saham pada investor. Sedangkan ROI yang negatif menunjukkan kemampuan dari modal yang diinvestasikan secara keseluruhan belum mampu untuk menghasilkan laba.

Cara menghitung ROI adalah sebagai berikut (Hansen dan Mowen, 2009:576):

ROI = Operating Income Average Operating Assets

Keterangan:

Operating Income = laba sebelum bunga dan pajak Average Operating Assets = Aktiva operasi rata-rata

(44)

b. Keunggulan dan Kelemahan ROI

Keunggulan yang dimiliki ROI menurut Hansen dan Mowen (2009:579) adalah:

1) ROI mendorong manajer untuk fokus pada hubungan antara penjualan, beban, dan investasi sebagaimana yang diharapkan dari seorang manajer pusat investasi.

2) ROI mendorong manajer untuk fokus pada efisiensi biaya.

3) ROI mendorong manajer untuk fokus pada efisiensi aktiva operasi. Sedangkan keunggulan ROI menurut Anthony dan Govindarajan (2005:249) adalah:

1)ROI merupakan pengukuran yang komprehensif dimana semua mempengaruhi laporan keuangan tercermin di rasio ini.

2)ROI mudah dihitung, mudah dipahami dan sangat berarti dalam arti absolut.

3)ROI merupakan denominator yang dapat diterapkan pada setiap unit organisasi yang bertanggung jawab terhadap laba (profitabilitas), di luar besar dan jenis usaha .

Akan tetapi selain keunggulan yang dimilikinya, ROI juga memiliki kelemahan menurut Hansen dan Mowen (2009:581) yaitu: 1) ROI mengakibatkan fokus yang sempit pada profitabilitas divisi

dengan mengorbankan profitabilitas keseluruhan perusahaan. 2) ROI mendorong para manajer untuk fokus pada kepentingan jangka

(45)

7. Earning Per Share (EPS)

Salah satu ukuran profitabilitas yang sering dikutip dari laporan keuangan adalah laba per lembar saham (earning per share). Menurut Indra (2006:248) EPS menunjukkan besarnya laba bersih perusahaan yang siap dibagikan bagi semua pemegang saham perusahaan. EPS adalah rasio profitabilitas dari laba bersih yang tersedia bagi pemegang saham terhadap jumlah saham yang beredar.

EPS menurut Weygant, et. all. (2010:200) berguna untuk menunjukkan laba bersih yang dihasilkan oleh setiap lembar saham biasa yang beredar di pasar. Sedangkan menurut Suardana (2009:16), EPS adalah perbandingan antara laba setelah pajak dan saham yang beredar (outstanding share). Jadi dapat disimpulkan EPS adalah laba bersih yang akan diterima oleh pemegang saham dari setiap jumlah saham yang beredar.

EPS merupakan hasil atau pendapatan yang akan diterima oleh pemegang saham untuk setiap lembar saham yang dimilikinya atas keikutsertaannya dalam perusahaan. Laba per lembar saham biasanya merupakan indikator laba yang diperhatikan oleh para investor yang umumnya terhadap korelasi yang kuat antara pertumbuhan laba dan pertumbuhan harga saham.

(46)

akan menyejahterakan pemegang saham karena semakin besar laba yang disediakan untuk pemegang saham.

Semakin meningkatnya jumlah EPS akan meningkatkan daya tarik investor dalam menanamkan dana ke dalam perusahaan, sehingga harga saham akan meningkat. Meningkatnya harga saham akan berpengaruh terhadap meningkatnya total return yang diperoleh investor. EPS yang besar menunjukkan kemampuan perusahaan yang lebih besar dalam menghasilkan keuntungan bersih dari setiap lembar saham. Peningkatan EPS menandakan bahwa perusahaan berhasil meningkatkan kemakmuran para investor dan dari hal tersebut akan mendorong investor untuk menambah jumlah modal yang ditanamkan pada perusahaan.

Menurut Suardana (2009:11) jika laba yang diperoleh meningkat, kemungkinan dividen yang dibagikan akan meningkat, sehingga permintaan akan saham pun naik. Hal inilah yang menimbulkan peningkatan pada harga saham yang selanjutnya akan meningkatkan return saham.

EPS dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut (Suardana, 2009:16):

EPS = Earning After Tax Outstanding Share

Keterangan:

(47)

8. Return Saham

a. Definisi Return Saham

Return saham menurut Wirama (2009:3) adalah imbalan investasi yang dilakukan dengan cara membeli saham di pasar modal, baik pasar primer maupun sekunder. Return adalah tingkat pengembalian yang dinikmati oleh investor atas suatu investasi yang dilakukannya. Tanpa adanya tingkat keuntungan yang dinikmati dari suatu investasi, tentunya investor tidak akan melakukan investasi. Jadi setiap investasi baik jangka pendek maupun jangka panjang mempunyai tujuan utama mendapatkan keuntungan yang disebut sebagai return baik langsung maupun tidak langsung.

Menurut Bodie (1998) dalam Handojo (2007:7), pengertian tingkat pengembalian investasi adalah penghasilan yang diperoleh selama periode investasi per sejumlah dana yang diinvestasikan. Sedangkan menurut Sulaiman dan Handi (2008:114) return saham adalah keuntungan yang diperoleh dari kepemilikan saham investor atas investasi yang dilakukannya yang terdiri atas dividen dan capital gain/loss. Jadi, dapat disimpulkan bahwa return saham adalah tingkat pengembalian yang diperoleh dari investasi saham yang ditanam oleh pemegang saham.

b. Komponen Return

(48)

1) Current Income (pendapatan lancar) adalah keuntungan yang diperoleh melalui pembayaran yang bersifat periodik seperti pembayaran bunga deposito, obligasi, dividen, dan sebagainya.

2) Capital Gain (keuntungan selisih harga) yaitu keuntungan yang diterima karena adanya selisih antara harga jual dan beli suatu instrument investasi harus diperdagangkan di pasar. Besarnya capital gain dilakukan dengan analisis return historis yang terjadi pada periode sebelumnya, sehingga dapat ditentukan besarnya tingkat pengembalian yang diinginkan.

c. Jenis-Jenis Return

Handojo (2007:7) mengungkapkan, return merupakan hasil yang diperoleh dari investasi yang berupa return realisasi (realized return) dan return ekspektasi (expected return).

1) Return realisasi merupakan return yang telah terjadi yang dihitung berdasarkan data historis dan dipergunakan sebagai salah satu pengukur kinerja perusahaan. Return realisasi ini juga berguna sebagai dasar penentuan return ekspektasi (expected return) dan risiko di masa datang.

(49)

d. Rumus Return Saham

Konsep return saham dapat digunakan berbagai konsep antara lain return realisasi yang merupakan capital gain (loss). Menurut Indra (2006:245) capital gain (loss) adalah selisih dari harga investasi sekarang relatif dengan harga periode yang lalu. Yield merupakan persentase penerimaan kas periodik terhadap harga investasi periode tertentu dari suatu investasi. Return dari investasi pada saham di pasar modal akan diperoleh dari selisih kurs sewaktu membeli dengan sewaktu menjual (capital gain) ditambah dengan besarnya dividen kas yang dibagikan oleh perusahaan.

Dalam penelitian ini hanya memperhitungkan return saham yang berasal dari capital gain tanpa memperhitungkan adanya deviden yield. Karena pada dasarnya dividen yang dibagikan nilainya kecil sehingga tidak terlalu berpengaruh jika tidak ikut diperhitungkan Selain itu tidak selamanya perusahaan membagikan dividen secara periodik pemegang sahamnya.

Return yang digunakan dalam penelitian ini adalah return realisasi. Return realisasi merupakan return yang terjadi yang dihitung berdasarkan data historis dan digunakan sebagai salah satu pengukur kinerja perusahaan. Return realisasi ini juga berguna sebagai dasar penentuan return ekspektasi yang merupakan return yang diharapkan oleh investor di masamendatang.

(50)

Return = Pt - Pt-1 Pt-1 Keterangan:

Pt = Harga saham sekarang (periode t) Pt-1 = Harga saham periode lalu (periode t-1)

B. Penelitian Terdahulu

Ketut Alit Suardana (2009) melakukan penelitian mengenai pengaruh rasio CAMEL terhadap return saham pada 13 perbankan yang terdaftar di BEI. Variabel idependen yang digunakannya adalah CAR, RORA, BOPO, EPS, dan LDR, sedangkan variabel dependennya adalah return saham. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa rasio CAMEL secara simultan berpengaruh positif terhadap return saham dan hanya rasio CAR yang berpengaruh positif terhadap return saham, sedangkan rasio lainnya tidak berpengaruh.

A. Zubaidi Indra (2006) meneliti faktor-faktor fundamental keuangan yang mempengaruhi risiko saham. Variabel independen yang ditelitinya adalah DER, ROE, EPS, PER, dan OPM, dengan variabel dependennya adalah risiko sistematis beta. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa faktor-faktor fundamental seperti DER, ROE, EPS, PER, dan OPM mempunyai pengaruh terhadap risiko sistematis beta.

(51)

yaitu current ratio, ROA, DER, dan total asset turnover. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa current ratio dan ROA menunjukkan pengaruh positif dan signifikan terhadap return saham. Sedangkan pada variabel DER menunjukkan hasil yang positif tetapi tidak signifikan terhadap return saham. Tetapi variabel total asset turnover menunjukkan pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap return saham.

Asep Suherman (2010) melakukan penelitian mengenai pengaruh EVA, MVA, dan Residual Income terhadap return saham pada 9 perusahaan yang terdaftar di JII dari tahun 2005-2008. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa EVA dan MVA berpengaruh secara signifikan terhadap return saham, sedangkan Residual Income tidak berpengaruh terhadap return saham. Hasil penelitian uji simultan menunjukkan bahwa EVA, MVA, dan Residual Income berpengaruh signifikan dan simultan terhadap return saham.

(52)

Tabel 2.1

- Menguji analisis denganBeta

(53)

Lanjutan Tabel 2.1

(54)

C. Kerangka Pemikiran

Penelitian ini mengkaji pengaruh ukuran perusahaan, leverage, EVA, ROI, dan EPS terhadap return yang diterima oleh pemegang saham. Berdasarkan kerangka teori yang dikemukakan, dapat digambarkan dalam bentuk model penelitian seperti gambar di bawah ini:

Gambar 2.2

Industri Makanan dan Minuman di BEI Bursa Efek Indonesia (BEI)

Judul

Pengaruh Ukuran Perusahaan, Leverage, Economic Value Added, Return On Investment, dan Earning Per Share

(55)

D. Keterkaitan Antar Variabel

1. Ukuran Perusahaan dengan Return Saham

Berdasarkan hasil penelitian Daniati dan Suhairi (2006:15), size perusahaan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap expected return saham. Hasil ini sesuai dengan penelitian Miswanto (1999) dalam Daniati dan Suhairi (2006:8), dalam penelitiannya mengenai pengaruh ukuran perusahaan pada risiko bisnis menemukan bahwa besar kecilnya perusahaan mempengaruhi risiko bisnis. Dari penelitiannya diperoleh bukti empiris bahwa perusahaan besar memiliki risiko dan return yang lebih tinggi dibanding perusahaan besar.

Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa ukuran perusahaan memiliki hubungan positif dengan return saham. Apabila perusahaan itu berskala besar, maka perusahaan tersebut mampu menghasilkan laba yang cukup besar, sehingga mampu memberikan return yang besar pula bagi pemegang saham. Hal ini karena perusahaan yang berskala besar atau memiliki total saham yang besar memiliki nilai perusahaan dan dapat menarik investor. Selain itu perusahaan yang besar memiliki prospek yang baik dalam jangka waktu yang relatif lama, lebih stabil dan lebih mampu menghasilkan laba dibanding perusahaan dengan total saham yang kecil.

(56)

2. Leverage dengan Return Saham

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ulupui (2007:14), variabel leverage yaitu debt to equity rasio (DER), menunjukkan hasil yang positif, tetapi tidak signifikan. Hal ini mengindikasikan bahwa rasio utang tidak menyebabkan perubahan return saham satu tahun ke depan. Meskipun hasilnya tidak signifikan, bukan berarti bahwa investor dapat mengabaikan rasio debt suatu perusahaan. Sering kali kondisi keuangan yang dihadapi perusahaan buruk disebabkan oleh kegagalan dalam membayar utang.

Penelitian yang dilakukan oleh Nugroho (2009:115) menunjukkan bahwa DER memiliki pengaruh yang signifikan terhadap return saham. Sedangkan menurut hasil penelitian Suharli dan Oktorina (2006:7) menunjukkan bahwa semakin tinggi leverage (hutang) maka semakin rendah tingkat pengembalian investasi berupa pendapatan dividen. Struktur permodalan yang lebih tinggi dimiliki oleh hutang menyebabkan pihak manajemen akan memprioritaskan pelunasan kewajiban terlebih dahulu sebelum membagikan dividen. Akan tetapi, penelitian yang dilakukan oleh Trisnaeni (2007:53) menunjukkan bahwa DER tidak memiliki pengaruh terhadap return saham.

(57)

mempelajari kewajiban perusahaan untuk memperkirakan pendapatan dari investasi berupa dividen, di masa yang akan datang. Oleh karena itu, tingkat hutang memiliki hubungan tidak searah (negatif) dengan tingkat pengembalian investasi berupa dividen. Tingkat leverage perusahaan investee berhubungan negatif dengan tingkat pengembalian investasi berupa dividen bagi investor karena tingkat leverage menunjukkan bahwa investee melunasi kewajibannya dari laba yang ada sehingga dividen yang dibagikan ke investor menjadi kecil. Sehingga dapat diduga bahwa leverage memiliki pengaruh negatif terhadap return saham.

3. EVA dengan Return Saham

Menurut penelitian yang dilakukan ole Mardiah, Sugiarto, dan Siagian (2006:103) mengenai pengaruh EVA dan MVA terhadap return saham, menunjukkan hasil bahwa EVA memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pengembalian harga saham. Penelitian Suherman (2010:60) pun menunjukkan bahwa EVA berpengaruh signifikan terhadap return saham disebabkan karena perusahaan-perusahaan memperhatikan aspek fundamental terhadap laporan keuangan.

(58)

tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham. Tetapi, EVA memiliki pengaruh signifikan terhadap harga saham.  

Dari beberapa hasil penelitian di atas diduga EVA mempunyai pengaruh dengan return saham. Analisis penilaian kinerja dengan EVA jika dihubungkan dengan return saham yaitu, jika EVA semakin tinggi menandakan kinerja perusahaan itu semakin baik maka akan meningkatkan laba yang diperoleh. Meningkatnya laba tentunya akan berpengaruh terhadap return yang diterima pemegang saham, yaitu return yang dihasilkan perusahaan itu semakin tinggi.

4. ROI dengan Return Saham

Suharli dan Oktorina (2005:8) mengadakan penelitian mengenai tingkat pengembalian melalui rasio keuangan. Hasilnya menunjukkan, tingkat profitabilitas yang diukur melalui ROI memiliki hubungan yang searah/positif dengan kebijakan dividen, sehingga semakin tinggi tingkat profitabilitas maka semakin besar dividen yang dibagikan oleh investee kepada investor, begitupula sebaliknya.

(59)

Nugroho (2009:116) juga menunjukkan hasil yang sama dalam penelitiannya, yaitu ROI berpengaruh terhadap return saham.

Akan tetapi hasil penelitian Wira (2009:9) menunjukkan hasil bahwa ROI tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap return saham. Begitu pula penelitian yang dilakukan oleh Trisnaeni (2007:53) menunjukkan hasil bahwa ROI tidak berpengaruh terhadap return saham. Berdasarkan beberapa penelitian tersebut, maka dapat diduga bahwa ROI memiliki pengaruh signifikan terhadap return saham. Semakin besar ROI menunjukkan kinerja yang semakin baik, karena tingkat pengembalian semakin besar. Karena dengan semakin besarnya ROI akan meningkatkan daya tarik investor, sehingga harga saham meningkat dan return yang akan diterima pun meningkat..

5. EPS dengan Return Saham

Penelitian Pribawati (2007:88) menunjukkan hasil bahwa EPS berpengaruh signifikan terhadap return saham. Semakin tinggi nilai EPS berarti semakin baik karena perusahaan mempunyai laba yang tinggi. Perusahaan dengan nilai EPS yang semakin tinggi akan menarik investor karena EPS menandakan laba yang berhak didapatkan pemegang saham atas satu lembar saham yang dimilikinya.

(60)

karena kemampuan menghasilkan laba yang rendah, jadi jika labanya tinggi tentunya tingkat EPS juga tinggi.

Akan tetapi menurut penelitian Suardana (2009:21) mengenai pengaruh rasio CAMEL terhadap return saham, hasilnya menunjukkan bahwa EPS tidak memiliki pengaruh terhadap return saham. Penelitian yang dilakukan oleh Trisnaeni (2007:53) pun menunjukkan bahwa EPS tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap return saham karena return saham itu dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti kondisi ekonomi, sosial, dan politik.

EPS merupakan ukuran kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan per lembar saham pemilik. Semakin meningkatnya EPS tentu akan meningkatkan daya tarik investor dalam menanamkan dana ke dalam perusahaan, sehingga harga saham akan meningkat. Meningkatnya harga saham akan berpengaruh terhadap meningkatnya total return yang diperoleh investor. Jadi, berdasarka beberapa penelitian tersebut dapat diduga bahwa EPS memiliki pengaruh dengan return saham.

E. Hipotesis

(61)

terhadap return yang diterima penelitian ini dapat dinyatakan sebagai berikut:

H : Ukuran perusahaan memiliki pengaruh signifikan terhadap return yang diterima oleh pemegang saham.

H2: Leverage memiliki pengaruh signifikan terhadap return yang diterima oleh pemegang saham.

H3: EVA memiliki pengaruh signifikan terhadap return yang diterima oleh pemegang saham.

H4: ROI memiliki pengaruh signifikan terhadap return yang diterima oleh pemegang saham.

H5: EPS memiliki pengaruh signifikan terhadap return yang diterima oleh pemegang saham.

(62)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh ukuran perusahaan, leverage, EVA, ROI, dan EPS terhadap return yang diterima pemegang saham. Tipe hubungan antara variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe kausalitas. Yaitu penelitian dengan karakteristik masalah berupa hubungan sebab akibat antara variabel independen dengan variabel dependen. Unit analisis yang digunakan adalah saham perusahaan yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia (BEI). Sampel perusahaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah industri makanan dan minuman yang telah terdaftar di BEI. Penelitian ini mengambil sampel selama tiga tahun yaitu tahun 2007 sampai dengan tahun 2009.

B. Metode Penentuan Sampel

(63)

memberikan kriteria tertentu sehingga lebih praktis dan waktunya lebih cepat. Objek penelitian yang akan digunakan dengan kriteria sebagai berikut:

1) Perusahaan yang telah terdaftar di BEI sampai dengan 31 Desember 2009, menerbitkan laporan keuangan audited per 31 Desember untuk periode 2007-2009, serta memiliki data laporan keuangan lengkap sesuai dengan data yang diperlukan dalam variabel penelitian.

2) Selama periode peristiwa, perusahaan melaporkan adanya laba mulai dari tahun 2007-2009, karena penelitian ini bertujuan untuk melihat praktik alat ukur kinerja keuangan perusahaan.

3) Sampel perusahaan yang digunakan hanya perusahaan yang berasal dari satu kategori saja yaitu industri makanan dan minuman.

C. Metode Pengumpulan Data

(64)

D. Metode Analisis Data

Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji asumsi klasik dan uji hipotesis. Dalam menganalisis data, menggunakan perhitungan statistik, yaitu SPSS (Statistical Product and Services Solutions) for windows 17.0 dengan menggunakan metode analisis regresi linier berganda (multiple regression analysis).

1. Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik yang digunakan dalam penelitian ini meliputi uji multikolinearitas, uji autokorelasi, uji normalitas, dan uji heterokedastisitas.

a. Uji Multikolinearitas

(65)

b. Uji Autokorelasi

Autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah model regresi linier terdapat korelasi antara kesalahan penganggu dengan periode t dengan kesalahan pengganggu pada t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dikatakan problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan antara satu dengan lainnya dan model regresi yang baik adalah yang bebas dari autokorelasi. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi, dilakukan dengan uji Durbin-Watson (DW test) (Ghozali, 2009:100). Hipotesis yang diuji melalui Durbin-Watson adalah:

Ho : tidak terdapat autokorelasi (r=0) HA : terdapat autokorelasi (r≠0)

Pengambilan keputusan mengenai ada atau tidaknya autokorelasi adalah sebagai berikut (Santoso,2010:215):

1) Bila angka DW terletak di bawah -2 berarti terdapat autukorelasi positif.

2) Bila angka DW terletak di antara -2 sampai +2, berarti tidak ada autokorelasi.

3) Bila angka DW di atas +2 berarti terdapat autokorelasi negatif. c. Uji Normalitas

(66)

yang distribusi data normal atau mendekati normal (Ghozali, 2009:147). Cara mendeteksi normalitas adalah dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik. Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas. Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti arah diagonal, maka regresi tidak memenuhi asumsi normalitas (Santoso, 2010:213).

d. Uji Heterokedastisitas

(67)

1) Jika ada pola tertentu seperti titik-titik yang ada membentuk suatu pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka terjadi heterokedastisitas.

2) Jika tidak ada pola yang jelas serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 (nol) pada sumbu Y, maka tidak terjadi heterokedastisitas.

2. Uji Hipotesis

Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan regresi berganda (multiple regression) untuk menguji pengaruh dua atau lebih variabel independen terhadap variabel dependen dengan skala pengukuran interval atau rasio dalam suatu persamaan linier. Variabel independen terdiri dari ukuran perusahaan, leverage, EVA, ROI, dan EPS sedangkan variabel dependennya adalah return yang diterima pemegang saham. Persamaan regresi yang digunakan adalah sebagai berikut:

Y = α + b1X1 + b2 X2 + b3 X3 + b4 X4 + b5 X5 + e

Keterangan:

Y = Return yang diterima pemegang saham

α = Konstanta

b1, b2, b3, b4, b5 = Koefisien Regresi X1 = Ukuran Perusahaan

(68)

X3 = EVA

X4 = ROI

X5 = EPS

e = Error Item

Dalam melakukan pengujian hipotesis analisis dilakukan melalui: a. Uji Kofisien Determinasi (Uji R2)

Koefisien determinasi (Adjusted R-Square) digunakan untuk membuktikan seberapa besar pengaruh variabel independen dapat menjelaskan variabel dependen yaitu dengan menguadratkan koefisien korelasi. Nilai adjusted R-Square antara 0 sampai dengan 1. Jika nilai adjusted R-Square berkisar 1, berarti semakin kuat kemampuan variabel independen dapat menjelaskan fluktuasi variabel dependen. Dan jika nilai adjusted R-Square semakin mendekati angka 0, berarti kemampuan variabel independen dalam menjelaskan fluktuasi variabel dependen semakin lemah (Ghozali, 2009:163).

b. Uji Statistik t

(69)

(probabilitas signifikansi) di bawah 0,05 maka variabel bebas secara individual berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen, sehingga hipotesis alternatifnya (Ha) diterima. Sebaliknya, jika t hitung di atas 0,05 maka variabel bebas secara individual tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen, sehingga hipotesis alternatifnya (Ha) ditolak (Ghozali, 2009:164).

c. Uji Statistik F

Uji statistik F dilakukan untuk mengetahui hubungan variabel-variabel independen secara simultan mempengaruhi variabel-variabel dependen, maka digunakan tingkat signifikansi sebesar 0,05 (Gozali, 2009:163). Jika probabilitas F lebih kecil dari 0,05 maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi variabel dependen atau dengan kata lain variabel independen secara simultan berpengaruh terhadap variabel dependen. Sebaliknya, jika nilai probabilitas F lebih besar dari 0,05 maka model regresi tidak dapat digunakan untuk memprediksi variabel dependen atau dengan kata lain variabel independen secara simultan tidak mempengaruhi variabel dependen.

E. Definisi Operasional Variabel dan Pengukurannya 1. Variabel Independen (X)

a. Ukuran Perusahaan (X1)

(70)

lain, total aktiva, total penjualan, nilai pasar saham, dan lain-lain. Ukuran perusahaan yang digunakan dalam penelitian ini didasarkan pada kapitalisasi total saham pasar perusahaan, dan pengukurannya dengan skala nominal. Pengukurannya yaitu (Ang (1997) dalam Rahmawati, Mutmainah, dan Haryanto, 2007:91):

1) Kapitalisasi besar (big cap) yaitu memiliki nilai saham pasar ≥ Rp 5 trilyun.

2) Kapitalisasi sedang (middle cap) yaitu memiliki nilai saham pasar antara Rp 1 trilyun – 5 trilyun.

3) Kapitalisasi kecil (small cap) yaitu memiliki nilai saham pasar ≤ Rp 1 trilyun.

b. Leverage (X2)

Leverage merupakan rasio yang mengukur seberapa besar perusahaan membiayai kegiatan usahanya dengan utang. Rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur variabel leverage yaitu dengan menggunakan debt to total equity ratio. Rasio ini menggambarkan mengenai struktur modal yang dimiliki oleh perusahaan yang berasal dari utang jangka panjang dan modal yang berasal dari ekuitas. Jika rasio ini semakin besar, menunjukkan bahwa struktur modal yang berasal dari utang semakin besar digunakan untuk mendanai ekuitas yang ada.

(71)

Leverage = Total Debt Total Equity

Keterangan:

Total Debt = Total Kewajiban TotalEquity = Total Ekuitas c. EVA (X3)

EVA (Economic Value Added) adalah nilai tambah ekonomis yang dimiliki perusahaan setelah laba bersih sesudah dikurangi pajak dan total biaya modal yang dapat menciptakan nilai bagi perusahaan. EVA yang positif menandakan perusahaan berhasil menciptakan nilai bagi pemilik modal karena perusahaan mampu menghasilkan tingkat penghasilan yang melebihi tingkat biaya modalnya. Sehingga dapat meningkatkan tingkat pengembalian saham pada investor.

Sebaliknya, EVA yang negatif menunjukkan bahwa nilai perusahaan menurun karena tingkat penghasilan lebih rendah daripada biaya modalnya. Tentunya, return yang akan diterima pemegang saham pun akan menurun.

Variabel EVA diukur dengan cara (Kartini dan Gatot Hermawan, 2008:362):

EVA = NOPAT – (WACC x Invested Capital) Keterangan:

Gambar

Tabel Perbedaan Penelitian Terdahulu  ............................................... 35
Gambar Kerangka Penelitian   ............................................................
Tabel 2.1 Perbedaan Penelitian Terdahulu
Gambar 2.2 Kerangka Pemikiran
+7

Referensi

Dokumen terkait