RELEVANSI JARIMAH HUDUD DENGAN
PERKEMBANGAN KONTEMPORER
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan memperoleh Gelar Sarjana Hukum Islam (SHI)
Disusun oleh : KOMSON 104045101555
KONSENTRASI KEPIDANAAN ISLAM PROGRAM STUDI JINAYAH SIYASAH
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan :
1. Skripsi ini merupakan hasil karya saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu
persyaratan memperoleh gelar strata 1 (satu) di Universitas Islam Negeri (UIN)
Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya campur sesuai
dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau
merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima
sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta.
Jakarta 09 November 2008
“Sebuah Intisari dari Makna Nasihat Kedua Orang Tua”
!
!
!
!
!!!!
!
!
!
!
"
"
"
"
#
#
#
#
$"
$"
$"
$"
%& '
%& '
%& '
%& '
(
(
(
(
)*
)*
)*
)*
+ )*
%
+ )*
%
+ )*
%
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. Yang telah melimpahkan
rahmat dan inayahnya serta hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan
penyusunan skripsi ini. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi
Muhammad SAW, yang telah menjadikan Islam sebagai agamaku, dan semoga
syafaatnya selalu terbuka untuk kaum muslimin selaku umatnya.
Skripsi ini di susun dalam rangka memenuhi tugas persyaratan untuk
mencapai gelar sarjana Hukum Islam pada Fakultas Syariah dan Hukum, program
Studi Jinayah Siyasah, konsentrasi kepidanaan Islam UIN “Syarif Hidayatullah”
Jakarta.
Penulis menyadari bahwa keberhasilan dalam menyusun skripsi ini adalah
berkat bimbingan, bantuan dan saran-saran dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dari
lubuk hati yang paling dalam penulis menyampaikan rasa terima kasih tidak terhingga
kepada yang terhormat :
1. Bpk. Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Rektor Universitas Islam Negeri “Syarif
Hidayatullah” Jakarta.
2. Bpk. Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, SH,MA,MM, Dekan Fakultas
Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri “Syarif Hidayatullah” Jakarta.
3. Bpk. Asmawi, M.Ag, ketua program studi Jinayah Siyasah dan ibu Sri Hidayati,
M.Ag, Sekertaris program studi Jinayah Siyasah Universitas Islam Negeri “Syarif
4. Bpk. Prof. Dr. H. M. Abduh Malik, selaku pembimbing yang telah membimbing
penulis dengan penuh tanggung jawab dan sepenuh hati, sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini.
5. Seluruh dosen dan civitas Akademik Universitas Islam Negeri “Syarif
Hidayatullah” Jakarta yang telah memberikan ilmu dan layanan akademis dengan
baik dan propesional.
6. kepada Ayahanda, Hairiyono dan Ibunda Nurtini, dan adik-adikku Kafri Hanson,
Wefi Arty, dan Ridho Aulya S. dan keluarga Pamanku Alpaini beserta seluruh
keluarga yang telah mendukung dan membantu baik moril maupun materil
sehingga skripsi ini dapat terwujud.
7. kepada temen-teman kelas, Agus, Vinalto, Devison, Siti Zulfah, Puti, Irna, Pa’i,
Johan, Riko, Cevi, Oji, Amin, Ahmad J, Nandes, Haris, Reva, serta teman-teman
kosan, Pailin, Parli. Dan masih banyak lagi yang tidak dapat penulis sebutkan,
terima kasih atas saran dan kritikannya kalian semoga kalian dalam lindungan
Allah SWT.
8. kepada Novitah Asri, yang Insya Allah kelak akan mendampingi hari-hariku
dikala duka dan senang, walaupun jauh tapi telah banyak memberikan semangat
demi terwujudnya skripsi ini.
Isi sekripsi ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis, dan penulis
menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritikan dan
saran yang konstruktif sangat penulis harapkan.
Jakarta 09 November 2008
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN DOSEN PEMBIMBING……….. i
LEMBAR PENGESAHAN DOSEN PENGUJI... ii
LEMBAR PERNYATAAN... iii
KATA PENGANTAR... iv
DAFTAR ISI... vi
BAB I PENDAHULUAN... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 10
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 10
D. Study Review ... 11
E. Metode Penelitian ... 14
F. Sistematika Penulisan ... 16
BAB II JARIMAH HUDUD DALAM HUKUM PIDANA ISLAM... 18
A. Pengertian jarimah hudud... 18
B. Unsur-unsur jarimah hudud ... 20
C. Macam-macam jarimah hudud ... 22
D. Asas-asas dalam jarimah hudud... 37
BAB III PERKEMBANGAN JARIMAH HUDUD DALAM DINAMIKA MASYARAKAT... 48
Bentuk-bentuk perubahan sosial dalam kehidupan
Masyarakat modern ... 51
B. Jarimah dan perubahan sosial ... 57
BAB IV ANALISIS KONSEP JARIMAH HUDUD DALAM KONTEKS PERKEMBANGAN KONTEMPORER ... 65
A. Konsep hukuman dalam jarimah hudud ... 65
B. Relevansi konsep jarimah hudud dengan perkembangan kontemporer... 74
C. Eksistensi hukum pidana Islam dalam dinamika kehidupan masyarakat modern (di Indonesia) ... 78
BAB V PENUTUP... 84
A. Kesimpulan ... 84
B. Saran-saran... 86
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Islam sesungguhnya terlahir bukan atas dasar sebuah bentukan institusi
semata, tetapi lebih dari itu, Islam sesungguhnya adalah pedoman hidup atau jalan
bagi Umat manusia. Ajaran-ajaran Islam yang sejak berabad-abad lalu telah
disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW memberikan sekian banyak petunjuk
untuk senantiasa diikuti dan dijalani.
Dalam kehidupan sehari-hari ajaran-ajaran Islam juga membentuk
ketetapan mengenai berbagai hal. Ketetapan-ketetapan tersebut terbentuk dalam
kaidah-kaidah yang disebut hukum Islam. Dalam aplikasinya, hukum Islam
dijadikan sebagai suatu referensi dalam merespon persoalan-persoalan yang
menyangkut baik itu ibadah, mu’amalah, munakahah atau jinayah
Konsep Islam tentang peradaban1 dikembangkan dalam dua tahap yang
berbeda. Konsep pertama dianggap cukup lengkap muncul pada abad XIV, dalam
pandangan Ibnu Khaldun melalui bukunya al-Muqaddimah li-kitab al-itibar.
Istilah yang digunakan adalah Umran untuk mengartikan peradaban, yaitu
1
Dalam Islam dikenal kata Tamadun yang berasal dari kata m-d-n’ (Ma-da-na) merupakan akar kata yang sama dimana dua istilah penting di asalkan, yaitu medinah (secara literatur berarti kota=”own) bab tamaddun yang bererti peradapan= civilization). Di kalangan penulis arab misalnya zurji Zaidan menggunakan kata Tamaddun dalam judul bukunya yaitu Tarrik al-Tamaddun al-Islami
(sejarah peradaban Islam) buku tersebut diterbitkan pada tahun 1902-1906, semenjak itu kata tamaddun secara luas digunakan dalam pengertiannya sebagai peradaban. Orang Iran menggunakan dua istilah untuk menyebut dua peradaban yaitu Tamaddon’ dan Madaniyat.’ Di Indo-pakistan (kaum muslim) menggunakan kata Tamaddon dalam pengertiannya sebagai kebudayaan (culture). Orang Arab menggunakan kata harada (pada saat ini) sebagain istilah buat peradaban. Sementara orang Turki menggunakan kata Madaniyet (berasal dari kata Arab ‘madaniyat) sebagai istilah untuk menyebut pengertian peradaban bahasa Turki.
“organisasi sosial”. Ketika organisasi sosial itu dibentuk peradaban muncul,
manakalah organisasi sosial itu menjadi “populous” maka sebuah umran besar
atau peradaban menjelma. Kota menurut Ibnu Khaldun merupakan cikal bakal
dari sebuah paradaban dengan berbagai aspek kehidupan. Konsep kedua muncul
pada abad XX. Makna peradaban menurut Islam menjadi spesifik, dengan lebih
menekankan agama sebagai suatu peradaban dan dasar dari peradaban tersebut.
Misalnya, Sayid Qutub menjelaskan : “Islam adalah peradaban yang
sesungguhnya dan masyarakat Islam benar-benar beradap” . sementara
Muhammad Abduh menjelaskan bahwa : “ketaatan pada Nabi-nabi dan
petunjuk-petunjuk agama merupakan basis dari setiap peradaban, karna
kemajuan spritual melampaui kemajuan materil”
Selama lebih beberapa ratus tahun ini manusia mengalami krisis, krisis
moral dan krisis makna sangat parah. Manusia berubah menjadi mesin yang ganas
dan kejam serta melindas apa saja yang dilewatinya, ini wajah peradaban yang
kejam, inilah wajah peradaban dengan kata lain modern , peradaban yang carut
marut serta jauh dari nilai-nilai agama terutama agama Islam. Bernard James
mengatakan bahwa : suatu kekuatan yang maut harus dihancurkan sebelum
kekuatan tersebut menghancurkan seluruh umat manusia, itu adalah kebudayaan
modern.2
Persoalan kehidupan memang semakin hari semakin berkembang sesuai
dengan perkembangan masyarakat. Faktor-faktor pendukung dinamisasi
2
kehidupan begitu beragam dan senantiasa muncul menghiasi nuansa-nuansa
kehidupan.
Ada sebuah ungkapan dari kalangan orang-orang bijak yang mengatakan
bahwa manusia lahir sebagai makhluk yang baru, dan ia pun cenderung untuk
senang terhadap hal-hal yang sifatmya baru (insanu jadid, wa huwa yuhibb
al-hudud). Demikianlah bunyi ungkapan tersebut yang mengisyaratkan bahwa
betapa akrabnya antara manusia dengan hal-hal yang baru.
Itulah sifat alami dari kehidupan yang tidak pernah jemu terhadap proses.
Proses-proses kehidupan yang berimplikasi kepada terbentuknya masyarakat yang
dinamis selalu memunculkan persoalan-persoalan baru yang sangat membutuhkan
respon yang segera dari hukum Islam.
Salah satu masalah yang harus diselesaikan adalah Masalah-masalah
Kontemporer yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia kini. Tidak
kita pungkiri, bahwa metode kehidupan yang ada pada zaman sekarang telah
banyak berubah dengan metode kehidupan yang ada pada satu abad silam, apalagi
dengan yang ada pada zaman Nabi SAW, kenyataan ini dapat kita lihat dan
buktikan melalui study banding antara berbagai metode transaksi dan interaksi
yang disebutkan dalam berbagai hadits dengan yang ada pada zaman sekarang.
Sebagai contoh: Sering kita membaca hadits yang mengharamkan jual beli
dengan cara mulamasah (Yaitu menjual barang pada tempat yang gelap gulita,
sehingga tidak mungkin bagi penjual atau pembeli untuk menyaksikan barang
dengan kenyataan yang ada pada zaman kita sekarang, mungkin kita akan berkata,
mustahil pada zaman sekarang ada seorang pedagang yang menjual barangnya di
tempat gelap, karena lampu listrik telah dinikmati oleh kebanyakan manusia,
walaupun yang tingggal di lereng-lereng gunung. Akan tetapi, kalo kita sedikit
memikirkan alasan diharamkannya mulamasah, kita akan berkata sebaliknya.
Karena alasan haramnya mulamasah, adalah terjadinya jahalah (ketidak jelasan)
pada barang yang dijual. Dan hal ini justru dapat terjadi pada toko-toko yang
memiliki lampu penerangan yang berwarna-warni, sehingga barang yang
berwarna coklat tua, terlihat berwarna coklat muda, dan yang berwarna krem,
terlihat putih, baju kusut lagi kasar, terlihat halus mengkilat, dsb.
Contoh lain: Bila kita tidak memiliki uang, dan memiliki barang berharga,
kendaraan, rumah atau tanah, dan sering kali kesusahan untuk mendapatkan
pinjaman, sehingga tidak jarang kita menempuh jalan lain, yaitu dengan
mendatangi kantor-kantor pegadaian, guna menggadaikan aset kita tersebut,
tindakan kita ini diistilahkan Ar Rahnu (penggadaian). Mungkin sering sekilas
kita akan berkata, bukankah kita dibolehkan menggadaikan barang? Akan tetapi
bila kita melihat fakta dan praktek-praktek pegadaian yang ada di negeri kita,
niscaya kita akan berkata lain, karena yang terjadi, pegadaian mengambil
keuntungan (bunga) dari kita, dengan berbagai alasan dan cara. Dan kalau sudah
jatuh tempo, dan kita tidak dapat melunasi hutang kita, maka aset kita itu, mereka
semestinya di pasaran. Hal ini menjadikan kita berkesimpulan lain tentang sistem
pegadaian.
Dan banyak lagi masalah-masalah yang serupa dengan yang disebut di atas,
misalnya: hukum jual beli surat berharga, saham, perbankan, berbagai transaksi
model baru, semacam MLM (multi level marketing), transaksi jual beli
menggunakan berbagai alat komunikasi masa kini, dll. Fenomena ini
mengharuskan kita memahami dan mengetahui bagaimana metode
menghubungkan masalah-masalah baru (kontemporer) dengan masalah-masalah
yang disebutkan dalam dalil-dalil dan kitab-kitab ulama’, pekerjaan ini
diistilahkan dengan At Tashwirul Fiqhy & At Tanzilul Fiqhy.
Realita ini, tidak berarti seseorang tidaklah dikatakan sebagai ulama’, kecuali
bila telah menguasai berbagai permasalahan kontemporer ini, karena kekurangan
dalam hal ini dapat dipenuhi dengan mendatangkan para pakar dan ahli dalam
setiap permasalahan, sebagaimana yang diterapkan oleh Badan Riset dan Fatwa di
Kerajaan Arab Saudi dan juga oleh berbagai badan perkumpulan ulama-ulama’
fiqih di berbagai negeri Islam.
Disisi lain dinamika perkembangan teknologi dalam bidang kedokteran
misalnya, memunculkan persoalan mengenai bagaimana status hukum dalam
program KB (Keluarga Berencana), Aborsi, Pencangkokan organ tubuh dan
masih banyak masalah-masalah lain yang membutuhkan respon yang cukup
proses penghilangan terhadap nyawa makhluk hidup, padahal dalam al-Qur’an
ditegaskan bahwa setiap manusia tidak diperkenankan menghilangkan nyawa
(membunuh) dengan sengaja.3 Dan dengan adanya perubahan-perubahan yang
begitu pesat kearah modernisasi maka secara tidak lansung meningkatkan pola
hidup yang arogan dan cenderung kepada hal-hal yang negatif walaupun masih
banyak segi positifnya, berangkat dari hal inilah sistem hukum harus diperjelas
dan ditegaskan dan dilihat sisi normatifnya, dan Hal itu merupakan satu Contoh
dari persoalan hukum yang menuntut upaya penggalian atau pengulasan kembali
terhadap ketetapan hukum Islam,sehingga persoalan-persoalan tadi dapat
terselesaikan dengan baik.
Diantara persoalan-persoalan hukum Islam yang paling banyak mendapat
sorotan adalah hukum pidana Islam (al-Hukum al-Jina-i). Walaupun hukum
pidana Islam ini tetap diakui sebagai salah satu ketetapan hukum dalam
Islam,tetapi dalam pelaksanaannya selalu memunculkan persoalan-persoalan yang
cukup rumit ketika perkembangan-perkembangan kontemporer seperti diatas
mencuat kepermukaan.
J.N.D Anderson4 misalnya, melihat adanya kecenderungan rasa tidak
memuaskan dalam pelaksanaan hukum pidana Islam ini sekalipun di negara yang
senantiasa mempertahankan Syariah sebagai hukum asasi dan masih berupaya
3
Al-An’am (6) : 151, al-Isra (7) : 31,33.
4
menerapkannya dalam segala segi hubungan kemanusiaan,5 seperti di Wilayah
Utara Nigeria dan sampai kepada Indonesia, sehingga yang kemudian tetap
dilaksanakan adalah hukum perdatanya, sedangkan hukum pidananya diganti
dengan hukum pidana positif.
Pada dataran empirik, sepertinya agak sulit untuk dapat menerapkan
hukum pidana Islam. Dalam hal ini an-Na’im6 misalnya, melihat bahwa
konsep-konsep jarimah hudud dalam sistem hukum pidana Islam,merupakan
konsep-konsep hukuman yang terkesan “mengerikan”. Kesan mengerikan dari hukum
potong tangan dan kaki, penyaliban, hukuman mati dan dera yang merupakan
hukuman khas Syariah bagi pelanggaran hudud, adalah kesan populer yang
dominan menyangkut penerapan hukum Islam.
Hukum fisik yang ada dalam konsep Jarimah hudud “dirasa” sangat jauh
dengan nilai-nilai modernitas yang lebih mengedepankan intelektual, nilai-nilai
kemanusiaan dan kesadaran hukum sosial. Maka ketika suatu peraturan kemudian
menimbulkan sebuah “keresahan” sosial, tentunya saja hal itu bukan arahan dari
pada suatu fungsi hukum yang seharusnya membangun tatanan masyarakat
menjadi aman , tertib dan damai.7
5
Dan untuk Negara-negara lain dikategorikan kedalam dua kelompok lain (dari tiga kelompok besar), yaitu sistem yang meninggalkan syariah dan menggantikannya dengan hukum yang sama sekali sekuler, serta sistem yang mengkompromikan kedua sistem tersebut. Selanjutnya lihat Amir Mu’allimin dan Yusdani, Konfigurasi Pemikiran Hukum Islam,(Yogyakarta : UII Prees,2001), h. 7-17.
6
Abdullah ,Ahmed An-Na’im, Dekonstruksi Syariah, Wacana Kebebasan Sipil, Hak Asasi Manusia dan Hubungan Internasional dalam Islam,alih bahasa : Ahmad Suaydy dan Amirudin ar-Rany, cet.ke-3, (Yogyakarta: LKIS, 2001), h. 203.
7
Dari pemaparan di depan, terbaca bahwa pada dimensi aplikatif terhadap
kesenjangan antara idealitas hukum pidana Islam dengan konsep-konsep jarimah
hudud-nya dan realitas masyarakat modern dengan perasaan hukum yang
berkembang di dalam bentukan kultur sosial. Di satu sisi hukum yang Islam
merupakan satu ketetapan ilahi yang sesuai dengan Nas, baik itu al-Qur’an
maupun Sunnah Nabi – sebagai sumber ketetapan dalam hukum Islam – yang
harus ditegakkan demi menjalankan syari’at Allah sebagai bukti keimanan dan
ketaatan kepada-Nya, dan bahkan secara lebih jelas lagi untuk menghindarkan diri
agar tidak termasuk kedalam vonis Allah sebegai seseorang kafir,zalim dan fasiq
yang disebabkan karena tidak menggunakan hukum Allah (lam yahkum bima
anzala Allah).8
Akan tetapi di sisi lain ternyata kondisi sosial dalam masyarakat
memuculkan begitu banyak persoalan ketika hukum pidana Islam itu hendak
diterapkan. Resistensi yang muncul terhadap pemberlakuan hukum Islam –
terutama dalam hal hukum pidana Islam (jarimah hudud) tersebut begitu kuat,
apalagi ketika wacana pluralitas agama dikedepankan serta
perkembangan-perkembangan modernisasi saat ini begitu ketat. Bahkan di lain pihak konsep
hukuman dalam jarimah hudud tersebut dianggap tidak memperhatikan
aspek-aspek kemanusiaan, kejam,9 dan senantiasa melanggar hak asasi manusia. 10
lihat soejono soekanto, Pokok-pokok Sosiologi Hukum. Cet. Ke-11, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2001), h 59.
8
Al-Maidah (5) : 44,45, 48.
9
Hal ini tentu saja membutuhkan respon yang harus diberikan oleh hukum
Islam, sehingga hukum tersebut dapat dirasakan hidup dalam lingkungan
kehidupan masyarakat, terutama komunikasi Muslim yang senantiasa berpegang
kepada al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.
Oleh karena itu, selayaknya kita melihat kembali konsep jarimah hudud
itu, sehingga eksistensinya tidak hanya berada pada dataran idealita semata, tetapi
lebih dari itu, maka Hukum Islam dalam aplikasinya, harus mampu bersentuhan
dengan sisi-sisi normativitas teks-teks al-Qur’an dan al-hadits dan juga sisi-sisi
teks sosiologis kultural yang berkembang sesuai dengan perubahan perubahan
sosial saat ini yang di sokong oleh kemajuan dalam IPTEK.
Oleh karna itu penulis mencoba untuk memberikan sedikit masukan atau
kontribusi terhadap permasalahan-permasalahan di atas melalui tulisan ini yang
diberi judul: “RELEVANSI JARIMAH HUDUD DENGAN
PERKEMBANGAN KONTEMPORER”
B. PEMBATASAN DAN PERUMUSAN MASALAH
salib, ditenggelamkan di laut, dibakar hidup-hidup, dilempari batu sampai meninggal (hukum rajam), ditombak, dan dimasukkan kedalam karung besi anjing, ayam jago, ular berbisa, serta beruk. Selanjutnya lihat dalam “Bagi Yang Setuju Hukuman Mati.” http://www.kompas.com/kompas-cetak/0303/10/sorotan/173914.htm.
10
Dari latar belakang masalah seperti yang terurai diatas, dapat diambil dua
pokok persoalan yang menjadi perhatian penyusun, yaitu;
1. Bagaimana relevansi konsep jarimah hudud dengan dinamika perkembangan
kontemporer saat ini yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat modern
(kontemporer)?
2. Bagaimana eksistensi hukum pidana Islam dalam dinamika kehidupan
masyarakat di Indonesia pada saat ini?
C. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
Dari rumusan masalah yang telah ditetapkan diatas, penyusun mempunyai
beberapa tujuan yang sekiranya dapat terpenuhi, yaitu :
1. Menjelaskan relevansi konsep jarimah hudud dengan dinamika
perkembangan kontemporer yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat
modern
2. Mengambarkan eksistensi hukum pidana Islam dalam dinamika kehidupan
msyarakat di Indonesia saat ini.
Adapun kegunaan dari penyusunan skripsi ini adalah untuk memperkaya
khazanah keilmuan Islam sebagai kontribusi pemikiran terhadap perkembangan
hukum pidana Islam dalam wacana hukum dan perubahan sosial di dunia dan di
Indonesia.
D. STUDY REVIEW
Hukum Islam merupakan ketetapan yang hendaknya dapat
yang universal (rahmatan li alamin). Universitas ini tentu saja bukan hanya
meliputi umat manusia, tetapi menyangkut kehidupan dalam ruang waktu.
Demikian juga halnya dengan hukum Islam sebagai identitas yang paling dapat
terlihat dari Islam itu sendiri harus mampu berhadapan dengan konteks
perkembangan zaman dan perubahan sosial.
Dalam konteks perubahan sosial ternyata ada dua pandangan mengenai
hukum Islam dalam mengahadapi perubahan sosial.11 Pendapat pertama
menekankan keabadian hukum Islam dan oleh karena itu tidak dapat beradaptasi
dengan perubahan sosial, dan pendapat kedua menegaskan bahwa hukum Islam
bisa beradaptasi dengan perubahan sosial.
Mengenai diskursus tentang adatabilitas hukum Islam dengan konteks
perubahan sosial ini, Muhammad Khalid Mas’ud lebih cenderung kepada
pendapat yang menyatakan bahwa hukum Islam mampu beradaptasi dengan
perubahan sosial. Dalam tulisannya, ia lebih mengupas tentang pembahasan
mengenai konsep masalah sebagaimana yang dikemukakan Abu Ishaq
asy-Syatibi.
Tidak jauh berbeda dengan gagasan maslahah yang dipakai dalam
pembaharuan hukum Islam seperti dalam konsep Syatibi tersebut, Iskandar
Usman juga mengatakan bahwa Islam datang membawa prinsip-prinsip dan
nilai-nilai dasar umum yang selalu dapat ditafsirkan dan dikembangkan agar selalu
11
dapat menjawab permasalahan hidup. Ia lebih mengarahkan metode pembaharuan
hukum Islam melalui metode istinbat dengan asas istihsan, yaitu penetapan
hukum yang berbeda dengan kaidah umum. Karena keluar dari kaidah umum itu
dapat menghasilkan ketentuan hukum yang lebih sesuai dengan tujuan syari’at
(maqasid asy-Syariat) dari pada tetap berpegang pada kaidah itu.12
Berkaitan dengan metodologi hukum Islam menawarkan sebuah konsep
metodologi dalam menjawab dan mengantisipasi problem-problem sosial baik
secara tekstual maupun secara kontekstual dengan menggunakan pola bayani,
ta’lili, dan pola istislahi. Dalam menerapkan ketiga pola tersebut, pola ta’lili
(penentuan illat atau faktor hukum) akan digunakan apabila pola bayani (kajian
semantik) dirasa kurang menjangkau tujuan hukum. Demikian pula pola istislahi
(pertimbangan kemaslahatan atau kepentingan umum) baru digunakan apabila
pola bayani dan pola ta’lili dirasa kurang menjangkau tujuan hukum.13
Sedangkan Fathurrahman Djamil berpendapat bahwa untuk menanggapi
masalah-masalah yang sama sekali baru diperlukan ijtihad melalui dua cara, yaitu
ijtihad intiqa’i atau ijtihad tarjihi (ijtihad yang dilakukan dengan memilih
pendapat ahli fiqih terdahulu mengenai masalah tertentu kemudian menyeleksi
pendapat yang lebih kuat dan lebih relevan dengan kondisi sekarang), dan ijtihad
insya’i atau ijtihad ibtida-i (usaha untuk menetapkan satu kesimpulan hukum
12
Iskandar Usman, Istihsan dan Pembaharuan Hukum Islam,Ed. 1. Cet. Ke-1, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, h. 187.
13
mengenai peristiwa-peristiwa baru yang belum diselesaikan para ahli fiqih
terdahulu).14
Dalam melakukan upaya ijtihad, terutama ijtihad yang bersifat menggali
ketetapan terhadap suatu persoalan yang baru dapat mengambil metode penetapan
hukum melalui qiyas, istihsan. maslahat mursalat, dan saddu az-zari’at,
sebagaimana yang banyak dikemukakan dalam berbagai literatur tentang Ushul
Fiqh.
Demikian juga halnya dengan Ahmad Rofiq dalam karyanya
Pembaharuan Hukum Islam di Indonesia, ia mengupas tentang hukum Islam dan
Perubahan sosial dengan lebih menekankan pada pembahasan mengenai
metode-metode penggalian hukum yang dikembangkan ulama dahulu, seperti Abu
Hanifah dengan metode istihsan-nya, Malik bin Anas dengan amal ahli
Madinah-nya, asy-Syafi’i yang lebih mengedepankan metode qiyas-nya (analogi), karena
menurutnya al-Qur’an secara garis besar telah cukup akomodatif dan antisipatif
terhadap perkembangan sosial, budaya dan politik. Kemudian dari adanya illat
hukum dapat dikembangkan kaidah-kaidah fiqh.15
Dalam hal hukum pidana Islam pun, banyak pembahasan yang
menunjukkan arah kontribusi pemikiran yang mencuat dalam wacana dinamika
perkembangan hukum Islam ini.
14
Fathurahman Djamil, Filsafat Hukum Islam,Bagian Pertama, Cet. Ke-1 (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1997), h. 166-170.
15
Dalam pembahasan ini, penyusun mencoba untuk memberikan sedikit
gambaran lain mengenai konsep jarimah hudud, sehingga dengan konsep ini,
diharapkan eksistensinya dapat hidup – atau paling tidak dapat ikut mewarnai –
dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia di masa yang sangat
memprihatinkan hati nurani di tengah-tengah peradapan begitu cepat mencuat
dan bahkan tidak dapat lagi dibendung dengan nilai-nilai agama dimana kemajuan
di segala bidang yang dapat membantu mempermudah timbulnya ekses positif
maupun ekses negatif, selain bahwa dialektika wacana hukum pidana Islam dapat
terus terasa hangat.
E. METODE PENELITIAN
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah
jenis penelitian yang berbentuk deskriptif-analisis, sedangkan pendekatan
dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yang berusaha
mengkombinasikan pendekatan normative dan empiris.16 Normatif yang
berdasarkan nilai-nilai yang umum dan disepakati oleh masyarakat, sedangkan
empiris adalah pendekatan yang berdasarkan uji coba, fakta di lapangan dan
pengalaman-pengalaman.
2. Instrument Pengumpulan Data
16
[image:22.612.110.532.258.526.2]Dalam pengumpulan data, penulis menggunakan metode kepustakaan
atau penelitian pustaka (library research).
3. Sumber Data
Untuk mencapai tujuan penelitian ini penulis menggunakan data-data
dari sumber-sumber :
a. Data Primer, yaitu buku-buku pokok yang berkaitan langsung dengan
tema pembahasan dalam penyusunan skripsi ini, seperti at-Tasyri’
al-Jina’i al-Islami, al-Jarimah wa al-‘Uqubah fi al-Fiqh al-Islami, dan
literature lain yang berkaitan dengan pembahasan hukum pidana Islam.
b. Data sekunder, yaitu buku-buku atau data-data yang menunjang terhadap
pembahasan skripsi ini.
4. Tehnik Penarikan Kesimpulan
Tehnik penarikan kesimpulan dalam penulisan skripsi ini
menggunakan metode deduktif, yaitu penalaran berawal dari hal yang umum
untuk menentukan hal yang khusus sehingga mencapai suatu kesimpulan.
5. Analisis Data
Penelitian ini menggunakan analisa data secara kualitatif, yang
membaca dan mempelajari, mengklasifikasikan, serta mensintesiskan setiap
temuan, dan terakhir membuat ikhtisar. Kemudian, untuk menjelaskan
data-data tersebut, penulis menghubungan dari setiap kategori-kategori data-data
6. Tehnik Penulisan
Sedangkan teknik yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini,
penulis memakai acuan dari “Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Syariah
dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2007”.17
F. SISTEMATIKA PENULISAN
Dalam penulisan selanjutnya, penyusun menetapkan sistematika penulisan
yang akan dipakai sebagai berikut :
BAB I : Pendahuluan, yang terdiri dari latar belakang masalah, pembatasan
dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, study review,
metode penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II : Jarimah hudud dalam hukum pidana Islam,yang terdiri dari : pertama, Pengertian jarimah hudud kedua, Unsur-unsur jarimah
hudud ketiga Macam-macam jarimah hudud dan yang keempat,
Asas-asas dalam jarimah hudud.
BAB III : Perkembangan Jarimah hudud dalam dinamika masyarakat, yang terdiri dari : pertama Kondisi Masyarakat dan perubahan sosial saat ini
(modern) kedua, Bentuk-bentuk perubahan sosial dalam kehidupan
Masyarakat modern dan yang ketiga Jarimah dan perubahan sosial
saat ini.
17
BAB IV : Analisis konsep jarimah hudud dalam konteks perkembangan kontemporer, yang terdiri dari : pertama, Konsep hukuman dalam
jarimah hudud, kedua, Relevansi konsep jarimah hudud dengan dinamika perkembangan kontemporer dan yang ketiga, Eksistensi
hukum pidana Islam dalam dinamika kehidupan masyarakat modern
(Indonesia).
BAB V : Penutup, yang terdiri dari : kesimpulan dan saran dan dimana pada
BAB II
JARIMAH HUDUD DALAM HUKUM PIDANA ISLAM
A. Pengertian Jarimah Hudud
Secara lughawi (bahasa), jarimah hudud, terbagi kepada dua kata, yaitu
jarimah dan hudud. Dalam bahasa arab, jarimah merupakan kata yang biasa
dipakai untuk menunjukan suatu perbuatan yang tidak baik (buruk), menyalahi
kebenaran, keadilan dan jalan yang lurus.18 Secara harfiyah, kata jarimah ini
sering disamakan dengan kata jinayah.Jarimah dapat diartikan dengan19 :
ﺝ
ی !
.
Artinya : Jarimah adalah, perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh syara’ yang diancam oleh Allah dengan hukuman had atau ta’zir.
Kata Mahzurat diatas, menurut Abdul Qadir‘ Audah, mengandung dua
pengertian, yaitu mengerjakan perbuatan yang dilarang, atau meninggalkan
(diam) terhadap perbuatan yang diperintahkan. Maka jarimah dapat berarti
melakukan perbuatan terlarang (haram) yang mengakibatkan adanya hukuman
terhadap perbuatan tersebut atau meninggalkan perbuatan yang tidak boleh
18
Muhammad Abu Zahrah, al-jarimah wa al-Uqubah fi al-fiqh al Islam, (ttp : Dar al-Fikr-‘Arabi, 1973), h. 24.
19
Al-mawardi, al-Ahkam as-sultaniyyah wa al-wilayah ad-diniyyah, (Beirut : Dar kitab al-Ilmiyyah,tt),h. 273.
ditinggalkan, sehingga perbuatan tersebut juga akan dikenai sanksi atau
hukuman.20
Sedangkan kata hudud adalah bentuk jamak bahasa Arab dari kata hadd
yang berarti pemisah antara dua hal sehingga keduanya tidak tercampur.21 Selain
itu hadd juga berarti pencegahan, pengekangan atau larangan, dan karenanya ia
merupakan suatu peraturan yang bersipat membatasi atau mencegah atau
undang-undang dari Allah yang berkenaan dengan hal-hal boleh (halal) dan terlarang
(haram)
Al-mawardi, mendifinisikan hudud sebagai hukuman-hukuman
pencegahan yang ditetapkan Allah untuk mencegah manusia dari melakukan apa
yang ia larang dan dari melalaikan atau meninggalkan apa yang ia perintahkan.22
Sedangkan Abu Syahbah menyebutkannya sebagai :
"
"#
$
%&
'
%( #
)*
.
23Artinya : Hukuman yang ditentukan atas dasar sebagian perbuatan maksiat dan dosa-dosa besar.
Dan menurut Abu Zhara hudud adalah :
"
+ ,
-.
%ﻥ0
1ی ﺡ
3 )ﻥ
%4
ﺝ
5 6
4
7 +
%&
8ﺡ
!
%
24Artinya : Hukuman yang ditentukan oleh al-qur’an dan hadits Nabawi terhadap jarimah-jarimah yang dengannya harus di segerahkan atas hak Allah.
20
Abdul Qadir ‘Audah, at-tasyri al-jina-I al-Islam Muqaranan bi al-Qanun al-wad’I (Beirut : Muassasah al-Risalah, 1994), 1 : 66.
21
Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah, hudud fi Islam wa Muqaranatuha bi al-Qawanin al-wad’iyyah, (Kairo : tp,1973), h.129.
22
Al-mawardi, al-Ahkam as-sultaniyyah, h. 275-276.
23
Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah, al-hudud fi al-Islam, h.131.
24
Hudud ini terbagi menjadi dua kategori. Pertama yang menjelaskan
kepada manusia berhubungan dengan makanan, minuman, perkawinan,
perceraian, dan lain-lain yang diperbolehkan dan yang dilarang. Kedua.
Hukuman-hukuman yang ditetapkan atau diputuskan agar dikenakan kepada
seseorang yang melakukan hal yang terlarang untuk dikerjakan.
Dalam hukum Islam,kata hudud dibatasi untuk hukuman karena tindak
pidana yang disebutkan oleh al-quran al-Karim atau sunnah Nabi SAW. Hudud
merupakan syari’at yang sudah ditetapkan Allah untuk manusia mengenai halal
dan haram. Disebut hudud karena membedakan antara sesuatu yang boleh dan
yang tidak boleh, antara yang halal dan yang haram.25 Sedangkan jarimah hudud
adalah perbuatan pidana yang telah ditentukan bentuk dan batas hukumannya
dalam al-Quran dan sunnah Nabi Muhammad SAW.26
B. Unsur-unsur Jarimah Hudud
Suatu perbuatan dikategorikan sebagai suatu bentuk jarimah bila memiliki
beberapa unsur di dalamnya. Diantara unsur-unsur tersebut diantaranya :27
1. Unsur Formal atau Rukn asy-Syar’i
Yang dimaksud dengan unsur formal atau rukun syar’i adalah adanya
ketentuan syara’ atau nas yang menyatakan bahwa perbuatan yang dilakukan
25
Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah, al-hudud fi al-Islam ,h.131.
26
Muhammad Daud Ali, Hukum Islam : Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Islam di Indonesia, Ed. Ke-3, (Jakarta : PT. Raja Grapindo. 1993), h.51.
27
merupakan perbuatan yang oleh hukum dinyatakan sebagai sesuatu yang
dapat dihukum atau adanya nas (ayat) yang mengancam hukuman terhadap
perbuatannya yang dimaksud. Ketentuan harus datang (sudah ada) sebelum
perbuatan dilakukan dan bukan sebaliknya.28
2. Unsur Materil atau Rukn al-Maddi
Yang dimaksud dengan unsur materil adalah adanya prilaku yang
membentuk jarimah, baik berupa perbuatan ataupun tidak berbuat atau adanya
perbuatan yang bersifat melawan hukum.
3. Unsur Moril atau Rukn al-Adabi
Unsur ini di sebut juga dengan al-mas’uliyyah al- jinaiyyah atau
pertanggung jawaban pidana. Maksudnya adalah pembuat jarimah atau
pembuat tindak pidana atau delik haruslah orang yang dapat mempertanggung
jawabkan perbuatannya. Oleh karena itu, pembuat jarimah (tindak pidana,
delik) haruslah orang yang dapat memahami hukum, mengerti isi beban, dan
sanggup menerima beban tersebut. Orang yang di asumsikan memiliki kriteria
tersebut adalah orang-orang mukallaf, sebab hanya merekalah yang terkena
khitab (panggilan) pembebanan (taklif).29
C. Macam –Macam Jarimah Hudud
Perbuatan-perbuatan yang dapat di kategorikan ke dalam jarimah
28
Rahmat Hakim, Hukum Pidana Islam (Fiqh Jinayah), (Bandung : CV Pustaka Setia, 2000),h. 52.
29
hudud ini adalah zina, menuduh zina (al-qazaf), minum-minuman keras (syurb
al-khamr, pencurian (sariqah) perampokan (hirabah), keluar dari Islam (riddah) dan
pembrontakan (al-bagyu).30
1. Zina
Ibnu Rusyd, sebagaimana yang dikutip Rahmat Hakim,
mendefinisikan
Zina sebagai persetubuhan yang dilakukan bukan karena nikah yang sah
atau semu nikah dan bukan karena kepemilikan hamba sahaya.31 Menurut
H.A. Djazuli, dengan memgutip pendapat ulama malikiyah, zina adalah
me-wat’i nya seorang laki-laki mukallaf terhadap farj wanita yang bukan miliknya
dan dilakukan dengan sengaja. Adapun ulama Syafi’iyah mendefinisikan zina
dengan memasukkan zakar ke dalam farj yang haram dengan tidak subhat
dan secara naluriah memuaskan hawa nafsu.32
Meskipun para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan zina,
tetapi mereka sepakat terhadap dua unsur zina, yaitu persetubuhan (wat’i)
yang haram serta itikad jahat yang di ekspresikan dalam kesengajaan
melakukan sesuatu yang haram tadi.33
Yang dimaksud dengan wat’i haram adalah wat’i pada farj wanita
yang bukan istrinya atau hambanya dan masuknya Zakar itu seperti masuknya
ember ke dalam sumur, dan tetap dianggap zina meskipun ada penghalang
30
Abdul Qadir ‘Audah, at-tasryi al-jina’i al-Islami, 1 : 79.
31
Rahmat Hakim, Hukum Pidana Islam, h.69.
32
H.A. Djazuli, Fiqh Jinayah : Upaya menanggulangi Kejahatan dalam Islam, (Jakarta : PT. Grapindo Persada, 1997), h. 35.
33
antara zakar dengan farjnya, selama penghalangan itu tidak menghilangkan
kenikmatan.34
Dalam keharaman zina dalam syari’at Islam firman Allah SWT :
96:9;<! = >$ &ﺝ
? #9 ? > ?ﺡ @A96 9 ?&ﺝ 4 B?ﻥ @
9 ?ﻥ @
? ?;C ?D
?E@& ? 5 9? F9! 9+ 96 5?G ?E@& ?Hی?I B?4 J 4
#? ?
H ?? F9# H? J K? L #9 :
M
N
O
PQ
R
S
T
Artinya : Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman. (Qs. An-Nur (2)U
Dalam ayat lain disebutkan :
=
9 "!
%ﻥV
9E@ﻥ?G
5 6
W M?ﺡ 4
7 X
WY ?)X
N
X=
7
O
Z[
R
\P
T
Artinya : Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. (Qs Al-Isra’/17 : 32.)
dalam Al-qur’an sanksi bagi pelaku perzinahan di sanksi dengan jilid
seratus kali, sebagaimana yang ditegaskan dalam surat an-Nur : 2, dan sanksi
terakhir jilid seratus kali bagi jejaka dan perawan serta hukuman rajam bagi
pelaku zina muhsan berdasarkan hadits Nabi SAW :
34
B
:;
B
:;
B
:;
.
A ﺝ
H
Y )X
.
*)
*)
&ﺝ
BKﻥ
X
] ,
] ,
&ﺝ
ﺝ
$
.
35Artinya : Ambilah dariku dan terimalah ketentuanku. Sesungguhnya kini Allah telah menetapkan keputusan bagi mereka (para penzina) bagi penzina yang belum menikah hukumannya dicambuk seratus kali dan diasingkan (penjarah) satu tahun. Sedangkan bagi penzina yang telah menikah, dicambuk seratus kali dan dirajam seratus kali pakai batu (HR.Muslim)
Segolongan Azariqah dari khawarij berpendapat bahwa hukuman bagi
sayyib adalah seratus akli cambukan, karena menurut mereka hadits ini tidak
sampai ke tingkat mutawatir. Pihak-pihak yang menolak hukuman jilid yang
berlaku baik bagi penzina muhsan atau ghoermuhsan.
Hukuman jilid atau rajam ini dilaksanakan bila pristiwa perzinahan itu
sudah dapat terbukti, baik itu oleh persaksian yang disampaikan 4 orang saksi,
pengakuan ataupun adanya indikasi-indikasi (Qarinah) yang menunjukan
bahwa telah terjadi perzinahan.36 Dengan demikian perzinahan ini merupakan
delik biasa yang kasusnya dapat diproses ketika ditemukan fakta-fakta yang
menunjukan terjadinya perzinahan tersebut.
Berbeda dengan konsep delik seksual (perzinahan) dalam KUHP, pada
pasal 284 disebutkan bahwa akan diancam dengan hukuman pidana penjara
paling lama sembilan bulan, yaitu seorang pria beristri atau seorang wanita
bersuami yang melakukan zina, dan seorang pria yang turut serta melakukan
35
Imam Muslim, Sahih Muslim, (ttp : al-Qanaah,tt), II : 48,”kitab al-Hudud,” Bab had az-zina,” Hadits dari Ubadah bin samit.
36
perbuatan itu, padahal diketahui bahwa wanita itu bersuami atau seorang
wanita yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal diketahui pria itu
beristri.
Delik seksual dalam KUHP ini merupakan delik absolut. Artinya,
bahwa terhadap perbuatan itu tidak dituntut apapun, apabila tidak ada
pengaduan dari pihak suami atau istri, serta selama dalam proses perkara itu
belum diperiksa dimuka sidang, maka pengaduan tersebut senantiasa dapat
ditarik kembali.
2. Qazaf
Qazaf menurut bahasa adalah ramyu asy-syai yang artinya melempar
sesuatu. Maksud yang dikehendaki oleh syara’ adalah melemparkan tuduhan
(wat’i) zina kepada orang lain atau tidak mengakui keturunan (nasab) dari
istri yang sah.37
Bentuk qazaf ini dapat berupa ucapan, seperti “engkau telah berzina”
atau menyebar luaskan berita yang menyatakan bahwa sesorang telah berzina.
Bentuk lain adalah pengingkaran terhadap nasab, tidak mengakui keturunan
atau menyangkal janin dalam kandungan seorang istri. Bentuk terakhir ini
biasanya hanya terjadi dalam rumah tangga. Bila tuduhan suami tersebut dapat
dibuktikan, maka istri dikenakan hukuman had zina, dan bila tuduhan tersebut
tidak dapat dibuktikan maka suami dapat dikenakan hukuman had qazaf.
Akan tetapi untuk menghindari hukuman tersebut, mereka (suami dan istri)
37
dapat ber-mula’anah (li’an), walaupun resikonya dapat berat, karena telah
berbohong di hadapan Allah SWT, maka siksa yang berat akan didapat di
akhirat nanti.
Satu prinsip dalam fiqh Jinayah adalah bahwa sesorang yang menuduh
orang alin dengan sesuatu yang haram, maka dia wajib membuktikan
tuduhannya itu. Apabila tuduhannya itu tidak dapat dibuktikan, maka ia wajib
dikenakan hukuman.38
Asas legalitas Jarimah qazaf secara jelas disebutkan dalam al-Quran :
Hی?:@
5 9 ی
? ^ 9#
@ 9ﺙ
9!<ی
? <?
7 9
9` 9 ?&ﺝ 4
H ?ﻥ #ﺙ
W$ &ﺝ
=
9&)"!
9
W$I
W
a?b 9
9 9`
5 9"?X K
N
O
Sc
R
c
(
Artinya : Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. dan mereka Itulah orang-orang yang fasik.(Qs An-nur (24) : 4)
@5?G
Hی?:@
5 9 ی
? ^ 9#
? Y?4 d
? ? F9#
9? 9
B?4
ﻥe
?$ ?;C
9
Jf :
J ?
N
O
Sc
R
Sg
(
Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la'nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar (Qs An-nur (24) : 23)
Dalam jarimah qazaf ini ada beberapa unsur yang harus ada sehingga
dapat dikatakan sebagai jarimah, yaitu pertama, adanya ucapan yang
38
mengandung tuduhan atau penolakan terhadap keturunan, kedua, tertuduh
haruslah orang yang selamat dari tuduhan tersebut atau muhsan, dan ketiga,
adanya kesengajaan untuk berbuat jahat atau adanya itikad yang tidak baik.39
3. Minum Khamer
Syari’at Islam memperhatikan penghargaan terhadap akal manusia
yang merupakan anugrah Allah SWT. Yang harus dipelihara sebaik-baiknya.
Maka setiap hal yang mengakibatkan rusaknya fungsi akal, yang disebabkan
karena mabuk misalnya, al-Qur’an tegas menyatakan bahwa itu merupakan
hal yang sangat terlarang.
Secara lebih rinci al-Qur’an menetapkan larangan minum khamer
dengan bertahap. Pada awalnya, dinyatakan bahwa khamer dan maisir (judi)
itu mengandung dosa besar, meskipun mengandung manfaat bagi manusia,
tetapi madharatnya lebih besar dari pada manfaatnya (al-Baqarah (2) : 219),
kemudian dinyatakan bahwa tidak boleh melaksanakan shalat dalam keadaan
mabuk. (an-Nisa (4) : 43), dan tegas-tegas dinyatakan bahwa khamer itu salah
satu perbuatan setan dan karenanya harus dijauhi. (al-Maidah (5) : 90)
Adapun hadits-hadits Nabi yang menyatakan tentang keharaman
khamer ini banyak sekali, diantaranya adalah :
h . i
Bj
# H
) H
R
= E#&
h . &X E &
%&( % ) H
R
#ﺡ *M A6
D ﺡ #ﺡ %&
N U
&k l
T
.
40
39
Artinya : Dari Abdillah bin Umar semoga Allah meridhoinya ia berkata : dan aku tidak mengetahui akan hal itu kecuali yang datangnya dari Nabi SAW, bahwa beliau pernah bersabda : setiap yang memabukkan adalah khamer dan setiap khamer adalah haram (HR. Muslim)
Menurut Jumhur Ulama, sanksi minum khamer adalah delapan puluh
kali jilid, sesuai dengan kebijakan Umar yang kemudian disepakati oleh parah
sahabat. Sedangkan menurut Imam Syafi’i adalah empat puluh kali jilid,
meskipun ia kemudian membolehkan menambah sampai delapan puluh kali
jilid bila Imam menghendakinya. Jadi empat puluh selebihnya menurut Imam
Syafi’i adalah ta’zir, yaitu bagi orang yang kuat, tetapi bagi orang yang lemah
tetap empat puluh kali cambukan.41
Alat bukti dalam minum khamer adalah persaksian yang diberikan
oleh dua orang laki-laki yang memenuhi syarat seperti halnya dalam beberapa
jarimah yang telah disebutkan, pengakuan dari orang yang telah melakukan
dan bau mulut menurut Mazhab Maliki, atau mabuk menurut Imam Abu
Hanifah.
Ketentuan undang-undang hukum pidana Indonesia hanya
menyebutkan perbuatan mabuk itu sebagai suatu pelanggaran. Itupun kalau
dilakukan di muka umum sehingga mengganggu ketertiban umum. Padahal
sesungguhnya hal yang paling penting sebagai akibat dari perbuatan mabuk
adalah hilangnya nilai moralitas yang dapat berakibat pada hancurnya moral
40
Imam An-Nasai, Sunan an-Nasai, (Beirut : Dar Fikr, 1930), VIII : 296, “kitab al-Asryibah,” “Bab Tahrim al-Khamer.”
41
bangsa. Oleh karena itu, dalam Islam perbuatan minum khamer ini tetap di
pandang sebagai suatu kejahatan walaupun dilakukan sendirian disuatu tempat
4. Pencurian
Yang dimaksud dengan pencurian ini adalah pengambilan harta orang
lain secara diam-diam tanpa sepengetahuan pemiliknya.42 Dari definisi
tersebut dapat dilihat bahwa unsur-unsur pencurian adalah :
a. Mengambil harta secara diam-diam. Pengambilan itu dapat dikatakan
sempurna, jika harta itu diambil dari tempatnya dan telah dipindah tangan
dari pemiliknya kepada pelaku pencurian.
b. Harta yang dicuri di syaratkan adalah harta yang bergerak, berharga,
memiliki tempat penyimpanan yang layak dan sampai pada nisab.
c. Harta yang dicuri itu adalah milik orang lain dan tidak subhat.
d. Ada itikad tidak baik untuk memiliki harta yang bukan haknya.
Pelaku pencurian yang telah terbukti, baik berdasarkan dua orang saksi
atau berdasarkan pengakuan dari pelaku, dapat di hukum dengan potong
tangan sesuai dengan firman Allah yang berbunyi :
9m? @k
9 .? @k
9 n. 4
#9 ی? ی
W7 ﺝ
#?
)k6
= *ﻥ
H?
@&
?E
9E@&
J ی?
J ?*ﺡ
N
$ #
O
o
R
\p
T
Artinya :Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Qs Al-Maidah (5) : 38.)
42
Hukuman potong tangan ini diterapkan apabila harta yang dicuri
sampai pada nisab yang sudah ditentukan para ulama berbeda pendapat
mengenai ukuran nisab ini. Imam Syafi’i, Malik dan Ahmad berpendapat
bahwa nisabnya adalah seper-empat Dinar emas atau tiga dirham dan yang
seharga dengannya. Sedangkan Imam Hanafi menetapkan nisab sepuluh
dirham.43 Maka ketika barang yang dicuri itu tidak sampai pada nisab yang
telah ditentukan, hukum potong tangan tersebut tidak dapat dilaksanakan.
5. Perampokan
Perampokan adalah pengambilan harta orang lain secara
terang-terangan atau disertai dengan kekerasan. Tindakan ini dapat dilakukan oleh
satu kelompok atau satu orang yang memiliki kekuatan untuk melakukan
intimidasi terhadap orang lain.44
Sumber hukum dari jarimah hirabah ini adalah ayat al-qur’an yang berbunyi :
#@ﻥ?G
97 ﺝ
Hی?:@
5 9? 9ی
E@&
9E 9X
5 kی
B?4
?q r
WI k4
5
9&@+"9ی
9)@&^9ی
i@n"9!
? ی? ی
9 9&9ﺝ
H?
>sY?;
K 9ی
H?
?q r
a?t
9
J3 ?;
B?4
ﻥe
9
?4
B
?$ ?;C
Jf :
J ?
N
$ #
O
o
R
\\
T
Artinya : Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka memperoleh siksaan yang besar (Qs Al-maidah ayat (5) : 33.)
43
Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah, al-Hudud Fi al-Islam, h. 224-228.
Atas dasar ini ulama mensyaratkan pada seorang perampok harus
mempunyai kekuatan fisik untuk memaksa. Bahkan Imam Abu Hanifah dan
Imam Ahmad mensyaratkan seorang perampok harus membawa senjata tajam,
sedangkan menurut Imam Syafi’i yang penting seorang perampok harus
mempunyai kekuatan fisik untuk memaksa.45
Sanksi bagi perampokan menurut Imam Abu Hanifah dan Imam
Syafi’i berbeda-beda sesuai dengan perbuatannya. Bila ia hanya
mingintimidasi, tanpa mengambil harta dengan kekerasaan, tidak membunuh,
maka sanksinya adalah di asingkan ke negeri lain. Bila hanya membunuh
tidak mengambil harta, maka sanksinya hukuman mati.46 menurut Imam
Maliki sanksi hirabah diserahkan kepada penguasa untuk memilih alternatif
hukuman yang tercantum dalam ayat di atas sesuai dengan kemaslahatan.47
Akan tetapi bila pelaku perampokan kemudian bertobat sebelum tertangkap,
maka sanksi tersebut dapat dihapuskan.
6. Riddah
Menurut bahasa, riddah berarti kembali. Dan yang dimaksud dalam
hukum pidana Islam adalah keluar dari Islam. Dalam al-Qur’an disebutkan :
H
I? ! ی
?
9*
H
?E?ی?I
u9# 4
9`
J ?4 6
a?b 9<4
un?)ﺡ
9 9 #
B?4
ﻥe
?$ ?;C
a?b 9
9f (
? @
9`
?4
5 9 ? ;
N
$ ")
O
P
R
PZ[
T
45H.A. Djazuli, Fiqh Jinayah. H. 88.
46
Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah, al-Hudud fi al-Islam, h. 291.
47
Artinya : Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu Dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (Qs Al-Baqarah (2 : 217.)
Ada beberapa kategori, seseorang dapat dikatakan murtad (keluar dari
Islam) pertama, murtad dengan ucapan, yaitu ucapan yang menunjukan
kekafiran atau mengingkari sesuatu yang diketahui sebagai nilai penting
dalam agama, atau mencelanya dan mengolok-olok agama beserta Nabi-nabi
yang telah diutus Allah. Kedua, murtad dengan perbuatan yang nampak
melalui kesengajaan dalam melakukan hal yang dilarang dan meninggalkan
hal yang diperintahkan.48 Ketiga, murtad dengan itikad yang tidak sesuai
dengan itikad (aqidah) Islam,seperti mengingkari keesaan Allah atau salah
satu dari sipatnya yang wajib bagi-Nya, mengingkari para Nabi sebagai utusan
Allah beserta kitab-kitab yang dibawanya.49
Pada masa Nabi Muhammad, orang yang murtad itu diperintahkan
untuk dibunuh, sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadits :
h . E
%j v ) H H
R
h X h .
&X E &
%&(
R
H
h
E یI
l &+. 4
N
l
3 w)
T
.
50Artinya : Dari Ibnu Abbas ra. Ia berkata : Rosulullah SAW bersabda : barang siapa yang menukar agamanya maka bunuhlah ia (HR. Bukhari)
48
Mahmud Fuad Jadullah, Ahkam al-Hudud. h.15.
49
muhamad bin Muhammad Abu Syahbah, al-Hudud fi al-Islam, h.304.
50
Bagi mereka yang sudah menyatakan diri keluar dari Islam akan
mendapat sanksi setelah diberikan kesempatan untuk bertobat. Waktu yang
diberikan untuk mereka adalah tiga hari tiga malam menurut Imam Malik.
Akan tetapi menurut Imam Abu Hanifah, ketentuan batas waktu untuk
bertobat itu diserahkan kepada Ulil Amri, dan batas waktunya maksimal tiga
hari tiga malam.51
Dalam hadits lain Rasulullah menyatakan pula tentang kehalalan darah
orang yang meninggalkan agamanya :
h . I k H
) H
R
%&(
h X h .
&X E &
R
=
A ی
DI
x
&k
Mی
5
=
E
=G
Bﻥ
h X
=G
y ﺡz
{Yﺙ
:
] ,
Bﻥ
|K
|K
} +
E ی
m K#
# &
N
l
#
T
.
52Artinya : Dari abdillah bin Mas’ud rosulullah SAW bersabda, tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi tiada tuhan selain Allah dan saya utusan Allah terkecuali terhadap tiga kelompok yaitu seorang yang pernah nikah lalu berzina dan jiwa dengan jiwa (qisas) serta orang yang meninggalkan agamanya, memisahkan diri dari jama’ah (HR. al-Jama’ah)
Kata al-mufariq li al-jama’ah dalam hadis tersebut sesungguhnya
merupakan syarat penting dalam penjatuhan hukuman riddah ini. Sehingga,
hukuman yang mengancam perbuatan riddah ini lebih karena unsur politis,
51
H.A. Djazuli, Fiqh Jinayah, h. 117.
52
yaitu murtad dan memisahkan diri dari komunitas Muslim serta berbalik
melawan Islam,tidak hanya semata-mata karena telah keluar dari Islam.
Dari penelusuran terhadap hadits-hadits Nabi yang berkaitan dengan
masalah riddah, dapat dipahami bahwa kasus riddah terjadi pada masa perang
sedang berlangsung antara kaum muslimin dan orang-orang kafir. Pada saat
itu seringkali orang yang telah keluar dari Islam berafiliasi dengan orang kafir
dan bersama-sama mereka berbalik memerangi Islam.
Dari latar belakang historis tersebut terlihat bahwa hukuman bunuh itu
adalah karena mereka telah berpihak kepada musuh dan berbalik memerangi
Islam,bukan semata-mata karena mereka sudah menukarkan agamanya.
Bahkan dalam al-Qur’an disebutkan bahwa jika orang-orang murtad
itu lari dan berlindung kepada suatu kaum atau suku yang sudah mempunyai
perjanjian damai dengan Islam, maka mereka tidak dapat dibunuh.
?^ﺡ 96 97~ﺝ
Jm , V 9
9* >D . % ?G 5 9&?^ی Hی?:@ @=?G
9* &
9 n@&k 9 7~
9 . 9&?! "9ی
96 9&?! "9ی 5 9`9 9 9(
9&?! "9ی &4 96 9 + ?5?z4 96 9&! "&4
9 A ﺝ #4 &@k 9 9* ?G "
96
WY ?)X ? &
9*
N
7 k
O
Q
R
•€
T
7. Pemberontakan
Ada perbedaan dikalangan ulama dalam memberikan definisi
pemberontakan (al-Bagyu). Ulama Malikiyah mengartikan dengan penolakan
untuk taat kepada Imam yang telah ditetapkan, tanpa ada upaya untuk
menggulingkannya. Ulama Hanfiyah mendifinisikan dengan keluarnya
seseorang dari ketaatan kepada Imam yang sah tanpa alasan. Sedangkan
Ulama Shyafi’iyah lebih cenderung kepada pengertian bahwa al-Bagyu itu
adalah sekelompok orang beserta pemimpinnya yang menyalahi Imam dengan
cara tidak mentaati dan melepaskan diri darinya serta menimbulkan
kekacauan.53
Tindakan pemberontak telah ditegaskan larangannya dalam al-Qur’an.
Allah berpfirman :
5?G
?5 +K? L
H?
H ?? F9#
9&++.
9 ?&(<4
#9
5?z4
ud
#9` ﺡ?G
%&
y ;r
9&?! "4
B?+@
B?d)!
%@+ﺡ
7B?K!
% ?G
?
?E@&
5?z4
7 4
9 ?&(<4
#9
?h ?
9n?k.
@5?G
E@&
e]? 9ی
H ?n?k"9#
N
O
Q•
R
•
T
Artinya : Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar Perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar Perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau Dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu Berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang Berlaku adil. (Qs Al-Hujarat (49) : 9.)
53
Upaya pemberontakan ini dapat dikatakan sebagai perbuatan yang
benar-benar kejahatan besar apabila terdapat beberapa unsur, yaitu :
1) Mempunyai idealisme atau motivasi untuk menggulingkan pemerintah.
2) Sipat gerakannya melawan pemerintah yang sah.
3) Memiliki kekuatan atau senjata yang cukup kuat sebagai alat dan sarana
untuk menjalankan upayanya.
4) Mempunyai camp base sebagai daerah kekuasaan.
5) Memiliki pendukung yang cukup kuat.
Pemberontakan merupakan delik politik yang pada perkembangannya
dapat mengancam eksistensi kekuasaan Negara. Dengan demikian setiap ada
upaya yang mengarah kepada munculnya kekuatan-kekuatan yang tidak
sejalan dengan pemerintah yang sah harus segerah ditindak, sehingga tidak
menimbulkan tekanan-tekanan terhadap stabilitas Negara.
D. Asas-asas dalam jarimah hudud
Perkataan asas berasal dari bahasa Arab, yaitu asasun yang berarti dasar,
basis, pondasi. Kalau dihubungkan dengan kerangka berpikir, yang dimaksud
dengan asas adalah landasan berpikir yang sangat mendasar.54 Dan jika
dihubungkan dengan hukum, yang dimaksud dengan asas adalah kebenaran yang
54
dipergunakan sebagai tumpuan berpikir dan alasan pendapat, terutama dalam
penegakkan dan pelaksanaan hukum.55
Beberapa asas yang dijadikan landasan dalam penegakan hukum jarimah
hudud adalah sebagai berikut :
1. Asas Legalitas
Asas legalitas dalam kejahatan dan hukuman merupakan suatu
jaminan dasar bagi individu dengan memberi batas-batas aktivitas apa yang
dilarang secara tepat dan jelas. Asas ini melindungi seorang individu dari
penyalahgunaan atau kesewenang-wenangan hakim, menjamin keamanan
individu dengan informasi apa yang boleh dan yang dilarang.
Islam, karena berasal dari tuhan dapat mengerti sipat manusia,
aspirasi-aspirasinya baik yang sah maupun yang tidak, dan tujuan-tujuannya
secara lebih tepat. Asas legalitas dalam Islam bukan berdasarkan akal
manusia, tetapi dari ketentuan Tuhan. Dalam al-Qur’an, Allah SWT berfirman
@96
H ?•?: 9
%@+ﺡ
1 )ﻥ
= 9X
N
X=
7
O
Z[
R
Zo
T
Artinya : …dan Kami tidak akan meng'azab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (Qs Al-Isra (17) : 15.)
Dengan jalan yang sama, bahwa Tuhan tidak menjatuhkan hukuman
kepada manusia sebelum memberitahukan kepada mereka melalui Rasul-Nya,
55
maka mengikuti nas di atas jelaslah bahwa dalam Islam tidak ada kejahatan
tanpa pemberitahuan jelas, dan tiada pidana tanpa peringatan.56
Dalam kaidah fiqh ditegaskan pula bahwa :
=
*ﺡ
h 4r
7Y"
Y).
I
-.
57Artinya : tidak ada hukuman bagi perbuatan orang berakal sebelum adanya nas.
Dengan perkataan lain, perbuatan seseorang yang cakap (bekwaan)
tidak mungkin dikatakan dilarang, sebelum ada nas (ketentuan) yang
melarangnya, dan ia mempunyai kebebasan untuk melakukan perbuatan itu
atau meninggalnya, sehingga ada nas yang melarangnya. Kaidah selanjutnya
adalah :
=
#ی ﺝ
=
"
Y
-ﻥ
.
58Artinya : Tidak ada tindak pidana dan tidak ada hukuman kecuali adanya nas.
Kaidah diatas menyebutkan bahwa semua perkara dan perbuatan
dibolehkan sebelum ada nas, maka tidak ada tuntutan terhadap semua
perbuatan dan sikap tidak berbuat.59
Aturan pokok lainnya dinyatakan bahwa semua menurut syara’ orang
yang dapat diberi pembebanan (taklif) hanya orang yang mempunyai
kesanggupan untuk memahami dalil-dalil pembebanan, dan menurut syara’
pula pekerjaan yang dibebankan hanya pekerjaan yang mungkin dilaksanakan
56
Topo Santoso, Menggagas Hukum Pidana Islam : penerapan Syari’at Islam dalam konteks Modernitas, Cet. Ke-2, (Bandung : Asy-Syamil press, 2001),h. 114.
57
Abdul Qadir Audah, at-Tasryi’ al-Jina’I al-Islami, 1 : 115.
58
Ibid, h. 116.
59
dan disanggupi serta diketahui pula oleh mukallaf sehingga dapat mendorong
dirinya untuk memperbuatnya. Ada dua syarat yang harus terdapat pada orang
mukallaf, yakni :
1. Sanggup memahami nas-nas syara’ yang berisi hukum taklifi
(tuntutan-tuntutan seperti suruhan, larangan dan sebagainya)
2. Pantas diminta pertanggung jawaban dan dijatuhi hukuman.60
Jadi asas legalitas pada syari’at Islam seperti tersebut diatas, yang
memberi kesimpulan bahwa tidak ada jarimah atau hukuman sebelum adanya
nas yang mengatur dalam syara’ bukan didasarkan atas nas-nas syara’ utama
semata yang menempuh keadilan dan melarang kezaliman, melainkan
didasarkan atas nas-nas yang jelas dan khusus.
2. Asas Tidak Berlaku Surut
Asas tidak berlaku surut (The principle of non retro activity) dalam
hukum pidana Islam pada kenyataannya, merupakan konsekuensi dari asas
sebelumnya, yakni asas legalitas. Asas ini berarti bahwa undang-undang harus
berlaku hanya bagi perbuatan-perbuatan yang dilakukan setelah
diundangkannya ketentuan itu. Pentingnya asas ini karena ia melindungi
keamanan individu dan mencegah penyalagunaan kekuasaan dari pemegang
otoritas.61
Syari’at Islam sangat kaya dengan bukti-bukti yang menegaskan asas
tidak berlaku surut ini, diantaranya :
60
Ibid, h.72-73.
61
Dalam Al-Qur’an :
=
9 ?* !
‚*ﻥ
969ƒ 0
H?
?7 k•?
=?G
.
„&X
N
7 k
O
Q
R
PP
T
Artinya : Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. (Qs An-Nisa’ (4) : 22)
5
9 # !
H
?H +;r
=?G
.
„&X
@5?G
E@&
5 6
W 9K…