• Tidak ada hasil yang ditemukan

nama

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "nama"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

i SKRIPSI

Diajukan untuk Melengkapi Persyaratan dalam Memperoleh Gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum

Universitas Lancang Kuning

Disusun Oleh :

NAMA : M. YUSUF RASYAD NPM : 1674201059

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS LANCANG KUNING PEKANBARU

2020

PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PENCEMARAN NAMA BAIK DI POLDA RIAU MENURUT

UNDANG-UNDANG NOMOR 19 TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11

TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN

TRANSAKSI ELEKTRONIK

(2)

iii

(3)

xii ABSTRAK

Pencemaran nama baik atau penghinaaan melaui media sosial di Wilayah Hukum Polda Riau meningkat selama 2 (dua) tahun terakhir, Kepolisian dalam melakukan penegakan hukum berupa tindakan hukum penyelidikan dan penyidikan yang sebagaimana telah disebutkan juga dalam Pasal 5 huruf A dan B Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana yang selanjutnya disebut KUHAP.

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Penegakan Hukum Terhadap Pelaku Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik Di Polda Riau Menurut Undang- Undang No 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik, hambatan yang dialami serta upaya mengatasi Penegakan Hukum Terhadap Pelaku Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik Di Polda Riau Menurut Undang-Undang No 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik.

Metode Penulisan dalam penelitian ini adalah Penelitian Hukum Sosiologis, yang membahas tentang Penegakan Hukum Terhadap Pelaku Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik Di Polda Riau Menurut Undang-Undang No 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik. Dimana alasan dipilih lokasi ini adalah karena masih belum terlaksana dengan baik

Kesimpulan dalam penelitian ini telah menjawab permasalahan yang muncul yaitu Penegakan Hukum Terhadap Pelaku Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik Di Polda Riau Menurut Undang-Undang No 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik belum maksimal, hal ini dapat dilihat dari banyaknya kasus yang ditangani di Polda Riau. Hambatan Dalam adalah tidak bisa melakukan penahanan dikarenakan ancaman hukuman terhadap pelaku pencemaran nama baik adalah 4 tahun penjara maka terhadap pelaku tidak bisa di tahan, barang bukti seperti postingan yang diposting menggunakan handphone atau komputer mudah di hapus oleh pelaku sehingga nantinya akan menghambat proses penyelidikan maupun penyidikan.

Upaya Dalam mengatasi adalah memberikan sosialisasi tentang dilarangnya penghinaan dan / atau pencemaran nama baik melalui media sosial serta menambah hukuman diatas lima tahun dan dilakukan penahanan untuk memberikan efek jera.

Kata Kunci : Pencemaran Nama Baik, Pelaku, Penegak Hukum

(4)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Teknologi informasi dan telekomunikasi telah mengubah perilaku masyarakat dan peradaban manusia secara global. Di samping itu, perkembangan teknologi informasi telah menyebabkan dunia menjadi tanpa batas (borderless) dan menyebabkan perubahan sosial yang secara signifikan berlangsung cepat.

Teknologi informasi saat ini menjadi pedang bermata dua, karena selain memberikan kontribusi bagi peningkatan kesejahteraan, kemajuan dan peradaban manusia, sekaligus menjadi sarana efektif perbuatan melawan hukum.1

Dunia maya atau lebih dikenal dengan cyber space merupakan dunia tanpa batas ruang dan waktu tak peduli dan mengenal siapa dan dimana, segala sesuatu dapat dilakukan melalui dunia mayantara ini, selain digunakan sebagai sarana pembantu mengerjakan kegiatan sehari-hari juga bisa dugunakan sebagai media kejahatan atau yang lebih dikenal dengan cyber crime. Menurut Samadikun Salman mengenai teknologi informasi yaitu:2

“Kemajuan teknologi informasi sekarang dan kemungkinannya di masa yang akan datang tidak lepas dari dorongan yang dilakukan oleh perkembangan teknologi informasi dan teknologi computer, sedangkan teknologi computer dan komunikasi di dorong oleh teknologi mikroelektrika, material dan perangkat lunak, kimia, fisika, biologi dan matematika mendasari ini semua perpaduan teknologi komunikasi dan

1 Ahmad M Ramli, Cyber Law dan HAKI dalam sistem hukum Indonesia, (Bandung:

Refika Aditama, 2004), hlm 1

2 Salman Samadikun, Pengaruh Perpaduan Teknologi Computer, Telekomunikasi Dan Informasi, Kompas, 28 Juni 2000, hlm 2

1

(5)

2 komputer melahirkan internet yang menjadi tulang punggung teknologi informasi”

Pasal 28 ayat (2) Undang-undang nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-undang nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik merupakan salah satu peraturan dalam hukum positif Indonesia yang dipergunakan untuk membatasi perbuatan-perbuatan yang melanggar di media sosial terkait dengan rasa kebencian dan juga unsur suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Pasal 28 ayat (2) Undang-undang nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-undang nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik berbunyi, setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA).

Terkait pemahaman dari kebencian itu sendiri, dalam pasal tersebut tidak ada pemahaman yang cukup jelas. Oleh karena itu, terkait dengan hal tersebut, dalam Pasal 156 KUHP lebih mengarah ke perbuatan yang menyatakan permusuhan (vijanschap) yaitu, perbuatan yang menyatakan dengan ucapan yang isinya dipandang oleh umum sebagai memusuhi suatu golongan penduduk Indonesia.

Perbuatan menyatakan kebencian (haat) adalah berupa perbuatan menyatakan dengan ucapan yang isinya dipandang atau dinilai oleh masyarakat umum sebagai membenci terhadap suatu golongan penduduk Indonesia. Perbuatan yang isinya

(6)

3 dipandang oleh umum menyatakan ucapan yang menghina, merendahkan, melecehkan terhadap suatu golongan penduduk Indonesia.3

Kasus tindak pidana merupakan suatu perbuatan pidana yang dapat dijatuhi hukuman, setiap perbuatan yang diancam sebagai kejahatan, pelanggaran baik yang disebut dalam KUHP maupun perundang–undangan lainnya.4 Undang- undang nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-undang nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang mengatur pencemaran nama baik atau penghinaan melalui media sosial merupakan tindak pidana khusus yang sanksi hukumnya diatur diluar KUHP yaitu Undang-undang nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-undang nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, sebagaimana disebutkan dalam unsur Pasal 27 ayat (3) yang menyebutkan: “setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.”

Seseorang yang terbukti dengan sengaja menyebarluaskan informasi elektronik yang bermuatan pencemaran nama baik seperti yang dimaksudkan dalam unsur Pasal 27 ayat (3) Undang-undang nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-undang nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik akan dijerat dengan Pasal 45 Ayat (1) Undang-undang nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-undang nomor 11 Tahun

3 Adami Chazawi, Hukum Pidana Positif Penghinaan, Cetakan II Edisi Revisi, (Malang: Media Nusa Creative, 2016), hlm 199

4 M. Marwan & Jimmy P, Kamus Hukum Dictonary Of Law Complate Edition, (Surabaya: Reality Publisher, 2009), hlm 608

(7)

4 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang menyebutkan: Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 750.000.000,00 (Tujuh Ratus Lima Puluh Juta Rupiah).

Pencemaran nama baik atau penghinaaan melaui media sosial di wilayah hukum Polda Riau meningkat selama 2 (dua) tahun terakhir, Kepolisian dalam melakukan penegakan hukum berupa tindakan hukum penyelidikan dan penyidikan yang sebagaimana telah disebutkan juga dalam Pasal 5 (lima) huruf A dan B Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana yang selanjutnya disebut KUHAP. Dalam hal penyelidikan Sebagaimana disebutkan dalam pasal 1 (satu) angka 5 (lima) KUHAP Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini.

Dengan semakin meningkatnya tindak pidana di bidang Informasi Transaksi elektronik terkait dengan unsur pencemaran nama baik ataupun penghinaan melalui media sosial yang semakin meningkat di wilayah hukum Polda Riau, diperlukan penegakan hukum terhadap pelaku penghinaan dan pencemaran nama baik melalui media sosial di wilayah hukum Polda Riau Kota Pekanbaru yang sangat optimal dalam upaya menanggulangi peningkatan kasus tersebut

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk membahas tulisan ini dalam sebuah Skripsi dengan judul PENEGAKAN HUKUM

(8)

5 TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PENCEMARAN NAMA BAIK DI POLDA RIAU MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 19 TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah tersebut, maka penulis merumuskan permasalahannya sebagai berikut :

1. Bagaimanakah penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana pencemaran nama baik di Polda Riau Menurut Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik ?

2. Bagaimanakah hambatan dalam penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana pencemaran nama baik di Polda Riau Menurut Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik ?

3. Bagaimanakah upaya dalam mengatasi hambatan penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana pencemaran nama baik di Polda Riau Menurut Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik ?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

(9)

6 a. Untuk mengetahui Penegakan Hukum Terhadap Pelaku Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik Di Polda Riau Menurut Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik b. Untuk mengetahui hambatan atau kendala yang ditemukan dalam

Penegakan Hukum Terhadap Pelaku Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik Di Polda Riau Menurut Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik

c. Untuk mengetahui upaya dalam mengatasi hambatan Penegakan Hukum Terhadap Pelaku Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik Di Polda Riau Menurut Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik

2. Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan penulis mengenai penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana pencemaran nama baik di Polda Riau Menurut Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik

(10)

7 b. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan pemahaman dan pemikiran bagi perkembangan ilmu pengetahuan yaitu untuk memperkaya bahan bacaan dalam hal ilmu pengetahuan c. Untuk sumbangan masukan bagi instansi yang terkait dalam hal ini

mengenai penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana pencemaran nama baik di Polda Riau Menurut Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik D. Kerangka Teori

1. Teori Tindak Pidana

Tindak pidana (Staafbaar Feit) menurut Simons dalam rumusannya tindak pidana (Staafbaar Feit) adalah tindakan melawan hukum yang telah dilakukan dengan sengaja ataupun tidak dengan sengaja oleh seorang yang dapat dipertanggungjawabkan atas tindakannya dan oleh undang-undang telah dinyatakan sebagai tindakan yang dapat dihukum. Menurut Pompe, Perkataan tindak pidana (Staafbaar Feit) secara teoritis diartikan sebagai suatu pelanggaran norma yang dengan sengaja ataupun tidak sengaja telah dilakukan oleh seorang pelaku, dimana penjatuhan hukum terhadap pelaku tersebut adalah umum.5 Beranjak dari pengertian tindak pidana secara umum, maka salah satu dari tindak pidana di dalamnya tindak pidana dunia virtual (dunia maya) yang biasa disebut dengan cyber crime.

Pengertian Cyber Crime (kejahatan dunia maya) menurut Andi Hamzah

5 P.A.F. Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1997), hlm 182

(11)

8 adalah sebagai kejahatan di bidang komputer secara umum dapat diartikan sebagai pengguna komputer secara ilegal.

Menurut Forester dan Morrison mengindetifikasikan kejahatan komputer sebagai aksi kriminal dimana komputer digunakan sebagai senjata utama. Ada beberapa teori menggambarkan hubungan antara teknologi dan hukum. Cockfiled dan Pridmore pada tahun 2007, menggemukakan beberapa teori yaitu, teori subtantif (Subtantive theory) dan teori instrumental (Instrumental theory) dalam hal ini dijelaskan secara ringkas mengenai teori dan pendekatan sebagi alasan pola pikir untuk memahami teknologi dan hukum yang dapat diterapkan dalam pembentukan regulasi dibidang teknologi, khususnya dibidang Cyber Crime.6

Dalam KUHP, istilah pencemaran nama baik dikenal dengan istilah

“penghinaan” yang diatur secara khusus dalam Bab XVI tentang Penghinaan yang dimuat dalam Pasal 310 hingga Pasal 321 KUHP.

Menurut R. Soesilo dalam bukunya yang berjudul KUHP serta Komentar- Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal, “menghina” dapat diartikan sebagai menyerang kehormatan dan nama baik seseorang. Adapun kehormatan yang dimaksud berkaitan dengan rasa malu seseorang.

Menurut R. Soesilo, penghinaan dalam KUHP dibagi menjadi 6 (enam) jenis, yakni:

6 Ibid., hlm 183

(12)

9 1. Penistaan (Pasal 310 ayat (1) KUHP), yakni perbuatan menuduh seseorang telah melakukan perbuatan tertentu yang bertujuan agar tuduhan tersebut diketahui oleh orang banyak.

2. Penistaan dengan surat (Pasal 310 ayat (2) KUHP), yakni perbuatan tuduhan tersebut dilakukan secara tertulis.

3. Fitnah (Pasal 311 KUHP), yakni apabila perbuatan yang dituduhkan sebagaimana dimaksud pada Pasal 310 KUHP tidak benar.

4. Penghinaan Ringan (Pasal 315 KUHP), yakni jika penghinaan dilakukan di tempat umum yang berupa kata-kata makian yang sifatnya menghina, maupun berupa perbuatan.

5. Pengaduan palsu atau pengaduan fitnah (Pasal 317 KUHP).

6. Perbuatan fitnah (Pasal 318 KUHP).

Adapun sanksi dari masing-masing perbuatan tersebut berbeda-beda, tergantung dari jenis pencemaran nama baik yang dilakukan.

2. Teori Pemidanaan

Teori dalam pemidanaan, biasanya digunakan berbagai macam teori.

Dari mulai teori pembalasan, teori tujuan sampai ke teori gabungan.

Pertama, dalam teori pemidanaan dikenal Teori absolut, atau teori retributif, atau teori pembalasan (vergerldingstheorien). Menurut teori ini, pidana dimaksudkan untuk membalas tindakan pidana yang dilakukan seseorang. Jadi, pidana dalam teori ini hanya untuk pidana itu sendiri.

Teori ini dikenal pada akhir abad ke-18 dan mempunyai pengikut- pengikutnya dengan jalan pikirannya masing-masing, seperti: Imanuel

(13)

10 Kant, Hegel, Herberet, dan Sthal. Pada dasarnya aliran teori ini dibedakan atas corak subjektif yang pembalasannya ditujukan pada kesalahan pembuat karena tercela. Dan corak objektif yang pembalasannya dilakukan oleh orang yang bersangkutan.7

Pedoman pemidanaan ini akan sangat membantu hakim dalam mempertimbangkan berat ringan pidana yang akan dijatuhkan. Hal ini akan memudahkan hakim dalam menetapkan takaran pemidanaan. Apa yang tercantum dalam suatu Pasal sebenarnya merupakan semacam check list sebelum hakim menjatuhkan pidana. Daftar tersebut memuat hal-hal yang menyangkut pembuat dan juga hal-hal yang di luar pembuat. Apabila butir-butir yang tersebut dalam daftar itu diperhatikan, maka diharapkan pidana yang dijatuhkan dapat lebih proporsional dan dapat dipahami baik oleh masyarakat maupun oleh terpidana sendiri.

Membicarakan sistem peradilan pidana tidak terlepas dari pembicaraan upaya penanggulangan kejahatan. Upaya penanggulangan kejahatan dapat dilakukan dengan sarana penal ataupun sarana non penal.

Penanggulangan kejahatan dengan sarana penal yaitu upaya penanggulangan kejahatan dengan sarana hukum pidana. Penggunaan sarana hukum pidana untuk penanggulangan kejahatan, operasional bekerjanya lewat sistem peradilan pidana (criminal justice system).

Sistem peradilan pidana di dalamnya terkandung gerak sistemik dari subsistem-subsistem yaitu: Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan dan

7 Bambang Poernomo, Asas-asas Hukum Pidana, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1976), hlm 27-28

(14)

11 Lembaga Koreksi (Lembaga Pemasyarakatan), yang secara keseluruhan merupakan satu kesatuan berusaha mentransformasikan masukan (input) menjadi keluaran (output), berupa tujuan jangka pendek, tujuan jangka menengah dan tujuan jangka panjang dari sistem peradilan pidana. Tujuan jangka pendek sistem peradilan pidana adalah resosialisasi pelaku tindak pidana, tujuan menengah adalah pencegahan kejahatan, dan tujuan jangka panjang adalah kesejahteraan sosial.8

Tujuan sistem peradilan pidana berupa resosialisasi pelaku, karena penyelenggaraan peradilan pidana berguna untuk pembinaan pelaku sehingga ketika kembali kepada masyarakat sudah menjadi orang yang baik-baik. Sedangkan tujuan pencegahan kejahatan, maksudnya dengan putusan pengadilan pidana tersebut dapatmencegah pelaku untuk berbuat kejahatan, baik mencegah secara nyata bagi pelaku, maupun dapat berfungsi preventif bagi masyarakat pada umumnya untuk tidak melakukan tindak pidana. Tujuan jangka panjang sistem peradilan pidana adalah kesejahteraan social, karena penyelenggaraan peradilan pidana berfungsi untuk melindungi masyarakat dari perbuatan-perbuatan jahat yang sangat mengganggu masyarakat.

Dalam literatur hukum pidana, pakar hukum pidana menggunakan beberapa istilah yang berbeda dalam menyebutkan teori pemidanaan, tapi secara umum teori pemidanaan yang dikenal selama ini dapat dikelompokkan ke dalam empat teori besar, yaitu teori retribusi

8 Ibid, hlm vii

(15)

12 (retribution), penangkalan (deterrence), pelumpuhan (incapacitation) dan rehabilitasi (rehabilitation).

Retribusi merupakan teori pemidanaan tertua dalam sejarah peradaban manusia yang berlandaskan kepada pemberian ganjaran (pembalasan) yang setimpal kepada orang yang melanggar ketentuan hukum pidana. Ide retribusi yang paling awal menggunakan konsep pembalasan pribadi (private revenge) di mana korban atau keluarganya memberi pembalasan yang sama kepada pelaku atau keluarganya atas kerugian yang diderita oleh korban atau keluarganya.

3. Teori Penegakan Hukum Sebagai Applied Theori

Satu hukum yang berlaku dan harus ditegakan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia ialah hukum pidana, yang memuat tentang perbuatan- perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana. Menurut Wirjono Prodjodikoro, bahwa Hukum pidana adalah peraturan hukum mengenai

“pidana” berarti hal yang “dipidanakan” yaitu oleh instansi yang berkuasa dilimpahkan kepada seseorang oknum sebagai hal yang sebelumnya tidak dirasakanya dan juga hal yang tidak sehari-hari dilimpahkan”.9

Hal ini dipertegas dalam UUD 1945 (amandemen) Pasal 1 ayat (3),

“Negara Indonesia adalah negara hukum”. 10 Dengan demikian pembangunan hukum merupakan faktor yang determinatif terhadap pembangunan negara. Masalah penegakan hukum pada dasarnya merupakan suatu perbedaan antara realita dalam masyarakat dengan

9 Wirjono Prodjodikoro, Asas-asas Hukum Pidana Indonesia, (Bandung: Reneka Aditama, 2003) hlm 1

10 Undang-undang Dasar Tahun 1945

(16)

13 keajegan yang telah ditetapkan oleh undang-undang. Hal tersebutdi sebutkan oleh Roscou Pound sebagai perbedaan antara tataran teoritik (law in book) dan hukum yang hidup berkembang dan berproses di masyarakat (law in action), yang mencakup persoalan-persoalan diantaranya adalah :11 a. Apakah hukum di dalam bentuk peraturan yang telah diundangkan itu

mengungkapkan pola tingkah laku sosial yang ada pada waktu itu;

b. Apakah yang dikatakan pengadilan itu sama dengan apa yang dilakukannya;

c. Apakah tujuan yang secara tegas dikehendaki oleh suatu peraturan itu sama dengan efek peraturan itu dalam kenyataan.

Berkaitan dengan penegakan hukum, Sudarto memberi pengertian sebagai perhatian dan penggarapan perbuatan-perbuatan yang melawan hukum yang sungguh-sungguh (on recht in actu) maupun perbuatan- perbuatan melawan hukum yang mungkin akan terjadi (onrecht in potentie).12 Proses penegakan hukum di Indonesia diselenggarakan oleh suatu badan yaitu kekuasaan kehakiman yang pada akhirnya semuanya bermuara ke Mahkamah Agung. Oleh karena itu, penyelenggaraan kekuasaan kehakiman tidak boleh terpengaruh oleh kondisi politik yang selalu berubah-ubah.13

11 Satjipto Rahardjo, Sistem Peradilan Pidana dalam Wacana Kontrol Sosial, Jurnal Hukum Pidana dan Kriminologi, (Semarang: UNDIP, 1988), hlm 7

12 Sudarto, Hukum Pidana dan Perkembangan Masyarakat, (Bandung: Sinar Baru, 1986), hlm 7

13 Edi Setiadi, Pemberdayaan Peran dan Kompleksitas Interaksi Advokat dalam Proses Penegakan Hukum untuk Mewujudkan Keadilan. (Semarang: Disertasi. Program Doktor Ilmu Hukum UNDIP, 2004), hlm 9

(17)

14 Penegakan hukum pada dasarnya adalah bagaimana negara bisa menjamin dan memberikan ketentraman kepada warga negara apabila tersangkut masalah hukum. Penegakan hukum pada hakikatnya adalah usaha atau upaya untuk menciptakan keadilan. Sesuatu yang dilindungi dalam penegakan hukum adalah seluruh tatanan sosial kemasyarakatan di samping dalam kasus-kasus tertentu, menyangkut urusan yang sangat pribadi dari warga negara. Berkaitan dengan hal tersebut di atas Muladi berpendapat bahwa dalam proses pengakan hukum pidana sebenarnya bukan dalam tahap aplikasi saja, melainkan bisa tahap formulasi yaitu tahap penegakan hukum in abstracto (semua peraturan hukum yang berlaku pada suatu negara yang belum diterapkan terhadap sesuatu kasus oleh pengadilan) oleh badan legislatif.14

Sehubungan dengan masalah penegakan hukum Soerjono Soekanto mengemukakan bahwa secara konsepsional, inti dan arti penegakan hukum terletak pada kegiatan menyelesaikan hubungan nilai-nilai yang terjabarkan di dalam kaidah-kaidah yang mantap dan mengejawantah dan sikap tindak sebagai rangkaian penjabaran nilai tahap akhir, untuk menciptakan, memelihara dan mempertahankan kedamaian pergaulan hidup. Konsepsi yang mempunyai dasar filosofis tersebut, memerlukan penjelasan lebih lanjut, sehingga akan tampak lebih konkrit.15

14 Muladi, Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana, (Semarang: Badan Penerbit UNDIP, 1995), hlm 13

15 Soerjono,Soekanto, Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, (Jakarta:

Raja Grafindo Persada, 1993), hlm 3

(18)

15 Faktor-faktor tersebut mempunyai arti yang netral sehingga dapat menyebabkan dampak positif maupun dampak negatif. dilihat dari segi faktor penegakan hukum itu menjadikan agar suatu kaidah hukum benar- benar berfungsi. Menurut Soerjono Soekanto faktor-faktornya adalah :16 a. Faktor hukumnya sendiri atau peraturan itu sendiri

Dapat dilihat dari adanya peraturan undang-undang, yang dibuat oleh pemerintah dengan mengharapkan dampak positif yang akan didapatkan dari penegakan hukum. Dijalankan berdasarkan peraturan undang-undang tersebut, sehingga mencapai tujuan yang efektif.

Didalam undang-undang itu sendiri masih terdapat permasalahan- permasalahan yang dapat menghambat penegakan hukum, yakni : 1) Tidak diikuti asas-asas berlakunya undang-undang.

2) Belum adanya peraturan-pelaksanaan yang sangat dibutuhkan untuk menerapkan undang-undang.

3) Ketidakjelasan arti kata-kata di dalam undang-undang yang mengakibatkan kesimpangsiuran di dalam penafsiran serta penerapannya.

b. Faktor penegak hukum

Istilah penegakan hukum mencakup mereka yang secara langsung maupun tidak langsung berkecimpung dibidang penegakan hukum, seperti dibidang kehakiman, kejaksaan, kepolisian, kepengacaraan dan permasyarakatan. Penegak hukum merupakan golongan panutan dalam

16 Soerjono Soekanto, Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, (Jakarta:

Rajawali Press, 2010), hlm 70

(19)

16 masyarakat, yang sudah seharusnya mempunyai kemampuan- kemampuan tertentu guna menampung aspirasi masyarakat. Penegak hukum harus peka terhadap masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya dengan dilandasi suatu kesadaran bahwa persoalan tersebut ada hubungannya dengan penegakan hukum itu sendiri.

c. Faktor Sarana atau fasilitas

Tidak mungkin penegakan hukum akan berjalan dengan lancar tanpa adanya sarana atau fasilitas tertentu yang ikut mendukung dalam pelaksanaanya. Maka menurut Purbacaraka dan Soerjono Soekanto, sebaiknya untuk melengkapi sarana dan fasilitas dalam penegakan hukum perlu dianut jalan pikiran sebagai berikut : 17

1) Yang tidak ada, harus diadakan dengan yang baru 2) Yang rusak atau salah, harus diperbaiki atau dibetulkan.

3) Yang kurang, harus ditambah 4) Yang macet harus dilancarkan

5) Yang mundur atau merosot, harus dimajukan dan ditingkatkan.

d. Faktor Masyarakat

Penegakan hukum berasal dari masyarakat dan bertujuan untuk mencapai kedamaian di dalam masyarakat itu sendiri. Secara langsung masyarakat dapat mempengaruhi penegakan hukum. Hal ini dapat dilihat dari pendapat masyarakat mengenai hukum. Maka muncul kecendrungan yang besar pada masyarakat untuk mengartikan hukum

17 Ibid

(20)

17 sebagai petugas, dalam hal ini adalah penegak hukumnya sendiri. Ada pula dalam golongan masyarakat tertentu yang mengartikan hukum sebagai tata hukum atau hukum positif tertulis.18

E. Metode Penelitian

Untuk menjelaskan penelitian secara benar dan terarah diperlukan suatu metode penelitian sehingga hasil penelitian dapat digunakan untuk menjawab hasil masalah yang ada dan menganalisis pokok permasalahannya.

1. Jenis penelitian

Jenis penelitian dalam tulisan ini adalah penelitian hukum sosiologis.

Hubungan penelitian sosiologis dengan hukum positif adalah berjalan atau tidaknya suatu peraturan ditengah-tengah masyarakat. Penelitian Hukum Sosiologis dalam tulisan ini membahas mengenai berlakunya hukum positif yaitu “Penegakan Hukum Terhadap Pelaku Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik Di Polda Riau Menurut Undang-Undang No 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik”.

2. Lokasi penelitian

Adapun lokasi penelitian yang penulis lakukan adalah di Kota Pekanbaru khususnya di wilayah hukum Polda Riau. Dimana alasan dipilih lokasi ini adalah karena di Pekanbaru belum terlaksana dengan baik mengenai Penegakan Hukum Terhadap Pelaku Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik Di Polda Riau Menurut Undang-Undang No 19 Tahun 2016

18 Ibid

(21)

18 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik.

3. Populasi dan Sampel a. Populasi

Populasi merupakan sekumpulan objek yang hendak diteliti.

Sehubungan dengan judul penelitian yang dijadikan sebagai populasi dari penelitian ini adalah

1) Kasubdit V Dit Reskrimsus Polda Riau 2) Panit 1 Subdit V Dit Reskrimsus Polda Riau 3) Penyidik Pembantu

4) Pelaku 5) Korban b. Sampel

Sampel merupakan bagian dari populasi yang akan dijadikan objek penelitian. Metode penetapan sampel yang digunakan adalah Purposive Sampling. Maka untuk mengklasifikasikan populasi untuk dijadikan sampel dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

(22)

19 Tabel I.

Populasi dan Sampel

No Responden Populasi Sampel Persentase 1 Kasubdit V Dit Reskrimsus Polda

Riau

1 orang 1 orang 100

2 Panit 1 Subdit V Dit Reskrimsus Polda Riau

1 orang 1 orang 100

3 Penyidik Pembantu 2 orang 1 orang 50

4 Pelaku 2 orang 1 orang 50

5 Korban 2 orang 1 orang 50

Jumlah 7 orang 5 orang Sumber : Data Primer, tahun 2020

4. Sumber Data

Dalam penelitian hukum sosiologis data bersumber dari data primer. Data primer dalam penelitian ini dibedakan menjadi 3 (tiga) macam, yaitu:

a. Data primer, yaitu data yang diperoleh dari masyarakat yang ditetapkan sebagai responden dalam penelitian. Data Yang diperoleh dari Kepala Sub Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Riau, Panit 1 Subdit V Dit Reskrimsus Polda Riau, Penyidik Pembantu, Pelaku, dan Korban yang sesuai permasalahan yaitu tentang

(23)

20 Penegakan Hukum Terhadap Pelaku Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik Di Polda Riau Menurut Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik.

b. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari kepustakaan yang berkaitan dengan penelitian dan bersifat mendukung data primer c. Data tertier, yaitu data yang diperoleh dari kamus, ensiklopedia, dan

sejenisnya, yang berfungsi untuk mendukung data primer dan data sekunder.

5. Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang akurat dan dapat dipertanggung- jawabkan, sehingga dapat memberikan gambaran permasalahan secara menyeluruh, maka dalam hal ini penulis menggunaan beberapa teknik pengumpulan data yaitu :

a. Observasi, yaitu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara pengamatan langsung terhadap objek penelitian.

b. Wawancara yang dilakukan penulis adalah wawancara non struktur.

Wawancara non struktur adalah wawancara yang tidak terikat dengan daftar pertanyaan.

c. Kajian Kepustakaan, yaitu teknik pengumpulan data dengan mencari dan membaca literatur-literatur yang berkaitan dengan permasalahan.

6. Analisis Data

(24)

21 Dalam penelitian ini data dianalisis secara kualitatif artinya data dianalisis tidak menggunakan angka-angka atau statistik, namun lebih kepada penjelasan dalam bentuk kalimat yang dipaparkan secara lugas.

Sedangkan dalam menarik kesimpulannya penulis menerapkan metode deduktif yaitu menyimpulkan dari pernyataan yang bersifat umum ke dalam pernyataan yang bersifat khusus.

(25)

77 DAFTAR PUSTAKA

A. Buku-buku

Adam Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008)

Adami Chazawi, Hukum Pidana Positif Penghinaan, Cetakan II Edisi Revisi, (Malang: Media Nusa Creative, 2008)

Ahmad M Ramli, Cyber Law dan HAKI dalam sistem hukum Indonesia, (Bandung: Refika Aditama, 2004)

Asri Muhammad Saleh, Menegakan Hukum atau Mendirikan Hukum, (Pekanbaru:

Bina Mandiri Press, 2003)

Bambang Poernomo, Asas-asas Hukum Pidana, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1976) David I. Baindrige, Komputer Dan Hukum, (Jakarta: PT Sinar Grafika, 2003) E Utrecht, Pengantar Hukum Administrasi Negara Indonesia, cetakan ke-4,

(Jakarta: lchtiar, 2000)

Edi Setiadi, 2004. Pemberdayaan Peran dan Kompleksitas Interaksi Advokat dalam Proses Penegakan Hukum untuk Mewujudkan Keadilan. Semarang:

Disertasi. Program Doktor Ilmu Hukum UNDIP

Erdianto Effendi, 2011. Hukum Pidana Suatu Pengantar, Bandung: PT Refika Aditama

Gusti Asnan, Memikir Ulang Regionalisme, (Sumatera Barat: Yayasan Obor Indonesia, 2007)

(26)

78 H.T.Manalu, Lintas Sejarah Kepolisian Daerah Riau 1945-1985, (Pekanbaru:

Suka Bina, 2005)

Heru supratomo, Kebijakan Komputer Dan Cyber, Serta Antisipasi Pengaturan Dan Pencegahannya Di Indonesia, (Jakarta: PT Sinar Grafika, 2001)

Kunarto, Perilaku Organisasi Polri, Cipta Manunggal, Jakarta, 2001

Laden Marpaung, Tindak Pidana Terhadap Kehormatan (Jakarta: Sinar Grafika, 2010)

M. Marwan & Jimmy P, 2009. Kamus Hukum Dictonary Of Law Complate Edition, Surabaya: Reality Publisher

Moeljatno, Perbuatan Pidana dan Pertanggung jawaban Dalam Hukum Pidana, (Jakarta: Bina Aksara, 1983)

Momo Kelana, Hukum Kepolisian, (Jakarta: Gramedia & PTIK - Yayasan Brata Bhakti, 2002)

Muladi, 1995. Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana, Semarang: Badan Penerbit UNDIP

P.A.F. Lamintang, Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1997)

Romli Atasasmita, Teori dan Kapita Selekta Kriminologi, (Bandung: Refika Aditama, 2010)

Salman Samadikun, Pengaruh Perpaduan Teknologi Computer, Telekomunikasi Dan Informasi, Kompas, 28 Juni 2000

Samidjo, Ringkasan tanya jawab Hukum Pidana, (Bandung: Amrico, 1985)

(27)

79 Samin, S.W, Budaya Melayu dalam perjalanannya menuju masa depan, (Riau:

Yayasan Penerbit MSI-Riau 1991)

Satjipto Rahardjo, 1988. Sistem Peradilan Pidana dalam Wacana Kontrol Sosial, Jurnal Hukum Pidana dan Kriminologi, Semarang: UNDIP

Soebroto Brotodiredjo, Pengantar hukum kepolisian umum di Indonesia, (Bandung Yuhesa, 1997)

Soedikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, (Yogyakarta;

Liberty, 1999)

Soerjono, Soekanto, 1993. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Jakarta: Raja Grafindo Persada

Soejono Soekanto, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, (Jakarta: PT Raja grafindo Persada, 2008)

Sudarto, 1986. Hukum Pidana dan Perkembangan Masyarakat, Bandung: Sinar Baru

B. Jurnal / Artikel lainnya

Andrea Kaplan, Social Media For Educators (London: Kluwer Law International, 2000)

Graham J H Smith, Internet law and regulation, (London: Thomson Sweet, 2007) Jumardi, Tinjauan Yuridis terhadap Tindak Pidana Penghinaan (Makassar:

Skripsi Perpustakaan Hukum Unhas, 2014)

Matthew Collins, The Law Of Defamation And The Internet (Saint Louis:

University School Of Law, 2008)

(28)

80 Riversl William. Jay W. Jensen. Theodore Peterson, Media Massa Dan

Masyarakat Modern, (Jakarta: Kencana, 2003) C. Peraturan Perundang-undangan

Departemen Hukum dan HAM, Rancangan KUHP, (Jakarta: Dirjend Peraturan Perundang-undangan, 2004)

Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana

Republik Indonesia, Undang - Undang Kepolisian Negara Nomor 2 tahun 2002, Jakarta: Sinar Grafika, 2003)

Undang-undang Dasar Tahun 1945

Undang Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik

D. Internet

http:/www.pekanbaru.go.id/

http:/Wikipedia.com/ provinsi Riau/

Jimly Asshiddiqie, Makalah Penegakan Hukum, diakses dari google.com www.setneg.go.id Undang-undang Nomor 25 Tahun 2002

Wirjono Prodjodikoro, 2003. Asas-asas Hukum Pidana Indonesia, Bandung:

Reneka Aditama

Referensi

Dokumen terkait

perbuatan pidana atau tindak pidana senantiasa merupakan suatu perbuatan yang tidak sesuai atau melanggar suatu aturan hukum atau perbuatan yang dilarang oleh

Berdasarkan pendapat tersebut di atas pengertian dari tindak pidana yang dimaksud adalah bahwa perbuatan pidana atau tindak pidana senantiasa merupakan suatu perbuatan

Tindak Pidana Khusus adalah suatu perbuatan pidana atau tindak pidana yang diatur diluar Kitab Undang-Undang Pidana dasar pemberlakuan tindak pidana khusus adalah

Pidana narkotika adalah suatu perbuatan yang melanggar ketentuankereatuan hukum Narkotika. 69 Tindak pidana narkotika merupakan tindak pidana khusus Sebagaimana

Pada proses pembuktian untuk kasus tindak pidana perkosaan, pasal 285 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) memandang bahwa suatu perbuatan disebut sebagai perkosaan

perbuatan pidana atau tindak pidana senantiasa merupakan suatu perbuatan yang tidak sesuai atau melanggar suatu aturan hukum atau perbuatan yang dilarang oleh

Tindak Pidana Khusus adalah suatu perbuatan pidana atau tindak pidana yang diatur diluar Kitab Undang-Undang Pidana dasar pemberlakuan tindak pidana khusus adalah

Tindak pidana berarti suatu perbuatan yang pelakunya dapat dikenakan hukum pidana.8 Tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan berupa melakukan kekerasan fisik,