1 | Penistaan Agama Bagi Islam dan Hukum di Indonesia
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Penistaan agama merupakan suatu bentuk perbuatan yang menghina, mencaci, merendahkan, menodai sebuah agama. Sudah kita ketahui bahwa Indonesia merupakan negara Ketuhanan Yang Maha Esa. Negara yang terdiri dari Agama islam, Hindu, Bhuda, Kristen katolik, Kriten protestan, dan aliran-aliran lain yang diakui oleh negara. Negara memeberikan kebebasan bagi setiap warga negaranya untuk beragama, sesuai dengan UUD 1945 pasal 29 ayat 2 “ Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.”
Di penghujung tahun 2016 ini negara Indonesia dihebohkan dengan kasus penistaan agama. Kasus ini menjerat salah satu Calon Gubernur petahana DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama (Ahok) yang diduga melecehkan Al Qur’an yaitu surah Al Maidah [5]: 51 saat acara pertemuan dengan warga di Kepulauan Seribu 27 September lalu. Dirinya mengatakan
“jadi nggak usah pikiran,'ah...nanti kalo nggak kepilih pasti Ahok programnya bubar', nggak!. Saya (Ahok) masih terpilih sampai Oktober 2017. Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu nggak pilih saya (Ahok), ya kan!. Dibohongin pake surat Al Maidah ayat 51, macem - macem itu, itu hak bapak ibu, jadi bapak ibu nggak bisa milih nih,'karena saya (bapak ibu) takut masuk neraka', nggak apa-apa.”. Perkataan yang dilontarkan Ahok tersebut sangat menyakiti hati umat Islam Indonesia. Maka dari itu Sejumlah elemen dari umat Islam seperti MUI (Majlis Ulama Indonesia) Sumatra Selatan pun melaporkan Ahok ke kepolisian atas dugaan penistaan agama. Menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla, pernyataan Ahok yang menyinggung surah Al Maidah ayat 51 tersebut telah memancing masalah SARA. Ia menilai, pernyataan Ahok yang menyebabkan mayoritas umat Islam tersinggung yakni karena menyebut kata bohong dalam surat Al Maidah. Jika Ahok tak menyebut kata tersebut, lanjut JK, maka tak akan memicu kemarahan umat Islam. Dan
2 | Penistaan Agama Bagi Islam dan Hukum di Indonesia
karena lambannya penanganan dan tergeraknya hati nurani umat Islam Indonesia atas kasus tersebut, mereka melakukan Aksi Damai 4 November dan 212, serta para Polisi muslim melantunkan Asmaul Husna dengan menggunakan sorban saat bertugas. Mereka hanya menuntut akan keadilan umat Islam.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan apa yang telah dipaparkan penulis diatas maka, maka penulis mengambil pokok permasalahan sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan penistaan agama?
2. Bagaimana hukum menistakan agama menurut islam?
3. Bagaimana hukum menistakan agama menurut hukum yang berlaku di Indonesia?
4. Apa dampak yang diakibatkan dari penistaan agama?
3 | Penistaan Agama Bagi Islam dan Hukum di Indonesia
BAB II PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN PENISTAAN AGAMA
Dalam KBBI penistaan berasal dari kata Nista yang berarti hina, rendah, cela, noda. Segangkan menurut M. Taib Thahir Abdul Muin agama adalah suatu peraturan yang mendorong jiwa seseorang yang mempunyai akal, memegang peraturan Tuhan dengan kehendaknya sendiri untuk mencapai kebaikan hidup di dunia dan kebahagiaan kelak di akhirat. Menurut Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj yang dinamakan penistaan agama adalah suatu tindakan atau ucapan yang bertentangan dengan agama, kemudian mengatasnamakan agama. Dalam program Live Mata Najwa di Metro TV yang bertema Menjaga kebhinekaan, Rabu (2/11) malam, beliau menuturkan apa yang dilakukan oleh ISIS merupakan penistaan agama.
Membunuh orang yang tak bersalah semaunya yang mengatas namakan agama islam.
Di Indonesia sendiri perihal penistaan agama bukan hal pertama kali terjadi.
Penistaan agama pernah terjadi pada tahun 1986 yang menjerat seorang sastrawan yang BJ Jassin, ia dijerat karena menerbitkan sebuah cerpen yang berjudul Langit makin mendung yang menggambarkan Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, dan Malaikat Jibril.
Selain itu ditahun 2006 ada Lia Aminudin (Lia Edden) yang mengaku sebagai imam mahdi dan mendapat wahyu dari malaikat Jibril, serta mengaku pernah bertemu dengan bunda Maria.
B. PENISTAAAN AGAMA MENURUT ISLAM
Telah kita ketahui didalam pembahasan sebelumnya penulis telah membahas sedikit pengertian tentang penistaan agama. Lalu selanjutnya akan penulis paparkan mengenai bagaimana hukum menistakan agama menurut Islam.
Menyoroti kasus Ahok yang diduga menistakan agama Islam karena perkataannya mengenai kebohongan QS Al Maidah [5]: 51. Apakah perkataan Ahok
4 | Penistaan Agama Bagi Islam dan Hukum di Indonesia
merupakan murni salah artian, karena ia tidak tahu arti yang sebenarnya surat tersebut, atau atas dasar ia ingin melecehkan agama Islam?. Sebelumnya alangkah baiknya jika kita pahami dulu arti atau maksud yang sebenarnya surah Al Maidah [5]: 51;
ْنَمَو ۚ ٍضْعَب ُءاَيِلْوَأ ْمُهُضْعَب ۘ َءاَيِلْوَأ ٰىَراَصَّنلاَو َدوُهَيْلا اوُذِخَّتَت َلَ اوُنَمآ َنيِذَّلا اَهُّيَأ اَي َّنِإَف ْمُكْنِم ْمُهَّلَوَتَي
ْمُهْنِم ُهُ
َنيِمِلاَّظلا َمْوَقْلا يِدْهَي َلَ َ َّاللَّ َّنِإ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.
Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”
Tafsir Jalalayn menjelaskan “(Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin) menjadi ikutanmu dan kamu cintai. (Sebagian mereka menjadi pemimpin bagi sebagian lainnya) karena kesatuan mereka dalam kekafiran. (Siapa di antara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin, maka dia termasuk di antara mereka) artinya termasuk golongan mereka. (Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang aniaya) karena mengambil orang-orang kafir sebagai pemimpin mereka.”
Sedangkan Tafsir Quraish Shihab menjelaskan “Wahai orang-orang yang beriman, kalian tidak diperkenankan menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai penolong yang kalian taati. Mereka itu sama saja dalam menentang kalian.
Barangsiapa yang menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka ia telah masuk ke dalam golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka yang menzalimi diri sendiri, dengan menjadikan orang-orang kafir sebagai penguasa mereka.” Sumber http://tafsirq.com/5-al-maidah/ayat-51
Islam adalah agama yang sempurna. agama yang mengajarkan untuk selalu berbuat kebaikan dan menjahui kemungkaran, berdasarkan atas Al Qur’an dan Hadits, agar memperoleh kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Bersinggungan Al Qur’an kita
5 | Penistaan Agama Bagi Islam dan Hukum di Indonesia
semua telah mengetahui bahwa apa yang dijelaskan didalam Al Qur’an merupakan kebenaran yang tidak bisa kita ragukan. Allah berfirman dalam QS Surah Al Baqarah [2]:
23 yang berbunyi:
ُد ْنِم ْمُكَءاَدَهُش اوُعْداَو ِهُ ِلْثِم ْنِم ٍةَروُسِب اوُتْأَف اَنِدْبَع ٰىَلَع اَنْلَّزَن اَّمِم ٍبْيَر يِف ْمُتْنُك ْنِإَو ْنِإ ِ َّاللَّ ِنو
َنيِقِداَص ْمُتْنُك
“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”
Bagaimanakah penistaan agama menurut Islam?.
Ayat-ayat Al-Qur’an secara tegas telah menerangkan bahwa orang yang menghina, melecehkan dan mencaci maki Allah SWT, atau Rasulullah SAW atau agama Islam adalah orang yang kafir murtad jika sebelumnya ia adalah seorang muslim.
Kekafiran orang tersebut adalah kekafiran yang berat, bahkan lebih berat dari kekafiran orang kafir asli seperti Yahudi, Nasrani dan orang-orang musyrik. Jika sejak awal ia adalah orang kafir asli, maka tindakannya menghina, melecehkan dan mencaci maki Allah SWT, atau Rasulullah SAW atau agama Islam berarti bahwa ia telah menempatkan dirinya sebagai gembong kekafiran dan pemimpin orang kafir.
Imam Ibnu Katsir berkata, “Makna firman Allah mereka mencerca agama kalian adalah mereka mencela dan melecehkan agama kalian. Berdasar firman Allah ini ditetapkan hukuman mati atas setiap orang yang mencaci maki Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa salam atau mencerca agama Islam atau menyebutkan Islam dengan nada melecehkan. Oleh karena itu Allah kemudian berfirman maka perangilah pemimpin- pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti, maksudnya mereka kembali dari kekafiran, penentangan dan kesesatan mereka.” (Tafsir Al-Qur’an Al-
‘Azhim, 4/116).
6 | Penistaan Agama Bagi Islam dan Hukum di Indonesia
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan “Sesungguhnya mencaci maki Allah atau mencaci maki Rasul-Nya adalah kekafiran secara lahir dan batin. Sama saja apakah orang yang mencaci maki itu meyakini caci makian itu sebenarnya haram diucapkan, atau ia meyakini caci makian itu boleh diucapkan, maupun caci makian itu keluar sebagai kecerobohan bukan karena keyakinan. Inilah pendapat para ulama fiqih dan seluruh ahlus sunnah yang menyatakan bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan.” (Ash-Sharim Al- Mashulul’ala Syatim Ar-Rasul, hlm. 512).
Imam Muhammad Anwar Syah Al-Kasymiri berkata: “Barangsiapa mengucapkan ucapan kekafiran baik secara sendau gurau maupun bermain-main, niscaya ia telah kafir menurut semua ulama, tanpa mempertimbangkan keyakinan dia. Hal ini seperti telah ditegaskan dalam kitab Al-Fatawa Al-Khaniyah dan Raddul Mukhtar.” (Ikfarul Mulhidin fi Dharuriyatid Dien, hlm. 59). Sumber http://www.delemonspiritual.com/2015/07/hukum- menghina-islam-menurut-al-qur.html
Dalam QS. An-Nisa’ [4]: 140 Allah berfirman:
ُعْقَت َلََف اَهِب ُأَزْهَتْسُيَو اَهِب ُرَفْكُي ِ َّاللَّ ِتاَيآ ْمُتْعِمَس اَذِإ ْنَأ ِباَتِكْلا يِف ْمُكْيَلَع َلَّزَن ْدَقَو ٰىَّتََ ْمُهَعَم اوُد
اوُُوُخَي
يِمَج َمَّنَهَج يِف َنيِرِفاَكْلاَو َنيِقِفاَنُمْلا ُعِماَج َ َّاللَّ َّنِإ ْمُهُلْثِم اًذِإ ْمُكَّنِإ ۚ ِهِرْيَغ ٍثيِدََ يِف اًع
“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu wahyu di dalam Al-Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya kalau kamu tetap duduk bersama mereka, tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang munafik dan orang kafir di dalam neraka Jahanam.”
Penistaan agama adalah perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah SWT. Barang siapa yang melakukan penistaan agama, jika ia orang muslim maka ia termasuk orang muslim yang murtad, dan jika ia memang orang kafir maka ia adalah gembong kekafiran atau pemimpin orang kafir. Lantas apakah Ahok termasuk kedalam kategori tersebut?.
Hanya Allah SWT lah yang maha mengetahui segalanya.
7 | Penistaan Agama Bagi Islam dan Hukum di Indonesia
C. PENISTAAN AGAMA MENURUT HUKUM DI INDONESIA
Indonesia adalah Negara hukum. Negara yang menjamin terciptanya keadilan bagi seluruh warganya, sesuai dengan bunyi pancasila sila ke 5 yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam UUD 45 hal ini diterangkan dalam pasal 27 ayat 1
“Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.” Sehingga dalam negara tidak ada yang namanya kekuasaan diatas segalanya, ataupun yang sering kita sebut “Pisau tumpul keatas tajam kebawah”.
Tetapi realita yang terjadi dimasyarakat hukum akan melemahkan orang yang dibawah, dan mengagungkan orang yang diatas. Ini terbukti banyak terjadi dengan adanya kasus-kasus kecil, yang seharusnya itu bisa menggugah hati kita sebagai manusia yang dikaruniai jiwa sosial yang tinggi. Misalnya kasus nenek Asyani yang dituduh mencuri kayu jati milik Perum Perhutani Devisi Regional Jawa Timur. ia dituntut di Pengadilan Negeri Situbondo, Jawa Timur. dan dijatuhi hukuman 1 tahun penjara.
Dimanakah keadilan nenek Asyani?.
Penistaan agama sendiri diatur dalam hukum dalam Pasal 156 dan 156a Undang- Undang Republik Indonesia No. 1 tahun 1946 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, yang dimasukkan pada tahun 1965 dengan Penetapan Presiden No. 1 tahun 1965 Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama Kedalam Kodifikasi Mengenai Delik Agama. Pasal 156 KUHP “Barang siapa di rnuka umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap suatu atau beherapa golongan rakyat Indonesia, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Perkataan golongan dalam pasal ini dan pasal berikutnya berarti tiap-tiap bagian dari rakyat Indonesia yang berbeda dengan suatu atau beberapa bagian lainnya karena ras, negeri asal, agama, tempat, asal, keturunan, kebangsaan atau kedudukan menurut hukum tata negara.”, dan Pasal 156a KUHP “Dipidana dengan pidana penjara selama-lumanya lima tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan: a.
yang pada pokoknya bcrsifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia; b. dengan maksud agar supaya orang tidak
8 | Penistaan Agama Bagi Islam dan Hukum di Indonesia
menganut agama apa pun juga, yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa.”. Sumber http://www.suduthukum.com/2016/11/peraturan-mengenai-tindak-pidana.html
Membahas mengenai keadilan dan penistaan agama. Baru-baru ini yaitu pada selasa (13/12) telah dilaksanakannya sidang perdana mengenai kasus penistaan agama dengan tersangka Calon Gubernur petahana DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama (Ahok) di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan menggandeng lebih dari 80 pengacara. Ia dijerat dengan pasal 156a KUHP. Mahmud Mulyadi, salah satu pakar hukum pidana Universitas Sumatra Utara, saat diwawancarai oleh wartawan BCC Indonesia, dia menjelaskan bahwa pasal 156a KUHP tidak bisa digunakan untuk menjerat Ahok. Karena di pasal tersebut ada dua unsur, yaitu unsur subjektif dan unsur objektif. Unsur objektif lebih kepada perbuatan. Perbuatan di muka umum dengan mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang bersifat permusuhan, atau penyalahgunaan atau juga penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia. Sedangkan subjektif menurut Rumadi, unsur subjektif dari berbagai macam riset, termasuk peneliti dari Amerika.
Defisi penodaan agama tak jelas. Seperti pasal karet yang bisa dikenakan kepada siapa saja, walaupun orang itu tak punya intensi atau niat untuk melakukan penodaan agama, serta apa yang dilakukan menimbulkan kemarahan sejumlah orang, masyarakat dibuat resah. Keresahan itu yang dijadikan alasan orang ini melakukan penodaan agama.
Sedangkan menurut Kiai Said saat diwawancarai Najwa Shihab, Ahok dinyatakan bersalah atau tidak dalam menistakan agama itu tergantung dari keputusan Bareskrim.
Di dalam persidangan Ahok membantah bahwa ia telah menistakan agama Islam melalui QS Al Maidah [5]; 51, seperti yang telah dituduhkan banyak orang. Ia beranggapan bahwa ini merupakan srategi para elit politik yang takut kalah jelang pemilihan kepala daerah (pilkada). Ia juga mengutip salah satu bagian dari bukunya yang berjudul “Berlindung di Balik Ayat Suci” terbitan 2008. Yang menjelaskan selama karir plitiknya mulai dari mendaftarkan diri menjadi anggata salah satu partai partai politik hingga ia menjadi seorang gubernur, ada sebuah ayat kitab suci yang digunakan untuk memecah belahkan rakyat. Dengan tujuan memuluskan jalan untuk mencapai puncak kekuasaan. Cara yang melibatkan suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) akan menyia-nyiakan SDM dan ekonomi suatu daerah, serta menyebabkan suatu daerah sulit mendapatkan pemimpin yang terbaik.
9 | Penistaan Agama Bagi Islam dan Hukum di Indonesia
Ahok menyatakan bahwa dirinya tak mungkin menistakan Islam, karena ia dibesarkan dilingkungan muslim yang taat beragama, dan ia telah diangkat anak oleh keluarga pasangan muslim H. Andi Baso Amier (mantan Bupati Bone) dan Hj. Misribu.
Jika dirinya menistakan agama orang tua angkatnya berarti ia tidak punya rasa terima kasih, dan tidak menghargai agama dan kitab suci orang tua angkatnya tersebut. Ia juga mengaku mendapat amanat dari Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Seorang Gubernur bukanlah pemimpin, melainkan pelayan masyarakat. Inilah yang menjadi bekalnya untuk mengikuti pemilihan kepala daerah. Buktinya ada beberapa daerah pemimpinnya non muslim. Seperti Solo, Kalimantan Barat, dan Maluku Utara. Ia juga menambahkan, selama menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta dua tahun terakhir, telah melakukan kebijakan yang menunjang kemaslahatan umat beragama, terkhusus umat Islam. Seperti membangun Masjid Fatahillah di Balai kota, dan mempercepat jam pulang kerja karyawan pada bulan Ramadhan. Itulah pembelaan yang dilakukan Ahok saat persidangan perdananya. Sumber http://katadata.co.id/berita/2016/12/13/ahok-pernyataan-soal- surat-al-maidah-51-ditujukan-bagi-elit-pengecut
Seorang ahli hukum pidana Teuku Nasrulah mengatakan bahwa telah menjadi yurisprudensi bahwa meskipun pelaku penista agama menyatakan tidak dengan sengaja atau tidak mempunyai maksud untuk menista agama/Tuhan/nabi, namun Mahkamah Agung tetap menghukum yang bersangkutan (Kasus Anggota PKI), asalkan dapat dibuktikan bahwa tulisan, lisan, atau perbuatan orang tersebut dengan menggunakan akal yang layak/sewajarnya/sepatutnya dapat memperkirakan bahwa perbuatannya tersebut dapat berpotensi menimbulkan keresahan/reaksi/gangguan di masyarakat (ketertiban umum). Sumber http://www.calonsh.com/2016/11/23/penistaan-agama-pengaturan-dan- penjelasannya/
Terlepas dari bersalah atau tidaknya Ahok tergantung pada keputusan hukum yang berlaku, biarkan hukum yang berbicara. Hukum harus mengambil keputusan dengan sebaik-baiknya, dan seadil-adilnya. Jangan biarkan kekuasaan menguasai hukum, hukumlah yang harus menguasai kekuasaan. Karena kita tinggal di negara yang sarat akan hukum.
10 | Penistaan Agama Bagi Islam dan Hukum di Indonesia D. DAMPAK PENISTAAN AGAMA
Setiap perbuatan yang dilakukan selalu ada konsekuensi atau dampaknya, baik itu dibidang sosial, ekonomi, politik, budaya dan bidang-bidang lainnya. setelah penulis membahas mengenai penistaan agama menurut Islam dan Hukum. Kali ini penulis akan membahas apa saja dampak dari penistaan agama, terutama penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok.
Inilah beberapa dampak negatif dari kasus penistaan agama Ahok:
1. Dari segi ekonomi. Akibat dari aksi Damai 4 November 2016 lalu. Menurut Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Bidang Hubungan Internasional Shinta Widjaya. Aksi tersebut menimbulkan kerugian Rp. 2,9 Triliun, karena penurunan konsumsi masyarakat sebesar 60 persen, penurunan aktivitas 30 persen. serta kerugian omset sebesar Rp. 500 Miliar karena 20 ribu pemilik toko memilih untuk menutup toko mereka.
2. Dari segi politik. Menurunnya elektabilitas pasangan CaGub dan CaWaGub DKI Jakarta Ahok- Djarot . ini terbukti mulai munculnya resistensi dari massa yang beberapa kali terjadi saat mereka berkampanye. Hal tersebut mengganggu efektivitas kampanye mereka dan akan menjadi peluang baik bagikedua rivalnya Agus-Sylvi dan Anies-Sandi.
3. Dari segi sosial. Aksi damai berujung rusuh dan ricuh terjadi saat detik-detik menjelang pembubaran, karena lambannya penanganan kasus Ahok. Kerusuhan ini berawal dari adanya penyusup yang masuk ke barisan massa untuk melakukan provokasi agar massa melawan petugas yang kokoh dengan pagar betisnya agar bisa masuk ke dalam Istana Negara, sehingga menyebabkan polisi meakukan tindak kekerasan, dengan menyemprotkan water canon dan menembakkan senapannya kearah massa.
Tidak hanya dampak negatif saja yang muncul dari kasus penistaan agama Ahok, tetapi kasus ini juga memiliki dampak positif atau hikmah yang bisa kita gunakan sebagai pembelajaran dalam hidup, antara lain sebagai berikut.
1. Mengajarkan kita untuk berhati-hati dalam mengucapkan sesuatu. Karena mulutmu adalah harimaumu.
11 | Penistaan Agama Bagi Islam dan Hukum di Indonesia
2. mengingatkan kita untuk semakin memperkokoh komitmen kepada Al-Quran, mulai dari bisa membaca, rajin membaca, memahami hingga mengamalkan dan mendakwahkannya.
3. kita harus berusaha untuk menjalani hidup sebagaimana petunjuk-petunjuk yang terdapat di dalam Al-Qur’an, ini berarti kita hidup di bawah naungan Al-Qur’an sehingga hidup kita menjadi bersih. Sumber http://nadi.or.id/?p=1542
12 | Penistaan Agama Bagi Islam dan Hukum di Indonesia
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari semua yang telah penulis bahas mengenai penistaan agama. Terutama penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahja Purnama (Ahok) mengenai Al Qur’an surah Al Maidah [5]: 51;
ْنَمَو ۚ ٍضْعَب ُءاَيِلْوَأ ْمُهُضْعَب ۘ َءاَيِلْوَأ ٰىَراَصَّنلاَو َدوُهَيْلا اوُذِخَّتَت َلَ اوُنَمآ َنيِذَّلا اَهُّيَأ اَي َّنِإَف ْمُكْنِم ْمُهَّلَوَتَي
ْمُهْنِم ُهُ
َنيِمِلاَّظلا َمْوَقْلا يِدْهَي َلَ َ َّاللَّ َّنِإ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.
Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”
Ia mengatakan bahwa kita telah dibodohi dan dibohongi oleh ayat tersebut. Maka dapat penulis simpulkan bahwa penistaan agama merupakan suatu tindakan atau ucapan menghina, mencaci, menodai, merendahkan mecaci maki Allah SWT, atau Rasulullah SAW, atau agama islam adalah orang yang kafir murtad jika sebelumnya ia adalah seorang muslim. Kekafiran orang tersebut adalah kekafiran yang berat, bahkan lebih berat dari kekafiran orang kafir asli seperti Yahudi, Nasrani dan orang-orang musyrik.
Jika sejak awal ia adalah orang kafir asli, maka tindakannya menghina, melecehkan dan mencaci maki Allah SWT, atau Rasulullah SAW atau agama Islam berarti bahwa ia telah menempatkan dirinya sebagai gembong kekafiran dan pemimpin orang kafir.
13 | Penistaan Agama Bagi Islam dan Hukum di Indonesia
Sedangkan menurut hukum kasus Ahok ini dijerat dengan pasal 156a KUHP yang bunyinya “Dipidana dengan pidana penjara selama-lumanya lima tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan: a.
yang pada pokoknya bcrsifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia; b. dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apa pun juga, yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa.”.
Terlepas dari benar atau salahnya Ahok hanya Allah SWT lah yang maha mengetahuinya. Tetapi karena kita hidup di dunia dan menganut hukum yang ada di dunia, penulis berharap agar kasus ini bisa berjalan degan seadil-adilnya, tak ada kata kekuasaan mengalahkan hukum, yang hanya ada hukum hukum yang mengalahkan kekuasaan.
Dampak yang diakibatkan kasus ini sangat beragam, baik berupa dampak positif maupun dampak negatif, yang tentunya dapat kita jadikan pembelajaran di dalam kehidupan, yang akan menjadikan diri kita sebagai diri yang lebih baik dari sebelumnya.
Semoga apa yang dituliskan didalam bisa diterima dengan baik, dan manakala dalam makalah ini penulis menyinggung perasaan pihak-pihak tertentu, atau orang-orang tertentu, serta jika dimakalah ini terdapat banyak kesalahan penulisan dan bahasa penulis meminta maaf yang sebesarnya, karena penulis ini hanyalah manusia biasa yang tak akan pernah luput dari kesalahan.
14 | Penistaan Agama Bagi Islam dan Hukum di Indonesia
DAFTAR PUSTAKA
“Inilah Kasus-Kasus Penistaan Agama Di Indonesia, Subjektif dan Ada Tekanan Massa”, http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-38001552, diakses 16 Desember 2016.
“Apakah Ahok Menista Agama? Ini Penjelasan Ketua PBNU”, dalam http://www.nu.or.id/post/read/72619, diakses 16 Desember 2016.
“Ahok: Pernyataan Soal Surat Al Maidah 51 Bagi Elit Pengecut”, dalam http://katadata.co.id/berita/2016/12/13/, diakses pada 16 Desember 2016.
“Pamit Kepada JK Ahok Dinasehati Jaga Tutur Kata”, dalam http://www.republika.co.id/berita/nasional/pilkada/16/10/26/ofnft0301, diakses pada 18 Desember 2016.
“Dampak Sosial Pembiaran Terhadap Penistaan Agama”, dalam https://fokusislam.com/5605.html, diakseses pada 18 Desember 2016.
“Membaca Peta Politik Pilkada DKI Pasca Demonstrasi 4 November 2016”, dalam https://www.seword.com/politik/, diakses pada 18 Desember 2016.
“Khutbah Jum’at; Hikmah Dibalik Fenomena Penistaan Agama (2)”, dalam http://nadi.or.id/?p=1542, diakses pada 18 Desember 2016.
“5 Dampak Kasus Ahok Mulai Dari Demo Hingga Tersangka Ke Ekonomi RI”, dalam https://www.merdeka.com/uang/.html, diakses pada 18 Desember 2016.
“Penistaan Agama dan Penjelasannya”, dalam http://www.calonsh.com/2016/11/23/, diakses pada 18 Desember 2016.
“Peraturan Mengenai Tindak Pidana”, dalam
http://www.suduthukum.com/2016/11/.html, diakses pada 18 Desember 2016.
“Hukum Menghina Al-Qur’an Menurut Islam”, dalam
http://www.delemonspiritual.com/2015/07/.html, diakses pada 18 Desember 2016.
“5 Al Maidah Ayat 51”, dalam http://tafsirq.com, diakses 18 Desember 2016.