• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

Setiap agama mempunyai karakteristik yang membedakannya dari agama-agama yang lain.

Apa sajakah karakteristik islam? Agama yang kita dakwahkan dengan sungguh-sungguh dan diharapkan bisa menyelamatkan dunia yang telah terpecah-pecah dalam beberapa blok yang saling mengintai dan dilanda berbagai krisis yang belum diketahui bagaimana cara mengatasinya?

Oleh pembahasan yang terbatas lingkup dan halamannya ini. Kami mengkaji karakteristik, yang membuatnya menjadi risalah Tuhan yang terakhir dan menjadi agama yang diridhoi Allah untuk dunia dan seluruh umat manusia sampai datangnya hari kiamat.

Oleh karena itu, di sini kami mencakupkan diri untuk membahas secara ringkas beberapa karakteristik dan substansi yang dimiliki islam. Yaitu mengajarkan kesatuan agama, kesatuan politik, kesatuan sosial, agama yang sesuai dengan akal dan fikiran, agama fitrah dan kejelasan, agama kebebasan dan persamaan, serta agama kemanusiaan. Karena semua karaktristik inilah islam merupakan agama untuk seluruh alam yang rahmatan lil alamin. Islamlah yang menetapkan hak-hak manusia.

Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang menjadi latar belakang pentingnya mengetahui karakteristik Islam tersebut di atas, dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut:

- Apakah definisi Islam?

- Apa karakteristik Islam?

Tujuan

- Memberikan informasi/ pengetahuan lebih mendalam tentang karakteristik Islam - Mempertebal keimanan sebagai seorang muslim yang baik

Manfaat

- Sebagai landasan untuk bisa mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

(2)

BAB II PEMBAHASAN

A. Definisi Islam

Dari segi kebahasaan Islam berasal dari bahasa arab, yaitu dari kata “salima” yang mengandung arti selamat,sentosa dan damai. Dari kata “salima” yang selanjutnya diubah menjadi bentuk “aslam” yang berarti berserah diri masuk dalam kedamaian. (Prof.Dr. H.

Abuddin Nata,M.A. 2004. Hlm.61-62)

Islam adalah agama kebenaran, melingkupi segala kode kehidupan, yang diwahyukan oleh Tuhan Yang Maha Menciptakan dan penguasa Seluruh Alam kepada manusia agara dijadikan tuntunan hidup. (Khurshid Ahmad dkk.1989. hlm. 14)

Dengan itu maka islam pada asasnya adalah agama perdamaian dan ajarannya yang pokok adalah keesaan Tuhan dan keesaan semua umat manusia. (H.A. Mukti Ali. 1990. Hlm. 50)

Nama islam bukan nama yang lahir berdasarkan nama pendirinya seperti agama budha karena tokoh yang mendirikan Budha adalah Budha Gautama atau yang lainnya. Nama islam bukan berdasarkan nama tempat kelahiran tokoh seperti halnya agama Hindu karena lahir di India, Hindia, Hindustan, yakni lembah atau seberang sungai Indus juga bukan berdasarkan kebangsaan, kesukuan atau dinasti. Tetapi nama Islam itu khusus pemberian dari Allah dan telah menjadi nama sebuah Rasul terkhir. Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Bukanlah sebuah agama yang baru karena semua agama yang diturunkan dari Allah SWT. Memiliki nama Islam yang intinya adalah “ menyerahkan diri secara bulat hanya kepada Allah”. Para nabi atau para Rasul sebelumnya juga beragama Islam. Karena bertauhid pada yang satu yaitu kepada Allah SWT. Jadi Islam merupakan agama yang universal ,karena berasal dari Dzat yang menguasainya, mengatur dan memelihara sekalian alam. Ajaran islam dimaksudkan untuk seluruh umat manusia bukan hanya untuk kelompok tertentu saja, karena nabi Muhammad diutus untuk seluruh umat manusia dimana diterangkan dalam Q.S Al- Anbiya’ ayat 107 yang artinya “ Dan Kami tidak mengutus engkau wahai Muhammad melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam”. (Prof. Dr. Muhaimin.2005. hlm.66-67).

(3)

Syariat islam merupakan ajaran islam yang mengajarkan amalan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah maupun hamba Allah S.W.T. Islam juga berarti mentauhidkan Allah, patuh dan tunduk kepada-Nya serta mematuhi semua ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad S.A.W dan Islam mencakup antara Aqidah-Syariat-Akhlak.

B. Karakteristik Islam

Islam memiliki banyak karakteristik yang mendasar, yang menjadi pilar keagungan Islam sebagai agama samawi yang diridhai. Karakteristik tersebut, diantaranya sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Yusuf Qardhawi ada tujuh yaitu rabbaniyah (ketuhanan), insaniah (kemanusiaan), syumuliyah (universal), wasatiyyah (keseimbangan), waqi‟iyyah (realistik), wudhuh (jelas), menyatukan antara tathawwur (transformatif) dan tsabat (konsisten).

Sementara menurut Dr. Abdul Aziz Ibn Muhammad Ibn Ibrahim Al-Awid ada tiga belas karakteristik Islam, yaitu al-din ar-rabbani (agama yang berketuhanan), al-din al-haq (agama yng benar), al-din al- wadhih (agama yang jelas), dinul fitrah (agama yang sesuai fitrah), din al-aql (agama yang sesuai akal sehat), al-din al-ma‟shum (agama yang terjaga), din al- rahmah (agama kasih sayang), al-din al-wasath (agama yang seimbang), din al-mashalih (agama untuk kemaslahatan), din al-yusr wa al-samahah (agama yang memberikan kemudahan-kemudahan), din al-adl (agama keadilan), din al-akhlak (agama akhlak). Dari karakteristik tersebut, hanya akan dijelaskan sebagian saja sebagaimana dalam uraian berikut ini.

1. Islam sebagai agama yang benar (din al-haq)

Islam adalah agama yang sempurna, yang diturunkan di muka bumi ini. Dengannya Allah memerintahkan kepada manusia agar menjadikannya sebagai pedoman hidup (way of life), supaya terwujud kebahagian di dunia dan akhirat.

َم ْوَيْل تْلَمْكَأ ْم كَل ْم كَنيِد تْمَمْتَأ َو ْم كْيَلَع يِتَمْعِن تي ِضَر َو م كَل َم َلَْسِ ْلْا اًنيِد ا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku- cukupkan kepadamu nikmat Ku, dan telah Ku-ridhai islam itu jadi agama bagimu" (QS. Al-Ma'idah: 3)

(4)

Kesempurnaan Islam tersebut sebagai bukti bahwa Islam adalah agama wahyu yang benar dan telah diridhai oleh Allah Jalla wa 'alaa, sebagaimana yang Allah Ta'ala firmankan dalam kitab-Nya:

نِإ َنيِ دلا َدْنِع ِ اللّ م َلَْسِ ْلْا

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” ( QS. al- Imran: 19)

2. Islam sebagai agama rabbaniyah

Rabbaniyah berasal dari kata Rabb (Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha Pencipta dan Pemelihara). Kata ini terulang sebanyak 3 kali dalam Al-Qur`ān, yaitu QS. al-Maidah ayat 44

& 63, QS. Ali `Imran ayat 79. Rabbaniyah dalam tiga ayat tersebut dimaksudkan untuk penisbatan sesuatu yang bersumber dari Allah yang berupawahyu. Islam sebagai agama rabbaniyah berarti Islam selalu berorientasi kepada wahyu Allah dalam segala hal, baik duniawi maupun ukhrawi.

ْنِإَف ْم تْعَزاَنَت يِف ءْيَش هوُّد رَف ىَلِإ ِ اللّ ِلو س رلا َو ْنِإ ْم تْن ك َنو نِمْؤ ت ِ للّاِب ِم ْوَيْلا َو ِر ِخ ْلْا ۚ َكِلََٰذ رْيَخ نَسْحَأ َو ًلَيِوْأَت

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS.

Al-Nisâ: 59)

Ayat di atas secara tegas memerintahkan kepada kita agar senantiasa kembali kepada Al- Qur‘an dan As-Sunah dalam menangani segala urusan, baik yang sifatnya duniawi maupun ukhrawi. Hal itu menunjukkan bahwa Islam selalu berorientasi kepada wahyu dan inilah yang dimaksud karakter rabbaniyah yang melekat pada agama Islam.

Rabbaniyah meliputi dua hal, yaitu Rabbaniyah Al-Masdar dan Rabbaniyah Al- Ghayah.

Rabbaniyah Al-Masdar: (Rabbaniyah dalam sumber ajaran). Maksudnya adalah sumber teologi Islam adalah wahyu, bukan produk budaya, bukan pula rekayasa manusia, Ia tidak

(5)

bersumber dari ilmu-ilmu dari Timur dan pengetahuan dari Barat. Tapi sesungguhnya ia adalah mukjizat yang bersumber langsung dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah berfirman,

“Wahai manusia,sunguh telah dating kepada kalian wahyu dri Rabb kalian, dan kami telah menurunkan pada kalian cahaya yang terang.” (QS. An-Nisa: 174)

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Qur‟an dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)

Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda,

“Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Baihaqi)

Rabbaniyah Al-Ghayah: (Rabbaniyah dalam tujuan). Maksudnya, tujuan semua ibadah dalam Islam hanya untuk mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala, bukan karena kepentingan selain Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hal itu sebagaimana dijelaskan dalam Al- Qur‘an dan As-Sunah sebagai berikut:

ْنَمَف َناَك و ج ْرَي َءاَقِل ِهِ بَر ْلَمْعَيْلَف ًلََمَع اًحِلاَص َل َو ْك ِرْش ي ِةَداَبِعِب ِهِ بَر اًدَحَأ

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah dia mengerjakan amal shalih dan janganlah dia mempersekutukan seorangpun dengan Rabb- nya.” (QS. Al Kahfi: 110)

اَم َو دَحَ ِلِ هَدْنِع ْنِم ةَمْعِن َٰىَزْج ت لِإ َءاَغِتْبا ِهْج َو ِهِ بَر َٰىَلْعَ ْلِا

“Padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, Tetapi (Dia memberikan itu semata-mata) Karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi.” (QS. Al-Lail: 19–20)

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

(6)

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menerima amal perbuatan, kecuali yang ikhlas dan dimaksudkan (dengan amal perbuatan itu) mencari wajah Allah.” (HR. Nasa’i)

3. Islam sebagai agama yang berimbang (wasatiyah)

Islam merupakan agama yang memiliki konsep wasatiyah, yakni selalu berada pada jalan tengah diantara dua jalan ekstrim, tidak tasaddud (memperberat diri) dan tidak pula tasahhul (meringankan diri), tidak berlebih-lebihan (israf), tidak pula melampaui batas (ghuluw), sehingga tercapai sikap adil dan lurus, yang akan menjadi saksi atas seluruh manusia.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

َكِلََٰذَك َو ْم كاَنْلَعَج ًة م أ اًطَس َو او نو كَتِل َءاَدَه ش ىَلَع ِسا نلا َنو كَي َو لو س رلا ْم كْيَلَع اًديِهَش

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS. Al-Baqarah: 143)

Wasatiyah dalam Islam dapat dilihat dari konsep beribadah di dalamnya. Islam mengajarkan umatnya agar senantiasa berada pada sikap pertengahan, yakni tidak ghuluw (berlebih- lebihan), tidak pula tasahhul (meringankan diri). Karena sikap ghuluw akan menjadikan pelakunya pada kerusakan, sementara sikap tasahhul akan membawa pelakunya pada kemalasan.

Adapun hadits-hadits yang menjelaskan dalam masalah ini, diantaranya adalah hadits dari Abdullah bin Mas‘ud, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

“Benar-benar binasa orang-orang yang bersikap tanaththu‟.” Beliau mengulangi pernyataan ini sebanyak tiga kali.” (HR. Muslim)

Yang dimaksud orang-orang yang bersikap tanaththu , dalam hadist tersebut adalah mereka yang berlebih-lebihan, bersikap ghuluw, dan melampaui batas dari yang telah ditentukan. Baik di dalam ucapan ataupun perbuatan. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam pernah

(7)

meluruskan tiga orang laki-laki yang berlebih- lebihan dalam masalah ibadah, orang pertama berkata: ―Aku akan puasa terus menerus dan tidak akan berbuka.|| Yang kedua berkata: ―Aku akan shalat malam, tidak akan tidur.|| Dan orang ketiga berkata: ―Aku tak akan menikah dengan wanita.|| Ketiganya menyangka bahwa berpuasa terus menerus, tidak menikah dan tidak tidur di malam hari untuk mengerjakan shalat akan mendatangkan maslahat bagi mereka, namun hal ini ditolak oleh Rasulullah

Shalallahu 'Alaihi wa Sallam melalui hadits beliau:

“Kalian yang berkata demikian dan demikian, ketahuilah aku adalah orang yang paling takut di antara kalian kepada Allah dan paling bertakwa. Akan tetapi aku shalat malam dan tidur, aku berpuasa serta berbuka, dan aku menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci sunnahku maka, maka ia tidak termasuk golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

“Sesungguhnya agama Islam ini mudah. Tidak ada seorang pun yang memberat-beratkan dirinya dalam beragama melainkan dia tidak mampu menjalankannya.” (HR. Al-Bukhari)

Hadist tersebut secara tegas menerangkan bahwa sikap berlebih-lebihan dalam Ibadahakan mengantarkan pelakunya kepada kejenuhan. Tidak hanya itu,berlebih-lebihan (ghuluw) juga merupakan penyebab rusaknya umat terdahulu.

4. Islam sebagai agama yang komprehensip (Syumuliyah)

Islam merupakan agama yang komprehensip (syumuliyah) yang mencakup seluruh aspek kehidupan umat manusia, mulai dari urusan individu, keluarga, sosial kemasyarakatan sampai pada persoalan-persoalan berbangsa dan bernegara, baik yang sifatnya duniawi, maupun ukhrawi.

اَنْل زَن َو َكْيَلَع َباَتِكْلا اًناَيْبِت ِ ل كِل ءْيَش

“Dan Kami turunkan kepadamu al-kitab untuk menjelaskan segala sesuatu.”

(QS.Al-Nahl: 89)

(8)

Kesempurnaan Islam ini ditandai dengan hal-hal berikut ini,

a) Syumuliyah li As-Tsaqalain (mencakup untuk jin dan manusia), artinya risalah Islam ditujukan kepada bangsa jin dan manusia.

“Tidak Aku ciptakan jin dan Manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (QS.

Adz –Dzariyat: 56 )

b) Syumuliyah az-zaman (sepanjang masa), yaitu Islam berlaku sepanjang masa hingga hari kiamat.

Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu 'anhu dia berkata Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda,

“perumparnaan diriku dan para nabi seperti seorang yang membangun sebuah rumah. Dia menyelesaikannya dan memperindahnya kecuali tersisa pemasangan sebuah bata. Lalu orang yang masuk ke dalamnya dan melihatnya berkata, 'Alangkah bagusnya rumah ini. Sayang bata ini belum dipasang.' Akulah pemasang bata tersebut. Aku dijadikan penutup bagi seluruh nabi.” (HR. Ahmad)

c) Syumuliyah al‑makan (semua tempat), yaitu risalah Islam tidak hanya untuk masyarakat lokal seperti bahasa Arab saja, tetapi mencakup seluruh alam.

“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta.” (QS. Al Anbiya: 107)

d) Syumuliyah al‑manhaj (pedoman hidup)

“Sesungguhnya Al Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus, dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yag beriman, yang mengerjakan amal shaleh, bahwa bai mereka pahala yang besar.” (QS.Al- Isra’: 9)

e) Syumuliyah al-Daraini (mencakup dunia dan akhirat)

(9)

“Dan carilah pada apa yg telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bahagianmu di dunia dan berbuat baikklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi ini.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yg berbuat kerusakan.‖ (QS. Al-Qashas: 77) 5. Islam sebagai agama fitrah

Islam adalah agama fitrah, karena Islam datang untuk menjaga dan melindungi fitrah manusia.

Hal itu tampak jelas dari tujuan ditetapkanya syari‘at Islam (maqasid al-syari‟ah) yaitu untuk mewujudkan kebaikan sekaligus menghindarkan keburukan, atau menarik manfaat dan menolak mudharat, atau dengan kata lain adalah untuk mencapai kemaslahatan, karena tujuan penetapan hukum dalam Islam adalah untuk menciptakan kemaslahatan dalam rangka memelihara tujuan-tujuan syara. Fitrah Islam tersebut sebagaimana dijelaskan oleh Allah Azza wa Jalla dalam firman-Nya:

ْمِقَأَف َكَهْج َو ِنيِ دلِل اًفيِنَح ۚ َتَرْطِف ِ اللّ يِت لا َرَطَف َسا نلا اَهْيَلَع ۚ َل َليِدْبَت ِقْلَخِل ِ اللّ ۚ َكِلََٰذ نيِ دلا مِ يَقْلا نِكََٰل َو َرَثْكَأ ِسا نلا َل َنو مَلْعَي

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan. Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Ar- Ruum: 30)

Ayat di atas secara tegas menyandingkan antara fitrah dengan Islam. Itu artinya fitrah merupakan salah satu karakter Islam yang asasi yang tak terpisahkan antara keduanya.

Karena fitrah pada asalnya diletakkan untuk makna tauhid, yang mana tauhid ini merupakan inti ajaran Islam. Ibn Katsir berkata:

Berpegang teguh atas syariah dan fitrah yang selamat merupakan inti agama yang lurus.

(10)

Islam sebagai agama fitrah ini sesuai dengan fitrah bawaan lahir manusia. Manusia pada fitrahnya adalah suci dan bertauhid, tidak membawa warisan dosa dari ayah ibunya dan tidak pula bercampur dengan kesyirikan

يِ نِإ تْه ج َو َيِهْج َو يِذ لِل َرَطَف ِتا َواَم سلا َض ْرَ ْلِاَو اًفيِنَح ۖ اَم َو اَنَأ َنِم َنيِك ِرْش مْلا

“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku dengan lurus (hanif), kepada Dzat yang menciptakan (fithara) langit dan bumi, dan aku bukanlah orang-orang yang menyekutukan (Tuhan).” (QS. Al-An’am: 79)

Kata fitrah dalam konteks ayat ini (fathara) dikaitkan dengan pengertian hanif, yang memiliki pengertian kecenderungan kepada agama yang benar. Istilah ini dipakai Al-Qur‘an untuk menggambarkan sikap tauhid Nabi Ibrahim Alahisallam yang menolak menyembah berhala, binatang, bulan atau matahari, karena semua itu tidak patut untuk disembah. Yang patut disembah hanyalah Dzat pencipta langit dan bumi. Inilah agama yang benar.

Dalam kajian hadist, fitrah yang hanif disandang oleh setiap manusia yang dilahirkan di muka bumi ini. Adapun penyimpangan-penyimpangan yang terjadi, diakibatkan pengaruh syahwat dan syubhat yang mendominasi pada diri manusia. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

“Tidaklah dilahirkan seorang anak melainkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua ibu bapanyalah yang meyahudikannya atau menasranikan-nya atau memajusikannya.”

(HR.Muslim)

6. Islam untuk kemaslahatan umat (din al-mashalih)

Islam tidak bisa lepas dari konsep tentang maqasid al-syariah yaitu tujuan dan maksud dari adanya sebuah syariah. Konsep ini berfungsi untuk menjaga kemaslahatan bagi manusia, baik duniawi maupun ukhrawi. Maqasid al-syari‟ah terebut diwujudkan dalam lima pilar agung, yaitu menjaga agama (hifdz al-din), jiwa (hifdz al-nafs), akal (hifdz al-aql), keturunan (hifdz al-nasl), dan harta (hifdz al-mal).

Referensi

Dokumen terkait

SASARAN INDIKATOR SASARAN STRATEGI KEBIJAKAN ARAH PROGRAM INDIKATOR KINERJA AWAL 2013 KONDISI AKHIR 2018 KONDISI PD RANGAN KETE- Meningkatnya Partisispasi Masyarakat dalam

Tindak pelanggaran kode etik oleh humas Presiden AS dalam film Wag The Dog tersebut dilakukan secara berkelanjutan di media massa untuk menutupi kebohongan demi kebohongan

(2014) menyatakan bahwa pemberian jintan hitam dan stres panas dalam pakan ayam tidak dapat memberikan pengaruh yang nyata tetapi ada sedikit perbedaan terhadap

66 dan anak, maupun upaya dominasi terhadap kelompok atau individu lain yang dianggap lebih lemah (Kurniawan, 2011). Masyarakat menganggap kekerasan atau hal negatif

Akan tetapi hak cipta juga dapat didaftarkan, namun tidak menjadi kewajiban bagi pencipta untuk mendaftarkan asil karya ciptaanya (Atsar, 2017). Pendaftaran hak cipta ini

Berdasarkan hasil penelitian pada cawan petri I, diameter zona hambat yang terbentuk pada area kertas saring ekstrak daun binahong sebesar 10,3 mm 2 , zona hambat

Secara umum, pola jamkesda yang di setiap provinsi memiliki karakteristik jaminan kesehatan yang sangat beragam dan berbeda dari sisi kelayakan dan pendalaman

Kemudian ditinjau dari aspek tujuh indikator pemahaman konsep pada daya serap siswa bahwa daya serap tertinggi terdapat pada indikator mengklasifikasikan dengan