SKRIPSI
PENGARUH CURRENT RATIO (CR), DEBT TO EQUITY RATIO (DER), DAN RETURN ON EQUITY (ROE) TERHADAP HARGA SAHAM
PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR INDUSTRI MAKANAN DAN MINUMAN YANG TERDAFTAR
DI BURSA EFEK INDONESIA
OLEH
Chrystine Anggrainy Sidabutar 100522166
PROGRAM STUDI AKUNTANSI DEPARTEMEN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan dengan sesungguhnya
bahwa skirpsi saya yang berjudul “Pengaruh Current Ratio (CR), Debt to Equity
Ratio (DER) dan Return On Equity (ROE) terhadap Harga Saham pada Perusahaan
Manufaktur Industri Makanan dan Minuman yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”
adalah benar hasil karya tulis saya sendiri yang disusun sebagai tugas akademik guna
menyelesaikan beban akademik pada Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
Bagian atau data tertentu yang saya peroleh dari perusahaan atau lembaga,
dan/atau saya kutip dari hasil karya orag lain telah mendapat izin, dan/atau dituliskan
sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.
Apabila kemudian hari ditemukan adanya kecurangan dan plagiat dalam
skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan yang berlalu.
Medan, Oktober 2012
NIM : 100522166
KATA PENGANTAR
Puji Tuhan karena berkat pertolongan Nya peneliti dapat menyelesaikan
penyusunan skripsi ini yang berjudul “Pengaruh Current Ratio (CR), Debt to Equity
Ratio (DER) dan Return On Equity (ROE) terhadap Harga Saham pada Perusahaan
Manufaktur Industri Makanan dan Minuman yang Terdaftar di Bursa Efek
Indonesia”. Peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna dan masih
banyak kekurangan dalam penyajiannya karena kemampuan yang masih terbatas.
Penulis dengan rendah hati akan menerima saran-saran dan petunjuk yang bersifat
membangun yang ditujukan untuk lebih menyempurnakan skripsi ini.
Terima kasih yang tak terhingga kepada Ayahanda (Alm.) Ir. Dohar Sidabutar
dan Ibunda Sarina S.J. Sianipar yang telah banyak sekali memberi bantuan, motivasi
dan kasih sayang yang tak terhingga kepada peneliti. Selama Peneliti menjalani masa
perkuliahan di Fakultas Ekonomi USU dan menyusun Skripsi ini, peneliti banyak
memperoleh pendidikan, bimbingan dan bantuan baik secara moril maupun materil
dari berbagai pihak. Untuk itu, dengan hati yang tulus Penulis mengucapkan
terimakasih kepada:
1. Bapak Drs. Jhon Tafbu Ritonga, M,Ec, selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Dr. Syafruddin Ginting Sugihen, MAFIS, Ak., dan Bapak Drs. Hotmal
Jafar, MM, Ak., selaku Ketua dan Sekretaris Departemen Akuntansi Fakultas
3. Bapak Drs. Firman Syarif, M.Si, Ak., selaku Ketua Program Studi Akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
4. Ibu Dra. Mutia Ismail, MM, Ak., selaku Sekretaris Program Studi Akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara sekaligus Dosen Pembaca
Penilai yang telah memberikan saran dan kritik kepada peneliti dalam
penyusunan skripsi ini.
5. Bapak Drs. Chairul Nazwar M.Si, Ak., selaku Dosen Pembimbing yang telah
memberikan petunjuk, pengarahan, bimbingan dan bantuan dari awal sampai
selesainya skripsi ini.
6. Kepada Kakak Cindhy N. Sidabutar Amd., Adik (Citra G.A.Sidabutar Amd.,
dan Irvando D.Sidabutar) serta teman-teman dekatku (Daniel F. Siahaan,
Fanny, Natalia) dan kepada orang yang tidak dapat disebut satu persatu yang
secara langsung maupun tidak langsung. Terimakasih untuk dukungan dan
doa kalian.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, untuk itu
Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan
skripsi ini. Akhir kata, semoga skripsi ini bermanfaat bagi Pembaca.
Medan, Oktober 2012 Penulis
ABSTRAK
PENGARUH CURRENT RATIO (CR), DEBT TO EQUITY RATIO (DER),DAN RETURN ON EQUITY (ROE) TERHADAP HARGA SAHAM
PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR INDUSTRI MAKANAN DAN MINUMAN YANG TERDAFTAR
DI BURSA EFEK INDONESIA
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER) dan Return On Equity (ROE) terhadap Harga Saham pada Perusahaan Manufaktur Industri Makanan dan Minuman yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Desain penelitian yang digunakan adalah desain penelitian asosiatif kausal. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 16 perusahaan manufaktur industri makanan dan minuman yang terdaftar di BEI pada periode 2009-2011 dan yang menjadi sampel penelitian berjumlah 9 perusahaan. Metode purposive sampling digunakan dalam pemilihan sampel. Jenis data dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari website Bei yait Metode pengumpulan data yang digunakan adalah studi dokumentasi. Variabel dependen yang digunakan adalah harga saham, sedangkan variabel independen yang digunakan adalah CR, DER, dan ROE. Penelitian ini menggunakan analisis regresi linear berganda untuk analisis statistik dan model regresi telah diuji terlebih dahulu dalam uji asumsi klasik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial, setiap variabel independen yang diteliti yaitu CR, DER, dan ROE tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Pengujian secara serempak menunjukkan bahwa CR, DER, dan ROE berpengaruh signifikan terhadap harga saham.
ABSTRACT
THE INFLUENCE OF CURRENT RATIO (CR), DEBT TO EQUITY RATIO (DER), AND RETURN ON EQUITY (ROE) TOWARD THE STOCK PRICE OF
FOOD AND BEVERAGES COMPANIES LISTED IN INDONESIA STOCK EXCHANGE
This research aims to analyze the influence of Current Ratio (CR), Debt To Equity Ratio (DER), And Return On Equity (ROE) toward the stock price of food and beverages companies listed in Indonesia Stock Exchange.
The design used in this research in causal associative. Population of this research are 16 food and beverages companies lists in Indonesia Stock Exchange during the period 2009-2011 and the sample consists of 9 companies. Purposive sampling method is used for the sample selection. Data used in this research is secondary data obtained from . Data collection method used was the study documentation. The dependent variable is the stock price, while the independent variables are CR, DER, and ROE. This research uses multilinear regression analysis for statistical analysis and the regression models have firstly been tested in the classical assumption test.
The partially test indicated that, each independent variable (CR, DER, and ROE) does not significantly the stock price. The simultaneously tests of CR, DER, and ROE give a significant influence to the stock price.
DAFTAR ISI
PERNYATAAN ... i
KATA PENGANTAR ... ii
ABSTRAK ... iv
ABSTRACT ... v
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... x
BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang Masalah ... 1
1.2Perumusan Masalah ... 7
1.3Tujuan Penelitian ... 7
1.4Manfaat Penelitian ... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1Tinjauan Teoritis ... 10
2.1.1 Analisa laporan keuangan ... 10
2.1.2 Current Ratio (CR) ... 11
2.1.3 Debt To Equity Ratio (DER) ... 12
2.1.4 Return On Equity (ROE) ... 13
2.1.5 Saham ... 13
2.1.6 Return saham ... 15
2.1.7 Harga saham ... 17
2.1.8 Faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham ... 18
2.1.9 Hubungan antara rasio keuangan dengan harga saham... 20
2.2Tinjauan Penelitian Terdahulu ... 21
2.3Kerangka Konseptual ... 23
2.4Hipotesis ... 24
BAB III METODE PENELITIAN 3.1Jenis Penelitian ... 26
3.2Jenis dan Sumber Data ... 26
3.3Populasi dan Sampel Penelitian ... 27
3.4Metode Pengumpulan Data ... 29
3.5Defenisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 30
3.6Metode Analisis Data... 31
b.Uji multikolinearitas ... 32
c. Uji heterokedastisitas ... 33
d.Uji autokorelasi ... 34
3.6.2 Pengujian hipotesis ... 34
a. Koefisien determinasi (R2) ... 35
b.Uji signifikansi serempak ... 35
c. Uji signifikansi parsial... 36
BAB IV METODE PENELITIAN 4.1Data Penelitian ... 38
4.1.1 Pengelompokan sampel ... 38
4.1.2 Variabel Current Ratio ... 38
4.1.3 Variabel Debt To Equity Ratio ... 39
4.1.4 Variabel Return On Equity ... 39
4.1.5 Variabel harga saham ... 39
4.2Analisis Data Penelitian ... 40
4.2.1 Analisis statistik dekriptif ... 40
a. Statistik deskriptif variabel current ratio ... 41
b.Statistik deskriptif variabel debt to equity ratio... 41
c. Statistik deskriptif variabel return on equity ... 41
d.Statistik deskriptif variabel harga saham ... 42
4.2.2 Pengujian asumsi klasik ... 42
a. Uji normalitas data ... 42
b.Uji multikolinearitas ... 45
c. Uji heterokedastisitas ... 46
d.Uji autokorelasi ... 47
4.2.3 Pengujian hipotesis penelitian ... 49
a. Koefisien determinasi (R2) ... 50
b.Uji signifikansi serempak ... 51
c. Uji signifikansi parsial... 52
4.3Pembahasan Hasil Analisis Penelitian ... 53
BAB V KESIMPULAN, KETERBATASAN, DAN SARAN 5.1Kesimpulan ... 56
5.2Keterbatasan ... 57
5.3Saran ... 58
DAFTAR PUSTAKA ... 60
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
Tabel 2.1 Ringkasan Tinjauan Penelitian Terdahulu... 22
Tabel 3.1 Daftar Popuasi Perusahaan ... 28
Tabel 3.2 Daftar Sampel Perusahaan ... 29
Tabel 3.3 Defenisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 31
Tabel 3.4 Kriteria Keputusan Autokorelasi ... 34
Tabel 4.1 Sampel Penelitian ... 38
Tabel 4.2 Hasil Statistik Deskriptif ... 40
Tabel 4.3 Hasil Uji Normalitas Data ... 43
Tabel 4.4 Hasil Uji Multikolinearitas ... 45
Tabel 4.5 Hasil Uji Heterokedastisitas ... 46
Tabel 4.6 Hasil Uji Autokorelasi ... 48
Tabel 4.7 Interpretasi Nilai Durbin Watson ... 48
Tabel 4.8 Hasil Regresi Linear Berganda ... 49
Tabel 4.9 Koefisien Determinasi ... 51
Tabel 4.10 Uji Serempak ... 52
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual ... 22
Gambar 4.1 Histogram ... 43
Gambar 4.2 Normal P-P Plot ... 44
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Judul Halaman
Lampiran i Daftar Perusahaan Manufaktur Industri Makanan dan
ABSTRAK
PENGARUH CURRENT RATIO (CR), DEBT TO EQUITY RATIO (DER),DAN RETURN ON EQUITY (ROE) TERHADAP HARGA SAHAM
PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR INDUSTRI MAKANAN DAN MINUMAN YANG TERDAFTAR
DI BURSA EFEK INDONESIA
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER) dan Return On Equity (ROE) terhadap Harga Saham pada Perusahaan Manufaktur Industri Makanan dan Minuman yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Desain penelitian yang digunakan adalah desain penelitian asosiatif kausal. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 16 perusahaan manufaktur industri makanan dan minuman yang terdaftar di BEI pada periode 2009-2011 dan yang menjadi sampel penelitian berjumlah 9 perusahaan. Metode purposive sampling digunakan dalam pemilihan sampel. Jenis data dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari website Bei yait Metode pengumpulan data yang digunakan adalah studi dokumentasi. Variabel dependen yang digunakan adalah harga saham, sedangkan variabel independen yang digunakan adalah CR, DER, dan ROE. Penelitian ini menggunakan analisis regresi linear berganda untuk analisis statistik dan model regresi telah diuji terlebih dahulu dalam uji asumsi klasik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial, setiap variabel independen yang diteliti yaitu CR, DER, dan ROE tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Pengujian secara serempak menunjukkan bahwa CR, DER, dan ROE berpengaruh signifikan terhadap harga saham.
ABSTRACT
THE INFLUENCE OF CURRENT RATIO (CR), DEBT TO EQUITY RATIO (DER), AND RETURN ON EQUITY (ROE) TOWARD THE STOCK PRICE OF
FOOD AND BEVERAGES COMPANIES LISTED IN INDONESIA STOCK EXCHANGE
This research aims to analyze the influence of Current Ratio (CR), Debt To Equity Ratio (DER), And Return On Equity (ROE) toward the stock price of food and beverages companies listed in Indonesia Stock Exchange.
The design used in this research in causal associative. Population of this research are 16 food and beverages companies lists in Indonesia Stock Exchange during the period 2009-2011 and the sample consists of 9 companies. Purposive sampling method is used for the sample selection. Data used in this research is secondary data obtained from . Data collection method used was the study documentation. The dependent variable is the stock price, while the independent variables are CR, DER, and ROE. This research uses multilinear regression analysis for statistical analysis and the regression models have firstly been tested in the classical assumption test.
The partially test indicated that, each independent variable (CR, DER, and ROE) does not significantly the stock price. The simultaneously tests of CR, DER, and ROE give a significant influence to the stock price.
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pada masa sekarang, semakin banyak orang maupun perusahaan yang
menginvestasikan dana mereka dalam bentuk sekuritas. Investasi dalam bentuk
sekuritas umumnya dilakukan dalam bentuk saham dan obligasi, namun yang lebih
populer adalah dalam bentuk saham. Penjualan dan pembelian saham pada umumnya
dapat dilakukan di pasar modal, yaitu tempat bertemunya pihak-pihak yang kelebihan
dana dengan pihak-pihak yang kekurangan dana. Pihak-pihak yang membutuhkan
dana dapat menerbitkan sahamnya dan memasarkannya ke pasar modal dengan tujuan
untuk mendapatkan dana yang akan dapat digunakan untuk membiayai kegiatan
operasional perusahaan atau untuk memperluas usaha. Pihak yang kelebihan dana
dapat menginvestasikan dananya dalam bentuk saham yang diterbitkan perusahaan
penerbit dengan harapan bahwa dana yang diinvestasikan tersebut dapat
menghasilkan pengembalian yang diharapkan.
Investasi dalam saham terbagi menjadi investasi jangka pendek dan investasi
jangka panjang. Investasi saham dalam jangka pendek biasanya dimaksudkan untuk
dijual kembali dengan segera. Investasi saham dalam jangka panjang biasanya
dimaksudkan untuk memiliki hak suara di perusahaan lain atau untuk menguasai
perusahaan lain. Pengembalian yang didapatkan dari investasi dalam saham dapat
perusahaan kepada pemegang saham atau investor, sedangkan capital gain adalah
selisih lebih antara harga pembelian dengan harga penjualan dari saham tersebut.
Sebelum melakukan investasi, para investor perlu melakukan studi kelayakan
bisnis terlebih dahulu untuk menilai apakah investasi yang akan dilakukannya layak
atau tidak untuk dilakukan. Saham yang berada di pasar modal ada yang undervalue
dan overvalue. Jika suatu saham undervalue artinya nilai pasar saham berada dibawah
nilai wajarnya, dan sebaiknya dibeli atau ditahan oleh investor dengan tujuan untuk
memperoleh capital gain karena harganya akan naik mendekati harga wajarnya.
Lawan dari saham undervalue adalah saham overvalue artinya nilai pasar saham
berada diatas nilai wajarnya, dan sebaiknya tidak dibeli atau cut loss (menjual
sekarang saham yang dimiliki demi terhindar dari kerugian di masa depan) karena
harganya akan turun untuk menyesuaikan dengan harga wajarnya (Rinasari, 2003).
Nilai wajar suatu saham dari sebuah perusahaan dapat dipengaruhi faktor
internal maupun eksternal, baik yang secara langsung maupun tidak langsung
hubungannya dengan perusahaan tersebut. Untuk mengetahui berapa nilai wajar
saham dari sebuah perusahaan, dapat digunakan analisa fundamental yang
menganalisa kondisi keuangan dan ekonomi perusahaan yang menerbitkan saham.
Analisa fundamental berhubungan dengan penilaian kinerja perusahaan tentang
efektivitas dan efisiensi perusahaan mencapai tujuannya.
Perusahaan yang dipilih untuk menjadi obyek penelitian ini adalah Perusahaan
survei yang dilakukan oleh Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas)
mengungkapkan perusahaan jenis ini memiliki prospek yang cukup bagus dan
cenderung diminati oleh investor sebagai salah satu target investasinya. Penyebabnya
adalah hasil industri ini cenderung digemari oleh masyarakat seperti makanan ringan,
minuman energi minuman isotonik hingga minuman dalam kemasan. Perusahaan
industri makanan dan minuman merupakan kategori perusahaan industri manufaktur
dimana produknya sangat dibutuhkan masyarakat, sehingga dapat menguntungkan
baik masa sekarang maupun masa yang akan datang, selain itu saham perusahaan
tersebut merupakan saham-saham yang paling tahan krisis atau tahan terhadap
ekonomi dibanding sektor lain karena dalam kondisi krisis atau tidak sebagian besar
produk makanan dan minuman tetap dibutuhkan.
Penulis melihat pada masa sekarang konsumen semakin menyukai makanan
dan minuman siap saji. Hal ini didukung oleh adanya hasil survei yang dilakukan
oleh Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang melakukan survei konsumsi
masyarakat Indonesia sekali dalam tiga tahun. Hasil Susenas menyingkapkan bahwa
pola pengeluaran untuk konsumsi makanan jadi di antara masyarakat perkotaan telah
meningkat. Dapat dilihat pada tahun belakangan ini, industri makanan dan minuman
semakin berkembang pesat. Semakin banyak hadirnya restaurant-restaurant yang
menyediakan berbagai macam makanan dan inovasi terhadap makanan ataupun
minuman yang disediakan oleh restaurant tersebut. Pada tahun 2008 hingga 2009
terjadi gejolak krisis ekonomi global di seluruh dunia, tetapi hal tersebut tidak terlalu
yang paling aman dalam berbisnis adalah industri makanan dan minuman, karena hal
tersebutlah maka banyak para investor baik dalam ataupun luar negeri yang
menginvestasikan dananya kepada industri makanan dan minuman.
Faktor yang berpengaruh terhadap aktivitas perusahaan terdapat di pasar saham
yang menyebabkan kenaikan dan penurunan jumlah permintaan dan penawaran
saham pada bursa saham dan efeknya berdampak pada perubahan harga saham antara
lain faktor dari informasi keuangan yaitu informasi keuangan yang terdapat dalam
laporan keuangan meliputi Neraca, Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Modal,
Laporan Arus Kas dan Catatan Atas Laporan Keuangan. Apabila suatu informasi
disajikan dengan benar, informasi tersebut sangat berguna bagi perusahaan dalam
pengambilan keputusan. Rasio-rasio keuangan sebagai hasil perumusan dari analisis
terhadap laporan keuangan juga dapat digunakan sebagai informasi mengenai
keadaan perusahaan.
Rasio-rasio keuangan ini banyak digunakan oleh para investor sebagai dasar
pengambilan keputusan berinvestasi. Rasio-rasio keuangan yang ada meliputi rasio
likuiditas, solvabilitas, dan rasio profitabilitas. Dari berbagai rasio keuangan yang
ada, peneliti menggunakan Current Ratio (CR), Debt To Equity Ratio (DER), Return
On Equity (ROE).
Current Ratio merupakan ukuran fundamental likuiditas perusahaan dan sering
juga disebut sebagai rasio modal kerja (working capital). Current Ratio dapat pula
yang mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban (utang) jangka
pendek yang segera jatuh tempo dengan menggunakan aktiva lancarnya”. CR
dihitung dengan cara membandingkan antara total aktiva lancar dengan total
kewajiban lancar. Semakin besar rasio menunjukkan semakin tinggi kemampuan
perusahaan menutupi kewajiban jangka pendeknya. Penelitian yang dilakukan oleh
Alam (2008) menunjukkan bahwa CR berpengaruh secara signifikan terhadap harga
saham.
Debt to Equity Ratio merupakan rasio solvabilitas yang umumnya digunakan
untuk mengukur leverage suatu perusahaan. Bagi investor maupun perusahaan,
semakin tinggi rasio ini akan semakin menguntungkan karena menurut Brigham dan
Houston (2001 : 84), “pendanaan dengan utang membuat pemegang saham dapat
mempertahankan pengendalian atas perusahaan dengan investasi yang terbatas dan
resiko perusahaan sebagian besar ada pada kreditor”. Namun, DER yang terlalu tinggi
juga tidak baik karena tingkat utang yang semakin tinggi akan memperbesar
kemungkinan resiko gagal bayar (risk of default) bunga pinjaman maupun pokok
utang yang akhirnya dapat mengakibatkan kebangkrutan perusahaan. Penelitian yang
dilakukan oleh Efendi (2009) menunjukkan bahwa DER berpengaruh positif terhadap
harga saham. Namun, penelitian yang dilakukan oleh Juventus (2008) dan Kielsan
(2010) menunjukkan bahwa DER secara parsial tidak berpengaruh signifikan
terhadap harga saham.
Return On Equity merupakan rasio profitabilitas yang mengukur tingkat imbal
sendiri untuk menghasilkan laba bagi pemegang saham. Dengan demikian, ROE
dapat diperkirakan mempunyai pengaruh terhadap harga saham. Penelitian yang
dilakukan Alam (2008) dan Juventus (2008) menunjukkan bahwa ROE berpengaruh
positif terhadap harga saham. Namun, penelitian yang dilakukan Efendi (2009),
Yurico (2010), dan Kielsan (2010) menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh
signifikan antara ROE dengan harga saham.
Perbedaan pada variabel penelitian yang digunakan dan ketidakkonsistenan
antara teori dengan hasil penelitian maupun antar hasil penelitian sebelumnya
mendorong penelitian untuk melakukan penelitian replikasi dari penelitian terdahulu
dengan menggunakan rasio-rasio keuangan yang diperkirakan memiliki pengaruh
terhadap harga saham, yaitu current ratio, debt to equity ratio, dan return on equity.
Peneliti tertarik untuk menggunakan data perusahaan industri makanan dan minuman
yang terdaftar di BEI mulai dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2011 berdasarkan
fenomena yang telah dikemukakan sebelumnya.
Berdasarkan uraian latar belakang, maka peneliti menuangkan penelitiannya
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka peneliti
merumuskan masalah sebagai berikut:
“Apakah Current Ratio (CR), Debt To Equity Ratio (DER) dan Return On Equity (ROE) berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham baik secara serempak maupun secara parsial pada perusahaan manufaktur industri makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?”
1.3 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan pokok permasalahan yang telah dirumuskan sebelumnya maka
tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.3.1 Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh current ratio (CR), debt to
equity ratio (DER)dan return on equity (ROE) secara serempak terhadap
harga saham pada perusahaan manufaktur industri makanan dan
minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
1.3.2 Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh current ratio (CR), debt to
equity ratio (DER) dan return on equity (ROE) secara parsial terhadap
harga saham pada perusahaan manufaktur industri makanan dan minuman
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:
1.4.1 Bagi peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan
peneliti mengenai pengaruh - pengaruh current ratio, debt to equity ratio
dan return on equity terhadap harga saham dan faktor-faktor yang
mempengaruhinya.
1.4.2 Bagi perusahaan
Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan kepada manajemen
perusahaan untuk meningkatkan kinerja keuangan yang diperkirakan
berpengaruh terhadap harga saham yaitu current ratio, debt to equity ratio
dan return on equity.
1.4.3 Bagi investor
Penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai bahan pertimbangan
investor dalam pengambilan keputusan di pasar modal. Diharapkan faktor
– faktor yang diteliti penulis dapat memberikan gambaran kepada investor
dalam menganalisis berapa besar harga saham yang dapat diperoleh jika
1.4.4 Bagi akademisi
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan wawasan dan
referensi bagi peneliti lain yang akan melakukan penelitian lanjutan
mengenai pengaruh rasio-rasio keuangan yang berkaitan dengan penilaian
harga saham, seperti current ratio, debt to equity ratio dan return on
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Teoritis
2.1.1 Analisa laporan keuangan
Menurut Harahap (2008:190), analisis laporan keuangan berarti:
Menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi unit informasi yang lebih kecil dan melihat hubungannya yang bersifat signifikan atau yang mempunyai makna antara satu dengan yang lain baik antara data kuantitatif maupun data non-kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui kondisi keuangan lebih dalam yang sangat penting dalam proses menghasilkan keputusan yang tepat.
Van Horne dan Wachowicz (2005 : 202) mengatakan bahwa rasio
keuangan adalah “sebuah indeks yang membutuhkan dua angka akuntansi dan
didapat dengan membagi satu angka dengan angka lainnya”. Berdasarkan
sumber datanya, rasio keuangan suatu perusahaan dapat digolongkan sebagai
berikut:
a. Rasio neraca yaitu membandingkan angka-angka yang hanya
bersumber dari neraca.
b. Rasio laporan laba-rugi yaitu membandingkan angka-angka yang
hanya bersumber dari laporan laba rugi.
c. Rasio antar laporan yaitu membandingkan angka-angka dari dua
Weston dalam Kasmir (2008 : 106) mengatakan bahwa bentuk-bentuk
rasio keuangan adalah sebagai berikut:
1.Rasio Likuiditas (Liquidity Ratio) 2.Rasio Solvabilitas (Leverage Ratio) 3.Rasio Aktivitas (Activity Ratio)
4.Rasio Profitabilitas (Profitability Ratio) 5.Rasio Pertumbuhan (Growth Ratio) 6.Rasio Penilaian (Valuation Ratio)
2.1.2 Current Ratio (CR)
Kasmir (2008 : 134) menyebutkan bahwa “current ratio merupakan rasio
yang mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban (utang)
jangka pendek yang segera jatuh tempo dengan menggunakan aktiva
lancarnya”. Current Ratio merupakan ukuran fundamental likuiditas perusahaan
dan sering juga disebut sebagai rasio modal kerja (working capital). Current
Ratio dapat pula dikatakan sebagai bentuk untuk mengukur tingkat keamanan
(margin of safety) suatu perusahaan.
CR dihitung dengan cara membandingkan antara total aktiva lancar
dengan total kewajiban lancar. Semakin besar rasio ini menunjukkan semakin
tinggi kemampuan perusahaan menutupi kewajiban jangka pendeknya. Dari
hasil perhitungan, apabila rasio ini rendah berarti perusahaan memiliki
kemampuan yang rendah dalam membayar kewajiban jangka pendeknya.
Namun, apabila rasio ini terlalu tinggi juga tidak baik karena hal ini berarti
Rumus untuk menghitung Current Ratio adalah sebagai berikut:
2.1.3 Debt to Equity Ratio (DER)
Kasmir (2008 : 166) menyebutkan bahwa “debt to equity ratio
merupakan rasio yang diukur dari perbandingan antara total utang dengan
ekuitas (modal sendiri)”. Rasio ini berguna untuk mengetahui perbandingan
jumlah dana yang disediakan oleh kreditor dengan pemilik perusahaan. Dengan
kata lain, rasio ini berfungsi untuk mengukur sampai sejauh mana modal
pemilik dapat menutupi utang-utang kepada pihak luar.
Bagi kreditor, semakin besar rasio ini akan semakin tidak menguntungkan
karena semakin besar resiko yang harus ditanggung atas kegagalan yang
mungkin terjadi di perusahaan. Namun, bagi investor maupun perusahaan,
semakin besar rasio ini akan semakin menguntungkan karena menurut Brigham
dan Houston (2001 : 84), “pendanaan dengan utang membuat pemegang saham
dapat mempertahankan pengendalian atas perusahaan dengan investasi yang
terbatas dan resiko perusahaan sebagian besar ada pada kreditor”.
2.1.4 Return On Equity (ROE)
Menurut Brigham dan Daves (2004 : 240), “Ultimately, the most
important, or bottom line accounting ratio is the ratio of net income to common
equity, which measures the return on common equity (ROE). Stockholders
invest to get a return on their money, and this ratio tells how well they are
doing in an accounting sense”. Rasio keuangan yang paling penting adalah
rasio yang membandingkan laba bersih dengan ekuitas pemegang saham, yang
disebut dengan tingkat pengembalian atas ekuitas (ROE).
Pemegang saham berinvestasi untuk mendapatkan keuntungan atas dana
yang diinvestasikannya dan rasio ROE mengindikasikan seberapa baik
perusahaan dapat memberikan keuntungan bagi para pemegang saham secara
akuntansi. Semakin tinggi ROE menunjukkan semakin efisien perusahaan
dalam menggunakan modal sendiri untuk menghasilkan laba bagi pemegang
saham dan sebaliknya.
Rumus untuk menghitung Return On Equity adalah:
2.1.5 Saham
Saham dapat didefenisikan surat berharga sebagai bukti penyertaan atau
pemilikan individu maupun intitusi dalam suatu perusahaan (Brigham, 2006 :
58). Saham berwujud selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas
kepemilikan ditentukan oleh seberapa besar penyertaan yang ditanamkan di
perusahaan tersebut. Artinya, jika seseorang membeli saham suatu perusahaan,
berarti dia telah menyertakan modal ke dalam perusahaan tersebut sebanyak
jumlah saham yang dibeli. Dalam kegiatan perdagangan di bursa efek, saham
yang diperjualbelikan di pasar modal ini berbeda jenis tingkatannya, perbedaan
ini tersusun berdasarkan nilai jaminan yang diberikan oleh saham tersebut.
Dalam transaksi jual beli di Bursa Efek, saham merupakan instrumen
yang paling dominan diperdagangkan. Saham tersebut dapat diterbitkan dengan
cara atas nama atau atas unjuk. Selanjutnya saham dibedakan lagi antara saham
biasa (common stock) dengan saham preferen (preferred stock).
a. Saham biasa (common stock)
Saham biasa adalah efek dari penyertaan kepemilikan (equity security)
dari badan usaha yang berbentuk Perseroan Terbatas. Saham bisa
memberikan jaminan untuk turut serta dalam pembagian laba dalam
bentuk dividen apabila perusahaan tersebut memperoleh laba.
Ciri-ciri saham biasa adalah sebagai berikut:
1) dividen dibayarkan sepanjang perusahaan memperoleh laba,
2) memiliki hak suara (one share one vote),
3) hak memperoleh pembagian kekayaan perusahaan apabila bangkrut
b. Saham preferen (preferred stock)
Saham preferen merupakan saham yang mempunyai sifat gabungan
antara obligasi dan saham biasa. Saham preferen dapat dikatakan serupa
dengan saham biasa. Hal ini disebabkan karena dua hal pokok, yaitu
mewakili kepemilikan ekuitas dan diterbitkan tanpa tanggal jatuh tempo
yang tertulis di atas lembaran saham tersebut, dan memperoleh dividen.
Ciri-ciri saham preferen adalah sebagai berikut:
1) memiliki hak paling dahulu memperoleh dividen,
2) tidak memiliki hak suara,
3) dapat mempengaruhi manajemen perusahaan terutama dalam
pencalonan pengurus,
4) memiliki hak pembayaran maksimum sebesar nilai nominal saham
lebih dahulu seletah kreditur apabila perusahaan dilikuidasi.
2.1.6 Return saham
Return saham merupakan hasil yang diperoleh dari investasi. Return dapat
berupa return realisasi (realized return) dan return ekspektasi (expected return)
(Jogiyanto, 2007 : 107). Return realisasi (realized return) merupakan return
yang telah terjadi. Return realisasi dihitung berdasarkan data histori. Return
realisasi penting karena digunakan sebagai salah satu pengukur kinerja dari
perusahaan. Return histori ini juga berguna sebagai dasar penentuan return
Return ekspektasi adalah return yang diharapkan akan diperoleh
investor dimasa yang akan datang. Berbeda dengan return realisasi yang
sifatnya sudah terjadi. Return merupakan salah satu dasar yang digunakan oleh
investor dalam mengambil keputusan investasi karena return merupakan tujuan
utama seseorang berinvestasi. Dengan adanya return, diharapkan seseorang
akan termotivasi untuk berinvestasi.
Return juga merupakan imbalan yang diberikan oleh suatu perusahaan
kepada investor atas keberaniannya menanggung risiko atas investasi yang
dilakukannya. Return lokal sering disebut return saham, yaitu perubahan
kemakmuran dari perubahan harga saham dan perubahan pendapatan dari
dividen yang diterima. Perubahan kemakmuran ini menunjukkan tambahan
kekayaan sebelumnya. (Hartono, 2000 : 107) menyatakan bahwa “return
abnormal (abnormal return) merupakan selisih antara return ekspektasi dan
return realisasi”.
Return abnormal menjadi indikator untuk mengukur efisiensi suatu
pasar modal. Apabila harga suatu instrumen investasi telah mencerminkan
seluruh informasi yang ada maka return ekspektasi atas suatu harga saham
relatif akan sama dengan return realisasinya. Pada pasar modal yang telah
efisien, seorang investor tidak akan dapat memperoleh abnormal return secara
berlebihan atau secara terus – menerus. Hal ini tentu saja berlaku dengan
Pemegang saham dalam investasinya dapat memperoleh return yang
ditawarkan suatu saham dalam bentuk capital gain dan dividen. Capital gain
merupakan selisih harga saham sekarang relatif lebih tinggi dari harga saham
periode yang lalu. Dividen merupakan keuntungan perusahaan yang dibagikan
kepada pemegang saham. Biasanya tidak seluruh keuntungan perusahaan
dibagikan kepada pemegang sahan, tetapi terdapat bagian yang ditanam
kembali. Biasanya dividen yang akan dibagikan ditentukan dalam Rapat Umum
Pemegang Saham (RUPS) perusahaan tersebut. Namun yang perlu diperhatikan
adalah bahwa perusahaan tidak selalu membagikan dividen kepada para
pemegang saham tetapi bergantung pada kondisi perusahaan itu sendiri. Ini
berarti bahwa jika perusahaan mengalami kerugian tentu saja dividen tidak akan
dibagikan pada tahun berjalan tersebut. Dividen yang dibagikan dapat berupa
dividen tunai maupun dividen saham.
2.1.7 Harga saham
Harga saham di bursa efek akan ditentukan oleh kekuatan permintaan
dan penawaran. Pada saat permintaan atas suatu saham meningkat, maka harga
saham tersebut akan cenderung meningkat. Sebaliknya, pada saat lebih banyak
orang yang menjual saham tersebut dibandingkan dengan orang yang berminat
membelinya, maka harga saham tersebut cenderung akan mengalami
Harga saham dapat berubah naik turun dalam hitungan yang begitu
cepat. Harga tersebut dapat berubah dalam hitungan menit, bahkan dalam
hitungan detik. Hal tersebut dimungkinkan karena banyaknya pesanan yang
dimasukkan ke sistem JATS (Jakarta Autonomated Trading System). Pada
lantai perdagangan Bursa Efek Indonesia terdapat 400 terminal komputer
dimana para floor tracker dapat memasukkan pesanan yang diterimanya dari
nasabah. Pada monitor – monitor yang memantau perdagangan saham, tertera
beberapa istilah harga saham, yaitu (dalam Darmadji, 2006 : 131):
a.Previous price menunjukkan harga pada penutupan hari sebelumnya. b.Open atau Opening Price menunjukkan harga pertama kali pada saat
pembukaan sesi I perdagangan, yaitu jam 09.30 pagi.
c.High atau Highest Price menunjukkan harga tertinggi atas suatu saham yang terjadi sepanjang perdagangan pada hari tersebut.
d.Low atau Lowest Price menunjukkan harga terendah atas suatu saham yang terjadi sepanjang perdagangan pada hari tersebut.
e.Last Price menunjukkan harga terakhir yang terjadi atas suatu saham. f. Change menunjukkan selisih antara harga pembukaan dengan harga
yang terjadi.
g.Close atau Closing Price menunjukkan harga penutupan suatu saham pada saat akhir sesi II, yaitu jam 16.00 sore.
Harga saham yang digunakan dalam penelitian ini adalah rata-rata harga
saham penutupan (average closing price) selama suatu periode tertentu.
2.1.8 Faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham
Arifin (2004 : 116) mengatakan bahwa “faktor yang menentukan
perubahan harga saham yaitu kondisi fundamental emiten, permintaan dan
dan rumors”. Berdasarkan pernyataan di atas maka dapat ditarik kesimpulan
yaitu faktor-faktor yang menentukan perubahan harga saham sangat beragam.
Terdapat berbagai faktor yang dapat mempengaruhi harga saham, antara
lain:
a.Faktor fundamental perusahaan
Faktor fundamental berkaitan dengan kondisi perusahaan
(manajemen, sumber daya manusia, teknologi) dan kondisi keuangan
yang tercermin dalam kinerja keuangan perusahaan. Apabila kinerja
keuangan perusahaan mengalami peningkatan, maka saham
perusahaan tersebut akan diminati oleh investor sehingga harga
saham akan meningkat. Sebaliknya, penurunan kinerja keuangan
akan diikuti dengan penurunan harga saham di pasar modal karena
investor menjadi tidak tertarik pada saham perusahaan tersebut.
b.Pasar
Hukum permintaan dan penawaran mempengaruhi tingkat harga
saham. Bila saham dinilai terlalu tinggi oleh pasar, maka jumlah
permintaannya akan berkurang. Sebaliknya, jika pasar menilai bahwa
harga saham tersebut terlalu rendah maka jumlah permintaannya akan
meningkat. Tingginya harga saham akan mengurangi kemampuan
c. Tingkat suku bunga
Perubahan suku bunga akan mempengaruhi harga saham secara
terbalik, cateris paribus. Artinya, jika suku bunga meningkat, maka
harga saham akan turun, cateris paribus. Demikian pula sebaliknya,
jika suku bunga turun, harga saham akan naik.
d.Indeks harga saham
Kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang waktu
tertentu menunjukkan kondisi investasi dan perekonomian negara
dalam keadaan baik. Sebaliknya, jika mengalami penurunan berarti
iklim investasi sedang memburuk. Kondisi demikian akan
mempengaruhi fluktuasi harga saham di pasar modal.
e.News and rumors
Berbagai cerita dan rumor yang beredar di masyarakat menyangkut
beberapa hal seperti masalah ekonomi, sosial, politik, dan keamanan
dapat mempengaruhi persepsi investor, yang pada akhirnya akan
mempengaruhi pergerakan harga saham di pasar modal.
2.1.9 Hubungan antara rasio keuangan dengan harga saham
Tujuan pelaporan keuangan diupayakan mempunyai cakupan yang luas
agar memenuhi berbagai kebutuhan para pemakai laporan keuangan dan
melayani kepentingan umum dari berbagai pemakai yang potensial, bukan
membuat keputusan investasinya, investor perlu mengetahui dan memahami
terlebih dahulu bagaimana kinerja keuangan perusahaan, baru kemudian dapat
membuat penilaian dan menentukan keputusan investasinya. Oleh karena itu,
investor akan melakukan analisis terhadap laporan keuangan perusahaan. Dari
laporan keuangan yang diterbitkan setelah dianalisis akan bisa diperoleh rasio
keuangan, yang berguna untuk mengungkapkan kekuatan yang potensial, dalam
menilai ketidakpastian penerimaan dari dividen dan bunga di masa yang akan
datang. Selain itu, dari rasio keuangan yang diperoleh, maka manajemen
perusahaan yang bersangkutan maupun para investor akan dapat melakukan
tindakan, setelah menilai kinerja perusahaan yang dilihat dari rasio keuangan
tersebut dan melakukan penilaian terhadap nilai saham perusahaan.
2.2 Tinjauan Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu mengenai pengaruh rasio-rasio keuangan terhadap harga
saham menunjukkan hasil-hasil yang berbeda. Penelitian ini merupakan penelitian
replikasi dari penelitian-penelitian terdahulu. Rincian mengenai penelitian –
Tabel 2.1
Ringkasan Tinjauan Penelitian Terdahulu
No. Peneliti Judul Penelitian Variabel Penelitian Hasil Penelitian
1 Dipo
Satria Alam (2008)
Pengaruh Rasio Keuangan Likuiditas, Solvabilitas, Aktivitas, Profitabilitas, dan Pasar terhadap Harga
Saham Industri Manufaktur di Bursa Efek
Jakarta
Variabel Independen: CR, DAR, TATO, ITO, NPM, ROE, dan
PER. Variabel Dependen: Harga Saham
Semua variabel independen yang diteliti memiliki pengaruh terhadap harga saham secara serempak. Secara parsial, hanya variabel CR, NPM, dan ROE yang signifikan berpengaruh terhadap harga saham.
2 Juventus
(2008)
Pengaruh Rasio Profitabilitas dan Leverage terhadap Harga
Saham Perbankan di Bursa Efek Jakarta
Variabel Independen: ROA, ROE, DER dan DAR. Variabel Dependen: Harga Saham
Secara serempak, ROE,DER, dan DAR berpengaruh terhadap harga saham. Secara parsial, hanya rasio ROE dan DAR yang memiliki pengaruh positif terhadap harga saham.
3 Efendi
(2009)
Pengaruh Rasio Proitabilitas, Rasio Solvabilitas, dan Risiko Sistematis terhadap Harga Saham Properti di Bursa Efek Jakarta
Variabel Independen: ROA, ROE, DER dan BETA. Variabel Dependen: Harga Saham
Secara parsial, ROA, DER, dan BETA mempunyai pengaruh positif terhadap harga saham.
4 Yurico
(2010)
Pengaruh Cash Dividend Coverage, Operating Cash Flow per Share, Return On Equity, Return On Assets, Total Assets Turn Over, dan Earnings per Share terhadap Harga Saham pada Perusahaan
Manufaktur yang Terdaftar di BEI
Variabel Independen: CDC, OCPS, ROE, ROA, TATO dan EPS.
Variabel Dependen: Harga Saham
Secara serempak semua variabel independen yang diteliti memiliki pengaruh signifikan terhadap harga saham. Secara parsial, hanya EPS yang berpengaruh signifikan terhadap harga saham
5 Lenny
Kielsan (2010)
Pengaruh Debt to Equity Ratio, Net Profit Margin, Return On Asset, dan Return On Equity terhadap Harga Saham Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI
Variabel Independen: DER, NPM, ROA dan ROE. Variabel Dependen: Harga Saham
Secara serempak, semua variabel independen yang diteliti memiliki pengaruh signifikan terhadap harga saham. Secara parsial, semua variabel yang diteliti tidak berpengaruh terhadap harga saham.
2.3 Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual merupakan sintesis atau ekstraplorasi dari tinjauan teori
yang mencerminkan keterkaitan antara variabel yang diteliti dan merupakan tuntunan
untuk memecahkan masalah penelitian serta merumuskan hipotesis (Jurusan
Akuntansi, 2004 : 13). Dalam penelitian ini yang menjadi variabel independen adalah
Current Ratio, Debt to Equity Ratio, Return on Equity. Variabel dependen dalam
penelitian ini adalah harga saham. Kerangka konseptual penelitian ini dapat
digambarkan pada gambar 2.1 sebagai berikut:
[image:36.612.127.504.345.626.2]
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
Sumber : diolah penulis, 2012
Current Ratio (CR)
(X1)
Debt To Equity Ratio (DER)
(X2)
Return On Equity (ROE)
(X3)
Harga Saham
Current Ratio merupakan rasio likuiditas yang digunakan untuk mengukur
kemampuan perusahaan dalam menggunakan aktiva lancar untuk memnuhi
kewajiban lancarnya. Debt to Equity Ratio merupakan rasio solvabilitas yang
berfungsi untuk mengukur sampai sejauh mana modal pemilik dapat menutupi
utang-utang kepada pihak luar. Return on Equity merupakan rasio yang mengukur tingkat
pengembalian perusahaan dalam menghasilkan keuntungan yang dapat diperoleh
pemegang saham.
Harga saham dapat didefenisikan sebagai harga yang dibentuk dari interaksi
antara para penjual dan pembeli saham yang dilatarbelakangi oleh harapan mereka
terhadap keuntungan perusahaan. Semua rasio yang dijelaskan sebagai variabel
independen dalam penelitian ini merupakan rasio yang secara teori mempengaruhi
harga saham.
2.4 Hipotesis
Menurut Erlina (2008 : 41), “Hipotesis menyatakan yang diduga secara logis
antara dua variabel atau lebih dalam rumusan preposisi yang dapat diuji secara
empiris”. Hipotesis adalah dugaan atau jawaban sementara terhadap masalah yang
akan diuji kebenarannya melalui analisis data yang relevan dan kebenarannya akan
diketahui setelah dilakukan penelitian. Berdasarkan kerangka konseptual yang telah
H1: Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER), dan Return on Equity
(ROE) secara parsial berpengaruh signifikan terhadap harga saham.
H2: Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER), dan Return on Equity
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis Penelitian yang dilakukan adalah penelitian asosiatif kausal, Menurut
Sugiyono (2007 : 30) penelitian asosiatif kausal adalah “penelitian yang bertujuan
menganalisis hubungan sebab akibat antara variabel independen (variabel yang
mempengaruhi) dan variabel dependen (variabel yang dipengaruhi)”. Penelitian ini
menguji pengaruh current ratio, debt to equity ratio, return on equity terhadap harga
saham.
3.2 Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yaitu data
yang diukur dalam bentuk skala numerik (Kuncoro, 2003 : 124) dan merupakan data
sekunder yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung, yang berupa catatan
maupun laporan historis yang telah tersimpan dalam arsip, baik yang dipublikasikan
maupun yang tidak dipublikasikan. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
data sekunder yang berupa laporan keuangan perusahaan selama periode tahun 2009
sampai dengan tahun 2011. Data penelitian didapatkan dari situs Bursa Efek
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi adalah keseluruhan elemen atau individu yang akan diteliti. Menurut
Erlina (2008 : 75) “populasi adalah sekelompok orang, kejadian, suatu yang
mempunyai karakteristik tertentu”. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh
perusahaan manufaktur sektor industri makanan dan minuman yang terdaftar (listing)
di Bursa Efek Indonesia mulai dari 2009 sampai dengan tahun 2011 yang berjumlah
16 perusahaan.
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi
tersebut (Sugiyono, 2007 : 73). Teknik penarikan sampel dalam penelitian ini
menggunakan metode Purposive Sampling yaitu teknik pengambilan sampel dengan
pertimbangan atau kriteria tertentu. Sampel dipilih berdasarkan kriteria sebagai
berikut:
1. Perusahaan yang menjadi sampel penelitian adalah perusahaan - perusahaan
manufaktur sektor industri makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia selama periode 2009 – 2011.
2. Perusahaan - perusahaan manufaktur sektor industri makanan dan minuman
tersebut mempublikasikan laporan keuangannya secara lengkap dan tidak
keluar (delisting) selama periode 2009 – 2011.
3. Perusahaan - perusahaan manufaktur sektor industri makanan dan minuman
Tabel 3.1
Daftar Populasi Perusahaan
No. Kode Nama Perusahaan 1 Kriteria 2 3 No. Sampel
1 ADES Akasha Wira Internasional Tbk. √ √ √ 1
2 AQUA Aqua Golden Missisipi - - - -
3 AISA Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk. √ √ √ 2
4 CEKA Cahaya Kalbar Tbk. √ √ √ 3
5 DAVO Davomas Abadi Tbk. √ √ - -
6 DLTA Delta Jakarta Tbk. √ √ √ 4
7 FAST Fast Food Indonesia Tbk. √ - √ -
8 ICBP Indofood CBP Sukses Makmur Tbk √ - - -
9 INDF Indofood Sukses Makmur Tbk. √ √ √ 5
10 MLBI Multi Bintang Indonesia Tbk √ √ √ 6
11 MYOR Mayora Indah Tbk. √ √ √ 7
12 PSDN Prasidha Aneka Niaga Tbk. √ √ - -
13 ROTI Nippon Indosari Corpindo Tbk. √ - - -
14 SKLT Sekar Laut Tbk. √ √ - -
15 STTP Siantar Top Tbk. √ √ √ 8
16 ULTJ Ultra Jaya Milk Tbk. √ √ √ 9
Sumber : diolah penulis, 2012
Dari 16 populasi yang diambil dari perusahaan manufaktur sektor industri
makanan dan minuman, yang memenuhi kriteria sebanyak 9, maka sampel yang
digunakan sebanyak 9 perusahaan, sampel tersebut dapat terlihat pada tabel di bawah
Tabel 3.2
Daftar Sampel Perusahaan
No. Kode Nama Perusahaan 1 Kriteria 2 3 No. Sampel
1 ADES Akasha Wira Internasional Tbk. √ √ √ 1 2 AISA Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk. √ √ √ 2
3 CEKA Cahaya Kalbar Tbk. √ √ √ 3
4 DLTA Delta Jakarta Tbk. √ √ √ 4
5 INDF Indofood Sukses Makmur Tbk. √ √ √ 5
6 MLBI Multi Bintang Indonesia Tbk √ √ √ 6
7 MYOR Mayora Indah Tbk. √ √ √ 7
8 STTP Siantar Top Tbk. √ √ √ 8
9 ULTJ Ultra Jaya Milk Tbk. √ √ √ 9
Sumber : diolah penulis, 2012
3.4 Metode Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan studi
dokumentasi, yaitu dengan mempelajari, mengklasifikasikan, dan menganalisis data
sekunder yang terkait dengan lingkup penelitian ini.
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui dua tahap, yaitu:
a. Tahap pertama, dilakukan melalui studi pustaka yakni pengumpulan data
pendukung berupa literatur, penelitian terdahulu, dan laporan – laporan
yang dipublikasikan untuk mendapat gambaran dari masalah yang akan
diteliti.
b. Tahap kedua, dilakukan melalui pengumpulan data sekunder melalui
fasilitas internet dengan mengakses situs – situs resmi yang berisi laporan
keuangan Perbankan yang dipublikasikan oleh Bursa Efek Indonesia
3.5 Defenisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Menurut Jogiyanto (2004 : 62), “Defenisi operasional menjelaskan karakteristik
dari objek ke dalam elemen – elemen yang dapat diobservasi yang menyebabkan
konsep dapat diukur dan dioperasionalisasikan dalam riset”. Variabel bebas
(independent variable) adalah variabel yang mempengaruhi variabel lainnya.
Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah CR, DER dan ROE.
Variabel terikat (dependent variable) adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel
lainnya. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Harga Saham. Berikut ini
merupakan tabel yang menyajikan konsep dan operasionalisasi dari variabel yang
Tabel 3.2
Defenisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Sumber: Peneliti, 2012
3.6 Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model analisis
regresi berganda dengan bantuan software SPSS. Peneliti ini melakukan terlebih
dahulu melakukan pengujian hipotess. Pengujian asumsi klasik yang dilakukan terdiri
dari uji normalitas, uji heterokedastisitas, uji autokorelasi, dan uji multikolineritas.
Jenis Variabel
Nama Variabel
Definisi Pengukuran Skala
Pengukuran
Independen
Current Ratio (X1)
Rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban (utang) jangka pendek yang segera jatuh tempo dengan menggunakan aktiva lancarnya. Rasio Debt to Equity Ratio (X2)
Rasio yang diukur dari perbandingan antara total utang dengan ekuitas (modal sendiri)
Rasio Return On Equity (X3) Rasio yang membandingkan laba
bersih dengan ekuitas pemegang saham. Rasio Dependen Harga Saham (Y)
Harga yang dibentuk dari interaksi antara para penjual dan pembeli saham yang dilatarbelakangi oleh harapan mereka terhadap keuntungan perusahaan
Rata-rata harga saham penutupan selama 1 periode tertentu.
Untuk pengujian hipotesis dilakukan analisis regresi linear berganda. Kemudian
dilakukan proses pengujian analisis F dan pengujian analisis t untuk mengetahui
apakah masing-masing variabel independen berpengaruh secara individu maupun
secara serempak terhadap variabel dependen.
3.6.1 Pengujian Asumsi Klasik a. Uji Normalitas
Menurut Ghozali (2005 : 110) “uji normalitas bertujuan untuk menguji
apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki
distribusi normal”. Cara yang dapat digunakan untuk menguji apakah
variabel pengganggu ataupun residual memiliki ditribusi normal adalah
dengan melakukan uji kolomogrov-Smirnov terhadap model yang diuji.
Kriteria pengambilan keputusan adalah apabila nilai signifikansi atau
probabilitas > 0,05, maka residual memiliki distribusi normal dan apabila
nilai signifikansi atau probabilitas < 0,05, maka residual itu tidak
memiliki distribusi normal.
b. Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah apakah model
regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas/independen
(Ghozali, 2005 : 91). Multikolinearitas adalah situasi adanya korelasi
variabel – variabel independen antara yang satu dengan yang lainnya.
variabel independen. Pengujian multikolinearitas dilakukan dengan
melihat nilai Variance Inlation Factor (VIF) dan korelasi di antara
variabel independen. Jika nilai VIF > 10, maka terjadi multikolinearitas di
antara variabel independen.
c. Uji Heterokedastisitas
Menurut Ghozali (2005 : 105) “uji heteroskedastisitas bertujuan
menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari
residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain”. Model regresi yang
baik adalah tidak terjadi heteroskedastisitas. Cara mendeteksi ada atau
tidaknya heteroskedastisitas adalah dengan melihat grafik plot antara nilai
prediksi variabel dependen. Menurut Ghozali (2005 : 105) dasar analisis
untuk menentukan ada atau tidaknya heteroskedastisitas yaitu:
1) Jika ada pola tertentu, seperti titik - titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas.
2) Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik - titik menyebar di atas dan bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.
d. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk melihat apakah dalam suatu model
regresi linear ada korelasi atau kesalahan pengganggu pada periode t
dengan kesalahan pada periode t-1. Autokorelasi muncul karena observasi
hal ini sering ditemukan pada time series. Pada data crossection, masalah
autokorelasi relatif tidak terjadi.
Pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi menurut Ghozali
[image:47.612.169.492.264.393.2](2005) adalah sebagai berikut:
Tabel 3.4
Kriteria Keputusan Autokorelasi
Jika Keputusan
0 – DL Terjadi autokorelasi positi
DL - DU Tanpa kesimpulan
DU – (4 – DU) Tidak terjadi autokorelasi
(4 – DU) – (4 – DL) Tanpa kesimpulan
(4 – DL) - 4 Terjadi autokorelasi negatif
3.6.2 Pengujian Hipotesis
Model penelitian ini menggunakan model regresi linier berganda. Model
regresi linier berganda adalah model regresi yang memiliki lebih dari satu
variabel independen. Model regresi linier berganda dikatakan model yang baik
jika model tersebut memenuhi asumsi normalitas data dan terbebas dari asumsi –
asumsi klasik statistik baik multikolinearitas, autokorelasi dan heterokedastisitas
(Lubis et.al, 2007: 47). Persamaan regresi linier berganda yaitu:
Ket:
Y = harga saham
X1 = CR
X2 = DER
X3 = ROE
α = konstanta
b1, b2 , b3 = koefisien regresi
e = error
a. Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien Determinasi (R2) mengukur seberapa jauh kemampuan
model menerangkan variasi variabel independen (Ghozali, 2005 : 83).
Nilai koefisien determinasi dapat dilihar pada R Square. R Square
dikatakan baik jika nilainya di atas 0,5 karena nilai R Square berkisar
antara 0 dan 1.
b. Uji signifikansi serempak
Secara serempak, pengujian hipotesis dengan uji F-test. Menurut
Ghozali (2005 : 84) “uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah
semua variabel independen atau bebas yang dimasukkan dalam model
mempunyai pengaruh secara bersama – sama terhadap variabel
Hipotesis yang akan diuji adalah sebagai berikut:
Ho : artinya variabel current ratio, debt to equity ratio, dan return on
equity secara bersama-sama tidak mempunyai pengaruh yang
signifikan terhadap harga saham.
Ha : artinya variabel current ratio, debt to equity ratio, dan return on
equity secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan
terhadap harga saham. Uji ini dilakukan dengan membandingkan
signifikansi Fhitung dengan ketentuan :
jika Fhitung < Ftabel pada α 0,05 dan nilai p-value > level of significant
sebesar 0,05, maka Ha ditolak, dan
jika Fhitung > Ftabelpada α 0,05 dan nilai p-value < level of significant
sebesar 0,05 , maka Ha diterima.
c. Uji signifikansi parsial
Secara parsial, pengujian hipotesis dilakukan dengan uji t-test.
Menurut Ghozali (2005 : 84) “uji statistik t pada dasarnya menunjukkan
seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas/independen secara
individual dalam menerangkan variabel dependen”. Uji-t dilakukan untuk
mengetahui signifikan tidaknya pengaruh masing-masing variabel bebas
terhadap variabel terikat, atau dengan kata lain untuk menguji pengaruh
variabel independen dan variabel dependen secara parsial.
Ho : artinya variabel current ratio, debt to equity ratio, dan return on
equity secara parsial tidak mempunyai pengaruh yang signifikan
terhadap harga saham.
Ha : artinya variabel current ratio, debt to equity ratio, dan return on
equity secara parsial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap
harga saham.
Uji ini dilakukan dengan membandingkan t-hitung dengan t-tabel dengan
ketentuan :
Jika t-hitung < t-tabel, maka Ha diterima dan Ho ditolak;
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Data Penelitian
4.1.1 Pengelompokan sampel
Data cross section cross section yang digunakan berjumlah 16
perusahaan- perusahaan manufaktur industri makanan dan minuman yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan time series selama 3 tahun pengamatan
pada periode 2009-2011 sehingga diperoleh sampel sebanyak 9 perusahaan.
Berikut ini adalah nama-nama perusahaan yang terpilih menjadi sampel
[image:51.612.145.455.418.643.2]penelitian:
Tabel 4.1 Sampel Penelitian
No. Kode Nama Perusahaan
1 ADES Akasha Wira Internasional Tbk. 2 AISA Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk. 3 CEKA Cahaya Kalbar Tbk.
4 DLTA Delta Jakarta Tbk.
5 INDF Indofood Sukses Makmur Tbk. 6 MLBI Multi Bintang Indonesia Tbk 7 MYOR Mayora Indah Tbk.
8 STTP Siantar Top Tbk. 9 ULTJ Ultra Jaya Milk Tbk. Sumber : diolah penulis, 2012
Varabel current ratio diukur dengan membagi total aktiva lancar dengan
total hutang lancar yang datanya diperoleh dari laporan keuangan tahunan
perusahaan di Bursa Efek Indonesia. Data current ratio 9 perusahaan yang
menjadi sampel secara keseluruhan dapat dilihat pada Lampiran ii.
4.1.3 Variabel Debt To Equity Ratio
Variabel debt to equity ratio diukur dengan membagi total hutang dengan
total modal yang datanya diperoleh dari laporan keuangan tahunan perusahaan di
Bursa Efek Indonesia. Data debt to equity ratio 9 perusahaan yang menjadi
sampel secara keseluruhan dapat dilihat pada Lampiran ii.
4.1.4 Variabel Return On Equity
Variabel return on equity diukur dengan membagi laba bersih setelah
pajak dan bunga dengan rata-rata modal yag datanya diperoleh dari laporan
keuangan tahunan perusahaan di Bursa Efek Indonesia. Data return on equity 9
perusahaan yang menjadi sampel secara keseluruhan dapat dilihat pada Lampiran
ii.
4.1.5 Variabel harga saham
Variabel harga saham yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Data harga saham 9 perusahaan yang menjadi sampel secara keseluruhan dapat
dilihat pada Lampiran ii.
4.2 Analisis Data Penelitian
4.2.1 Analisis statistik deskriptif
Statistik deskriptif merupakan proses transformasi data penelitian dalam
bentuk tabulasi sehingga mudah dipahami dan diinterpretasikan. Statistik
deskriptif umumnya digunakan untuk memberi informasi mengenai variabel
penelitian yang utama. Dalam suatu penelitian, anaisis deskriptif perlu dilakukan
karena karakteristik dari suatu data akan menggambarkan fenomena dari data
(Erlina, 2008:88).
Statistik deskriptif meliputi nilai minimum, nilai maksumum, rata-rata,
dan devasi standar dari masing-masing variabel yang digunakan dalam penelitian
ini, yaitu current ratio, debt to equity ratio, return on equity, dan harga saham.
Berdasarkan hasil pengolahan data, deskripsi statistik dari data penelitian adalah
[image:53.612.148.510.620.726.2]sebagai berikut:
Tabel 4.2
a. Statistik deskriptif variabel current ratio
Berdasarkan Tabel 4.2 ditunjukkan bahwa nilai rata-rata current ratio
perusahaan adalah 2,2356 dengan standar deviasi sebesar 1,45249. Nilai
current ratio minimum sebesar 0,66 dimiliki oleh PT. Multi Bintang
Indonesia Tbk. pada tahun 2009. Sedangkan nilai current ratio maksmum
sebesar 6,33 dimiliki oleh PT Delta Jakarta Tbk. pada tahun 2010. Nilai
rata-rata current ratio yang lebih besar dari nilai standar deviasinya
memiiki arti bahwa penyimpangan datanya kecil sehingga data tidak
tersebar.
b. Statistik deskriptif variabel debt to equity ratio
Berdasarkan Tabel 4.2 ditunjukkan bahwa nilai rata-rata debt to equity
ratio perusahaan adalah 1,3393 dengan standar deviasi sebesar 1,53034.
Variabel debt to equity ratio memiliki nilai rata-rata yang lebih kecil dari
nilai standar deviasinya yang berarti penyimpangan datanya besar
sehingga data tersebar. Nilai debt to equity ratio minimum sebesar 0,20
dimiliki oleh PT Delta Jakarta Tbk. pada tahun 2010. Sedangkan nilai
debt to equity ratio maksimum sebesar 8,43 dimiliki oleh PT. Multi
Bintang Indonesia Tbk. pada tahun 2009.
c. Statistik deskriptif variabel return on equity
Berdasarkan Tabel 4.2 ditunjukkan bahwa nilai rata-rata return on
Variabel return on equity memiliki nilai rata-rata yang lebih kecil dari
nilai standar deviasinya yang berarti penyimpangan datanya besar
sehingga data tersebar. Nilai return on equity minimum sebesar 0,03
dimiliki oleh PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk. pada tahun 2009.
Sedangkan nilai return on equity maksimum sebesar 1,38 dimiliki oleh
PT. Multi Bintang Indonesia Tbk. pada tahun 2011.
d. Statistik deskriptif variabel harga saham
Berdasarkan Tabel 4.2 ditunjukkan bahwa nilai rata-rata harga saham
perusahaan sebesar Rp 38885,9259. Harga saham minimum dimiliki oleh
PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk. pada tahun 2009 sebesar Rp 411.
Sedangkan harga saham maksimum dimiliki oleh PT. Multi Bintang
Indonesia Tbk. pada tahun 2011 sebesar Rp 359.000. ilai standar deviasi
harga saham 82067,89999 artinya selama periode penelitian, ukuran
penyebaran dari variabel harga saham adalah sebesar 82067,89999.
4.2.2 Pengujian asumsi klasik a. Uji normalitas data
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi,
variabel penganggu atau residual memiliki distribusi normal. Hasil uji
normalitas dengan grafik histogram, normal probability plot, dan
Gambar 4.1 Histogram
Sumber: data diolah dengan SPSS, 2012
[image:56.612.178.469.452.704.2]Normal P-P Plot
[image:57.612.162.477.194.394.2]Sumber: data diolah dengan SPSS, 2012
Tabel 4.3
Hasil Uji Normalitas Data
Hasil
uji normalitas engan menggunakan histgram yang dapat dilihat pada
Gambar 4.1 menunjukkan bahwa data mengikuti kurva berbentuk lonceng
yang tidak melenceng ke kanan atau ke kiri. Namun pada Gambar 4.2
hasil uji normalitas dengan menggunakan normal probability plot
menunjukkan bahwa titik-titik menyebar disekitar garis diagonal dan
searah mengikuti garis diagonal yang menunjukkan pola distribusi
normal.
Hasil uji Kolmogorov-Smirnov tet pada penelitian ini menunjukkan
kolmogorov-smirnov lebih besar dari 0,05 (5%), sehingga dapat dikatakan
bahwa data yang digunakan dalam penelitian ini memiliki distribusi
normal.
b. Uji multikolinearitas
Uji multikolinearitas dilakukan untuk menguji apakah variabel-varabel
yang terdapat dalam model regresi memiliki korelasi antar variabel
independen. Jika terjadi korelasi, maka dapat dikatakan model regresi
tersebut terdapat masalah multikolinearitas. Adanya multikolinearitas
dapat dilihat dari tolerance value atau nilai ariance Inflation Factor
[image:58.612.137.538.441.575.2](VIF). Hasil pengujian multikolinearitas adalah sebagai berikut:
Tabel 4.4
Hasil Uji Multikolinearitas
Nilai tolerance dari ketiga variabel yaitu current ratio, debt to equity
variabel independen memiliki nilai lebih kecil dari 10, sehingga dapat
disimpulkan bahwa model regresi terbebas dari masalah multikolinearitas.
c. Uji heterokedastisitas
Uji heterokedastisitas dilakukan untuk menguji apakah dalam model
regeresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke
pengamatan yang lain. Hasil dari uji heterokedastisitas dapat dilihat pada
[image:59.612.195.465.312.555.2]grafik scatterplot berikut ini:
Gambar 4.3 Scatterplot
Sumber: data diolah dengan SPSS, 2012
Dari grafik scatterplot pada Gambar 4.3 terlihat bahwa titik-titik
menyebar secara acak, tidak membentuk sebuah pola tertentu, serta
tersebar baik diatas maupun dibawah angka nol pada sumbu Y. Hal ini
Pendekatan statistik untuk menguji apakah terjadi heterokedastisitas
pada model regresi dapat dilakukan dengan uji Glejser. Hasil dari uji
[image:60.612.138.516.240.407.2]Glejser dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.5
Hasil Uji Heterokedastisitas
Dari Tabel 4.5 dapat dilihat bahwa nilai signifikansi untuk variabel
current ratio adalah 0,070, untuk variabel debt to equity ratio adalah
0,867, dan untuk variabel return on equity adalah 0,059.Dari hasil ini
maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heterokedastisitas karena
semua variabel independen tidak signifikan (sig > 0,05) terhadap variabel
dependen.
d. Uji autokorelasi
Model regresi yang baik adalah model yang tidak mengandung
autokorelasi. Hasil da