RESPON PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN
TOMAT (Lycopersicum esculentum Mill.) TERHADAP
PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR DAN PADAT
SKRIPSI
OLEH :
DANIEL T. SIMAMORA 040301041
BUDIDAYA PERTANIAN /AGRONOMI
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
RESPON PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN
TOMAT (Lycopersicum esculentum Mill.) TERHADAP
PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR DAN PADAT
SKRIPSI
OLEH :
DANIEL T. SIMAMORA 040301041
BUDIDAYA PERTANIAN /AGRONOMI
Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Memperoleh Gelar Sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan
Disetujui oleh : Komisi Pembimbing
Ketua Anggota
(Ir. Charloq, MP) (Ir. Jasmani Ginting, MP)
NIP. 131 570 509 NIP. 131 288 515
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
ABSTRAK
Daniel. Respon pertumbuhan dan produksi tanaman tomat (Lycopersicum
esculentum, Mill) terhadap pemberian pupuk organik cair dan padat. Penelitian
dilaksanakan di rumah kasa Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat lebih kurang 25 m dpl pada bulan Desember 2008 sampai Mei 2009. Latar belakang penelitian ini karena rendahnya produktivitas tanaman tomat di Indonesia sehingga untuk memecahkan masalah ini dilakukan pengujian terhadap tanaman tomat dataran rendah dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan dua faktor perlakuan. Faktor Pertama adalah pupuk organik cair (superbiotaplus) dengan empat taraf yaitu: 0 cc/l; 1 cc/l; 2 cc/l; 3 cc/l dan faktor kedua adalah pupuk organik padat dengan empat jenis yaitu: kontrol, bokashi (250 g/tanaman), kascing (250 g/tanaman), pupuk kandang sapi (250 g/tanaman). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian pupuk organik cair berpengaruh nyata terhadap parameter diameter batang 8 minggu setelah pindah tanam. Perlakuan pemberian pupuk organik padat berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 2-8 minggu setelah pindah tanam), diameter batang 3-8 minggu setelah pindah tanam, umur berbunga, jumlah bunga/tandan, jumlah buah/tandan, jumlah tandan buah, jumlah buah/tanaman, bobot buah/sampel, dan bobot buah/plot. Interaksi antara kedua perlakuan berpengaruh nyata terhadap diameter batang 8 minggu setelah pindah tanam.
ABSTRACT
Daniel. The growth respons growth and the production of tomato plant (Lycopersicum esculentum, Mill) to the supply of liquid and solid fertilizer. The research was held at gauze house at Faculty of Agriculture, North Sumatera University, Medan with altitude ± 25 metre above the sea level, from Desember 2008 until May 2009. Problem background of this research because low productivity of tomato plant in Indonesia, so to solve this problem must be do the test to lowland plain tomato with used the Group Randomized Design with 2 factors. The first factor was liquid fertilizer (superbiotaplus) with 4 degree e.g 0 cc/l, 1 cc/l, 2 cc/l, 3cc/l, and the second factor was solid fertilizer with 4 kinds of the fertilizer e.g kontrol, bokashi (250 g/plant), kascing (250 g/plant), poultry of cow (250 g/plant). The result shown that the liquid fertilizer has the significant effect on stem diametre 8 weeks after transplanting. The solid fertilizer has the significant effect on plant height 2-8 weeks after transplanting, stem diametre 3-8 weeks after transplanting, age of flowering, amount of flower/bunch, fruit/bunch, amount of tomato bunch, amount of fruit/plant, weight fruit/sample, and weight fruit/plot. The interaction of both factors has the significant effect on stem diametre 8 weeks after transplanting.
RIWAYAT HIDUP
Daniel Tolhas Simamora, lahir di Banda Aceh pada tanggal
22 September 1986 anak pertama dari empat bersaudara, putra dari Bapak M.Simamora (+) dan Ibu R.Pangaribuan.
Pendidikan yang ditempuh adalah SD Karya Budi Banda Aceh lulus tahun 1998, SLTP St.Maria Medan lulus tahun 2001, SMUN 1 Medan lulus tahun 2004. Terdaftar sebagai mahasiswa Program Studi Agronomi Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara pada tahun 2004 melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB).
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan rahmat Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Adapun judul dari skripsi ini adalah “Respon Pertumbuhan dan Produksi Tanaman
Tomat (Lycopersicum esculentum, Mill) Terhadap Pemberian Pupuk
Organik Cair dan Padat” yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh
gelar sarjana di Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada
Ibu Ir. Charloq, MP sebagai ketua komisi pembimbing dan Bapak Ir. Jasmani Ginting, MP sebagai anggota komisi pembimbing yang telah
meluangkan waktu untuk bimbingan baik persiapan penelitian sampai penulisan skripsi ini dan juga kepada Ibu Ir. Haryati, MP sebagai dosen pembimbing PKL dan kepada seluruh dosen yang telah memberikan ilmunya kepada penulis selama kuliah di Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.
kepada abang/kakak senior dan adik-adik stambuk 2007 dan 2008 atas bantuannya dalam penelitian ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis mengucapkan banyak terima kasih dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan.
Medan, Mei 2009
DAFTAR ISI
Hal
ABSTRACT ...i
ABSTRAK ...ii
RIWAYAT HIDUP ...iii
KATA PENGANTAR ...iv
DAFTAR ISI ...vi
DAFTAR TABEL ...viii
DAFTAR GAMBAR ...ix
DAFTAR LAMPIRAN ...x
PENDAHULUAN ...1
Latar Belakang ...1
Tujuan penelitian ...4
Hipotesa Penelitian ...4
Kegunaan Penelitian ...4
TINJAUAN PUSTAKA ...5
Botani tanaman ...5
Syarat Tumbuh ...6
Iklim ...6
Tanah...7
Pupuk Organik Cair ...8
Pupuk Organik Padat ...11
BAHAN DAN METODE ...14
Tempat dan Waktu Penelitian ...14
Bahan dan Alat ...14
Metode Penelitian ...15
PELAKSANAAN PENELITIAN ...17
Sterilisasi Rumah Kassa ...17
Penyiapan Lahan ...17
Persiapan Media Tanam ...17
Pembibitan ...17
Penanaman ...18
Aplikasi Pupuk Organik Cair ...18
Aplikasi Pupuk Organik Padat ...18
Pemeliharaan Tanaman ...19
Penyiraman ...19
Penyulaman ...19
Penyiangan ...19
Pemupukan ...19
Pengendalian Hama Penyakit ...20
Panen ...20
Pengamatan Parameter ...20
Tinggi Tanaman (cm) ...20
Diameter Batang (mm) ...20
Jumlah Cabang Primer (Cabang) ...21
Umur Berbunga (Hari) ...21
Jumlah Bunga/Tandan (Bunga) ...21
Jumlah Buah/Tandan (Buah) ...21
Jumlah Tandan Buah (Tandan) ...21
Jumlah Buah/Tanaman (Buah) ...21
Bobot Buah/Sampel (g) ...21
Bobot Buah/Plot (g) ...22
Klasifikasi Mutu ...22
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 23
Hasil...23
Pembahasan ...44
KESIMPULAN DAN SARAN ... 51
Kesimpulan ...51
Saran ...51
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Hal 1. Rataan Tinggi Tanaman 1 – 8 MSPT Pada Pemberian Pupuk Organik Cair dan Pupuk Organik Padat... 24 2. Rataan Tinggi Tanaman 8 MSPT Pada Pemberian Pupuk Organik Cair
dan Pupuk Organik Padat... 24 3. Rataan Diameter Batang 2 – 8 MSPT Pada Pemberian Pupuk Organik Cair dan Pupuk Organik Padat... 26 4. Rataan Diameter Batang 8 MSPT Pada Pemberian Pupuk Organik Cair dan Pupuk Organik Padat... 27 5. Rataan Jumlah Cabang 8 MSPT Pada Pemberian Pupuk Organik Cair
dan Pupuk Organik Padat... 28 6. Rataan Umur Berbunga Pada Pemberian Pupuk Organik Cair dan
Pupuk Organik Padat... 29 7. Rataan Jumlah Bunga per Tandan Pada Pemberian Pupuk Organik
Cair dan Pupuk Organik Padat... 31 8. Rataan Jumlah Buah per Tandan Pada Pemberian Pupuk Organik
Cair dan Pupuk Organik Padat... 33 9. Rataan Jumlah Tandan Buah Pada Pemberian Pupuk Organik
Cair dan Pupuk Organik Padat... 35 10.Rataan Jumlah Buah per Tanaman Pada Pemberian Pupuk Organik
Cair dan Pupuk Organik Padat... 37 11.Rataan Bobot Buah per Sampel Pada Pemberian Pupuk Organik
Cair dan Pupuk Organik Padat... 39 12.Rataan Bobot Buah per Plot Pada Pemberian Pupuk Organik
DAFTAR GAMBAR
Hal
1. Tinggi Tanaman 8 MSPT Terhadap Pemberian Pupuk Organik
Padat ... 25 2. Hubungan Antara Diameter Batang 8 MSPT Dengan Pemberian
Berbagai Dosis Pupuk Organik Cair Pada Berbagai Dosis Pupuk
DAFTAR LAMPIRAN
Hal
1. Rataan Tinggi Tanaman (cm) 1 MSPT ... 54
2. Analisa Sidik Ragam Tinggi Tanaman 1 MSPT ... 54
3. Rataan Tinggi Tanaman (cm) 2 MSPT ... 55
4. Analisa Sidik Ragam Tinggi Tanaman 2 MSPT ... 55
5. Rataan Tinggi Tanaman (cm) 3 MSPT ... 56
6. Analisa Sidik Ragam Tinggi Tanaman 3 MSPT ... 56
7. Rataan Tinggi Tanaman (cm) 4 MSPT ... 57
8. Analisa Sidik Ragam Tinggi Tanaman 4 MSPT ... 57
9. Rataan Tinggi Tanaman (cm) 5 MSPT ... 58
10. Analisa Sidik Ragam Tinggi Tanaman 5 MSPT ... 58
11. Rataan Tinggi Tanaman (cm) 6 MSPT ... 59
12. Analisa Sidik Ragam Tinggi Tanaman 6 MSPT ... 59
13. Rataan Tinggi Tanaman (cm) 7 MSPT ... 60
14. Analisa Sidik Ragam Tinggi Tanaman 7 MSPT ... 60
15. Rataan Tinggi Tanaman (cm) 8 MSPT ... 61
16. Analisa Sidik Ragam Tinggi Tanaman 8 MSPT ... 61
17. Rataan Diameter Batang (cm) 1 MSPT... 62
18. Analisa Sidik Ragam Diameter Batang 1 MSPT ... 62
19. Rataan Diameter Batang (cm) 2 MSPT... 63
20. Analisa Sidik Ragam Diameter Batang 2 MSPT ... 63
21. Rataan Diameter Batang (cm) 3 MSPT... 64
23. Rataan Diameter Batang (cm) 4 MSPT... 65
24. Analisa Sidik Ragam Diameter Batang 4 MSPT ... 65
25. Rataan Diameter Batang (cm) 5 MSPT... 66
26. Analisa Sidik Ragam Diameter Batang 5 MSPT ... 66
27. Rataan Diameter Batang (cm) 6 MSPT... 67
28. Analisa Sidik Ragam Diameter Batang 6 MSPT ... 67
29. Rataan Diameter Batang (cm) 7 MSPT... 68
30. Analisa Sidik Ragam Diameter Batang 7 MSPT ... 68
31. Rataan Diameter Batang (cm) 8 MSPT... 69
32. Analisa Sidik Ragam Diameter Batang 8 MSPT ... 69
33. Rataan Jumlah Cabang Primer 5 MSPT (cabang) ... 70
34. Analisa Sidik Ragam Jumlah Cabang Primer 5 MSPT ... 71
35. Rataan Jumlah Cabang Primer 8 MSPT (cabang) ... 72
36. Analisa Sidik Ragam Jumlah Cabang Primer 8 MSPT ... 72
37. Rataan Umur Berbunga (hari) ... 73
38. Analisa Sidik Ragam Umur Berbunga ... 73
39. Rataan Jumlah Bunga per Tandan (bunga) ... 74
40. Analisa Sidik Ragam Jumlah Bunga per Tandan ... 74
41. Rataan Jumlah Buah per Tandan (buah) ... 75
42. Analisa Sidik Ragam Jumlah Buah per Tandan ... 75
43. Rataan Jumlah Tandan Buah (tandan) ... 76
44. Analisa Sidik Ragam Jumlah Tandan Buah ... 76
45. Rataan Jumlah Buah per Tanaman (buah)... 77
48. Analisa Sidik Ragam Bobot Buah per Sampel ... 78
49. Rataan Bobot Buah per Plot (g) ... 79
50. Analisa Sidik Ragam Bobot Buah per Plot ... 79
51. Rangkuman Uji Beda Rataan Parameter Terhadap Pupuk Organik Cair dan Padat ... 80
52. Deskripsi Tanaman Tomat Varietas Permata ... 81
53. Hasil Analisis Bokasi dan Kompos ... 82
54. Hasil Ananlisi Kascing ... 83
55. Bagan Lahan Penelitian ... 84
56. Bagan Tanaman Per Plot ... 85
57. Jadwal Kegiatan Penelitian ... 86
ABSTRAK
Daniel. Respon pertumbuhan dan produksi tanaman tomat (Lycopersicum
esculentum, Mill) terhadap pemberian pupuk organik cair dan padat. Penelitian
dilaksanakan di rumah kasa Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat lebih kurang 25 m dpl pada bulan Desember 2008 sampai Mei 2009. Latar belakang penelitian ini karena rendahnya produktivitas tanaman tomat di Indonesia sehingga untuk memecahkan masalah ini dilakukan pengujian terhadap tanaman tomat dataran rendah dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan dua faktor perlakuan. Faktor Pertama adalah pupuk organik cair (superbiotaplus) dengan empat taraf yaitu: 0 cc/l; 1 cc/l; 2 cc/l; 3 cc/l dan faktor kedua adalah pupuk organik padat dengan empat jenis yaitu: kontrol, bokashi (250 g/tanaman), kascing (250 g/tanaman), pupuk kandang sapi (250 g/tanaman). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian pupuk organik cair berpengaruh nyata terhadap parameter diameter batang 8 minggu setelah pindah tanam. Perlakuan pemberian pupuk organik padat berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 2-8 minggu setelah pindah tanam), diameter batang 3-8 minggu setelah pindah tanam, umur berbunga, jumlah bunga/tandan, jumlah buah/tandan, jumlah tandan buah, jumlah buah/tanaman, bobot buah/sampel, dan bobot buah/plot. Interaksi antara kedua perlakuan berpengaruh nyata terhadap diameter batang 8 minggu setelah pindah tanam.
ABSTRACT
Daniel. The growth respons growth and the production of tomato plant (Lycopersicum esculentum, Mill) to the supply of liquid and solid fertilizer. The research was held at gauze house at Faculty of Agriculture, North Sumatera University, Medan with altitude ± 25 metre above the sea level, from Desember 2008 until May 2009. Problem background of this research because low productivity of tomato plant in Indonesia, so to solve this problem must be do the test to lowland plain tomato with used the Group Randomized Design with 2 factors. The first factor was liquid fertilizer (superbiotaplus) with 4 degree e.g 0 cc/l, 1 cc/l, 2 cc/l, 3cc/l, and the second factor was solid fertilizer with 4 kinds of the fertilizer e.g kontrol, bokashi (250 g/plant), kascing (250 g/plant), poultry of cow (250 g/plant). The result shown that the liquid fertilizer has the significant effect on stem diametre 8 weeks after transplanting. The solid fertilizer has the significant effect on plant height 2-8 weeks after transplanting, stem diametre 3-8 weeks after transplanting, age of flowering, amount of flower/bunch, fruit/bunch, amount of tomato bunch, amount of fruit/plant, weight fruit/sample, and weight fruit/plot. The interaction of both factors has the significant effect on stem diametre 8 weeks after transplanting.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tomat merupakan salah satu kebutuhan yang sangat penting bagi manusia. Sehingga dari tahun ke tahun Indonesia selalu berusaha untuk meningkatkan produksi tomat dengan cara perluasan wilayah budidaya tomat. Namun hingga tahun 2004 Indonesia masih mengimpor tomat sebanyak 8.192.280 kg baik dalam bentuk buah segar maupun dalam bentuk olahan yang berasal dari berbagai negara.
Dataran rendah di Indonesia masih luas, diharapkan potensi hasilnya akan lebih tinggi dibandingkan dengan dataran tinggi. Salah satu kendala penanaman tomat di dataran rendah adalah rendahnya produktivitas tanaman tersebut (Purwati, 2007).
Di daerah tropika pemupukan harus dipertimbangkan secara cermat dibandingkan dengan daerah yang beriklim sedang. Berbagai faktor seperti suhu, curah hujan, dan penyinaran yang lebih tinggi memiliki peranan dalam menghabiskan dan mengurangi lebih cepat baik pupuk organik maupun anorganik di daerah tropik (Novizan, 2005).
Tidak lengkapnya unsur hara makro dan unsur hara mikro dapat mengakibatkan hambatan bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman serta berpengaruh langsung terhadap produktifitas tanaman. Ketidaklengkapan salah satu atau beberapa dari unsur hara makro dan mikro dapat diatasi dengan pemupukan yang berimbang (Sutedjo, 2002).
Unsur hara makro adalah unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang banyak, sedangkan unsur hara mikro adalah unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang sedikit bila berlebihan dapat menjadi racun bagi tanaman. Penambahan unsur mikro ke dalam tanah haruslah dilakukan dan dikendalikan lebih teliti daripada penambahan unsur hara makro. Perbedaan antara jumlah unsur mikro yang diberikan pada waktu terjadi kekurangan dan keracunan adalah sangat kecil. Oleh karena itu unsur mikro hanya diberikan bila kita yakin unsur itu diperlukan dan jumlah yang dibutuhkan diketahui (Hasibuan, 2008).
tubuh tanaman agar daun, bunga, dan buah tidak mudah gugur. Yang tidak bisa dilupakan ialah kalium pun merupakan sumber kekuatan bagi tanaman dalam menghadapi kekeringan dan penyakit (Lingga dan Marsono, 2004).
Salah satu usaha yang dilakukan untuk peningkatan kualitas dan kuantitas tomat adalah dengan penambahan bahan organik dalam tanah yang dapat memperbaiki struktur tanah sehingga menjadi gembur dan akar tanaman lebih mudah menembus tanah dan menyerap unsur hara yang ada di dalam tanah dengan baik hal ini akan menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Rismunandar, 2001).
Bahan organik yang dapat ditambahkan ke dalam tanah antara lain pupuk organik padat. Penggunaan bahan organik ini karena bahan organik ini merupakan limbah yang diharapkan akan dapat dimanfaatkan untuk peningkatan produksi pertanian (Premeno dan Widyawati, 2000).
Penggunaan pupuk organik cair dan pupuk organik padat diharapkan dapat meningkatkan produktivitas tanaman tomat. Penggunaan pupuk organik cair pada khususnya diharapkan dapat langsung dimanfaatkan oleh tanaman tomat sehingga penggunaannya lebih efisien. Penggunaan pupuk organik padat diharapkan dapat memberi manfaat pada perbaikan tekstur dan struktur tanah sehingga mobilisasi unsur hara lebih baik dan menunjang pertumbuhan dan produksi tanaman tomat.
Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui respon petumbuhan dan produksi tanaman tomat (Lycopersicum esculentum Mill.) terhadap pemberian pupuk organik cair (Super Biotaplus) dan pupuk organik padat.
Hipotesa Penelitian
1. Ada pengaruh Pupuk Organik Cair terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman tomat (Lycopersicum esculentum Mill.).
2. Ada pengaruh Pupuk Organik Padat terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman tomat (Lycopersicum esculentum Mill.).
3. Ada pengaruh interaksi Pupuk Organik Cair dan Pupuk Organik Padat
terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman tomat (Lycopersicum esculentum Mill.).
Kegunaan Penelitian
• Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
TINJAUAN PUSTAKA
Menurut Trisnawati dan Setiawan (1997), tanaman tomat diklasifikasikan ke dalam golongan:
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta Subdivisio : Angiospermae Kelas : Dicotyledoneae Ordo : Tubiflorae Family : Solanaceae Genus : Lycopersicum
Spesies : Lycopersicum esculentum Mill.
Batang tanaman tomat bentuknya bulat dan membengkak pada buku-buku. Bagian yang masih muda berambut biasa dan ada yang berkelenjar. Mudah patah, dapat naik bersandar pada turus atau merambat pada tali, namun harus dibantu dengan beberapa ikatan. Dibiarkan merata, cukup rimbun menutupi tanah. Bercabang banyak sehingga secara keseluruhan berbentuk perdu. Pada tanaman tomat varietas permata tinggi tanaman mencapai 150 cm dengan diameter batang 2-3 cm (Rismunandar, 2001).
Bunga tanaman tomat berwarna kuning dan tersusun dalam dompolan dengan jumlah 5-10 bunga per dompolan atau tergantung dari varietasnya. Bunga tomat dapat melakukan penyerbukan sendiri karena tipe bunganya berumah satu. Menurut deskripsi, tanaman tomat varietas permata berbunga pada umur 25 hari setelah pindah tanam, jumlah bunga per tandan 6-10, dan jumlah tandan bunga 10-16 (Wiryanta, 2004).
Buah tomat memiliki bentuk buah tomat beragam: lonjong, oval, pipih, meruncing, dan bulat. Diameter buah tomat antara 2-15 cm, tergantung varietasnya. Menurut deskripsi, panen awal tanaman tomat varietas permata pada 70-80 hari setelah tanam dan panen akhir pada 100 hari setelah tanam dengan frekuensi panen 2-3 hari sekali. Rata-rata berat per buah yang dipanen adalah 50 g (3-4 kg/tanaman) (Pitojo, 2005).
Varietas tomat dataran rendah yang digunakan adalah varietas permata yang tipe pertumbuhannya determinate. Tanda percabangan tanaman tomat adalah terdiri dari dua cabang utama yang muncul diujung batang pada saat tomat hendak memasuki masa generatif, dan jumlah bunga/tandan dan buah/tandan muncul saat tanaman tomat telah memasuki masa generatif dan terdapat pada ujung tanaman dan setiap ruas batang. Sedangkan jumlah tandan buah merupakan jumlah keseluruhan tandan buah yang terdapat pada satu tanaman yang dilihat dari setiap ruas dan juga ujung tanaman tomat (Purwati, 2007).
Syarat Tumbuh
Iklim
yang terik dengan angin yang kencang akan menghambat pertumbuhan bunga. Baik didataran tinggi maupun didataran rendah dalam musim kemarau, tomat memerlukan penyiraman dan pengairan demi kelangsungan hidup dan produksinya (Rismunandar, 2001).
Suhu yang paling ideal untuk perkecambahan benih tomat adalah 25 – 300 C. sementara itu, suhu ideal untuk pertumbuhan tanaman tomat adalah 24 – 280
Tanaman tomat pada fase vegetatif memerlukan curah hujan yang cukup. Sebaliknya pada fase generatif memerlukan curah hujan yang sedikit. Curah hujan yang tinggi pada fase pemasakan buah dapat menyebabkan daya tumbuh yang lebih rendah.curah hujan yang ideal selama pertumbuhan tanaman tomat berkisar antara 750 – 1250 mm/tahun. Curah hujan tidak menjadi factor penghambat dalam penangkaran benih tomat, dimusim kemarau jika kebutuhan air dapat dicukupi dari air irigasi (Pitojo, 2005) .
C. Kelembaban relatif yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman tomat adalah 80% (Wiryanta, 2004).
Tanaman tomat membutuhkan penyinaran penuh sepanjang hari untuk produksi yang menguntungkan, tetapi sinar matahari yang terik tidak disukai. Daerah yang beriklim sejuklah yang disukainya. (Tugiyono, 2001).
Tanah
Di Indonesia, tanaman tomat dataran rendah dapat dibudidayakan di daerah dengan ketinggian <100 m dpl. Ketinggian tempat berkaitan erat dengan suhu udara siang dan malam hari (Pitojo, 2005).
Untuk pertumbuhannya yang baik, tanaman tomat membutuhkan tanah yang gembur, kadar keasaman (pH) antara 5-6, tanah sedikit mengandung pasir, dan banyak mengandung humus, serta pengairan yang teratur dan cukup mulai tanam sampai waktu tanaman mulai dapat di panen (Tugiyono, 2001).
Pupuk Organik Cair Super Biotaplus
pagi hari pukul 07.00 WIB - 10.00 WIB atau sore hari pukul 15.00 WIB - 18.00 WIB.
Pupuk organik cair yang digunakan dalam penelitian ini adalah pupuk Super Biotaplus yang merupakan pupuk organik cair lengkap. Super Biotaplus digunakan dengan cara disemprotkan pada bagian bawah permukaan daun, ranting dan batang sampai basah dan merata. Super Biotaplus ini terlihat dampaknya, dapat meningkatkan produksi hasil panen lebih dari 40% - 100% dengan menggunakan pupuk tersebut. Kandungan unsur hara dalam pupuk organik cair Super Biotaplus adalah N : 16,64 %, P2O5 : 2,43 %, K20 : 17,51 %, Organik karbon : 6,87%, C/N : 0,41, SO4 : 2,64 %, Cl : 1,49 %, Fe : 43,03 ppm, Cu : 0,63 ppm, Mg : 0,07 %, Zn : 28,80 ppm, Mo : 0,58 % dan pH : 7,76.
Manfaat dan kegunaan pupuk organik cair lengkap Super Biotaplus yaitu meningkatkan produksi panen 40 % - 100 %, mencegah atau mengurangi gugur bunga dan buah, memperkuat jaringan pada akar dan batang, sebagai katalisator sehingga dapat mengurangi penggunaan pupuk dasar sampai 50 %, meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan penyakit terutama fungi atau cendawan, mempercepat panen pada tanaman semusim, memperpanjang masa umur tanaman yang sedang berproduksi, yang tidak habis satu kali panen, misalnya tomat, cabe, kacang panjang, mentimun. Sangat baik digunakan pada persemaian, pembibitan dengan dosis 1 : 1500 atau setiap 10 cc Super Biotaplus dilarutkan dengan 15 liter air (PT. Tri Harmoni Abadi.com, 2008) .
Meskipun mengandung unsur hara yang rendah, bahan organik penting
dalam: (1) menyediakan hara makro dan mikro seperti Zn, Cu, Mo, Co, Ca, Mg,
bereaksi dengan ion logam untuk membentuk senyawa kompleks, sehingga ion
logam yang meracuni tanaman atau menghambat penyediaan hara seperti Al, Fe
dan Mn dapat dikurangi (Setyorini, 2005).
Daya larut yang menentukan cepat atau lambatnya unsur hara yang ada di dalam pupuk untuk diserap tanaman atau hilang karena tercuci. Pupuk daun yang berkualitas memiliki daya larut yang tinggi sehingga akan memudahkan dalam aplikasi pupuk, terutama tidak perlu terlalu lama. Pupuk berdaya larut tinggi memungkinkan seluruh unsur hara yang dikandung oleh pupuk daun dapat sampai dan diserap oleh permukaan daun. Jika ada campuran pupuk dan air masih terdapat endapan, bahan yang mengendap tersebut tidak dapat digunakan oleh tanaman. Selain menentukan jenis pupuk yang tepat, perlu diketahui juga cara aplikasi yang benar, sehingga takaran pupuk yang diberikan dapat lebih efisien. Kesalahan dalam aplikasi pupuk akan berakibat pada terganggunya pertumbuhan tanaman, bahkan unsur hara yang dikandung oleh pupuk tidak dapat dimanfaatkan tanaman (Novizan, 2005).
Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari sisa-sisa tanaman, hewan
atau manusia seperti pupuk kandang, pupuk hijau, dan kompos baik yang
berbentuk cair maupun padat. Pupuk organik bersifat bulky dengan kandungan
hara makro dan mikro rendah sehingga perlu diberikan dalam jumlah banyak.
Manfaat utama pupuk organik adalah dapat memperbaiki kesuburan kimia, fisik
dan biologis tanah, selain sebagai sumber hara bagi tanaman. Pupuk organik
dapat dibuat dari berbagai jenis bahan, antara lain sisa panen (jerami, brangkasan,
tongkol jagung, bagas tebu, sabut kelapa), serbuk gergaji, kotoran hewan
Pupuk organik cair dapat diklasifikasikan atas pupuk kandang cair, biogas, pupuk cair dari limbah organik, pupuk cair dari limbah kotoran manusia dan mikroorganisme efektif (Parnata, 2005).
Pupuk organik cair adalah pupuk organik berbentuk cairan. Pupuk cair umumnya hasil ekstrak bahan organik yang sudah dilarutkan dengan pelarut seperti air, alkohol, atau minyak. Senyawa organik mengandung karbon, vitamin, atau metabolit sekunder dapat berasal dari ekstrak tanaman, tepung ikan, tepung tulang, atau enzim. Pengaplikasian pupuk organik cair dengan menyemprotkan ke daun atau disiramkan ke tanah (Musnamar, 2005).
Tanaman semusim umumnya berumur pendek dan ditanam dengan jarak tanam rapat, maka pemupukan dilakukan melalui daun dengan pupuk yang disebut dengan pupuk daun. Pemupukan lewat daun ini umumnya dilakukan dengan cara melarutkan pupuk tersebut ke dalam air lalu larutan pupuk tersebut disemprotkan ke permukaan daun (Prihmantoro, 2005).
Pupuk Organik Padat
Pupuk-pupuk dalam bentuk padat pada umumnya diaplikasikan melalui tanah atau akar tanaman. Namun demikian ada juga pupuk padat yang dapat diaplikasikan melalui daun asal saja pupuk tersebut bersifat larut sempurna di dalam air (Hasibuan, 2008).
Kotoran cacing (kascing) mengandung nutrisi yang dibutuhkan tanaman. Penambahan kascing pada media tanaman akan mempercepat pertumbuhan, meningkatkan tinggi dan berat tumbuhan. Jumlah optimal kascing yang dibutuhkan untuk mendapatkan hasil positif hanya 10-20% dari volume media tanaman (Mashur, 2001).
Kompos merupakan semua bahan organik yang telah mengalami degradasi/penguraian/pengomposan sehingga berubah bentuk dan tidak dikenali bentuk aslinya, berwarna kehitam-hitaman dan tidak berbau. Bahan organik ini berasal dari tanaman maupun hewan, termasuk kotoran hewan. Proses pengomposan juga dapat melibatkan cacing tanah. Kehadiran cacing dapat membantu proses pengomposan karena bahan-bahan yang akan diurai mikroorganisme telah diurai dahulu oleh cacing. Hasil dari proses vermikomposting ini berupa kascing. Ada juga yang mengatakan bahwa kascing merupakan kotoran cacing yang dapat berguna untuk pupuk. Kascing ini mengandung partikel-partikel kecil dari bahan organik yang dimakan cacing dan kemudian dikeluarkan lagi. Kandungan kascing tergantung dari bahan organik dan jenis cacingnya (Indriani, 2004).
Pupuk organik dapat berupa pupuk kandang, kompos dan campuran keduanya. Kunci pokok dalam pemilihan pupuk kandang adalah tingkat kematangan, perbandingan Carbon dan Nitrogen (C/N) dan kandungan unsur hara. Pupuk kandang selain berfungsi untuk memperbaiki sifat tanah juga sebagai sumber unsur hara walaupun dalam jumlah kecil. Dengan sifat fisik tanah yang baik, maka tanaman menjadi lebih subur karena leluasa dalam pengambilan unsur hara (www.pustaka-deptan.go.id, 2008).
Bokashi adalah hasil fermentasi bahan organik (jerami, sampah organik, pupuk kandang dan lain-lain) dengan teknologi EM4 yang dapat digunakan sebagai pupuk organik untuk menyuburkan tanah dan meningkatkan pertumbuhan tanah dan produksi tanaman. Bokashi dapat dibuat dalam beberapa hari dan bisa langsung digunakan sebagai pupuk (www.bbpp-lembang.info, 2008).
Penggunaan pupuk bokashi EM merupakan salah satu alternatif yang dapat diterapkan pada pertanian saat ini. Pupuk bokashi adalah pupuk organik (dari bahan jerami, pupuk kandang, sampah organik, dll) hasil fermentasi dengan teknologi EM-4 yang dapat digunakan untuk menyuburkan tanah dan menekan pertumbuhan patogen dalam tanah, sehingga efeknya dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman (www.dispertanak.pandeglang.go.id, 2008).
Bila salah satu faktor lebih kuat pengaruhnya dari faktor lain sehingga faktor lain tersebut tertutupi dan masing-masing faktor mempunyai sifat yang jauh berbeda pengaruh dan sifat kerjanya, maka akan menghasilkan
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakasanakan di rumah kasa Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat + 25 m di atas permukaan laut. Penelitian ini dilakukan mulai bulan Desember 2008 sampai Mei 2009.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan yaitu: benih tomat varietas intan, pupuk organik cair Super Biotaplus, pupuk kompos(kandang), bokashi, kascing, insektisida (decis 2,5 EC), fungisida Dithane M-45, polybag, air dan bahan-bahan lain yang mendukung penelitian.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan tiga ulangan, dimana Faktor pertama adalah Pemberian Pupuk Organik Cair (Super Biotaplus) yang terdiri dari 4 Taraf yaitu:
S0 = 0 cc / l air S1 = 1 cc / l air S2 = 2 cc / l air S3 = 3 cc / l air
Faktor kedua adalah Pupuk Organik Padat yang terdiri dari 4 taraf yaitu : P0 = Kontrol
P1 = Bokasi 250 g / tanaman P2 = Kascing 250 g / tanaman
P3 = Kompos (kandang) 250 g / tanaman
Dengan demikian diperoleh 16 kombinasi sebagai berikut : S0 P0 S1 P0 S2 P0 S3 P0 S0 P1 S1 P1 S2 P1 S3 P1 S0 P2 S1 P2 S2 P2 S3 P2 S0 P3 S1 P3 S2 P3 S3 P3 Jumlah Ulangan : 3 Ulangan
Luas plot : 1 m x 0,9 m
Dari hasil penelitian dianalisis dengan sidik ragam berdasarkan model linier sebagai berikut :
Yijk = µ +
ρ
i +
α
j +
β
k + (
αβ
) jk +
ε
ijk
Dimana :
Yijk = Hasil pengamatan pada blok ke-i dengan pupuk organik padat taraf ke-j dan konsentrasi pupuk organik cair taraf ke-k µ = Nilai tengah
ρi = Pengaruhblok ke-i
αj = Pengaruh pupuk organik padat taraf ke-j
βk = Pengaruhkonsentrasi pupuk organik cair taraf ke-k
(αβ) jk = Pengaruh interaksi antara pupuk organikpadat taraf ke-j dan konsentrasi pupuk organik cair taraf ke-k
PELAKSANAAN PENELITIAN
Sterilisasi Rumah Kasa
Rumah kasa dibersihkan terlebih dahulu dari tanaman inang dan di semprot dengan herbisida dan insektisida untuk mencegah berkembangnya hama pada ruangan dan fungisida untuk mencegah berkembangnya jamur patogen tanaman.
Penyiapan Lahan
Areal untuk tempat berdirinya polibag terlebih dahulu dibersihkan dari gulma dan sisi-sisa akar tanaman, kemudian tanah diratakan dengan menggunakan cangkul. Pada sekeliling areal dibuat parit drainase sedalam 30 cm untuk menghindari adanya genangan air di sekitar areal penelitian.
Persiapan Media Tanam
Media tanam yang digunakan adalah top soil yang telah disterilisasi. Ukuran polibag yang digunakan adalah 10 kg pengisian media tanam dilakuka n sampai batas 5 cm dari mulut polibag bagian atas.
Pembibitan
Penanaman
Bibit tomat dipilih yang sehat dan telah berumur 4 minggu, biasanya telah memiliki 4 helai daun. Penanaman bibit tomat sebaiknya dilakukan pada pagi hari atau sore hari untuk menghindari panas matahari pada waktu siang yang dapat menyebabkan bibit menjadi layu.
Aplikasi Pupuk Organik Cair
Pupuk Super Biotaplus diaplikasikan melalui daun pada pagi hari pukul 08.00-10.00 WIB dengan menggunakan handsprayer. Konsentrasi yang diberikan sesuai dengan perlakuan masing-masing. Aplikasi pertama saat tanaman berumur 2 minggu setelah pindah tanam (MSPT) dengan interval 15 hari. Aplikasi pupuk dilakukan 3 kali hingga tanaman berumur 80 hari setelah tanam.
Aplikasi Pupuk Organik Padat
Aplikasi pertama sekali dilakukan 7 hari sebelum penanaman dimana sesuai dengan perlakuan yang telah ditentukan. Caranya dengan dibenamkan dalam lubang tanam dan dicampur secara homogen. Aplikasi pupuk dilakukan 2 kali hingga tanaman berumur 80 hari setelah tanam.
Pengajiran
Pemeliharaan Tanaman
Penyiraman
Penyiraman dilakukan 1-2 kali dalam sehari pada pagi dan sore hari dengan menggunakan gembor yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
Penyulaman
Penyulaman dilakukan bila ada tanaman yang mati atau pertumbuhannya kurang baik, dan bibit tanaman pengganti harus subur pertumbuhannya serta masih seumur dengan tanaman yang diganti atau sisa dari tanaman yang disemaikan di polibag. Penyulaman dilakukan 1 minggu setelah pindah tanam (MSPT).
Penyiangan
Penyiangan dilakukan dengan membersihkan gulma yang ada di sekitar pertanaman, yaitu dengan cara mencabut rerumputan tanaman dan disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
Pemupukan
Pengendalian Hama dan Penyakit
Pengendalian Hama dan Penyakit dilakukan dengan menggunakan insektisida dengan konsentrasi 2 cc/liter air dan fungisida dengan konsentrasi 0,5-1 g/ liter air, yang diaplikasikan 1 kali seminggu untuk mencegah serangan hama dan penyakit lainnya.
Panen
Panen dilakukan setelah buah tomat matang fisiologis seperti warna kulit buah berubah dari warna hijau menjadi kuning kemerah-merahan, dengan cara memetik buah tomat secara hati-hati agar buah tidak rusak. Panen dilakukan dengan interval 3 hari sekali. Pemetikan buah tomat dilakukan keadaan cuaca cerah.
Pengamatan Parameter
Tinggi Tanaman(cm)
Tinggi tanaman diukur dari leher akar sampai titik tumbuh tanaman, diukur mulai dari 1 MSPT dengan interval pengukuran 1 minggu hingga panen pertama.
Diameter Batang (cm)
Jumlah Cabang (cabang)
Dihitung hanya dua kali yakni pengamatan pertama pada saat tanaman memasuki masa generatif dan kedua pada saat panen pertama. Cabang yang dihitung adalah cabang primer pada tanaman sampel.
Umur Berbunga (hspt)
Umur berbunga dihitung pada saat tanaman telah berbunga 75%.
Jumlah Bunga/Tandan (bunga)
Dihitung jumlah bunga setiap tandan pada semua tanaman sampel yang kemudian dirata-ratakan.
Jumlah Buah/Tandan (buah)
Dihitung jumlah buah setiap tandan pada semua tanaman sampel yang kemudian dirata-ratakan.
Jumlah Tandan Buah (Klaster)
Dihitung jumlah semua tandan buah pada setiap tanaman sampel.
Jumlah Buah/Tanaman (buah)
Jumlah semua buah yang di panen pada tanaman sampel dengan menghitung banyak buah tiap tanaman dari panen pertama hingga panen akhir dan kemudian di rata-ratakan.
Bobot Buah/Sampel (g)
Bobot Buah/Plot (g)
Dihitung bobot buah tanaman sample pada setiap plot yang ditotalkan dari panen pertama hingga panen terakhir.
Klasifikasi Mutu
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Analisis data secara statistik menunjukkan pemberian pupuk organik cair berpengaruh nyata terhadap parameter diameter batang 8 MSPT namun tidak berpengaruh nyata terhadap parameter lainnya.
Analisis data secara statistik menunjukkan pemberian pupuk organik padat berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 2 – 8 MSPT, diameter batang 3 – 8 MSPT, umur berbunga, jumlah bunga/tandan, jumlah buah/tandan, jumlah tandan buah (klaster), jumlah buah/tanaman, bobot buah/sampel, bobot buah/tanaman.
Interaksi antara pemberian pupuk organik cair dan pupuk organik padat berpengaruh nyata terhadap parameter diameter batang 8 MSPT namun tidak berpengaruh nyata terhadap parameter lainnya.
Tinggi Tanaman (cm)
Tabel 1. Rataan Tinggi Tanaman 1 – 8 MSPT Pada Pemberian Pupuk Organik Cair dan Pupuk Organik Padat
PERLAKUAN
Tinggi Tanaman (cm) 1 MSPT 2 MSPT 3 MSPT 4 MSPT 5 MSPT 6 MSPT 7 MSPT 8 MSPT Pupuk Organik Cair (ml)
S0 (0) 15,86 18,60 27,83 49,57 74,98 96,20 114,38 130,16 S1 (1) 16,47 19,42 29,46 50,46 74,53 94,14 112,06 128,96 S2 (2) 15,19 19,46 28,23 49,65 74,16 95,75 112,70 129,56 S3 (3) 14,64 18,78 27,45 48,64 74,63 93,46 108,74 126,30 Pupuk Organik Padat (g)
P0 (kontrol) 16,15 18,04bc 26,46bc 41,18c 62,25c 82,21c 99,53c 118,24c P1 (bokashi) 15,19 19,94ab 29,19b 51,23b 76,21b 98,08b 115,99ab 132,47ab P2 (kascing) 15,05 21,61a 34,32a 63,21a 91,49a 109,39a 123,48a 137,69a
P3 (pupuk kandang) 15,76 16,66c 23,00c 42,69c 68,34bc 89,89bc 108,89bc 126,59bc
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 5% menurut uji Duncan.
[image:40.595.114.492.458.565.2]Data rataan tinggi tanaman 8 MSPT terhadap pemberian pupuk organik cair dan pupuk organik padat dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Rataan Tinggi Tanaman 8 MSPT Pada Pemberian Pupuk Organik Cair dan Pupuk Organik Padat
PupukOrganik Padat (g)
Pupuk Organik Cair (ml)
Rataan S0 S1 S2 S3
P0 120,21 115,59 125,30 111,84 118,24c P1 130,78 135,47 131,33 132,30 132,47ab P2 145,97 143,94 130,09 130,75 137,69a P3 123,69 120,86 131,53 130,30 126,59bc Rataan 130,16 128,96 129,56 126,30 128,75
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 5% menurut uji Duncan.
Tabel 2 menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik cair berpengaruh tidak nyata terhadap parameter tinggi tanaman, dimana rataan tinggi tanaman
tertinggi terdapat pada perlakuan S0 (130,16 cm) dan terendah pada S3 (126,30 cm).
dengan P1. Parameter tinggi tanaman, dimana rataan tinggi tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan P2 (137,69 cm) dan terendah pada P0 (118,24 cm).
Hubungan tinggi tanaman 8 MSPT dengan pemberian berbagai jenis Pupuk Organik Padat dapat dilihat pada Gambar 1.
0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00 140,00 160,00
kontrol bokashi kascing pupuk kandang
Pupuk Organik Padat (250 g/tanaman)
[image:41.595.128.475.217.398.2]T in g g i T a n a m a n ( c m )
Gambar 1. Tinggi Tanaman 8 MSPT Terhadap Pemberian Pupuk Organik Padat
Gambar 1 memperlihatkan histogram tinggi tanaman yang berbeda untuk setiap pemberian berbagai jenis pupuk organik padat dimana tinggi tanaman 8 MSPT yang tertinggi terdapat pada perlakuan kascing (P2) 137,69 cm dan terendah pada kontrol (P0) 118,24 cm.
Diameter Batang (mm)
MSPT. Data rataan diameter batang 2 – 8 MSPT terhadap pemberian pupuk organik cair dan pupuk organik padat dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Rataan Diameter Batang 2 – 8 MSPT Pada Pemberian Pupuk Organik Cair dan Pupuk Organik Padat
PERLAKUAN Diameter Batang (cm)
2 MSPT 3 MSPT 4 MSPT 5 MSPT 6 MSPT 7 MSPT 8 MSPT
Pupuk Organik Cair (ml)
S0 (0) 2,90 3,10 3,80 4,70 4,90 6,80 8,67b
S1 (1) 3,00 3,10 3,70 4,70 4,80 6,80 8,92b
S2 (2) 3,00 2,90 3,60 4,60 5,20 7,00 10,58a
S3 (3) 2,90 2,90 4,00 4,80 5,00 6,90 9,00b
Pupuk Organik Padat (g)
P0 (kontrol) 3,00 2,70 3,20 4,30 4,60 6,60 8,67c
P1 (bokashi) 2,90 3,00 3,90 4,70 5,00 7,00 9,50ab
P2 (kascing) 3,20 3,70 4,60 5,40 5,40 7,30 9,75a
P3 (pupuk kandang) 2,70 2,70 3,30 4,40 4,80 6,70 9,25b
Interaksi (S x P)
S0P0 2,90 2,60 3,30 4,60 4,40 6,40 8,33d
S0P1 2,60 2,70 3,70 4,50 5,10 6,90 8,67cd
S0P2 3,00 4,20 4,80 5,40 5,50 7,30 9,00cd
S0P3 3,00 3,00 3,30 4,10 4,50 6,50 8,67cd
S1P0 3,10 2,50 3,10 4,30 4,30 6,60 9,00cd
S1P1 3,20 3,50 4,10 4,90 4,80 6,80 8,67cd
S1P2 2,90 3,80 4,80 5,50 5,60 7,50 9,67bc
S1P3 2,60 2,60 3,00 4,30 4,50 6,30 8,33d
S2P0 3,30 2,80 3,30 4,20 5,10 6,80 9,00cd
S2P1 2,80 3,20 4,00 4,60 5,40 7,30 11,67a
S2P2 3,10 3,00 4,00 4,90 4,80 6,80 10,67ab
S2P3 2,90 2,90 3,30 4,60 5,30 7,10 11,00a
S3P0 2,80 2,70 3,30 4,10 4,70 6,40 8,33d
S3P1 2,90 2,60 4,00 4,70 4,80 6,80 9,00cd
S3P2 3,50 3,70 4,80 5,70 5,60 7,60 9,67bc
S3P3 2,50 2,50 3,80 4,80 5,00 6,80 9,00cd
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 5% menurut uji Duncan.
Tabel 4. Rataan Diameter Batang 8 MSPT Pada Pemberian Pupuk Organik Cair dan Pupuk Organik Padat
PupukOrganik Padat (g)
Pupuk Organik Cair (ml)
Rataan S0 S1 S2 S3
P0 8,33d 9,00cd 9,00cd 8,33d 8,67c P1 8,67cd 8,67cd 11,67a 9,00cd 9,50ab P2 9,00cd 9,67bc 10,67ab 9,67bc 9,75a P3 8,67cd 8,33d 11,00a 9,00cd 9,25b Rataan 8,67b 8,92b 10,58a 9,00b 9,29
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 5% menurut uji Duncan.
Tabel 4 menunjukkan bahwa interaksi pemberian pupuk organik cair dan padat yang pada perlakuan S2P1 yang tidak berbeda nyata dengan S2P2 dan S2P3 namun berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Dimana diameter batang tertinggi terdapat pada perlakuan S2P1 (11,67 mm) dan terendah pada S0P0, S1P3, dan S3P0 (8,33 mm).
[image:43.595.130.496.506.690.2]Hubungan antara pemberian berbagai dosis pupuk organik cair pada berbagai dosis organik padat terhadap diameter batang 8 MSPT dapat dilihat pada Gambar 2.
Ŷ (S0) = 8,3333 + x - 0,3333x2
R2 = 1
Ŷ (S1) = 8,2333 + 2,4x - 0,6667x2 R2 = 0,407
Ŷ (S2) = 8,8833 + 1,55x - 0,4167x 2
R2 = 0,8078
Ŷ (S3)= 8,2833 + 1,6167x - 0,4167x2
R2 = 0,3174
0,00 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00 12,00 14,00
0 1 2 3
Pupuk O rganik C air (ml/l air)
D ia m e te r B a ta n g 8 M S P T ( m m ) Series1 Series2 Series3 Series4 (S0) (S1) (S2) (S3)
Gambar 2. Hubungan Antara Diameter Batang 8 MSPT Dengan Pemberian Berbagai Dosis Pupuk Organik Cair Pada
Pada Gambar 2. memperlihatkan ada hubungan kuadrat positif antara diameter batang 8 MSPT dengan perlakuan dosis pupuk organik cair dimana diameter batang akan meningkat pada pemberian dosis optimum yakni 1-2 cc/l.air dan akan menurun jika melebihi dosis optimum yakni 3 cc/l.air.
Jumlah Cabang (cabang)
Hasil pengamatan jumlah cabang dan daftar sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran... yang menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik cair dan padat serta interaksi kedua perlakuan pada 5 – 8 MSPT berpengaruh tidak nyata. Data rataan jumlah cabang 8 MSPT terhadap pemberian pupuk organik cair dan pupuk organik padat dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Rataan Jumlah Cabang 8 MSPT Pada Pemberian Pupuk Organik Cair dan Pupuk Organik Padat
PupukOrganik Padat (g)
Pupuk Organik Cair (ml)
Rataan S0 S1 S2 S3
P0 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 P1 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 P2 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 P3 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 Rataan 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 5% menurut uji Duncan.
Tabel 5 menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik cair dan pupuk organik padat serta interaksi berpengaruh tidak nyata terhadap parameter jumlah cabang.
Umur Berbunga (HSPT)
organik padat berpengaruh nyata. Data rataan umur berbunga terhadap pemberian pupuk organik cair dan pupuk organik padat dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Rataan Umur Berbunga Pada Pemberian Pupuk Organik Cair dan Pupuk Organik Padat
PupukOrganik Padat (g)
Pupuk Organik Cair (ml)
Rataan S0 S1 S2 S3
P0 47,75 46,50 46,33 46,83 46,85a P1 46,67 46,17 46,50 47,42 46,69a P2 45,08 45,17 46,92 44,50 45,42b P3 48,00 47,00 46,75 47,58 47,33a Rataan 46,88 46,21 46,63 46,58 46,57
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 5% menurut uji Duncan.
Tabel 6 menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik cair berpengaruh tidak nyata terhadap parameter umur berbunga, dimana rataan umur berbunga paling lama terdapat pada perlakuan S0 (46,88 HSPT ) dan paling cepat pada S1 (46,21 HSPT).
Tabel 6 menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik padat yang tertinggi pada P3 yang berbeda nyata dengan P2 tetapi tidak berbeda nyata dengan P1 dan P0, dimana rataan umur berbunga paling lama terdapat pada perlakuan P3 (47,33 HSPT) dan paling cepat pada P2 (45,42 HSPT).
Gambar 3. Umur Berbunga 8 MSPT Terhadap Pemberian Pupuk Organik Padat
Gambar 3 memperlihatkan histogram umur berbunga yang berbeda untuk setiap pemberian berbagai jenis pupuk organik padat dimana umur berbunga yang terlama terdapat pada perlakuan pupuk kandang (P3) 47,33 HSPT dan tercepat pada kascing (P2) 45,42 HSPT.
Jumlah Bunga per Tandan (bunga)
Tabel 7. Rataan Jumlah Bunga per Tandan Pada Pemberian Pupuk Organik Cair dan Pupuk Organik Padat
PupukOrganik Padat (g)
Pupuk Organik Cair (ml)
Rataan S0 S1 S2 S3
P0 5,33 4,83 5,17 4,83 5,04b P1 5,50 5,92 5,75 5,67 5,71a P2 6,08 5,92 6,33 5,92 6,06a P3 5,75 5,17 5,92 6,08 5,73a Rataan 5,67 5,46 5,79 5,63 5,64
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 5% menurut uji Duncan.
Tabel 7 menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik cair berpengaruh tidak nyata terhadap parameter jumlah bunga per tandan, dimana rataan jumlah bunga per tandan tertinggi terdapat pada perlakuan S2 (5,79bunga) dan terendah pada S1 (5,46 bunga).
Tabel 7 menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik padat yang tertinggi pada P2 yang berbeda nyata dengan P0 tetapi tidak berbeda nyata dengan P1 dan P3, dimana rataan jumlah bunga per tandan tertinggi terdapat pada perlakuan P2 (6,06 bunga) dan terendah pada P0 (5,04 bunga).
0,00 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 7,00
kontrol bokashi kascing pupuk kandang
Pupuk Organik Padat (250 g/tanaman)
[image:48.595.127.477.96.284.2]J u m la h B u n g a /T a n d a n ( b u n g a )
Gambar 4. Jumlah Bunga per Tandan Terhadap Pemberian Pupuk Organik Padat
Gambar 4 memperlihatkan histogram jumlah bunga per tandan yang berbeda untuk setiap pemberian berbagai jenis pupuk organik padat dimana jumlah bunga per tandan yang tertinggi terdapat pada perlakuan kascing (P2) 6,06 bunga dan terendah pada kontrol (P0) 5,04 bunga.
Jumlah Buah per Tandan (buah)
Tabel 8. Rataan Jumlah Buah per Tandan Pada Pemberian Pupuk Organik Cair dan Pupuk Organik Padat
PupukOrganik Padat (g)
Pupuk Organik Cair (ml)
Rataan S0 S1 S2 S3
P0 4,92 4,58 4,92 4,58 4,75b P1 5,00 5,58 5,25 5,67 5,38a P2 5,83 5,75 6,08 5,75 5,85a P3 5,25 5,00 5,75 5,75 5,44a Rataan 5,25 5,23 5,50 5,44 5,35
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 5% menurut uji Duncan.
Tabel 8 menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik cair berpengaruh tidak nyata terhadap parameter jumlah buah per tandan, dimana rataan jumlah buah per tandan tertinggi terdapat pada perlakuan S2 (5,50 buah) dan terendah pada S1 (5,23 buah).
Tabel 8 menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik padat yang tertinggi pada P2 yang berbeda nyata dengan P0 tetapi tidak berbeda nyata dengan P1 dan P3, dimana rataan jumlah buah per tandan tertinggi terdapat pada perlakuan P2 (5,85 buah) dan terendah pada P0 (4,75 buah).
[image:49.595.114.489.123.226.2]0,00 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 7,00
kontrol bokashi kascing pupuk kandang
Pupuk Organik Padat (250 g/tanaman)
[image:50.595.129.477.99.282.2]J u m la h B u a h /T a n d a n ( b u a h )
Gambar 5. Jumlah Buah per Tandan Terhadap Pemberian Pupuk Organik Padat
Gambar 5 memperlihatkan histogram jumlah buah per tandan yang berbeda untuk setiap pemberian berbagai jenis pupuk organik padat dimana jumlah buah per tandan yang tertinggi terdapat pada perlakuan kascing (P2) 5,85 buah dan terendah pada kontrol (P0) 4,75 buah.
Jumlah Tandan Buah (klaster)
Hasil pengamatan jumlah tandan buah dan daftar sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran... yang menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik cair dan interaksi kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata, tetapi pemberian pupuk organik padat berpengaruh nyata. Data rataan jumlah tandan buah terhadap
Tabel 9. Rataan Jumlah Tandan Buah Pada Pemberian Pupuk Organik Cair dan Pupuk Organik Padat
PupukOrganik Padat (g)
Pupuk Organik Cair (ml)
Rataan S0 S1 S2 S3
P0 4,42 3,25 4,75 3,75 4,04b P1 4,42 6,17 5,17 5,50 5,31a P2 6,00 5,67 7,00 6,50 6,29a P3 5,17 4,25 6,42 5,83 5,42a Rataan 5,00 4,83 5,83 5,40 5,27
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 5% menurut uji Duncan.
Tabel 9 menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik cair berpengaruh tidak nyata terhadap parameter jumlah tandan buah, dimana rataan jumlah tandan buah tertinggi terdapat pada perlakuan S2 (5,83 tandan) dan terendah pada S1 (4,83 tandan).
Tabel 9 menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik padat yang tertinggi pada P2 yang berbeda nyata dengan P0 tetapi tidak berbeda nyata dengan P1 dan P3, dimana rataan jumlah tandan buah tertinggi terdapat pada perlakuan P2 (6,29 tandan) dan terendah pada P0 (4,04 tandan).
0,00 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 7,00
kontrol bokashi kascing pupuk kandang
Pupuk Organik Padat (250 g/tanaman)
[image:52.595.127.475.99.278.2]Ju m lah T an d an B u ah ( kl ast er )
Gambar 6. Jumlah Tandan Buah Terhadap Pemberian Pupuk Organik Padat
Gambar 6 memperlihatkan histogram jumlah tandan buah yang berbeda untuk setiap pemberian berbagai jenis pupuk organik padat dimana jumlah tandan buah yang tertinggi terdapat pada perlakuan kascing (P2) 6,29 tandan dan terendah pada kontrol (P0) 4,04 tandan.
Jumlah Buah per Tanaman (buah)
Tabel 10. Rataan Jumlah Buah per Tanaman Pada Pemberian Pupuk Organik Cair dan Pupuk Organik Padat
PupukOrganik Padat (g)
Pupuk Organik Cair (ml)
Rataan S0 S1 S2 S3
P0 9,17 9,00 10,67 11,17 10,00c P1 13,42 14,00 12,75 12,83 13,25b P2 16,75 18,17 18,00 17,17 17,52a P3 13,33 10,42 16,83 13,50 13,52b Rataan 13,17 12,90 14,56 13,67 13,57
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 5% menurut uji Duncan.
Tabel 10 menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik cair berpengaruh tidak nyata terhadap parameter jumlah buah per tanaman, dimana rataan jumlah buah per tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan S2 (14,56 buah) dan terendah pada S1 (12,90 buah).
Tabel 10 menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik padat yang tertinggi pada P2 yang berbeda nyata dengan P0, P1 dan P3, dimana rataan jumlah buah per tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan P2 (17,52 buah) dan terendah pada P0 (10,00 buah).
0,00 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00 12,00 14,00 16,00 18,00 20,00
kontrol bokashi kascing pupuk kandang
Pupuk Organik Padat (250 g/tanaman)
[image:54.595.128.473.103.279.2]J u m la h B u a h /T a n a m a n ( b u a h )
Gambar 7. Jumlah Buah per Tanaman Terhadap Pemberian Pupuk Organik Padat
Gambar 7 memperlihatkan histogram jumlah buah per tanaman yang berbeda untuk setiap pemberian berbagai jenis pupuk organik padat dimana jumlah buah per tanaman yang tertinggi terdapat pada perlakuan kascing (P2) 17,52 buah dan terendah pada kontrol (P0) 10,00 buah.
Bobot Buah per Sampel (g)
Tabel 11. Rataan Bobot Buah per Sampel Pada Pemberian Pupuk Organik Cair dan Pupuk Organik Padat
PupukOrganik Padat (g)
Pupuk Organik Cair (ml)
Rataan S0 S1 S2 S3
P0 274,37 427,35 442,55 610,52 438,70b P1 503,20 535,88 607,15 565,57 552,95ab P2 747,53 748,67 653,60 645,20 698,75a P3 409,25 342,25 509,63 377,78 409,73b Rataan 274,37 427,35 442,55 610,52 438,70
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 5% menurut uji Duncan.
Tabel 11 menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik cair tidak berpengaruh nyata terhadap parameter bobot buah per sampel, dimana rataan bobot buah persampel tertinggi terdapat pada perlakuan S3 (610,52 g) dan terendah pada S0 (274,37 g).
Tabel 11 menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik padat yang tertinggi pada P2 yang berbeda nyata dengan P0 dan P3 tetapi tidak berbeda nyata dengan P1, dimana rataan bobot buah per sampel tertinggi terdapat pada perlakuan P2 (698,75 g) dan terendah pada P3 (409,73 g).
0,00 100,00 200,00 300,00 400,00 500,00 600,00 700,00 800,00
kontrol bokashi kascing pupuk kandang
Pupuk Organik Padat (250 g/tanaman)
[image:56.595.128.478.99.288.2]B o b o t B u a h p e r S a m p e l (g )
Gambar 8. Bobot Buah per Sampel Terhadap Pemberian Pupuk Organik Padat
Gambar 8 memperlihatkan histogram bobot buah per sampel yang berbeda untuk setiap pemberian berbagai jenis pupuk organik padat dimana bobot buah per sampel yang tertinggi terdapat pada perlakuan kascing (P2) 698,75 g dan terendah pada pupuk kandang (P3) 409,73 g.
Bobot Buah per Plot (g)
Tabel 12. Rataan Bobot Buah per Plot Pada Pemberian Pupuk Organik Cair dan Pupuk Organik Padat
PupukOrganik Padat (g)
Pupuk Organik Cair (ml)
Rataan S0 S1 S2 S3
P0 310,42 314,64 400,28 410,83 359,04c P1 478,53 504,43 454,64 469,06 476,66b P2 613,77 690,72 665,09 623,10 648,17a P3 510,15 374,11 605,53 481,01 492,70b Rataan 478,22 470,97 531,39 496,00 494,14
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf 5% menurut uji Duncan.
Tabel 12 menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik cair berpengaruh tidak nyata terhadap parameter bobot buah per plot, dimana rataan bobot buah per
plot tertinggi terdapat pada perlakuan S2 (531,39 g) dan terendah pada S1 (470,97 g).
Tabel 12 menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik padat yang tertinggi pada P2 yang berbeda nyata dengan P0, P1 dan P3, dimana rataan bobot buah per plot tertinggi terdapat pada perlakuan P2 (648,17 g) dan terendah pada P0 (359,04 g).
0,00 100,00 200,00 300,00 400,00 500,00 600,00 700,00
kontrol bokashi kascing pupuk kandang
Pupuk Organik Padat (250 g/tanaman)
B
o
b
o
t B
u
a
h
p
e
r P
lo
t (g
[image:58.595.127.476.99.288.2])
Gambar 9. Bobot Buah per Plot Terhadap Pemberian Pupuk Organik Padat
Gambar 9 memperlihatkan histogram bobot buah per plot yang berbeda untuk setiap pemberian berbagai jenis pupuk organik padat dimana bobot buah per plot yang tertinggi terdapat pada perlakuan kascing (P2) 648,17 g dan terendah pada kontrol (P0) 359,04 g.
Klasifikasi Mutu
Tabel 13. Data Klasifikasi Mutu Buah
Perlakuan Bobot Buah (g) Klasifikasi
Pupuk Organik Cair (cc/l.air)
S0 (0) 41,3 C / kecil
S1 (1) 44,7 C / kecil
S2 (2) 50,6 C / kecil
S3 (3) 49,5 C / kecil
Pupuk Organik Padat (250 g/tanaman)
P0 (kontrol) 48,3 C / kecil
P1 (bokashi) 55,2 C / kecil
P2 (kascing) 58,7 C / kecil
P3 (pupuk kandang) 42,5 C / kecil
Interaksi (S x P)
S0P0 44,2 C / kecil
S0P1 42,1 C / kecil
S0P2 48,9 C / kecil
S0P3 42,2 C / kecil
S1P0 43,3 C / kecil
S1P1 47,8 C / kecil
S1P2 49,2 C / kecil
S1P3 43,4 C / kecil
S2P0 46,2 C / kecil
S2P1 44,1 C / kecil
S2P2 50,3 C / kecil
S2P3 45,6 C / kecil
S3P0 48,6 C / kecil
S3P1 45,5 C / kecil
S3P2 43,9 C / kecil
S3P3 44,6 C / kecil
Tabel 13 menunjukkan bahwa bobot buah salah satu sampel perlakuan pemberian pupuk organik cair yang tertinggi pada S2 50,6 g dan terendah pada S0 41,3 g dengan klasifikasi mutu buah C/kecil.
Pembahasan
Respon Pertumbuhan Dan Produksi Tomat (Lycopersicum esculentum Mill.) Terhadap Pemberian Pupuk Organik Cair
Dari data pengamatan dan hasil analisis secara statistik maka diperoleh bahwa perlakuan pupuk organik cair berpengaruh nyata terhadap diameter batang 8 MSPT namun tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter tinggi tanaman 1-8 MSPT, 2-7 MSPT, jumlah cabang, umur berbunga, jumlah bunga/tandan, jumlah buah/tandan, jumlah tandan buah, jumlah buah/tanaman, bobot buah/sampel, dan bobot buah/plot.
Diameter batang 8 MSPT berpengaruh nyata dimana diameter batang yang tertinggi pada perlakuan S2 (10,58mm) dan terendah pada S0 (8,67 mm). Hal ini disebabkan karena pemberian konsentrasi pupuk organik cair yang dianjurkan pada tanaman tomat sebesar 2 cc/l.air sehingga tanaman tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik yang memperkuat jaringan batang dimana unsur kalium (K) yang berperan disana dapat terpenuhi. Hal ini sesuai dengan pendapat PT. Tri Harmoni Abadi.com (2008) yang menyatakan bahwa manfaat dan kegunaan pupuk organik cair lengkap Super Biotaplus yaitu mencegah atau
mengurangi gugur bunga dan buah dan memperkuat jaringan pada akar dan batang. Selain itu juga pernyataan ini didukung oleh pendapat Lingga dan Marsono (2004) yang menyatakan bahwa kalium (K) juga berperan
dalam memperkuat tubuh tanaman agar daun, bunga, dan buah tidak mudah gugur. Yang tidak bisa dilupakan ialah kalium pun merupakan sumber kekuatan bagi tanaman dalam menghadapi kekeringan dan penyakit.
tandan buah, jumlah buah/tanaman, bobot buah/sampel, dan bobot buah/plot berpengaruh tidak nyata hal ini diduga karena salah satu faktor lingkungan yakni curah hujan yang cukup tinggi mempengaruhi proses fisiologi dalam fase vegetatif dan generatif sehingga memperlama pertumbuhan dan perkembangan tanaman tomat. Hal ini didukung oleh pendapat Pitojo (2005) yang menyatakan bahwa tanaman tomat pada fase vegetatif memerlukan curah hujan yang cukup. Sebaliknya pada fase generatif memerlukan curah hujan yang sedikit. Curah hujan yang tinggi pada fase pemasakan buah dapat menyebabkan daya tumbuh yang lebih rendah.curah hujan yang ideal selama pertumbuhan tanaman tomat berkisar antara 750 – 1250 mm/tahun. Selain itu juga Tugiyono (2001) juga menyatakan bahwa angin kering dan udara panas juga kurang baik bagi pertumbuhannya dan sering menyebabkan kerontokan bunga.
Respon Pertumbuhan Dan Produksi Tomat (Lycopersicum esculentum Mill.) Terhadap Pemberian Pupuk Organik Padat
Dari data pengamatan dan hasil analisis secara statistik maka diperoleh bahwa perlakuan pupuk organik padat berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tanaman 2 – 8 MSPT, diameter batang 3 – 8 MSPT, umur berbunga, jumlah bunga/tandan, jumlah buah/tandan, jumlah tandan buah (klaster), jumlah buah/tanaman, bobot buah/sampel, bobot buah/plot tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap parameter tinggi tanaman 1 MSPT, diameter batang 2 MSPT, dan jumlah cabang 5 dan 8 MSPT.
kascing dapat memperbaiki sifat fisik tanah sehingga tanah menjadi remah hal ini sesuai dengan pendapat Mulat (2003) yang menyatakan bahwa pemberian kascing dapat membuka ruang atau pori, menyalurkan air dan udara ke dalam tanah sehingga terbentuk struktur remah dan lapisan air dapat dipegang oleh butiran tanah.
Pada parameter diameter batang 8 MSPT berpengaruh nyata dimana data tertinggi terdapat pada perlakuan P2 (Kascing 250 g/tanaman) dan terendah pada P0 (Kontrol). Hal ini disebabkan karena kandungan unsur kalium yang terdapat pada kascing sekitar 2,41% adalah sangat tinggi dimana dapat dimanfaatkan tanaman tomat untuk memperkuat batang tanaman. Hal ini sesuai dengan pendapat Lingga dan Marsono (2004) yang menyatakan bahwa kalium juga berperan dalam memperkuat tubuh tanaman agar daun, bunga, dan buah tidak mudah gugur.
Pada parameter umur berbunga berpengaruh nyata dimana diperoleh data umur berbunga paling lama terdapat pada perlakuan P3 (pupuk kandang) dan paling cepat P2 (kascing) hal ini disebabkan karena pupuk kandang mempunyai sifat lama terurai namun apabila terurai dengan sempurna dapat meningkatkan kesuburan tanah dan mengalami fase generatif yang sempurna. Hal ini sesuai dengan kutipan dari www.pustaka-deptan.go.id (2008) yang menyatakan bahwa dengan sifat fisik tanah yang baik, maka tanaman menjadi lebih subur karena leluasa dalam pengambilan unsur hara.
terikat dengan air sehingga dapat memperbesar ruang pori tanah dan dapat memberikan nutrisi pada tanaman tomat sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal. Hal ini sesuai dengan pendapat Mashur (2001) yang menyatakan bahwa kotoran cacing (kascing) mengandung nutrisi yang dibutuhkan tanaman. Dimana penambahan kascing pada media tanaman akan mempercepat pertumbuhan, meningkatkan tinggi dan berat tumbuhan.
Pada parameter jumlah buah/tandan berpengaruh nyata dimana diperoleh data tertinggi pada perlakuan P2 (Kascing 250 g/tanaman) dan terendah pada P0 (Kontrol). Hal ini disebabkan karena kascing yang merupakan salah satu bahan organik sebagai pemberi nutrisi yang sesuai untuk tanaman tomat dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Williams, dkk (1993) yang menyatakan bahwa bahan organik memegang peranan penting sebagai sumber beberapa nutrien yang diperlukan untuk hasil sayuran yang tinggi.
Pada parameter jumlah buah/tanaman berpengaruh nyata dimana diperoleh data tertinggi pada perlakuan P2 (Kascing 250 g/tanaman) dan terendah pada P0 (Kontrol). Hal ini disebabkan pemberian kascing yang dianjurkan tersebut sebagai bahan organik dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas buah tomat yakni dengan membuat tanah semakin gembur dan mempermudah akar dalam menyerap unsur hara. Hal ini sesuai dengan pendapat Rismunandar (2001) yang menyatakan bahwa salah satu usaha yang dilakukan untuk peningkatan kualitas dan kuantitas tomat adalah dengan penambahan bahan organik dalam tanah yang dapat memperbaiki struktur tanah sehingga menjadi gembur dan akar tanaman lebih mudah menembus tanah dan menyerap unsur hara yang ada di dalam tanah dengan baik hal ini akan menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman
Pada parameter bobot buah/plot berpengaruh nyata dimana diperoleh data tertinggi pada perlakuan P2 (Kascing 250 g/tanaman) dan terendah pada P0 (Kontrol). Hal ini disebabkan karena sifat kascing yang memiliki unsur hara makro dan mikro yang sesuai untuk pemenuhan kebutuhan tanaman dalam meningkatkan produktivitas tanaman tomat. Hal ini sesuai dengan pendapat Hasibuan (2008) yang menyatakan bahwa unsur hara makro adalah unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang banyak, sedangkan unsur hara mikro adalah unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang sedikit bila berlebihan dapat menjadi racun bagi tanaman.
Respon Pertumbuhan Dan Produksi Tomat (Lycopersicum esculentum Mill.) Terhadap Interaksi Pemberian Pupuk Organik Cair dan Padat
Selain itu juga menurut pendapat Rismunandar (2001) yang menyatakan bahwa Salah satu usaha yang dilakukan untuk peningkatan kualitas dan kuantitas tomat adalah dengan penambahan bahan organik dalam tanah yang dapat memperbaiki struktur tanah sehingga menjadi gembur dan akar tanaman lebih mudah menembus tanah dan menyerap unsur hara yang ada di dalam tanah dengan baik hal ini akan menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Pemberian berbagai dosis pupuk organik cair dapat meningkatkan pertumbuhan tetapi belum memberikan pengaruh yang nyata pada produksi tanaman tomat (Lycopersicum esculentum Mill.)
2. Pemberian berbagai jenis pupuk organik padat dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman tomat.
3. Interaksi pemberian pupuk organik cair dan pupuk organik padat dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman tomat pada diameter batang sampai 11,67 mm dan tidak significant meningkatkan produksi tanaman tomat.
4. Grade buah yang dihasilkan dari semua perlakuan antara 42,1 g sampai dengan 50,3 g dengan kategori C/kecil.
Saran