• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penetapan Kadar TOC Pada Air Limbah Oil Catcher

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Penetapan Kadar TOC Pada Air Limbah Oil Catcher"

Copied!
56
0
0

Teks penuh

(1)

PENETAPAN KADAR TOC PADA AIR LIMBAH OIL CATCHER

KARYA ILMIAH

OLEH :

DINI AMALIA

062401064

PROGRAM DIPLOMA-3 KIMIA ANALIS

DEPARTEMEN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

PENETAPAN KADAR TOC PADA AIR LIMBAH OIL CATCHER

KARYA ILMIAH

Diajukan untuk melengkapi tugas dan syarat mencapai gelar ahlimadya

DINI AMALIA

062401064

PROGRAM DIPLOMA-3 KIMIA ANALIS

DEPARTEMEN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

PERSETUJUAN

Judul : PENETAPAN KADAR TOC PADA AIR LIMBAH OIL CATCHER

Kategori : KARYA ILMIAH Nama : DINI AMALIA Nomor Induk Mahasiswa : 062401064

Program Studi : DIPLOMA (D3) KIMIA ANALIS Departemen : KIMIA

Fakultas : MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM (FMIPA) UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Disetujui Oleh :

Departemen Kimia FMIPA USU Pembimbing, Ketua,

(4)

PERNYATAAN

PENETAPAN KADAR TOC PADA AIR LIMBAH OIL CATCHER KARYA ILMIAH

Saya mengakui bahwa karya ilmiah ini adalah hasil hasil kerja saya sendiri, kecuali beberapa kutipan dan ringkasan masing-masing disebutkan sumbernya.

Medan, Mei 2009

(5)

PENGHARGAAN

Puji syukur pada Allah SWT atas rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini dengan baik.

Penulisan karya ilmiah ini merupakan hasil pelaksanaan dari praktek kerja lapangan (PKL) di BLHSU, yang merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan program Diploma-3 Kimia Analis FMIPA USU. Dan dalam karya ilmiah ini penulis mengambil judul : “ PENETAPAN KADAR TOC PADA AIR LIMBAH OIL CATCHER “.

Dalam penulisan karya ilmiah ini penulis banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Dan dengan segala kerendahan hati penulis ingin mempersembahkan karya ilmiah ini kepada Ayahanda Zulkifli (Alm) dan Ibunda Nurasiah Rangkuti, abang, kakak, adik saya tercinta, karena kalian penyemangat terbesar dalam hidupku.

Terima kasih kepada Dr. Rumondang Bulan, MS selaku Ketua Departemen Kimia, terima kasih kepada bapak Prof. Dr. Harry Agusnar, M.Sc. M.Phil karena bersedia membimbing penulis dengan sabar dan bijaksana. Terima kasih kepada kakak-kakak dan abang-abang analis laboratorium BLHSU untuk semua bantuan dan bimbingannya. Dan tak lupa ku ucapkan terima kasih untuk Kakanda tercinta Fahmi Mahyuddin yang selalu memberi semangat dan bantuannya sehingga karya ilmiah ini dapat selesai dengan baik.

Keluarga besar kimia analis 06 terima kasih atas doa dan dukungannya. Akhir kata penulis berharap karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

(6)

INTI SARI

(7)

THE CONSTANTED STANDART OF TOC IN WASTE WATER OIL CATCHER

ABSTRACT

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

Persetujuan ii

Pernyataan iii

Penghargaan iv

Inti Sari v

Abstract vi

Daftar Isi vii

Daftar Tabel ix

Daftar Gambar x

BAB 1 PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Permasalahan 2

1.3 Tujuan 2

1.4 Manfaat 3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 4

2.1 Sumber Air 4

2.1.1 Air Hujan 4

2.1.2 Air Permukaan 5

2.1.3 Air Tanah 5

2.2 Pencemaran Air 6

2.3 Pencemaran Oleh Minyak Dan Lemak 8

2.4 Air Limbah 10

2.4.1 Sumber Air Limbah 11

2.4.1.1 Air Limbah Domestik 11

2.4.1.2 Air Limbah Non Domestik 13

2.5 Limbah Karbon Organik 13

(9)

2.6 ANATOC (Analyzer Total Organic Carbon) 16 2.6.1 Teori Analyzer Total Organic Carbon (ANATOC) 16

2.6.2 Fungsi Komponen ANATOC 18

BAB 3 METODOLOGI PERCOBAAN 22

3.1 Alat dan Bahan 22

3.1.1 Alat-Alat 22

3.1.2 Bahan-Bahan 22

3.2 Prosedur Percobaan 23

3.2.1 Pengoperasian Alat 23

3.2.2 Pembuatan Larutan 24

3.2.3 Cara Kerja 24

3.2.4 Analisa Sampel 25

BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN 26

4.1 Data 26

4.2 Pembahasan 28

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 29

5.1 Kesimpulan 29

5.2 Saran 29

DAFTAR PUSTAKA 30

(10)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 4.1.1 26

(11)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.5 14

(12)

INTI SARI

(13)

THE CONSTANTED STANDART OF TOC IN WASTE WATER OIL CATCHER

ABSTRACT

(14)

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Air merupakan pelarut universal, sehingga hampir semua senyawa dapat larut di

dalamnya, baik itu senyawa organik maupun senyawa anorganik. Senyawa organik yang

terlarut dalam air dapat mengganggu kehidupan makhluk hidup di air, karena mengurangi

jumlah oksigen terlarut dalam air. Oleh karena itu penetapan kadar bahan organik dalam

air sangat penting untuk diteliti.

Saat ini, masalah utama yang di hadapi oleh sumber daya air meliputi kuantitas air

yang sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan yang terus meningkat dan kualitas air

untuk keperluan domestik yang menurun. Kegiatan industri, domestik, dan kegiatan lain

berdampak negatif terhadap sumber daya air, antara lain menyebabkan penurunan

kualitas air. Kondisi ini dapat menimbulkan gangguan, kerusakan, dan bahaya bagi semua

makhluk hidup yang bergantung pada sumber air. Oleh karena itu perlu pengolahan

(15)

Pengolahan yang dimaksudkan dapat dimulai dari pengolahan yang sangat

sederhana sampai pada pengolahan yang canggih atau lengkap, sesuai dengan tingkat

kekotoran dari sumber air tersebut. Semakin kotor sumber air yang digunakan semakin

rumit pengolahan yang dibutuhkan dan semakin banyak pula teknik-teknik yang

digunakan untuk mengolah air tersebut agar dapat dimanfaatkan kembali ataupun

bermanfaat bagi lingkungan, sehingga lingkungan tidak tercemar.

Pada industri air memiliki banyak manfaat, oleh karena itu baik air yang akan

digunakan kembali kelingkungan haruslah dapat memenuhi standart mutu, khususnya

untuk air limbah diharapkan agar dapat memenuhi standart baku mutu yang telah

ditentukan agar lingkungan tidak tercemar.

Pengukuran kandungan senyawa organik dalam air secara langsung dapat melalui

analisis karbon organik total atau sering disebut dengan TOC (Total Organic Carbon).

Analisis ini mengukur semua bahan yang termasuk dalam kategori senyawa organik.

Karbon organik total diukur dengan konversi karbon organik dalam air yang dioksidasi

sempurna menjadi karbondioksida dan H2O. Pengukuran kandungan senyawa organik

(16)

Mengingat pentingnya penentuan kadar TOC dari air limbah maka penulis tertarik

untuk membahas masalah tersebut dalam karya ilmiah dengan mengambil judul ,”

PENENTUAN KADAR TOC PADA AIR LIMBAH OIL CATCHER”

1.2Permasalahan

Pada analisa yang dilakukan pada air limbah oil catcher dari perusahaan minyak di

laboratorium BLHSU (Badan Lingkungan Hidup Sumatera Utara) apakah telah

memenuhi nilai standart yang telah ditetapkan agar tidak dapat mencemari lingkungan.

1.3Tujuan

- Untuk mengetauhi kualitas air limbah oil catcher apakah sudah memenuhi nilai

yang telah ditetapkan

- Untuk mengetahui dampak yang terjadi apabila kadar TOC melebihi nilai standart

- Untuk menambah pengetahuan bagi penulis dalam analisa TOC khususnya pada

(17)

1.4Manfaat

Untuk mengetahui pentingnya analisa TOC, untuk mengetahui kadar total karbon

organik dari air limbah sehingga dampak-dampak negatif yang dapat ditimbulkan

(18)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sumber air

Pada produksi minyak bumi dari formasi mempunyai kandungan air yang sangat

besar bahkan bisa mencapai kadar lebih dari 90%. Air yang terproduksi ini merupakan air

tanah () merupakan air yang berada di permukaan tanah. Pada dasarnya dapat berasal dari

air hujan (prespitasi), baik melalui proses infiltrasi secara langsung ataupun secara tidak

langsung dari air sungai, danau, rawa dan genangan air lainnya. (Effendi, H. 2003)

Air yang diperlukan dunia industri dapat diambil dari setiap titik dalam siklus

hidrologis, tergantung teknologi yang dimiliki dan biaya yang tersedia untuk pengambilan

dan untuk memperbaiki kualitasnya sehingga sesuai untuk penggunaannya.

Sumber-sumber air ;

1. Air hujan

2. Air permukaan

3. Air tanah

(19)

2.1.1. Air Hujan

Dalam lintasan jatuhnya air hujan mengabsorpsi gas-gas dan uap-uap yang

terdapat di udara, terutama oksigen, nitrogen dan karbon dioksida, yang merupakan

komponen-komponen utama dari udara.

Air hujan mempunyai sifat agresif terutama terhadap pipa-pipa penyalur maupun

bak-bak penampungan air, sehingga hal ini dapat mempercepat terjadinya korosi, dan air

hujan juga bersifat lunak, sehingga boros terhadap pemakaian sabun. Maka untuk menjadi

air hujan sebagai sumber air minum hendaknya pada waktu mulai turun dibiarkan dan

diendapkan terlebih dahulu, karena masih banyak mengandung kotoran.

2.1.2. Air Permukaan

Air permukaan yang mencakup air sungai, air danau, air kolam dapat merupakan

kumpulan air hujan yang jatuh dan mengalir di atas permukaan tanah atau campuran

antara lain aliran permukaan dan air tanah ataupun air yang mengalir keluar pada musim

kemarau.

Secara alamiah sungai, danau, kolam dapat tercemar pada daerah permukaan air

saja. Pada sungai yang besar dan arus yang deras, sejumlah kecil bahaya pencemar akan

(20)

Indonesia air permukaan ini banyak digunakan sebagai sumber air minum tetapi harus

diolah terlebih dahulu agar sesuai dengan standart baku mutu.

2.1.3. Air Tanah

Air tanah umumnya mengandung garam-garam terlarut. Jenis dan kadar garam

terlarut yang terkandung dalam air tanah adalah tergantung pada kondisi tanah dalam

lintasan aliran air tanah.

Umumnya, kadar konstituen terlarut dalam air tanah adalah lebih tinggi jika dibandingkan

dengan kadarnya pada permukaan, disebabkan oleh lebih lamanya periode kontak antara

air dan zat-zat yang dapat larut yang berada dalam lapisan tanah. (Fardiaz, S. 1992).

Diantara sumber-sumber air yang ditinjau tersebut, air permukaan dan air tanah

merupakan sumber-sumber air yang paling luas penggunaannya sebagai sumber cair

untuk berbagai keperluan-keperluan konsumsi domestik. Mata air juga merupakan bagian

dari air tanah. Mata air adalah air tanah yang keluar dengan sendirinya kepermukaan

tanah. Mata air ini hampir tidak terpengaruh oleh musim dan kualitasnya sama dengan

keadaan air pada bagian dalamnya. (Effendi, H. 2003)

(21)

Pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi

atau komponen lain ke dalam air atau berubahnya tatanan air oleh kegiatan manusia atau

oleh proses alam, sehingga kualitas air menurun sampai ke tingkat tertentu yang

menyebabkan air berkurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai kegunaannya.

Air merupakan substrak yang paling parah akibat pencemaran berbagai jenis

pencemaran baik yang berasal dari :

a. Sumber domestik (rumah tangga), perkampungan kota, pasar, jalan, dan

sebagainya.

b. Sumber non domestik (pabrik, industry, pertanian, peternakan, perikanan serta

sumber-sumber lainnya).

banyak memasuki badan air. Secara langsung ataupun tidak langsung pencemar tersebut

akan berpengaruh terhadap kualitas air, baik untuk keperluan air minum, air industri

ataupun keperluan lainnya. Berbagai cara dan usaha telah banyak dilakukan agar

kehadiran pencemar terhadap air di hindari, di kurangi atau minimal dapat dikendalikan,

(Fardiaz, S. 1992).

Masalah pencemaran serta efesiensi penggunaan sumber air, merupakan pokok

persoalan yang paling banyak di bahas. Hal ini mengingat keadaan peranan alami di

(22)

kuantitasnya. Sehingga tidak berlebihan pendapat peserta bahwa dikemudian hari dunia

akan dilanda krisis air seperti halnya krisis pangan, energi dan sebagainya. Bahkan untuk

beberapa Negara masalah kekurangan air sudah terjadi sejak lama.

Beberapa pokok-pokok yang ditekankan pada pengertian pencemaran air meliputi

dasar-dasar sebagai berikut :

1. Air pada suatu “badan air” di katakan mengalami pencemaran, bila

pembebasan akan bahan-bahan buangan (kontaminan) sampai pada suatu

tingkat/keadaan tertentu dapat membahayakan fungsi air dari badan air

tersebut.

2. Bahwa masing-masing fungsi air dalam badan-badan air memiliki suatu

“standar kualitas” yang perlu ditentukan terlebih dahulu sebagai batasan

sebelum dapat dilakukan suatu penilaian apakah suatu pencemaran pada suatu

badan air itu terjadi atau tidak. Jelasnya, masing-masing badan air sesuai

dengan fungsinya mempunyai standar kualitas sendiri-sendiri.

3. Masing-masing standar tersebut di atas masih perlu ditentukan pula secara

lokal, nasional, atau internasional. Dasar-dasar pertimbangan yang digunakan

untuk penentuan standart tersebut bermacam-macam, tergantung pada

(23)

Karena air memiliki jaringan aliran yang luas (hydrologicycle), maka air yang

berada di suatu tempat baik mengalir maupun menetap (relative) pada permukaan tanah

yang disebut “Badan air”. Yang termasuk dalam klasifikasi badan air adalah sungai,

waduk, saluran air, rawa-rawa dan lain-lain. (suriawiria, U. 1993).

2.3. Pencemaran oleh minyak dan lemak

Minyak dan lemak yang mencemari air sering dimasukkan ke dalam kelompok

padatan, yaitu padatan yang bisa mengapung di atas permukaan air. Minyak yang terdapat

dalam air dapat berasal dari berbagai sumber, diantaranya karena pembersihan dan

pencucian kapal-kapal di laut, adanya pengeboran minyak di dekat laut atau ditengah laut,

terjadinya kebocoran kapal pengangkut minyak, dan sumber-sumber lainnya misalnya

dari buangan pabrik.

Minyak tidak larut, oleh karena itu jika air tercemar oleh minyak maka minyak

tersebut akan tetap mengapung, kecuali jika terdampar ke pantai atau tanah di sekeliling

sungai. Tetapi ternyata tidak demikian halnya. Semua jenis minyak mengandung

senyawa-senyawa volatile yang segera dapat menguap. Ternyata selama beberapa hari

(24)

menguap akan mengalami emulsifikasi yang mengakibatkan air dan minyak dapat

bercampur.

Ada dua macam emulsi yang terbentuk antara minyak dengan air, yaitu emulsi

minyak dalam air dan emulsi air dalam minyak. Emulsi minyak dalam air terjadi jika

droplet-droplet minyak terdispersi di dalam air dan distabilkan dengan interaksi kimia

dimana air menutupi permukaan droplet-droplet tersebut. Hal ini terjadi terutama di

dalam air yang berombak, dan droplet minyak tersebut tidak terdispersi pada permukaan

air, melainkan menyebar di dalam air. Beberapa droplet minyak, terutama yang berikatan

dengan partikel mineral, menjadi lebih berat dan akan mengendap ke bawah.

Emulsi air dalam minyak terbentuk jika droplet-droplet air ditutupi oleh lapisan

minyak, dan emulsi ini distabilkan oleh interaksi di antara droplet-droplet air yang

tertutup. Emulsi macam ini terlihat sebagai lapisan yang mengapung pada permukaan air

dan lekat, dan kadang-kadang karena kandungan air di dalam droplet-droplet minyak

tersebut cukup tinggi maka total volumenya menjadi lebih besar dibandingkan dengan

minyak aslinya.

Sebagian besar emulsi minyak tersebut kemudian akan mengalami degradasi

melalui fotooksidasi spontan dan oksidasi oleh mikroorganisme. Mikroorganisme

(25)

kira-kira tiga bulan, hanya tinggal 15% dari volume minyak yang mencemari air masih

tetap terdapat di dalam air. Jika pencemaran minyak terjadi di pantai, penghilangan

minyak mungkin lebih cepat karena minyak akan melekat pada benda-benda padat seperti

batu dan pasir yang mengalami kontak dengan air yang tercemar tersebut.

Pencemaran air oleh minyak sangat merugikan karena dapat menimbulkan hal-hal

sebagai berikut :

1. Adanya minyak menyebabkan penetrasi sinar ke dalam air berkurang. Ternyata

intensitas sinar di dalam air sedalam 2 meter dari permukaan air yang

mengandung minyak adalah 90% lebih rendah daripada intensitas sinar pada

kedalaman yang sama di dalam air yang bening.

2. Konsentrasi oksigen terlarut menurun dengan adanya minyak karena lapisan film

minyak menghambat pengambilan oksigen oleh air.

3. Adanya lapisan minyak pada permukaan air akan mengganggu kehidupan burung

air karena burung-burung yang berenang dan menyelam bulu-bulunya akan

ditutupi oleh minyak sehingga menjadi lekat satu sama lain, akibatnya

kemampuannya untuk terbang juga menurun

4. Penetrasi sinar dan oksigen yang menurun dengan adanya minyak dapat

(26)

2.4. Air Limbah

Air limbah tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, hal ini disebabkan

karena dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu menggunakan air limbah untuk

berbagai kegiatan guna memenuhi kebutuhan hidupnya.

Limbah adalah sampah cair dari suatu lingkungan masyarakat dan terutama terdiri

dari air yang telah dipergunakan dengan hampir 0.1% dari padanya berupa benda-benda

padat yang terdira dari zat organik dan anorganik. (Sumarwoto, O. 1990).

Pencemaran terjadi pada saat senyawaan-senyawaan yang dihasilkan dari kegiatan

manusia di tambahkan ke lingkungan, menyebabkan perubahan yang buruk terhadap

kekhasan fisik, kimia, biologis dan estetis. Tentu saja, semua makhluk hidup bukan

manusia juga menghasilkan limbah yang dilepaskan ke lingkungan, namun umumnya

dianggap bagian dari system alamiah, apakah mereka memiliki pengaruh buruk atau

tidak. Pencemaran biasanya dianggap terjadi sebagai hasil tindakan manusia. Dengan

demikian, proses-proses alamiah dapat terjadi dalam lingkungan alamiah yang sangat

mirip dengan proses-proses yang terjadi karena pencemar. (Connel,D,W and Miller,G,J.

(27)

2.4.1. Sumber air limbah 2.4.1.1. Air limbah domestik

Berasal dari rumah tangga, perkantoran, pusat perdagangan, rumah sakit, dan

mengandung berbagai bahan antara lain: kotoran, urine dan air bekas cucian yang

mengandung ditergen, bakteri dan virus. Sifat-sifat yang memiliki oleh air buangan

adalah sifat fisik, kimia dan biologis:

1. Sifat fisik

Sebagian besar air buangan domestik tersusun atas bahan-bahan organik.

Pendregadasian bahan-bahan organik pada air buangan akan menyebabkan

kekeruhan. Selain itu kekeruhan terjadi akibat lumpur, tanah liat, zat koloid dan

benda-benda terapung yang tidak segera mengendap. Pendergradasian bahan-bahan

organic juga menimbulkan terbentuknya warna. Parameter ini dapat menunjukkan

kekuatan pencemaran.

Komponen bahan-bahan organik tersusun atas protein, lemak, minyak dan sabun.

Penyusunan bahan-bahan organik tersebut cenderung mempunyai sifat berubah-ubah

(tidak tetap) dan mudah menjadi busuk. Keadaan ini menyebabkan air buangan

domestik menjadi berbau.

(28)

Pengaruh kandungan bahan kimia yang ada di dalam air bungan domestik dapat

merugikan lingkungan melalui beberapa cara. Bahan-bahan terlarut dapat

menghasilkan DO atau oksigen terlarut dan dapat juga menyebabkan timbulnya bau

ini sebabnya, ialah struktur protein sangat kompleks dan tidak stabil serta mudah

terurai menjadi bahan kimia lain oleh proses dekomposisi.

Di dalam air buangan domestik dijumpai karbohidrat dalam jumlah yang cukup

banyak, baik dalam bentuk gula, kanji dan selulosa. Gula cenderung mudah terurai,

sedangkan kanji dan selulosa lebih bersifat stabil dan tahan terhadap pembusukan.

Lemak dan minyak merupakan komponen bahan makanan dan pembersih yang

banyak terdapat di dalam air buangan domestik. Kedua bahan tersebut berbahaya bagi

kehidupan biota air dan keberadaannya tidak diinginkan secara estetika selain dari itu

lemak merupakan sumber masalah utama dalam pemeliharaan saluran air buangan.

Dampak negative yang ditimbulkan oleh kedua bahan ini adalah terbentuknya lapisan

tipis yang menghalangi ikatan antara udara dan air, sehingga menyebabkan

kekurangan konsentrasi DO. Kedua senyawa juga menyebabkan meningkatnya

(29)

3. Sifat biologis

Keterangan tentang sifat biologis air buangan domestik diperlukan untuk

mengukur tingkat pencemaran sebelum di buang ke badan air penerima.

Mikroorganisme-mikroorganisme yang berperan dalam proses penguraian

bahan-bahan organik di dalam air buangan domestik adalah bakteri, jamur, protozoa dan

algae. Bakteri adalah mikroorganisme bersel satu yang menggunakan bahan organik

dan anorganik sebagai makanannya. Berdasarkan penggunaan makanannya, bakteri

dibedakan menjadi bakteri autotrof dan heterotrof. Bakteri autotrof menggunakan

karbondioksida sebagai sumber zat karbon, sedangkan bakteri heterotrof

menggunakan bahan organik sebagai sumber zat karbonnya. Bakteri yang

memerlukan oksigen untuk mengoksidasi bahan organic disebut bakteri aerob,

sedangkan yang tidak memerlukan oksigen disebut bakteri anaerob.

2.4.1.2. Air limbah Non Domestik

Limbah non domestik adalah limbah yang berasal dari pabrik, industri, pertanian,

peternakan, perikanan, transportasi, dan sumber-sumber lain. Limbah ini sangat bervariasi

(30)

bekas tanaman yang bersifat organik, pestisida, bahan pupuk yang mengandung nitrogen,

dan sebagainya.

Perkembangan kota semakin pekat akan meningkatkan aktivitas sehingga

menyebabkan peningkatan kebutuhan akan air bersih yang besar, baik untuk keperluan

domestik maupun non domestik. Seiring dengan itu, maka jumlah air buangan semakin

meningkat sementara lahan semakin sempit. Hal ini menyebabkan masalah pembuangan

air, sehingga perlu ada usaha terpadu untuk mengelola air buangan agar tidak mencemari

lingkungan. (Sugiharto. 1987).

2.5 Limbah Karbon Organik

Jika zat-zat yang kaya organik ditambahkan ke dalam sistem, beberapa jalur yang

terlihat pada gambar 2.5 meningkat jaraknya dan juga beberapa sumber karbon organik

meningkat ukurannya. Ini mengakibatkan meningkatnya pernapasan, terutama melalui

pernapasan mikroorganisme, yang menyebabkan menigkatnya jumlah karbon dioksida

(31)

CO3 2

HCO3 CO2 CH4

Biomassa heterotrofik Detritus

SUMBER KARBON ORGANIK Biomassa autotrofik BAHAN ANORGANIK BAHAN ORGANIK SEGMEN GEOLOGI

[image:31.612.120.519.144.410.2]

AIR DAN UNSUR YANG AKTIF SECARA BIOLOGIS Mobilisasi Karbonat Presipitasi Karbonat ATMOSFER

Gambar 2.5 Transformasi karbon dalam sistem perairan dengan proses yang

dipercepat atau ditingkatkan oleh penambahan bahan organic yang diperlihatkan dalam garis tebal

Limbah yang kaya akan karbon organik pada umunya dibuang kedalam jalan cair

dalam bentuk kotoran, limbah pengolahan makanan dari buah, daging, susu dan industry

gula, seperti halnya limbah dari pabrik kertas dan bermacam industri lainnya. Karbon

organic di dalam limbah ini selalu dalam bentuk karbohidrat, protein, lemak, zat humus,

surfaktan dan berbagai macam zat yang berhubungan dan berasal dari zat-zat tersebut.

(32)

buangannya ke dalam jalan air dapat menurunkan kandungan oksigen yang terlarut secara

besar-besaran di dalam badan tersebut.

Pencemaran organik dapat juga disebabkan dari aliran perkotaan yang

menyebabkan buangan tak terarah ke dalam jalan air. Juga, tempat penimbunan di lepas

pantai untuk limbah kotoran pada umumnya pada palung laut dan tempat lainnya. Dalam

beberapa keadaan daerah teduh air bukan perkotaan dapat memberikan masukan organik

yang tinggi dimana terdapat jenis-jenis kegiatan tertentu dilakukan, seperti penebangan

kayu. (Connel, D,W and Miller, G,J. 1995).

2.5.1. Kandungan Karbon Organik Total (TOC)

Selain karbon anorganik yang terdapat dalam komponen penyusun alkalinitas,

karbon di perairan juga terdapat dalam bentuk karbon organik yang berasal dari tumbuhan

atau biota akuatik, baik yang hidup atau mati dan menjadi detritus; maupun karbon yang

terdapat pada bahan organik yang berasal dari limbah industry dan domestic.

Penjumlahan karbon organik total dan karbon anorganik total (karbonat, bikarbonat, dan

asam karbonat) merupakan nilai karbon total (total carbon).

Karbon organik total atau Total Organic Carbon (TOC) terdiri atas bahan organic

(33)

Organic Carbon) dengan perbandingan 10 : 1. Bahan organik yang tercakup dalam TOC

misalnya asam amino dan karbohidrat (Jeffries dan Mills, 1996). DOC dan POC dapat

diukur secara terpisah dengan menyaring air sampel menggunakan filter berdiameter 0,7

µ m; sedangkan pengukuran TOC tidak memerlukan penyaringan. TOC juga dapat

menggambarkan tingkat pencemaran, terutama apabila nilai TOC antara bagian hulu dan

bagian hilir dari tempat pembuangan suatu limbah dapat dibandingkan.

Pada penentuan nilai TOC, bahan organik dioksidasi menjadi karbondioksida

yang diukur dengan non-dispersive infrared analyzer. Pengukuran TOC juga dapat

dilakukan dengan menggunakan flame ionization detector. Pada metode ini, karbon

dioksida di reduksi menjadi gas metana. Pengukurn TOC relatife lebih cepat daripada

pengukuran BOD dan COD.

Pada perairan alami yang relative jernih, nilai DOC biasanya lebih besar daripada

POC. Pada saat sungai mengalami banjir, nilai POC akan lebih besar daripada DOC. Pada

perairan alami, nilai TOC biasanya berkisar antara 1 – 30 mg/liter (McNeely et. al.,

1979); sedangkan pada air tanah nilai TOC biasanya lebih kecil, yaitu ± 2mg/liter. Nilai

TOC perairan yang telah menerima limbah, baik domestik maupun industri, atau perairan

(34)

2.6 ANATOC (Analyzer Total Organic Carbon).

2.6.1. Teori Analyzer Total Organic Carbon (ANATOC)

Gabungan organic photocatalytic oxidation decomposes pada jenis medium

memberikan carbon dioxide, air, dan acid, basa atau garam dari elemen aslinya. Hasil dari

gas CO2 secara akurat ditentukan melalui pengukuran konduktivitas. Oxidasi yang dibawa oleh illuminasi sample

pada ruangan bertemperatur dengan sinar U.V (300 – 400nm)

pada kehadirannya di sebuah katalis. Katalis ini adalah titanium

dioxide yang mewakili suspense dilute dalam air. ANATOC

berisikan sistem tertutup yang mengandung udara katalis.

Dua pompa peristaltic memutar solusi dan dicampur dengan udara disekitar loop

carian. Bagian dari cairan masuk dua gelas coil disekitar sinar UV dimana photocatalysis

terjadi. Masuknya udara memastikan agitasi dari sample dan suspense katalistik dan

menyediakan ekses oxygen untuk mendukung proses oxidasi.

Tidak adanya sample, setiap gabungan organik yang ada pada level latar belakang

sistem teroksidasi sampai suatu level keseimbangan gas carbon dioxida terbentuk

Pada separator gas cair komponen gas (udara dengan CO2 pada keseimbangan dengan campuran gas) merupakan bagian dari cairan dan sirkulasi pada loop gas. Pada

(35)

loop ini udara dicapai dengan CO2 dan merupakan gelembung melalui air murni dimana konduktivitas probe mendeteksi kenaikan pada konsentrasi ion karena formasi carbonic

acid.

Setelah beberapa menit bersirkulasi dan photocatalic oxidation, maka loop yang

tertutup mencapai keseimbangan:

a. Semua carbon organic telah dioxsidasi

b. Keseimbangan telah terbentuk antara dissolved dan gas pada phase CO2 dan c. Transfer fisik CO2 dicapai udara antara cairan dan loop gas telah selesai. Sample (dari 50µ l sampai 100ml) diinjeksi kedalam cairan loop melalui sebuah septum

dalam separator gas cair.

Campuran sample dengan catalis pada suspensi seperti disirkulasi kembali untuk

beberapa saat melalui cairan loop dengan cara mengaktifkan pompa peristaltic. Pompa

angin mengambil udara dari loop gas dan menciptakan gelembung pada cairan untuk

mendapatkan ekses oxygen sebagai pendukung proses oxidasi.

Oxidasi terjadi melalui photocatalysis selama dilalui oleh cairan melalui coil kaca

disekitar sumber lamu UV. Karbon dioxide bercampur dengan udara dan ditransfer ke

(36)

Pada loop gas, carbon dioxide mencapai gas melalui sel kondukt ivitas, dimana ia

bercampur dengan carbonic acid. Campuran ini memberikan spesis kondukting.

Selanjutnya, kenaikan pada konduktivitas air dengan kemurnian tinggi pada sel dicatat.

Dalam beberapa menit, konduktivitas stabil, menandakan oxidasi selesai dan

keseimbangan sistem tertutup pada level carbon dioxide yang baru. Dengan cara

menghubungkan carbon yang sama dengan konduktivitas garis batas, carbon organic

yang mengandung sample dapat ditentukan.

2.6.2. Fungsi komponen ANATOC

ANATOC mengandung beberapa komponen yang sederhana, dan unik bagi

instrument ini. Pada saat ia perlu untuk diketahui mengenai prinsip pengoperasiannya, ia

bisa digunakan dengan fungsi dari setiap komponen agar dan siap mendeteksi sumber dari

segala kekeliruan.

- Titanium Dioxide Catalyst

Katalis yang digunakan untuk mempersiapkan 0.2% suspensi adalah photoactive

berkekuatan tinggi dari TiO2 yang dapat memastikan secara cepat konversi dari

(37)

- Separator Gas Cair

Jaringan separator gas cair bereaksi atau loop cairan dengan deteksi atau loop gas

instrument dengan memudahkan separasi carbon dioxide mencapai udara dari

kandungan reaksi coil. Udara ini kemudian melewati sel konduktivitas untuk

mendeteksi carbon dioxide sebagai carbonate yang merupakan sepsis kondukting.

Separator gas cair juga merupakan point dari pengenalan sample. Sample (atau

standart) diperkenalkan melalui injeksi port septum menggunakan jarim analytical

yang baik.

- Spray Trap

Spray trap ini terdapat di loop gas. Berfungsi untuk membuat trap pada ion

inorganic yang bisa dibawa melewati semportan dan reaksi loop. Ion-ionnya akan

mencapai sel, dan menghasilkan suatu kenaikan pada koduktivitas dan kesalahan

dalam hasil. Trap tersebut harus dimonitor secara teratur sesuai dengan jangka

waktu yang telah ditetapkan dan dikosongkan sebelum level cairan mencapai gas

dibagian dalam tabung.

(38)

Sel konduktivitas ini lengkap dengan probe-nya merupakan alat detector. Aliran

gas dari loop cairan berpindah ke carbon dioxide, dan diatur oleh oxidasi

campuran organik, untuk memurnikan air dalam sel, dimana campuran tersebut

mengandung carbonate dan ion hydronium.

Kenaikan resultant pada konduktivitas merupakan kesamaan pada kandungan

organic dari loop cairan sample melalui kalibrasi dengan standart yang diketahui.

Seperti sel konduktivitas bukanlah merupakan detector non-spesifik, ia sangat

penting untuk menjaga unit tetap bersih dan bebas dari kontaminasi. Selanjutnya,

hanya air dengan kemurnian tinggi yang harus digunakan untuk membersihkan

dan mengisi sel.

- Menswit Katup

Terdapat tujuh titik control aliran yang dioperasikan oleh swit katup yang

terpasang. Tiga dari titik-titik tersebut merupakan loop cair instrument dan

dioperasikan untuk mengosongkan loop dari kandungan limbah serta

memperkenalkan suspense katalis segar.

Sedangkan titik-titik lainnya terdapat pada loop gas, digunakan untuk

memaksakan instrument dengan udara atmosfir setelah analisis dan selamka

(39)

dengan aliran udara yang keluar dari reaksi coil (dalam hal ini temperature dan

kandungan carbon dioxida) katup expel memutar udara pada atmosfir dan

memperkenalkan udara segar kedalam loop reaksi. Ini di perlukan untuk

memastikan bahwa instrument merupakan garis batas untuk sampel yang

diperkenalkan.

- Reaksi Coil

Reaksi coil kaca digunakan untuk menyediakan eksposur maksimum dari sampel

dalam loop gas pada sumber cahaya yang dihitung dalam pusat setiap reaksi coil.

Coil-coil ini disambungkan secara pararel dan ditambahkan pada salah satu ujung

pompa dan yang lainnya pada separator gas cair.

- Sumber Cahaya UV

Lampu-lampu yang digunakan adalah 8 watt berbentuk tabung blacklight

fluorescent. Lampu-lampu ini dapat menyediakan sumber panas dari sinar UV nya

yang dikombinasikan dengan titanium dioxide sehingga sinar UV nya sangat kuat

pada kondisi oxidasi. Lampu-lampu tersebut diletakkan secara horizontal pada

pusat dari reaksi coil untuk mendapatkan efisiensi maksimum.

Reaksi coil dan lampu-lampu merupakan gabungan integral dan harus dipasang

(40)

- Kipas pendingin

Kekuatan kipas untuk menghantarkan udara melewati reeaksi coil melalui pipa

yang disambungkan. Kipas pendingin ini diperlukan untuk mempersiapkan suatu

kondisi konstan (dan mendekati ambient) temperature diantara reaksi loop untuk

memastikan bahwa setiap temperature/carbon dioxide mempunyai distribusi effek

minimal. Penyerapan udara untuk loop reaksi juga berasal dari area ini. Hal ini

untuk memastikan bahwa sampel udara adalah homogeny dan mewakili

lingkungan kerja.

- Pompa Peristaltic

Pompa peristaltic memiliki dua saluran yang dapat mensirkulasikan cairan dari

loop reaksi dan gas dari loop deteksi melalui sistem. Bagian dalam pompa cairan

adalah dari dasar separator gas cair dan bagian dalam pompa gas adalah dari dekat

injector port, pada saat hasil pemompaan disedot melalui T-piece untuk reaksi

spiral. Tabung pompa dan garis-garis flexible secara khusus dijaga dari Viton.

Ketinggian relative dari Viton, dibandingkan dengan material tabung pompa lain,

sudah pasti berkurang kontaminasinya dari campuran organic dalam tabung.

(41)

BAB 3

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1. Alat dan Bahan 3.1.1. Alat - alat

- PH meter

- Gelas piala 100 dan 200 ml

- Gelas ukur 25 ml

- Timbangan analitis

- Labu ukur 100 dan 250 ml

- Pipet ukur 5 ml

3.1.2. Bahan – Bahan

- Aquadest yang telah dikocok bersama resin

- Larutan standart Asam Benzoat 200 ppm (200mg C/L)

- Larutan asam perkhlorit 0,1M

- Larutan NaOH 0,1 M

(42)

- Suspensi katalis titanium dioksida (TiO2) 0,2%

3.2. Prosedur Percobaan 3.2.1. Pengoperasian Alat

- Tekan bagian ON di bagian belakang alat

- Kosongkan wadah tempat buangan

- Isi botol 250 ml dan katalis TiO2 – 150 ml

- Isi ulang sel konduktivitas dengan air berkemurnian tinggi

- Tekan start

- Tunggu 30 menit

- Bila base line stabil maka lampu merah akan berganti kuning dan tampilan

konduktivitas harus mendekati 1,4 Ms/cm

- Set program

- Konsentrasi standart 100 ppm

- Dari menu utama lakukan langkah sebagai berikut :

1. Tekan 2 calibration

2. Tekan 1 recalibrate

(43)

4. Ketik stand yang diinginkan (100)

5. Tekan enter

6. Ketik V stand yang akan di injeck (misalnya 200)

- Tekan enter

- Tunggu lampu berwarna kuning

- Lakukan injeksi melalui septum

- Bila ada pertanyaan di display tekan tombol yes

- Lakukan injeksi melalui septum (replicate 2)

- Bila ada pertanyaan di display tekan yes

- Venting akan bekerja secara otomatis

- Mencetak hasil kalibrasi dengan langkah sebagai berikut

1. Tekan 2 calibrator

2. Tekan 3 Print

3.2.2. Pembuatan larutan

- Larutan standart asam benzoat 200 mg C/L (200 ppm) dengan cara melarutkan

(44)

- Larutan standart Benzioc Acid 100 mg C/L (100 ppm) dengan cara mengencerkan

12,5 ml larutan standart Benzoik Acid 200 ppm dengan 25 ml destilasi

berkemurnian tinggi

- Larutan asam perkhlorik 0,1 M dengan cara mengencerkan 9 ml asam perkhlorik

70% dalam 1000 ml air suling

- Larutan NaOH 0,1 M dengan cara melarutkan 4 gr NaOH dengan 1000 ml air suling

- Larutan Buffer phospat pH 4,5 dengan cara melarutkan 13,61 gr potassium

dihidrogen ortopospate dengan 1000 ml air suling

- Suspensi katalis Titanium dioksida 0,2% dengan cara melarutkan 1gr TiO2 dengan 100 ml air destilasi berkemurnian tinggi dalam gelas piala 200 ml lalu atur pH 3,5

dengan asam perkhlotik 0,1 M, masukkan dalam lalu ukur 500 ml, lalu tambahkan

air destilasi berkemurnian tinggi sampai tanda batas.

3.2.3. Cara Kerja

- Di pipet 25 ml aquadest

- Di pipet 12,5 ml larutan standart asam benzoate 200 ppm

- Dimasukkan bersamaan ke dalam Erlenmeyer 50 ml

(45)

- Dipakai alat ANATOC (analisa TOC)

- Untuk menstabilkan alat digunakan larutan titanium dioksida

- Ditunggu selama 30 menit sampai di peroleh konduktivitas 1,4 Ms/cm dan lampu

berwarna kuning

3.2.4. Analisa Sampel

- Tekan 1. Run mode

- Ketik nomor sampel

- Tekan enter

- Ketik volume sampel

- Tekan enter

- Ketik DIL (rasio pengenceran)

- Tekan enter

- Tunggu lampu berwarna kuning

- Lakukan injeksi

- Tunggu sampai nilai TOC tercetak di kertas printer

- Tekan enter

(46)
(47)

BAB 4

DATA DAN PEMBAHASAN

4.1. Data

Pada penetapan analisa kadar TOC yang dilakukan selama Praktek Kerja di

BLHSU (Badan Lingkungan Hidup Sumatera Utara) di peroleh data-data sebagai Berikut

(48)

Kode Nomor Sampel

Konsentrasi

31/LC/02/09

32/LC/02/09

33/LC/02/09

34/LC/02/09

35/LC/02/09

36/LC/02/09

37/LC/02/09

77/LC/02/09

78/LC/02/09

79/LC/02/09

80/LC/02/09

00065,064

00029,631

00033,547

00023,478

00031,558

00032,680

00032,424

00048,838

00011,315

000129,9

00023,94

Setelah dilakukan pengukuran konsentrasi, dilakukan pengukuran pH kemudian di hitung

[image:48.612.190.447.139.365.2]

rasio pengenceran yang dinyatakan sebagai DIL (Dilution).

(49)

Sampel (kode)

31/LC/02/09

32/LC/02/09

33/LC/02/09

34/LC/02/09

35/LC/02/09

36/LC/02/09

37/LC/02/09

77/LC/02/09

78/LC/02/09

79/LC/02/09

80/LC/02/09

No

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

pH

7,31

7,56

7,93

7,34

7,25

7,82

7,84

7,59

7,66

7,72

7,24

(+) As perklorat

0,6 ml

0,3 ml

0,3 ml

0,3 ml

0,5 ml

0,5 ml

0,3 ml

1 ml

0,6 ml

1,6 ml

0,8 ml

Hasil Anatoc (ppm)

1,024

1,012

1,012

1,012

1,02

1,02

1,012

1,04

1,024

1,064

1,032

dimana :

DIL = dilution (rasio Pengenceran)

Contoh

Untuk sampel

(50)

Sampel

32/LC/02/09

4.2. Pembahasan

Dari hasil analisa yang dilakukan selama praktek lapangan di Badan Lingkungan

Hidup Sumatera Utara dapat dilihat kadar TOC dari beberapa kode sampel yang telah

dianalisa, yaitu :

a. Sampel 31/LC/02/09 Kadar TOCnya adalah 1,024 ppm

b. Sampel 32/LC/02/09 Kadar TOCnya adalah 1,012 ppm

c. Sampel 33/LC/02/09 Kadar TOCnya adalah 1,012 ppm

d. Sampel 34/LC/02/09 Kadar TOCnya adalah 1,012 ppm

(51)

f. Sampel 36/LC/02/09 Kadar TOCnya adalah 1,02 ppm

g. Sampel 37/LC/02/09 Kadar TOCnya adalah 1,012 ppm

h. Sampel 77/LC/02/09 Kadar TOCnya adalah 1,04 ppm

i. Sampel 78/LC/02/09 Kadar TOCnya adalah 1,024 ppm

j. Sampel 79/LC/02/09 Kadar TOCnya adalah 1,064 ppm

k. Sampel 80/LC/02/09 Kadar TOCnya adalah 1,032 ppm

Menurut Effendi, H. 2003 pada perairan alami nilai TOC biasanya berkisar 1-30

mg/liter, pada air tanah nilai TOC biasanya lebih kecil, yaitu ± 2 mg/liter dan nilai TOC

perairan yang telah menerima limbah, baik domestic maupun industri, atau perairan pada

(52)

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dari hasil percobaan di peroleh kesimpulan yaitu :

- Kadar TOC yang diperoleh dari hasil percobaan yang dilakukan dari 11 sampel

(53)

- Kadar TOC pada air limbah yang diterima di lingkungan agar tidak tercemar

adalah sekitar 10-100 mg/liter sehingga tingkat karbon dioksida dan metana

rendah.

5.2 Saran

- Sebaiknya mahasiswa dalam melakukan pengujian TOC haruslah mengetahui cara

kerja alat ANATOC dengan baik.

- Sebaiknya mahasiswa lebih teliti dalam melakukan praktek kerja lapangan untuk

mendapatkan data dan pembahasan yang lebih lengkap.

DAFTAR PUSTAKA

BLHSU. 1994. Total Organic Carbon Analyser Operation and Service Manual. Australia

: SGE International Pty, Ltd.

Connel, D.W and Miller, G.J. 1995. Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran. Cetakan

pertama. Jakarta : UI Press.

(54)

Fardiaz , S. 1992. Polusi Air dan Udara. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.

Sugiharto. 1987. Dasar-Dasar Pengolahan Air Limbah. Jakarta : Universitas Indonesia

Sumarwoto, O. 1990. Mikrobiologi Dasar. Jakarta : Bina rupa aksara

Suriawiria, U. 1993. Mikrobiologi Air. Cetakan Pertama. Edisi Kedua. Bandung :

(55)
(56)

Gambar

Gambar 2.5     Transformasi karbon dalam sistem perairan dengan proses yang dipercepat atau ditingkatkan oleh penambahan bahan organic yang diperlihatkan dalam garis tebal
Tabel 4.1.2 Data Hasil Analisa Sampel Pengukuran DIL Dengan Menggunakan Anatoc

Referensi

Dokumen terkait

Limbah adalah sisa suatu usaha atau kegiatan, yang mengandung bahan berbahaya atau beracun yang karena sifat, konsentrasi, atau jumlahnya, baik secara langsung atau tidak

Kebutuhan oksigen kimiawi adalah jumlah oksigen yang diperlukan agar limbah organik yang ada didalam air dapat teroksidasi melalui reaksi kimia.Uji kebutuhan oksigen kimiawi

Pada kolam ini limbah cair masih mengandung senyawa organik yang kompleks seperti lemak, karbohidrat, dan protein yang akan dirombak oleh bakteri anaerobik menjadi asam organik

Penentuan kadar protein dengan metode ini memiliki kelemahan karena adanya senyawa lain yang bukan protein yang mengandung N akan terdeteksi sehingga kadar protein

Pada kolam ini limbah cair masih mengandung senyawa organik yang kompleks seperti lemak, karbohidrat, dan protein yang akan dirombak oleh bakteri anaerobik menjadi asam organik

pinnata akan menyerap hasil dekomposisi senyawa organik dalam limbah tahu yang didekomposisi oleh mikroorganisme dari protein berupa karbon, hidrogen, dan nitrogen melalui akar

KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukan bahwa bakteri indogenous hasil isolasi dari fasilitas pengolahan limbah air terproduksi dapat digunakan untuk penyisihan senyawa organik yang

Keuntungan dan kerugian metode pengurangan logam berat dalam air limbah Metode Keutungan Kerugian Referensi Filtrasi membran Menghilangkan senyawa logam berat, senyawa