P.T. PP LONDON SUMATRA INDONESIA TBK
DI SUMATERA UTARA (1964-1990)
Skripsi Sarjana
Dikerjakan O L E H
Nama : ANTONI SITORUS Nim : 020706030
Pembimbing
DRS. EDI SUMARNO, M.HUM. NIP 131 837 562
DEPARTEMEN SEJARAH
FAKULTAS SASTRA
Lembar Persetujuan Ujian Skripsi
PT. PP. LONDON SUMATRA INDONESIA TBK. DI SUMATERA UTARA (1964-1990)
Yang diajukan oleh :
Nama : ANTONI SITORUS NIM : 020706030
Telah disetujui untuk diujikan dalam ujian Skripsi oleh:
Pembimbing Tanggal……….
Drs. Edi Sumarno, M.Hum. NIP 131 837 562
Ketua Departemen Ilmu Sejarah Tanggal……….
Dra. Fitriaty Harahap, S.U. NIP 131 284 309
DEPARTEMEN SEJARAH
FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
Lembar Pengesahan Pembimbing Skripsi
PT. PP. LONDON SUMATRA INDONESIA TBK DI SUMATERA UTARA (1964-1990)
Skripsi Sarjana Dikerjakan Oleh
Nama : ANTONI SITORUS
Nim : 020706030
Pembimbing
Drs Edi Sumarno, M.Hum. NIP 131 837 562
Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian Fakultas Sastra USU Medan, untuk melangkapi salah satu syarat ujian Sarjana Sastra dalam bidang Ilmu Sejarah.
DEPARTEMEN SEJARAH
FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
UCAPAN TERIMA KASIH
Rasa syukur yang teramat besar pada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kesempatan pada penulis untuk menyelesaikan tugas akhir ini. Proses penulisan skripsi ini dilaksanakan penuh dengan kerja keras dan bantuan dari berbagai pihak. Atas bantuan tersebut penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Mereka yang telah memberikan dukungan berupa material maupun spritual adalah:
1. Ayahnda Albert Sitorus dan Ibunda Ria Manurung yang telah melahirkan, membesarkan, menyekolahkan, dan memberikan dukungan selama masa pendidikan maupun pada masa penulisan skripsi ini. Jasa kalian yang tak terhingga tidaklah mungkin dapat ananda balas.
2. Dekan Fakultas Sastra, Bapak Drs. Syaifuddin, MA, Ph.D yang telah memberikan kesempatan untuk dapat menjalani ujian meja hijau demi mendapatkan gelar kesarjanaan.
3. Ketua Departemen Ilmu Sejarah, Ibu Dra. Fitriaty Harahap, SU, dan Sekretaris Departemen Ilmu Sejarah, Ibu Dra. Nurhabsyah, MSi, yang juga telah memberikan kesempatan unuk menjalani ujian meja hijau demi mendapatkan gelar kesarjanaan.
5. Dosen Waliku, Ibu Dra. Peninna Simanjuntak, M.S yang telah bersedia membimbingku selama mengikuti kuliah di Departemen Ilmu Sejarah.
6. Para Staf Pengajar di Departemen Ilmu Sejarah, yang telah memberi ilmu dan pengetahuannya, semoga apa yang sudah didapat berguna dalam kehidupan.
7. Bang Ampera yang begitu banyak memberikan bantuan dan masukan-masukan yang sangat berguna. Bantuan dan jasa yang diberikan tidak akan pernah terlupakan.
8. Seluruh keluargaku, terutama adek-adekku yang paling kusayangi, Andi, Anita, Andra, Afran, dan Alan Sitorus. Semoga kita semua menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, masyarakat, bangsa, dan agama.
9. Seseorang yang selalu mendampinginku dalam keadaan susah dan senang, Cherry Febia Chitra. Terima kasih untuk semua waktu yang telah kamu berikan untukku. I love U forever.
10.Teman-teman angkatan 2002 yang telah banyak membantu dalam masa kuliahku, Tomy, Novri, Biring, Luga, Opit, Edwin, Ocha, Bohal, Dedi, dan teman-teman yang lain. Jasa kalian tak kan kulupakan selamanya.
Medan, Juni 2008
Antoni Sitorus
DAFTAR ISI
1.3 Tujuan Dan Manfaat Penelitian ……… 4
1.4 Tinjauan Pustaka ……….. 5
1.5 Metode Penelitian ……… 7
BAB II P.T PP LONDON SUMATRA SEBELUM TAHUN 1964 ……… 9
2.1 Harrison Dan CroSsfield Sebagai Pendiri P.T. London Sumatra ……… 9
2.2 Areal Perkebunan ………. 11
2.3 Tanaman Produksi ……… 15
2.4 Sistem Menejemen ………... 17
2.5 Aktivitas Sosial ………. 19
BAB III P.T PP LONDON SUMATRA DI SUMATERA UTARA TAHUN 1964-1990 ………. 21
3.1 Perluasan Areal Perkebunan ……….. 21
3.2 Peralihan Tanaman Produksi ………. 27
3.3 Peningkatan Produksi Dan Pengelolaan Hasil Perkebunan ……… 35
3.4 Sistem Menejemen P.T. London Sumatra ………. 39
3.4.1 Misi, Visi Dan Tujuan Perusahaan ……….. 39
BAB IV KONTRIBUSI P.T LONDON SUMATRA KEPADA
MASYARAKAT DI SEKITARNYA ……….. 45
4.1 Proses Penyerapan Tenaga Kerja Pada
P.T. London Sumatra ……… 46
A. Proses Penyerapan Tenaga Kerja Karyawan Lapangan ….. 46
B. Proses Penyerapan Tenaga Kerja Karyawan
Perkantoran ……… 49
4.2 Pajak P.T. London Sumatra Indonesia Tbk ……….... 53
4.3 Aktivitas Sosial P.T. London Sumatra Indonesia Tbk …… 55
BAB V KESIMPULAN ……….. 60
DAFTAR PUSTAKA ……… 63
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sumatera Utara adalah salah satu propinsi di Indonesia yang memiliki
perusahaan perkebunan besar baik milik negara maupun milik swasta.
Perkebunan-perkebunan besar ini merupakan kelanjutan dari
onderneming-onderneming yang ada masa kolonial. Onderneming-onderneming-onderneming ini sebagian
besar dimiliki oleh pengusaha Belanda, dan sebagian lainnya milik pengusaha
Barat lain seperti Inggris, Amerika Serikat, dan Belgia. Perkebunan milik
onderneming-onderneming milik pengusaha Belanda kemudian dinasionalisasi.
Sementara itu milik bukan pengusaha Belanda meski tidak dinasionalisasi tetapi
banyak yang berganti nama. Onderneming milik Belanda kemudian diambil
pemerintah sebagai perkebunan negara, sedangkan milik non pengusaha Belanda
menjadi perkebunan swasta. Salah satu perkebunan swasta di Sumatera Utara
adalah perusahaan P.T. PP London Sumatra Indonesia Tbk., yang sering disingkat
dengan P.T. London Sumatra, atau P.T. Lonsum. Perusahaan perkebunan swasta
ini sebelumnya bernama Harrison & Crossfield Ltd1, yang didirikan pengusaha Inggris di tahun 1906 yang membudidayakan kakao, kopi dan teh sebagai
tanaman produksi, di wilayah Deli Serdang, Langkat dan Asahan.
Pada tahun 1964, Harrison & Crossfield Ltd berganti nama menjadi P.T.
PP London Sumatra Indonesia Tbk. yang berpusat di Medan. Sejak saat itu
1
perkembangan areal perkebunan bertambah luas dan mencapai areal baru di
Sumatera Selatan dan wilayah Jawa. Beberapa tahun berikutnya P.T. London
Sumatera melebarkan wilayah perkebunannya ke Indonesia bagian Timur yaitu
Sulawesi dan Kalimantan2.
Di samping berkembangnya luas areal, dan diikuti dengan pertambahan
tenaga kerja yang diserap, sejak tahun 1974, khususnya di era 1970-an, P.T
London Sumatera tidak lagi mengandalkan tanaman kopi, kakao dan teh, tetapi
budidaya tanaman karet. Tanaman ini sebagai tanaman pokok hanya berlangsung
beberapa saat saja untuk kemudian beralih ke tanaman kelapa sawit3. Perubahan tanaman utama ini disebabkan oleh beberapa pertimbangan. Salah satunya adalah
pangsa pasar hasil perkebunan, di mana tanaman kelapa sawit lebih memberikan
peluang apabila dibandingkan dengan tanaman yang lainnya.
Sejak tahun 1980-an P.T. London Sumatra menggeser tanaman karet
menjadi tanaman kelapa sawit hingga sampai saat ini. Dari hasil tanaman produksi
kelapa sawit, maka P.T. Lonsum menjadi perusahaan perkebunan yang bertaraf
internasional4.
Perkembangan P.T. London Sumatera sejak tahun 1964 hingga tahun
1980-an tentu memberikan kontribusi, tidak saja kepada perusahaan sendiri tetapi
juga kepada sektor perekonomian di Indonesia umumnya dan Sumatera Utara
pada khususnya. Perkembangan ini meliputi beberapa aspek seperti ekosistem
2
Ibid. 12
3
Bakti Tarigan, Penggunaan Metode Produksi Back Ward Memetakan Persamaan Penduga Jumlah Produksi Karet di P.T. London Sumatera, Medan: Lembaga Penelitian USU, 1994. Hal 2
4
lingkungan, perekrutan tenaga kerja dan kontribusi dalam bentuk pajak
perkebunan. Di samping itu P.T Lonsum yang banyak memberikan kontribusi
besar di bidang sosial, olah raga, agama dan pendidikan, serta bidang
kemasyarakatan lainnya.
Penelitian ini akan membahas perkembangan P.T. London Sumatera,
khususnya di Sumatera Utara serta kontribusinya di Sumatera Utara selama
periode 1964 sampai 1990. Wilayah penelitian melingkupi wilayah areal
perkebunan P.T London Sumatra yang ada di propinsi Sumatera Utara. Hal ini
dikarenakan P.T. London Sumatra memiliki areal yang cukup luas yang tersebar
di pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Oleh sebab itu penulis lebih
memfokuskan pada P.T. London Sumatra yang ada di Sumatera Utara. Lagi pula
perusahaan ini berpusat di Medan dan secara historis awal perkembangannya juga
berasal dari wilayah ini.
Periode 1964 – 1990 didasarkan pada beberapa alasan. Tahun 1964
sebagai awal periode penelitian didasarkan karena di tahun itulah P.T. London
Sumatra berubah nama dari Harrison & Crosfield menjadi PT. London Sumatra.
Tahun 1990 sebagai akhir periode penentuan didasarkan pada kenyataan sekitar
tahun inilah P.T. London Sumatra mengalami perkembangan yang luar biasa,
terutama sesudah beralihnya tanaman dari karet menjadi kelapa sawit yang
menempatkannya menjadi perusahaan yang berlevel internasional. Walaupun
demikian penelitian ini juga akan mendeskripsikan sejarah P.T. Lonsum sebelum
sebelum tahun 1964 sehingga dapat menjadi perbandingan dengan
perkembangannya di tahun 1964-1990.
1.2 Rumusan Masalah
Masalah yang akan dibahas dalam penelitian dapat dirumuskan sebagai
berikut:
1. Bagaimana perkembangan P.T. Lonsum di Sumatera utara sebelum
tahun 1964
2. Bagaimana Perkembangan P.T. Lonsum Periode 1964-1990
3. Apa kontribusi P.T. Lonsum di Sumatera utara terhadap pembangunan
dan masyarakat sekitar di Sumatera Utara.
1.3 Tujuan Dan Manfaat Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Menguraikan perkembangan P.T. Lonsum sebelum tahun 1964.
2. Mengetahui perkembangan P.T. Lonsum di Sumatera utara periode
1964-1990
3. Mengetahui kontribusi P.T. Lonsum di Sumatera Utara terhadap
perekonomian di Sumatera utara
Penelitian ini diharapkan akan bermanfaat untuk
1. Menambah referensi tentang sejarah perkebunan swasta, khususnya di
2. Menjadi masukan bagi P.T. Lonsum sehingga dapat lebih
mengembangkan perusahaannya di masa yang akan datang.
3. Menjadi acuan bagi pemerintah dalam menentukan kebijakan terhadap
subsektor perkebunan swasta, khususnya di Sumatera Utara.
1.4 Tinjauan Pustaka
Kajian tentang Sejarah Perkebunan, tidak terlepas dari segi-segi sosial,
budaya, ekonomi, dan politik. Untuk itulah seorang penulis yang meneliti Sejarah
Perkebunan harus dilengkapi dengan pendekatan berbagai segi yaitu teori ilmu
sosial seperti Sosiologi, Antropologi, Politik dan Ekonomi sebagai upaya
mengupas peristiwa sejarah lebih dalam lagi.5
Biro Pusat Statistik dalam laporannya yang berjudul Statistik
Perkebunan Besar 1986, menguraikan hasil analisa terhadap
perkebunan-perkebunan besar tahun 1986, menjelaskan bagaimana gambaran keadaan
perkebunan-perkebunan besar di Indonesia pada tahun 1986. Hasil analisa ini
menjelaskan bahwa perkebunan-perkebunan sangat besar kontribusinya terhadap
pendapatan nasional dan kepada masyarakat di sekitarnya. Salah satu peran
berdirinya sebuah perusahaan perkebunan adalah menyerap banyak tenaga banyak
kerja, sebab perkebunan pada dasarnya menggunakan buruh atau tenaga kerja
sebagai tenaga pokok. Dikarenakan usaha perkebunan kurang membutuhkan
5
pekerjaan mesin, maka secara otomatis ketika perkebunan dibuka akan menyerap
tenaga kerja yang besar.6
Penjelasan berikutnya diuraikan tentang arti penting sistem perkebunan
terhadap kehidupan sekitar. Perkebunan pada dasarnya adalah penanaman
tanaman-tanaman keras, yang umur tanamannya tergolong panjang, bukan seperti
tanam non perkebunan lainnya. Penanaman tanaman produksi berarti melakukan
penghijauan kembali, walaupun hal ini tidak sebagai tujuan langsung. Tanaman
perkebunan akan mempengaruhi ekosistem lingkungan, sebab tanaman
perkebunan pada dasarnya sama dengan proses biologis tanaman yang lain.7 Perkebunan sedikit banyaknya turut menjaga kelestarian alam, penjagaan antara
kadar air dalam tanah, pertukaran udara dan ekosistem yang lainnya.
Departemen penerangan dalam buku yang diterbitkannya dengan judul,
Peranan Komoditi Perkebunan Sebagai Sumber Devisa Negara, menjelaskan,
bagaimana kedaan Indonesia sebagai wilayah yang subur sangat orientik dijadikan
sebagai wilayah perkebuanan. Tanah yang subur, dan keadaan alam tetap stabil
tanpa musim-musim tertentu yang durasi waktunya sangat lama8.
Kondisi alam ini akan menjadi faktor utama yang mendukung alam
Indonesia sangat sesuai dijadikan sebagai budidaya tanaman Perkebunan.
Pertumbuhan tanaman tetap terjamin sebab lingkungan sangat mendukung. Untuk
itulah, pemerintah memberikan peluang yang besar terhadap pembukaan lahan
perkebunan dengan proses yang tidak menyulitkan.
6
Biro Pusat Statistik, Statistik Perkebuanan Besar 1986, Jakarta: BPS. 1986. Hal 3
7
Ibid
8
Buku ini menjelaskan, hasil-hasil dari produksi tanaman perkebunan yang
pada dasarnya tingkat pemasarannya berlevel internasional. Proses ini berdampak
pada meningkatnya taraf perekonomian Indonesia di pasaran internasional, seperti
yang terjadi sejak tahun 1968 di Indonesia telah mampu mengekspor produksi
perkebunan keluar negeri seperti karet, teh, kopi, coklat, minyak kelapa sawit,
kina, tebu dan komoditi tanaman perkebunan lainnya.
Pada babakan selanjutnya, buku ini menjelaskan bahwa pulau Sumatera
menduduki peringkat pertama dalam penyediaan lahan perkebunan baik
perkebunan swasta maupun perkebunan yang dikelola oleh pemerintah (PTPN).
Sumatera Utara menduduki peringkat pertama dalam hal ini.
1.5 Metode Penelitian
Penelitian ini bersifat desikriptif naratif, dimana penulis pertama-tama
akan menguraikan latar-belakang sejarah perkebunan di Sumatera Utara,
terbentuknya perkebunan P.T London Sumatera hingga perusahaan ini menjadi
perusahaan yang berlevel internasional.
Metode yamg digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang
meliputi heuristik atau pengumpulan sumber penelitian, verifikasi, interpretasi
dan historiografi9.
Heuristik atau pengumpulan sumber penelitian dilakukan untuk
mendapatkan data, baik yang bersifat lisan maupun tulisan. Meskipun demikian
Sumber-sumber tulisan mencakup buku, artikel, majalah, terbitan berkala serta arsip-arsip
P.T. London Sumatra. Sumber-sumber ini terutama diperoleh di perpustakaan P.T.
London Sumatera di jalan Perintis Kemerdekaan Medan, BKSPPS jalan Palang
Merah Medan dan Perpustakaan PUSLIT kelapa sawit jalan Brigjend Katamso
Medan. Sumber-sumber yang diperoleh kemudian diverifikasi dengan kritik
sumber yang meliputi kritik intern dan ekstern.
Kritik intern ditujukan untuk memperoleh dokumen yang kredibel dengan
cara menganalisis sejumlah sumber tertulis. Di sisi lain kritik ekstern ditujukan
untuk memperoleh data yang otentik, dengan cara menyesuaikan dengan jiwa
jaman.
Langkah yang selanjutnya adalah interpretasi yang bertujuan untuk
menganalisis dan menafsirkan data dengan menggunakan metode komparatif
(perbandingan) dari sejumlah data yang ada dan penelitian yang dilakukan
sebelumnya tentang perkebunan P.T. London Sumatra. Langkah ini kemudian
dilanjutkan dengan penulisan atau historiografi.
Historiografi yaitu menyusun fakta menjadi hasil penelitian yang
bentuknya adalah karya tulis sejarah yang deskriptif analisis. Dari fakta fakta
tentang perkebunan P.T London Sumatra di masa lampau yang sudah diuji dengan
metode sejarah, akan ditulis berdasarkan kronologi waktu.
9
BAB II
P.T PP LONDON SUMATERA INDONESIA TBK.
SEBELUM TAHUN 1964
P.T. PP London Sumatra Indonesia Tbk. sebelum dinasionalisasi bernama
Harrison & Crossfield Ltd. Perusahaan ini berpusat di London, Inggris, dan
awalnya bergerak dalam usaha bahan-bahan kimia. Di Indonesia, tepatnya di
Sumatera Utara perusahaan ini mengembangkan usaha perkebunan. Dari sini
perusahaan ini kemudian mengembangkan diri ke propinsi lain di Indonesia.
2.1 Harrison & Crossfield Sebagai Pendiri P.T London Sumatra
Harrison dan Crossfield merupakan dua orang pengusaha yang memulai
karirnya sebagai pengusaha di London, ibukota negara Inggris. Kerjasama yang
erat dari keduanya membuat usaha-usaha yang mereka bangun mengalami
kesuksesan. Di samping kerjasama yang terlihat sangat erat, kemajuan usahanya
juga didorong dengan kejelian melihat peluang di berbagai negara. Di Indonesia
sendiri mereka membuka usaha perkebunan10.
Harrison dan Crossfield, pertama kali bergabung pada tahun 1884 di
London. Perusahaan-perusahaan yang mereka dirikan pada awalnya belun
bertaraf internasional. Usaha yang dilakukan pertama kali oleh kedua pengusaha
ini adalah dalam bidang perdagangan, yaitu memperdagangkan bahan-bahan
Hlm. 27
10
kimia sebagai hasil produksi dari perusahaan baru mereka.11 Minimnya jumlah perusahaan yang memproduksi bahan-bahan kimia pada era 1880-an, baik di
Inggris sendiri maupun di berbagai negara menjadikan produksi perusahaan yang
di pimpin oleh Harrison dan Crossfield bayak diperdagangkan ke banyak Negara.
Dengan besarnya hasil yang diperoleh Harrison dan Crossfield, dari
penjual hasil produksi bahan kimia selama puluhan tahun, perusahaan ini
mendapat untung yang besar, sehingga Harrison dan Crossfield mulai
mengembangkan perusahaannya ke dalam bentuk produksi yang lain.
Perusahaan-perusahaan baru yang direncanakan oleh perusahaan Harrison
dan Crossfield didirikan di luar Inggris, dengan jenis hasil produksi yang
berbeda-beda. Sebagai tahap awal pendirian, pihak perusahaan melakukan kunjungan ke
berbagai negara guna melihat peluang usaha. Perjalanan ini pada dasarnya
ditujukan ke negara yang sudah dimasuki ataupun dijajah oleh
negara-negara barat12. Langkah ini bertujuan untuk memastikan bahwa negara-negara tersebut memiliki potensi alam untuk dikelola. Di awal tahun 1900-an
perusahaan-perusahaan yang direncanakan pun mulai dibuka, yaitu perusahaan
yang bergerak dalam bidang industri dan bahan kimia, perkebunan, Pauls (yang
terdiri dari bermacam-macam dagang) dan perdagangan umum internasional,
yang prosesnya dilakukan secara bersamaan di masing-masing negara yang sudah
ditentukan oleh pemilik perusahaan.
Bentuk-bentuk usaha yang dibangun di luar negara Inggris disesuaikan
dengan orientasi daerahnya, di Hindia Belanda sendiri usaha yang dibangun
11
adalah perusahaan perkebunan. Berdirinya perusahaan-perusahaan yang
mengatasnamakan Harrison dan Crossfield, menjadikan taraf perusahaan menjadi
perusahaan yang besar dan multi internasional dengan nama baru Harrison &
Crossfield Ltd, yang berpusat di London, Inggris.
2.2 Areal Perkebunan
Sistem perkebunan pada dasarnya sudah lama dikenal di Indonesia yang
didahului oleh perkebunan swasta. Pada tahun 1857, di Indonesia sendiri yang
masih berada di tangan pemeintah Belanda, perkebunan swasta di Indonesia
sudah memiliki peraturan keagrariaan. Peraturan tersebut mengatur tentang
penggunaan lahan perkebunan dan tanaman produksi13.
Indonesia adalah salah satu negara yang memberikan kesempatan besar
kepada pengusaha untuk membuka lahan perkebunan. Tahun 1938, dalam hal ini
Indonesia belum merdeka, jumlah perusahaan perkebunan swasta sudah mencapai
jumlah 243 perkebunan besar, yang sebagian di antaranya terdapat di pulau
Sumatera. Perusahaan tersebut pada dasarnya adalah milik pengusaha Inggris,
Belanda, Cina dan negara Eropa lainnya.14
Dalam mendapatkan tanah, cara yang dilakukan oleh para
pengusaha-pengusaha asing di Indonesia ada dua cara. Hal ini didasarkan pada kedudukan
negara-negara tersebut di Indonesia, misalnya pengusaha Belanda yang negaranya
adalah sebagai penjajah proses perolehan tanah didapatkan dengan
12
Arship Lonsum yang berjudul Iktisar keuangan tahunan P.T PP. London Sumatra, Halaman 1.
13
melanggengkan kekuasaan, sedangkan pengusaha-pengusaha lainnya memperoleh
tanah dengan melakukan perjanjian kontrak ataupun melalui kesepakatan kepada
pemilik tanah.
Kesempatan berusaha yang didapatkan para pengusaha-pengusaha asing di
Indonesia pada dasarnya dilakukan kepada penguasa setempat Di Sumatera
Timur, pengusaha asing melakukan pendekatan terhadap Sultan. Hal ini dilakukan
adalah sebagai bukti bahwa pengusaha adalah sekaligus pemilik tanah yang
mempunyai hak khusus melakukan perjanjian dengan orang asing ataupun kepada
para pengusaha Asing di Sumatera Timur.
Tanah yang sering dijadikan sebagai lahan kontrak oleh para penguasa
pada umumnya adalah tanah yang penduduknya sangat jarang ataupun wilayah
yang ditempati oleh kelompok suku pendatang, yaitu masyarakat yang datang dari
Jawa dan masyarakat Asia lainnya. Tanah yang ditempati oleh masyarakat
pendatang ataupun masyarakat Asia lainnya pada dasarnya terpisah dari status
tanah yang mereka tempati15.
Sultan mempunyai hak penuh dalam mengelola tanah tersebut, sedangkan
masyarakat yang menempati tanah Sultan tunduk pada peraturan yang dikeluarkan
oleh Sultan. Ketika perusahaan atau perkebunan dibuka di atas areal yang
ditempati masyarakat, maka masyakat yang sudah tinggal lama di wilayah
tersebut pada umumnya akan menetap di areal itu dan bekerja sebagai buruh
dalam perkebunan ataupun perusahaan yang didirikan di sekitarnya.
14
Ibid., Hlm. 3
15
Proses kontrak tanah oleh Sultan kepada para pengusaha, dilakukan
dengan dasar hukum yang jelas. Tujuan pembentukan peraturan agraria ini adalah
memperjelas status tanah yang dijadikan sebagai lahan perkebunan oleh para
pengusaha.
Permasalahan pertanahan yang akan dikontrak dan dijadikan sebagai lahan
perkebunan pada dasarnya diatur dalam peraturan-peraturan agraria yang sudah
dibentuk oleh sultan bersama dengan orang Eropa lainnya di Sumatera Timur16. Harrison dan Crossfield, mendapatkan lahan yang akan dijadikan sebagai
areal perkebunan juga diperoleh berdasarkan kesepakatan dengan sultan (
Zelfbestuur ), dengan perjanjian para pengusaha akan memperoleh hak guna usaha
dalam jangka waktu yang disepakati dengan kata lain adalah kesepakatan
Concessie17.
Tanah yang disepakati sebagai wilayah perkebunan adalah wilayah yang
tergabung dengan wilayah Sumatera Timur. Harrison dan Crossfield, pertama kali
mendapatkan lahan perkebunan di daerah Deli Serdang dengan lama kontrak
selama 60 tahun18. Lahan yang didapatkan oleh Harrison dan Crossfield adalah lahan yang masih baru, belum pernah dijadikan sebagai lahan perkebunan oleh
masyarakat ataupun kesultanan. Lahan yang diperoleh Harrison dan Crossfield
segera ditanami dengan tanaman perkebunan, yakni kakao, teh, kopi, dan terutama
karet. Hal ini dilakukan sebagai penyamaan dengan perkebunan-perkebunan
lainnya di Sumatera Timur, yang menjadikan karet sebagai tanaman utama
perkebunan.
16
Sesudah kemerdekaan, atau sebelum tahun 1964, lahan-lahan yang
dimiliki oleh Harrison dan Crossfield beberapa kali mendapat ancaman penarikan
kembali dari pihak pemerintah Indonesia. Hal ini terjadi dikarenakan waktu
perolehan tanah yang perkebunan masih didasarkan pada perjanjian kontrak
kepada para Sultan di Sumatera Timur, atau dalam hal ini bukan pemerintah
Indonesia.
Salah satu babakan yang paling berat dihadapi oleh Harrison dan
Crossfield, adalah masa nasionalisasi milik pengusaha Asing di Indonesia tahun
1960, yang difokuskan kepeda perusahaan-perusahaan milik pengusaha dan
pemerintah Belanda. Proses pemilikan yang dinilai tidak sesuai dengan proses
yang sebenarnya terhadap aset-aset negara oleh Belanda diharuskan ditarik
kembali dan dikelola oleh negara Republik Indonesia.
Proses hukum yang jelas terhadap tanah-tanah yang dikontrak oleh
Harrison dan Crossfield melepaskan lahan–lahan yang mereka miliki dari
penarikan nasionalisasi. Di sisi lain ternyata perusahaan Harrison & Crossfield
LTD, memberikan keuntungan kepada pemerintah dan kehidupan sosial yang ada
di Sumatera Utara (sesudah Merdeka). Perusahaan Harrison & Crossfield LTD.
yang berpusat di London tetap berjalan seperti biasanya. Lahan-lahan perkebunan
yang dimiliki oleh Harrison & Crossfield LTD, tetap beroperasi meski hanya
mengalami perubahan hukum kontrak.
Hukum kontrak yang baru terhadap lahan-lahan yang dimiliki oleh
Harrison & Crossfield LTD didasarkan pada hukum pemerintah Indonesia, bukan
17
hukum kesultanan. Dasar kontrak terhadap lahan perkebunan Harrison &
Crossfield LTD adalah Undang-undang Pokok Agraria (UU No. 5 Thun 1960)
yang isinya adalah hak perusahaan dalam mengelola lahan-lahan yang sudah
dikontrak sebelumnya, yakni sebelum Indonesia merdeka19.
Lahan perkebunan milik Harrison dan Crossfield sampai akhir tahun
1960-an terdapat pada kabupaten-kabupaten di Sumatera Utara, seperti kabupaten
Asahan, Deli Serdang dan Labuhan Batu, meliputi beberapa kompleks
perkebunan seperti, Dolok, Gunung Melayu, Begerpang dan perkebunan lainnya.
Luas perkebunan sebelum tahun 1960-an telah mencapai ±14.000 hektar.20
2.3 Tanaman Produksi
Perusahaan Harrison & Crossfield Ltd adalah perusahaan yang pusat
pemasarannya berada di Inggris. Atas dasar pemasaran, maka tanaman produksi
yang ditanam di lahan Harrison & Crossfield Ltd adalah tanaman yang
produksinya disesuaikan dengan pangsa pasar Internasional21. Di sisi lain penentuan tanaman produksi menurut manejemen Perusahaan Harrison &
Crossfield Ltd disesuaikan dengan kondisi alam Indonesia. Tanaman yang akan
ditanam sebagai tanaman produksi adalah tanaman yang tumbuh di Indonesia
khususnya di Sumatera Utara.
18
Arsip P.T. PP London Sumatra, Areal Perkebunan Lonsum, Hlm. 3
19
Arship P.T. PP London Sumatra, yang berjudul Dasar Hukum Penggunaan Lahan PT. PP London Sumatera. Hlm vi.
20
Arsip P.T London Sumatra, yang berjudul Lokasi Perkebunan PT. London Sumatra. Hlm 1
21
Tahun 1906, sebagai periode pertama penanaman, perusahaan Harrison &
Crossfield Ltd menanam tanaman karet, kakao, teh dan kopi sebagai tanaman
produksi. Tanaman tersebut disamakan dengan tanaman perkebunan milik
Belanda. Tanaman produksi pokok adalah tanaman karet. Karet ditanam dengan
jumlah lebih besar daripada tanaman-tanaman lainnya. Hasil tanaman karet yang
saat itu sangat dibutuhkan pasar internasional mengakibatkan banyak perusahaan
perkebunan menjadikan tanaman tersebut sebagai tanaman produksi pokok,
sedangkan tanaman yang lainya adalah sebagai tanaman produksi pendukung.
Tanaman produksi pendukung ini, ditanam di lahan yang masih baru digunakan
sebagai lahan perkebunan.
Perusahaan ban mobil pertama di Inggris bernama Dunlop, mengajak
peran pengusaha perkebunan milik pengusaha Inggris yang ada di luar negara
tersebut untuk menjadikan tanaman karet sebagai tanaman produksi sebagai upaya
mendukung pabrik tersebut. Permintaan perusahaan Dunlop diterima yang
dibuktikan dengan penanaman karet pada perusahaan-perusahaan Inggris.
Perusahan-perusahaan tersebut tergabung dalam satu organisasi yang dinamakan
dengan Rubber Company.
Harrison & Crossfield Ltd menempatkan tanaman karet pada daerah
perkebunannya yang ada di Begerpang, Rambong Sialang di Deli Serdang dan
Pulo Rambong di Langkat. Sebagian besar wilayahnya ditanami dengan tanaman
karet. Penempatan tanaman ini didasarkan pada iklim Deli Serdang dan Langkat
yang tergolong sebagai iklim tropis, yaitu wilayah hujan tropis disertai dengan
Hasil yang dicapai semasa tanaman karet sebagai tanaman produksi cukup
tinggi. Hal ini tidak terlepas dari tingkat kesuburan tanah yang masih tinggi.
Tanaman karet yang baru tanam tersebut tumbuh subur di atas dataran Deli
Serdang dan Langkat.
Di samping karet, Harrison & Crossfield Ltd juga menanam tanaman
perkebunan untuk minuman dan makanan, seperti kopi, teh, dan terutama coklat
atau kakao. Hal ini disebabkan bangsa Eropa sangat menyenangi makanan dan
minuman coklat. Beberapa negara di Eropa berusaha mengembangkan tanaman
tersebut sebab jumlah masyarakat yang meminatinya sangat besar. Harrison &
Crossfield Ltd juga terpengaruh dengan tradisi Eropa tersebut, dan menjadikan
kakao sebagai salah satu tanaman produksi perkebunan. Tanaman ini ditempatkan
di daerah Rambong Sialang, sebab daerah tersebut sangat sesuai dengan iklim
tanaman kakao, yaitu tanaman yang membutuhkan curah hujan yang tinggi dan
sinar matahari22. Tanaman kakao tetap menjadi salah satu tanaman yang dibudidayakan oleh Harrison & Crossfield Ltd, sebab permintaan pasar terhadap
produksi kakao tetap tinggi di pasaran Eropa.
Tanaman perkebunan karet dan kakao menjadi tanaman produksi paling
besar semasa P.T London Sumatra masih dimiliki oleh perusahaan perkebunan
Harrison & Crossfield Ltd, sedangkan tanaman lainnya adalah tanaman
pelengkap.
2.4 Sistem Manajemen
22
Harrison & Crossfield Ltd adalah perusahaan Asing yang beroperasi di
Indonesia, yaitu milik pengusaha dari Inggris. Perusahaan Harrison & Crossfield
Ltd yang ada di Indonesia merupakan cabang perusahaan yang ada di Inggris,
Korea, Singapura, Cina dan negara-negara Eropa lainnya, sedangkan pusat
perusahaan tersebut berada di London, Inggris23.
Proses pengelolaan Harrison & Crossfield Ltd langsung dimanajemen dari
London, Inggris. Hal ini dilakukan sebab manajemen perusahaan milik Harrison
& Crossfield Ltd dikelola secara bersamaan dengan manajemen yang sama.
Pemilik modal, Harrison & Crossfield Ltd adalah pengusaha
berkebangsaan Inggris, yaitu Harrison dan Crossfield yang berkedudukan di
Inggris sebagai kantor pusat. Harrison & Crossfield pada awalnya masih
tergolong sebagai perusahaan yang sederhana, dan tentunya masih bisa dikelola
secara keseluruhan dari kantor pusat. Sebelum tahun 1964 perkembangan
perusahaan Harrison & Crossfield Ltd tergolong lambat. Faktor yang
mempengaruhi perkembangan ini adalah manajeman yang kurang baik dan situasi
ekonomi dan politik Indonesia maupun internasional yang memberikan kesulitan
terhadap perusahaan.
Dewan Komisaris dan Presiden Direktur sebagai kedudukan tertinggi,
berkedudukan di Inggris. Kedudukan tertinggi, yang posisinya ada di Indonesia
adalah Presiden Operasi yang bertugas untuk pengorganisasian di lapangan. Jadi
kedudukan tertinggi pada P.T. London Sumatra berkedudukan di Inggris.
23
Manajemen ini segera berubah sesudah tahun 1949, setelah perusahaan
mendapat status hukum yang jelas dari pemerintah, tepatnya pemerintah daerah
Sumatera Utara. Setelah merdeka, P.T. London Sumatra semakin berorientasi
dengan tujuan nasional dan memajukan kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Faktor lain yang menyebabkan perubahan tersebut adalah perkembangan
perusahaan yaitu lahan perkebunan. Lahan baru milik Harrison & Crossfield Ltd,
semakin dikembangkan ke daerah Asahan. Dengan demikian jabatan tinggi pada
Harrison & Crossfield Ltd berkedudukan di Indonesia.
Setelah Harrison & Crossfield Ltd mendapat hukum yang jelas dari
pemerintah Indonesia, menggantikan pergantian perjanjian yang sebelumnya
dengan para sultan di Sumatera Timur, maka perusahaan diupayakan banyak
memberikan bantuan sosialnya dan juga pembayaran pajak dan kerja sama dengan
pemerintah Indonesia.
2.5 Aktivitas Sosial
Sesuai dengan misi perusahaan yaitu meningkatkan kesejahteraan rakyat
dan penghasil pajak terbesar bagi negara, perusahaan Harrison & Crossfield Ltd
berupaya mewujudkan misi tersebut. Wujud dari sikap yang menjunjung misi itu,
maka perusahaan Harrison & Crossfield Ltd berupaya melakukan sumbangan
sosial dan ketaatan dalam membayar kewajiban bagi negara.
Aktivitas sosial yag dilakukan oleh Harrison & Crossfield Ltd sejak berdiri
sampai menjelang kemerdekaan, tergolong minim. Perusahaan Harrison &
sultan, sedangkan hubungan dengan masyarakat adalah tugas dari pemerintah,
bukan perusahan. Di Sumatera Timur, sebagai wilayah pokok Harrison &
Crossfield Ltd, perusahan menjalin hubungan dengan sultan yang berkuasa di Deli
dan Serdang.
Kemerdekaan Indonesia dan pengakuan kedaulatan dari Belanda, menjadi
babak baru terhadap akivitas sosial perusahaan Harrison & Crossfield Ltd.
Hubungan perusahaan dengan masyarakat Indonesia semakin lama semakin dekat.
Perusahaan telah diperbolehkan melakukan hubungan langsung dengan
masyarakat, tanpa melalui pemerintah. Keadaan ini semakin memberikan
kesempatan besar kepada Harrison & Crossfield Ltd untuk memberikan
kontribusinya kepada masyarakat.
Aktivitas sosial yang dilakukan oleh Harrison & Crossfield Ltd adalah
berupa layanan sosial yang sifatnya sederhana, seperti pelayanan dalam bidang
kesehatan, berupa pendirian posko-posko kesehatan di daerah perkebunan milik
Harrison & Crossfield Ltd, seperti di daerah Rambong Sialang dan Sibulan,
dengan nama posko, Pusat Kesehatan Perkebunan.24
Aktivitas sosial yang lainnya adalah berupa bantuan langsung kepada
karyawan dan masyarakat sekitar perkebunan yang bentuk bantuannya adalah
pemberian sandang dan pangan. Proses pemberian bantuan ini dilakukan pada
hari-hari tertentu, seperti hari besar agama dan hari bersejarah nasional. Aktivitas
ini dilakukan sebagai upaya kepedulian perusahaan Harrison & Crossfield Ltd
kepada masyakat, khususnya masyarakat sekitar perkebunan.
24
BAB III
P.T. PP LONDON SUMATRA INDONESIA TBK DI
SUMATERA UTARA TAHUN 1964-1990
3.1 Perluasan Areal Perkebunan
Usaha perkebunan adalah satu sumber pendapatan usaha besar di
Indonesia. Dikarenakan kontribusinya yang sangat besar terhadap keuangan
negara, maka perkebunan dijadikan sebagai salah satu usaha yang sangat
produktif. Dampak negatif yang ditimbulkan dari perkebunan sangat minim,
berbeda dengan dampak yang ditimbulkan jenis usaha yang bergerak dalam
bidang industri. Hal ini memberikan ketertarikan dari banyak kalangan terhadap
pembukaan usaha perkebunan di Indonesia. Usaha perkebunan yang sejak masa
penjajahan Belanda sudah dikembang, hingga Indonesia merdeka sistem ini tetap
dipertahankan.
Sejak tahun 1960-an, pemerintah Indonesia mengeluarkan peraturan
tentang luas areal perkebunan yang akan dikelola oleh perusahaan perkebunan.
Pemerintah melalui menteri perkebunan memberikan jaminan kepada pengusaha
tentang kebebasan pengusaha dalam mengusai tanah kosong utuk perkebunan
tanpa membatasi luas areal.25
Tindakan ini lakukan oleh pemerintah dengan dilatarbelakangi fungsi dari
perkebunan itu sendiri yang tergolong besar. Penggunaan lahan kosong atau lahan
25
yang tidak menghasilkan menjadi lahan perkebunan memberikan keuntungan
yang sangat besar terhadap perkembangan perekonomian maupun kesejahteraan
masyarakat di sekitarnya.
Pemberian lahan kosong untuk dikelola oleh pemerintah kepada pihak
swasta bertujuan menjadikan lahan yang tidak berproduksi, menjadi daerah
perkebunan dalam hal sebagai daerah yang menghasilkan. Kesempatan ini
menjadi peluang kepada pengusaha perkebunan, termasuk di antaranya pengusaha
P.T. London Sumatra.
Harrison & Crossfield Ltd, yang berubah nama menjadi P.T. London
Sumatra melaksanakan kesempatan yang diberikan oleh pemerintah tersebut.
Banyak daerah yang tidak berpenduduk menjadi pilihan perusahaan perkebunan
tersebut. Daerah daerah yang dikontrak sebagai lahan baru dari P.T. London
Sumatra adalah daerah yang baik untuk ditanami dengan tanaman perkebunan
karet, kakao, teh dan tanaman produksi perkebunan lainnya.
Sebelum kemerdekaan P.T. London Sumatra hanya menempatkan lokasi
perkebunannya di sekitar Sumatera Utara, tepatnya di kabupaten Deli Serdang dan
Serdang Bedagai sekarang, dengan empat daerah yang tidak jauh jaraknya.
Perkebunan tersebut adalah perkebunan Bagerpang, perkebunan Rambong
Sialang, perkebunan Sei Merah dan perkebunan Si Bulan, dengan jumlah areal
keseluruhan kurang lebih 10.000 hektar (sepuluh ribu hektar).26
Luas areal ini bertahan sampai berakhirnya masa proses nasionalisasi
perkebunan milik asing di Indonesia, tepatnya tahun 1960. Perkebunan milik
26
pengusaha Belanda dinasionalisasi oleh pemerintah Indonesia karena dinilai
proses perolehan tanah tersebut bukan berdasarkan kesepakatan, sehingga ditarik
kembali oleh pemerintah Indonesia.
Proses nasionalisasi tidak memberikan dampak yang merugikan bagi P.T.
London Sumatera, sebab tanah yang digunakan oleh perusahaan tersebut
mempunyai dasar hukum yang jelas dari sultan-sultan Deli dan juga sultan-sultan
yang berkuasa di Serdang. Tanah yang diusahai PT. London Sumatera prosesnya
adalah kontrak tanah, dengan mendapat hak guna usaha terhadap tanah tersebut.
Era baru perkebunan di Indonesia, yaitu tahun 1960-an, pemerintah
membuka kesempatan kepada pengusaha dan juga kepada masyarakat dalam
bidang perkebunan. P.T. London Sumatra menggunakan kesempatan emas
tersebut untuk mengembangkan perusahaannya melalui perluasan lahan.
Pertambahan areal dari P.T. London Sumatra adalah areal di luar Deli Serdang,
tetapi masih di Sumatera Utara, yaitu di kabupaten Langkat, Asahan dan Labuhan
Batu.
P.T. London Sumatera membuka 6 wilayah perkebunan wilayah sekaligus
di tiga kabupaten yang sudah di sebutkan sebelumnya. Lokasi–lokasi tersebut
adalah:
Perkebunan Dolok di Kabupaten Asahan
Perkebunan Gunung Malayu di Kabupaten Asahan
Perkebunan Bungara di Kabupaten Langkat
Perkebunan Turangie di Kabupaten Langkat
Perkebunan Sei Rumbia di Kabupaten Labuhan Batu.27
Hingga pertengahan tahun 1960-an, areal perkebunan P.T. London
Sumatra terus diperluas dengan menambah areal perkebunan. Penambahan areal
ini dilatar belakangi semakin meningkatnya permintaan pasar internasional akan
produksi karet. Wilayah yang baru dibuka tersebut berada di kabupaten
Simalungun dengan nama perkebunan, Bah Bulian dan Bah Lias, yang difokuskan
sebagai areal penanaman produksi karet.
Pertambahan perkebunan Bah Lias dan Bah Bulian, menjadikan wilayah
perkebunan P.T London Sumatera sudah mencapai luas kurang lebih 30.000 ribu
hektar (tiga puluh ribu hektar) yang terdapat di lima kabupaten propinsi di
Sumatera Utara, dengan jumlah perkebunan sebanyak 12 perkebunan.
Keduabelas perkebunan tersebut dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini:
Tabel 1: LAHAN PERKEBUNAN P.T. LONDON SUMATRA 1960-1970 No Nama Kebun Daerah Propinsi
1 Dolok Asahan Sumatera Utara
2 Gunung Malayu Asahan Sumatera Utara
3 Begerpang Deli Serdang Sumatera Utara
4 Rambong Sialang Deli Serdang Sumatera Utara
5 Sei Merah Deli Serdang Sumatera Utara
6 Si Bulan Deli Serdang Sumatera Utara
27
7 Bungara Langkat Sumatera Utara
8 Turangie Langkat Sumatera Utara
9 Pulo Rambong Langkat Sumatera Utara
10 Sei Rumbiya Labuhan Batu Sumatera Utara
11 Bah Bulian Simalungun Sumatera Utara
12 Bah Lias Simalungun Sumatera Utara
Sumber: Arsip P.T. London Sumatra yang berjudul Penjualan Produksi, Hlm 1.
Pada akhir tahun 1970-an, lahan P.T. London Sumatra telah mencapai
35. 000 hektar, di mana areal kebun mulai dikembangkan di propinsi-propinsi luar
Sumatera Utara. Perluasan areal London Sumatra tersebut semakin besar setelah
tahun 1980-an.
Keberhasilan yang dicapai di Propinsi Sumatera Utara kemudian diikuti
dengan kebijakan membuka lahan-lahan baru di luar propinsi ini, terutama di
Sumatera Selatan. Perluasan ini bahkan kemudian diikuti dengan pembukaan
diereal-areal baru di pulau Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.
Perkebunan yang baru terbentuk di Sumatera Selatan pada dasarnya
terdapat di wilayah Musi Rawas, yang terdiri dari beberapa kelompok
perkebunan, seperti Bukit Hijau, Belani Elok, Batu Cemerlang, Gunung Bais dan
Ketapat Bening dengan luas wilayah keseluruhan ±15.000 hektar, dengan
tanaman produksi difokuskan pada tanaman karet dan kelapa sawit.28
28
Tahun 1990, areal perkebunan P.T. London Sumatera telah diperluas
hingga sampai ke luar pulau Sumatera, yaitu wilayah Jawa, Kalimantan dan
Sulawesi. Pembukaan wilayah ini menjadikan London Sumatra menjadi
perkebunan swasta terbesar di Indonesia dan salah satu perkebunan terkemuka di
Asia pada tahun 1990-an.29
Setelah P.T. London Sumatra membuka wilayahnya di berbagai propinsi
di Indonesia, maka luas areal perkebunan telah mencapai ± 50.000 Hektar (kurang
lebih lima puluh ribu hektar), dengan daerah paling luas berada di wilayah
Sumatera Selatan.30 Perkebunan P.T. London Sumatra selalu berusaha meningkatkan lahan perkebunannya dengan melipat gandakan keuntungan untuk
penambahan areal perkebunan.
Guna mendapat areal yang lebih subur dan sangat sesuai dengan
perkembangan tanaman produsi perkebunan, P.T. London Sumatera telah
mendirikan penelitian tentang kualitas tanah. Aktivitas ini dilakukan oleh
perusahaan bukan semata-mata hanya untuk kepentingan P.T. London Sumatra
sendiri, tetapi juga ditujukan untuk kepentingan perusahaan-perusahaan
perkebunan lainnya, termasuk masyarakat. Lokasi penelitian tentang kualitas
tanah tersebut berada di Sumatera Utara, yang dinamakan dengan Bah Lias
Research station. 31
29
Arsip Pusat Penelitian Kelapa Sawit Sumatera Utara, yang berjudul Analisis Perkebunan-perkebunan Besar di Sumatera Utara. Hlm.2
30
Ibid. Hlm 4
31
3.2 Peralihan Tanaman Produksi
Sejak dimulainya sistem perkebunan di Sumatera Timur (Deli) pada
pertengahan tahun 1800-an, perkebunan ditujukan adalah untuk kegiatan
kapitalisme internasional. Terbukti dari penjualan hasil perkebunan pertama ke-
Rotterdam, Belanda oleh pengusaha Belanda bernama Nienhuys. Hasil
perkebunan pertama tersebut adalah tembakau yang ditanam di atas wilayah
Deli.32
Hasil perkebunan milik Belanda di pasarkan di negaranya sendiri yaitu
Belanda, sedangkan negara-negara lainnya yang memiliki perusahaan perkebunan
di Sumatera Timur, juga memasarkan hasil perkebunannya di negaranya
masing-masing. Demikianlah, P.T. London Sumatra, sebagai perusahaan perkebunan
milik pengusaha Inggris, hasil produksi perkebunannya dipasarkan di London,
Inggris.
Dari latarbelakang pemasaran hasil perkebunan ke London, maka produksi
perkebunan disesuaikan dengan pangsa pasar, atau permintaan pasar di London.
Sejak tahun 1906, perusahan telah melakukan pengiriman hasil produksi ke
London.
Masa era sebelum kemerdekaan fokus tanaman yang ditanam oleh
perusahaan P.T. London Sumatra adalah kopi, kakao, teh dan sebagian besar areal
perkebunan menanam karet. P.T. London Sumatra sering melakukan peralihan
tanaman pokok produksi. Hal ini dilakukan adalah untuk meningkatkan
32
produktivitas perusahaan agar selalu meningkat dan menjaga keberlangsungan
produksi oleh para pelanggannya di pasaran Eropa.
Walaupun melakukan peralihan tanaman pokok produksi, tetapi tanaman
yang bukan tanaman pokok tidak dihentikan secara total, tetapi tetap ditanam pada
areal yang dinyatakan oleh P.T. Londom Sumatra paling sesuai antara kondisi
tanahnya dengan tanamannya. Hal ini terlihat hingga tahun 1990
tanaman-tanaman yang posisinya sebagai tanaman-tanaman pokok produksi pada beberapa tahun
sebelumnya tetap ditanam.
Empat tanaman produksi di era sebelum kemerdekaan yang dijadikan
tanaman produksi oleh P.T. London Sumatra, yaitu karet, teh, kakao dan kopi.
Pemilihan tanaman ini didasarkan pada kebutuhan masyarakat Eropa, bukan
berdasarkan permintaan industri di Inggris. Kecuali karet, hasil produksi P.T.
London Sumatra (saat itu masih menggunakan nama Harrison & Crossfield Ltd)
memproduksi bahan jadi, bukan bahan mentah.
Tanaman karet bukanlah sebagai tanaman pokok produksi perkebunan
oleh P.T. London Sumatra di masa sebelum kemerdekaan,. Tanaman yang paling
dominan adalah tanaman kopi, teh dan kakao. Hasil produksi hampir 100%
dipasarkan di Eropa, tepatnya Inggris. Kecuali karet, bahan yang dihasilkan oleh
P.T. London Sumatra adalah hasil perkebunan yang sifatnya kebutuhan langsung.
Setelah Indonesia melampaui perang mempertahankan kedaulatan yakni
tahun 1947-sampai tahun 1950, maka segala aktivitas perkebunan dan juga
administrasi lainnya diserahkan kepada Indonesia bukan lagi kepada Belanda.
sebelumnya berada di tangan pemerintahan tradisional dan kolonial Belanda.
Masa peralihan ini dimanfaatkan oleh P.T. London Sumatra memperjelas status
tanah yang digunakannya yang diperoleh sebelum Indonesia merdeka. Tanah
didasarkan pada Undang - undang berlaku di Indonesia
Setelah status tanah menjadi hak guna usaha dari pemerintah Indonesia,
maka P.T. London Sumatra semakin berani menggunakan tanah untuk penanaman
produksi perkebunan. Babakan ini dijadikan P.T. London Sumatra sebagai masa
peralihan tanaman, dari tanaman yang bersifat variatif ke sistem tanaman pokok
produksi.
Peralihan tanaman ini juga dipengaruhi P.T. London Sumatera yang
pusatnya adalah Harrison & Crossfield Ltd di London Inggris, mengarahkan
aktivitasnya ke bidang Industri. P.T. London Sumatra sebagai basis yang bergerak
dalam bidang perkebunan diarahkan ke dalam penanaman karet. Perobahan ini
dimulai sejak tahun 1950, dan akhir tahun 1960-an. Sejak itu produsi pokok yang
dihasilkan oleh P.T. London Sumatra adalah getah karet.
Kondisi tanaman perkebunan pada tahun 1970-an, berdasarkan tanaman
produksi adalah sebagai berikut:
Tabel 2 Lahan Perkebunan Dan Tanaman Produsi P.T. London Sumatra Tahun 1970
No Nama Perkebunan
Daerah Propinsi Tanaman Produksi
2 Gunung Melayu Asahan Sumatera utara Karet
3 Begerpang Deli Serdang Sumatera utara Karet
4 Rambong Sialang Deli Serdang Sumatera utara Karet, Kakao
5 Sei Merah Deli Serdang Sumatera utara Karet
6 Si Bulan Deli Serdang Sumatera Utara Karet
7 Bungara Langkat Sumatera Utara Karet, Kakao
8 Turangie Langkat Sumatera Utara Karet, Kakao
9 Pulo Rambong Langkat Sumatera Utara Karet
10 Sai Rumbia Labuhan Batu Sumatera Utara Karet
11 Bah Balian Simalungun Sumatera Utara Karet, The
12 Bah Lias Simalungun Sumatera Utara Karet, Teh
Sumber: Arsip P.T. London Sumatera, yang berjudul: Luas Areal Tertanam 1970
Dari total keseluruhan tabel di atas, areal P.T. London Sumatra yang
ditanami karet telah mencapai 20.000 Ha (dua puluh ribu hektar), dengan pola
penanaman bertahap. Pola penanaman bertahap ini dilakukan dengan cara
mempertahankan perusahaan untuk tetap berproduksi walaupun sudah melakukan
konversi (pergantian) tanaman pokok produksi.33
Perkebunan karet milik P.T. London Sumatra yang berpusat di Sumatera
Utara menjadi pengkespor utama karet ke Inggris. Hal ini dilakukan sebab sejak
awal tahun 1950-an perusahaan ban raksasa di Inggris bernama Dunlop mulai
33
beroperasi. Perusahaan tersebut sangat membutuhkan bahan mentah dari getah
karet dengan jumlah yang sangat besar, untuk pembuatan ban kendaraan.
Tahun 1960-an perusahaan perkebunan P.T. London Sumatra telah
memperoleh keuntungan perusahaannya sebanyak 79% dari produksi karet. Hasil
yang dicapai oleh perusahaan ini menjadi salah satu faktor yang mengakibatkan
perusahaan semakin berkembang. Perusahaan P.T. London Sumatra mampu
menyaingi perusahaan milik pemerintah, yang juga menjadikan karet sebagai
produksi utama perkebunannya masa itu.
Perkebunan karet memberikan kontribusi yang besar terhadap
perkembangan pendapatan di Sumatera Utara. Karet pemerintah dan karet swasta,
salah satunya adalah P.T London Sumatra sebagai perusahaan perkebunan karet
terbesar telah menyumbang 50,29% dari hasil karet Indonesia pada tahun 1983.
Luas areal di Sumatera Utara yang ditanami karet baik milik pemerintah mapun
swasta adalah 224.432 Ha.34
Tanaman karet yang ditanam oleh P.T. London Sumatra merupakan
tanaman dengan varietas unggul. Hal ini dilatarbelakangi karena perusahaan
selalu melakukan penelitian terhadap jenis penyakit, dan juga gejala-gejala yang
mengakibatkan tanaman tersebut mengalami gangguan pertumbuhan atau
gangguan dalam menghasilkan getah. Proses ini telah dilakukan sejak P.T.
London Sumatra menjadikan tanaman karet sebagai tanaman utama perkebunan.
Lembaga penelitian tersebut dinamakan dengan Bah Lias Research Station
(BLRS), yang terdapat di Simalungun, Sumatera Utara.
34
Hasil penelitian yang sudah ditemukan oleh departeman milik P.T.
London Sumatra tersebut pada dasarnya diumumkan kepada masyarakat juga,
sebagai wujud kepedulian terhadap rakyat yang memilki perkebunan karet rakyat.
BLRS telah berhasil mengembangkan benih unggul dengan metode penggunaan
plasma nutfah dalam kultur jaringan sebagai upaya mengusahakan tanaman dalam
menghasilkan produksi tinggi atau yang disebut dalam bahasa biologinya yaitu
Klon Dura.35
Bibit-bibit Karet hasil pembibitan dengan metode yang dikembangkan
oleh lembaga penelitian P.T. London Sumatera diusahakan dipasarkan kepada
umum. Tujuan ini dilakukan supaya mesyarakat ataupun kelompok perkebunan
yang lainnya memperoleh hasil yang maksimal dari perkebunannya
masing-masing.
Tanaman Karet digunakan oleh P.T London Sumatra menjadi tanaman
produksi berakhir tahun 1970. Tanaman karet telah dijadikan sebagai tanaman
produksi perkebunan selama 30 tahun, dan sebagian besar tanaman dapat
digolongkan telah mencapai umur tua.
Di awal tahun 1980-an perkebunan London Sumatra mulai melakukan
pergantian tanaman produksi, yaitu dari tanaman karet ke tanaman produksi
kelapa sawit. Selang lima tahun yaitu tahun 1980 hingga tahun 1985 pergantian
tanaman produksi dilakukan. Kelapa sawit yang dinilai lebih memberikan peluang
baru dari semua tanaman produksi menjadikan P.T. London Sumatra
mengkonversi tanaman produksinya.
35
Lahan P.T. London Sumatra yang tergolong baru, yaitu di Sumatera
Selatan adalah wilayah sangat sesuai untuk penanaman tanaman produksi kelapa
sawit. Demikian halnya dengan areal yang terdapat di wilayah Sumatera Utara
adalah jenis tanah yang sangat sesuai dengan pertumbuhan kelapa sawit. Dalam
jangka waktu lima tahun, produksi perkebunan sawit London Sumatra telah
tergolong besar.
Sukses dalam mengelola kelapa sawit, maka perusahaan semakin
mengurangi tanaman produksi perkebunan yang lain. Bahkan, P.T. London
Sumatra melakukan pencarian lahan-lahan baru untuk penanaman tanaman
perkebunan yang lain. Lahan-lahan yang diutamakan menjadi lahan baru
difokuskan pada daerah-daerah yang sebelumnya adalah bekas perkebunan karet,
kelapa sawit, teh, kopi dan coklat. Hal ini dilakukan oleh P.T London Sumatra
adalah untuk memastikan suatu daerah adalah baik untuk pertumbuhan tanaman
produksi perkebunan.
Awal tahun 1990, P.T London Sumatra berhasil memperoleh beberapa
areal perkebunan di berbagai daerah di Indonesia dengan perjanjian kontrak lahan
perkebunan. Perusahaan-perusahaan tersebut adalah:
1. P.T. Nagodang Plantation Company
2. P.T. Saibulan Plantation Company
3. P.T. Perusahaan Perkebunan Bajue Kidoel
4. P.T. Perusahaan Perkebunan Sulawesi36
Dengan disepakatinya perjanjian tersebut, maka segera P.T. London
Sumatra melakukan penanaman pada lahan tersebut, yaitu tanaman karet, kopi,
kelapa sawit, teh, dan coklat dengan perincian tanaman produksi pada tahun
1990an adalah sebagai berikut:
Tabel 3 Lahan Perkebunan Dan Tanaman Produsi P.T. London Sumatera Tahun 1990
2 Gunung Melayu Asahan Sumatera utara Kelapa Sawit
3 Begerpang Deli Serdang Sumatera utara Kelapa Sawit,
Karet
4 Rambong Sialang Deli Serdang Sumatera utara Kelapa Sawit,
Kakao
5 Sei Merah Deli Serdang Sumatera utara Kelapa Sawit
6 Si Bulan Deli Serdang Sumatera Utara Kelapa Sawit,
Karet
7 Bungara Langkat Sumatera Utara Kelapa Sawit
8 Turangie Langkat Sumatera Utara Kelapa Sawit
9 Pulo Rambong Langkat Sumatera Utara Kelapa Sawit
10 Sai Rumbia Labuhan Batu Sumatera Utara Karet, Kelapa
Sumber: Arsip P.T. London Sumatera yang berjudul: Tanaman Produksi
Perkebunan P.T. London Sumatera.
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa tanaman produksi yang paling
dominan adalah kelapa sawit. Hasil produksi sawit yang dominan membuat
perusahaan tertarik dalam mengelola sendiri hasil produksi.
3.3 Peningkatan Produksi Dan Pengelolaan Hasil Perkebunan
Sejak perusahaan P.T. London Sumatra memulai menanam kelapa sawit,
bagian pengembangan dan penelitian perusahaan melakukan fokus perhatiannya
pada masalah-masalah yang sering dihadapi tanaman kelapa sawit. Kelompok
peneliti perusahaan memperhatikan pertumbuhan kelapa sawit mulai dari
pembibitan hingga berproduksi.
Setelah periode penanaman pertama berakhir, maka untuk periode
pananaman kelapa sawit periode kedua merupakan bibit yang dihasilkan dari hasil
percobaan lembaga penelitian kepala sawit P.T. London Sumatra. Benih yang
dijadikan sebagai bibit merupakan jenis bibit unggul yang dihasilkan dari
pembibitan penelitian P.T. London Sumatra. Plasma Nutfah Baru adalah nama
benih hasil temuan tersebut.
Selain bertahan tumbuh dan bebas dari serangan penyakit, bibit baru ini
juga mampu menghasilkan produksi yang lebih dari benih tanaman lainnya. Benih
itu telah dipakai P.T. London Sumatra sebagai bibit pada gelombang kedua. Di
pertengahan tahun 1980-an, hasil pembibitan telah mampu membuka proyek baru
perusahaan swasta dan pemerintah. Hampir 90% hasil pembibitan dijual dengan
harga tinggi, sedangkan 10% dari jumlah tersebut dipergunakan sebagai bibit
pokok.
Tiga lembaga penelitian milik P.T. London Sumatra didirikan di berbagai
daerah yang lahan perusahaannya banyak dimiliki oleh P.T. London Sumatra.
Cara ini dilakukan untuk membaca permasalahan yang dihadapi perusahaan
tersebut di masing-masing daerah perkebunan P.T. London Sumatra. Di antara
yang didirikan adalah yang terdapat, di Sumatera Utara dinamakan dengan BLRS
Sumatera Utara tepatnya di Simalungun.37
Guna meningkatkan kemampuan peneliti kelapa sawit tersebut,
perusahaan sengaja melakukan kerja sama dalam bidang penelitian tanaman
dengan akademisi yaitu Universitas Reading di Inggris dan berbagai perguruan
tinggi yang ada di dalam negeri. Hasil yang diperoleh dari kerjasama itu
menjadikan perusahaan memiliki ciri khas khusus bibit. Bibit-bibit yang
dihasilkan P.T. London Sumatra merupakan salah satu bibit terbaik di Indonesia
dan bahkan masih diperhitungkan di tingkat Internasional.
P.T. London Sumatra telah menjadi perusahaan besar yang memiliki hak
paten tentang bibit perkebunan kelapa sawit yang dinamakan dengan benih
Molekuler yang diperdagangkan di Indonesia bahkan di tingkat internasional.
Perusahaan memberikan kesempatan besar kepada karyawannya untuk tetap
melanjutkan penelitian menuju yang terbaik. P.T. London Sumatra adalah satu-
37
satunya perusahaan yang melakukan penjualan bibit kepada perusahaan swasta
lainnya.38
Di samping telah berhasil menemukan bibit unggul, P.T. London Sumatra
juga sukses dalam usaha antisipasi dari serangan hama maupun penyakit kelapa
sawit lainnya yang kesemuanya dilakukan di lembaga penelitian milik P.T.
London Sumatra. Selain melakukan perawatan tanaman, perusahaan juga
mempelajari tingkat kadar tanah areal perkebunan P.T. London Sumatra. Hal ini
akan berujung pada pencampuran pupuk yang akan digunakan terhadap tanah
areal perkebunan. Penelitian ini dinamakan dengan peningkatan agronomi pada
pusat penelitian tanah milik P.T London Sumatra.39 Perpaduan antara penyediaan bibit unggul, perawatan tanaman dan Agronomi ini, memberi hasil produksi
terbaik sejak tahun 1990.
Hasil produksi yang maksimal, mendorong perusahaan mendirikan
perusahaan pengelolaan sendiri yang disebut dengan pabrik. P.T. London Sumatra
mendirikan pabrik sendiri, guna meningkatkan pendapatan tunggal tanpa
melakukan kontak langsung dengan perusahaan pemasaran dan pabrik yang ada di
Inggris. Perusahaan ini didirikan di lokasi-lokasi perkebunan milik P.T. London
Sumatra, guna mengurangi biaya operasi dan pengangkutan menuju London,
Inggris.
Perusahaan-perusahaan tersebut dapat dilihat dari tabel 4 berikut:
38
Tabel 4
Pengelolaan Produksi Tahun 1990
Jenis
Sumber: Arsip perkebunan P.T. London Sumatra yang berjudul: Fasilitas
Pengelolaan
Tabel di atas menunjukkan bahwa hasil-hasil perkebunan telah dapat
diolah di pabrik-pabrik pengolahan perusahaan sendiri. Hasil industri yang
dikelola di pabrik-pabrik milik P.T London Sumatra ini kemudian diekspor dalam
bentuk bahan olahan. Hasil tersebut adalah CPO, Lateks, Kopi, Teh dan Karet,
bukan lagi berupa lagi bahan-bahan mentah, tetapi sudah tergolong sebagai bahan
jadi.
39
3.4 Sistem Manajemen P.T. London Sumatra
Sistem manajemen pada dasarnya ditujukan untuk mencerminkan arus,
atau garis perintah, kewajiban dan juga proses penggajian karyawan. Demikian
juga halnya dengan P.T. London Sumatra yang membentuk sistem manajemen
yang beberapa kali telah melakukan perubahan, sesuai dengan keadaan
perusahaan dan juga usaha mencapai visi dan misi yang sudah ditentukan oleh
perusahaan.
3.3.1 Misi, Visi Dan Tujuan Perusahaan
Perusahaan P.T. London Sumatra didirikan dengan visi, misi dan tujuan
yang jelas. Tujuan perusahaan adalah menuju perusahaan terbaik dan
menghasilkan keuntungan yang telah ditargetkan. Perusahaan membentuk tujuan
pada awal tahun kepengurusan dengan mempertimbangkan kemampuan personal
dan juga kapasitas yang dimiliki oleh perusahaan.
Misi perusahaan P.T. London Sumatra Indonesia Tbk adalah
meningkatkan kesejahteraan rakyat banyak dengan menyediakan lapangan kerja
yang seluas-luasnya dan menjadi salah satu perusahaan penyumbang pajak
terbesar bagi negara. Misi ini sudah dibuktikan oleh perusahaan sejak perusahaan
mendapat kepastian hukum yang jelas, khususnya tentang status kepemilikan dan
penggunaan lahan, sesudah Indonesia memperoleh kemerdekaannya. Perusahaan
P.T. London Sumatra adalah salah satu perusahaan yang cukup banyak menyerap
tenaga kerja, sebab mereka bergerak dalam bidang perkebunan yang wajib
Di samping memiliki tujuan dan misi, perusahaan juga memiliki visi yang
jelas. Visi P.T. London Sumatra adalah menuju perusahaan yang paling efisien
dengan menggunakan strategi yang dianggap sangat stategis yaitu:
1. Perusahaan perkebunan yang berusaha meningkatkan kapasitas areal
perkebunan dan produksi
2. Melakukan efisiensi operasi dan biaya
3. Pengembangan secara terus menerus dalam program penelitian
pengembangan serta produksi CPO (Crude Palm Oil) karet dan coklat.
Ketiga hasil yang disebutkan ini merupakan produksi yang diutamakan
oleh perusahaan P.T. London Sumatera.40
3.3.2 Struktur Organisasi
Sejak perusahaan melakukan perjanjian kontrak kerja sama dengan
berbagai perusahaan yang ada di Indonesia, maka sejak saat itu saham perusahaan
telah banyak dimiliki pengusaha dan rakyat Indonesia. Proses ini mengakibatkan
adanya sebuah rekonstruksi yang baru terhadap struktur organisasi termasuk
perubahan dalam bidang visi, misi dan juga tujuan perusahaan.
Untuk menjalankan tujuan, visi dan misi perusahaan, maka perlu anggota
yang berkerja dalam birokrasi perusahaan yang bekerja secara bersama-sama
walaupun berbeda bidang kerja yang diduduki masing-masing.
Bidang-bidang kerja tersebut masing-masing adalah:
Dewan komisaris adalah struktur yang paling tinggi dalam perusahaan PT
London Sumatra. Mereka yang menduduki jabatan ini adalah para pemegang
saham, yang pemilihannya dipilih oleh para pemegang saham. Wewenang dan
tanggung jawab yang dilakukannya adalah
a. Mengawasi pekerjaan direksi
b. Berhak memeriksa dokumen kantor, gedung dan kekayaan
c. Meminta keterangan dari direksi yang berkenaan dengan perseroan
d. Berhak memeriksa keuangan perusahaan
e. Berhak atas beban perusahaan serta meminta para ahli untuk
melakukan pemeriksaan
f. Berhak memerintah presiden direksi untuk melakukan rapat luar
biasa.
g. Memberikan pertimbangan terhadap laporan tahunan dan
menyetujui program tahunan yang baru
h. Menyetujui program kerja presiden direktur dalam penggunaan
kekayaan menurut cara pandang yang baik.
2. Presiden Direktor
Bagian ini berhak dan bertugas mengawasi segala aktivitas perusahaan,
yang mana pekerjaan tersebut dilakukan oleh para Direktor, yang terdiri
dari Direktor Penelitian, Direktor Produksi, Direktor Keuangan, dan
Direktor Pemasaran.
40
3. Direktor Penelitian
Bertugas dalam mengadakan diskusi dan menemani para ahli dari
konsultan perusahaan selama kunjungan perusahaan dan mengontrol
produksi bibit kelapa sawit, cokelat, karet dan hasil pemeliharaan bibit
unggul
4. Direktor Produksi
Bertugas dan bertanggungjawab atas perencanaan, pengaturan bidang
produksi termasuk kelancaran proses produksi baik kualitas mapun
kuantitas sekaligus membawahi pekerjaan yang bergerak dalam bidang
produksi.
5. Direktor Keuangan
Bertujuan mengawasi masalah keuangan dalam pengeluaran, pemasukan
dan berhak mengatasi keborosan pengeluran yang dikeluarkan perusahaan,
mengawasi karyawan dalam bidang keuangan, bertanggungjawab dalam
menentukan laporan keuangan perusahaan, mengendalikan dan memeriksa
uang masuk dan uang keluar.
6. Direktor Pemasaran
Fungsi dari badan ini adalah mengkordinir bidang pemasaran hasil
produksi utama, menetapkan dan mengevaluasi upaya-upaya strategi dan
kebijakan pemasaran serta mengadakan barang, mencari mitra bisnis dan
mitra aliansi, menetapkan sistem persediaan produksi serta bahan baku dan
perlengkapan, memberikan informasi pasar, mencari dan menentukan pola
pemasaran yang baru,
7. Inspektorat
Bertugas memeriksa tanaman secara langsung kelapangan, mengadakan
percobaan terhadap tanah serta bibit untuk dijual dan ditanam.
8. Estate Departemen
Berhak untuk membuat laporan bulanan dan tahunan, memperbaiki
laporan tahunan, mengajukan hasil panen tahunan dan bulanan, mengatur
peredaran uang tunai di lapangan, menyusun perbandingaan harga tiap
bulan, mengatur penjualan bibit, mengatur pemakayan modal, mengatur
perkembangan daun, dan lain-lain.
9. Bah Lias Research Station
Meneliti dan mengawasi tanaman secara langsung ke lapangan, meneliti
dan mengadakan percobaan-percobaan terhadap tanah areal perkebunan,
meneliti penyakit bibit dan juga jenis hama tanaman perkebunan.
10. Departemen Manajemen
Merencanakan perencanaan tenaga kerja, pelatihan, mengurusi kenaikan
pangkat dan pemberhentian sekaligus pensiun, mengurusi masalah tamu,
mengurusi permasalahan pertanahan dan perijinan dan keamanan, serta
mengurusi hubungan perusahaan dengan masyarakat.
11.Seksi Taksasi
Berfungsi mempersiapkan serta menghitung besarnya pajak yang
pertambahan nilai serta pajak yang ditanggung oleh karyawan dan tenaga
kerja, memngajukan karyawan menuju peningkatan jabatan, mengurus
JAMSOSTEK karyawan.
12.Manajemen Departeman
Bertugas melakukan evakuasi terehadap tugas yang dilaksanakan oleh
inspector, melakukan pengontrolan data perkebunan, bertanggungjawab
terhadap kegiantan bidang tanaman, mengevaluasi kerja-kerja karyawan di
lapangan dan karyawan pabrik.41
Demikianlah fungsionaris perusahaan P.T. London Sumatra yang
mengurusi masalah pokok dalam perusahaan, sedangkan para staf lainnya bekerja
pada bidang-bidang lain yang bentuknya bukan fungsionaris dalam perusahaan,
tetapi sebagai pendukung kegiatan bidang atupun departeman yang sudah
disebutkan sebelumnya, misalnya bagian keamanan atau satuan pengamanan
(Satpam), Public Relation yang bergabung ke dalam manajemen departemen.
41
BAB IV
KONTRIBUSI P.T. PP LONDON SUMATERA INDONESIA
TBK DI SUMATERA UTARA TAHUN 1964-1990
P.T. London Sumatra berkembang sejalan dengan proses sejarah yang
terjadi di Indonesia. Perusahaan ini telah melewati Perang Dunia II, masa revolusi
kemerdekaan Indonesia tahun 1945, pembubaran Negara Republik Indonesia
Serikat sekitar tahun 1950, serta nasionalisasi perusahaan swasta di Indonesia
tahun 1960-an. Perusahaan P.T. London Sumatra tentu mendapat pengaruh dari
masa-masa peralihan tersebut.
Berkat kedekatan P.T. London Sumatera kepada rakyat maka masa-masa
tersebut tidak membuat perusahaan perkebunan tersebut berhenti. Bahkan,
perusahaan selalu mengalami perkembangan seiring dengan semakin membaiknya
situasi sosial politik di Indonesia.
P.T. London Sumatra yang pada awalnya dimiliki oleh Harrison &
Crossfield Ltd, semakin lama semakin menggeser saham-sahamnya dengan cara
menjualnya kepada pengusaha dan masyarakat. Sebagian besar kepemilikan P.T.
London Sumatra sudah dimiliki oleh masyarakat Indonesia yaitu sebesar 26,99%
sedangkan CS Singapore sebanyak 50,10% dan P.T. London Sumatra sendiri
hanya memiliki 21,91 %.42
P.T. London Sumatera tidak lagi dimiliki oleh Harrison & Crossfield Ltd,
Oleh sebab itulah proses manajemen P.T. London Sumatra semakin disesuaikan
42