Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
TUGAS SARJANA
PROSES PEMOTONGAN LOGAM
MENGEMBANGKAN MODEL MATEMATIKA T
L, Q dan MRR
SEBAGAI PARAMETER KARAKTERISTIK PERFORMA
PAHAT BAGI MEMPEROLEH KONDISI PEMOTONGAN
OPTIMUM
OLEH: YUKI FEBRIAN NIM : 020401025
DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
KATA PENGANTAR
Alhamdullillah, puji dan syukur saya ucapkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini tepat pada waktunya. Tugas Akhir ini adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi untuk menyelesaikan program studi S-1 di Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.
Penulis memilih Tugas Akhir ini dalam bidang Pemotongan Logam dengan
judul “MENGEMBANGKAN MODEL MATEMATIKA TL, Q dan MRR
SEBAGAI PARAMETER KARAKTERISTIK PERFORMA PAHAT BAGI
MEMPEROLEH KONDISI PEMOTONGAN OPTIMUM”.
Pada kesempatan yang baik ini juga, penulis ingin mengucapkan terimakasih
kapada :
1. Orang tua saya, buat bapak dan ibu saya tercinta yang telah banyak memberikan perhatian, doa dan dukungan baik moril maupun materil.
2. Bapak Dr. Ir. Armansyah Ginting, M.Eng selaku dosen pembimbing tugas sarjana ini, yang telah banyak membantu sumbangan pikiran dan meluangkan waktunya dalam memberikan bimbingan untuk penulisan tugas sarjana ini. 3. Bapak Dr.-Ing. Ir. Ikhwansyah Isranuri, selaku Ketua Jurusan Teknik Mesin
Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Tulus Burhanuddin Sitorus, S.T, M.T, selaku Sekretaris Jurusan Teknik Mesin Universitas Sumatera Utara.
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
6. Prayitno G. Taruna, M. Irfandi , M Hanafi, Juanda, Nouval Ardi, Zaldiansyah, Supriadi, Yudi, Bang Salman selaku teman-teman diskusi dalam penelitian ini terima kasih atas semua bantuannya.
7. Kepada senior dan teman-teman penulis yang telah banyak membantu penulis
dalam kuliah. Semoga Allah SWT membalas perbuatan baik yang telah
mereka lakukan.
Akhir kata, syukur pada Allah SWT dan semoga tugas sarjana ini
bermanfaat dan berguna bagi kita semua.
Medan, Maret 2008 Penulis
( YUKI FEBRIAN )
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI iii
DAFTAR TABEL vi
DAFTAR GAMBAR viii
DAFTAR NOTASI x
BAB 1 PENDAHULUAN 1
1.1Latar Belakang 1
1.2Tujuan Penelitian 2
1.3Manfaat 2
1.4Batasan Masalah 3
1.5Sistematika Penulisan 3
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 4
2.1 Operasi Pembubutan 4
2.1.1 Lima Elemen Dasar Pemesinan 4
2.1.2 Aplikasi pada Operasi Pembubutan 5
2.1.3 Pemotongan Orthogonal 9
2.1.4 Mekanisme Pembentukan Geram 10
2.1.5 Komponen Gaya dan Kecepatan Pemotongan Orthogonal 11
2.1.6 Umur Pahat 15
2.1.7 Hubungan Umur Pahat (T) dengan Volume Bahan Terbuang (Q) 22
2.2 Bahan Pahat 22
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
2.2.2 Bahan Pahat Karbida 23
2.2.3 Pahat Karbida pada Operasi Pembubutan 24
2.3 Bahan Material 29
2.3.1 Bahan Logam (Ferrous Metal) 29
2.4 Pemesinan Kering (Dry Machining) 31
2.4.1 Definisi 31
2.4.2 Perkembangan Pemesinan Kering 31
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 35
3.1 Bahan dan Alat 35
3.1.1 Bahan 35
3.1.2 Pahat Potong 36
3.1.3 Alat 37
3.2 Pelaksanaan Penelitian 42
3.3 Metode 43
3.4 Variabel yang Diamati 44
3.5 Analisa Regresi 44
BAB 4 HASIL DAN ANALISA 48
4.1 Hasil Eksperimen 48
4.2 Model Matematika 55
4.2.1 Model Matematika dalam Bentuk Laju Bahan Terbuang (MRR) 58
4.3 Pengaruh Kondisi Pemotongan (v,f,a) terhadap MRR 59
4.3.1 Pengaruh Kecepatan Potong (v) terhadap MRR 60
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 68
5.1 Kesimpulan 68
5.2 Saran 69
DAFTAR PUSTAKA 71
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1.Besaran fisik yang digunakan dalam analisis dimensional 17
Tabel 2.2. Harga koefisien m dan n 19
Tabel 3.1. Sifat mekanik paduan aluminium 6061 35
Tabel 3.2. Sifat mekanik baja karbon AISI 1045 35
Tabel 3.3. Komposisi kimia paduan aluminum 6061 35
Tabel 3.4. Komposisi kimia baja karbon AISI 1045 35
Tabel 3.5. Data geometri pahat karbida 36
Tabel 3.6. Komposisi kimia dan sifat mekanis pahat karbida 37
Tabel 3.7. Data teknis mesin bubut Jhung Metal Machinery Co. 39
Tabel 3.8. Data kondisi pemotongan untuk paduan aluminium 6061 43
Tabel 3.9. Data kondisi pemotongan untuk baja karbon AISI 1045 43
Tabel 4.1 Data pemesinan pahat karbida tidak berlapis setelah memotong baja karbon
hingga VBmaks 0,1mm 48
Tabel 4.2. Data pemesinan pahat karbida tidak berlapis setelah memotong
aluminium hingga VBmaks 0,1mm 48
Tabel 4.3. Data pemesinan pahat karbida tidak berlapis setelah memotong baja
karbon hingga VBmaks 0,1mm 49
Tabel 4.4. Data pemesinan pahat karbida tidak berlapis setelah memotong aluminium
hingga VBmaks 0,1mm 49
Tabel 4.5. Data laju bahan terbuang (MRR) baja karbon dengan VBmaks 0,1mm 51
Tabel 4.6. Data laju bahan terbuang (MRR) aluminium dengan VBmaks 0,1mm 53
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
Tabel 4.8. Data keseluruhan pada pemesinan aluminium 6061 54
Tabel 4.9. Data untuk laju bahan terbuang baja karbon AISI 1045 56
Tabel 4.10. Kondisi pemotongan (v,f,a) untuk perubahan laju bahan terbuang secara
eksperimen dan permodelan untuk aus tepi VB= 0.1mm pada baja karbon AISI 1045
59
Tabel 4.11. Kondisi pemotongan (v,f,a) untuk perubahan laju bahan terbuang secara
eksperimen dan permodelan untuk aus tepi VB= 0.1mm pada aluminium 6061 60
Tabel 4.12. Kondisi pemotongan optimum pada a=1 dan f=0.1 untuk baja karbon
AISI 1045 63
Tabel 4.13. Kondisi pemotongan optimum pada a=1 dan f=0.17 untuk baja karbon
AISI 1045 64
Tabel 4.14. Kondisi pemotongan optimum pada a=1 dan f=0.24 untuk baja karbon
AISI 1045 64
Tabel 4.15. Kondisi pemotongan optimum pada a=1 dan f=0.1 untuk aluminium 6061
66
Tabel 4.16. Kondisi pemotongan optimum pada a=1 dan f=0.17 untuk aluminium
6061 66
Tabel 4.17. Kondisi pemotongan optimum pada a=1 dan f=0.24 untuk aluminium
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1.Proses bubut 6
Gambar 2.2. Proses pemotongan orthogonal 9
Gambar 2.3. Teori modern (yang dianut) yang menerangkan terjadinya geram 11
Gambar 2.4. Lingkaran Merchant’s 12
Gambar 2.5. Kecepatan geser vs yang ditentukan oleh kecepatan geram vc dan
kecepatan potong v 14
Gambar 3.1. Benda kerja 36
(a) Baja karbon AISI 1045 36
(b) Paduan aluminium 6061 36
Gambar 3.2. Mata pahat karbida 36
Gambar 3.3. Pemegang mata pahat (Tool Holder) 37
Gambar 3.4. Mikroskop VB 38
Gambar 3.5. Mesin bubut Jhung Metal Machinery Co. 38
Gambar 3.6. Bagian-bagian mesin bubut 39
Gambar 3.7. Centering 40
Gambar 3.8. Jangka sorong 40
Gambar 3.9. Stop watch 41
Gambar 3.10. Diagram alir penelitian 42
Gambar 3.11. Bentuk hubungan antara variabel 45
(a) Hubungan searah 45
(b) Hubungan berlawanan arah 45
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
(a) Hubungan linier 46
(b) Hubungan kuadratik 46
(c) Hubungan Logaritmik 46
Gambar 4.1. Grafik kecepatan potong vs laju bahan terbuang pada baja karbon pada
VBmaks 0,1mm 50
Gambar 4.2. Grafik kecepatan potong vs laju bahan terbuang pada aluminium pada
VBmaks 0,1mm 52
Gambar 4.3 Grafik kecepatan potong vs laju bahan terbuang secara eksperimen dan
model pada baja karbon denganVB 0.1mm 61
Gambar 4.4 Grafik kecepatan potong vs laju bahan terbuang secara eksperimen dan
model pada aluminium dengan VB 0.1mm. 62
Gambar 4.5 Kecepatan potong (v)(m/min) vs MRR m (cm3/min) dan TL m (min) pada
baja karbon AISI 1045 65
Gambar 4.6 Kecepatan potong (v)(m/min) vs MRR m (cm3/min) dan TL m (min) pada
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
DAFTAR NOTASI
Lambang Besaran Satuan
a : Kedalaman potong (depth of cut) mm ac : Tebal geram yang tidak terdeformasi (h) mm A : Penampang geram sebelum terpotong mm2 Ashi : Penampang bidang geser mm2 Aγ : Bidang pada pahat dimana geram mengalir (face) mm2
b : Lebar pemotongan (width of cut) mm b0-b3 : Koefesien
c : Temperatur oC C : Konstanta
CT : Konstanta
Cvb : Faktor koreksi terhadap keausan tepi VB
γ
C : Faktor koreksi terhadap sudut geram 0
d : Diameter rata-rata mm
df : Derajat kebebasan (degree of freedom)
dm : Diameter akhir mm do : Diameter mula mm E : Modulus elastisitas (modulus of elasticity) Gpa
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
F : Gaya total yang bekerja pada pemotongan logam N Ff : Gaya makan searah dengan kecepatan makan N
Fs : Gaya geser yang bekerja pada pemotongan logam N
Fsn : Gaya normal pada bidang geser pada pemotongan logam N
Fv
:
Gaya potong searah dengan kecepatan potong Nγ
F : Gaya gesek pada bidang geram N
n
Fγ : Gaya normal pada bidang geram N
G : Modulus elastisitas geser (shear modulus) GPa
h : Tebal geram sebelum terpotong mm
hc : Tebal geram setelah terpotong mm
Kr : Sudut potong utama ( o)
K : Konduktifitas panas (thermal conductivity) W/m.K
Lt : Panjang pemesinan mm
n : Putaran poros utama rpm
Q : Volume Bahan Terbuang dm3
Qt : Panas total yang dihasilkan perdetik
Qsh : Panas yang dihasilkan perdetik pada bidang geser,
Qγ : Panas yang dihasilkan perdetik pada bidang geram,
Qα : Panas yang dihasilkan perdetik pada bidang utama
R2 : Koeffisien Determinasi
rc : Radius ujung pahat mm
c
t : Waktu pemotongan min
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
v : Kecepatan potong (cutting speed) m/min
vf : Kecepatan makan m/min
v.f : Beban geram (chip load) m2/rpm VB : Panjang keausan tepi mm X : Nilai yang diobservasi
Y : Nilai yang dicari untuk setiap nilai X
Z : Kecepatan penghasilan geram mm3/min
o : Sudut geram ( o)
η : Besar sudut gesek ( o)
h : Rasio pemampatan tebal geram
σu : Tegangan tarik (Ultimate tensile strength) Mpa
σy : Tegangan geser (Tensile yield strength) Mpa
shi : Tegangan geser pada bidang geser N/mm2
µ : Poisson’s ratio
ρ : Densitas 3
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Data – data kondisi pemotongan yang disajikan oleh para produsen pahat pada
umumnya adalah kondisi pemotongan yang diperoleh dari pemesinan basah. Hal
tersebut adalah lazim mengingat pemesinan basah sudah dilakukan dalam kurun
waktu 100 tahun belakangan ini ( Boothroyd dan Knight 1990 ).
Diawali tahun 1997 limbah cairan pemotongan dari proses pemesinan menjadi
masalah yang harus mendapat perhatian serius disebabkan oleh regulasi undang-
undang lingkungan hidup. Dalam laporannya, Sreejith dan Ngoi (2000) menuliskan
bahwa penggunaan cairan pemotongan harus diminimasi hingga kapasitas 50 mL/jam
atau bilamana mungkin ditiadakan penggunaannya sama sekali. Hal ini membawa
dampak yang besar bagi industri pemotongan logam sebab data – data kondisi
pemotongan yang lama yaitu yang diperoleh dari data – data pemesinan basah mesti
ditinjau kembali. Sekumpulan data yang cukup representatif sangat diperlukan bagi
para operator mesin apabila ingin menjalankan operasi pemesinan kering.
Untuk mengkontribusi data – data kondisi pemotongan yang dapat dilakukan
pada pemesinan kering maka mesti dilakukan berbagai pengujian pemesinan atau
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
benda kerja yang banyak digunakan di industri pemotongan logam. Misalnya
pemotongan baja karbon menggunakan pahat karbida. Baja karbon dan pahat karbida
masih merupakan bahan yang paling banyak digunakan pada industri pemotongan
logam khususnya industri logam kecil dan menengah yang ada di Sumatera Utara
(Harahap 2007).
Penelitian yang hasilnya dilaporkan pada skripsi ini adalah berkenaan dengan
masalah di atas khususnya untuk menyediakan data – data kondisi pemotongan pada
pemesinan kering menggunakan pahat baja karbida. Untuk maksud memperluas
cakupan data yang mungkin disediakan maka dari data – data yang diperoleh melalui
eksperimen lebih lanjut dianalisis dan dikompilasi menggunakan metode numerik
bagi menghasilkan fungsi berupa model matematika umur pahat, volume bahan
terbuang dan laju bahan terbuang.
1.2 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk menyusun model matematika bagi umur
pahat TL ( tool life ), volume bahan terbuang Q ( volume of material removal ) dan
laju bahan terbuang MRR ( material rate removal ).
1.3 Manfaat
Adapun manfaat yang diperoleh dari tugas akhir ini adalah:
1. Karakteristik umur pahat, volume bahan terbuang dan laju bahan terbuang
dapat dipresentasikan oleh metode matematika.
2. Model matematika yang disusun dapat digunakan untuk melakukan interpolasi
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
3. Sebagai referensi bagi industri manufaktur untuk memperkirakan pemakaian
bahan dan pahat dalam melaksanakan atau mendesain suatu produk
pemesinan.
1.4 Batasan Masalah
Permasalahan dalam tugas sarjana ini dibatasi pada penggunaan mesin
perkakas bubut konvensional dengan putaran mesin dipilih untuk 4 variasi putaran
yaitu 650, 950, 1350, 2000 rpm. Pahat yang digunakan adalah pahat karbida tidak
berlapis, manakala bahan yang digunakan adalah baja karbon AISI 1045 dan
aluminium 6061. Pemesinan dilakukan pada kondisi pemesinan kering.
1.5 Sistematika Penulisan
Penulisan tugas sarjana ini dipaparkan dalam beberapa bab sehingga
membentuk alur pembahasan analisa hasil analisa yang mudah untuk dipahami.
BAB I merupakan uraian singkat mengenai latar belakang, tujuan penelitian,
manfaat penelitian , batasan masalah dan sistematika penulisan.
BAB II merupakan tinjauan pustaka yang memberi informasi tentang elemen
dasar proses permesinan, aplikasi operasi pembubutan, mekanisme pembentukan
geram, bahan pahat dan material, pemesinan kering (Dry Machining) serta
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
BAB III memaparkan bahan dan alat, pelaksanaan penelitian, metode
pengumpulan data eksperimen yang kemudian dimasukan dalam analisa regresi umur
pahat dan volume bahan terbuang untuk mendapatkan model laju bahan terbuang.
BAB IV menguraikan hasil eksperimen, hasil permodelan matematika untuk
umur pahat (TL), volume bahan terbuang (Q) dan laju bahan terbuang (MRR),
pengaruh kondisi pemotongan (v,f,a) terhadap laju bahan terbuang (MRR) dan
kondisi pemotongan optimum.
Dan BAB V sebagai kesimpulan dan saran dari semua permasalahan yang
terdapat pada tugas sarjana ini.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Operasi Pembubutan
2.1.1 Lima Elemen Dasar Pemesinan
Berdasarkan gambar teknik, dimana dinyatakan spesifikasi geometrik suatu
produk komponen mesin, salah satu atau beberapa jenis pemesinan seperti proses
bubut, proses gurdi dan lain-lain harus dipilih sebagai suatu proses atau urutan proses
yang digunakan untuk membuatnya. Bagi suatu tingkatan proses, ukuran objektif
ditentukan dan pahat harus membuang sebagian material benda kerja sampai ukuran
objektif itu dicapai. Hal ini dapat dilaksanakan dengan cara menentukan penampang
geram (sebelum terpotong). Selain itu, setelah berbagai aspek teknologi ditinjau,
kecepatan pembuangan geram dapat dipilih supaya waktu pemotongan sesuai dengan
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
pemesinan. Untuk itu perlu dipahami lima elemen dasar proses pemesinan (lit.4, hal
13) yaitu :
1. Kecepatan potong (cutting speed) : v (m/min)
2. Kecepatan makan (feeding speed) : vf (mm/min)
3. Kedalaman potong (depth of cut) : a (mm)
4. Waktu pemotongan (cutting time) : tc (min)
5. Kadar pembuangan material
(rate of metal removal) : Z (cm3 /min)
Elemen proses pemesinan tersebut (v, vf, a, tc, Z) dihitung berdasarkan
dimensi benda kerja dan pahat serta besaran dari mesin perkakas. Oleh sebab itu,
rumus yang dipakai dalam setiap proses pemesinan bisa berlainan. Karena dalam
penelitian ini penulis menggunakan mesin bubut (turning) maka yang akan dibahas
dalam bab ini hanya mengenai elemen dasar proses pemesinan dari mesin bubut
(turning).
2.1.2 Aplikasi Pada Operasi Pembubutan
Elemen dasar dari proses bubut (turning) dapat diketahui atau dihitung dengan
menggunakan rumus yang dapat diturunkan dengan memperhatikan Gambar 2.1.
Kondisi pemotongan ditentukan sebagai berikut :
Benda Kerja : d0 : diameter awal ; mm
dm : diameter luar ; mm
lt : panjang pemesinan ; mm
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
γ0 : sudut geram ;
o
Mesin Bubut : a : kedalaman potong ; mm
= (d0 - dm )/2 ; mm ...…………... 2.1
f : gerak makan ; mm/rev
n : putaran poros utama (benda kerja) ; rpm
Gambar 2.1 Proses Bubut (Sumber : Rochim 1993)
Dari Gambar 2.1 terlihat bahwa proses bubut tersebut menggunakan suatu
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
gerakan relatif antara pahat dan benda kerja membentuk sudut potong utama r kurang
dari 90º. Kecepatan makan vf dihasilkan oleh pergerakan dari pahat ke benda kerja.
Elemen dasar dapat dihitung dengan rumus-rumus berikut :
1. Kecepatan Potong
v =
1000 n . d .
π ; m/min ...…………... 2.2
dimana,
v : kecepatan potong ; m/min
d : diameter rata-rata
d = (d0 + dm) /2 ≈ d0 ; mm, ………... 2.3
n : putaran poros utama ; rpm
Kecepatan potong maksimal yang diizinkan tergantung pada :
a. Bahan benda kerja : makin tinggi kekuatan bahan, makin rendah
kecepatan potong.
b. Bahan pahat : pahat karbida memungkinkan kecepatan yang lebih
tinggi dari pada pahat HSS.
c. Besar asutan : makin besar gerak makan, makin rendah kecepatan
potong.
d. Kedalaman potong : makin besar kedalaman potong, makin rendah
kecepatan potong.
2. Kecepatan Pemakanan
vf = f . n ; mm/min ...…………... 2.4
dimana,
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
f : gerak makan ; mm/rev
n : putaran poros utama (benda kerja) ; rpm
3. Waktu Pemotongan
tc = lt / vf ; min ………... 2.5
dimana,
tc : waktu pemotongan ; min
lt : panjang pemesinan ; mm
vf: kecepatan makan ; mm/min
4. Kecepatan Penghasilan Geram
Kecepatan penghasil geram dapat dihitung dengan formula :
Z = A . v ………... 2.6
dimana, penampang geram sebelum terpotong A = f . a ; mm2
maka
Z = f . a . v ...….………... 2.7
dimana,
Z : kecepatan penghasilan geram ; cm3 / min
f : gerak makan ; mm/rev
a : kedalaman potong ; mm
Pada Gambar 2.1 diperlihatkan sudut potong utama ( r, principal cutting edge
angle) yaitu merupakan sudut antara mata potong mayor dengan kecepatan makan vf.
Untuk harga a dan f yang tetap maka sudut ini menentukan besarnya lebar
pemotongan. (b, widh of cut) dan tebal geram sebelum terpotong (h, underformed chip
thicknes) sebagai berikut:
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
b. Tebal geram sebelum terpotong : h = f sin Kr ; mm ………... 2.9
Dengan demikian penampang geram sebelum terpotong dapat dituliskan
sebagai berikut :
A = f . a = b . h ; mm2 ...………... 2.10
Perlu dicatat bahwa tebal geram sebelum terpotong (h) belum tentu sama
dengan tebal geram (hc, chip thicknes) dan hal ini antara lain dipengaruhi oleh sudut
geram, kecepatan potong dan material benda kerja
2.1.3 Pemotongan Orthogonal
Gambar 2.2 Proses pemotongan orthogonal (Sumber : Rochim, 1993)
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
berdasarkan teorinya atas model pemotongan sistem tegak (orthogonal system).
Sistem pemotongan tegak merupakan penyederhanaan dari sistem pemotongan miring
(obligue system) dimana gaya diuraikan menjadi komponen gaya yang bekerja pada
suatu bidang.
Pemotongan tegak (Orthogonal cutting) merupakan suatu sistem pemotongan
dengan gerakan relatif antara mata pahat dan benda kerja membentuk sudut potong
tepat 90º atau yang dinamakan dengan sudut potong utama (Kr), dan besarnya lebar
mata pahat lebih besar dari lebar benda kerja yang akan dipotong.
Menurut Rochim(1993), sudut potong utama (Kr) mempunyai peran antara lain :
1. Menentukan lebar dan tebal geram sebelum terpotong (b dan h)
2. Menentukan panjang mata potong yang aktif atau panjang kontak antara geram
dengan bidang pahat, dan
3. Menentukan besarnya gaya.
Untuk kedalaman potong a dan gerak makan f yang tetap, maka dengan
memperkecil sudut potong utama (Kr) akan menurunkan tebal geram sebelum
terpotong h dan menaikkan lebar geram b.
Akan tetapi, pemakaian sudut potong utama yang kecil tidak selalu
menguntungkan sebab akan menaikkan gaya radial Fx. Gaya radial yang besar
mungkin menyebabkan lenturan yang terlalu besar ataupun getaran (chatter) sehingga
menurunkan ketelitian geometrik produk dan hasil pemotongan terlalu kasar.
Tergantung pada kekakuan (stiffness) benda kerja dan pahat serta metode
pencekaman benda kerja serta geometri benda kerja.
Sudut geram mempengaruhi proses pembentukan geram pada proses
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
besar akan menurunkan rasio pemampatan tebal geram ( h) yang mengakibatkan
kenaikan sudut geser ( ).
Jenis material benda kerja juga akan mempengaruhi pemilihan sudut geram.
Pada prinsipnya, untuk material yang lunak dan ulet (soft & ductile) memerlukan
sudut geram yang besar untuk mempermudah proses pembentukan geram, sebaliknya
bagi material yang keras dan rapuh (hard & brittle) memerlukan sudut geram yang
kecil atau negatif untuk memperkuat pahat.
2.1.4 Mekanisme Pembentukan Geram
Logam yang pada umumnya bersifat ulet (ductile) apabila mendapat tekanan
akan timbul tegangan (stress) di daerah sekitar konsentrasi gaya penekanan mata
potong pahat. Tegangan pada logam (benda kerja) tersebut mempunyai orientasi yang
kompleks dan pada salah satu arah akan terjadi tegangan geser (shearing stress) yang
maksimum. Apabila tegangan geser ini melebihi kekuatan logam akan terjadi
deformasi plastik (perubahan bentuk) yang menggeser dan memutuskan benda kerja
diujung pahat pada suatu bidang geser (shear plane). Ilustrasi mengenai mekanisme
pembentukan geram ditunjukkan pada gambar 2.3.
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
2.1.5 Komponen Gaya Dan Kecepatan Pemotongan Orthogonal
Suatu analisa mekanisme pemotongan orthogonal yang dikemukakan oleh
Merchant mendasarkan teorinya sebagai suatu sistem yang dipandang sebagai sebuah
bidang dan diuraikan menjadi dua buah gaya yang saling tegak lurus.
1. Komponen Gaya Pembentuk Geram
Komponen gaya pembentuk geram dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Gaya pada proses deformasi material.
i. Gaya geser (Fs)
Adalah gaya yang mendeformasi material pada bidang geser.
Fs = F cos ( + – o) ; N ...………….. 2.11
ii. Gaya normal pada bidang geser (Fsn)
Adalah gaya yang menyebabkan pahat tetap melekat pada benda kerja.
Fsn2 + Fs2 = F2 ; N ... 2.12
b. Gaya dari pengukuran dinamometer.
i. Gaya potong (Fv)
Adalah gaya yang bekerja searah dengan kecepatan potong.
) cos(
sin
) cos( . . .
o o shi
v
h b F
γ η γ η τ
− + Φ
Φ −
= ; N ……….…………. 2.13
ii. Gaya makan (Ff)
Adalah gaya yang searah dengan kecepatan makan.
Fv2 + Ff2 = F2 ; N …….……... 2.14
c. Gaya yang bereaksi pada bidang geram.
i. Gaya gesek (F )
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
F = Ff cos o + Fv sin o ; N ... 2.15
ii. Gaya normal pada bidang geram (F n )
Adalah gaya yang menyebabkan geram tetap mengalir pada bidang geram.
F2 + F n2 =F2 ; N …... 2.16
Komponen gaya di atas dapat dianalisa dengan lingkaran Merchant’s seperti
diperlihatkan pada Gambar 2.4.
Gambar 2.4 Lingkaran Merchant’s (Sumber : Rochim 1993
1. sudut geser ( )
2 2 45+γ −η
=
Φ o
………... 2.17
o h
o
γ λ sinγ
cos tan
− =
Φ ………... 2.18
2. Sudut gesek ( )
= 90 + o - 2 ………... 2.19
dimana,
shi : tegangan geser pada bidang geser ; N/mm2
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
= A/sin ; mm2
A : penampang geram sebelum terpotong
= b.h ; mm2
h : rasio pemampatan geram
Rumus teoritik di atas diturunkan dalam analisa proses pemotongan
orthogonal yang berarti r = 90o dan s = 0o. Pada kondisi di atas, hanya faktor sudut
potong utama r dan kondisi bahan yang diperhatikan sedangkan faktor-faktor koreksi
untuk kondisi pemotongan, seperti kecepatan potong, kecepatan makan, dan lain-lain
belum dipertimbangkan. Dari paparan di atas, maka kita dapat menggunakan rumus
empiris yang lebih kompleks, diantaranya :
Fv = ks. A ; N ………... 2.20
dimana,
ks : gaya potong spesifik ; N/mm2
A : penampang geram sebelum terpotong ; mm2
: b. h = a.f
Gaya potong spesifik ks akan dipengaruhi oleh pahat (jenis dan geometri),
benda kerja (jenis dan kondisi pengerjaan), dan kondisi pemotongan serta jenis proses
pemesinan yang dapat berciri spesifik.
ks = ks 1.1.f-z .CK.C .CVB.Cv ; N ………... 2.21
dimana,
ks 1.1 : gaya potong spesifik referensi ; N/mm2
Z : pangkat tebal geram = 0,2
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
C : faktor koreksi sudut geram o
CVB : faktor koreksi keausan VB
Cv: faktor koreksi kecepatan potong v
Untuk menentukan harga ks 1.1 dapat diperoleh dari table 8.1 (lit.4, hal : 187)
atau dengan korelasi persamaan gaya potong spesifik referensi dengan kekuatan tarik.
ks 1.1 = 144. u 0.37 ; N/mm2 ………... 2.22
dimana,
u : kekuatan tarik ; N/mm2
2. Komponen Kecepatan Pemesinan
Oleh karena adanya pemampatan tebal geram, maka kecepatan aliran geram
selalu lebih rendah dari pada kecepatan potong, seperti terlihat pada gambar 2.5.
Gambar 2.5 Kecepatan geser vs yang ditentukan oleh kecepatan geram vc dan
kecepatan potong v.
Berdasarkan polygon kecepatan di atas, maka
1. Kecepatan geram vc.
vc =
) cos(
sin )
cos( sin
0
0 φ γ
φ φ
γ φ− = −
v v
………... 2.23
dari persamaan
φγ φ λ
sin ) cos( − 0
=
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
maka diperoleh :
h c
v v
λ
= ………...… 2.24
dimana,
v : kecepatan potong ; m/min
vc : kecepatan geram ; m/min
vs : kecepatan geser ; m/min
2.Kecepatan geser (vs)
φγ
sin cos 0
c s
v
v =
) cos(
cos
0 0
γ φ−γ
= v
vs ; m/min ... 2.25
2.1.6 Umur Pahat.
Keausan pahat akan tumbuh dan membesar dengan bertambahnya waktu
pemotongan sampai pada suatu saat pahat yang barsangkutan dianggap tidak dapat
digunakan lagi karena ada tanda-tanda tertentu yang menunjukkan bahwa umurpahat
telah habis. Keausan merupakan faktor yang menentukan umur pahat, maka keausan
perlu diperhatikan dengan cara mempelajari dan melihat mekanisme keausannya.
1. Analisis Teoritik Umur Pahat.
Temperatur permukaan bidang aktif pahat menentukan keausan yang
disebabkan mekanisme difusi dan deformasi. Dengan analisis dimensional maka akan
ditunjukkan bahwa temperatur dipengaruhi beberapa besaran fisik.
Kerja/energi mekanik dalam proses pemotongan yang bebas getaran
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
mekanik yang diubah menjadi energi panas persatuan waktu tersebut dapat dituliskan
sebagai berikut :
W Q Q Q
Q= sh + γ + α ; ... (2.26)
dimana,
Q = Panas total yang dihasilkan perdetik
W atau s J v Fv ; 60 .
= ... (2.27)
Qsh = panas yang dihasilkan perdetik pada bidang geser.
W atau s J v Fs s
; 60
.
= ... (2.28)
Qγ = Panas yang dihasilkan perdetik pada bidang geram.
W atau s J v F c ; 60 . γ
= ... (2.29)
Qα = Panas yang dihasilkan perdetik pada bidang utama.
Dalam rumus di atas, temperatur dianggap merupakan harga tertinggi setelah
keadaan keseimbangan tercapai. Waktu untuk mencapai keadaan seimbang tersebut
tidak ditunjukan pada rumus tersebut, oleh sebab itu diperlukan rumus lain yang
menyatakan hubungan antara waktu pemotongan (tc) dengan temperatur bidang aktif
pahat (θs). Analisis dimensional dapat digunakan untuk mencari korelasi yang
dimaksud dengan cara menentukan besaran-besaran fisik yang dianggap penting.
[image:30.595.107.485.62.445.2]Adapun besaran fisik yang dimaksud adalah seperti yang diberikan pada Tabel 2.1 :
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
Besaran Fisik Simbol Dimensi Dasar
Waktu Pemotongan Temperatur Pahat Penampang Geram Kecepatan Potong Gaya Potong Spesifik Besaran Panas Terpadu
tc θs A V ks
H = λw . cvw
T θ L2 LT-1 ML-1T-2 M2T-5θ-2
(Sumber : Rochim, 1993)
λw = konduktivitas panas benda kerja ; J/(s.0K.cm)
cvw = panas spesifik volumetric benda kerja ; J/(cm3.0K)
= ρw . cw
ρw = berat spesifik benda kerja ; g/cm3
cw = panas spesifik benda kerja ; J/(g.0K)
Menurut Teorema Phi dari Buckingham, karena ada enam besaran fisik yang
penting (n1 = 6) dengan empat dimensi dasar (n2 = 4) maka paling sedikit dapat
dibentuk dua besaran tak berdimensi (nx = n1 . n2 = 2) guna mengolerasikan enam
besaran fisik di atas. Pemilihan jenis dan jumlah besaran fisik sebagai anggota dari
setiap besaran tak berdimensi ditentukan oleh dimensi dasar besaran fisik yang
bersangkutan. Dalam hal ini, karena ada 4 dimensi dasar, maka dapat dipilih 4 besaran
fisik yang mempunyai dimensi dasar yang cukup lengkap sebagai anggota dari kedua
besaran tak berdimensi tersebut. Kemudian salah satu dari kedua besaran fisik sisanya
dipilih untuk menjadi anggota dari salah satu besaran tak berdimesi. Dua besaran tak
berdimensi dapat dibentuk sebagai berikut:
s d c s b a
c v k H
t θ
π1 = dan t v k H A
h g s f e c = 2 π
Ketika dimensi dasarnya dimasukkan bagi masing-masing besaran fisik, maka
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
s c s k v t H 2 1 2 1 1 θ
π = ... (2.30)
2 2 2 c t v A =
π ... (2.31)
Dari hasil percobaan dapat ditunjukan bahwa korelasi antara kedua besaran tak
berdimensi di atas adalah :
m
C 2
1 π
π = ... (2.32)
Penyelesaian persamaan (2.32) akan menghasilkan:
2 1
2
1 2 )
( ) 2 1 ( H t v k
CAm s m c m
s
− −
=
θ ... (2.33)
Dari salah satu hasil percobaan (Frederich test) harga m adalah sebesar 0.22,
sehingga kondisi pemotongan yang tetap (A, ks, dan H tetap), persamaan (2.33) dapat
ditulis sebagai berikut:
06 . 0 56 . 0 1 c
s =C v t
θ ... (2.34)
Kecepatan potong mempengaruhi tingginya temperature, oleh sebab itu
temperatur setaraf dengan besarnya dimensi keausan yang dianggap sebagai
batas/tanda saat berakhirnya umur pahat, dan waktu pemotongan yang bersangkutan
setaraf dengan umur pahat. Dengan demikian persamaan (2.34) dapat ditulis sebagai
berikut :
2 1
2
1 2 )
( ) 2 1 ( 2 H T v k A C W m m s m o − −
= ... (2.35)
dimana :
Wo = batas dimensi keausan (VB atau K).
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
Untuk harga yang tetap bagi batas dimensi keausan dan penampang geram,
serta kombinasi pahat dan benda kerja yang tertentu, maka persamaan (2.35) dapat
dituliskan sebagai berikut :
T m m
C T
v − =
− 4 2 4 1 ... (2.36)
atau vTn =CT ... (2.37)
Persamaan (2.37) dikenal dengan nama Persamaan Umur Pahat Taylor* 1
M
.
Harga eksponen n dalam rumus Taylor ditentukan oleh harga eksponen m dari
kolerasi dua besaran tak berdimensi 1 dan 2. berbagai kemungkinan harga eksponen
tersebut ditunjukan pada table 2.2 , dengan harga yang sesuai bagi suatu jenis pahat
berdasarkan hasil yang diperoleh dalam praktek untuk pemotongan baja yang
[image:33.595.87.497.343.543.2]dilunakkan.
Tabel 2.2 Harga koefisien m dan n.
0. 0.125 0.125 0.188 0.2 0.214 0.222 0.228 0.46 0.25
N 0.5 0.4 0.333 0.2 0.167 0.125 0.1 0.08 0.01 0.
Jenis Pahat
....Keramik…. ………HSS………
….Karbida………. …Carbon Tool Steel… <…Arah perkembangan penemuan material pahat jenis baru
(Sumber : Rochim, 1993)
2. Rumus Empirik Umur Pahat
Untuk menentukan harga eksponen n dan konstanta CT dari rumus Taylor
(rumus 2.37) diperlukan suatu percobaan permesinan. Dari hasil percobaan tersebut
didapat persamaan fungsi linier yaitu :
T C T
n
v log log
log + = ... (2.38)
*
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
Dapat diperkirakan dengan menggunakan analisa garis regresi (metode
kuadrat terkecil, least squares method) untuk menentukan harga terbaik dari eksponen
n dan konstanta CT masing-masing beserta harga deviasi standartnya. Analisis
pendekatan secara grafis dapat pula ditempuh dengan cara mem-plot data pengamatan
pada skala log - log.
Sebagaimana yang telah dibahas dalam analisis teoritik umur pahat, harga
eksponen n merupakan harga spesifik bagi suatu kombinasi pahat dengan benda kerja.
Demikian pula halnya dengan konstanta CT, dimana selain geometri pahat ( , , , r
dan terutama ) dan kondisi benda kerja (nontreated, annealed, normalized) maka
kondisi pemotongan (a dan f) dan batasan keausan maksimum yang diperbolehkan,
sangat mempengaruhi harga CT. Dari hasil penelitian dengan dengan menggunakan
berbagai macam kombinasi pahat dan benda kerja serta dilakukan pada berbagai
kondisi pemotongan, secara lebih umum konstanta Taylor dapat dituliskan seperti
rumus empiric (Rochim, 1993) berikut :
v a f
C
Tn = p q ... (2.39)
Dimana :
T: umur pahat : min
f: gerak makan : mm/rev
a: kedalaman : mm
v: kecepatan potong : m/min
n: pangkat untuk umur pahat.
p: pangkat untuk gerak makan.
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
3. Pembahasan Atas Rumus Empirik Umur Pahat
Rumus empirik Taylor jikalau ditransformasikan kedalam harga logaritma
akan mempunyai bentuk linier sebagai berikut :
a n q f n p v n C n
T 1log 1log log log
log = − − − ... (2.40)
Turunan dari persamaan di atas akan menghasilkan :
a da n q f df n p v dv n T dT − − −
= 1 ... (2.41)
Untuk mendapatkan eksponen n, p, q diperlukan waktu dan biaya yang sangat
mahal. Sebab, untuk suatu kombinasi antara satu jenis pahat dengan satu jenis benda
kerja saja sudah diperlukan pembuangan material (menjadi geram) yang amat banyak.
Guna memperkecil usaha pengamatan, diperlukan perencanaan percobaan yang baik,
misalnya dengan cara factorial (factorial design of experiment). Karena ada 3 variabel
yang dapat diubah harganya (v, f dan a) dan satu variable yang diamati (T) maka
paling sedikit diperlukan 8 kali percobaan apabila untuk masing-masing variable
hanya diubah pada 2 harga (8 = 23). Data hasil percobaan dapat dianalisis dengan
menggunakan salah satu teknik analisis statistic yaitu analisis regresi linier multi
dimensi (1 variabel diamati, dan 3 variabel ditetapkan). Untuk itu diperlukan
transformasi logaritmik supaya fungsi yang diselidiki dapat dianggap menjadi linier.
Tujuan dari analisis regresi ini adalah untuk memperkirakan harga β0, β1, β2 dan β3
dari rumus korelasi berikut :
a f
v
T log log log
log =β0 +β1 +β2 +β3 ... (2.42)
Dengan mengetahui harga β0, β1, β2 dan β3 maka eksponen n, p dan q serta kontanta C
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
Kebagusan atas persesuaian antara data dengan rumus regresi di atas dapat
diketahui dengan memeriksa harga varian residu yang harus berharga kecil.
2.1.7 Hubungan Umur pahat (T) Dengan Volume Bahan Terbuang (Q)
Volume bahan terbuang (Q) yang dihasilkan pada proses pembuangan geram
(metal removal process) dipengaruhi oleh kecepatan penghasilan geram (Z) dan
waktu pemotongan (tc) atau dapat dituliskan sebagai berikut.
c t Z
Q= . ... (2.43)
Jika persamaan (2.43) dengan Z = A . v disubstitusikan ke persamaan umur
pahat Taylor, maka akan diperoleh :
t s r
a f v C
Q= . . . ………(2.44)
2.2 Bahan Pahat
2.2.1 Bahan Pahat Komersial
Dalam suatu pemesinan jenis pekerjaan pemesinan yang tertentu diperlukan
pahat dari jenis material yang cocok. Keterbatasan kemampuan suatu jenis material
pahat perlu diperhitungkan. Berikut adalah pahat yang sering digunakan menurut
urutannya mulai dari material yang relatif lunak sampai dengan yang paling keras
sebagai berikut :
1. Baja Karbon Tinggi (High Carbon Steel, Carbon Tool Steels, CTS)
2. HSS (High Speed Steels, Tool Steels)
3. Paduan Cor Nonlogam (Cast Nonferous Alloys, Cast Carbides)
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
5. Keramik (Ceramic)
6. CBN (Cubic Boron Nitride)
7. Intan (Sintered Diamons & Natural Diamonds)
2.2.2 Bahan Pahat Karbida
Jenis karbida yang disemen (Cemeted Carbides) merupakan bahan pahat yang
dibuat dengan cara menyinter serbuk karbida (nitrida dan oksida) dengan bahan
pengikat yang umumnya dari cobalt (Co), dengan cara carburizing masing-masing
bahan dasar serbuk Tungsten (wolfram), Titanium, Tantalum dibuat menjadi karbida
yang kemudian digiling dan disaring. Campuran serbuk karbida tersebut kemudian
dicampur dengan bahan pengikat (Co) dan dicetak tekan dengan memakai bahan
pelumas kemudian dipanaskan sampai 1600 0C. Ada tiga jenis bahan utama pahat
karbida yaitu :
1.Karbida Tungsten ( WC + Co ) yang merupakan jenis pahat karbida untuk
memotong besi tuang.
2.Karbida Tungsten Paduan (WC .TiC +Co; WC-TaC-TiC + Co ; WC –TaC+
Co ; WC-TiC-TiN+Co; TiC + Ni,Mo) merupakan jenis pahat karbida yang
digunakan untuk pemotongan baja.
3.Karbida lapis (Coated Cemeted Carbides) merupakan jenis karbida Tungsten
yang dilapis. (Rochim 1993).
a. Karbida tungsten (WC + Co)
Karbida tungsten murni merupakan jenis yang paling sederhana terdiri
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
untuk pemesinan dimana mekanisme keausan pahat terutama disebabkan
oleh proses abrasi seperti terjadi pada berbagai besi tuang, apabila
digunakan untuk baja akan terjadi keausan kawah yang berlebihan. Untuk
pemesinan baja dipakai jenis karbida tungsten paduan ( Destefani 2002).
b. Karbida WC-TiC + Co
Pengaruh utama dari TiC adalah mengurangi tendensi dari geram untuk
melekat pada muka pahat (BUE : Buit Up Edge) serta menaikkan daya
tahan keausan kawah ( Destefani 2002).
c. Karbida WC- TaC- TiC +Co
Penambahan TaC memperbaiki efek samping TiC yang menurunkan
transverse rupture strength. Hot Hardness dan compressive strength
dipertinggi, sehingga ujung pahat tahan terhadap deformasi plastik
(Rochim 1993).
d. Karbida WC –TaC + Co
Pengaruh TaC adalah hampir serupa dengan pengaruh TiC, akan tetapi
TaC lebih lunak dibandingkan dengan TiC. Jenis ini lebih tahan terhadap
thermal shock cocok untuk pembuatan alur ( Destefani 2002).
e. Karbida Lapis (Coated Cemented Carbide)
Jenis karbida lapis ini sedang berkembang dan banyak digunakan dalam
berbagai jenis permesinan, pemakainya sekitar 40 % dari seluruh jenis
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
(WC + Co) yang dilapis dengan bahan keramik (karbida, nitrida dan
oksida) yang keras tahan terhadap temperatur tinggi ( Destefani 2002 ).
2.2.3 Pahat Karbida Pada Operasi Pembubutan 1. Geometri Pahat
Proses pemesinan menggunakan pahat sebagai perkakas potongnya dan
geometri pahat tersebut merupakan salah satu faktor terpenting yang menentukan
keberhasilan suatu proses pemesinan. Geometri pahat harus dipilih dengan benar
disesuaikan dengan jenis material benda kerja, material pahat, dan kondisi
pemotongan sehingga salah satu atau beberapa objektif seperti tingginya umur pahat,
rendahnya gaya atau daya pemotongan, halusnya permukaan, dan ketelitian geometri
produk dapat tercapai. Untuk itu, disini akan dibahas optimisasi geometri pahat bubut
yaitu sudut-sudut pahat ditinjau dalam sistem referensi orthogonal karena dalam
sistem referensi yang lain efeknya akan sama.
a. Sudut Bebas ( )
fungsinya adalah mengurangi gesekan antara bidang utama A dengan bidang
transien dari benda kerja sehingga temperatur tinggi akibat gesekan dapat dihindari
sehingga aus tepi tidak cepat terjadi.
Gerak makan f akan menentukan harga sudut bebas, semakin besar gerak
makan maka gaya pemotongan akan semakin besar sehingga untuk memperkuat pahat
dibutuhkan sudut penampang o yang besar yaitu dengan memperkecil sudut bebas
bila sudut geram tetap.
Umumnya untuk suatu harga gerak makan tertentu, ada suatu harga optimum
bagi sudut bebas yang memberikan umur pahat tertinggi. Umur pahat akan naik jika
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
harga optimum, umur pahat akan kembali menurun karena kecilnya sudut penampang
yang menghalangi proses perambatan panas. Sebagai petunjuk umum dalam
pemesinan baja, harga sudut bebas dipilih sesuai dengan gerak makan, yaitu :
f ≤ 0,2 mm/rev, maka o = 12o f > 0,2 mm/rev, maka o = 8o
b. Sudut Geram ( )
Sudut geram adalah sudut dari bidang geram terhadap bidang normal. Sama
seperti sudut bebas, sudut geram juga memiliki harga optimum. Untuk kecepatan
potong tertentu, sudut geram yang besar akan menurunkan rasio pemampatan tebal
geram h yang mengakibatkan kenaikan sudut geser yang besar akan menurunkan
penampang bidang geser Ashi sehingga gaya potong menurun, tapi sudut geram yang
terlalu besar akan menghambat proses perambatan panas sehingga temperatur naik,
hal ini mengakibatkan menurunnya umur pahat T.
c. Sudut Miring ( )
Sudut miring mempengaruhi arah aliran geram, bila berharga nol maka arah
aliran geram tegak lurus mata potong. Dengan adanya sudut miring, maka panjang
kontak antara pahat dan benda kerja menjadi lebih diperpanjang. Temperatur bidang
kontak akan mencapai harga minimum bila s = + 5o untuk proses penghalusan
(finishing) dan -5o untuk proses pengasaran (roughing).
d. Sudut Potong Utama (kr)
Sudut potong utama mempunyai peran antara lain :
i. Menentukan lebar dan tebal geram sebelum terpotong (b dan h).
ii. Menentukan panjang mata potong yang aktif atau panjang kontak antara
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
iii. Menentukan besarnya gaya radial Fx
Gaya radial akan membesar dengan pengecilan kr, hal ini akan menyebabkan
lenturan yang besar ataupun getaran sehingga menurunkan ketelitian geometri produk
dan hasil pemotongan terlalu kasar.
e. Sudut Potong Bantu (k’r)
Pada prinsipnya, sudut potong bantu dapat dipilih sekecil mungkin karena
selain memperkuat ujung pahat, maka kehalusan produk dapat dipertinggi. Yang
menjadi kendala adalah kekakuan sistem pemotongan karena k’r yang kecil akan
mempertinggi gaya radial Fx, sebagai petunjuk :
i. sistem pemotongan yang kaku, k’r = 5o s.d 10o
ii. sistem pemotongan yang lemah, k’r = 10o s.d 20o
f. Radius Pojok (r )
Radius pojok berfungsi untuk memperkuat ujung pertemuan antara mata
potong utama S dengan mata potong minor S’ dan selain itu menentukan kehalusan
permukaan hasil pemotongan
Untuk r yang relatif besar, maka bersama-sama dengan gerak makan yang
dipilih sehingga mempengaruhi kehalusan permukaan produk.
2. Kondisi Pemotongan
Pada dasarnya dalam setiap proses pemesinan ada tiga variabel proses yang
perlu ditetapkan harganya yaitu kedalaman potong a, gerak makan f, dan kecepatan
potong v, untuk menghasilkan produk sesuai dengan geometri dan toleransi yang
diminta. Sesuai dengan urutan proses yang direncanakan, jelas perlu ditentukan
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
material benda kerja, geometri pahat disesuaikan dengan kondisi proses yang
direncanakan). Kemudian tiga variabel proses di atas harus dipilih supaya kecepatan
penghasilan geram setinggi mungkin. Kecepatan penghasilan geram yang tinggi dapat
dicapai dengan menaikkan ketiga variabel proses tersebut dengan urutan yaitu
kedalaman potong (sebesar mungkin) ditentukan terlebih dahulu dengan
memperhatikan dimensi bahan dan dimensi produk (dimensi akhir), kekakuan sistem,
dan dimensi mata potong pahat, sehingga langkah pemotongan sependek mungkin
(satu atau beberapa langkah pengasaran dan mungkin diperlukan langkah akhir yang
berupa penghalusan). Gerak makan ditentukan sebesar mungkin, tergantung pada
gaya pemotongan maksimum yang diizinkan (defleksi) serta tingkat kehalusan
permukaan yang diminta (tidak selalu harus halus), kecepatan potong harus
ditentukan supaya daya pemotongan (Nc) tidak melebihi daya tersedia (Nmr) serta
umur pahat diharapkan sesuai dengan batasan yang akan ditentukan kemudian.
Prosedur penentuan harga ketiga variabel proses ini pada umumnya dapat
dilaksanakan dengan mudah pada proses pemesinan dimana tidak terjadi fluktuasi
gaya.
3. Aus Pahat
Dalam prakteknya umur pahat tidak hanya dipengaruhi oleh geometri pahat
saja melainkan juga oleh semua factor yang berkaitan dengan proses pemesinan, yaitu
antara lain jenis material benda kerja dan pahat, kondisi pemotongan (kecepatan
potong, kedalaman potong, dan gerak makan), cairan pendingin dan jenis proses
pemesinan. Dalam berbagai situasi seperti ini proses pemesinan tidak akan
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
menunjukkan tanda-tanda yang menjurus kepada kegagalan proses pemesinan.
Kerusakan atau keausan pahat akan terjadi dan penyebabnya harus diketahui untuk
menentukan tindakan koreksi sehingga dalam proses pemesinan selanjutnya umur
pahat diharapkan menjadi lebih tinggi.
Selama proses pembentukan geram berlangsung, pahat dapat mengalami
kegagalan dari fungsinya yang normal karena berbagai sebab, antara lain :
a. Keausan yang secara bertahap membesar (tumbuh) pada bidang aktif pahat.
b. Retak yang menjalar sehingga menimbulkan patahan pada mata potong
pahat.
c. Deformasi plastik yang akan mengubah bentuk/geometri pahat.
2.3 Bahan Material
Secara garis besar material bahan dapat dikelompokkan kedalam dua jenis,
yaitu bahan logam (Ferrous Metal) dan bahan bukan logam (Non Ferrous Metal).
2.3.1. Bahan Logam (Ferrous Metal) 1. Paduan Aluminium
Aluminium mempunyai sifat tahan karat yang baik selain itu juga sebagai
penghantar listrik yang baik dan mudah ditempa. Pada umumnya, alumunium bersifat
lunak, yaitu 20 BHN (Kalpakjian, 1995). Unsur-unsur lain ditambahkan untuk
meningkatkan sifat-sifat Al.
Pengaruh dari elemen paduan akan menentukan karakteristik Al sebagai berikut :
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
Dengan 99% Al atau lebih tinggi banyak digunakan pada batang kelistrikan
dan kimia. Sifatnya yaitu tahan korosi, termal yang tinggi, konduktivitas
elektrik, sifat mekanik yang rendah dan ketermesinan yang baik.
b. Seri 2000
Elemen paduan utamanya tembaga 4.5% yang memiliki sifat mekanis dan
ketermesinan yang baik tapi mampu cor yang buruk. Paduan ini butuh laku
panas untuk dapat sifat yang optimum. Paduan ini memiliki ketahanan korosi
yang paling buruk di antara paduan seri lainnya. Paduan yang terkenal : 2024
yang digunakan pada industri penambangan.
c. Seri 3000
Mn elemen utama paduan yang biasanya tak dilaku panas. Tetapi dengan
penambahan Mn sampai optimal (15%) untuk mendapatkan sifat ketermesinan
yang baik. Contoh seri 3003.
d. Seri 4000
Elemen utama dalam paduannya adalah Si yang dapat menurunkan titik lebur
tanpa menyebabkan kegetasan.Sebagai contoh, AL-Si digunakan sebagai
elektroda las dan paduan Brazing. Paduan ini biasanya tak dilaku panas.
e. Seri 5000
Mg adalah elemen paduan terbaik untuk Al. Mg dianggap lebih efektif dari
Mn. Sebagai pengeras (0.8% Mg = 1.25% Mn). Paduan ini memiliki sifat
mampu las dan ketahanan korosi yang baik. Penambahan kandungan Mg lebih
banyak 3,5% akan menaikkan temperatur operasi sampai 150 0F.
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
Paduan ini dari Mg dan Si yang membentuk MgSi sehingga mampu
mengalami laku panas. Paduan yang terkenal adalah 6061, paduan yang paling
mampu dilaku panas walaupun kurang kuat dibanding seri 2000 atau 4000.
Paduan ini memiliki mampu bentuk dan ketahanan yang baik dengan kekuatan
menengah.
g. Seri 7000
Zinc adalah paduan utama dan ketika dicampur dengan persentase Mg yang
kecil menghasiulkan paduan yang mampu laku panas dengan kekuatan yang
sangat tinggi, paduan yang terkenal: 7075, yaitu paduan dengan kekuatan yang
sangat tinggi.
2. Baja Karbon (Carbon Steel)
Faktor utama yang mempengaruhi sifat dari baja karbon adalah kandungan
karbon dan mikrostruktur yang ditentukan oleh komposisi baja, seperti : C, Mn, Si, P,
S, dan elemen sisanya seperti O2H2 dan N. Dan dengan pengerjaan akhir, pengerolan,
penempaan dan perlakuan panas.
Baja karbon biasa dalam fase perilitic, dalam kondisi penuangan, pengerolan,
dan penempaan. Dalam kondisi hypo eutectoid adalah ferrite dan pearlite. Dan hypo
eutectoid adalah cementite dan pearlite.
2.4 Pemesinan Kering (Dry Machining) 2.4.1 Definisi
Pemesinan kering atau dalam dunia manufakturing dikenal dengan pemesinan
hijau (Green Machining) merupakan suatu cara proses pemesinan atau pemotongan
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
sebagai media pendingin selama proses pemesinan berlangsung untuk menghasilkan
suatu produk yang diinginkan dengan maksud untuk mengurangi biaya produksi,
meningkatkan produktivitas serta ramah lingkungan.
Mengingat persaingan dalam dunia manufakturing begitu ketatnya maka
penelitian terhadap teknologi pemesinan hijau (green machining) terus dilakukan,
karena walaupun teknologi pemesinan hijau (green machining) terus berkembang
akan tetapi teknologi yang ada sekarang ini hanya mampu digunakan untuk proses
dengan pemakanan yang kecil sehingga biasanya hanya dipakai untuk proses
penghalusan (finishing).
2.4.2 Perkembangan Pemesinan Kering
Saat ini pengembangan pemesinan kering (Green machining) hangat
dibicarakan di kalangan orang teknologi pemesinan. Pemesinan kering pada industri
manufaktur sekarang ini masih sedikit sekali atau boleh dikatakan masih dalam
tahap uji coba, ini disebabkan karena belum tegaknya undang-undang lingkungan
hidup dan masih minimnya pahat yang direkomendasi untuk pemesinan kering,
sehingga industri manufaktur masih tetap bertahan pada sistem yang lama yaitu
pemesinan basah ( Molinary & Nouari 2003, Grzesik & Nieslony 2003 ). Ada tiga
faktor yang menyebabkan pemesinan kering menjadi menarik dibicarakan yaitu :
1. Pemesinan kering hanya dipilih untuk mengatasi masalah pemutusan atau
penguraian rantai ikatan kimia yang panjang dengan waktu paruh yang
sangat lama (non biodegradable) yang potensial untuk merusak lingkungan.
2. Teknik pemesinan kering sangat potensial untuk mengurangi biaya produksi.
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
pemotongan (7-20) % dari biaya pahat total. Jumlah ini adalah dua sampai
empat kali lebih besar dari biaya pahat potong.
3. Salah satu cara pemesinan yang tidak menimbulkan limbah dan pengabutan
udara serta tidak menimbulkan sisa pada serpihan adalah pemesinan kering
(Sreejith & Ngoi 2000, Sokovic & Mijanovic 2001).
Keuntungan utama dari cairan pemotongan adalah untuk mengurangi panas
dan gesekan yang ditimbulkan sepanjang daerah pemotongan serta juga bermanfaat
untuk membersihkan serpihan dari daerah pemotongan. Jika cairan pemotongan
tidak digunakan pada proses pemesinan maka kedua keuntungan di atas tidak
diperoleh mengakibatkan koefisien gesekan serta suhu pemotongan meningkat
sehingga akan menimbulkan keausan pada pahat yang disebabkan difusi pahat.
Mekanisme keausan pahat ditunjukkan dalam pemotongan kering beban kerja tinggi
(beban termal) Sebaliknya dalam perspektif pahat sebagai material yang rapuh,
pemotongan kering memberikan manfaat untuk menghindari tegangan termal yang
umumnya diindikasikan oleh keretakan sisir (comb crack) pada permukaan pahat
potong (Che Haron 2001).
Pahat potong dioptimalkan dengan pemilihan material pahat bersalut dan
geometri pahat yang sesuai. Material yang tahan terhadap suhu yang tinggi dan
keausan tinggi adalah karbida, sermet, keramik, CBN dan PCD. Tujuan penggunaan
pemesinan kering ini, untuk mencapai peningkatan kemampuan mesin dengan
mengurangi koefisien gesekan dan panas selama proses pemotongan. Sekarang ini
material yang berlapis telah ditemukan menjamin suksesnya pemesinan kering. Studi
literatur menyatakan bahwa pengaruh cairan pemotongan yang digunakan terhadap
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
Eisenblatter 1997). Mereka melaporkan bahwa pemesinan kering dapat dilakukan
dengan hasil yang diharapkan pada besi tuang, karbon dan baja tuangan. Graham
(2000) juga melaporkan bahwa perubahan dari pemesinan yang menggunakan cairan
pemotongan ke pemesinan kering dapat dilakukan untuk beberapa logam seperti baja,
besi tuang dan aluminium. Sreejith and Ngoi (2000) di dalam papernya berjudul
pemesinan kering untuk masa yang akan datang sangat diharapkan.
Graham (2000), Sreejith and Ngoi (2000) melaporkan bahwa pemesinan yang
sukses untuk masa yang akan datang adalah pemesinan kering dengan menggunakan
pahat potong karbida berlapis, CBN, Sialon dan PCD. CBN dan PCD telah banyak
digunakan untuk pemesinan kering kecepatan tinggi 1000 m/menit. Dalam kasus baja
paduan, beberapa peneliti melaporkan bahwa karbida berlapis keramik, CBN dan
PCD sangat potensial digunakan (Che Haron et al 2001, Grzesik & Nieslony 2003).
Pemesinan kering meniadakan kebutuhan untuk pembuangan dan pembelian
cairan pendingin, menghapus ditutupnya produksi pembersih pemesinan dan
meningkatkan keselamatan dan kesehatan pekerja. Pemesinan kering juga akan
memberikan lebih bersih lingkungan benda kerja seperti tak adanya minyak yang
melekat pada benda kerja. Selain itu, geram akan menjadi tak terkontaminasi.
Keuntungan biaya dari pemesinan kering meliputi tanpa pendingin, tanpa pompa
pendingin, tak ada pembelian filter dan tak ada penjualan pembersih geram (Bulloch
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
Material yang digunakan pada penelitian ini adalah baja karbon AISI 1045 dan
aluminium 6061 dengan komposisi kimia dan sifat mekanik sebagai berikut:
Tabel.3.1 Sifat mekanik Paduan Alumunium 6061
Sifat Mekanis Aluminium 6061
Tegangan luluh ( y) 270 Mpa
Tegangan batas ( u) 310 Mpa
Kekuatan tarik 245 N/mm2
Kekerasan 117 BHN
Modulus elastisitas (E) 70 Gpa
Kerapatan massa ( ) 2700 kg/m3
Berat spesifik ( ) 26 KN/m3 Sumber : Timoshenko (1996)
Tabel.3.2 Sifat mekanik Baja Karbon AISI 1045
Sifat Mekanis Aluminium 6061
Tegangan luluh ( y) 505 Mpa
Tegangan batas ( u) 250.103 psi, 1725 MPa
Kekuatan tarik 585 Mpa
Kekerasan 170 HB
Modulus elastisitas (E) 190 - 210 Gpa
Kerapatan massa ( ) 9.13 g/cm3
Berat spesifik ( ) 7.7 - 8.03 (x1000 kg/m3) Sumber
Tabel 3.3 Komposisi kimia Paduan Aluminum 6061
Unsur Si Fe Cu Mn Mg Cr Zn Ti Pb Al
% 0.65 0.677 0.25 0.113 0.93 0.101 0.15 0.181 0.007 sisa
[image:50.595.87.501.122.775.2]Sumber : Cakra Compact Aluminium (2004)
Tabel.3.4 Komposisi kimia dari Baja Karbon AISI 1045
Unsur C Mn P S
% 0,43-0,50 0.60-0.90 <=0.040 <=0.050 Sumber :
Yuki Febrian : Mengembangkan Model Matematika Tl, Q Dan Mrr Sebagai Parameter Karakteristik Performa
Pahat Bagi Memperoleh Kondisi Pemotongan Optimum, 2008.
USU Repository © 2009
(a) (b)
Gambar 3.1 Benda kerja
(a) Baja Karbon AISI 1045; (b) Paduan Alumunium 6061
3.1.2 Pahat Potong
Pahat potong yang digunakan adalah pahat karbida berlapis. Dimana
komposisi material dasarnya adalah karbida tungsten (WC + Co) yang dilapisi dengan
bahan TiC – TiN - Al2O3. Berikut ini adalah data pahat karbida berlapis.
Tabel 3.5 Data geometri pahat karbida
Geometri Pahat Satuan
Sudut Ujung Pahat 80o
Radius Pojok ( r ) 1,2 mm
Tebal Mata Pahat ( S ) 4,76 mm
Panjang Sisi Potong ( L ) 12 mm
Diameter ( D ) 12,7 mm
[image:51.595.137.474.329.583.2]Sumber : Tools and inserts for turning (Ceratizit)
Gambar 3.2 Mata pahat Karbida
Tabel 3.6 Komposisi kimia dan sifat mekanis pahat karbida
Lapisan Pahat TiC/TiN/Al2O3
Komposisi Pahat WC + Co