• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PEMBERIAN KOMPOS BATANG PISANG DAN PUPUK NPK PADA PEMBIBITAN TANAMAN JATI (Tectona grandis L.)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "KAJIAN PEMBERIAN KOMPOS BATANG PISANG DAN PUPUK NPK PADA PEMBIBITAN TANAMAN JATI (Tectona grandis L.)"

Copied!
72
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Oleh :

Ferdi Asdriawan Agung Prasetio

20110210016

Program Studi Agroteknologi

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)
(10)
(11)
(12)

xv ABSTRACT

A research aims to get the balance compost banana stems and NPK right in increased growth of teak nursery ( Tectona grandis ). The research was conducted at Green House and Laboratory studies of Agriculture Faculty, University Muhammadiyah Yogyakarta, December 2015 up to March 2016.

This research was conducted with experiemental method of single factor in stacking the Completely Randomized Design (CRD), which consists of 5 treatments, i.e. Compost banana stems 30 ton/ha (P1), Compost banana steams 22,5 ton/ha + NPK 0,39 ton/ha (P2), Compost banana steams 20 ton/ha + NPK 0,78 ton/ha (P3), Compost banana steams 10 ton/ha + NPK 1,17 ton/ha (P4), and NPK 1,56 ton/ha. Every treatment was repeated 3 timesso obtained 15 units of treatment and every sample consists of 3 replicates and 2 spare plant so that its total 75 teak seeds.

The results of this study showed that treatment Compost of banana steam 20 ton/ha + NPK 0,78 ton/ha the best result for the growth of teak nursery.

(13)

xiv INTISARI

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan imbangan pupuk kompos batang pisang dan NPK yang tepat dalam meningkat pertumbuhan bibit jati (Tectona grandis). Penelitian dilaksanakan di Green House dan Laboratorium

Fakultas Pertanian UMY, pada bulan Desember 2015–Maret 2016.

Penelitian dilaksanakan dengan metode percobaan lapangan dengan rancangan faktor tunggal yang disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 5 perlakuan. Adapun perlakuannya adalah sebagai berikut : Kompos Batang Pisang 30 ton/ha (P1), Kompos Batang Pisang 22,5 ton/ha + NPK 0,39 ton/ha (P2), Kompos Batang Pisang 20 ton/ha + NPK 0,78 ton/ha (P3) ,Kompos Batang Pisang 10 + NPK 1,17 ton/ha (P4) dan NPK 1,56 ton/ha (P5). Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga didapatkan 15 unit perlakuan dan setiap ulangan terdiri atas 3 sampel dan 2 tanaman cadangan sehingga totalnya 75 bibit jati.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kompos batang pisang 20 ton/ha + NPK 0,78 ton/ha memberikan hasil yang paling baik dalam meningkatkan pertumbuhan bibit tanaman jati.

(14)

1

I. PENDAHULUAN

A. LatarBelakang

Hutan Indonesia yang merupakan salah satu kekayaan alam yang

memberikan kontribusi besar bagi pembangunan nasional dituntut untuk

melestarikan, guna menjaga hidrosatmosfer regional, nasional, dan global. Salah

satu hutan tanaman yang kini dikembangkan di Indonesia adalah hutan jati. Jati

merupakan tanaman tropika dan subtropika yang dikenal sebagai pohon yang

memiliki kualitas tinggi dan bernilai jual tinggi juga, karena kayu tanaman jati

termasuk dalam kelas kuat II, kelas awet I, dan kelas mewah I. Selain kualitas

kayunya, percepatan tumbuh tanaman jati rata rata 20 cm/10 hari praktis

memperpendek masa panen, sehingga jati dikenal sebagai tanaman jenis keras

yang berumur pendek (Lina dkk, 2013).

Dewasa ini produk berbahan kayu memiliki pasar yang luas, baik

persaingan pasar dalam negeri maupun luar negeri. Dimana kebutuhan kayu jati

dalam negeri sebesar 2,5 juta m3 dan baru dipenuhi sebesar 0,75 juta m3 pertahun,

sehingga masih terdapat kekurangan kayu jati sebesar 1,75 juta m3 per tahun.

Kekurangan pasokan kayu jati dikarenakan beberapa alasan, selain dari

penebangan hutan, kebakaran hutan, dan berkurangnya kawasan hutan, tanaman

industri juga dipengaruhi dari bahan tanam. Permasalahan utama dalam

pengembangan jati yaitu tingkat perkecambahan biji jati yang rendah sekitar 35 %

serta presentase hidup tanaman dari persemaian yang rendah yaitu 5 %

(15)

masa generative jati yang panjang yakni pada umur 12-15 tahun (Agus ,2015).

Selain itu, lama dan tidak meratanya perkecambahan merupakan hambatan dalam

persemaian tanaman jati. Sehingga perlu dilakukan upaya untuk memperoleh bibit

jati yang berkualitas, salah satunya dengan pemupukan yang berimbang.

Pemupukan bibit jati dengan dosis yang tepat serta unsur hara yang

seimbang dapat meningkatkan pertumbuhan bibit jati. Salah satu pupuk majemuk

dengan unsur hara lengkap adalah pupuk NPK. Pemberian pupuk NPK dapat

memeperbaiki sifat kimia tanah secara cepat dan meningkatkan unsur P dalam

bentuk yang mudah diserap oleh tanaman. Akan tetapi pupuk anorganik (NPK)

memiliki sifat yang mudah tercuci oleh air hujan atau menguap akibat penyinaran,

sehingga unsur hara yang terserap tanaman tidak sesuai dengan dosis yang

diberikan akibat kehilangan pencucian zat hara tersebut terutama unsur hara K

(Sutrisna dan Surdianto, 2014 ). Mengingat ada beberapa kelemahan dari pupuk

anorganik sehingga perlu dilakukan upaya untuk meminimalkan kelemahan

tersebut, salah satunya adalah dengan penambahan bahan organik / kompos.

Limbah merupakan bahan yang terbuang atau dibuang dari suatu aktivitas

manusia atau proses alam yang tidak atau belum mempunyai nilai ekonomi dan

berdampak negatif pada lingkungan (Djaja 2008). Salah satunya adalah limbah

dari perkebunan pisang. Tanaman pisang telah lama dikenal oleh masyarakat

Indonesia, buahnya dapat dimakan langsung atau diolah. Namun, di sisi lain

batang pisang belum banyak dimanfaatkan, biasanya batang pisang dibiarkan

menumpuk begitu saja. Dalam sekala kecil memang kurang berdampak akan

(16)

3

menimbulkan masalah. Untuk itu batang pisang perlu dimanfaatkan agar tidak

menumpuk, salah satunya sebagai bahan pengomposan. Untuk kandungan dari

kompos batang pisang adalah nitrogen 0.61%, fosfor 0.12%, dan kalium 1.00%

(Mahimairaja, et al, 2008).

B. Rumusan Masalah

Penggunaan pupuk Anorganik (NPK) yang semakin tinggi tanpa ada

pengembalian bahan organik ke tanah mengakibatkan keseimbangan dan

ketersediaan hara terganggu. Kompos batang pisang merupakan salah satu bahan

organik yang memiliki unsur hara makro yang dibutuhkan oleh tanaman.

Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah : Berapakah imbangan kompos

batang pisang dengan pupuk NPK yang tepat untuk meningkatkan pertumbuhan

bibit jati ?

C. Tujuan Penelitian

Untuk mendapatkan imbangan pupuk kompos batang pisang dan NPK yang

(17)

4

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Pembibitan Jati

Jati (Tectona grandis L.) adalah sejenis pohon penghasil kayu bermutu

tinggi. Pohon besar, berbatang lurus, dapat tumbuh mencapai tinggi 30-40 m.

Berdaun besar, yang luruh dimusim kemarau. Tanaman jati sejak abad ke-9 telah

dikenal sebagai pohon yang memiliki kualitas tinggi dan bernilai jual tinggi. Di

Indonesia, jati digolongkan sebagai kayu mewah (fancy wood) dan memiliki kelas

awet tinggi yang tahan gangguan rayap serta jamur dan awet, mampu bertahan

hingga 500 tahun (Wikepedia, 2014).

Pada kondisi baik, tinggi dapat mencapai 30-45 m. Dengan pemangkasan,

batang yang bebas cabang dapat mencapai antara 15-20 cm. Diameter batang

dapat mencapai 220 cm. Kulit kayu berwarna kecoklatan atau abu-abu dan mudah

terkelupas. Pangkal batang berakar papan pendek dan bercabang sekitar 4. Pada

habitat kering pertumbuhan menjadi terhambat, cabang lebih banyak, melebar dan

membentuk semak. Buah jati termasuk jenis buah keras, terbungkus kulit

berdaging lunak tidak merata (tipe buah batu). Ukuran buah bervariasi 5-20 mm,

umumnya 11-17 mm. Struktur buah terdiri dari kulit luar tipis yang terbentuk dari

kelopak, lapisan tengah (mesokarp) tebal seperti gabus, bagian dalamnya

(endokarp) keras dan terbagi manjadi 4 ruang biji, Sedangkan bijinya berbentuk

oval, ukuran kira-kira 6 x 4 mm. Jarang dijumpai dalam keempat ruang berisi biji

seluruhnya, umumnya hanya berisi 1-2 biji. Sering kali hanya satu biji yang

(18)

5

Permasalahan pada penyedian bibit jati yang seragam adalah daya kecambah

benih jati yang rendah. Pada umumnya benih jati menunjukkan perkecambahan

yang rendah, bervariasi dan biasanya berlangsung lambat. Sebagai contoh di

Burma variasinya adalah 20-50%, di India 4-38% dan di Thailand 14-40%, di

Indonesia sendiri tingkat perkecambahan benih sebesar 13-45% (Suangtho, 1996

dalam Haryati).

Pada pembibitan jati belum ditemukan literatur mengenai dosis dan waktu

aplikasi pupuk N yang tepat. Oleh karena itu, pada penelitian ini dosis pupuk N

yang digunakan mengacu pada tanaman kakao yang masih satu family dengan

tanaman jati belanda dan sama-sama merupakan tanaman tahunan. Pemupukan

dilakukan pada umur 1 bulan setelah penyapihan dengan menggunakan pupuk

NPK, dan diulang pada umur 2 bulan, dengan dosis 2 g per bibit setiap

pemupukan(Agus dkk,2010).

B. Batang Pisang

Pisang tidak mengenal musim panen dan dapat berbuah setiap saat. Setelah

pohon pisang berbuah dan dipanen, pohon pisangbiasanya ditebang. Pohon pisang

juga ditebang dalam rangka penjarangan. Batang pisang dapat dijadikan sebagai

bahan baku untuk karya seni, sayur dan lain-lain, dan tampaknya belum

termanfaatkan secara optimal karena sering dibiarkan menjadi busuk dengan

sendirinya. Batang pisang merupakan bahan organik yang berpotensi sebagai

(19)

berguna untuk menanggulangi dampak negatif limbah, juga memberikan hasil

sampingan yang bernilai ekonomis (Suhirman et al. 1993).

Rizka dkk (2010) mengatakan bahwa pemberian kompos dengan dosis 10

ton, 20 ton, 30 ton, 40 ton/hektar memberikan hasil produksi yang tidak berbeda

nyata.

Batang dan getah pisang juga dapat berfungsi sebagai kondisioner tanah

yang karenanya mengefektifkan serapan nutrisi dalam tanah oleh

tumbuh-tumbuhan (Widjajaputra, 2012). Batang pisang belum banyak digunakan untuk

kompos padahal dalam batang pisang terdapat unsur-unsur penting yang

dibutuhkan tanaman seperti nitrogen (N), fosfor (P) dan kalium (K). Selain itu

juga tanaman yang ditambahkan kompos tumbuh menjadi lebih subur. Selain itu,

tanaman yang ditumbuhkan dalam media tanam yang ditambahkan kompos

tumbuh menjadi lebih baik. Batang pisang memiliki kandungan dari kompos

batang pisang adalah nitrogen 0,61%, fosfor 0,12%, dan kalium 1,00%

(Mahimairaja, et al, 2008). Pada penelitian ini, kompos dari bahan baku batang

pisang digunakan sebagai imbangan pupuk NPK. Pada penelitian Arum dkk

(2011) menyebutkan bahwa penambahan kompos batang pisang pada media

tanam memberikan pengaruh pertumbuhan semai jabon yang sama baik dengan

perlakuan kompos over. Selain itu pemberian kompos batang pisang pada media

tanam memiliki pengaruh terhadap kandungan dan serapan N, P, dan K.

C. Pupuk NPK

Pupuk majemuk NPK (16-16-16) merupakan pupuk majemuk lengkap

(20)

7

Pemberian pupuk NPK diharapkan mampu memberikan tambahan unsur hara

seperti nitrogen (NH4+, NO3-), fosfor (HPO42-) dan kalium (K+) pada tanah

sehingga dapat mencukupi kebutuhan hara bagi pertumbuhan Jati. Pemupukan P

menjadikan kepekatan P persatuan massa tanah semakin tinggi, karena pupuk

NPK dapat larut maka akan lebih banyak berperan menjaga kepekatan P larutan

jika ada anion P dalam larutan yang diserap akar tanaman. Pemberian pupuk NPK

dapat memeperbaiki sifat kimia tanah secara cepat dan meningkatkan unsur P

dalam bentuk yang mudah diserap oleh tanaman seperti H 2PO4 disamping dapat

menambah ketersediaan unsur hara makro utama, pemberian pupuk NPK dapat

meningkatkan penyerapan unsur P oleh akar tanaman, karena bertambahnya P

dalam tanah menyebabkan perbedaan konsentrasi P disekitar perakaran (rhizosfer)

dan akar tanaman, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman jati.

Muatan positif merangsang akar tanaman untuk menyerap anion seperti H2PO4

dan HPO42- (Novizan, 2003), serta meningkatkan reaksi kimia didalam tanah,

terutama meningkatkan kandungan N dalam tanah, ketersediaan P dan kapasitas

pertukaran kation (Rosmarkam dan Yuwono, 2002).

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk anorganik

NPK menunjukkan hasil positif terhadap pertumbuhan tanaman jati. Dimana

pemupukan pada tanaman Jati dengan dosis hingga 30 gram/ tanaman (umur 8

bulan setelah pemupukan) pada tanah Latosol menghasilkan persentase hidup

tanaman yang tinggi, yaitu berkisar antara 90%-100%, namun pemupukan tidak

berpengaruh secara nyata terhadap pertumbuhan tinggi, diameter dan jumlah daun

(21)

D. Hipotesis

Penambahan kompos batang pisang 22,5 ton/ha + NPK 0,39 ton/ha per

(22)

9

III. TATA CARA PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Green House dan Laboratorium penelitian

Fakultas Pertanian UMY, pada bulan Desember 2015–Maret 2016.

B. Alat dan Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini ialah benih jati, tanah, pupuk

NPK, batang pisang, larutan EM-4, dan dedak. Alat yang digunakan dalam

penelitian ini adalah pisau/golok, karung, sarung tangan, label, oven, polybag 15 x

25 cm, penghalus kompos, sprayer, gembor, timbangan analitik, gayung, dan

pengaduk.

C. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode percobaan lapangan dengan rancangan

faktor tunggal yang terdiri atas 5 perlakuan disusun dalam Rancangan Acak

Lengkap (RAL). Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga didapatkan 15

unit perlakuandan setiap ulangan terdiri atas 3 sampel dan 2 tanaman cadangan

sehingga totalnya 75 bibit jati. Adapun perlakuannya adalah sebagai berikut :

P1. Kompos Batang Pisang 30 ton/ha

P2. Kompos Batang Pisang 22,5 ton/ha + NPK 0,39 ton/ha

P3. Kompos Batang Pisang 20 ton/ha + NPK 0,78 ton/ha

P4. Kompos Batang Pisang 10 ton/ha + NPK 1,17 ton/ha

(23)

D. Tata Laksana Penelitian

1. Pembuatan Kompos Batang Pisang

Batang pisang yang digunakan diperoleh dari Kulon progo. Bahan baku

pembuatan kompos terdiri atas batang pisang, larutan EM-4, air dan dedak.

Larutan EM-4 dengan konsentrasi 2%. Kemudian batang pisang yang sudah

disiapkan ditimbang dengan berat 50 kg, setelah itu dipotong-potong dengan

ukuran kecil-kecil supaya proses pengomposan berlangsung cepat.

Potongan batang pisang yang di potong kecil-kecil kemudian dicampur

dengan dedak sebanyak 3 kg. Setelah itu, untuk membuat air gula dibutuhkan 1

batang gula merah (150 gram) yang telah dihancurkan di campur 10 liter air

yang ada di dalam ember. Setelah itu, menuangkan 40 ml EM4, kemudian

siramkan larutan EM4 yang sudah ditambah dengan air gula ke potongan batang

pisang, aduk hingga merata.

Adonan kompos yang sudah tercampur dimasukkan kedalam karung dan

didiamkan selama 30 hari. Selama proses pengomposan suhu dipertahankan 10 L air

+ 150 g gula

merah + 10 ml EM 4

50 kg batang pisang dipotong kecil-kecil

Batang pisang di masukkan kedalam karung

(24)

11

maksimal 50oC, bila suhunya lebih mak, suhu di turunkan dengan

membolak-balik adonan, Suhu yang tinggi dapat mengakibatkan Bokashi menjadi rusak

karena terjadi pembusukan (Arum, dkk 2011).

2. Pembuatan Media Tanaman

Media tanam yang digunakan dalam penelitian ini ialah tanah regosol

dengan berat 5 kg/polybag. Tanah dibersihkan dari kotoran-kotoran seperti daun,

akar, dan ranting kering kemudian dikering udarakan dan diayak. Tanah 5 kg

dan kompos sesuai perlakuan (30 ton/ha 76,92 g, 22,5 ton/ha 57,69 g, 20 ton/ha

51,28 g , dan 10 ton/ha 25,64 g), kemudian dicampur dan dimasukkan dalam

polibag berukuran 15 x 25 cm.

3. Persemaian

Untuk mempercepat pertumbuhan kecambah pada tanaman jati perlu

dilakukan beberapa treatmen yaitu biji jati dijemur selama 3 hari,kemudian

direndam selama 2 hari dalam keadaan biji tenggelam,setelah itu biji jati di

keringangin di besek selama 15 hari (Mulawarman,2002).

Penyemaian dimulai dengan menumbuhkan biji jati di media semai yang

terdiri dari campuran tanah humus (tanah lapisan atas) dan kompos dengan

perbandingan 2:1. Biji diletakkan di atas media kemudian disiram secara

perlahan-lahan. Setelah kurang lebih 3 minggu, biji jati sudah mulai tumbuh dan

menjadi kecambah.

a. Penyiapan bibit

Semai yang digunakan adalah jati yang berumur 3 minggu setelah semai,

(25)

b. Pindah tanam

Semai jati diletakkan di dalam rumah kaca selama dua bulan. Penyiraman

jati dilakukan dengan melihat kondisi tanah, jika berlebihan bibit jati

akan mengalami pembusukkan. Untuk penyiraman bibit jati

menggunakan gembor agar media tetap lembab. Selain itu juga dilakukan

pembersihan gulma dan perbaikan posisi polibag.

4. Pemeliharaan

a. Penyiraman

Penyiraman dilakukan sehari sekali sampai media tanam basah. Apabila

kondisi tanah masih basah tidak dilakukan penyiraman.

b. Pemupukan

Pemupukan kompos batang pisang dilakukan pada awal tanam atau satu

kali pemupukan dengan cara, tanah di masukkan ke dalam polybag

setengahnya,setelah itu masukkan kompos batang pisang, kemudian

tutup dengan tanah. Pemupukkan NPK dilakukan pada umur 1 bulan

setelah penanaman semai ke polibag dengan menggunakan pupuk NPK

4 gram/tanamn sesuai pada perlakuan, dan diulang pada umur 2 bulan.

c. Pengendalian OPT

Pengendalian OPT dengan menggunakan cara manual dan pencabutan

(26)

13

E. Parameter yang Diamati

1. Tinggi Bibit (cm).

Pengukuran tinggi bibit dilakukan 1 minggu setelah tanam, tinggi bibit

diukur setiap minggu selama dua bulan. Pengukuran dilakukan dengan

menggunakan mistar mulai dari pangkal batang yang sudah ditandai terlebih

dahulu hingga titik tumbuh bibit atau tanaman.

2. Diameter Batang Bibit (cm).

Pengukuran diameter bibit dilakukan dengan menggunakan jangka sorong,

diukur 2 cm di atas pangkal batang yang sudah ditandai dengan spidol.

Pengukuran dilakukan setiap minggu.

3. Jumlah Daun

Penghitungan jumlah daun dilakukan setiap 1 minggu sekali sejak

tanaman berumur 1 minggu setelah tanam sampai bibit berumur 8 minggu.

Perhitungan dilakukan dengan cara mengitung daun yang telah tumbuh dan sudah

terbentuk sempurna.

4. Luas Daun (cm2)

Luas daun diukur saat bibit berumur 8 minggu dengan menggunakan alat

Leaf Area Meter (LAM). Daun yang diukur diletakkan pada bidang ukur LAM

setelah itu dilakukan proses scaning dan dicatat data yang muncul.

5. Panjang Akar (cm)

Panjang akar diukur pada saat bibit berumur 8 minggu dan diperoleh

(27)

ujung akar pokok dengan menggunakan penggaris dan dinyatakan dalam satuan

sentimeter (cm). Pengamatan dilakukan pada akhir pengamatan.

6. Berat segar Akar Dan Tajuk (g).

Berat segar akar dan bibit dilakukan di akhir pengamatan dengan cara

menimbang bagian tajuk dan akar. Sebelum di timbang, terlebih dahulu dipotong

antara tajuk dan akar kemudian ditimbang untuk mengetahui berat basah bibit,

kemudian berat segar akar.

7. Berat Kering Bibit

Pengukuran berat kering bibit jati dilakukan setelah bibit berumur 8

minggu dengan cara menimbang keseluruhan bibit jati, Sebelum dilakukan

pengamatan berat kering, terlebih dahulu bibit jati dikering anginkan kemudian

dimasukkan dalam bungkusan kertas dan dioven pada suhu 70°C selama 72 jam..

8. Berat Kering Akar Dan Tajuk (g).

Setelah dilakukan pengamatan berat kering akar, kemudian dilakukan

pengamatan berat kering akar dan tajuk dengan cara memotong bagian bibit

antara tajuk dan akar untuk mengetahui berat antara tajuk dan akar bibit di akhir

pengamatan (minggu ke-8).

9. Nisbah Tajuk Akar (g)

Nisbah tajuk akar ditentukan dengan membandingkan bobot kering tajuk

(28)

15

F. Analisis Data

Untuk mengetahui pengaruh perlakuan yang diberikan terhadap peubah

yang diamati, menggunakan sidik ragam ( Analysis of variance) taraf α 5 %.

Apabila ada perlakuan yang berbeda nyata dilakukan uji lanjutan dengan uji jarak

(29)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pertumbuhan Tanaman Jati

Tanaman selama masa hidupnya menghasilkan biomassa yang digunakan

untuk membentuk bagian-bagian tubuhnya. Perubahan akumulasi biomassa akan

terjadi seiring dengan umur tanaman. Biomassa tanaman meliputi semua bahan

tanaman yang berasal dari hasil fotosintesis (Sitompul dan Guritno, 1995 ). Hasil

rerata parameter pertumbuhan Jati meliputi tinggi bibit, diameter batang, jumlah

daun, luas daun, berat segar bibit, dan berat kering bibit dan disajikan pada tabel

1.

Tabel 1. Rerata Tinggi Bibit, Diameter Batang, Jumlah Daun, Luas Daun, Berat Segar bibit dan Berat kering Bibit pada minggu ke-8

Perlakuan

Keterangan: angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji F dan DMRT pada taraf nyata 5%

P1. Kompos Batang Pisang 30 ton/ha

(30)

17

1. Tinggi Bibit (cm)

Setelah biji berkecambah, pertumbuhan tanaman (tinggi bibit) dipengaruhi

oleh ketersediaan makanan dalam media tanam. Apabila cadangan makanan

(karbohidrat, lemak, protein, dan minaeral) dalam biji habis maka akan

berpengaruh terhadap pertumbuhan selanjutnya.

Berdasarkan hasil sidik ragam menunjukkan bahwa tidak ada beda nyata

antar perlakuan kompos batang pisang dan pupuk NPK terhadap tinggi bibit jati.

Hal ini menunjukkan bahwa semua perlakuan mencukupi kebutuhan unsur hara

yang dibutuhkan untuk perkembangan organ vegetatif tanaman. Pemberian

kompos dan NPK dengan dosis tinggi mampu mengkombinasi kompos dengan

NPK, sehingga dapat menyediakan unsur N, P, dan K yang cukup untuk

pertumbuhan tinggi tanaman. Unsur N, P, dan K merupakan unsur hara makro

penting yang diperlukan dalam menunjang proses pertumbuhan dan

perkembangan tanaman (Tisdale et al, 1985 dalam Siregar dan Samsoedin, 1997).

Menurut Salikin (2003) bahwa peningkatan dosis pemupukan tidak akan

berpengaruh bila semua unsur hara yang diperlukan oleh tanaman sudah cukup

tersedia sesuai kebutuhan, hal ini sejalan dengan pernyataan Engelstad (1997)

bahwa tidak selamanya pemupukan dengan dosis tinggi memberikan hasil yang

terbaik hal ini justru akan membuat pertumbuhan terhambat dan dapat

mengakibatkan keracunan pada tanaman. Hal ini juga dikarenakan

karakteristik kompos bonggol pisang yang bersifat slow release mengakibatkan

terlambatnya proses penetrasi dan asosiasi kompos dengan tanaman sehingga

(31)

secara sempurna. Untuk melihat perkembangan tinggi Bibit setiap minggunya

dapat dilihat pada gambar 1.

Gambar 1. Tinggi bibit Jati Keterangan: P1. Kompos Batang Pisang 30 ton/ha

P2. Kompos Batang Pisang 22,5 ton/ha + NPK 0,39 ton/ha P3. Kompos Batang Pisang 20 ton/ha + NPK 0,78 ton/ha P4. Kompos Batang Pisang 10 ton/ha + NPK 1,17 ton/ha P5. NPK 1,56 ton/ha

Berdasarkan gambar 1 menunjukkan bahwa pada minggu ke 1 sampai

minggu ke 4 laju pertumbuhan cenderung lebih lambat, pada minggu ke 4 sampai

minggu ke 8 mengalami laju pertumbuhan yang meningkat atau cenderung lebih

cepat. Seiring dengan rentan jumlah daun dengan luas daun maka kapasitas

fotosintesis dan laju pertumbuhan juga meningkat.

2. Diameter Batang

Berdasarkan hasil sidik ragam diameter batang menunjukkan bahwa ada

beda nyata antar perlakuan ( lampiran 1). Perlakuan kompos batang pisang 22,5

ton/ha + NPK 0,39 ton/ha, kompos batang pisang 20 ton/ha + NPK 0,78 ton/ha,

dan NPK 1,56 ton/ha nyata lebih lebar dari pada perlakuan kompos batang pisang

(32)

19

30 ton/ha. Hal ini dikarenakan kompos batang pisang lambat terurai dan butuh

proses waktu yang cukup lama untuk mudah di serap oleh tanaman. Pada

perlakuan kompos batang pisang 30 ton/ha mempunyai diameter batang lebih

kecil karena ketersediaan N, P, K rendah dan lambat sehingga laju fotosintesis

akan menurun atau rendah maka fotosintat untuk pertumbuhan batang juga akan

terbatas (tabel 1). Banyaknya jumlah ketersediaan cadangan makanan pada batang

sebagai sumber energi untuk pembentukan akar, sehingga tunas dapat tumbuh

dengan optimum, dimana ukuran diameter batang berbanding lurus dengan

banyaknya jumlah cadangan makanan yang tersedia. Sesuai dengan literatur

Suwasono (1989) yang menyatakan bahwa pada batang berdiameter besar

ketersediaan cadangan makanan lebih banyak dibanding dengan diameter batang

kecil.Pertambahan diameter merupakan pertumbuhan sekunder pada tanaman. Sel

parenkim batang yang berada di antara ikatan pembuluh tanaman mengalami

pertumbuhan menjadi kambium intervasis. Kambium intravasis membentuk

lingkaran tahun dengan bentuk konsentris. Kambium yang berada di sebelah

dalam jaringan kulit yang berfungsi sebagai pelindung, terbentuk akibat ketidak

seimbangan antara permbentukan xilem dan floem yang lebih cepat dari

pertumbuhan kulit batang. Rerata pertambahan diameter batang jati disajikan pada

(33)

Gambar 2. Pertumbuhan diameter batang tanaman jati Keterangan: P1. Kompos Batang Pisang 30 ton/ha

P2. Kompos Batang Pisang 22,5 ton/ha + NPK 0,39 ton/ha P3. Kompos Batang Pisang 20 ton/ha + NPK 0,78 ton/ha P4. Kompos Batang Pisang 10 ton/ha + NPK 1,17 ton/ha P5. NPK 1,56 ton/ha

Pada gambar 2 diketahui bahwa diameter batang tanaman jati mengalami

pertambahan diameter yang relatif sama karena laju pertumbuhan lambat pada

minggu ke 1 sampai minggu ke 4 di setiap perlakuan. Pada minggu ke 5 sampai

minggu ke 8 laju pertumbuhan meningkat dan pada perlakuan kompos batang

pisang 30 ton/ha menunjukkan diameter batang nyata lebih kecil yaitu 0,61 cm

dari perlakuan lain. Hal ini dikarenakan unsur hara yang ada pada kompos batang

pisang terutama N, P dan K sangat lambat untuk menyerap pembesaran batang

tanaman jati. Lingga (1990) menyatakan bahwa N memegang peranan penting

bagi tanaman yakni untuk merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan

khususnya batang, cabang dan daun. P berguna untuk merangsang pertumbuhan

(34)

21

(1986) mengatakan bahwa P memegang peranan penting pada jumlah besar

reaksi-reaksi enzim dan penting dalam perkembangan jaringan meristem. Menurut

Hakim, dkk (1986) penambahan pupuk organik yang mengandung nitrogen

biasanya akan mentransformasikan nitrogen kedalam tanah dengan agak lambat.

Keadaan ini terutama disebabkan harus adanya perubahan atau dekomposisi bahan

organik menjadi bentuk anorganik yang tersedia bagi tanaman.

3. Jumlah Daun

Pertumbuhan vegetatif tanaman dapat ditandai dengan proses

pembentukan daun. Daun merupakan organ utama untuk menyerap cahaya dan

melakukan fotosintesis pada tanaman. Daun berfungsi sebagai organ yang

menghasilkan asimilat (source) yang akan ditranslokasikan ke organ tanaman

lainnya sink (Agus,dkk.2012).

Berdasarkan hasil sidik ragam jumlah daun menunjukkan bahwa tidak ada

beda nyata antar perlakuan (lampiran 1). Hal ini menunjukkan bahwa unsur hara

pada semua perlakuan mampu dimanfaatkan oleh tanaman jati dalam proses

pertumbuhan vegetatif. Selain itu perbedaan dosis kompos batang pisang 30

ton/hektar, 22,5 ton/hektar ,20 ton/hektar, 10 ton/hektar dengan perbandingan

persentase yang berbeda-beda dan dosis pupuk NPK tidak memberikan pengaruh

yang nyata terhadap luas daun dikarenakan unsur hara yang dibutuhkan oleh

tanaman jati dapat tercukupi dari pupuk kompos saja maupun imbangan pupuk

kompos dan NPK.

Tanaman dalam pertumbuhannya memerlukan unsur hara untuk

(35)

pertumbuhannya tanaman akan menyerap unsur hara yang tersedia dalam tanah

atau media tanam yang dibawa ke daun untuk dilakukan fotosintesis yang

kemudian hasil dari fotosintesis tersebut akan digunakan untuk pertumbuhan

tanaman. Tanaman akan menyerap unsur hara sesuai dengan kebutuhan tanaman

sehingga pertumbuhan tanaman akan bergantung dengan ketersediaan unsur hara

dalam tanah atau media tanamnya. Apabila unsur hara yang terkandung dalam

media tanam sedikit maka tanaman akan kekurangan unsur hara dan

pertumbuhannya akan terhambat, namun apabila unsur hara yang tersedia dalam

media tanaman tinggi melebihi kebutuhan tanaman maka tanaman hanya

menyerap unsur hara yang dibutuhkan saja. Rerata laju penambahan jumlah daun

dapat dilihat pada gambar 3.

Gambar 3. Jumlah daun tanaman jati Keterangan: P1. Kompos Batang Pisang 30 ton/ha

(36)

23

Berdasarkan gambar 3, menunjukkan bahwa pada minggu pertama dan

minggu ke 2 belum ada penambahan jumlah daun, hal ini disebabkan karena pada

minggu-minggu tersebut tanaman jati mulai membentuk daun sehingga cadangan

makanan pada tanaman jati lebih dugunakan dalam pembentukan daun. Pada

semua perlakuan minggu ke 3 sampai minggu ke 7 terjadi penambahan jumlah

daun yang relatif meningkat. Hal ini dikarenakan kompos batang pisang dan NPK

yang diberikan mampu diserap oleh tanaman. Semua perlakuan kompos batang

pisang dan NPK yang diberikan dapat mencukupi unsur hara yang dibutuhkan

oleh tanaman jati. Karena bahan organik dalam bentuk kompos dalam tanah akan

mempengaruhi terhadap pertumbuhan tanaman sebagai bahan asupan dasar dalam

proses pembentukan sel- sel baru bagi tanaman. Sehingga semakin baik

kemampuan tanah dalam mengikat air dan menyerap hara, maka tanah tersebut

akan semakin baik dalam memberikan tunjangan bagi pertumbuhan tanaman.

Salah satu indikator bagi pertumbuhan tanaman yang baik adalah perkembangan

daun tanaman yang baik pula.

4. Luas Daun (cm2)

Berdasarkan hasil sidik ragam luas daun menunjukan bahwa tidak beda

nyata antar perlakuan (lampiran 1). Rerata luas daun tanaman jati disajikan pada

(37)

Gambar 4. Luas daun tanaman jati Keterangan: P1. Kompos Batang Pisang 30 ton/ha

P2. Kompos Batang Pisang 22,5 ton/ha + NPK 0,39 ton/ha P3. Kompos Batang Pisang 20 ton/ha + NPK 0,78 ton/ha P4. Kompos Batang Pisang 10 ton/ha + NPK 1,17 ton/ha P5. NPK 1,56 ton/ha

Unsur utama yang sangat mempengaruhi lebarnya luas daun adalah unsur

N. Peran utama N bagi tanaman ialah untuk merangsang pertumbuhan tanaman

secara keseluruhan, khususnya batang, cabang dan daun. Menurut Novizan (2002)

adanya unsur P dapat meningkatkan luas daun tanaman. Dalam daun unsur hara K

berperan dalam pembukaan stomata dan proses pembelahan sel, selain itu juga

berperan penting dalam proses fotosintesis karena secara langsung dapat

meningkatkan pertumbuhan dan indeks luas daun (Wijayani dan Muljanto,1998).

Sedangkan unsur N merupakan penyusun pokok dari semua protein dan nukleat,

dengan demikian jika unsur N tersedia lebih banyak dari unsur yang lainnya maka

dapat dihasilkan protein lebih banyak dan daun akan tumbuh lebih besar (Sarief,

1986).

Kekurangan unsur N akan dapat mempengaruhi laju pelebaran daun dan

LAI pada tingkat perkembangbiakan. Dengan semakin cepat prosesnya

(38)

25

perombakan unsur N pada pupuk NPK, kapasitas pertukaran kationnya akan lebih

besar yang mengakibatkan unsur-unsur haranya mudah di serap dan relatif lebih

tersedia oleh tanaman dan hal ini menyebabkan perkembangan luas daunnya lebih

baik. Wilson dan Wild (1990) mengatakan bahwa pemupukan nitrogen akan

meningkatkan kandungan nitrogen tanah dan akan berpengaruh terhadap

peningkatan kandungan nitrogen daun.

5. Berat segar dan kering tajuk

Berat segar tanaman merupakan total berat tanaman yang diperoleh dari

aktivitas metabolisme tanaman selama hidupnya. Pengukuran biomassa atau berat

kering tanaman merupakan parameter yang paling baik digunakan sebagai

indikator pertumbuhan tanaman. Bahan kering tanaman dipandang sebagai

gambaran dari semua proses dan peristiwa yang terjadi dalam pertumbuhan

tanaman (Sitompul dan Guritno, 1995). Hasil sidik ragam berat segar dan kering

tajuk menunjukkan bahwa ada beda nyata antar perlakuan (lampiran 1). Perlakuan

Pemberian kompos batang pisang 20 ton/ha + NPK 0,78 ton ha nyata lebih berat

dari pada dengan perlakuan kompos batang pisang 30 ton/ha dan kompos batang

pisang 22,5 ton/ha + NPK 0,39 ton/ha. Hal ini didukung dengan parameter

diameter batang, dikarenakan pemberian kompos batang pisang 20 ton/ha + NPK

0,78 ton/ha dapat membantu meningkatkan daya ikat air pada organo-karbon

sehingga tanaman akan tercukupi ketersediaan air. Proses pembentukan dan

perkembangan organ tanaman sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air dan

kompos dalam tanah. Pembentukan dan perkembangan organ tanaman (daun,

(39)

tanaman akan membesar seiring dengan menebalnya dinding sel dan terbentuknya

selulosa pada tanaman. pengaruh lainnya terkait dengan ketersediaan air bagi

tanaman, berupa transport hara dari tanah bagi tanaman. Hara yang berada dalam

tanah diangkut melalui air yang terserap oleh tanaman melalui proses difusi

osmosis yang terjadi. Semakin baik hara yang terserap oleh tanaman, maka

ketersediaan bahan dasar bagi proses fotosintesis akan semakin baik pula. Proses

fotosintesis yang berlangsung dengan baik, akan memacu penimbunan karbohidrat

dan protein pada organ tubuh tanaman bibit jati. Penimbunan karbohidrat dan

protein sebagai akumulasi hasil proses fotosintesis akan berpengaruh pada berat

basah tanaman. Manuhuttu dkk, (2014) menyatakan bahwa berat segar tanaman

(tajuk) merupakan gabungan dari perkembangan dan pertambahan jaringan

tanaman seperti jumlah daun, luas daun dan tinggi tanaman yang dipengaruhi oleh

kadar air dan kandungan unsur hara yang ada di dalam sel-sel jaringan tanaman.

Berat segar tajuk sangat berkaitan dengan tinggi tanaman, jumlah daun dan

luas daun karena semakin tinggi tanaman dan semakin banyak jumlah daun yang

dihasilkan maka berat segar tajuk juga akan semakin tinggi. Sunaryo (2009)

menyatakan bahwa berat segar tajuk suatu tanaman tergantung pada air yang

terkandung dalam organ - organ tanaman baik pada batang, daun dan akar,

sehingga besarnya kandungan air dapat mengakibatkan berat segar tajuk tanaman

lebih tinggi.

Berdasarkan hasil sidik ragam berat kering bibit menunjukkan bahwa ada

beda nyata antar perlakuan (lampiran 1). Pada perlakuan kompos batang pisang 20

(40)

27

nilai berat kering tanaman sangat tergantung dari proses fotosintesis yang

dilakukan. Proses fotosintesis merupakan proses memasak makanan dalam daun

yang memerlukan bahan dasar yang berupa bahan organik, air dan matahari.

Ketersediaan bahan organik dan air tersebut sangat tergantung pada kemampuan

tanah dalam menyediakan kedua bahan tersebut, tiap komposisi media tanam

memiliki kemampuan yang berbeda dalam menyediakan bahan organik dan air

bagi pertumbuhan tanaman. Kemampuan tersebut sangat dipengaruhi oleh sifat

fisik (tekstur dan struktur), sifat kimia (KTK, pH dan suhu) dan sifat biologi

(kandungan mikrobiologi tanah).

Pada perlakuan kompos batang pisang 20 ton/ha + NPK 0,78 ton/ha

berbeda nyata dengan perlakuan kompos batang pisang 30 ton/ha dan kompos

batang pisang 22,5 ton/ha + NPK 0,39 ton/ha (tabel 1). Hal ini dikarenakan berat

kering tanaman menunjukkan, status hara dari tanaman dan sangat tergantung

pada laju fotosintesis dan respirasi. Semakin tinggi berat kering brangkasan

menunjukkan bahwa pertumbuhan vegetatif tanaman berjalan dengan baik.

Apabila respirasi lebih besar dari fotosintesis, maka berat kering berkurang.

Produksi berat kering tergantung pada penyerapan, penyinaran matahari serta

pengambilan CO2 dan air (Dwijoseputro, 1992).

Berat kering tanaman atau biomassa tanaman meliputi semua bahan

tanaman yang secara kasar berasal dari hasil fotosintesis, serapan unsur hara, dan

air yang diolah melaui proses fotosintesis. Biomassa mencerminkan efisien

interaksi proses fisiologis dengan lingkungannya, dan dinilai sebagai manifestasi

(41)

(Sitompul dan Guritno 1995). Tinggi nilai berat kering tajuk jati dikarenakan

tanaman yang diberikan perlakuan kompos batang pisang 20 ton/ha + NPK 0,78

ton/ha dengan perlakuan NPK 1,56 ton/ha dan pemberian kompos batang pisang

10 ton/ha + NPK 1,17 ton/ha mampu memberikan unsur hara yang optimal

sehingga organ - organ vegetatif tanaman terbentuk dengan baik. Dengan adanya

pupuk susulan tanaman akan mendapatkan unsur hara yang cukup sehingga dapat

dimanfaatkan tanaman untuk proses metabolism dan fotosintesis.

Nilai rerata terendah terdapat pada perlakuan kompos batang pisang 30

ton/ha gram yaitu 6,88 gram. Rendahnya berat kering bibit jati pada perlakuan ini

disebabkan karena unsur hara yang ada pada kompos batang pisang lambat

tersedia. Lamanya kompos batang pisang terurai mengakibatkan tanaman

kekurangan unsur hara sehingga proses metabolisme tanaman terganggu. Hara

diperlukan untuk pertumbuhan dan merangsang pembentukan organ - organ

tanaman seperti daun, batang, akar, bunga dan buah. Salisbury dan ross (1995)

menjelaskan bahwa unsur nitrogen memiliki peranan penting dalam proses

biokimia tanaman yaitu sebagai penyusunan enzim, klorofil, asam nukleat,

dinding sel dan berbagai komponen sel.

Tinggi rendahnya dosis pupuk yang diberikan sangat pengaruh terhadap

biomassa tanaman. Walalangi (2007); cit Franky (2011) menyatakan bahwa

efesiensi pemupukan nitrogen merupakan ukuran kemampuan taanaman untuk

memproduksi biomassa, dimana peningkatan kandungan nitrogen tanaman

berhubungan dengan rasio antar jumlah nitrogen yang diserap tanaman dengan

(42)

29

diberikan sangat mempengaruhi nilai efesiensi fisiologi tanaman yang

menyangkut proses anabolic dan katabolic dalam satu siklus hidup tanaman

Runtunuwu(1990).

Selain unsur nitrogen unsur makro seperti fosfat dan kalium serta unsur

hara mikro juga diperlukan tanaman untuk proses pertumbuhan. Afandie dan

Nasih (2002) menjelaskan bahwa unsur hara mikro diperlukan relatif sedikit,

tetapi penting untuk pertumbuhan dan produksi tanaman. Banyaknya fotosintat

yang dihasilkan setiap tanaman dapat diketahui dari nilai bobot kering tanaman

sebagaimana dijelaskan Hardjadi cit Istiqlalia dkk, (2013) semakin tinggi berat

kering brangkasnya menunjukkan bahwa proses fotosintesis berjalan baik.

Istiqlalia, dkk (2013) menambahkan bahwa berat kering brangkas merupakan

bahan organik yang terdapat dalam bentuk biomassa yang mencerminkan

penangkapan energi oleh tanaman dalam proses fotosintesis.

6. Berat kering bibit

Hasil sidik ragam berat kering bibit menunjukan bahwa tidak ada beda

nyata antar perlakuan kompos batang pisang dan pupuk NPK pada pembibita jati

(lampiran 1), dengan adanya hasil yang tidak ada beda nyata tersebut

menunjukkan bahwa semua perlakuan berpengaruh sama terhadap berat kering

bibit jati. Rerata hasil berat kering bibit tanaman jati pada semua perlakuan

(43)

Gambar 5. Berat Kering Bibit

Keterangan: P1. Kompos Batang Pisang 30 ton/ha

P2. Kompos Batang Pisang 22,5 ton/ha + NPK 0,39 ton/ha P3. Kompos Batang Pisang 20 ton/ha + NPK 0,78 ton/ha P4. Kompos Batang Pisang 10 ton/ha + NPK 1,17 ton/ha P5. NPK1,56 ton/ha

Berdasarkan gambar 5 diketahui bahwa perlakuan kompos batang pisang

20 ton/ha + NPK 0,78 ton/ha memiliki nilai berat kering bibit cenderung lebih

tinggi yaitu 12,94 gram. Hal ini dikarenakan pupuk kompos batang pisang 20

ton/ha + 0,78 ton/ha yang diberikan pada bibit jati dapat tercukupi kebutuhan

unsur hara yang diperlukan oleh bibit jati sehingga pertumbuhan bibit jati sangat

baik. Apabila bahan organik naik maka sifat dan struktur tanah juga meningkat,

sehingga ketersediaan air dan serapan unsur hara bagi tanaman terpenuhi. Suatu

tanaman akan menyerap unsur hara dari media tanam atau tanah sesuai dengan

kebutuhan tanaman tersebut, apabila jumlah unsur hara yang disediakan media

tanam lebih dari kebutuhan tanaman maka tanaman hanya menyerap unsur hara

yang dibutuhkan. Selain itu kompos yang telah diaplikasikan pada bibit jati telah

mencapai tingkat kematangan sehingga kompos mudah terurai dan dapat

(44)

31

mencukupi kebutuhan unsur hara tanaman. Hal ini dikarenakan imbangan pada

kompos batang pisang + NPK paling baik untuk meningkatkan bahan organik dan

NPK.

B. Pertumbuhan perakaran tanaman jati

Akar memiliki peran yang sangat penting dalam pertumbuhan tanaman,

selain sebagai penopang tanaman agar tumbuh tegak akar juga berfungsi dalam

penyerapan hara dan air yang digunakan tanaman untuk melakukan metabolisme.

Semakin panjang perkembangan akar maka semakin banyak air dan hara yang

diserap tanaman sehingga pertumbuhan dan produksi tanaman akan semakin

bagus (Lakitan, 2007). Perkembangan akar pada berbagai perlakuan yang

dilakukan dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Rerata panjang akar, berat segar akar dan berat kering akar tanaman jati pada minggu ke-8 nyata berdasarkan uji F pada taraf nyata 5%

P1. Kompos Batang Pisang 30 ton/ha

(45)

1. Panjang Akar (cm)

Berdasarkan hasil sidik ragam menunjukkan bahwa tidak ada beda nyata

antar perlakuan pemberian NPK dan kompos batang pisang terhadap panjang akar

(lampiran 1). Hal ini menunjukkan bahwa unsur hara pada semua perlakuan

memberikan pengaruh yang sama terhadap pertambhan perakaran tanaman jati.

Histogram panjang akar disajikan pada gambar 7.

Gambar 6. Panjang akar tanaman jati umur 2 bulan Keterangan: P1. Kompos Batang Pisang 30 ton/ha

P2. Kompos Batang Pisang 22,5 ton/ha + NPK 0,39 ton/ha P3. Kompos Batang Pisang 20 ton/ha + NPK 0,78 ton/ha P4: Kompos Batang Pisang 10 ton/ha + NPK 1,17 ton/ha P5. NPK 1,56 ton/ha

Unsur hara berpengaruh positif terhadap pertumbuhan dan perkembangan

tanaman salah satunya adalah organ akar sehingga akar dapat tumbuh lebih

panjang. Marsono dan Sigit (2002) menyatakan bahwa pembentukan akar

distimulasi oleh adanya kandungan bahan-bahan makanan, apabila pertumbuhan

akar dibatasi oleh persediaan zat makanan yang kurang maka pertumbuhan

(46)

33

tanaman yang lain menjadi terhambat, sedangkan fungsi dari akar adalah untuk

mengabsorpsi kebutuhan unsur-unsur hara untuk pertumbuhan. Semakin panjang

akar pada tanaman maka akan semakin tinggi pula dalam penyerapan unsur hara

dan semakin banyak unsur hara yang tersedia di lingkungan perakaran maka

semakin tinggi pula unsur hara yang diserap oleh akar tanaman. Berdasarkan

gambar 6 menunjukkan bahwa perlakuan kompos batang pisang 30 ton/ha

memiliki panjang akar yang cenderung lebih baik ( 35,61 cm) Bahan organik

secara langsung merupakan sumber hara N, P, K, unsur mikro maupun unsur hara

esensial lainnya. Secara tidak langsung bahan organic membantu menyediakan

unsur hara N melalui fiksasi N2 dengan cara menyediakan energi bagi bakteri

penambat N2, membebaskan fosfat yang difiksasi secara kimiawi maupun biologi

dan menyebabkan pengkhelatan unsur mikro sehingga tidak mudah hilang dari

zona perakaran.

Bahan organik yang ditambahkan ke dalam tanah menyediakan zat pengatur

tumbuh tanaman yang memberikan keuntungan bagi pertumbuhan tanaman

seperti vitamin, asam amino, auksin dan giberelin yang terbentuk melalui

dekomposisi bahan organic.

2. Berat Segar akar (g)

Pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh tercukupinya air dan hara yang

diserap oleh akar. Kapasitas pengambilan air dan nutrisi oleh akar dapat diketahui

melalui metode pengukuran berat segar akar. Berat segar akar menunjukan

banyaknya akar yang dihasilkan oleh tanaman untuk menyerap air dan unsur hara

(47)

tanaman dalam memperoleh air dan unsur hara pada media tanam akan semakin

tinggi (Lakitan, 2007). Berdasarkan hasil sidik ragam berat segar akar

menunjukkan bahwa tidak beda nyata pada setiap perlakuan (lampiran 1).

Histogram berat segar akar tanaman jati dapat disajikan pada gambar 7.

Pada gambar 7 diketahui bahwa semua perlakuan menunjukkan berat segar

akar yang relatif sama. Perlakuan kompos batang pisang 22,5 ton/ha + NPK 0,39

ton/ha menunjukkan histogram yang cenderung lebih tinggi (9,44 gram) dari pada

perlakuan lain (tabel 2).

Gambar 7. Berat Segar akar tanaman Jati Keterangan: P1. Kompos Batang Pisang 30 ton/ha

P2. Kompos Batang Pisang 22,5 ton/ha + NPK 0,39 ton/ha P3. Kompos Batang Pisang 20 ton/ha + NPK 0,78 ton/ha P4. Kompos Batang Pisang 10 ton/ha + NPK 1,17 ton/ha P5. NPK 1,56 ton/ha

Tinggi rendahnya nilai berat segar akar dipengaruhi oleh kecukupan unsur

nitrogen selama proses pertumbuhan vegetatif. Salisbury dan Ross (1995)

menyatakan bahwa nitrogen berperan dalam proses pertumbuhan vegetatif dan

(48)

35

sangat berpengaruh terhadap pembentukan akar tanaman. Dari hasil pengamatan

akar yang menunjukkan bahwa unsur hara yang dibutuhkan akar sudah terpenuhi

dari semua perlakuan yang dilakukan.

Berat segar sangat berhubungan dengan panajang akar, semakin tinggi

persebaran akar dan semakin panjang akar maka semakin tinggi pula tanaman

dalam menyerap air karena penyerapan air dan mineral terutama terjadi melalui

ujung akar dan bulu akar, walaupun sebagian akar yang lebih tua dan lebih tebal

juga mnyerap sebagian air dan mineral.

3. Berat Kering Akar (g)

Berat kering akar merupakan berat akar tanaman yang sudah dihilangkan

kandungan airnya dengan cara dioven untuk melihat indikasi kelancaran transpor

dan penyerapan hara tanaman. Hasil sidik ragam berat kering akar jati

menunjukkan bahwa tidak ada beda nyata pada setiap perlakuan yang dilakukan

(lampiran 1). Histogram berat kering akar jati disajikan pada gambar 6.

Berdasarkan gambar 6 diketahui bahwa perlakuan kompos batang pisang

30 ton/ha memiliki nilai berat kering yang cendrung lebih tinggi yaitu 2,31 gram

dari pada perlakuan lain. Hal ini dikarenakan unsur hara pada kompos batang

pisang dimanfaatkan dengan baik oleh tanaman untuk mendukung pembentukan

dan pertumbuhan akar dengan baik. Karena bahan organiknya meningkat

sehingga struktur pada tanah juga meningkat yang akan menghasilkan berat

kering akar yang tinggi. Unsur hara yang membantu merangsang pertumbuhan

akar adalah unsur N dan P. Salisbury dan Ross (1985) menjelaskan bahwa

(49)

terhadap pembentukan akar tanaman. Penambah berat akar terjadi pada masa awal

vegetatif sampai tahap inisiasi bunga oleh tanaman, sebgaimana dijelaskan Rogi

(1996) bahwa produksi biomassa ke organ akar mendapat alokasi terbanyak

setelah daun dan batang sampai pada fase inisiasi bunga alokasi biomassa akar

berkurang.

Gambar 8. Berat kering akar jati Keterangan: P1. Kompos Batang Pisang 30 ton/ha

P2. Kompos Batang Pisang 22,5 ton/ha + NPK 0,39 ton/ha P3. Kompos Batang Pisang 20 ton/ha + NPK 0,78 ton/ha P4. Kompos Batang Pisang 10 ton/ha + NPK 1,17 ton/ha P5. NPK 1,56 ton/ha

Selain unsur N, unsur P juga diperlukan tanaman untuk pertumbuhan akar.

Sebagaimana dijelaskan Jacob dan Uexkuil (1972) dan Sarief (1985) menyatakan

bahwa fosfat mempunyai peran penting dalam metabolism tanaman, penghasil

energi dan juga berpengaruh positif terhadap pertumbuhan akar karena dengan

meluasnya perakaran tanaman kemungkinan jumlah unsur hara yang diserap akan

lebih banyak, sehingga mendorong pertumbuhan tanaman menjadi baik. Pada

(50)

37

kebutuhan unsur hara dan fotosintat untuk pembentukan kara tercukupi sehingga

menghasilkan berat kering akar yang relatif sama.

4. Nisbah Tajuk Akar (shoot-root ratio)

Nisbah tajuk akar (NTA) merupakan faktor yang penting dalam

pertumbuhan bibit yang mencerminkan perbandingan antara kemampuan

penyerapan air dan mineral dengan proses transpirasi dan luasan fotosintesis

dari bibit . Berdasarkan hasil sidik ragam nilai nisbah tajuk akar tanaman

menunjukkan bahwa ada beda nyata pada semua perlakuan. Hasil uji jarak

berganda duncan 5% terhadap bobot segar tanaman disajikan dalam Tabel 3.

Berdasarkan tabel menunjukkan bahwa perlakuan NPK 4 gram dan

perlakuan kompos batang pisang 25,64 gram + NPK 3 gram memiliki nilai nisbah

tajuk akar yang paling tinggi. Hal dikarenakan bahan organik mengalami

penurunan sehingga sifat dan struktur pada tanah menjadi turun dan berdampak

pada akar yang mengalami penurunan. Salisbury dan Ross (1995) menyatakan

bahwa, tumbuhan yang terlalu banyak mendapatkan nitrogen memiliki sistem

akar yang kerdil sehingga nisbah tajuk akarnya tinggi. Selain itu unsur hara makro

yang terkandung pada pupuk NPK lebih cepat terserap oleh tanaman jati pada

awal pertumbuhan dibandingkan dengan kompos batang pisang.

Tabel 3. Rerata nisbah tajuk akar

Perlakuan Nisbah Tajuk Akar

Kompos batang pisang 30 ton/ha 3,32 c

Kompos batang pisang 22,5 ton/ha + 0,39 ton/ha 3,88 bc

Kompos batang pisang 20 ton/ha + 0,78 ton/ha 5,59 ba

Kompos batang pisang 10 ton/ha + 1,17 ton/ha 6,41 a

NPK 1,56 ton/ha 5,89 a

(51)

Perlakuan yang memiliki nilai nisbah tajuk akar terendah terdapat pada

perlakuan kompos batang pisang 30 ton/ha yaitu 3,32 gram. Rendahnya nilai

nisbah tajuk akar pada perlakuan kompos batang pisang 30 ton/ha dikarenakan

kompos batang pisang memiliki bahan organik yang tinggi sehingga struktur

tanah meninggkat yang menyebabkan pertumbuhan akar tinggi. Jika tanaman

berada pada kondisi kekurangan unsur hara dan air, tanaman membentuk akar

lebih banyak yang ditujukan untuk meningkatkan serapan, agar menghasilkan

nisbah tajuk akar rendah (Sitompul dan Guritno 1995). Pada fase generatif

fotosintat banyak dialihkan ke bagian generatif yaitu bunga, buah atau biji

sehingga pertumbuhan akar lebih menjadi terhambat dari pertumbuhan bagian

tajuk. Jika tanaman berada pada kondisi kekurangan air dan unsur hara, tanaman

berbentuk akar lebih banyak yang mungkin ditunjukkan untuk meningkatkan

serapan yang menghasilkan nisbah tajuk/akar yang rendah.

Tanaman yang memiliki nilai nisbah tajuk akar tinggi dengan biomassa

total yang besar pada tanah subur secara tidak langsung menunjukkan bahwa akar

relatif sedikit, cukup untuk mendukung pertumbuhan tanaman yang relatif besar

dalam penyediaan air dan unsur hara. Nisbah tajuk akar yang seimbang

merupakan ciri pertumbuhan yang normal. Informasi mengenai nisbah tajuk akar

diperlukan untuk mengetahui keseimbangan antara pertumbuhan tajuk tanaman

sebagai tempat terjadinya proses fotosintesis dengan pertumbuhan akar sebagai

bidang serapan unsur hara dan air. Nilai nisbah tajuk akar yang tinggi

menunjukkan pertumbuhan bagian pucuk tanaman lebih tinggi dibandingkan

(52)

39

biomassa tajuk dibandingkan dengan biomassa akar dapat memungkinkan

terjadinya pengendalian penyerapan hara oleh tajuk. Tajuk akan meningkatkan

penyerapan hara oleh akar secara cepat dan menggunakan hara tersebut dalam

bentuk produk pertumbuhan (asam nukleat, protein, dan klorofil).

Berdasarkan variabel pertumbuhan bibit jati yakni pada parameter

diameter batang, berat segar tajuk, berat kering tajuk dan nisbah tajuk akar

menunjukkan bahwa ada beda nyata pada setiap perlakuan sedangkan variabel

pertumbuhan bibit jati (tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun dan berat kering

bibit), variabel pertumbuhan akar jati (panjang akar, berat segar akar dan berat

kering akar) menunjukkan bahwa tidak ada beda nyata pada semua perlakuan.

Perlakuan pemberian pupuk kompos 20 ton/ha + NPK 0,78 ton/ha mampu

mempercepat pertumbuhan tinggi tanaman, meskipun tidak berbeda nyata dengan

perlakuan lain. Di dukung pada histogram Luas Daun dan Berat Kering Bibit

bahwa perlakuan pemberian pupuk kompos 20 ton/ha + NPK 0,78 ton/ha

memiliki pertumbuhan yang cenderung lebih baik dibandingkan dengan perlakuan

lain. Hal ini sejalan dengan kapasitas fotosintat yang dibentuk dan disimpan pada

proses fotosintesis tanaman dapat diketahui dengan mengetahui berat kering bibit

dan luas daun pada tanaman jati, sehingga fotosintesis dapat berlangsung dengan

baik pada tanaman yaitu akan tercukupinya air bagi tanaman yang diserap melaui

akar. Selain itu, dengan tercukupinya air maka perlakuan pemberian pupuk

(53)

40

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Perlakuan Kompos Batang Pisang 20 ton/ha + NPK 0,78 ton/ha

memberikan hasil yang paling baik dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman

jati.

B. Saran

Perlu dilakukannya penelitian lanjut mengenai kandungan unsur hara pada

kompos batang pisang secara lengkap dan diaplikasikan pada jenis tanaman yang

(54)

41

DAFTARPUSTAKA

Agus A. P, M.F Aris , Nurin. W.H Ika dan R.M. James. 2010. Pengelolaan Hutan Rakyat. Panduan Lapangan Untuk Petani. Hal 27

Agus Dasarayanto. 2015. Budidaya beberapa tanaman kayu-kayuan. http:// bp2sdmk.dephut.go.id/emagazine/index.php/teknis/54-budidaya-beberapa-tanaman-kayu-kayuan.html. Diakses tanggal 18 juni 2015.

Anita NY. 13 September 2009. Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman. http://ninityulianita.wordpress.com. [15 Oktober 2010].

Anonim. 2013. Jati. Dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Jati.Diakses 20 Mei 2013

Arum, SW. Irdika, M dan Helga Sugiarti. 2011. Pengaruh Pemberian Kompos

Batang Pisang terhadap Pertumbuhan Semai Jabon (Anthocephalus

cadamba Miq.) Jurnal Silvikultur Tropika. Vol 03 no 01. Hal 78-81.

Robertson. B. 2002. Growing Teak in the Top End of the NT (Tectona grandis).

Agnote. 265 pages.

Benu. S. 2007. Pengaruh dosis pupuk npk terhadap pertumbuhan tanaman jati

(Tectona grandis L.) Di desa sukagalih, kecamatan megamendung,Bogor. Skripsi Fakultas kehutanan IPB. Bogor. 120 hal

Dibia,I N. D.M. Dana, D.M. Trigunasih dan Tatiek Kusmawati.2010. Pembuatan Kompos Bokashi Dari Limbah Pertanian Dengan Menggunakan Aktivator EM4 di Desa Megati Tabanan. Jurnal Udayana Mengabdi.Vol 9,No 1.

Djaja, W. 2008. Langkah Jitu Membuat Kompos dari Kotoran Ternak dan Sampah. PT. Agromedia Pustaka. Yogyakarta

(55)

Engelstad, O.P. 1997. Teknologi dan Penggunaan Pupuk. Terjemahan D. H. Geonadi. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Gardner, F. P., R.B. Pearce dan R. L. Mitchell. 1998. Fisiologi Tanaman Budidaya. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Gunawan Budiyanto. 2012. Panduan Praktikum Ilmu Tanah. Laboratorium Tanah Dan Nutrisi Tanaman Fakultas Pertanian. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Hakim, N., M. Y., Nyakpa, A. M. Lubis, S. G. Nugroho, M. A. Diha, G. B. Hong, H. H. Bailey. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah Ultisol. Universitas Lampung, Lampung.

Haryati. 2002. Pengaruh Pemanasan Dan Perendaman Dua Variasi Benih Terhadap Perkecambahan Benih Dan Pertumbuhan Bibit Jati. Program Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara. 75 Halaman.

Jacob, A. dan M. V. Uex Kull. 1972. Pemakaian Pupuk (Terjemahan Alauddin Tjut). Banda Aceh : Dinas Perkebunan Daerah Istimewa Aceh.

J. A. Russell. 1991. Culture and the categorization of emotions. University of British Columbia. Canada

Lakitan, B. 2007. Fisiologi tanaman Tropik. Andi Offiset. Yogyakarta 59 hal.

Lakitan, B. 2007. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Lina,F R.Evie R dan Rahmad W.2013. Pengaruh 6-benzylamino purine (BAP) dan 6-furfuryl amino purine (Kinetin) pada Media MS terhadap Pertumbuhan Eksplan Ujung Apikal Tanaman Jati secara In Vitro.LenteraBio.5 halaman.

Lingga, P dan Marsono. 1990. Petunjuk Penggunaan Pupuk (edisi IV). Jakarta: Penebar Swadaya.

Lubis, A. M., A.G. Amran, M.A. Pulung, M.Y. Nyakpa dan N. Hakim. 1986. Pupuk dan Pemupukan. Fakultas Pertanian UISU Medan.

(56)

43

Maisyaroch.S,Susilo,J.T.2010. Pengaruh Pupuk Kandang Dan Bakteri

Fitostimulan Terhadap Pertumbuhan Bibit Tanaman Jati (Tectona

grandis L).Majalah Ilmiah 15-2.

Mamangkey, F.J. 1979. Budidaya Coklat. PT. Felix Meritis.172 hal.

Manuhuttu, A. P, H. Rehatta, dan J. J. G. Kailola. 2014. Pengaruh Konsentrasi Pupuk Hayati Bioboost Terhadap Peningkatan Produksi Tanaman

Selada (Lactuca sativa. L). Jurnal Agrologi. 3(1). Hal 8

Marsono dan P. Sigit. 2002. Pupuk Akar, Jenis, dan Aplikasi. Penebar Swadaya. Jakarta. 92 hlm.

Mowidu, 1.2001. Peranan Bahan Organik dan Lempung Terhadap Agregasi dan Agihan Ukuran Pori pada Entisol. Tesis Pasca Sarjana. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Mulawarman, J. Roshetko,S.M. Sasongko, dan D. Irianto. 2002. Pengelolaan benih pohon Sumber Benih, Pengumpulan dan Penanganan Benih. International Centre for Research in Agroforestry (ICRAF). Bogor . 48 hal.

Novizan, 2002. Petunjuk Pemupukan Yang Efektif. Agro Media Pustaka. Jakarta.

Rizka, N.S, Darwin, H, dan Yafizham. 2010. Pengaruh Kompos Pupuk Kandang Sapi dan Mikroba Pelarut Fosfat Terhadap Pertumbuhan dan Produksi

Tomat (Lycopersicum esculentum Mill.) pada Tanah Ultisol. Seminar

Nasional Keragaman Hayati-1 (29-30 Juni 2010). Staf pengajar jurusan budidaya pertanian Universitas Lampung. Universitas lampung. Lampung

Rogi, J. E. X. 1996. Penyusunan Model Simulasi Dinamika Nitrogen Pertanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Di Unit Usaha Bekrie Provinsi Lampung. Disertasi Doktoral. IPB. Bogor

Rosmarkam, A. dan N. W. Yuwono. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius, Yogyakarta.

Runtunuwu, D. S. 1990. Tumpangsari Jagung dan Kedelai dibawah Naungan Kelapa Tua. Tesis Magister.KPK IPB-UNSRAT. Manado. 76p

(57)

Salisbury FB, Ross CW. 1992. Fisiologi Tumbuhan Jilid Satu. Bandung: Penerbit ITB Bandung.

Salisbury, F.B. dan C.W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Jilid 1. Edisi ke-4. Institut Teknologi Bandung, Bandung. (Diterjemahkan Oleh: Lukman D.R. dan Sumaryono).

Sarief,H. S. 1986. Kesuburan dan pemupukan tanah pertanian. Pustaka buana.

Bandung

Shinta, W, Kristanti, I.P, dan Warisnu, A. 2014. Pengaruh Aplikasi Pupuk Hayati Terhadap Pertumbuhan dan Produktivitas Tanaman Cabai Rawit

(Capsicum frutescens L.) Varietas Bhaskara di PT Petrokimia Gresik. Jurnal Sains Dan Seni Pomits Vol. 2, No.1.

Sirait, J. 2005. Pertumbuhan dan serapan nitrogen rumput pada naungan dan

pemupukan yang berbeda. Thesis. Sekolah Pascasarjana Institut

Pertanian Bogor, Bogor.

Siregar, C. A dan I. Samsoedin. 1997. Karakteristik Kimia Tanah Terinvasi Acacia nilotica di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur. Prosiding Diskusi Hasil-hasil Penelitian : 121. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam Bogor

Siregar,E.B.M.2005. Potensi Budidaya Jati. Fakultas Pertanian Universitas Sumatra Utara.8 halaman.

Sitompul, S.M dan B. Guritno. 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Soedarmo HDH dan Djojoprawiro P . 1985. Fisika Tanah Dasar. Institut Pertanian Bogor Press. Bogor. 412 hal.

Suhirman S, Sa’id EG, Tjiptadi W, Basith A. 1993. Potensi Limbah Cair Agroindustri untuk Produksi Gas Bio. Di dalam: Bintoro HMH,Lumbanbatu DF, editor . Seminar Nasional Penanganan Limbah IndustriTekstil dan Limbah Organik [7 November 1993]. Bogor: Program StudiTeknologi Industri Pertanian, FPS. Institut Pertanian Bogor.

Sumardi Surya Brata.1991. Metode Penelitian. Jakarta: CV. Rajawali

(58)

45

Sutrisna, N dan Surdianto, Y.2014. Kajian Formula Pupuk NPK Pada Pertanaman Kentang Lahan Dataran Tinggi di Lembang Jawa Barat(NPK Fertilizer Formula Study On Potato Crop Land Plateau in Lembang West Java). J. Hort. 24 (2):124-132, 2014.

Suwasono, H. 1989. Hormon Tumbuhan. Rajawali. Jakarta.

Tisdale, S.L., W.L. Nelson & J. D. Beaton.1990. Soil Fertility and Fertilizers.

Ch.6.Soil and Fertilizer Phosphorus. p. 189‐248. Macmillan Publ.Co.

New York. 4th edt.

Uyun,Y S.2006. Penggunaan Cendawan Mikoriza Arbuscular (CMA) Untuk

Meningkatkan Pertumbuhan SemaiJati (Tectona grandis Linn. F) Pada

Limbah MediaTumbuh Jamur Tiram (Pleurotus sp.).IPB.65 halaman.

Walalangi, I. (2007). Pemupukan Nitrogen dan Ketahanan Jagung Terhadap

Keke-ringan. Pidato Pengukuhan Guru Besar Tetap Ilmu

FisiologiTumbuhan Fakultas Pertanian Unsrat.

Widjajaputra,B.2012. Pisang.http://wungkalbener.blogspot.com/2012/12/pisang- indonesia-merupakannegara - besar. html#more.Diakses 26 Mei 2012.

Wijayani,A .dan D. Muljanto,1998. Pemberian N pada berbagai macam media tumbuh hidroponik,pengaruhnya terhadap buah paprika, jurnal penelitian.

Wilson, J.R. and D.W.M. Wild. 1990. Improvement of nitrogen nutrition and grass

(59)

46

P1. Kompos Batang Pisang 30 ton/ha

P2. Kompos Batang Pisang 22,5 ton/ha + NPK 0,39 ton/ha P3. Kompos Batang Pisang 20 ton/ha + NPK 0,78 ton/ha P4. Kompos Batang Pisang 10 ton/ha + NPK 1,17 ton/ha P5. NPK 1,56 ton/ha

P1.1 = Kompos Batang Pisang, Ulangan 1

(60)

47 Lampiran 2. Kebutuhan pupuk

Kebutuhan Pupuk

BV tanah = 1,3 g/cm3(regosol)

Kedalaman olah = 15 cm

Volume tanah 1ha = luas lahan x kedalaman olah

= 100.000.000 cm x 15 cm

= 1.500.000.000 cm3

Berat tanah 1ha = Vulome tanah x BV

= 1.500.000.000 cm3 x 1,3 g/cm3 = 1.950.000.000g : 1000

= 1.950.000kg

Kebutuhan Kompos per polybag = Berat sampel tanah per polybag x dosis

Berat tanah 1 hektar

30 ton/ha: 5 kg x 30.000 kg

1.950.000 kg

= 0,0769 kg x 1000 = 76,92 g

22,5 ton/ha: 5 kg x 22.500 kg

1.950.000 kg

= 0,0577 kg x 1000 = 57,69 g

20 ton/ha:5 kg x20.000 kg

1.950.000 kg

= 0,05128 kg x 1000=51,28g

10 ton/ha:5 kg X 10.000 kg

1.950.000 kg

= 0,02564 kg x 1000 = 25,64 g

(61)

48

- Berat tanah/polybag = 5 kg

Dosis pupuk NPK 4 gram = Berat tanah 1 ha x 4 gram

5 kg

= 1.950.000kg x 4 gram

5 kg

= 1.560.000 gram

= 1,56 ton/ha

NPK 3 gram = 1.950.000kg x 3 gram

5 kg

= 1.170.000 gram

= 1,17 ton/ha

NPK 2 gram = 1.950.000kg x 2 gram

5 kg

= 780.000 gram

= 0,78 ton/ha

NPK 1 gram = 1.950.000kg x 1 gram

5 kg

= 390.000 gram

(62)

49

Lampiran 3. Bahan bahan pembuatan kompos

a. Batang pisang 50 kg

b. Dedak 3 kg

c. EM4 40 ml

d. Gula merah 1 batang

e. Air

f. Ember

(63)

50

Lampiran 4. Tabel sidik ragam tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, luas daun, panjang akar dan berat segar tajuk

a. Sidik ragam tinggi bibit

Sumber DB Jumlah Kuadrat Kuadrat tengah F Hitung Prob

Perlakuan 4 2,60524000 0,65131000 0,79 0,5556 ns

Galat 10 8,20893333 0,82089333

Total 14 10,81417333

d. Sidik ragam luas daun

Sumber DB Jumlah Kuadrat Kuadrat tengah F Hitung Prob

Perlakuan 4 610612,267 152653,067 2,92 0,0772 s

Galat 10 522965,333 52296,533

Total 14 1133577,600

e. Sidik ragam panjang akar

Sumber DB Jumlah Kuadrat Kuadrat tengah F Hitung Prob

Perlakuan 4 34,9839067 8,7459767 1,10 0,4090 ns

Galat 10 79,6422667 7,9642267

Total 14 114,6261733

f. Sidik ragama berat segar tajuk

Sumber DB Jumlah Kuadrat Kuadrat tengah F Hitung Prob

Perlakuan 4 726,741627 181,685407 5,04 0,0174 s

Galat 10 360,336067 36,033607

Total 14 1087,077693

Gambar

Tabel 1. Rerata Tinggi Bibit, Diameter Batang, Jumlah Daun, Luas Daun, Berat Segar bibit dan Berat kering Bibit pada minggu ke-8
Gambar 1. Tinggi bibit Jati
Gambar 2. Pertumbuhan diameter batang tanaman jati
Gambar 3. Jumlah daun tanaman jati
+7

Referensi

Dokumen terkait

kompos kulit buah kakao sebagai campuran media pembibitan yang dapat menghasilkan pertumbuhan bibit tanaman kakao terbaik, (2) terdapat salah satu dosis pupuk NPK yang

pada penberid kombiffii dosis pupuk kompos LPKS densan pupuk NP( dspar. disihpulks sebasai berikul tudbinsi pupuk kompos LPKS denssn puPuk

Berdasarkan Tabel 4 dapat dilihat bahwa perlakuan P1 (pupuk kompos), P2 (pupuk NPK subsidi) dan P3 (pupuk NPK nonsubsidi) pada lahan tanaman padi gogo tidak memberikan pengaruh

Pengaruh Dosis Pupuk NPK Terhadap Pertumbuhan Dan Biomassa 11 Klon Unggul Stek Pucuk Jati (Tectona grandis L.F.) Di Persemaian.. Fakultas Kehutanan, Universitas

Hasil uji beda rataan pengaruh pemberian pupuk NPK Phonska dan pupuk organik cair Hantu terhadap diameter batang tanaman mentimun umur 4 minggu setelah tanam dapat

Perlakuan dosis pupuk kompos berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun dan berat kering oven buah, berpengaruh nyata terhadap berat segar dan berat kering oven brangkasan

Pemberian pupuk NPK berbagai dosis pada jabon merah dengan media campuran tanah PMK, kompos dan pasir dengan perbandingan 2:1:1 tidak berpengaruh pada pertambahan

Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa pemberian dosis kompos kascing dan pupuk NPK berpengaruh tidak nyata terhadap pertumbuhan dan produksi bawang