48 25 MUHARAM - 9 SHAFAR 1432 H
H A D L A R A H
B
enedetto Croce (1866-1952), seorang filosof sejarah Italia, mengatakan bahwa sejarah itu benar jika dinilai dari sejarahnya, karena yang paling benar dari interpretasi sejarah adalah sejarah itu sendiri. Dengan demikian, sejarah akan memberikan gambaran tentang kebenaran sebagaimana peristiwa itu terjadi secara sinkronis maupun diakronis. Artinya, dengan pandangan yang multiperspektif, sejarah akan menampilkan kebenarannya sendiri dan terlepas dari interpretasi terhadap sejarah itu sendiri. Oleh karena itu, untuk melihat fenomena perbudakan, kita juga akan menggunakan pendekatan ini sebagai salah satu perspektif, kemudian menggabungkan dengan model-model struktur yang dibangun dari sejarah itu.Berangkat dari perspektif sejarah, kita akan menemukan satu diskursus unik, yakni bahwa perbudakan merupakan fenomena kuno yang selalu ada sepanjang sejarah manusia itu ada. Artinya, sepanjang sejarah manusia “fenomena” perbudakan akan selalu ada meskipun muncul dalam model dan bentuk yang berbeda. Kalau model perbudakan di era kuno adalah mengeksploitasi manusia untuk melakukan hal-hal yang dikehendaki sang majikan dengan kontrol yang sangat ketat. Maka perbudakan di era modern adalah eksploitasi manusia satu terhadap lainnya dengan tersamar dan berada di balik aktivitas-aktivitas lain.
Bentuk-bentuk perbudakan yang formal adalah eksploitasi fisik dan potensi komunitas tertentu terhadap komunitas lainnya. Model perbudakan tersebut merupakan yang lazim terjadi dan baru betul-betul dihilangkan pada konferensi tentang penghapusan budak tahun 1956 di Genewa yang dihadiri 51 negara. Meskipun demikian, model lain dari perbudakan dalam l’exploitation de l’homme par l’homme adalah proses strukturasi masyarakat Barat dan non-Barat. Dalam konteks ini, proses “perbudakan” kontemporer lebih pada wacana superioritas Barat atas bangsa non-Barat. Artinya bangsa-bangsa non-Barat “dipaksa” untuk melakukan sebagaimana apa yang dilakukan barat, misalnya pemaksaan konsep demokrasi liberal (dalam bidang politik), liberalisasi ekonomi (dalam bidang ekonomi), dan isu HAM (dalam bidang sosial), serta imperialisasi wacana sosial budaya. Wacana-wacana sosial budaya sekarang ini, yang terkait dengan perbudakan dan eksploitasi manusia dan potensinya, merupakan transformasi dari struktur budaya –meminjam istilah Levi-Strauss, yang terjadi sebelumnya. Untuk konteks inilah, dunia Islam juga mengalami dan involve dalam “wacana perbudakan” ini. Meskipun harus dipahami bahwa semua itu merupakan “transformasi” dari wacana sebelumnya, yakni jauh sebelum Islam
PERBUDAKAN SEBELUM ISLAM
datang. Oleh karena itu, akan dikemukakan di sini sejarah perbudakan sebelum era Islam, dan perlu dipahami bahwa era Islam merupakan sejarah kerasulan Muhammad sampai hari ini.
Sejarah Tertua dari Perbudakan Manusia
Sebagaimana disebutkan di atas, perbudakan bukan hal yang baru dalam sejarah manusia, tetapi sepanjang usia manusia itu sendiri. Hal ini disebabkan karena manusia mempunyai kecenderungan homo homini lupus (hasrat menguasai yang lain). Sejarah tertua perbudakan tertulis yang bisa terlacak terdapat dalam
USTADI HAMSAH
Dosen Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
Code Hammurabi, salah satu dokumen sejarah tertulis pertama yang memuat hukum perbudakan manusia.
Foto: WIKIPEDIA
De
m
o (Vi
si
t ht
tp:
//www.pdfspl
itm
erge
r.c
om
49 SUARA MUHAMMADIYAH 01 / 96 | 1 - 15 JANUARI 2011
H A D L A R A H
Hukum Hammurabi (1760 SM), namun fenomena perbudakan itu sendiri jauh sebelum itu, yakni 5300 SM pada masa kejayaan Bangsa Sumeria Kuno. Hal serupa juga terjadi di Mesir Kuno, Bangsa Akadia, dan Assiria. Sekalipun demikian, sejarah perbudakan pada era ini tidak banyak dikenal, karena hanya Hukum Hammurabi saja yang bisa dijadikan bukti, di samping catatan hieroglif di Mesir pada masa Ramses II. Untuk era ini, yang terinformasikan dari wacana perbudakan adalah status hukum budak itu sendiri. Ini bisa dimengerti karena landasan dari sejarah ini didasarkan pada Hammurabi Code yang khusus bicara masalah hukum di Babilonia. Sedangkan di Mesir, perbudakan terjadi secara massive untuk membangun kota dan tempat-tempat lain bagi kerajaan. Untuk era-era setelah itu, perbudakan tetap terjadi dengan skala besar tetapi tidak terekam oleh sejarah secara terperinci.
Sejarah perbudakan yang secara terperinci sampai kepada kita dimulai pada era Yunani Kuno (abad VII SM). Pada masa Yunani Kuno, terdapat dua karakter perbudakan yang berada di dua kota terkemuka, yakni Spartha dan Athena. Kehidupan di kedua kota di Yunani tersebut sangat tergantung pada perbudakan yang diperoleh dari peperangan. Karakter perbudakan di Sparta lebih pada “pelayan dan hamba” bagi tuannya, yang lazim dikenal dengan nama helot –satu predikat yang dilekatkan pada warga dari kota Helos. Posisi mereka adalah warga tidak bebas, artinya sebagai warga yang terikat oleh aturan-aturan khusus. Helot biasa dipekerjakan di sektor pertanian dan menjadi sokoguru perekonomian Sparta. Mereka dijadikan pekerja dan bahkan dalam ritual keagamaan sebagai persembahan.
Di Athena, para budak posisinya lebih buruk lagi, mereka tidak memiliki hak konvensional, artinya hak-haka sebagai manusia utuh. Mereka berada di bawah penguasaan tuan-tuan mereka, yang rata-rata bekerja di sektor domestik sebagai pelayan bagi tuan-tuan mereka. Nasib para budak tersebut tergantung hubungan baik dengan tuannya. Di samping itu, mereka juga bekerja di sektor pertambangan di bawah pengawasan tuan-tuannya. Hal ini berlangsung sampai perpindahan kekuasaan ke era Romawi Kuno.
Romawi Kuno, yang menganut sistem republik kemudian berganti menjadi kekaisaran, mewarisi sistem perbudakan dari Yunani dan Bangsa Fenisia (Funisia). Perbudakan di Romawi terjadi secara besar-besaran yang didatangkan dari negara-negara jajahan di seluruh Eropa dan Mediterania. Seperti bangsa Berber, Jerman, Inggris, Thracia, Ghalia (Celtik), Yahudi, Arab, jumlah mereka 30% dari populasi Kekaisaran Romawi. Meraka dipe-kerjakan di berbagai sektor, tetapi yang paling banyak di sektor peternakan dan domestik sebagai pelayan rumah tangga. Nasib para budak pada era ini sangat tertindas. Di samping untuk tenaga kerja, mereka juga dijadikan objek hiburan sebagai gladiator dan pekerja seks untuk tentara dan warga Romawi. Hal ini terjadi secara merata dan besar-besaran, sehingga memunculkan pemberon-takan budak beberapa kali, dan pemberonpemberon-takan besar ketiga dipim-pin oleh Spartacus (109-17 sM). Sampai akhir kekaisaran Ro-mawi, para budak juga berasal dari para penganut Yahudi dan Kristen. Bahkan, sebelum Romawi menjadi negara Kristen, pada
masa Kaisar Nero (37-68 M), para penganut Kristen dibantai habis dan membakar kota Roma. Pola-pola perbudakan di Ro-mawi berlangsung terus sampai Era RoRo-mawi Kristen dan da-tangnya Islam.
Pada masa peralihan kejayaan dari Romawi ke Islam, pada abad pertengahan di Eropa yang telah menjadi negara-negara Kristen sejak era Romawi juga mempraktikkan perbudakan. Hal ini terjadi secara bersar-besaran ketika Bangsa Viking menak-lukkan sebagian Eropa. Mereka banyak mempraktikkan perbu-dakan yang dikenal dengan thralls, bahkan setelah Eropa mema-suki masa Renaisans perbudakan juga dipraktikkan. Di Eropa, perbudakan mengalami puncaknya ketika masa kolonialisme dan imperialisme. Untuk memenuhi tenaga kerja di wilayah-wilayah koloni yang luas di Asia, Afrika, dan Amerika, bangsa-bangsa Eropa seperti Belanda, Inggris, Perancis, Portugis, Spanyol mem-pekerjakan para budak yang berasal dari wilayah ketiga benua tersebut. Sebagian besar mereka bekerja di sektor publik, dan hanya sebagain kecil sebagai pelayan domestik.
Era Islam
Pada era Islam, fenomena perbudakan juga terus berlangsung. Al-Qur’an juga memberikan paparan tentang fenomena tersebut dan memberikan sikap moral untuk memperlakukan budak de-ngan baik tidak sebagaimana era-era sebelumnya. Hal ini bukan menguatkan posisi budak dalam Islam, tetapi lebih pada peng-gambaran yang terjadi di masyarakat yang dihadapi oleh Ra-sulullah yang masih menganut sistem perbudakan, sedangkan Rasulullah dan para sahabat dan era-era setelahnya selalu me-merdekakan budak. Bahkan untuk diyah/diyat (denda untuk me-nebus kesalahan) Islam menyuruh untuk memerdekakan budak, misalnya kafarat sumpah, riqab (bagian zakat untuk memerde-kakan budak), dan denda untuk tindakan dosa tertentu (tahrir al-raqabah). Islam mengajarkan persamaan derajat manusia, dan yang membedakan hanya ketakwaan saja, sehingga Al-Qur’an memuji budak hitam yang beriman dibandingkan dengan wanita cantik tetapi kafir. Secara umum fenomena perbudakan pada masa Islam terjadi bukan atas justifikasi dari Islam, tetapi kelanjutan dari fenomena yang terjadi jauh sebelum Islam. Posisi Al-Qur’an “ha-nya” memberikan gambaran perbudakan dalam masyarakat yang dihadapinya.
Kalau dicermati secara seksama, sejarah perbudakan yang terjadi jauh sebelum era Islam, terjadi lintas geografis, lintas budaya, dan lintas keyakinan agama. Artinya fenomena perbudakan sudah jauh berlangsung sebelum Islam datang, dan terjadi secara uni-versal. Ini memberi petunjuk bahwa struktur budaya masyarakat manusia telah mengalami transformasi makna. Struktur dalam kesadaran manusia telah memilah antara tuan-hamba. Konsep oposisi ini muncul dalam struktur luar dalam fenomena perbudakan yang pada gilirannya mengalami transformasi dalam rentang se-jarah manusia, hingga detik ini. Oleh karena itu, fenomena perbu-dakan selalu muncul dalam pola dan model yang sangat beragam tergantung konteks struktur budayanya. Untuk itulah, Islam mem-berikan gambaran tentang perbudakan dan memberi solusi de-ngan adanya sikap-sikap moral terhadap budak. Wallahu a’lam.l