• Tidak ada hasil yang ditemukan

Potensi Pemberian Jamu Bagas Waras (Kunyit, Kencur, dan Jahe) melalui Air Minum dalam Memperbaiki Performa Karkas dan Jeroan Ayam Broiler

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Potensi Pemberian Jamu Bagas Waras (Kunyit, Kencur, dan Jahe) melalui Air Minum dalam Memperbaiki Performa Karkas dan Jeroan Ayam Broiler"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

POTENSI PEMBERIAN JAMU BAGAS WARAS (KUNYIT,

KENCUR, DAN JAHE) MELALUI AIR MINUM DALAM

MEMPERBAIKI PERFORMA KARKAS DAN JEROAN AYAM

BROILER

RIZKA SEPTARINA BUDIANTI

DEPARTEMEN ANATOMI, FISIOLOGI, DAN FARMAKOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Potensi Pemberian Jamu Bagas Waras (Kunyit, Kencur, dan Jahe) melalui Air Minum dalam Memperbaiki Performa Karkas dan Jeroan Ayam Broiler adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

(4)

ABSTRAK

RIZKA SEPTARINA BUDIANTI. Potensi Pemberian Jamu Bagas Waras (Kunyit, Kencur, dan Jahe) melalui Air Minum dalam Memperbaiki Performa Karkas dan Jeroan Ayam Broiler. Dibimbing oleh ANDRIYANTO dan WASMEN MANALU.

Jamu bagas waras terdiri atas kunyit, kencur, dan jahe. Penelitian ini bertujuan mempelajari potensi jamu bagas waras (kunyit, kencur, dan jahe) dalam meningkatkan performa karkas dan jeroan ayam broiler. Sebanyak 24 ayam broiler dibagi ke dalam 4 perlakuan dan 6 ulangan. Perlakuan tersebut adalah dosis jamu bagas waras yang terdiri atas 0 (kontrol), 0.1, 1, dan 10 mL/L. Pemberian jamu bagas waras diberikan secara oral melalui air minum setiap hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian jamu bagas waras meningkatkan bobot hidup, bobot karkas, persentase karkas, persentase hati, persentase pankreas, dan persentase sekum secara deskriptif. Berdasarkan gambaran deskriptif, bobot dan persentase lemak abdomen, persentase ventrikulus, dan persentase usus halus mengalami penurunan. Pemberian jamu bagas waras secara umum menurunkan bobot garam empedu (p<0.05) dan meningkatkan persentase jantung, ginjal, dan limpa pada dosis 10 mL/L (p<0.05). Bobot hidup memiliki korelasi positif dengan bobot karkas dan bobot lemak abdomen berturut-turut sebesar 83.80% dan 63.80% dengan pola kuadratik dan kubik. Kesimpulan yang dapat diambil dalam penelitian ini ialah pemberian jamu bagas waras berpotensi meningkatkan performa karkas dan mengoptimalkan aktivitas jeroan yang selanjutnya meningkatkan performa ayam broiler.

Kata kunci: ayam broiler, jamu bagas waras, jeroan, performa, karkas

ABSTRACT

RIZKA SEPTARINA BUDIANTI. The Potency of Jamu Bagas Waras (Kunyit, Kencur, and Jahe) Administration on Broiler through Drinking Water to Improve Carcass and Internal Organs Performances. Supervised by ANDRIYANTO and WASMEN MANALU.

Jamu bagas waras consists of combination of kunyit, kencur, and jahe. The research was conducted to study jamu bagas waras administration on broiler to improve carcass and internal organs performances. Twenty four broilers were divided into 4 treatments and 6 replications. The treatments were the doses of jamu bagas waras administration i.e.,0 (as control), 0.1, 1, and 10 mL/L. Jamu bagas waras was given orally through drinking water daily. The results of this research showed that administration of jamu bagas waras increased live weight, carcass weight, carcass weight percentage, liver weight percentage, pancreas weight percentage, and secum weight percentage descriptively. Descriptively, weight percentages of abdominal fat, small intestines, and ventriculus were decreased. The administration of jamu bagas waras at all treatments decreased weight of bile salt (p<0.05) and increased the weight percentage of heart, kidney, and spleen at a dose of 10 mL/L (p<0.05). Live weight had positive correlation with carcass weight and abdominal fat weight by 83.80% and 63.80% with quadratic and cubic pattern, respectively. It was concluded that jamu bagas waras administration increased carcass performance and optimizing internal organs activity that improved performance of broiler.

(5)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Hewan

pada

Fakultas Kedokteran Hewan

POTENSI PEMBERIAN JAMU BAGASWARAS (KUNYIT,

KENCUR, DAN JAHE) MELALUI AIR MINUM DALAM

MEMPERBAIKI PERFORMA KARKAS DAN JEROAN AYAM

BROILER

RIZKA SEPTARINA BUDIANTI

DEPARTEMEN ANATOMI, FISIOLOGI, DAN FARMAKOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

(6)
(7)

Judul Skripsi : Potensi Pemberian Jamu Bagas Waras (Kunyit, Kencur, dan Jahe) melalui Air Minum dalam Memperbaiki Performa Karkas dan Jeroan Ayam Broiler

Nama : Rizka Septarina Budianti NIM : B04100110

Disetujui oleh

Drh Andriyanto, MSi Pembimbing I

Prof Dr Ir Wasmen Manalu Pembimbing II

Diketahui oleh

Drh Agus Setiyono, MS, PhD, APVet Wakil Dekan FKH

(8)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Judul penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Maret 2014 ini ialah Potensi Pemberian Jamu Bagas Waras (Kunyit, Kencur, dan Jahe) melalui Air Minum dalam Memperbaiki Performa Karkas dan Jeroan Ayam Broiler.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Drh Andriyanto, MSi dan Bapak Prof Dr Ir Wasmen Manalu selaku pembimbing, serta Bapak Dr Drh Chusnul Choliq, MM, MS yang telah banyak memberi saran. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Bapak Drh Aulia Andi Mustika, MSi beserta seluruh staf Unit Pengelola Hewan Laboratorium dan staf Laboratorium Bagian Fisiologi dan Farmakologi yang telah membantu selama penelitian. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada Ayah Agus Budiansyah, Ibu Rosdayati, Adik Fikri Mufadhdhal dan Zhafira Destriana Budianti. Teman-teman Fricilia Gazela, Saras Nindya Murti, Ninditya Anggie, serta teman-teman lainnya atas segala doa, kasih sayang, dan dukungan dalam penulisan karya ilmiah ini.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

(9)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Tujuan Penelitian 1

Manfaat Penelitian 2

TINJAUAN PUSTAKA 2

Jamu Bagas Waras 2

Ayam Broiler 2

METODE 4

Waktu dan Tempat 4

Alat dan Bahan 4

Tahap Persiapan 4

Tahap Perlakuan 4

Analisis Data 6

HASIL DAN PEMBAHASAN 6

Pengaruh Jamu Bagas Waras pada Bobot Hidup, Performa Karkas, Volume

Empedu, dan Bobot Garam Empedu 6

Pengaruh Jamu Bagas Waras pada Jeroan 8

SIMPULAN DAN SARAN 10

Simpulan 10

Saran 11

DAFTAR PUSTAKA 11

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Bobot hidup, bobot karkas, persentase karkas, bobot lemak abdomen, persentase lemak abdomen, volume empedu, dan

bobot garam empedu 6

Tabel 2 Persentase hati, jantung, ginjal, pankreas, ventrikulus, limpa,

(11)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Seiring pertumbuhan penduduk yang terus meningkat, konsumsi daging juga terus meningkat. Berdasarkan data Kementerian Pertanian (2011) konsumsi daging keseluruhan per kapita per tahun mencapai 6.85 kg pada tahun 2010 dan 7.08 kg pada tahun 2011. Daging ayam broiler menjadi satu di antara produk asal unggas yang diunggulkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Penggunaan terhadap ayam broiler sangat tinggi, yaitu sebanyak 772.000 ton pada tahun 2012 (Pusdatin 2013). Permintaan tersebut diperkirakan akan bertambah pada tahun-tahun berikutnya (Syahbuddin 2005). Ayam broiler disukai karena dagingnya yang empuk, kulit licin dan lunak, tulang rawan dada belum membentuk tulang yang keras, dan ukuran badan yang besar (Rasyaf 1995). Selain itu, ayam memiliki kandungan gizi yang tinggi dengan harga yang terjangkau pada semua lapisan masyarakat.

Di sisi lain, pemeliharaan ayam broiler tidaklah mudah. Pemeliharaan ayam broiler sering kali dihadapkan pada permasalahan seperti kerentanan ayam terhadap penyakit dan stres (Fadilah 2012). Permasalahan tersebut dapat berujung pada penurunan performa karkas dan jeroan. Performa karkas dapat dilihat dari bobot hidup, persentase karkas, dan persentase lemak abdomen. Performa jeroan terlihat dari fungsi kerja organ dan persentase bobot organ.

Penggunaan tanaman berkhasiat merupakan salah satu inovasi yang diharapkan dapat menjadi solusi untuk permasalahan yang telah dipaparkan sebelumnya. Ramuan tanaman berkhasiat dilaporkan relatif tidak meninggalkan residu pada daging ternak dan memiliki toksisitas yang relatif rendah dibandingkan dengan bahan obat sintetis (Yuanita et al. 2009).

Bahan alam asal tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai ramuan berkhasiat adalah kunyit, kencur, dan jahe. Selain dikenal sebagai bumbu masak, secara empiris kunyit, kencur, dan jahe juga banyak digunakan sebagai tanaman obat (Winarti dan Nurdjanah 2005). Kunyit memiliki kurkumin yang berperan sebagai antioksidan, antistres, antiinflamasi, dan imunomodulator. Minyak atsiri yang terkandung dalam kencur diketahui meningkatkan palatabilitas pakan. Sementara itu, jahe memiliki senyawa gingerol, alkaloid, fenolik, dan senyawa lainnya yang dapat meningkatkan fungsi pencernaan dan menstimulasi berbagai enzim pencernaan (Al-Sultan 2003; Mohamed et al. 2012; Rukmana 2004; Agustina et al. 2010). Berbagai kandungan yang terdapat pada ketiga tanaman tersebut diharapkan dapat meningkatkan performa ayam dan karkas. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mempelajari potensi kunyit, kencur, dan jahe yang diramu menjadi satu yang disebut dengan jamu bagas waras dalam meningkatkan performa karkas dan jeroan ayam broiler.

Tujuan Penelitian

(12)

2

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah tentang performa karkas dan jeroan ayam broiler yang diberikan jamu bagas waras. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan pada penelitian berikutnya.

TINJAUAN PUSTAKA

Jamu Bagaswaras

Zainuddin (2006) menyatakan bahwa tanaman berkhasiat sebagai feed supplement atau feed additive dapat diberikan melalui air minum atau dicampur ke dalam ransum dan dapat meningkatkan daya tahan tubuh (kesehatan) ternak unggas, produktivitas, dan efisiensi pakan. Bahan alam asal tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai tanaman berkhasiat adalah kunyit, kencur, dan jahe. Kunyit secara umum dapat digunakan sebagai pelengkap bahan makanan, bahan obat tradisional untuk mengobati berbagai penyakit, bahan baku industri jamu dan kosmetik, bahan disinfektan, serta bahan campuran pada pakan ternak (Nugroho 1998). Kunyit mengandung senyawa yang berkhasiat obat yang disebut kurkuminoid yang terdiri atas kurkumin (73.40%), demetosikurkumin (16.10%), bisdemetosikurkumin (10.50%) (Asai dan Miyasawa 2001). Menurut Wijayakusuma (2006), kurkumin dalam tanaman kunyit berfungsi menurunkan kandungan kolesterol darah, hepatoprotektor, melancarkan sirkulasi darah, antioksidan, antistres, dan antiinflamasi. Selain itu, kunyit juga dapat berfungsi sebagai penguat lambung dan penambah palatabilitas pakan (Rukmana 2004).

Minyak atsiri dalam kencur juga dilaporkan dapat meningkatkan palatabilitas pakan, berperan sebagai antibakteri, dan antijamur (Afriastini 2004; Al-Sultan 2003; Mohamed et al. 2012). Senyawa aktif utama yang terdapat pada jahe adalah gingerol, gingerdiol, dan gingerdione. Senyawa tersebut dilaporkan dapat menstimulasi enzim pencernaan, mempengaruhi aktivitas mikrob, dan sebagai antioksidan (Dieumou et al. 2009).

Ayam Broiler

Menurut Ensminger (1992) ayam broiler strain Ross adalah ayam pedaging yang dipasarkan pada umur 6 minggu dengan bobot hidup berkisar 1.50-2.50 kg. Bobot badan ayam broiler berumur 6 minggu berdasarkan National Research Council adalah 1.92 kg/ekor atau rataan pertambahan bobot badan 319.20 g/ekor/minggu (Agustina et al. 2010).

Karkas

(13)

3 Jeroan

Jeroan atau viscera adalah organ dalam dari ternak ayam setelah dipisahkan dari tubuh dan sebelum dibersihkan. Bobot jeroan dipengaruhi oleh jumlah pakan, tekstur pakan, kandungan serat pakan, dan pakan tambahan. Jeroan pada ayam terdiri atas jantung, paru-paru, organ pencernaan dimulai dari esofagus sampai sekum, limpa, hati, dan pankreas.

Jantung berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh (Yuwanta 2004). Proventrikulus berfungsi mensekresikan pepsinogen dan HCl untuk mencerna protein dan lemak yang terkandung dalam pakan. Menurut Pond et al. (1995) ventrikulus berfungsi menggiling atau memecah partikel makanan agar ukurannya menjadi lebih kecil. Pankreas berperan dalam regulasi glukosa darah dan pencernaan lemak dan protein. Hati berfungsi dalam metabolisme glukosa, detoksikasi racun, dan mensekresikan empedu yang akan disalurkan ke duodenum. Empedu ini selanjutnya akan digunakan untuk menetralkan asam lambung dan mencerna lemak. Limpa berfungsi sebagai organ pertahanan tubuh dan organ pemecah sel-sel darah.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Resnawati (2004), jantung memiliki persentase terhadap bobot hidup sebesar 0.41%, sedangkan hati memiliki persentase sebesar 1.70-1.90%. Persentase ventrikulus dan limpa masing-masing sebesar 1.90% dan 0.08%.

Usus terdiri atas usus halus dan sekum. Usus halus berperan dalam proses penyerapan nutrisi dan pencernaan makanan secara enzimatis. Kemampuan penyerapan nutrisi pada usus halus tersebut ditunjang oleh adanya selaput lendir dan vili-vili yang terdapat pada mukosa permukaan usus. Setiap vili mengandung pembuluh kapiler dan pembuluh limfe. Perkembangan usus halus dipengaruhi oleh kandungan serat kasar dalam ransum yang dikonsumsi (Sklan dan Noy 2000). Sekum berfungsi membantu penyerapan air, dan pencernaan karbohidrat serta protein dengan bantuan mikroorganisme. Rose (1997) menyebutkan bahwa pada usus buntu (seka) terdapat bakteri yang membantu proses perombakan bahan makanan melalui proses fermentasi. Resnawati (2004) melaporkan bahwa bobot relatif usus secara keseluruhan ialah 4.84%.

Lemak abdomen

(14)

4

METODE

Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan mulai dari Maret sampai dengan April 2014 di Unit Pemeliharaan Hewan Laboratorium (UPHL) dan Laboratorium Fisiologi dan Farmakologi, Departemen Anatomi, Fisiologi, dan Farmakologi FKH IPB.

Alat dan Bahan

Peralatan yang digunakan pada penelitian ini adalah kandang ayam dengan ukuran 2 x 2 m per flok, tempat pakan dan minum, timbangan digital, gelas ukur, label, spuid 1 mL, oven, wadah aluminium foil, dan alat tulis. Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah ayam broiler day old chick (DOC) sebanyak 24 ekor, disinfektan yang mengandung glutaraldehid, benzalkonium klorida, dan isopropanol (Neo Ultrades®), multivitamin (Vitachick®), vaksin ND IB, vaksin gumboro, vaksin ND La Sota, pakan komersial untuk broiler BR-21E (PT Sinta Prima Feedmill). Pakan tersebut memiliki kandungan nutrisi sebagai berikut: protein kasar 20-22%, kadar air 12%, lemak kasar 4-8%, serat kasar 4%, abu 8%, kalsium 0.90-1.20%, fosfor 0.70-1%, koksidiostat, dan antibiotika. Selain itu, bahan lain yang digunakan dalam penelitian ini adalah air, sekam, dan sediaan jamu bagas waras.

Tahap Persiapan

Persiapan Kandang dan Pembuatan Jamu Bagas Waras

Pada tahap ini, sebanyak 4 flok kandang ayam, tempat pakan, dan tempat minum disiapkan untuk penelitian. Seluruh kandang, tempat pakan, dan tempat minum dibersihkan dari kotoran. Kemudian, peralatan tersebut dicuci dengan air sabun. Setelah itu, kandang diberi kapur aktif dengan mengoleskannya secara merata. Setelah kering, kandang didesinfeksi dengan menggunakan disinfektan. Selanjutnya, lantai kandang dialasi dengan litter (sekam padi) yang telah dikeringkan dan didesinfeksi.

Pembuatan jamu bagas waras dilakukan 1 hari sebelum perlakuan dimulai. Jamu bagas waras diperoleh dengan mencampur jahe, kunyit, kencur, dan pelarut air dengan perbandingan tertentu. Jahe, kunyit, dan kencur tersebut diparut hingga halus. Hasil parutan tersebut dipanaskan sampai suhu 60ºC dan diulang sebanyak 3 kali. Setelah dingin, campuran tersebut disaring dan ditambahkan alkohol 70% dengan dosis 0.003%. Selanjutnya, hasil penyaringan (jamu bagas waras) dimasukkan ke dalam botol dan disimpan dalam refrigerator bersuhu 4ºC.

Tahap Perlakuan

Pemeliharaan Ayam

(15)

5 Selama pemeliharaan, ayam diberi pakan dan air minum. Pemberian pakan disesuaikan dengan standar yang telah umum digunakan oleh peternak ayam broiler komersial. Air minum yang diberikan dicampur dengan jamu bagas waras dan diberikan setiap hari secara ad libitum.

Rancangan Percobaan

Sebanyak 24 ekor ayam broiler dibagi menjadi 4 perlakuan dan masing-masing perlakuan terdiri atas 6 ulangan. Perlakuan tersebut ialah ayam broiler yang diberi jamu bagas waras melalui air minum (dosis 0 mL/L) sebagai kontrol dan ayam broiler yang diberi jamu bagas waras melalui air minum dengan dosis 0.1 mL/L (perlakuan 1), 1 mL/L (perlakuan 2), dan 10 mL/L (perlakuan 3). Perlakuan dimulai pada hari ke-7 pemeliharaan. Selanjutnya, ayam percobaan dipelihara selama 5 minggu. Pada akhir pemeliharaan, ayam percobaan ditimbang bobot hidupnya dan dikorbankan untuk menghitung performa karkas dan jeroan. Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel dilakukan pada akhir perlakuan. Ayam yang akan dikorbankan, dipuasakan terlebih dahulu sekitar 12 jam dan ditimbang bobot hidupnya. Ayam yang telah dikorbankan kemudian dicelupkan ke dalam air panas dengan suhu 60ºC sekitar satu menit. Tujuan pencelupan ke dalam air panas adalah untuk memudahkan pencabutan bulu ayam. Ayam yang telah dicabut bulunya diproses menjadi karkas dengan memisahkan kepala, leher, ceker, dan jeroan. Sampel yang diambil terdiri atas karkas, cairan empedu, dan jeroan. Jeroan yang diukur meliputi hati, jantung, ginjal, pankreas, ventrikulus, limpa, usus, dan lemak abdomen. Selanjutnya, sampel tersebut ditimbang dan dihitung persentasenya. Penimbangan sampel dilakukan dengan menggunakan timbangan digital.

Pengukuran Sampel

Penimbangan Bobot Hidup dan Bobot Karkas

Pada akhir perlakuan (hari ke-35), penimbangan bobot hidup dilakukan sebelum ayam dikorbankan. Penimbangan bobot karkas dilakukan setelah ayam dikorbankan dan dipisahkan dari kepala, leher, ceker, dan jeroan.

Penimbangan Bobot Lemak Abdomen dan Bobot Jeroan

Bobot lemak abdomen diperoleh dengan menimbang lemak yang terdapat di sekitar dada dan perut. Sementara itu, bobot jeroan diperoleh dengan menimbang organ jeroan yang telah dipisahkan sebelumnya.

Perhitungan Persentase Karkas, Lemak Abdomen, dan Jeroan

Persentase karkas, lemak abdomen, dan jeroan diperoleh dengan mengalikan rasio bobot karkas (g), lemak abdomen (g), dan jeroan (g) terhadap bobot hidup (g) dengan faktor pengali 100%.

Pengukuran Volume dan Perhitungan Bobot Garam Empedu

(16)

6

cairan empedu mengering dan hanya tersisa garam empedunya saja. Kemudian, wadah yang berisi garam empedu tersebut ditimbang. Bobot garam empedu diperoleh dengan mengurangkan bobot wadah sesudah dan sebelum berisi garam empedu.

Peubah yang Diamati

Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah bobot hidup, bobot karkas, persentase karkas, bobot lemak abdomen, persentase lemak abdomen, persentase jeroan, volume empedu, dan bobot garam empedu.

Analisis Data

Data yang diperoleh dinyatakan dalam rataan dan simpangan baku. Data diolah menggunakan Microsoft Excel 2007 dan SPSS Statistic 14. Perbedaan antarkelompok pemberian jamu bagas waras dianalisis menggunakan analisis ragam, kemudian dilanjutkan dengan uji Duncan pada selang kepercayaan 95%. Korelasi antarpeubah dianalisis dengan menggunakan regresi linear.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh Jamu Bagas Waras pada Bobot Hidup, Performa Karkas, Volume Empedu, dan Bobot Garam Empedu

Bobot hidup, bobot karkas, persentase karkas, bobot lemak abdomen, persentase lemak abdomen, volume empedu, dan bobot garam empedu ayam broiler selama penelitian disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1 Bobot hidup, bobot karkas, persentase karkas, bobot lemak abdomen, persentase lemak abdomen, volume empedu, dan bobot garam empedu

Dosis Jamu Bagas Waras (mL/L)

0 0.1 1 10

Bobot hidup (kg) 1.07±0.30 1.21±0.24 1.33±0.11 1.07±0.22

Bobot karkas (kg) 0.68±0.21 0.79±0.20 0.86±0.10 0.70±0.16

Persentase karkas (%) 63.66±7.56 65.42±11.29 64.81±2.86 65.29±4.13 Bobot lemak abdomen (g) 13.28±9.40 15.70±7.95 16.57±6.42 12.21±6.43 Persentase lemak

abdomen (%) 1.14±0.58 1.25±0.51 1.22±0.40 1.10±0.44

Volume empedu (mL) 0.17±0.10 0.10±0.09 0.26±0.29 0.23±0.14

Bobot garam empedu (g) 0.09±0.05a 0.02±0.02b 0.04±0.04ab 0.06±0.06ab

Keterangan: huruf superscript yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan hasil yang berbeda nyata (p<0.05).

(17)

7 diberi jamu bagas waras dosis 0.1 dan 1 mL/L memiliki bobot hidup dan bobot karkas yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol. Secara berurutan, bobot hidup ayam dari yang tertinggi ke yang terendah ialah ayam yang diberi jamu bagas waras dosis 1, 0.1, kontrol, dan 10 mL/L. Sementara itu, bobot karkas ayam dari yang tertinggi ke yang terendah secara berurutan ialah ayam yang diberi jamu bagas waras dosis 1, 0.1, 10, dan 0 mL/L (kontrol). Persentase karkas terbaik terdapat pada kelompok ayam yang diberi jamu bagas waras dosis 0.1 mL/L yang diikuti secara berurutan dosis 10, 1, dan 0 mL/L (kontrol). Bobot lemak abdomen terbanyak terdapat pada kelompok ayam yang diberi jamu bagas waras dosis 1 mL/L yang diikuti dosis 0.1, 0 (kontrol) dan dosis 10 mL/L. Sementara itu, persentase lemak abdomen tertinggi berurutan ke yang terendah ialah ayam yang diberi jamu bagas waras dosis 0.1, 1, 0 (kontrol), dan 10 mL/L. Hasil pengukuran volume empedu tertinggi terdapat pada kelompok ayam yang diberi jamu bagas waras dosis 1 mL/L yang diikuti dosis 10, 0 (kontrol), dan 0.1 mL/L. Pemberian jamu bagas waras terlihat hanya memberikan pengaruh nyata (p<0.05) pada bobot garam empedu ayam broiler. Hasil penimbangan garam empedu pada kelompok ayam kontrol lebih tinggi dibandingkan kelompok ayam yang diberi jamu bagas waras dosis 0.1 mL/L. Secara berurutan, bobot garam empedu tertinggi ke yang terendah ialah kelompok ayam yang diberi jamu bagas waras dosis 0 (kontrol), 10, 1, dan 0.1 mL/L.

Berdasarkan hasil analisis regresi linear menunjukkan bahwa bobot hidup memiliki korelasi positif dengan bobot karkas dan bobot lemak abdomen secara berurutan sebesar 83.80 dan 63.80% dengan pola kuadratik dan kubik. Secara umum, bobot karkas dan persentase karkas dipengaruhi oleh bobot hidup. Sementara itu, bobot hidup dilaporkan oleh Resnawati (2002) berhubungan dengan umur, jenis kelamin, aktivitas, bangsa, jumlah, dan kualitas ransum. Semakin besar bobot hidup, maka akan semakin besar pula bobot karkas. Peningkatan bobot hidup yang terjadi pada hasil penelitian (Tabel 1) diperkirakan disebabkan oleh adanya aktivitas antioksidan dari kurkumin yang terkandung dalam kunyit. Menurut Al-Sultan (2003), antioksidan yang terkandung dalam kunyit memiliki kemampuan untuk menstimulasi sintesis protein. Selain itu, peningkatan bobot hidup diduga juga berhubungan dengan aktivitas senyawa gingerol, alkaloid, dan fenolik yang terkandung dalam rimpang jahe. Senyawa tersebut dilaporkan oleh Mohamed et al. (2012) dan Rukmana (2004) meningkatkan kecernaan pakan dan menstimulasi berbagai enzim pencernaan. Hasil penelitian Agustina et al. (2010) menunjukkan bahwa kandungan minyak atsiri dalam kencur dan kunyit juga dapat menambah palatabilitas pakan sehingga diperkirakan juga meningkatkan bobot hidup ayam percobaan.

(18)

8

berhubungan dengan aktivitas enzim yang berperan dalam lipogenesis seperti asetil koenzim A karboksilase (Nouzarian et al. 2011).

Bobot dan persentase lemak abdomen berkaitan dengan cairan empedu yang disekresikan tubuh, sebagai akibat peran empedu dalam metabolisme dan absorpsi lemak (Sherlock et al. 2002). Empedu memiliki kandungan berupa cairan dan garam empedu. Kelompok ayam yang diberi jamu bagas waras dosis 0.1 dan 1 mL/L memiliki persentase lemak abdomen yang lebih tinggi dari kelompok dosis 0 mL/L (kontrol) dengan volume empedu yang hampir sama pada ketiga kelompok tersebut. Walaupun, kelompok ayam yang diberi jamu bagas waras dosis 0.1, 1, dan 0 mL/L (kontrol) memiliki volume empedu yang hampir sama, namun bobot garam empedunya relatif bervariasi. Sebagaimana telah diketahui bahwa garam empedu berfungsi membentuk kompleks kecil dengan lemak yang disebut misel, sehingga lemak menjadi mudah larut (Sherlock et al. 2002). Selain itu, empedu dapat menyerap kolesterol dari darah dan membuangnya melalui feses (Guyton dan Hall 2000). Rendahnya bobot garam empedu diduga disebabkan adanya penurunan aktivitas dari hati yang berfungsi memproduksi dan mensekresikan empedu (Ismail et al. 2013).

Penelitian sebelumnya yang mempelajari potensi kunyit, kencur, dan jahe dalam meningkatkan performa ayam broiler telah dilakukan. Laporan penelitian Bamidele dan Adejumo (2012) menyatakan bahwa pemberian jahe pada ayam petelur tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap performa pertumbuhan namun bobot hidup tertinggi dimiliki kelompok perlakuan 0.75% jahe pada ransum. Pemberian kunyit dan temulawak sebagai imbuhan pakan tidak secara nyata memengaruhi persentase lemak abdomen ayam broiler (Sinurat et al. 2009).

Penelitian yang dilakukan oleh Al-Sultan (2003) memberikan hasil yang berbeda. Penelitian tersebut menyatakan bahwa pemberian kunyit sebagai pakan tambahan meningkatkan secara nyata performa ayam broiler secara umum pada kadar 0.50%. Penelitian Nouzarian et al. (2011) juga menunjukkan hasil yang bertentangan bahwa pemberian bubuk kunyit pada ransum ayam broiler secara nyata menurunkan persentase lemak abdomen. Hasil ini diduga disebabkan oleh perbedaan jenis dan asal dari kunyit yang digunakan. Reema et al. (2006) menyatakan bahwa setiap jenis kunyit memiliki kadar kurkumin yang berbeda. Hasil yang didapat secara keseluruhan menunjukkan bahwa pemberian jamu bagas waras pada ayam broiler secara umum berpotensi meningkatkan performa karkas melalui peningkatan bobot hidup, bobot karkas, dan persentase karkas serta penurunan bobot dan persentase lemak abdomen walaupun secara statistik tidak nyata. Peningkatan performa ini selanjutnya diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup ayam broiler.

Pengaruh Jamu Bagas Waras pada Jeroan

(19)

9 Tabel 2 Persentase hati, jantung, ginjal, pankreas, ventrikulus, limpa, usus halus,

dan sekum Pankreas (%) 0.40±0.09 0.37±0.11 0.41±0.08 0.39±0.06 Ventrikulus (%) 2.06±0.35 1.75±0.29 1.84±0.34 1.89±0.34 Limpa (%) 0.11±0.02b 0.13±0.02b 0.12±0.02b 0.16±0.04a Usus halus (%) 7.21±1.37 6.87±1.25 6.24±0.45 6.72±1.28 Sekum (%) 0.64±0.20 0.54±0.10 0.55±0.09 0.72±0.16 Keterangan: huruf superscript yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan hasil yang

berbeda nyata (p<0.05).

Data pada Tabel 2 menunjukkan bahwa pemberian jamu bagas waras tidak secara nyata (p>0.05) meningkatkan atau menurunkan persentase hati, pankreas, ventrikulus, usus halus, dan sekum. Secara deskriptif, terlihat bahwa kelompok ayam yang diberi jamu bagas waras dosis 10 mL/L memiliki persentase hati yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol. Secara berurutan, persentase hati ayam dari yang tertinggi ke yang terendah ialah ayam yang diberi jamu bagas waras dosis 10, 0 (kontrol), 1, dan 0.1 mL/L. Sementara itu, persentase pankreas dari yang tertinggi ke yang terendah secara berurutan ialah kelompok ayam yang diberi jamu bagas waras dosis 1, 0 (kontrol), 10, dan 0.1 mL/L. Persentase ventrikulus tertinggi ialah kelompok kontrol yang diikuti secara berurutan dosis 10, 1, dan 0.1 mL/L. Sementara itu, persentase usus halus dari yang tertinggi ke yang terendah ialah kelompok dosis 0 mL/L (kontrol) yang diikuti oleh kelompok dosis 0.1, 10, dan 1 mL/L. Persentase sekum tertinggi terdapat pada kelompok ayam yang diberi jamu bagas waras dosis 10 mL/L yang dikuti oleh kelompok 0 (kontrol), 1, dan 0.1 mL/L. Pemberian jamu bagas waras terlihat hanya memberikan pengaruh nyata (p<0.05) pada persentase jantung, ginjal, dan limpa. Secara berurutan, persentase jantung dari yang tertinggi ke yang terendah ialah kelompok ayam yang diberi jamu bagas waras dosis 10, 0 (kontrol), 0.1, dan 1 mL/L. Persentase ginjal dari yang tertinggi ke yang terendah secara berurutan ialah kelompok ayam yang diberi jamu bagas waras dosis 10, 0 (kontrol), 1, dan 0.1 mL/L. Sementara itu, persentase limpa dari yang tertinggi ke yang terendah secara berurutan ialah kelompok ayam yang diberi jamu bagas waras dosis 10, 0.1, 1, dan 0 mL/L (kontrol).

(20)

10

darah ke ginjal, yang selanjutnya oleh ginjal akan diekskresikan ke dalam urin (Golla et al. 2014). Hasil data penelitian menunjukkan bahwa kelompok ayam dosis 10 mL/L memiliki persentase jantung dan persentase ginjal tertinggi dibandingkan kelompok lainnya.

Pankreas dalam sistem pencernaan memiliki dua fungsi utama, yaitu sebagai organ eksokrin melalui sel-sel asinar yang mensintesis protein, dan sebagai organ endokrin melalui pulau langerhans yang meregulasi kadar glukosa darah. Pankreas juga berperan dalam pencernaan protein, lemak, dan karbohidrat. Peningkatan persentase pankreas pada kelompok ayam dosis 1 mL/L diduga disebabkan adanya aktivitas antioksidan, antibakteri, dan imunomodulator pada senyawa aktif tanaman berkhasiat (Zainuddin 2006) yang menstimulasi peningkatan sekresi enzim-enzim pankreas. Peningkatan sekresi enzim ini berdampak pada peningkatan persentase pankreas (Pearce 2005). Hasil yang serupa juga ditemukan pada penelitian yang dilakukan Nouzarian et al. (2011) mengenai pemberian kunyit pada ayam broiler.

Perubahan bobot ventrikulus biasanya dikaitkan dengan aktivitas ventrikulus dalam melakukan pencernaan. Hasil yang sama juga dikemukakan oleh Mehala dan Moorthy (2008) melalui penelitiannya tentang pengaruh pemberian kunyit dan lidah buaya yang juga cenderung menurunkan persentase ventrikulus ayam broiler. Peningkatan bobot limpa dapat mengindikasikan adanya aktivitas imuno stimulatori dari bahan aktif kunyit, yaitu kurkumin (Al-Sultan 2003). Selain itu, diketahui pula bahwa aktivitas antioksidan beberapa komponen jahe seperti gingerol dan gingeron dapat memacu proliferasi limfosit yang berimplikasi pada peningkatan sistem imun (Radiati et al. 2003).

Minyak atsiri pada kunyit dapat mengatur asam lambung dalam mensekresi sekretin sehingga mengefisienkan kerja usus dalam mencerna zat makanan (Pratikno 2010). Persentase usus halus pada kelompok dosis 0.1, 1, dan 10 mL/L lebih rendah dari kelompok dosis 0 (kontrol) mL/L. Hasil tersebut memperlihatkan adanya penurunan aktivitas usus halus akibat kandungan minyak atsiri. Namun, bila dicermati kelompok dosis 0.1 dan 1 mL/L memiliki bobot hidup, bobot karkas, dan persentase karkas yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok dosis 0 mL/L. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok perlakuan dosis 0.1, 1, dan 10 mL/L memiliki aktivitas usus yang lebih baik sehingga lebih efisien dalam mencerna pakan. Secara umum dapat dikatakan bahwa pemberian jamu bagas waras pada ayam broiler dapat mengoptimalkan aktivitas jeroan yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan kualitas ayam broiler.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

(21)

11 Saran

Saran yang diajukan berdasarkan pada penelitian ini adalah perlu dilakukan penelitian dengan mengkombinasikan faktor dosis dan lama pemberian jamu bagas waras yang optimal. Selain itu, penelitian jamu bagas waras yang mengkaji tentang gambaran organ secara mikroskopis perlu dilakukan untuk mengetahui lebih dalam mengenai mekanisme kerja dan sel target sediaan tersebut. Penelitian lanjutan disarankan untuk menganalisis lebih mendalam mengenai kandungan senyawa aktif jamu bagas waras yang bekerja memperbaiki performa ayam broiler.

DAFTAR PUSTAKA

Afriastini JJ. 2004. Bertanam Kencur. Jakarta (ID): Penebar Swadaya.

Agustina L, Hatta M, Purwanti S. 2010. Penggunaan ramuan herbal untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas broiler (penggunaan ramuan herbal untuk meningkatkan performa dan gambaran histopatologi organ dalam broiler). Di dalam: Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner; 2010; Makassar, Indonesia. Makassar (ID): Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin. Hlm. 732-737.

Al-Sultan SI. 2003. The effect of Curcuma longa (turmeric) on overall performance of broiler chickens. Int J Poultry Sci. 2(5): 351-353.

Asai A, Miyasawa T. 2001. Dietary curcuminoids prevent high fat diet induced lipid accumulation in rat liver and epididymal adipose tissue. J Nutr. 131: 2932-2935.

Bamidele O, Adejumo IO. 2012. Effect of garlic (Allium sativum L) and ginger (Zingiber officinale Roscoe) mixture on performance characteristics and cholesterol profileof growing pullets. Int J Poultry Sci. 11(3): 217-220. Dieumou FE, Teguia A, Kuiate JR, Tamokou JD, Fonge NB, Dongmo MC. 2009.

Effects of ginger (Zingiber officinale) and garlic (Allium sativum) essential oils on growth performance and gut microbial population of broiler chickens. Livest Res Rural Dev. 1: 25-34.

Ensminger ME. 1992. Animal Science. Danville (US):Interstate Publishing Inc. Fadilah R. 2012. Kunci Sukses Beternak Ayam Broiler di Daerah Tropis. Jakarta

(ID): Agromedia Pustaka.

Golla Y, Montong MER, Laihad JT, Rembet GDG. 2014. Penambahan tepung rimpang temulawak dan tepung rimpang temu putih dalam ransum komersial terhadap persentase karkas, lemak abdomen, dan persentase hati pada ayam pedaging. Zootek. 34: 115-123.

Guyton AC, Hall JE. 2000. Secretory function of the alimentary tract. Dalam: Textbook of Medical Physiology. Ed ke-10. Philadelphia (USA): WB Saunders Company.

Ismail E, Suhermiyati S, Roesdjianto. 2013. Penambahan tepung kunyit dan sambiloto dalam pakan terhadap bobot hati, pankreas, dan empedu broiler. JIP. 1(3): 750-758.

(22)

12

Mehala C, Moorthy M. 2008. Effect of Aloe vera dan Curcuma longa on carcass characteristics and biochemical parameters of broiler. Int J Poultry Sci. 7(9): 857-861.

Mohamed AB, Al-Rubaee MAM, Jalil AQ. 2012. Effect of ginger (Zingiber officinale) on performance and blood serum parameters of broiler. Int J Poultry Sci. 11(2): 143-146.

Nouzarian R, Tabeidian SA, Toghyani M, Ghalamkari G, Toghyani M. 2011. Effect of turmeric powder on performance, carcass trait, humoral immune responses, and serum metabolites in broiler chickens. J Anim Feed Sci. 20: 389-400.

Nugroho AN. 1998. Manfaat dan Prospek Pengembangan Kunyit. Ungaran (ID): Trubus Agriwidya.

Pearce EC. 2005. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta (ID): Gramedia.

Pond WG, Church DC, Pond KR. 1995. Basic Animal Nutition and Feeding. Ed ke-4. New York (GB): John Wiley and Sons.

Pratikno H. 2010. Pengaruh ekstrak kunyit (Curcuma domestica Vahl) terhadap bobot badan ayam broiler (Gallus sp). Buletin Anatomi dan Fisiologi. 18(2): 39-46.

Pratikno H. 2011. Lemak abdominal ayam broiler (Gallus sp.) karena pengaruh ekstrak kunyit (Curcuma domestica Vahl.). BIOMA. 13(1): 1-9.

[Pusdatin] Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Kementerian Pertanian. 2013. Buletin Konsumsi Pangan. 4(3): 43-46

Radiati LE, Nabet EP, Frack P, Nabet B, Capiaumont J, Fardiaz D, Zakaria R, Sudirman I, Haryadi RD. 2003. Pengaruh ekstrak diklormetan jahe (Zingiber officinale) terhadap pengikatan toksin kolera B-subunit konjugasi (FITC) pada reseptor sel hibridoma LV dan Caco-2. J Teknol Indust Pangan. 14(1): 59-67.

Rasyaf M. 1995. Beternak Ayam Pedaging. Jakarta (ID): Penerbit Penebar Swadaya.

Reema FT, Dennis DH, Wael KA, Chery LR. 2006. Curcumin content of turmeric and curry powders. Nutr Cancer. 55: 126-131.

Resnawati H. 2002. Produksi karkas dan organ dalam ayam pedaging yang diberi ransum mengandung tepung cacing tanah (Lumbricus rubellus). Di dalam: Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner; 2002; Bogor, Indonesia. Bogor (ID): Balai Penelitian Ternak. Hlm. 294-297.

Resnawati H. 2004. Bobot Potongan Karkas dan Lemak Abdomen Ayam Ras Pedaging yang Diberi Ransum Mengandung Tepung Cacing Tanah (Lumbricus rubellus). Di dalam: Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner; 2004; Bogor, Indonesia.Bogor (ID): Balai Penelitian Ternak. Hlm. 473-478.

Risnajati D. 2012. Perbandingan bobot akhir, bobot karkas, dan presentase karkas berbagai strain broiler. Sains Peternakan. 10(1): 11-14.

Rose SP. 1997. Principle of Poultry Science. New York (GB): CAB International. Rukmana R. 2004. Kunyit. Yogyakarta (ID): Penerbit Kanisius.

(23)

13 Sinurat AP, Purwadaria T, Bintang IAK, Ketaren PP, Bermawie N, Raharjo M, Rizal M. 2009. Pemanfaatan kunyit dan temulawak sebagai imbuhan pakan untuk ayam broiler. JITP. 14(2): 90-96.

Sklan D, Noy Y. 2000. Hydrolysis and absorption in the small intestines of posthatch chicks. Poultry Sci.79: 1306-1310.

Syahbuddin H. 2005. Jangan lupa swasembada pangan. Inovasi 4(18).

Wahyu J. 1997. Ilmu Nutrisi Unggas. Yogyakarta (ID): Gadjah Mada University Pr.

Wijayakusuma H. 2006. Kunyit dan temulawak untuk mencegah flu burung. [Internet]. [diunduh 2014 April 23] tersedia pada: http//www.republlica.co.ic.id.

Winarti C, Nurdjanah N. 2005. Peluang tanaman rempah dan obat sebagai sumber pangan fungsional. J Litbang Pertanian 24(2): 47-55.

Yuanita I, Murtini S, Iman RHS. 2009. Performa dan kualitas karkas ayam pedaging yang diberi pakan tambahan ampas buah merah (Pandanus conoideus). Dalam: Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner: 586-593.

Yuwanta T. 2004. Dasar Ternak Unggas.Yogyakarta (ID): Penerbit Kanisius. Zainuddin D. 2006. Tanaman obat dan kesehatan ternak unggas. Di dalam:

(24)

14

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bogor pada tanggal 3 September 1992 dari ayah Agus Budiansyah dan ibu Rosdayati. Penulis adalah putri pertama dari tiga bersaudara. Tahun 2010 penulis lulus dari SMA Negeri 5 Bogor dan pada tahun yang sama penulis lulus seleksi masuk Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB dan diterima di Fakultas Kedokteran Hewan.

Gambar

Tabel 1 Bobot hidup, bobot karkas, persentase karkas, bobot lemak
Tabel 1  Bobot hidup, bobot karkas, persentase karkas, bobot lemak abdomen,
Tabel 2  Persentase hati, jantung, ginjal, pankreas, ventrikulus, limpa, usus halus, dan sekum

Referensi

Dokumen terkait