Yield regulation method for eucalypt plantation forest based on optimization of growing stock and soil erosion

395 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

OPTIMASI TEGAKAN PERSEDIAAN NYATA DAN

EROSI TANAH

D A R W O

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.

Bogor, Juli 2012

(3)

SUHENDANG, I NENGAH SURATI JAYA, HERRY PURNOMO, and PRATIWI.

The grouping of site quality and controlling of soil erosion in eucalypt plantation forest is very important to be considered in the yield regulation method establishment. The objective of this research is to establish the yield regulation method that can provide the same yield every year with soil erosion constraint that does not exceed determined threshold. To achieve this objective the following stages are required: preparation of site quality class, determination of erosion hazard level and determination of residual stand density so that soil erosion can be tolerated. Data were collected from permanent sample plots and observations in the field. Stand characteristics, soil runoff and erosion were analyzed using regression, clustering site quality and soil erosion hazard level. The research results showed that yield regulation method based on optimization between growing stock and soil erosion control may giving both the optimal sustainable annual wood production and soil erosion control, so that land productivity can be maintained continuously. With this yield regulation method, the site quality is getting better, cutting cycle is getting shorter. Group of site index (Bonita) I and II has a maximum volume increment at the age of 8 years, while the bonita III and IV have a maximum volume increment at the age of 7 years. Soil erosion will increase with the increase of sloping terrain. While increasing stand age will decrease soil erosion. The maximum limit of tolerable soil erosion was at the slope of 33%. Slopes of 34-45%, 46-58%, and more than 58% , require crown cover of 21%, 38%, and 53% respectively which are equivalent to residual stand density of 288 trees/ha, 530 trees/ha, and 735 trees/ha respectively. The study found that the optimum cutting cycle in the eucalypt plantation forest is 7 years. The yield regulation method based on modified Von Mantel formula is AY’ is annual yield based on modified Von

Mantel formula, AY is annual yield based on Von Mantel formula, AG is actual growing stock, R is cutting cycle, and FkD is Darwo correction Factor for soil erosion constraint.

(4)

Beragamnya kualitas tempat tumbuh dapat menimbulkan produksi kayu yang berbeda. Perbedaan tingkat erosi tanah yang terjadi dalam satu hamparan lahan akibat adanya variasi kondisi topografi. Lahan miring jika diolah secara terus-menerus tanpa melakukan teknik konservasi tanah, maka tanah akan tererosi sehingga produktivitas lahan akan menurun. Pengelompokan kualitas tempat tumbuh dan pengendalian erosi tanah di hutan tanaman menjadi penting untuk diketahui. Untuk itu, perlu dilakukan pengaturan hasil dengan memperhatikan kedua faktor tersebut.

Tujuan utama penelitian ini adalah menyusun rumusan metode pengaturan hasil hutan tanaman eucalyptus yang dapat memberikan panenan hasil yang sama setiap tahun dengan kendala tingkat erosi tanah yang tidak melebihi ambang batas yang ditentukan. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan tahapan: (1) menyusun kelas kualitas tempat tumbuh kawasan hutan tanaman eucalyptus berdasarkan indeks tempat tumbuh, (2) menentukan tingkat bahaya erosi di kawasan hutan tanaman eucalyptus berdasarkan Permenhut Nomor P.32/Menhut-II/2009, dan (3) menentukan kerapatan tegakan tinggal per hektar agar pada kemiringan lahan tertentu erosi tanah yang terjadi masih dapat ditoleransi.

Penelitian dilakukan di kawasan hutan tanaman eucalyptus PT Toba Pulp Lestari (PT TPL) Sektor Aek Nauli, dan menurut wilayah administrasi termasuk ke dalam Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara. Secara geografis terletak antara 02°40’00”–02°50’00” LU dan 98°50’00”–99°10’00” BT. Jenis eucalyptus yang diteliti adalah Eucalyptus urograndis. E. urograndis merupakan jenis hibrid hasil persilangan dari Eucalyptus urophylla S.T. Blake dan Eucalyptus grandis W.Hill ex Maid. E. urograndisdiperuntukan sebagai bahan baku industri pulp. Jenis tanah di lokasi penelitian adalah sebagian besar Tropudults (Latosol) dan sisanya jenis Dystropepts(Latosol Coklat).

Penelitian memperhatikan tiga aspek yaitu (a) pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus, (b) kualitas tempat tumbuh, dan (c) tingkat bahaya erosi yang terjadi di areal hutan tanaman eucalyptus. Untuk bahan penyusunan pertumbuhan dan hasil tegakan serta kualitas tempat tumbuh menggunakan data dari Petak Contoh Permanen (Permanent Sample Plot = PSP) dengan luas PSP 0,02 ha dalam bentuk lingkaran berjari-jari 11,28 m. Data parameter pertumbuhan tegakan yang dikumpulkan dari PSP yaitu peninggi, diameter, tinggi, luas bidang dasar, dan volume tegakan. Pengamatan erosi tanah dilakukan dengan menggunakan metode “Petak Percobaan Lapangan” untuk setiap kejadian hujan. Petak percobaan berukuran 22 x 4 m dipasang di areal tanah kosong, tegakan kelas umur 1, 2, 3, 4 dan 5 pada kemiringan lahan 9%, 15%, dan 25%. Analisis data menggunakan regresi, selanjutnya dilakukan pendugaan pertumbuhan dan hasil tegakan, penutupan tajuk, aliran permukaan dan erosi tanah setiap kejadian hujan, pengelompokan kualitas tempat tumbuh, penentuan tingkat bahaya erosi tanah dan penentuan kerapatan tegakan tinggal yang diperlukan pada kemiringan lahan tertentu agar erosi tanah yang terjadi masih dapat ditolensi (kurang dari 60 ton/ha/tahun).

(5)

656,23 ha (13%); bonita II seluas 1.888,51 ha (36%); bonita III seluas 1.924,88 ha (37%); bonita IV seluas 706,04 ha (14%). Semakin baik kualitas tempat tumbuh, semakin pendek daur tebang. Bonita I dan II, riap volume maksimum pada umur 8 tahun, sedangkan bonita III dan IV riap volume maksimum pada umur 7 tahun. Bonita I, II, III, dan IV menghasilkan riap tahunan rata-rata berturut-turut adalah 20,95 m3/ha/tahun; 32,40 m3/ha/tahun; 37,48 m3/ha/tahun; dan 40,86 m3/ha/tahun. Rata-rata volume tegakan pada akhir daur untuk bonita I, II, III, dan IV masing-masing adalah 171,77 m3/ha; 265,67 m3/ha; 266,09 m3/ha; dan 290,10 m3/ha.

Erosi akan meningkat dengan kondisi lahan semakin miring, namun semakin bertambah umur tegakan erosi semakin menurun. Titik rawan tingkat bahaya erosi tanah di kawasan hutan tanaman eucalyptus adalah pada lahan kosong. Pengelolaan hutan tanaman eucalyptus di PT TPL Sektor Aek Nauli pada jenis tanah Latosol sampai batas kemiringan lahan kurang dari 34%, aman dari bahaya erosi tanah. Supaya erosi tanah dapat ditoleransi (erosi tanah kurang dari 60 ton/ha/tahun berdasarkan Permenhut No. P.32/Menhut-II/2009 pada kedalam solum lebih dari 90 cm), maka pada kemiringan lahan 34–45%; 46–58%; dan 59–75% diperlukan penutupan tajuk berturut-turut adalah 21%; 38%; dan 53%.

Jika ditebang pada umur 8 tahun, maka pada kemiringan lahan 34–45%, 46– 58%, dan 59–75% diperlukan kerapatan tegakan tinggal berturut-turut adalah 279 phon/ha, 515 pohon/ha, dan 713 pohon/ha. Daur tebang 7 tahun dengan kemiringan lahan 34–45%, 46–58%, dan 59–75% diperlukan kerapatan tegakan tinggal berturut-turut adalah 288 phon/ha, 530 pohon/ha, dan 735 pohon/ha. Daur tebang 6 tahun dengan kemiringan lahan 34–45%, 46–58%, dan 59–75% diperlukan kerapatan tegakan tinggal berturut-turut adalah 300 pohon/ha, 553 pohon/ha, dan 766 pohon/ha. Daur tebang 5 tahun dengan kemiringan lahan 34–45%, 46–58%, dan 59–75% diperlukan kerapatan tegakan tinggal berturut-turut adalah 319 phon/ha, 588 pohon/ha, dan 815 pohon/ha. Pada bonita yang sama dengan semakin pendek daur tebang, maka membutuhkan kerapatan tegakan tinggal yang semakin tinggi akibatnya volume kayu yang dipanen semakin berkurang. Daur optimum eucalyptus untuk kelas perusahaan pulp berdasarkan tegakan persediaan nyata dan erosi tanah adalah 7 tahun.

Formula metode pengaturan hasil hutan tanaman eucalyptus berdasarkan optimasi antara tegakan persediaan nyata dan erosi tanah adalah:

, dimana lpt = luas penutupan tajuk tegakan tinggal pada umur daur

(setelah ditebang) (m2), Lpt = luas penutupan tajuk tegakan pada umur daur (sebelum ditebang) (m2), li = luas lahan untuk kelompok kemiringan lahan ke-i (ha), (fp)i = faktor koreksi volume kayu yang dapat dipanen pada kelompok kemiringan lahan ke-i (nilai fp: 0 ≤ fp ≤ 1), n = banyaknya kelompok kemiringan lahan, AY’ = volume hasil kayu tebangan tahunan berdasarkan Formula Von Mantel yang telah dimodifikasi (m3/tahun), AY = volume hasil kayu tebangan tahunan berdasarkan Formula Von Mantel (m3/tahun), AG = tegakan persediaan nyata (m3), R = daur tebang (tahun), FkD (Faktor koreksi Darwo untuk kendala erosi tanah), yaitu nilai rata-rata tertimbang faktor koreksi tegakan dalam seluruh areal unit pengelolaan hutan dengan pembobot luas areal untuk setiap kelompok kemiringan lahan yang terdapat dalam unit pengelolaan hutan tersebut (nilai FkD: 0 ≤ FkD ≤ 1).

(6)
(7)

EROSI TANAH

D A R W O

Disertasi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor pada

Program Mayor Ilmu Pengelolaan Hutan

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(8)
(9)

Nama : D a r w o

Nomor Pokok : E161070081

Program Mayor : Ilmu Pengelolaan Hutan

Disetujui Komisi Pembimbing

Prof.Dr.Ir. Endang Suhendang,M.S. Prof.Dr.Ir. I Nengah Surati Jaya, M.Agr.

Ketua Anggota

Dr.Ir. Herry Purnomo, M.Comp. Prof.(Ris.) Dr.Ir. Pratiwi, M.Sc. Anggota Anggota

Diketahui:

Ketua Program Studi Mayor Dekan Sekolah Pascasarjana Ilmu Pengelolaan Hutan

Prof.Dr.Ir. Hariadi Kartodihardjo, MS Dr.Ir. Dahrul Syah, Msc.Agr

(10)

Dengan selesainya penelitian dan penulisan disertasi ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Ir. Endang Suhendang, MS; Prof. Dr. Ir. I Nengah Surati Jaya M.Agr; Dr. Ir. Herry Purnomo, M.Comp.; dan Prof.(Ris.) Dr. Ir. Pratiwi, M.Sc. selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan, arahan, perhatian, dorongan, saran, dan masukan.

2. Dr. Ir. Omo Rusdiana, M.ScF.Trop; Dr. Dra. Nining Puspaningsih, M.Si; Dr. Ir. Putera Parthama, M.Sc; dan Dr. Ir. Prijanto Pamoengkas, M.Sc.F.Trop. sebagai penguji luar komisi atas kesediaan untuk menguji dan memberikan saran serta masukan.

3. Pimpinan PT Toba Pulp Lestari beserta staf, Laboratorium Fisik Penginderaan

Jauh Fahutan IPB dan para pihak yang telah membantu dalam proses penelitian.

4. Kementerian Kehutanan yang telah memberikan beasiswa.

5. Kepada orang tua (Alm), istri, anak tercinta dan pihak-pihak lain atas segala dukungan dan doa dalam penyelesaian penelitian ini.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Juli 2012

(11)

pertama dari enam bersaudara dari pasangan Carnya Hadisiswanto (Alm) dan Tarkiyah (Alm). Penulis menikah dengan Ir. Indah Sakti Siddik pada tahun 1996 dan kami dianugerahi seorang putra Muhammad Rafi Aulia dan dua putri, yaitu

Hana Salsabila dan Maitsa Fadilah. Pendidikan sarjana ditempuh di Jurusan Teknologi Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan IPB, lulus pada tahun 1990. Pada tahun 2000 penulis diterima di Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan, Sekolah Pasca Sarjana IPB dan selesai pada tahun 2004. Kesempatan melanjutkan ke jenjang program doktor di Mayor Ilmu Pengelolaan Hutan, Sekolah Pasca

Sarjana IPB pada tahun 2007 atas beasiswa dari Kementerian Kehutanan.

Penulis bekerja sejak tahun 1992 sampai 2007 sebagai Peneliti di Balai Penelitian Kehutanan Pematang Siantar, Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Kementerian Kehutanan, mulai tahun 2007 sampai sekarang penulis bertugas sebagai peneliti di Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan, Badan Penelelitian dan Pengembangan Kehutanan,

(12)

PENDAHULUAN ………... 1

Latar Belakang …...………... 1

Rumusan Masalah …...………... 3

Tujuan Penelitian …...………... 4

Hipotesis ………... 5

Kerangka Pemikiran Penelitian ..……….... 5

Manfaat Penelitian ………... 6

Kebaruan (Novelty) Hasil Penelitian yang Diharapkan …….……... 7

TINJAUAN PUSTAKA ………... 9

Pembangunan Hutan Tanaman ………... 9

Karakteristik Tanaman Eucalyptus ……… 9

Pertumbuhan dan Hasil Tegakan ………... 12

Kualitas Tempat Tumbuh (Site Quality) ………... 15

Erosi Tanah ………... 16

Konservasi Tanah dan Air ………... 20

Pengaturan Hasil Hutan Kayu ………... 21

Sistem Informasi Geografis (SIG) ………... 25

Pemodelan Sistem dan Simulasi ………... 27

METODE PENELITIAN ………... 31

Waktu dan Tempat Penelitian ………... 31

Pengumpulan Data ………... 32

Pengolahan dan Analisis Data ………... 36

Analisis Spasial ... 40

Kajian Kelestarian Hasil ………... 41

Analisis Sistem ………... 42

HASIL DAN PEMBAHASAN... 45

Hasil ... 45

(13)

DAFTAR PUSTAKA ………... 99

(14)

II/2009 ...

4 Pengelompoken data PSP di hutan tanaman eucalyptus PT TPL Sektor Aek Nauli ...

33

5 Pengelompokan data plot aliran permukaan dan erosi tanah di hutan tanaman eucalyptus PT TPL Sektor Aek Nauli ...

35

6 Persamaan hubungan peninggi, diameter, tinggi dan volume tegakan di hutan tanaman eucalyptus PT TPL Sektor Aek Nauli ...

45

7 Peninggi tegakan eucalyptus di setiap bonita di hutan tanaman PT TPL Sektor Aek Nauli ……….

47

8 Model pendugaan diameter, tinggi dan volume tegakan untuk setiap bonita di hutan tanaman eucalyptus PT TPL Sektor Aek Nauli ……..

48

9 Daur, riap tahunan rata-rata, dan volume tegakan untuk setiap kelas bonita di hutan tanaman eucalyptus PT TPL Sektor Aek Nauli ...

50

10 Persamaan hubungan aliran permukaan dengan curah hujan dan persen kemiringan lahan di hutan tanaman eucalyptus PT TPL Sektor Aek Nauli ...

52

11 Karakteristik lahan dan kondisi tegakan eucalyptus di hutan tanaman PT TPL Sektor Aek Nauli ...

53

12 Pendugaan aliran permukaan, erosi tanah, dan penutupan tajuk di hutan tanaman eucalyptus PT TPL Sektor Aek Nauli ………..

53

13 Etat luas dan etat volume tanpa mempertimbangkan faktor erosi tanah pada daur 5 tahun, 6 tahun, 7 tahun, dan 8 tahun di hutan tanaman eucalyptus PT TPL Sektor Aek Nauli ………..

62

14 Etat luas dan etat volume dengan mempertimbangkan faktor erosi tanah pada daur 5 tahun, 6 tahun, 7 tahun, dan 8 tahun di hutan tanaman eucalyptus PT TPL Sektor Aek Nauli ………

(15)

Sektor Aek Nauli

17. Hasil analisis biaya pembangunan hutan tanaman eucalyptus PT TPL Sektor Aek Nauli ……….

(16)

Nauli ………...

4. Plot pengamatan aliran permukaan dan erosi tanah di hutan tanaman eucalyptus PT TPL Sektor Aek Nauli ...

34

5. Tahapan analisis spasial lahan yang aman dari bahaya erosi tanah di hutan tanaman eucalyptus PT TPL Sektor Aek Nauli ………..

41

6. Kurva peninggi tegakan eucalyptus untuk setiap bonita di hutan tanaman PT TPL Sektor Aek Nauli …...

47

7. Kurva pertumbuhan total diameter (A), tinggi (B), dan volume tegakan eucalyptus (C) di hutan tanaman PT TPL Sektor Aek Nauli…

49

8. Kurva aliran permukaan (A) dan erosi tanah (B) pada kemiringan lahan 9%, 15%, dan 25% di lahan hutan tanaman eucalyptus PT TPL Sektor Aek Nauli ……...

54

9. Kurva penutupan tajuk hutan tanaman eucalyptus di PT TPL Sektor Aek Nauli .………...

54

10. Peta bonita di hutan tanaman eucalyptus PT TPL Sektor Aek Nauli … 55

11. Tingkat bahaya erosi tanah yang terjadi di hutan tanaman eucalyptus PT TPL Sektor Aek Nauli ……….

56

12. Hubungan keterkaitan antar sub model dalam pengaturan hasil di hutan tanaman eucalyptus PT TPL Sektor Aek Nauli ……….….

57

13. Sub model pertumbuhan tegakan di hutan tanaman eucalyptus PT TPL Sektor Aek Nauli ………...

58

14. Sub model pengaturan hasil di hutan tanaman eucalyptus PT TPL Sektor Aek Nauli ………..

59

15. Sub model penutupan tajuk tegakan eucalyptus di hutan tanaman PT TPL Sektor Aek Nauli ……….

(17)

tahun, (3) daur 7 tahun, dan (4) daur 8 tahun di hutan tanaman eucalyptus PT TPL Sektor Aek Nauli ………..…….

18. Erosi yang terjadi pada kemiringan lahan 34-45% (1); 46-58% (2); di atas 58% (3); persen penutupan tajuk (4); dan ambang batas toleransi erosi (60 ton/ha/tahun) (5) di hutan tanaman eucalyptus PT TPL Sektor Aek Nauli .……….

64

19. Titik BEP usaha pembangunan hutan tanaman eucalyptus di PT TPL Sektor Aek Nauli ……….

67

20. Grafik tingkat erosi tanah, penutupan tajuk, dan faktor koreksi volume tegakan yang dapat dipanen (fp) pada daur 5 tahun di hutan tanaman eucalyptus PT TPL Sektor Aek Nauli ………..

68

21. Grafik tingkat erosi tanah, penutupan tajuk, dan faktor koreksi volume tegakan yang dapat dipanen (fp) pada daur 6 tahun di hutan tanaman eucalyptus PT TPL Sektor Aek Nauli ………..

69

22. Grafik tingkat erosi tanah, penutupan tajuk, dan faktor koreksi volume tegakan yang dapat dipanen (fp) pada daur 7 tahun di hutan tanaman eucalyptus PT TPL Sektor Aek Nauli ………..

70

23. Grafik tingkat erosi tanah, penutupan tajuk, dan faktor koreksi volume tegakan yang dapat dipanen (fp) pada daur 7 tahun di hutan tanaman eucalyptus PT TPL Sektor Aek Nauli ………..

71

24. Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi tanah untuk bonita I pada daur 8 tahun di hutan tanaman PT TPL Sektor Aek Nauli ……….

72

25. Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi tanah untuk bonita II pada daur 8 tahun di hutan tanaman PT TPL Sektor Aek Nauli ……….

73

26. Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi tanah untuk bonita III pada daur 8 tahun di hutan tanaman PT TPL Sektor Aek Nauli ……….

74

27. Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi tanah untuk bonita IV pada daur 8 tahun di hutan tanaman PT TPL Sektor Aek Nauli ………..

(18)

31. Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi tanah untuk bonita IV pada daur 7 tahun di hutan tanaman PT TPL Sektor Aek Nauli ………..

79

32. Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi tanah untuk bonita I pada daur 6 tahun di hutan tanaman PT TPL Sektor Aek Nauli ………

80

33. Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi tanah untuk bonita II pada daur 6 tahun di hutan tanaman PT TPL Sektor Aek Nauli ………

81

34. Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi tanah untuk bonita III pada daur 6 tahun di hutan tanaman PT TPL Sektor Aek Nauli ………

82

35. Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi tanah untuk bonita IV pada daur 6 tahun di hutan tanaman PT TPL Sektor Aek Nauli ………

83

36. Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi tanah untuk bonita I pada daur 5 tahun di hutan tanaman PT TPL Sektor Aek Nauli ………...

84

37. Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi tanah untuk bonita II pada daur 5 tahun di hutan tanaman PT TPL Sektor Aek Nauli ………

85

38. Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi tanah untuk bonita III pada daur 5 tahun di hutan tanaman PT TPL Sektor Aek Nauli ………

86

39. Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi tanah untuk bonita IV pada daur 5 tahun di hutan tanaman PT TPL Sektor Aek Nauli ………

(19)

Halaman

1. Data karakteristik tegakan eucalyptus di PT Toba Pulp Lestari Sektor Aek Nauli ………..

108

2. Data aliran permukaan dan erosi di lahan kosong ………. 115

3. Data aliran permukaan dan erosi di hutan tanaman eucalyptus kelas hutan tanaman eucalyptus PT TPL Sektor Aek Nauli ………. 132 9. Foto kondisi lahan dan tegakan eucalyptus di PT TPL Sektor Aek Nauli ……….. 134 10. Hasil analisis regresi peninggi, diameter, tinggi, dan volume tegakan dengan umur tegakan …... 135 11. Hasil analisis regresi pada bonita I ……….………… 137

12. Hasil analisis regresi pada bonita II ………... 140

13. Hasil analisis regresi pada bonita III ………. 143

14. Hasil analisis regresi pada bonitaIV …………... 146

(20)

di Indonesia dimaksudkan untuk dapat meningkatkan produktivitas lahan hutan

dengan berlandaskan kepada prinsip kelestarian hasil. Untuk mencapai kelestarian hasil diperlukan kondisi hutan normal yaitu hutan yang dibentuk oleh tegakan-tegakan yang pertumbuhannya normal yang memenuhi syarat-syarat konsep ideal susunan umur tegakan, besarnya volume tegakan persediaan, sebaran ukuran

pohon-pohon dalam tegakan dan riap tegakan (Helms 1998). Kelestarian hasil menyatakan bentuk prinsip yang dipegang dalam pengelolaan tegakan hutan yang bersifat dapat memberikan hasil secara lestari, sedangkan hutan normal menyatakan bentuk wujud hutan yang menjadi syarat agar daripadanya dapat

diperoleh hasil secara lestari (Suhendang 1999).

Untuk mencapai kelestarian hasil diperlukan rencana pengelolaan jangka panjang, dimana pengaturan hasil merupakan komponen utamanya. Pengaturan hasil merupakan suatu metode yang digunakan untuk mengontrol hasil hutan dan produk lainnya dalam preskripsi rencana pengelolaan termasuk kapan, dimana,

dan bagaimana hasil seharusnya dapat dipanen (FAO 1998). Prinsip dasar dalam pengaturan hasil adalah mengatur panenan kayu yang sama setiap tahun secara terus-menerus dalam jangka panjang (Roise et al. 2000). Kelestarian hasil tegakan akan dicapai apabila pertumbuhan dan panen berlangsung secara

seimbang. Kelestarian hasil dipakai sebagai prinsip dasar dalam pemanenan dan sangat bergantung pada sistem pengaturan hasil yang digunakan.

Pada saat ini, metode pengaturan hasil dalam hutan tanaman dirumuskan hanya berdasarkan pada aspek produksi, sedangkan dampak yang terjadi seperti

erosi tanah belum diperhatikan dalam metode pengaturan hasil. Pembangunan hutan tanaman tidak hanya memfokuskan keberlanjutan fungsi produksi, namun perlu juga memperhatikan keberlanjutan fungsi lindung. Hal ini sesuai dengan amanat Undang-undang No 41 tahun 1999 tentang Kehutanan yang menyatakan

(21)

mencapai manfaat yang seimbang dan lestari. Untuk dapat mewujudkan prospek pengelolaan hutan tanaman yang baik, maka metode pengaturan hasil yang perlu diterapkan, yaitu (1) bagaimana mengatur hasil hutan tanaman berdasarkan

tingkat produktivitas lahan, dan (2) bagaimana melindungi lahan hutan tanaman agar dampak erosi tanah yang terjadi dapat diminimalisir.

Keberlanjutan panenan menunjukkan jumlah volume kayu yang ditebang sama, baik kuantitas maupun kualitas secara terus-menerus dalam periode jangka

panjang. Adanya keragaman kualitas tempat tumbuh mengakibatkan produksi tegakan suatu jenis tertentu di lokasi yang satu dengan lokasi lainnya tidak selalu sama (Jayaraman & Rugmini 2008). Oleh karena itu, perlu dilakukan pengelompokkan kualitas tempat tumbuh agar setiap tahun luas tebangan dan

volume kayunya sama. Pengaturan hasil dengan mengatur luas tebangan yang sesuai dengan produktivitas lahan berarti mengelola vegetasi dalam suatu bentang alam yang terkait dengan tingkat produktivitas tegakan (Krebs 1994). Pemanenan yang melebihi kapasitas pertumbuhan tegakan setempat akan menyebabkan tidak tercapainya asas kelestarian, dan sebaliknya apabila intensitas pemanenan

terlampau rendah berarti pemanfaatan hutan tanaman tidak optimal. Seperti terjadi di hutan tanaman jati di Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Cepu, KPH Randublatung dan KPH Blora tidak mencapai prospek pengelolaan yang baik karena penebangan lebih besar dari volume kayu yang ditentukan setiap

tahunnnya (Kuncahyo 2006). Panenan harus diatur sedemikian rupa sehingga tetap tidak melampui kapasitas sumberdaya hutannya (Seydack 1995).

Kehadiran vegetasi pada suatu areal mampu mengendalikan bahaya erosi tanah. Vegetasi mampu mengendalikan laju aliran permukaan sehingga dapat

mengurangi bahaya erosi tanah (Sukirno 1995). Tingkat penurunan erosi tanah tergantung pada komposisi jenis dan tipe penutupannya (Arrijani et al. 2006; Arsyad 2006; Asdak 2007). Pada lahan hutan dengan kemiringan antara 8,75 – 16,5% hampir tidak menimbulkan erosi tanah, sedangkan pada lahan yang tidak

(22)

jangka panjang akan mengakibatkan menurunnya kesuburan tanah. Penurunan kesuburan tanah akan menyebabkan penurunan produktifitas sumberdaya lahan

(Ispriyanto et al. 2001).

Pengaturan hasil hutan menjadi sangat penting, karena hampir semua ekses yang ditimbulkan dalam kelola hutan produksi bersumber dari adanya pemanenan kayu. Hal ini perlu dilakukan suatu pengkajian yang mendalam menyangkut

metode pengaturan hasil di hutan tanaman untuk mendapatkan produksi yang lestari dengan mempertimbangkan kualitas tempat tumbuh dan dampak erosi tanah yang terjadi. Untuk itu, penelitian perlu dilakukan di areal yang tingkat topografinya yang beragam. Salah satu lokasi yang dipilih adalah hutan tanaman eucalyptus di Provinsi Sumatera Utara yang dikembangkan oleh PT Toba Pulp

Lestari (PT TPL) untuk kelas perusahaan kayu serat (pulp) yang berada di daerah dataran tinggi. Jenis eucalyptus yang diteliti adalah Eucalyptus urograndis. E. urograndis merupakan jenis hasil persilangan antara Eucalyptus urophylla S.T. Blake dengan Eucalyptus grandis W.Hill ex Maid. Jenis eucalyptus ini cocok

dikembangkan di daerah tropis (Harwood 1998; Leksono 2010) yang dipanen pada umur 6 - 7 tahun (Harmoko 2004; Quilho et al. 2006), dan layak untuk digunakan sebagai bahan baku pulp pada umur 4 – 5 tahun (Sihite 2008).

Rumusan Masalah

Untuk mewujudkan pengelolaan hutan tanaman eucalyptus secara berkelanjutan, maka produktivitas harus dipertahankan bahkan ditingkatkan dari

periode tebang yang satu ke periode tebang berikutnya (Nambiar 2004). Kelestarian produksi dari hutan tanaman sangat ditentukan oleh keeratan hubungan antara peubah yang saling mempengaruhi produktivitas lahan hutan, yaitu kualitas tempat tumbuh, pertumbuhan dan hasil tegakan, dan dampak erosi

(23)

mengindentifikasi produktivitas tegakan baik pada saat sekarang maupun yang akan datang. Kualitas tempat tumbuh biasanya dinyatakan dengan kelas kualitas tempat tumbuh (bonita) yang dapat digunakan sebagai dasar pendelenasian

kawasan hutan ke dalam unit-unit pengelolaan yang homogen (Daviset al. 2001). Penyusunan pengaturan hasil hutan tanaman eucalyptus harus didukung tersedianya data/informasi potensi tegakan yang dihadapi saat ini, dan kemampuan memproyeksikan potensi masing-masing tegakan di setiap kelas

kualitas tempat tumbuh pada saat menjelang tebangan. Data potensi tegakan saat ini dapat diketahui dengan kegiatan inventarisasi hutan, sedangkan proyeksi struktur tegakan menjelang tebangan dapat dijabarkan dengan bantuan model pertumbuhan dan hasil tegakan.

Atas dasar permasalahan di atas, maka masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah:

1. Sejauhmanakah kualitas tempat tumbuh kawasan hutan tanaman eucalyptus? 2. Bagaimanakah tingkat bahaya erosi yang terjadi di kawasan hutan tanaman

eucalyptus?

3. Berapakah kerapatan tinggal per hektar pada kemiringan lahan tertentu agar erosi tanah yang terjadi masih dapat ditoleransi?

4. Dengan memperhatikan permasalahan 1, 2 dan 3, maka bagaimanakah rumusan metode pengaturan hasil hutan tanaman eucalyptus yang dapat

memberikan panenan hasil yang sama setiap tahun dengan kendala tingkat erosi tanah yang tidak melebihi ambang batas yang ditentukan?

Tujuan Penelitian

Tujuan utama penelitian ini adalah menyusun rumusan metode pengaturan hasil hutan tanaman eucalyptus yang dapat memberikan panenan hasil yang sama setiap tahun berdasarkan tegakan persediaan nyata dengan kendala tingkat erosi

tanah yang tidak melebihi ambang batas yang ditentukan. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan tahapan:

(24)

Untuk menjawab permasalahan penelitian seperti yang telah diuraikan di

atas dapat diajukan tiga hipotesis sebagai berikut:

1. Kelas kualitas tempat tumbuh dapat mempengaruhi produksi tegakan eucalyptus.

2. Kondisi lahan, curah hujan dan kelas umur tegakan eucalyptus akan

mempengaruhi tingkat bahaya erosi tanah.

3. Erosi tanah pada tingkat kemiringan lahan tertentu akan menentukan kerapatan tegakan tinggal per hektar.

Kerangka Pemikiran Penelitian

Beragamnya kualitas tempat tumbuh telah menghasilkan produksi kayu yang berbeda (Devis et al. 2001), dan kondisi topografi yang beragam dapat menimbulkan erosi yang berbeda (Arsyad 2006). Pengelompokan kualitas tempat

tumbuh merupakan salah satu cara untuk mengatur luas dan hasil tebangan yang sama setiap tahun. Pengendalian erosi tanah sampai batas yang ditoleransi dapat mempertahan tingkat produktivitas lahan secara berkelanjutan. Dengan demikian, pengelompokan kualitas tempat tumbuh dan pengendalian bahaya erosi tanah

(25)

Gambar 1. Kerangka pemikiran penelitian

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat, kepada berbagai pihak

dengan rincian sebagai berikut:

a. Bagi para pengambil kebijakan di tingkat pusat, provinsi dan kabupaten. Penelitian ini akan menyajikan informasi dan pembelajaran dari studi kasus untuk mendukung pengelolaan hutan tanaman.

b. Bagi kelompok akademisi. Penelitian ini akan memberikan sumbangan untuk pengembangan ilmu pengetahuan dalam analisis pengaturan hasil, khususnya untuk diterapkan pada upaya pengembangan hutan tanaman.

c. Bagi pelaku pengelola hutan tanaman. Hasil penelitian akan memberikan

informasi dan pembelajaran dari studi kasus, tentang hambatan yang dihadapi Model indeks

tempat tumbuh

Metode pengaturan hasil berdasarkan optimasi antara tegakan persediaan nyata dan erosi tanah

(26)

(1995), Krisnawati (2001), Baroto (2001), Kuncahyo (2006), van Gardingen et al. (2006) (Tabel 1). Namun dampak lingkungan seperti erosi tanah belum ditelaah

dalam metode pengaturan hasil di hutan tanaman. Oleh karena itu, rancangan kebaruan (novelty) hasil penelitian yang diharapkan dari penelitian ini adalah rumusan tentang metode pengaturan hasil berdasarkan optimasi antara tegakan persediaan nyata dan erosi tanah. Sebagai gambaran mengenai keaslian rumusan

masalah penelitian yang telah dilakukan ini, dapat dilihat dari masalah-masalah yang telah diteliti dari penelitian-penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti seperti tertera pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil-hasil penelitian tentang pengaturan hasil

No. Kategori Sumber

1. Pengaturan hasil berdasarkan luas dan volume Perum Perhutani (1974) 2. Pengaturan hasil berdasarkan luas dan volume Dephut (1989)

3. Pengaturann hasil berdasarkan jumlah pohon Suhendang (1993) 4. Pengaturan hasil berdasarkan volume dan riap Wahjono (1995) 5. Pengaturan hasil berdasarkan luas dan volume Seydack (1995) 7. Pengaturan hasil berdasarkan jumlah pohon Krisnawati (2001) 8. Pengaturan hasil berdasarkan luas dengan

volume, dan volume dengan riap

Baroto (2001)

9. Pengaturan hasil berdasarkan tegakan persediaan, riap tegakan dan gangguan hutan

Kuncahyo (2006)

10. Pengaturan hasil berdasarkan luas dan volume van Gardingen et al. (2006)

Dari data pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa metode pengaturan hasil yang telah

(27)
(28)

serta Pemanfaatan Hutan adalah hutan tanaman pada hutan produksi yang dibangun oleh kelompok industri kehutanan untuk meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi dengan menerapkan silvikultur dalam rangka memenuhi kebutuhan bahan baku industri hasil hutan. Indonesia telah mengupayakan

pembangunan HTI dalam rangka merehabilitasi kawasan hutan yang tidak/kurang produktif atau mengalami degradasi, agar mampu menghasilkan produk kayu untuk memenuhi bahan baku industri kehutanan (Kustiawan 2006). Program HTI diharapkan dapat meningkatkan produktivitas tegakan, kualitas tempat tumbuh tetap terjaga, dan terpenuhinya pasokan bahan baku bagi kepentingan industri

serta penyerapan lapangan usaha (Dephut 1999).

Pada tahun 1990-an telah dibangun HTI secara besar-besaran dengan berlandaskan kepada PP No. 7 tahun 1990 tentang Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri (HPHTI). Tujuan pembangunan HTI yaitu:

1. Meningkatkan produktivitas, potensi dan kualitas kawasan hutan produksi yang tidak produktif.

2. Memenuhi kebutuhan bahan baku industri.

3. Menunjang pengembangan industri hasil hutan guna meningkatkan nilai

tambah dan devisa.

4. Memperbaiki mutu lingkungan hidup.

5. Memperluas kesempatan kerja dan kesempatan usaha.

Berdasarkan PP No. 6 Tahun 1999 bahwa tujuan pembangunan hutan tanaman adalah untuk memperbaiki potensi hutan yang terlanjur rusak dan untuk

(29)

Eucalyptus termasuk famili Myrtaceae yang tumbuh tersebar mulai dari Australia, Selandia Baru, Papua New Guinea, Filipina, Kepulauan Pasifik Selatan, dan Indonesia bagian Timur (Kepulauan Timor dan sekitarnya, Irian Jaya, Pulau

Seram, dan Sulawesi). Pada umumnya pohon eucalyptus berbatang bulat, lurus tidak berbanir dan sedikit cabang, berbentuk semak sampai berbentuk pohon. Daun eucalyptus pada umumnya berbentuk lanset sampai bulat telur, bagian ujung agak berkait, panjang daun 10 - 15 cm, lebar 1,5 - 5 cm. Pada pohon yang masih

muda kedudukan daun berhadapan, sedangkan pada pohon yang sudah tua kedudukan daun agak bersilang. Bunga eucalyptus mengumpul atau berbongkol dan bertangkai. Buah berbentuk bulat seperti lonceng dengan ukuran 6 - 16 mm, berwarna hijau kekuningan, berisi banyak biji (Sutisna et al. 1998). Pada

umumnya jenis-jenis Eucalyptus spp. berukuran besar dengan tajuk pohon jarang dan bebas cabang tinggi sekali. E.urophyllamerupakan jenis cepat tumbuh. Jenis E.urophyllayang unggul diameter pohonnya bisa mencapai 120 cm dengan tinggi 35 m, sedangkan jenis E. grandis mempunyai keistimewaan dapat mencapat tinggi pohon 45 - 55 m dan diameter pohon 1 - 2 m dengan bebas cabang yang

sangat tinggi mencapai tiga perempat dari tinggi total (Dirjen RRL 1998). E. grandis merupakan jenis eucalyptus yang sangat cepat dalam pertumbuhannya terutama pohon dapat mencapai tinggi di atas 75 m dengan warna kulit batang putih kehijauan yang halus (Eldridge et al.1993).

Tanaman eucalyptus dapat tumbuh mulai dari dataran rendah (di tepi pantai) sampai pada ketinggian 2.400 m dpl. Tanaman ini menyukai daerah tropis, curah hujan antara 500 - 2.000 mm/tahun, suhu antara 22 - 32,5oC dan dapat hidup pada berbagai jenis tanah. Persyaratan tumbuh, baik keadaan tanah maupun

lingkungan berbeda-beda tergantung jenisnya, jenis E. urophylla merupakan jenis yang tumbuh alami di bagian Timur Indonesia yaitu di Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Gunung Mutis Soe. Jenis ini menyukai kawasan yang beriklim kering dengan type hujan C, D dan E dari Schimdt dan Ferguson, tumbuh

(30)

800 m dpl, curah hujan tahunan rata-rata 1.000 – 3.500 mm dengan temperatur maksimum sekitar 24 - 300C. Tumbuh baik pada lahan datar atau dengan

kemiringan yang tidak curam, serta tumbuh pada tanah alluvial di tempat-tempat dekat air tetapi tidak tergenang air dan mengandung lempung. Musim berbunga dan berbuah jenis ini antara bulan Januari sampai Agustus (Boland et al.1989).

E. urograndis (E. urophylla x E. grandis) merupakan hasil persilangan

antara E. urophylla dan E. grandis, sehingga E. urograndis diharapkan dapat tumbuh pada tempat tumbuh kedua tetuanya. Di Indonesia E. urograndis diusahakan dalam skala luas oleh PT Toba Plup yang berada di Kabupaten Simalungun, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Humbang Hasundutan, Provinsi Sumatera Utara. Di Brazil tanaman E.

urograndistumbuh baik pada tanah jenis Ultisol dan Oxisol yang bersolum dalam dan memiliki kapasitas menyimpan air sedang, pada curah hujan rata-rata 900 – 1.500 mm per tahun. E. urograndis dapat tumbuh baik pada ketinggian tempat antara 0 – 3.000 m dpl dan suhu rata-rata 25°C, suhu maksimum 29°C dan suhu

minimum sekitar 20°C (Gonçalves et al.1997).

Jenis eucalyptus menyukai cahaya dan selalu hijau sepanjang tahun. Pada waktu muda pertumbuhan diameter dan tingginya termasuk cepat (Napitupulu 1995). Menurut Mackensen (2000), eucalyptus membutuhkan tapak dengan

tanah yang dalam dan pasokan air yang cukup serta membutuhkan perawatan yang intensif, terutama dalam hal pengendalian tanaman pengganggu. Menurut Eldridge et al. (1993), jenis Eucalyptus spp. banyak memerlukan cahaya namun kurang memberikan naungan. Perkembangan akar tunggang ke arah vertikal

(31)

Informasi pertumbuhan dan hasil tegakan dalam bentuk ukuran kuantitatif merupakan informasi sangat penting untuk keberhasilan pengelolaan hutan, karena informasi tersebut merupakan dasar penyusunan rencana pengelolaan yang

merupakan titik tolak tingkat perolehan hasil dan pencapaian asas kelestarian. Pemanenan yang melebihi kapasitas pertumbuhan tegakan akan menyebabkan tidak tercapainya asas kelestarian, tetapi sebaliknya apabila intensitas pemanenan terlampau rendah berarti pemanfaatan sumberdaya hutan tidak optimal dan

mengurangi pendapatan usaha.

Pertumbuhan dan hasil tegakan berkaitan erat satu sama lain karena hasil suatu tegakan merupakan akumulasi riap dari tegakan yang bersangkutan selama periode tumbuhnya atau sampai waktu tertentu (Spurr 1952). Pertumbuhan

tegakan merupakan tulang punggung ilmu pengelolaan hutan yang bertujuan menghasilkan kayu (Simon 2007).

Pertumbuhan/Riap menyatakan pertambahan atau perubahan dimensi/kuantitas pohon atau tegakan dalam periode waktu tertentu, sedangkan hasil adalah dimensi akhir tegakan atau total produksi yang diperoleh pada akhir

periode waktu tertentu atau saat pemanenan (Vanclay 1994). Bahkan bisa menyatakan pertambahan luas bidang dasar, diameter atau tinggi pohon dalam periode tertentu (Simon 2007). Prodan (1968) mendefinisikan pertumbuhan sebagai suatu sistem organik di dalam waktu tertentu yang diukur menurut satuan

panjang, berat, isi dan luas.

Dalam ukuran kuantitatif, pada umumnya informasi pertumbuhan dan hasil tegakan dirangkum dalam bentuk model pertumbuhan atau model hasil yang merupakan hubungan parameter tegakan dengan umur. Vanclay (1994)

menerangkan bahwa model pertumbuhan dan model hasil dapat digunakan: 1. Untuk menilai produktivitas hutan.

2. Untuk memprediksi hasil kayu (volume kayu) pada masa yang akan datang. 3. Untuk menguji beberapa pilihan teknik silvikultur dan pemanenan.

4. Untuk menentukan pemanenan secara lestari.

(32)

Didasari pernyataan bahwa pertumbuhan adalah perubahan dimensi tegakan dalam periode waktu tertentu. Apabila periode waktu dibuat 1 tahun, maka

pertumbuhan adalah riap tahun berjalan (Current Annual Increment- CAI). CAI merupakan turunan (differential) pertama dari model hasil. Riap tahunan rata-rata (Mean Annual Increment – MAI) merupakan bentuk informasi sederhana dari gambaran pertumbuhan tegakan. Dengan melihat MAI secara mudah dapat

dibayangkan perkembangan tegakan yang bersangkutan. Sebagai contoh suatu tegakan pada umur 8 tahun mempunyai MAI sebesar 25 m3/ha/tahun, maka dengan cepat diperhitungkan bahwa volume tegakan pada umur 8 tahun adalah 200 m3/ha.

Riap diameter dan tinggi pohon merupakan komponen yang penting dalam

menentukan riap volume. Riap volume suatu tegakan bergantung pada kepadatan (jumlah) pohon yang menyusun tegakan tersebut, jenis, dan kesuburan tanah. Riap volume suatu pohon dapat dilihat dari kecepatan tumbuh diameter, yang setiap jenis mempunyai laju yang berbeda-beda (Simon 2007). Kondisi

pertumbuhan tersebut dikenal dengan model sigmoid (mengikuti bentuk S terhadap waktu), yaitu pada awal pertumbuhan meningkat perlahan, kemudian cepat, selanjutnya lambat sampai konstan dan akhirnya berhenti pada umur tanaman tua (Prodan 1968).

Penentuan CAI dan MAI sangat penting dalam penentuan daur volume maksimum yaitu titik perpotongan antara kurva CAI dengan kurva MAI dimana tegakan mencapai riap volume maksimum. Oleh karena itu, umur tersebut ditetapkan sebagai daur volume maksimum (Simon 2010).

(33)

pohon/tegakan dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok, yaitu faktor genetik, faktor lingkungan, dan tindakan silvikultur. Faktor-faktor lingkungan yang berhubungan dengan pertumbuhan pohon dapat dipilah menjadi kerapatan

tegakan, kondisi iklim dan kondisi tanah (Bruce & Schumacher 1950; Kramer & Kozlowski 1960).

Produktivitas yang tinggi dari jenis cepat tumbuh merupakan daya tarik bagi pengusaha untuk berinvestasi pada hutan tanaman. Hutan alam pada umumnya

mempunyai riap yang rendah sebesar 1 - 2 m3/ha/tahun (Nambiar & Brown 1997), sedangkan riap di hutan tanaman antara 10 - 25 m3/ha/tahun dan bahkan dapat mencapai 50 m3/ha/tahun untuk jenis-jenis tertentu (Evans 1992).

Riap jenis-jenis eucalyptus sangat beragam tergantung faktor lingkungan

dan managemen yang diterapkan. Di Brazil, MAI eucalyptus dengan daur tebang 8 - 10 tahun dapat mencapai 18 – 20 m3/ha/tahun, di Kongo dengan daur tebang 7 tahun mencapai 30 m3/ha/tahun, di Rwanda pada daur tebang 8 tahun menghasilkan 8,5 m3/ha/tahun, di Afrika Selatan dengan daur tebang 8 - 10 tahun mencapai 18 – 20 m3/ha/tahun, dan di Burundi pada daur tebang 8 tahun hanya

mencapai antara 1 – 2 m3/ha/tahun (FAO 1993; Nambiar & Brown 1997).

E. urograndis telah dikembangkan secara luas dalam skala operasional di Afrika Selatan dan Kongo. Produktivitas E. urograndis sangat tinggi dan memiliki riap tahunan rata-rata sebesar 70 m3/ha/tahun (Campinhos 1993).

Sedangkan di Brazil E. urograndis menghasilkan MAI dengan kisaran 12 - 48 m3/ha/tahun (Gonçalves et al. 1997).

Produktivitas E. urograndissangat ditentukan oleh jenis tanah dan besarnya curah hujan tahunan. Di Brazil, MAI E. urograndis sebesar 30 m3/ha/tahun

(34)

(temperatur, jumlah dan distribusi hujan sepanjang tahun, dan kelembaban udara), serta karakteristik topografi (Bruce & Schumacher 1950; Husch et al. 2003).

Penentuan kualitas tempat tumbuh sangat terkait dengan banyaknya kayu yang dapat dihasilkan dari suatu lahan hutan. Produktivitas kayu dari suatu lahan hutan dan kualitas tempat tumbuh didefinisikan oleh Davis et al. (2001) sebagai jumlah volume maksimum yang dapat dihasilkan dari suatu lahan hutan dalam

daur tertentu, sehingga dapat dijelaskan seberapa baik suatu lahan dan berapa banyak kayu yang dapat dihasilkan dari pertumbuhannya. Kualitas tempat tumbuh merupakan nilai petunjuk (indeks) yang berhubungan dengan produktivitas kayu. Hasil ini semakin menegaskan hubungan yang erat antara kualitas tempat tumbuh dengan produktivitas kayu yang dapat dihasilkan dari

suatu lahan hutan. Semakin baik kualitas tempat tumbuh, maka produktivitas kayu yang dihasilkan juga akan semakin besar.

Indeks tempat tumbuh (site index) merupakan pendekatan yang paling umum digunakan untuk menaksir kualitas tempat tumbuh pada pengelolaan hutan.

Site index didefinisikan sebagai tinggi pohon maksimum pada umur tertentu sebagai dasar penentuannya (Davis et al. 2001). Metode ini menduga kualitas tempat tumbuh secara tidak langsung dengan menggunakan paremeter umur dan peninggi. Dalam pengelolaan tegakan jati, kelas kualitas tempat tumbuh disebut

juga dengan bonita. Menurut Davis et al. (2001) pendekatan kelas kualitas tempat tumbuh ini lebih baik daripada metode pendugaan yang menggunakan pendekatan karakterisitik tanah maupun komposisi tumbuhan bawah, karena tinggi pohon merupakan parameter yang paling praktis, bersifat konsisten dan indikator yang

(35)

yang lemah dengan kepadatan serta komposisi jenis.

Indeks tempat tumbuh menunjukkan rata-rata tinggi dari pohon dominan pada berbagai variasi umur yang dibuat untuk spesies tertentu pada suatu daerah

(Davis et al. 2001). Setiap spesies memiliki kecepatan pertumbuhan yang berbeda-beda pada berbagai macam kondisi tempat tumbuh, oleh karena itu grafik bonita hanya berlaku untuk spesies tertentu pada tempat tumbuh tertentu pula.

Kurva site index dibuat berdasarkan sebaran data pertumbuhan dalam

bentuk peninggi pada setiap umur. Bentuk kurva pertumbuhan dapat mengikuti model anomorphic maupun polymorphic. Kurva anomorphic dikembangkan dengan mencocokan rata-rata peninggi dengan umur panduan (akhir daur) yang didasarkan pada data dan menyusun rangkaian dari kurva tertinggi atau terendah

dengan bentuk kurva yang seragam sesuai dengan kurva panduan (Davis et al. 2001). Asumsi yang dibangun pada bentuk kurva anomorphic adalah koefisien variasi dari peninggi tegakan yang digunakan untuk menentukan kurva panduan adalah konstan. Kurva ini memiliki keterbatasan yaitu secara rinci dari hasil analisis batang, pohon yang tumbuh pada tempat yang berbeda tidak semuanya

menunjukkan bentuk kurva pertumbuhan meninggi yang sama (Davis et al. 2001). Kurva anomorphic lebih banyak digunakan dalam pembuatan site index tegakan dengan variabel terikatnya berupa peninggi dan sebagai variabel bebasnya adalah umur tegakan, sehingga bentuk persamaan yang dihasilkan sederhana, mudah dan

memiliki bentuk pertumbuhan yang mendekati dengan pertumbuhan tegakan yang sebenarnya (Onyekwelu 2005).

Erosi Tanah

Erosi tanah adalah suatu peristiwa hilang atau terkikisnya tanah atau bagian tanah dari suatu tempat ke tempat lain, baik disebabkan oleh pergerakan air, angin, dan es. Di daerah tropis seperti Indonesia, erosi terutama disebabkan oleh air hutan.

Menurut Arsyad (2006), erosi terjadi akibat interaksi kerja antara faktor iklim, topografi, vegetasi dan manusia. Pratiwi (2007) menyatakan bahwa erosi sangat ditentukan antara lain oleh kelerengan, jenis tanah, dan jenis/umur tanaman. Semakin tinggi kelerengan, semakin tinggi erosi tanah. Jenis-jenis tanah yang

(36)

akan terjadi peningkatan jumlah serasah sehingga akan menahan laju aliran permukaan dan akibatnya akan terjadi penurunan erosi tanah.

Faktor tanah yang mempengaruhi erosi dan sedimentasi yang terjadi adalah luas jenis tanah yang peka terhadap erosi, luas lahan kritis atau daerah erosi dan luas tanah berkedalaman rendah. Sedangkan kondisi sifat tanah yang baik yaitu kondisi solum yang dalam, porositas tanah yang tingi, dan permeabilitas yang

tinggi akan menyebabkan besarnya nilai infiltrasi sehingga aliran permukaan menjadi kecil (Ispriyanto et al.2001).

Tabel 2. Erosi permukaan di hutan tropis dan sistem pohon – tanaman pangan

No. Penggunaan lahan Erosi (ton/ha/tahun)

Minimum Median Maksimum

1 Hutan alam 0,03 0,30 6,20

2 Ladang berpindah, periode bera 0,05 0,20 7,40

3 Perkebunan 0,02 0,60 6,20

4 Kebun pohon-pohonan multi strata 0,01 0,10 0,20 5 Tanaman pohon-pohonan dengan

tanaman penutup tanah/mulsa

0,10 0,80 5,60

6 Ladang berpindah, periode penanaman

0,40 2,80 70,00

7 Tumpang sari pertanian dengan hutan tanaman yang masih muda

0,60 5,20 17,40

8 Tanaman pohon-pohonan, disiangi bersih

1,20 48,00 183,00

9 Hutan tanaman, serasah dibersihkan atau dibakar

5,90 53,00 105,00

Sumber: Bruijnzeel (1988)dalamPurwanto dan Ruijter (2004)

Kecilnya aliran permukaan yang terjadi menyebabkan kecilnya erosi yang terjadi

(37)

tanah dapat dilihat pada pada Tabel 2.

Menurut Asdak (2007), proses erosi terdiri atas tiga bagian yang berurutan: pengelupasan (detachment), pengangkutan (transportation), dan pengendapan

(sedimentation). Erosi permukaan (tanah) disebabkan oleh air hujan dan juga dapat terjadi karena tenaga angin dan salju.

Faktor-faktor yang mempengaruhi erosi

Menurut Asdak (2007), erosi merupakan akibat dari interaksi kerja antara faktor-faktor iklim, topografi, vegetasi, dan manusia. Pada daerah yang beriklim basah menurut Arsyad (2006), faktor iklim yang paling mempengaruhi erosi dan

aliran permukaan adalah hujan. Jumlah intensitas dan distribusi hujan menentukan kekuatan dispersi hujan terhadap tanah, jumlah dan kecepatan aliran permukaan dan kerusakan tanah akibat erosi.

Menurut Arsyad (2006), faktor topografi yang berpengaruh terhadap erosi

adalah kemiringan dan panjang lereng. Unsur lain yang berpengaruh adalah konfigurasi, keseragaman, dan arah lereng. Sedangkan pengaruh vegetasi terhadap erosi yaitu a) intersepsi hujan oleh tajuk, 2) kecepatan aliran permukaan dan kekuatan perusak air, 3) akar tanaman dan kegiatan-kegiatan biologis yang berhubungan dengan pertumbuhan vegetatif dan stabilitas struktur dan porositas

tanah, 4) transpirasi yang mengakibatkan kandungan air tanah berkurang. Pengaruh vegetasi terhadap erosi terutama ditentukan oleh derajat penutupan lahan dari vegetasi. Faktor pengelolaan tanaman merupakan nisbah besarnya erosi dari tanah yang ditanami tanaman dengan pengelolaan (manajemen) tertentu terhadap erosi dari suatu lahan yang tidak ditanami. Efektivitas pengendalian

erosi oleh vegetasi ditentukan tinggi dan luas penutupan tajuk, kerapatan vegetasi, dan kerapatan perakaran. Menurut Ispriyanto et al. (2001) bahwa erosi yang terjadi kecil jika sifat-sifat tanahnya yang baik yaitu solum tanah yang dalam,

porositas tanah yang tinggi, dan nilai permeabilitas yang tinggi. Curah hujan yang jatuh sebagian besar akan diinfiltrasikan ke dalam tanah menjadi air bawah tanah dan mengalir sebagai aliran dasar (Arsyad 2006; Asdak 2007). Hasil pemantauan Pratiwi (2000) pada lahan kemiri umur 3 bulan selama enam bulan di musim

(38)

Sedangkan menurut Arsyad (2006), sifat-sifat yang mempengaruhi erosi adalah tekstur, struktur, bahan organik, kedalaman, sifat lapisan tanah, dan tingkat

kesuburan tanah. Peranan manusia merupakan faktor utama dalam proses erosi dimana peranan tersebut dapat positif atau negatif. Manusia berperan positif apabila tindakan manusia yang dilakukan dapat mengurangi besarnya kehilangan tanah. Faktor tindakan konservasi tanah yang dilakukan oleh manusia merupakan

nisbah besarnya erosi dari lahan dengan tindakan konservasi tertentu terhadap besarnya erosi dari suatu lahan yang tanpa dilakukan tindakan konservasi.

Tingkat bahaya erosi

Tingkat bahaya erosi adalah perkiraan kehilangan tanah maksimum dibandingkan dengan tebal solum tanahnya pada setiap unit lahan bila teknik pengelolaan tanaman dan konservasi tanah tidak mengalami perubahan. Penentuan tingkat bahaya erosi menggunakan pendekatan tebal solum tanah yang

(39)

Solum Tanah Keterangan: 0 (SR) = Sangat Ringan

I (R) = Ringan II (S) = Sedang III (B) = Berat IV (SB) = Sangat Berat

Konservasi Tanah dan Air

Pembangunan HTI termasuk upaya teknik konservasi tanah dan air yang dilakukan secara vegetatif. Konservasi tanah dan air secara vegetatif dilakukan

melalui pengelolaan tanaman berupa pohon atau semak, baik tanaman tahunan maupun tanaman setahun dan rumput-rumputan (Sinukaban 2003; Arsyad 2006). Teknologi vegetatif (penghutanan) sering dipilih karena selain dapat menurunkan erosi dan sedimentasi di sungai-sungai juga memiliki nilai ekonomi (tanaman

produktif) serta dapat memulihkan tata air suatu DAS (Hamilton & King 1997). Pemangkasan selektif terhadap kelebatan pohon sebesar 40% tidak menimbulkan erosi yang berarti, namun penebangan hutan dimana pohon-pohonnya ditarik keluar akan menimbulkan erosi tanah (Hamilton & King 1997). Pengelolaan

tanah secara vegetatif dapat menjamin keberlangsungan keberadaan tanah dan air karena memiliki sifat:

1. Memelihara kestabilan struktur tanah melalui sistem perakaran dengan memperbesar granulasi tanah,

(40)

3. Perakaran tanaman akan memperbesar granulasi dan porositas tanah.

4. Mempengaruhi aktifitas mikroorganisme yang berakibat pada meningkatkan

porositas tanah.

5. Transpirasi tanaman akan berpengaruh pada lengas tanah pada hari berikutnya. Usaha konservasi tanah pada hakekatnya mengendalikan energi akibat tetesan hujan maupun limpasan permukaan dalam proses terjadinya erosi tanah

(Sukirno 1995). Prinsip pengendalian energi ini dengan usaha:

1. Melindungi tanah dari prediksi pukulan air hujan (erosi percik), dengan tanaman penutup tanah.

2. Mengurangi kecepatan energi kinetik tetesan air hujan, dengan tanaman pelindung, atau pelindung lainnya.

3. Mengurangi energi kinetik limpasan permukaan

Pengaturan Hasil Hutan Kayu

Pengaturan hasil merupakan suatu proses atau strategi untuk mewujudkan kelestarian hasil yang diterjemahkan ke dalam praktek manajemen dalam bentuk perencanaan, monitoring dan kontrol. Dalam konteks lebih operasional, pengaturan hasil adalah penentuan porsi hutan (dalam luas areal ataupun volume

kayu) yang dipungut setiap tahun atau periode tertentu yang menjamin kelestarian produksi/pengusahaan dan kelestarian hutan (Parthama 2002). Secara umum pengaturan hasil hutan bertujuan untuk mencapai kelestarian hasil yaitu diperolehnya hasil hutan secara terus-menerus dengan jumlah yang relatif sama

atau lebih besar setiap tahunnya (Simon 2010). Menurut Seydack (1995), untuk mencapai kelestarian suatu sistem pengaturan hasil harus menetapkan intensitas pemanenan, interval waktu pemanenan, dan besarnya pemanenan. Sedangkan menurut Osmaton (1968), pengaturan hasil hutan bertujuan untuk memperoleh

(41)

berbagai alasannya antara lain:

1. Penyediaan bagi konsumen, penebangan harus dilaksanakan agar tersedia jenis, ukuran, mutu, dan jumlah kayu sesuai permintaan pasar.

2. Pemeliharaan growing stock untuk mempertahankan dan mengembangkan produksi dalam bentuk serta kualitas yang baik secepat mungkin.

3. Penyesuaian jumlah dan bentuk tegakan persediaan agar lebih sesuai dengan tujuan pengelolaan.

4. Penebangan perlindungan, terutama dipergunakan dalam sistem silvikultur untuk melindungi tegakan dari angin, kebakaran hutan dan sebagainya.

Pengaturan hasil pada hutan tanaman akan mudah dilaksanakan apabila keadaan hutannya mendekati kondisi hutan normal. Hutan normal merupakan

suatu hutan yang tegakannya mempunyai susunan kelas umur yang merata, mulai dari umur 1 tahun sampai umur daur, masing-masing kelas umur tegakan mempunyai luas atau potensi pertumbuhan yang sama, sehingga tebangan tahunan selalu menghasilkan kayu dalam jumlah maksimal dan sama besar volumenya (Simon 2010). Salah satu faktor manajemen untuk menciptakan hutan normal

adalah penentuan etatnya, yaitu menentukan besar/jumlah maksimum penebangan akhir yang diijinkan dari suatu kelas perusahaan. Meyer et al. (1961), menyebutkan bahwa pengaturan tebangan merupakan tujuan penting manajemen hutan. Ada tiga permasalahan pengaturan tebangan yaitu penentuan jatah tebang,

distribusi jatah tebang ke dalam blok dan kompartemen, serta penentuan waktu tebang pada masing-masing blok dan kompartemen. Menurut Chapman (1950), pengaturan hasil didasarkan pada beberapa hal yaitu distribusi kelas umur dan total volume tegakan aktual, penetapan jatah tebang tahunan untuk memperoleh

hasil lestari, riap tahunan nyata atau kematian penting terutama untuk mengetahui peningkatan atau penurunan volume tegakan sebelum ditebang, serta riap tahunan rata-rata mengindikasikan kemungkinan rata-rata untuk hasil lestari.

Menurut Osmaston (1968), beberapa hal yang dibutuhkan dan harus dicakup

(42)

volume (Davis & Johnson 1987; Meyer et al. 1961; Osmaston 1968; Simon 2010).

1. Metode berdasarkan luas

Metode pengaturan hasil berdasarkan luas masih sangat sederhana dan dipakai untuk pengelolaan hutan tingkat awal. Untuk mengatur tebangan yang berkesinambungan, kawasan hutan dibagi ke dalam petak-petak sebanyak tahun

rotasi yang telah ditetapkan dan penebangan dilakukan tiap tahun. Bila dalam setiap tahun luas petak yang ditebang sama, maka hasil tahunan akan sama bila tingkat produktifitas tiap petak juga sama. Fluktuasi hasil tahunan akan dipengaruhi oleh komposisi jenis, kesuburan tanah dan kerapatan tegakan. Pengaturan hasil berdasarkan luas dikontrol dengan cara:

a. Pengendalian berdasarkan prinsip silvikultur. Jumlah pohon yang akan ditebang setiap tahun dikontrol dengan kaidah-kaidah silvikultur, atau aturan-aturan yang biasa dipakai dalam penebangan, misalnya jenis komersial dan ukuran diameter yang sudah laku dijual.

b. Pengendalian dengan rotasi dan penyebaran kelas umur. Metode pengaturan hasil hutan tidak lagi hanya dikontrol oleh kaidah-kaidah silvikultur saja, melainkan bergeser ke arah kontrol oleh rotasi dan sebaran kelas umur. Perkembangan ini terjadi karena areal bekas tebangan dari metode berdasarkan

luas telah berubah menjadi hutan-hutan muda yang seumur sehingga dapat dikelompokkan ke dalam kelas-kelas umur. Secara sederhana hubungan antara rotasi dengan luas kawasan dapat digunakan untuk menaksir volume tebangan tahunan dalam satuan luas.

2. Metode berdasarkan volume

(43)

metode pengaturan hasil yang tergolong pada metode berdasarkan volume adalah metode Hundeshagendan metode Von Mantel.

a. Metode Hundeshagen. Untuk mengatur tebangan tahunan dan menuju ke

susunan hutan normal dibuat asumsi bahwa hasil tebangan tahunan harus menyatakan proporsi yang sama terhadap volume tegakan persediaan nyata, karena hasil normal juga dinyatakan dalam tegakan persediaan normal. Perhitungan etat tebangan tahunan dirumuskan sebagai berikut:

AY/AG = HN/NG  AY = AG x (HN/NG)

Dimana :

AY = hasil tebangan tahunan nyata (etat tebangan tahunan nyata) HN = hasil tebangan tahunan normal (etat tebangan tahunan normal)

HN/NG dapat dinyatakan dalam persen untuk jenis pohon dan daur tertentu, sehingga untuk menentukan hasil tebangan tahunan nyata (AY), cukup dengan menghitung tegakan persediaan nyata (AG), tanpa menghitung riapnya. Metode ini diperlukan apabila tersedia tabel tegakan normal dari jenis yang dikaji.

b. Metode Von Mantel. Metode Von Mantel merupakan pengembangan dari metode Hundeshagen, yaitu menyederhanakan rumus Hundeshagen. Hasil tebangan tahunan normal (HN) dalam rumus Hundeshagen, dinyatakan dalam riap normal (IN) dalam Von Mantel, sehingga rumus berubah menjadi :

AY = AG x HN/NG = AG x IN/NG

Dimana AY = hasil kayu tahunan (m3/tahun), HN = hasil tebangan normal menurut tabel (m3/ha), AG = persediaan tegakan aktual (m3), NG = persediaan tegakan normal (m3/ha), dan IN = riap tegakan normal (m3/ha/tahun).

Dalam konsepsi hutan normal pada tegakan seumur, untuk luasan tertentu, setiap tahun akan menghasilkan riap yang sama, sehingga dalam satu siklus daur akan menghasilkan total riap sebesar volume tegakan normal (NG, normal growing stock). Dengan dasar konsepsi panen = riap, maka hasil panen tahunan cukup

(44)

Gambar 2. Ilustrasi pengaturan hasil formulaVon Mantel

Untuk menghitung etat tebangan tahunan cukup mengukur tegakan persediaan nyata (actual growing stock), kemudian dibagi dengan setengah daur (Gambar 2).

3. Metode berdasarkan luas dan volume

Kondisi nyata di lapangan terdapat keragaman kualitas tempat tumbuh, penerapan etat luas akan berakibat terjadinya fluktuasi produksi dari tahun ke

tahun, sedangkan penerapan etat volume mengandung konsekuensi terjadinya fluktuasi luas tebangan dari tahun ke tahun. Produksi yang naik-turun dan luas tebangan yang berfluktuasi dari tahun ke tahun merupakan hal yang dipandang tidak baik dalam pengelolaan hutan tanaman (Harbagung 2010).

Dengan adanya kelemahan dari metode etat luas dan metode etat volume, maka perlu dicari metode yang memadukan kepentingan kemerataan luas tebangan dan kemerataan produksi dari tahun ke tahun. Metode pengaturan hasil berdasarkan etat luas disertai usaha minimalisasi fluktuasi produksi. Stabilisasi

produksi tahunan didekati dengan pengelompokan petak tebangan (compartement) sedemikian rupa sehingga setiap tahun menebang compartement dengan tebaran kelas kualitas tempat tumbuh yang sama.

Sistem Informasi Geografis (SIG)

Menurut Prahasta (2007) SIG merupakan gabungan dari tiga unsur pokok yaitu sistem, informasi dan geografis. Dengan demikian SIG merupakan suatu

kesatuan formal yang terdiri dari berbagai sumberdaya fisik dan logika yang

(45)

Prahasta (2007) menekankan bahwa SIG adalah sejenis perangkat lunak yang dapat digunakan untuk pemasukan, penyimpanan, manipulasi, menampilkan dan keluaran informasi geografis berikut atribut-atributnya. Menampilkan

kenampakan permukaan bumi beserta informasi atributnya adalah sesuatu hal yang sulit pada zaman dahulu, tetapi dengan perkembangan SIG yang berbasis komputer maka hal itu dapat diatasi. Kemampuan SIG untuk dapat menampilkan informasi dari permukaan bumi yang kompleks beserta informasinya melalui

pengolahan pada basis data yang ada di SIG.

SIG adalah sekumpulan yang terorganisir dari perangkat keras komputer, perangkat lunak, data geografi, dan personel yang dirancang untuk secara efisien merekam, menyimpan, memperbaharui, memanipulasi, menganalisis dan

mendisplai/menyajikan semua bentuk informasi yang bereferensi geografis (ESRI 1995). Scholten & Stillwell (1990) menyatakan bahwa SIG adalah teknologi mendesain untuk mencapai suatu tujuan. Berbagai macam produk SIG digunakan untuk manajemen dan manipulasi data spasial dan non spasial untuk menghasilkan suatu sistem baru. SIG adalah seperangkat alat untuk

mengumpulkan, menyajikan, mentransformasi dan menggambarkan data spasial dari permukaan bumi (Scholten & Stillwell 1990).

Tujuan SIG terdiri dari tiga hal yaitu: (1) menyajikan, memanajemen dan mengintegrasikan banyak data spasial, (2) memberikan analisis jalan keluar dari

hal yang khusus dari data komponen geografi, (3) mengorganisasikan dan mengelola dari banyak data kuantitatif agar menjadi informasi yang mudah dibaca oleh semua orang.

SIG merupakan sistem kompleks yang terintregasi dengan lingkungan

sistem-sistem komputer yang lain di tingkat fungsional dan jaringan. SIG terdiri dari 4 komponen (Prahasta 2007) yaitu:

1. Perangkat keras. Pada saat ini tersedia berbagai perangkat keras mulai dari PC desktop, workstations, hingga multiuser host yang digunakan banyak orang.

(46)

dan lainnya. Sedangkan yang berbasis raster adalah : ILWIS, Idrisi, GRASS, ERDAS dan lainnya.

3. Data dan informasi geografi. SIG dapat mengumpulkan dan menyimpan data dan informasi yang diperlukan baik secara tidak langsung dengan cara mengimpornya dari perangkat lunak SIG lainnya maupun secara langsung dengan cara mendigitasi data spasial dari peta dan memasukkan data atributnya

dari tabel-tabel dan laporan dengan menggunakan keyboard.

4. Manajemen. Suatu sistem yaitu SIG akan berhasil jika dikelola dengan baik dan dikerjakan oleh orang-orang atau sumberdaya manusia yang mempunyai keahlian yang tepat pada semua tingkatan.

Puntodewo et al. (2003) menyatakan bahwa komponen utama SIG meliputi

perangkat keras, perangkat lunak, data dan sumberdaya manusia. Penggunaan SIG secara umum di negara berkembang dan khususnya sektor kehutanan masih belum optimal. Seperti diketahui bahwa kendala utama inventarisasi dan monitoring adalah keterbatasan dalam pengambilan data, karena luasnya kawasan

hutan, aksesibilitas, waktu dan keterbatasan sumber daya manusia. SIG dan penginderaan jauh dapat menjangkau area yang luas dengan dukungan frekuensi yang cukup tinggi. SIG merupakan alat yang sangat berguna dalam kegiatan kehutanan terutama dalam hal pengorganisasian data, basis data global, dan

kemampuan analisa spasial untuk pemodelan.

Pemodelan Sistem dan Simulasi

Purnomo (2005) menyatakan bahwa pemodelan sistem berawal dari bagaimana mencoba memahami dunia nyata ini dan menuangkannya menjadi sebuah model dengan beragam metode yang ada. Model adalah abstraksi atau penyederhanaan dari dunia nyata, yang mampu menggambarkan struktur dan

(47)

merupakan deskripsi formal dari elemen pokok dalam suatu permasalahan. Deskripsi formal tersebut dapat bersifat fisik, matematis ataupun verbal. Dalam kenyataan di dunia nyata, suatu subsistem tertentu selalu terjadi

perubahan-perubahan sesuai dengan dinamika internal, yang masing-masing dipengaruhi oleh interaksi satu dengan yang lain. Adanya perubahan dalam suatu subsistem, akan menyebabkan terjadinya perubahan dalam subsistem yang lainnya (Simon 1993).

Tahapan pembentukan dan penggunaan sebuah model sistem (Grant et al.

1997; Purnomo 2005) meliputi:

1. Identifikasi isu, tujuan dan batasan. Identifikasi isu atau masalah sangat penting dilakukan untuk mengetahui dimana sebenarnya pemodelan perlu dilakukan. Ini penting dilakukan karena kesalahan melakukan identifikasi isu

berakibat kesalahan melihat permasalahan secara tepat. Setelah isu ditentukan, berikutnya menentukan tujuan pemodelan itu sendiri. Tujuan pemodelan harus dinyatakan secara eksplisit, sebagaimana isu yang diangkat. Selanjutnya menentukan batasan terhadap pemodelan yang dilakukan. Batasan berarti kejelasan apa yang termasuk dan tidak termasuk dalam pemodelan. Batasan

dapat berupa batas daerah atau ruang, batas waktu, atau dapat juga batas isu. 2. Pembentukan model konseptual. Bertujuan untuk mendapatkan gambaran

secara menyeluruh tentang model yang akan dibuat. Ini dimulai dengan mengidentifikasi semua komponen yang terlihat atau dimasukkan dalam

pemodelan. Komponen-komponen tersebut jika sangat banyak dapat dikelompokkan dalam beberapa kategori. Komponen-komponen tersebut kemudian dicari inter relasinya satu sama lain dengan menggunakan ragam metode seperti diagram kotak dan panah, diagram sebab-akibat, diagram stok

dan aliran atau diagram sekuens (sequence diagram).

3. Spesifikasi model yaitu merumuskan makna diagram, kuantifikasi dan atau kualifikasi komponen model jika perlu. Ini bertujuan membentuk model kuantitatif dari konsep model yang telah ditetapkan dengan memberikan nilai

Figur

Tabel 2. Erosi permukaan di hutan tropis dan sistem pohon – tanaman pangan
Tabel 2 Erosi permukaan di hutan tropis dan sistem pohon tanaman pangan . View in document p.36
Gambar 3. Peta lokasi penelitian di hutan tanaman eucalyptus PT TPLSektor Aek
Gambar 3 Peta lokasi penelitian di hutan tanaman eucalyptus PT TPLSektor Aek . View in document p.50
Gambar 5. Tahapan analisis spasial lahan yang aman dari bahaya erosi tanah di hutan tanaman eucalyptus PT TPL Sektor Aek Nauli
Gambar 5 Tahapan analisis spasial lahan yang aman dari bahaya erosi tanah di hutan tanaman eucalyptus PT TPL Sektor Aek Nauli. View in document p.60
Tabel 9.Daur, riap tahunan rata-rata,, riap tahun berjalan dan volume tegakan
Tabel 9 Daur riap tahunan rata rata riap tahun berjalan dan volume tegakan . View in document p.69
Gambar 11.  Tingkat bahaya erosi tanah yang terjadi di hutan tanaman eucalyptus
Gambar 11 Tingkat bahaya erosi tanah yang terjadi di hutan tanaman eucalyptus. View in document p.75
Tabel 13.  Etat luas dan etat volume tanpa mempertimbangkan faktor erosi tanahpada pada daur 5 tahun , 6 tahun, 7 tahun, dan 8 tahun di hutan tanaman eucalyptus PT TPL Sektor Aek Nauli
Tabel 13 Etat luas dan etat volume tanpa mempertimbangkan faktor erosi tanahpada pada daur 5 tahun 6 tahun 7 tahun dan 8 tahun di hutan tanaman eucalyptus PT TPL Sektor Aek Nauli. View in document p.81
Tabel 14. Etat luas dan etat volume dengan mempertimbangkan faktor erosi tanahpada pada daur 5 tahun, 6 tahun, 7 tahun, dan 8 tahun di hutan tanaman eucalyptus PT TPL Sektor Aek Nauli
Tabel 14 Etat luas dan etat volume dengan mempertimbangkan faktor erosi tanahpada pada daur 5 tahun 6 tahun 7 tahun dan 8 tahun di hutan tanaman eucalyptus PT TPL Sektor Aek Nauli. View in document p.82
Gambar 18. Erosi yang terjadi pada kemiringan lahan 34-45% (1); 46-58% (2);
Gambar 18 Erosi yang terjadi pada kemiringan lahan 34 45 1 46 58 2 . View in document p.83
Gambar 19.  Titik BEP usaha pembangunan hutan tanaman eucalyptus di PT TPL
Gambar 19 Titik BEP usaha pembangunan hutan tanaman eucalyptus di PT TPL . View in document p.86
Gambar 20. Grafik tingkat erosi tanah, penutupan tajuk, dan faktor koreksi
Gambar 20 Grafik tingkat erosi tanah penutupan tajuk dan faktor koreksi . View in document p.87
Gambar 21. Grafik tingkat erosi tanah, penutupan tajuk, dan faktor koreksi volume tegakan yang dapat dipanen (fp) pada daur 6 tahun di hutan tanaman eucalyptus PT TPL Sektor Aek Nauli.
Gambar 21 Grafik tingkat erosi tanah penutupan tajuk dan faktor koreksi volume tegakan yang dapat dipanen fp pada daur 6 tahun di hutan tanaman eucalyptus PT TPL Sektor Aek Nauli . View in document p.88
Gambar 22. Grafik tingkat erosi tanah, penutupan tajuk, dan faktor koreksi
Gambar 22 Grafik tingkat erosi tanah penutupan tajuk dan faktor koreksi . View in document p.89
Gambar 23. Grafik tingkat erosi tanah, penutupan tajuk, dan faktor koreksi volume tegakan yang dapat dipanen (fp) pada daur 8 tahun di hutan tanaman eucalyptus PT TPL Sektor Aek Nauli.
Gambar 23 Grafik tingkat erosi tanah penutupan tajuk dan faktor koreksi volume tegakan yang dapat dipanen fp pada daur 8 tahun di hutan tanaman eucalyptus PT TPL Sektor Aek Nauli . View in document p.90
Gambar 24. Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi
Gambar 24 Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi . View in document p.91
Gambar 25. Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi
Gambar 25 Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi . View in document p.92
Gambar 26. Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi
Gambar 26 Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi . View in document p.93
Gambar 27. Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi
Gambar 27 Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi . View in document p.94
Gambar 28. Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi
Gambar 28 Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi . View in document p.95
Gambar 29. Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi tanah untuk bonita II pada daur 7 tahun di hutan tanaman PT TPL Sektor Aek Nauli
Gambar 29 Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi tanah untuk bonita II pada daur 7 tahun di hutan tanaman PT TPL Sektor Aek Nauli. View in document p.96
Gambar 30. Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi
Gambar 30 Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi . View in document p.97
Gambar 31. Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi
Gambar 31 Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi . View in document p.98
Gambar 32. Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi
Gambar 32 Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi . View in document p.99
Gambar 33. Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi tanah untuk bonita II pada daur 6 tahun di hutan tanaman PT TPL Sektor Aek Nauli.
Gambar 33 Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi tanah untuk bonita II pada daur 6 tahun di hutan tanaman PT TPL Sektor Aek Nauli . View in document p.100
Gambar 34. Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi
Gambar 34 Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi . View in document p.101
Gambar 35. Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi tanah untuk bonita IV pada daur 6 tahun di hutan tanaman PT TPL Sektor Aek Nauli.
Gambar 35 Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi tanah untuk bonita IV pada daur 6 tahun di hutan tanaman PT TPL Sektor Aek Nauli . View in document p.102
Gambar 36. Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi
Gambar 36 Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi . View in document p.103
Gambar 37. Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi
Gambar 37 Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi . View in document p.104
Gambar 38. Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi
Gambar 38 Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi . View in document p.105
Gambar 39. Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi tanah untuk bonita IV pada daur 5 tahun di hutan tanaman PT TPL Sektor Aek Nauli.
Gambar 39 Grafik tingkat pertumbuhan dan hasil tegakan eucalyptus serta erosi tanah untuk bonita IV pada daur 5 tahun di hutan tanaman PT TPL Sektor Aek Nauli . View in document p.106
Gambar 1.  Kerangka pikir penelitian
Gambar 1 Kerangka pikir penelitian. View in document p.184

Referensi

Memperbarui...