HUBUNGAN KADAR PROHEPSIDIN
DENGAN STATUS BESI
REMAJA PUTRI ANEMIA
ROUSMALA DEWI
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis “Hubungan Kadar prohepsidin Dengan status Besi Remaja putri Anemia” adalah karya saya sendiri dengan arahan komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi
manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.
Bogor, Juli 2011
ABSTRACT
Rousmala Dewi.
The Relationships between prohepcidin concentration and iron status on anemic adolescent girls. Supervised by MARIA BINTANG and UKEN SOETRISNO.This research was carried out from june 2010 to January 2011 at MTs Fathusa’adah, Sukaraja and SMP Purnawarman, Rancabungur Kabupaten Bogor. The purpose of the research is to know the relationship between prohepcidin serum concentration and iron status of anemic adolescent girls which recieved iron intervention. The research samples consisted of 55 of girl students which divided into two groups. The first group (traetment group/TG) recieved iron capsule (60 mg iron + 0.25 mg folic acid), the second group (control group/CG) only recieved placebo. The capsules were distributed and consumed twice weekly during 12 weeks. The result showed that before and after treatment energy, protein and nutrients (vitamin A, vitamin C, iron) consumption were very low (<70% Recommanded Dietary Allowans (RDA)). After 12 weeks intervention the Hb were significantly increased (P<0.05) as much as 0.65 ± 0.55 g/dl in the TG, but CG decreased 0.05 ± 0.32 g/dl. The result from multiple regretion analysis (MRA) showed that the change of the Hb concentration were influenced by initial Hb concentration and the consumtion of iron (R(adj)=41.6%). There were a significant increased (P<0.05) of feritin serum on the TG as much as 8.42 ± 18.89 ng/ml, and decreased significanly on CG as much as -7.93 ± 14.87 ng/ml. The change of the feritin serum concentration corelated with the initial feritin serum concentration and consumtion of iron (from MRA, R(adj)=40.6%). The mean of the prohepcidin serum concentration before intervention was 192.77 ± 126.98 ng/ml for TG and 203.91 ± 133.32 ng/ml for CG and after intervention 158.93 ± 74.77 ng/ml for TG and 169.93 ± 81.11 ng/ml for CG, but the decrease was not significant. Result from multiple regretion analysis showed that the change of prohepcidin were influenced by initial prohepcidin concentration and the consumtion of energy and protein (R(adj) = 73,8%) and were not corelated with iron status.
ROUSMALA DEWI.
Hubungan Kadar Prohepsidin dengan Status BesiRemaja Putri Anemia (dibawah bimbingan MARIA BINTANG sebagai ketua dan UKEN SOETRISNO sebagai anggota).
Penelitian dilakukan di SMP Purnawarman Kecamatan Rancabungur dan Mts Fathusa’adah kecamatan Sukaraja Bogor, terhadap remaja putri kelas VII. VIII dan IX dari bulan Juni 2010 sampai Januari 2011. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran hubungan prohepsidin dan status besi pada remaja putri penderita anemia.
Disain penelitian ini adalah kuasi eksperimen. Sampel dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu kelompok perlakuan yang mendapatkan kapsul zat besi dengan dosis 60 mg besi elemental + 0.25 mg asam folat (Tablet Tambah
Darah [TTD] program yang dikapsulkan) dan kelompok kontrol mendapatkan kapsul plasebo. Kelompok perlakuan terdiri dari 29 orang dan kelompok kontrol 26 orang, sehingga jumlah keseluruhan 55 orang. Variabel bebas adalah kadar Hb, kadar feritin, kadar prohepsidin (awal), asupan energi, protein, dan zat besi (akhir), variabel terikat adalah perubahan kadar Hb, perubahan kadar feritin dan perubahan kadar prohepsidin.
Kapsul besi diberikan dua kali seminggu setiap hari Selasa dan Jum’at selama 12 minggu. Analisis data dilakukan dengan menggunakan program SPSS 17 meliputi uji non parametrik, serta regresi linear berganda.
ng/ml, dari hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa variabel
yang berpengaruh terhadap perubahan kadar feritin adalah kadar feritin awal, asupan energi dan asupan zat besi akhir (R(adj) = 40.6%). Setelah intervensi terjadi penurunan kadar prohepsidin rata-rata sebesar 29.23 ± 108.78 ng/ml untuk kelompok perlakuan dan 38.98 ± 161.32 ng/ml untuk kelompok kontrol, tetapi
secara statistik penurunan tersebut tidak bermakna (P>0.05). Dari hasil analisis regresi linear berganda variabel bebas yang berhubungan dengan perubahan kadar prohepsidin adalah kadar prohepsidin awal dan asupan energi serta protein, dan mampu menjelaskan keragaman perubahan kadar prohepsidin sebesar 73.8% dan tidak berhubungan dengan status besi, dalam hal ini adalah kadar Hb dan feritin.
Berdasarkan data-data hasil dan pembahasan diatas maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: Tingkat kecukupan zat gizi (energi, protein, vitamin A, vitamin C dan zat besi) sampel termasuk defisit berat (< 70% AKG). Intervensi zat besi dosis 60 mg besi + 0.25 mg asam folat, dua kali seminggu selama 12 minggu dapat meningkatkan kadar Hb dan feritin secara bermakna (P<0.05) pada kelompok perlakuan. Terjadi penurunan rata-rata kadar prohepsidin setelah intervensi. Perubahan kadar Hb berhubungan dan dipengaruhi oleh asupan zat besi akhir. Perubahan kadar feritin serum berhubungan dan dipengaruhi oleh kadar feritin awal, asupan energi dan asupan zat besi akhir. Perubahan kadar prohepsidin serum tidak berhubungan dengan status besi tetapi berhubungan dengan kadar prohepsidin awal, asupan energi serta protein akhir.
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan beberapa hal sebagai
berikut: Dalam upaya perbaikan status anemia pada remaja putri selain dengan intervensi zat besi juga ditambah dengan zat gizi makro dan mikro yang lain. perlu dilakukan penelitian lanjutan melakukan pengukuran terhadap kadar hepsidin aktif secara langsung karena ada kemungkinan kadar prohepsidin serum
@ Hak Cipta milik IPB, tahun 2011 Hak Cipta dilindungi Undang-undang
1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber
a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalh b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB
HUBUNGAN KADAR PROHEPSIDIN
DENGAN STATUS BESI
REMAJA PUTRI ANEMIA
ROUSMALA DEWI
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains Pada
Program Studi Bidang Biokimia
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Judul penelitian : Hubungan Kadar Prohepsidin dengan Status Besi Remaja Putri Anemia
Nama : Rousmala Dewi
Nomor Pokok : G 851080071 Program Studi : Biokimia
Disetujui
Komisi Pembimbing
Prof. Dr. drh. Maria Bintang, M.S Uken Soetrisno, B.Sc, M.S, Ph.D Ketua Anggota
Diketahui
Ketua Program Studi a.n. Dekan Sekolah Pascasarjana IPB
Biokimia Sekretaris Program Magister
Prof. Dr. drh. Maria Bintang, M.S Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc. Agr
Puji syukur penulis sampaikan kehadirat Allah SWT atas Rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini dengan judul “Hubungan Kadar Prohepsidin dengan Status Besi Remaja Putri Anemia”.
Penelitian Ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Biokimia, Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Penelitian ini dibantu oleh bimbingan para dosen dan pembimbing yang telah mengarahkan dan memperbaiki kekurangan dan kesalahan dalam penulisan. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih serta penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:
1. Prof. Dr. drh. Maria Bintang, M.S. selaku ketua komisi pembimbing atas
kesabaran, bimbingan dan saran dalam penulisan tesis ini.
2. Uken Soetrisno, B.Sc, M.S, Ph.D. selaku anggota komisi pembimbing atas
kesabaran, bimbingan dan saran dalam penulisan tesis ini.
3. Dosen-dosen di Program Studi Biokimia IPB yang telah memberikan ilmunya
kepada penulis selama pendidikan.
4. Kepala Puslitbang Gizi dan Makanan Bogor yang telah memberi izin kepada
penulis untuk menggunakan data diri dan specimen darah dari penelitian Puslitbang Gizi dan Makanan Bogor yang bersumber dana dari Program Intensif Riset Untuk Peneliti dan Perekayasa LPND dan LPD Ditjen Dikti
Depdiknas berjudul “Efektivitas Suplementasi Zat Gizi Mikro Terhadap Status Besi dan Vitamin A Pada Murid SLTP” dengan ketua pelaksana Ir. Sukati, M.S.
5. Ibu Ir. Sukati, M.S. yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk
ikut ambil bagian pada penelitian tersebut diatas.
6. Kepala Sekolah MTs Fathusa’adah di Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor
7. Kepala Sekolah SMP Purnawarman di Kecamatan Rancabungur, Kabupaten
Bogor beserta guru-guru yang telah banyak membantu penulis dalam pelaksanaan penelitian ini.
8. Murid-murid MTs Fathusa’adah dan SMP Purnawarman serta orang tua murid yang telah banyak membantu dalam kelancaran dan terselesaikannya
penelitian ini.
9. Penulis mengucapkan terimakasih pada teman-teman yang telah memberi
bantuan dalam penyelesaian penelitian ini.
10. Penulis mengucapkan terima kasih pada suamiku Drs Syaiful Bahri dan
anak-anakku tercinta (Muhammad Kahfi Ridho Abghani, Ahmad Miftahul Fatah dan Muhammad Aflah Fadil) yang selalu berdoa dan mendukung baik secara moril maupun matereil untuk kemudahan dan kelancaran penyelesaian penelitian ini, terima kasih untuk dorongan dan kesabaran serta pengorbanan yang luar biasa selama penulis menjalani pendidikan.
11. Terimakasih untuk kakak-kakakku (Ir Rosihan Anwar dan Ir Endah Suwarni,
M.Sc) dan adikku (Muhammad Najib, SP, M.S) atas perhatian, do’a dan semangat serta dukungan secara moril maupun materiel selama penulis menjalani pendidikan.
Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih banyak kelemahannya, untuk dapat disempurnakan oleh peneliti-peneliti lain yang berminat dibidang ini di kemudian hari. Dalam penulisan ini apabila ada kebaikan dan kebenaran
semata-mata hanyalah milik Allah SWT adapun kesalahan dan kekurangan itu karena keterbatasan diri penulis. Akhirnya penulis berharap semoga penelitian ini bermanfaat, Amien.
Penulis adalah anak ketiga dari empat bersaudara keluarga Bpk HM. Syahran dan Ibu Dra Hj Farial Sabran Thaib yang dilahirkan di Banjarmasin (Kalimantan Selatan), tanggal 28 September 1967. Penulis melewati masa
pendidikan SD (SD HIPPINDO) sampai SMP (SMPN 6) di kota Banjarmasin. Tahun 1983 penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Analis Kesehatan Surabaya, lulus tahun 1986. Tahun 1997 penulis melanjutkan pendidikan S1 di Universitas Djuanda Bogor jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, lulus tahun 2002. Tahun 2007 penulis melanjutkan pendidikan S2 di Institut Pertanian Bogor, mayor Biokima dengan beasiswa dari Badan Litbangkes, Kementrian Kesehatan RI.
xii
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR TABEL...xiii
DAFTAR GAMBAR ... vxi DAFTAR LAMPIRAN... xv
PENDAHULUAN ... 1
Latar belakang... 1
Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 4
Kerangka Pemikiran dan Hipotesis ... 4
Kerangka Pemikiran ... 4
Hipotesis... 5
TINJAUAN PUSTAKA... 7
Anemia dan Penyebabnya... 7
Prevalensi Anemia di Indonesia... 9
Dampak Anemia ... 10
Fungsi Zat besi, Hemoglobin dan Feritin Dalam Tubuh ... 11
Absorpsi Zat besi ... 14
Metabolisme Zat Besi... 19
Hepsidin dan Peranannya ... 22
Hubungan Hepsidin dengan Metabolisme Besi ... 25
Cara Mencegah dan Mengobati Anemia ... 27
BAHAN DAN METODE ... 27
Disain, Lokasi dan Waktu Penelitian ... 30
Populasi dan Sampel Penelitian ... 30
Cara Pengumpulan dan Analisis Data ... 32
Cara Pengambilan Sampel ... 32
Cara Pemberian Kapsul Besi... 32
Cara Pengumpulan Data ... 33
Variabel... 34
Analisis Darah... 35
Cara Pengambilan Darah ... 35
Analisis Hemoglobin ... 36
Analisis Feritin ... 37
Analisis Prohepsidin ... 39
Analisis C-Reactive Protein (CRP) ... 41
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 44
Gambaran Umum Sampel ... 44
Kepatuhan Minum Kapsul ... 48
Gambaran Konsumsi Pangan dan Tingkat Kecukupan Gizi... 50
Gambaran Asupan dan Tingkat Kecukupan Energi dan Protein... 51
Gambaran Asupan dan Tingkat Kecukupan Vitamin A dan Vitamin C... 53
Gambaran Asupan dan Tingkat Kecukupan Zat Besi ... 57
Gambaran Asupan dan Tingkat Kecukupan Serat ... 58
Status Besi ... 61
Kadar Hemoglobin (Hb) ... 61
Kadar Fertin... 65
Kadar Prohepsidin ... 69
KESIMPULAN DAN SARAN ... 73
Kesimpulan... 73
Saran ... 73
DAFTAR PUSTAKA ... 75
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Klasifikasi anemia yang merupakan masalah kesehatan masyarakat ... 10
Tabel 2. Beberapa faktor yang meningkatkan penyerapan Fe oleh usus ... 15
Tabel 3. Beberapa faktor yang menghambat penyerapan Fe oleh usus ... 15
Tabel 4. Petunjuk suplementasi zat besi yang dianjurkan/hari oleh INACG ... 28
Tabel 5. Dosis antihelmintik yang dianjurkan oleh INACG ... 29
Tabel 6. Seri pengenceran CRP ... 43
Tabel 7. Gambaran umum sampel...44
Tabel 8. Gambaran rata-rata indeks massa tubuh ... 45
Tabel 9. Rata-rata umur orang tua ... 46
Tabel 10. Rata-rata jumlah kapsul yang diminum dan persentase kepatuhan ... 49
Tabel 11. Persentase keluhan selama minum kapsul zat besi ... 50
Tabel 12. Rata-rata tingkat kecukupan energi ... 51
Tabel 13. Rata-rata tingkat kecukupan asupan protein ... 52
Tabel 14. Rata-rata tingkat kecukupan asupan vitamin A ... 54
Tabel 15. Rata-rata tingkat kecukupan asupan vitamin C... 55
Tabel 16. Rata-rata tingkat kecukupan asupan zat besi ... 57
Tabel 17. Rata-rata tingkat kecukupan asupan serat... 60
Tabel 18. Rata-rata kadar hemoglobin ... 62
Tabel 19. Hasil analisis regresi linear berganda, dan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan kadar Hb ... 64
Tabel 20. Rata-rata kadar feritin ... 65
Tabel 21. Hasil analisis regresi linear berganda, dan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan kadar Feritin... 68
Tabel 22. Rata-rata kadar prohepsidin ... 70
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Kerangka pemikiran... 5
Gambar 2: Struktur kimia hemoglobin dalam sel darah manusia ... 13
Gambar 3. Absorpsi zat besi. ... 16
Gambar 4. Absorbsi besi di usus halus ... 17
Gambar 5. Regulasi absorbsi besi ... 18
Gambar 6. Siklus transferin ... 19
Gambar 7. Skema metabolisme zat besi ... 21
Gambar 8. Efek interaksi hepsidin – ferofortin pada eksport besi sellular ... 23
Gambar 9. Struktur utama hepsidin manusia ... 24
Gambar 10. Skema hubungan hepsidin dengan metabolisme besi ... 26
Gambar 11. Klasifikasi indeks massa tubuh (IMT) ... 45
Gambar 12. Pekerjaan orang tua ... 47
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Diskriptif non-parametrik ... 88
Lampiran 2. Pekerjaan orang tua ... 90
Lampiran 3. Pendidikan orang tua ... 92
Lampiran 4. Diskriptif asupan zat gizi ... 93
Lampiran 5. Diskriptif biomarker status besi dan prohepsidin ... 95
Lampiran 6. Korelasi antar kelompok non parametrik ... 97
Lampiran 7. Uji perbedaan sebelum dan sesudah intervensi ... 98
Lampiran 8. Regresi linear berganda ... 100
Lampiran 9. Tahapan pelaksanaan penelitian ... 103
Lampiran 10. Naskah penjelasan penelitian ... 104
Lampiran 11. Surat pernyataan ... 106
Lampiran 12. Formulir daftar responden ... 107
Lampiran 13. Formulir identitas responden ... 108
Lampiran14. Formulir antropometri dan biokimia darah ... 109
Lampiran 15. Formulir data klinis ... 110
Lampiran 16. Formulir konsumsi makanan ... 111
Lampiran 17. Tabel angka kecukupan gizi ... 112
PENDAHULUAN
Latar belakang
Anemia zat besi di Indonesia masih menjadi salah satu masalah gizi dan merupakan masalah kesehatan yang memerlukan perhatian. Anemia zat besi akan
berpengaruh pada ketahanan terhadap infeksi yang mengakibatkan tingginya angka kesakitan, kemampuan belajar, produktifitas kerja, perilaku dan disamping itu perkembangan otak juga terhambat (Baerd 2000). Anemia zat besi menyebabkan turunnya kualitas sumber daya manusia dan mangakibatkan terhambatnya kemajuan sosial dan ekonomi suatu negara (WHO 2008).
Berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulangi masalah anemia, seperti suplementasi zat besi untuk penanggulangan jangka pendek maupun program fortifikasi untuk penanggulangan jangka panjang (Soekirman 2003; Mardiyati 2008). Penyuluhan mengenai anemia melalui “Buku Informasi Anemia” telah dilakukan di sekolah melalui guru (Nugraheni 2002), tetapi sampai saat ini masalah anemia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, termasuk pada remaja. Penelitian WHO menunjukkan masih tingginya prevalensi anemia terutama anemia gizi besi (WHO 2008).
Diperkirakan prevalensi anemia global pada anak usia sekolah 5-15 tahun sebesar 25.4% dan wanita usia subur 30.2% (WHO 2008). Di Negara-negara berkembang 42% anak-anak di bawah lima tahun dan 53% anak-anak usia 5-14 tahun menderita anemia (Tolentino & Friedman 2007). Laporan Demayer (2003)
ditemukan pada remaja putri di beberapa Negara, yaitu di Bangladesh sebanyak 82.5%, di China sebanyak 23.0%, dan di Filipina sebanyak 42.2% menderita anemia. Di Indonesia, berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 ditemukan prevalensi anemia pada anak sekolah dan remaja sebanyak
26.5 persen. Laporan SKRT tahun 2004, prevalensi anemia pada kelompok umur 5-11 tahun sebesar 39.0 persen. Hasil penelitian Saidin (2009) menunjukkan prevalensi anemia remaja SMP di pedesaan Kabupaten Bogor sebesar 26.5%.
2
membutuhkan zat-zat gizi lebih besar jumlahnya (Tolentino & Friedman
2007). Remaja putri pada usia 10-19 tahun, secara normal akan mengalami menstruasi setiap bulan, bersamaan dengan itu akan dikeluarkan sejumlah zat besi yang diperlukan untuk pembentukan hemoglobin (Depkes 2001), sehingga kebutuhan zat besi untuk wanita lebih banyak dibandingkan pria (Beard 2000),
untuk pertumbuhan badan dan untuk mengganti hilangnya sejumlah zat besi pada saat menstruasi (Hallberg 1996). Dampak dari penurunan kadar zat besi pada saat menstruasi adalah glositis, jantung berdebar, tidak dapat berkonsentrasi (memory disorder) serta gelisah (Duport et al. 2003). Hal ini akan berpengaruh pada kemampuan belajar. Salah satu upaya penanggulangan anemia di kalangan remaja putri dapat dilakukan dengan pemberian suplementasi tablet besi, dengan demikian diharapkan dapat meningkatkan kadar zat besi, sehingga berpengaruh pada peningkatan konsentrasi belajar remaja juga akan berdampak positif terhadap peningkatan kualitas sumberdaya manusia (Depkes 2001).
Sebaliknya bahwa pada keadaan zat besi berlebihan dapat menyebabkan anemia karena terjadi gangguan metabolisme besi. Besi berlebihan adalah suatu keadaan patologis dimana simpanan besi total dalam tubuh meningkat lebih tinggi dari kadar normal, sering kali dengan disfungsi organ sebagai akibat deposisi besi. Penyebab besi berlebihan adalah hemokromatosis (genetik) primer (genetic haemochromatosis, GH), mutasi pada gen untuk hepsidin, hemojuvelin, dan reseptor transferin. Semua mutasi ini dianggap menyebabkan penurunan kadar hepsidin yang berakibat pada peningkatan absorpsi besi. Selain itu besi berlebih
juga dapat disebabkan karena komponen makanan dan komponen genetik, zat besi dalam makanan berlebih, eritropoisis yang tidak efektif dengan peningkatan absorpsi besi (misalnya talasemia intermedia), dan dapat juga disebabkan karena transfusi berulang pada pasien dengan anemia refraktur berat misalnya talasemia
mayor, meilodisplasia, dimana setiap unit darah mengandung 250 mg zat besi (Metha & Hoffbrand 2006).
sedangkan untuk mengetahui keadaan besi berlebih dapat dilakukan dengan
mengukur konsentrasi hepsidin aktif dalam darah. Dengan test ini, dapat dibedakan antara anemia dan penyakit metabolisme besi yang disebabkan oleh kelainan pada hepsidin atau karena penyebab lain (Johnson 2007; Daniel 2008; DRGNews 2008; Green 2008; Ganz 2008; Bergamaschi & Villani 2009).
Hepsidin adalah sebuah hormon peptida yang dihasilkan di dalam hati dan mengatur penyerapan zat besi dalam tubuh. Hepsidin disintesis di dalam hati sebagai prepropeptida 84-asam amino, yang selanjutnya mengalami proses menjadi sebuah peptida prohepsidin 60 sampai 64-asam amino dan terakhir menjadi 25-asam amino hepsidin yang matang dan aktif secara biologi yang dikeluarkan ke dalam serum (Kemna et al 2008). Hepsidin mencegah tubuh menyerap lebih banyak zat besi dari yang diperlukan yang berasal dari makanan atau suplemen dan menahan pengambilan zat besi dari sel. Keseimbangan zat besi dalam tubuh diatur oleh interaksi antara hepsidin dan reseptor feroportin yang mengangkut zat besi. Hepsidin mengikat feroportin, menghasilkan pengurangan zat besi dari sel. Kelebihan Hepsidin dalam darah dapat menyebabkan anemia, sementara defisiensi hormon ini menyebabkan penyerapan zat besi berlebihan yang akan merusak organ dalam tubuh (Daniel 2008).
Pemberian tablet besi pada remaja putri dan hubungannya dengan perubahan status besi sudah sering diteliti, tapi penelitian hubungan anemia dengan status hepsidin belum banyak dilakukan, sehingga muncul pertanyaan bagaimana hubungan status hepsidin dan status besi pada remaja yang
diintervensi dengan zat besi.
Pada penelitian ini dilakukan pemeriksaan kadar hemoglobin, feritin dan hepsidin dalam darah remaja putri penderita anemia yang mendapatkan perlakuan supplementasi zat besi untuk mendapatkan informasi hubungan kadar hepsidin
4
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian ini bertujuan memperoleh informasi hubungan hepsidin dan status besi sebelum dan sesudah pemberian suplemen zat besi pada remaja putri yang menderita anemia. Selain itu, dari penelitian ini ingin mendapatkan informasi kadar hepsidin, kadar feritin, kadar hemoglobin dan menilai konsumsi
zat gizi remaja putri penderita anemia sebelum dan sesudah perlakuan.
Kerangka Pemikiran dan Hipotesis Kerangka Pemikiran
Beberapa hal yang meregulasi absorpsi besi dalam usus, yaitu Dietary regulator, (jenis diet dengan bioavailibilitas besi yang tinggi dan adanya faktor en-hancer akan meingkatkan absorpsi besi), Stores regulator (besarnya cadangan besi berupa feritin dapat mengatur tinggi rendahnya absorpsi besi), Erythropoetic regulator (besarnya absorpsi besi berhubungan dengan kecepatan eritropoesis) dan hepsidin yang diperkirakan berperan sebagai soluble regulator absorpsi besi di usus. Hepsidin mencegah tubuh menyerap lebih banyak zat besi dari yang diperlukan yang berasal dari makanan atau suplemen dan menahan pengambilan zat besi dari sel.
Sampel penelitian ini adalah remaja putri murid-murid SMP kelas VII, VIII dan IX di Kabupaten Bogor yang menderita anemia yang mendapatkan perlakuan pemberian supplemen zat besi untuk mendapatkan gambaran hubungan kadar hepsidin serum dengan status besi pada remaja putri yang mendapatkan intervensi
zat besi dua kali seminggu selama dua belas minggu. Sampel darah diambil sebanyak dua kali. Sebelum intervensi, murid-murid yang menjadi sampel penelitian diberi obat cacing “Pirantel pamoat” dosis tunggal dan dilakukan pengumpulan data hemoglobin, feritin, prohepsidin dan konsumsi makanan.
Kerangka pemikiran yang mendasari penelitian ini dapat digambarkan
dalam suatu bagan seperti yang disajikan pada Gambar 1.
Gambar 1. Kerangka Pemikiran
Hipotesis
Atas dasar kerangka pemikiran di atas maka hipotesis yang diuji dalam penelitian ini adalah adanya hubungan antara kadar hepsidin dan status besi pada
Darah
Yang meningkatkan penyerapan Fe
• Zat Makanan (Langsung) Vitamin C, Fruktosa, Asam Sitrat, Protein makanan, Lisin, Histidin, Sistein, Metionin, EDTA
• Faktor-faktor Endogen (Tidak langsung): Meningkatnya eritropoisis, seperti pada hipoksia, hemolisis, hemoragi
• Hormon: kadar hepsidin dalam darah rendah
• Idiopatik: Hemokromatosis (karena kerusakan genetik)
Yang menghambat penyerapan Fe
• Zat Makanan (Langsung): Oksalat, Tanin, Fitat, Karbonat, Fosfat, Serat (bukan selulosa)
• Kelebihan ion: Co2+, Cu2+, Zn2+, Cd2+ Mn2+, Pb2+ Makanan rendah protein
• Faktor-faktor Endogen (Tidak langsung): Tingginya Fe cadangan tubuh (dalam sum-sum tulang)
• Infeksi/peradangan, Tidak ada HCL lambung (achylia, achlorohydria)
• Hormon: kadar hepsidin dalam darah tinggi Remaja Putri Fe (ferro sulfate 60
6
remaja putri yang menderita anemia yang diintervensi dengan kapsul besi
seminggu dua kali selama 12 minggu.
Sehubungan dengan hipotesis tersebut, maka batasan pengertian yang digunakan adalah sebagasi berikut:
- Intervensi besi adalah pemberian suplemen zat besi dalam bentuk kapsul besi
(ferro sulfat) dosis 60 mg + 0,25 mg asam folat dua kali seminggu selama 12 minggu.
- Remaja putri adalah siswi SMP kelas VII, VIII dan IX usia 12-15 tahun yang
menderita anemia.
- Anemia, apabila kadar hemoglobin Ɋ 12 g/dl (WHO 2008)
- Status besi adalah keadaan besi di dalam tubuh berdasarkan nilai kadar feritin
yang diukur dengan metode ELISA, dikatakan normal apabila kadar feritin serum antara 20-250 ng/ml (EIA, Human Feritin Kits Reagen), defisiensi besi apabila kadar feritin serum Ɋ 12 ng/ml (INACG/WHO), dikatakan besi berlebihan apabila kadar feritin serum ɋ 300 ng/ml (Wish 2006).
- Hepsidin adalah kadar prohepsidin dalam darah yang diukur dengan metode
TINJAUAN PUSTAKA
Anemia dan Penyebabnya
Anemia gizi didefinisikan sebagai rendahnya kadar hemoglobin (Hb) di bawah normal dengan kisaran normal berbeda sesuai usia dan jenis kelamin.
Adapun batas normal Hb untuk pria adalah ≥ 13 g/dl sedangkan unt uk wanita adalah ≥ 12 g/dl (WHO 2008). Tanda-tanda anemia antara lain : pucat, lemah, lesu, pusing dan penglihatan sering berkunang-kunang. Anemia dapat terjadi karena berbagai sebab. Penyebab yang paling umum diantaranya adalah karena defisiensi zat besi yang diperkirakan 50% dari kasus anemia yang ada saat ini (WHO 2001). Saidin 1997 menyatakan bahwa konsumsi zat besi pada remaja putri di Bandung sebesar 45,5% angka kecukupan gizi yang dianjurkan (AKG).
Kekurangan (defisiensi) zat besi dapat terjadi karena makanan yang dikonsumsi tidak cukup mengandung zat besi, adanya gangguan pencernaan yang tidak dapat mengabsorpsi zat-zat gizi tersebut dengan baik maka dalam jangka panjang akan terjadi anemia, karena pembentukan sel-sel darah merah dan fungsi-fungsi lain dalam tubuh terganggu (Lee & Niemen 1993). Pada remaja putri selain karena kurangnya asupan zat besi melalui makanan, anemia juga disebabkan karena banyaknya zat besi yang hilang pada saat menstruasi (NACC 2009). Pada tahap awal kekurangan zat besi mula-mula akan mengalami penurunan cadangan zat besi. Pada tahap ini penurunan cadangan zat besi belum disertai penurunan kadar Hb darah, sehingga yang bersangkutan belum menderita anemia. Tahap
selanjutnya zat besi tidak mencukupi untuk pembentukan Hb, sehingga kadar Hb penderita menurun sampai di bawah normal dan timbul anemia (Lee & Niemen 1993).
Selain karena kekurangan zat besi, anemia dapat juga disebabkan karena
perdarahan, kerusakan sel-sel darah merah karena suatu penyakit, dan produksi sel darah merah tidak berjalan lancar karena kekurangan zat-zat gizi lain seperti asam folat dan vitamin B12 tidak tersedia dalam jumlah yang cukup (Bodgen & Klevay 2000; Tolentino & Friedman 2007)
8
Di Indonesia penyakit cacingan masih merupakan masalah yang besar.
Penyakit cacingan mempengaruhi pemasukan (intake), pencernaan (digesti), penyerapan (absorbsi) dan metabolisme makanan. Secara kumulatif infeksi cacing atau kecacingan dapat menimbulkan kerugian zat gizi berupa kalori dan protein serta kehilangan darah. Selain dapat menghambat perkembangan fisik, kecerdasan
dan produktifitas kerja, juga dapat menurunkan ketahanan tubuh sehingga mudah terkena penyakit lainnya (Depkes 2004). Untuk kasus anemia defisiensi besi, diperkirakan cacing menghisap 2-100 cc darah setiap hari (Dirjen PPM & PL 2004). Infeksi akut dan kronis seperti human immunodeficiency virus (HIV), kanker, tuberkulosis dan lain-lain, defisiensi zat gizi mikro yang lain seperti vitamin A, dan B12, asam folat, juga bisa menyebabkan anemia (Tolentino & Friedman 2007).
Diduga pula bahwa pada keadaan besi berlebihan dapat menyebabkan gangguan metabolisme besi. Besi berlebihan adalah suatu keadaan patologis dimana simpanan besi total dalam tubuh meningkat lebih tinggi dari kadar normal, sering kali dengan disfungsi organ sebagai akibat deposisi besi. Penyebab besi berlebihan adalah hemokromatosis (genetik) primer (genetic haemochromatosis, GH) merupakan gangguan resesif autosomal yang dihubungkan dengan absorpsi besi berlebih. Sembilan puluh persen kasus bersifat homozigot untuk suatu mutasi pada human hemochromatosis protein (dikenal sebagai gen HFE) yang terletak dekat dengan kompleks human leucocyte antigen (HLA) pada kromosom 6. Penyebab yang lebih jarang meliputi mutasi pada gen untuk hepsidin,
hemojuvelin, dan reseptor transferin. Semua mutasi ini dianggap penyebab penurunan kadar hepsidin dan kemudian peningkatan absorpsi besi. Selain itu besi berlebih juga dapat disebabkan karena komponen makanan dan komponen genetik, zat besi dalam makanan berlebih, eritropoisis yang tidak efektif dengan
peningkatan absorpsi besi (misalnya talasemia intermedia), dan dapat juga disebabkan karena transfusi berulang pada pasien dengan anemia refraktur berat misalnya talasemia mayor, meilodisplasia, dimana setiap unit darah mengandung 250 mg zat besi (Metha & Hoffbrand 2006).
Rendahnya pengetahuan dan perilaku tidak sehat berperan sangat besar yang
mengakibatkan tingginya prevalensi anemia (Sakti, Rachmawati, Rahfiludin 2003; Farida 2006; Gunatmaningsih 2007; Proboningrum 2009). Meskipun ketersediaan pangan nasional dan pendapatan perkapita baik, unsur lain yang penting adalah pengetahuan gizi dan daya beli (Atmawikarta 2005),. Penelitian
pada remaja putri murid SMU dan MAN di Jawa Barat menunjukkan bahwa remaja putri yang mempunyai pengetahuan tentang anemia yang rendah mempunyai kecenderungan menderita anemia 61% lebih tinggi (Budiman 1997).
Selain pengetahuan, anemia bisa disebabkan karena lingkungan yang tidak sehat dan banyaknya pencemaran lingkungan yang terjadi terutama di lingkungan perkotaan, karena banyaknya polutan yang berasal dari kendaraan bermotor dan pabrik-pabrik berupa senyawa organik maupun logam berat yang bersifat kumulatif dan bersaing dengan zat besi selama metabolisme zat gizi dalam tubuh dan bisa menyebabkan keracunan. Kurangnya akses ke layanan kesehatan serta rendahnya sanitasi lingkungan dan higienis perorangan juga mempunyai kontribusi terhadap kejadian anemia (WHO 1999).
Penyebab kejadian anemia lainnya adalah faktor kemiskinan. Anemia defisiensi besi umumnya ditemukan pada keluarga dengan status sosial ekonomi rendah (WHO 2001). Hal itu disebabkan karena rendahnya daya beli makanan yang bergizi terutama makanan sumber zat besi.
Prevalensi Anemia di Indonesia
Berdasarkan hasil survei NSS-HKI (Nutrition and Health Surveilance System – Helen Keller International) tahun 1999 dan tahun 2000 prevalensi anemia pada balita berkisar 40-70% dan pada wnita usia subur (WUS) berkisar 20-40%.
10
nifas 45,1%, remaja putri usia 10-18 tahun sebesar 57,1% dan usia 19-45 tahun
39,5%. Dari semua kelompok umur di atas, balita dan wanita mempunyai resiko anemia paling tinggi, termasuk remaja putri.
Untuk menilai apakah prevalensi anemia menjadi suatu masalah dalam suatu populasi, maka WHO (2001) menetapkan batasan prevalensi anemia yang
merupakan masalah kesehatan masyarakat:
Tabel 1. Klasifikasi anemia yang merupakan masalah kesehatan masyarakat Katagori Kesehatan masyarakat Prevalensi Anemia (%)
Berat ≥ 40
Sedang 20,0 – 39,9
Ringan 5,0 – 19,9
Normal ≤ 4,9
Sumber : WHO 2001
Dampak Anemia
Tanda-tanda anemia yang paling umum adalah 5 L yakni lesu, lemah, letih, lelah dan lalai. Jika terjadi pada anak-anak maka dapat menimbulkan dampak seperti kesakitan dan kematian; perkembangan otak dan pertumbuhan fisik terhambat; perkembangan motorik, mental, kecerdasan terhambat; daya tangkap belajar menurun; pertumbuhan dan kesegaran fisik menurun; interaksi sosial kurang (Aliefien 2005). Tanda-tanda lainnya termasuk pucat, kuku rapuh, pusing dan lekas marah (Anomin 2004). Pada beberapa wanita merasa lelah bahkan sebelum mereka beraktivitas.
Penelitian Dupport (2003) menunjukkan dampak penurunan kadar zat besi
pada saat menstruasi akan menyebabkan glositis, jantung berdebar, tidak dapat berkonsentrasi (memory disorder) serta gelisah.
Jika tidak segera ditangani anemia defisiensi zat besi bisa menyebabkan gangguan kesehatan serius. Gejala klinis yang muncul merefleksikan gangguan
fungsi dari berbagai sistem dalam tubuh antara lain penurunan kinerja fisik, gangguan neurologik (syaraf) yang dimanifestasikan dalam perubahan perilaku, anorexia (badan sangat kurus), pica, serta perkembangan kognitif yang abnormal pada anak. Sering pula terjadi abnormalitas pertumbuhan, gangguan fungsi epitel, dan berkurangnya keasaman lambung.
Anemia yang tidak terdeteksi dapat menyebabkan infertilitas pada wanita usia subur, melahirkan prematur pada wanita hamil, pada anemia yang berat pingsan dan depresi dapat terjadi pada wanita disegala umur (USAID 2005). Namun umumnya anemia ringan tidak mempunyai tanda atau hanya tanda-tanda ringan, hal ini menyebabkan wanita sering tidak menyadari tanda-tanda-tanda-tandanya atau cenderung menganggap tanda-tanda yang ringan tersebut adalah karena stress dari kehidupan modern.
Fungsi Zat besi, Hemoglobin dan Feritin Dalam Tubuh
Di dalam tubuh, fungsi utama zat besi adalah dalam produksi komponen pembawa oksigen yaitu hemoglobin dan mioglobin. Hemoglobin terdapat di dalam sel darah merah dan merupakan protein yang berikatan dengan zat besi
berfungsi untuk mengangkut oksigen ke berbagai jaringan-jaringan tubuh sedangkan mioglobin terdapat di dalam sel-sel otot dan berfungsi untuk menyimpan dan mendistribusikan oksigen ke dalam sel-sel otot (Hoffbrand, Pettit, Moss 2001)
12
berikatan dengan oksigen dan mengangkutnya melalui darah ke sel-sel otot.
Mioglobin yang berikatan dengan oksigen inilah yang menyebabkan daging dan otot-otot menjadi berwarna merah (Anonim 2004).
Zat besi terdapat sebanyak 55 mg/kg berat badan untuk laki-laki dewasa dan 45 mg/kg berat badan untuk wanita dewasa. Secara normal sekitar 60%-70% zat
besi tubuh terdapat pada hemoglobin yang bersirkulasi dalam eritrosit (Koury & Ponka 2004). Pada vertebrata, zat besi ditransportasikan dalam tubuh antara bagian absorpsi, penyimpanan dan penggunaan oleh glikoprotein plasma, transferin yang mengikat Fe3+
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Krumel dan Ehterton (1996) kebutuhan zat besi pada kondisi fisiologis remaja putri diperkirakan sekitar 1,9
mg/hari, berdasarkan rata-rata kebutuhan untuk tumbuh 0,5 mg, kehilangan basal 0,75 mg, dan kehilangan darah pada saat menstruasi 0,6 mg. Apabila AKG zat besi 15 mg/hari, dengan asumsi penyerapan 10-15%, akan menghasilkan asupan zat besi 1,5-2,2 mg/hari. Jumlah ini cukup untuk mempertahankan keseimbangan
dan usia 13-19 tahun sebesar 26 mg/hari berdasarkan pada tingkat bioavailibilitas
sekitar 10% (Kartono & Soekarti 2004).
Hemoglobin adalah molekul protein oligomer (BM 64.500) yang mengandung empat rantai polipeptida dan empat gugus prostetik heme, yang mempunyai atom besi dalam bentuk fero (Fe2+). Bagian protein yang disebut globin, terdiri dari dua rantai α (masing-masing mempunyai 141 residu) dan dua rantai β (masing-masing mempunyai 146 residu).
Gambar 2: Struktur kimia hemoglobin dalam sel darah manusia C = Karbon, H = Hidrogen, Fe = Iron, N = Nitrogen, O = Oksigen
Analisis sinar X telah menemukan bahwa molekul hemoglobin berbentuk agak bulat, dengan diameter kira-kira 5,5 nm. Masing-masing terdiri dari empat rantai mempunyai struktur tersier yang khas, yang mencirikan berlipatnya rantai. Seperti pada mioglobin, rantai α dan β hemoglobin mengandung beberapa potongan α-heliks yang dipisahkan oleh lekukan-lekukan. Keempat rantai polipeptida bersama-sama menyesuaikan diri di dalam suatu susunan yang mendekati tetrahedral, untuk membangun suatu struktur kuartener hemoglobin yang khas. Terdapat satu gugus heme yang terikat oleh masing-masing rantai. Heme-heme ini agak terpisah kira-kira 2,5 nm satu terhadap yang lain, dan
14
Selain berfungsi untuk memproduksi hemoglobin dan mioglobin, zat besi
juga dapat tersimpan di dalam protein feritin dan hemosiderin di dalam hati, serta di dalam sumsum tulang belakang. Sebagai indikator jumlah zat besi di dalam tubuh, feritin yang bersirkulasi di dalam darah dapat digunakan untuk menilai status zat besi di dalam tubuh. Turunnya kadar feritin berarti cadangan besi tubuh
menurun, namun feritin dapat meningkat bila terjadi peradangan atau infeksi, sehingga pada saat menderita infeksi kandungan feritin tidak dapat digunakan sebagai standar cadangan besi tubuh (Wish 2006).
Absorpsi Zat besi
Gambaran yang aneh dan mungkin unik dari metabolisme besi adalah bahwa sebenarnya terjadi pada sistem yang tertutup (closed sircuit). Dalam keadaan normal sangat sedikit besi dari makanan yang diserap, jumlah yang dikeluarkan melalui urin adalah minimal, dan sebagian besar dari seluruh besi dalam tubuh secara terus menerus didistribusikan ke seluruh tubuh dalam beberapa lingkaran metabolisme. Karena tidak ada jalan untuk mengekskresikan besi secara berlebihan, absorpsi dari usus harus diatur, bila tidak akan ditimbun di dalam jaringan dalam jumlah yang toksik.
Beberapa hal yang meregulasi absorpsi besi dalam usus, yaitu Dietary regulator, (jenis diet dengan bioavailibilitas besi yang tinggi dan adanya faktor en-hancer akan meingkatkan absorpsi besi), Stores regulator (besarnya cadangan besi dapat mengatur tinggi rendahnya absorpsi besi), Erythropoetic regulator
(besarnya absorpsi besi berhubungan dengan kecepatan eritropoesis) dan hepsidin yang diperkirakan berperan sebagai soluble regulator absorpsi besi di usus (Agustriadi & Suega 2006).
Dalam makanan biasanya terdapat 10-50 mg besi setiap hari, tetapi hanya
Pitat, oksalat, tanin dan bahkan fosfat yang ada dalam bahan makanan nabati
cenderung membentuk endapan besi yang tidak larut yang menyebabkan besi tersebut tidak dapat diserap (Linder 1991; Food Nutrition Board 2001; Schlenker 2007). Dalam lingkungan yang alkalis (konsentrasi alkohol tinggi) seperti usus bagian atas dan terutama dalam kondisi aklorohidria (relatif tidak ada produksi
HCl dalam lambung) akan membentuk ikatan hidroksida yang tidak larut. Untuk mencegah pengaruh tersebut digunakan pengkilasi Fe seperti vitamin C, fruktosa, fumarat dan beberapa asam amino yang menyebabkan zat besi tersebut dalam keadaan larut sehingga dapat diserap (Linder 1991).
Tabel 2. Beberapa faktor yang meningkatkan penyerapan Fe oleh usus
Yang meningkatkan penyerapan Fe Zat Makanan
Meningkatkan eritropoisis, seperti pada hipoksia (altitut), hemolisis, hemoragi, androgen, garam-garam Ca (pembebasan eritropoitin biasanya terlibat)
Idiopatik Hemokromatosis (karena kerusakan genetik)
Pada orang dewasa memasukkan 25-30 mg vitamin C dalam makanan akan meningkatkan absorbsi zat besi sampai 85% (Gutrie 1995). Vitamin C merupakan
pereduksi ion ferri menjadi ferro sehingga lebih mudah diserap (Sharp & Srai 2007).
Tabel 3. Beberapa faktor yang menghambat penyerapan Fe oleh usus
Yang menghambat penyerapan Fe Zat Makanan
(Langsung)
Faktor-faktor Endogen (Tidak Langsung) Oksalat. Tanin. Fitat, Karbonat ,
Fosfat
Serat (bukan selulosa) Kelebihan ion:
Co2+, Cu2+, Zn2+, Cd2+ Mn2+, Pb
Tingginya Fe cadangan tubuh (dalam sum-sum tulang)
Infeksi/peradangan
Tidak ada HCL lambung (achylia, achlorohydria)
2+
Makanan rendah protein
16
Pada metabolisme besi yang normal, absorpsi besi di usus memegang
peranan sangat penting. Absorpsi terbanyak terjadi di proksimal duodenum karena pH asam lambung dan kepadatan protein tertentu yang diperlukan pada proses absorpsi besi di epitel usus.
Zat besi diserap dari usus disimpan sebagai feritin di epitel usus di
transport dalam plasma sebagai transferrin. Progenitor eritroid memperoleh zat besi untuk sintesis hemoglobin dari transferrin plasma atau dari daur ulang penghancuran eritrosit yang sudah tua oleh magrofag di dalam sumsum tulang, limpa dan hati. Zat besi yang berlebih untuk keperluan produksi hemoglobin disimpan dalam magrofag sebagai feritin, yang dioksidasi menjadi hemosiderin. Simpanan ini dapat dikeluarkan dari magrofag pada saat dibutuhkan atau pada saat eritropoiesis meningkat (Andrews 1999).
Gambar 3. Absorpsi zat besi.
(Sumber: Andrews NC,New Engl J Med. 341:1986-1995, Copyright © 1999 Massachusetts Medical Society. All rights reserved.)
Proses absorpsi besi dibagi 3 fase:
1. Fase luminal, dimana besi pada makanan dilepaskan ikatannya karena
2. Fase mukosal, merupakan suatu proses aktif yang sangat kompleks dan
terkendali dimana sel absorptif pada puncak vili-vili usus feri dikonversi menjadi fero oleh enzim ferireduktase yang dimediasi oleh duodenal cytochrome b-like (DCYTB). Transpor melalui membran difasilitasi oleh protein divalent metal transporter 1 (DMT1).
Gambar 4. Absorbsi besi di usus halus
(sumber: Andrews, N.C., 1999. N Engl J Med; 23: 2508-9).
Setelah besi masuk ke sitoplasma, sebagian disimpan dalam bentuk feritin, sebagian dikeluarkan ke katableter usus melalui basolateral transporter (feroportin/FPN). Pada proses ini terjadi oksidasi dari fero menjadi feri oleh enzim ferooksidase (a.l. hephaestin), lalu feri diikat oleh apotransferin dalam katableter usus. Terdapat fenomena mucosal block, dimana setelah beberapa hari dilakukan bolus besi dalam diet, maka enterosit resisten terhadap
18
besi dalam enterosit sehingga menyebabkan set-point diatur seolah-olah
kebutuhan besi sudah berlebihan.
Gambar 5. Regulasi absorbsi besi
(sumber: Andrews, N.C., 1999. N Engl J Med; 26: 1986-95).
3. Fase korporeal, zat besi sudah diserap enterosit dan melewati bagian basal
menurunkan pH endosom, sehingga melepaskan ikatan besi dari transferin.
Besi dalam endosom akan dikeluarkan ke sitoplasma dengan bantuan divalent metal transporter 1 (DMT 1), sedangkan ikatan apotransferin dan reseptor transferin mengalami siklus kembali ke permukaan sel dan dapat dipergunakan kembali. (Agustriadi & Suega 2006)
Gambar 6. Siklus transferin
(sumber: Andrews, N. C., 1999. N Engl J Med; 26: 1986-95).
Metabolisme zat besi
Metabolisme besi pada makrofag diawali dengan fagositisasi eritrosit dan pemecahannya di fagosom, kemudian besi dikeluarkan melalui feroportin dengan
20
jumlah yang sama dengan keperluan eritropoesis tersebut. Sehingga hasil akhir
mekanisme ini adalah keseimbangan jumlah besi tubuh (Ganz 2003).
Jumlah zat besi dalam badan orang dewasa sehat kurang lebih sebanyak 4 gram. Sebagian besar (± 2,5 gram) berada di dalam sel darah merah atau hemoglobin. Sebagian zat besi terdapat di dalam pigmen pada otot yang disebut
mioglobin. Mioglobin ini berfungsi menangkap dan memberikan oksigen. Enzim intraselular yang disebut porfirin juga mengandung zat besi. Enzim lain yang terpenting diantaranya adalah citokrom yang selalu banyak terdapat di dalam sel. Pada orang yang sehat, sebagian zat besi (± 1 gram) disimpan di dalam jaringan
terutama di dalam hati dalam bentuk berikatan dengan protein yang disebut feritin.
Untuk menjaga badan agar tidak anemia, maka keseimbangan zat besi di dalam tubuh perlu dipertahankan. Keseimbangan disini diartikan bahwa jumlah zat besi yang dikeluarkan dari tubuh sama dengan jumlah zat besi yang diperoleh badan dari makanan.
Sel-sel darah merah berumur 120 hari, jadi sesudah 120 hari sel-sel darah merah mati, dan diganti dengan yang baru (Linder 1991). Proses penggantian sel-sel darah merah yang lama dengan sel-sel-sel-sel darah merah yang baru disebut turn over. Setiap hari turn over zat besi ini berjumlah 35 mg, tetapi tidak semuanya harus didapatkan dari makanan. Sebagian besar, yaitu sebanyak 34 mg didapat dari penghancuran sel-sel darah merah yang tua, yang kemudian disaring oleh tubuh untuk dapat dipergunakan kembali oleh sumsum tulang untuk pembentukan
sel-sel darah merah yang baru
Pada keadaan seimbang 1-2 mg zat besi diserap dan dibuang oleh tubuh setiap hari. Diet zat besi diserap oleh entrosit usus dua belas jari. Zat besi dalam tubuh bersirkulasi dalam plasma berikatan dengan transferin. Sebagian besar zat
hemoglobin pada eritrosit yang sudah tua dan mengambil kembali zat besi pada
transferin untuk disebarkan ke sel-sel
Gambar 7. Skema metabolisme zat besi
(Sumber: Andrews NC,New Engl J Med. 341:1986-1995, Copyright © 1999 Massachusetts Medical Society. All rights reserved.)
Hanya 1-2 mg zat besi dari penghancuran sel-sel darah merah yang tua yang dikeluarkan oleh tubuh melalui kulit, saluran pencernaan dan air kencing. Jumlah
zat besi yang hilang melalui jalur ini disebut sebagai kehilangan basal (iron basal losses).
Pada wanita zat besi yang dikeluarkan dari tubuh lebih banyak dari pada laki-laki (Beard 2000). Selain kehilangan basal masih ada kehilangan lewat jalur
22
1 mg/hari. Dengan demikian wanita mengeluarkan zat besi dari tubuhnya hampir
dua kali lebih banyak dari pada laki-laki dewasa. Zat besi yang dapat diabsorpsi 5-10% (untuk menu makanan yang cukup bervariasi) maka seorang laki-laki dewasa harus mengkonsumsi zat besi sebanyak 13 mg/hari, dan wanita harus mengkonsumsi 26 mg/hari walaupun wanita mengeluarkan zat besi hampir dua
kali lebih banyak dari pada laki-laki, tetapi karena wanita lebih efisien mengabsorpsi zat-zat gizi termasuk zat besi maka untuk menjaga keseimbangan zat besi dalam tubuh, wanita dapat mengkonsumsi lebih rendah dari 26 mg/hari asal dalam bahan makanannya ada daging atau ikan dan sumber vitamin C yang cukup (Davidson 1973 dalam Husaini 1989).
Hepsidin Dan Peranannya
Hepsidin adalah sebuah hormon peptida yang dihasilkan di dalam hati dan mengatur penyerapan zat besi dalam tubuh. Hepsidin mencegah tubuh menyerap lebih banyak zat besi dari yang diperlukan baik yang berasal dari makanan atau suplemen dan menahan pengambilan zat besi dari sel. Keseimbangan zat besi dalam tubuh Keseimbangan zat besi dalam tubuh diatur oleh interaksi antara hepsidin dan reseptor feroportin yang mengangkut zat besi. Hepsidin mengikat feroportin, sehingga mengurangi pengeluaran zat besi dari sel. Kelebihan hepsidin dalam darah dapat menyebabkan anemia, sementara defisiensi hormon ini menyebabkan pembentukan zat besi berlebihan yang akan merusak organ dalam tubuh (Daniel 2008).
Ketika konsentrasi hepsidin rendah, zat besi selular dilepaskan ke dalam plasma menembus membran dan bergabung dengan ferroportin (FPN). Ketika konsentrasi hepsidin tinggi, hepsidin berikatan dengan ferroportin, dan ferroportin masuk dan didegradasi oleh hepsidin. Sebagai konsekuensi dari hilangnya
Gambar 8. Efek interaksi hepsidin – ferofortin pada eksport besi sellular
(Sumber: Ganz 2007. J Am Soc Nephrol 18: 394-400, 2007)
Hormon hepsidin pertama kali diisolasi oleh Park et al (2000) pada saat mempelajari karakter antimikrobial berbagai cairan tubuh manusia. Park et al (2001) mengisolasi suatu peptida baru dari urin dan menamakannya hepsidin, berdasarkan tempat diproduksinya (hati, hep-) dan karakter antimikrobial in vitro (-cidin). Studi sebelumnya oleh Krause et al (2000) juga mengisolasi peptida yang sama dari ultrafiltrat plasma dan menamakannya LEAF-1 (Liver expressed antimicrobial peptide), suatu peptida dengan karakter antimikrobial yang diekspresikan oleh hati. Yang istimewa dan tidak seperti peptida antimikrobial lainnya yang sekuen peptidanya sangat bervariasi antar species, pada beberapa spesies mamalia (tikus, babi) dan ikan sekuen hepsidinnya ternyata hampir identik dengan hepsidin manusia dan tikus yaitu pada manusia hanya terdapat satu macam hepsidin, sedangkan pada tikus didapatkan dua macam hepsidin yaitu hepsidin 1 dan 2. Namun Lou et al (2003) menyatakan bahwa ekspresi hepsidin 2 tidak berpengaruh terhadap metabolisme besi seperti hepsidin 1. Di tahun-tahun berikutnya studi-studi mengenai peptida ini makin berkembang sehingga
24
keadaan-keadaan seperti anemia berat, keganasan, peradangan kronis, serta
diketahui adanya penurunan produksinya pada hemokromatosis.
Gambar 9. Struktur utama hepsidin manusia
N = amino terminal, C = karboksi terminal, pita kuning = jembatan disulfida, pita biru = asam amino. Pola ikatan disulfida dengan 8 sistein terlihat pada
sequence asam amino
(Sumber: Tomas Ganz,
Secara struktur, hepsidin manusia merupakan suatu peptida kecil kaya
sistein (delapan sistein) yang didapat dari gugus C-terminal dari suatu asam amino prepropeptida, yang dapat diisolasi dari urin dan ultrafiltrat darah, sebagian besar mengandung 25 asam amino (hep-25) dan sebagian lagi ditemukan dengan rantai asam amino yang lebih pendek (hep-20 dan hep-22). Molekul hepsidin berbentuk
seperti jepitan rambut (hairpin) kedua lengannya disilang oleh gugusan disulfida. Suatu hal yang tidak biasa yang tampak pada molekul ini adalah susunan sisteinnya, dimana terdapat jembatan disulfida pada dua sistein yang berdekatan sehingga reaktifitas kimianya lebih besar dibandingkan dengan ikatan disulfida pada peptida antimikrobial lainnya seperti pada defensin, takiplesin dan lainnya.
Blood, 1 August 2003, Vol. 102, No. 3, pp. 783-788)
(Nemeth & Ganz 2006). Di dalam enterosit, hepsidin terikat pada protein
transport besi basolateral (feroportin), inisiasi internalisasi dan mendegradasi ferofortin tersebut dan secara efektif menghambat fluks besi dari sel dan mereduksi absorpsi besi (Nemeth et al. 2004).
Pada tikus transgenik over ekspresi hepsidin diasosiasikan dengan anemia
pada imflamasi dan anemia defisiensi besi yang berat. Meskipun pada tikus ekspresi hepsidin menunjukkan berbanding terbalik dengan absorpsi dan ekspresi protein transport besi (Frazer et al. dalam Young et al. 2009), namun sampai saat ini hubungan yang signifikan antara ekspresi hepsidin dan absorpsi besi pada manusia belum ditetapkan. Hal ini disebabkan karena ukuran dari protein ini yang kecil (25-AA) sehingga sulit untuk diukur. Hal ini mengarahkan beberapa peneliti untuk mengukur prohepsidin, yaitu suatu 60-AA linear yang merupakan prekursor
bagi peptida 25-AA yang mengandung empat ikatan disulfida (Young et al. 2009).
Hubungan Hepsidin Dengan Metabolisme Besi
Hubungan antara hepsidin dan metabolisme besi diungkapkan pertama kali oleh Pigeon et al tahun2001 (saat meneliti respon hati terhadap beban besi yang berlebihan) yang menyatakan bahwa mRNA hepsidin diproduksi oleh hepatosit dan lipopolisakarida serta beban besi yang berlebihan baik secara oral maupun parenteral dapat merangsang produksi hepsidin sebagai feedback terhadap keadaan besi berlebihan tersebut, sehingga gen hepsidin dianggap sebagai gen upstream stimulatory factor-2 (USF2). Nicolas et al (2001), menyatakan bahwa pada hewan percobaan tikus yang dihilangkan fungsi gen USF2-nya akan mengalami kondisi seperti hemokromatosis, dimana terjadi hiperabsorpsi besi pada usus dan peningkatan pelepasan besi dari makrofag sehingga terjadi
peningkatan kandungan besi pada hati dan pankreas serta defisiensi besi pada limpa. Pada hati terjadi kekurangan mRNA hepsidin.
26
dan anemia mikrositik yang berat, sedangkan fetusnya mati pada masa perinatal
dengan anemia defisiensi besi yang berat, sehingga disimpulkan bahwa hepsidin merupakan suatu regulator negatif uptake besi di usus serta release besi dari makrofag maka terjadi retensi besi di makrofag (Agustriadi & Suega 2006).
Gambar 10. Skema hubungan hepsidin dengan metabolisme besi
(Andrews NC,New Engl J Med. 341:1986-1995, Copyright © 1999 Massachusetts Medical Society. All rights reserved.)
Kelebihan zat besi berbahaya, karena menyebabkan pembentukan radikal bebas. Seluruh zat besi tubuh diregulasi terutama pada tingkat absorpsi oleh enterosit, tidak ada jalur regulasi aktif untuk ekskresi zat besi (hanya dapat terjadi karena perdarahan atau pengelupasan enterosit yang memuat zat besi). Regulasi pengambilan zat besi oleh enterosit dan pengeluaran simpanan zat besi dari makrofag dan hepatosit dimediasi oleh hormon hepsidin, dan dampaknya terhadap ferroportin (lihat skema di atas). Hepsidin menurunkan kadar zat besi serum
sintesis hemoglobin). Kadar hepsidin meningkat karena peradangan sitokin,
terutama IL-6 dan penurunan ketersediaan zat besi selama proses peradangan. Karena itu peradangan menyebabkan suatu defisiensi zat besi fungsional karena zat besi tidak dikeluarkan dari makrofag ( menghasilkan peningkatan simpanan
zat besi). Hal ini menyebabkan anemia pada penyakit peradangan
(Andrew 1999).
Cara Mencegah dan Mengobati Anemia
Kegiatan penanggulangan anemia gizi untuk remaja putri dan Wanita Usia Subur (WUS) yang dilakukan merupakan kegiatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) yaitu promosi atau kampanye tentang anemia kepada masyarakat luas ditunjang dengan kegiatan penyuluhan. Salah satu strategi untuk meningkatkan asupan Fe adalah dengan suplementasi Fe. Berdasarkan Pedoman Penanganan Anemia yang dikeluarkan oleh Depkes tahun 2001 untuk mencegah dan mengobati anemia adalah sebagai-berikut:
1. Meningkatkan konsumsi makanan bergizi. Makan makanan yang banyak
mengandung zat besi dari bahan makanan hewani (daging, ikan, ayam, hati, telur) dan bahan makanan nabati (sayuran berwarna hijau, kacang-kacangan, tempe). Makan sayur-sayuran dan buah-buahan yang banyak mengandung vitamin C (daun katuk, daun singkong, bayam, jambu, tomat, jeruk dan nanas) sangat bermanfaat untuk meningkatkan penyerapan zat besi dalam usus.
2. Menambah pemasukan zat besi ke dalam tubuh dengan minum Tablet Tambah Darah (TTD). Tablet Tambah Darah adalah tablet besi folat yang setiap tablet mengandung 200 mg Ferro Sulfat atau 60 mg besi elemental dan 0,25 mg asam folat. Tablet Tambah Darah adalah obat bebas terbatas
28
seminggu sekali dan dianjurkan minum 1 tablet setiap hari selama haid.
Untuk ibu hamil, minumlah 1 (satu) Tablet Tambah Darah setiap hari paling sedikit selama 90 hari masa kehamilan dan 40 hari setelah melahirkan
3. Mengobati penyakit yang menyebabkan atau memperberat anemia seperti: kecacingan, malaria dan penyakit TBC.
Berdasarkan panduan yang dianjurkan oleh International Nutritional Anemia Consultative Group (INACG), penggunaan zat besi untuk suplementasi dalam mencegah dan menangani anemia defisiensi besi dapat dilihat pada Tabel 4 dibawah ini:
Tabel 4. Petunjuk untuk suplementasi zat besi yang dianjurkan/hari oleh INACG
Group Dosis
Anak-anak umur 2-5 tahun 20-30 mg zat besi
Anak-anak 6-11 tahun 30-60 mg zat besi
Remaja dan orang dewasa 60 mg zat besi
Pada anak-anak usia 2-5 tahun berdasarkan dosis zat besi 2 mg/kg berat badan/hari. Jika kelompok populasi termasuk remaja atau wanita usia subur, harus menambahkan 400 µg asam folat bersamaan dengan suplementasi zat besi untuk mencegah kelainan kelahiran pada wanita yang nantinya akan mengalami kehamilan. Apabila di daerah tersebut merupakan endemik hookworm (prevalensi 20-30% atau lebih) akan lebih efektif bila mengkombinasikan suplementasi zat besi dengan penanganan antihelmintik baik terhadap orang dewasa maupun anak-anak di atas umur lima tahun (Stoltzfus & Dreyfuss 1998). Dosis untuk penanganan antihelmintik yang dianjurkan dapat dilihat pada Tabel 5.
Lama suplementasi pada remaja dapat dilakukan selama tiga bulan (Tee at al 1999; Haidar et al 2003) atau enam bulan (Viteri et al 1999; Sungthong
dengan yang diberikan tiap hari (Zavaleta et al 2000). Respon Hb terhadap
suplementasi tablet besi terjadi pada saat konsumsi tablet besi ke-20 dan tidak berpengaruh setelah konsumsi tablet zat besi ke-40 (Ekstom 2001). Karena terdapat perbedaan pola suplementasi yaitu harian dan mingguan, maka pendekatan selain lama suplementasi dapat juga dilakukan berdasarkan jumlah
kapsul yang diminum, harus lebih dari 20 tablet (Briawan 2008).
Tabel 5. Dosis antihelmintik yang dianjurkan oleh INACG
Antihelmintik Dosis
Albendazole 400 mg dosis tunggal
Mebendazole 500 mg dosis tunggal
Levamisole 2,5 mg/kg bb dosis tunggal Pyrantel 10 mg/kg bb dosis tunggal
Penanganan antihelmintik dapat diberikan pada ibu hamil dan ibu menyusui. Namun aturan secara umum tidak boleh memberikan obat pada trimester pertama
Bila di daerah yang endemik schistosomiasis saluran kencing, penanganan tahunan untuk anak usia sekolah yang dilaporkan terdapat darah dalam urinnya
maka dianjurkan untuk diberikan :
BAHAN DAN METODE
Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi dan Makanan Bogor, yang dilaksanakan pada bulan Juni 2010 - bulan Januari 2011, yang berjudul “Efektivitas Suplementasi
Zat Gizi Mikro Terhadap Status Besi dan Vitamin A Pada Murid SLTP” Titik berat penelitian ini adalah pada prohepsidin dan status besi dalam darah pada murid SMP kelas VII, VIII dan IX di Kabupaten Bogor.
Disain, Lokasi dan Waktu Penelitian
Disain penelitian ini adalah kuasi eksperimen dengan jenis penelitian terapan. Penelitian dilakukan di dua SMP di Kabupaten Bogor yaitu SMP Purnawarman di Kecamatan Rancabungur dan MTs Fathusa’adah di Kecamatan Sukaraja selama 8 bulan dari bulan Juni 2010 - bulan Januari 2011.
Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi penelitian adalah murid-murid SMP di Kabupaten Bogor, sedangkan sampel penelitian adalah remaja putri murid-murid SMP Purnawarman Kecamatan Rancabungur dan Mts Fathusa’adah kecamatan Sukaraja kelas VII, VIII dan IX usia 12-15 tahun, dengan kriteria inklusi: tidak menderita sakit infeksi menahun, tidak sedang menstruasi pada saat pengambilan darah dan bersedia ikut serta dalam kegiatan penelitian serta menandatangani surat
pernyataan bersedia menjadi objek penelitian.
Penelitian ini terdiri dari dua kelompok yaitu: kelompok perlakuan yang
diberi kapsul besi (ferro sulfate) Dosis 60 mg + 0,25 mg asam folat dua kali seminggu selama 12 minggu dan kelompok kontrol yang diberikan placebo.
Jumlah sampel dihitung dengan harapan kenaikan hemoglobin sebesar rata-rata 1,2 g/dl, dengan rumus sebagai berikut (Lemeshaw, 2000) :
2(Z 1-α/2 + Z 1-β)2σ2 n = ---
2(1,96 + 1,28)2( 1, 32)
n = --- = 24,6 (1,2)2
Keterangan :
n = Besar sampel
σ = Simpang baku kadar hemoglobin = 1,3 (Saidin, 2009) δ = harapan kenaikan kadar hemoglobin 1,2g/dl.
Z 1-α/2 = nilai pada distribusi normal standar yang sama dengan tingkat
kemaknaan (untuk α = 0,05 adalah 1,96)
Z 1-β = nilai pada distribusi normal standar yang sama dengan kekuatan
(power) sebesar yang diinginkan (untuk β = 0,10 adalah 1.28) μc = mean outcome sebelum intervensi
μI = mean outcome setelah intervensi
Jumlah sampel dihitung dengan harapan perubahan prohepsidin sebesar 13 ng/ml, dengan rumus sebagai berikut (Lemeshaw, 2000) :
2(Z 1-α/2 + Z 1-β)2σ2 n = ---
(μc - μ I )2
2(1,96 + 1,28)2( 1, 32)
n = --- = 20,7 (13)2
Keterangan :
N = Besar sampel
σ = Simpang baku kadar prohepsidin = 12,9 (Young et al, 2009) δ = harapan kenaikan kadar prohepsidin 13 ng/ml.
Z 1-α/2 = nilai pada distribusi normal standar yang sama dengan tingkat kemaknaan (untuk α = 0,05 adalah 1,96)
Z 1-β = nilai pada distribusi normal standar yang sama dengan kekuatan
(power) sebesar yang diinginkan (untuk β = 0,10 adalah 1.28) μc = mean outcome sebelum intervensi
32
Berdasarkan perhitungan rumus tersebut di atas diperlukan 28 orang
remaja putri per kelompok perlakuan (dengan memperhitungkan kemungkinan terjadinya drop out sekitar 10%). Kemudian diambil jumlah sampel tertinggi yaitu berdasarkan perhitungan kenaikan kadar hemoglobin.
CARA PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA Cara Pengambilan Sampel
Karena penelitian ini merupakan bagian dari penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi dan Makanan Bogor maka cara pengambilan sampel (sampling) mengikuti pelaksanaan dalam penelitian Puslitbang Gizi dan Makanan Bogor tersebut.
Pemilihan SMP dilakukan secara purposive berdasarkan hasil penelitian Saidin, 2009. Terhadap semua anak kelas VII, VIII dan IX dari SMP terpilih akan dilakukan pemeriksaan kadar Hb untuk mendapatkan siswi-siswi yang menderita anemia. Penelitian ini terdiri dari dua kelompok yaitu kelompok perlakuan (29 orang), dan kelompok kontrol (26 orang). Kemudian kepada seluruh anak diberikan obat cacing Pirantel Pamoat dosis tunggal. Selanjutnya mulai dilakukan pemberian suplemen selama 12 minggu. Kelompok perlakuan mendapat kapsul besi (ferro Sulfat) dosis 60 mg + 0,25 mg asam folat. Kelompok kontrol adalah kelompok pembanding mendapatkan plasebo. Pemberian tablet besi pada kelompok kontrol dilakukan setelah kegiatan penelitian selesai.
Cara Pemberian Kapsul Besi
Kapsul besi yang diberikan kepada sampel penelitian berasal dari tablet tambah darah (TTD) dari program pemerintah yang mengandung 200 mg fero sulfat atau 60 mg besi elemental dan 0,25 mg asam folat yang dikapsulkan.
Kapsul besi dikirim sebanyak 25 kali (satu minggu dua kali selama tiga
bulan) ke sekolah selama penelitian berlangsung dilakukan dimulai setelah pengumpulan data dasar (pada awal penelitian). Pemberian kapsul besi dilakuan di sekolah oleh petugas dari Puslitbang Gizi dan Makanan dibantu oleh guru, kecuali bagi responden yang tidak masuk sekolah, kapsul besi diantarkan ke
rumah oleh guru atau responden temannya yang tempat tinggalnya berdekatan. Untuk mencegah agar tidak ada responden yang terlambat minum kapsul besi, guru atau setiap murid yang bertugas sebagai distributor kapsul besi dibekali buku catatan yang berisi daftar nama-nama responden dan jadwal waktu minum kapsul besi yang sudah ditentukan, beserta surat pernyataan yang harus ditanda tangani oleh orang tua sampel yang menyatakan bahwa orang tua benar menyaksikan anaknya memakan kapsul yang diberikan oleh sekolah.
Bila ada keluhan dari responden dilaporkan kepada guru koordinator dan dicatat, kemudian dilaporkan kepada petugas dari Puslitbang Gizi dan Makanan.
Cara Pengumpulan Data
Sampel yang dipilih adalah murid-murid SMP Purnawarman Kecamatan Rancabungur dan Mts Fathusa’adah Kecamatan Sukaraja kelas VII, VIII dan IX berusia 12-15 tahun. Terhadap seluruh murid terpilih dilakukan pengumpulan data identitas diri, seperti nama, umur, nama orang tua, pekerjaan dan pendidikan orang tua, besar keluarga, keadaan ekonomi keluarga; data anthropometri meliputi berat badan dan tinggi badan; status kesehatan; data konsumsi makanan;
pengambilan darah untuk pemeriksaan status besi dan kadar hormon prohepsidin. Data identitas responden dikumpulkan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner. Data berat badan dikumpulkan dengan cara penimbangan menggunakan timbangan injak dengan ketelitian 0,1 kg, tinggi
34
kadar feritin dan kadar prohepsidin yang merupakan prekursor bagi hormon
hepsidin dikumpulkan dengan cara pengambilan contoh darah dari responden sebanyak 2,5 ml melalui vena menggunakan vacutainer dengan ukuran jarum 23G yang dilakukan oleh tenaga analis kesehatan yang terlatih dari Puslitbang Gizi dan Makanan Bogor. Kadar hemoglobin diukur dengan metode Cyanmethemoglobin
dilakukan di laboratorium Puslitbang Gizi dan Makanan Bogor, sedangkan kadar feritin dan kadar prohepsidin dilakukan dengan metode ELISA oleh tenaga-tenaga terlatih di laboratorium Biokimia, Departemen Biokimia IPB.
Setelah tiga bulan pemberian kapsul besi berlangsung, selanjutnya dilakukan pemeriksaan evaluasi dengan mengumpulkan data BB dan TB, konsumsi makanan serta darah untuk pemeriksaan status besi dan hormon prohepsidin.
Variabel
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kadar hemoglobin awal, feritin awal, prohepsidin awal, tingkat kecukupan energi, protein, vitamin A, vitamin C, zat besi, dan, sedangkan variabel terikatnya adalah perubahan kadar hemoglobin, perubahan kadar feritin, dan perubahan kadar prohepsidin.
Pengolahan dan analisis data
Manajemen data meliputi kegiatan editing, entri dan cleaning data sebelum dilakukan analisis. Editing mulai dilakukan oleh pewawancara semenjak
data diperoleh dari jawaban responden.
Pengolahan data diarahkan untuk menjawab tujuan penelitian dengan membuat tabulasi untuk masing-masing variabel. Analisis data dilakukan dengan univariat dan bivariat dengan menggunakan SPSS 17.
Untuk mengetahui kemungkinan variabel-variabel bebas (kadar Hb, kadar
Feritin, kadar prohepsidin dan tingkat kecukupan zat gizi) yang mungkin berpengaruh terhadap variabel terikat (perubahan biomarker status besi; perubahan kadar Hb, feritin dan prohepsidin) dilakukan dengan analisis regresi linear berganda.
ANALISIS DARAH Cara Pengambilan darah
Sampel darah yang digunakan untuk analisis hemoglobin adalah whole Blood sebanyak 20 µ l, sedangkan sampel darah yang digunakan untuk analisis kadar feritin dan kadar hepsidin adalah berupa serum masing-masing sebanyak ± 300 µ l dan ditambah untuk back up sampel serum 300 µ l sehingga darah yang diambil adalah ± 2,5 ml.
Pengambilan darah vena untuk memperoleh darah sebanyak 2,5 ml adalah sebagai berikut:
Alat-alat dan Bahan
Alat-alat yang diperlukan untuk pengambilan darah adalah spuit 2.5 ml, jarum ukuran 23 G, alkohol swab 70%, tabung centrifugasi, tabung serum, handyplast, label nama, tourniquit, rak tabung, dan cool box.
Cara pengambilan contoh darah
Pertama-tama disiapkan alat-alat dan bahan-bahan untuk keperluan pengambilan darah. Diperhatikan vena yang akan ditusuk, letaknya yang supervisial dan cukup besar, selanjutnya tourniquit dipasang pada lengan atas, jangan terlalu kencang dan tidak boleh terlalu lama. Tempat yang akan ditusuk
36
meneruskan menekan kapas tadi selama 2-3 menit sambil lengan direntangkan
kemudian bekas tusukkan tadi ditutup dengan handyplast.
Jarum dilepaskan dari spuitnya lalu darah dimasukkan ke dalam botol/ tabung perlahan-lahan supaya tidak menimbulkan buih dan sebaiknya dialirkan melalui dinding tabung atau botol. Bila digunakan anticoagulant segera dikocok
perlahan-lahan agar tercampur rata. Selanjutnya bekas jarum dibuang pada tempat yang sudah disediakan dan tidak boleh dicampur dengan sampah yang lain. Darah yang sudah didapat disentrifugasi dan diambil serumnya, serum dibagi menjadi tiga dan dimasukkan ke dalam tabung serum, masing-masing untuk analisis kadar feritin, kadar prohepsidin dan untuk cadangan, masing-masing tube serum diberi nama responden dan tanggal pengambilan atau kode yang sudah dibuat untuk masing-masing responden, kemudian dibawa ke laboratorium untuk dianalisis. Apabila tidak langsung dianalisis maka harus disimpan pada suhu -20 0C atau -70 0
Analisis hemoglobin
Sampel darah yang digunakan adalah whole blood sebanyak 20 µl dari darah vena yang diambil bersamaan dengan darah vena untuk analisis kadar feritin serum dan kadar prohepsidin serum. Darah yang sudah didapat dari vena sebelum dibiarkan membeku dan dicentrifugasi untuk diambil serumnya, terlebih dahulu diambil sebanyak 20 µ l untuk pemeriksaan hemoglobin, dilakukan duplo (2 analisis) agar lebih akurat. Kadar hemoglobin diukur pada panjang gelombang
546 nm menggunakan spektrofotometer HUMALYZER type 840 dilakukan di laboratorium Puslitbang Gizi dan Makanan Bogor. Pereaksi kit yang digunakan untuk pemerikasaan hemoglobin adalah merek HUMAN dari German siap pakai dengan menggunakan metode cyanmethemoglobin.
C stabil sampai ± 6 bulan.
Prinsip reaksi