• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Umum Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah siswi-siswi dari dua Sekolah Menengah Pertama terpilih yaitu SMP Purnawarman di Kecamatan Rancabungur Kabupaten Bogor dan MTs Fathusa’adah di Kecamatan Sukaraja Kabupaten Bogor, kelas VII, VIII dan IX. Sampel yang diikutkan dalam penelitian ini berjumlah 55 orang, terdiri dari kelompok perlakuan 29 orang dan kelompok kontrol 27 orang. Tetapi satu orang dari kelompok kontrol drop out karena berhenti sekolah sehingga pada kelompok kontrol menjadi 26 orang, tetapi hal ini tidak menjadi masalah karena masih memenuhi persyaratan batas minimal sampel yaitu 25 orang.

Tabel 7. Gambaran umum sampel Kelompok Perlakuan (n=29) Kelompok Kontrol (n=26) P Rata-rata Umur ± SD 13.67 ± 0.81 a 13.62 ± 1.13 a 0.735 Sudah menstruasi 79.3% 76.9% Belum menstruasi 20.7% 23.1%

Lama menstruasi 5.96 ± 0.92 hari 6.15 ± 1.18 hari

a

Umur siswi-siswi yang menjadi sampel dalam penelitian ini antara 12-15 tahun. Rataan umur responden pada kedua kelompok hampir sama masing-masing sebesar 13.67 ± 0.81 tahun untuk kelompok perlakuan dan 13.62 ± 1.13 tahun untuk kelompok kontrol (Tabel 7). Secara statistik rataan umur pada kedua kelompok tidak berbeda nyata (P > 0.05), 20.7% responden pada kelompok perlakuan dan 23.1% responden pada kelompok kontrol belum mendapatkan menstruasi (Tabel 7). Responden yang sudah mendapatkan menstruasi semuanya menyatakan menstruasinya teratur dengan lama menstruasi rata-rata 5.96 ± 0.92 hari untuk kelompok perlakuan dan 6.15 ± 1.18 hari untuk kelompok kontrol. Perbedaan lama menstruasi ini secara statistik tidak berbeda nyata (P > 0.05).

Pada baris yang sama, angka dengan huruf yang sama menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang bermakna (Uji Mann Whitney)

Berdasarkan status antropometri, rata-rata indeks massa tubuh (IMT) pada kelompok perlakuan 17.86 ± 2.26 dan 18.29 ± 2.74 pada kelompok kontrol. Pada kelompok perlakuan 38% responden termasuk sangat kurus dan 21% termasuk kurus. Pada kelompok kontrol 35% termasuk sangat kurus dan 23% termasuk kurus, sisanya termasuk katagori normal, masing-masing pada kelompok perlakuan dan kontrol 41% dan 42% (Gambar 11).

Tabel 8. Gambaran Rata-rata Indeks Massa Tubuh

Kelompok Perlakuan (n=29) Kelompok Kontrol (n=26) P IMT± SD 17.86 ± 2.26a 18.29 ± 2.74 0.980 a maksimum 13.10 12.20 minimum 22.10 24.30 a

Pada baris yang sama, angka dengan huruf yang sama menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang bermakna (Uji Mann Whitney)

Gambar 11. Klasifikasi indeks massa tubuh (IMT)

Pada studi cross sectional, status IMT dapat menjadi faktor resiko kejadian anemia. Hasil analisis data SKRT (2001) menunjukkan determinan anemia remaja diantaranya adalah status gizi, bagi yang berstatus gizi kurus mempunyai kemungkinan terkena anemia sebesar 1.5 kali dibandingkan dengan yang normal (Permaesih dan Herman, 2005), sedangkan hasil analisis data National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) yang dilakukan oleh Nead et al.

(2004) menunjukkan bahwa pada kelompok anak dan remaja yang kegemukan beresiko terkena defisiensi zat besi lebih besar dibandingkan yang normal.

38%

21% 41%

IMT Kelompok Perlakuan sangat kurus kurus normal

35%

23% 42%

IMT Kelompok kontrol sangat kurus kurus normal

Kondisi kesehatan responden diperiksa oleh dokter dari Puskesmas di kecamatan tersebut untuk mengetahui riwayat penyakit dan kondisi kesehatan yang diperkirakan akan mempengaruhi indikator biokimia. Semua siswi baik pada kelompok perlakuan maupun kelompok kontrol semuanya dalam keadaan sehat tidak menderita penyakit infeksi/kronis, sehingga kemungkinan anemia tidak diakibatkan oleh penyakit infeksi/kronis, namun untuk mencegah adanya pengaruh penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit (cacingan) yang dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap hasil intervensi kapsul besi maka semua siswi yang menjadi sampel dalam penelitian ini diberi obat cacing pirantel pamoat dosis tunggal (250 mg) tiga hari sebelum intervensi kapsul besi dilaksanakan.

Latar belakang keluarga responden berdasarkan rata-rata umur orang tua yang ikut serta dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 9. Rata-rata umur ayah dari kelompok perlakuan dan kontrol masing-masing 45.66 ± 7.07 tahun dan 44.12 ± 6.34 tahun dan ibu masing-masing 40.83 ± 6.89 tahun dan 39.46 ± 5.95 tahun. Rata-rata usia tersebut adalah termasuk usia produktif.

Tabel 9. Rata-rata Umur Orang Tua Kelompok Perlakuan (n=29) Kelompok Kontrol (n=26) P umur ayah 45.66 ±7.07 a 44.12±6.34 a 0.543 umur ibu 40.83±6.89 a 39.46±5.95 a 0.494 a

Berdasarkan pekerjaan, dapat dilihat pada Gambar 12 sebagian besar kepala keluarga bekerja sebagai buruh, 37.93% pada kelompok perlakuan dan 30.77% pada kelompok kontrol. Pekerjaan kepala keluarga yang lain adalah pegawai swasta, masing-masing 20.69% dan 15.38% untuk kelompok perlakuan dan kontrol, sedangkan pedagang seperti pedagang keliling, pedagang asongan, pedagang kaki lima, petani dan supir sebesar 28.13% dan 23.68%, serta pekerjaan lainnya masing-masing sebesar 10.34% dan 26.92% dan masih terdapat kepala keluarga yang tidak bekerja masing-maing 3.45% dan 3.25% untuk kelompok kontrol dan perlakuan. Sebagian besar ibu tidak bekerja atau hanya sebagai ibu

Pada baris yang sama, angka dengan huruf yang sama menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang bermakna (Uji Mann Whitney)

rumah tangga saja, 79.31% untuk kelompok perlakuan dan 84.62% untuk kelompok kontrol. Sebaran responden menurut latar belakang pekerjaan orang tua antara kedua kelompok tidak berbeda nyata (P > 0.05). Dilihat dari jenis pekerjaan orang tua responden tersebut, diduga sebagian besar responden berasal dari kelompok sosial ekonomi menengah ke bawah. Pola konsumsi dan keadaan ekonomi akan berdampak pada ketidakmampuan keluarga menyediakan makanan sumber zat besi. Hal ini juga berpengaruh pada tidak terpenuhinya kebutuhan tubuh akan zat besi (Wirakusumah, 1999).

Gambar 12. Pekerjaan orang tua

Latar belakang pendidikan orang tua responden dapat dilihat pada Gambar 13 tingkat pendidikan formal ayah dan ibu pada kelompok perlakuan dan kontrol relatif rendah, masing-masing 55.17% dan 65.39% ayah, 68.97% dan 73.08% ibu hanya berpendidikan formal sampai SD. Masing-masing hanya 13.79% dan 3.38% ayah, 3.45% dan 3.85% ibu yang dapat menyelesaikan pendidikan sampai tingkat SLTA. Sebaran responden menurut latar belakang pendidikan orang tua

antara kedua kelompok tidak berbeda nyata (P > 0.05). Rendahnya tingkat pendidikan orang tua ini dapat mempengaruhi sikap dan pengetahuan mengenai gizi dan kesehatan.

Gambar 13. Persentase pendidikan orang tua

Kepatuhan Minum Kapsul

Kapsul zat besi diberikan kepada responden sebanyak dua kali seminggu setiap hari selasa dan jum’at selama 12 minggu. Selama penelitian ini berlangsung, responden mendapatkan 25 kapsul zat besi. Kapsul yang diberikan diusahakan diminum disekolah di hadapan petugas peneliti dan guru yang membantu dalam penelitian ini. Bagi sampel penelitian yang tidak masuk pada saat pemberian kapsul, maka kapsul tersebut diberikan besok harinya oleh guru di sekolah dan harus diminum di hadapan guru yang bertugas membagikan kapsul, tetapi apabila responden tetap tidak masuk sekolah maka kapsul diantar oleh guru ke rumah responden dan harus diminum di hadapan guru dan orang tua. Karena penelitian ini melewati masa bulan puasa, maka pada saat puasa kapsul diizinkan dibawa pulang oleh responden untuk diminum pada saat berbuka puasa dihadapan

orang tua. Setiap responden dibekali surat pernyataan yang harus ditanda tangani oleh orang tua responden yang menyatakan bahwa orang tua responden benar-benar telah menyaksikan anaknya meminum kapsul yang diberikan oleh sekolah. Sebelum bulan puasa peneliti dibantu oleh pihak sekolah telah mengundang orang tua responden penelitian untuk mendapatkan penjelasan mengenai keharusan orang tua untuk ikut serta dalam memantau anaknya meminum kapsul zat besi selama bulan puasa. Jumlah kapsul yang diminum oleh sampel selama bulan puasa dihitung berdasarkan jumlah surat pernyataan dari orang tua yang dikembalikan ke peneliti. Bagi responden yang tidak mengembalikan surat penyataan tersebut dianggap tidak meminum kapsul yang diberikan. Rata-rata tingkat kepatuhan minum kapsul antara kedua kelompok dapat dilihat dapat pada Tabel 10.

Tabel 10. Rata-rata jumlah kapsul yang diminum dan persentase kepatuhan Kelompok Perlakuan (n=29) Kelompok Kontrol (n=26) P Rata-rata ± SD 24.31 ± 1.31 a 24.23 ± 1.79 a 0.641 % Kepatuhan 97.24 a 96.92 a 0.641 a

Pada penelitian ini, tingkat kepatuhan tinggi yaitu masing-masing sebesar 97.24% dan 96.92% untuk kelompok perlakuan dan kontrol, sehingga tidak menjadi pengganggu di dalam hasil analisis data biomarker status besi. Kepatuhan yang tinggi ini bisa dicapai karena setiap responden harus meminum kapsulnya di

Pada baris yang sama, angka dengan huruf yang sama menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang bermakna (Uji Mann Whitney)

Kapsul yang dikonsumsi oleh responden penelitian berkisar antara 24-25 kapsul yaitu 24.31 ± 1.31 butir kapsul untuk kelompok perlakuan dan 24.23 ± 1.79 butir kapsul untuk kelompok kontrol. .Kategori kepatuhan minum kapsul ditetapkan sebesar 80% (20 butir kapsul). Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Ekstrom (2001), efektifitas suplementasi tablet besi dimulai sejak konsumsi tablet ke 20 dan tidak berpengaruh setelah tablet ke 40. Kepatuhan minum kapsul ini sangat penting dalam penelitian intervensi. Tingkat kepatuhan yang rendah menyebabkan efikasi yang tidak berbeda antara kelompok kontrol dan perlakuan ( Soekarjo et al 2004).

hadapan petugas dan apabila ada yang muntah maka segera diganti dengan kapsul yang baru, dan betul-betul dipastikan bahwa kapsul benar-benar ditelan dengan baik.

Sebagian besar sampel (75%) pada kelompok perlakuan termasuk kelompok kontrol yang hanya mendapatkan plasebo menyatakan selama minum kapsul mereka merasa lebih segar dan tidak cepat lelah, dan sebagian kecil sisanya menyatakan tidak merasakan dampak apa-apa dari pemberian kapsul.

Tabel 11. Persentase keluhan selama minum kapsul zat besi Kelompok Perlakuan (n=29) Kelompok Kontrol (n=26) Jumlah yang mengeluh Persentase Jumlah yang mengeluh Persentase

Tidak ada keluhan 26 89.7 26 100

Sakit kepala/pusing 2 6.9 0 0

Mual/Muntah 1 3.4 0 0

Selama pemberian kapsul zat besi hanya sedikit (6.9%) pada kelompok perlakuan yang mengeluh pusing dan 3.4% yang mengeluh mual pada minggu ke 2-3 pemberian kapsul, sedangkan pada kelompok kontrol tidak ada keluhan. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian kapsul zat besi sebanyak dua kapsul per minggu selama 12 minggu tidak memberikan efek samping yang bermakna.

Gambaran Konsumsi Pangan dan Tingkat Kecukupan Gizi

Data Konsumsi pangan dikumpulkan dengan metode recall 2 kali 24 jam, sebelum dan setelah intervensi yang dibandingkan dengan angka kecukupan menurut kelompok umur tertentu yang dianjurkan untuk mempertahankan kesehatan yang baik (Depkes, 2004). Meskipun metode recall ini mempunyai beberapa kelemahan diantaranya karena didasarkan pada ingatan seseorang dan tergantung pula pada keterampilan pewawancara, dan berdasarkan penelitian metode recall 24 jam ini cenderung lebih rendah (under estimate) sekitar 30% dibandingkan dengan metode pencatatan (Sa’diyyah dan Briawan 1999), data gambaran tingkat konsumsi energi, protein, vitamin dan mineral ini dapat digunakan sebagai indikator untuk mengetahui kerawanan gizi, termasuk pada

remaja putri yang sedang dalam pertumbuhan yang pesat. Besarnya rata-rata konsumsi energi, protein, vitamin dan mineral dapat dilihat pada Tabel 12, 13, 14, 15 dan16.

Gambaran asupan dan tingkat kecukupan energi dan protein

Gambaran rata-rata asupan energi dan protein sampel dapat dilihat pada Tabel 12 dan 13. Pada awal penelitian perkiraan rata-rata asupan energi pada kelompok perlakuan dan kontrol masing-masing 1469.62 ± 372.94 kkal dan 1442.12 ± 454.37 kkal. Bila dibandingkan dengan angka kecukupan gizi (AKG) yang dianjurkan maka asupan energi pada kelompok perlakuan dan kontrol masing-masing hanya memenuhi 64.99% ± 16.57% AKG dan 65.46% ± 23.47% AKG. Dilihat dari persentase rata-rata kecukupan energi pada kedua kelompok di atas termasuk mengalami defisit energi tingkat berat (<70% AKG), dan secara statistik dengan uji Mann Whitney tidak terdapat perbedaan yang nyata antara kedua kelompok (P > 0.05).

Tabel 12. Rata-rata tingkat kecukupan energi sebelum dan sesudah intervensi

Asupan (kkal) dan tingkat kecukupan energi (%)

Kelompok Perlakuan (n=29) Kelompok Kontrol (n=26) P Sebelum Asupan ± SD 1469.62 ± 371,94 a 1442.12 ± 454.37 a 0.625 AKG ± SD 64.99 ± 16.57 a 65.46 ± 23.47 a 0.787 Sesudah Asupan ± SD 1408.55 ± 271.50 a 1490.35 ± 433.66 a 0.781 AKG ± SD 62.43 ± 13.15 a 67.50 ± 22.13 a 0.611 a

Pada baris yang sama, angka dengan huruf yang sama menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang bermakna (Uji Mann Whitney)

1

Pada akhir penelitian rata-rata asupan energi pada kelompok perlakuan terjadi penurunan menjadi 1408.55 ± 271.50 kkal atau 62.43% ± 13.15% AKG, sedangkan pada kelompok kontrol terjadi peningkatan menjadi 1490.35 ± 433.66 kkal atau 67.50% ± 22.13% AKG, tetapi secara statistik perubahan asupan energi pada kedua kelompok tersebut tidak berbeda nyata (P > 0,05).

Pada kelompok yang sama terdapat perbedaan yang nyata sebelum dan sesudah intervensi (Uji Wilcoxon)

Diawal penelitian rata-rata asupan protein pada kelompok perlakuan dan kontrol masing-masing sebesar 37.15 ± 14.60 gram dan 45.75 ± 18.06 gram. Bila dibandingkan dengan angka kecukupan gizi yang dianjurkan maka jumlah tersebut hanya memenuhi masing-masing 67.50% ± 26.27% AKG dan 85.50% ± 36.70% AKG. Tingkat kecukupan protein pada kelompok perlakuan termasuk defisit protein tingkat berat (<70% AKG) sedangkan pada kelompok kontrol termasuk defisit ringan (85%-95% AKG).

Perkiraan konsumsi energi di atas diduga hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan Resting Metabolic Rate (berdasarkan rumus dari Schofield 1995, BMR untuk remaja putri usia 10-18 tahun = 8.4[BB dalam kg]+4.7[TB dalam cm]+200) sekitar 1108–1327 kkal. Apabila keadaan ini terus berlangsung kondisi pertumbuhan tubuh semakin buruk karena kebutuhan energi untuk keperluan berbagai aktivitas metabolisme tubuh tidak terpenuhi, akibatnya tubuh akan mengambil zat gizi lain terutama protein yang disimpan dalam tubuh untuk dimobilisasi menjadi energi.

Tabel 13. Rata-rata tingkat kecukupan asupan protein sebelum dan sesudah intervensi

Asupan (g) dan tingkat kecukupan protein (%)

Kelompok Perlakuan (n=29) Kelompok Kontrol (n=26) P Sebelum Asupan ± SD 37.15 ± 14.60 a 45.75 ± 18.06 a 0.056 AKG ± SD 67.50 ± 26.27 a 85.49 ± 36.70 b 0.053 Sesudah Asupan ± SD 40.21 ± 16.04 a, 1 44.23 ± 18.16 a 0.453 AKG ± SD 73.04 ± 28.07 a 82.50 ± 36.38 a 0.381 a, b

Pada baris yang sama, angka dengan huruf yang berbeda menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna (Uji Mann Whitney)

1

Rata-rata asupan protein pada kelompok perlakuan diakhir penelitian

tidak mengalami perubahan yang bermakna (P > 0.05) yaitu menjadi 40.21 ± 16.04 gram atau 73.04% ± 28.07% AKG, begitu pula pada kelompok

kontrol tidak terjadi perubahan rata-tara asupan protein secara bermakna Pada kelompok yang sama terdapat perbedaan yang nyata sebelum dan sesudah intervensi

(P > 0.05) menjadi 44.23 ± 18.16 gram atau 82.50% ± 36.38% AKG. Rata-rata angka kecukupan protein pada akhir penelitian tersebut tergolong defisit sedang (70% - 85% AKG). Apabila kondisis ini berlangsung terus maka pertumbuhan remaja akan terhambat, karena protein yang fungsi utamanya adalah untuk pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan tubuh dengan asupan energi yang rendah maka protein akan dipecah menjadi energi untuk menutupi kekurangan energi tubuh, akibatnya fungsi utamanya tidak dapat dilaksanakan dan merugikan pertumbuhan fisik remaja.

Dengan rata-rata asupan energi yang sangat rendah dan asupan protein yang juga cukup rendah, hal yang kira-kira dapat menjelaskan mengapa mereka dapat bertahan melakukan kegiatan sehari-hari adalah karena adanya mekanisme homeostasis yang bekerja pada sistem tubuh manusia (Dasqupta & Ray 1986), Tubuh manusia tidak mengambil energi secara langsung dari makanan. Sebagai contoh, glukosa dikonversi menjadi ATP, yang kemudian dipecah untuk mensuplai kebutuhan energi tubuh. Dalam proses pembentukan ATP sejumlah besar fraksi energi dihamburkan sebagai panas. Fraksi energi ini paling tidak sebesar 45-50%, tetapi pada beberapa individu lebih tinggi. Sukhatme dan Margen (1982) berpendapat bahwa asupan energi individual yang tinggi relatif tidak efisien dalam konversi ini. Sebagai contoh, mereka yang biasa mengkonsmsi energi 1900 kkal per hari akan mempunyai efisiensi sebesar 50%, sedangkan mereka yang biasa mengkonsumsi energi sebesar 3200 kkal per hari akan mempunyai efisiensi sebesar 30%.

Gambaran asupan dan tingkat kecukupan vitamin A dan vitamin C

Gambaran perkiraan rata-rata asupan vitamin A pada kedua kelompok dapat dilihat pada Tabel 14. Pada awal penelitian sebelum intervensi dilakukan perkiraan rata-rata asupan vitamin A pada kelompok perlakuan dan kontrol masing-masing 301.69 ± 214.37 RE atau 50.28 % ± 35.73% AKG dan 384.46 ± 234.97 RE atau 64.08 ± 39.16 AKG. Pada akhir penelitian setelah intervensi selesai dilakukan rata-rata asupan vitamin A baik pada kelompok perlakuan maupun kelompok kontrol tidak menunjukkan ada perubahan yang nyata (P>0.05) yaitu menjadi 301.34 ± 165.76 RE atau 50.22% ± 27.63% AKG

dan 372.62 ± 188.95 RE atau 62.10% ± 31.49% AKG. Dengan uji Mann Whitney perkiraan rata-rata asupan vitamin A pada awal penelitian pada kedua kelompok tidak berbeda nyata (P >0.05).

Berdasarkan data sebelum dan sesudah intervensi, rata-rata tingkat kecukupan vitamin A tergolong defisit berat (< 70% AKG). Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi kebutuhan vitamin A yang dianjurkan oleh Depkes (2004) untuk orang Indonesia usia 10-15 tahun adalah 600 RE. Vitamin A berperan dalam memobilisasi cadangan besi di dalam tubuh untuk dapat mensintesa hemoglobin. Beberapa hasil studi cross sectional menunjukkan bahwa peningkatan asupan vitamin A dapat mendorong ke arah peningkatan status besi. Beberapa penelitian membuktikan bahwa vitamin A mempunyai peranan yang penting dalam meningkatkan kadar hemoglobin (Suharno 1993; Bloem 1995) karena untuk keperluan sintesis Hb membutuhkan vitamin A, B2, B6, B12 dan asam folat (Lavental 2005). . Dengan asupan vitamin A yang rendah dapat menghambat absorpsi besi dan menurunkan bioavailabilitas zat besi, sehingga berpengaruh terhadap status besi seseorang.

Tabel 14. Rata-rata tingkat kecukupan asupan vitamin A sebelum dan sesudah intervensi

Asupan (RE) dan tingkat kecukupan vitamin A (%)

Kelompok Perlakuan (n=29) Kelompok Kontrol (n=26) P Sebelum Asupan ± SD 301.69 ± 214.37 a 384.46 ± 234.97 a 0.175 AKG ± SD 50.28 ± 35.73 a 64.07±39.16 a 0.175 Sesudah Asupan ± SD 301.34 ± 165.76 a 372.62 ± 188.95 a 0.169 AKG ± SD 50.22 ± 27.63 a 62.10 ± 31.49 a 0.169 a

Pada baris yang sama, angka dengan huruf yang sama menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang bermakna (Uji Mann Whitney)

1

Pembentukan hemoglobin dipengaruhi oleh vitamin A, karena vitamin A berperan dalam pembentukan eritrosit, sehingga dapat berinteraksi dengan zat

Pada kelompok yang sama terdapat perbedaan yang nyata sebelum dan sesudah intervensi (Uji Wilcoxon)

besi ( Almatsier 2003 ). Hubungan vitamin A dengan peningkatan Hb sangat penting, karena zat besi dan vitamin A pada sebagian makanan sangat baik untuk memelihara kesehatan jaringan epitel termasuk endotelium pada pembuluh darah. Kedua zat gizi tersebut membantu mencegah kerusakan pembuluh darah dan dikatakan oleh beberapa ahli bahwa vitamin A dan zat besi secara signifikan membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Kadar vitamin A yang rendah membuat tubuh rentan terhadap serangan infeksi ( virus, bakteri maupun mikroorganisme berbahaya). Selain itu kekurangan vitamin A juga dapat menyebabkan terjadinya penyakit autonium. Secara sinergis besi dan vitamin A dapat melindungi sel darah putih dari kerusakan akibat serangan radikal bebas (Goetz 1986; Hartman & Shankel 1990). Vitamin A dan β - karoten dapat membentuk suatu kompleks dengan besi untuk membuatnya tetap larut dalam lumen usus dan mencegah efek penghambat dari fitat dan polifenol pada absorpsi besi ( Carcia-Casal et.al 1998 ).

Tabel 15. Rata-rata tingkat kecukupan asupan vitamin C sebelum dan sesudah intervensi

Asupan (mg) dan tingkat kecukupan vitamin C (%)

Kelompok Perlakuan (n=29) Kelompok Kontrol (n=26) P Sebelum Asupan ± SD 29.10 ± 33.37 a 26.88 ± 26.57 a 0.698 AKG ± SD 48.27 ± 59.20 a 47.48± 52.06 a 0.613 Sesudah Asupan ± SD 24.24 ± 31.21 a 26.15 ± 26.89 a 0.324 AKG ± SD 41.00 ± 56.81 a 46.61 ± 52.57 a 0.307 a

Pada baris yang sama, angka dengan huruf yang sama menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang bermakna (Uji Mann Whitney)

1

Rata-rata asupan vitamin C pada kedua kelompok dapat dilihat pada Tabel 15. Pada awal penelitian rata-rata asupan vitamin C pada kelompok perlakuan dan kontrol masing-masing 29.10 ± 33.37 mg atau 48.28% ± 59.20% AKG dan 26.88 ± 26.57 mg atau 47.48% ± 52.06% AKG. Pada akhir penelitian rata-rata asupan vitamin C baik pada kelompok perlakuan maupun kelompok

Pada kelompok yang sama terdapat perbedaan yang nyata sebelum dan sesudah intervensi (Uji Wilcoxon)

kontrol mengalami penurunan menjadi 24.24 ± 31.21 mg atau 41.00% ± 56.81% AKG dan 26.15 ± 26.89 mg atau 46.61% ± 52.57% AKG, tetapi secara statistik penurunan tersebut tidak bermakna (P > 0,05). Berdasarkan rata-rata tingkat kecukupan vitamin C tersebut di atas tergolong defisit berat (<70% AKG).

Vitamin C mempunyai peranan yang sangat penting dalam penyerapan besi terutama dari besi non hem yang banyak ditemukan dalam makanan nabati. Bahan makanan yang mengandung besi hem yang mampu diserap sebanyak 37% sedangkan bahan makanan golongan besi nonhem hanya 5% yang dapat diserap oleh tubuh. Penyerapan besi non hem dapat ditingkatkan dengan kehadiran zat pendorong penyerapan seperti vitamin C dan faktor-faktor pendorong lain seperti daging, ayam, ikan (Berdanier 1998). Vitamin C bertindak sebagai enhancer yang kuat dalam mereduksi ion ferri menjadi ion ferro, sehingga mudah diserap dalam pH lebih tinggi dalam duodenum dan usus halus (Hallberg, 1989). Vitamin C menghambat pembentukan hemosiderin yang sukar dimobilisasi untuk membebaskan besi bila diperlukan. Absorpsi besi dalam bentuk nonhem meningkat empat kali lipat bila ada vitamin C. Vitamin C juga berperan dalam memindahkan besi dari transferin di dalam plasma ke feritin (Almatsier 2003).

Hasil penelitian Saidin dan Sukati (1997) tentang pemberian tablet besi dengan penambahan vitamin C terhadap perubahan kadar Hb dan feritin serum membuktikan bahwa pemberian tablet besi dan vitamin C 150 mg, dapat meningkatkan kadar hemoglobin yang tertinggi dibandingkan dengan kelompok yang hanya diberikan tablet besi saja dan yang diberikan tablet besi dan vitamin A. Peningkatan konsumsi vitamin C sebanyak 25, 50, 100 dan 250 mg dapat memperbesar penyerapan besi sebesar 2, 3, 4, dan 5 kali (Wirakusumah 1999).

Gambaran asupan dan tingkat kecukupan Zat Besi

Rata-rata asupan zat besi pada kedua kelompok dapat dilihat pada tabel 16. Sebelum dilakukan intervensi, rata-rata asupan zat besi pada kedua kelompok sangat rendah yaitu pada kelompok perlakuan dan kontrol masing-masing

6.51 ± 9.78 mg atau 19.56% ± 8.74% AKG dan 6.19 ± 5.28 mg atau 27.39% ± 26.29% AKG. Secara statistik perbedaan asupam zat besi pada kedua

Tabel 16. Rata-rata tingkat kecukupan asupan zat besi sebelum dan sesudah intervensi

Asupan (mg) dan tingkat kecukupan zat besi (%)

Kelompok Perlakuan (n=29) Kelompok Kontrol (n=26) P Sebelum Asupan± SD 6.51 ± 9.78 a 6.19 ± 5.28 a 0.489 AKG ± SD 19.56 ± 8.74 a 27.39 ± 26.29 a 0.474 Sesudah Asupan± SD 20.99 ± 2.47 a, 1 6.59 ± 5.59b 0.000 AKG ± SD 87.01 ± 12.07 a 29.09 ± 27.04b 0.000 a,b

Pada baris yang sama, angka dengan huruf yang berbeda menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna (Uji Mann Whitney)

1

Pada kelompok yang sama terdapat perbedaan yang nyata sebelum dan sesudah intervensi (Uji Wilcoxon)

Melihat rata-rata asupan zat besi sampel di awal penelitian di atas yang sangat rendah, sulit untuk dapat memenuhi AKG yang dianjurkan bila hanya mengandalkan dari makanan sehari-hari, oleh karena itu perlu diberikan tambahan zat besi dari suplemen seperti kapsul zat besi. Pada penelitian ini dengan melakukan intervensi kapsul zat besi dua kali seminggu selama 12 minggu, pada akhir penelitian pada kelompok perlakuan terjadi peningkatan yang bermakna (P<0.05) menjadi 20.99 ± 2.47 mg atau 87.01% ± 12.07% AKG hal ini disebabkan karena pada kelompok perlakuan mendapatkan tambahan asupan zat besi dari kapsul zat besi yang diberikan rata-rata sebesar 67.41% ± 8.47% AKG. Sedangkan pada kelompok kontrol yang hanya mendapatkan plasebo mengalami sedikit peningkatan menjadi 29.08% ± 27.04% AKG, tetapi secara statistik perubahan tersebut tidak berbeda nyata (P > 0.05).

Perempuan dengan konsumsi zat besi yang kurang atau mereka dengan kehilangan besi yang tinggi, akan mengalami anemia gizi besi. AKG besi untuk remaja dan dewasa muda perempuan 19-26 mg setiap hari lebih tinggi dari yang dibutuhkan remaja laki-laki yaitu 13-23 mg per hari, hal ini disebabkan karena selain karena pertumbuhan yang cepat, remaja wanita juga harus mengganti

Dokumen terkait