i
PEMANFAATAN SARANA PRASARANA RUANG PRAKTIK DENGAN METODE PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING (PjBL)PADA
MATA DIKLAT GAMBAR TEKNIK 1 TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA TEKNIK GAMBAR BANGUNAN (TGB) SMK N 2 SALATIGA
SKRIPSI
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Semarang
Oleh
SUSI ANDARININGSIH NIM 5101411023
PENDIDIKAN TEKNIK BANGUNAN
TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
v
MOTO DAN PERSEMBAHAN
MOTO
“I don’t believe in the kind of magic in my books. But I do believe something
very magical can happen when you read a good book.”(JK Rowling)
PERSEMBAHAN
1. Bapak dan Ibu, terimakasih atas kasih sayang, do’a, dukungan, motivasi,
dan semuanya.
2. Maya, Rindu, Ana, Hartik, Ardhi yang sudah membantu selama
penyusunan skripsi ini.
3. Teman-teman seperjuangan PTB 2011.
4. Guru-guru SMK Negeri 2 salatiga atas kerjasamanya.
5. Siswa-siswi kelas X TGB 2014/2015 yang telah membantu.
6. Mbak Emi, Mbak Vika, Mbak Lia, Prista, Utit, Dian terimakasih atas do’a
dan motivasinya.
7. Teman-teman kost Wanodyatama atas dukungannya.
8. Mas Nurul Wahyudi yang telah memberi motivasi dan dukungan.
vi
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberi rahmat dan hidayahNya
sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul
Pemanfaatan Sarana Prasarana Ruang Praktik Dengan Metode Pembelajaran Project Based Learning (PjBL) pada Mata Diklat Gambar Teknik 1 terhadap Hasil Belajar Siswa Teknik Gambar Bangunan (TGB) SMK N 2 Salatiga.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak dapat tersusun dengan
baik tanpa bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan
terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Prof. Dr. Fatur Rokhman, M.Hum., Rektor UNNES,
2. Drs. Muhammad Harlanu, M.Pd., Dekan Fakultas Teknik UNNES,
3. Drs. Sucipto, M.T., Ketua Jurusan Teknik Sipil,
4. Eko Nugroho Julianto, S.Pd, M.T., Ketua Prodi Pedidikan Teknik
Bangunan,
5. Aris Widodo, S.Pd, M.T., dosen pembimbing yang telah sabar
membimbing dan memberi petunjuk serta pengarahan selama penulisan
skripsi ini.
6. Semua pihak yang tidak mungkin disebutkan satu persatu atas bantuannya
vii
Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat untuk semua pihak.
Penulis juga berharap agar skripsi ini dapat dikembangkan menjadi lebih baik
lagi.
Semarang, 2015
viii ABSTRAK
Susi Andariningsih. 2015. “Pemanfaatan Sarana Prasarana Ruang Praktik dengan Metode Pembelajaran Project Based Learning (PjBL) pada Mata Diklat Gambar Teknik 1 terhadap Hasil Belajar Siswa Teknik Gambar Bangunan (TGB) SMK N 2 Salatiga”. Pembimbing :. Aris Widodo ,S.Pd.,M.T
Skripsi : Pendidikan Teknik Bangunan Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang.
Project based Learning (PjBL) adalah sebuah model atau pendekatan pembelajaran yang inovatif, yang menekankan belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan yang kompleks seperti memberi kebebasan pada siswa untuk bereksplorasi merencanakan aktivitas belajar, melaksanakan proyek secara kolaboratif, dan pada akhirnya menghasilkan suatu hasil produk. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah: 1. Apakah penerapan PjBL melalui pendekatan scientific dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pemanfaatan sarana prasarana pada proses pembelajaran gambar teknik 1 kelas X Teknik Gambar Bangunan SMK Negeri 2 Salatiga ; 2. Apakah dengan menggunakan metode PjBL dapat memaksimalkan penggunaan sarana dan prasarana ruang praktik gambar bangunan pada mata diklat gambar teknik 1 kelas X Teknik Gambar Bangunan SMK Negeri 2 Salatiga ; 3. Adakah peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis proyek melalui pendekatan scientific pada mata diklat gambar teknik 1 kelas X Teknik Gambar Bangunan SMK Negeri 2 Salatiga.
Model penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen dimana subjek pada penelitian ini adalah siswa pada kelas X TGB A (kelas kontrol) dan X TGB B(kelas ekperimen), dengan hasil belajar sebagai alat untuk mengukur tingkat pemahaman siswa selama proses pembelajaran. Hasil penelitian ini adalah rata-rata nilai akhir yang terdiri dari nilai kognitif, afektif dan psikomotorik pada kelas kontrol dan eksperimen. Rata-rata nilai akhir kelas kontrol adalah 69,61 dan pada kelas eksperimen 79,92, dengan persentase ketuntasan kelas kontrol 52,78% dan kelas eksperimen 91,67%. Hasil uji perbedaan rata-rata (uji t) didapatkan nilai t hitung sebesar 5,49.Nilai tersebut lebih besar dari nilai ttabel 1,99. Peningkatan hasil belajar dari pre tes ke post tes adalah 88,40% untuk kelas eksperimen dan 66,67% untuk kelas kontrol.Hal tersebut menunjukkan bahwa nilai akhir kelas eksperimen lebih baik dari nilai akhir kelas kontrol.
ix
x DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
PENGESAHAN KELULUSAN ... iii
PERNYATAAN ... iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
ABSTRAK ... viii
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
BAB I - PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang Masalah ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 8
1.3. Tujuan Penelitian ... 9
1.4. Batasan Masalah ... 9
1.5. Manfaat atau Kegunaan Penelitian ... 10
1.6. Penegasan Istilah ... 10
xi
BAB II - LANDASAN TEORI ... 15
2.1. Kajian Pustaka ... 15
2.1.1. Hakikat Belajar Mengajar ... 15
2.1.2. Hasil Belajar ... 18
2.1.3. Metode Pembelajaran ... 20
2.1.4. Metode Pembelajaran Project Based Learning (PjBL) ... 21
2.1.5. Pendekatan Scientific ... 27
2.1.6. Mata pelajaran Gambar Teknik 1 ... 29
2.1.7. Ruang Praktik Gambar Bangunan ... 30
2.1.8. PERMENDIKNAS nomor 40 tahun 2008 ... 30
2.1.9 Penelitian-Penelitian yang Relevan... 34
2.2. Kerangka Berpikir ... 35
2.3. Rumusan Hipotesis ... 38
BAB III - METODE PENELITIAN ... 39
3.1. Rancangan Penelitian... 39
3.2. Populasi dan Sampel Penelitian ... 41
3.3. Variabel Penelitian... 42
3.4. Prosedur Pengumpulan Data ... 43
3.5. Metode Pengumpulan Data... 45
3.6. Proses Pelaksanaan Penelitian ... 46
3.7. Uji Coba Instrumen... 47
3.8. Metode Pengumpulan Data... 52
xii
BAB IV - HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 59
4.1. Analisis Data Awal ... 59
4.2. Analisis Data Akhir ... 64
4.3. Alur Penelitian ... 67
4.4. Hasil Penelitian ... 67
4.5. Pembahasan ... 68
BAB V - PENUTUP ... 82
5.1. Kesimpulan ... 82
5.2. Saran ... 84
DAFTAR PUSTAKA ... 86
xiii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Skema Kerangka Berpikir ... 37
Gambar 4.1. Aktivitas Siswa Kelas Eksperimen ... 72
Gambar 4.2. Hasil belajar kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 77
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1. Jenis, Rasio, dan Deskripsi Standar Prasarana Ruang Praktik Progam
Keahlian Teknik Gambar Bangunan ... 31
Tabel 2.2. Standar Sarana pada Ruang Praktik Gambar Manual dan Masinal ... 32
Tabel 2.3. Standar Sarana pada Ruang Praktik gambar Komputer ... 32
Tabel 3.1. Kegiatan Pembelajaran pada Saat penelitian ... 44
Tabel 3.2. Jadwal Pelaksanaan Penelitian ... 47
Tabel 3.3. Hasil Analisis Validitas Butir Soal Uji Coba ... 48
Tabel 3.4. Hasil Analisis Daya Pembeda Butir Soal Uji Coba ... 51
Tabel 3.5. Hasil Analisis Taraf Kesukaran Butir Soal Uji Coba ... 52
Tabel 4.1. Hasil Pre-Test Kelompok Eksperimen dan Kontrol ... 60
Tabel 4.2. Uji Normalitas ... 61
Tabel 4.3. Uji Homogenitas (Kesamaan Dua Varians) ... 62
Tabel 4.4. Uji Perbedaan Rata-rata Pre-Test (Uji t) ... 63
Tabel 4.5. Hasil Post-Test Kelompok Eksperimen dan Kontrol ... 64
Tabel 4.6. Uji Normalitas ... 64
Tabel 4.7. Uji Homogenitas (Kesamaan Dua Varians) ... 65
Tabel 4.8. Uji Perbedaan Rata-rata Post-Test (Uji t) ... 66
Tabel 4.9. Hasil Belajar Afektif ... 74
Tabel 4.10. Hasil Belajar Psikomotorik ... 75
xv
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1 Silabus Gambar Teknik 1 ...86
Lampiran 2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Eksperimen ...98
Lampiran 3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Kontrol ...110
Lampiran 4 Materi Proyeksi Orthogonal ...122
Lampiran 5 Daftar Nilai Ujian Gambar Teknik 1 Semester Gasal ...130
Lampiran 6 Daftar Siswa Kelas Uji Coba ...132
Lampiran 7 Kisi-Kisi Soal Ujicoba ...133
Lampiran 8 Soal Uji Coba ...134
Lampiran 9 Kunci Jawaban Soal Uji Coba ...141
Lampiran 10 Analisis Soal ...142
Lampiran 11 Realibilitas Soal ...145
Lampiran 12 Rekapitulasi Data Soal yang Digunakan ...146
Lampiran 13 Soal Tes Kognitif ...147
Lampiran 14 Kunci Jawaban Soal Tes Kognitif ...153
Lampiran 15 Pedoman Penilaian Afektif ...154
Lampiran 16 Pedoman Penilaian Psikomotorik ...159
Lampiran 17 Proyek Gambar Kelas Eksperimen ...163
Lampiran 18 Tugas Gambar Kelas Kontrol...164
Lampiran 19 Daftar Siswa Kelas Kontrol ...165
Lampiran 20 Daftar Siswa Kelas Eksperimen ...166
Lampiran 21 Data Nilai Pre Tes dan Post Tes Kontrol ...167
xvi
Lampiran 23 Perhitungan Peningkatan Hasil Belajar Kontrol...169
Lampiran 24 Perhitungan Peningkatan Hasil Belajar Eksperimen ...170
Lampiran 25 Uji Normalitas Pre Tes ( Eksperimen dan Kontrol) ...171
Lampiran 26 Uji Homogenitas Pre Tes...173
Lampiran 27 Uji Perbedaan Dua Rata-Rata Pre Tes ...174
Lampiran 28 Uji Normalitas Post Tes ( Eksperimen dan Kontrol) ...175
Lampiran 29 Uji Homogenitas Post Tes ...176
Lampiran 30 Uji Perbedaan Dua Rata-Rata Post Tes ...177
Lampiran 31 Nilai Afektif Kelas Kontrol ...178
Lampiran 32 Nilai Afektif Kelas Eksperimen ...180
Lampiran 33 Nilai Psikomotorik Kelas Kontrol ...181
Lampiran 34 Nilai Psikomotorik Kelas Eksperimen ...182
Lampiran 35 Surat Ijin penelitian SMK Negeri 2 Salatiga ...183
1 1.1.Latar Belakang Masalah
Kegiatan belajar mengajar adalah kegiatan yang melibatkan interaksi
antara guru dan siswa. Menurut Sardiman A.M. (2008:20) belajar adalah
perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya
dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru, dan lain sebagainya,
sedangkan mengajar adalah suatu usaha untuk menciptakan kondisi atau sistem
lingkungan yang mendukung dan memungkinkan untuk proses belajar. Kegiatan
beajar mengajar tidak dapat berjalan tanpa adanya guru dan siswa. Unsur-unsur
yang ada dalam kegiatan belajar mengajar selain guru dan siswa juga diperlukan
adanya kurikulum dan sarana prasarana yang memadai.
Kurikulum dan kegiatan belajar mengajar (KBM) merupakan dua hal
yang berbeda namun erat kaitannya antara satu dengan lainnya. Kurikulum pada
dasarnya merupakan suatu perencanaan menyeluruh yang mencakup kegiatan dan
pengalaman yang perlu disediakan yang memberikan kesempatan secara luas bagi
siswa untuk belajar, dengan kata lain semua proses KBM senantiasa berpedoman
pada kurikulum tertentu sesuai dengan tuntutan lembaga pendidikan atau sekolah
dan kebutuhan masyarakat serta faktor-faktor lainnya.
Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang menekankan pada dimensi
pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah.
metode mengajar dengan menerapkan karakteristik yang ilmiah. Penerapan
pendekatan ilmiah tidak hanya fokus pada bagaimana mengembangkan
kompetensi siswa dalam melakukan observasi atau eksperimen, namun bagaimana
mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan berfikir sehingga dapat
mendukung aktivitas kreatif dalam berinovasi atau berkarya.
Pelaksanaan kurikulum 2013 menuntut peserta didik untuk lebih aktif
dalam proses KBM, sehingga pada pelaksanaannya digunakan pendekatan 5M.
Pendekatan 5M ini meliputi mengamati, menanya, mengolah informasi, mencoba,
dan mengkomunikasikan. Penggunaan pendekatan 5M ini diharapkan dapat
memenuhi tujuan dari kurikulum 2013 yaitu menciptakan pembelajaran yang aktif
dan mencakup 3 ranah yaitu sikap, pengetahuan, dan ketrampilan. Hasil belajar
dari pelaksanaan pembelajaraan dengan pendekatan 5M ini akan menghasilkan
peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap,
ketrampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi.
Sarana dan prasarana merupakan salah satu faktor penunjang
kegiatan belajar mengajar. Tanpa adanya sarana dan prasarana yang memadai,
kegiatan belajar mengajar tidak akan berjalan dengan lancar. Sarana dan prasarana
pendidikan dapat berguna untuk menunjang penyelenggaraan proses belajar
mengajar, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam suatu lembaga
pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.
Prasarana dan sarana pendidikan adalah semua benda bergerak maupun
yang tidak bergerak, yang diperlukan untuk menunjang penyelenggaraan proses
Raflis Kosasi,2009). Contoh dari sarana pendidikan adalah meja dan kursi, papan
tulis, alat peraga, almari, buku-buku, dan media pendidikan, sedangkan yang
termasuk prasarana pendidikan antara lain gedung sekolah dan tata tertib sekolah.
Sarana dan prasarana pendidikan merupakan dua unsur yang tidak dapat
dipisahkan. Adanya sarana pendidikan tanpa adanya prasarana yang memadai
akan menganggu kegiatan belajar mengajar, begitu pula sebaliknya. Sarana dan
prasana pendidikan akan mendukung kegiatan belajar mengajar. Sarana dan
prasarana pendidikan yang dimanfaatkan secara optimal akan membuat kegiatan
belajar mengajar akan berjalan secara maksimal dan akan berpengaruh pada hasil
kegiatan belajar mengajar itu sendiri.
SMK Negeri 2 Salatiga adalah salah satu SMK Negeri di kota Salatiga.
Sarana dan prasarana penunjang cukup memadai diantaranya ruang kelas dan
ruang praktik. Ruang kelas biasanya digunakan untuk mata pelajaran normatif dan
beberapa mata pelajaran produktif, sedangkan untuk ruang praktik digunakan
untuk mata pelajaran produktif saja.
Jurusan Bangunan mempunyai ruang praktik yang memadai, diantaranya
ruang praktik batu beton, ruang praktik kayu, ruang praktik gambar manual dan
gambar autocad. Penggunaan ruang praktik pada jurusan Bangunan digunakan
untuk mata pelajaran produktif yang mempunyai kaitan materi terhadap fungsi
ruang praktik itu sendiri, seperti penggunaan ruang praktik gambar bangunan
untuk mata pelajaran gambar teknik.
Observasi awal yang didapatkam serta pendapat dari beberapa guru dan
dibeberapa mata pelajaran. Salah satunya penggunaan ruang praktik pada saat
mata pelajaran Gambar Teknik. Penggunaan ruang praktik secara maksimal
dimaksudkan agar siswa/siswi SMK N 2 Salatiga dapat memanfaatkan alat-alat
gambar yang tersedia untuk mengerjakan tugas-tugas gambar teknik, sehingga
guru dapat membimbing langsung siswa dalam proses pengerjaan tugas dan dapat
diperoleh hasil yang maksimal, namun dalam pelaksanaannya ruang praktik hanya
digunakan dalam penyampaian mater ajar dan pengerjaan tugas dilakukan
dirumah, sehingga guru tidak dapat membimbing langsung pada saat proses
pengerjaan tugas, dan hasil yang diperoleh tidak bisa maksimal.
Masih kurangnya pemanfaatan sarana dan prasarana ruang praktik
menjadi kendala dalam proses pembelajaran Gambar Teknik 1, dalam
penyampaian materi pembelajaran, diharapkan guru sebagai fasilitator mampu
memanfaatkan sarana dan prasarana yang ada di ruang praktik gambar bangunan
secara maksimal agar siswa antusias dalam mengikuti proses pembelajaran.
Salah satu alternatif yang dapat digunakan agar dapat memanfaatkan
sarana dan prasarana pendidikan secara maksimal adalah dengan menggunakan
metode pembelajaran Project Based Learning (PjBL). Metode pembelajaran PjBL
adalah metode pembelajaran yang menggunakan proyek atau kegiatan sebagai
media. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian, interprestasi, sintesis, dan
informasi untuk menghasilkan berbagai hasil belajar.
PjBL atau pembelajaran berbasis proyek adalah metode pembelajaran
yang menggunakan proyek atau kegiatan sebagai media. Peserta didik melakukan
berbagai bentuk belajar. PjBL merupakan pembelajaran inovatif yang berpusat
pada siswa (student centered) dan menempatkan guru sebagai motivator dan
fasilitator, dimana siswa diberi peluang bekerja secara otonom mengkonstruksi
belajarnya. Kelebihan dari metode PjBL adalah penggerak yang unggul untuk
membantu siswa belajar melakukan tugas-tugas otentik dan multidisipliner,
menggunakan sumber-sumber yang terbatas secara efektif dan bekerja dengan
orang lain.
Guru dalam proses pembelajaran menggunakan metode pembelajaran
berbasis proyek berperan sebagai fasilitator. Fasilitator yang dimaksud dalam
metode pembelajaran ini adalah, guru berperan sebagai narasumber atau sumber
pembelajaran untuk informasi yang tidak ditemukan dalam sumber pembelajaran
bahan cetak atau eletronik, memantau atau memonitoring proses berjalannya dan
berkembangnya proyek yang diberikan, lalu mengevaluasi hasil proyek tersebut.
Modifikasi dengan metode pembelajaran PjBL dengan pendekatan ilmiah
ini akan menghasilkan kompetensi peserta didik yang diharapkan pada kurikulum
2013. Kompetensi yang diharapkan pada kurikulum 2013 ini mencakup tiga ranah
yaitu aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif. Salah satu materi gambar teknik
SMK kelas X semester 2 menurut kurikulum 2013 adalah materi identifikasi
proyeksi orthogonal dan persyaratan proyeksi orthogonal (2D) berdasarkan aturan
proyeksi. Pada materi identifkasi proyeksi orthogonal dan persyaratan proyeksi
orthogonal (2D) berdasarkan aturan proyeksi, siswa dituntut mampu memahami
pengertian dan jenis gambar proyeksi orthogonal, serta mampu menyajikan
Melalui metode pembelajaran PjBL dan pendekatan scientific sebagai
alat evaluasi, maka pada penelitian ini akan diterapkan suatu metode pembelajaran
berbasis proyek melalui pendekatan scientific pada pokok bahasan identifikasi
proyeksi orthogonal dan persyaratan proyeksi orthogonal (2D) berdasarkan aturan
proyeksi. Peserta didik diharapkan akan lebih aktif dan terlibat langsung dalam
pembelajaran yang menyenangkan.
Metode PjBL telah diteliti oleh beberapa penelti sebelumnya diantaranya
“Pembelajaran Sains Berbasis Proyek (Project Based Learning) sebagai Usaha
untuk Meningkatkan Aktivitas dan Academic Skill Siswa Kelas VII C SMP
Muhammadiyah 3 Depok” oleh Warsito (2008), dalam penelitiannya dikatakan
bahwa penggunaan metode PjBL dapat meningkatkan aktivitas belajar peserta
didik sebesar 35,42% dalam kategori rendah menjadi 71,88%. Didi Kurniadi
(2013) dalam penelitiannya yang berjudul “Upaya Menigkatkan Hasil Belajar
Kimia Siswa SMA N 1 Bawang Banjarnegara Kelas XI IPA 1 dengan Pendekatan
PjBL (Project Based Learning) Berbasis Bahan Sekitar mengatakan bahwa
ketuntasan hasil belajar ranah kognitif sebanyak 26 dari 30 siswa tuntas KKM,
ranah afektif sebanyak 25 dari 30 siswa tuntas KKM, dan ranah psikomotorik
sebanyak 26 dari 30 siswa tuntas KKM. Peneliti mengatakan bahwa menerapkan
pendekatan Project Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Marinda Ditya Putriatri (2013) dalam penelitiannya yang berjudul “Keefektifan
Project Based Learning pada Pencapaian Pemecahan Masalah Peserta Didik
terhadap pencapaian kemampuan masalah peserta didik kelas X SMK Negeri 9
Semarang. Penelitan-penelitian tersebut menunjukkan bahwa penerapan metode
pembelajaran PJBL dapat menigkatkan hasil belajar dan keaktifan peserta didik.
Metode pembelajaran PjBL diharapkan dapat memaksimalkan sarana dan
prasarana pembelajaran serta dapat menarik perhatian siswa, sehingga siswa
mudah menerima dan mengingat materi pelajaran yang akan disampaikan oleh
guru sehingga siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya sesuai dengan nilai
kriteria ketuntasan minimal.
Berlatar belakang dari uraian diatas, dan untuk mengetahui pemanfaatan
sarana dan prasarana ruang praktik gambar bangunan, keaktifan siswa, dan
peningkatan hasil belajar maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian
“Pemanfaatan Sarana Prasarana Ruang Praktik dengan Metode Pembelajaran
Project Based Learning pada Mata Diklat Gambar Teknik 1 terhadap Hasil
Belajar Siswa Kelas X Teknik Gambar Bangunan (TGB) SMK N 2 Salatiga”.
1.2.Perumusan Masalah
Permasalahan yang akan diungkap dalam penelitian ini adalah tentang
Perbedaan hasil belajar setelah menggunakan metode pembelajaran Project
Based Learning pada mata diklat gambar teknik 1 kelas X Teknik Gambar
Bangunan SMK Negeri 2 Salatiga.
Selanjutnya rumusan masalah tersebut dijabarkan dalam beberapa pertanyaan
1. Apakah dengan menggunakan metode PjBL pendekatan scientific dapat
memaksimalkan penggunaan sarana dan prasarana ruang praktik gambar
bangunan pada mata diklat gambar teknik 1 kelas X Teknik Gambar
Bangunan SMK Negeri 2 Salatiga?
2. Adakah peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan metode
pembelajaran berbasis proyek melalui pendekatan scientific pada mata
diklat gambar teknik 1 kelas X Teknik Gambar Bangunan SMK Negeri 2
Salatiga?
1.3.Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian berdasarkan pada latar belakang dan rumusan masalah di
atas adalah: untuk mengetahui perbedaan hasil belajar setelah menggunakan
metode pembelajaran Project Based Learning pada mata diklat gambar teknik
1 kelas X Teknik Gambar Bangunan SMK Negeri 2 Salatiga.
Selanjutnya tujuan tersebut dijabarkan dalam beberapa tujuan penelitian
seperti berikut:
1. Untuk memaksimalkan pemanfaatan sarana dan prasarana ruang praktik
gambar bangunan dengan menggunakan metode PjBL dengan pendekatan
scientific pada mata diklat gambar teknik 1 kelas X Teknik Gambar
2. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan
metode PjBL dengan pendekatan scientfic pada mata diklat gambar teknik
1 kelas X Teknik Gambar Bangunan SMK Negeri 2 Salatiga.
1.4.Batasan Masalah
Pembatasan masalah pada penelitian ini adalah penelitian pada mata
pelajaran menggambar teknik 1 kompetensi dasar menggambar proyeksi
orthogonal untuk indikatornya gambar proyeksi orthogonal sudut ketiga/proyeksi
Amerika pada siswa kelas X TGB A dan X TGB B semester genap tahun ajaran
2014/2015.
1.5.Manfaat atau Kegunaan Penelitian
1.5.1. Manfaat atau Kegunaan Teoritis
Sebagai suatu karya ilmiah, hasil penelitian ini diharapkan dapat
memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan pada khususnya,
maupun pendidik, peserta didik dan masyarakat pada umumnya mengenai
pengaruh antara minat dan kesiapan belajar terhadap prestasi belajar yang dicapai,
dimana semua itu termasuk keseriusan, kemauan, dan lain sebagainya. Hasil
penelitian ini dapat digunakan sebagai pedoman untuk kegiatan penelitian yang
1.5.2. Manfaat atau Kegunaan Praktis
a) Menyebarluaskan informasi mengenai pentingnya penerapan metode mengajar
guru terhadap tingkat pemahaman siswa pada semua mata pelajaran kejuruan
SMK Negeri 2 Salatiga.
b) Memberikan masukan bagi para pendidik, peserta didik dan masyarakat luas
tentang arti pentingnya pemahaman seorang siswa dalam menjalani proses
belajar di sekolah.
c) Memberikan sumbangan pemikiran dalam upaya memperbaiki proses
pembelajaran agar lebih baik dan berkualitas.
1.6.Penegasan Istilah
Untuk menghindari terjadinya perbedaan penafsiran dan untuk mewujudkan kesatuan berfikir pembaca, pada penelitian ini perlu ditegaskan istilah-istilah yang ada, khususnya yang berhubungan dengan judul penelitian. a) Pemanfaatan
b) Sarana Prasarana
Sarana dan Prasarana adalah semua benda bergerak maupun yang tidak bergerak untuk menunjang penyelenggaraan suatu proses, baik secara langsung maupun tidak langsung.
c) Ruang Praktik
Pengertian ruang praktik dijelaskan pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 5 tahun 1980 tentang Pokok-Pokok Organisasi Universitas/Institut Negeri pasal 27 dan pasal 28 (Undang-Undang, 1980:7). Pasal 27 menyebutkan ruang praktik/studio adalah sarana penunjang jurusan dalam satu atau sebagian ilmu, teknologi atau seni tertentu sesuai dengan keperluan bidang studi yang bersangkutan.
d) Metode Pembelajaran Project Based Learning
Menurut Cord et al., dalam Trianto (2014: 42) Project Based Learning (PjBL) adalah sebuah model atau pendekatan pendekatan pembelajaran yang inovatif, yang menekankan belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan yang kompleks seperti memberi kebebasan pada siswa untuk bereksplorasi merencanakan aktivitas belajar, melaksanakan proyek secaa kolaboratif, dan pada akhirnya menghasilkan suatu hasil produk.
e) Mata Diklat Gambar Teknik 1
Mata pelajaran Gambar Teknik 1 merupakan salah satu mata pelajaran
produktif pada progam keahlian Teknik Gambar Bangunan (TGB) dalam
f) Hasil Belajar siswa
Hasil belajar adalah perubahan tingkah laku. Tingkah laku sebagai hasil
belajar dalam pengertian yang luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan
psikomotorik (Nana Sudjana, 2009:3).
g) Siswa Kelas X SMK Negeri 2 Salatiga
Siswa kelas X SMK Negeri 2 Salatiga yang dimaksud dalam penelitian
adalah siswa kelas X jurusan teknik gambar bangunan yang terdaftar sebagai
siswa di SMK Negeri 2 Salatiga tahun ajaran 2014-2015.
Jadi yang dimaksud dengan pemanfaatan sarana prasarana ruang praktik dengan
metode pembelajaran project based learning pada mata diklat gambar teknik 1
terhadap hasil belajar siswa kelas X teknik gambar bangunan (TGB) SMK Negeri
2 Salatiga adalah proses memanfaatkan sarana prasarana ruang praktik dalam
mata diklat gambar teknik 1 dengan menggunakan metode pembelajaran project
based learning sehingga menghasilkan hasil belajar yang maksimal pada siswa
1.7.Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah para pembaca dalam memahami isi proposal ini,
maka dipandang perlu mengemukakan sistematikanya. Adapun sistematika
penyususan skripsi ini adalah sebagaimana uraian berikut ini.
Bab I Pendahuluan
Mencakup Latar Belakang Masalah, Identifikasi Masalah, Pembatasan
Masalah, Perumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat atau
Kegunaan Penelitian, serta Sistematika Penulisan.
Bab II Landasan Teori
Bab ini berisi tentang teori-teori yang dijadikan acuan peneliti untuk
mengadakan penelitian, kerangka berfikir dan Hipotesis.
Bab III Metode Penelitian
Berisi tentang model penelitian; Proses pelaksanaan Penelitian;
Populasi, Sampel, Sampling; Variabel-Variabel Penelitian; Metode dan
Teknik Pengumpulan Data; Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen;
Teknik Analisis Data.
Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan
Berisi tentang deskripsi data yang mencakup data hasil uji validitas dan
reliabilitas instrumen berserta analisisnya maupun data hasil penelitian,
pengujian persyaratan analisis, analisis data dan pengujian hipotesis,
serta pembahasan hasil analisis data.
Berisi tentang kesimpulan hasil penelitian dan saran-saran yang
15 2.1. Kajian Pustaka
3.1.1. Hakikat Belajar Mengajar
Setiap saat dalam kehidupan terjadi suatu proses belajar mengajar, baik
sengaja maupun tidak sengaja, disadarai atau tidak disadari. Kegiatan belajar
mengajar ini akan menghasilkan tujuan pembelajaran atau hasil belajar. Jika
terjadi suatu proses/saling berinteraksi, antara yang mengajar dengan yang belajar,
sebenarnya berada pada suatu kondisi unik, sebab secara sengaja atau tidak
sengaja, masing-masing piihak berada dalam suasana belajar.
Menurut Sardiman A.M. (2008: 20) belajar adalah perubahan tingkah
laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca,
mendengarkan, meniru, dan lain sebagainya. Belajar akan lebih maksimal, jika
subjek belajar mengalami atau melakukannya, jadi tidak bersifat verbalistik.
Menurut Oemar Hamalik (2003: 77) komponen-komponen kegiatan
belajar-mengajar antara lain:
1. Tujuan pendidikan dan pengajaran
2. Peserta didik atau siswa
3. Tenaga kependidikan khususnya guru
4. Perencanaan pengajaran sebagai suatu segmen kurikulum
5. Strategi pembelajaran
7. Evaluasi pengajaran
Setiap kegiatan belajar mengajar akan menghasilkan tujuan belajar.
Pencapaian tujuan belajar dapat dilakukan dengan menciptakan kondisi belajar
yang lebih kondusif. Hal ini akan berkaitan dengan mengajar. Mengajar diartikan
sebagai suatu usaha penciptaan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya
proses belajar. Sistem lingkungan belajar ini terdiri dari berbagai komponen yang
saling mempengaruhi. Komponen-komponen itu misalnya tujuan pembelajaran
yang ingin dicapai, materi yang ingin diajarkan, guru dan siswa yang memainkan
peranan serta dalam hubungan sosial tertentu, jenis kegiatan yang dilakukan serta
sarana prasarana belajar-mengajar yang tersedia.
Tujuan pembelajaran menurut Sardiman A.M. (2008: 26-28) ada tiga
jenis, yaitu:
1. Untuk mendapatkan pengetahuan
Hal ini ditandai dengan kemampuan beprikir. Kemampuan berpikir
tanpa bahan pengetahuan tidak dapat dikembangkan, begitu pula sebaliknya
kemampuan berpikir akan memperkaya pengetahuan. Tujuan inilah yang memiliki
kecenderungan lebih besar perkembangannya di dalam kegiatan pembelajaran.
Peranan guru sebagai pengajar lebih menonjol dalam hal ini.
Jenis interaksi atau cara yang digunakan untuk mengembangkan
kemampuan berpikir pada umumnya adalah model kuliah (presentasi), pemberian
tugas-tugas bacaan. Cara ini akan menambah pengetahuan siswa sehingga dapat
2. Penanaman konsep dan ketrampilan
Penanaman konsep atau merumuskan konsep, juga memerlukan
ketrampilan. Ketrampilan ini terdiri dari ketrampilan jasmani dan rohani.
Ketrampilan jasmani adalah ketrampilan yang dapat dilihat, diamati, sehingga
akan menitiberatkan pada ketrampilan gerak, termasuk di dalamnya adalah
masalah “teknik” dan “pengulangan”. Ketrampilan rohani lebih rumit, karena
tidak selalu berhubungan dengan ketrampilan-ketrampilan yang dapat dilihat,
tetapi lebih abstrak, menyangkut persoalan-persoalan penghayatan, dan
ketrampilan berpikir serta kreatifitas untuk menyelesaikan dan merumuskan suatu
masalah atau konsep. Ketrampilan-ketrampilan ini dapat dididik atau dilatih yaitu
dengan cara melatih kemampuan. Interaksi yang mengarah pada pencapaian
ketrampilan itu akan menuruti kaidah-kaidah tertentu dan bukan semata-mata
menghafal atau meniru, misalnya dengan metode role playing.
3. Pembentukan sikap
Pembentukan sikap mental dan perilaku siswa, tidak akan terlepas dari
soal penanaman nilai-nilai, transfer of values. Peran guru dalam pembentukann
sikap ini, bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendidik yang akan
memindahkan nilai-nilai itu kepada anak didiknya. Berlandaskan nilai-nilai
tersebut, siswa akan tumbuh kesadarannya dan kemauannya, untuk mempraktikan
segala sesuatu yang sudah dipelajarinya. Cara berinteraksi atau metode-metode
yang dapat digunakan misalnya dengan diskusi, demonstrasi, sosiodrama, role
Pencapaian tujuan belajar akan menghasilkan hasil belajar. Relevan
dengan tujuan belajar tersebut, hasil belajar meliputi:
a. Keilmuwan dan pengetahuan, konsep atau fakta (kognitif).
b. Personal, kepribadian atau sikap (afektif).
c. Kelakuan, ketrampilan atau penampilan (psikomotorik).
Ketiga hasil belajar ini akan tercapai jika komponen-komponen dalam
kegiaan belajar mengajar terpenuhi. Komponen belajar akan mempengaruhi
pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, dan akan menenentukan hasil belajar
siswa, selain itu keaktifan dan minat siswa juga akan menentukan hasil belajarnya.
2.1.2. Hasil Belajar
Hasil belajar adalah perubahan tingkah laku. Tingkah laku debagai hasil
belajar dalam pengertian yang luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan
psikomotorik (Nana Sudjana, 2009:3)
Bloom dalam Sardiman A.M. (2008:23) membagi hasil belajar menjadi
3 ranah yaitu:
1. Ranah kognitif, berkenaan dengan hasil belajar intelektual.
2. Ranah afektif, berkenaan dengan sikap.
3. Ranah psikomotorik, berkenaan dengan ketrampilan dan kemampuan
bertindak.
Tingkat penguasaan pelajaraan yang diberikan selama proses belajar
mengajar dapat diukur melalui suatu proses evaluasi yang biasanya berupa tes.
Prestasi belajar adalah puncak hasil belajar siswa terhadap pencapaian
tujuan belajar yang telah ditetapkan. Hasil belajar siswa dapat meliputi aspek
kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik (tingkah laku) sesuai
dengan 3 ranah Bloom.
Penilaian proses belajar adalah upaya memberi nilai terhadap kegiatan
belajar mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru dalam mencapai
tujuan-tujuan pengajaran. Penilaian hasil belajar harus mencakup 3 aspek yaitu aspek
kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Penilaian hasil belajar (PHB) pada ranah kognitif berkaitan dengan
kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran. PHB pada ranah
kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdir dari enam aspek,
yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan
evaluasi. PHB pada ranah ini dapat menggunakan tes terulis yang dapat mengukur
pengetahuan dan pemahaman siswa.
PHB pada ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdir dari lima
aspek,yakni penerimaan, jawaban atau reaksi,penilaian, organisasi, dan
internalisasi. Tipe hasil belajar afektif tampak pada siswa dalam berbagai tingkah
laku seperti perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar,
menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar, dan hubungan sosial.
PHB pada ranah psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar
ketrampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotorik,
atau ketepatan, gerakan ketrampilan kompleks, dan gerakan ekspresif dan
interpretatif.
PHB pada ranah afektif dan psikomotorik dapat menggunakan lembar
observasi. Lembar observasi ini berisi tentang aspek-aspek yang ada pada kedua
ranah tersebut, penilaian dilakukan pada saat kegiatan belajar mengajar
berlangsung dengan melihat tingkah laku yang ditunjukkan siswa dikelas.
2.1.3. Metode Pembelajaran
Joyce (1992: 4) dalam Trianto (2014: 23) menyatakan bahwa model
pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai
pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam
tutorialdan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di
dalamnya buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain. Selanjutnya joyce
menyatakan bahwa setiap model pembelajaran mengarahkan kita ke dalam
mendesain pembelajaran untuk membantu peserta didik sedemikian rupa,
sehingga tujuan pembelajaran tercapai.
Metode pembelajaran yang inovatif dapat meningkatkan minat belajar
siswa sehingga dapat menghasilkan hasil belajar yang maksimal. Metode
pembelajaran inovatif menurut Trianto (2014) antara lain pembelajaran
kooperatif, pembelajaran berbasis masalah, pembelaran berbasis proyek, ikuiri,
direct instruction, kooperatif, dan konstekstual.
Setiap mata pelajaran mempunyai sifat materi yang berbeda-beda. Guru
materi yang disajikan di depan siswa sehingga dapat menumbuhkan minat belajar
siswa.
Salah satu metode pembelajaran yang biasa digunakan dalam
pembelajaran Gambar Teknik 1 yang memberikan kesempatan kepada siswa
untuk belajar berfikir, memecahkan masalah, belajar untuk mengaplikasikan
pengetahuan, konsep, dan ketrampilannya adalah dengan menggunakan metode
pembelajaran Project Based Learning (PjBL) atau pembelajaran berbasis proyek.
2.1.4. Metode Pembelajaran Project Based Learning (PjBL)
Menurut Cord et al., dalam Trianto (2014: 42) Project Based Learning
(PjBL) adalah sebuah model atau pendekatan pendekatan pembelajaran yang
inovatif, yang menekankan belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan yang
kompleks seperti memberi kebebasan pada siswa untuk bereksplorasi
merencanakan aktivitas belajar, melaksanakan proyek secaa kolaboratif, dan pada
akhirnya menghasilkan suatu hasil produk. PjBL membantu siswa
mengembangkan berbagai kemampuan seperti intelektual, sosial, emosional, dan
moral. PjBL merupakan pembelajaran inovatif yang berpusat pada siswa(student
centered) dan menempatkan guru sebagai motivator dan fasilitator, dimana siswa
diberi peluang bekerja secara otonom mengkonstruksi belajarnya
Buck Institute for Education (1999) dalam Trianto (2014: 43)
menyebutkan bahwa PjBL memiliki karakteristik, yaitu: (a) siswa sebagai
pembuat keputusan, dan membuat kerangka kerja; (b) terdapat masalah yang
pemecahannya tidak ditentukan sebelumnya; (c) siswa sebagai perancang proses
mengelola informasi yang dikumpulkan; (e) melakukan evaluasi secara kontinu;
(f) siswa secara teratur melihat kembali apa yang mereka kerjakan; (g) hasil akhir
berupa produk dan dievaluasi kualitasnya; dan (h) kelas memiliki atsmosfer yang
memberi toleransi kesalahan dan perubahan.
PjBL memilik karakteristik yang membedakannya dengan model
pembelajaran lainnya. BIE (1999) dalam Trianto (2014: 49) menyebutkan ciri-ciri
PjBL, diantaranya: Pertama, isi. Isi pada PjBL difokuskan pada ide-ide siswa,
yaitu dalam bentuk gambaran sendir bekerja atas topik-topik yang relevan dan
minat siswa yang seibang dengan pengalaman siswa sehari-hari.
Kedua, kondisi. Kondisi yang dimaksud adalah kondisi untuk
mendorong siswa mandiri, yaitu dalam mengelola tugas dan waktu belajar,
sehingga dalam belajar materi pelajaran yang sedang dibahas, siswa mencari
sumber informasi secara mandiri dari berbagai referensi seperti buku, jurnal,
maupun internet.
Ketiga, aktivitas. Aktivitas adalah suatu strategi yang efektif dan
menarik, yaitu dalam mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaandan
memecahkan masalah menggunakan kecakapan. Aktivitas juga merupakan
bangunan dalam menggagas pengetahuan siswa dalam mentransfer dan
menyimpan informasi dengan mudah.
Keempat, hasil. Hasil dalam PjBL adalah penerapan hasil yang
produktif dalam membantu siswa mengembangkan kecakapan belajar dan
mengintegrasikan dalam belajar yang sempurna, termasuk strategi dan
termasuk kecakapan tertent, disposisi, sikap, dan kepercayaan yang dihubungkan
dengan pekerjaan produktif, sehingga secara efektif dapat menyempurnakan
tujuan yang sulit untuk dicapai dengan model pengajaran yang lain.
Hal yang terpenting yang perlu diperhatkan oleh guru pada saat
mengimplementasikan PjBL, bahwa guru harus memperhatikan
komponen-komponen penting yang mendukung pelaksanaan PjBL (Trianto, 2014: 51).
Komponen-komponen itu meliputi beberapa hal: Pertama, isi kurikulum. Guru
dan siswa bertanggung jawab atas dasar dan tujuan yang jelas serta mendukung
proses belajar. Kedua, komponen multimedia. Bahwa siswa diberi kesempatan
untuk menggunakan teknologi secara efektif sebagai alat dalam perencanaan,
perkembangan, atau penyajian proyek. Ketiga, komponen petunjuk siswa. Bahwa
petunjuk siswa harus dirancang oleh siswadalam membuat keputusan, berinisiatif,
dan memberi materi untuk mengembangkan dan menilai pekerjaan. Keempat,
kerjasama. Bahwa PjBL memberi siswa kesempatan bekerja sama diantara siswa
maupun dengan guru serta anggota kelompok yang lain. PjBL dihubungkan
dengan dunia nyata menuju persoalan yang relevan untuk kehidupan siswa atau
kelompok dan juga komunikasi dengan dunia luar kelas melalui internet, serta
bekerja sama dengan anggota kelompok. Keenam, kerangka waktu, yang mana
dalam pembelajaran harus memberi siswa kesempatan merencanakan, merevisi,
membeyangkan pembelajarannya dalam kerangka waktu untuk materi dan waktu
yang mendukung pembelajaran tersebut. Ketujuh, penalaian. Proses penilaian
dilakukan secara terus-menerus dalam setiap pembelajaran, seperti menilai guru,
Guru berperan hanya memberikan bantuan secukupnya, dengan tujuan
agar sedemikian rupa siswa dapat menyelesaikan tugas/proyeknya. Kreativitas
siswa dan gaya/cara berpikir siswa dalam menyelesaikan suatu proyek yang
diberikan oleh guru akan sangat memantu perkembangan intelektual siswa sendiri.
Tujuan paling akhir dari kegiatan pembelajaran menggunakan PjBL, diharapkan
denganbelajar mandiri, siswa dapat mengasah kemampuannya dan belajar dengan
multi intellegence untuk meningkatkan prestasi belajarnya.
Langkah-langkah dalam PjBL sebagaimana dikembangkan oleh The
George Lucas Educational Foundation (George Lucas, 2005) dalam Trianto
(2014: 52) terdiri dari:
a. Dimulai dengan pertanyaan yang esensial
Mengambil topik yang sesuai dengan realitas dunia nyata dan dimulai dengan
suatu investigasi mendalam. Pertanyaan esensial diajukan untuk memancing
pengetahuan, tanggapan, kritik, dan ide siswa mengenai tema proyek yang
diangkat,
b. Perencanaan aturan pengerjaan proyek
Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan aktivitas yang dapat
mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial, dengan cara mengintegrasikan
berbagai sujek yang mungkin, serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses
c. Membuat jadwal aktivitas
Guru dan siswa secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam
menyelesaikan proyek. Jadwal ini disusun untuk mengetahui berapa lama dalam
pengerjaan proyek.
d. Me-monitoring perkembangan proyek siswa
Guru bertanggung jawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas siswa
selama menyelesaikan proyek. Monitor dilakukan dengan cara menfasilitasi siswa
pada setiap proses.
e. Penilaian hasil kerja siswa
Penilaian dilakukan untuk membantu siswa dalam mengukur ketercapaian standar,
berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing-masing siswa, memberi umpan
balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai siswa, membantu guru
dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya.
f. Evaluasi pengalaman belajar siswa
Pada akhir proses pembelajaran, guru dan siswa melakukan refleksi terhadap
aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi baik secara
individu maupun kelompok. Pada tahap ini siswa diminta untuk mengungkapkan
perasaan dan pengalamannya selama menyelesaikan proyek.
PjBL adalah penggerak yang unggul dalam membantu siswa
belajar melakukan tugas-tugas autentik dan multidisipliner, menggunakan sumber
yang terbatas secara efektif dan bekerja dengan orang lain. Pengalaman di
lapangan baik dari guru maupun siswa bahwa PjBL menguntungkan dan efektif
belajar siswa. Susanti (2008) dalam Trianto (2014) menyebutkan beberapa
kelebihan dari PjBL, di antaranya:
a. Meningkatkan motivasi, dimana siswa tekun dan berusaha keras dalam
mencapai proyek dan merasa bahwa belajar dalam proyek lebih
menyenagkan daripada komponen kurikulum lainnya.
b. Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, dari berbagai sumber yang
mendeskripsikan lingkungan belajar berbasis proyek membuat siswa
menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan problem-problem yang
kompleks.
c. Meningkatkan ketrampilan mengelola sumber, bila diimplementasikan
secara baik maka siswa akan belajar dan praktik dalam mengorganisasi
proyek, membuat alokasi waktu san sumber-sumber lain seperti
perlengkapan untuk menyelesaikan tugas.
Meski demikian, menurut Susanti (2008) dalam Trianto (2014)
berdasarkan pengalaman yang ditemukan di lapangan, PjBL memiliki beberapa
kekurangan di antaranya:
1. kondisi kelas agak sulit dikontrol dan mudah menjadi ribut saat pelaksanaan
proyek karena adanya kebebasan siswa sehingga memberi peluang untuk
ribut dan untuk itu diperlukan kecakapan guru dalam penguasaan dan
pengelolaan kelas,
2. Alokasi waktu yang selalu kurang walaupun sudah mengatur alokasi waktu
2.1.5. Pendekatan Scientific
Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang menekankan pada dimensi
pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah.
Pendekatan ilmiah merupakan konsep dasar yang menginspirasi perumusan
metode mengajar dengan menerapkan karakteristik yang ilmiah. Penerapan
pendekatan ilmiah tidak hanya fokus pada bagaimana mengembangkan
kompetensi siswa dalam melakukan observasi atau eksperimen, namun bagaimana
mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan berfikir sehingga dapat
mendukung aktivitas kreatif dalam berinovasi atau berkarya.
Pelaksanaan kurikulum 2013 menuntut siswa untuk lebih aktif dalam
proses KBM, sehingga pada pelaksanaannya digunakan pendekatan 5M.
Pendekatan 5M ini meliputi mengamati, menanya, mengolah informasi, mencoba,
dan mengkomunikasikan. Penggunaan pendekatan 5M ini diharapkan dapat
memenuhi tujuan dari kurikulum 2013 yaitu menciptakan pembelajaran yang aktif
dan mencakup 3 ranah yaitu sikap, pengetahuan, dan ketrampilan. Hasil belajar
dari pelaksanaan pembelajaraan dengan pendekatan 5M ini akan menghasilkan
siswa yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap,
ketrampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi.
Kegiatan pertama pada pelaksanaan kurikulum 2013 adalah mengamati.
Siswa mengamati objek yang akan dipelajari. Kegiatan belajarnya adalah
membaca, mendengar, menyimak, melihat (tanpa atau dengan alat). Kompetensi
yang dikembangkan adalah melatih kesungguhan, ketelitian, dan mencari
mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang
diamati atau petanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang
diamati. Kompetensi yang dikembangkan adalah mengembangkan kreatifitas, rasa
ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran yag
kritis yang perlu untuk hidup cerdas. Langkah ketiga adalah mengolah informasi.
Kegiatannya adalah mengolah informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas
dari hasil kegiatan mengumpulkan/eksperimen maupun dari hasil kegiatan
mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi, selanjutnya pengolahan
informasi yang dikumpulkan dari yang bersifat menambah keluasan dan
kedalaman sampai kepada pengolahan informasi yang bersifat solusi dari berbagai
sumber yang memiliki pendapat yang berbeda sampai kepada yang bertentangan.
Kompetensi yang dikembangkan adalah mengembangkan sikap jujur, teliti,
disiplin, taat aturan, kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur dan
kemampuan berpikir induktif serta deduktif dalam menyimpulkan. Langkah yang
keempat adalah mencoba. Kegiatan yang dilakukan adalah mengumpulkan
informasi atau eksperimen. Kegiatan belajarnya adalah melakukan eksperimen,
membaca sumber lain selain buku teks, mengamati objek/kejadian/aktivitas,
wawancara dengan narasumber. Kompetensi yang dikembangkan adalah
mengembangkan sikap teliti, jujur, sopan, menghargai pendapat orang lain,
kemampuan berkomunikasi, menerapkan kemampuan mengumpulkan informasi
melalui berbagai cara yang dipelajari, mengembangkan belajar sepanjang hayat.
Langkah pembelajaraan yang terakhir adalah mengkomunikasikan. Kegiatan
analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya. Kompetensi yang dikembangkan
adalah mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir
sistematis, mengungkapkan pendapat dengan singkat dan jelas, dan
mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar.
Penerapan metode ilmiah merupakan proses berfikir logis berdasarkan
fakta dan teori. Pertanyaan muncul dari pengetahuan yang telah dikuasai, karena
itu kemampuan bertanya merupakan dasar dalam mengembangkan kemampuan
berfikir ilmiah. Informasi baru digali untuk menjawab pertanyaan.
2.1.6. Mata Pelajaran Gambar Teknik 1
Mata pelajaran Gambar Teknik 1 merupakan salah satu ata pelajaran
produktif pada progam keahlian Teknik Gambar Bangunan (TGB) dalam struktur
Kurikulum 2013 di SMK Negeri 2 Salatiga. Mata pelajaran Gambar Teknik 1
adalah mata pelajaran yang memberikan pengetahuan dan ketrampilan siswa
tentang dasar-dasar mengambar teknik dan cara menggambar gambar teknik
dengan benar. Mata pelajaran Gambar Teknik 1 ini di berikan kepada siswa SMK
kelas X jurusan Teknik Gambar Bangunan semester 1 dan 2. Mata pelajaran
Gambar Teknik 1 ini adalah mata pelajaran pokok yang mempunyai beberapa
kompetensi dasar (KD) diantaranya dasar-dasar dan etiket menggambar teknik,
pengenalan alat-alat gambar, simbol-simbol bahan bangunan, pengenalan bentuk
dan fungsi garis gambar, pengenalan aturan kelengkapan gambar teknik, gambar
konstruksi geometris, pengenalan jenis gambar proyeksi, dan pengenalan gambar
2.1.7. Ruang Praktik Gambar Bangunan
Ruang praktik adalah tempat belajar mengajar melalui metode praktik
yang dapat mengasilkan pengalaman belajar dimana siswa berinteraksi dengan
berbagai alat dan bahan untuk mengobservasi gejala-gejala yang dapat diamati
secara langsung dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari.
Pengertian ruang praktik dijelaskan pada Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia nomor 5 tahun 1980 tentang Pokok-Pokok Organisasi
Universita/Institu Negeri pasal 27 dan pasal 28 (Undang-Undang, 1980:7). Pasal
27 menyebutkan ruang praktik/studio adalah sarana penunjang jurusan dalam satu
atau sebagian ilmu, teknologi atau seni tertentu sesuai dengan keperluan bidang
studi yang bersangkutan. Pasal 28 menjelaskan ruang praktik/studio dpimpin oleh
seorang guru atau seorang tenaga pengajar yang keahliannya telah memenuhi
persyaratan sesuai dengan cabang ilmu, teknologi, dan seni tertentu dan
bertanggungjawab langsung kepada Ketua Jurusan.
2.1.8. PERMENDIKNAS nomor 40 Tahun 2008
Pada peraturan ini termuat berbagai aturan mengenai standar sarana dan
prasarana yang harus dipenuhi pada setiap jurusan yang ada pada setiap lembaga
pendidikan SMK/MAK secara umum.
Peraturan ini memuat standar minimal Ruang Praktik Teknik Gambar
Bangunan yaitu: (1) Luas Ruang Praktik Teknik Gambar Bangunan; (2) Rasio
per-siswa; (3) Daya tampung ruang; (4) Luas ruang penyimpanan dan instruktur;
Ruang Praktik Teknik Gambar Bangunan; (7) Perlengkapan Ruang Praktik
Teknik Gambar Bangunan.
Berikut data standar sarana dan prasarana ruang praktik Teknik Gambar
Bangunan menurut PERMENDIKNAS no. 40 tahun 2008:
a. Ruang praktik Progam Keahlian Teknik Gambar Bangunan berfunsi sebagai
tempat berlangsungnya kegiatan pembelajaran: menggambar teknik dengan mesin
gambar, menggambar teknik, menghitung bahan dan biaya dengan progam
komputer.
b. Luas minimum ruang praktik Progam Keahlian Teknik Gambar Bangunan
adalah 176 m² untuk menampung 32 siswa, yang meliputi: ruang praktik gambar
masinal 64 m², ruang praktik gambar komputer 64 m², ruang penyimpanan dan
instruktur 48 m².
c. Ruang praktik Progam Keahlian Teknik Gambar Bangunan dilengkapi
prasarana sebagaiman tercantum pada tabel 1.
Tabel 2.1 Jenis, Rasio, dan deksripsi Standar Prasarana Ruang Praktik Progam keahlian Teknik Gambar Bangunan
No. Jenis Rasio Deskripsi
1 Ruang praktik gambar manual dan masinal
4 m²/siswa Kapasitas untuk 16 siswa. Luas minimum adalah 64 m².
Lebar minimum adalah 8 m.
2 Ruang praktik gambar komputer
Lebar minimum adalah 8 m.
3 Ruang penyimpanan
dan instruktur
4
m²/instruktur
Luas minimum adalah 48 m².
Lebar minimum adalah 6 m.
Ruang praktik Progam Keahlian Teknik Gambar Bangunan dilengkapi
[image:48.595.162.498.331.680.2]sarana sebagaimana tercantum pada tabel 2 sampai dengan tebel 4
Tabel 2.2 Standar Sarana pada Ruang Praktik Gambar Manual dan Masinal
No. Jenis Rasio Deskripsi
1 Perabot
1.1 Meja gambar 1 set/ruang Untuk minimum 16
siswa pada pekerjaan menggambar teknik. 1.2 Kursi gambar/stool
1.3 Lemari simpan alat dan bahan
2 Peralatan 2.1 Peralatan untuk
pekerjaan
menggambar manual dan masinal
1 set/ruang Untuk minimum 16 siswa untuk
menggambar teknik.
3 Media Pendidikan
3.1 Papan tulis 1 set/ruang Untuk mendukung
minimum 16 siswa pada pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang bersifat teoritis
4 Perlengkapan lain
4.1 Kotak kontak Minimum 2
buah/ruang Untuk mendukung operasionalisasi peralatan yang memerlukan daya listrik.
4.2 Tempat sampah Minimum 1
buah/ruang
Tabel 2.3 Standar Sarana pada Ruang Praktik Gambar Komputer No. Jenis Ruang Rasio Deskripsi 1 Perabot
1.2 Kursi kerja siswa pada pekerjaan menggambar teknik, perhitungan bahan dan menghitung anggaran biaya dengan komputer 1.3 Lemari simpan alat
dan bahan
2 Peralatan 2.1 Komputer untuk
pekerjaan menggambar
1 set/ruang Untuk minimun 16 siswa untuk
menggambar teknik, perhitungan bahan dan menghitung anggaran biaya dengan komputer. 3 Media pendidikan
3.1 Papan tulis 1 set/ruang Untuk mendukung
minimum 16 siswa pada pelaksanaa kegiatan belajar mengajar yang bersifat teoritis.
4 Perlengkapan lain
4.1 kotak kontak Minimum 8
buah/ruang Untuk mendukung operasionalisasi peralatan yang memerlukan daya listrik.
4.2 Tempat sampah Minimum 1
[image:49.595.166.503.88.518.2]buah/ruang.
Tabel 2.4 Standar Sarana pada Ruang Penyimpanan dan Instruktur
No Jenis Rasio Deskripsi
1 Perabot
1.1 Meja kerja 1 set/ruang Untuk minimum 12
instruktur. 1.2 Kursi kerja
1.3 Rak alat dan bahan 1.4 Lemari simpan alat
dan bahan 2 Peralatan 2.1 Peralatan untuk
ruang penyimpanan dan instruktur
1 set/ruang Untuk minimum 12 instruktur
3 Media pendidikan
3.1 Papan data I
buah/ruang
4 Perlengkapan lain
4.1 Kotak kontak Minimun 2
buah/ruang.
Untuk mendukung operasionalisasi peralatan yang
memerlukan daya listrik
4.2 Tempat sampah Minimum 1
buah/ruang
2.1.9. Penelitian-Penelitian yang Relevan
2.1.9.1.Penerapan PjBL untuk Meningkatkan Keaktifan Siswa pada Proses KBM oleh Warsito (2008)
Permasalahan yang diangkat pada penelitian ini adalah kurangnya
keaktifan siswa kelas VII C SMP Muhammadiyah Depok saat kegiatan belajar
mengajar (KBM) pada mata pelajaran fisika. Peneliti menggunakan metode
pembelajaran Project Based Learning (PjBL) untuk meningkatkan keaktfan siswa
pada KBM. Hasil dari penelitian didapatkan bahwa metode pembelajaran Project
Based Learning dapat meningkatkan keaktifan dan academic skill siswa kelas VII
C SMP Muhammadiyah 3 Depok dalam proses pembelajaran fisika.
2.1.9.2.Penerapan PjBL untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa oleh Didi Kurniadi (2013)
Permasalahan dalam penelitian ini adalah rendahnya hasil belajar kimia
di SMA N 1 Bawang Banjarnegara yang disebabkan oleh proses pembelajaran
yang tidak memberikan kesempatan bagi siswa dalam memperoleh pengalaman
belajar yang memadai, baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
Peneliti menggunakan metode pembelajaran Project Based Learning untuk
meningkatkan hasil belajar siswa SMA N 1 Bawang Banjarnegara berbasis bahan
pembelajaran Project Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa
SMA N 1 Bawang Banjarnegara
2.1.9.3.Keefektifan PjBL pada Pencapaian Pemecahan Masalah Peserta Didik oleh Marinda Ditya Putri (2013)
Pendidikan SMK membutuhkan suatu pembelajaran yang tidak hanya
dapat meningkatkan aspek kognitif, psikomotor, dan afektif tetapi juga dapat
memberikan kecakapan hidup sebagai bekal memasuki dunia kerja. Berlatar
belakang hal tersebut, peneliti melakukan penelitian tentang keefektifan metode
pembelajaran Project Based Learning pada pencapaian pemecahan masalah
peserta didik kelas X SMK materi progam linier. Hasil penelitian didapatkan
bahwa model PjBL efektif pada pencapaian kemampuan pemecahan masalah
peserta didik kelas X SMK materi progam linier.
2.2.Kerangka Berpikir
Apabila dikaji lebih lanjut berdasarkan tinjauan teori yang ada, aktivitas
belajar dan mengajar merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Aktivitas
belajar sangat berperan dalam belajar dan pembelajaran yaitu dapat menetukan
penguatan belajar, memperjelas tujuan belajar, serta menentukan ketekunan
belajar. Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dapat merangsang siswa untuk
mempelajari pokok bahasan proyeksi orhogonal (2D) berdasarkan aturan gambar
proyeksi dengan menggunakan metode pembelajaran Project Based Learning
melalui pendekatan Scientific.
Upaya untuk meningkatkan aktivitas belajar terhadap suatu materi,
dengan materi yang disampaikan demi tercapainya tujuan pendidikan yaitu
ditandai dengan hasil belajar yang tinggi dan tercapainya ketuntasan belajar baik
secara individu maupun klasikal.
Salah satu faktor pendukung keberhasilan kegiatan belajar mengajar
adalah adanya sarana prasarana yang memadai. Semakin lengkap sarana prasarana
pembelajaran yang tersedia maka proses belajar mengajar akan berjalan secara
optimal. Penggunaan sarana prasarana pembelajaran yang diterapkan secara
optimal akan mendapatkan hasil belajar yang maksimal.
Data yang diperlukan dalam penelitian antara lain pemanfaatan sarana
prasarana ruang praktik gambar bangunan di Jurusan Teknik Gambar Bangunan di
SMK Negeri 2 Salatiga agar mendapatkan hasil belajar yang maksimal
menggunakan metode Project Based Learning.
Berdasarkan kerangka berpikir diatas dengan menggunakan metode
pembelajaran Project Based Learning melalui pendekatan Scientific dalam
pemanfaatan sarana dan prasarana ruang praktik gambar bangunan diharapkan
dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam mempelajari Gambar Teknik 1
sehingga siswa dapat memperoleh hasil belajar yang maksimal khususnya pada
pokok bahasan gambar proyeksi orthogonal (2D) berdasarkan aturan gambar
Skema alur kerangka berfikir dijelaskan sebagai berikut:
I
[image:53.595.115.499.184.660.2]
Gambar 2.1. skema kerangka berpikir AKTIVITAS SISWA
BERPENGARUH PADA PROSES PEMBELAJARAN
PEMANFAATAN SARANA PRASARANA RUANG PRAKTIK
BERPENGARUH PADA HASIL BELAJAR
PEMBELAJARAN PjBL
PEMBELAJARAN KONVENSIONAL
PERENCANAAN PEMBELAJARAN PjBL PERENCANAAN
PEMBELAJARAN KONVENSIONAL
EVALUASI PEMBELAJARAN PjBL EVALUASI
PEMBELAJARAN KONVENSIONAL
AKTIVITAS SISWA MENINGKAT, HASIL BELAJAR MENINGKAT AKTIVITAS SISWA
TETAP, HASIL BELAJAR KURANG OPTIMAL
PENELITIAN
2.3.Rumusan Hipotesis
Berdasarkan permasalahan dan kerangka berpikir maka hipotesis yang
diajukan dalam penelitian adalah hasil belajar siswa yang menggunakan metode
pembelajaran Project Based Learning lebih baik dibandingkan hasil belajar siswa
39 3.1 Rancangan Penelitian
Metode penelitian yang akan digunakan adalah metode penelitan
eksperimental. Metode penelitian eksperimental adalah suatu penyelidikan ilmiah
yang menuntut peneliti memanipulasi dan mengendalikan satu atau lebih variabel
bebas serta mengamati variabel terikat, untuk melihat perbedaan yang sesuai
dengan manipulasi variabel-variabel bebas tersebut (Arief Furchan,
2007:39).Metode penelitian eksperimen dibedakan menjadi 2 yaitu, desain
eksperimen sejati (true experimental) dan eksperimental semu (quasi
experimental).
Pada penelitian ini akan digunakan penelitian Eksperimental-Semu
(Quasi Experimental Designs). Menurut Arief Furchan (2007:394) penelitian
ekperimental-semu adalah disain penelitian yang dapat memberikan pengendalian
sebanyak mungkin dalam situasi yang ada.Peneliti menggunakan disain penelitian
ini karena mengingat situasi tempat penelitian yang tidak memungkinkan untuk
dikendalikan secara penuh selama peneltian.Sampel yang diambil dalam
penelitian ini adalah siswa Teknik Gambar Bangunan kelas X SMK Negeri 2
Salatiga.
Adapun rancangan penelitian yang akan dilaksanakan adalah sebagai
a. Perencanaan (Planning)
Kegiatan yang dilakukan adalah meliputi apa penyebab masalah yang
ada pada siswa kelas X kemudian menganalisis penyebab munculnya masalah dan
menetapkan tindakan (intervensi) yang akan dilakukan terhadap subjek. Beberapa
hal tersebut digunakan untuk kepentingan studi awal yang diperoleh dari
observasi dan wawancara terhadap responden (guru dan siswa).
b. Pelaksanaan Tindakan (Acting)
Pelaksanaan tindakan dilaksanakan untuk memperbaiki permasalahan
yang ada pada subjek penelitian. Subjek penelitian ini meliputi siswa kelas X
TGB A dan X TGB B. Pelaksanaan tindakan pada penelitian ini akan diterapkan
penelitian eksperimen dimana akan ada kelas eksperimen dan kelas kontrol pada
subjek penelitian. Langkah-langkah pada proses ini telah dijabarkan dalam
Progam Satuan Pelajaran dan Rencana Pembelajaran yang telah direncanakan
sebelumnya.
c. Pengamatan (Observing)
Observing adalah kegiatan pengamatan dan pengambilan data untuk
memantau sejauh mana efek tindakan yang dilakukan terhadap siswa dapat
berjalan secara efektif dan mencapai tujuan yang dikehendaki serta menunjang
pembelajaran yang berlangsung kondusif.Data-data yang dikumpulkan adalah
berupa data primer maupun data sekunder.Instrumen serta data yang dikumpulkan
d. Evaluasi (Evaluating)
Evaluasi adalah suatu kegiatan yang mengulas secara kritis
terhadap perubahan yang terjadi pada siswa, suasana pembelajaran yang
berlangsung di kelas. Kegiatan ini memerlukan adanya analisis dan refleksi
terhadap data-data yang telah dikumpulkan untuk didiskusikan bersama dengan
kolaborator untuk mengetahui sejauh mana action (intervensi) yang dilakukan
telah menghasilkan suatu yang berarti dengan adanya pemanfaatan PjBL melalui
pendekatan scientific pada pembelajaran Gambar Teknik 1 pokok bahasan gambar
proyeksi orthogonal (2D) berdasarkan aturan gambar proyeksi.
3.2 Populasi dan Sampel Penelitian
Menurut Arikunto (2010: 173), populasi adalah keseluruhan subjek
penelitian.
Menurut Suharsimi Arikunto, Prof Dr.;(Arikunto 2010,174) Dalam
bukunya Prosedur Penelitian suatu pendekatan Praktek,mengatakan bahwa sampel
adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Dinamakan penelitian sampel
apabila kita bermaksud untuk menggeneralisasikan hasil penelitian sampel.Yang
dimaksud dengan menggeneralisasikan adalah mengangkat kesimpulan penelitian
sebagai suatu yang berlaku bagi populasi.
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X TGB semester
2 yang berjumlah 72 siswa yang terdiri dari dari 36 siswa kelas X TGB A dan 36
siswa kelas X TGB B. Berdasarkan analisis populasi maka sampel yang dipilih
siswa yang terdiri dari dari 36 siswa kelas X TGB A dan 36 siswa kelas X TGB B.
Dari sampel tersebut, maka akan dipilih salah satu sampel sebagai kelompok
eksperimen dan lainnya sebagai kelompok kontrol. Penentuan kelompok ini
dengan menggunakan data nilai hasil belajar Gambar Teknik 1 semester ganjil.
Data ini akan di uji homogenitas, apabila data dinyatakan homogen, maka
pengambilan kelompok eksperimen dan kontrol dapat dilakukan secara acak.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik total
sampling.
3.3 Variabel Penelitian
Variabel pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dielajari sehingga diperoleh informasi tentang hal
tersebut kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono 2012:2). Jadi dikatakan
variabel ada variasinya atau terdapat beberapa variasi. Variabel yang digunakan
dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa, Hasil belajar dalam