• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMANFAATAN SARANA PRASARANA RUANG PRAKTIK DENGAN METODE PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING (PjBL)PADA MATA DIKLAT GAMBAR TEKNIK 1 TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA TEKNIK GAMBAR BANGUNAN (TGB) SMK N

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PEMANFAATAN SARANA PRASARANA RUANG PRAKTIK DENGAN METODE PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING (PjBL)PADA MATA DIKLAT GAMBAR TEKNIK 1 TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA TEKNIK GAMBAR BANGUNAN (TGB) SMK N"

Copied!
183
0
0

Teks penuh

(1)

i

PEMANFAATAN SARANA PRASARANA RUANG PRAKTIK DENGAN METODE PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING (PjBL)PADA

MATA DIKLAT GAMBAR TEKNIK 1 TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA TEKNIK GAMBAR BANGUNAN (TGB) SMK N 2 SALATIGA

SKRIPSI

Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Semarang

Oleh

SUSI ANDARININGSIH NIM 5101411023

PENDIDIKAN TEKNIK BANGUNAN

TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK

(2)
(3)
(4)
(5)

v

MOTO DAN PERSEMBAHAN

MOTO

“I don’t believe in the kind of magic in my books. But I do believe something

very magical can happen when you read a good book.”(JK Rowling)

PERSEMBAHAN

1. Bapak dan Ibu, terimakasih atas kasih sayang, do’a, dukungan, motivasi,

dan semuanya.

2. Maya, Rindu, Ana, Hartik, Ardhi yang sudah membantu selama

penyusunan skripsi ini.

3. Teman-teman seperjuangan PTB 2011.

4. Guru-guru SMK Negeri 2 salatiga atas kerjasamanya.

5. Siswa-siswi kelas X TGB 2014/2015 yang telah membantu.

6. Mbak Emi, Mbak Vika, Mbak Lia, Prista, Utit, Dian terimakasih atas do’a

dan motivasinya.

7. Teman-teman kost Wanodyatama atas dukungannya.

8. Mas Nurul Wahyudi yang telah memberi motivasi dan dukungan.

(6)

vi

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberi rahmat dan hidayahNya

sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul

Pemanfaatan Sarana Prasarana Ruang Praktik Dengan Metode Pembelajaran Project Based Learning (PjBL) pada Mata Diklat Gambar Teknik 1 terhadap Hasil Belajar Siswa Teknik Gambar Bangunan (TGB) SMK N 2 Salatiga.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak dapat tersusun dengan

baik tanpa bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan

terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Prof. Dr. Fatur Rokhman, M.Hum., Rektor UNNES,

2. Drs. Muhammad Harlanu, M.Pd., Dekan Fakultas Teknik UNNES,

3. Drs. Sucipto, M.T., Ketua Jurusan Teknik Sipil,

4. Eko Nugroho Julianto, S.Pd, M.T., Ketua Prodi Pedidikan Teknik

Bangunan,

5. Aris Widodo, S.Pd, M.T., dosen pembimbing yang telah sabar

membimbing dan memberi petunjuk serta pengarahan selama penulisan

skripsi ini.

6. Semua pihak yang tidak mungkin disebutkan satu persatu atas bantuannya

(7)

vii

Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat untuk semua pihak.

Penulis juga berharap agar skripsi ini dapat dikembangkan menjadi lebih baik

lagi.

Semarang, 2015

(8)

viii ABSTRAK

Susi Andariningsih. 2015. “Pemanfaatan Sarana Prasarana Ruang Praktik dengan Metode Pembelajaran Project Based Learning (PjBL) pada Mata Diklat Gambar Teknik 1 terhadap Hasil Belajar Siswa Teknik Gambar Bangunan (TGB) SMK N 2 Salatiga”. Pembimbing :. Aris Widodo ,S.Pd.,M.T

Skripsi : Pendidikan Teknik Bangunan Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang.

Project based Learning (PjBL) adalah sebuah model atau pendekatan pembelajaran yang inovatif, yang menekankan belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan yang kompleks seperti memberi kebebasan pada siswa untuk bereksplorasi merencanakan aktivitas belajar, melaksanakan proyek secara kolaboratif, dan pada akhirnya menghasilkan suatu hasil produk. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah: 1. Apakah penerapan PjBL melalui pendekatan scientific dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pemanfaatan sarana prasarana pada proses pembelajaran gambar teknik 1 kelas X Teknik Gambar Bangunan SMK Negeri 2 Salatiga ; 2. Apakah dengan menggunakan metode PjBL dapat memaksimalkan penggunaan sarana dan prasarana ruang praktik gambar bangunan pada mata diklat gambar teknik 1 kelas X Teknik Gambar Bangunan SMK Negeri 2 Salatiga ; 3. Adakah peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis proyek melalui pendekatan scientific pada mata diklat gambar teknik 1 kelas X Teknik Gambar Bangunan SMK Negeri 2 Salatiga.

Model penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen dimana subjek pada penelitian ini adalah siswa pada kelas X TGB A (kelas kontrol) dan X TGB B(kelas ekperimen), dengan hasil belajar sebagai alat untuk mengukur tingkat pemahaman siswa selama proses pembelajaran. Hasil penelitian ini adalah rata-rata nilai akhir yang terdiri dari nilai kognitif, afektif dan psikomotorik pada kelas kontrol dan eksperimen. Rata-rata nilai akhir kelas kontrol adalah 69,61 dan pada kelas eksperimen 79,92, dengan persentase ketuntasan kelas kontrol 52,78% dan kelas eksperimen 91,67%. Hasil uji perbedaan rata-rata (uji t) didapatkan nilai t hitung sebesar 5,49.Nilai tersebut lebih besar dari nilai ttabel 1,99. Peningkatan hasil belajar dari pre tes ke post tes adalah 88,40% untuk kelas eksperimen dan 66,67% untuk kelas kontrol.Hal tersebut menunjukkan bahwa nilai akhir kelas eksperimen lebih baik dari nilai akhir kelas kontrol.

(9)

ix

(10)

x DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

PENGESAHAN KELULUSAN ... iii

PERNYATAAN ... iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

ABSTRAK ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

BAB I - PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang Masalah ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 8

1.3. Tujuan Penelitian ... 9

1.4. Batasan Masalah ... 9

1.5. Manfaat atau Kegunaan Penelitian ... 10

1.6. Penegasan Istilah ... 10

(11)

xi

BAB II - LANDASAN TEORI ... 15

2.1. Kajian Pustaka ... 15

2.1.1. Hakikat Belajar Mengajar ... 15

2.1.2. Hasil Belajar ... 18

2.1.3. Metode Pembelajaran ... 20

2.1.4. Metode Pembelajaran Project Based Learning (PjBL) ... 21

2.1.5. Pendekatan Scientific ... 27

2.1.6. Mata pelajaran Gambar Teknik 1 ... 29

2.1.7. Ruang Praktik Gambar Bangunan ... 30

2.1.8. PERMENDIKNAS nomor 40 tahun 2008 ... 30

2.1.9 Penelitian-Penelitian yang Relevan... 34

2.2. Kerangka Berpikir ... 35

2.3. Rumusan Hipotesis ... 38

BAB III - METODE PENELITIAN ... 39

3.1. Rancangan Penelitian... 39

3.2. Populasi dan Sampel Penelitian ... 41

3.3. Variabel Penelitian... 42

3.4. Prosedur Pengumpulan Data ... 43

3.5. Metode Pengumpulan Data... 45

3.6. Proses Pelaksanaan Penelitian ... 46

3.7. Uji Coba Instrumen... 47

3.8. Metode Pengumpulan Data... 52

(12)

xii

BAB IV - HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 59

4.1. Analisis Data Awal ... 59

4.2. Analisis Data Akhir ... 64

4.3. Alur Penelitian ... 67

4.4. Hasil Penelitian ... 67

4.5. Pembahasan ... 68

BAB V - PENUTUP ... 82

5.1. Kesimpulan ... 82

5.2. Saran ... 84

DAFTAR PUSTAKA ... 86

(13)

xiii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Skema Kerangka Berpikir ... 37

Gambar 4.1. Aktivitas Siswa Kelas Eksperimen ... 72

Gambar 4.2. Hasil belajar kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 77

(14)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Jenis, Rasio, dan Deskripsi Standar Prasarana Ruang Praktik Progam

Keahlian Teknik Gambar Bangunan ... 31

Tabel 2.2. Standar Sarana pada Ruang Praktik Gambar Manual dan Masinal ... 32

Tabel 2.3. Standar Sarana pada Ruang Praktik gambar Komputer ... 32

Tabel 3.1. Kegiatan Pembelajaran pada Saat penelitian ... 44

Tabel 3.2. Jadwal Pelaksanaan Penelitian ... 47

Tabel 3.3. Hasil Analisis Validitas Butir Soal Uji Coba ... 48

Tabel 3.4. Hasil Analisis Daya Pembeda Butir Soal Uji Coba ... 51

Tabel 3.5. Hasil Analisis Taraf Kesukaran Butir Soal Uji Coba ... 52

Tabel 4.1. Hasil Pre-Test Kelompok Eksperimen dan Kontrol ... 60

Tabel 4.2. Uji Normalitas ... 61

Tabel 4.3. Uji Homogenitas (Kesamaan Dua Varians) ... 62

Tabel 4.4. Uji Perbedaan Rata-rata Pre-Test (Uji t) ... 63

Tabel 4.5. Hasil Post-Test Kelompok Eksperimen dan Kontrol ... 64

Tabel 4.6. Uji Normalitas ... 64

Tabel 4.7. Uji Homogenitas (Kesamaan Dua Varians) ... 65

Tabel 4.8. Uji Perbedaan Rata-rata Post-Test (Uji t) ... 66

Tabel 4.9. Hasil Belajar Afektif ... 74

Tabel 4.10. Hasil Belajar Psikomotorik ... 75

(15)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 Silabus Gambar Teknik 1 ...86

Lampiran 2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Eksperimen ...98

Lampiran 3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Kontrol ...110

Lampiran 4 Materi Proyeksi Orthogonal ...122

Lampiran 5 Daftar Nilai Ujian Gambar Teknik 1 Semester Gasal ...130

Lampiran 6 Daftar Siswa Kelas Uji Coba ...132

Lampiran 7 Kisi-Kisi Soal Ujicoba ...133

Lampiran 8 Soal Uji Coba ...134

Lampiran 9 Kunci Jawaban Soal Uji Coba ...141

Lampiran 10 Analisis Soal ...142

Lampiran 11 Realibilitas Soal ...145

Lampiran 12 Rekapitulasi Data Soal yang Digunakan ...146

Lampiran 13 Soal Tes Kognitif ...147

Lampiran 14 Kunci Jawaban Soal Tes Kognitif ...153

Lampiran 15 Pedoman Penilaian Afektif ...154

Lampiran 16 Pedoman Penilaian Psikomotorik ...159

Lampiran 17 Proyek Gambar Kelas Eksperimen ...163

Lampiran 18 Tugas Gambar Kelas Kontrol...164

Lampiran 19 Daftar Siswa Kelas Kontrol ...165

Lampiran 20 Daftar Siswa Kelas Eksperimen ...166

Lampiran 21 Data Nilai Pre Tes dan Post Tes Kontrol ...167

(16)

xvi

Lampiran 23 Perhitungan Peningkatan Hasil Belajar Kontrol...169

Lampiran 24 Perhitungan Peningkatan Hasil Belajar Eksperimen ...170

Lampiran 25 Uji Normalitas Pre Tes ( Eksperimen dan Kontrol) ...171

Lampiran 26 Uji Homogenitas Pre Tes...173

Lampiran 27 Uji Perbedaan Dua Rata-Rata Pre Tes ...174

Lampiran 28 Uji Normalitas Post Tes ( Eksperimen dan Kontrol) ...175

Lampiran 29 Uji Homogenitas Post Tes ...176

Lampiran 30 Uji Perbedaan Dua Rata-Rata Post Tes ...177

Lampiran 31 Nilai Afektif Kelas Kontrol ...178

Lampiran 32 Nilai Afektif Kelas Eksperimen ...180

Lampiran 33 Nilai Psikomotorik Kelas Kontrol ...181

Lampiran 34 Nilai Psikomotorik Kelas Eksperimen ...182

Lampiran 35 Surat Ijin penelitian SMK Negeri 2 Salatiga ...183

(17)

1 1.1.Latar Belakang Masalah

Kegiatan belajar mengajar adalah kegiatan yang melibatkan interaksi

antara guru dan siswa. Menurut Sardiman A.M. (2008:20) belajar adalah

perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya

dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru, dan lain sebagainya,

sedangkan mengajar adalah suatu usaha untuk menciptakan kondisi atau sistem

lingkungan yang mendukung dan memungkinkan untuk proses belajar. Kegiatan

beajar mengajar tidak dapat berjalan tanpa adanya guru dan siswa. Unsur-unsur

yang ada dalam kegiatan belajar mengajar selain guru dan siswa juga diperlukan

adanya kurikulum dan sarana prasarana yang memadai.

Kurikulum dan kegiatan belajar mengajar (KBM) merupakan dua hal

yang berbeda namun erat kaitannya antara satu dengan lainnya. Kurikulum pada

dasarnya merupakan suatu perencanaan menyeluruh yang mencakup kegiatan dan

pengalaman yang perlu disediakan yang memberikan kesempatan secara luas bagi

siswa untuk belajar, dengan kata lain semua proses KBM senantiasa berpedoman

pada kurikulum tertentu sesuai dengan tuntutan lembaga pendidikan atau sekolah

dan kebutuhan masyarakat serta faktor-faktor lainnya.

Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang menekankan pada dimensi

pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah.

(18)

metode mengajar dengan menerapkan karakteristik yang ilmiah. Penerapan

pendekatan ilmiah tidak hanya fokus pada bagaimana mengembangkan

kompetensi siswa dalam melakukan observasi atau eksperimen, namun bagaimana

mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan berfikir sehingga dapat

mendukung aktivitas kreatif dalam berinovasi atau berkarya.

Pelaksanaan kurikulum 2013 menuntut peserta didik untuk lebih aktif

dalam proses KBM, sehingga pada pelaksanaannya digunakan pendekatan 5M.

Pendekatan 5M ini meliputi mengamati, menanya, mengolah informasi, mencoba,

dan mengkomunikasikan. Penggunaan pendekatan 5M ini diharapkan dapat

memenuhi tujuan dari kurikulum 2013 yaitu menciptakan pembelajaran yang aktif

dan mencakup 3 ranah yaitu sikap, pengetahuan, dan ketrampilan. Hasil belajar

dari pelaksanaan pembelajaraan dengan pendekatan 5M ini akan menghasilkan

peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap,

ketrampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi.

Sarana dan prasarana merupakan salah satu faktor penunjang

kegiatan belajar mengajar. Tanpa adanya sarana dan prasarana yang memadai,

kegiatan belajar mengajar tidak akan berjalan dengan lancar. Sarana dan prasarana

pendidikan dapat berguna untuk menunjang penyelenggaraan proses belajar

mengajar, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam suatu lembaga

pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.

Prasarana dan sarana pendidikan adalah semua benda bergerak maupun

yang tidak bergerak, yang diperlukan untuk menunjang penyelenggaraan proses

(19)

Raflis Kosasi,2009). Contoh dari sarana pendidikan adalah meja dan kursi, papan

tulis, alat peraga, almari, buku-buku, dan media pendidikan, sedangkan yang

termasuk prasarana pendidikan antara lain gedung sekolah dan tata tertib sekolah.

Sarana dan prasarana pendidikan merupakan dua unsur yang tidak dapat

dipisahkan. Adanya sarana pendidikan tanpa adanya prasarana yang memadai

akan menganggu kegiatan belajar mengajar, begitu pula sebaliknya. Sarana dan

prasana pendidikan akan mendukung kegiatan belajar mengajar. Sarana dan

prasarana pendidikan yang dimanfaatkan secara optimal akan membuat kegiatan

belajar mengajar akan berjalan secara maksimal dan akan berpengaruh pada hasil

kegiatan belajar mengajar itu sendiri.

SMK Negeri 2 Salatiga adalah salah satu SMK Negeri di kota Salatiga.

Sarana dan prasarana penunjang cukup memadai diantaranya ruang kelas dan

ruang praktik. Ruang kelas biasanya digunakan untuk mata pelajaran normatif dan

beberapa mata pelajaran produktif, sedangkan untuk ruang praktik digunakan

untuk mata pelajaran produktif saja.

Jurusan Bangunan mempunyai ruang praktik yang memadai, diantaranya

ruang praktik batu beton, ruang praktik kayu, ruang praktik gambar manual dan

gambar autocad. Penggunaan ruang praktik pada jurusan Bangunan digunakan

untuk mata pelajaran produktif yang mempunyai kaitan materi terhadap fungsi

ruang praktik itu sendiri, seperti penggunaan ruang praktik gambar bangunan

untuk mata pelajaran gambar teknik.

Observasi awal yang didapatkam serta pendapat dari beberapa guru dan

(20)

dibeberapa mata pelajaran. Salah satunya penggunaan ruang praktik pada saat

mata pelajaran Gambar Teknik. Penggunaan ruang praktik secara maksimal

dimaksudkan agar siswa/siswi SMK N 2 Salatiga dapat memanfaatkan alat-alat

gambar yang tersedia untuk mengerjakan tugas-tugas gambar teknik, sehingga

guru dapat membimbing langsung siswa dalam proses pengerjaan tugas dan dapat

diperoleh hasil yang maksimal, namun dalam pelaksanaannya ruang praktik hanya

digunakan dalam penyampaian mater ajar dan pengerjaan tugas dilakukan

dirumah, sehingga guru tidak dapat membimbing langsung pada saat proses

pengerjaan tugas, dan hasil yang diperoleh tidak bisa maksimal.

Masih kurangnya pemanfaatan sarana dan prasarana ruang praktik

menjadi kendala dalam proses pembelajaran Gambar Teknik 1, dalam

penyampaian materi pembelajaran, diharapkan guru sebagai fasilitator mampu

memanfaatkan sarana dan prasarana yang ada di ruang praktik gambar bangunan

secara maksimal agar siswa antusias dalam mengikuti proses pembelajaran.

Salah satu alternatif yang dapat digunakan agar dapat memanfaatkan

sarana dan prasarana pendidikan secara maksimal adalah dengan menggunakan

metode pembelajaran Project Based Learning (PjBL). Metode pembelajaran PjBL

adalah metode pembelajaran yang menggunakan proyek atau kegiatan sebagai

media. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian, interprestasi, sintesis, dan

informasi untuk menghasilkan berbagai hasil belajar.

PjBL atau pembelajaran berbasis proyek adalah metode pembelajaran

yang menggunakan proyek atau kegiatan sebagai media. Peserta didik melakukan

(21)

berbagai bentuk belajar. PjBL merupakan pembelajaran inovatif yang berpusat

pada siswa (student centered) dan menempatkan guru sebagai motivator dan

fasilitator, dimana siswa diberi peluang bekerja secara otonom mengkonstruksi

belajarnya. Kelebihan dari metode PjBL adalah penggerak yang unggul untuk

membantu siswa belajar melakukan tugas-tugas otentik dan multidisipliner,

menggunakan sumber-sumber yang terbatas secara efektif dan bekerja dengan

orang lain.

Guru dalam proses pembelajaran menggunakan metode pembelajaran

berbasis proyek berperan sebagai fasilitator. Fasilitator yang dimaksud dalam

metode pembelajaran ini adalah, guru berperan sebagai narasumber atau sumber

pembelajaran untuk informasi yang tidak ditemukan dalam sumber pembelajaran

bahan cetak atau eletronik, memantau atau memonitoring proses berjalannya dan

berkembangnya proyek yang diberikan, lalu mengevaluasi hasil proyek tersebut.

Modifikasi dengan metode pembelajaran PjBL dengan pendekatan ilmiah

ini akan menghasilkan kompetensi peserta didik yang diharapkan pada kurikulum

2013. Kompetensi yang diharapkan pada kurikulum 2013 ini mencakup tiga ranah

yaitu aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif. Salah satu materi gambar teknik

SMK kelas X semester 2 menurut kurikulum 2013 adalah materi identifikasi

proyeksi orthogonal dan persyaratan proyeksi orthogonal (2D) berdasarkan aturan

proyeksi. Pada materi identifkasi proyeksi orthogonal dan persyaratan proyeksi

orthogonal (2D) berdasarkan aturan proyeksi, siswa dituntut mampu memahami

pengertian dan jenis gambar proyeksi orthogonal, serta mampu menyajikan

(22)

Melalui metode pembelajaran PjBL dan pendekatan scientific sebagai

alat evaluasi, maka pada penelitian ini akan diterapkan suatu metode pembelajaran

berbasis proyek melalui pendekatan scientific pada pokok bahasan identifikasi

proyeksi orthogonal dan persyaratan proyeksi orthogonal (2D) berdasarkan aturan

proyeksi. Peserta didik diharapkan akan lebih aktif dan terlibat langsung dalam

pembelajaran yang menyenangkan.

Metode PjBL telah diteliti oleh beberapa penelti sebelumnya diantaranya

“Pembelajaran Sains Berbasis Proyek (Project Based Learning) sebagai Usaha

untuk Meningkatkan Aktivitas dan Academic Skill Siswa Kelas VII C SMP

Muhammadiyah 3 Depok” oleh Warsito (2008), dalam penelitiannya dikatakan

bahwa penggunaan metode PjBL dapat meningkatkan aktivitas belajar peserta

didik sebesar 35,42% dalam kategori rendah menjadi 71,88%. Didi Kurniadi

(2013) dalam penelitiannya yang berjudul “Upaya Menigkatkan Hasil Belajar

Kimia Siswa SMA N 1 Bawang Banjarnegara Kelas XI IPA 1 dengan Pendekatan

PjBL (Project Based Learning) Berbasis Bahan Sekitar mengatakan bahwa

ketuntasan hasil belajar ranah kognitif sebanyak 26 dari 30 siswa tuntas KKM,

ranah afektif sebanyak 25 dari 30 siswa tuntas KKM, dan ranah psikomotorik

sebanyak 26 dari 30 siswa tuntas KKM. Peneliti mengatakan bahwa menerapkan

pendekatan Project Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Marinda Ditya Putriatri (2013) dalam penelitiannya yang berjudul “Keefektifan

Project Based Learning pada Pencapaian Pemecahan Masalah Peserta Didik

(23)

terhadap pencapaian kemampuan masalah peserta didik kelas X SMK Negeri 9

Semarang. Penelitan-penelitian tersebut menunjukkan bahwa penerapan metode

pembelajaran PJBL dapat menigkatkan hasil belajar dan keaktifan peserta didik.

Metode pembelajaran PjBL diharapkan dapat memaksimalkan sarana dan

prasarana pembelajaran serta dapat menarik perhatian siswa, sehingga siswa

mudah menerima dan mengingat materi pelajaran yang akan disampaikan oleh

guru sehingga siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya sesuai dengan nilai

kriteria ketuntasan minimal.

Berlatar belakang dari uraian diatas, dan untuk mengetahui pemanfaatan

sarana dan prasarana ruang praktik gambar bangunan, keaktifan siswa, dan

peningkatan hasil belajar maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian

“Pemanfaatan Sarana Prasarana Ruang Praktik dengan Metode Pembelajaran

Project Based Learning pada Mata Diklat Gambar Teknik 1 terhadap Hasil

Belajar Siswa Kelas X Teknik Gambar Bangunan (TGB) SMK N 2 Salatiga”.

1.2.Perumusan Masalah

Permasalahan yang akan diungkap dalam penelitian ini adalah tentang

Perbedaan hasil belajar setelah menggunakan metode pembelajaran Project

Based Learning pada mata diklat gambar teknik 1 kelas X Teknik Gambar

Bangunan SMK Negeri 2 Salatiga.

Selanjutnya rumusan masalah tersebut dijabarkan dalam beberapa pertanyaan

(24)

1. Apakah dengan menggunakan metode PjBL pendekatan scientific dapat

memaksimalkan penggunaan sarana dan prasarana ruang praktik gambar

bangunan pada mata diklat gambar teknik 1 kelas X Teknik Gambar

Bangunan SMK Negeri 2 Salatiga?

2. Adakah peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan metode

pembelajaran berbasis proyek melalui pendekatan scientific pada mata

diklat gambar teknik 1 kelas X Teknik Gambar Bangunan SMK Negeri 2

Salatiga?

1.3.Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian berdasarkan pada latar belakang dan rumusan masalah di

atas adalah: untuk mengetahui perbedaan hasil belajar setelah menggunakan

metode pembelajaran Project Based Learning pada mata diklat gambar teknik

1 kelas X Teknik Gambar Bangunan SMK Negeri 2 Salatiga.

Selanjutnya tujuan tersebut dijabarkan dalam beberapa tujuan penelitian

seperti berikut:

1. Untuk memaksimalkan pemanfaatan sarana dan prasarana ruang praktik

gambar bangunan dengan menggunakan metode PjBL dengan pendekatan

scientific pada mata diklat gambar teknik 1 kelas X Teknik Gambar

(25)

2. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan

metode PjBL dengan pendekatan scientfic pada mata diklat gambar teknik

1 kelas X Teknik Gambar Bangunan SMK Negeri 2 Salatiga.

1.4.Batasan Masalah

Pembatasan masalah pada penelitian ini adalah penelitian pada mata

pelajaran menggambar teknik 1 kompetensi dasar menggambar proyeksi

orthogonal untuk indikatornya gambar proyeksi orthogonal sudut ketiga/proyeksi

Amerika pada siswa kelas X TGB A dan X TGB B semester genap tahun ajaran

2014/2015.

1.5.Manfaat atau Kegunaan Penelitian

1.5.1. Manfaat atau Kegunaan Teoritis

Sebagai suatu karya ilmiah, hasil penelitian ini diharapkan dapat

memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan pada khususnya,

maupun pendidik, peserta didik dan masyarakat pada umumnya mengenai

pengaruh antara minat dan kesiapan belajar terhadap prestasi belajar yang dicapai,

dimana semua itu termasuk keseriusan, kemauan, dan lain sebagainya. Hasil

penelitian ini dapat digunakan sebagai pedoman untuk kegiatan penelitian yang

(26)

1.5.2. Manfaat atau Kegunaan Praktis

a) Menyebarluaskan informasi mengenai pentingnya penerapan metode mengajar

guru terhadap tingkat pemahaman siswa pada semua mata pelajaran kejuruan

SMK Negeri 2 Salatiga.

b) Memberikan masukan bagi para pendidik, peserta didik dan masyarakat luas

tentang arti pentingnya pemahaman seorang siswa dalam menjalani proses

belajar di sekolah.

c) Memberikan sumbangan pemikiran dalam upaya memperbaiki proses

pembelajaran agar lebih baik dan berkualitas.

1.6.Penegasan Istilah

Untuk menghindari terjadinya perbedaan penafsiran dan untuk mewujudkan kesatuan berfikir pembaca, pada penelitian ini perlu ditegaskan istilah-istilah yang ada, khususnya yang berhubungan dengan judul penelitian. a) Pemanfaatan

(27)

b) Sarana Prasarana

Sarana dan Prasarana adalah semua benda bergerak maupun yang tidak bergerak untuk menunjang penyelenggaraan suatu proses, baik secara langsung maupun tidak langsung.

c) Ruang Praktik

Pengertian ruang praktik dijelaskan pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 5 tahun 1980 tentang Pokok-Pokok Organisasi Universitas/Institut Negeri pasal 27 dan pasal 28 (Undang-Undang, 1980:7). Pasal 27 menyebutkan ruang praktik/studio adalah sarana penunjang jurusan dalam satu atau sebagian ilmu, teknologi atau seni tertentu sesuai dengan keperluan bidang studi yang bersangkutan.

d) Metode Pembelajaran Project Based Learning

Menurut Cord et al., dalam Trianto (2014: 42) Project Based Learning (PjBL) adalah sebuah model atau pendekatan pendekatan pembelajaran yang inovatif, yang menekankan belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan yang kompleks seperti memberi kebebasan pada siswa untuk bereksplorasi merencanakan aktivitas belajar, melaksanakan proyek secaa kolaboratif, dan pada akhirnya menghasilkan suatu hasil produk.

e) Mata Diklat Gambar Teknik 1

Mata pelajaran Gambar Teknik 1 merupakan salah satu mata pelajaran

produktif pada progam keahlian Teknik Gambar Bangunan (TGB) dalam

(28)

f) Hasil Belajar siswa

Hasil belajar adalah perubahan tingkah laku. Tingkah laku sebagai hasil

belajar dalam pengertian yang luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan

psikomotorik (Nana Sudjana, 2009:3).

g) Siswa Kelas X SMK Negeri 2 Salatiga

Siswa kelas X SMK Negeri 2 Salatiga yang dimaksud dalam penelitian

adalah siswa kelas X jurusan teknik gambar bangunan yang terdaftar sebagai

siswa di SMK Negeri 2 Salatiga tahun ajaran 2014-2015.

Jadi yang dimaksud dengan pemanfaatan sarana prasarana ruang praktik dengan

metode pembelajaran project based learning pada mata diklat gambar teknik 1

terhadap hasil belajar siswa kelas X teknik gambar bangunan (TGB) SMK Negeri

2 Salatiga adalah proses memanfaatkan sarana prasarana ruang praktik dalam

mata diklat gambar teknik 1 dengan menggunakan metode pembelajaran project

based learning sehingga menghasilkan hasil belajar yang maksimal pada siswa

(29)

1.7.Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah para pembaca dalam memahami isi proposal ini,

maka dipandang perlu mengemukakan sistematikanya. Adapun sistematika

penyususan skripsi ini adalah sebagaimana uraian berikut ini.

Bab I Pendahuluan

Mencakup Latar Belakang Masalah, Identifikasi Masalah, Pembatasan

Masalah, Perumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat atau

Kegunaan Penelitian, serta Sistematika Penulisan.

Bab II Landasan Teori

Bab ini berisi tentang teori-teori yang dijadikan acuan peneliti untuk

mengadakan penelitian, kerangka berfikir dan Hipotesis.

Bab III Metode Penelitian

Berisi tentang model penelitian; Proses pelaksanaan Penelitian;

Populasi, Sampel, Sampling; Variabel-Variabel Penelitian; Metode dan

Teknik Pengumpulan Data; Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen;

Teknik Analisis Data.

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

Berisi tentang deskripsi data yang mencakup data hasil uji validitas dan

reliabilitas instrumen berserta analisisnya maupun data hasil penelitian,

pengujian persyaratan analisis, analisis data dan pengujian hipotesis,

serta pembahasan hasil analisis data.

(30)

Berisi tentang kesimpulan hasil penelitian dan saran-saran yang

(31)

15 2.1. Kajian Pustaka

3.1.1. Hakikat Belajar Mengajar

Setiap saat dalam kehidupan terjadi suatu proses belajar mengajar, baik

sengaja maupun tidak sengaja, disadarai atau tidak disadari. Kegiatan belajar

mengajar ini akan menghasilkan tujuan pembelajaran atau hasil belajar. Jika

terjadi suatu proses/saling berinteraksi, antara yang mengajar dengan yang belajar,

sebenarnya berada pada suatu kondisi unik, sebab secara sengaja atau tidak

sengaja, masing-masing piihak berada dalam suasana belajar.

Menurut Sardiman A.M. (2008: 20) belajar adalah perubahan tingkah

laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca,

mendengarkan, meniru, dan lain sebagainya. Belajar akan lebih maksimal, jika

subjek belajar mengalami atau melakukannya, jadi tidak bersifat verbalistik.

Menurut Oemar Hamalik (2003: 77) komponen-komponen kegiatan

belajar-mengajar antara lain:

1. Tujuan pendidikan dan pengajaran

2. Peserta didik atau siswa

3. Tenaga kependidikan khususnya guru

4. Perencanaan pengajaran sebagai suatu segmen kurikulum

5. Strategi pembelajaran

(32)

7. Evaluasi pengajaran

Setiap kegiatan belajar mengajar akan menghasilkan tujuan belajar.

Pencapaian tujuan belajar dapat dilakukan dengan menciptakan kondisi belajar

yang lebih kondusif. Hal ini akan berkaitan dengan mengajar. Mengajar diartikan

sebagai suatu usaha penciptaan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya

proses belajar. Sistem lingkungan belajar ini terdiri dari berbagai komponen yang

saling mempengaruhi. Komponen-komponen itu misalnya tujuan pembelajaran

yang ingin dicapai, materi yang ingin diajarkan, guru dan siswa yang memainkan

peranan serta dalam hubungan sosial tertentu, jenis kegiatan yang dilakukan serta

sarana prasarana belajar-mengajar yang tersedia.

Tujuan pembelajaran menurut Sardiman A.M. (2008: 26-28) ada tiga

jenis, yaitu:

1. Untuk mendapatkan pengetahuan

Hal ini ditandai dengan kemampuan beprikir. Kemampuan berpikir

tanpa bahan pengetahuan tidak dapat dikembangkan, begitu pula sebaliknya

kemampuan berpikir akan memperkaya pengetahuan. Tujuan inilah yang memiliki

kecenderungan lebih besar perkembangannya di dalam kegiatan pembelajaran.

Peranan guru sebagai pengajar lebih menonjol dalam hal ini.

Jenis interaksi atau cara yang digunakan untuk mengembangkan

kemampuan berpikir pada umumnya adalah model kuliah (presentasi), pemberian

tugas-tugas bacaan. Cara ini akan menambah pengetahuan siswa sehingga dapat

(33)

2. Penanaman konsep dan ketrampilan

Penanaman konsep atau merumuskan konsep, juga memerlukan

ketrampilan. Ketrampilan ini terdiri dari ketrampilan jasmani dan rohani.

Ketrampilan jasmani adalah ketrampilan yang dapat dilihat, diamati, sehingga

akan menitiberatkan pada ketrampilan gerak, termasuk di dalamnya adalah

masalah “teknik” dan “pengulangan”. Ketrampilan rohani lebih rumit, karena

tidak selalu berhubungan dengan ketrampilan-ketrampilan yang dapat dilihat,

tetapi lebih abstrak, menyangkut persoalan-persoalan penghayatan, dan

ketrampilan berpikir serta kreatifitas untuk menyelesaikan dan merumuskan suatu

masalah atau konsep. Ketrampilan-ketrampilan ini dapat dididik atau dilatih yaitu

dengan cara melatih kemampuan. Interaksi yang mengarah pada pencapaian

ketrampilan itu akan menuruti kaidah-kaidah tertentu dan bukan semata-mata

menghafal atau meniru, misalnya dengan metode role playing.

3. Pembentukan sikap

Pembentukan sikap mental dan perilaku siswa, tidak akan terlepas dari

soal penanaman nilai-nilai, transfer of values. Peran guru dalam pembentukann

sikap ini, bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendidik yang akan

memindahkan nilai-nilai itu kepada anak didiknya. Berlandaskan nilai-nilai

tersebut, siswa akan tumbuh kesadarannya dan kemauannya, untuk mempraktikan

segala sesuatu yang sudah dipelajarinya. Cara berinteraksi atau metode-metode

yang dapat digunakan misalnya dengan diskusi, demonstrasi, sosiodrama, role

(34)

Pencapaian tujuan belajar akan menghasilkan hasil belajar. Relevan

dengan tujuan belajar tersebut, hasil belajar meliputi:

a. Keilmuwan dan pengetahuan, konsep atau fakta (kognitif).

b. Personal, kepribadian atau sikap (afektif).

c. Kelakuan, ketrampilan atau penampilan (psikomotorik).

Ketiga hasil belajar ini akan tercapai jika komponen-komponen dalam

kegiaan belajar mengajar terpenuhi. Komponen belajar akan mempengaruhi

pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, dan akan menenentukan hasil belajar

siswa, selain itu keaktifan dan minat siswa juga akan menentukan hasil belajarnya.

2.1.2. Hasil Belajar

Hasil belajar adalah perubahan tingkah laku. Tingkah laku debagai hasil

belajar dalam pengertian yang luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan

psikomotorik (Nana Sudjana, 2009:3)

Bloom dalam Sardiman A.M. (2008:23) membagi hasil belajar menjadi

3 ranah yaitu:

1. Ranah kognitif, berkenaan dengan hasil belajar intelektual.

2. Ranah afektif, berkenaan dengan sikap.

3. Ranah psikomotorik, berkenaan dengan ketrampilan dan kemampuan

bertindak.

Tingkat penguasaan pelajaraan yang diberikan selama proses belajar

mengajar dapat diukur melalui suatu proses evaluasi yang biasanya berupa tes.

(35)

Prestasi belajar adalah puncak hasil belajar siswa terhadap pencapaian

tujuan belajar yang telah ditetapkan. Hasil belajar siswa dapat meliputi aspek

kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik (tingkah laku) sesuai

dengan 3 ranah Bloom.

Penilaian proses belajar adalah upaya memberi nilai terhadap kegiatan

belajar mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru dalam mencapai

tujuan-tujuan pengajaran. Penilaian hasil belajar harus mencakup 3 aspek yaitu aspek

kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Penilaian hasil belajar (PHB) pada ranah kognitif berkaitan dengan

kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran. PHB pada ranah

kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdir dari enam aspek,

yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan

evaluasi. PHB pada ranah ini dapat menggunakan tes terulis yang dapat mengukur

pengetahuan dan pemahaman siswa.

PHB pada ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdir dari lima

aspek,yakni penerimaan, jawaban atau reaksi,penilaian, organisasi, dan

internalisasi. Tipe hasil belajar afektif tampak pada siswa dalam berbagai tingkah

laku seperti perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar,

menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar, dan hubungan sosial.

PHB pada ranah psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar

ketrampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotorik,

(36)

atau ketepatan, gerakan ketrampilan kompleks, dan gerakan ekspresif dan

interpretatif.

PHB pada ranah afektif dan psikomotorik dapat menggunakan lembar

observasi. Lembar observasi ini berisi tentang aspek-aspek yang ada pada kedua

ranah tersebut, penilaian dilakukan pada saat kegiatan belajar mengajar

berlangsung dengan melihat tingkah laku yang ditunjukkan siswa dikelas.

2.1.3. Metode Pembelajaran

Joyce (1992: 4) dalam Trianto (2014: 23) menyatakan bahwa model

pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai

pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam

tutorialdan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di

dalamnya buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain. Selanjutnya joyce

menyatakan bahwa setiap model pembelajaran mengarahkan kita ke dalam

mendesain pembelajaran untuk membantu peserta didik sedemikian rupa,

sehingga tujuan pembelajaran tercapai.

Metode pembelajaran yang inovatif dapat meningkatkan minat belajar

siswa sehingga dapat menghasilkan hasil belajar yang maksimal. Metode

pembelajaran inovatif menurut Trianto (2014) antara lain pembelajaran

kooperatif, pembelajaran berbasis masalah, pembelaran berbasis proyek, ikuiri,

direct instruction, kooperatif, dan konstekstual.

Setiap mata pelajaran mempunyai sifat materi yang berbeda-beda. Guru

(37)

materi yang disajikan di depan siswa sehingga dapat menumbuhkan minat belajar

siswa.

Salah satu metode pembelajaran yang biasa digunakan dalam

pembelajaran Gambar Teknik 1 yang memberikan kesempatan kepada siswa

untuk belajar berfikir, memecahkan masalah, belajar untuk mengaplikasikan

pengetahuan, konsep, dan ketrampilannya adalah dengan menggunakan metode

pembelajaran Project Based Learning (PjBL) atau pembelajaran berbasis proyek.

2.1.4. Metode Pembelajaran Project Based Learning (PjBL)

Menurut Cord et al., dalam Trianto (2014: 42) Project Based Learning

(PjBL) adalah sebuah model atau pendekatan pendekatan pembelajaran yang

inovatif, yang menekankan belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan yang

kompleks seperti memberi kebebasan pada siswa untuk bereksplorasi

merencanakan aktivitas belajar, melaksanakan proyek secaa kolaboratif, dan pada

akhirnya menghasilkan suatu hasil produk. PjBL membantu siswa

mengembangkan berbagai kemampuan seperti intelektual, sosial, emosional, dan

moral. PjBL merupakan pembelajaran inovatif yang berpusat pada siswa(student

centered) dan menempatkan guru sebagai motivator dan fasilitator, dimana siswa

diberi peluang bekerja secara otonom mengkonstruksi belajarnya

Buck Institute for Education (1999) dalam Trianto (2014: 43)

menyebutkan bahwa PjBL memiliki karakteristik, yaitu: (a) siswa sebagai

pembuat keputusan, dan membuat kerangka kerja; (b) terdapat masalah yang

pemecahannya tidak ditentukan sebelumnya; (c) siswa sebagai perancang proses

(38)

mengelola informasi yang dikumpulkan; (e) melakukan evaluasi secara kontinu;

(f) siswa secara teratur melihat kembali apa yang mereka kerjakan; (g) hasil akhir

berupa produk dan dievaluasi kualitasnya; dan (h) kelas memiliki atsmosfer yang

memberi toleransi kesalahan dan perubahan.

PjBL memilik karakteristik yang membedakannya dengan model

pembelajaran lainnya. BIE (1999) dalam Trianto (2014: 49) menyebutkan ciri-ciri

PjBL, diantaranya: Pertama, isi. Isi pada PjBL difokuskan pada ide-ide siswa,

yaitu dalam bentuk gambaran sendir bekerja atas topik-topik yang relevan dan

minat siswa yang seibang dengan pengalaman siswa sehari-hari.

Kedua, kondisi. Kondisi yang dimaksud adalah kondisi untuk

mendorong siswa mandiri, yaitu dalam mengelola tugas dan waktu belajar,

sehingga dalam belajar materi pelajaran yang sedang dibahas, siswa mencari

sumber informasi secara mandiri dari berbagai referensi seperti buku, jurnal,

maupun internet.

Ketiga, aktivitas. Aktivitas adalah suatu strategi yang efektif dan

menarik, yaitu dalam mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaandan

memecahkan masalah menggunakan kecakapan. Aktivitas juga merupakan

bangunan dalam menggagas pengetahuan siswa dalam mentransfer dan

menyimpan informasi dengan mudah.

Keempat, hasil. Hasil dalam PjBL adalah penerapan hasil yang

produktif dalam membantu siswa mengembangkan kecakapan belajar dan

mengintegrasikan dalam belajar yang sempurna, termasuk strategi dan

(39)

termasuk kecakapan tertent, disposisi, sikap, dan kepercayaan yang dihubungkan

dengan pekerjaan produktif, sehingga secara efektif dapat menyempurnakan

tujuan yang sulit untuk dicapai dengan model pengajaran yang lain.

Hal yang terpenting yang perlu diperhatkan oleh guru pada saat

mengimplementasikan PjBL, bahwa guru harus memperhatikan

komponen-komponen penting yang mendukung pelaksanaan PjBL (Trianto, 2014: 51).

Komponen-komponen itu meliputi beberapa hal: Pertama, isi kurikulum. Guru

dan siswa bertanggung jawab atas dasar dan tujuan yang jelas serta mendukung

proses belajar. Kedua, komponen multimedia. Bahwa siswa diberi kesempatan

untuk menggunakan teknologi secara efektif sebagai alat dalam perencanaan,

perkembangan, atau penyajian proyek. Ketiga, komponen petunjuk siswa. Bahwa

petunjuk siswa harus dirancang oleh siswadalam membuat keputusan, berinisiatif,

dan memberi materi untuk mengembangkan dan menilai pekerjaan. Keempat,

kerjasama. Bahwa PjBL memberi siswa kesempatan bekerja sama diantara siswa

maupun dengan guru serta anggota kelompok yang lain. PjBL dihubungkan

dengan dunia nyata menuju persoalan yang relevan untuk kehidupan siswa atau

kelompok dan juga komunikasi dengan dunia luar kelas melalui internet, serta

bekerja sama dengan anggota kelompok. Keenam, kerangka waktu, yang mana

dalam pembelajaran harus memberi siswa kesempatan merencanakan, merevisi,

membeyangkan pembelajarannya dalam kerangka waktu untuk materi dan waktu

yang mendukung pembelajaran tersebut. Ketujuh, penalaian. Proses penilaian

dilakukan secara terus-menerus dalam setiap pembelajaran, seperti menilai guru,

(40)

Guru berperan hanya memberikan bantuan secukupnya, dengan tujuan

agar sedemikian rupa siswa dapat menyelesaikan tugas/proyeknya. Kreativitas

siswa dan gaya/cara berpikir siswa dalam menyelesaikan suatu proyek yang

diberikan oleh guru akan sangat memantu perkembangan intelektual siswa sendiri.

Tujuan paling akhir dari kegiatan pembelajaran menggunakan PjBL, diharapkan

denganbelajar mandiri, siswa dapat mengasah kemampuannya dan belajar dengan

multi intellegence untuk meningkatkan prestasi belajarnya.

Langkah-langkah dalam PjBL sebagaimana dikembangkan oleh The

George Lucas Educational Foundation (George Lucas, 2005) dalam Trianto

(2014: 52) terdiri dari:

a. Dimulai dengan pertanyaan yang esensial

Mengambil topik yang sesuai dengan realitas dunia nyata dan dimulai dengan

suatu investigasi mendalam. Pertanyaan esensial diajukan untuk memancing

pengetahuan, tanggapan, kritik, dan ide siswa mengenai tema proyek yang

diangkat,

b. Perencanaan aturan pengerjaan proyek

Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan aktivitas yang dapat

mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial, dengan cara mengintegrasikan

berbagai sujek yang mungkin, serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses

(41)

c. Membuat jadwal aktivitas

Guru dan siswa secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam

menyelesaikan proyek. Jadwal ini disusun untuk mengetahui berapa lama dalam

pengerjaan proyek.

d. Me-monitoring perkembangan proyek siswa

Guru bertanggung jawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas siswa

selama menyelesaikan proyek. Monitor dilakukan dengan cara menfasilitasi siswa

pada setiap proses.

e. Penilaian hasil kerja siswa

Penilaian dilakukan untuk membantu siswa dalam mengukur ketercapaian standar,

berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing-masing siswa, memberi umpan

balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai siswa, membantu guru

dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya.

f. Evaluasi pengalaman belajar siswa

Pada akhir proses pembelajaran, guru dan siswa melakukan refleksi terhadap

aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi baik secara

individu maupun kelompok. Pada tahap ini siswa diminta untuk mengungkapkan

perasaan dan pengalamannya selama menyelesaikan proyek.

PjBL adalah penggerak yang unggul dalam membantu siswa

belajar melakukan tugas-tugas autentik dan multidisipliner, menggunakan sumber

yang terbatas secara efektif dan bekerja dengan orang lain. Pengalaman di

lapangan baik dari guru maupun siswa bahwa PjBL menguntungkan dan efektif

(42)

belajar siswa. Susanti (2008) dalam Trianto (2014) menyebutkan beberapa

kelebihan dari PjBL, di antaranya:

a. Meningkatkan motivasi, dimana siswa tekun dan berusaha keras dalam

mencapai proyek dan merasa bahwa belajar dalam proyek lebih

menyenagkan daripada komponen kurikulum lainnya.

b. Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, dari berbagai sumber yang

mendeskripsikan lingkungan belajar berbasis proyek membuat siswa

menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan problem-problem yang

kompleks.

c. Meningkatkan ketrampilan mengelola sumber, bila diimplementasikan

secara baik maka siswa akan belajar dan praktik dalam mengorganisasi

proyek, membuat alokasi waktu san sumber-sumber lain seperti

perlengkapan untuk menyelesaikan tugas.

Meski demikian, menurut Susanti (2008) dalam Trianto (2014)

berdasarkan pengalaman yang ditemukan di lapangan, PjBL memiliki beberapa

kekurangan di antaranya:

1. kondisi kelas agak sulit dikontrol dan mudah menjadi ribut saat pelaksanaan

proyek karena adanya kebebasan siswa sehingga memberi peluang untuk

ribut dan untuk itu diperlukan kecakapan guru dalam penguasaan dan

pengelolaan kelas,

2. Alokasi waktu yang selalu kurang walaupun sudah mengatur alokasi waktu

(43)

2.1.5. Pendekatan Scientific

Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang menekankan pada dimensi

pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah.

Pendekatan ilmiah merupakan konsep dasar yang menginspirasi perumusan

metode mengajar dengan menerapkan karakteristik yang ilmiah. Penerapan

pendekatan ilmiah tidak hanya fokus pada bagaimana mengembangkan

kompetensi siswa dalam melakukan observasi atau eksperimen, namun bagaimana

mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan berfikir sehingga dapat

mendukung aktivitas kreatif dalam berinovasi atau berkarya.

Pelaksanaan kurikulum 2013 menuntut siswa untuk lebih aktif dalam

proses KBM, sehingga pada pelaksanaannya digunakan pendekatan 5M.

Pendekatan 5M ini meliputi mengamati, menanya, mengolah informasi, mencoba,

dan mengkomunikasikan. Penggunaan pendekatan 5M ini diharapkan dapat

memenuhi tujuan dari kurikulum 2013 yaitu menciptakan pembelajaran yang aktif

dan mencakup 3 ranah yaitu sikap, pengetahuan, dan ketrampilan. Hasil belajar

dari pelaksanaan pembelajaraan dengan pendekatan 5M ini akan menghasilkan

siswa yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap,

ketrampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi.

Kegiatan pertama pada pelaksanaan kurikulum 2013 adalah mengamati.

Siswa mengamati objek yang akan dipelajari. Kegiatan belajarnya adalah

membaca, mendengar, menyimak, melihat (tanpa atau dengan alat). Kompetensi

yang dikembangkan adalah melatih kesungguhan, ketelitian, dan mencari

(44)

mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang

diamati atau petanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang

diamati. Kompetensi yang dikembangkan adalah mengembangkan kreatifitas, rasa

ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran yag

kritis yang perlu untuk hidup cerdas. Langkah ketiga adalah mengolah informasi.

Kegiatannya adalah mengolah informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas

dari hasil kegiatan mengumpulkan/eksperimen maupun dari hasil kegiatan

mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi, selanjutnya pengolahan

informasi yang dikumpulkan dari yang bersifat menambah keluasan dan

kedalaman sampai kepada pengolahan informasi yang bersifat solusi dari berbagai

sumber yang memiliki pendapat yang berbeda sampai kepada yang bertentangan.

Kompetensi yang dikembangkan adalah mengembangkan sikap jujur, teliti,

disiplin, taat aturan, kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur dan

kemampuan berpikir induktif serta deduktif dalam menyimpulkan. Langkah yang

keempat adalah mencoba. Kegiatan yang dilakukan adalah mengumpulkan

informasi atau eksperimen. Kegiatan belajarnya adalah melakukan eksperimen,

membaca sumber lain selain buku teks, mengamati objek/kejadian/aktivitas,

wawancara dengan narasumber. Kompetensi yang dikembangkan adalah

mengembangkan sikap teliti, jujur, sopan, menghargai pendapat orang lain,

kemampuan berkomunikasi, menerapkan kemampuan mengumpulkan informasi

melalui berbagai cara yang dipelajari, mengembangkan belajar sepanjang hayat.

Langkah pembelajaraan yang terakhir adalah mengkomunikasikan. Kegiatan

(45)

analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya. Kompetensi yang dikembangkan

adalah mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir

sistematis, mengungkapkan pendapat dengan singkat dan jelas, dan

mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar.

Penerapan metode ilmiah merupakan proses berfikir logis berdasarkan

fakta dan teori. Pertanyaan muncul dari pengetahuan yang telah dikuasai, karena

itu kemampuan bertanya merupakan dasar dalam mengembangkan kemampuan

berfikir ilmiah. Informasi baru digali untuk menjawab pertanyaan.

2.1.6. Mata Pelajaran Gambar Teknik 1

Mata pelajaran Gambar Teknik 1 merupakan salah satu ata pelajaran

produktif pada progam keahlian Teknik Gambar Bangunan (TGB) dalam struktur

Kurikulum 2013 di SMK Negeri 2 Salatiga. Mata pelajaran Gambar Teknik 1

adalah mata pelajaran yang memberikan pengetahuan dan ketrampilan siswa

tentang dasar-dasar mengambar teknik dan cara menggambar gambar teknik

dengan benar. Mata pelajaran Gambar Teknik 1 ini di berikan kepada siswa SMK

kelas X jurusan Teknik Gambar Bangunan semester 1 dan 2. Mata pelajaran

Gambar Teknik 1 ini adalah mata pelajaran pokok yang mempunyai beberapa

kompetensi dasar (KD) diantaranya dasar-dasar dan etiket menggambar teknik,

pengenalan alat-alat gambar, simbol-simbol bahan bangunan, pengenalan bentuk

dan fungsi garis gambar, pengenalan aturan kelengkapan gambar teknik, gambar

konstruksi geometris, pengenalan jenis gambar proyeksi, dan pengenalan gambar

(46)

2.1.7. Ruang Praktik Gambar Bangunan

Ruang praktik adalah tempat belajar mengajar melalui metode praktik

yang dapat mengasilkan pengalaman belajar dimana siswa berinteraksi dengan

berbagai alat dan bahan untuk mengobservasi gejala-gejala yang dapat diamati

secara langsung dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari.

Pengertian ruang praktik dijelaskan pada Peraturan Pemerintah

Republik Indonesia nomor 5 tahun 1980 tentang Pokok-Pokok Organisasi

Universita/Institu Negeri pasal 27 dan pasal 28 (Undang-Undang, 1980:7). Pasal

27 menyebutkan ruang praktik/studio adalah sarana penunjang jurusan dalam satu

atau sebagian ilmu, teknologi atau seni tertentu sesuai dengan keperluan bidang

studi yang bersangkutan. Pasal 28 menjelaskan ruang praktik/studio dpimpin oleh

seorang guru atau seorang tenaga pengajar yang keahliannya telah memenuhi

persyaratan sesuai dengan cabang ilmu, teknologi, dan seni tertentu dan

bertanggungjawab langsung kepada Ketua Jurusan.

2.1.8. PERMENDIKNAS nomor 40 Tahun 2008

Pada peraturan ini termuat berbagai aturan mengenai standar sarana dan

prasarana yang harus dipenuhi pada setiap jurusan yang ada pada setiap lembaga

pendidikan SMK/MAK secara umum.

Peraturan ini memuat standar minimal Ruang Praktik Teknik Gambar

Bangunan yaitu: (1) Luas Ruang Praktik Teknik Gambar Bangunan; (2) Rasio

per-siswa; (3) Daya tampung ruang; (4) Luas ruang penyimpanan dan instruktur;

(47)

Ruang Praktik Teknik Gambar Bangunan; (7) Perlengkapan Ruang Praktik

Teknik Gambar Bangunan.

Berikut data standar sarana dan prasarana ruang praktik Teknik Gambar

Bangunan menurut PERMENDIKNAS no. 40 tahun 2008:

a. Ruang praktik Progam Keahlian Teknik Gambar Bangunan berfunsi sebagai

tempat berlangsungnya kegiatan pembelajaran: menggambar teknik dengan mesin

gambar, menggambar teknik, menghitung bahan dan biaya dengan progam

komputer.

b. Luas minimum ruang praktik Progam Keahlian Teknik Gambar Bangunan

adalah 176 m² untuk menampung 32 siswa, yang meliputi: ruang praktik gambar

masinal 64 m², ruang praktik gambar komputer 64 m², ruang penyimpanan dan

instruktur 48 m².

c. Ruang praktik Progam Keahlian Teknik Gambar Bangunan dilengkapi

prasarana sebagaiman tercantum pada tabel 1.

Tabel 2.1 Jenis, Rasio, dan deksripsi Standar Prasarana Ruang Praktik Progam keahlian Teknik Gambar Bangunan

No. Jenis Rasio Deskripsi

1 Ruang praktik gambar manual dan masinal

4 m²/siswa Kapasitas untuk 16 siswa. Luas minimum adalah 64 m².

Lebar minimum adalah 8 m.

2 Ruang praktik gambar komputer

(48)

Lebar minimum adalah 8 m.

3 Ruang penyimpanan

dan instruktur

4

m²/instruktur

Luas minimum adalah 48 m².

Lebar minimum adalah 6 m.

Ruang praktik Progam Keahlian Teknik Gambar Bangunan dilengkapi

[image:48.595.162.498.331.680.2]

sarana sebagaimana tercantum pada tabel 2 sampai dengan tebel 4

Tabel 2.2 Standar Sarana pada Ruang Praktik Gambar Manual dan Masinal

No. Jenis Rasio Deskripsi

1 Perabot

1.1 Meja gambar 1 set/ruang Untuk minimum 16

siswa pada pekerjaan menggambar teknik. 1.2 Kursi gambar/stool

1.3 Lemari simpan alat dan bahan

2 Peralatan 2.1 Peralatan untuk

pekerjaan

menggambar manual dan masinal

1 set/ruang Untuk minimum 16 siswa untuk

menggambar teknik.

3 Media Pendidikan

3.1 Papan tulis 1 set/ruang Untuk mendukung

minimum 16 siswa pada pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang bersifat teoritis

4 Perlengkapan lain

4.1 Kotak kontak Minimum 2

buah/ruang Untuk mendukung operasionalisasi peralatan yang memerlukan daya listrik.

4.2 Tempat sampah Minimum 1

buah/ruang

Tabel 2.3 Standar Sarana pada Ruang Praktik Gambar Komputer No. Jenis Ruang Rasio Deskripsi 1 Perabot

(49)

1.2 Kursi kerja siswa pada pekerjaan menggambar teknik, perhitungan bahan dan menghitung anggaran biaya dengan komputer 1.3 Lemari simpan alat

dan bahan

2 Peralatan 2.1 Komputer untuk

pekerjaan menggambar

1 set/ruang Untuk minimun 16 siswa untuk

menggambar teknik, perhitungan bahan dan menghitung anggaran biaya dengan komputer. 3 Media pendidikan

3.1 Papan tulis 1 set/ruang Untuk mendukung

minimum 16 siswa pada pelaksanaa kegiatan belajar mengajar yang bersifat teoritis.

4 Perlengkapan lain

4.1 kotak kontak Minimum 8

buah/ruang Untuk mendukung operasionalisasi peralatan yang memerlukan daya listrik.

4.2 Tempat sampah Minimum 1

[image:49.595.166.503.88.518.2]

buah/ruang.

Tabel 2.4 Standar Sarana pada Ruang Penyimpanan dan Instruktur

No Jenis Rasio Deskripsi

1 Perabot

1.1 Meja kerja 1 set/ruang Untuk minimum 12

instruktur. 1.2 Kursi kerja

1.3 Rak alat dan bahan 1.4 Lemari simpan alat

dan bahan 2 Peralatan 2.1 Peralatan untuk

ruang penyimpanan dan instruktur

1 set/ruang Untuk minimum 12 instruktur

3 Media pendidikan

3.1 Papan data I

buah/ruang

(50)

4 Perlengkapan lain

4.1 Kotak kontak Minimun 2

buah/ruang.

Untuk mendukung operasionalisasi peralatan yang

memerlukan daya listrik

4.2 Tempat sampah Minimum 1

buah/ruang

2.1.9. Penelitian-Penelitian yang Relevan

2.1.9.1.Penerapan PjBL untuk Meningkatkan Keaktifan Siswa pada Proses KBM oleh Warsito (2008)

Permasalahan yang diangkat pada penelitian ini adalah kurangnya

keaktifan siswa kelas VII C SMP Muhammadiyah Depok saat kegiatan belajar

mengajar (KBM) pada mata pelajaran fisika. Peneliti menggunakan metode

pembelajaran Project Based Learning (PjBL) untuk meningkatkan keaktfan siswa

pada KBM. Hasil dari penelitian didapatkan bahwa metode pembelajaran Project

Based Learning dapat meningkatkan keaktifan dan academic skill siswa kelas VII

C SMP Muhammadiyah 3 Depok dalam proses pembelajaran fisika.

2.1.9.2.Penerapan PjBL untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa oleh Didi Kurniadi (2013)

Permasalahan dalam penelitian ini adalah rendahnya hasil belajar kimia

di SMA N 1 Bawang Banjarnegara yang disebabkan oleh proses pembelajaran

yang tidak memberikan kesempatan bagi siswa dalam memperoleh pengalaman

belajar yang memadai, baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotorik.

Peneliti menggunakan metode pembelajaran Project Based Learning untuk

meningkatkan hasil belajar siswa SMA N 1 Bawang Banjarnegara berbasis bahan

(51)

pembelajaran Project Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa

SMA N 1 Bawang Banjarnegara

2.1.9.3.Keefektifan PjBL pada Pencapaian Pemecahan Masalah Peserta Didik oleh Marinda Ditya Putri (2013)

Pendidikan SMK membutuhkan suatu pembelajaran yang tidak hanya

dapat meningkatkan aspek kognitif, psikomotor, dan afektif tetapi juga dapat

memberikan kecakapan hidup sebagai bekal memasuki dunia kerja. Berlatar

belakang hal tersebut, peneliti melakukan penelitian tentang keefektifan metode

pembelajaran Project Based Learning pada pencapaian pemecahan masalah

peserta didik kelas X SMK materi progam linier. Hasil penelitian didapatkan

bahwa model PjBL efektif pada pencapaian kemampuan pemecahan masalah

peserta didik kelas X SMK materi progam linier.

2.2.Kerangka Berpikir

Apabila dikaji lebih lanjut berdasarkan tinjauan teori yang ada, aktivitas

belajar dan mengajar merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Aktivitas

belajar sangat berperan dalam belajar dan pembelajaran yaitu dapat menetukan

penguatan belajar, memperjelas tujuan belajar, serta menentukan ketekunan

belajar. Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dapat merangsang siswa untuk

mempelajari pokok bahasan proyeksi orhogonal (2D) berdasarkan aturan gambar

proyeksi dengan menggunakan metode pembelajaran Project Based Learning

melalui pendekatan Scientific.

Upaya untuk meningkatkan aktivitas belajar terhadap suatu materi,

(52)

dengan materi yang disampaikan demi tercapainya tujuan pendidikan yaitu

ditandai dengan hasil belajar yang tinggi dan tercapainya ketuntasan belajar baik

secara individu maupun klasikal.

Salah satu faktor pendukung keberhasilan kegiatan belajar mengajar

adalah adanya sarana prasarana yang memadai. Semakin lengkap sarana prasarana

pembelajaran yang tersedia maka proses belajar mengajar akan berjalan secara

optimal. Penggunaan sarana prasarana pembelajaran yang diterapkan secara

optimal akan mendapatkan hasil belajar yang maksimal.

Data yang diperlukan dalam penelitian antara lain pemanfaatan sarana

prasarana ruang praktik gambar bangunan di Jurusan Teknik Gambar Bangunan di

SMK Negeri 2 Salatiga agar mendapatkan hasil belajar yang maksimal

menggunakan metode Project Based Learning.

Berdasarkan kerangka berpikir diatas dengan menggunakan metode

pembelajaran Project Based Learning melalui pendekatan Scientific dalam

pemanfaatan sarana dan prasarana ruang praktik gambar bangunan diharapkan

dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam mempelajari Gambar Teknik 1

sehingga siswa dapat memperoleh hasil belajar yang maksimal khususnya pada

pokok bahasan gambar proyeksi orthogonal (2D) berdasarkan aturan gambar

(53)

Skema alur kerangka berfikir dijelaskan sebagai berikut:

I

[image:53.595.115.499.184.660.2]

Gambar 2.1. skema kerangka berpikir AKTIVITAS SISWA

BERPENGARUH PADA PROSES PEMBELAJARAN

PEMANFAATAN SARANA PRASARANA RUANG PRAKTIK

BERPENGARUH PADA HASIL BELAJAR

PEMBELAJARAN PjBL

PEMBELAJARAN KONVENSIONAL

PERENCANAAN PEMBELAJARAN PjBL PERENCANAAN

PEMBELAJARAN KONVENSIONAL

EVALUASI PEMBELAJARAN PjBL EVALUASI

PEMBELAJARAN KONVENSIONAL

AKTIVITAS SISWA MENINGKAT, HASIL BELAJAR MENINGKAT AKTIVITAS SISWA

TETAP, HASIL BELAJAR KURANG OPTIMAL

PENELITIAN

(54)

2.3.Rumusan Hipotesis

Berdasarkan permasalahan dan kerangka berpikir maka hipotesis yang

diajukan dalam penelitian adalah hasil belajar siswa yang menggunakan metode

pembelajaran Project Based Learning lebih baik dibandingkan hasil belajar siswa

(55)

39 3.1 Rancangan Penelitian

Metode penelitian yang akan digunakan adalah metode penelitan

eksperimental. Metode penelitian eksperimental adalah suatu penyelidikan ilmiah

yang menuntut peneliti memanipulasi dan mengendalikan satu atau lebih variabel

bebas serta mengamati variabel terikat, untuk melihat perbedaan yang sesuai

dengan manipulasi variabel-variabel bebas tersebut (Arief Furchan,

2007:39).Metode penelitian eksperimen dibedakan menjadi 2 yaitu, desain

eksperimen sejati (true experimental) dan eksperimental semu (quasi

experimental).

Pada penelitian ini akan digunakan penelitian Eksperimental-Semu

(Quasi Experimental Designs). Menurut Arief Furchan (2007:394) penelitian

ekperimental-semu adalah disain penelitian yang dapat memberikan pengendalian

sebanyak mungkin dalam situasi yang ada.Peneliti menggunakan disain penelitian

ini karena mengingat situasi tempat penelitian yang tidak memungkinkan untuk

dikendalikan secara penuh selama peneltian.Sampel yang diambil dalam

penelitian ini adalah siswa Teknik Gambar Bangunan kelas X SMK Negeri 2

Salatiga.

Adapun rancangan penelitian yang akan dilaksanakan adalah sebagai

(56)

a. Perencanaan (Planning)

Kegiatan yang dilakukan adalah meliputi apa penyebab masalah yang

ada pada siswa kelas X kemudian menganalisis penyebab munculnya masalah dan

menetapkan tindakan (intervensi) yang akan dilakukan terhadap subjek. Beberapa

hal tersebut digunakan untuk kepentingan studi awal yang diperoleh dari

observasi dan wawancara terhadap responden (guru dan siswa).

b. Pelaksanaan Tindakan (Acting)

Pelaksanaan tindakan dilaksanakan untuk memperbaiki permasalahan

yang ada pada subjek penelitian. Subjek penelitian ini meliputi siswa kelas X

TGB A dan X TGB B. Pelaksanaan tindakan pada penelitian ini akan diterapkan

penelitian eksperimen dimana akan ada kelas eksperimen dan kelas kontrol pada

subjek penelitian. Langkah-langkah pada proses ini telah dijabarkan dalam

Progam Satuan Pelajaran dan Rencana Pembelajaran yang telah direncanakan

sebelumnya.

c. Pengamatan (Observing)

Observing adalah kegiatan pengamatan dan pengambilan data untuk

memantau sejauh mana efek tindakan yang dilakukan terhadap siswa dapat

berjalan secara efektif dan mencapai tujuan yang dikehendaki serta menunjang

pembelajaran yang berlangsung kondusif.Data-data yang dikumpulkan adalah

berupa data primer maupun data sekunder.Instrumen serta data yang dikumpulkan

(57)

d. Evaluasi (Evaluating)

Evaluasi adalah suatu kegiatan yang mengulas secara kritis

terhadap perubahan yang terjadi pada siswa, suasana pembelajaran yang

berlangsung di kelas. Kegiatan ini memerlukan adanya analisis dan refleksi

terhadap data-data yang telah dikumpulkan untuk didiskusikan bersama dengan

kolaborator untuk mengetahui sejauh mana action (intervensi) yang dilakukan

telah menghasilkan suatu yang berarti dengan adanya pemanfaatan PjBL melalui

pendekatan scientific pada pembelajaran Gambar Teknik 1 pokok bahasan gambar

proyeksi orthogonal (2D) berdasarkan aturan gambar proyeksi.

3.2 Populasi dan Sampel Penelitian

Menurut Arikunto (2010: 173), populasi adalah keseluruhan subjek

penelitian.

Menurut Suharsimi Arikunto, Prof Dr.;(Arikunto 2010,174) Dalam

bukunya Prosedur Penelitian suatu pendekatan Praktek,mengatakan bahwa sampel

adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Dinamakan penelitian sampel

apabila kita bermaksud untuk menggeneralisasikan hasil penelitian sampel.Yang

dimaksud dengan menggeneralisasikan adalah mengangkat kesimpulan penelitian

sebagai suatu yang berlaku bagi populasi.

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X TGB semester

2 yang berjumlah 72 siswa yang terdiri dari dari 36 siswa kelas X TGB A dan 36

siswa kelas X TGB B. Berdasarkan analisis populasi maka sampel yang dipilih

(58)

siswa yang terdiri dari dari 36 siswa kelas X TGB A dan 36 siswa kelas X TGB B.

Dari sampel tersebut, maka akan dipilih salah satu sampel sebagai kelompok

eksperimen dan lainnya sebagai kelompok kontrol. Penentuan kelompok ini

dengan menggunakan data nilai hasil belajar Gambar Teknik 1 semester ganjil.

Data ini akan di uji homogenitas, apabila data dinyatakan homogen, maka

pengambilan kelompok eksperimen dan kontrol dapat dilakukan secara acak.

Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik total

sampling.

3.3 Variabel Penelitian

Variabel pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang

ditetapkan oleh peneliti untuk dielajari sehingga diperoleh informasi tentang hal

tersebut kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono 2012:2). Jadi dikatakan

variabel ada variasinya atau terdapat beberapa variasi. Variabel yang digunakan

dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa, Hasil belajar dalam

Gambar

Tabel 2.2 Standar Sarana pada Ruang Praktik Gambar Manual dan Masinal
Tabel 2.4 Standar Sarana pada Ruang Penyimpanan dan Instruktur
Gambar 2.1. skema kerangka berpikir
Gambar Teknik 1 pada
+7

Referensi

Dokumen terkait