MAKALAH BAHASA INDONESIA
PERNIKAHAN SEJENIS DI ZAMAN SEKARANG
PENGAMPU : Sayid Iskandar
DI SUSUN OLEH :
Mutiara Nurul Hikmah (1502026018)
FAKULTAS SYARI’AH
SIYASAH JINAYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di zaman modern ini banyak konflik-konflik dalam kehidupan bermasyarakat. Sesuatu yang dahulu adalah hal yang tabu, di zaman modern bisa saja menjadi hal yang biasa. Bahkan bisa saja diakui keberadaannya. Seperti pasangan sejenis. Hal tersebut sudah menjadi hal yang biasa bagi negara-negara yang telah mengakui keberadaan mereka.
Memang hal ini sudah ada di zaman Nabi. Bahkan di zaman Nabi Luth hal tersebut menjadi bagian besar dari permasalahan bagi beliau. Dibandingkan zaman sekarang, banyak yang mengakui. Bahkan beberapa negara sudah mengesahkan pernikahan sejenis. Masing-masing negara memang memiliki jati diri dan budaya sendiri. Tidak ada saling menghukumi dengan opini-opini oleh pandangan negara lain.
Di indonesia sendiri, LGBT sangatlah belum bisa diterima oleh masyarakat.
Akibatnya akan menjadi olokan dan bullying dalam hidup orang tersebut. Membuat para LGBT tidak berani muncul kepermukaan masyarakat. Meski LGBT bukan hal yang merugikan bagi orang lain disekitarnya. Hanya saja, pemikiran masyarakat membuat mereka kalah dengan opini yang sudah beranak pinak.
Namun ada beberapa daerah yang memang bisa menerima dan nyaman dengan hal tersebut. Termasuk pondok pesantren, ada satu pondok pesantren yang turun-temurun menjalankan hal ini. Bukan sesuatu yang menggelikan. Namun telah terjadi dari dulu hingga sekarang. Untk menghilangkannyapun susah. Hal tersebut menjadi keadaan biru dalam pesantren.
Bagaimana dengan pernikahan sejenis? Bagaimana mereka menikah? Apa Indonesia mempunyai undang-undang untuk hal ini?
1. Apakah pernikahan itu? 2. Apakah LGBT itu?
3. Sejak kapan muncul LGBT? 4. Undang-undang tentang LGBT? 5. Apa saja Hak LGBT di Indonesia?
6. Bagaimana pandangan dan tanggapan masyarakat? 7. Bagaimana pandangan islam?
BAB II PEMBAHASAN
1. Pengertian pernikahan
Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatanperkawinan secara norma
agama, norma hukum, dan norma sosial. Upacara pernikahan memiliki banyak ragam dan variasi menurut tradisi suku bangsa, agama, budaya, maupun kelas sosial.
Penggunaan adat atau aturan tertentu kadang-kadang berkaitan dengan aturan atau hukum agama tertentu pula.1
2. LGBT
LGBT adalah jargon yang dipakai untuk gerakan emansipasi di kalangan non-heteroseksual. Istilah itu berasal dari singkatan bagi lesbian, gay, biseksual dan
transgender/transeksual, untuk menunjukkan gabungan dari kalangan minoritas dalam hal seksualitas.2
Apa yang mereka pikirkan dengan pernikahan? Mereka ingin menikah seperti pasangan hetero?
Pernikahan memang dianggap sangat penting. Memang penting. Sebuah ikatan hukum yang menyatukan kedua insan. Tapi tidakkah mereka bisa dengan hanya melakukan hubungan kemudian pergi ke tempat lain?
Sekarang banyak yang ingin diakui keberadaan pasangan dalam masyarakat. Tak sedikit negara yang mengesahkan pernikahan sejenis. Bahkan ada
perundang-undangannya. Karna humanis. Mereka juga manusia, smaa seperti pasangan hetero lain. Memiliki porsi hukum yang sama, perlindungan yang sama dan memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam bernegara.
3. Sejarah
Kepastian sejak kapan adanya tidaklah diketahui. Namun di zaman Nabi sudah ada kaum gay dan lesbian. Di Indonesia sendiri LGBT juga sudah lama melekat dalam geografis tertentu.
Sejarah homoseksualitas dapat ditilik dari zaman atau masa Mesir Kuno, sementara itu sikap masyarakat terhadap hubungan sesama jenis telah berubah dari waktu ke waktu dan berbeda secara geografis. Bermula dari mengharapkan semua pria terikat dalam hubungan sesama jenis, dalam kesatuan sederhana, melalui penerimaan, dalam pemahaman praktik tersebut merupakan dosa kecil, menekannya melalui penegakan hukum dan mekanisme pengadilan, hingga dalam pengharaman hubungan tersebut praktik homoseksual dijerat dengan hukuman mati
Dalam kumpulan kajian sejarah dan etnografi budaya pra-industri, "penolakan terhadap homoseksualitas dilaporkan sebesar 41% dari 42 budaya; Sebesar 21% budaya menerima dan/atau mengabaikan homoseksualitas, dan 12% melaporkan tidak ada konsep seperti itu. Dari 70 catatan etnografis, 59% melaporkan homoseksualitas tidak ada atau jarang terjadi dan 41% menunjukkan homoseksualitas ada atau dianggap biasa."
Dalam budaya yang dipengaruhi oleh agama-agama Ibrahim, hukum dan gereja menetapkan sodomi sebagai pelanggaran terhadap hukum Tuhan atau kejahatan terhadap alam. Namun, penjatuhan hukuman kepada pelaku seks anal dari kalangan homoseksual sudah tercatat sejarah sebelum lahirnya agama Kristen. Hal ini dilaporkan sering terjadi pada zaman Yunani Kuno; "ketidakwajaran" ini dapat ditelusuri kembali hingga ke era Plato. Banyak tokoh sejarah yang diduga gay atau biseksual seperti Socrates, Lord Byron, Edward II, dan Hadrian. Sejumlah ilmuwan, seperti Michel Foucault,
sebuah konstruksi seksualitas kontemporer yang tidak muncul pada masa itu, tetapi banyak kalangan yang menentang ini.
Argumen umum kalangan konstruksionis menyatakan bahwa tidak ada seorang pun pada zaman kuno atau Abad Pertengahan yang mengalami homoseksualitas sebagai suatu karakteristik penentu seksualitas yang bersifat eksklusif dan permanen. John Boswell membalas argumen ini dengan mengutip tulisan-tulisan Yunani kuno Plato, yang menggambarkan individu-individu tersebut menunjukkan homoseksualitas eksklusif.3
4. Undang-undang LGBT
UU Perkawinan menegaskan bahwa pernikahan adalah antara pria dan wanita. Lalu bagaimana hukum mengatur perkawinan sejenis?
Keinginan mendapat pengakuan negara terhadap perkawinan sejenis terus disuarakan oleh sejumlah kalangan. Salah satunya Arus Pelangi yang merupakan badan hukum yang memperjuangkan hak-hak lesbian, gay, biseksual, transeksual dan transgender (LGBT).
Direktur Arus Pelangi Rido Triawan menyatakan bahwa dalam soal perkawinan, masih banyak sekali diskriminasi-diskriminasi terhadap kelompok minoritas LGBT. Rido berharap LGBT diakomodasi dalam UU Perkawinan. Kami tidak menginginkan kelompok LGBT ini menjadi kelompok yang liberal, tidak terakomodir dalam hukum negara Indonesia sehingga kami melihat adanya urgensi agar UU Perkawinan ini direvisi, tutur Rido yang ditemui di Markas Arus Pelangi di kawasan Blora, Jakarta, Rabu (17/10).
Rido sadar bahwa revisi UU No. 1 Tahun 1974 tersebut akan sangat riskan serangan dari semua kalangan, terutama yang menentang keberadaan LGBT.Meski perkawinan sejenis tidak diakui oleh agama manapun, Rido justru berpendapat bahwa perkawinan bukanlah sebuah institusi agama, tetapi sebuah institusi negara. Karena imbas dari perkawinan itu bukan pada agama tetapi kepada negara seperti adanya hak anak, asuransi, pendidikan, pembagian waris dan sebagainya. Itu semua berhubungan dengan lembaga kenegaraan, bukan lembaga agama, ungkap Rido.
Menurut Rido, praktek selama ini yang dilakukan oleh LGBT dalam mengakomodasi komunitasnya yang ingin melakukan perkawinan sejenis adalah dengan memfasilitasi dua orang dari kelompok LGBT untuk membuat sebuah perjanjian kerjasama dan perjanjian ini yang nantinya disahkan di hadapan notaris. Kami tidak menggunakan kata-kata perkawinan atau pun tidak menggunakan akte nikah. Kami tidak bisa mengeluarkan akte nikah karena kami bukan institusi negara, kata Rido.
Menurut Rido, perjanjian tersebut sama sekali tidak mengikat seperti halnya sebuah pernikahan karena hanya sebuah perjanjian secara perdata saja. Perjanjian tersebut, urai Rido, untuk mengantisipasi jika ada pasangan gay yang telah mencampurkan hartanya kemudian berpisah, dapat segera diselesaikan khususnya mengenai pembagian harta gono gini.
Ke depan, Rido mengungkapkan bahwa LGBT akan memperjuangkan hak-haknya melalui RUU Anti Diskriminasi yang tengah dibahas di DPR dengan memasukkan semua persoalan lewat Daftar Investarisasi masalah (DIM). Fokus kita bahwa LGBT ini harus menjadi bahan pokok diskusi di kalangan anggota DPR, tandas Rido.
Fatwa Pakar
Ditemui secara terpisah, Ketua Komisi Fatwa MUI KH Ma'ruf Amin dengan tegas menyatakan bahwa pernikahan sejenis adalah haram. Masak laki-laki sama laki-laki atau perempuan sama perempuan. Itu kan kaumnya Nabi Luth. Perbuatan ini jelas lebih buruk daripada zina, ujar Ma'ruf.
Ma'ruf tidak sepakat jika perkawinan sejenis dikaitkan dengan Hak Asasi Manusia dan nilai-nilai demokrasi. Ini orang-orang yang memutar balikkan. Orang-orang yang kawin sejenis adalah orang yang sakit, tandas Ma'ruf.4
Penolakan terhadap perkawinan sejenis juga dinyatakan oleh pengajar hukum Islam Universitas Indonesia, Farida Prihatini. Itu tidak boleh. Dalam Al Quran jelas perkawinan itu antara laki-laki dan perempuan.
Menurut Farida, keharaman perkawinan sejenis sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Farida berharap agar mereka yang melakukan perkawinan sejenis disadarkan bahwa hal tersebut tidak diperbolehkan.
Di luar negeri seperti Belanda, perkawinan sejenis memang dibenarkan. Bahkan pernah ada pria warga negara Indonesia menikah dengan pria Negeri Kincir Angin itu. Di Amerika Serikat, beberapa negara bagian juga menganut prinsip yang sama. Lembaga-lembaga yang memperjuangkan hak-hak gay dan lesbian tumbuh. Lembaga seperti American Civil Liberties Union banyak memperjuangkan hak-hak kaum gay dan lesbian.5
5. Hak LGBT di Indonesia
a.
Hak LGBT di Indonesia
Kaum lesbian, gay, biseksual dan
transgender
(LGBT) di Indonesia akan
menghadapi tantangan hukum dan
prasangka yang tidak dialami oleh
penduduk non-LGBT. Adat istiadat
tradisional kurang menyetujui
homoseksualitas dan
cross-dressing
, yang berdampak kepada
kebijakan publik. Misalnya,
pasangan sesama jenis di
Indonesia, atau rumah tangga
yang dikepalai oleh pasangan
sesama jenis, dianggap tidak
memenuhi syarat untuk
mendapatkan perlindungan hukum
yang lazim diberikan kepada
pasangan lawan jenis yang
menikah. Pentingnya di Indonesia
untuk menjaga keselarasan dan
tatanan sosial, mengarah kepada
penekanan lebih penting atas
manusia beserta hak homoseksual
sangat rapuh.Namun, komunitas
LGBT di Indonesia telah terus
menjadi lebih terlihat dan aktif
secara politik.
b.
Hukum terhadap
homoseksualitas
Hukum pidana nasional tidak melarang
hubungan seksual pribadi dan hubungan
homoseksual non-komersial antara orang
dewasa. Sebuah RUU nasional untuk
mengkriminalisasi homoseksualitas, beserta
dengan hidup bersama, perzinahan dan
Pada tahun 2002, pemerintah Indonesia
memberi Aceh hak untuk memberlakukan
hukum Syariah. Hukuman hanya berlaku bagi
orang Muslim. Sebagai contoh,
Kota Palembangmemperkenalkan hukuman
penjara dan denda bagi hubungan seksual
homoseksual.[3] Di bawah hukum,
homoseksualitas didefinisikan sebagai
tindakan 'prostitusi yang melanggar
norma-norma kesusilaan umum, agama, dan norma-norma
hukum dan aturan sosial yang berlaku'.
[4] Berikut tindakannya didefinisikan sebagai
tindakan prostitusi: seks homoseksual, lesbian,
sodomi, pelecehan seksual, dan tindakan
pornografi lainnya. Lima puluh dua daerah
sejak diberlakukan hukum berbasis syariah
dari Al-Qur'an, yang mengkriminalisasi
homoseksualitas.
Di Jakarta, lesbian, gay, biseksual dan
"Cacat" atau cacat mental dan karenanya tidak
dilindungi oleh hukum.[4] Sementara
Indonesia telah memungkinkan hubungan
seksual pribadi dan konsensus antara
orang-orang dari jenis kelamin yang sama sejak
tahun 1993, memiliki usia yang lebih tinggi
dari persetujuan untuk hubungan sesama jenis
dari hubungan heteroseksual (17 untuk
heteroseksual dan 18 untuk homoseksual).
Konstitusi tidak secara eksplisit membahas
orientasi seksual atau identitas gender. Itu
menjamin semua warga dalam berbagai hak
hukum, termasuk persamaan di depan hukum,
kesempatan yang sama, perlakuan yang
manusiawi di tempat kerja, kebebasan
beragama, kebebasan berpendapat,
c.
Identitas jender/ekspresi
Status waria, transeksual atau transgender l
ainnya di Indonesia sangat kompleks.
Cross-dressing
terkadang tidak dapat diterima, ilegal
dan beberapa toleransi publik diberikan
kepada beberapa orang transgender yang
bekerja di salon kecantikan atau di industri
hiburan, terutama selebriti acara
bincang-bincang Dorce Gamalama. Namun, hukum
tidak melindungi orang-orang transgender
dari diskriminasi atau pelecehan dan juga
tidak menyediakan untuk operasi ganti
kelamin atau membiarkan kaum transgender
untuk mendapatkan dokumen hukum baru
setelah mereka telah membuat perubahan.
tidak menyembunyikan identitas gender
mereka sering merasa sulit untuk
mempertahankan pekerjaan yang sah dan
dengan demikian sering dipaksa menjadi
pelacur dan melakukan kegiatan ilegal lainnya
untuk bertahan hidup.
Majelis Ulama Indonesia memutuskan
bahwa kaum transgender harus tetap pada
jenis kelamin pada saat mereka dilahirkan.
"Jika mereka tidak mau menyembuhkan diri
secara medis dan agama," kata anggota
Majelis, mereka harus rela "untuk menerima
nasib mereka untuk ditertawakan dan
dilecehkan."
Pada tahun 2012, Yuli Retoblaut, seorang
transgender berusia lima puluh tahun,
d.
Adopsi dan perencanaan
keluarga
Pasangan sesama jenis tidak memenuhi
syarat untuk mengadopsi anak di Indonesia.
Pasangan hanya menikah yang terdiri dari
suami dan istri yang dapat mengadopsi
seorang anak.
e.
LGBT dalam media
Undang-undang terhadap Pornografi dan
pornoaksi (2006) melarang "... setiap tulisan
atau presentasi audio visual -termasuk lagu,
puisi, film, lukisan, dan foto-foto yang
memberikan homoseksualitas cakupan yang
lebih pada media di Indonesia.
f.
Pendapat partai politik
Sebagian besar partai politik dan politisi tetap diam untuk membahas masalah hak-hak LGBT tetapi beberapa politisi dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Kebangkitan Bangsa yang konservatif moderat mendukung hak-hak LGBT.
g.
Kondisi kehidupan
Indonesia memiliki penganut agama Islam paling banyak di dunia dengan 87% dari warganya menyebut diri sebagai Muslim. Kebijakan keluarga dari pihak berwenang Indonesia, tekanan sosial untuk menikah dan agama berarti bahwa homoseksualitas pada umumnya tidak didukung. Baik Muslim tradisionalis dan modernis, dan juga kelompok agama lainnya seperti Kristen, terutama Katolik Roma umumnya menentang
homoseksualitas. Banyak kelompok fundamentalis Islam seperti FPI (Front Pembela Islam) dan FBR(Forum Betawi Rempuk) secara terbuka memusuhi orang-orang LGBT dengan menyerang rumah atau tempat mereka bekerja dari orang-orang yang mereka yakini ancaman bagi nilai-nilai Islam.
Diskriminasi eksplisit dan homofobia kekerasan dilakukan terutama oleh para ekstremis religius, sementara diskriminasi halus dan marjinalisasi terjadi dalam
Indonesia memang memiliki reputasi sebagai sebuah negara Muslim yang relatif moderat dan toleran, yang memang memiliki beberapa aplikasi untuk orang-orang LGBT. Ada beberapa orang LGBT di media dan pemerintah nasional telah memungkinkan komunitas LGBT terpisah ada, bahkan mengatur acara-acara publik. Namun, adat istiadat sosial Islam konservatif cenderung mendominasi dalam masyarakat yang lebih luas.
Homoseksualitas dan cross-dressing tetap tabu dan orang-orang LGBT secara berkala menjadi sasaran hukum agama setempat atau kelompok main hakim sendiri oleh para fanatik.6
6. Pandangan masyarakat terhadap Pernikahan Sejenis
Banyak pendapat yang menolak pernikahan sejenis, tidak sedikit pula yang
menerima. Kini kembali kepada individu masing-masing, menurut pandangan dan pikiran yang dianut.
7
7. Pandangan Islam terhadap pernikahan sejenis
Banyak orang yang mendukung pelegalan pernikahan sesama jenis beranggapan mengenai kesamaan hak asasi manusia. Kaum gay atau lesbian harus diperlakukan sama. Padahal itu merupakan suatu penyimpangan seksual. Dan dalam Islam hal tersebut merupakan dosa besar. Sudah sepantasnya prilaku sodomi yang kini terkenal dengan Gay-Lesbi dilarang keras. Bahkan nabi Muhammad saw. Bersabda:
“Siapa saja yang kalian temukan melakukan perbuatan umat Nabi Luth, bunuhlah mereka baik yang mensodomi maupun yang disodomi!” (HR. Ibnu Majah).
Tidak hanya Islam, pernikahan sesama jenis ini dilarang oleh semua agama dan adat istiadat di seluruh dunia. Dr Muhammad M. Abu Laila, profesor Studi Islam dan
Perbandingan Agama di Universitas Al-Azhar, mengatakan bahwa:
“Tindakan (pernikahan sejenis) adalah dosa buruk yang Allah telah larang dalam semua agama (agama samawi), bahkan dalam kehidupan paling primitive sekalipun. Ini
bertentangan dengan peraturan Allah dan melawan hukum alam. Saya heran bagaimana di masa kini, dimana ilmu pengetahuan teknologi telah maju, kita
membiarkan hal-hal seperti itu terjadi di masyarakat manusia, bagaimana seseorang mengizinkan atau memberikan aturan hukum atas suatu tindakan luas yang
menimbulkan ancaman bagi seluruh umat manusia dan menghancurkan masyarakat seperti kanker. Dalam kedua Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, semua nabi Allah melarang kegiatan jahat seperti itu dan menghukum berat mereka yang melakukannya “[ Muhammad Abu Laylah, “Gay Marriage: Islamic
View”,http://www.onislam.net/english/ask-the-scholar/crimes-and-penalties/sexual-perversity/170236-gay-marriage-islamic-view.html, May 10, 2012]
Konsep pernikahan Islam menganggap pernikahan seorang pria dan seorang wanita sebagai ikatan suci dan khidmat yang memerlukan tugas, nilai-nilai, dan tanggung jawab yang tidak boleh dilanggar. Al-Qur’an menggambarkan perjanjian pernikahan sebagai ikatan suci dan memerintahkan pada suami dan istri yang menikah untuk meraih kebaikan, cinta sejati, dan hak-hak dan kewajiban perkawinan. Allah berfirman:
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. [An-Nisa ayat 1].
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. [Al Hujurat ayat 13]
Jadi pernikahan, berdasarkan syariah Islam dimaksudkan untuk membangun keluarga yang bahagia, stabil, dan sejahtera, untuk membesarkan anak-anak yang sehat
berkomitmen, untuk melestarikan keturunan dan tatanan sosial, untuk memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis manusia, dan menciptakan komunitas dan masyarakat yang beradab. Pernikahan dalam Islam, seperti dalam semua agama lain, tidak berarti kenikmatan seksual saja, tetapi juga pembentukan sebuah keluarga yang sehat dan dengan dasar cinta kasih yang kuat.
Dari pandangan tersebut dapat kita ketahui bahwa pernikahan sesama jenis tidak sesuai dengan konsep pernikahan dalam Islam, karena pernikahan sesama jenis tidak akan membangun suatu keluarga dan hanya didasarkan pada kenikmatan seksual saja.
Pernikahan sesama jenis, di sisi lain, memberikan ancaman serius bagi institusi keluarga, permasalahan sosial, membahayakan kehidupan keluarga yang indah, dan tatanan sosial masyarakat manusia.8
BAB III PENUTUPAN
A. Kesimpulan
Janganlah dengan era globalisasi dan modernisasi hal yang tabu menjadi hal yang biasa, hal yang tidak pantas menjadi sebuah hal yang wajar, hal yang tidak baik menjadi dianggap baik. Haruslah menyeleksi dengan baik perkembangan zaman.
Pernikahan sejenis bagaimanapun juga menyalahi aturan alam. Meski persetujuan, pelegalan dan pengesahan ada, namun tidak bisa dipungkiri bahwa pernikahan sejenis tidak bisa membuat tujuan pernikahan tercapai.
Selain itu, di dalam Pasal 2 ayat (1) UU Perkawinan dikatakan juga bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya. Ini berarti selain negara hanya mengenal perkawinan antara wanita dan pria, negara juga mengembalikan lagi hal tersebut kepada agama masing-masing.
Mengenai perkawinan yang diakui oleh negara hanyalah perkawinan antara pria dan wanita juga dapat kita lihat dalam Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan (“UU Adminduk”) beserta penjelasannya dan Pasal 45 ayat (1) Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta No. 2 Tahun 2011 tentang Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil (“Perda DKI Jakarta No. 2/2011”) beserta penjelasannya.9
DAFTAR PUSTAKA https://id.wikipedia.org/wiki/Pernikahan
https://id.wikipedia.org/wiki/Portal:LGBT
https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_homoseksualitas
http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol15652/menilik-kontroversi-perkawinan-sejenis
https://id.wikipedia.org/wiki/Hak_LGBT_di_Indonesia
http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol15652/menilik-kontroversi-perkawinan-sejenis