BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Bakteri
Bakteri terdapat secara luas di lingkungan alam yang berhubungan dengan hewan, tumbuh-tumbuhan, udara, air dan tanah. Bakteri adalah mikroorganisme bersel tunggal tidak terlihat oleh mata, berukuran antara 0,5 – 1,0 µm dan lebar 0,5 – 2,5 µm tergantung pada jenisnya. Terdapat beribu jenis bakteri, tapi hanya beberapa jenis bakteri yang ditemukan, diantaranya berbentuk bulat, batang, spiral, koma atau vibrios.
Sel bakteri terdiri dari membran dan sitoplasma. Sel dibungkus oleh dinding sel, pada beberapa jenis bakteri dinding sel dikelilingi oleh kapsula atau lapisan lendir. Kapsul berisi campuran polisakarida dan polipeptida. Bakteri
memperbanyak diri dengan cara pembelahan secara biner. Pertumbuhan bakteri
dipengaruhi faktor lingkungan seperti, suhu atau temperatur, O2, CO2, pH, nutrient dan cahaya. Bakteri memiliki flagella yang tumbuh dalam membran sel, berupa struktur yang menyerupai benang panjang, berbentuk seperti cambuk. Flagella ini merupakan alat gerak bakteri yang bergerak dengan cara mendorong bakteri dalam cairan, misalnya air (Sinaga, 2011).
2.2 Bentuk-bentuk Bakteri
Berdasarkan bentuk morfologinya, maka bakteri dapat di bagi atas tiga golongan, yaitu :
1. Golongan basil
dua-dua, atau terlepas satu sama lain, yang bergandeng-gandengan panjang disebut streptobasil, yang dua-dua disebut diplobasil.
2. Bentuk kokus
gandengan panjang serupa tali leher, disebut streptokokus, ada yang bergandengan dua-dua, disebut diplokokus, ada yang mengelompok berempat, disebut tetrakokus, kokus yang mengelompok serupa kubus disebut sarsina.
3. Golongan spiril
Golongan spiril merupakan bakteri yang bengkok atau berbengkok- bengkok serupa spiral. Bakteri ini tidak banyak terdapat, karena itu merupakan golongan yang paling kecil, jika dibandingkan dengan golongan kokus maupun golongan basil (Naibaho, 2011).
Berdasarkan reaksi bakteri terhadap pewarnaan gram, maka bakteri dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu:
a. Bakteri gram positif, yaitu bakteri yang dapat mengikat zat warna utama (kristal violet) sehingga tampak berwarna ungu tua.
b. Bakteri gram negatif, yaitu bakteri yang kehilangan warna utama (kristal
violet) ketika dicuci dengan alkohol dan menyerap zat warna kedua sewaktu pemberian safranin tampak berwarna merah.
(Sinaga, 2011).
2.3 Pewarnaan Gram
Pewarnaan gram atau metode gram adalah suatu metode empiris untuk membedakan spesies bakteri menjadi dua kelompok besar, yakni gram positif dan gram negatif, berdasarkan sifat kimia dan fisik dinding sel mereka. Metode ini diberi nama berdasarkan penemunya, ilmuwan Denmark Hans Christian Gram (1853– 1938) yang mengembangkan teknik ini pada tahun 1884 untuk membedakan antara pneumokokus dan bakteri Klebsiella pneumoniae. Pada uji pewarnaan gram, suatu pewarna penimbal (counterstain) ditambahkan setelah metil ungu, yang membuat semua bakteri gram negatif menjadi berwarna merah atau merah muda. Pengujian ini berguna untuk mengklasifikasikan kedua tipe bakteri ini berdasarkan perbedaan struktur dinding sel mereka (Lestari, 2013).
Pewarnaan gram digunakan untuk mengetahui morfologi bakteri dan
bawah mikroskop, bakteri Gram positif akan berwarna ungu, karena dapat menahan kompleks pewarna primer karbol gentian violetiodium sampai akhir prosedur pewarnaan. Bakteri Gram negatif akan berwarna merah, karena kehilangan kompleks warna karbol gentian violetiodium dengan pembilasan alkohol, lalu terwarnai oleh pewarna tandingan air fuksin.
Perbedaan reaksi kedua golongan bakteri tersebut terhadap pewarnaan Gram disebabkan bakteri Gram positif memiliki dinding sel tebal yang akan menyusut pada saat pembilasan alkohol, sehingga pori-porinya menutup dan mencegah keluarnya kompleks pewarna primer pada saat pemucatan. Sedangkan dinding sel bakteri Gram negatif mengandung banyak lipid yang larut dalam alkohol pada saat pembilasan. Larutnya lipid memperbesar pori-pori dinding sel dan menyebabkan proses pemucatan berlangsung cepat (Sulistiyaningsih, 2008).
2.4 Aplikasi Identifikasi Mikroba
“Isolasi dan Identifikasi Bakteri dan Pengamatan Resistensi Bakteri terhadap Logam Berat dan Antibiotik”
Pengolahan limbah adalah proses menghilangkan kotoran dari air buangan dan limbah rumah tangga, baik limpasan (limbah) dalam negeri. Ini mencakup fisik, kimia, dan proses biologis untuk menghapus fisik, kimia dan biologi
kontaminan.Tujuannya adalah untuk menghasilkan limbah padat atau lumpur yang telah diberikan perlakuan yang cocok untuk dibuang ke lingkungan. Bahan ini sering secara tidak sengaja terkontaminasi dengan banyak racun, senyawa organik dan anorganik. Tujuan utama dari unit pengobatan adalah untuk mengurangi isi limbah (padat) dari pengotornya dan menghapus semua gangguan dan mengubah karakter kotoran sedemikian cara yang dapat dengan aman dibuang di aliran air alami dan diaplikasikan pada tanah. Penyaringan adalah operasi pertama yang dilakukan pada limbah pengolahan pabrik yang mana limbah baku akan melalui berbagai jenis layar (filter) sehingga menjebak materi mengambang seperti daun pohon, kertas, kerikil, potongan kayu, kain, serat, kaleng, dan sampah dapur. Mikroorganisme yang terkandung dalam limbah dapat mentolerir konsentrasi logam beracun untuk manusia, seperti kobalt, timbal, nikel, kromium, dan juga sebagai antibiotik.
yang terkandung dalam air limbah domestik yang dikumpulkan dari pabrik
pengolahan limbah diNIT Warangal. Karakterisasi ini membantu dalam penggunaan lebih lanjut untuk bioremediasi air limbah (Narashimhulu et, al. , 2010).
Gambar 2.1 Flowchart Isolasi dan Identifikasi Bakteri dan Pengamatan Resistensi Bakteri terhadap Logam Berat dan Antibiotik
(Narashimhulu et, al.,2010) Mulai
Dibuat media nutrien agar
Diencerkan 1 ml sampel dan disebar kepermukaanmedia nutrien
agar dicawan petri tersebut
Koloni tunggal diambil dari piring NAdan disubkultur dalam kaldu nutrisi
untuk mendapatkan kulturmurni
Selesai
Diinkubasi pada 37ºCdan dibiarkan tumbuh selama 24 jam
Diteteskan air limbah yang mengandung berbagai ion logam berat