• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keefektifan Iradiasi Sinar Gamma Terhadap Bactrocera Carambolae (Drew & Hancock) In Vitro Dan In Vivo

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Keefektifan Iradiasi Sinar Gamma Terhadap Bactrocera Carambolae (Drew & Hancock) In Vitro Dan In Vivo"

Copied!
94
0
0

Teks penuh

(1)

KEEFEKTIFAN IRADIASI SINAR GAMMA TERHADAP

BACTROCERA CARAMBOLAE

(DREW & HANCOCK)

IN VITRO

DAN

IN VIVO

KEMAS USMAN

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2015

KEEFEKTIFAN IRADIASI SINAR GAMMA TERHADAP

BACTROCERA CARAMBOLAE (DREW & HANCOCK)

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Keefektifan Iradiasi Sinar Gamma terhadap Bactrocera carambolae (Drew & Hancock) In Vitro dan In Vivo adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

(4)

RINGKASAN

KEMAS USMAN. Keefektifan Iradiasi Sinar Gamma terhadap Bactrocera carambolae (Drew & Hancock) In Vitro dan In Vivo. Dibimbing oleh ENDANG SRI RATNA dan DADAN HINDAYANA.

Jambu biji (Psidium guajava L.) merupakan komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomis penting dalam pasar lokal maupun ekspor. Dalam rangka akselerasi ekspor, Indonesia harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh World Trade Organization-Sanitary and Phytosanitary (WTO-SPS). Salah satu OPT pada komoditas jambu biji adalah Bactrocera carambolae (Drew & Hancock). Salah satu upaya membebaskan komoditas ekspor dari OPT melalui tindakan perlakuan karantina berupa iradiasi sinar gamma [60Co]. Penelitian ini bertujuan menentukan dosis lethal dan dosis efektif iradiasi sinar gamma [60Co] untuk mengeradikasi lalat buah B. carambolae, serta mengamati implikasi terhadap keloloshidupannya.

Penelitian ini dilakukan di di Laboratorium Phytosanitary, Pusat Aplikasi Isotop Radiasi-Badan Tenaga Nuklir Nasional (PAIR-Batan), Jakarta pada bulan Agustus sampai dengan Desember 2014. Pelaksanaan penelitian meliputi metode pengujian in vitro dan in vivo, masing-masing diaplikasikan terhadap telur dan larva instar 3 B. carambolae hasil perbanyakan laboratorium. Sebelas dosis perlakuan iradiasi diaplikasikan berturut-turut: 0, 30, 50, 75, 100, 125, 150, 175, 200, 300, 450, dan 600 Gy. Tingkat mortalitas 99% (LD99) ditentukan melalui

program probit, dan kemampuan keloloshidupan larva, pupa, dan imago dibedakan melalui uji Tukey pada taraf 5%.

Hasil perlakuan menunjukkan bahwa dosis lethal iradiasi efektif pada tingkat (LD99) berhasil mengeradikasi telur dan larva instar 3 berturut-turut

sebesar 2225 dan 2343 Gy in vitro, serta 3165 dan 3177 Gy in vivo. Hampir seluruh larva perlakuan yang lolos hidup berhasil berkembang menjadi pupa, namun hanya dosis iradiasi terendah, yaitu 30 Gy saja yang dapat berkembang menjadi imago.

(5)

SUMMARY

KEMAS USMAN. Effect of Gamma Irradiation against Bactrocera carambolae (Drew & Hancock) In Vitro and In Vivo. Supervised by ENDANG SRI RATNA and DADAN HINDAYANA.

Guava (Psidium guajava L.) is one of the economic important horticultural commodities mainly for fresh consumption in local and international markets. In the last few years, the export volume of guava in Indonesia is increasing. Related to export acceleration of horticultural commodities, Indonesia must follow the World Trade Organization-Sanitary and Phytosanitary (WTO-SPS) regulation. One of the most important pests on guava fruit, principally fruit flies, Bactroceracarambolae (Drew & Hancock) (Diptera: Tephritidae). According to a quarantine regulation in export-import commodities, irradiation treatment is a suitable method for eradicating infested organism. The aim of this research to perform mortality doses and an effective dose of [60Co] gamma ray irradiation for the eradication purposed, and its implication on the survival of fruit fly B. carambolae.

Two irradiation methods of in vitro dan in vivo were carried out, by exposing egg and 3rd instar larvae of B. carambolae obtained from the laboratory- reared insects. Elevent doses of gamma ray irradiation of 0, 30, 50, 75, 100, 125, 150, 175, 200, 300, 450, and 600 Gy were applied, respectively. The level of 99% frut fly mortality was estimated by the value of LD99 using probit analysis and the

number of larvae, pupae and adult survival were evaluated by analysis of variance

(ANOVA), and the means compared by Tukey’s test, at 5% of significance level.

This result showed that the effective lethal dose (LD99) of irradiation that

could be successful to eradicate eggs and 3rd instar larvae in vitro were 2225 and 2343 Gy and in vivo were 3165 dan 3177 Gy, respectively. Almost all treatments resulted in the pupae survivorship, therefore the only minimum irradiation dose of 30 Gy allowed the pupae developed into adults.

(6)

Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2015

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB

(7)

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains

pada

Program Studi Entomologi

KEEFEKTIFAN IRADIASI SINAR GAMMA TERHADAP

BACTROCERA CARAMBOLAE (DREW & HANCOCK)

IN VITRO DAN IN VIVO

KEMAS USMAN

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(8)
(9)
(10)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Agustus 2014 sampai Desember 2014 ini ialah perlakuan karantina, dengan judul Keefektifan Iradiasi Sinar Gamma terhadap Bactrocera carambolae (Drew & Hancock) In Vitro dan In Vivo.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Ibu Dra Endang Sri Ratna, PhD dan Bapak Dr Ir Dadan Hindayana selaku pembimbing. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Bapak Dr Ir Antarjo Dikin, MSc selaku Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati-Badan Karantina Pertanian (Barantan), Kepala dan segenap pegawai Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Pertanian (BUTTMKP), Ibu Ir Indah Arastuti Nasution, Ibu Dra Murni Indarwatmi MSi, Bapak Dr Irawan Sugoro, dan Bapak Rochmani di Laboratorium Phytosanitary, Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi – Badan Tenaga Nuklir Nasional (PAIR-Batan). Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Bapak Dr Ir Pudjianto, MSi selaku Ketua Program Studi Entomologi, Ibu Prof Dr Ir Sri Hendrastuti MSc selaku Ketua Program Studi Fitopatologi, dan Bapak Dr Ir Teguh Santoso, DEA selaku dosen penguji tamu, serta segenap staf pengajar dan staf administrasi Departemen Proteksi Tanaman atas dukungannya selama penulis mengikuti pendidikan.

Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu, istri, dan seluruh keluarga tercinta, atas segala doa dan dukungannya, serta rekan-rekan mahasiswa S2 kelas khusus karantina tumbuhan angkatan ke-3 atas saran serta bantuan dalam pelaksanaan penelitian ini.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

(11)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL x

DAFTAR GAMBAR xi

DAFTAR LAMPIRAN xi

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Rumusan Permasalahan 3

Tujuan Penelitian 3

Hipotesis 3

Manfaat Penelitian 3

TINJAUAN PUSTAKA 4

Buah Jambu Biji (Psidium guajava L.) 4

Klasifikasi Taksonomi 4

Morfologi Tanaman 4

Potensi Ekspor 5

Bactocera carambolae (Drew & Hancock) 5 Sistematika Lalat Buah B. carambolae 5

Persebaran 6

Biologi dan Morfologi 6

Kisaran Inang 7

Gejala Kerusakan 8

Pengendalian 8

Perlakuan Iradiasi 9

Iradiasi sebagai Alternatif Tindakan Perlakuan Karantina 11

METODE 12

Waktu dan Tempat Penelitian 12

Bahan 12

Alat 12

Prosedur 13

HASIL DAN PEMBAHASAN 21

Periode dan Lokasi Oviposisi B. carambolae 21 Pengaruh Iradiasi terhadap Mortalitas Telur dan Larva Instar 3 23 Pengaruh Iradiasi terhadap Sintasan Pradewasa 25 Pengaruh Iradiasi terhadap Morfologi Tubuh Lalat 28

SIMPULAN DAN SARAN 31

DAFTAR PUSTAKA 32

(12)

DAFTAR TABEL

1 Komposisi bahan media pakan buatan larva lalat buah B. carambolae 13 2 Waktu pemaparan berdasarkan dosis perlakuan iradiasi 17

3 Periode oviposisi B. carambolae 22

4 Kapasitas peneluran B. carambolae berdasarkan kombinasi pelepasan

pasangan dan lama pemaparan imago 22

5 Pengaruh iradiasi sinar gamma [60Co] terhadap mortalitas telur dan larva instar 3 B. carambolae secara in vitro dan in vivo 24 6 Dosis lethal iradiasi sinar gamma [60Co] pada stadia telur dan larva instar 3

B. carambolae secara in vitro dan in vivo 25 7 Pengaruh iradiasi sinar gamma [60Co] pada stadia telur dan larva instar 3

B. carambolae terhadap kegagalan pembentukan pupa secara in vitro dan

in vivo 26

8 Pengaruh iradiasi sinar gamma [60Co] pada stadia telur dan larva instar 3 B. carambolae terhadap kegagalan pembentukan imago secara in vitro dan

in vivo 27

DAFTAR GAMBAR

1 2 3 4 5 6 7 8

Ciri morfologi spesies B. carambolae: (a) imago; (b) sayap; (c) femur; (d) kepala; (e) toraks; (f) abdomen

Perangkat iradiator gamma chamber 4000 A PAIR-Batan: (a) perangkat keseluruhan; (b) chamber; (c) panel kontrol

Perangkat pemeliharaan dan perbanyakan lalat buah: (a) kurungan; (b) tempat tabung peneluran; (c) tabung peneluran; (d) ayakan pupa

Skema pengujian oviposisi B. carambolae Skema perlakuan in vitro

Skema perlakuan in vivo

Telur B. carambolae pada buah jambu biji: (a) tampak luar; (b) irisan membujur lubang tusukan; (c) kelompok telur

Perubahan morfologi lalat buah B. carambolae setelah perlakuan iradiasi: A = telur, B = larva instar 3, C = pupa, D = imago, I = perlakuan iradiasi, K = perlakuan kontrol (tanpa iradiasi)

8

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

1 Skema irradiator gamma chamber 4000 A 39

2 Uji statistik dengan program Minitab 16 untuk data mortalitas telur

secara in vitro 40

3 Uji statistik dengan program Minitab 16 untuk data mortalitas larva

instar 3 secara in vitro 43

4 Uji statistik dengan program Minitab 16 untuk data mortalitas telur

secara in vivo 46

5 Uji statistik dengan program Minitab 16 untuk data mortalitas larva

instar 3 secara in vitro 49

6 Uji statistik dengan program Minitab 16 untuk data kegagalan pembentukkan pupa (perlakuan telur) secara in vitro 52 7 Uji statistik dengan program Minitab 16 untuk data kegagalan

pembentukkan pupa (perlakuan larva instar 3) secara in vitro 55 8 Uji statistik dengan program Minitab 16 untuk data kegagalan

pembentukkan pupa (perlakuan telur) secara in vivo 58 9 Uji statistik dengan program Minitab 16 untuk data kegagalan

pembentukkan pupa (perlakuan larva instar 3) secara in vivo 61 10 Uji statistik dengan program Minitab 16 untuk data kegagalan

pembentukkan imago (perlakuan telur) secara in vitro 64 11 Uji statistik dengan program Minitab 16 untuk data kegagalan

pembentukkan imago (perlakuan larva instar 3) secara in vitro 67 12 Uji statistik dengan program Minitab 16 untuk data kegagalan

pembentukkan imago (perlakuan telur) secara in vivo 70 13 Uji statistik dengan program Minitab 16 untuk data kegagalan

pembentukkan imago (perlakuan larva instar 3) secara in vivo 73 14 Analisis probit dengan program SAS untuk data dosis lethal iradiasi

gamma terhadap telur B. carambolae berdasarkan mortalitas secara in

vitro 76

15 Analisis probit dengan program SAS untuk data dosis lethal iradiasi gamma terhadap larva instar 3 B. carambolae berdasarkan mortalitas

secara in vitro 77

16 Analisis probit dengan program SAS untuk data dosis lethal iradiasi gamma terhadap telur B. carambolae berdasarkan mortalitas secara in

vivo 78

17 Analisis probit dengan program SAS untuk data dosis lethal iradiasi gamma terhadap larva instar 3 B. carambolae berdasarkan mortalitas

(14)
(15)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Buah jambu biji (Psidium guajava L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomis penting karena tingkat kesukaan penduduk dalam negeri dan luar negeri terhadap buah ini cukup tinggi. Cita rasa yang enak dan kandungan vitamin A dan C yang tinggi pada buah menyebabkan buah jambu biji digemari masyarakat (Sujiprihati 1985). Kandungan vitamin C buah jambu biji dapat mencapai dua kali lipat dari buah jeruk manis. Satu buah jambu biji seberat 275 gram dapat mencukupi kebutuhan harian akan vitamin C pada tiga orang dewasa atau anak-anak (Parimin 2007). Beberapa manfaat buah jambu biji, meliputi: menurunkan kadar kolesterol, antioksidan, serta memperlancar sistem pencernaan, memicu peningkatan trombosit dan sirkulasi darah. Daun jambu biji juga bermanfaat untuk memperbaiki sistem pencernaan, sehingga masyarakat Indonesia banyak menggunakannya sebagai obat diare (Soetopo 1992; Ashari 2006; Parimin 2007). Pada umumnya, di Indonesia, selain dikonsumsi secara langsung, buah jambu biji diolah menjadi manisan yang banyak digemari (Parimin 2007). Di banyak negara buah jambu biji dimanfaatkan dalam bentuk konsumsi buah segar atau dalam bentuk produk olahan seperti sirup, jus, jeli, selai, dan dodol (Popenoe 1974; Rismunandar 1989; Soetopo 1992; Gould dan Raga 2002).

Selain menjadi komoditas hortikultura yang populer di dalam negeri, buah jambu biji menjadi komoditas unggulan yang diekspor ke beberapa negara diantaranya Arab Saudi, Belanda, Hongkong, Malaysia, Singapura, Swiss, dan Uni Emirat Arab. Data Biro Pusat Statistik (BPS 2014) menyatakan bahwa volume ekspor total buah jambu biji Indonesia mencapai 48 911 kg pada tahun 2013 atau senilai US $ 105 025. Dengan demikian, buah jambu biji merupakan salah satu komoditas hortikultura unggulan Indonesia.

Dalam rangka akselerasi ekspor komoditas hortikultura, termasuk buah jambu biji, berbagai faktor sering mempengaruhi penghambatan kelancaran dan perkembangan volume ekspor. Faktor-faktor tersebut seperti mahalnya biaya transportasi, sewa gudang penyimpanan, dan lainnya mulai ditemukan dari aspek hulu atau produksi pertanaman sampai hilir atau pascapanen. Faktor lain yang menjadi kendala produksi buah jambu biji adalah terdapatnya Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) atau aspek kesehatan tumbuhan (Parimin 2007).

(16)

2

baik saat ini maupun mendatang (Barantan 2014). Kesepakatan perjanjian tersebut menjadikan Indonesia harus membuat suatu sistem perkarantinaan yang kompleks, efektif, dan efisien dalam pengaturan sistem pengawasan lalu lintas barang termasuk komoditas pertanian. Hal ini mengingat resiko masuk dan juga menyebarnya OPTK dari luar negeri ke dalam wilayah Indonesia yang semakin meningkat. Salah satu OPT yang banyak menyerang buah jambu biji dan terdapat di Indonesia namun belum terdapat di beberapa negara lain (dapat berstatus OPTK bagi negara tujuan) adalah lalat buah Bactrocera carambolae (Drew & Hancock) (Diptera: Tephritidae) (CAB International 2007).

Lalat buah B. carambolae merupakan salah satu OPT pada buah. Lalat buah ini berperilaku polifag, banyak menyebabkan kerusakan pada berbagai buah seperti jambu biji (Psidium guajava L.) dan mangga (Mangifera indica L.), walaupun inang utamanya dilaporkan pada belimbing (Averrhoa carambola L.) dan jambu air (Syzygium samarangense (Blume) Merr. & L. M. Perry)) (Kapoor 2005; Siwi et al. 2006; Lemos et al. 2014). Berdasarkan daerah persebarannya, lalat buah ini merupakan serangga karantina penting berkaitan dengan ekspor buah-buahan (CAB International 2007). Dalam upaya membebaskan komoditas ekspor buah jambu biji dari infestasi lalat, maka tindakan eradikasi diberlakukan dalam peraturan karantina untuk menghindari perkembangan populasi lebih lanjut hingga pelabuhan tujuan (IPPC 2008; Hallman 2011).

Perlakuan eradikasi yang umum digunakan terhadap OPTK pada komoditas pertanian adalah fumigasi metil bromida (MB), namun berdasarkan Protokol Montreal, fumigan MB dikategorikan sebagai bahan perusak ozon. Oleh karena itu, International Standard Phytosanitary Measures (ISPM) merekomendasikan beberapa alternatif teknik perlakuan yang dapat dilakukan terhadap komoditas buah dan sayuran yang akan diekspor, antara lain: perlakuan udara panas, perlakuan air panas, perlakuan uap panas, perlakuan suhu dingin, dan perlakuan iradiasi. Perlakuan iradiasi merupakan salah satu tindakan perlakuan yang potensial untuk mengeradikasi lalat buah, menurut ISPM nomor 18 tahun 2003 tentang Guidelines for the Use of Irradiation as Phytosanitary Measures (petunjuk penerapan perlakuan iradiasi sebagai tindakan phytosanitary) yang dijadikan acuan standar tindakan kesehatan tanaman (phytosanitary) (IPPC 2008).

Perlakuan pemaparan sinar radioaktif (iradiasi) pancaran sinar gamma merupakan metode eradikasi yang cepat dan praktis diaplikasikan bagi buah kemasan ekspor, relatif tidak menyebabkan fitotoksisitas atau kerusakan bahan seperti pada perlakuan suhu panas dan dingin, dan tidak meninggalkan residu yang berbahaya seperti perlakuan fumigasi, sehingga relatif lebih aman terhadap

kesehatan dan lingkungan (Dόria et al. 2007; Follet et al. 2008; Hallman 2011). Besarnya paparan iradiasi biasanya dinyatakan dalam satuan dosis Gray (Gy). Hallman (2011) melaporkan bahwa beberapa negara telah mengadopsi metode perlakuan iradiasi untuk tindakan phytosanitary terhadap beberapa lalat buah, antara lain: Amerika Serikat, Australia, India, Pakistan, Thailand, dan Vietnam. Berdasarkan dokumen konvensi internasional standar penggunaan iradiasi, dosis minimum iradiasi untuk lalat buat Tephritidae adalah sebesar 150 Gy (Hallman 2012).

(17)

Mansour dan Franz (1996), iradiasi sinar gamma dapat menyebabkan sterilitas telur, kegagalan pembentukan pupa dan imago Ceratitis capitata pada buah mangga. Perlakuan dosis minimum iradiasi sinar gamma dilaporkan mampu menghambat perkembangan telur dan instar pradewasa, serta reproduksi imago Anastrepha spp., B. jarvisi, B. tryoni (Hallman dan Loaharanu 2002), dan perkembangan pupa C. capitata pada buah mangga (Torres-Rivera dan Hallman 2007). Iradiasi sinar gamma dilaporkan menghambat perkembangan pupa B. correcta (Puanmanee et al. 2010) dan menekan infestasi larva Ceratitis spp. dan Bactrocera sp. pada buah jambu biji (Dόria et al. 2007; Kabbashi et al. 2012).

Pengujian penerapan dosis perlakuan iradiasi sinar gamma untuk tindakan karantina terhadap B. carambolae pada buah jambu biji belum pernah dilaporkan di Indonesia, sehingga pengujian efikasi iradiasi terhadap keberadaan lalat tersebut perlu dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan dosis lethal dan mengevaluasi keefektifan dosis minimum iradiasi sinar gamma [60Co] untuk keperluan eradikasi lalat buah B. carambolae.

Rumusan Permasalahan

Perlakuan karantina yang umum diaplikasikan pada komoditas pertanian adalah fumigasi MB, namun dikarenakan sifatnya sebagai perusak ozon, maka dibutuhkan alternatif perlakuan lain. Iradiasi sinar gamma merupakan proses fisika yang dapat diterapkan untuk mengendalikan B. carambolae karena sifatnya yang efektif, tidak meninggalkan residu pada komoditas yang diberi perlakuan, dan relatif aman terhadap lingkungan. Iradiasi dapat digunakan sebagai alternatif perlakuan karantina pengganti fumigasi MB pada komoditas pertanian.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan menentukan dosis lethal dan dosis efektif iradiasi sinar gamma [60Co] untuk mengeradikasi lalat buah B. carambolae, serta mengamati implikasi terhadap sintasannya.

Hipotesis

Dosis efektif iradiasi sinar gamma [60Co] dapat diterapkan sebagai tindakan perlakuan untuk mengeradikasi B. carambolae pada komoditas buah jambu biji berdasarkan acuan dosis generik iradiasi sesuai dengan konvesi IPPC.

Manfaat Penelitian

(18)

TINJAUAN PUSTAKA

Buah Jambu Biji (Psidium guajava L.)

Klasifikasi Taksonomi

Buah jambu biji (Psidium guajava L.) adalah tanaman buah jenis semak atau perdu yang berasal dari Brazilia (Amerika tengah), kemudian menyebar dan dapat tumbuh di daerah tropis seperti Thailand dan negara benua Asia lainnya termasuk Indonesia (Popenoe 1974; Soetopo 1992). Klasifikasi taksonomi tanaman jambu biji adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta Sub. Divisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae Ordo : Myrtales Famili : Myrtaceae Genus : Psidium

Spesies : Psidium guajava L.

Pada awalnya, jambu biji di Indonesia ditanam sebagai tanaman pekarangan atau pembatas kebun saja sehingga tidak mendapat banyak perhatian. Kemudian di Pasar Minggu (Jakarta Selatan) tanaman ini ditanam dalam skala komersial. Pada tahun 1970-an mulai banyak ditanam jambu biji yang berukuran

besar, terkenal dengan sebutan “jambu Bangkok” (Semangun 1994).

Morfologi Tanaman

Tanaman jambu biji merupakan tanaman jenis perdu bercabang banyak yang memiliki batang berwarna hijau sampai merah muda dengan bentuk penampang membujur segiempat (Popenoe 1974; Rismunandar 1989; Soetopo 1992). Batang tua berbentuk bulat, berkayu keras, tidak mudah patah, kuat, padat, dan kulit batang licin berwarna coklat kemerahan dengan lapisan yang tipis dan mudah terkelupas jika sudah mengering. Apabila kulit batang dikelupas, maka akan terlihat bagian dalam batang berupa jaringan yang berwarna hijau dan sukulen (Ashari 2006; Parimin 2007).

Tanaman jambu biji dapat dibudidayakan dengan cara stek, okulasi, dan ditanam dari biji. Tanaman yang berasal dari hasil stek dan okulasi memiliki kanopi pendek dengan pola percabangan bebas dari bawah ke atas batang, dan sering tumbuh tunas liar di dekat pangkal batang. Tinggi tanaman dapat mencapai 3-10 m. Tanaman yang tumbuh dari biji biasanya berumur lebih panjang dibandingkan hasil stek dan okulasi. Tanaman tumbuh baik pada kondisi suhu 23-28 °C. Tanaman jambu biji berbunga dan berbuah sepanjang tahun. Umumnya umur tanaman dapat mencapai 30 hingga 40 tahun (Parimin 2007).

(19)

Bunga jambu biji berpangkal pada ketiak daun atau pada ujung ranting berjumlah satu atau dapat lebih dalam kelompok kecil. Jumlah bunga di setiap tangkai 1-3 bunga. Bunga jambu biji berwarna putih, berbau agak harum. Kelopak dan mahkota bunga masing-masing berjumlah lima helai. Waktu yang diperlukan dari kuncup hingga mekar penuh antara 14-29 hari. Bunga akan mekar penuh pada pagi hari (Sujiprihati 1985; Morton 1987; Parimin 2007). Bunga jambu biji termasuk bunga sempurna (hermaprodit) yaitu benang sari (sekitar 250 helai) dan putik terdapat pada satu bunga, sehingga pembuahan terjadi melalui penyerbukan. Ada pula yang tanpa penyerbukan (partenokarpi) yang menghasilkan buah tanpa biji. Penyerbukan bunga pada tanaman jambu biji dapat bersifat menyerbuk sendiri maupun menyerbuk silang (Sujiprihati 1985; Nakasone dan Paull 1999; Parimin 2007). Penyerbukan dapat terjadi melalui bantuan faktor luar seperti angin, serangga, dan manusia (Rismunandar 1989).

Buah jambu biji umumnya bervariasi dalam hal ukuran, bentuk, maupun warnanya. Ukuran diameter buah berkisar antara 2.5-10 cm. Buah jambu biji berbentuk bulat atau lonjong. Kulit buah berwarna hijau saat muda dan berubah menjadi kuning muda mengkilap setelah matang. Untuk jenis tertentu, kulit buah berwarna hijau berbelang kuning saat muda dan berubah menjadi kuning saat matang. Ada pula yang berkulit merah muda saat muda dan menjadi merah tua saat matang (Nakasone dan Paull 1999; Panhwar 2005; Parimin 2007). Variasi buah tersebut bergantung pada sifat bawaan (genetik), umur pohon, kesuburan tanah, dan ketersediaan air (Rismunandar 1989). Daging buah bagian luar bertekstur kasar, berwarna putih, kuning, merah muda, merah menyala, atau merah tua, dan rasanya asam hingga manis (Soetopo 1992; Parimin 2007). Daging buah bagian dalam bertekstur lunak, berwarna lebih gelap, berasa lebih manis dibanding daging luarnya, dan umumnya dipenuhi biji-biji yang keras berwarna kuning. Buah jambu biji matang 90 hingga 150 hari setelah pembungaan, hal ini bergantung pada kondisi suhu selama perkembangan buah serta varietas buah (Morton 1987).

Potensi Ekspor

Buah jambu biji pascapanen dapat bertahan disimpan sampai dengan 12 bulan pada kondisi suhu 8 °C dalam kelembapan rendah (Soetopo 1992; Ashari 2006). Buah jambu biji termasuk ke dalam buah-buahan unggulan ekspor Indonesia, selain buah lainnya seperti: pisang, nenas, alpukat, mangga, manggis, jeruk, pepaya, rambutan, duku (langsat), durian, semangka, dan melon (BPS 2014).

Bactrocera carambolae (Drew & Hancock)

Sistematika lalat buah B. carambolae

(20)

6

spesies ini dan sebelumnya sempat dikenal sebagai Bactrocera sp. near B. dorsalis (Siwi et al. 2006).

Lalat buah B. carambolae dikelompokkan ke dalam sistem tata nama sebagai berikut:

Kingdom : Animalia Divisi : Artropoda Sub. Divisi : Entognatha Kelas : Insecta Ordo : Diptera Famili : Tephritidae Genus : Bactrocera

Spesies : Bactrocera carambolae (Drew & Hancock)

Persebaran

Lalat buah B. carambolae diketahui tersebar di Malaysia, Thailand bagian tenggara, dan Indonesia bagian Barat (CAB International 2007). Lalat buah ini merupakan hama penting di Indonesia disamping spesies lainnya seperti B. albistrigata (de Meijere), B. caudata (Fabricius), B. cucurbitae (Conquillet), B. dorsalis Hendel, B. papayae (Drew and Hancock), B. umbrosa (Fabricius), dan Dacus longicornis (Orr 2002).

Status B. carambolae telah teridentifikasi meluas di beberapa kawasan benua Asia seperti: India terbatas di Kepulauan Andaman dan Nicobar, Thailand, Malaysia termasuk semenanjung Malaysia dan Sabah, Singapura, Brunei Darussalam, dan Indonesia terbatas di Jawa, Kalimantan, dan Nusa Tenggara. Persebaran serangga kini dilaporkan lebih meluas lagi ke beberapa kawasan terbatas di Amerika selatan seperti Guyana, French Guiana, Suriname dan Brazilia daerah Amapa. Namun, lalat ini ditetapkan sebagai hama karantina di Guyana (CAB International 2007).

Biologi dan Morfologi

B. carambolae memiliki tipe perkembangan sempurna (holometabola), yang terdiri atas telur, larva, pupa, dan imago. Siklus hidup B. carambolae membutuhkan waktu 14-27 hari dari telur hingga imago (Siwi et al. 2006).

Telur. Telur B. carambolae diletakkan oleh imago betina dengan cara disisipkan sebagian pada jaringan di bawah permukaan kulit buah yang telah matang. Bentuk telur silindris, berwarna putih, berukuran 0.8 × 0.2 mm. Salah satu ujung telur yang berbatasan dengan permukaan udara meruncing dan pada bagian tersebut terdapat lubang mikropil (Siwi et al. 2006). Stadia telur 2-4 hari. Imago betina dapat menghasilkan telur dengan kisaran 300 hingga 1000 butir (Ditlin Hortikultura 2006; Noor et al. 2011).

(21)

(Drew dan Lloyd 1987; Siwi et al. 2006; CAB International 2007). Larva instar 3 paling aktif makan dan membuat lubang pada jaringan buah tempat jalan keluar loncatan prepupa sebelum menjadi pupa di tanah. Larva instar 3 berukuran panjang 7.0-9.0 mm dan lebar 1.5-1.8 mm (White dan Harris 1994). Stadium larva berkisar antara 6-11 hari, setiap instar membutuhkan waktu dua hari atau lebih, bergantung jenis buah sebagai inangnya (Siwi et al. 2006; CAB International 2007). Menurut Noor et al. (2011), stadium larva pada buah jambu biji adalah sekitar 12 hari.

Pupa. Pupa B. carambolae bertipe eksarata terbungkus di dalam puparium. Puparium berbentuk oval, berukuran panjang 5-6 mm, berwarna kuning kecoklatan (Ditlin Hortikultura 2006). Stadium pupa berkisar antara 4-10 hari. Di alam, pupa terdapat pada tanah atau media tumbuh tanaman inang (Siwi et al. 2006; CAB International 2007; Noor et al. 2011).

Imago. Imago B. carambolae berwarna oranye kecoklatan dan berukuran 8-10 mm. Mata dan kepala berwarna coklat gelap. Bagian kepala terdapat bintik hitam di sekitar garis antena, 2-3 pasang seta di bagian depan (frons) kepala. Bagian toraks berwarna coklat gelap, scutum berwarna coklat kemerahan dengan garis lateral dan medial berwarna kuning, dan scutelum berwarna kuning. Postpronotal lobe berwarna kuning atau oranye pucat. Abdomen umumnya memiliki dua pola pita melintang dan satu pola pita membujur warna hitam atau bentuk huruf „T‟ yang jelas pada tergum III-V dengan garis hitam tipis melintang pada anterior margin dari tergum III dan melebar menutupi sisi bagian samping. Tergum V berwarna coklat kemerahan, memiliki sepasang bintik (ceromae) berbentuk oval berwarna coklat hingga oranye mengkilap. Ujung abdomen imago betina meruncing dan mempunyai alat peletak telur (ovipositor) yang cukup kuat untuk menembus kulit buah, sedangkan pada imago jantan ujung abdomennya membulat. Stadium imago berkisar antara 10 bulan hingga bertahun-tahun (Siwi et al. 2006; CAB International 2007).

Lalat buah B. carambolae dikenali dengan tanda khas ciri morfologi spesies yang ditunjukkan pada Gambar 1. Sayap tembus pandang (transparan) dengan panjang 12-15 mm dan terdapat bagian pola pita berwarna coklat buram mulai dari costa menuju ke ujung (apex) sayap. Letak pola pita ini sedikit melewati R2+3 dan sedikit melebar di ujung (apex) dari R2+3 yang juga melewati

ujung (apex) dari R4+5. Pola pita ini juga terdapat antara garis anal dan cubitus dan

vena melintang dm-cu (Siwi et al. 2006; CAB International 2007). Bagian preapical dari permukaan femur depan memiliki bintik hitam berbentuk jorong. Semua tibia berwarna hitam kecoklatan kecuali tibia tengah lebih pucat di bagian apical (Siwi et al. 2006; AQIS 2008; CAB International 2007).

Kisaran Inang

(22)

8

a

b c

d e f

Gejala Kerusakan

Imago B. carambolae betina meletakkan telur dalam jaringan buah tanaman atau terkadang juga dalam jaringan batang, sehingga larva yang keluar dari telur akan hidup dalam jaringan buah serta memakan jaringan buah tersebut. Tempat peletakan telur ditandai dengan adanya noda atau titik kecil hitam. Akibat aktivitas makan larva tersebut pada jaringan buah, bercak-bercak kecil pada daging buah akan berkembang menjadi bercak yang lebih luas dan berwarna kecoklatan. Selanjutnya larva akan merusak daging buah sehingga buah menjadi busuk dan gugur sebelum masak (sering disebut buah berulat). Buah yang gugur ini, apabila tidak segera dikumpulkan dan dimusnahkan, akan menjadi sumber infeksi atau perkembangan lalat buah generasi berikutnya. Pembusukan buah tersebut terjadi seiring berkembangnya bakteri yang terbawa bersama telur dari tubuh lalat. Pada umumnya B. carambolae lebih memilih buah matang, namun dapat juga menyerang buah yang masih muda terutama bila kondisi kelembapan tinggi. Hal ini dikarenakan buah matang memiliki berbagai kandungan nutrisi, seperti gula, asam, dan lain-lain dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan buah muda. Selain itu, pada buah muda lebih banyak terdapat kandungan senyawa fenol yang dapat bersifat racun bagi stadia pradewasa lalat buah (Drew dan Lloyd 1987; Siwi et al. 2006; CAB International 2007).

Pengendalian

Pengendalian lalat buah B. carambolae dibedakan menjadi pengendalian ketika buah masih di pertanaman (pre harvest) dan setelah buah dipanen (post harvest). Pengendalian ketika buah masih di pertanaman (pre harvest) dapat dilakukan melalui beberapa cara, diantaranya: mekanis (penyungkupan buah), sanitasi (membersihkan lahan dari sumber lalat buah), biologis (mendatangkan musuh alami), dan kimiawi (insektisida) (Siwi et al. 2006; CAB International 2007). Pengendalian pasca panen (post harvest) adalah semenjak buah dipanen sampai dengan hendak didistribusikan ke pasaran, termasuk diekspor. Teknik pengendalian yang dilakukan biasanya berupa perlakuan. Perlakuan buah untuk mengeradikasi lalat buah famili Tephritidae, meliputi: perlakuan udara panas, perlakuan air panas, perlakuan uap panas, perlakuan suhu dingin, dan perlakuan iradiasi. Teknik perlakuan harus disesuaikan dengan hama sasaran, komoditas buah, kondisi lingkungan, dan lain-lain (IPPC 2008).

(23)

Perlakuan Iradiasi

Radiasi adalah pancaran energi melalui suatu materi atau ruang dalam bentuk panas, partikel, atau gelombang elektromagnetik (foton) dari suatu sumber energi. Iradiasi adalah perlakuan pemaparan sinar terhadap suatu bahan untuk berbagai keperluan khusus, dimana besarnya paparan radiasi dapat ditentukan dalam suatu dosis tertentu. Dengan kata lain, iradiasi adalah suatu istilah yang digunakan untuk pemakaian energi radiasi secara terukur dan terarah (Batan 2008).

Pengendalian hama pasca panen dapat dilakukan dengan cara fisika, kimia, biologi dan sistem pengendalian hama terpadu. Sejak tahun 1986, teknik iradiasi sudah diterapkan sebagai perlakuan untuk membunuh atau mengeradikasi OPT suatu komoditas pertanian (Hallman 2012). Iradiasi yang berkaitan dengan pengendalian OPT pada komoditas pertanian dilakukan dengan cara memaparkan

sumber radioaktif (misalnya partikel alfa (α), partikel beta ( ), sinar gamma ( ), sinar X, atau berkas elektron) tanpa merusak kualitas materi. Partikel α dan memiliki daya tembus yang pendek dibandingkan sinar gamma, sinar X, dan berkas elektron (electron beam). Hal ini berarti daya rusak partikel α dan terhadap materi lebih tinggi dibandingkan sinar gamma, sinar X, dan berkas elektron (electron beam) (Batan 2008). Prinsip kerja antara sinar gamma dan sinar X berbeda, berkas sinar X terkonsentrasi pada arah yang sama (searah), sedangkan sinar gamma dipancarkan ke segala arah secara merata (Hallman 1999). Keefektifan penyinaran materi dipengaruhi oleh dosis lintasan penyinaran dari sumber radio aktif tertentu misalnya sinar gamma di dalam kamar contoh (sample chamber) yang berada dalam sistem instalasi mesin irradiasi sinar gamma (Gambar Lampiran 1).

Dampak perlakuan iradiasi akan muncul melalui fungsi ionisasi pada materi yang diberi penyinaran. Sinar yang dipancarkan akan menembus ke bagian dalam materi yang disinari dan akan merusak molekul sel organisme hidup di dalamnya (Crowder 1986). Muatan-muatan listrik yang dihasilkan memiliki potensi untuk mematikan organisme atau mikroorganisme sasaran, yakni melalui pemutusan DNA sel-sel organisme atau mikroorganisme sasaran secara langsung yang berakibat pada ketidakmampuan untuk bereplikasi atau berkembangbiak (Marnada 2010). Sasaran perlakuan sinar biasanya berpengaruh pada jaringan reproduksi serangga (Ferrier 2010; Kuswadi 2011).

ISPM nomor 18 tahun 2003 telah merekomendasikan iradiasi sebagai salah satu teknik yang dapat digunakan dalam tindakan karantina untuk kesehatan tumbuhan (phytosanitary). Variabel sasaran dalam perlakuan iradiasi meliputi: kematian (mortalitas), kegagalan perkembangan imago, kemandulan (sterilitas), dan sifat dorman (inaktivasi) (IPPC 2003).

(24)

10

Penerapan iradiasi terhadap komoditas pertanian biasanya berupa pemaparan gelombang elektromagnetik sinar gamma. Gelombang elektromagnetik sinar gamma dapat berasal dari beberapa unsur radioaktif, antara lain Cobalt [60Co], Cesium [137Cs], sinar X berenergi lebih dari 50 MeV, dan mesin berkas elektron berenergi lebih dari 10 MeV (Kuswadi 2008). Seperti yang telah diketahui bahwa besarnya paparan perlakuan iradiasi dinyatakan dalam suatu dosis. Dosis iradiasi yaitu jumlah energi radiasi yang diserap kedalam bahan, untuk setiap jenis bahan diperlukan dosis khusus untuk memperoleh hasil yang diinginkan (Hermana 1991). Dosis iradiasi dikenal dengan istilah Gray (Gy) (Batan 2008). Metode pengukuran besarnya dosis yang diserap oleh suatu materi (serangga, buah, dan lain-lain) dikenal dengan istilah dosimetri (McLauhlin et al. 1989).

Sejak tahun 1986 banyak laporan penelitian yang merekomendasikan dosis iradiasi untuk serangga hama. Dosis yang direkomendasikan bersifat generik dimana suatu dosis iradiasi berlaku untuk suatu kelompok serangga hama tertentu (Tephritidae, Curculionidae, Agromyzidae, Lepidoptera, Hemiptera, dan lain-lain) (Hallman 2012). Menurut data yang dilaporkan Hallman (2012) terdapat beberapa dosis generik di antaranya: IPPC merekomendasikan dosis generik 150 Gy untuk lalat buah Tephritidae. Mitcham (1999) melaporkan negara USA mempersyaratkan dosis iradiasi 250 untuk lalat buah pada komoditas jambu biji yang masuk ke negara bagian California. United States Department of Agriculture - Animal and Plant Health Inspection Service (USDA-APHIS) merekomendasikan dosis generik 400 Gy untuk seluruh serangga kecuali pupa dan larva Lepidoptera. IPPC tahun 2011 merekomendasikan dosis generik 165 Gy untuk serangga hama famili Curculionidae. Puanmanee et al. (2010) melaporkan bahwa dosis iradiasi sinar gamma 30 Gy dapat menyebabkan sterilitas B. correcta 98.37%. ISPM nomor 28 tahun 2007 tentang Phytosanitary Treatments for Regulated Pests annex 14 merekomendasikan bahwa dosis 100 Gy dapat mencegah munculya imago C. capitata (IPPC 2007).

Berdasarkan prinsip dosis generik tersebut, beberapa negara mempersyaratkan tindakan perlakuan iradiasi pada komoditas pertanian yang dilalulintaskan dengan sasaran utama OPTK yang terdapat pada komoditas tersebut. Australia menerapkan tiga dosis generik yakni pada komoditas mangga dan pepaya yang diekspor ke New Zealand (250 Gy), mangga ke Malaysia (300 Gy), dan lychee ke New Zealand (350 Gy). Hal ini dikembangkan untuk pelaksanaan ekspor dari Australia ke negara tertentu yang mempersyaratkan. Dosis minimum 300 Gy untuk komoditas mangga yang dikirimkan ke Malaysia lebih tinggi dibandingkan ke New Zealand, yakni 250 Gy, karena negara Malaysia mempersyaratkan hal tersebut. Dosis generik 350 Gy untuk lychee ke New Zealand bertujuan untuk mencegah salah satu spesies tungau pada lychee yang belum terdapat di New Zealand (Hallman 2012).

(25)

Dosis iradiasi dapat mempengaruhi kualitas komoditas pertanian atau bahan makanan yang diberi penyinaran. World Health Organization (WHO) pada tahun 1992 menyatakan bahwa makanan hasil iradiasi bahan pangan di bawah dosis 10 KGy dinyatakan aman dari infestasi OPT dan masih memiliki kandungan gizi yang layak. Bahan pangan yang telah diberi perlakuan iradiasi akan diberi label (Delincee 1998; IPPC 2003; Ferrier 2010).

Iradiasi sebagai Alternatif Tindakan Perlakuan Karantina

ISPM nomor 18 tahun 2003 merupakan salah satu kebijakan yang merekomendasikan teknik iradiasi sebagai salah satu tindakan perlakuan karantina. Parameter sasaran perlakuan iradiasi meliputi kematian (mortalitas), kegagalan perkembangan imago, kemandulan (sterilitas), dan sifat dorman (inaktivasi) (IPPC 2003). Perlakuan iradiasi mulai banyak diminati karena memiliki beberapa keunggulan antara lain: aplikasi cepat, dapat diaplikasikan pada komoditas dalam kemasan, tidak bersifat meninggalkan residu bahan kimia (non residual), dan berbagai jenis buah toleran pada aplikasi dosis yang sesuai (Hallman dan Martinez 2001; Kuswadi 2008). Pada tahun 1986, badan pengawasan obat dan makanan Amerika (Food and Drug Administration) telah menyatakan keamanan perlakuan iradiasi hingga 1000 Gy pada buah-buahan dan sayuran. Penggunaan iradiasi pada buah-buahan dan sayuran diketahui bertujuan memperpanjang masa simpan dan mengurangi pembusukan karena iradiasi efektif dalam membunuh, mensterilkan atau mencegah perkembangan lebih lanjut berbagai hama serangga penting karantina (Mitcham 1999). Implementasi perlakuan iradiasi di Indonesia telah dikembangkan terhadap bahan pangan dengan tujuan mengeradikasi OPT dan memperpanjang masa simpan. Dosis perlakuan iradiasi terhadap buah segar berkisar antara 150 hingga 1000 Gy untuk tujuan eradikasi OPT, sedangkan dosis 1000 hingga 7000 Gy dapat diterapkan pada rempah-rempah dan sayuran kering untuk tujuan memperpanjang masa simpan dan mencegah pembusukan akibat mikroorganisme (Irawati 2008).

(26)

METODE

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Phytosanitary, Pusat Aplikasi Isotop Radioaktif - Badan Tenaga Nuklir Nasional (PAIR-Batan), Jakarta. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Agustus 2014 sampai dengan Desember 2014.

Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian terdiri atas lalat buah spesies B. carambolae, buah jambu biji (P. guajava) berdaging buah merah muda (pink guava), sumber iradiasi sinar gamma [60Co], pakan buatan untuk perbanyakan lalat buah (Tabel 1), dan bahan laboratorium lainnya. Lalat buah diperoleh dari hasil pembiakan massal di Laboratorium Fitosanitari, PAIR-Batan, Jakarta.

Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian terdiri atas perangkat iradiator gamma chamber 4000 A BRIT‟s Laboratory Irradiators milik PAIR-Batan, instalasi tahun 1992 (kapasitas 4 liter atau 4000 cc dengan sumber radiasi gamma [60Co] Shelf shield/portable dengan laju dosis 45.0763 krad/jam) (Gambar 2), kurungan lalat buah, peralatan pakan lalat buah, miskroskop stereo, dan alat laboratorium lainnya.

a

b

c

(27)

Prosedur

Persiapan Penelitian

Persiapan media pemeliharaan. Buah jambu biji, P. guajava, berdaging buah merah muda (pink guava) dengan kematangan 75% diambil dari perkebunan petani di daerah Bojong Gede, Jawa Barat. Buah jambu biji dibungkus di dalam kantung plastik, kemudian disimpan di dalam lemari es pada suhu 15 °C. Buah dengan umur simpan satu hari digunakan sebagai media peneluran lalat pada pengujian in vitro.

Pemeliharaan dan perbanyakan serangga uji. Serangga uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah spesies lalat buah B. carambolae yang diperoleh dari stok pemeliharaan di Laboratorium Fitosanitari, PAIR-Batan. Lalat buah kemudian dipelihara di laboratorium yang sama. Pemeliharaan dan perbanyakan lalat buah dilakukan dengan metode pembiakan massal mengacu pada teknik yang telah dimodifikasi oleh Kuswadi et al. (1999).

Dalam rangkaian kegiatan perbanyakan lalat buah dilakukan beberapa kegiatan, di antaranya: pemeliharaan telur, pemeliharaan larva, pemeliharaan pupa, dan pemeliharaan imago. Khusus untuk pemeliharaan larva, diperlukan media pakan buatan yang diformulasikan khusus seperti tertera pada Tabel 1. Pemeliharaan lalat buah dilakukan dalam kondisi suhu ± 26 °C dan kelembapan nisbi 70%.

Tabel 1 Komposisi bahan media pakan buatan larva lalat buah B. carambolae

Bahan Satuan

Bekatul gandum (Wheat germ) 223.00 g

Ragi roti 28.00 g

Gula tebu 1000.00 g

Sodium benzoat 0.79 g

Nipagin 0.79 g

HCl (sampai pH 4-4.5) 0.75 g

Air 0.60 ml

Sumber: Kuswadi et al. (1999).

Kurungan perbanyakan terbuat dari terbuat dari kawat kasa pada bagian samping dan atas, sedangkan bagian bawah dan belakang terbuat dari triplek. Imago yang terbentuk dipelihara hingga bertelur dan menghasilkan telur yang usianya sama (homogen) dalam jumlah yang besar dengan pemberian pakan buatan. Bagian dalam kurungan dipasang rumbai-rumbai kertas secukupnya, sebagai tempat hinggap lalat. Dinding depan berbentuk pintu untuk memasukkan pupa dan makanan lalat. Pada pintu/dinding tersebut dibuat dua buah lubang bulat berukuran diameter 5 cm, tempat pemasangan botol pengumpul telur (Gambar 3).

(28)

14

Gambar 3 Perangkat pemeliharaan dan perbanyakan lalat buah:

(a) kurungan; (b) tempat tabung peneluran; (c) tabung peneluran; (d) ayakan pupa

kelembapan di dalam botol, sehingga telur yang diletakkan tidak mengalami kekeringan. Botol dipasang pada pagi hari (mulai 08:00) selama 24 jam. Telur diletakkan oleh imago lalat buah betina dengan ovipositornya kedalam lubang-lubang pada dinding botol tersebut. Panen telur dilakukan pagi hari berikutnya. Telur dikumpulkan dengan cara membasuh permukaan dalam botol, dan menampungnya di atas nampan, kemudian disaring. Massa telur yang dihasilkan dapat diukur secara volumetrik, satu cc telur berisi ± 18 000 butir.

Pemeliharaan larva lalat buah dilakukan pada media pakan buatan. Media pakan buatan sebanyak 1.5 kg ditempatkan dalam sebuah nampan plastik berukuran 20 cm × 30 cm × 4 cm sehingga membuat lapisan setebal ± 2.5 cm. Sebanyak 1.5-2.0 cc massa telur lalat buah diinokulasikan pada permukaan media pakan buatan secara merata. Nampan-nampan yang telah diinokulasi diletakkan berlapis-lapis di dalam rak yang berada dalam ruangan dengan suhu 26-27 ºC. Proses inkubasi telur dilakukan sampai berkembang menjadi larva instar 3. Stadia larva lalat buah membutuhkan waktu 5-7 hari pada media pakan buatan sebelum membentuk pupa. Larva instar 3 yang hendak berpupa akan melenting keluar pakan sehingga dibutuhkan serbuk gergaji kayu sebagai media pupasi. Pupa yang terbentuk dipisahkan dengan cara diayak dengan ayakan halus berukuran panjang 25 cm dan lebar 20 cm.

a

b

c

(29)

Pemeliharaan pupa lalat buah dilakukan dengan terlebih dahulu memisahkan pupa ke dalam wadah tersendiri yakni nampan plastik. Selanjutnya Pupa tersebut dimasukkan ke dalam kurungan imago berbahan kain kasa berukuran 20 cm × 20 cm × 20 cm dan diinkubasikan selama 10 hari sampai berkembang menjadi imago dan menghasilkan telur kembali.

Pengujian pendahuluan oviposisi B. carambolae

Pengujian terdiri atas: pengujian periode oviposisi (siang hari dan malam hari) dan pengujian oviposisi dengan kombinasi waktu dan jumlah pasangan imago lalat buah. Tujuan pengujian ini adalah menentukan jumlah pasangan imago dan waktu oviposisi yang digunakan pada perlakuan iradiasi in vivo. Pertama-tama permukaan buah jambu biji dibagi menjadi tiga area terdiri atas: bagian pangkal, tengah, dan ujung buah. Area tersebut dibatasi menggunakan parafilm. Permukaan daging buah pada setiap area tersebut dibuat pelukaan (berupa lubang tusukan) menggunakan jarum steril sebanyak masing-masing lima lubang. Setelah itu, dipilih 15 pasang imago berumur 10 hari yang siap kopulasi pada suatu kurungan imago berukuran sama seperti di atas. Lalat buah tersebut diasumsikan telah berkopulasi pada hari ke-7. Menurut Dumalang dan Lengkong (2011), kematangan seksual Bactrocera sp. adalah pada saat umur imago 10-14 hari setelah keluar dari pupa.

Setelah imago betina siap meletakkan telur (umur 17 hari), lalat buah jantan dikeluarkan dari dalam kurungan dan dimasukkan satu buah jambu biji tersebut ke dalam kurungan. Imago betina dibiarkan melakukan oviposisi pada buah jambu biji tersebut pukul 05:00-17:00 (pengujian oviposisi siang hari) dan pukul 19:00-06:00 (pengujian oviposisi malam hari). Masing-masing perlakuan dilakukan sebanyak lima kali ulangan. Setelah periode oviposisi maka buah jambu biji dikeluarkan dari kurungan. Variabel pengamatan meliputi jumlah telur pada lubang di bagian pangkal, tengah, dan ujung buah. Metode perlakuan ini merujuk pada penelitian Putri (2014).

Pengujian periode dan lokasi oviposisi B. carambolae

Setiap 5 pasang, 10 pasang, dan 15 pasang imago lalat buah B. carambolae berumur 10 hari yang siap kawin masing-masing dimasukkan ke

dalam kurungan imago berisi media oviposisi berupa jambu biji yang telah dibungkus parafin dan diberi penususkan seperti di atas. Setelah imago betina siap meletakkan telur (umur 17 hari), lalat buah jantan dikeluarkan dari dalam kurungan dan dimasukkan satu buah jambu biji tersebut ke dalam kurungan. Imago betina dibiarkan melakukan oviposisi pada buah jambu biji tersebut mulai pukul 06:00. Pemaparan oviposisi dilakukan selama 1, 2, dan 3 jam berturut-turut untuk 5, 10, dan 15 pasang. Masing-masing perlakuan dilakukan sebanyak lima kali ulangan.

(30)

16

Perlakuan Iradiasi terhadap Telur dan Larva Instar 3 In Vitro

Telur lalat buah B. carambolae berumur satu hari diisolasi dari populasi stok perbanyakan dan diletakkan di permukaan kertas saring basah. Telur yang berada di atas kertas saring basah tersebut dihitung dengan bantuan mikroskop stereo dan kaca pembesar serta alat bantu hitung tangan secara hati-hati dengan meminimalisir kontak fisik pada telur. Telur yang akan diberi perlakuan dipilih hingga mencapai 100 butir. Kertas berisi setiap seratus butir telur diletakkan di permukaan media pakan buatan yang berada di dalam sebuah kotak plastik bertutupkan kain kasa, berukuran 8 cm × 8 cm × 5 cm.

Media pakan buatan berupa campuran bahan-bahan dan komposisi seperti tertera pada Tabel 1. Wadah plastik berisi media pakan buatan yang telah mengandung telur lalat buah ditutup dengan kain kasa. Metode yang digunakan merujuk pada Kuswadi dan Indarwatmi (2010) serta Puanmanee et al. (2010). Penghitungan jumlah telur yang tidak menetas dilakukan pada hari ke-4 setelah oviposisi.

Perlakuan iradiasi pada telur lalat buah secara in vitro ini dilakukan 24 jam setelah proses inokulasi telur pada media pakan buatan (umur telur satu hari), sedangkan perlakuan pada larva instar 3 dilakukan lima hari setelah proses inokulasi karena pada hari ke-5 telur lalat buah akan berkembang menjadi larva instar 3 (Putri 2014). Setiap wadah media pakan buatan yang telah berisi telur dan larva uji di dalamnya, satu persatu dimasukkan ke dalam mesin iradiator. Dosis perlakuan iradiasi sinar gamma [60Co] yang diberikan meliputi 0, 30, 50, 75, 100, 125, 150, 175, 200, 300, 450, dan 600 Gy masing-masing sebanyak tiga kali ulangan. Besaran dosis perlakuan di atas disetarakan dengan waktu pemaparan yang secara otomatis ditera oleh mesin iradiator (Tabel 2).

Segera setelah selesai penyinaran, media pakan buatan mengandung serangga uji dikeluarkan dari mesin iradiator. Kain kasa penutup dibuka dan wadah berisi media pakan buatan ditempatkan dalam tabung plastik berukuran diameter 15 cm dan tinggi 20 cm yang berisi serbuk gergaji kayu sebagai alas

Gambar 4 Skema pengujian oviposisi B. carambolae Pembagian area permukaan

buah

Lokasi oviposisi melalui penusukan buah

Pemaparan media oviposisi di dalam kurungan pangkal

tengah

(31)

wadah. Tabung tersebut juga ditutup dengan kain kasa lalu ditempatkan di dalam ruangan suhu ± 26 °C dan kelembapan nisbi ± 70%.

Pengamatan perkembangan telur dilakukan 24 jam setelah perlakuan (dengan asumsi bahwa telur mulai menetas menjadi larva instar 1) sedangkan pengamatan perkembangan larva instar 3 dilakukan mulai hari ke-4 setelah perlakuan (dengan asumsi bahwa lalat buah mulai berkembang menjadi pupa). Larva yang berhasil hidup akan berpindah dari media pakan ke dalam serbuk gergaji untuk berpupa yang selanjutnya diamati keberhasilan hidup imagonya. Tabel 2 Waktu pemaparan berdasarkan dosis perlakuan iradiasi

No. Dosis Waktu pemaparan

1 10 Gy 1 menit 19 detik

2 20 Gy 2 menit 39 detik

3 30 Gy 3 menit 59 detik

4 40 Gy 5 menit 19 detik

5 50 Gy 6 menit 39 detik

6 60 Gy 7 menit 59 detik

7 70 Gy 9 menit 19 detik

8 80 Gy 10 menit 38 detik

9 90 Gy 11 menit 58 detik

10 100 Gy 13 menit 18 detik

11 150 Gy 19 menit 57 detik

12 200 Gy 26 menit 37 detik

13 300 Gy 39 menit 55 detik

14 400 Gy 53 menit 14 detik

15 600 Gy 79 menit 51 detik

Ket: iradiator gamma chamber 4000 A, laju dosis 45.0763 krad/jam.

Selanjutnya jumlah larva yang gagal membentuk pupa dan pupa yang ganti kulit (eklosi) menjadi imago dihitung dengan membongkar media pakan buatan dan serbuk gergaji di akhir percobaan. Perubahan morfologi telur dan larva akibat iradiasi juga diamati.

Pupa yang terbentuk dihitung setiap hari pengamatan dengan cara diayak menggunakan ayakan berkasa halus berukuran 25 cm × 20 cm. Pupa yang telah dihitung ditempatkan pada kurungan imago sampai eklosi. Skema perlakuan iradiasi terhadap telur dan larva instar 3 secara in vitro tertera pada Gambar 5. Variabel pengamatan yang diamati adalah persentase kematian (mortalitas) telur dan larva instar 3, dan sintasan stadia pupa serta imago berdasarkan rumus di bawah ini:

Perlakuan Iradiasi terhadap Telur dan Larva Instar 3 In Vivo

Media oviposisi yang digunakan pada penelitian ini berupa buah jambu biji yang pada permukaan ujung buahnya terbuka atau tidak terbungkus plastik

Jumlah telur/larva instar 3 mati/pupa mati

% Mortalitas = ---

Jumlah seluruh telur/larva instar 3/pupa

(32)

18

parafilm sesuai hasil pengujian pendahuluan. Setiap 15 pasang imago lalat buah berumur 17 hari setelah eklosi (yang merupakan periode awal peletakan telur) dimasukkan ke dalam kurungan kasa yang telah berisi media oviposisi berupa buah uji.

Jumlah pasangan imago yang dilepas dan variasi lamanya waktu pemaparan disesuaikan berdasarkan hasil pengamatan oviposisi lalat buah terbanyak pada pengujian pendahuluan. Perlakuan pemaparan imago ini merujuk pada metode yang diuraikan Odai et al. (2014).

1. Panen telur dari tabung peneluran

2. Penampungan telur 3. Peletakkan telur di kertas saring

4. Peletakkan kertas saring (yang terdapat telur) pada pakan buatan

5. Media pakan buatan ditutup kain kasa 6. Perlakuan iradiasi :

- dilakukan setelah 24 jam inkubasi - dilakukan setelah lima

hari inkubasi (perlakuan larva instar 3)

7. Penghitungan persentase penetasan telur: - setelah perlakuan

(perlakuan telur) - sebelum perlakuan

(perlakuan larva instar 3)

8. Media pakan

mengandung telur dalam tabung plastik dialasi serbuk gergaji)

9. Tabung plastik (poin no.8) ditutup kain kasa dan ditempatkan pada rak

10.Pengamatan

perkembangan lalat buah 11. Pupa yang muncul

ditempatkan dalam wadah khusus 12.Pupa ditempatkan dalam

kurungan kasa untuk pengamatan imago

(33)

Pemaparan dilakukan selama tiga jam, mulai pukul 06.00 hingga 09.00 untuk memberi kesempatan imago meletakkan telurnya. Setelah selesai pemaparan, buah yang telah diteluri dikeluarkan dari kurungan kasa dan siap digunakan untuk perlakuan iradiasi sinar gamma. Perlakuan iradiasi pada telur lalat buah secara in vivo ini diberikan 24 jam setelah proses inokulasi telur pada media buah, sedangkan perlakuan pada larva instar 3 dilakukan lima hari setelah proses inokulasi. Setiap wadah media pakan buatan yang telah berisi telur dan larva uji di dalamnya, satu persatu dimasukkan ke dalam mesin iradiator. Dosis perlakuan iradiasi sinar gamma [60Co] yang diberikan berturut-turut adalah: 0, 30, 50, 75, 100, 125, 150, 175, 200, 300, 450, dan 600 Gy, masing-masing dilakukan empat kali ulangan. Segera setelah selesai penyinaran, buah jambu biji dikeluarkan dari mesin iradiator. Kain kasa penutup dibuka dan buah ditempatkan dalam tabung plastik bertutupkan kain kassa, berukuran diameter 15 cm dan tinggi 20 cm yang dialasi serbuk gergaji kayu. Kemudian tabung tersebut ditempatkan di dalam ruangan pada suhu ± 26 °C dan kelembapan nisbi ± 70%.

Pengamatan perkembangan telur dilakukan 24 jam setelah perlakuan (dengan asumsi bahwa telur mulai menetas menjadi larva instar 1) sedangkan pengamatan perkembangan larva instar 3 dilakukan mulai hari ke-4 setelah perlakuan (dengan asumsi bahwa lalat buah mulai berkembang menjadi pupa). Larva yang berhasil hidup akan berpindah dari buah ke dalam serbuk gergaji untuk berpupa yang selanjutnya diamati keberhasilan hidup imagonya. Jumlah larva yang gagal membentuk pupa dan pupa yang ganti kulit (eklosi) menjadi imago dihitung dengan membongkar buah dan serbuk gergaji di akhir percobaan. Perubahan morfologi telur dan larva akibat iradiasi juga diamati.

Pupa yang terbentuk dihitung setiap hari pengamatan dengan cara diayak menggunakan ayakan berkasa halus berukuran 25 cm × 20 cm. Pupa yang telah dihitung ditempatkan pada kurungan kasa berukuran 20 cm × 20 cm × 20 cm sampai berkembang menjadi imago. Skema perlakuan iradiasi terhadap telur dan larva instar 3 secara in vivo tertera pada Gambar 6. Variabel pengamatan yang diamati adalah persentase kematian (mortalitas) telur dan larva instar 3, dan sintasan stadia pupa serta imago berdasarkan rumus sama seperti di atas.

Analisis Data

Setelah didapatkan data hasil pengujian, maka dilakukan pengolahan dan analisis data. Data mortalitas dan perkembangan pradewasa ditabulasi pada program komputer Microsoft Excel 2007, kemudian dianalisis pada program Minitab versi 16 dengan menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL). Untuk membedakan rata-rata hasil perlakuan iradiasi, persentase data kegagalan pembentukan pupa dan imago ditransformasi menggunakan arcsin untuk menormalisasikan distribusi dalam analisis ANOVA, dilanjutkan dengan uji Tukey pada tingkat kepercayaan 95%. Penentuan dosis lethal yang menyebabkan kematian (mortalitas) pada tingkat 50% (LD50) dan pada tingkat 99% (LD99)

diukur melalui analisis probit menggunakan program SAS (SAS Institute 2002). Data mortalitas perkembangan pradewasa dikoreksi menggunakan formula

(34)

20

HASIL DAN PEMBAHASAN

2. Buah ditutup parafilm, kecuali pada bagian yang ditusuk

1. Bagian bawah buah dibuat sebanyak 5 tusukan menggunakan jarum steril

3. Buah dimasukkan ke dalam kurungan lalat buah untuk inokulasi alami telur

4. Setelah 3 jam inokulasi, buah dikeluarkan dari kurungan

5. Pengamatan dan pemberian tanda pada tusukan yang diteluri oleh lalat buah

6. Perlakuan iradiasi: - dilakukan setelah 24 jam

(perlakuan telur) - - dilakukan setelah 5 hari

(perlakuan larva instar 3)

7. Penghitungan persentase penetasan telur (4 hari setelah perlakuan, untuk perlakuan telur)

8. Buah ditempatkan dalam tabung plastik dialasi serbuk gergaji

9. Tabung plastik (poin no.8) ditutup kain kasa dan ditempatkan pada rak

10.Pengamatan

perkembangan lalat buah 11.Pupa yang muncul

ditempatkan dalam wadah khusus

12.Pupa ditempatkan dalam kurungan kasa untuk pengamatan imago

(35)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Periode dan Lokasi Oviposisi B. carambolae

Dalam pengujian iradiasi untuk kepentingan karantina terdapat beberapa metode inokulasi antara lain: (1) pemeliharaan, inokulasi dan iradiasi lalat buah dalam media pakan buatan atau secara in-vitro, (2) inokulasi buatan dengan pemindahan lalat buah dari media pakan buatan ke dalam media buah atau in-situ, dan (3) inokulasi telur secara alami dengan oviposisi lalat buah (Hallman dan Loaharanu 2002). Di antara ketiga metode tersebut, Hallman dan Thomas (2010) menyebutkan bahwa metode yang paling akurat adalah metode yang mendekati kondisi alami, yakni melalui oviposisi langsung oleh lalat buah betina walaupun kelemahannya adalah tidak diketahui jumlah telur yang diinokulasikan secara tepat

Dalam penelitian perlakuan iradiasi terhadap telur dan larva instar 3 B. carambolae selain secara in vitro juga dilakukan secara in vivo dengan metode inokulasi telur secara alami melalui oviposisi lalat pada buah jambu biji. Oleh karena itu, untuk mendapatkan teknik oviposisi yang efektif dan efisien terlebih dahulu dilakukan pengujian oviposisi imago B. carambolae berdasarkan waktu pemaparan oviposisi (perbandingan waktu siang dan malam hari), jumlah imago (perbandingan jumlah pasangan imago jantan dan betina), dan berapa lama pemaparan oviposisi pada buah.

Hasil pengujian oviposisi berdasarkan waktu menunjukkan imago betina B. carambolae lebih memilih siang hari untuk melakukan peletakkan telur (Tabel 3). Rata-rata jumlah telur yang diletakkan per satu ekor imago betina selama 12 jam pada siang hari jauh lebih besar dibandingkan malam hari yakni berturut-turut sebesar 13.2 dan 0.3 butir. Pada pengujian yang dilakukan tidak mengamati perilaku dan waktu kopulasi, melainkan waktu optimal oviposisi. Dumalang dan Lengkong (2011) melaporkan bahwa waktu optimal kopulasi B. dorsalis adalah pukul 17:00-18:00, sedangkan Rattanapun et al. (2009) mengobservasi perilaku oviposisi optimal mulai pukul 07.00-17:00.

Setelah diketahui bahwa siang hari merupakan waktu yang lebih disukai oleh imago lalat buah betina B. carambolae untuk melakukan oviposisi maka dilakukan pengujian oviposisi berdasarkan jumlah imago, waktu pemaparan oviposisi, dan lokasi buah mana yang paling disukai oleh imago untuk meletakkan telur. Hasil pengujian menunjukkan jumlah imago 15 pasang dan waktu 3 jam merupakan kombinasi yang menghasilkan jumlah telur yang optimal untuk pengujian secara in vivo. Hasil pengujian menunjukkan jumlah telur pada kombinasi jumlah pasangan imago 15 ekor dan pemaparan oviposisi selama 3 jam pada pukul 06:00-09:00 lebih tinggi dibandingkan jumlah pasangan imago 10 ekor selama 2 jam dan 5 ekor selama 1 jam (Tabel 4). Rata-rata jumlah telur yang diletakkan per satu ekor imago betina padakombinasi 5 1 jam, 10 pasang-2 jam, dan 15 pasang-3 jam berturut-turut adalah 1.9, 3.1, dan 3.8 butir. Putri (2014) melaporkan bahwa kombinasi yang optimal untuk mendapatkan telur B. papayae pada suatu percobaan in vivo pada buah mangga gedong adalah 15 pasang imago selama 3 jam, yaitu pada pukul 06:00-09:00.

(36)

22

buah) (Tabel 4). Pengujian oviposisi menggunakan 5 pasang imago selama 1 jam menunjukkan jumlah telur per satu ekor imago betina pada bagian pangkal, tengah, dan ujung buah berturut-turut adalah 0.6, 0.6, dan 0.8 butir. Pengujian pemaparan oviposisi dengan 10 pasang imago selama 2 jam menunjukkan jumlah telur per satu ekor imago betina pada bagian pangkal, tengah, dan ujung buah adalah 0.6, 1.2, dan 1.3 butir. Pengujian pemaparan oviposisi dengan 15 pasang imago selama 3 jam menunjukkan jumlah telur per satu ekor imago betina pada bagian pangkal, tengah, dan ujung buah adalah 0.0, 0.2, dan 0.5 butir. Bagian ujung buah merupakan bagian buah yang lebih cepat masak dan memiliki permukaan buah yang lebih lunak dibandingkan dengan area tengah atau pangkal buah. Rattanapun et al. (2009) melaporkan bahwa B. dorsalis lebih memilih buah mangga masak yang memiliki permukaan lebih lunak dan kadar air tinggi. Selain itu, kandungan senyawa gula, pati, dan asam yang lebih banyak terdapat pada tekstur buah masak memberi pengaruh terhadap kesukaan B. dorsalis. Adanya senyawa fenol yang bersifat toksik bagi perkembangan telur lebih banyak terdapat pada tekstur buah mentah.

Tabel 3 Periode oviposisi B. carambolae

No. Waktu oviposisi Rata-rata jumlah telur

(butir/ betina/12 jam)

1. Siang hari 13.2 ± 2.4 a

2. Malam hari 0.3 ± 0.1 b

Rata-rata jumlah yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata berdasarkan uji tukey dengan taraf 5%.

Tabel 4 Kapasitas peneluran B. carambolae berdasarkan kombinasi pelepasan pasangan dan lama pemaparan imago

No.

Kombinasi perlakuan imago

dan lama pemaparan

Rata-rata jumlah telur

(butir) Rata-rata jumlah telur (butir/betina/jam) Pangkal Tengah Ujung

1. 5 pasang, 1 jam 0.6 0.6 0.8 1.9 ± 0.9 a 2. 10 pasang, 2 jam 0.6 1.2 1.3 3.1 ± 3.4 b 3. 15 pasang, 3 jam 0.0 0.2 0.5 3.8 ± 2.0 b Rata-rata jumlah yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata berdasarkan uji tukey dengan taraf 5%.

(37)

Gambar 7 Telur B. carambolae pada buah jambu biji: (a) tampak luar; (b) irisan membujur lubang tusukan; (c) kelompok telur

Pengaruh Iradiasi terhadap Mortalitas Telur dan Larva Instar 3

Hasil pengujian menunjukkan bahwa dosis iradiasi sinar gamma [60Co] berpengaruh sangat nyata terhadap mortalitas telur dan larva instar 3. Berdasarkan hasil pengujian iradiasi sinar gamma in vitro dan in vivo terhadap B. carambolae diketahui bahwa semakin tinggi dosis iradiasi yang diaplikasikan menyebabkan semakin tinggi tingkat kematian telur dan larva instar 3. Tingkat mortalitas telur dan larva instar 3 secara in vitro dan in vivo dapat dilihat pada Tabel 5.

Hasil kedua pengujian in vitro maupun in vivo menunjukkan bahwa dosis perlakuan iradiasi terendah 30 Gy terhadap telur berturut-turut telah menunjukkan tingkat kematian telur 47.0% dan 35.8% yang nyata lebih tinggi dibandingkan kontrol. Tingkat mortalitas telur nyata tertinggi dicapai mulai dosis 300 Gy sebesar 99.7% hingga 98.8% dan pada dosis 450 Gy lebih tinggi lagi yakni tidak satupun telur yang hidup dan berkembang. Kemampuan iradiasi dalam menekan penetasan telur lalat buah B. carambolae relatif hampir mirip terjadi pada dosis terendah yang diaplikasikan oleh Mansour & Franz (1996) yang melaporkan bahwa dosis 20 Gy perlakuan in vivo telah dapat menekan penetasan telur lalat C. capitata pada buah mangga.

Hasil percobaan iradiasi sinar gamma terhadap larva instar 3 menunjukkan tingkat ketahanan yang relatif meningkat dibandingkan terhadap telur. Tingkat kematian larva pada perlakuan in vitro maupun in vivo dengan nilai setara atau relatif sedikit lebih tinggi dari tingkat kematian telur, yaitu 50.3% dan 53.9% berturut turut terjadi pada perlakuan dosis iradiasi sinar gamma sebesar 200 Gy dan 300 Gy. Menurut Hallman dan Loaharanu (2002), tingkat toleransi serangga terhadap iradiasi pada umumnya meningkat seiring dengan perkembangan stadia pertumbuhannya. Mansour dan Franz (1996) menyatakan bahwa telur lalat C. capitata yang baru menetas dan telur berumur 24 jam lebih rentan terhadap perlakuan iradiasi dibandingkan telur yang berumur 48 jam. Dosis minimum penghambat pembentukan pupa juga dilaporkan efektif pada 160 Gy saat diaplikasikan pada larva instar pertama dan dosis tersebut meningkat menjadi lebih besar dari 600 Gy saat diaplikasikan pada larva instar 3. Dória et al. (2007)

15 mm

A B

Gambar

Gambar 3  Perangkat pemeliharaan dan perbanyakan lalat buah:
Gambar 4  Skema pengujian oviposisi B. carambolae
Tabel 2  Waktu pemaparan berdasarkan dosis perlakuan iradiasi
Gambar 5  Skema perlakuan in vitro
+4

Referensi

Dokumen terkait

Sel meristem yang terkena iradiasi sinar gamma dengan dosis yang terlalu tinggi maka akan terjadi kerusakan yang besar termasuk pada sel meristem dan selanjutnya

Dewanti (2004) menyatakan bahwa perlakuan berbagai dosis iradiasi sinar gamma pada tanaman anyelir tidak menyebabkan perbedaan pada karakter vegetatif beberapa

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis iradiasi sinar gamma dapat memberikan pengaruh terhadap perubahan morfologi pertumbuhan anggrek Dendrobium nindii

Perlakuan iradiasi sinar gamma dosis 3 Gy dan 6 Gy tidak berbeda nyata terhadap kandungan klorofil a bawang merah, namun berbeda nyata dengan dosis 0 Gy..

Perlakuan iradiasi terhadap stadia yang paling tahan yaitu instar III menghasikan pupa pada semua dosis, tetapi sebagian besar berkualitas rendah dan tidak muncul menjadi

Dewanti (2004) menyatakan bahwa perlakuan berbagai dosis iradiasi sinar gamma pada tanaman anyelir tidak menyebabkan perbedaan pada karakter vegetatif beberapa

Setelah 6 bulan iradiasi sinar gamma, proto- korm yang tidak mendapatkan perlakuan menunjukkan WarDa hijau normal, makin tinggi dosis radiasi, wama pro- tokorm makin pucat

Respon planlet hasil iradiasi sinar gamma dan seleksi in vitro pada media arang sekam padi yang diberi larutan PEG 20 % Uji respon planlet hasil iradiasi sinar gamma