PERUBAHAN PENUTUPAN LAHAN DAN DAMPAKNYA
TERHADAP STOK KARBON PERMUKAAN
PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI CILIWUNG
ARIEF NUGROHO NUR PRASETYO
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
ii Dengan ini menyatakan bahwa tesis Perubahan Penutupan Lahan dan Dampaknya Terhadap Stok Karbon Permukaan pada Daerah Aliran Sungai Ciliwung adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Bogor, Maret 2013
iii ABSTRACT
Arief Nugroho Nur Prasetyo. Land Covers Change and Its Impact to Carbon Stocks in Ciliwung Watershed. Under Supervision of Basuki Wasis as chairman, Bambang Hero Saharjo and Hadi Susilo Arifin as members.
Changes in land cover will affect the ecological condition of the watershed. Currently, the conversion of natural forests into agricultural land has been one of the main factors of deforestation in Indonesia. The land covers dynamic could give impact to erosion, increase run off and sedimentation, loss of biodiversity, change of micro climate, the release of Carbon and Green House Gas (GHG)into the air, etc. This problem has been going on in Ciliwung watershed. Forest area, as sources of Carbon deposits and Carbon absorbents, has limited area along with increasing extents of build up areas. Therefore, it’s estimated the ecological changes will be extended, then will affect the amount of Carbon stocks in Ciliwung watershed. The objectives of research are: to determine land cover changes during the last twenty years, to analyze actual Carbon stocks in Ciliwung watershed, and to analyze the effect of land cover changes in over twenty years of greenhouse gases, especially CO2. This research used three samples plot on each of the existing land cover. Biomass approach was used in order to estimate Carbon stock. Changes in Carbon stocks were calculated by using interpolation based on the actual Carbon stocks in 2011. The research results showed that build up areas was increased 153,36% during twenty years. The highest potencial Carbon stocks was found in pines forests, which is 144,99 tons/ha. Over the last twenty years, Carbon stocks in Ciliwung watershed is increased 188.676,32 tons carbon or 692.442,08 tons CO2e.
iv Terhadap Stok Karbon Permukaan pada Daerah Aliran Sungai Ciliwung. Dibimbing oleh Basuki Wasis sebagai ketua, Bambang Hero Saharjo dan Hadi Susilo Arifin sebagai anggota.
Perubahan pada penutupan lahan akan mempengaruhi kondisi ekologis suatu DAS. Saat ini, konversi hutan alam menjadi areal pertanian telah menjadi salah satu penyebab utama deforestasi di Indonesia. Perubahan tersebut dapat berdampak pada erosi, peningkatan aliran permukaan dan sedimentasi, kehilangan bodiversiti, perubahan iklim mikro, pelepasan karbon dan Gas Rumah Kaca (GRK) ke udara, dll. Salah satu yang mengalami masalah ini adalah DAS Ciliwung. Areal hutan, sebagai sumber simpanan dan penyerap karbon, pada DAS Ciliwung semakin sempit, seiring dengan bertambahnya luasan ruang terbangun. Sehingga, dapat diperkirakan perubahan ekologi akan terus terjadi, dan akan mempengaruhi jumlah stok karbon di DAS Ciliwung. Tujuan dari penelitian ini adalah: untuk menganalisa perubahan penutupan lahan selama dua puluh tahun terakhir, untuk menganalisa karbon aktual di DAS Ciliwung, dan untuk menganalisa dampak dari perubahan penutupan lahan selama dua puluh tahun terhadap kondisi GRK terutama CO2.
Peta penutupan lahan yang didapat dari BAPLAN digunakan untuk menganalisa perubahan penutupan lahan sejak tahun 1990 – 2011. Pengukuran lapang dilakukan pada 7 klasifikasi penutupan lahan, yaitu kelas hutan alam , hutan tanaman, perkebunan, ruang terbangun, pertanian lahan kering, sawah, dan semak. Penelitian ini menggunakan tiga kali ulangan pada setiap penutupan lahan. Pendekatan biomassa digunakan untuk memperkirakan stok karbon. Stok karbon aktual DAS Ciliwung tahun 2011 didapat dari akumulasi stok karbon pada tiap penutupan lahan. Perubahan stok karbon dihitung dengan cara interpolasi berdasarkan stok karbon aktual tahun 2011.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat perubahan tutupan lahan di DAS Ciliwung selama dua puluh tahun (1990-2011). Perubahan terbesar adalah bertambahnya tutupan permukiman yang semula 7.294,38 ha pada tahun 1990, menjadi 18.480,82 ha pada tahun 2011 yang berarti meningkat sebesar 153,36% dari tahun 1990 atau sebanyak 28,97% dari total luasan DAS Ciliwung.
Tutupan lahan pada DAS Ciliwung memiliki cadangan potensi karbon yang bervariasi dari 2,50–144,99 ton/ha. Tutupan ruang terbangun memiliki cadangan karbon sebesar 2,53 ton/ha. Tutupan pertanian lahan kering memiliki cadangan karbon sebesar 4,44 ton/ha. Tutupan sawah memiliki cadangan karbon sebesar 4,61 ton/ha. Tutupan semak memiliki cadangan karbon sebesar 6,15 ton/ha. Tutupan kebun memiliki cadangan karbon sebesar 29,77 ton/ha. Tutupan hutan alam memiliki cadangan karbon sebesar 111,20 ton/ha. Tutupan hutan tanaman memiliki cadangan karbon sebesar 144,99 ton/ha. Dalam skala DAS, cadangan karbon pada DAS Ciliwung di tahun 2011 adalah sebesar 1.092.341,80 ton karbon.
v di DAS Ciliwung yaitu meningkat sebesar 69.403,59 ton karbon antara tahun 1990 sampai 2000, dan meningkat sebesar 119.272,72 ton karbon antara tahun 2000 sampai 2011, atau peningkatan total sebesar 188.676,32 ton karbon atau setara dengan 692.442,08 ton CO2e. Peningkatan disebabkan adanya asumsi pertumbuhan pada hutan tanaman pinus selama 20 tahun.
vi © Hak Cipta Milik IPB, tahun 2013
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan kependidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.
vii
PERUBAHAN PENUTUPAN LAHAN DAN DAMPAKNYA
TERHADAP STOK KARBON PERMUKAAN
PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI CILIWUNG
ARIEF NUGROHO NUR PRASETYO
E451090101Tesis
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains
Program Studi Silvikultur Tropika
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
ix Judul Tesis : Perubahan Penutupan Lahan dan Dampaknya Terhadap Stok Karbon Permukaan pada Daerah Aliran Sungai Ciliwung
Nama : Arief Nugroho Nur Prasetyo
NRP : E451090101
Disetujui Komisi Pembimbing
Diketahui
Tanggal Ujian: 10 Desember 2012 Tanggal Lulus: Dr. Ir. Basuki Wasis, M.S.
Ketua
Prof. Dr. Ir. Bambang Hero Saharjo, M. Agr. Anggota I
Prof. Dr. Ir. Hadi Susilo Arifin, M.S. Anggota II
Ketua Program Studi Silvikultur
Dr. Ir. Basuki Wasis, M.S.
Dekan Sekolah Pascasarjana
x
Tulisan ini ku persembahkan untuk
Orang Tua tercinta
i
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis curahkan kepada Allahswt, Tuhan semesta alam. Sholawat dan salam tak lupa penulis sampaikan atas tauladan mulia; Rasulullah Muhammad saw beserta para keluarga dan ummatnya hingga akhir zaman. Alhamdulillah, dengan rahmat dan karunia Allah, akhirnya penulis bisa menyelesaikan penelitian yang berjudul ”Perubahan Penutupan Lahan dan Dampaknya Terhadap Stok Karbon Permukaan pada Daerah Aliran Sungai Ciliwung” ini. Selama dua puluh tahun lebih penulis tinggal di DAS Ciliwung, dan selama itu pula penulis merasakan perubahan yang terjadi pada DAS tersebut. Tesis ini dibuat sebagai wujud keprihatinan penulis terhadap kondisi penutupan lahan terutama pada DAS Ciliwung sejak dua puluh tahun terakhir.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Basuki Wasis, Prof. Bambang Hero Saharjo, dan Prof. Hadi Susilo Arifin sebagai dosen pembimbing tesis atas segala bimbingan dan sarannya untuk penyelesaian tulisan ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan yang telah membantu kelancaran penyusunan tulisan ini. Ucapan terima kasih tak terhingga juga penulis sampaikan kepada Inna Novianty, Anisah Arienna NP, Anna Hafidzotusholihah NP, keluarga kecilku yang senantiasa menemani perjuangan penulis menyelesaikan tesis ini. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Mama’ dan Bapak atas kegigihan dan semangat pantang menyerah. Juga kepada keluarga penulis di Bogor, ibu, bapak, dan kakak tercinta atas segala kasih sayang, doa, dan dukungan. Terima kasih kepada teman-teman mahasiswa Mayor Silvikultur Tropika Sekolah Pascasarjana IPB
Akhirnya penulis tetap berharap adanya kritik dan saran dari para pembaca sebagai masukan bagi penulis. Semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi para pembacanya, terutama bagi pemerintah selaku pengambil kebijakan.
Bogor, Maret 2013
RIWAYAT HIDUP
Penulis yang bernama lengkap Arief Nugroho Nur Prasetyo ini, merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Dilahirkan di Jakarta pada tanggal 08 Juli 1984 dari pasangan Nanik Sri Mulyani (ibu) dan Djoko Setyono (bapak). Penulis memiliki seorang istri bernama Inna Novianty, dan dua orang putri bernama Anisah Arienna Nur Prasetyo, dan Anna Hafidzotusholihah Nur Prasetyo.
Penulis memulai pendidikan di TK Kartika Jaya Jakarta Selatan pada tahun 1990, yang dilanjutkan ke SD Negeri 03 Pagi Jakarta Selatan hingga tahun 1996. Kemudian penulis melanjutkan ke SLTP Negeri 177 Jakarta Selatan dan SMU Negeri 47 Jakarta Selatan, masing-masing lulus pada tahun 1999 dan 2002. Pada tahun 2002 pula, penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB) pada Departemen Manajemen Hutan, Program Studi Silvikultur.
iii
1.3 Kerangka Pemikiran Penelitian ... 3
1.4 Tujuan ... 4
1.5Manfaat ... 4
1.6 Batasan Penelitian ... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 5
2.1 Daerah Aliran Sungai (DAS) ... 5
2.2 Perubahan Tutupan Lahan... 5
2.3 Biomassa dan Karbon Stok ... 6
2.4 Sekuestrasi Karbon... 8
2.5 Efek Rumah Kaca ... 9
3.6 Analisis Perubahan Penutupan Lahan ... 15
3.7 Penilaian Stok Karbon... 16
3.8 Penilaian Dampak Perubahan RTH Terhadap Peningkatan GRK ... 22
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 25
4.1 Hasil 4.1.1 Analisis Situasional Wilayah Penelitian ... 25
4.1.2 Tutupan Lahan ... 29
4.1.3 Analisis Cadangan Karbon Aktual ... 39
4.1.4 Potensi Cadangan Karbon dalam Skala DAS ... 46
4.2 Pembahasan 4.2.1 Perubahan Ruang Terbuka Hijau (RTH)... 46
4.2.2 Analisis Konversi Perubahan RTH ... 51
4.2.3 Dampak Perubahan Penutupan Lahan Terhadap Kondisi Gas RumahKaca (GRK) ... 52
BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 59
5.1 Simpulan ... 59
5.2 Saran ... 60
DAFTAR PUSTAKA ... 61
v
DAFTAR TABEL
No. Halaman
1. Persentase perubahan penutupan lahan selama dua dekade (1989-2009) pada
DAS Cisadane dan Ciliwung ... 6
2. Daya rosot karbondioksida pada 5 jenis tanaman hutan kota ... 8
3. Daya rosot karbondioksida pada 25 jenis tanaman hutan kota ... 9
4. Penutupan lahan DAS Ciliwung tahun 2011 ... 29
5. Luas, jumlah dan kepadatan penduduk di DAS Ciliwung ... 31
6. Jenis pohon yang terdapat pada ruang terbangun di DAS Ciliwung ... 33
7. Jenis vegetasi yang terdapat pada kebun/kebun campuran ... 34
8. Jenis vegetasi yang ditemukan di hutan alam TWA Telaga Warna... 36
9. Potensi karbon pada berbagai penutupan lahan di DAS Ciliwung ... 39
10. Perubahan penutupan lahan selama dua dekade di DAS Ciliwung ... 47
11. Kontingensi penutupan lahan DAS Ciliwung tahun 1990-2000 ... 50
12. Kontingensi penutupan lahan DAS Ciliwung tahun 2000-2011 ... 50
13. Cadangan karbon pada tiap tutupan lahan tahun 1990, 2000, 2011 di DAS Ciliwung ... 52
14. Estimasi kehilangan cadangan karbon akibat konversi RTH menjadi ruang terbangun di DAS Ciliwung tahun 1990 – 2000 ... 54
DAFTAR GAMBAR
No. Halaman
1. Kerangka pemikiran penelitian ... 3
2. Perubahan penutupan lahan DAS Cisadane dan Ciliwung tahun 1989-2009 . 6 3. Diagram alir penelitian ... 14
4. Sub-plot contoh untuk pengukuran biomassa dan nekromassa... 17
5. Bentuk kuadran untuk pengambilan contoh tumbuhan bawah dan serasah .... 19
6. Penempatan kuadran (titik contoh) dalam sub-plot ... 19
7. Kelas penutupan lahan di DAS Ciliwung tahun 2011 ... 30
8. Salah satu bentuk ruang terbangun di DAS Ciliwung (2012) ... 32
9. Kebun teh dan kebun campuran di hulu DAS Ciliwung (2011) ... 34
10.Tutupan vegetasi di TWA Telaga Warna (2011) ... 35
11.Salah satu tutupan vegetasi pertanian lahan kering di DAS Ciliwung(2011) . 37 12.Sebagian areal hutan tanaman pinus di DAS Ciliwung (2012)... 37
13.Penutupan semak di DAS Ciliwung (2012) ... 38
14.Areal persawahan di tepi Sungai Ciliwung (2011) ... 39
15.Perubahan penutupan lahan di DAS Ciliwung ... 49
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah daerah yang dibatasi punggung-punggung gunung di mana air hujan yang jatuh pada daerah tersebut akan ditampung oleh punggung gunung tersebut dan akan dialirkan melalui sungai-sungai kecil ke sungai utama (Asdak 2002), karena setiap permukaan bumi memiliki ketinggian dan kemiringan tertentu dan mengalirkan air hujan (presipitasi), pada akhirnya akan membentuk DAS. Pada hakikatnya seluruh daratan di muka bumi ini terbagi habis atas DAS (BP DAS Musi 2009).
Berdasarkan susunan ekologis, DAS memiliki ekosistem daratan yang lengkap. MenurutDixon dan Easter (1986) dalam Anonim (2010) disebutkan bahwa DAS merupakan penyatu ekosistem alami antara wilayah hulu (dari puncak gunung/bukit) dengan wilayah hilir (sampai dengan muara sungai dan wilayah pantai yang masih terpengaruh daratan) melalui siklus/daur hidrologi/air. Oleh karena itu, DAS sering kali dijadikan sebagai basis ekologis dalam melakukan berbagai riset penelitian.
Perubahan penggunaan lahan akan memengaruhi kondisi ekologis dari suatu DAS tertentu. Perubahan itu dapat berupa erosi, peningkatan aliran permukaan (run off), peningkatan sedimentasi, kehilangan keanekaragaman hayati, perubahan iklim mikro, pelepasan karbon ke udara, peningkatan Gas Rumah Kaca (GRK), atau lainnya. Hasil penelitian Pudjiharta dan Basuki (1990) yang membandingkan dua DAS yang berbeda penutupan lahannya di Provinsi Bali memperlihatkan di Sub DAS Pulukan yang 82% lahannya tertutup hutan primer memiliki distribusi yang teratur dengan perbandingan debit maksimum dan minimum 2 : 1, sedangkan di Sub DAS Yeh Leh yang lahannya tertutup kopi memiliki fluktuasi debit maksimum dan minimum 1 : 1.
yang banyak merupakan gudang penyimpan C tertinggi. Bila hutan diubah fungsinya menjadi lahan-lahan pertanian atau perkebunan atau pemukiman, maka jumlah C tersimpan akan merosot (Hairiah dan Rahayu 2007).
Saat ini, konversi hutan alam menjadi lahan pertanian telah menjadi salah satu penyebab utama deforestrasi di Indonesia (Sulistyawati, Ulumudin, dan Zuhri 2008). Salah satu di antara yang mengalami perubahan itu adalah DAS Ciliwung. Menurut Kaswanto, Nakagoshi, dan Arifin (2010), luasan hutan, sebagai sumber simpanan dan penyerap karbon, pada DAS Ciliwung semakin sempit, seiring dengan bertambahnya luasan permukiman.
Selain itu, di sepanjang DAS ini terdapat tiga kota besar, yaitu ibu kota Jakarta, dan dua kota satelit yang masih terus membangun; Bogor dan Depok. Sehingga, bila kondisi ini terus berlanjut, dapat diperkirakan akan terus terjadi perubahan ekologis yang akan berpengaruh terhadap stok karbon di DAS Ciliwung.
Di sisi lain, Pemerintah Indonesia telah membuat target yang jelas serta berupaya keras untuk mengurangi GRK dari emisi karbon sampai lebih dari 26% pada 2020 dengan menggunakan biaya sendiri, atau 41% dengan bantuan internasional (Pepres RI No. 61 Tahun 2011). Untuk itu analisis perubahan karbon yang ditimbun (stokkarbon) dan karbon yang diserap per tahunnya dalam setiap lahan di DAS Ciliwung menjadi perlu dilakukan, dengan harapan dapat turut membantu program pemerintah untuk memperkirakan akibat yang terjadi terhadap kondisi GRK di DAS Ciliwung karena perubahan penutupan lahan selama dua dekade ini.
1.2 Perumusan Masalah
Beberapa permasalahan yang diajukan pada penelitian ini:
1. Bagaimanakah perubahan penutupan lahan yang terjadi sejak tahun 1990 – 2011 di DAS Ciliwung?
2. Berapa stok karbon aktual tahun 2011 yang tersimpan pada keseluruhan DAS Ciliwung?
3
1.3 KerangkaPemikiranPenelitian
Penelitian ini mendasarkan pada DAS Ciliwung sebagai basis ekologis penelitian dengan mengamati perubahan penutupan lahannya secara temporal. Analisis perubahan ruang terbuka hijau (RTH) dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu: secara pengecekan lapang langsung, dan melalui analisis citra multi temporal.
Pengecekan lapang langsung akan menghasilkan jumlah karbon tersimpan pada tiap penutupan lahan, dan jumlah karbon tersimpan aktual di DAS Ciliwung secara keseluruhan. Sedangkan pengolahan citra multi temporal akan menghasilkan analisis perubahan RTH. Berdasarkan jumlah karbon tersimpan per penutupan lahan dan karbon tersimpan actual keseluruhan, serta data analisis perubahan RTH, maka akan dapat diketahui jumlah stok karbon secara temporal. Akhirnya, dapat diketahui pula dampak perubahan RTH terhadap stok karbon dan GRK di DAS Ciliwung.
1.4 Tujuan
Tujuan penelitian ini, adalah:
1. Menganalisis perubahan RTH sejak tahun1990 – 2011.
2. Menganalisis jumlah karbon tersimpan pada tiap penutupan lahan di DAS Ciliwung.
3. Menilai dampak perubahan RTH sejak tahun1990 – 2011 terhadap kondisi GRK di DAS Ciliwung.
1.5 Manfaat
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini, antara lain:
1. Memberikan informasi kepada pemerintah dan masyarakat umum tentang perubahan penutupan lahan di DAS Ciliwung.
2. Memberikan informasi kepada pemerintah dan masyarakat umum tentang perubahan kondisi emisi GRK di DAS Ciliwung.
1.6 Batasan Penelitian
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Daerah Aliran Sungai (DAS)
Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah daerah yang dibatasi punggung-punggung gunung dimana air hujan yang jatuh pada daerah tersebut akan ditampung oleh punggung gunung tersebut dan akan dialirkan melalui sungai-sungai kecil ke sungai utama (Asdak 2002). Setiap permukaan bumi memiliki ketinggian dan kemiringan tertentu dan mengalirkan air hujan (presipitasi), pada akhirnya akan membentuk DAS,sehingga pada hakikatnya seluruh daratan di muka bumi ini terbagi habis atas DAS (Santoso 2011).
Berdasarkan susunan ekologis, DAS memiliki ekosistem daratan yang lengkap. Menurut Dixon dan Easter (1986) dalam Litbang Dephut (2010) disebutkan bahwa DAS merupakan penyatu ekosistem alami antara wilayah hulu (dari puncak gunung/bukit) dengan wilayah hilir (sampai dengan muara sungai dan wilayah pantai yang masih terpengaruh daratan) melalui siklus/daur hidrologi/air, oleh karena itu, DAS seringkali dijadikan sebagai basis ekologis dalam melakukan berbagai riset penelitian.
2.2 Perubahan Tutupan Lahan
Gambar 2 Perubahan penutupan lahan DAS Cisadane tahun 1989 – 2009 (Kaswanto et al. 2010).
Menurut Kaswanto et al. (2010), luas penutupan ruang terbangun selama dua dekade (1989-2009) di DAS Cisadane dan Ciliwung terus mengalami kenaikan. Pada DAS Cisadane luas peningkatan tersebut sebesar 12,70%, sedangkan pada DAS Ciliwung sebesar 20,49% (Tabel 1).
Tabel 1 Persentase perubahan penutupan lahan selama dua dekade (1989-2009) pada DAS Cisadane dan Ciliwung
Tipe penutupan lahan
DAS Cisadane DAS Ciliwung
Perubahan(%)
Hutan -8,95 -25,78
Padang rumput -10,38 -1,84
Lahan pertanian 6,64 7,13
Ruang terbangun 12,70 20,49
Sumber: Kaswanto et al. (2010)
2.3 Biomassa dan Karbon Stok
7
ton berat kering per satuan luas (Brown 1997). Konversi biomassa menjadi karbon didekati dengan menggunakan koefisien standar, yaitu Karbon = 0,55 x biomassa (Mac Dicken 1998 dalam Lal 2005). Menurut Hernandez et al. (2011), stok karbon didapat dari: Stok karbon(total) = C dalam biomassa (atas dan bawah) + karbon tanah.
Vegetasi hutan dan tanah mengandung sekitar 1.240 Pg Karbon (C) (Dixon et al. 1994 dalam Lal 2005), dan stok karbon bervariasi berdasarkan lokasi lintang bumi. Dari total stok karbon yang ada dalam biomassa hutan, 37% berada di hutan pada garis lintang bawah, 14% berada pada garis lingtang tengah, dan 49% berada pada garis lintang atas. Kerapatan karbon tumbuhan bawah akan meningkat seiring berkurangnya garis lintang dari tundra sampai hutan hujan tropis. (Fisher 1995 dalam Lal 2005).
Berdasarkan Kondo et al. (2010), luasan hutan tropis hanya 5% dari keseluruhan permukaan daratan di bumi, namun mengandung stok karbon sebesar 45% dari keseluruhan stok karbon yang ada, sehingga sedikit saja perubahan yang terjadi pada hutan tropis, akan sangat berpengaruh pada siklus karbon dunia. Aktivitas kehutanan berpengaruh luas, baik sebagai sumber terjadinya GRK (gas rumah kaca), khususnya CO2 atau sebaliknya, dalam kegiatan pengurangan emisi dan penambatan karbon. Secara mendasar ada tiga macam praktek pengelolaan hutan yang dapat dilakukan untuk memperkecil laju peningkatan karbon dioksida di atmosfer (Brown et al. 1996; Watson et al.1996), yaitu (1) pengelolaan untuk mengkonservasi karbon, (2) pengelolaan untuk pengambilan dan penyimpanan karbon dan (3) pengelolaan untuk mencari substitusi karbon (Rusolono 2006).
2.4 Sekuestrasi Karbon
Sekuestrasi karbon umumnya diartikan sebagai pengambilan CO2 secara (semi) permanen oleh tumbuhan melalui fotosintesis dari atmosfer ke dalam komponen organik, atau disebut juga fiksasi karbon (Hairiah et al. 2001b disitasi oleh Rusolono 2006). Menurut Grey dan Deneke (1976) yang disitasi oleh Irwan (1997) menyatakan bahwa setiap tahun vegetasi di bumi mempersenyawakan sekitar 150.000 juta ton CO2 dan 25.000 juta ton hidrogen dengan membebaskan 400.000 juta ton O2 ke atmosfer, serta menghasilkan 450.000 juta ton zat-zat organik. Setiap jam 1 ha daun hijau menyerap 8 kg CO2 yang ekuifalen dengan CO2 yang dihembuskan oleh nafas manusia sekitar 200 orang dalam waktu yang sama sebagai hasil pernafasannya.
Tanaman khususnya yang berdaun hijau mempunyai kemampuan serapan CO2 (karbon sekuestrasi) yang berbeda-beda. Karyadi (2005) dalam Mayalanda (2008) melakukan penelitian mengenai daya rosot CO2 terhadap 5 jenis tanaman hutan kota di Kampus IPB Dramaga (Tabel 2).
Tabel 2 Daya rosot karbondioksida pada 5 jenis tanaman hutan kota No. Jenis Daya rosot CO2
(g/m2/hari)
Daya rosot bersih CO2 per pohon (g/phn/hari)
1. Jati 6,32 298,04
2. Kenari 1,55 363,54
3. Mangga 9,93 1246,64
4. Sawo duren 6,63 648,51
5. Tanjung 7,77 1622,45
Sumber : Karyadi (2005)
9
Tabel 3 Daya rosot karbondioksida pada 25 jenis tanaman hutan kota No. Jenis Tanaman Daya rosot bersih
CO2 tiap pohon
Sumber : Purwaningsih (2007)
Jumlah C tersimpan antar lahan berbeda-beda, tergantung pada keragaman dan kerapatan tumbuhan yang ada, jenis tanahnya serta cara pengelolaannya. Penyimpanan C suatu lahan menjadi lebih besar bila kondisi kesuburan tanahnya baik, atau dengan kata lain jumlah C tersimpan di atas tanah (biomasa tanaman) ditentukan oleh besarnya jumlah C tersimpan di dalam tanah (bahan organik tanah). Indonesia memiliki berbagai macam penggunaan lahan, mulai dari yang paling ekstensif misalnya agroforestri kompleks yang menyerupai hutan, hingga paling intensif seperti sistem pertanian semusim monokultur.
2.5 Efek Rumah Kaca
menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini.
Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.
Efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi. Menurut Soemarwoto (1994), tanpa efek rumah kaca natural ini maka suhu akan lebih rendah dari yang ada sekarang dan kehidupan seperti yang ada sekarang tidak mungkin ada. Dengan suhu rata-rata sebesar 15 °C (59 °F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 °C (59 °F) dari suhunya semula, jika tidak ada efek rumah kaca suhu bumi hanya -18 °C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi.
Tetapi permasalahan akan muncul ketika terjadi konsentrasi gas rumah kaca pada atmosfer bertambah. Sejak awal revolusi industri, konsentrasi karbon dioksida pada atmosfer bertambah mendekati 30%, konsetrasi metan lebih dari dua kali, konsentrasi asam nitrat bertambah 15%. Murdiyarso (1999) menyatakan bahwa rata-rata konsentrasi CO2 di atmosfer saat ini adalah 358 ppmv (part per
million by volume). Nilai ini merupakan peningkatan yang cukup besar sejak masa
11
Meningkatnya konsentrasi CO2 dapat pula disebabkan oleh pengelolaan lahan yang kurang tepat, antara lain pembakaran hutan dalam skala luas secara bersamaan dan pengeringan lahan gambut untuk pembukaan lahan-lahan pertanian. Penambahan CO2 tersebut telah meningkatkan kemampuan menjaring panas pada atmosfer bumi dan mengakibatkan pemanasan global.
2.6 Perubahan Iklim
Iklim (WWF 2012) adalah rata-rata peristiwa cuaca di suatu daerah tertentu, termasuk perubahan ekstrem musiman dan variasinya dalam waktu yang
relatif lama, baik secara lokal, regional atau meliputi seluruh bumi kita. Menurut Meehl (2000) yang disitasi oleh Hairiah (2011), perubahan iklim terjadi apabila terdapat: perubahan rata-rata parameter iklim, perubahan perbedaan parameter iklim, atau perubahan keduanya yang mengakibatkan kejadian-kejadian ekstrim.
BAB III
BAHAN DAN METODE
3.1 Lokasi dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung. DAS ini memiliki panjang sungai utama sepanjang 124,1 km, dengan luas total area sebesar 38.610,25 ha. Pengukuran lapang dilakukan pada 7 klasifikasi penutupan lahan dan 3 kali ulangan pada tiap klasifikasi penutupan lahan.Penelitian dilakukan mulai bulan September 2011 sampai dengan bulan Maret 2012.
3.2 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam penelititan ini, yaitu: 1. oven Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu:
a) Citra Landsat 7ETM+DAS Ciliwung tahun 1990, 2000, 2011 dari USGS, skala 1:250.000, resolusi 90 m x 90 m diolah oleh Badan Planologi Nasional (BAPLAN) tahun 2012.
b) Sampel tumbuhan bawah dan serasah. c) Kertas label.
d) Kantong plastik sampel.
3.3 Variabel yang Diamati
Beberapa variabel yang diamati dalam penelitian ini antara lain, yaitu: 1. Diameter pohon sampel.
2. Jumlah dan jenis tanaman sampel.
3. Berat biomassa tanaman dan pohon sampel.
4. Perubahan penutupan lahan pada tahun 1990 – 2011.
3.4 Desain Sampling
1. Klasifikasi lahan (pengelompokan ke dalam masing-masing penutupan lahan), dilakukan berdasarkan klasifikasi penutupan lahan tertentu. Misalnya : hutan alam, hutan tanaman, kebun campuran, lahan pertanian. 2. Pemilihan lokasi plot sampel dilakukan pada lokasi yang dianggap
mewakili tiap penutupan lahan. Ukuran plot sampel berbeda pada tiap tingkatan tumbuhan yang diukur atau kondisi plot tersebut.
3. Pengukuran diameter dan penentuan jenis pohon serta tanaman.
4. Penentuan kandungan karbon dan biomassa tumbuhan.Penentuan karbon pada pohon dengan menggunakan konversi Berat Jenis (BJ), sedangkan pada tumbuhan bawah menggunakan pengovenan.
5. Penelitian ini menggunakan 3 (tiga) kali ulanganpada setiap penutupan lahan.
3.5 Diagram Alir Penelitian
Diagram alir penelitian klasifikasi penutupan lahan dan deteksi perubahannya
ditunjukkan pada Gambar 5 (Widayati et al. 2003 dengan perubahan).
Gambar 3 Diagram alir penelitian.
Berdasarkan diagram alir (Gambar 3), maka penelitian ini secara garis besar
15
1. Pengolahan peta multitemporal (tahun 1990, 2000, dan 2011).
2. Penghitungan stok karbon aktual (actual carbon stock) pada tahun 2011
melalui survey lapang (ground survey)dan pembuatan plot contoh.
3. Analisa dampak perubahan RTH terhadap stok karbon melalui interpolasi
stok karbon tahun 2011 dengan peta tutupan lahan tahun 1990 dan 2000.
3.6 AnalisaPerubahan Penutupan Lahan 3.6.1 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam tahap ini, yaitu: GPS dan program arcview 3.2.
Bahan-bahan yang digunakan dalam tahap ini, yaitu:
Citra Landsat 7ETM+DAS Ciliwung tahun 1990, 2000, 2011 dari USGS, skala 1:250.000, resolusi 90x90 m. Deliniasi DAS menggunakan DEM SRTM 90 m. Pengolahan citra dilakukan olehBadan Planologi Nasional (BAPLAN) tahun 2012.
3.6.2 Variabel yang Diamati
Variabel yang diamati dalam tahap ini adalah: Perubahan penutupan lahan pada tahun 1990 – 2011. 3.6.3 PengolahanPeta Tutupan Lahan
3.6.2.1Klasifikasi Penutupan Lahan
Klasifikasi penutupan lahan menggunakan data dari Badan Planologi
Nasional (BAPLAN) tahun 2012. Dalam proses klasifikasi ini peta
penutupan lahan dari BAPLAN disesuaikan dengan kebutuhan penelitian
sehingga menjadi beberapa tipe penutupan lahan yang utama saja.
3.6.2.2Area Contoh
Dataset area contoh dikumpulkan pada saat kegiatan pengukuran
lapangan.Letak area contoh di lapangan direkam dengan GPS (Global
Positioning System). Kelas penutupan lahan yang dapat diidentifikasi di
lapangan selama kegiatanpengukuran lapangan sebanyak 7 kelas.
3.6.4 Analisa Perubahan Penutupan Lahan
Data perubahan penutupan lahan yang digunakan dalam proses ini berupa
terklasifikasi DAS Ciliwung tahun 1990, 2000 dan 2011 dibandingkan satu
dengan lainnya untuk menghitung perubahan penutupan lahan.
3.7 Penilaian Stok Karbon
Terdapat 3 tahap pengukuran atas karbon (Hairiah, 2007) yaitu:
1. Mengukur biomassa semua tanaman dan nekromassa yang ada pada suatu lahan
2. Mengukur biomassa tanaman di laboratorium
3. Menghitung kandungan C yang disimpan pada suatu lahan
3.7.1 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam tahap ini, yaitu: 1. oven Bahan-bahan yang digunakan dalam tahap ini, yaitu: a) Sampel tumbuhan bawah dan serasah.
b) Kertas label.
c) Kantong plastik sampel.
3.7.2 Variabel yang Diamati
Beberapa variabel yang diamati dalam tahap ini antara lain, yaitu: 1. Diameterdan tinggi pohon sampel.
2. Jumlah dan jenis tanaman sampel.
3. Berat biomassa tanaman dan pohon sampel.
3.7.3 Pengukuran Biomassa danKarbon Tanaman pada Plot Contoh A. Pengukuran biomassa tanaman pada setiap lahan.
Melibatkan 3 tahap kegiatan:
1. Membuat plot contoh pengukuran (transek pengukuran)
a) Untuk lahan hutan: membuat plot berukuran 5 mx40 m = 200 m (disebut sub-plot). Sub-plotdipilih pada lokasi yang kondisi vegetasinya seragam.
17
c) Ukuran sub-plot diperbesar bila dalam lahan yang diamati terdapat pohon besar (diameter batang > 30 cm) menjadi 20 mx100 m = 2.000m (disebut plot besar).
d) Untuk sistem agroforestri atau perkebunan yang memiliki jarak tanam antar pohon cukup lebar, dibuat sub-plotbesar ukuran 20 m x 100 m = 2.000 m.
e) Ditentukan pula minimal 6 titik contoh pada setiap sub-plot untuk pengambilan contoh tumbuhan bawah, seresah dan tanah; setiap titik berukuran 0,5 m x 0,5 m = 0,25 m .
Gambar 4 Sub-plot contoh untuk pengukuran biomassa dan nekromassa (Hairiah, 2007).
2. Mengukur biomassa pohon
Pengukuran biomassa pohon dilakukan dengan cara 'non-destructive' (tidak merusak bagian tanaman).
Cara pengukuran:
a) sub-plot dibagi menjadi 2 bagian, dengan memasang tali di bagian tengah sehingga ada sub-sub-plot, masing-masing berukuran 2,5m x 40m.
cm hingga 30 cm. Pohon dengan dbh<5 cm diklasifikasikan sebagai tumbuhan bawah.
c) Khusus untuk pohon-pohon yang batangnya rendah dan bercabang banyak, misalnya pohon kopi yang dipangkas secara regular, maka diukur semua diameter semua cabang. Bila pada sub-plot terdapat tanaman tidak berkeping dua (dikotil) seperti bambu dan pisang, maka diukur diameter dan tinggi masing-masing individu dalam setiap rumpun tanaman. Demikian pula bila terdapat pohon tidak bercabang seperti kelapa atau tanaman jenis palem lainnya.
d) Bila terdapat tunggul bekas tebangan yang masih hidup dengan tinggi > 50 cm dan diameter > 5 cm, maka diukur diameter batang dan tingginya.
e) Ditetapkan berat jenis (BJ) kayu dari masing-masing jenis pohon dengan jalan memotong kayu dari salah satu cabang, lalu ukur panjang, diameter dan timbang berat basahnya. Dimasukkan dalam oven, pada suhu 100O C selama 48 jam dan timbang berat keringnya. Hitung volume dan BJ kayu dengan rumus sebagai berikut:
Volume (cm3) = πR2T
Keterangan: R = jari-jari potongan kayu = ½ x Diameter (cm) T = panjang kayu (cm)
BJ (g/cm3) = Berat kering (g) Volume (cm3)
3. Mengukur biomassa tumbuhan bawah
19
Gambar 5 Bentuk kuadran untuk pengambilan contoh tumbuhan bawah dan serasah (Hairiah 2007).
Cara pengambilan contoh tumbuhan bawah ('understorey') a. Tempatkan kuadran bambu, kayu atau aluminium di dalam
sub-plot (5 m x 40 m) secara acak.
b. Semua tumbuhan bawah (pohon berdiameter < 5 cm, herba dan rumbut-rumputan) yang terdapat di dalam kuadran dipotong. c. Contoh tumbuhan bawah dimasukkan ke dalam kantong. d. Berat basah daun atau batang ditimbang.
e. Ambil sub-contoh tanaman dari masing-masing biomassa daun dan batang sekitar 100-300g.
f. Sub-contoh biomassa tanaman yang telah diambil dikeringkan dalam oven pada suhu 80 OC selama 2 x 24 jam.
g. Timbang berat keringnya.
Pengolahan data
Hitung total berat kering tumbuhan bawah per kuadran dengan rumus sebagai berikut:
Total BK (g) = BK subcontoh (g) X Total BB (g) BB subcontoh (g)
Dimana, BK = berat kering dan BB = berat basah
B. Pengukuran Nekromassa tanaman
Lakukan pengambilan contoh 'nekromassa' (bagian tanaman mati) pada permukaan tanah yang masuk dalam sub-plot (5 m x 40 m) dan/atau plot besar (20 m x 100 m). Pengambilan contoh nekromassa yang berdiameter antara 5 cm hingga 30 cm dilakukan pada sub-plot, sedangkan batang berdiameter > 30 cm dilakukan pada plot besar. Nekromassa dibedakan menjadi 2 kelompok:
a. Nekromassa berkayu: pohon mati yang masih berdiri maupun yang roboh, tunggul-tunggul tanaman, cabang dan ranting yang masih utuh yang berdiameter 5 cm dan panjang 0.5 m.
b. Nekromassa tidak berkayu: seresah daun yang masih utuh (seresah kasar), dan bahan organik lainnya yang telah terdekomposisi sebagian dan berukuran > 2 mm (seresah halus).
a) Nekromassa berkayu
Cara pengukuran:
• Ukur diameter (lingkar batang) dan panjang (tinggi) semua pohon mati yang berdiri maupun yang roboh, tunggul tanaman mati, cabang dan ranting.
• Catat dalam blangko pengukuran masing-masing, baik untuk nekromassa yang berdiameter > 30 cm dan maupun untuk nekromassa yang berdiameter antara 5 - 30 cm.
21
ujung) dan panjang batang hanya diukur pada contoh yang masuk dalam sub-plot atau plot besar saja.
• Ambil sedikit contoh kayu ukuran 10 cm x 10 cm x 10 cm, timbang berat basahnya, masukkan dalam oven suhu 80o C selama 48 jam untuk menghitung BJnya.
b) Nekromassa tidak berkayu
Cara pengambilan contoh seresah
• Gunakan kuadran kayu/bambu/aluminium. Ambillah contoh seresah kasar langsung setelah pengambilan contoh biomassa tumbuhan bawah, lakukan pada titik contoh dan luas kuadran yang sama dengan yang dipakai untuk pengambilan contoh biomassa tumbuhan bawah. • Ambil semua sisa-sisa bagian tanaman mati, daun- daun dan
ranting-ranting gugur yang terdapat dalam tiap-tiap kuadran, masukkan ke dalam kantong kertas dan beri label sesuai dengan kode titik contohnya.
• Keringkan semua seresah di bawah sinar matahari, bila sudah kering goyang-goyangkan agar tanah yang menempel dalam seresah rontok dan terpisah dengan seresah.
• Ambil sub-contoh seresah sebanyak 100-300 g untuk dikeringkan dalam dalam oven pada suhu 80o C selama 48 jam. Bila biomassa contoh yang didapatkan hanya sedikit (< 100 g), maka timbang semuanya dan jadikan sebagai sub-contoh.
• Timbang berat keringnya dan catat dalam blangko. Estimasi BK seresah kasar per kuadran melalui perhitungan sebagai berikut:
Total BK (g) = BK subcontoh (g) X Total BB (g) BB subcontoh (g)
Keterangan, BK = berat kering dan BB = berat basah
3.7.4 Menghitung Karbonpada Suatu Lahan
karena itu estimasi jumlah C tersimpan per komponen dapat dihitung dengan mengalikan total berat masanya dengan konsentrasi C, sebagai berikut (Hairiah, 2007):
Berat kering biomassa atau nekromassa (kg/ha) x 0,46
Khusus untuk hutan tanaman (dalam hal ini Pinus), cadangan karbon pada hutan pinus di tahun 1990 dan 2000 didapat melalui perhitungan Mean Annual Increament (MAI) dan persamaan alometrik untuk Pinus:
• MAI = Vt/V (Soeroso, 1961 yang disitasi oleh Harmoko 2004)
• Y = 0,0417D2,6576 (Waterloo 1995 disitasi oleh Hairiah dan Rahayu 2010)
3.7.5 Menghitung Karbon pada tingkat DAS
Penghitungan selanjutnya adalah menghitung jumlah C tersimpan yang ada pada tingkat DAS (kawasan), yaitu mengalikan nilai rata-rata penyimpanan C per sistem penutupan lahan dengan jumlah luasannya sehingga penyimpanan C per kawasan dapat diketahui (Hairiah 2007).
3.8 Penilaian Dampak Perubahan RTH Terhadap Peningkatan GRK 3.8.1 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam tahap ini, yaitu: komputer dan programarcview 3.2.
Bahan-bahan yang digunakan dalam tahap ini, yaitu:
Citra Landsat 7ETM+ DAS Ciliwung tahun 1990, 2000, 2011 dari USGS, skala 1:250.000, resolusi 90 m x90 m. Deliniasi DAS menggunakan DEM SRTM 90 m. Pengolahan citra dilakukan oleh Badan Planologi Nasional (BAPLAN) tahun 2012.
3.8.2 Variabel yang Diamati
Variabel yang diamati dalam tahap ini adalah:
23
3.8.3 Proses Penilaian
Penilaian dampak perubahan RTH dilakukan dengan menggabungkan dua analisa perhitungan, yaitu:
1. Penutupan lahan pada tahun 1990, 2000, dan 2011.
2. Stok karbon pada tiap penutupan lahan dengan acuan data lapang tahun 2011.
Dari pembandingan data penutupan lahan pada tahun 1990, 2000, dan 2011 maka dapat diketahui perubahan penutupan lahan selama sekitar dua puluh tahun.Kemudian dengan data perubahan tersebut, tiap penutupan lahan dikonversi ke dalam stok karbon dengan mengacu pada data lapang tahun 2011, sehingga dapat diketahui perubahan stok karbon yang terjadi selama sekitar dua puluh tahun. Serapan CO2 dihitung dengan menggunakan perbandingan massa molekul relatif CO2 (44) dan massa atom relatif C (12) sehingga:
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. HASIL
4.1.1. Analisis Situasional Wilayah Penelitian 4.1.1.1. Letak Geografis dan Administratif
Secara geografis DAS Ciliwung terletak pada 6o 6’ 00” - 6o 46’ 12” LS dan 106o 48’ 36” - 107o 00’ 00” BT. DAS Ciliwung berbatasan dengan DAS Krukut dan Grogol di sebelah Barat yang terhubung dengan Banjir Kanal Barat (BKB). Sementara, di sebelah Timur berbatasan dengan DAS Cipinang, Sunter, Buaran-Jatikramat, dan Cakung yang terhubung dengan Banjir Kanal Timur (BKT).(BPDAS Citarum-Ciliwung, 2011). Total luas DAS Ciliwung sendiri sekitar 38.610,25 ha (BAPLAN, 2012).
Berdasarkan batas administrasi, wilayah DAS Ciliwung ini melingkupi Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok, Kota Bekasi, dan Provinsi DKI Jakarta dengan delineasi wilayah sebagai berikut (BPDAS Citarum-Ciliwung, 2011):
a. Bagian hulu DAS Ciliwung termasuk dalam wilayah Kabupaten Bogor dan Kota Bogor, DAS Krukut, Grogol, Sunter, dan Cipinang berada pada wilayah administrasi Kota Depok; sementara bagian hulu DAS Buaran dan Cakung termasuk dalam wilayah Kota Bekasi.
b. Bagian tengah DAS Ciliwung berada di wilayah Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok, dan Kota Bekasi.
c. Bagian hilir DAS Ciliwung seluruhnya berada di wilayah Provinsi DKI Jakarta.
lahan berubah maka akan mengakibatkan perubahan yang nyata terhadap karakteristik aliran sungai (BPDAS Citarum-Ciliwung, 2011).
4.1.1.2. Iklim
Curah hujan rata- rata tahun 1989-2001 adalah 3.636 mm/tahun dengan rata-rata hujan bulanan 303 mm. Batas musim kemarau dengan musim penghujan di bagian hulu tidak jelas, kecuali daerah Citeko Diana musim kemarau terjadi pada bulan Juni sampai dengan September, dan musim penghujan pada bulan Oktober sampai bulan Mei ( BP DAS Citarum-Ciliwung 2003). Tipe iklim DAS Ciliwung di bagian hulu menurut sistem klasifikasi Smith dan Ferguson yang didasarkan pada besarnya curah hujan, yaitu Bulan Basah> 200 mm dan Bulan Kering <100 mm adalah termasuk kedalam Tipe A. (Ditjen Penataan Ruang Depkimpraswil 2003). Suhu udara di DAS Ciliwung hulu berkisar antara 14,8– 26,6oC. Hasil penelitian Fakhrudin (2003) menyebutkan curah hujan di Stasiun Katulampa kurun waktu 1972-1999 terbesar harian rata-rata114 mm.
Menurut Antoro dan Fahmiza (2002) yang disitasi oleh BPDAS Citarum-Ciliwung (2011).Pada bagian tengah DAS Citarum-Ciliwung, curah hujan rata-rata tahunan selama periode 1989-2001 adalah 3.910 mm dengan rata-rata hujan bulanan 326 mm. Hujan di Depok jauh lebih rendah dibandingkan hujan di tiga stasiun hujan lainnya yang ada di bagian tengah DAS Ciliwung.Secara umum hujan di bagian tengah lebih tinggi dibandingkan dengan hujan di bagian hilir, kecuali pada musim penghujan (Januari-Maret) hujan di hilir lebih tinggi (BPDAS Citarum-Ciliwung 2011).
Bagian hilir DAS Ciliwung curah hujan rata-rata tahunan selama periode 1989-2001 adalah 2.126 mm dengan rata-rata hujan bulanan 177 mm. Di daerah hilir yang umumnya berada di Jakarta, batas antara musim kemarau dan musim penghujan tampak jelas. Musim penghujan mulai bulan Desember dan berakhir bulan Maret.Secara umum, hujan di bagian hilir ini paling kering dibandingkan dengan hujan di bagian tengah dan hulu DAS (BPDAS Citarum-Ciliwung 2011).
4.1.1.3. Topografi
27
yaitu mulai dari Kedungbadak ke arah selatan sampai daerah Tugu Selatan (1.057 m dpl).Semakin ke arah selatan dan timur termasuk daerah pegunungan yang merupakan batas DAS, seperti Gunung Halimun (1.665 m dpl), Gunung Kencana (1.796 m dpl), Gunung Megamendung (1.672 m dpl) dan Gunung Pangrango (3.019 m dpl) (BPDAS Citarum-Ciliwung 2011).
Bagian hulu DAS Ciliwung mencakup areal seluas 146 km2 yang merupakan daerah pegunungan dengan elevasi antara 300-3.000 m dpl. Bagian hulu dicirikan oleh sungai pegunungan yang berarus deras, variasi kemiringan lereng yang tinggi, dengan kemiringan lereng 2-15% (70,5 km2), 15-45% (52,9 km2), dan sisanya lebih dari 45% (BPDAS Citarum-Ciliwung 2011).
Bagian tengah mencakup areal seluas 94 km2 merupakan daerah bergelombang dan berbukit-bukit dengan variasi elevasi antara 100-300 m dpl.Bagian tengah Ciliwung didominasi area dengan kemiringan lereng 2-15% (BPDAS Citarum-Ciliwung 2011).
Bagian hilir sampai stasiun pengamatan Kebon Baru/ Manggarai pada elevasi +8 m dpl mencakup areal seluas 82 km2 merupakan dataran rendah bertopografi landai dengan elevasi antara 0-100 m dpl. Bagian hilir didominasi area dengan kemiringan lereng 0-2%, dengan arus sungai yang tenang (BPDAS Citarum-Ciliwung 2011).
4.1.1.4. Hidrologi
Menurut BPDAS Citarum-Ciliwung (2011), Sungai Ciliwung beserta anak-anak sungainya berada di wilayah tengah dan terbagi menjadi lima zona. Pada zona I yang berada di Kabupaten Bogor terdapat Sungai Cisarua, Cisukabirus, Ciesek, Cisuren, Ciseuseupan dan Cibalok.Zona ini merupakan DAS Ciliwung bagian hulu mulai dari daerah Puncak sampai ke Bendung Katulampa.
bermuara ke Sungai Ciliwung. Sementara pada zona V yang termasuk dalam wilayah Provinsi DKI Jakarta terdapat Sungai Cijantung bagian hilir dan Kali Condet (BPDAS Citarum-Ciliwung 2011).
Aliran lainnya adalah saluran irigasi yang mengalir pararel di sebelah Barat dan Timur Sungai Ciliwung.Saluran di sebelah Timur Sungai Ciliwung merupakan saluran irigasi dari Bendung Katulampa dan beruara ke Sungai Ciliwung bagian hilir sebelum Pintu Air Manggarai. Saluran buatan ini disebut dengan Kali Baru Timur atau Kali Baru 3 dengan panjang aliran 51,3 km. Sementara saluran di sebelah Barat Sungai Ciliwung merupakan saluran yang berasal dari Sungai Cipakancilan (Sungai Irigasi Bendung Empang). Saluran tersebut bertemu dengan sodetan Sungai Ciliwung di zona III (Kabupaten Bogor) dan terbagi dua menjadi Kali Baru 1 dan 2 (BPDAS Citarum-Ciliwung 2011).
4.1.1.5. Sosial Ekonomi
Karakteristik sosial yang paling menonjol dari DAS Ciliwung adalah pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi. Berdasarkan data BPS yang disitasi oleh BPDAS Citarum-Ciliwung (2011), diketahui bahwa laju perkembangan penduduk Jabotabek mulai tahun 1961-2000 mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Pada tahun 1961, jumlah penduduk Jabotabek baru mencapai 5,65 juta jiwa. Pada tahun 1980 sejumlah 11,65 juta jiwa. Pada akhir tahun 2000 diperkirakan mencapai 23,31 juta jiwa. Berdasarkan struktur sosial, masyarakat setempat mencapai 80-85% dari populasi DAS Ciliwung hulu, tetapi tingkat kepemilikan lahan hanya mencapai 20-30%. Kondisi demikian menimbulkan permasalahan masyarakat lapar lahan.
29
4.1.2. Tutupan Lahan
Potensi cadangan karbon pada suatu lanskap dipengaruhi oleh tutupan lahan pada suatu lanskap tersebut.Berdasarkan data BAPLAN tahun 2012, tutupan lahan pada DAS Ciliwung pada tahun 2011 dapat dilihat pada Gambar 14.Secara visual dapat dilihat bahwa tutupan vegetasi pada DAS Ciliwung (dibandingkan dengan ruang terbangun) memiliki perbandingan luas yang hampir sebanding. Jika menggunakan persentasi, maka luasan DAS Ciliwung di luar tutupan ruang terbangun, adalah sebesar 52,13% (Tabel 4). Kawasan yang bervegetasi rapat kemungkinan adalah berupa hutan pada TWA Telaga Warna dan Gunung Gede di mana areal ini tergolong ke dalam kawasan lindung.
Menurut Adinugroho (2012), pola tutupan lahan pada suatu DAS sangat menentukan kemampuannya dalam mensekuestrasi karbon. Selain itu, kondisi penutupan/penggunaan lahan merupakan indikator penting dalam mengetahui karakteristik kondisi hidrologi permukaan (BPDAS Citarum-Ciliwung, 2011).Oleh karena itu kondisi DAS di bagian hulu perlu dijaga agar tetap berfungsi dengan baik sehingga tidak menimbulkan dampak yang merugikan pada daerah bagian hilir.
Kondisi DAS Ciliwung berdasarkan data olahan BAPLAN tahun 2012 menghasilkan tujuh kelas penutupan lahan, yaitu kelas hutan alam , hutan tanaman, perkebunan, ruang terbangun, pertanian lahan kering, sawah, dan semak (Gambar 7). Tipe penutupan lahan, luas dan kontribusi masing-masing tipe penutupan lahan di DAS Ciliwung disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4 Penutupan lahan DAS Ciliwung tahun 2011
Jenis Tutupan Lahan Luas (ha) Persentase (%)
Gambar 7 Kelas penutupan lahan di DAS Ciliwung tahun 2011. DEPOK
J AK ART A
31
1) Ruang terbangun
Ruang terbangun merupakan penutupan lahan yang terluas di DAS Ciliwung. Di DAS Ciliwung, daerah lahan terbangun (termasuk ruang permukiman) tersebar merata dari bagian tengah sampai hilir. Ruang terbangun yang dimaksud merupakan areal perumahan, gedung non-perumahan, serta jalan. Berdasarkan data BAPLAN (2012), luasan ruang terbangun di DAS Ciliwung pada tahun 2011 mencapai 47,87% dari total luasan DAS, atau seluas 18.480,82 ha yang meliputi daerah Megamendung, Cisarua, Ciawi, Kota Bogor, Cibinong, Depok, Pasar Minggu dan Manggarai. Daerah ruang terbangun yang paling padat berada di bagian hilir DAS, sekitar daerah Depok sampai Manggarai (BPDAS Citarum-Ciliwung 2011).
Tabel 5 Luas, jumlah dan kepadatan penduduk di DAS Ciliwung
No Kecamatan Luas (Ha) Penduduk
Sumber: RTRW Kab. Bogor dan Profil Kabupaten/Kota dalam Anonimous (2002) yang disitasi oleh BPDAS Citarum-Ciliwung (2011)
tingkat kerapatan bangunannya yang semakin menurun.Kondisi ini sesuai dengan perbedaan kepadatan penduduk.Penduduk pada DAS Ciliwung bagian hulu (3 kecamatan di Bogor) dapat digambarkan lebih jarang (<50 jiwa/ha) dari pada penduduk pada DAS Ciliwung bagian tengah (4 kecamatan di Bogor dan 3 kecamatan di Depok) yang kepadatan penduduknya rata-rata di atas 50 jiwa/ha (Tabel 5).
Dalam klasifikasi citra landsat oleh BAPLAN tidak didetailkan dengan tutupan RTH yang ada pada areal ruang terbangun, misalnya hutan dan taman kota, jalur hijau. Menurut Isdiyantoro (2007), luas RTH Kodya Jakarta Timur tahun 2005 adalah 7.787,391 hektar. Jika dibandingkan dengan pengamatan pada data Citra Landsat MSS aquisisi tahun 1986 RTH yang tersedia adalah 11.216,688 hektar.Hal ini menggambarkan bahwa tutupan RTH pada ruang terbangun di daerah perkotaan (dalam kasus ini Jakarta), turut mengalami penyempitan luasan.
33
permukiman modern merupakan vegetasi yang baru ditanam seiring dengan dibangunnya lahan ruang terbangun/perumahan modern tersebut. Pilihan jenis yang ditanam pada permukiman modern lebih karena pertimbangan estetika atau keindahan (Gambar 7). Beberapa jenis pohon yang dapat ditemui pada tutupan ruang terbangun di DAS Ciliwung di antaranya terdapat pada Tabel 6.
Tabel 6 Jenis pohon yang terdapat pada ruang terbangun di DAS Ciliwung
No Nama Lokal Nama Ilmiah Family
1 Alpukat Persea americana Mill. Lauraceae
2 Angsana Pterocarpus indicus Willd. Fabaceae
3 Belimbing Wuluh Averrhoa bilimbi L. Oxalidaceae
4 Beringin Ficus benjaminaL. Moraceae
5 Cemara kipas Thuja orientalisL. Cepressaceae
6 Dadap Merah Erythrina crista-galli L. Fabaceae
7 Jambu Biji Psidium guajava L. Myrtaceae
8 Jelly palm Butia capitata (Mart.) Becc. Arecaceae
9 Kamboja Plumeria rubra L. Apocynaceae
10 Kembang kupu-kupu Bauhinia purpureaL. Fabaceae
11 Kerai Payung Filicium decipiens (Wt. & Arn.) Thw. Sapindaceae
12 Kersen/ceri Muntingia calabura L. Muntingiaceae
13 Mahoni Swietenia mahagoni Jacq. Meliaceae
14 Mengkudu Morinda citrifolia L. Rubiaceae
15 Nangka Artocarpus heterophyllus Lamk. Moraceae
16 Palem Putri Veitchia merilii(Becc.) H.E. Moore Arecaceae
17 Palem Raja Roystonea regia O.F. Cook Arecaceae
18 Pisang Musa x paradisiaca L, pro spec,; C. Jeffrey Musaceae
19 Pulai Alstonia scholarisR.Br. Apocynaceae
20 Sawo kecik Manilkara kauki L. Sapotaceae
21 Sukun Artocarpus communis Forst. Moraceae
22 Tanjung Mimusops elengi L. Sapotaceae
Sumber: Hasil inventarisasi di lapangan (2012)
2) Perkebunan
(a) (b)
Gambar 9 Kebun teh (a), dan kebun campuran (b) di hulu DAS Ciliwung (2011).
Tabel 7 Jenis vegetasi yang terdapat pada kebun/ kebun campuran
No Nama Lokal Nama Ilmiah Family
1 Akasia Acacia mangium Willd. Fabaceae
2 Alpukat Persea americana Mill. Lauraceae
3 Durian Durio zibethinus Murr. Malvaceae
4 Jambu air Syzygium aqueum Alston Myrtaceae
5 Kayu afrika Maesopsis eminii Engl. Rhamnaceae
6 Kelapa Cocos nuciferaL. Arecaceae
7 Mangga Mangifera indica Blume Anacardiaceae
8 Nangka Artocarpus heterophyllus Lamk. Moraceae
9 Bacang Mangifera foetida Lour. Anacardiaceae
10 Pala Myristica fragrans Houtt. Myristicaceae
11 Palem raja Roystonea regia O.F. Cook Arecaceae
12 Pepaya Carica papaya L. Caricaceae
13 Petai cina Leucaena glauca (L.) Benth. Fabaceae
14 Pinang Areca catechu L. Arecaceae
15 Pisang Musa x paradisiaca L, pro spec,; C. Jeffrey Musaceae
16 Rambutan Nephelium lappaceum L Sapindaceae
17 Sengon Paraserianthes falcataria (L.) I. Nielsen Fabaceae
18 Tanjung Mimusops elengi L. Sapotaceae
19 Teh Camellia sinensis L. Theaceae
Sumber: Hasil inventarisasi di lapangan (2011)
35
Ciliwung sehingga menjadikan tutupan lahan ini menjadi tipe tutupan vegetasi yang terluas di DAS Ciliwung.
3) Hutan Alam
Hutan alam merupakan salah satu penyusun kawasan DAS Ciliwung dengan luasan 3.922,68 ha atau sebesar 10,16% dari keseluruhan luas DAS Ciliwung. Hutan alam pada DAS Ciliwung terdapat pada bagian hulu dari DAS tersebut, di antaranya pada Taman Wisata Alam (TWA) Telaga Warna. TWA Telaga Warna ditetapkan sebagai cagar alam berdasarkan Surat Keputusan (SK) Menteri Pertanian No.131/UM/1954 tanggal 6 Desember 1954 seluas 23,5 ha dan selanjutnya dipeluas dengan dikeluarkannya SK Menteri Pertanian No. 394/Kpts/Um/1979 tanggal 23 Juni 1979 dengan luas 350 ha sehingga luasnya menjadi 373,25 ha. Berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 481/Kpts/um/1981 tanggal 9 Juni 1981 sebagian luas cagar alam dirubah statusnya menjadi Taman Wisata Alam seluas 5 ha, sehingga luas cagar alam menjadi 368,25 ha. Secara administratif pemerintahan, kawasan ini terletak di Desa Tugu Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor.Secara geografis terletak pada 6o 42’ 00” LS dan 107o 11’ 05” – 107o 20’ 00” BT (BBKSDA Jawa Barat, 2007).
Gambar 10 Tutupan vegetasi di TWA Telaga Warna (2012).
sigun(Blume)), saninten (Castanopsis argenteaA. DC.), dan kibangkong (Turpinia sphaerocarpa Hassk.)(Tabel 8).
Tabel 8 Jenis vegetasi yang ditemukan di hutan alam TWA Telaga Warna
No Nama Nama Ilmiah Famili
1 Beleketebe Sloanea sigun (Blume) Elaeocarpaceae
2 Beunying Ficus fistulosa Reinw. Ex Blume Moraceae
3 Ganitri Elaeocarpus ganitrus Roxb. Elaeocarpaceae
4 Hamirung Vernonia arborea Buch. –Ham Asteraceae
5 Huru Actinodaphne glomerata (Blume) Lauraceae
7 Ki bangkong Turpinia sphaerocarpa Hassk. Staphylaceae
8 Ki leho Saurauaia bracteosa D.C. Actinidiaceae
9 Ki pahit Picrasma javanica Blume Simaroubaceae
10 Ki panggang Trevesia sundaicaMiq. Araliaceae
11 Ki rukem Flacourtia rukam Zoll. & Moritzi Salicaceae
12 Kisirem Podocarpus neriifolius D. Don Podocarpaceae
13 Kimareme Glocidion borneense (Mull. Arg.) Boerl. Euphorbiaceae
14 Kayu afrika Maesopsis eminii Engl. Rhamnaceae
15 Manglid Magnolia blumei Prantl Magnoliaceae
16 Nangsi Villebrunea rubescens Blume Urticaceae
17 Pasang Lithocarpus pseudomoluccus (Blume) Rehder Fagaceae
18 Pulus Laportea stimulans Miq. Urticaceae
19 Salam hutan Syzygium polyanthum Miq. Myrtaceae
20 Saninten Castanopsis argentea A. DC. Fagaceae
22 Walen Ficus ribes Reinw. Moraceae
Sumber: Hasil inventarisasi di lapangan (2012)
4) Pertanian Lahan Kering
37
2011, areal pertanian lahan kering di DAS Ciliwung memiliki luas 3.773,04 ha atau sebesar 9,77% dari keseluruhan luas DAS Ciliwung.
Gambar 11 Salah satu tutupan vegetasi pertanian lahan kering di DAS Ciliwung (2011).
5) Hutan Tanaman
Hutan tanaman yang terdapat pada DAS Ciliwung adalah dominasi jenis pinus (Pinus merkusii Jungh.& De Vr.)di mana kawasan ini terletak pada daerah hulu dari DAS Ciliwung dan sebagian berada pada daerah Megamendung. Kawasan ini sebelumnya adalah wilayah persawahan yang kemudian dikelola pemerintah (PERHUTANI) dan ditanami dengan pinus.
Gambar 12 Sebagian areal hutan tanaman pinus di DAS Ciliwung (2012).
modern yang menjadikan pinus sebagai tanaman pada RTH permukiman tersebut. Berdasarkan data BAPLAN tahun 2012, hutan tanaman di hulu DAS Ciliwung ini berkontribusi seluas 1.961,76 ha atau sebesar 5,08% dari keseluruhan luas DAS Ciliwung.
6) Semak Belukar
Semak belukar mendominasi daerah hulu DAS Ciliwung dan sebagian berada di bagian tengah (kota Depok). Areal semak lebih luas dari areal persawahan. Pada tahun 2011, semak memiliki luas 127,97ha, atau sebesar 0,33%
Gambar 13 Penutupan semak di DAS Ciliwung (2012).
dari luas DAS Ciliwung secara keseluruhan. Tutupan lahan semak yang ditemui umumnya merupakan semak-semak atau padang alang-alang pada areal rencana pengembangan perumahan yang belum terbangun, pada bagian hulu di sekitar kawasan hutan yang telah dirambah dan tidak dimanfaatkan, ataupun lahan-lahan pertanian yang terabaikan. Vegetasi utama pada tutupan semak ini berupa alang-alang (Imperata cylindrica (L.)), pohon dari keluarga mimosa, sentro (Centrosema pubescens), dan rumpunan bambu (Gambar 12).
7) Sawah
39
Ciliwung yang dimaksud dalam analisis peta digital adalah yang menggunakan sistem irigasi. Areal persawahan dengan sistem tadah hujan digolongkan ke per-
Gambar 14 Areal persawahan di tepi Sungai Ciliwung (2011).
tanian lahan kering, karena pada saat bera digunakan untuk bercocok tanam tanaman pertanian jenis lain. Wilayah persawahan termasuk wilayah yang cukup banyak terkonversi. Pada tahun 2011, luasan sawah di DAS Ciliwung tinggal sebesar 0,05% dari luas total DAS Ciliwung, atau seluas 20,36 ha saja.
4.1.3.Analisis Cadangan Karbon Aktual
Cadangan karbon pada suatu lanskap bervariasi sesuai dengan tegakan penyusun lanskap tersebut. Berdasarkan hasil penelitian, tutupan lahan pada DAS Ciliwung memiliki cadangan potensi karbon yang bervariasi dari 144,99 – 2,53 ton/ha. Perbedaan cadangan potensi karbon disebabkan karena perbedaan komposisi vegetasi pada tiap tutupan lahan. Ruang terbangun mempunyai nilai cadangan karbon terendah (2,53 ton/ha). Potensi cadangan karbon tertinggi terdapat pada hutan pinus, yaitu 144,99 ton/ha (Tabel 9).
Tabel 9 Potensi karbon pada berbagai penutupan lahan di DAS Ciliwung
No Penutupan Lahan Potensi Karbon (ton/ha)
1 Hutan alam 111,20 2 Hutan tanaman 144,99
3 Semak 6,15
4 Kebun 29,77
5 Sawah 4,61
6 Ruang terbangun 2,53
7 Pertanian lahan kering 4,44
Untuk wilayah hutan tropis Asia terutama di Indonesia memiliki potensi bimassa sebesar 533 ton/ha atau 266,5 ton C/ha dengan asumsi fraksi karbon sebesar 50% (Brown 1997 disitasi oleh Adinugroho 2012). Stok karbon permukaan pada berbagai penutupan lahan di DAS Ciliwung dengan asumsi fraksi karbon sebesar 0,46 (Hairiah 2007) terdapat pada Tabel 9.
1) Rata-rata Cadangan Karbon Hutan Alam
41
Bekasi, hutan alam di DAS Ciliwung masih memiliki cadangan karbon yang lebih besar walaupun juga mengalami degradasi. Hal ini mungkin dikarenakan adanya perhatian yang khusus terutama pada kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
2) Rata-rata Cadangan Karbon Hutan Tanaman (Pinus)
Hutan pinus merupakan tipe penggunaan lahan di DAS Ciliwung yang mempunyai potensi cadangan karbon terbesar, yaitu 144,99 ton/ha dengan rata-rata diameter pohon berkisar 18 – 59 cm dengan rata-rata-rata-rata diameter 38,25 cm. Contoh plot pada penelitian ini dilakukan pada hutan pinus di daerah Mega Mendung pada titik 6 o 39’ 41,70” LS dan 106 o 57’ 00,10” BT.
Menurut Hendra (2002) yang disitasi oleh Adinugroho (2012), cadangan karbon terbesar pada pohon pinus terdapat pada bagian batang yaitu 78% dan sisanya terdapat pada bagian cabang (11%), tunggak (5%), ranting (4%) dan daun (2%). Menurut Gintings (1997) yang disitasi oleh Litbang Kehutanan (2012), hutan tanaman Pinus merkusii di Jawa Timur dan Jawa Barat memiliki cadangan karbon permukaan berkisar 74,6 – 217,5 ton/ha. Berdasarkan hasil penelitian, nilai 144,99 ton/ha berada pada kisaran 74,6 – 217,5 ton/ha tersebut. Menurut Handayani (2003) yang disitasi oleh Adinugroho (2012), tegakan pinus di KPH Bogor berubah dari umur 1 tahun sampai 25 tahun yaitu 7,06 ton/ha menjadi 137,14 ton/ha. Berdasarkan penelitian Adinugroho (2012), hutan pinus di hulu DAS Kali Bekasi memiliki cadangan karbon sebesar 160,53 ton/ha. Cadangan karbon di hutan pinus DAS Ciliwung sebesar 144,99 ton/ha sehingga besar kemungkinan pohon pinus yang terdapat pada hulu DAS Kali Bekasi dan DAS Ciliwung berumur > 25 tahun.
3) Rata-rata Cadangan Karbon Semak
penelitian ini, semak memiliki cadangan karbon sekitar 6,15 ton/ha. Plot contoh untuk tutupan semak dalam penelitian ini dilakukan pada daerah Depok pada koordinat 6o 24’ 46,80” LS dan 106 o 46’ 07,90”.
Nilai cadangan karbon yang didapat pada penelitian ini relatif lebih rendah dari hasil penelitian di Jambi oleh Prasetyo (2000) dalam Muzahid (2008) yang disitasi oleh Litbang Kehutanan (2010) yaitu sebesar 6,0 ton/ha untuk padang rumput dan 15,0 ton/ha untuk semak. Hasil cadangan karbon semak pada penelitian ini cukup berbeda dari pada yang terdapat pada literatur. Hal ini kemungkinan disebabkan karena lokasi plot dan kondisi vegetasi yang berbeda.
4) Rata-rata Cadangan Karbon Kebun
Kebun teh (Camellia sinensis) mendominasi perkebunan di hulu DAS Ciliwung dan berbatasan langsung dengan hutan alam di TWA Telaga Warna, serta memiliki luasan yang tetap selama 20 tahun terakhir (BAPLAN, 2012). Berdasarkan keterangan dari petugas lapang, kebun teh di kawasan tersebut sudah ada sejak tahun 1980-an.
Adapun kebun campuran merupakan salah satu sistem agroforestri sederhana yang telah lama dijumpai di Indonesia.Kombinasi tanaman pisang, mangga, nangka, petai, rambutan, durian serta kadang dikombinasi juga dengan tanaman kayu seperti kayu afrika atau sengon adalah gambaran struktur tegakan pada sistem kebun campuran yang dijumpai di DAS Ciliwung terutama bagian hulu. Lokasi pengambilan plot contoh pada tutupan kebun the dilakukan pada koordinat 6o 42’ 07,50” LS dan 106o 58’ 47,80” BT, sedangkan pada tutupan kebun campur dilakukan pada koordinat 6o 37’ 51” LS dan 106o 50’ 13,20” BT.
43
Hasil penelitian lapang, konversi hutan alam menjadi kebun campuran ataupun perkebunan teh berdampak pada penurunan cadangan karbon. Cadangan karbon pada hutan alam sebesar 111,20 ton/ha, sedangkan kebun campuran memiliki cadangan karbon sebesar 29,77 ton/ha (Tabel 9). Nilai ini berada dalam kisaran cadangan karbon untuk agroforestri dengan pola kebun campuran yang dilakukan oleh Rusolono (2006) yang disitasi oleh Litbang Kehutanan (2010), yaitu sebesar 10,4-73,8 ton/ha. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Adinugroho (2012), besarnya cadangan karbon pada kebun campuran yang ada di hulu Kali Bekasi mencapai 62,34 ton/ha. Berdasarkan penelitian Rusolono (2006), cadangan karbon pada agroforestri murni di Pacekelan sebesar 13,4 – 76,1 ton/ha, sedangkan di Kertayasa pada agroforestri campuran mempunyai cadangan karbon sebesar 8,5 – 70,8 ton/ha. Jika dibandingkan dengan kebun campuran di hulu DAS Kali Bekasi, cadangan karbon yang didapat pada penelitian ini relatif lebih rendah, tetapi hal ini secara umum relatiftidak berbeda karena nilainya berada pada kisaran cadangan karbon di Pacekelan maupun Kertayasa. Hal ini kemungkinan disebabkan karena adanya perbedaan struktur, jenis, kerapatan, dan usia tanaman saat dilakukan proses sampling antara satu lokasi dengan lokasi lainnya.
5) Rata-rata Cadangan Karbon Sawah
Padi merupakan salah satu tanaman semusim yang dapat panen beberapa kali dalam setahun.Lokasi plot contoh untuk tutupan sawah berada pada koordinat 6o 37’ 55,20” LS dan 106o 49’ 56,30” BT. Pada lokasi penelitian, padi yang ditanam dapat panen sebanyak tiga kali setahun atau empat bulan dalam satu periode penanaman. Kondisi tanaman padi saat dilakukan penelitian adalah pada tanaman berumur dua dan empat bulan.Artinya pada tanaman padi yang dalam masa pertengahan dan akhir masa tanam. Dalam penelitian ini, rata-rata padi di sawah memilki potensi karbon sebesar 4,61 ton/ha sedikit lebih kecil dari pada potensi karbon yang ada pada tutupan semak (6,15 ton/ha).
sisa-sisa pemanenan dapat digunakan sebagai pakan ternak ataupun dibakar untuk menyuburkan lahan. Padi yang berumur tua atau hampir panen memiliki cadangan karbon yang lebih besar dari pada padi berusia muda. Hal ini kemungkinan disebabkan padi yang hampir panen memiliki bulir padi yang berat, serta kandungan air pada daun dan batang yang lebih rendah.
6) Rata-rata Cadangan Karbon Ruang Terbangun
Ruang terbangun pada penelitian ini merupakan tutupan lahan yang paling sedikit memilki cadangan karbon.Cadangan karbon pada tutupan ruang terbangun didapat dari keberadaan vegetasi di sekitar ruang terbangun tersebut.Lokasi plot contoh tutupan ruang terbangun pada penelitian ini terletak pada koordinat 6o 24’ 32” LS dan 106o 45’ 20” BT.
Di bagian hulu DAS Ciliwung, masih dapat dijumpai areal ruang terbangun yang memiliki pekarangan yang cukup luas dengan penggunaan kayu yang erat sebagai struktur bangunan. Tanaman pada pekarangan pun ada yang berupa (habitus) pohon dengan usia yang menahun. Beberapa jenis pohon yang dapat ditemui pada lokasi ini di antaranya mahoni (Swietenia mahagoni dan S.
macrophylla), tanjung (Mimusops elengi), kerai payung (Filicium decipiens), dan
lain-lain.Pada bagian tengah DAS Ciliwung, penggunaan kayu sebagai struktur bangunan semakin sedikit karena banyaknya komplek perumahan modern dari berbagai pengembang yang lebih menggunakan baja ringan sebagai ganti kaso dan reng.Keberadaan pohon sebagai peneduh masih dijumpai pada daerah ini, dengan tinggi dan diameter yang seragam.Hal ini disebabkan waktu penanaman yang seragam, yaitu pada saat pengembangan perumahan tersebut dimulai.Tanaman yang ada pada komplek ruang terbangun di DAS Ciliwung tengah di antaranya adalah dadap merah (Erythrina crista-gali), pulai (Alstonia
scholaris), daun kupu-kupu (Bauhinia purpurea), dan palem raja (Roystonea regia) dengan tanaman penutup tanah rumput paetan (Axonopus compressus).Pada
45
ton/ha yang didapat hanya dari jalur hijau pada ruang terbangun terutama pada permukiman modern.
Studi cadangan karbon di pekarangan pada hulu DAS Kali Bekasi oleh Adinugroho (2012) melaporkan bahwa rata-rata cadangan karbon terbesar terdapat pada tipe pekarangan sedang (200-500 m2) dengan potensi cadangan sebesar 52,10 ton/ha, pada tipe pekarangan sangat besar (>1.000 m2) rata-rata cadangan karbonnya sebesar 21,11 ton/ha, pada tipe pekarangan sempit (<200 m2) sebesar 43,17 ton/ha, pada tipe pekarangan besar (500-1000 m2) sebesar 7,54 ton/ha. Rata-rata cadangan karbon ini sangat dipengaruhi oleh struktur tegakan penyusunnya. Berdasarkan data tersebut, dapat diketahui bahwa pekarangan dalam areal permukiman memiliki potensi cadangan karbon yang cukup besar.
7) Rata-rata Cadangan Karbon Pertanian Lahan Kering
Cadangan karbon pada pertanian lahan kering bervariasi tergantung lokasi, dan komposisi vegetasi yang ditanam.Di bagian hulu DAS Ciliwung, dapat ditemukan pertanian lahan kering berupa kebun singkong, jagung, ubi, dan kacang.Lokasi plot contoh tutupan pertanian lahan kering pada penelitian ini berada pada koordinat 6o 33’ 41,30” LS dan 106o 45’ 18” BT. Pada penelitian ini, cadangan karbon pada pertanian lahan kering sebesar 4,44 ton/ha, sedikit lebih kecil daripada cadangan karbon yang terdapat pada tutupan persawahan (4,61 ton/ha).