TUGAS AKHIR
NURUL IMANIAH R
112401076
PROGRAM D-3 KIMIA
DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2014
PENENTUAN KADAR SULFUR DIOKSIDA (SO2) DI UDARA
AMBIEN DENGAN METODE PARAROSANILIN
TUGAS AKHIR
Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat
memperoleh Ahli Madya
NURUL IMANIAH R
112401076
PROGRAM D-3 KIMIA
DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2014
PERSETUJUAN
Judul : PENENTUAN KADAR SULFUR DIOKSIDA
(SO2) DALAM UDARA AMBIEN DENGAN
METODE PARAROSANILIN
Kategori : TUGAS AKHIR
Nama : NURUL IMANIAH R
Nomor Induk Mahasiswa : 112401076
Program Studi : DIPLOMA (D3) KIMIA
Departemen : KIMIA
Fakultas : MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Disetujui di
Medan, Juni 2014
Diketahui/Disetujui Oleh:
Program Studi D3 Kimia Dosen Pembimbing
FMIPA USU Ketua,
Dra. Emma Zaidar Nst, M.Si Drs. Ahmad Darwin Bangun M.Sc NIP. 19551 2181987012001 NIP. 195211161980031001
Departemen Kimia FMIPA USU
Ketua,
Dr. Rumondang Bulan, MS
NIP.195408301985032001
PERNYATAAN
PENENTUAN KADAR SULFUR DIOKSIDA (SO2) DI UDARA AMBIEN DENGAN METODE PARAROSANILIN
TUGAS AKHIR
Saya mengakui bahwa karya ilmiah ini adalah hasil kerja saya sendiri, kecuali
beberapa kutipan dari ringkasan yang masing-masing disebutkan sumbernya.
Medan, Juni 2014
NURUL IMANIAH R
112401076
PENGHARGAAN
Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah SWT yang senantiasa mencurahkan rahmat serta karunia–Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Ilmiah ini dengan judul “Penentuan Kadar Sulfur Dioksida (SO2) Di Udara Ambien Dengan Metode Pararosanilin”, guna melengkapi tugas sebagai salah satu persyaratan akademis untuk menyelesaikan program studi Diploma-3 Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara.
Selesainya karya ilmiah ini tidak lepas dari bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dengan kerendahan hati penulis mengucapkan terimakasih banyak kepada:
1. Orang tua tercinta ayahanda H.Abdussomad Rangkuti dan ibunda
Hj.Zubaidah, yang telah memberikan kasih sayang yang tulus dan pengorbanan berupa moril dan materil. Terimakasi juga kepada saudara-saudara saya, M.Syarif R, Aisyahtul Mardiah R, S.Pd dan Fatimah Zahara, S.Pd yang telah banyak memberikan motifasi serta dukungan kepada penulis untuk menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan baik.
2. Bapak Drs. Ahmad Darwin Bangun M.Sc, selaku dosen pembiming yang
telah banyak meluangkan waktu dalam memberikan bimbingan kepada penulis.
3. Ibu Dr. Rumondang Bulan Nst, M.S, selaku Ketua Departemen Kimia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara.
4. Ibu Dra. Emma Zaidar, M.Si selaku Ketua Program Studi Diploma 3
Kimia.
5. Ibu Dr. Marpongahtun, MSc selaku Pembantu Dekan I.
6. Bapak Dra. Emma Zaidar, M.Si, selaku Dosen penasehat akademik yang
telah memberikan bimbingan dan arahan dalam kelancaran kegiatan akademik.
7. Bapak Abner Tarigan M.Si dan Ibu Murni Hutapea S.T selaku
pembimbing PKL di UPT. Laboratorium BLH (Badan Lingkungan Hidup) yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan dan arahan dalam pelaksanaan PKL.
8. Chairani, Melidya dan Siti Mutiara Amrina Hrp yang menjadi teman
seperjuangan mulai dari mengikuti PKL di UPT. Laboratorium BLH (Badan Lingkungan Hidup) hingga penyusunan Karya Ilmiah ini.
9. Teman-teman stambuk 11 jurusan D3 Kimia FMIPA USU, semoga kita
menjadi generasi intelektual yang berguna bagi nusa, bangsa terutama bagi agama.
Demikianlah Tugas Akhir ini penulis perbuat dan penulis menyadari bahwa Karya Ilmiah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari segi isi maupun
susunannya dikarenakan keterbatasan, kemampuan serta pengetahuan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan Karya Ilmiah ini. Akhir kata penulis berharap semoga Karya Ilmiah ini bermanfaat dan berguna bagi pembaca dan khususnya bagi penulis.
Medan, Mei 2014
Penulis
Nurul Imaniah R
PENENTUAN KADAR SULFUR DIOKSIDA (SO2) DALAM UDARA AMBIEN DENGAN METODE PARAROSANILIN
ABSTRAK
Telah dilakukan penentuan kadar Sulfur Dioksida dalam sampel udara ambien yang berasal dari UPT Laboratorium BLH Sumatera Utara dengan metode pararosanilin menggunakan spektrofotometer UV-Visibel pada panjang gelombang 550 nm. Dari data yang diperoleh konsentrasi Sulfur Dioksida pada sampel i, ii, iii, dan iv, masing-masing sebesar 0,0017 ppm, 0,0012 ppm, 0,0014 ppm, dan 0,0015 ppm. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No.1405/MENKES/SK/2002 pada tanggal 19 november 2002 dimana kadar sulfur dioksida pada Baku Mutu Udara Ambien adalah 2 ppm, maka sampel udara ambien tersebut dikatakan belum tercemar.
CONTENT DETREMINATION OF SULFUR DIOXIDE (SO2) IN THE AMBIENT AIR WITH PARAROSANILIN METHODE
ABSTRACT
It has been done for determination of sulfur dioxide in sample of ambient air from UPT Laboratory BLH North Sumatera with pararosaniline method by using spectrophotometer UV-Visible at a wavelength of 550 nm. From the data obtained concentration of sulfur dioxide in the sample i, ii, iii, and iv is 0,0017 ppm, 0,0012 ppm, 0,0014 ppm, and 0,0015 ppm. Based on the Decision from the Minister of Health No.1405/MENKES/SK/XI/2002 on 19 november 2002 the standard quality of sulfur dioxide is 2 ppm, so the sampel of ambient air is not contaminated.
DAFTAR ISI
Halaman
PERSETUJUAN iii
PERNYATAAN iv
PENGHARGAAN v
ABSTRAK vii
1.2. Permasalahan 3
1.3. Pembatasan Masalah 3
1.4. Tujuan 4
2.1.4. Sifat-Sifat Pencemran Udara 10
2.1.5. Penyebab Pencemaran Udara 10
2.2. Sulfur Dioksida 11
2.2.1. Sifat-Sifat Sulfur Dioksida 11
2.2.2. Sumber-Sumber Sulfur Dioksida 12
2.2.3. Dampak Pencemaran Sulfur Dioksida 13
2.3. Spektrofotometri UV-Visible 15
BAB 3. BAHAN DAN METODE 18
3.1. Alat 18
3.2 Bahan 18
3.3. Prosedur percobaan 19
3.3.1 Pembuatan Pereaksi 19
3.3.2 Pengambilan Contoh Uji 23
3.3.3 Persiapan Pengujian 23
3.3.4 Pembuatan Kurva Kalibrasi 24
3.3.5 Pengujian Sampel 25
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 26
4.1. Data Percobaan 26
4.2. Perhitungan 26
4.2.1 Penentuan Konsentrasi SO2 Dalam Larutan Induk
Na2S2O5 26
4.2.2 Penentuan Konsentrasi SO2 Dalam Larutan Standar
Na2S2O5 28
4.2.3 Pembuatan Kurva Kalibrasi 28
4.2.4. Perhitungan Persamaan Garis Regresi 29
4.2.5. Penentuan Koefisien Korelasi 31
4.2.6. Perhitungan Kurva Kalibrasi 31
4.2.7. Perhitungan Konsentrasi SO2 Pada Kurva 32
4.2.8 Volume Contoh Uji Udara yang Diambil 33
4.2.9. Perhitungan Konsentrasi SO2 Pada Udara Ambien 34
4.3. Pembahasan 35
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN 36
5.1. Kesimpulan 36
5.2. Saran 36
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Komposisi Udara Atmosfer 6
Tabel 2.2 Pengaruh SO2 Terhadap Manusia 14
Tabel 4.1 Data Percobaan 27
Tabel 4.2 Metode Biasa 28
Tabel 4.3 Penurunan Persamaan Garis Regresi Untuk Penentuan
Konsentrasi SO2 Berdasarkan Pengukuran Absorbansi Larutan
Standar SO2 28
Tabel 4.4 Harga y Baru Larutan Standar SO2 30
PENENTUAN KADAR SULFUR DIOKSIDA (SO2) DALAM UDARA AMBIEN DENGAN METODE PARAROSANILIN
ABSTRAK
CONTENT DETREMINATION OF SULFUR DIOXIDE (SO2) IN THE AMBIENT AIR WITH PARAROSANILIN METHODE
ABSTRACT
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Udara adalah zat yang paling penting setelah air dalam memberikan
kehidupan di permukaan bumi ini. Selain memberikan oksigen, udara juga
berfungsi sebagai alat penghantar suara dan bunyi-bunyian, pendingin
benda-benda yang panas, dan dapat menjadi media penyebaran penyakit pada makhluk
hidup. (Chandra, 2006)
Udara sangat dibutuhkan oleh manusia dan hewan. Udara digunakan untuk
pernapasan, menghirup gas oksigen ke paru-paru yang kemudian diserap oleh
darah, lalu diangkut ke seluruh tubuh sebagai pemasok oksigen bagi sel-sel tubuh.
(Sunu, 2001)
Udara merupakan campuran mekanis dari bermacam-macam gas.
Komposisi normal udara terdiri atas gas nitrogen 78,1%, oksigen 20,93% dan
karbon dioksida 0,03%, sementara selebihnya merupakan gas argon, neon,
kripton, xenon dan helium. Udara juga mengandung uap air, debu, bakteri, spora,
dan sisa-sisa tumbuhan. (Chandra, 2006)
Udara ambien adalah udara bebas dipermukaan bumi pada lapisan
troposfir yang dibutuhkan dan mempengaruhi kesehatan manusia, makhluk hidup
dan lingkungan hidup lainnya. (SNI, 2005)
Pembangunan yang berkembang pesat dewasa ini, khususnya dalam
menggunakan bahan bakar fosil (minyak) menyebabkan udara yang kita hirup di
sekitar menjadi tercemar oleh adanya gas-gas buangan hasil pembakaran.
(Wardhana,2004)
Pencemaran udara dapat diartikan sebagai dimasukkannya komponen lain
ke dalam udara, baik oleh kegiatan manusia secara langsung atau tidak langsung
maupun akibat proses alam sehinnga kualitas udara menurun sampai ke tingkat
tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi
lagi sesuai peruntukannya. (Chandra, 2006)
Pencemaran udara pada suatu tingkat tertentu dapat merupakan campuran
dari satu atau lebih bahan pencemar, baik berupa padatan, cairan atau gas yang
masuk terdispersi ke udara dan kemudian menyebar ke lingkungan sekitarnya.
(Whardana,2004)
Udara di alam tidak pernah dijumpai dalam keadaan bersih tanpa polutan
sama sekali. Beberapa gas seperti sulfur dioksida (SO2), hidrogen sulfide (H2S),
dan karbon monoksida selalu dibebaskan ke udara sebagai produk sampingan dari
proses alami seperti aktivitas vulkanik, pembusukan sampah tanaman, kebakaran
hutan dan sebagainya. (Kristanto,2002)
Gas sulfur dioksida merupakan gas pencemar di udara yang
konsentrasinya paling tinggi di daerah kawasan industri dan daerah perkotaan.
(Chandra, 2006)
Sepertiga jumlah sulfur yang terdapat di atmosfer merupakan hasil dari
sumber alam seperti vulkano, dan terdapat dalam bentuk H2S dan oksida.
(kristanto, 2002)
Gas SO2 yang ada di atmosfer dapat menyebabkan iritasi saluran
pernapasan dan kenaikan sekresi mucous. Orang yang mempunyai pernapasan
lemah sangat peka terhadap kandungan SO2 yang tinggi di atmosfer. Dengan
kondisi 500 ppm, SO2 dapat menyebabkan kematian pada manusia.(Mulia, 2005)
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk menentukan kadar sulfur
dioksida (SO2) dalam udara ambien dengan metode pararosanilin.
1.2 Permasalahan
1. Berapakah kadar sulfur dioksida yang terkandung di udara ambien pada sampel
2. Apakah kadar sulfur dioksida di udara ambien pada sampel telah memenuhi
standar yang telah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan
No.1405/MENKES/SK/XI/2002 pada tanggal 19 november 2002.
1.3 Pembatasan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan dibatasi pada penentuan
kadar sulfur dioksida dalam udara ambien pada sampel yang diperoleh dari UPT
Laboratorium BLH Sumatera Utara dengan metode pararosanilin
1.4 Tujuan
1. Untuk mengetahui kadar sulfur dioksida yang terkandung di dalam udara
2. Untuk mengetahui apakah kadar sulfur dioksida tersebut sudah memenuhi
standar baku mutu udara yang ditetapkan oleh pemerintah.
1.5 Manfaat
1. Sebagai informasi mengenai kandungan sulfur dioksida yang terdapat dalam
udara ambien pada sampel
2. Sebagai informasi apakah kandungan sulfur dioksida yang terdapat dalam udara
ambien pada sampel sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Udara
Udara adalah campuran dari berbagai gas secara mekanis dan bukan
merupakan senyawa kimia. Udara merupakan komponen yang membentuk
atmosfer bumi, yang membentuk zona kehidupan pada permukaan bumi.
Udara terdiri dari berbagai gas dalam kadar yang tetap pada permukaan
bumi, kecuali gas metana, ammonia, hidrogen sulfida, karbon monoksida, dan
nitrooksida mempunyai kadar yang berbeda-beda tegantung daerah/lokasi.
Umumnya konsentrasi gas metana, ammonia, hidrogen sulfida, karbon
monoksida, dan nitrooksida sangat tinggi di areal rawa-rawa atau industri kimia.
(Gabriel,1999)
Unsur terpenting dari udara untuk kehidupan adalah oksigen. Jumlah
oksigen di dalam maupun di luar ruangan tidak banyak berbeda. Kesulitan
bernafas akan dialami makhluk hidup yang membutuhkan oksigen jika
konsentrasi oksigen di dalam maupun di luar ruangan berkurang karena
meningkatnya konsentrasi CO2. (Kristanto,2002)
2.1.1 Kegunaan Udara
Udara sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari antara lain:
1. Bahan kebutuhan pokok dalam pernapasan
3. Sebagai alat pendingin trafo tekanan tinggi
4. Sebagai sarana olahraga terbang layang
5. Membantu transfer panas melalui metode konveksi. (Gabriel,1999)
2.1.2 Komposisi Udara
Udara merupakan campuran beberapa macam gas yang perbandingannya
tidak tetap, tergantung pada keadaan suhu udara, tekanan udara dan lingkungan
sekitarnya. Udara adalah juga atmosfer yang berada disekeliling bumi yang
fungsinya sangat penting bagi kehidupan di dunia ini. Komposisi normal udara
terdiri atas gas nitrogen 78,1%, oksigen 20,93%, dan karbondioksida 0,03%,
sementara selebihnya berupa gas argon, neon, krypton, xenon, dan helium. Udara
juga mengandung uap air, debu, bakteri, spora, dan sisa tumbuh-tumbuhan.
(Chandra, 2006)
Tabel 2.1 komposisi udara atmosfer
Unsur Simbol Konsentrasi
Krypton Kr 0,01
Metana CH4 Sangat sedikit
Ammonia NH3 Sangat sedikit
Hidrogen sulfide H2S Sangat sedikit
Nitrous oksida N2O Sangat sedikit
selain gas-gas tersebut diatas, di dalam udara atau atmosfer terdapat uap air
sebanyak sekitar 0,001% sampai 4% volume udara. (Gabriel,1999)
2.1.3 Pencemaran Udara
Pencemaran udara diartikan sebagai adanya bahan-bahan atau zat-zat asing
di dalam udara yang menyebabkan perubahan susunan (komposisi) udara dari
keadaan normalnya. Kehadiran bahan atau zat asing di dalam udara dalam jumlah
tertentu serta berada di udara dalam waktu yang cukup lama, akan dapat
mengganggu kehidupan manusia, hewan dan binatang. (Wardhana, 2004)
Menurut Henry C. Perkins, 1974, dalam bukunya Air Pollution,
pencemaran udara dinyatakan sebagai berikut: Pencemaran udara berarti hadirnya
satu atau beberapa kontaminan di dalam udara atmosfer, seperti antara lain oleh
debu, busa, gas, kabut, bau-bauan, asap atau uap dalam kuantitas yang banyak,
dengan berbagai sifat maupun lama berlangsungnya di udara tersebut, hingga
dapat menimbulkan gangguan-gangguan terhadap kehidupan manusia, tumbuhan
atau hewan maupun benda, atau tanpa alasan jelas sudah dapat mempengaruhi
Ada 9 jenis bahan pencemar udara yang dianggap penting, yaitu sebagai
berikut:
a. Oksida karbon: karbon monoksida (CO) dan karbon dioksida (CO2).
b. Oksida belerang: sulfur dioksida (SO2) dan sulfur trioksida (SO3).
c. Oksida nitrogen: nitrit oksida (NO), nitrogen dioksida (NO2) dan dinitrogen
oksida (N2O).
d. Komponen organik volatil: metan (CH4), benzen (C6H6), klorofluorokarbon
(CFC) dan kelompok bromin.
e. Suspensi partikel: debu tanah, karbon, asbes, logam berat, nitrat, sulfat, titik
cairan, seperti asam sulfat (H2SO4), minyak, bifenil poliklorin (PCB),
dioksin, dan pestisida.
f. Oksida fotokimiawi: ozon, peroksiasil nitrat, hydrogen peroksida,
formaldehid yang terbentuk di atmosfer oleh reaksi oksigen, nitrogen oksida,
dan uap hidrokarbon di bawah pengaruh sinar matahari.
g. Substansi radio aktif: radon-222, iodine-131, strontium-90, plutonim-239 dan
radioisotop lainnya yang masuk ke atmosfer bumi dalam bentuk gas atau
suspensi partikel.
h. Panas: energi panas yang dikeluarkan pada waktu terjadi proses perubahan
bentuk, terutama terjadi saat pembakaran minyak menjadi gas pada
kendaraan, pabrik, perumahan, dan pembangkit tenaga listrik.
i. Suara: dihasilkan oleh kendaraan bermotor, pesawat terbang, kereta api,
mesin industri, konstruksi, mesin pemotong rumput, sirine, dan sebagainya.
Bahan pencemar udara atau polutan dapat dibagi menjadi dua bagian:
1. Polutan Primer
Polutan primer adalah polutan yang dikeluarkan langsung dari sumber
tertentu, dan dapat berupa
a. Polutan gas terdiri dari
- Senyawa karbon, yaitu hidrokarbon, hidrokarbon teroksigenasi,
dan senyawa oksida (CO atau CO2)
- Senyawa sulfur, yaitu sulfur oksida
- Senyawa nitrogen, yaitu nitrogen oksida dan amoniak.
- Senyawa halogen, yaitu flour, klorin, hidrogen klorida,
hidrokarbon terklorinasi, dan bromin.
b. Partikel
Partikel yang di atmosfer mempunyai karakteristik yang spesifik, dapat
berupa zat padat maupun suspensi aerosol cair di atmosfer. Bahan
partikel tersebut dapat berasal dari proses kondensasi, proses dispersi
(misalnya proses menyemprot/sparaying) maupun proses erosi bahan
tertentu.
2. Polutan sekunder
Polutan sekunder biasanya terjadi karena reaksi dari dua atau lebih bahan
kimia di udara, misalnya reaksi fotokimia. Polutan sekunder ini
2.1.4Sifat-sifat Pencemaran udara
1.Yang bersifat kualitatif
Yaitu terdiri dari unsur-unsur yang secara alamiah telah terdapat dalam alam
tetapi jumlahnya bertambah sedemikian banyaknya sehingga mengadakan
pencemaran lingkungan. Hal ini bisa terjadi akibat bencana alam, perbuatan
manusia dan lain-lain. Contoh polutan misalnya unsur karbon, nitrogen, fosfor
dan lain-lain.
2.Yang bersifat kuantitatif
Terdiri dari unsur-unsur yang terjadi akibat berlangsungnya persenyawaan
yang dibuat secara sintetis seperti: peptisda, detergen, dan lain-lain.
Umumnya polusi lingkungan du tujukan kepada faktor-faktor fisik seperti
polusi suara, radiasi, suhu, penerangan dan faktor-faktor kimia melalui debu, uap,
gas, larutan, awan, kabut.(Supardi,2003)
2.1.5 Penyebab Pencemaran Udara
Pencemaran udara pada suatu tingkat tertentu dapat merupakan campuran
dari satu atau lebih bahan pencemar yang terdispersi ke udara dan menyebar ke
lingkungan sekitarnya. Kecepatan penyebaran ini tergantung dari keadaan
geografi dan meteorologi setempat.
Secara umum penyebab pencemaran udara ada 2 macam, yaitu:
a. Faktor internal yang terjadi secara ilmiah, contohnya:
1. Debu yang berterbangan akibat tiupan angin
2. Abu/debu yang dikeluarkan akibat letusan gunung berapi, termasuk
gas-gas vulkanik
4. Kebakaran hutan
b. Faktor eksternal karena ulah manusia
1. Hasil pembakaran bahan bakar fosil
2. Debu dan gas-gas akibat aktivitas industri
3. Pemakaian zat-zat kimia seperti pestisida yang disemprotkan ke udara.
(Nugroho,2005)
2.2Sulfur Dioksida
Sulfur di dapat baik dari sumber alamiah maupun sumber buatan.
Sumber-sumber SO2 alamiah adalah gunung-gunung berapi, pembusukan bahan organik
oleh mikroba, dar reduksi sulfat secara biologis. (Slamet, 2009)
2.2.1Sifat-Sifat Sulfur Dioksida
Gas belerang oksida atau sering ditulis dengan SOx terdiri atas gas SO2 dan
gas SO3 yang keduanya mempunyai sifat berbeda. Gas SO2 berbau tajam dan
tidak mudah terbakar, sedangkan gas SO3 bersifat sangat rektif.
Konsentrasi gas SO2 di udara akan mulai terdeteksi oleh indramanusia
(tercium baunya) manakala konsentrasinya berkisar antara 0,3 – 1ppm. Gas
buangan hasil pembakaran pada umumnya mengandung gas SO2 lebih banyak dari
pada gas SO3.
Gas SO2 dapat membentuk garam sulfat apabila bertemu dengan oksida
logam, yaitu melalui proses kimiawi berikut ini:
Udara yang mengandung uap air akan bereaksi dengan gas SO2 sehingga
membentuk asam sulfit :
SO2 + H2O → H2SO3 (asam sulfit)
Udara yang mengandung uap air juga akan bereaksi dengan gas SO3
membentuk asam sulfat:
SO3 + H2O → H2SO4 (asam sulfat) (Whardana, 2004)
2.2.2Sumber-Sumber Sulfur dioksida
Sulfur dioksida didapat baik dari sumber alamiah maupun sumber buatan.
Sumber-sumber SO2 alamiah adalah gunung-gunung berapi, pembusukan bahan
organik oleh mikroba, dan reduksi sulfat secara biologis. Proses pembusukan akan
menghasilkan H2S yang akan cepat berubah menjadi SO2 sebagai berikut:
H2S + 3/2 O2 SO2 + H2O
Sumber-sumber SO2 buatan adalah pembakaran bahan bakar minyak, gas,
dan batu bara yang mengandung sulfur tinggi. Sumber-sumber buatan ini
diperkirakan memberi kontribusi sebanyak sepertiganya saja dari seluruh SO2
atmosfer per tahun. Akan tetapi, karena hampir seluruhnya berasal dari buangan
industri, maka hal ini dianggap cukup gawat. Apabila bahan bakar fosil ini
bertambah di kemudian hari, maka dalam waktu singkat sumber-sumber ini akan
dapat memproduksi lebih banyak SO2 dari pada sumber alamiah. (Slamet, 2009)
Industri peleburan baja merupakan industri terbesar yang menghasilkan
terdapat dalam bentuk logam sulfida, misalnya tembaga (Cu2S), seng (ZnS),
merkuri (HgS), dan timbal (PbS). Di samping itu sulfur merupakan kontaminan
yang tidak dikehendaki di dalam logam. Beberapa reaksi yang terjadi jika logam
dipanaskan adalah sebagai berikut:
2ZnS + 3O2→ 2ZnO + 2SO2
2PbS + 3O2→ 2PbO + 2SO2
Oleh karena itu SO2 secara rutin diproduksi sebagai produk sampingan
dalam industri metal dan sebagian akan terdapat di atmosfer. (Kristanto,2002)
2.2.3 Dampak Pencemaran Sulfur Dioksida
Akibat utama polutan SO2 terhadap manusia adalah terjadinya iritasi pada
sistem pernapasan. Dalam tabel 2.1 ditunjukkan konsentrasi SO2 yang
berpengaruh terhadap manusia.
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa iritasi pada tenggorokan
terjadi pada konsentrasi SO2 sebesar 5 ppm atau lebih, bahkan pada beberapa
individu yang sensitif, iritasi terjadi pada konsentrasi 1-2 ppm. SO2 dianggap
polutan yang berbahaya bagi kesehatan terutama terhadap manusia usia lanjut dan
penderita yang mengalami penyakit kronis pada sistem pernapasan dan
kardiovaskular. Individu dengan gejala tersebut sangat sensitif jika kontak dengan
SO2 walaupun dengan konsentrasi yang relatif rendah, misalnya 0,2 ppm atau
Tabel 2.1 pengaruh SO2 terhadap manusia
Konsentrasi
(ppm)
Pengaruh
3-5 Jumlah minimum yang dapat di deteksi dari baunya.
8-12 Jumlah minimum yang segera mengakibatkan iritasi pada
tenggorokan
20 Jumlah minimum yang mengakibatkan iritasi pada mata.
Jumlah minimum yang segera mengakibatkan batuk.
Jumlah maksimum yang diperkenankan untuk kontak dalam
waktu lama.
50-100 Jumlah maksimum yang diperkenankan untuk kontak dalam
waktu singkat (30 menit).
400-500 Berbahaya walaupun kontak secara singkat.
(Kristanto,2002)
Selain pengaruhnya terhadap kesehatan manusia, sulfur dioksida juga
berpengaruh terhadap tanaman dan hewan. Pengaruh SO2 terhadap hewan sangat
menyerupai efek SO2 pada manusia. Efek SO2 terhadap tumbuhan tampak
terutama pada daun yang menjadi putih atau terjadi nekrosis, daun yang hijau
dapat berubah menjadi kuning, atau tejadi bercak-bercak putih. Pengaruh pada
daun ini terjadi terutama di siang hari sewaktu stomata daun sedang terbuka.
Apabila yang terpapar SO2 itu adalah sayuran, maka perubahan pada warna daun
Karena gas ini dapat bereaksi dengan air, maka air hujan yang
mengandung asam sulfat atau sulfit menyebabkan peristiwa yang disebut dengan
hujan asam. Hal ini akan menyebabkan turunnya pH tanah, air, rawa dan
sebagainya yang lebih jauh akan menyebabkan rusaknya beberapa jenis tanaman
dan matinya beberapa jenis biota air. Terbentuknya asam sulfat juga menyebabkan
korosi pada logam, bangunan, seperti bangunan dari semen, batu-batuan candi,
menara dan sebagainya dan tekstil. (Sarudji, 2010)
2.3 Spektrofotometri UV-Visible
Spektrofotometer sesuai dengan namanya adalah alat yang terdiri dari
spectrometer dan fotometer. Spektrometer menghasilkan sinar dari spektrum
dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas
cahaya yang ditransmisikan atau yang diabsorpsi. Jadi spektrofotometer
digunakan untuk mengukur energi secara relatif jika energi tersebut
ditransmisikan, direfleksikan atau diemisikan sebagai fungsi dari panjang
gelombang. Kelebihan spektrofotometri dibandingkan fotometer dalah panjang
gelombang dari sinar putih dapat lebih terseleksi dan ini diperoleh dengan alat
pengurai seperti prisma, grating maupun celah optis. Suatu spektrofotometer
tersususn dari sumber spectrum tampak yang kontinyu, monokromator, sel
pengabsorpsi untuk larutan sampel atau blanko ataupun pembanding.
(khopkar,1990)
Pada umumnya konfigurasi dasar setiap spektrofotometer UV-Vis berupa
susunan peralatan optik yang terkonstruksi sebagai berikut:
A VD
D SK
Keterangan:
SR = sumber radiasi
M = Monokromator
SK = sampel kompartemen
D = detector
A = amplifier atau penguat
VD= visual display atau meter
Setiap bagian peralatan optik dari spektrofotometer UV-Vis memegang
fungsi dan peranan tersendiri yang saling terkait fungsi dan peranannya. Setiap
fungsi dan peranannya tiap bagian dituntut ketelitian dan ketepatan yang optimal,
sehingga akan diperoleh hasil pengukuran yang tinggi tingkat ketelitian dan
ketepatannya.
1. Sumber
Sumber yang biasa digunakan adalah lampu wolfram. Lampu hidrogen
dan lampu deuterium digunakan untuk sumber pada daerah UV. Kebaikan lampu
wolfram adalah energi radiasi yang dibebaskan tidak bervariasi pada berbagai
panjang gelombang. Untuk memperoleh tegangan yang stabil dapat digunakan
transformator. Jika potensial yidak stabil, kita akan mendapat energi yang
2. Monokromator
Monokromator berfungsi untuk mendapatkan radiasi monokromatis dari
sumber radiasi yang memancarkan radiasi polikromatis. Monokromator pada
spektrofotometer UV-Vis biasanya terdiri dari susunan : celah (slit)
masuk-filter-prisma-kisi(grating)-celah keluar.
3. Sel dan kuvet
Kuvet atau sel merupakan wadah sampel yang akan dianalisis. Ditinjau
dari pemakaiannya kuvet ada dua macam yang permanen terbuat dari bahan gelas
leburan silika atau kuvet disposable untuk satu kali pemakaian yang terbuat dari
teflon atau plastik.
Dianjurkan setiap kali memakai kuvet selalu dibersihkan. Jangan
sekali-kali memegang permukaan kuvet yang transparan.
4. Detektor
Detektor merupakan salah satu bagian dari spektrofotometer UV-Vis yang
penting. Oleh sebab itu kualitas detektor akan menentukan kualitas
spektrofotometer UV-Vis. Fungsi detektor di dalam spektrofotometer adalah
BAB 3
− spektrofotometer UV-VIS dilengkapi kuvet DR/2010
− timbangan analitik dengan ketelitian 0,1 mg adventure
− buret 50 ml, 25mL Pyrex
− botol aquades
− Starch(s)
− HCl 37%(�)
− Na2S2O3(s)
− Na2CO3(s)
− Asam sulfamat (NH2SO3H)(s)
− H3PO4 85%(�)
− Pararosanilin hidroklorida (s)
− Larutan formaldehida (HCHO) 36-38%(�)
− KCl(s)
− EDTA(s)
− HgCl2(s)
3.3 Prosedur Percobaan
3.3.1 Pembuatan Pereaksi
1. larutan penyerap tetrakloromerkurat (TCM)
− Dilarutkan 10,86 g merkuri (II) klorida (HgCl2) dengan 800 ml aquades ke
dalam beaker glass 1000 ml
− Ditambahkan berturut-turut 5,96 g kalium klorida (KCL) dan 0,066 g
EDTA lalu aduk sampai homogen
− Dipindahkan ke dalam labu ukur 1000 ml
− Diencerkan dengan aquades hingga tanda batas lalu homogenkan
Catatan: pembuatan larutan penyerap ini stabil sampai 6 bulan jika tidak
2. larutan induk natrium metabisulfit (Na2S2O5)
− Dilarutkan 0,3 g Na2S2O5 dengan aquades ke dalam beaker glass 100 ml
− Dipindahkan ke dalam labu ukur 500 ml
− Diencerkan dengan aquades hingga tanda batas lalu homogenkan
Catatan: aquades yang digunakan telah didihkan
3. larutan standar natrium metabisulfit (Na2S2O5)
− Dimasukkan 2 ml larutan induk natrium metabisulfit (Na2S2O5) ke dalam
labu ukur 100 ml
− Diencerkan sampai tanda batas dengan larutan penyerap lalu homogenkan
4. larutan induk iod (I2) 0,1 N
− Dimasukkan dalam beaker glass berturut-turut 12,7 g iod dan 40 g kalium
iodida (KI)
− Dilarutkan campuran tersebut dengan 25 ml aquades
− Dipindahkan ke dalam labu ukur 1000 ml
− Diencerkan dengan aquades lalu homogenkan
5. larutan iod 0,01N
− Dilarutkan 50 ml larutan induk iod 0,1 N ke dalam labu ukur 500 ml
dengan aquades
6. larutan indikator kanji
− Dimasukkan dalam beaker glass 250 ml berturut-turut 0,4 g kanji dan
0,002 g HgI2
− Dilarutkan secara hati-hati dengan air mendidih sampai volum larutan
mencapai 200 ml
− Dipanaskan larutan tersebut sampai larutan jernih, lalu dinginkan dan
pindahkan ke dalam botol pereaksi
7. larutan induk natrium tio sulfat (Na2S2O3) 0,1N
− Dilarutkan 24,82 g Na2S2O3.5H2O dengan 200 ml aquades dingin yang
telah didihkan ke dalam beaker glass 250 ml
− ditambahkan 0,1 g natrium karbonat (Na2CO3)
− Dipindahkan ke dalam labu ukur 1000 ml
− Diencerkan dengan aquades sampai tanda batas lalu homogenkan
− Diamkan larutan ini sampai 1 hari sebelum digunakan
8. larutan Na2S2O3 0,01N
− Dipipet 50 ml larutan induk Na2S2O3, masukkan ke dalam labu ukur
500ml
− Diencerkan dengan aquades sampai tanda batas, lalu homogekan
− Diencerkan dengan aquades sampai tanda batas, lalu homogenkan
9. larutan asam sulfamat (NH2SO3H) 0,6%
− Diencerkan dengan aquades sampai tanda batas, lalu homogenkan
Catatan: Larutan ini dibuat segar
10. larutan asam fosfat (H3PO4) 3M
− Dilarutkan 205 ml H3PO4 85% (ρ=1,69 g/ml) ke dalam labu ukur 1000 ml
yang berisi kurang lebih 300 ml aquades
− Diencerkan sampai tanda batas, lalu homogenkan.
11. larutan induk pararosanilin hidroklorida (C19H17N3HCl) 0,2%
− Dilarutankan 0,2 g pararosanilin hidroklorida ke dalam beaker glass
− Dipindahkan ke dalam labu ukur 100 ml
− Diencerkan dengan larutan HCl 1M sampai tanda batas, lalu homogenkan
12. larutan kerja pararosanilin
− Dimasukkan 40 ml larutan induk pararosanilin ke dalam labu ukur 500 ml
− Ditambahkan 50 ml larutan asam fosfat 3M.
− Ditepatkan hingga tanda batas dengan air suling lalu homogenkan
Catatan: larutan ini stabil selama 9 bulan
13. larutan formaldehida(HCHO) 0,2%
− Dipipet 5 ml HCOH 36%-38%
− Dimasukkan ke dalam labu ukur 1000ml
− Diencerkan dengan aquades hingga tanda batas lalu homogenkan
3.3.2 Pengambilan Contoh Uji
− Disusun peralatan pengambilan contoh uji
− Dimasukkan larutan penyerap SO2 sebanyak 10 ml ke dalam botol
penyerap.
− Dihidupkan pompa penghisap udara dan atur kecepatan alir F1 (0,5
L/menit)
− Dilakukan pengambilan contoh uji selama 1 jam, catat temperature dan
tekanan udara.
− Setelah 1 jam, catat laju alir akhir F2 (0,5 L/menit) dan kemudian matikan
pompa penghisap
− Diamkan selama 20 menit setelah pengambilan contoh uji untuk
menghilangkan pengganggu
3.3.3Persiapan pengujian
Penentuan konsentrasi SO2 dalam larutan induk Na2S2O5
− Dipipet 25 ml larutan induk Na2S2O5 ke dalam labu Erlenmeyer
− Dipipet 50 ml larutan iod 0,01N ke dalam labu dan simpan dalam ruang
tertutup selama 5 menit
− Dititrasi larutan dalam erlenmeyer denagn larutan natrium tio sulfat 0,01N
sampai warna larutan kuning muda
− Ditambahkan 5 ml indikator kanji
− Dilanjutkan titrasi sampai titik akhir (warna biru tepat hilang)
− Dicatat volume larutan penitar yang diperlukan (Vc)
− Dipipet 50 ml larutan iod 0,01N ke dalam labu dan simpan dalam ruang
tertutup selama 5 menit
− Dititrasi larutan dalam erlenmeyer dengan larutan natrium tio sulfat 0,01N
sampai warna larutan kuning muda
− Ditambahkan 5 ml indikator kanji
− Dilanjutkan titrasi sampai titik akhir (warna biru tepat hilang)
− Dicatat volume larutan penitar yang diperlukan (Vb)
− Dilakukan perlakuan yang sama sebanyak dua kali
3.3.4Pembuatan Kurva Kalibrasi
− Dioptimalkan alat spektrometer sesuai petunjuk penggunaan alat
− Dimasukkan masing-masing 0,0ml; 1,0ml; 2,0ml; 3,0ml; 4,0ml larutan
standar Na2S2O5 ke dalam labu ukur 25 ml dengan menggunakan pipet
volum
− Ditambahkan 10 ml larutan penyerap ke masing-masing labu ukur 25 ml
− Ditambahkan 1ml larutan asam sulfamat 0,6% ke masing-masing labu
ukur 25 ml dan tunggu sampai 10 menit
− Ditambahkan 2 ml larutan formaldehida 0,2% ke masing-masing labu ukur
25 ml
− Ditambahkan 5 ml larutan pararosanilin ke masing-masing labu ukur 25
ml
− Ditepatkan dengan aquades sampai volume 25 ml, lalu homogenkan dan
tunggu sampai 30-60 menit
− Diukur serapan masing-masing larutan standar dengan spektrofotometer
− Dibuat kurva kalibrasi antara serapan dengan jumlah SO2
3.3.5Pengujian Sampel
− Dimasukkan sampel (i), (ii), (iii), dan (iv) masing-masing ke dalam labu
ukur 25 ml
− Ditambahkan 5 ml aquades untuk membilas ke masing-masing labu ukur
25 ml
− Ditambahkan 1ml larutan asam sulfamat 0,6% ke masing-masing labu
ukur 25 ml dan tunggu sampai 10 menit
− Ditambahkan 2 ml larutan formaldehida 0,2% ke masing-masing labu ukur
25 ml
− Ditambahkan 5 ml larutan pararosanilin ke masing-masing labu ukur 25
ml
− Ditepatkan dengan aquades sampai volume 25 ml, lalu homogenkan dan
tunggu sampai 30-60 menit
− Diukur serapan masing-masing larutan standar dengan spektrofotometer
pada panjang gelombang 550 nm
− Dibaca serapan contoh uji kemudian hitung konsentrasi dengan
menggunakan kurva kalibrasi
− Lakukan langkah-langkah diatas untuk pengujian blanko dengan
menggunakan larutan penyerap
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Percobaan
Dari hasil analisis pengukuran sampel dengan menggunakan
spektrofotometer dan pengukuran di udara ambien di dapatkan sebagai berikut:
Tabel 4.1 Data Hasil Pengukuran Sampel
No Sampel Absorbansi Konsentrasi di kurva
(μg/m3)
Konsentrasi di udara
ambient
(μg/m3) ppm (mg/L)
1 i 0,328 0,127 4,333 0,0017
2 ii 0,312 0,0896 3,0617 0.0012
3 iii 0,321 0,1106 3,7669 0,0014
4 iv 0,323 0,1153 3,9463 0,0015
4.2 Perhitungan
4.2.1 Penentuan Konsentrasi SO2 Dalam Larutan Induk Na2S2O5
C = (Vb−Vc )×N×32,03×1000
Keterangan :
C : konsentrasi SO2 dalam larutan induk Na2S2O5 (µg/ml)
Vb : volum natrium tio sulfat hasil titrasi blanko (ml)
Vc : volum natrium tio sulfat hasil titrasi larutan induk Na2S2O5 (ml)
N : normalitas larutan natrium tio sulfat 0,01 N (N)
Va : volum larutan induk Na2S2O5 yang dipipet (ml)
1000: konversi gram ke µg
32,03: berat ekivalen SO2 (BM SO2/2)
C1=
(49,4ml − 27,9ml ) × 0.01N × 32,03 × 1000
25ml
= 275,458 µg/ml
C2 = (49,4ml−28,05ml )× 0.01N × 32,03 ×1000
25ml
= 273,5362 µg/ml
C
�
= C1+C32
= 275,458 µg/ml + 273,5362 µg/ml
2
4.2.2 Penentuan Konsentrasi SO2 Dalam Larutan Standar Na2S2O5
V1 . N1 = V2 . N2
2ml . 274,4971 = 100 . N2
N2 = 5,4899
4.2.3 Pembuatan Kurva Kalibrasi
Volume 0 ml
V1 . N1 = V2 . N2
0 ml . 5,4899 N = 25 ml . N2
N2 = 0
Volume 1 ml
V1 . N1 =V2 . N2
1 ml . 5,4899 N = 25 ml . N2
N2 = 0,2196
Volume 2 ml
V1 . N1 = V2 . N2
2 ml . 5,4899 N = 25 ml .N2
Volume 3 ml
V1 . N1 = V2 . N2
3 ml. 5,4899 N = 25 ml . N2
N2 = 0,6588
Volume 4 ml
V1 . N1 =V2 . N2
4 ml . 5,4899 N= 25 ml . N2
N2 = 0,8784
4.2.4 Perhitungan Persamaan Garis Regresi
Untuk menghasilkan persamaan garis regresi dari kurva kalibrasi dapat
diturunkan dengan metode Least Square sebagai berikut
Table 4.2 Absorbansi larutan standar
Konsentrasi (x)
(μg/ml)
Absorbansi
0,0000 0,277
0,2196 0,367
0,4392 0,459
0,6588 0,55
Table 4.3 Penurunan Persamaan Garis Regresi Untuk Penentuan Konsentrasi SO2
Berdasarkan Pengukuran Absorbansi Larutan Standar SO2
No Konsentrasi (x)
Penentuan harga slope (a) dan harga inertsept (b) dengan menggunakan
metode least square.
b = y� - ax�
= 0,4616 – 0,4277 (0,4392)
= 0,4616 – 0,1879
= 0,2737
Sehingga didapatkan persamaan garis regresinya adalah :
y = 0,4277x + 0,2737
4.2.5 Penentuan Koefisien Korelasi
r
=
n(∑xy )− (∑x)(∑y)4.2.6 Perhitungan Kurva Kalibrasi
Dengan mensubstitusikan harga-harga x, maka diperoleh harga y baru, yaitu :
y = ax + b
y2 = 0,4277 (0,2196) + 0,2737 = 0,3676
y3 = 0,4277 (0,4392) + 0,2737 = 0,4616
y4 = 0,4277 (0,6588) + 0,2737 = 0,5555
y5 = 0,4277 (0,8784) + 0,2737 = 0,6494
tabel 4.4 harga y baru larutan standar SO2
x
Dimana : x = konsentrasi larutan standar dan y = absorbansi larutan
standar dengan menggunakan harga y ini digambarkan kurva kalibrasi absorbansi
(y) versus konsentrasi (x) yang terdapat dalam tabel 4.3
4.2.7 Perhitungan Konsentrasi SO2 Pada Kurva
Konsentrasi sampel dapat dihitung dengan mensubstitusikan harga y
(absorbansi) larutan ke dalam persamaan garis regresi y = ax + b, maka untuk
sampel dapat dihitung, x =y−b
a
Sampel i = 0,328−0,2737
4.2.8Volume Contoh Uji Udara yang Diambil
V= F1+F2
T = durasi pengambilan contoh uji (menit)
Pa = tekanan barometer rata-rata selama pengambilan contoh uji (mmHg)
Ta = temperatur rata-rata selama pengambilan contoh uji (K)
298= temperature pada kondisi normal 25˚C(K)
V1=
V4= 0,5L/menit +0,5L/menit
2 × 60menit ×
4.2.9Perhitungan Konsentrasi SO2 Pada Udara Ambien
iii = 0,1106
Polusi udara yang primer seperti Sulfur Dioksida dapat mencemari udara
sebagai proses alamiah atau aktifitas manusia. Pada dasarnya semua belerang atau
S yang memasuki atmosfer diubah dalam bentuk SO2. Gas SO2 berbau tajam dan
mudah terbakar. Dampak pencemaran SO2 terhadap manusia akan menyebabkan
iritasi pada sistem pernapasan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa iritasi pada pada tenggorokan terjadi
Dari hasil pengukuran kadar Sulfur Dioksida pada sampel i, ii, iii, iv yang
diperoleh dari Laboratorium BLH Sumatera Utara berturut-turut adalah 0,0017
ppm, 0,0012 ppm, 0,0014 ppm, dan 0,0015 ppm. Hasil yang diperoleh masih
dibawah standar yang telah ditetapkan menurut Keputusan Menteri Kesehatan
No.1405/MENKES/SK/XI/2002 pada tanggal 19 november 2002, dimana kadar
DAFTAR PUSTAKA
Chandra, B. 2006. Pengantar Kesehatan Lingkungan. CetakanPertama.
Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran
Darmono. 2001. Lingkungan Hidup dan Pencemaran: Hubungannya dengan
Toksikologi Senyawa Logam. Cetakan Pertama. Jakarta: UI-Press
Gabriel, J.F. 1999. Fisika Lingkungan. Jakarta: Hipokrates
Khopkar, S.M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: Universias Indonesia Press
Kristanto, P. 2002. Ekologi Industri. Yogyakarta: Andi
Mukono, H. J. 2006. Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan. Edisi Kedua.
Surabaya: Airlangga University Press
Mulia, R. M. 2005. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Cetakan Pertama.
Yogyakarta: Graha Ilmu
Muldja, M. 1995. Analisis Instrumental. Surabaya: Airlangga University Press
Nugroho, A. 2005. Bioindikator KualitasUdara. Jakarta: Penerbit Universitas Tri Sakti
Sarudji, D. 2010. Kesehatan Lingkungan. Bandung: Karya Putra Darwati
Slamet, J. S. kesehatan Lingkungan. Cetakan Kedelapan. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press
Sunu, P. 2001. Melindungi Lingkungan Dengan Menerapkan ISO 14001. Jakarta: PT Gramedia Widia Sarana Indonesia
Supardi, I. 2003. Lingkungan Hidup dan Kelestarian. Cetakan Kedua. Bandung: PT. Alumni.
Wardhana, W. A. 2004. Dampak Pencemaran Lingkunga. Edisi. Yogyakarta:
Andi
no x y
1 0 0,277
2 0,2196 0,367 3 0,4392 0,459 4 0,6589 0,55 5 0,8785 0,655
Lampiran 2
R² = 0.999
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1
Series1
Baku Mutu Udara Ambien
KEPUTUSAN MENTRI KESEHATAN
NOMOR : No.1405/MENKES/SK/XI/2002
TANGGAL : 19 Nopember 2002
No. PARAMETER KONSENTRASI MAKSIMAL
(mg/m3) ppm
1. Asam Sulfida (H
2S) 1 -
2. Amonia (NH
3) 17 25
3. Karbon Monoksida (CO) 29 25
4. Nitrogen Dioksida (NO
2) 5,60 3,0
5. Sulfur Dioksida (SO