• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uang Japuik Dalam Adat Perkawinan Padang Pariaman Di Bandar Lampung

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Uang Japuik Dalam Adat Perkawinan Padang Pariaman Di Bandar Lampung"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

Uang Japuik Dalam Adat Perkawinan Padang Pariaman Di Bandar Lampung

Oleh: Ririanty Yunita

Etnis Minangkabau merupakan etnis yang beradat minangkabau. Adat Minangkabau menganut sistem matrilineal. Dalam adat ini dikenal tradisi merantau. Remaja pria minangkabau biasa merantau dengan harapan mendapatkan hidup yang lebih layak di daerah rantau. Termasuk orang-orang padang pariaman juga mengikuti tradisi ini. Mereka biasa merantau ke luar daerah minang, termasuk ke kota Bandar Lampung. Salah satu adat minangkabau yang cukup menarik, adalah adat perkawinan. Adat perkawinan minangkabau di kabupaten padang pariaman, berbeda dengan adat perkawinan minangkabau daerah lain, perbedaan ini terletak dalam tradisi bajapuik yang mensyaratkan adanya uang japuik. Hal ini dilakukan karena laki-laki itu akan menjadi urang sumando dalam keluarga gadis itu kelak. Namun, tradisi pemberian uang japuik ini sering dianggap negatif oleh sebagian orang, karena kesannya mempelai pria dibeli oleh keluarga mempelai wanita.

Walaupun dianggap negatif, pemberian uang japuik mempunyai maksud yang baik. Tradisi tetap dijalankan. Para perantau minang yang berasal dari Padang Pariaman juga mempraktekkan pemberian uang japuik dalam adat perkawinan, termasuk yang merantau ke Bandar Lampung. Oleh karena itu, rasanya menarik bila mengetahui bagaimana persepsi orang-orang padang pariaman di Bandar Lampung mengenai pemberian uang japuik dalam perkawinan.

Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimanakah persepsi komunitas padang pariaman di Bandar Lampung mengenai uang japuik dalam adat perkawinan padang pariaman. Persepsi itu sendiri akan diketahui dari faktor pengetahuan, pengalaman, dan pemahaman orang-orang padang pariaman, sehingga melahirkan persepsi yang berbentuk positif atau berbentuk negatif mengenai uang japuik dalam adat perkawinan padang pariaman di Bandar Lampung. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, dengan teknik pengumpulan data angket, wawancara dan kepustakaan. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan teknik analisa kualitatif melalui persentase.

(2)
(3)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara dengan beragam etnis dan budaya. Terdiri

dari ribuan pulau yang dipisahkan oleh lautan, menjadikan negara ini memiliki

etnis serta budaya yang beragam. Diantara keanekaragaman kelompok etnis dan

budaya yang mendiami Indonesia itu, salah satunya adalah etnis minangkabau,

yang berbudaya minangkabau. Orang minangkabau, mempunyai falsafah hidup,

yaitu alam takambang manjadi guru, (Hakimy, 2001:1) yang artinya dalam

bahasa indonesia adalah “alam terkembang menjadi guru”.

Merupakan suatu ketentuan dalam adat Minangkabau bahwa alam terkembang

yang dipelajari dengan seksama merupakan sumber dan bahan-bahan pengetahuan

yang dapat dipergunakan dalam mengatur kehidupan manusia. (Hakimy, 2001:2)

Salah satu adat minangkabau yang asli dan unik, adalah keturunan menurut ibu

(matrilineal) (Hakimy, 2001:38). Orang minang menganggap ibu merupakan

sumber utama perkembangan hidupnya budi yang baik, ibu yang baik, akan

melahirkan insan yang baik dan berbudi pula (Hakimy, 2001:39). Semua hal

diprioritaskan untuk kaum ibu, karena kaum ibu mempunyai kodrat dan

(4)

ibu tidak sama dengan laki-laki (Hakimy, 2001:42-43). Karena alasan-alasan itu

lah orang minang sangat menghormati kaum ibu dan menganut sistem matrilineal.

Dalam adat minangkabau, bila anak laki-laki sudah mengenal uang, maka ia tidak

tinggal bersama orang tuanya lagi, atau tidak tinggal di rumah gadang lagi, ia

harus tidur di surau atau masjid. Namun, anak perempuan tetap tinggal dalam

rumah gadang atau masih tinggal bersama orang tuanya. Oleh karena itu, anak

laki-laki minangkabau mempunyai tradisi merantau ke daerah lain, termasuk yang

berasal dari padang pariaman.

Orang-orang padang pariaman banyak merantau ke kota-kota besar di Indonesia,

salah satunya ke kota Bandar Lampung. Di Kota Bandar Lampung, para perantau

hidup berkeluarga dan menyebar di berbagai sudut Kota Bandar Lampung. Para

perantau ini ada yang berkeluarga dengan orang minangkabau juga dan ada juga

yang berkeluarga dengan suku lainnya. Mereka bekerja mencari uang untuk

menghidupi keluarganya, banyak dari mereka berprofesi sebagai pedagang atau

wiraswasta. Para perantau ini mempunyai wadah berkumpul sebagai ajang

silaturahmi sesama perantau. Misalnya perantau asal kabupaten padang pariaman,

mempunyai organisasi bernama Perkumpulan Keluarga Daerah Piaman (PKDP).

Salah satu adat dalam minangkabau, adalah adat perkawinan. Status perempuan

begitu dihormati dalam mayarakat minang sebagai bundo kanduang. Sistem

matrilineal juga mengatur perkawinan orang-orang Minangkabau. Laki-laki

(5)

sumando atau pendatang di rumah keluarga istrinya. Suami bertempat tingal di

lingkungan istrinya. Ia dihormati dan diperlakukan sebaik-baiknya.

Setiap perkawinan di minangkabau, maka pengantin pria akan dijemput oleh

keluarga pengantin pria. Istilah ini dikenal dengan bajapuik (Azwar, 2001:55).

Dalam adat perkawinan Minangkabau ini, pihak calon pengantin wanita (anak

daro) akan menjemput calon pengantin pria (marapulai), karena marapulai akan

menjadi urang sumando dalam keluarga istrinya nanti.

Falsafah Adat Minangkabau memandang bahwa suami merupakan orang datang. Dengan sistem matrilokalnya, hukum adat memposisikan suami sebagai tamu di rumah istrinya.sebagai tamu atau orang datang, maka berlaku nilai moral datang karano dipanggia, tibo karano dijapuik (datang karena dipanggil, tiba karena dijemput). Dalam prosesi pernikahan, selalu laki-laki yang diantar ke rumah istrinya, sebagai ketulusan hati menerima, maka dijemput oleh keluarga istri secara adat. Begitupula sebaliknya, sebagai wujud keikhlasan melepas anak kemenakan maka laki-laki diantar secara adat oleh kerabat laki-laki. Karenanya laki-laki disebut juga sebagai “orang jemputan” (Azwar, 2001 :56)

Di daerah padang pariaman, saat menjemput berbeda dengan daerah minang

lainnya, karena saat manjapuik marapulai (menjemput pengantin pria) ini,

biasanya menyertakan benda pertukaran, salah satunya disebut uang japuik (uang

jemputan). Kebiasaan ini berbeda dengan kabupaten lainnya di Sumatera Barat.

Tentu tradisi pemberian uang japuik ini memiliki makna di dalamnya. Perkawinan

Padang pariaman sendiri terdiri dari berbagai macam rangkaian.

(6)

perkawinan yang wajib dilaksanakan yaitu mengantar limau, berfitrah, mengantar perbukoan, dan bulan lemang. (Ramot Silalahi, 2000:28-53)

Dalam hal penetapan uang japuik ini, Ramot Silalahi menjelaskan,

Uang japuik ini biasanya ditetapkan dalam acara sebelum perkawinan, biasanya mamak (paman dari pihak ibu) akan bertanya pada calon anak daro, apakah benar-benar siap akan menikah, karena biaya baralek (pesta) beserta isinya termasuk uang japuik akan disiapkan oleh keluarga wanita. Bila keluarganya termasuk sederhana, maka keluarga akan mempertimbangkan menjual harta pusako untuk membiayai pernikahan. Uang japuik sendiri akan ditetapkan oleh kedua belah pihak setelah acara batimbang tando dan akan didiberikan saat akad nikah oleh pihak keluarga mempelai wania kepada keluarga pria saat acara manjapuik marapulai. (Ramot Silalahi, 2000:83-84)

Tatacara perkawinan tersebut, agak berbeda saat dilaksanakan di daerah rantau.

Misalnya, pelaksanaannya tidak seketat di daerah asal. Bila di Pariaman, dalam

perkawinan tidak menyertakan uang japuik, maka keluarganya dicemooh

orang-orang kampung, bahkan bisa diusir karena tidak menghargai ninik mamak.

(wawancara dengan ketua PKDP, Bapak Herman Nofri Hossen, tanggal 2 April

2012). Para perantau tersebut, juga mempunyai anggapan yang berbeda tentang

tradisi tersebut, termasuk dalam pemberian uang japuik yang sering dianggap

memberatkan namun harus dilaksanakan dalam perkawinan adat padang

pariaman.

Oleh karena itu peneliti ingin mengetahui bagaimanakah persepsi orang-orang

rantau dari padang pariaman mengenai uang japuik, apakah para perantau tersebut

mempunyai persepsi yang berbetuk positif ataupun negatif mengenai uang japuik.

Persepsi ini akan diukur melalui aspek pengetahuan, pengalaman dan pemahaman

orang-orang padang pariaman yang merantau ke Kota Bandar Lampung.

(7)

berkomunikasi dan menjalin silaturahmi sesama perantau di Perkumpulan

Keluarga Padang Piaman (PKDP) kota Bandar Lampung.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penulis dapat mengidentifikasi

masalah sebagai berikut :

a. Tatacara pelaksanaan perkawinan adat padang pariaman di daerah rantau

khususnya kota Bandar Lampung

b. Makna pemberian uang japuik dalam adat perkawinan padang pariaman

c. Persepsi orang-orang Padang Pariaman perantauan di Bandar Lampung

tentang Uang Japuik dalam adat perkawinan Padang Pariaman di Bandar

Lampung.

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah, peneliti membatasi masalah yaitu persepsi

orang-orang Padang Pariaman perantauan di Bandar Lampung tentang Uang

Japuik dalam adat perkawinan Padang Pariaman di Bandar Lampung.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah maka yang menjadi rumusan

pada penelitian ini adalah : bagaimanakah persepsi orang-orang Padang Pariaman

perantauan di Bandar Lampung tentang Uang Japuik dalam adat perkawinan

(8)

E. Tujuan, Kegunaan Dan Ruang Lingkup Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah persepsi orang-orang

Padang Pariaman perantauan di Bandar Lampung tentang Uang Japuik dalam

adat perkawinan padang pariaman di kota Bandar Lampung.

2. Kegunaan Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dalam penulisan proposal ini adalah :

a. Menjadi suplemen dalam mata pelajaran sejarah lokal di SMA

b. Dapat memperbaiki pandangan pembaca tentang praktek uang japuik

yang berlaku dalam perkawinan orang-orang Padang Pariaman yang

dianggap berbeda dengan tradisi perkawinan lainnya.

c. Dapat menambah informasi dan wawasan bagi para pembaca mengenai

ersepsi orang-orang Padang Pariaman perantauan di Bandar Lampung

tentang Uang Japuik.

3. Ruang Lingkup Penelitian

Mengingat masalah diatas cukup umum dalam penelitian untuk menghindari

kesalahpahaman, maka dalam hal ini penulis memberikan kejelasan tentang

sasaran dan tujuan penulis mencakup :

a. Objek Penelitian : Persepsi orang-orang Padang Pariaman perantauan di

Bandar Lampung tentang Uang Japuik

b. Subjek Penelitian : Orang-orang Padang Pariaman perantauan di Bandar

Lampung

(9)

d. Tempat Penelitian : Kota Bandar Lampung

(10)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Pustaka

1. Konsep Persepsi

Jalaludin Rahmat mengemukakan persepsi adalah pengalaman tentang obyek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan (Jalaludin Rahmat, 2003:15). Desideranto dalam Jalaluddin Rahmat persepsi adalah penafsiran suatu objek, peristiwa atau informasi yang dilandasi oleh pengalaman hidup seseorang yang melakukan penafsiran itu (Jalaludin Rahmat, 2003:16).

Mar’at menyebutkan bahwa persepsi merupakan proses pengamatan seseorang yang berasal dari komponen kognisi. Persepsi itu dipengaruhi oleh faktor-faktor pengalaman, proses belajar, cakrawala dan pengetahuannya. Manusia mengamati suatu objek psikologik dengan kacamatanya sendiri yang diwarnai oleh nilai dari kepribadiaannya, sedangkan objek psikologik ini berupa kejadian, idea atau, situasi tertentu. Faktor pengalaman, proses belajar atau sosialisasi memberikan bentuk dan struktur terhadap apa yang dilihat, sedangkan pengetahuannya dan cakrawalanya memberikan arti terhadap objek psikologik tersebut (Mar’at 1992:22).

Thoha mendefinisikan bahwa persepsi pada hakikatnya adalah proses kognisi

yang dialami oleh setiap orang dalam memahami informasi tentang

lingkungannya, baik lewat penglihatan, pendengaran, penghayatan, peranan

(11)

Sarlito Wirawan menyatakan bahwa persepsi merupakan hasil hubungan antar

manusia dengan lingkungan kemudian diproses dalam alam kesadaran

(kognisi) yang dipengaruhi memori tentang pengalaman tentang masa lampau,

minat, sikap, intelegensi, dimana hasil penelitian terhadap apa yang

diinderakan akan mempengaruhi tingkah laku (Sarlito Wirawan 1995:77).

Dari beberapa pengertian di atas dapat dijelaskan bahwa persepi adalah penafsiran tentang suatu objek, yang dipengaruhi oleh pengalamannya, pengetahuannya dalam memahami objek tersebut sehingga menghasilkan penafsiran.

a. Proses Terjadinya Persepsi

Mar’at menjelaskan, proses persepsi merupakan proses pengamatan seseorang yang berasal dari komponen kognisi. Persepsi ini dipengaruhi oleh faktor pengalaman, proses belajar, cakrawala dan pengetahuannya (Mar’at, 1992 : 22).

Manusia mengamati suatu obyek psikologis dengan kacamatanya sendiri yang diwarnai oleh nilai dari pribadinya. Sedangkan obyek psikologis ini dapat berupa kejadian, ide, atau situasi tertentu. Faktor pengalaman, proses belajar atau sosialisasi memberikan bentuk dan struktur terhadap apa yang dilihat. Sedangkan pengetahuannya dan cakrawalanya memberikan arti terhadap obyek psikologik tersebut.

(12)

terjadi pemahaman terhadap obyek tersebut. Selanjutnya komponen afeksi memberikan evaluasi emosional (senang atau tidak senang) terhadap objek.

Dalam penelitian ini peneliti ingin mengetahui bagaimana persepsi orang-orang Padang Pariaman perantauan di Bandar Lampung mengenai tradisi Uang Japuik. Proses persepsi itu sendiri akan diketahui dari komponen-komponen yaitu pengetahuan, pengalaman dan pemahaman responden mengenai uang japuik di Bandar Lampung.

Menurut Nadler pengetahuan adalah proses belajar manusia mengenai kebenaran atau jalan yang benar secara mudahnya mengetahui apa yang harus diketahui untuk dilakukan (Nadler, 1986:62). Notoatmodjo menyatakan bahwa pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini setelah orang melakukan penginderaan terhadap obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagaian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmojo, 2007:90).

Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan adalah hasil dari proses belajar manusia mengenai kebenaran dan jalan untuk mengetahui apa yang harus diketahui untuk dilakukan, melalui proses penginderaan melalui panca indera manusia.

(13)

pengetahuan (Notoatmojo, 2007:53). Sedangkan menurut Muhibbin Syah

pengalaman dapat diartikan juga sebagai memori episodik, yaitu memori yang menerima dan menyimpan peristiwa-peristiwa yang terjadi atau dialami individu pada waktu dan tempat tertentu, yang berfungsi sebagai referensi otobiografi (Muhibbin Syah, 2003:20). Menurut W.J.S. Purwadarminta, pengalaman bila dilihat dari sudut bahasa adalah merupakan sesuatu yang dikerjakan atau dialami atau barang yang telah diketahui atau dirasakan, dikerjakan, dan sebagainya (W.J.S. Purwadarminta, 1998: 314).

Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pengalaman adalah sesuatu yang telah diketahui dan dikerjakan atau dialami individu pada waktu dan tempat tertentu untuk memperoleh kebenaran pengetahuan.

Menurut W.J.S. Purwadarminta, pemahaman berasal dari kata “paham” dalam kamus bahasa Indonesia diartikan menjadi benar. Seorang dikatakan paham terhadap sesuatu hal, apabila orang tersebut mengerti benar dan mampu menjelaskannya (W.J.S. Purwadarminta, 1998:314). Suharsimi Arikunto menyatakan bahwa pemahaman (comprehension) adalah bagaimana seorang mempertahankan, membedakan, menduga (estimates), menerangkan, memperluas, menyimpulkan, menggeneralisasikan, memberikan contoh, menuliskan kembali, dan memperkirakan (Suharsimi Arikunto, 2009:118).

(14)

menerangkan, memperluas, menyimpulkan, menggeneralisasikan, memberikan contoh, menuliskan kembali, dan memperkirakan. Seorang dikatakan paham terhadap sesuatu hal, apabila orang tersebut mengerti benar dan mampu menjelaskannya.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah persepsi orang-orang Padang Pariaman perantauan di Bandar Lampung tentang uang japuik dalam adat perkawinan padang pariaman di kota Bandar Lampung. Persepsi itu sendiri akan dibentuk berdasarkan pengetahuan, pengalaman dan pemahaman orang-orang padang pariaman mengenai uang japuik tersebut, terutama uang japuik dalam adat perkawinan padang pariaman di Bandar Lampung.

b. Bentuk- Bentuk Persepsi

Menurut Thoha, dilihat dari segi individu setelah melakukan interaksi dengan obyek yang dipersepsikannya, maka dapat diketahui ada dua bentuk persepsi yaitu yang bersifat positif dan negatif (Thoha, 2006:30).

1. Persepsi Positif

(15)

2. Persepsi Negatif

Persepsi negatif yaitu persepsi atau pandangan terhadap suatu obyek dan menunjukan pada keadaan dimana subyek yang mempersepsikan cenderung menolak obyek yang ditangkap karena tidak sesuai dengan pribadinya. Hal itu akan diteruskan dengan kepasifan menolak dan menentang obyek yang dipersepsikan.

Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimanakah persepsi orang-orang Padang Pariaman perantauan di Bandar Lampung tentang Uang Japuik dalam adat perkawinan padang pariaman di kota Bandar Lampung, yang akan dilihat dari faktor pengetahuan, pengalaman dan pemahaman orang-orang padang pariaman di Bandar Lampung mengenai uang japuik. Hasil persepsi dari orang-orang padang pariaman tersebut kemudian akan dikategorikan, apakah persepsinya berbentuk positif atau berbentuk negatif.

2. Konsep Adat Perkawinan Padang Pariaman

Dalam kehidupan sehari-hari orang Minangkabau banyak mempergunakan kata adat terutama yang berkaitan dengan pandangan hidup maupun norma-norma yang berkaitan dengan hidup dan kehidupan orang-orangnya. Menurut orang minang, adat adalah kebudayaan secara keseluruhan.

(16)

Adat Minangkabau terdiri dari empat macam atau empat jenis, dikenal juga dengan Adat Nan Ampek. Yaitu Adat Nan Sabana Adat, Adat Nan Diadatkan, Adat Nan Teradat dan Adat Istiadat (Hakimy, 1994:104).

Pengertian perkawinan menurut Undang-undang perkawinan republik Indonesia No. 1 Th. 1974 adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Tuhan Yang maha Esa. Perkawinan dianggap sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama atau kepercayaan yang dianut sesuai dengan Undang-undang Dasar 1945.

Perkawinan adalah suatu perjanjian yang suci, kuat dan kokoh untuk hidup bersama secara sah antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan membentuk keluarga yang kekal santun menyantuni, kasih mengasihi tenteram dan bahagia. (Mohammad Idris, 1999:1)

Dapat disimpulkan perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang suci, kuat dan kokoh untuk hidup bersama secara sah membentuk keluarga yang bahagia, kekal santun menyantuni, kasih mengasihi tenteram dan bahagia.

(17)

mengasihi tenteram dan bahagia, yang diikat oleh peraturan dan undang-undang atau hukum adat yang berlaku dalam kehidupan sosial orang-orang Minangkabau, terutama yang bertempat tinggal di alam Minangkabau.

Sistem perkawinan di minangkabau berdasarkan sumando. Setiap terjadi

perkawinan, laki-laki akan dijemput oleh keluarga istri dan diantar ke rumah istri secara adat, jika terjadi perceraian, maka laki-laki lah yang pergi dari rumah sang istri dan istri akan tetap tinggal di rumah bersama keluarga (Hakimy, 2001:46)

Adat perkawinan Padang Pariaman termasuk dalam adat perkawinan minangkabau, namun terjadi di wilayah kabupaten Padang Pariaman. Adat perkawinan Padang Pariaman ini berbeda dengan adat perkawinan daerah minangkabau lainnya, karena mempunyai tradisi bajapuik (menjemput pengantin laki-laki) yang mensyaratkan adanya uang japuik. Adat perkawinan ini, termasuk dalam adat nan diadatkan. Karena hanya terjadi di daerah tertentu saja, dalam hal ini hanya terjadi dalam lingkup padang pariaman saja. Adat perkawinan ini, dilaksanakan oleh penduduk padang pariaman, termasuk yang telah merantau ke kota lainnya, salah satunya kota Bandar Lampung.

3. Konsep Uang Japuik

Bajapuik (japuik; Jemput) adalah tradisi perkawinan yang menjadi ciri khas di

daerah pariaman. Bajapuik dipandang sebagai kewajiban pihak keluarga

(18)

Uang jemputan adalah uang yang diberikan oleh pihak perempuan kepada pihak laki-laki sebagai persyaratan dalam perkawinan dan dikembalikan lagi pada saat mengunjungi mertua untuk pertama kalinya. Uang jemputan ini berwujud benda yang bernilai ekonomis seperti emas dan benda lainnya.

Penentuan uang jemputan dilakukan pada saat acara maresek dan bersamaan

dengan penentuan persyaratan lainnya. Sedangkan untuk pemberian dilakukan pada saat menjemput calon mempelai laki-laki untuk melaksanakan pernikahan di rumah kediaman perempuan. (Maihasni, 2010:12)

Uang Japuik adalah pemberian dari keluarga pihak perempuan kepada pihak

laki-laki yang diberikan pihak perempuan pada saat acara manjapuik marapulai dan akan dikembalikan lagi pada saat mengunjungi mertua pada pertama kalinya (acara manjalang). Uang Japuik ini sebagai tanda penghargaan kepada masing-masing pihak. (Azwar, 2001:53)

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan, uang jemputan (Uang Japuik) adalah sejumlah pemberian berupa uang atau benda yang bernilai ekonomis yang diberikan pihak keluarga calon pengantin perempuan (anak daro) kepada pihak calon pengantin laki-laki (marapulai) pada saat acara penjemputan calon pengantin pria (manjapuik marapulai).

a. Asal Mula Uang Japuik

Referensi

Dokumen terkait

Mengingat Jerman adalah negara industri manufakturing yang maju dan sektor transportasinya yang masih mengandalkan bahan-bakar fosil, maka pengurangan konsumsi dalam sektor ini

1) Evaluasi terhadap penerapan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja. Evaluasi di PT. Indofood Sukses makmur Divisi Noodle Cabang Semarang dilakukan untuk mengetahui

Berdasarkan analisis data yang telah diuraikan, maka dapat diambil simpulan bahwa proses berpikir siswa laki- laki dalam menyelesaikan soal cerita tentang keliling dan luas

Mempertanyakan perkembangan penyidikan kasus penghilangan paksa 1997/1998 yang dilakukan oleh Tim Projustisia untuk masa kerja sampai dengan 30 Juni 2006 Mempertanyakan

Sabuk rata dipasang pada puli silinder dan meneruskan momen antara dua poros yang jaraknya sampai 10 m dengan perbandingan putaran 1/1 sampai 6/1. Kemampuan dari sabuk

Faktor penghambat Guru Pendidikan Agama Islam dalam mengembangkan kecerdasan emosional dan spiritual siswa Beberapa faktor penghambat yang dialami Guru Pendidikan Agama Islam