• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS MASALAH PENANAMAN MENTAL PADA D

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ANALISIS MASALAH PENANAMAN MENTAL PADA D"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS MASALAH PENANAMAN MENTAL PADA DIRI

PESERTA DIDIK BERDASARKAN STUDI KASUS

TERHADAP PERSIAPAN MENTAL PESERTA DIDIK DALAM

MENGHADAPI UJIAN NASIONAL

M A K A L A H

disusun oleh:

MUHAMMAD LUKMAN NUR HAKIM 1101100

FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan YME., Allah Azza wa Jalla, karena atas bimbingan dari-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Makalah berjudul “ANALISIS MASALAH PENANAMAN MENTAL PADA DIRI PESERTA DIDIK BERDASARKAN STUDI KASUS TERHADAP PERSIAPAN MENTAL PESERTA DIDIK DALAM

MENGHADAPI UJIAN NASIONAL” merupakan permasalahan yang sudah cukup lama diamati oleh penulis dan baru dapat dituangkan ke dalam bentuk tulisan sehubungan dengan adanya tugas mata kuliah Perkembangan Peserta Didik. Namun tentu bukan itu saja yang menjadi motifasi penulis dalam

menuliskan makalah sederhana ini. Penulisan makalah ini juga dilandasi dengan kesadaran untuk berkontribusi dalam membangun pendidikan yang gemilang.

Penulis sangat berharap, mudah-mudahan makalah ini dapat memberikan sumbangsih pemikiran bagi sistem pengajaran di Indonesia.

penulis

(3)

DAFTAR ISI

2.1.1. Pengertian Stress Menurut Para Ahli...5

2.1.2. Dampak Stress...6

2.1.3. Respon Terhadap Stress...7

2.2. Permasalahan Pendidikan dan Analisis Terhadap Tatanan Praktis Penyelenggaraan Pendidikan...7

BAB III...10

3.1. Kesimpulan...10

3.2. Rekomendasi...10

3.2.1. Rekomendasi Untuk Pemerintah ...10

3.2.2. Rekomendasi Untuk Guru ...10

DAFTAR PUSTAKA...12

(4)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Ujian Nasional (UN) masih menjadi topik yang selalu mengundang kontroversi setiap tahunnya. Kontroversi UN sebenarnya sudah terjadi saat kebijakan tersebut mulai digulirkan pada tahun ajaran 2002/2003 (lihat. Tempo, 04/02/2005). UN yang semula bernama UAN (Ujian Akhir Nasional) merupakan pengganti bagi kebijakan Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS). Kebijkan ini menggabungkan nilai ujian sekolah dan ujian nasional sebagai penentu kelulusan. Kemudian pada tahun 2003-2010 UN menjadi penentu mutlak bagi kelulusan siswa. Kebijakan ini mendapat banyak penentangan keras dari berbagai pihak sehingga pada tahun 2011, kelulusan siswa kembali berdasarkan penggabungan nilai ujian nasional sebesar 60% ditambah nilai ujian sekolah sebesar 40% dengan syarat kelulusan skor siswa harus melampaui angka 5,5. Intinya terlepas dari berbagai kontroversi yang selalu muncul menyertai kebijakan ini, setidaknya dalam 20 tahun terakhir, UN selalu menjadi tolak ukur dalam menilai kompetensi siswa.

Namun, kendati demikian UN masih saja menjadi fokus perhatian para praktisi dan pemerhati pendidikan. Memang benar banyak kasus yang

(5)

siswa. Berbagai kasus stess dari stress ringan hingga stress berat pun menjangkit para siswa. Kemudian muncul pertanyaan, mengapa hal ini bisa terjadi? Penulis menilai, kebanyakan dari kita sering mempertanyakan tentang efektifitas

pelaksanaan UN, bahkan kelemahan dalam pelaksanaan UN selalu dijadikan senjata untuk menggugat UN. Berkaitan dengan buruknya pelaksanaan UN, penulis memang merasa perlu untuk mempertanyakan kinerja pemerintah, yaitu mempertanyakan keseriusan mereka dalam menciptakan kebijakan yang baik bagi sistem pendidikan di negeri ini. Namun penulis menganggap ada hal penting lain yang seharusnya diperhatikan oleh siapapun orang yang terjun di dalam dunia pendidikan, yaitu bagi mereka yang menginginkan sistem pendidikan yang berkualitas dan mampu menciptakan generasi unggulan. Hal penting itu adalah bagaimana menciptakan generasi unggulan yang mampu menghadapi berbagai tantangan jaman.

(6)

lebih berat dan menyiksa bagi mereka. Namun justru mental pengecut itulah yang ditanamkan oleh para pendidik di negeri ini kepada para siswanya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pihak sekolah turut bermain dalam meluluskan anak

didiknya, meski tidak secara langsung namun tidak sedikit para pendidik yang ‘menganjurkan kebersamaan dalam mencapai kesuksesan’. Inilah fenomena yang hari ini terjadi dalam pelaksanaan pendidikan di negeri ini, kita tidak boleh menutup mata akan hal ini. Berdasarkan pengkajian penulis terhadap kasus-kasus seperti ini, kami berpendapat bahwa masalah mental peserta didik pada dasarnya dikarenakan masalah mental guru dan kesalahan pengajaran dalam sistem

pendidikan.

Itulah sebabnya di dalam penulisan makalah ini, penulis merasa perlu mengangkat isu mengenai bagaimana cara mempersiapkan mental peserta didik dalam mengarungi medan kehidupan.

1.2. Tujuan Penulisan

Kami berharap makalah ini dapat memberikan sumbangsih pemikiran bagi para praktisi dan pemerhati pendidikan demi mewujudkan tatanan sistem

(7)

menyalurkan ide dan saran mengenai apa yang seharusnya dilakukan bagi menciptakan generasi unggulan. Adapun tujuan yang secara praktis hendak dicapai dari penulisan makalah ini, tidak lain untuk menjelaskan bagaimana mengembangkan pendidikan yang mampu menumbuhkan mental dan kemandirian berfikir siswa.

1.3. Manfaat Penulisan

(8)

BAB II PEMBAHASAN 2.1. Kajian Teori

Salah satu penyebab adanya penolakan UN adalah karena masyarakat menganggap bahwa UN akan sangat membebani peserta didik. Banyak kasus yang memperlihatkan tingkatan stress para siswa menjelang UN. Namun benarkah persoalan UN ini menjadi sebab utama bagi meningkatnya kasus stress pada peserta didik? Untuk menjawab pertanyaan ini sudah selayaknya bagi kita untuk megkaji definisi stress terlebih dahulu.

2.1.1. Pengertian Stress Menurut Para Ahli

Stress menurut Hans Selye (1976) merupakan respon tubuh yang bersifat tidak spesifik terhadap setiap tuntutan atau beban atasnya. Robbins (2001) berpendapat bahwa stress juga dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang menekan keadaan psikis seseorang dalam mencapai suatu kesempatan dimana untuk mencapai kesempatan tersebut terdapat batasan atau penghalang. Dan apabila pengertian stress dikaitkan dengan penelitian ini maka stress itu sendiri adalah suatu kondisi yang mempengaruhi keadaan fisik atau psikis seseorang karena adanya tekanan dari dalam ataupun dari luar diri seseorang yang dapat mengganggu pelaksanaan kerja mereka.

(9)

yang kita berikan terhadap peristiwa tersebut, dan bukan karena peristiwa itu sendiri. Karenanya dikatakan bahwa stress adalah suatu persepsi dari ancaman atau dari suatu bayangan akan adanya ketidaksenangan yang menggerakkan, menyiagakan atau mambuat aktif organisme.

Stress adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stress dapat membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental. Pada dasarnya, stress adalah sebuah bentuk ketegangan, baik fisik maupun mental. Sumber stress disebut dengan stressor dan ketegangan yang di akibatkan karena stress, disebut strain.

Sedangkan menurut Handoko (1997), stress adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang. Stress yang terlalu besar dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungannya.

Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa stress pada dasarnya merupakan dampak yang ditimbulkan akibat tekananyang ditimbulkan persepsi seseorang terhadap sesuatu.

2.1.2. Dampak stress

(10)

menyerap realitas, menyelesaikan masalah, berfikir secara umum dan hubungan seseorang dan rasa memiliki.

2.1.3. Respon Terhadap Stress

Ada dua buah respon ketka seseorang dihadapkan dengan beberapa permasalahan dalam hidupnya. Pertama, “flight” yaitu sebuah respon untuk menghindari atau meninggalkan sumber stress tersebut, Kedua, “fight” yaitu kecenderungan untuk menghadapi dan menye-lesaikan sumber stress.

Hal ini penting untuk diahami karena akan membantu kita menilai kualitas mental dan kemandirian berfikir peserta didik.

2.2.Permasalahan Pendidikan dan Analisis Terhadap Tatanan Praktis Penyelenggaraan Pendidikan.

Kebanyakan orang menganggap bahwa Ujian Nasional (UN), merupakan terror terbesar bagi peserta didik. Bagaimana tidak, upaya selama tiga tahun ditentukan hanya dengan beberapa jam saja. Hal ini sering kali membuat pesrta didik mengalami stress bahkan depresi dikarenaan tekanan yang luar biasa dari lingkungan mereka. Tekanan tersebut dapat berupa berbagai ekspektasi keluarga, sekolah, teman dan dirinya sendiri. Akan tetapi di satu sisi peserta didik dibiarkan menyelesaikan masalah itu sendiri. Maka wajar apabila ketegangan itu pada akhirnya memuncak dan berpengaruh kepada perkembangan diri peserta didik.

(11)

penyebab utama: (1) cara pandang yang materialistis, dan (2) abai dalam membentuk karakter peserta didik.

Pertama, karena cara pandang yang materialistis. Disadari ataupun tidak, lingkungan kita hari ini merupakan lingkungan yang materialistis; masyarakat yang materialistis, gaya hidup yang materialistis, serta sistem pendidikan yang materialistis. Segala sesuatu diukur berdasarkan materi, sehingga dalam mengukur kesuksesan pun dilandaskan pada seberapa besar materi yang didapatkan.

Pandangan inilah yang merusak cara berpikir masyarakat kita, terlebih lagi dalam sistem pndidikan telah mendogma peserta didik dengan cara berpikir yang salah. Sehingga yang menjadi fokus perhatian mereka adalah “bagaimana mendapatkan materi dengan cara apapun juga”. Hal ini dapat berdampak secara langsung kepada perkembangan mental peserta didik tatkala cara berpikir materialistis ini telah terinternalisasi dalam diri mereka, karena mereka akan menilai kesuksesan dengan cara pandang yang sempit lagi sederhana: berdasarkan materi. Akibatnya seringkali memunculkan anggapan “sekolah hanya sekedar untuk mendapatkan ijazah”.

(12)

mental untuk mampu menerima kegagalan itulah yang penting. Maksudnya adalah bagaimana proses pendidikan dapat menumbuhkan mental peserta didik agar mereka dapat berpikir dan memandang jauh ke depan.

(13)

BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan

Demikianlah argumentasi yang dapat kami sajikan, berkenaan dengan masalah yang dihadapi peserta didik. Pada intinya, pendidikan dan sekolah seharusnya menjadi tempat yang mampu mencetak generasi unggulan yang memiliki kualitas mental orang-orang besar. Sudah selayaknya hal ini menjadi bahan pemikiran kita bersama. Apabila semua komponen pendidikan baik di sekolah ataupun di masyarakat menyadari akan hal ini, maka generasi unggulan yang sesungguhnya akan lahir.

3.2. Rekomendasi

3.2.1. Rekomendasi untuk pemerintah

Pemerintah sebagai pemegang kebijakan harus mampu menciptakan kebijakan yang bermutu. Dalam arti, menciptakan suasana yang ideal bagi siswa degan menyeleksi pemikiran-pemikiran yang masuk kedalam sistem pendidikan serta mengkondisikan cara pandang hidup masyarakat dalam menilai. Di sinilah petingnya pengawasan secara ketat terhadap perkembangan teknologi informasi.

3.2.2. Rekomendasi untuk guru

(14)
(15)

DAFTAR PUSTAKA

http://www.antikorupsi.org/id/content/kontroversi-ujian-nasional

http://rachmabuana.blogspot.com/2013/06/tugas-kesehatan-mental-3.html

(16)

LAMPIRAN

Mengapa saya layak mendapat nilai terbaik?

Referensi

Dokumen terkait

a. Aktifitas berpikir, kreativitas selalu melibatkan proses berpikir di dalam diri seseorang. Aktifitas ini merupakan suatu proses mental yang tidak tampak oleh

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan strategi coping yang digunakan oleh orangtua yang memiliki anak retardasi mental karena kehadiran anak retardasi mental dalam

Apabila tuna daksa mampu menjalani tugas-tugas perkembangan seperti yang diharapkan dengan baik, maka hal ini juga akan memengaruhi penilaian diri mereka yang juga dapat

Orang dengan konsep diri positif dapat memahami dan menerima sejumlah fakta yang sangat bermacam-macam tentang dirinya sendiri; karena secara mental mereka dapat

a. Aktifitas berpikir, kreativitas selalu melibatkan proses berpikir di dalam diri seseorang. Aktifitas ini merupakan suatu proses mental yang tidak tampak oleh

Tantangan yang harus dihadapi oleh peserta didik dalam hal ini adalah siswa SMA selain harus menyesuaikan diri dengan pertumbuhan dan perkembangan diri mereka,

Apabila tuna daksa mampu menjalani tugas-tugas perkembangan seperti yang diharapkan dengan baik, maka hal ini juga akan memengaruhi penilaian diri mereka yang juga dapat

Penelitian ini hanya akan meneliti mengenai proses pelaksanaan pembelajaran jarak jauh secara daring pada berpikir kritis peserta didik pada pembelajaran IPA daring dengan menggunakan