• Tidak ada hasil yang ditemukan

Respon Pertumbuhan dan Konsentrasi Rantai Panjang Polyisoprenoid terhadap Cekaman Garam pada Mangrove Sonneratia alba Smith

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Respon Pertumbuhan dan Konsentrasi Rantai Panjang Polyisoprenoid terhadap Cekaman Garam pada Mangrove Sonneratia alba Smith"

Copied!
72
0
0

Teks penuh

(1)

RESPON PERTUMBUHAN DAN KONSENTRASI RANTAI

PANJANG POLYISOPRENOID TERHADAP CEKAMAN

GARAM PADA MANGROVE

Sonneratia alba

Smith

SKRIPSI

Oleh :

LATIFAH NUR SIREGAR 111201117

PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS PERTANIAN

(2)

RESPON PERTUMBUHAN DAN KONSENTRASI RANTAI

PANJANG POLYISOPRENOID TERHADAP CEKAMAN

GARAM PADA MANGROVE

Sonneratia alba

Smith

SKRIPSI

Oleh :

LATIFAH NUR SIREGAR 111201117/BUDIDAYA HUTAN

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara

PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS PERTANIAN

(3)

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Penelitian : Respon Pertumbuhan dan Konsentrasi Rantai Panjang Polyisoprenoid terhadap Cekaman Garam pada Mangrove

Sonneratia alba Smith Nama : Latifah Nur Siregar

NIM : 111201117

Program studi : Budidaya Hutan

Disetujui oleh, Komisi Pembimbing

Mohammad Basyuni, S.Hut., M.Si., Ph.D Dr. Ir. Lollie Agustina P. Putri, M.Si Ketua Anggota

Mengetahui,

(4)

ABSTRACT

LATIFAH NUR SIREGAR : Salt Stress Response on Growth and Long-Chain Polyisoprenoid Concentration in Mangrove Sonneratia alba Smith. Supervised by

MOHAMMAD BASYUNI and LOLLIE AGUSTINA P. PUTRI.

Mangrove is one of the richest bioactive source naturally and is able to remove excess of salt. The purpose of this study was to determine the best salt stress concentration for growth of S. alba seedlings and to evaluate effect of salt stess on polyisoprenoid composition. S. alba seedlings were used with 5 treatments namely 0%, 0,5%, 1,5%, 2%, and 3% grown for 3 months. Results showed that optimum growth for S. alba seedlings characterized by height, diameter, and dry weight of root in 1,5% salt stress, the best number of leaves and moisture content of root were in 0,5% salt stress. On the other hand, dry weight of shoot , moisture content of shoot, and ratio of shoot to root were found in 3% salt stress, respectively. Analysis of Polyisoprenoid in S. alba seedlings in 3% salinity was higher concentration than 0% treatment.

(5)

ABSTRAK

LATIFAH NUR SIREGAR : Respon Pertumbuhan dan Konsentrasi Rantai

Panjang Polyisoprenoid terhadap Cekaman Garam pada Mangrove

Sonneratia alba Smith. Dibimbing oleh MOHAMMAD BASYUNI dan LOLLIE AGUSTINA P. PUTRI.

Mangrove merupakan salah satu sumber bahan bioaktif terkaya di alam dan mampu mensekresi kelebihan garam. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan konsentrasi cekaman garam terbaik bagi pertumbuhan semai S. alba

dan mengetahui pengaruh konsentrasi cekaman garam terhadap rantai panjang polyisoprenoid. Penelitian ini menggunakan semai S. alba dengan 5 perlakuan cekaman garam, yaitu 0%, 0,5%, 1,5%, 2% dan 3% yang ditumbuhkan selama 3

bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan optimum untuk semai

S. alba bedasarkan kriteria tinggi, diameter dan berat kering akar semai S. alba

terdapat pada konsentrasi cekaman garam 1,5%, jumlah daun terbaik terdapat pada konsentrasi cekaman garam 0,5%. Sedangkan berat kering tajuk dan rasio tajuk dan akar terbaik, masing-masing terdapat pada konsentrasi cekaman garam 3 %. Analisis polyisoprenoid semai S. alba lebih tinggi pada cekaman garam 3% dibandingkan dengan perlakuan 0%.

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Padangsidimpuan pada tanggal 16 Januari 1993 dari Bapak Sorimuda Siregar dan Ibu Ratna Sondang Nasution. Penulis merupakan anak kedua dari lima bersaudara.

Pada Tahun 2005 Penulis lulus dari SD Negeri 200211 Padangsidimpuan, Tahun 2008 lulus dari SMP Negeri 1 Padangsidimpuan, dan Tahun 2011 lulus dari SMA Negeri 1 Padangsidimpuan. Tahun 2011 Penulis melanjutkan kuliah di Universitas Sumatera Utara (USU) Medan sebagai mahasiswi di Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian melalu jalur Ujian Masuk Bersama (UMB).

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga skripsi yang berjudul “Respon Pertumbuhan dan Konsentrasi Rantai Panjang Polyisoprenoid terhadap Cekaman Garam pada Mangrove Sonneratia alba Smith” dapat diselesaikan dengan baik. Skripsi ini merupakan suatu aplikasi ilmu yang didapat dari pembelajaran di ruang perkuliahan dan syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Kehutanan (S.Hut).

Pada kesempatan ini penulis mengucapakan terima kasih kepada kedua orangtua penulis, yaitu Bapak Sorimuda Siregar dan Ibu Ratna Sondang Nasution

yang telah memberi dukungan dan doanya selama ini. Terima kasih juga kepada Mohammad Basyuni, S.Hut., M.Si., Ph.D. dan Dr. Ir. Lollie A. P. Putri, M.Si

selaku komisi pembimbing yang telah banyak mengarahkan dan memberi saran kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

(8)

DAFTAR ISI

Hlm.

ABSTRACT ... i

ABSTRAK ... ii

RIWAYAT HIDUP ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1

Tujuan Penelitian ... 3

Hipotesis Penelitian ... 3

Manfaat Penelitian ... 3

TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi dan Deskripsi Umum S. alba ... 4

Komponen dan Zonasi Vegetasi Mangrove ... 5

Cekaman Garam pada Mangrove ... 7

Metabolit Sekunder pada Mangrove ... 8

Non Saponifiable Lipid (NSL) ... 10

Polyisoprenoid pada Mangrove ... 10

METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian ... 12

Alat dan Bahan Penelitian ... 12

Percobaan Cekaman Garam ... 12

Ekstraksi dan Analisis Data ... 12

Prosedur Penelitian ... 13

Pengumpulan dan Penanganan Buah S. alba ... 13

Pengecambahan pada Bak Kecambah ... 13

Perlakuan Toleransi Garam ... 13

Parameter Pengamatan ... 15

Analisis Statistik ... 17

Analisis NSL dan Polyisoprenoid ... 18

Analisis 1D-TLC ... 18

HASIL DAN PEMBAHASAN Perlakuan Cekaman Garam terhadap Parameter Pengamatan ... 19

Tinggi dan Diameter ... 19

Jumlah Daun ... 21

Berat Basah Akar, Berat Kering Akar, dan Kadar Air Akar ... 23

Berat Basah Tajuk, Berat Kering Tajuk, dan Kadar Air Tajuk... 25

(9)

Analisis Regresi Linear Perlakuan dengan Parameter ... 29

Tinggi dan Diameter ... 29

Jumlah Daun ... 31

Berat Basah Akar, Berat Kering Akar, dan Kadar Air Akar ... 31

Berat Basah Tajuk, Berat Kering Tajuk, dan Kadar Air Tajuk... 33

Rasio Tajuk dan Akar ... 35

Analisis Korelasi Perlakuan dan Parameter Pengamatan ... 36

Analisis Non-saponifiable Lipids (NSL) dan Polyisoprenoid ... 37

Analisis Polyisoprenoid dengan 1D-TLC ... 39

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 42

Saran ... 42 DAFTAR PUSTAKA

(10)

DAFTAR TABEL

No. Hlm.

(11)

DAFTAR GAMBAR

No. Hlm.

1. Pengaruh cekaman garam terhadap tinggi dan diameter S. alba

pada umur 3 bulan ... 19 2. Pengaruh cekaman garam terhadap jumlah daun S. alba pada umur

3 bulan. ... 21 3. Pengaruh cekaman garam terhadap berat basah akar, berat kering

akar, dan kadar air akar S. alba pada umur 3 bulan ... 23 4. Pengaruh cekaman garam terhadap berat basah tajuk, berat kering

tajuk, dan kadar air tajuk S. alba pada umur 3 bulan ... 25 5. Pengaruh cekaman garam terhadap rasio tajuk dan akar S. alba

pada umur 3 bulan ... 28 6. Analisis regresi cekaman garam terhadap tinggi dan diameter

semai S. alba ... 29 7. Analisis regresi cekaman garam terhadap jumlah daun semai

S. alba ... 31 8. Analisis regresi cekaman garam terhadap berat basah akar,

berat kering akar, dan kadar air akarsemai S. alba ... 32 9. Analisis regresi cekaman garam terhadap berat basah tajuk,

berat kering tajuk, dan kadar air tajuk semai S. alba ... 34 10.Analisis regrsi cekaman garam terhadap rasio tajuk dan

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Hlm.

1. Tabel Anova tinggi ... 43

2. Tabel Anova diameter ... 44

3. Tabel Anova jumlah daun ... 45

4. Tabel Anova berat basah akar ... 46

5. Tabel Anova berat kering akar ... 47

6. Tabel Anova kadar air akar ... 48

7. Tabel Anova berat basah tajuk ... 49

8. Tabel Anova berat kering tajuk ... 50

9. Tabel Anova kadar air tajuk ... 51

10.Tabel Anova rasio tajuk dan akar ... 52

(13)

ABSTRACT

LATIFAH NUR SIREGAR : Salt Stress Response on Growth and Long-Chain Polyisoprenoid Concentration in Mangrove Sonneratia alba Smith. Supervised by

MOHAMMAD BASYUNI and LOLLIE AGUSTINA P. PUTRI.

Mangrove is one of the richest bioactive source naturally and is able to remove excess of salt. The purpose of this study was to determine the best salt stress concentration for growth of S. alba seedlings and to evaluate effect of salt stess on polyisoprenoid composition. S. alba seedlings were used with 5 treatments namely 0%, 0,5%, 1,5%, 2%, and 3% grown for 3 months. Results showed that optimum growth for S. alba seedlings characterized by height, diameter, and dry weight of root in 1,5% salt stress, the best number of leaves and moisture content of root were in 0,5% salt stress. On the other hand, dry weight of shoot , moisture content of shoot, and ratio of shoot to root were found in 3% salt stress, respectively. Analysis of Polyisoprenoid in S. alba seedlings in 3% salinity was higher concentration than 0% treatment.

(14)

ABSTRAK

LATIFAH NUR SIREGAR : Respon Pertumbuhan dan Konsentrasi Rantai

Panjang Polyisoprenoid terhadap Cekaman Garam pada Mangrove

Sonneratia alba Smith. Dibimbing oleh MOHAMMAD BASYUNI dan LOLLIE AGUSTINA P. PUTRI.

Mangrove merupakan salah satu sumber bahan bioaktif terkaya di alam dan mampu mensekresi kelebihan garam. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan konsentrasi cekaman garam terbaik bagi pertumbuhan semai S. alba

dan mengetahui pengaruh konsentrasi cekaman garam terhadap rantai panjang polyisoprenoid. Penelitian ini menggunakan semai S. alba dengan 5 perlakuan cekaman garam, yaitu 0%, 0,5%, 1,5%, 2% dan 3% yang ditumbuhkan selama 3

bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan optimum untuk semai

S. alba bedasarkan kriteria tinggi, diameter dan berat kering akar semai S. alba

terdapat pada konsentrasi cekaman garam 1,5%, jumlah daun terbaik terdapat pada konsentrasi cekaman garam 0,5%. Sedangkan berat kering tajuk dan rasio tajuk dan akar terbaik, masing-masing terdapat pada konsentrasi cekaman garam 3 %. Analisis polyisoprenoid semai S. alba lebih tinggi pada cekaman garam 3% dibandingkan dengan perlakuan 0%.

(15)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Indonesia sangat kaya akan keanekaragaman hayati yang terdiri atas flora dan fauna. Jenis flora yang hidup dan banyak ditemui di Indonesia terutama di kawasan pesisir adalah mangrove (Anwar, 2010). Hutan mangrove merupakan vegetasi khas daerah tropis dan sub-tropis yang dijumpai di tepi sungai, muara sungai dan tepi pantai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Mangrove termasuk vegetasi halofita (halophytic vegetation) yaitu vegetasi yang mampu bertahan hidup pada tanah berkadar garam tinggi dan genangan air laut (pasang surut air laut) (Atmoko dan Kade, 2007).

Indonesia memiliki hutan mangrove terluas di dunia yaitu 21% dari total luas mangrove dunia yang tersebar hampir di seluruh pulau-pulau besar mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi sampai ke Papua (Spalding et al., 2010).

Sonneratia alba adalah salah satu tanaman mangrove yang dikenal luas di pesisir pantai Indonesia dan terdistribusikan secara luas di daerah pesisir Asia Tenggara dan Samudera Hindia (Azuma et al., 2002).

Kandungan garam pada media tumbuh yang berlebihan dapat menyebabkan tanaman menjadi stres atau tercekam. Stres garam merupakan salah satu stres abiotik yang dapat menurunkan produktivitas tanaman. Salah satu aktivitas adaptasi mangrove agar tetap dapat tumbuh baik pada daerah yang dipengaruhi pasang surut air laut adalah dengan cara mensekresi metabolit sekunder secara berlebih. Oleh karena itu, mangrove merupakan salah satu

(16)

terhadap salinitas adalah melaui pengaturan osmotik dengan cara mensintesis senyawa asam amino, galaktogliserol, dan asam lemak.

Famili Sonneratiaceae mengandung senyawa metabolit sekunder berupa asam lemak (Oku et al., 2003), triterpenoid, lipid (Chaiyadej et al., 2004), phytol,

isoprenoid (Basyuni et al,, 2007), alkane (C25-C33), flavonoid

(Minqing et al., 2009) dan steroid, bifenil (Priya et al., 2012). Masing-masing senyawa ini menunjukkan aktivitas biologis yang beragam, seperti antibakteri, anti-inflamasi, dan efek insektisida. Senyawa metabolit sekunder ini dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk mengobati penyakit maupun meningkatkan kekebalan tubuh terhadap penyakit.

Polyisoprenoid ditemukan di dalam sel dalam bentuk alkohol bebas dan ester dengan asam carboxylic dan asam phosphoric (Wotjas et al., 2004). Polyisoprenoid merupakan produk akhir dari metabolisme sel, yang dibeberapa literatur dikenal sebagai metabolisme sekunder (Tudek et al., 2007). Namun, secara fisiologis belum diketahui bagaimana peranan polyisoprenoid ini bagi mangrove.

(17)

Tujuan Penelitian

1. Menentukan konsentrasi cekaman garam terbaik bagi pertumbuhan semai

S. alba.

2. Menganalisis kandungan polyisoprenoid pada daun dan akar semai S. alba

setelah diberi perlakuan cekaman garam.

3. Menganalisis pengaruh konsentrasi rantai panjang polyisoprenoid terhadap cekaman garam pada semai S. alba.

Hipotesisis Penelitian

Cekaman salinitas pada konsentrasi 3%, berbeda nyata pengaruhnya

terhadap pertumbuhan dan konsentrasi rantai panjang polyisoprenoid semai

S. alba pada umur 3 bulan.

Manfaat Penelitian

1. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan perimbangan bagi masyarakat yang bergerak dibidang pembibitan S. alba dalam program rehabilitasi, sehingga dapat menghasilkan bibit S. alba yang pertumbuhannya baik pada tingkat salinitas tertentu.

(18)

TINJAUAN PUSTAKA

Klasifikasi dan Deskripsi Umum S. alba

Berdasarkan Puspayanti et al. (2013), klasifikasi S. alba adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Myrtales Famili : Sonneratiaceae Genus : Sonneratia

Spesies : Sonneratia alba Smith.

Sonneratia alba Smith. (Perepat) tumbuh pada substrat berlumpur, kulit batang berwarna krem hingga cokelat dengan retak-retak halus di permukaannya.

S. alba memiliki akar pasak (pneumatophore) yang terlihat pada saat air laut sedang surut. Daunnya tebal berbentuk bulat telur yang berwarna hijau cerah dan letaknya saling berhadapan (opposite). Buah berbentuk bola yang berwarna hijau keabu-abuan dengan diameter 5-7,5 cm. Bunganya berbenang sari cukup banyak, terdapat diujung-ujung ranting dan berwarna putih. Tumbuhan ini dapat

dimanfaatkan kayunya untuk dijadikan rusuk dan siku-siku perahu (Sugiarto dan Willy, 1996).

(19)

Komponen dan Zonasi Vegetasi Mangrove

Menurut Tomlinson (1986) vegetasi mangrove tersusun atas tiga komponen, yaitu mayor, minor, dan asosiasi. Komponen mayor merupakan vegetasi yang memiliki peran yang besar dalam menyusun struktur mangrove dan mampu membentuk tegakan murni, mempunyai karakteristik adaptasi morfologi/anatomi seperti sistem perakaran udara (aerial root) dan memiliki mekanisme fisiologis khusus untuk mengeluarkan garam. Komponen mayor terdiri dari lima famili dengan sembilan genus, yaitu: Avicennia, Bruguiera, Ceriops, Kandelia, Laguncularia, Lumnitzera, Nypa, Rhizophora dan Sonneratia.

Komponen minor hanya muncul pada batas luar habitat mangrove serta jarang membentuk tegakan murni. Komponen minor terdiri dari sebelas genus dari famili yang berbeda, yaitu: Camptostemon, Excoecaria, Pemphis, Xylocarpus, Aegiceras, Osbornia, Pelliciera, Aegialitis, Acrostichum,

Scyphiphora dan Heritiera. Sedangkan komponen asosiasi merupakan vegetasi yang tidak pernah tumbuh dalam komunitas mangrove dan sering muncul sebagai vegetasi daratan. Komponen asosiasi terdiri dari 29 famili dengan 40 genus, antara lain : Acanthus, Calophyllum, Terminalia, Derris dan Pongamia.

(20)

Pola zonasi erat kaitannya dengan kondisi ekologi terutama yang berhubungan dengan kemampuan hidup jenis tumbuhan penyusunnya terhadap berbagai tingkat salinitas, suhu, sedimentasi, terjangan ombak, lamanya periode pasang surut air laut dan pasokan air tawar dari darat (Noor etal., 1999). Faktor-faktor lainnya seperti toleransi naungan, cara penyebaran tumbuh-tumbuhan mangrove muda serta seleksi terhadap mangrove muda oleh kepiting akan berpengaruh terhadap zonasi mangrove (Talib, 2008). Oleh karena itu, karakteristik mangrove bervariasi pada lokasi yang berbeda dan dapat saling tumpang tindih antar zona atau bahkan dapat terjadi pengurangan zona akibat kondisi beberapa faktor penunjang pertumbuhan yang tidak normal. Pada umumnya lebar zona mangrove jarang melebihi 4 km, kecuali pada beberapa daerah sekitar muara serta teluk yang dangkal dan tertutup. Jenis mangrove tumbuh dengan baik pada tanah berlumpur, terutama tanah endapan lumpur

terakumulasi. Dalam hubungannya dengan zonasi pada hutan mangrove, Noor et al. (1999) membaginya menjadi 4 zona yaitu:

1. Mangrove terbuka, yaitu kawasan mangrove yang berhadapan langsung dengan laut. Pada tempat-tempat yang tanahnya berpasir dan agak keras didominasi oleh Sonneratia alba, sedangkan pada tanah berlumpur cenderung didominasi oleh Avicenia marina dan Rhizophora mucronata.

2. Mangrove tengah, adalah kawasan mangrove yang berada di belakang mangrove terbuka dan terhindar dari hempasan gelombang. Di sini

(21)

dengan baik pada salinitas kurang dari 25 o/oo (Supriharyono, 2000). Jenis

pohon lain yang juga sering dijumpai di sini adalah Excoecaria agallocha dan

Xylocarpus granatum.

3. Mangrove payau, terdapat di sepanjang tepi sungai yang berair payau sampai hampir tawar. Jenis-jenis tumbuhan yang biasanya mendominasi vegetasi di daerah ini antara lain adalah nipah (Nypa fruticans) dan jenis-jenis dari marga

Sonneratia. Jenis-jenis pohon lainnya adalah Cerbera manghas, Gluta velutina dan Xylocarpus granatum.

4. Mangrove daratan, terletak di perairan payau (hampir tawar) di belakang jalur hijau mangrove. Zona ini memiliki keanekaragaman yang lebih tinggi dari zona lain karena berbatasan langsung dengan ekosistem darat. Tumbuhan yang umum dijumpai antara lain adalah Lumnitzera racemosa, Intsia bijuga, Ficus microcarpus, Heritiera littoralis, Nypa fruticans dan Pandanus spp.

Cekaman Garam pada Mangrove

Keragaman jenis hutan mangrove secara umum relatif rendah jika dibandingkan dengan hutan alam tipe lainnya, hal ini disebabkan oleh kondisi lahan hutan mangrove yang secara periodik digenangi oleh air laut (dipengaruhi pasang surut), sehingga mempunyai salinitas yang tinggi dan berpengaruh terhadap keberadaan jenisnya (Talib, 2008).

(22)

Jenis S. alba mampu menyimpan kadar garam yang tinggi pada daun-daun tua, sehingga konsentrasi garam pada daun muda akan berkurang. Kadar garam akan

dikeluarkan dari pohon bersamaan dengan gugurnya daun-daun tua (Atmoko dan Kade, 2007). Arief (2003) menyatakan bahwa semua ciri morfologi

dan anatomi pohon mangrove mencerminkan kondisi pada posisi mempertahankan diri terhadap lingkungan yang bersalinitas tinggi.

Pada umumnya respon pertumbuhan tinggi mangrove yang baik diperoleh pada salinitas yang rendah. Hal ini terjadi karena tumbuhan mangrove bukan merupakan tumbuhan yang membutuhkan garam (salt demand) tetapi tumbuhan yang toleran terhadap garam (salt tolerance). Mangrove bukan halofit obligat, yang berarti bahwa tumbuhan mangrove dapat tumbuh pada air tawar, tetapi mangrove akan tumbuh maksimum pada pertengahan antara air tawar dan air laut (Hutahaen et al., 1999).

Metabolit Sekunder pada Mangrove

(23)

Mangrove adalah tanaman yang toleran terhadap garam dan dikenal kaya sumber metabolit sekunder dan memiliki potensi sebagai bahan obat alami. Misalnya triterpenoida, alkaloida, dan fitosterol. Zat kimia ini merupakan senyawa aktif untuk pengembangan agen bioaktif baru (Basyuni et al., 2013).

Senyawa-senyawa metabolit sekunder memiliki efek toksik, farmakologik, dan ekologik penting (Bandaranayake, 2002). Senyawa fenolat diketahui sebagai senyawa pelindung tumbuhan dari herbivora, dan fungsi utama sebagian besar senyawa fenolat adalah melindungi tumbuhan dari kerusakan akibat cahaya yang berlebihan dengan bertindak sebagai antioksidan, dan levelnya bervariasi sesuai dengan kondisi lingkungannya (Close dan McArthur, 2002). (Agati et al., 2007) juga menyatakan bahwa senyawa fenolat dapat melindungi mangrove dari kerusakan akibat radiasi ultraviolet. (Banerjee et al., 2008) melaporkan adanya kecenderungan peningkatan produksi senyawa fenolat pada tumbuhan mangrove bila tumbuh dan bertahan dalam kondisi tertekan.

Milon et al. (2012) menyatakan bahwa tanaman dari famili Sonneratiaceae memiliki kandungan metabolit sekunder berupa tanin yang berperan sebagai antimikroba. Sudira et al. (2011) menambahkan bahwa senyawa tanin merupakan senyawa organik yang aktif menghambat pertumbuhan mikroba dengan mekanisme merusak dinding sel mikroba dan membentuk ikatan dengan protein fungsional sel mikroba. Kusumadewi (2014) menemukan bahwa ekstrak buah

(24)

mikroba. Sedangkan flavonoid dapat merusak permeabilitas dinding sel mikroba mampu menghambat pertumbuhan mikroba.

Non Saponifiable Lipids (NSL)

Seperti karbohidrat, lipid tersusun dari atom-atom karbon, hidrogen, dan oksigen. Tetapi lemak memiliki porsi atom hidrogen yang lebih banyak dibandingkan dengan molekul karbohidrat. Selain itu, dalam berat yang sama, energi yang terkandung dalam molekul lipid lebih dari 2 kali lipat dibandingkan dengan yang terkandung dalam karbohidrat. Lemak disintesis dari gliserol dan asam-asam lemak. Lemak merupakan bagian dari lipida. Semua molekul lipida dibentuk dari asam-asam organik, tetapi tidak semua mengandung gliserol, sedangkan lemak selalu terbentuk dengan kerangka gliserol. Lilin (wax) yang dihasilkan tumbuhan merupakan contoh lipida yang bukan lemak. Baik lemak maupun minyak dibentuk dari satu molekul gliserol dengan tiga molekul asam lemak (Lakitan, 2008).

Lipid merupakan bagian penting dari karbon yang dihasilkan oleh mangrove. Pengetahuan tentang komposisi lipid dibutuhkan untuk menduga sumber dan akumulasi rata-rata dari sendimentasi bahan organik. Non-saponifiable lipid (NSL) pada dasarnya merupakan bagian lipid yang sederhana kecuali asam lemak (saponifiable lipid) setelah hidrolisis alkaline dari total lipid,

dan mengandung sterols, rantai panjang alkohol, dan alkanes (Basyuni et al., 2012).

Polyisoprenoid pada Mangrove

(25)

polyisoprenoid, telah dihasilkan sejumlah publikasi yang sangat menarik. Polyisoprenoid merupakan sekelompok polimer hidrophobik yang tersebar luas di alam (Swiezewska, 2005). Rantai polyisoprenoid terdiri dari 5 – 100, bahkan lebih unit isoprenoid yang membentuk polimer berbeda dengan rantai panjang dan atau konfigurasi geometrikalnya (Ciepichal et al, 2011).

Polyisoprenoid terbagi menjadi polyprenols dan dolichols. Polyisoprenoid tersusun atas polimer lurus yang terdiri dari beberapa hingga lebih dari 100 unit

isoprenoid yang telah diidentifikasi di hampir semua makhluk hidup (Tudek et al., 2007). Kandungan polyprenol pada tanaman pernah dilaporkan

menunjukkan perubahan akibat umur (Ibata et al., 1983) dan musim, (Swiezewska

et al., 1994) namun arti fisiologi dan fungsi dari polyprenols belum diketahui. Sebaliknya, rantai panjang dolichol pernah dilaporkan terdapat pada hewan, ragi, dan tanaman. Kandungan dolichol di hewan dan tanaman pernah dilaporkan bertambah karena akibat perbedaan umur (Jankowski et al., 1994).

(26)

METODE PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Ekologi Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara, Rumah Kaca Fakultas Pertanian USU dan

Laboratorium Fakultas Farmasi USU. Penelitian ini dilakukan pada Bulan Juli 2014 – Maret 2015.

Alat dan Bahan Penelitian

Percobaan Cekaman Garam

Alat yang digunakan adalah ember, pot plastik, bak kecambah, saringan,

sprayer, kamera, cutter, penggaris, oven, timbangan digital, kalifer, hand refractometer (Atago Co. Ltd, Tokyo, Jepang), dan alat tulis.

Bahan tanaman yang digunakan adalah buah S. alba yang telah matang, dan bahan lainnya seperti kain kasa, pasir sungai (tidak memiliki salinitas), garam komersial (marine salt), tap water, amplop kertas, dan kertas label.

Ekstraksi dan Analisis Data

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah program SAS 9.1, program excel, program SPSS 17.0, tabung reaksi, beaker gelas, mortal alu, rak kultur, eyela evaporator, waterbath, evaporator, dan scanner.

(27)

Prosedur Penelitian

Pengumpulan dan Penanganan Buah S. alba

Buah S. alba diperoleh dari pohon yang telah dewasa di Pulau Sembilan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara pada tanggal 3 Agustus 2014. Buah yang dikumpulkan merupakan buah yang matang secara fisiologis dan bijinya siap untuk dikecambahkan. Ciri-ciri buah S. alba matang adalah calyx telah lepas dari badan buah, dan bijinya sudah mengeras. Jumlah biji dalam satu buah S. alba bisa mencapai 100-200 biji.

Buah yang telah dikumpulkan, dipecah menjadi beberapa bagian tanpa merusak biji, kemudian dimasukkan ke dalam ember, ditutup dengan kain kasa dan direndam selama 2 hari. Tujuannya perendaman ini adalah untuk mematahkan dormansi biji S. alba sebelum dikecambahkan di bak kecambah, sebab biji S. alba

termasuk dalam kategori normal seed. Setelah 2 hari, biji ditiriskan dan dibersihkan.

Pengecambahan pada Bak Kecambah

Biji yang telah dibersihkan, ditanam ke dalam bak kecambah yang telah diisi pasir. Pasir yang digunakan adalah pasir sungai yang sebelumnya telah digongseng selama hampir 2 jam. Dilakukan penyiraman dengan air tanpa salinitas dua kali sehari hingga kecambah S. alba berdaun dua. Media tanam harus selalu dalam kondisi kapasitas lapang.

Perlakuan Toleransi Garam

(28)

cekaman garam diperoleh dari perbandingan massa bubuk garam dengan massa larutan. Metode ini mengacu pada penelitian Fofonoff dan Lewis (1979), yang menyatakan bahwa jenis garam yang dipakai dalam penelitian salinitas adalah bubuk garam komersial (marine salt). Untuk membuat konsentrasi salinitas 0,5%, 1,5%, 2% dan 3% dibuat dengan melarutkan 5,66 g, 17 g, 22,6 g, dan 34 g bubuk garam komersial dalam 1 liter air.

Setelah kecambah S. alba berdaun dua dan pertumbuhannya seragam, dilakukan penyapihan dari bak kecambah ke pot plastik yang telah diisi oleh media pasir. S. alba yang telah dipindahkan ke dalam pot plastik, masing-masing diberi perlakuan cekaman garam. Selanjutnya, pot plastik diberi tanda/label sesuai dengan perlakuan yang diberikan.

(29)

dengan tap water hingga konsentrasinya kembali ke tingkat cekaman garam yang diinginkan.

Parameter Pengamatan

Pengamatan dilakukan 3 bulan setelah tanaman dipindahkan ke rumah kaca dan parameter yang diamati adalah sebagai berikut:

1. Tinggi Semai S. alba (cm)

Pengambilan data tinggi semai S. alba dilakukan setelah 3 bulan tanam di rumah kaca dengan menggunakan penggaris, pada setiap satuan percobaan. Tinggi semai diukur mulai dari permukaan media tanam hingga ke titik tumbuh tertinggi.

2. Diameter Semai S. alba (mm)

Pengambilan data diameter dilakukan bersamaan dengan pengambilan data tinggi semai menggunakan kalifer sekitar 5 mm dari atas media tanam.

3. Pertambahan Jumlah Daun (helai)

Penghitungan pertambahan jumlah daun dilakukan sejak tanaman berdaun dua hingga daun terakhir yang muncul selama 3 bulan pemeliharaan semai S. alba

di rumah kaca.

4. Berat Basah Akar (g)

Semai S. alba yang telah dipanen, dicuci dan dikering anginkan. Selanjutnya dipisahkan antara bagian akar dan tajuknya, kemudian bagian akar ditimbang untuk mendapatkan berat basah akar S. alba.

5. Berat Kering Akar (g)

(30)

perlakuan. Kemudian akar S. alba dioven pada suhu 75ºC selama 1 hari (hingga beratnya konstan) dan selanjutnya ditimbang berat kering akar.

6. Kadar Air Akar (%)

Untuk mendapatkan kadar air akar, dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

%KA Akar =Berat Basah Akar−Berat Kering Akar

Berat Basah Akar X 100%

7. Berat Basah Tajuk (g)

Bagian tajuk S. alba yang telah dicuci, dikering anginkan, dan dipisahkan dari bagian akar, ditimbang untuk mendapatkan berat basah tajuk S. alba.

8. Berat Kering Tajuk (g)

Untuk mendapatkan berat kering tajuk, bagian tajuk yang telah diketahui berat basahnya dimasukkan ke dalam amplop dan diberi label sesuai dengan perlakuan. Kemudian tajuk S. alba dioven pada temperatur 75ºC selama 1 hari (hingga beratnya konstan) dan ditimbang berat kering tajuk.

9. Kadar Air Tajuk (%)

Untuk mendapatkan kadar air tajuk, dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

%KA Tajuk =Berat Basah Tajuk−Berat Kering Tajuk

Berat Basah Tajuk X 100%

10.Rasio Tajuk dan Akar

Perhitungan rasio tajuk dan akar dilakukan pada akhir pengamatan. Perhitungan rasio tajuk dan akar dapat diperoleh dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Rasio =

akar kering Berat

(31)

Analisis Statistik

Penelitian ini adalah metode analisis dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial ulangan tidak sama dengan 5 perlakuan konsentrasi cekaman garam (0%, 0,5%, 1,5%, 2%, dan 3%) berdasarkan tingkat salinitas yang ada di lapangan dengan masing-masing 10 ulangan.

Model linear RAL non faktorial:

Yij = μ + τi + εij

Keterangan:

Yij : hasil pengamatan pada perlakuan ke-i dan ulangan ke-j

μ : nilai rataan umum (mean)

τi : pengaruh faktor perlakuan ke-i

εij : pengaruh galat perlakuan ke-i ulangan ke-j

i = 1, 2, 3, 4, 5

j = 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9,10

(32)

Analisis Nonsaponifiable Lipids (NSL) dan Polyisoprenoid

Tajuk atau akar S. alba yang telah dikeringkan digerus dengan nitrogen cair, kemudian diekstrak dengan kloroform-metanol 2:1 (CM21), bahan tanaman sisa yang tidak larut dalam CM21 disaring dengan kertas filtrasi No. 2 (Advantec, Tokyo, Jepang) dan yang tersisa adalah ekstrak lipid dalam bentuk cairan. Selanjutnya ekstrak dikeringkan kemudian ditimbang dan didapatkan berat lipidanya. Kandungan total lipid dinyatakan sebagai berat jaringan (mg/gr jaringan).

Ekstrak lipid yang mengandung 1 mg total lipid dikeringkan dengan

nitrogen stream, disaponifikasi dengan menambahkan 2 ml KOH 20% (dalam 50% etanol dan di refluxe selama 10 menit dengan suhu 90º C. Selanjutnya NSL dimasukkan ke dalam 2 ml kemudian diaduk. Lapisan hexane dipindahkan kedalam tube yang telah diketahui beratnya, kemudian cairan di keringkan dengan nitrogen stream, dan dikeringkan di bawah vakum selama 10 menit, selanjutnya ditimbang berat NSLnya. sehingga dapat diketahui kandungan NSL/jaringan (mg/g jaringan) dan kandungan NSL/total lipid (mg/mg total lipida). Kandungan polyisoprenoid diperoleh dengan membagikan kandungan NSL dengan total lipid.

Analisis One-Dimensional Plate Thin-Layer Chromatography (1D-TLC)

One-Dimensional Plate Thin-Layer Chromatography (1D-TLC) dilakukan

(33)

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Perlakuan Cekaman Garam terhadap Parameter Pengamatan

A.1. Pengaruh Cekaman Garam terhadap Tinggi dan Diameter Semai S. alba Pemberian cekaman garam hingga salinitas 1,5% mampu meningkatkan pertumbuhan tinggi dan diameter semai S. alba yang berumur 3 bulan, seperti yang tampak pada Gambar 1.

[image:33.595.121.502.273.438.2]

Gambar 1. Pengaruh cekaman garam terhadap tinggi (A) dan diameter (B) S. alba pada

umur 3 bulan. Data merupakan rata-rata pengukuran (n = 4 – 9) ± SE.

Gambar 1A menunjukkan pertumbuhan tinggi semai S. alba yang paling besar terdapat pada salinitas 1,5% dengan rata-rata tinggi 3,900 cm dan

pertumbuhan terendah terdapat pada salinitas 2% dengan rata-rata tinggi 2,225 cm. Hasil Anova, menunjukkan bahwa tingkat salinitas berpengaruh nyata

terhadap pertumbuhan tinggi semai S. alba pada umur 3 bulan. Namun, uji Dunnett P < 0,05 menunjukkan bahwa tinggi tanaman pada berbagai tingkat salinitas garam tidak berbeda signifikan pengaruhnya terhadap perlakuan kontrol.

Konsentrasi cekaman garam akan sangat mempengaruhi pertumbuhan tinggi semai S. alba. Gambar 1A menunjukkan tinggi maksimal semai S. alba

berada pada konsentrasi cekaman garam 1,5%, dan ketika konsentrasi cekaman

0 1 2 3 4 5 6

0% 0,5% 1,5% 2% 3%

T inggi ( cm ) Cekaman Garam A 0 0,05 0,1 0,15 0,2

0% 0,5% 1,5% 2% 3%

(34)

garam dinaikkan menjadi 2%, rata-rata pertumbuhan tinggi semai S. alba

menurun di bawah rata-rata perlakuan kontrol. Umumnys mangrove memiliki kemampuan adaptasi yang berbeda-beda terhadap kondisi lingkungan, khususnya cekaman garam (salinitas). Pertumbuhan tinggi semai S. alba yang terbaik pada 1,5% didukung oleh Ghufran (2012) yang menyatakan bahwa tumbuhan mangrove seperti Sonneratia alba umumnya tumbuh di tepian laut dan cenderung lebih suka pada salinitas yang normal. Mangrove dapat tumbuh pada air asin karena akar maupun daunnya mampu untuk mengeluarkan atau mensekresi garam.

Hutahaen et al. (1999) juga melaporkan bahwa respon pertumbuhan tinggi mangrove yang baik diperoleh pada salinitas yang rendah. Hal ini disebabkan oleh tumbuhan mangrove merupakan tumbuhan yang toleran terhadap garam (salt tolerance). Mangrove juga dapat tumbuh pada air tawar, tetapi mangrove akan tumbuh maksimum pada pertengahan antara air tawar dan air laut. Talib (2008) menyatakan bahwa kondisi fisika kimia perairan hutan mangrove sangat dipengaruhi oleh volume air tawar dan air laut yang bercampur. Mangrove tumbuh dengan baik dari ketinggian permukaan laut sampai dengan rata-rata permukaan pasang. Jenis tanaman mangrove bukan saja harus toleran terhadap garam, melainkan juga harus mampu untuk menahan kondisi tergenang dan kondisi-kondisi bawah yang anaerobik.

(35)

garam tidak berbeda nyata pengaruhnya terhadap pertumbuhan diameter semai

S. alba umur 3 bulan, karena diameter S. alba masih sangat kecil untuk menunjukkan adanya perbedaan pengaruh lingkungan yang diterimanya.

Pertumbuhan tinggi semai S. alba umur 3 bulan terbaik pada salinitas 1,5% diikuti juga dengan pertambahan diameter semai S. alba tertinggi pada salinitas 1,5%, karena mangrove umumnya membutuhkan unsur NaCl selama pertumbuhannya, namun dalam dosis yang cukup. Prayunita (2012) menyatakan bahwa pertambahan tinggi semai mangrove yang optimal berada pada salinitas 1,5%, dan pertumbuhan diameter juga optimal pada salinitas 1,5%. Hal ini dikarenakan kandungan garam yang berada pada salinitas 1,5% cukup untuk pertumbuhan semai mangrove.

A. 2. Pengaruh Cekaman Garam terhadap Jumlah Daun Semai S. alba

[image:35.595.222.400.486.645.2]

Pada Gambar 2, disajikan grafik pengaruh konsentrasi cekaman garam terhadap parameter pertambahan jumlah daun semai S. alba pada umur 3 bulan.

Gambar 2. Pengaruh cekaman garam terhadap pertambahan jumlah daun S. alba pada umur 3 bulan. Data merupakan rata-rata perlakuan (n = 3 – 8) ± SE.

Semai S. alba yang memiliki pertambahan jumlah daun paling banyak terdapat pada salinitas 0,5% dengan rata-rata jumlah daun 5 hingga 6 helai dan

0 1 2 3 4 5 6 7

0% 0,5% 1,5% 2% 3%

Jum

la

h

d

aun (

he

la

i)

(36)

jumlah daun paling kecil terdapat pada salinitas 1,5 % dan 2% dengan rata-rata jumlah daun 4 helai. Uji Dunnet P < 0,05 menunjukkan tingkat konsentrasi garam yang diberikan tidak berbeda nyata pengaruhnya terhadap pertambahan jumlah daun S. alba pada umur 3 bulan. Pertambahan jumlah daun terbanyak S. alba yang berada pada konsentrasi cekaman garam 0,5% disebabkan karena jumlah garam yang diserap oleh semai S. alba pada salinitas 0,5% masih dianggap cukup, dan belum berlebihan bagi pertumbuhan semai S. alba.

S. alba merupakan salah satu mangrove berjenis sekresi yang mampu mengeluarkan kelebihan garam dalam jaringan tubuhnya melalui mekanisme menggugurkan daun tua. Pada parameter jumlah daun ini, yang diamati adalah pertambahan jumlah daun semai selama 3 bulan, bukan jumlah daun pada pengamatan terakhir. Hal ini disebabkan karena selama pemeliharaan di rumah kaca, daun-daun tua semai mengalami penguningan, mengering, dan kemudian gugur. Umumnya, tanaman yang tercekam garam akan mengalami penurunan jumlah kloroplas pada daun sehingga menyebabkan daun menjadi kuning dan akhirnya akan mengganggu proses fotosintesis tanaman, serta mempercepat proses gugurnya daun. Atmoko dan Kade (2007) melaporkan mangrove berjenis

S. alba mampu menyimpan kadar garam yang tinggi pada daun-daun tua, sehingga konsentrasi garam pada daun muda akan berkurang. Kadar garam akan

dikeluarkan dari pohon bersamaan dengan gugurnya daun-daun tua. Hutching and Saenger (1987) juga melaporkan bahwa pada tumbuhan yang

(37)

A. 3. Pengaruh Cekaman Garam terhadap Berat Basah Akar, Berat Kering Akar, dan Kadar Air Akar Semai S. alba

Pengaruh cekaman garam terhadap parameter berat basah akar, berat kering akar, dan kadar air akar semai S. alba disajikan dalam Gambar 3.

[image:37.595.120.499.194.534.2]

Gambar 3. Pengaruh cekaman garam terhadap berat basah akar (A), berat kering akar (B), dan kadar air akar (C) semai S. alba pada umur 3 bulan. Data merupakan rata-rata pengukuran (n = 10) ± SE.

Berdasarkan Gambar 3A, semai S. alba yang tumbuh pada salinitas 1,5% dengan rata-rata 0,034 g memiliki berat basah akar tertinggi dan terendah terdapat

pada salinitas 0% dengan rata-rata berat basah akar 0,018 g. Hasil Uji Dunnett

P < 0,05, menunjukkan perlakuan salinitas dengan konsentrasi 0,5% dan 1,5% berbeda signifikan pengaruhnya jika dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Perbedaan ini terjadi karena perbandingan antara berat basah akar pada perlakuan

0 0,01 0,02 0,03 0,04 0,05

0% 0,5% 1,5% 2% 3%

B er at b as ah ak ar ( g ) Cekaman Garam A 0 0,005 0,01 0,015 0,02 0,025 0,03

0% 0,5% 1,5% 2% 3%

B er at ke ri ng aka r (g) Cekaman Garam B 0 10 20 30 40 50

0% 0,5% 1,5% 2% 3%

(38)

kontrol jauh lebih rendah nilainya jika dibandingkan dengan berat basah akar pada kondisi tercekam garam dengan konsentrasi 0,5% dan 1,5%.

Gambar 3B menunjukkan bahwa pada salinitas 1,5% dengan rata-rata 0,021 g memiliki berat kering akar tertinggi dan terendah terdapat pada salinitas 0% dengan rata-rata berat kering akar 0,012 g. Hasil Uji Dunnett P < 0,05 menunjukkan bahwa tingkat salinitas tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap berat kering akar S. alba umur 3 bulan. Pangaribuan (2001) menyatakan bahwa salinitas yang tinggi akan menyebabkan proses respirasi dan fotosintesis menjadi tidak seimbang. Apabila proses respirasi lebih besar dari pada fotosintesis maka berat kering tanaman semakin berkurang.

Gambar 3C menunjukkan semai S. alba yang memiliki kadar air akar tertinggi terdapat pada salinitas 0,5% dengan rata-rata kadar air akar 36,317% dan kadar air paling kecil terdapat pada salinitas 3% dengan rata-rata kadar air akar 21.968%. Uji Dunnet P < 0,05 menunjukkan tingkat cekaman garam tidak berbeda nyata pengaruhnya terhadap kadar air akar semai S. alba umur 3 bulan.

(39)

tekanan osmotik antara akar dan larutan tanah. Akibatnya, jumlah air yang masuk ke dalam akar tanaman akan berkurang atau jumlah air yang tersedia menipis.

A. 4. Pengaruh Cekaman Garam terhadap Berat Basah Tajuk, Berat Kering Tajuk, dan Kadar Air Tajuk Semai S. alba

Pengaruh cekaman garam terhadap berat basah tajuk, berat kering tajuk, dan kadar air tajuk semai S. alba pada umur 3 bulan disajikan dalam Gambar 4.

[image:39.595.120.496.247.601.2]

Gambar 4. Pengaruh cekaman garam terhadap berat basah tajuk (A), berat kering tajuk (B), dan kadar air tajuk (C) semai S. alba pada umur 3 bulan. Data merupakan rata-rata pengukuran (n = 5 - 9) ± SE.

Gambar 4A menunjukkan bahwa semai S. alba yang tumbuh pada salinitas 0,5% dengan rata-rata 0,130 g memiliki berat basah tajuk tertinggi dan terendah terdapat pada salinitas 0% dengan rata-rata berat basah tajuk 0,032 g. Uji Dunnet

0 0,05 0,1 0,15 0,2

0% 0,5% 1,5% 2% 3%

B er at b as ah t aj u k ( g ) Cekaman Garam A 0 0,01 0,02 0,03 0,04

0% 0,5% 1,5% 2% 3%

B er at ke ri ng ta juk (g) Cekaman Garam B 0 20 40 60 80

0% 0,5% 1,5% 2% 3%

(40)

P < 0,05 menunjukkan bahwa tingkat cekaman garam tidak berbeda nyata pengaruhnya terhadap berat basah tajuk semai S. alba berumur 3 bulan.

Berat kering tajuk semai S. alba yang tumbuh pada salinitas 3% dengan rata-rata berat kering tajuk 0,028 g memiliki berat kering tajuk tertinggi dan terendah terdapat pada salinitas 0% dengan rata-rata berat kering tajuk 0,014 g. Uji Dunnet P < 0,05 menunjukkan bahwa tingkat cekaman garam tidak berbeda nyata pengaruhnya terhadap berat kering tajuk semai S. alba. Syah (2011) melaporkan bahwa pertumbuhan tinggi tanaman dapat didefinisikan sebagai bertambah besarnya tanaman yang diikuti oleh peningkatan bobot kering. Ahli tanah umumnya mendefinisikan pertumbuhan sebagai peningkatan bahan kering. Perkembangan dan morfogenesis tanaman disebabkan oleh 3 hal, yaitu pertumbuhan karena pembelahan, pembesaran dan deferensiasi sel. Pertumbuhan suatu tanaman adalah pertambahan tumbuh dalam besar serta pembentukan jaringan baru. Pertumbuhan dapat juga diukur dari berat seluruh tanaman (biomassa).

Gambar 4C menunjukkan bahwa kadar air tajuk semai S. alba yang paling tinggi terdapat pada salinitas 3% dengan rata-rata kadar air tajuk 66,949% dan kadar air tajuk paling kecil terdapat pada salinitas 2% dengan rata-rata kadar air tajuk 50,663%. Uji Dunnet P < 0,05 juga menunjukkan bahwa tingkat cekaman

garam tidak berbeda nyata pengaruhnya terhadap kadar air tajuk. Dwidjoseputro (1980) melaporkan bahwa jika tanaman dikeringkan pada suhu

(41)

tanaman. Umumnya tanaman tahunan mengandung 50% air dari total berat basahnya.

Campbell (2003) menyatakan bahwa kelebihan NaCl atau garam dapat mengancam tumbuhan karena dua alasan. Pertama, dengan cara menurunkan potensial air larutan tanah. Garam dapat menyebabkan kekurangan air pada tumbuhan meskipun tanah tersebut mengandung banyak sekali air karena potensial air lingkungan yang lebih negatif dibandingkan dengan potensial air jaringan akar, sehingga tanaman akan kehilangan air, bukan menyerapnya. Kedua, pada tanah bergaram, natrium dan ion-ion tertentu lainnya dapat menjadi racun bagi tumbuhan jika konsentrasinya relatif tinggi. Membran sel akar yang selektif akan menghambat pengambilan sebagian besar ion yang berbahaya, akan tetapi hal ini akan memperburuk permasalahan pengambilan air dari tanah yang kaya akan zat terlarut.

(42)

A.5. Pengaruh Cekaman Garam terhadap Rasio Tajuk dan Akar Semai S. alba

[image:42.595.224.397.183.339.2]

Pengaruh cekaman garam terhadap rasio tajuk dan akar semai S. alba pada umur 3 bulan disajikan dalam Gambar 5.

Gambar 5. Rasio tajuk dan akar semai S. alba pada umur 3 bulan. Data merupakan rata-rata perlakuan (n = 5 - 9) ± SE.

Berdasarkan gambar 5, rasio tajuk dan akar semai S. alba yang paling besar nilainya terdapat pada salinitas 3% dengan rata-rata 1,622 dan rasio tajuk

akar terendah terdapat pada salinitas 1,5% dengan rata-rata 1,066. Uji Dunnet

P < 0,05 menunjukkan bahwa tingkat cekaman garam tidak berpengaruh nyata

terhadap rasio tajuk dan akar semai S. alba pada umur 3 bulan. Lopez-Hoffman et al. (2007) menyebutkan bahwa berat kering tanaman dan laju

pertumbuhannya dipengaruhi juga oleh intensitas cahaya dan salinitas. Rasio akar-daun menjadi lebih tinggi pada salinitas tinggi.

Kemampuan hidup semai akan lebih tinggi pada salinitas lebih rendah. Krauss et al., (2008) juga melaporkan bahwa pertumbuhan awal tanaman mangrove sangat dipengaruhi oleh faktor global seperti temperatur dan faktor spesifik lokasi seperti salinitas. Salinitas memainkan peranan penting pada adaptasi pertumbuhan mangrove. Pertumbuhan semai akan memperluas distribusi

0 0,4 0,8 1,2 1,6 2

0% 0,5% 1,5% 2% 3%

R

as

io

t

aj

u

k

d

an

ak

ar

(43)

mangrove dan meningkatkan rehabilitasi mangrove. Meskipun mangrove adalah salah satu jenis halofita, namun semainya sensitif terhadap cekaman garam, substrat yang bergaram mempengaruhi banyak aspek seperti aspek pertumbuhan dan fisiologinya.

B. Analisis Regresi Linear antara Perlakuan Cekaman Garam terhadap Parameter Pengamatan

Tanggapan tanaman terhadap pengaruh cekaman garam yang diberikan dapat dibagi menjadi dua, yaitu positif dan negatif. Secara sederhana dapat digambarkan melalui peningkatan maupun penurunan ukuran tanaman akibat perlakuan yang diberikan.

[image:43.595.123.501.454.608.2]

B.1 Analisis Regresi Linear Cekaman Garam terhadap Tinggi dan Diameter Hasil analisis regresi linear sederhana antara tingkat cekaman garam terhadap parameter tinggi dan diameter semai S. alba disajikan dalam Gambar 6.

Gambar 6. Hasil analisis regresi linear sederhana antara variabel cekaman garam terhadap tinggi (A) dan diameter (B) semai S. alba pada umur 3 bulan.

Gambar 6 menunjukkan hubungan antara variabel bebas cekaman garam (x) terhadap variabel terikat tinggi dan diameter (y). Berdasarkan Gambar 1A, diperoleh nilai y = -29,310x + 3,569. Jika nilai cekaman garam berubah sebesar satu satuan, maka nilai y akan turun sebesar 29,310 satuan menjadi -25,741.

y = -29.310x + 3.569 R² = 0.126

0 1 2 3 4 5

0% 1% 2% 3%

T inggi ( cm ) Cekaman Garam A

y = -0.300x + 0.135 R² = 0.023

0 0,05 0,1 0,15 0,2

0% 1% 2% 3%

(44)

Semakin besar perubahan yang terjadi pada variabel salinitas, maka akan semakin tinggi penurunan yang terjadi pada variabel tinggi. Koefisien determiniasi (R2) menunjukkan kemampuan variabel cekaman garam mempengaruhi variabel tinggi. Pada Gambar 1A, terlihat bahwa nilai R2 = 0,126 atau 12,6%. Nilai ini menunjukan kemampuan variabel cekaman garam dalam mempengaruhi variabel tinggi semai S. alba hanya sebesar 12,6%. Sisanya sekitar 87,4% variabel tinggi semai dipengaruhi oleh variabel bebas selain cekaman garam.

Gambar 1B menunjukkan nilai y = -0,300 x + 0,135. Jika nilai x berubah

sebesar satu satuan, maka nilai y akan turun sebesar 0,300 satuan menjadi -0,165. Semakin besar perubahan yang terjadi pada variabel cekaman garam,

maka akan semakin tinggi pula penurunan yang terjadi pada variabel diameter. Pada Gambar 1B, terlihat bahwa nilai Koefisien determinasi (R2) = 0,023 atau 2,3%. Nilai ini menunjukan kemampuan variabel cekaman garam dalam mempengaruhi variabel diameter semai S. alba hanya sebesar 2,3% dan sekitar 97,7% variabel diameter dipengaruhi oleh variabel bebas selain cekaman garam.

Tanaman membutuhkan kondisi lingkungan yang baik sehingga dapat

menunjukkan respon yang baik selama pertumbuhannya. Sitompul dan Guritno (1995) menyatakan bahwa untuk dapat berkembang dengan

(45)

B.2 Analisis Regresi Linear Cekaman Garam terhadap Jumlah Daun

[image:45.595.221.402.167.321.2]

Hasil analisis regresi linear sederhana antara tingkat cekaman garam terhadap parameter jumlah daun semai S. alba disajikan dalam Gambar 7.

Gambar 7. Hasil analisis regresi linier antara variabel cekaman garam terhadap jumlah daun semai S. alba pada umur 3 bulan.

Gambar 7 menunjukkan nilai y = -10,712 x + 4,793. Jika nilai x berubah

sebesar satu satuan, maka nilai y akan turun sebesar 10,712 satuan menjadi -5,919. Pada Gambar 7 juga terlihat bahwa nilai Koefisien determinasi (R2) =

0,021 atau 2,1%. Nilai ini menunjukan kemampuan variabel cekaman garam dalam mempengaruhi variabel jumlah daun semai S. alba hanya sebesar 2,1%. Sisanya sekitar 97,9% variabel jumlah daun semai dipengaruhi oleh variabel bebas selain cekaman garam.

B.3. Analisis Regresi Linear Cekaman Garam terhadap Berat Basah Akar, Berat Kering Akar, dan Kadar Air Akar

Hasil analisis regresi linear sederhana antara cekaman garam terhadap berat basah akar, berat kering akar, dan kadar air akar disajikan dalam Gambar 8.

y = -10.712x + 4.793 R² = 0.021

0 1 2 3 4 5 6 7

0% 1% 2% 3%

Jum

la

h

d

aun (

he

la

i)

(46)
[image:46.595.125.499.84.387.2]

Gambar 8. Hasil analisis regresi linear antara variabel cekaman garam terhadap berat

basah akar (A), berat kering akar (B), dan kadar air akar (C) semai S. alba pada umur 3 bulan.

Gambar 8A menunjukkan nilai y = 0,118 x + 0,026. Jika nilai x berubah sebesar satu satuan, maka nilai y akan naik sebesar 0,118 satuan menjadi 0,144. Semakin besar perubahan yang terjadi pada variabel cekaman garam, maka akan semakin tinggi pula kenaikan yang terjadi pada variabel berat basah akar. Pada Gambar 8A juga terlihat bahwa nilai Koefisien determinasi (R2) = 0,011 atau 1,1%. Nilai ini menunjukan kemampuan variabel cekaman garam dalam mempengaruhi variabel berat basah akar semai S. alba hanya sebesar 1,1%. Sisanya sekitar 98,9% variabel berat basah akar semai dipengaruhi oleh variabel bebas selain cekaman garam.

Berdasarkan Gambar 8B, nilai y = 0,169 x + 0,016. Jika nilai x berubah sebesar satu satuan, maka nilai y akan naik sebesar 0,169 satuan menjadi 0,185.

y = 0.118x + 0.026 R² = 0.011

0 0,01 0,02 0,03 0,04 0,05 0,06 0,07

0% 1% 2% 3%

B er at b as ah ak ar ( g ) Cekaman Garam A

y = 0.169x + 0.0158 R² = 0.049

0 0,01 0,02 0,03 0,04 0,05

0% 1% 2% 3%

B er at ke ri ng aka r (g) Cekaman Garam B

y = -427.630x + 36.082 R² = 0.065

0 10 20 30 40 50 60 70

0% 1% 2% 3%

(47)

Pada Gambar 8B juga terlihat bahwa nilai Koefisien determinasi (R2)= 0,049 atau 4,9%. Nilai ini menunjukan kemampuan variabel cekaman garam dalam mempengaruhi variabel bertat kering akar semai S. alba hanya sebesar 4,9%. Sisanya sekitar 95,1% variabel berat kering akar semai dipengaruhi oleh variabel bebas selain cekaman garam.

Gambar 8C menunjukkan nilai y = -427.630x + 36,082. Jika nilai x berubah sebesar satu satuan, maka nilai y akan turun sebesar 427,630 satuan menjadi -391,548. Pada Gambar 8C, terlihat bahwa nilai Koefisien determinasi (R2) = 0,065 atau 6,5%. Nilai ini menunjukan kemampuan variabel cekaman garam dalam mempengaruhi variabel kadar air akar semai S. alba hanya sebesar 6,5%. Sisanya sekitar 93,5% variabel kadar air akar semai dipengaruhi oleh variabel bebas selain cekaman garam.

B.4. Analisis Regresi Linear Cekaman Garam terhadap Berat Basah Tajuk, Berat Kering Tajuk, dan Kadar Air Tajuk

Hasil analisis regresi linear sederhana antara tingkat cekaman garam terhadap parameter berat basah tajuk, berat kering tajuk, dan kadar air tajuk semai

S. alba disajikan dalam Gambar 9.

(48)
[image:48.595.127.498.84.401.2]

Gambar 9. Hasil analisis regresi linear antara variabel tingkat cekaman garam terhadap

berat basah tajuk (A), berat kering tajuk (B), dan kadar air tajuk (C) semai S. alba pada umur 3 bulan.

Berdasarkan Gambar 9B, nilai y = 0,314 x + 0,017. Jika nilai x berubah sebesar satu satuan, maka nilai y akan naik sebesar 0,314 satuan menjadi 0,331. Pada Gambar 9B juga terlihat bahwa nilai Koefisien determinasi (R2)= 0,084 atau 8,4%. Nilai ini menunjukan kemampuan variabel cekaman garam dalam mempengaruhi variabel berat kering tajuk semai S. alba hanya sebesar 8,4%. Sisanya sekitar 91,6% variabel berat kering tajuk semai dipengaruhi oleh variabel bebas selain cekaman garam.

Gambar 9C menunjukkan nilai y = 431,280 x + 50,037. Jika nilai x berubah sebesar satu satuan, maka nilai y akan naik sebesar 431,28 satuan menjadi 481,317. Semakin besar perubahan yang terjadi pada variabel cekaman garam, maka akan semakin tinggi pula kenaikan yang terjadi pada variabel kadar

y = 0.629x + 0.069 R² = 0.009

0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5

0% 1% 2% 3%

B er at b as ah t aj u k ( g ) Cekaman Garam A

y = 0.315x + 0.017 R² = 0.084

0 0,02 0,04 0,06 0,08 0,1

0% 1% 2% 3%

B er at ke ri ng ta juk (g) Cekaman Garam B

y = 431.280x + 50.037 R² = 0.047

0 20 40 60 80 100

0% 1% 2% 3%

(49)

air tajuk. Lakitan (2008) menyatakan bahwa tumbuhan banyak mengandung air di dalam sel-selnya. Hal ini yang menyebabkan suhu dan pertumbuhan tanaman relatif stabil. Dahuri (2003) juga menyatakan bahwa mangrove memiliki banyak jaringan internal penyimpanan air dan konsentrasi garam yang tinggi. Beberapa tumbuhan mangrove seperti Avicennia dan Sonneratia mempunyai kelenjar yang dapat mengeluarkan garam melalui daunnya sehingga dapat menjaga keseimbangan osmotik.

Pada Gambar 9C juga terlihat bahwa nilai Koefisien determinasi (R2) adalah 0,047 atau 4,7%. Nilai ini menunjukan kemampuan variabel cekaman garam dalam mempengaruhi variabel kadar air tajuk semai S. alba hanya sebesar 4,7%. Sisanya sekitar 95,3% variabel kadar air tajuk semai dipengaruhi oleh variabel bebas selain cekaman garam.

B. 5. Analisis Regresi Linear antara Variabel Cekaman Garam terhadap Rasio Tajuk dan Akar

[image:49.595.221.403.531.679.2]

Hasil analisis regresi linear sederhana antara tingkat cekaman garam terhadap parameter rasio tajuk dan akar semai S. alba disajikan dalam Gambar 10.

Gambar 10. Hasil analisis regresi linear antara variabel cekaman garam terhadap rasio tajuk dan akar semai S. alba pada umur 3 bulan.

y = 5.742x + 1.322 R² = 0.012

0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5

0% 1% 2% 3%

(50)

Gambar 10 menunjukkan nilai y = 5,742 x + 1,322. Jika nilai x berubah sebesar satu satuan, maka nilai y akan naik sebesar 5,742 satuan menjadi 7,064. Pada Gambar 10 juga terlihat bahwa nilai Koefisien determinasi (R2)adalah 0,012 atau 1,2%. Nilai ini menunjukan kemampuan variabel cekaman garam dalam mempengaruhi variabel kadar air tajuk semai S. alba hanya sebesar 1,2%. Sisanya sekitar 98,8% variabel rasio tajuk dan akar semai dipengaruhi oleh variabel bebas selain cekaman garam.

[image:50.595.109.519.391.560.2]

C. Analisis Korelasi Tingkat Cekaman Garam dan Parameter Pengamatan Hasil analisis korelasi cekaman garam terhadap parameter maupun korelasi antar parameter disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Koefisien korelasi antar parameter pengamatan semai S. alba

CG T D JD BBA BKA KAA BBT BKT KAT RTA CG 1

T -0,355 1

D -0,152 -0,120 1

JD -0,144 0,080 -0,028 1

BBA 0,106 0,172 0,521** 0,089 1

BKA 0,222 0,116 0,557** 0,027 0,819** 1

KAA -0,255 0,314 0,092 0,280 0,425** -0,112 1

BBT 0,095 -0,077 0,159 0,127 0,319 0,285 0,204 1 BKT 0,290 -0,038 0,430* 0,129 0,460** 0,695** -0,110 0,640** 1 KAT 0,217 -0,176 -0,292 -0.077 0,083 -0,071 0,159 0,632** 0,202 1 RTA 0,108 -0,114 -0,324 0,213 -0,419* -0,392* -0,019 0,423* 0,294 0,375* 1

Keterangan : ** = Korelasi signifikan pada taraf 0,01, * = Korelasi signifikan pada taraf 0,05, CG = Cekaman Garam, T = Tinggi, D = Diameter, JD = Jumlah Daun, BBA = Berat Basah Akar, BKA = Berat Kering Akar, KAA = Kadar Air Akar, BBT = Berat Basah Tajuk, BKT = Berat Kering Tajuk, BKT= Berat Kering Tajuk,

RTA = Rasio Tajuk dan Akar

Berdasarkan analisis koefisien korelasi, perlakuan cekaman garam yang diberikan berkorelasi positif terhadap berat basah akar, berat kering akar, berat

basah tajuk, berat kering tajuk, kadar air tajuk, dan rasio tajuk akar semai

S. alba. Hal ini dapat dilihat nilai koefisien korelasi yang bernilai positif. Nilai koefisien korelasi yang termasuk kategori 0 < r < 0,50 menunjukkan

(51)

tidak terlalu sensitif terhadap perubahan yang terjadi pada variabel salinitasnya (Sunyoto, 2012).

Perlakuan cekaman garam berkorelasi negatif terhadap pertumbuhan tinggi, diameter, jumlah daun, dan kadar air akar semai S. alba. Nilai koefisien korelasi (r) termasuk kategori 0 > r > -0,50 dan menunjukkan kekuatan korelasi yang lemah negatif, sehingga variabel paremeter tinggi, diameter, jumlah daun, dan kadar air akar tidak terlalu sensitif hubungannya terhadap perubahan yang terjadi pada variabel salinitasnya (Sunyoto, 2012). Supriharyono (2000) menyatakan bahwa spesies mangrove dapat tumbuh pada salinitas yang ekstrem atau sangat tinggi, namun biasanya pertumbuhannya kurang baik atau pendek-pendek. Heddy (2001) melaporkan bahwa analisis pertumbuhan tanaman hanya dapat memberikan sedikit informasi tentang proses-proses fisiologis yang mengatur reaksi tanaman terhadap faktor-faktor lingkungan.

Tabel 1 menunjukkan bahwa diameter berkorelasi positif dan signifikan pada taraf 0,01 terhadap berat basah akar dan berat kering akar. Konteks ini menunjukkan bahwa pertambahan diameter semai juga akan menyebabkan meningkatkannya berat basah akar dan berat kering akar semai S. alba.

D. Analisis Non-saponifiable Lipids (NSL) dan Polyisoprenoid

Hasil analisis Non-saponifiable (NSL) dan polyisoprenoid semai S. alba

(52)
[image:52.595.115.510.119.180.2]

Tabel 2. Hasil analisis NSL dan polyisopremoid pada tajuk dan akar semai S. alba. Data merupakan rata-rata ulangan (n = 3).

Jenis Jaringan Perlakuan Berat Kering (g) NSL (mg/g) Polyisoprenoid (g)

S. alba Tajuk 0% 0,058 0,120 0,0021

Akar 0% 0,057 0,073 0,0013

S. alba Tajuk 3% 0,057 0,093 0,0016

Akar 3% 0,063 0,233 0,0037

Analisis terhadap kandungan polyisoprenoid dilakukan pada bagian tajuk dan akar S. alba dengan konsentrasi cekaman garam 0% (kontrol) dan 3%.

Berdasarkan Tabel 1, kandungan polyisoprenoid tertinggi terdapat pada akar

S. alba dengan konsentrasi cekaman garam 3%, yaitu dengan nilai 0,0037 g, sedangkan kandungan polyisoprenoid terendah terdapat pada akar S. alba pada kosentrasi cekaman garam 0%, dengan nilai 0,0013 g. Namun, jika dibandingkan perlakuan 0% dengan cekaman garam 3%, semai S. alba dengan cekaman garam 3% (0,0053 g) memiliki kandungan polyisoprenoid yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan kandungan polyisoprenoid semai S. alba dengan perlakuan 0% (0,0034 g).

Sebelum kandungan polyisoprenoid dianalisis, terlebih dahulu dilakuakan analisis NSL. Komposisi lipid dalam tumbuhan pada umumnya menunjukkan adanya keragaman antar spesies. Oku et al. (2003) melaporkan bahwa S. alba

memiliki 19,3% wax ester dari total lipid yang dimiliki. Bagian utama lipid yang ada di daun maupun akar adalah asam lemak ester. Pada umumnya, lipid pada mangrove mengandung phytosterols.

Penggunaan data NSL lebih baik dibandingkan dengan data hasil

saponifiable lipids dalam proses penentuan kandungan polyisoprenoid. Basyuni et al. (2007) melaporkan NSL pada dasarnya menunjukkan bagian lipid

(53)

NSL umumnya mewakili fraksi lipid yang lebih stabil daripada saponifiable lipids

(asam lemak). NSL juga resisten terhadap degradasi yang disebabkan mikroba.

E. Analisis Polyisoprenoid dengan One-Dimensional Plate Thin-Layer

Chromatography (1D-TLC)

[image:53.595.227.401.273.582.2]

Untuk menentukan polyisoprenoid yang terkandung dalam S. alba yang telah diberikan perlakuan cekaman salinitas, dilakukan penelitian menggunakan 1D-TLC. Hasil analisis 1D-TLC semai S. alba disajikan dalam Gambar 11.

Gambar 11. Hasil analisis polyisoprenoid S. alba menggunakan 1D-TLC. (Std) standard dolichol, (1,2 dan 3) dolichol pada daun S. alba perlakuan 0%, (4,5 dan 6) dolichol pada daun S. alba perlakuan cekaman garam 3 %, (7,8 dan 9) dolichol pada akar S. alba perlakuan 0%, (10,11 dan 12) dolichol pada akar S. alba perlakuan cekaman garam 3 %.

(54)

dolichol pada tajuk maupun akar semai S. alba umur 3 bulan. Namun, tidak ditemukannya senyawa dolichol ini dapat juga disebabkan oleh jumlah berat kering tanaman serta total kandungan polyisoprenoid untuk masing-masing perlakuan yang tidak mencukupi untuk dilakukannya analisis polyisoprenoid. Kecilnya berat kering tanaman yang dihasilkan dalam penelitian ini terjadi karena tingkat kematian S. alba di rumah kaca yang tinggi selama penelitian serta semai

S. alba pada umur 3 bulan masih sangat kecil ukurannya.

Rendahnya tingkat kesuburan tanah yang hanya menggunakan media pasir juga menjadi salah satu penyebab rendahnya berat kering tanaman S. alba yang diperoleh. Selama masa pertumbuhannya, mangrove S. alba sangat membutuhkan unsur hara yang berasal substrat lumpur sebagai sumber nutrisi. Lakitan (2008) melaporkan bahwa tanaman tidak dapat melengkapi daur hidupnya jika unsur hara esensial tidak tersedia pada media tumbuh. Dahuri (2003) menambahkan mangrove tidak atau sulit tumbuh di wilayah pesisir yang terjal dan berombak besar dengan arus pasang surut yang kuat karena kondisi ini tidak memungkinkan terjadinya pengendapan lumpur yang diperlukan sebagai sumber hara bagi pertumbuhannya. MacNae (1968) menyatakan bahwa mangrove berjenis

Sonneratia tumbuh pada lumpur lembek dengan kandungan bahan organik yang tinggi. Dwidjoseputro (1980) melaporkan bahwa suatu tanaman akan tumbuh dengan baik apabila segala unsur yang dubutuhkannya untuk tumbuh tersedia dengan cukup dan unsur tersebut dalam bentuk tersedia dan dapat digunakan oleh tanaman.

Tingkat cekaman garam juga sangat mempengaruhi pertumbuhan semai

(55)
(56)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Pertumbuhan semai S. alba terbaik terdapat pada tingkat cekaman garam 1,5%.

2. Semai S. alba dengan cekaman garam 3% (0,0053 g) memiliki kandungan polyisoprenoid yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan semai S. alba pada perlakuan 0% (0,0034 g).

3. Analisis 1D TLC tidak menunjukkan adanya senyawa dolichol pada tajuk maupun akar semai S. alba pada umur 3 bulan.

Saran

(57)

DAFTAR PUSTAKA

Agati, G, Matteini, P, Goti, A, dan Tattini, M. 2007. Chloroplast located flavornoids can scavenge singlet oxygen. New Phytologist 174: 77-82. Anwar, K. 2010. Alternatif pembuatan biodiesel dari dedak padi dan biji buah

mangrove dengan proses in situ esterifikasi. Tugas Akhir. Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Surabaya.

Arief, A. 2003. Hutan Mangrove Fungsi dan Manfaatnya. Kanisius. Yogyakarta. Azuma, M., Toyota, M., Asakawa, Y., Takaso, T., dan Tobe, H. 2002. Floral scent

chemistry of mangrove plants. Journal of Plant Res 115: 47-53.

Atmoko, T. dan Kade, S. 2007. Hutan mangrove dan peranannya dalam melindungi ekosistem pantai. Prosiding Seminar Pemanfaatan HHBK dan Konservasi Biodiversitas menuju Hutan Lestari. Balikpapan.

Banerjee, D., Chakrabarti. S., Hazra.A.K., Banerjee.S., Ray.J., dan Mukherjee, B. 2008. Antioxidant activity and total phenolics of some mangroves in Sundarbans. African Journal of Biotechnology 7: 805-810.

Bandarnayake, W.M. 2002. Bioactivities, bioactive compounds and chemical constituents of mangrove plants. Wetlands Ecol. Manage 10: 421-452. Basyuni, M., Oku, H., Baba, S., Takara, K., dan Iwasaki, H. 2007. Isoprenoids of

Okinawan mangroves as lipid input into estuarine ecosystem. Journal of Ocenanography 63: 601-608.

Basyuni, M., Putri, L.A.P., Julayha, Nurainun, H., Oku,H. 2012. Non-saponifiable lipid composition of four salt-secretor and non-secretor mangrove species from North Sumatera, Indonesia. Makara Journal of Science 16/2: 89-94. Basyuni, M., Putri, L.A.P. dan Oku, H. 2013. Phytomedical investigation from six

mangrove species, North Sumatera, Indonesia. Ilmu Kelautan 18: 157-164. Bengen, D.G. 2004. Ekosistem dan sumber daya alam pesisir dan laut serta

prisnsip pengelolaannya. PKSPL. IPB. Bogor.

Bintoro, M. H. 1983. Pengaruh NaCl terhadap pertumbuhan beberapa kultivar tomat. Bul. Agron. XIV (1) : 13-29.

Campbell. 2003. Biologi Jilid 2. Erlangga. Jakarta.

(58)

Marczewski, A., Hertel, J., Matysiak, Z., Swiezewska, E., Chojnacki, T., 2007. Alloprenols: novel -trans-polyprenols of Allophylus caudatus.

Chemistry and Physics of Lipids 147: 103–112.

Ciepichal, E., Malgorzata J. R., Jozefina H., Ewa S., dan Kazimierz S. 2011. Configuration of polyisoprenoids affects the permeability and thermotropic properties of phospholipid/polyisoprenoid model membranes. Chemistry and Physics of Lipids 164: 300–306.

Chaiyadej, K., Wongthap, H., Vadhanavikit, S., dan Chantrapromma, K. 2004. Bioactive constituents from the twigs of Sonneratia alba. Walaik J. Sci. and Tech 1: 15-22.

Close, D.C. dan McArthur,C. 2002. Rethinking the role of many plant phenolics – protection from photodamage not herbivores. 99: 166-172.

Dahuri, R. J. 2003. Keanekaragaman Hayati Laut : Aset Pembangunan Berkelanjutan Indonesia. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Dwidjoseputro, D. 1980. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT. Gramedia. Jakarta. Fofonoff, N.P. dan Lewis, E.L.1979. A practical salinity scale. J. Oceanografi.

35: 63–64.

Ghufron, H. 2012. Ekosistem Mangrove : Potensi, Fungsi, dan Pengelolaan. Rineka Cipta. Jakarta.

Heddy, S. 2001. Ekofisiologi Tanaman. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Hutahaean, E. E., Kusmana, C., dan Dewi,H. R . 1999. Studi kemampuan tumbuh anakan mangrove jenis Rhizophora mucronata, Bruguiera gimnorrhiza

dan Avicennia marina pada berbagai tingkat salinitas. Jurnal Manajemen Hutan Tropika 5:77-85.

Hutching, P. dan Saenger, P. 1987. Ecology of Mangrove. University of Queensland Press, St. Lucia. Australia.

Ibata, K., Mizuno, M., Takigawa, T., dan Tanaka, Y. 1983. Long-chain beturaprenol-type polyprenols from the leaves of Ginko biloba.

Biochemical Journal 213: 305-311.

Gambar

Gambar 1. Pengaruh cekaman garam terhadap tinggi (A) dan diameter (B) S. alba pada  umur 3 bulan
Gambar 2. Pengaruh cekaman garam  terhadap  pertambahan jumlah  daun S. alba  pada         umur 3 bulan
Gambar 3.  Pengaruh  cekaman  garam  terhadap  berat  basah akar (A), berat  kering akar
Gambar 4.  Pengaruh cekaman garam  terhadap berat basah tajuk (A), berat kering tajuk           (B), dan  kadar  air  tajuk  (C)  semai   S
+7

Referensi

Dokumen terkait

Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan yang maha esa karena atas rahmat dan berkat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Variasi Naungan terhadap

Mangrove adalah tanaman yang toleran terhadap garam, yang mampu tumbuh diberbagai tingkatan salinitas mulai dari air tawar sampai daerah dengan tingkat salinitas yang

Sehingga diperlukan penelitian untuk mengetahui konsentrasi yang baik untuk pertumbuhan anakan dan pengaruh variasi salinitas terhadap konsentrasi dan konten rantai

Salah satu aktivitas adaptasi mangrove agar tetap dapat tumbuh baik pada daerah yang dipengaruhi pasang surut air laut adalah dengan cara mensekresi metabolit sekunder

Pertumbuhan Tanaman Bakau (Rhizophora mucronata) pada Lahan Restorasi Mangrove di Hutan Lindung Angke Kapuk Provinsi DKI Jakarta.. Institut

alba pada umur 3 bulan dengan berbagai perlakuan..

Nilai koefisien korelasi (r) termasuk kategori 0 &gt; r &gt; -0,50 dan menunjukkan kekuatan korelasi yang lemah negatif, sehingga variabel paremeter tinggi, diameter,

Hal ini sesuai dengan pernyataan Dwijoseputro (1978) yang menyatakan bahwa perbedaan jumlah daun yang tumbuh dibawah naungan dipengaruhi oleh adanya perbedaan