UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
FENOMENA GOLONGAN PUTIH DI KALANGAN MASYARAKAT
(Studi Deskriptif di Kota Medan)SKRIPSI
Disusun Oleh:
IRENE BUTAR-BUTAR 050901053
Guna Memenuhi Salah Satu Syarat
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sumatera Utara
Medan
ABSTRAK
Fenomena adalah suatu kejadian atau peristiwa yang tidak biasa, akan tetapi nyata ada terjadi. Golongan putih adalah orang-orang yang tidak menggunakan hak pilih suaranya dalam pemilihan umum. Golongan putih atau disebut juga ‘No Voting
Decision’ selalu ada pada setiap pesta demokrasi di mana pun terutama yang
menggunakan sistem pemilihan langsung “direct voting”. Para pemilih dikatakan golput atau ‘No Voting Decision’ apabila berkeputusan untuk tidak memilih salah satu dari kontestan yang tersedia pada kertas suara ketika dilakukan pemungutan suara.
Jenis penelitian adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Berifat deskriptif yaitu memberi gambaran atas apa yang dilihat dari situasi, kejadian dan perilaku. Lokasi penelitian berada di kota Medan dengan unit analisis adalah masyarakat yang memenuhi syarat untuk mengikuti pemilihan umum yaitu orang-orang berwarganegara Indonesia yang berusia 17 tahun keatas dan mempunyai kartu tanda penduduk.
Dari hasil penelitian yang dilakukan kepada informan diketahui ada 3 alasan mengapa warganegara tidak menggunakan hak pilih suaranya yaitu: pertama, karena alasan politis yaitu menganggap pemilihan umum tidak ada gunanya dalam meningkatkan kehidupan yang lebih baik. Masyarakat melihat fakta yang ada sekarang ini semakin meningkatnya penggangguran dan masih banyak masyarakat hidup dibawah garis kemiskinan. Realita ini membuat masyarakat bersikap apatis, cuek dan tidak peduli karena berkaitan dengan kinerja partai politik dan juga pemerintahan sendiri yang dianggap tidak mampu membuat perubahan sebagaimana yang dijanjikan ketika kampaye. Dengan realita yang ada saat ini pemilih cenderung rasional dalam menentukan pilihannya dengan mempertimbangkan keuntungan-keuntungan yang di dapat dari pemerintah.
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas anugerah dan kasih setia-Nya yang selalu menyertai penulis dalam menyelesaikan perkuliahan dan juga penyusunan skripsi yang berjudul “ Fenomena Golongan di Kalangan masyarakat”. Bukan kuat dan gagah tetapi oleh roh-Nya yang memberi kekuatan dan kemurahan karena Dia adalah Bapa yang sangat baik bagi setiap anak-anak-Nya.
Secara khusus dan teristimewa untuk kedua orang tuaku yang memberi dukungan moril dan keuangan kepada penulis yaitu W.Butar-Butar dan R.Lumban Tobing. Terima kasih buat cinta dan kasih sayang yang selalu ada untuk penulis Tuhan selalu menyertai dan memberkati kalian berdua. Buat kelima saudaraku Bona Pangihutan Butar-Butar, Ir.Parulian Butar-Butar, Briptu Eben Ezer Butar-Butar, Imanuel Butar-Butar dan Imelda Butar-Butar.S.Sos. terima kasih buat perhatiannya. Buat teman-teman seperjuangan Helna Rismawati.S.Sos, Yenni Suryani.S.Sos, kalian adalah sahabat terbaik bagi penulis terima kasih buat motivasi yang kalian berikan buat penulis Tuhan selalu beri yang terbaik buat kalian berdua dan teman-teman stambuk 2005 Sosiologi Hernita Lumban Gaol dan Verawaty Nababan semangat terus. Serta buat Bapak Maskuri Siregar selaku anggota KPU, Bapak Budi Darmo.SH selaku anggota partai politik, Bapak Gazali Usman selaku kepala bidang politik dalam negeri dan kepada seluruh informan penelitian terima kasih buat saran dan masukannya sehingga penulis dapat menyusun laporan penelitian yang berbentuk skripsi ini.
Penulis telah mencurahkan segala kemampuan, tenaga, pikiran serta waktu dalam menyelesaikan skripsi ini. Namun demikian penulis menyadari skripsi ini masih banyak kekurangan untuk itu engan segala kerendahan hati sebagai manusia biasa penulis mengharapkan saran dan masukan yang membangun dari para pembaca. Besar harapan penulisagar skripsi ini dapat memiliki faedah bagi pembaca.
Medan, November 2009
DAFTAR ISI
Abstrak ... i
Kata Pengantar ... ii
Daftar Isi ... iv
Daftar Tabel ... vi
BAB I. PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah ... 1
1.2.Perumusan Masalah ... 7
1.3.Tujuan Penelitian ... 8
1.4.Manfaat Penelitian ... 8
1.5.Defenisi Konsep ... 9
BAB II. KAJIAN PUSTAKA 2.1. Demokrasi di Indonesia... 10
2.2. Fakta Sosial ... 13
2.3. Pilihan Rasional ... 15
2.4. Prilaku Sosial ... 17
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian ... 20
3.2. Lokasi Penelitian ... 21
3.3. Unit Analisis dan Informan ... 21
3.3.1. Unit Analisis ... 21
3.3.2. Informan ... 21
3.4. Teknik pengumpulan Data ... 22
3.4.1. Data Primer ... 22
3.4.2. Data Sekunder ... 23
3.6. Jadwal Penelitian ... 24
3.7. Keterbatasan penelitian ... 24
BAB IV. DESKRIPSI LOKASI DAN INTERPRETASI DATA 4.1. Sejarah Singkat Kota Medan ... 25
4.1.1. Letak Geografis dan Luas Wilayah ... 26
4.1.2. Gambaran Penduduk Kota Medan ... 28
4.2. Profil Informan ... 31
4.3. Sejarah Pemilu di Indonesia ... 43
4.4. Fenomena Golongan Putih ... 46
4.4.1. Fakta Sosial Mempengaruhi Tingkat Partisipasi... 50
4.4.2. Rasionalitas Masyarakat dalam Menentukan Pilihan ... 53
4.4.3. Prilaku Sosial Masyarakat dalam Pemilihan Umum ... 56
4.4.4. Pengaruh Sistem Terhadap Tingkat Golongan Putih ... 62
4.4.4.1. Komisi Pemilihan Umum ... 64
4.4.4.2. Peran Komisi Pemilihan Umum ... 65
BAB V. PENUTUP 5.1. Kesimpulan ... 74
5.2. Saran ... 75
LAMPIRAN
- Foto Hasil Penelitian
- Daftar Wawancara ( Masyarakat, Anggota Komisi Pemilihan Umum, Anggota Partai Politik dan Perwakilan dari Pemerintah di Bidang Politik dalam Negeri
- Pengajuan Usulan Judul Proposal Skripsi
- Surat Keputusan Ketua Departemen Sosiologi Fisip USU Tentang
Pengangkatan Dosen Pembimbing Penulisan Proposal Skripsi dan Skripsi - Izin Penelitian ke Pemko Medan
- Surat Keterangan dari Komisi Pemilihan Umum
-DAFTAR TABEL
Tabel 1.1. Kenaikan Angka Golongan Putih dari Tahun 1991-2004 ... 6
Tabel 1.2. Data Perolehan Suara Partai Politik pada Pemilihan Umum 2004 ... 7
Tabel 4.1. Luas Wilayah Menurut Kecamatan ... 27
Tabel 4.2. Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan Tahun 2007 ... 28
Tabel 4.3. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin Tahun 2007 ... 29
Tabel 4.4. Jumlah Tempat Ibadah Menurut Kecamatan Tahun 2007 ... 30
Tabel 4.5. Rekapitulasi Perhitungan Hasil Perolehan Suara Partai Politik dan Calon Anggota DPR ... 49
Tabel 4.6. Garis Kemiskinan Sumatera Utara dan Nasional Tahun 2007-2008 .... 51
ABSTRAK
Fenomena adalah suatu kejadian atau peristiwa yang tidak biasa, akan tetapi nyata ada terjadi. Golongan putih adalah orang-orang yang tidak menggunakan hak pilih suaranya dalam pemilihan umum. Golongan putih atau disebut juga ‘No Voting
Decision’ selalu ada pada setiap pesta demokrasi di mana pun terutama yang
menggunakan sistem pemilihan langsung “direct voting”. Para pemilih dikatakan golput atau ‘No Voting Decision’ apabila berkeputusan untuk tidak memilih salah satu dari kontestan yang tersedia pada kertas suara ketika dilakukan pemungutan suara.
Jenis penelitian adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Berifat deskriptif yaitu memberi gambaran atas apa yang dilihat dari situasi, kejadian dan perilaku. Lokasi penelitian berada di kota Medan dengan unit analisis adalah masyarakat yang memenuhi syarat untuk mengikuti pemilihan umum yaitu orang-orang berwarganegara Indonesia yang berusia 17 tahun keatas dan mempunyai kartu tanda penduduk.
Dari hasil penelitian yang dilakukan kepada informan diketahui ada 3 alasan mengapa warganegara tidak menggunakan hak pilih suaranya yaitu: pertama, karena alasan politis yaitu menganggap pemilihan umum tidak ada gunanya dalam meningkatkan kehidupan yang lebih baik. Masyarakat melihat fakta yang ada sekarang ini semakin meningkatnya penggangguran dan masih banyak masyarakat hidup dibawah garis kemiskinan. Realita ini membuat masyarakat bersikap apatis, cuek dan tidak peduli karena berkaitan dengan kinerja partai politik dan juga pemerintahan sendiri yang dianggap tidak mampu membuat perubahan sebagaimana yang dijanjikan ketika kampaye. Dengan realita yang ada saat ini pemilih cenderung rasional dalam menentukan pilihannya dengan mempertimbangkan keuntungan-keuntungan yang di dapat dari pemerintah.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Masalah
Indonesia adalah negara demokrasi, dimana rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi pada suatu negara tersebut. Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warga negara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut (http://www.wikipedia.org). Dalam prakteknya secara teknis yang menjalankan kedaulatan rakyat adalah pemerintahan eksekutif yang dipilih secara langsung oleh rakyat dan wakil-wakil rakyat di lembaga perwakilan rakyat atau parlemen. Perwakilan rakyat tersebut yang bertindak untuk dan atas nama rakyat, yang secara politik menentukan corak dan cara bekerjanya pemerintahan, serta tujuan yang hendak dicapai baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Agar para wakil rakyat tersebut dapat bertindak atas nama rakyat, maka wakil-wakil rakyat harus ditentukan sendiri oleh rakyat.
Dalam pemilihan umum diperlukan partisipasi politik. Dimana pengertian partisipasi politik adalah kegiatan seseorang atau sekelompok orang untuk ikut secara aktif dalam kehidupan politik dengan jalan memilih pemimpin negara dan kebijakan pemerintah. Menurut Mc Closky dalam Sitepu (2006:125) partisipasi politik adalah kegiatan-kegiatan sukarela dari warga negara untuk mereka mengambil bagian dalam proses pemilihan penguasa dan secara langsung atau tidak langsung dalam proses pembuatan kebijakan umum. Akan tetapi dalam konteks pemilihan umum, terdapat sejumlah warga yang memiliki pandangan tersendiri untuk tidak menggunakan hak pilihnya atau yang disebut dengan golput. Hal ini menunjukkan tingkat patisipasi masyarakat terhadap pemilihan umum semakin menurun.
Fenomena adalah suatu kejadian atau peristiwa yang tidak biasa akan tetapi nyata ada dan terjadi. Fenomenologi berusaha untuk menyingkapkan fungsi-fungsi laten yang tersembunyi dalam setiap tindakan sosial atau fakta sosial ( Bachtiar, 2006:152 ). Di negara manapun yang menjalankan sistem demokrasi, bahkan di negara yang sudah maju demokrasinya, golongan putih selalu mewarnai pemilihan umum. Di Amerika Serikat, misalnya, tingkat partisipasi pemilih di dalam pemilihan umum hanya pada kisaran 50%. Pada pemilihan presiden 1968, turn out -nya hanya 60,8%. Jumlah ini menurun menjadi 49% pada pemilihan presiden 1996, meningkat sedikit menjadi 50,4% pada 2000, dan kembali naik menjadi 56,2% pada pemilihan presiden di 2004. Golongan putih atau disebut juga ‘No Voting Decision’ selalu ada pada setiap pesta demokrasi dimana pun terutama yang menggunakan sistem pemilihan langsung (direct voting). Mereka dikatakan golongan putih atau ‘No Voting
tersedia pada kertas suara ketika dilakukan pemungutan suara. Apabila cara untuk memilih dilakukan dengan mencoblos logo/foto, maka pemilih tidak mencoblos pada tempat yang sediakan sehingga kartu suara dinyatakan tidak sah. Jika untuk memilih digunakan dengan memberikan coretan atau tanda centang, maka pemilih tidak memberikan tanda centang atau memberikan tanda centang bukan pada tempat yang disediakan sehingga kartu suara menjadi tidak sah. Dari pengertian ini, mereka yang dikatakan mengambil sikap golput atau ‘No Voting Decision’ tetap hadir dan melakukan proses pemilihan sesuai dengan tata cara yang berlaku. Dalam perkembangannya, keputusan untuk tidak memilih ternyata semakin rumit. Seorang pemilih bersikap tidak memilih dengan cara tidak menghadiri bilik suara atau tempat pemungutan suara pada waktu yang telah ditentukan (jadwal pencoblosan). Pemilih (voter) tadi sudah terdaftar sebagai pemilih, akan tetapi dengan sengaja tidak hadir ke lokasi pemungutan suara ketika hari pelaksanaan pemilihan. Sehingga kertas suara yang tidak digunakan tadi dianggap tidak sah. Bila jumlahnya yang tidak memilih atau golput terlalu besar, maka akan berpengaruh terhadap legalitas partai ataupun kandidat yang memenangi pemilihan (vote result). Dalam perspektif teori politik, jika tingkat golongan putih melebihi 50% maka derajat legitimasi suatu pemerintahan sangat rendah, dan tidak cukup absah menjalankan roda pemerintahan
(http://id.wikipedia.org/wiki/Demokrasi).
yang sepenuhnya memberikan dukungan politis kepada Golkar. Arogansi ini ditunjukkan dengan memaksakan (dalam bentuk ancaman) seluruh jajaran aparatur pemerintahan termasuk keluarga untuk sepenuhnya memberikan pilihan kepada Golkar. Arogansi seperti ini dianggap menyimpang dari nilai dan kaidah demokrasi di mana kekuasaan sepenuhnya ada di tangan rakyat yang memilih. Ketika itu, Arief Budiman mengajak masyarakat untuk menjadi golput dengan cara tetap mendatangi Tempat Pemungutan Suara (TPS). Ketika melakukan coblosan, bagian yang dicoblos bukan pada tanda gambar partai politik, akan tetapi pada bagian yang berwarna putih. Maksudnya tidak mencoblos tepat pada tanda gambar yang dipilih. Artinya, jika coblosan tidak tepat pada tanda gambar, maka kertas suara tersebut dianggap tidak sah. Ada perbedaan fenomena golput pada masa politik di orde baru dan masa politik di era reformasi. Di masa orde baru, ajakan golput dimaksudkan sebagai bentuk perlawanan politik terhadap arogansi pemerintah/ABRI yang dianggap tidak menjunjung asas demokrasi. Pada era reformasi yang lebih demokratis, pengertian golongan putih merupakan bentuk dari fenomena dalam demokrasi
(http://Leo4Kusumalogspot.com/tentang-golput). Menurut Louis De Sipio, Natalie
Masuoka dan Christopher Stout, ada beberapa kategori para pemilih yang tidak menggunakan hak pilih (non-voters) yaitu:
Registered Not Voted : kalangan warga negara yang memiliki hak pilih dan telah terdaftar namun tidak menggunakan hak pilihnya.
Non-Citizen : mereka yang dianggap bukan warga negara (penduduk suatu daerah) sehingga tidak memiliki hak pilih.
Menurut Arbi Sanit (1992) mengidentifikasi bahwa golput adalah mereka secara sadar yang tidak puas dengan keadaan sekarang, karena aturan main demokrasi diinjak-injak partai politik dan juga tidak berfungsinya lembaga demokrasi (parpol) sebagaimana kehendak rakyat dalam sistem demokrasi (Kompas, pemilih Golput 16
Juli 2004). Menurut hasil riset yang dilakukan oleh Lingkaran Suvey Indonesia (LSI),
diketahui bahwa sebenarnya terdapat paling tidak, tiga alasan bagi seorang pemilih yang akhirnya menyebabkan dia memutuskan untuk tidak mempergunakan hak konstitusionalnya sebagai seorang warga negara dalam berbagai proses eleksi kepemimpinan yaitu: Pertama, alasan administratif, seperti tidak mendapat surat undangan, atau belum kartu pemilih. Kedua, alasan individual atau teknis, seperti sedang bekerja, ada keperluan pribadi disaat hari pemilihan. Ketiga, alasan politis, yakni menganggap Pilkada tidak ada gunanya dalam meningkatkan kehidupan lebih baik (http://www.vickyprimandani.co.cc/).
Tabel 1.1
Kenaikan angka golongan putih dari tahun 1991 sampai 2004
Tahun Pelaksanaan Pemilu Jumlah Golongan Putih
1991 6,64% 1997 8,40% 1982 8,53% 1987 8,39% 1992 9,09% 1997 9,42% 1999 10,21% 2004 23,3%
Sumber (http//simpang lima.wordpress.com/2008/02/17)
Dari perolehan data diatas jumlah golongan putih setiap tahunnya semakin meningkat. Pada tahun 1991 jumlah golongan putih sebesar 6,64%, tahun 1997 jumlah golongan putih sebesar8,40%, tahun 1982 sebesar 8,53%, tahun 1987 sebesar 8,39%, tahun 1992 sebesar 9,09%, tahun 1997 sebesar 9,42%, tahun 1999 sebesar 10,21% dan tahun 2004 meningkat sampai 23,3%.
Pada pemilihan umum kepala daerah yang dilaksanakan pada tahun 2004 golongan putih semakin terlihat nyata. Seperti di Sumatera Utara jumlah golongan putihnya sebesar 43%, Sumatera Barat 37%, Sumatera Selatan 33%, Jambi 34%, Kep.Riau 46%, DKI Jakarta 39%, Jawa Barat 33%, Jawa Timur 39%, Banten 40%, Sulawesi Selatan 33%, Bali 25% dan Nusa Tenggara Timur 20%.
Tabel 1.2
Data perolehan suara partai politik pada pemilu tahun 2004
Daerah Total 1.102.524 901.209 201.315 1.385.140 954.846 430.294 Presentase 100% 90% 10% 100% 69% 31%
Sumber KPU Medan 2009
Dari perolehan data diatas, maka jelas terlihat bahwa angka jumlah pemilih golongan putih semakin meningkat dari tahun 1997 sebesar 10% ke 2004 sebesar 31%. Kenaikan jumlah golongan putih tersebut sebesar 21 %.
Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk meneliti apa yang menyebabkan terjadinya fenomena golongan putih di kalangan masyarakat khususnya di kota Medan.
1.2.Perumusan Masalah
1.3.Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah diatas yang menjadi tujuan penelitian ini adalah: untuk mengetahui apa saja yang menyebabkan terjadinya fenomena golongan putih di kalangan masyarakat.
1.4.Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan mempunyai 2 manfaat penting yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis. Dalam penelitian ini yang menjadi manfaat teoritis adalah: hasil penelitian ini diharapkan menjadi sebuah hasil kajian ilmiah yang akurat, sehingga dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi kalangan akademis dalam bidang pendidikan dan juga kepada instansi pemerintah dalam melihat perkembangan sistem demokrasi di Indonesia.
Sedangkan yang menjadi manfaat praktis penelitian ini adalah:
1. Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi program sarjana di universitas Sumatera Utara.
3. Memberikan kesadaran kepada masyarakat bahwa suara mereka sangat penting dalam menentukan nasib bangsa 5 tahun ke depan.
1.5.Defenisi Konsep
Konsep adalah istilah yang terdiri dari satu kata atua lebih yang
menggambarkan suatu gejala atau menyatakan suatu ide atau gagasan (Iqbal Hasan,2002:17). Batasan-batasan konsep dalam penelitian ini adalah:
1. Fenomena adalah suatu kejadian atau peristiwa yang tidak biasa akan tetapi nyata ada dan terjadi. Pada penelitian ini fenomena yang dimaksud adalah adanya suatu individu atau kelompok dalam masyarakat yang tidak menggunakan hak pilih suaranya dalam pemilihan umum.
2. Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut).
3. Pemilihan umum adalah sebuah alat untuk melakukan pendidikan politik bagi warga negara agar mereka memahami hak dan kewajibannya.
4. Partisipasi Politik adalah kegiatan seseorang atau sekelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan politik, dengan jalan memilih pemimpin negara dan secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kebijakannya.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Demokrasi di Indonesia
Definisi demokrasi menurut Murod (1999:59), sebagai suatu “policy” di mana semua warga menikmati kebebasan untuk berbicara, kebebasan berserikat, mempunyai hak yang sama di depan hukum, dan kebebasan untuk menjalankan agama yang dipeluknya. Demokrasi berasal dari kata dua kata “demos” yang berarti rakyat dan “kratos/cratein” yang berarti pemerintahan. Indonesia menganut sistem demokrasi berdasarkan pancasila yang berdasarkan pada kekeluargaan dan gotong-royong yang ditujukan kepada kesejahteraan rakyat, mengandung unsur-unsur kesadaran religius, berdasarkan kebenaran, kecintaan dan budi pekerti luhur, berkepribadian Indonesia dan berkesinambungan. Dalam Batang Tubuh UUD 1945, prinsip-prinsip yang terkandung dalam sistem pemerintahan demokrasi pancasila adalah sebagai berikut:
1. Indonesia ialah negara yang berdasarkan hukum.
hukumnya. Persamaan kedudukan dalam hukum bagi semua warga negara harus tercermin di dalamnya
2. Indonesia menganut sistem konstitusional.
Pemerintah berdasarkan sistem konstitusional (hukum dasar) dan tidak bersifat absolutisme (kekuasaan yang mutlak tidak terbatas). Sistem konstitusional ini lebih menegaskan bahwa pemerintah dalam melaksanakan tugasnya dikendalikan atau dibatasi oleh ketentuan konstitusi, di samping oleh ketentuan-ketentuan hukum lainnya yang merupakan pokok konstitusional, seperti TAP MPR dan Undang-undang.
3. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sebagai pemegang kekuasaan negara yang tertinggi.
4. Presiden adalah penyelenggaraan pemerintah yang tertinggi di bawah Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).
Di bawah MPR, presiden ialah penyelenggara pemerintah negara tertinggi. Presiden selain diangkat oleh majelis juga harus tunduk dan bertanggung jawab kepada majelis. Presiden adalah mandataris MPR yang wajib menjalankan putusan-putusan MPR.
5. Pengawasan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Presiden tidak bertanggung jawab kepada DPR, tetapi DPR mengawasi pelaksanaan mandat (kekuasaan pemerintah) yang dipegang oleh presiden dan DPR harus saling bekerja sama dalam pembentukan undang-undang termasuk APBN. Untuk mengesahkan undang-undang, presiden harus mendapat persetujuan dari DPR. Hak DPR di bidang legislative ialah hak inisiatif, hak amandemen, dan hak budget. Hak DPR di bidang pengawasan meliputi: hak tanya/bertanya kepada pemerintah, hak interpelasi, yaitu meminta penjelasan atau keterangan kepada pemerintah, hak Mosi (percaya/tidak percaya) kepada pemerintah, hak Angket, yaitu hak untuk menyelidiki sesuatu hal, dan hak Petisi, yaitu hak mengajukan usul/saran kepada pemerintah.
6. Menteri Negara adalah pembantu presiden, Menteri Negara tidak bertanggung jawab kepada DPR.
Berdasarkan hal tersebut, berarti sistem kabinet kita adalah kabinet kepresidenan/presidensil. Kedudukan Menteri Negara bertanggung jawab kepada presiden, tetapi mereka bukan pegawai tinggi biasa, menteri ini menjalankan kekuasaan pemerintah dalam prakteknya berada di bawah koordinasi presiden.
7. Kekuasaan Kepala Negara tidak tak terbatas.
Kepala Negara tidak bertanggung jawab kepada DPR, tetapi ia bukan diktator, artinya kekuasaan tidak tak terbatas. Ia harus memperhatikan sungguh-sungguh suara DPR. Kedudukan DPR kuat karena tidak dapat dibubarkan oleh presiden dan semua anggota DPR merangkap menjadi anggota MPR. DPR sejajar dengan presiden.
2.2. Fakta Sosial
Paradigma fakta sosial di ambil dari karya Durkheim The Rules of Sociological
Method (1895) dan Suicide (1897). Fakta sosial bersifat eksternal, umum (general),
Fakta sosial mempengaruhi tindakan-tindakan manusia. Tindakan individu merupakan hasil proses pendefinisian realitas sosial, serta bagaimana orang mendefinisikan situasi. Masalah-masalah realita sosial yang ada dapat mempengaruhi seseorang untuk bertindak. Fakta dapat dikategorikan sebagai sesuatu yang membuat pernyataan benar atau salah. Pemerintah yang menjadi kepercayaan rakyat selama ini, yaitu sebagai amanat rakyat, aspirasi yang berada pada pihak rakyat, dinilai tidak terwujud secara faktual. Kepercayaan yang dibangun oleh pemerintah sendiri, legitimasi yang berusaha digalang dari rakyat berupa janji-janji politik, menjadi suatu kesalahan ketika tidak ditemukan bukti yang mampu mendukungnya sebagai kebenaran. Pemerintah yang mempunyai otoritas dalam pengaturan urusan publik dinilai tidak mampu mewujudkan apa yang sudah mereka tawarkan kepada rakyat sebagai mekanisme penggalangan dukungan rakyat. Selain itu partai politik yang memiliki fungsi Realita yang ada, berpengaruh terhadap tingkat partisipasi masyarakat pada pemilihan umum. Realita tersebut seperti masih banyak masyarakat Indonesia yang berada dibawah garis kemiskinan dan juga banyaknya pengangguran yang dapat mengakibatkan terjadinya tindak kriminalitas sehingga terciptanya rasa tidak aman di kalangan masyarakat.
2.3. Pilihan Rasional
menuju ke tingkat sosial. Pemusatan perhatian pada tindakan rasional individu dilanjutkan pada masalah hubungan mikro ke makro atau dapat dikatakan pula bagaimana cara gabungan tindakan individual menimbulkan perilaku sistem sosial. Dalam hubungan masyarakat dengan pemerintah dimana masyarakat sebagai pengontrol jalannya pemerintahan dapat menentukan pilihan melalui pemilihan umum. Pada pemilihan umum masyarakat dapat menentukan pilihan untuk memilih pemimpin yang layak atau tidak untuk memimpin. Coleman juga memperhatikan hubungan mikro ke makro bagaimana cara sistem memaksa orientasi aktor. Hasil akhir pasti perhatiannya dilihat pada aspek hubungan mikro ke makro dampak tindakan individual terhadap tindakan individu lain. Maka dapat dilihat satu kunci gerakan dari mikro ke makro adalah mengakui wewenang dan hak yang dimiliki oleh seorang individu terhadap individu lain. Perilaku kolektif norma dan aktor korporat merupakan pendekatan yang dilakukan Coleman dalam menganalisis fenomena makro. Jadi ketiga-tiganya merupakan bagian fenomena makro.
2.4. Prilaku Sosial
(1953,1957,1974) membantu fokus prilaku (behavior) melalui percobaan yang dinamakan operant behavior dan reinforcement. Yang dimaksud dengan operant
condition adalah setiap perilaku yang beroperasi dalam suatu lingkungan dengan cara
1. Kesadaran politik yaitu kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warganegara.
2. Kepercayaan kepada pemerintah atau sistem politik, yaitu penilaian seseorang terhadap pemerintah apakah dianggap dipercaya dan dapat dipengaruhi atau tidak.
Jeffry M. Paige26 membagi partisipasi politik menjadi 4 yaitu:
1. Partisipasi politik aktif, apabila seseorang memiliki kesadaran poltik dan kepercayaan kepada pemerintah yang tinggi.
2. Partisipasi politik apatis, apabila seseorang memiliki kesadaran politik dan kepercayaan kepada pemerintah yang rendah.
3. Partisipasi politik militan-radikal, apabila seseorang memiliki kesadaran politik tinggi akan tetapi kepercayaan kepada pemerintah rendah.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Metode penelitian kualitatif merupakan metode yang bermaksud unutk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain secara holistic dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. (Maleong, 2006)
3.2. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan di kota Medan. Alasan peneliti memilih lokasi ini karena kota Medan merupakan salah satu daerah yang mempunyai tingkat golongan putih yang tinggi.
3.3. Unit Analisis dan Informan
3.3.1. Unit Analisis
Salah satu cara atau karakteristik dari penelitian sosial adalah menggunakan apa yang disebut “units of analisis”. Hal ini dimungkinkan, karena setiap objek penelitian memiliki ciri dalam jumlah yang cukup luas seperti karakteristik individu tentunya yang meliputi jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, status sosial dan tingkat penghasilan. Ada sejumlah unit analisis yang lazim digunakan pada kebanyakan penelitian sosial yaitu individu, kelompok, organisasi, sosial artefak (Danandjaja, 2005:31). Unit analisis data adalah satuan tertentu yang diperhitungkan sebagai subjek penelitian (Arikunto, 199:2). Adapun unit analisis dalam penelitian ini adalah orang-orang yang sudah memenuhi syarat untuk memilih yaitu yang berusia 17 tahun keatas.
3.3.2. Informan
1) Informan Kunci
Dalam penelitian ini yang menjadi informan kunci dalam pengumpulan data adalah orang-orang yang sudah sudah memenuhi syarat untuk memilih dalam pemilihan umum yaitu yang berusia 17 tahun keatas sebagai warganegara Indonesia.
2) Informan Biasa
Informan biasa adalah informan yang dapat memberikan informasi tambahan. Yang menjadi informan biasa dalam penelitian ini adalah: anggota KPU, partai politik dan pemerintah.
3.4. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini maka peneliti menggunakan teknik-teknik pengumpulan data sebagai berikut:
3.4.1. Data Primer
Untuk mendapatkan data primer dalam penelitian ini akan dilakukan cara penelitian lapangan, yaitu:
a) Metode Wawancara
Wawancara mendalam (dept interview) adalah proses tanya jawab secara langsung yang ditujukan terhadap informan di lokasi penelitian dengan menggunakan panduan atau wawancara.
b) Metode Observasi
Observasi atau pengamatan adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian. Data penelitian tersebut dapat diamati oleh peneliti. Observasi merupakan pengamatan langsung terhadap berbagai gejala yang tampak pada penelitian. Hal ini ditujukan untuk mendapat daya yang mendukung hasil wawancara.
3.4.2. Data Sekunder
Data sekunder yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung dari objek penelitian kepustakaan dan pencatatan dokumen, yaitu dengan mengumpulkan data dan mengambil informasi dari buku-buku referensi, dokumen majalah, jurnal, internet, yang dianggap relevan dengan masalah yang diteliti.
3.5. Interpretasi Data
3.6. Jadwal Penelitian
Jawaban kegiatan yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1
Jadwal Kegiatan dan Laporan Penelitian
Kegiatan Bln Pengajuan judul X
Penyusunan
Interview Guide X
Kelapangan
BAB IV
DESKRIPSI LOKASI DAN INTERPRETASI DATA
4.1. Sejarah Singkat Kota Medan
Kota Medan didirikan oleh Guru Patimpus pada tahun 1590. Pada mulanya yang membuka perkampungan Medan adalah Guru Patimpus lokasinya terletak di Tanah Deli, maka sejak zaman penjajahan orang selalu merangkaikan Medan dengan Deli (Medan–Deli). Setelah zaman kemerdekaan lama kelamaan istilah Medan Deli secara berangsur-angsur lenyap sehingga akhirnya kurang popular. Menurut Volker pada tahun 1860 Medan masih merupakan hutan rimba dan disana sini terutama dimuara-muara sungai diselingi pemukiman-pemukiman penduduk yang berasal dari Karo dan Semenanjung Malaya.
Kuta adalah bertani menanam lada. Tidak lama kemudian lahirlah anak kedua Guru Patimpus dan anak inipun laki-laki dinamai si Kecik. Jhon Anderson seorang Inggris melakukan kunjungan ke Kampung Medan tahun 1823 dan mencatat dalam bukunya Mission to the East Coast of Sumatera bahwa penduduk Kampung Medan pada waktu itu masih berjumlah 200 orang tapi dia hanya melihat penduduk yang berdiam dipertemuan antara dua sungai tersebut. Anderson menyebutkan dalam bukunya “Mission to the East Coast of Sumatera“ (terbitan Edinburg 1826) bahwa sepanjang sungai Deli hingga ke dinding tembok mesjid Kampung Medan di bangun dengan batu-batu granit berbentuk bujur sangkar. Batu-batu ini diambil dari sebuah Candi Hindu Kuno di Jawa.
Pesatnya perkembangan Kampung "Medan Putri", juga tidak terlepas dari perkebunan tembakau yang sangat terkenal dengan tembakau Delinya, yang merupakan tembakau terbaik untuk pembungkus cerutu. Pada tahun 1863 orang-orang Belanda mulai membuka kebun tembakau di Deli yang sempat menjadi primadona tanah Deli. Sejak itu perekonomian terus berkembang sehingga Medan menjadi Kota pusat pemerintahan dan perekonomian di Sumatera Utara.
4.1.1. Letak geografis dan Luas Wilayah
pada 2° 27' – 2° 47' Lintang Utara dan 98° 35' - 98° 44' Bujur Timur. Untuk itu topografi kota Medan cenderung miring ke utara dan berada pada ketinggian 2,5 - 37,5 meter diatas permukaan laut. Provinsi Sumatera Utara secara administrasi, kota Medan berbatasan dengan: sebelah barat, timur dan selatan dengan Kabupaten Deli Serdang, sedangkan sebelah utara berbatasan dengan Selat Malaka.
Sebagian besar wilayah kota Medan merupakan dataran rendah yang merupakan tempat pertemuan dua sungai penting, yaitu sungai Babura dan sungai Deli. Kota Medan terdiri dari 21 kecamatan yang masing-masing mempunyai luas wilayahnya.
Tabel 4.1
Luas Wilayah Menurut Kecamatan
Tabel 4.1. menunjukkan bahwa kota Medan terdiri dari 21 kecamatan yang luas wilayah keseluruhan adalah 265,10 Km2.
4.1.2. Gambaran Penduduk Kota Medan
Gambaran jumlah penduduk menurut kecamatan di kota Medan dapat dilihat pada tabel 4.2. di bawah ini :
Tabel 4.2
Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan Tahun 2007
HGF Kecamatan Jumlah Penduduk (Jiwa)
(1) (2) 001 Medan Tuntungan 68.984
002 Medan Johor 114.143 010 Medan Selayang 84.148 011 Medan Sunggal 108.688 012 Medan Helvetia 142.777 013 Medan Petisah 66.896 014 Medan Barat 77.680 015 Medan Timur 111.839 016 Medan Perjuangan 103.809 017 Medan Tembung 139.256 018 Medan Deli 147.403 019 Medan Labuhan 105.015 020 Medan Marelan 124.369 021 Medan Belawan 94.979
Jumlah 2.083.156
Tabel 4.2. menunjukkan bahwa jumlah keseluruhan penduduk kota Medan yaitu 2.083.156 jiwa. Jumlah penduduk terbanyak terdapat pada kecamatan Medan Deli yaitu 147.403 jiwa sedangkan jumlah penduduk terkecil terdapat pada kecamatan Medan Baru yaitu 43.419 jiwa.
Gambaran jumlah penduduk menurut jenis kelamin tahun 2007 dapat dilihat pada tabel 4.3. dibawah ini
Tabel 4.3
Penduduk Menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin Tahun 2007
HGF Kecamatan Laki-laki perempuan (1) (2) (3)
001 Medan Tuntungan 34.393 34.591 002 Medan Johor 56.983 56.610
Tabel 4.4
Jumlah Tempat Ibadah Menurut Kecamatan Tahun 2007
Jenis Tempat Ibadah
4.2. Profil Informan
Profil informan dalam penelitian ini terdiri dari penduduk yang berusia diatas 17 tahun yang berdomisili di kota Medan dan yang mempunyai kartu tanda penduduk. Selain masyarakat yang termasuk profil informan dalam penelitian ini juga anggota Komisi Pemilihan Umum dan partai politik dan pemerintah yang diwakilkan oleh lembaga Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat dan Politik (Kesbang-Lin-Mas-Pol).
Profil : Penduduk Kota Medan
1. Ir. Irwan Panjaitan (lk,32 thn)
sekarang. Menurut bapak ini angka golongan putih dari tahun ke tahun semakin meningkat. Hal ini harus menjadi perhatian pemerintah, karena jika pemerintah tidak memperhatikan hal ini maka tidak kemungkinan nilai demokrasi di negara ini tidak berjalan sebagaimana diharapkan.
2. Rajid Sri ( pr, 35 thn )
Rajid Sri adalah seorang perempuan yang belum menikah berusia 35 tahun, beragama Hindu dan suku bangsa India Selatan. Perempuan berketurunan India ini sudah lama menjadi warganegara Indonesia yaitu sejak lahir. Dia beralamat di jalan Sukaramai kecamatan Medan Area. Pendidikan terakhirnya adalah SMA, dia bekerja sebagai wirausaha. Dia merupakan anak ke 4 dari 6 bersaudara. Menurut perempuan keturunan India bahwa fenomena golongan putih ini terjadi karena masyarakat sudah malas untuk berpartisipasi dalam pemilihan umum karena tidak ada perubahan yang terjadi pada perekonomian rakyat. Tetap saja masih banyak rakyat yang miskin dan tidak mempunyai pekerjaan. Semua janji-janji partai politik tidak ada yang dilaksanakan untuk kepentingan dan membela rakyat kecil
3. Vivi ( pr, 29 tahun )
rumah tangga membuat ibu satu orang anak ini kurang mengerti tentang dunia politik. Ibu ini mengaku sangat kebingungan untuk memilih calon legislatif yang kan menjadi anggota DPR maupun DPRD, karena hal ini maka ibu satu orang anak ini memilih calon legislatif dari fisik dan suku bangsa. Ibu ini juga mengaku tidak mengenal orang-orang yang ada di kertas pemilihan umum. Sistem pemilihan umum yang sangat sulit dan membingungkan seperti ini menjadi alasan yang mendukung masyarakat terutama kaum perempuan seperti ibu vivi yang sangat sedikit pengetahuan politiknya untuk memilih menjadi kelompok golongan putih.
4. Ester ( pr, 42 tahun )
5. N. Br. Tobing ( pr,52 thn )
N. Br. Tobing ini adalah seorang ibu berusia 52 tahun, beragama Kristen Protestan dan suku bangsa Batak Toba lahir di Belawan. Ibu yang berusia 52 tahun ini memiliki 4 orang anak yaitu 1 orang laki-laki dan 3 orang perempuan. Diantara 4 anaknya, 2 orang yang sudah menikah dan 2 orang lagi belum menikah dan masih bersekolah. Ibu Tobing ini beralamat di Sicanang kecamatan Medan Belawan, berlatar pendidikan SMA. Suami N.br.Tobing bekerja sebagai penjaga gudang, sedangkan dia sendiri bekerja sebagai ibu rumah tangga. Ibu ini setiap bulannya mendapat kiriman uang dari kedua anaknya yang sudah menikah untuk membantu biaya hidup dan biaya sekolah adik-adiknya. Berbicara mengenai fenomena golongan putih, ibu ini berpendapat bahwa golongan putih itu merupakan sikap protes masyarakat mengenai pemerintahan kita saat ini khususnya pada kesejahteraan rakyat. Salah satunya banyak pengangguran, yang disebabkan tidak adanya lowongan kerja sehingga angka kemiskinan di negara ini semakin meningkat.
6. G. Simamora ( lk, 55 thn )
fenomena golongan putih pada pemilihan umum merupakan bagian dari demokrasi. Demokrasi itu adalah suara rakyat dimana rakyat bebas untuk memilih atau tidak. Pilihan untuk tidak memilih atau menjadi golongan putih mungkin itu keputusan yang terbaik dengan berbagai alasan yang melatarbelakanginya.
7. Herlina Napitupulu ( pr, 22 thn )
8. Kristin Odor ( pr, 22 thn )
Kristin adalah seorang ibu yang menikah muda, beragama Kristen Protestan dan suku bangsa Batak Toba lahir di Jakarta. Ibu 1 orang anak ini sudah lama menetap di kota Medan tepatnya di jalan Karya Wisata perumahan Graha Johor Blok C No.17 Kecamatan Medan Johor. Kristin berlatar pendidikan D3, dia seorang ibu rumah tangga. Suami ibu 1 orang anak ini bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Pulau Nias. Selama berpartisipasi dalam pemilihan umum, dia merasa bahwa suaranya sangat berarti untuk menentukan pemimpin di negara ini. Menggunakan suara kita dalam pemilihan umum merupakan kewajiban kita sebagai warganegara yang menetap pada suatu bangsa. Dia berpendapat mengenai orang-orang yang tidak menggunakan suaranya dalam pemilihan umum atau golongan putih merupakan orang-orang yang tidak peduli akan masa depan bangsa ini. Satu suara dapat menentukan kehidupan bangsa selama 5 tahun ke depan. Dalam pemilihan umum kandidat yang mencalonkan diri banyak, sebagai warganegara yang baik kita harus respon kepada calon-calon pemimpin.
9. B. Malau ( lk, 34 thn )
angka golongan putih semakin bertambah. Menurut bapak ini tingkat partisipasi masyarakat semakin menurun dengan berbagai alasan yang berbeda. Salah satu alasannya, karena saat ini sulit untuk menemukan pemimpin yang benar-benar memperhatikan kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Para pemimpin yang terpilih haruslah benar-benar membela kepentingan rakyat bukan kepentingan kelompok atau pribadi.
10. Masli ( pr, 25 thn )
Masli adalah seorang perempuan berusia 25 tahun, beragama Kristen Protestan dan suku bangsa Batak Toba lahir di P. Siantar dan sudah lama menetap di Medan. Latar belakang pendidikannya S1 dari universitas negeri di Medan.
11. Dahlan Butar-Butar ( lk, 60 thn )
Dahlan Butar-Butar adalah seorang bapak berusia 60 tahun, beragama Islam dan suku bangsa Batak Toba lahir di Porsea dan sudah lama menetap di Medan. Bapak ini mempunyai 6 orang anak yaitu 4 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Dia berlatar belakang pendidikan SMA. Bapak 6 orang anak ini bekerja sebagai pengusaha. Selain sebagai pengusaha, bapak ini juga salah seorang ustad. Dahlan Butar-Butar beralamat di jalan Pasar III P. Bulan kecamatan Medan Baru. Pendapat bapak 6 orang anak ini mengenai fenomena golongan putih adalah orang-orang yang tidak menggunakan hak pilih suaranya dalam pemilihan umum berarti bukan seorang warganegara yang baik. Hal ini harus mendapat perhatian yang serius dari setiap pihak yang berkaitan.
12. Verawati ( pr, 17 thn )
13. Wilson Hutabarat ( lk,60 thn )
menyelenggarakan pemilihan umum atau pesta demokrasi ini bukanlah dengan biaya sedikit melainkan dengan biaya yang banyak.
Profil : Komisi Pemilihan Umum
1. Maskuri Siregar ( lk, 51 thn )
Profil : Partai Politik
1. Budi Darmo. SH ( lk, 35 thn )
Budi darmo adalah seorang laki-laki berusia 35 tahun, beragama Islam Jawa. Dia beralamat di Helvetia kecamatan Medan Helvetia. Budi adalah seorang aktifis sebagai kepala bidang pemberdayaan tenaga kerja dan jaringan intelektual muda Indonesia. Menurut laki-laki berusia 35 tahun ini, golongan putih itu disebabkan karena adanya konspirasi yang erat hubungannya denga DPT atau kesalahan pendataan dari pihak yang berhubungan dengan proses pendataan penduduk khususnya di kota Medan. Selain pihak yang melakukan pendataan kesalahan juga ada pada pihak pelaksanaan pemilihan umum (KPPS). Solusi untuk masalah tersebut menurut dia berada pada individunya, yaitu setiap individu harus mempunyai jiwa patriot atau pahlawan sehingga seseorang melakukan tugas dan tanggung jawab dengan baik.
Profil : Pemerintah
1. Gazali Usman ( lk, 49 thn )
negeri. Bapak ini mengamati tingkat golongan putih semakin tinggi saat pemilihan calon legislatif yaitu berkisar 40 % sedangkan pada pemilihan presiden tingkat golongan putih menurun karena sudah ada peluang KTP dan kartu keluarga sehingga orang yang tidak terdaftar dalam pemilihan tetap dapat menggunakan hak pilih suaranya jika dia memang terdaftar di kartu tanda penduduk pada kelurahan masing-masing. Fenomena golongan putih ini terjadi karena krisis kepercayaan dengan janji-janji yang diberikan oleh para pemimpin, orang yang diidealkan tidak maju sebagai calon pemimpin, dan juga pada saat pemilihan umum calon legislatif pendataan dan administrasinya terburu-buru. Persiapan pada pemilihan calon legislatif hanya 3 bulan, seharusnya persiapan pemilihan umum itu 1 tahun sehingga semuanya sudah dipersiapkan dengan baik.
4.3. Sejarah Pemilihan Umum di Indonesia
Pemilihan umum adalah sebuah alat untuk melakukan pendidikan politik bagi warga negara agar mereka memahami hak dan kewajibannya. Dengan adanya pemilihan umum maka masyarakat dapat mewujudkan aspirasinya yang disalurkan melalui partai politik. Secara umum tujuan pemilihan umum adalah: untuk memungkinkan peralihan pemerintahan secara tertib dan aman, untuk melaksanakan kedaulatan rakyat, dan dalam rangka melaksanakan hak azasi warga negara.
dibandingkan dengan jumlah partai yang ada dan terdaftar di Departemen Kehakiman dan HAM, yakni 141 partai.
4.4. Fenomena Golongan Putih
apabila berkeputusan untuk tidak memilih salah satu dari kontestan yang tersedia pada kertas suara ketika dilakukan pemungutan suara. Apabila cara untuk memilih dilakukan dengan mencoblos logo/foto, maka pemilih tidak mencoblos pada tempat yang sediakan sehingga kartu suara dinyatakan tidak sah. Jika untuk memilih digunakan dengan memberikan coretan atau tanda centang, maka pemilih tidak memberikan tanda centang atau memberikan tanda centang bukan pada tempat yang disediakan sehingga kartu suara menjadi tidak sah. Dari pengertian ini, mereka yang dikatakan mengambil sikap golput atau No Voting Decision tetap hadir dan melakukan proses pemilihan sesuai dengan tata cara yang berlaku.
Golongan putih dalam terminologi ilmu politik seringkali disebut dengan
non-voter. Terminologi ini menunjukan besaran angka yang dihasilkan dari event pemilu
diluar voter turn out. Louis Desipio, Natalie Masuoka dan Christopher Stout (2007) mengkategorikan Non Voter tersebut menjadi tiga ketegori yakni ;
a. Registered Not Voted ; yaitu kalangan warga negara yang memiliki hak pilih
dan telah terdaftar namun tidak menggunakan hak pilih,
b. Citizen not Registered ; yaitu kalangan warga negara yang memiliki hak pilih
namun tidak terdaftar sehingga tidak memiliki hak pilih dan
c. Non Citizen ; mereka yang dianggap bukan warga negara (penduduk suatu daerah) sehingga tidak memiliki hak pilih.
Pemilu dari tahun ke tahun ditandai semakin meningkatnya golongan putih. Tingkat partisipasi masyarakat terhadap pemilihan umum baik pemilihan kepala daerah dan legislatif semakin menurun secara signifikan. Kita lihat saja pada hasil pemilihan umum calon legislatif tahun 2009 yang telah selesai bahwa pemenang pemilihan umum di berbagai daerah adalah golongan putih. Pernyataan diatas dapat kita lihat pada tabel rekapitulasi perhitungan hasil perolehan suara pemilihan calon legislatif tahun 2009 dibawah ini:
Tabel 4.5
Rekapitulasi Perhitungan Hasil Perolehan Suara
Partai Politik dan Calon Anggota DPR
No Wilayah Jumlah Pemilih Terdaftar dalam Daftar Pemilih
Sumber KPU Kota Medan 2009
Dari angka tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa jumlah yang terbesar dalam pemilihan umum hasil perolehan suara partai politik dan calon anggota DPR di kota Medan adalah golongan putih sebesar 978.619 jiwa yang tidak menggunakan hak pilih suaranya.
4.4.1. Fakta Sosial Mempengaruhi Tingkat Partisipasi Masyarakat
Sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial, yakni fakta yang mengandung cara bertindak, berpikir, berperasaan yang berada di luar individu di mana fakta-fakta tersebut memiliki kekuatan untuk mengendalikan individu. Paradigma fakta sosial di ambil dari karya Durkheim The Rules of Sociological
Method (1895) dan Suicide (1897). Fakta sosial bersifat eksternal, umum (general),
dan memaksa (coercion).Fakta sosial mempengaruhi tindakan-tindakan manusia.
Tabel 4.6
Garis Kemiskinan Sumatera Utara dan Nasional Tahun 2007-2008
Daerah Sumatera Utara Nasional
Jumlah ( Ribu jiwa) Persentase Jumlah ( Juta jiwa) Persentase 2007 2008 2007 2008 2007 2008 2007 2008 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Desa 833.0 761.7 14,21 12,85 13,56 12,77 12,52 11,65 Kota 935.4 852.1 13,63 12,29 23,61 22,19 20,37 18,93 Jumlah 1.768.4 1.613.8 27,84 25,14 37,17 34,96 32,89 30,48
Sumber: Data BPS Juli 2008
Tabel 4.7 menunjukkan bahwa jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan di Sumatera Utara pada tahun 2007 sebanyak 1.768.400 orang (27,84 persen terhadap jumlah penduduk seluruhnya), sedangkan jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan di Sumatera Utara pada tahun 2008 sebanyak 1.613.800 artinya masih banyak penduduk di Indonesia yang berada di garis kemiskinan.
Tabel 4.7
Jumlah pengangguran di Indonesia
Tahun Jumlah persentase 1997 4.197.306 4,68 %
1999 6.030.319 6,36% 2001 8.005.031 8,10% 2003 9.530.000 9,35% 2006 10.520.000 10,53% 2008 8.430.000 8,46% Sumber: Data BPS
Tabel 4.8 menunjukkan bahwa jumlah pengangguran dari tahun 1997 sampai tahun 2006 semakin meningkat dimana jumlah pengganguran tahun 1997 sebanyak 4.197.306 yaitu 4,68 % sedangkan jumlah pengganguran di tahun 2006 sebanyak 10.520.000 yaitu 10,53 %. Kenaikan jumlah pengganguran dari tahun 1997 ke 2006 sebesar 5,85 %. Tahun 2008 jumlah penggangguran berkurang hanya sebesar 2,07 % .
Data diatas membuat masyarakat malas dan jenuh terhadap aktivitas politik, karena berpolitik tidak membawa ke arah perbaikan kualitas hidup yang lebih baik secara ekonomi, sosial, maupun politik. Pernyataan diatas sesuai dengan yang diutarakan oleh beberapa informan penelitian:
Diperkuat dengan informan penelitian yang lain :
“Kebanyakan orang-orang berfikir siapapun yang memimpin sama saja, karena kebanyakan hanya menjanjikan tetapi kenyataanya tidak ada. Sehingga orang malas unutk memilih, toh sama saja tidak ada perubahan ( H, pr, 22 tahun ).
Juga diperkuat oleh informan penelitian berikut :
“Di mata masyarakat Parpol semakin tidak mampu membawa perubahan sebagaimana yang dijanjikan.Pendidikan mahal, pelayanan kesehatan yang buruk, beban ekonomi rakyat yang kian berat akibat kenaikan harga-harga kebutuhan pokok terus menjadi persoalan rutin yang dihadapi rakyat. Parpol tidak mampu mendorong terjadinya perubahan ke arah kehidupan yang lebih baik, sehingga rakyat cenderung malas ikut ( R, pr, 35 tahun )
Juga diperkuat oleh informan berikut:
“Orang memilih untuk golongan putih karena mereka gak yakin dengan calon presiden yang akan naik atau mereka berpendapat kalau pemilihan umum tidak akan merubah nasib orang banyak ( G, lk, 55 tahun ).
Di dalam pemilihan umum yang diadakan secara demokratis, masing-masing peserta pemilihan umum atau calon wakil rakyat yang bersaing berusaha merebut hati pemilih melalui janji-janji untuk mensejahterakan rakyat, sekaligus berusaha menciptakan track record yang baik agar bisa tetap terpilih pada pemilihan umum. Dengan demikian,masing-masing peserta pemilihan umum berusaha mengembangkan
promissory representation sekaligus antisipatory representation (Mansbridge 2003)
4.4.2 Rasionalitas Masyarakat dalam Menentukan Pilihan
”Hasil pemilihan umum tidak ada berpengaruh kepada
masyarakat, yang ada hanya dinikmati oleh sekelompok orang saja sehingga rakyat memilih atau tidak sama saja. Masyarakat merasa dimanfaatkan oleh partai politik dengan diiming-imingi janji kampanye melulu ( E, pr, 42 tahun ).
Diperkuat oleh informan berikut :
“Pemilu ada hubungannya dengan ketidakmampuan partai politik memenuhi janji kampanye dan membawa perubahan. Bahkan sebagian masyarakat merasakan bahwa kondisi sosial ekonomi mereka tidak semakin membaik, sehingga untuk apa ikut politik dengan menggunakan haknya sebagai pemilih dalam Pemilu ( W, lk, 60 tahun ).
Juga diperkuat oleh informan berikut:
“Partai-partai politik ketika berkampanye memberikan janji-janji yang berpihak kepada rakyat, janji-janji-janji-janji yang meyakinkan rakyat kalau dia yang pantas untuk dipilih tetapi setelah terpilih mereka lupa dengan janjinya tersebut dan dia hanya mementingkan diri dan kelompoknya saja ( R, pr, 35 tahun ).
4.4.3. Prilaku Sosial Masyarakat dalam Pemilihan Umum
dengan operant condition adalah setiap perilaku yang beroperasi dalam suatu lingkungan dengan cara tertentu, lalu memunculkan akibat atau perubahan dalam lingkungan tersebut. Misalnya, jika kita tersenyum kepada orang lain yang kita hadapi, lalu secara umum, akan menghasilkan senyuman yang datangnya dari orang lain tersebut. Dalam kasus ini, tersenyum kepada orang lain tersebut merupakan
operant behavior. Yang dimaksud dengan reinforcement adalah proses di mana
umum, demonstrasi, diskusi politik, kampanye, pemberian usul menyangkut pembuatan keputusan politik, menyusun rancangan kebijakan publik. Partisipasi dapat ditinjau dari 2 tingkat yaitu: tingkat makro dan tingkat mikro. Analisis tingkat makro adalah analisis mencakup unit sosial luas seperti bangsa, sistem politik dan organisasi. Analisis tingkat mikro adalah analisis mencakup individu dan perilakunya. Partisipasi pada dasarnya adalah tindakan politik yang aktif atau menunjuk pada keterlibatan seseorang pada kegiatan politik yang berhubungan dengan banyak faktor ( Rohman, 2002:62-63 ).
Menurut Ramlan Surbakti, partisipasi seseorang dalam politik tidak sama. Sebagian memiliki tingkat partisipasi politik tinggi sementara sebagian yang lain memiliki tingkat partisipasi politik rendah. Tinggi rendahnya tingkat partisipasi politik individu sangat dipengaruhi oleh 2 hal:
1. Kesadaran politik yaitu kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warganegara.
Pernyataan diatas sesuai dengan yang diutarakan oleh beberapa informan penelitian:
Diperkuat oleh informan penelitian yang lain:
“Orang-orang yang tidak menggunakan hak pilih suaranya dalam pemilihan umum berarti bukan seorang warganegara yang baik. Sebagai warganegara yang baik kita harus taat dan tunduk pada pemerintah salah satunya dengan berpartisipasi pada pemilihan umum ( D, lk, 60 tahun ).
2. Kepercayaan kepada pemerintah atau sistem politik, yaitu penilaian seseorang terhadap pemerintah apakah dianggap dipercaya dan dapat dipengaruhi atau tidak.
Pernyataan diatas sesuai dengan yang diutarakan oleh beberapa informan penelitian:
“Fenomena golongan putih ini terjadi karena krisis kepercayaan dengan janji-janji yang diberikan oleh para pemimpin seperti Pendidikan gratis, kesehatan gratis, dan berbagai program berkaitan dengan kesejahteraan rakyat, tidak pernah diwujudkan. Ketika harga kebutuhan pokok terus merangkak naik, tidak ada satu pun program partai politik yang peduli dengan kian beratnya beban rakyat. Parpol tidak mampu mendorong terjadinya perubahan ke arah kehidupan yang lebih baik, sehingga rakyat cenderung malas ikut pemilihan umum ( W, lk, 60 tahun ).
Diperkuat oleh informan penelitian berikut:
Berdasarkan 2 faktor partisipasi politik diatas yaitu kesadaran politik dan kepercayaan kepada pemerintah. Jeffry M. Paige26 membagi partisipasi politik menjadi 4 yaitu:
1. Partisipasi politik aktif, apabila seseorang memiliki kesadaran poltik dan kepercayaan kepada pemerintah yang tinggi.
2. Partisipasi politik apatis, apabila seseorang memiliki kesadaran politik dan kepercayaan kepada pemerintah yang rendah.
3. Partisipasi politik militan-radikal, apabila seseorang memiliki kesadaran politik tinggi akan tetapi kepercayaan kepada pemerintah rendah.
4. Partisipasi politik pasif, apabila seseoran memiliki kesadaran politik rendah akan tetapi kesadaran kepada pemerintah tinggi ( Rohman, 2002:63-64 ).
menjadi kehendak dan keinginan masyarakat untuk dirumuskan dan disampaikan kepada pembuat kebijakan dalam hal ini pemerintah, sehingga pemerintah dapat mengetahui apa yang sebenarnya yang menjadi keinginan dan kebutuhan masyarakat. Sedangkan agregasi kepentingan adalah sebagai fungsi mengubah atau mengkonversikan tuntutan-tuntutan sampai menjadi alternatif-alternatif kebijakan umum. Partai politik adalah wakil rakyat yang menyuarakan aspirasi dan membela kepentingan rakyat. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, dimana partai tidak ubahnya seperti mesin uang untuk keperluan atau kepentingan kelompok tertentu saja ( Budiyono, 2008:193 ). Dari dulu hingga sekarang menurut penilaian konstituen partai politik hanya peduli pada konstituen jika hanya menjelang pemilihan umum. Setiap kali menjelang pemilihan umum, para elite partai politik banyak memberikan janji-janji manis kepada rakyat, akan tetapi setelah pemilihan umum janji hanya tinggal janji, tidak pernah ditepati. Berikut adalah penuturan informan penelitian :
“Rakyat jenuh dengan sikap partai politik yang tidak membela kepentingan rakyat. Sehingga membuat masyarakat akan malas dan enggan untuk ikut memilih dan mengambil keputusan untuk golput. Masyarakat udah bosan dengan janji-janji manis ketika kampanye, tetapi setelah terpilih mereka lupa dengan janjinya tersebut ( R, pr, 35 tahun ).
Diperkuat oleh informan berikut :
Juga diperkuat oleh informan berikut:
“Ketika berkampanye partai poltik banyak mengumbarkan janji –janji manis salah satunya perekonomian yang semakin membaik jika dia terpilih, tetapi pada kenyataannya ketika orang tersebut sudah terpilih dia lupa dengan janji yang dia ucapkan. Kita lihat aja sekarang makin banyak orang-orang miskin, gelandangan-gelandangan dan pengemis.
Disamping itu, partai juga tidak mempunyai visi dan strategi yang jelas untuk jangka menengah dan panjang. Semakin rendah struktur partai, maka sensitifitas sosial semakin tinggi. Sebaliknya, semakin tinggi struktur partai sensitifitas terhadap kepentingan publik semakin rendah ( Budiyono, 2008 : 193 ). Sehingga dengan struktur partai yang begitu rumit maka partai akan sibuk mengurusi bagian internal partai saja sedangkan bagian eksternal yaitu sebagai wakil rakyat yang berfungsi sebagai artikulasi dan agregasi kepentingan diabaikan. Perilaku politik pada umumnya ditentukan oleh faktor internal dari individu sendiri seperti idealisme, tingkat kecerdasan, kehendak hati dan oleh faktor eksternal (kondisi lingkungan) seperti kehidupan. Salah satu penyebab mengapa seseorang memilih untuk tidak meggunakan hak pilih suaranya disebabkan karena orang yang diidealkan tidak maju sebagai kontestan pemilihan umum. Berikut penuturan informan penelitian:
Diperkuat oleh informan berikut:
“Selain janji palsu, salah satu penyebab mengapa seseorang golput karena calon yang akan dia pilih tidak termasuk atau ikut serta pada pencalonan pemilihan umu ( W, lk, 60 tahun ).
4.4.4. Pengaruh Sistem Terhadap Tingkat Golongan Putih
partai politik adalah sekelompok manusia yang terorganisir secara stabil dengan tujuan merebut dan mempertahankan penguasaan terhadap pemerintahan dan memberikan kepada anggota partainya kemanfaatan yang ideal maupun material. Menurut Gabriel A.Almond dalam Mas’oed (1986:34 ) partai politik mempunyai fungsi input dan output. Fungsi input terbagi atas pendidikan atau sosialisasi politik, artikulasi dan agregasi kepentingan. Sedangkan fungsi outputnya terbagi atas pembuatan peraturan, penerapan peraturan, dan adjudikasi peraturan.
4.4.4.1. Komisi Pemilihan Umum
Komisi pemilihan umum Kota Medan terbentuk pada tanggal 24 Juni 2004 dengan diadakannya pelantikan di aula Martabe kantor Gubernur Sumatera Utara, setelah melalui uji verifikasi administrasi dan kepatutan/kelayakan oleh komisi pemilihan umum provinsi. Dalam menyiapkan dan menyelenggarakan pemilihan umum tahun 2004, berdasarkan surat Menteri Dalam Negeri No. 903/678/SJ perihal dukungan APBD untuk fasilitasi penyelenggara pemilihan umum 2004, tahun pelaksanaan 2003 dimana Gubernur/Bupati/Walikota diinstruksikan untuk menyediakan personil yang berkualitas untuk diperbantukan pada sekretariat komisi pemilihan umum kota Medan dibantu oleh sekretariat komisi pemilihan umum kota Medan, yang berasal dari pegawai negeri sipil dilingkungan pemerintah kota Medan. Selain itu komisi pemilihan umum kota Medan juga merekrut tenaga honorer.
kabupaten/kota pasal 185 menjelaskan bahwa sekretariat komisi pemilihan umum kabupaten/kota, daftar nama-nama staf sekretariat komisi pemilihan umu kota Medan terlampir yang terdiri dari:
Subbag Program
Subbag Teknis Penyelenggaraan
Subbag Hukum dan Hubungan Masyarakat Subbag Umum
4.4.4.2. Peran Komisi Pemilihan Umum
Sosialisasi Pemilihan Umum
Penyelenggaraan pemilihan umum di kota Medan yang merupakan agenda nasional sebagaimana termaktub dalam UUD 1945 hasil amandemen selanjutnya di derivasi dalam UU No.12 tahun 2003 serta keputusan komisi pemilihan umum penyelenggaraan pemilihan umum anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota tahun 2004. pada konteks suksesnya penyelenggaraan pemilihan umum tersebut salah satu indikator keberhasilan adalah sosialisasi pemilihan umum. Namun tingkat keberhasilan sosialisasi pemilihan umum tersebut sangat ditentukan oleh 2 faktor yakni faktor kualitas dan kuantitas.
Adapun keberhasilan sosialisasi secara kualitas dan kuantitas adalah sebagai berikut:
1. Faktor kualitas sosialisasi
Tingkat kesalahan aparatur dalam penyelenggaraan pemilihan umum kecil sehingga tidak mempengaruhi terhadap terhambatnya tahapan pemilihan umum.
Secara praktis tingkat kesalahan masyarakat dalam mencontreng kertas suara kecil.
2. Faktor kuantitas sosialisasi
Semakin banyaknya elemen sosial politik berpartisipasi untuk mensukseskan pemilihan umum sebagai agenda nasional.
Secara praktis jumlah pemilihan umum yang menggunakan hak pilihnya semakin tinggi.
Komisi pemilihan umum kota Medan menyadari bahwa pemilihan umum merupakan salah satu tolak ukur terpenting suksesnya pemilihan umum baik secara kualitas dan kuantitas maka melakukan berbagai kegiatan sosialisasi melalui:
1. Media massa dan media elektronik
2. Melalui eksplosur (Baliho, Spanduk, Poster, Buku, Stiker, Leatflet) 3. Audiensi-audiensi dengan muspida kota Medan.
4. Pembicara dan fasilitator dalam forum-forun yang digagas pemerintah kota, partai politik, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, organisasi wartawan, organisasi paguyuban. Melakukan pendidikan pemilih (pemula dan orang cacat).
5. Melakukan rakernis untuk PPK (Panitia Pemilihan Kecamatan), PPS (Panitia Pemungutan Suara).
Adapun sosialisasi tersebut diatas adalah sosialisasi tentang Undang-Undang pemilihan umum dan yang paling difokuskan adalah bagaimana format bagaimana format TPS (Tempat Pemungutan Suara) serta tata cara pencontrengan tanda gambar di TPS-TPS. Sasaran yang dituju:
1. Bahwa sosialisasi tahapan pemilihan umum di kota Medan bertitik fokus kepada pemilih yang berada di seluruh kota Medan, hal ini dikarenakan pemilihan umum adalah pemilihan umum yang baru sehingga seluruh pemilih di Kota Medan termasuk penyelenggara pemilihan umumnya menjadi pemilih pemula.
2. Bahwa sosialisasi tahapan pemilihan umum bertujuan suksesnya penyelenggarakan pemilihan umum baik secara kualitas maupun kuantitas sehingga pemilihan umum dapat melahirkan pemimpin bangsa yang legitimate, akuntabel dan mendapatkan dukungan dari rakyat.
Dalam rangka pencapaian tujuan tersebut komisi pemilihan umum kota Medan melakukan kegiatan-kegiatan kerjasama yaitu:
Kerjasama Komisi Pemilihan Umum dengan pemerintah.
2. Komisi Pemilihan Umum kota Medan diundang dalam dengar pendapat oleh DPRD kota Medan diundang dalam rangka sosialisasi tahapan-tahapan pemilihan umum di kota Medan.
3. Komisi Pemilihan Umum kota Medan dengan Pemerintah kota Medan yaitu Kesbanglinmas kota Medan melaksanakan sosialisasi Undang-Undang pemilihan umu kepada aparatur pemerintahan ditingkat kecamatan dan tingkat kelurahan.
4. Komisi Pemilihan Umum kota Medan melakukan kerjasama dengan BPS (Biro Pusat Statistik) kota Medan dalam rangka mendapatkan jumlah pemilih sementara dan tetap di kota Medan.
5. Komisi Pemilihan Umum kota Medan melakukan kerjasama denga Dinas Pendidikan kota Medan dalam rangka memajangkan poster dan stiker pemilihan umum di SMU sekota Medan.
6. Komisi Pemilihan Umum kota Medan bekerjasama dengan Infokom kota Medan dalam rangka mensosialisasikan tahapan pemilihan umum kepada masyarakat.
7. Kerjasama Komisi Pemilihan Umum kota Medan dengan pemerintah kota Medan dalam kerangka kesiapan untuk distribusi logistik, pembuatan TPS, menghimbau masyarakat untuk hadir disetiap kelurahan pada TPS-TPS pada hari pemungutan suara dan pengamanan di TPS.
9. Komisi Pemilihan Umum kota Medan dan Poltabes Medan melakukan sosialisasi pemilihan umum kepada ibu Dharma Wanita, purnawirawan polisi dan keluarga polisi yang dilaksanakan di aula Poltabes Medan dan diklat polisi Sampali Medan.
10.Kerjasama Komisi Pemilihan kota Medan dengan Poltabes Medan dimana Komisi Pemilihan Umum kota Medan sebagai narasumber tentang topik pemilihan umum kepada Linmas sekota Medan yang dilaksanakan di diklat Polri di Sampali.
11.Komisi Pemilihan Umum kota Medan dan Kodim 02 01 BS Medan melakukan sosialisasi kepada ibu Kartika Candra Kirana, purnawirawan TNI dan keluarga TNI di Aula Kodim 02 01 BS.
12.Kerjasama Komisi Pemilihan Umum kota Medan dengan Kodim dimana Komisi Pemilihan Umum kota Medan sebagai nara sumber tentang pemilihan umum sekota Medan yang dilaksanakan di Aula Makodim 02 01 BS.
Kerjasama Komisi Pemilihan Umum dengan Elemen Sosial Politik Partai Politik
a. Partai politik dan Komisi Pemilihan Umum kota Medann melakukan sosialisasi undang-undang pemilihan umum, format TPS dan tata cara pemilihan kepada konstituen partai politik.
c. Komisi Pemilihan Umum kota Medan bersama partai politik melakukan kesepakatan untuk pemilihan umum damai dan sukses di kota Medan.
d. Komisi Pemilihan Umum kota Medan melakukan pertemuan dengan partai politik dalam rangka kampanye damai.
Organisasi Masyarakat
a. Komisi Pemilihan Umum kota Medan bersama organisasi masyarakat kota Medan melakukan sosialisasi UU pemilihan umum, format TPS dan tata cara mencoblos kepada anggota oarganisasi masyarakat.
b. Komisi Pemilihan Umum kota Medan melakukan pertemuan dengan organisasi masyarakat keagamaan untuk mensosialisasikan pemilihan umum damai di setiap keagamaan.
c. Komisi pemilihan umum kota Medan melakukan pertemuan dengan organisasi masyarakat kepemudaan yang di fasilitasi oleh pemerintah kota Medan untuk memwujudkan pemilihan umum yang aman dan damia, khususnya kampanye, komisi pemilihan umum kota Medan mensosialisasikan kepada organisasi masyarakat kepemudaan untuk tidak memakai atribut organisasi masyarakat yang bernuansa tentara agar tidak ada benturan antara organisasi masyarakat kepemudaan yang sering terjadi.
d. Komisi pemilihan umum kota Medan membagikan brosur, CD film sosialisasi pemilihan umum kepada organisasi masyarakat.
f. Komisi pemilihan umum kota Medan sebagai narasumber dalam sosialisasi UU No. 12 tahun 2003 tentang pemilihan umum dimana kegiatan ini dilaksanakan oleh organisasi masyarakat keagamaan di kota Medan.
Lembaga Swadaya Masyarakat
a. Komisi pemilihan umum kota Medan memfasilitasi kegiatan-kegiatan lembaga swadaya masyarakat dalam kerangka pemdidikan pemilih yang merrupakan dasar antara komisi pemilihan umum terhadap lembaga swadaya masyarakat yang diluara dasar komisi pemilihan umum.
b. Komisi pemilihan umum sebagai narasumber maupun fasilitator dalam kegiatan lembaga swadaya masyarakat tersebut yang berkaitan sosialisasi pemilihan umum terhadap masyarakat.
Pers
a. Komisi pemilihan umum kota Medan bersama pers untuk memberikan kepada masyarakat dalam rangka sosialisasi pemilihan umum dalam hal pemberitaan. b. Komisi pemilihan umum kota Medan melakukan sosialisasi pemilihan umum
dimana pesertanya adalah insan pers.
c. Komisi pemilihan umum sebagai narasumber talk show di media-media elektronik.
Sosialisasi Komisi Pemilihan Umum kepada Masyarakat
dibentuk olehh PPK, PPS dan dan bekerjasama dengan perangkat yang ada di kecamatan dan kelurahan.
b. Komisi pemilihan umum kota Medan bersama PPK dan PPS menyampaikan eksplosur (poster, leflet, stiker, spanduk, dan baliho) unutk ditempelkan dan dipampangkan di tempat-tempat yang strategis di setiap kecamatan, kelurahan, dan lingkungan.
c. Komisi pemilihan umum kota Medan mensosialisasikann melalui media cetak dan elektronik setiap tahapan-tahapan pemilihan umum kepada masyarakat Medan.
d. Komisi pemilihan umum kota Medan melakukan sosialisasi pemilihan umum terhadap pemilih pemula di kota Medan dimana difasilitasi oleh Dinas Pendidikan kota Medan.
Kesalahan politis ini berkaitan dengan partai politik dimana kurang sosialisasi yang bermaksud para politisi atau partai politik dengan para pemilih lebih dekat. Dengan demikian, di dalam melakukan penilaian, para pemilih demikian tidak hanya mengandalkan informasi yang didapat dari media massa dan elektronika, melainkan dari pengamatannya secara lebih dekat. Berikut penuturan informan penelitian:
”Golongan putih semakin meningkat disebabkan masyarakat bingung untuk memilih pemimpin yang begitu banyak seperti pada pemilihan calon legislatif, sedangkan sosialisasinya minim. Tidak mungkin rakyat memilih pemimpin yang tidak dikenal, sehingga membuat masyarakat malas untuk memilih (
M, 25, tahun ).
Diperkuat oleh informan berikut:
”Saya sangat kebingungan untuk memilih calon legislatif yang kan menjadi anggota DPR maupun DPRD, membuat saya memilih calon legislatif dari fisik dan suku bangsa. Saya juga tidak mengenal orang-orang yang ada di kertas pemilihan umum.Sistem pemilihan umum yang sangat sulit dan membingungkan seperti ini menjadi alasan yang mendukung masyarakat terutama kaum perempuan seperti saya yang sangat sedikit pengetahuan politiknya untuk memilih menjadi kelompok golongan putih ( V, pr, 29 tahun ).
Juga diperkuat oleh informan berikut:
Juga diperkuat oleh informan berikut: