Kajian Keanekaragaman Jenis Burung di Berbagai Tipe Lanskap Hutan Tanaman Pinus

102  19  Download (3)

Teks penuh

(1)

KAJIAN KEANEKARAGAMAN JENIS BURUNG

DI BERBAGAI TIPE LANSKAP HUTAN TANAMAN PINUS

(Studi Kasus : Daerah Aliran Sungai Ciliwung Hulu)

TIARA SUKRA DEWI

E 34101056

DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)

KAJIAN KEANEKARAGAMAN JENIS BURUNG

DI BERBAGAI TIPE LANSKAP HUTAN TANAMAN PINUS

(Studi Kasus : Daerah Aliran Sungai Ciliwung Hulu)

TIARA SUKRA DEWI

E 34101056

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada

Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata

DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(3)

Judul Skripsi : Kajian Keanekaragaman Jenis Burung di Berbagai Tipe Lanskap Hutan Tanaman Pinus (Studi Kasus : Daerah Aliran Sungai Ciliwung Hulu).

Nama : Tiara Sukra Dewi

NRP : E 34101056

Departemen : Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata

Menyetujui, Komisi Pembimbing

Ketua Anggota

Dr. Ir Lilik Budi Prasetyo, M.Sc Ir. Jarwadi Budi Hernowo, M.ScF

131760841 131685543

Mengetahui, Dekan Fakultas Kehutanan

Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, MS 131430799

(4)

ABSTRAK

TIARA SUKRA DEWI. Kajian Keanekaragaman Jenis Burung di Berbagai Tipe

Lanskap Hutan Tanaman Pinus (Studi Kasus : Daerah Aliran Sungai Ciliwung Hulu). Dibimbing oleh LILIK BUDI PRASETYO dan JARWADI BUDI HERNOWO.

Burung merupakan satwaliar yang memiliki kemampuan hid up di hampir semua tipe habitat. Salah satu tipe ekosistem yang digunakan oleh burung adalah hutan tanaman pinus. Sehingga hutan tanaman diharapkan memiliki kemampuan untuk menampung keanekaragaman jenis burung. Kemampuan adaptasi burung terhadap hutan tanaman diduga dipengaruhi oleh beberapa faktor lanskap. Pengaruh dari faktor-faktor lanskap tersebut dapat dianalisis dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis burung (termasuk jenis penting) di areal hutan tanaman pinus yang dipengaruhi oleh faktor -faktor lanskap.

Penelitian dilakukan pada hutan tanaman Pinus di Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung Hulu dan Laboratorium Analisis Lingkungan dan Pemodelan Spasial Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, IPB. Bahan yang digunakan adalah burung, citra Ikonos tahun 2003 dan peta rupa bumi skala 1 : 25.000. Alat yang digunakan antara lain alat tulis, kamera, Global Positioning System (GPS), binokuler, buku panduan pengenalan jenis burung, pencatat waktu, pita ukur, kompas serta tape recorder dan kaset. Pengambilan data burung di lapangan dilakukan inventarisasi dengan menggunakan metode IPA (Indices Ponctuels d’Abondence). Dalam metode ini, pengamat berhenti pada suatu titik pada hutan pinus, dan menghitung semua burung yang terdeteksi selama selang waktu 20 menit. Pengamatan dimulai pada pagi hari pukul 06.00 - 09.00 WIB. Pada setiap lokasi pengamatan di buat 6 titik pengamatan dan jarak antar titik adalah 200 m dengan pengulangan sebanyak 5 kali setiap lokasi.

(5)

Hasil pengamatan yang dilakukan di 4 lokasi dapat dijumpai sebanyak 35 jenis burung yang termasuk ke dalam 19 famili. Pada lokasi A dan B ditemukan sebanyak 16 jenis burung. Pada lokasi C ditemukan jenis paling banyak yaitu 27 jenis dan lokasi D dapat dijumpai sebanyak 22 jenis burung. Indeks keanekaragaman di lokasi A yaitu 2,13; lokasi B 2,33;lokasi C 2,98 dan di lokasi D 2,47. Tingginya keane karagaman jenis burung di lokasi C diduga karena adanya pengaruh dari faktor lanskap seperi bentuk patch, luas patch dan jarak lokasi pengamatan ke hutan alam. Lokasi C merupakan areal lanskap yang paling luas yaitu 294,82 ha. Bentuk lanskap yang memanjang dengan nilai Total Edge yaitu 169942,54 m. Jarak ke hutan alam diduga juga berpengaruh terhadap keanekaragaman jenis burung pada lokasi C yaitu 1100 m.

Pada lokasi penelitian dijumpai 6 jenis burung dilindungi yaitu Cekakak Jawa (Halcyon cyanoventris), Cekakak sungai (Todirhampus chloris), Tepus pipi-perak (Stachyris melanothorax), Burung-madu sriganti (Nectarinia jugularis), Raja-udang meninting (Alcedo meninting) dan Burung-madu kelapa (Anthreptes malacensis). Jenis burung endemik di Jawa dapat dijumpai sebanyak 3 jenis yaitu Ceka kak Jawa (Halcyon cyanoventris), Tepus pipi-perak (Stachyris melanothorax) dan Cinenen pisang (Orthotomus sutorius).

Pada lokasi penelitian dijumpai beberapa jenis burung yang dominan yaitu Kacamata gunung (Zosterops montanus), Walet linci (Collocalia linchi), Perenjak Jawa (Prinia familiaris), Tepus pipi-perak (Stachyris melanotorax), Cinenen Jawa (Ortothomus sepium), Layang-layang batu (Hirundo tahitica), Gelatik-batu kelabu (Parus major), dan Kacamata biasa (Zosterops palpebrosus).

(6)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia -Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini berjudul “ Kajian Keanekaragaman Jenis Burung di Berbagai Tipe Lanskap Hutan Tanaman Pinus (Studi Kasus : Daerah Aliran Sungai Ciliwung Hulu)”.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini, antara lain :

1. Dr. Ir. Lilik Budi Prasetyo M.Sc dan Ir. Jarwadi Budi Hernowo MSc.F sebagai pembimbing yang telah banyak memberikan masukan dan arahan selama penulis menyelesaikan skripsi ini.

2. Ir. M. Chamim Mashar, MM dan Ir. Deded Sarip Nawawi, M.Sc sebagai dosen penguji dari Departemen Manajemen Hutan dan Departemen Hasil Hutan.

3. Ayah, Ibu, Uda Al, Deded, Yayat, Muhdian Prasetya Darmawan dan keluarga besar di Pasaman yang telah banyak membantu penulis dalam hal materiil, moril dan terutama atas doa-doanya.

4. Semua keluarga di Sukagalih, Safari dan Tugu atas kesediaannya membantu penulis selama berada di lapangan.

5. Keluarga Marhamah atas canda dan tawanya terutama atas nasihat dan tausiyahnya yang dapat membangkitkan semangat.

6. Keluarga besar KSH Ceria ’38 yang telah menemani hari-hari penulis selama menjalani perkuliahan di kampus Fahutan yang ASIK.

7. Teman-teman seperjuangan di Lab Spatial Database and Analysis Facilities (SDAF) atas semua bantuan, semangat dan canda tawanya.

Bogor, November 2005

(7)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Sukamenanti pada tanggal 9 Januari 1983 dari ayah Sukarman, SP dan ibu Rasinah. Penulis merupakan putri kedua dari empat bersaudara.

Penulis menempuh pendidikan menengah atas di SMUN 1 Pasaman sampai pada tahun ajaran 1998/1999. Pada tahun ajaran 1999/2000 penulis melanjutkan pendidikan menengah atas di SMUN 5 Bogor dan lulus pada tahun 2001. Pada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB pada Program Studi Konservasi Sumberdaya Hutan, Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan.

Selama mengikuti perkuliahan, penulis pernah menjadi pengurus DKM Ibadurrahman (2001/2002) bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia. Selama menjalani perkuliahan, penulis menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan (Himakova). Pada bulan Juni 2004 penulis mengikuti Praktek Pengenalan Hutan di Cagar Alam Leuweung Sancang dan Cagar Alam serta Taman Wisata Alam Kamojang. Penulis juga melakukan Praktek Pengelolaan Hutan pada bulan Juli-Agustus 2004 di Perum Perhutani Unit III Jawa Barat, KPH Kuningan. Kemudian pada bulan Februari-April 2005 penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapang Profesi Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan, penulis melakukan penelitian dan menyusun karya ilmiah dengan judul ”Kajian Keanekaragaman Jenis Burung di Berbagai Tipe Lanskap Hutan Tanaman Pinus (Studi Kasus : Daerah Aliran Sungai Ciliwung Hulu)” di bimbing oleh:

Dr. Ir. Lilik Budi Prasetyo, M.Sc dan Ir. Jarwadi Budi Hernowo, MSc.F.

Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna, karena itu kritik dan saran sangat pe nulis harapkan sebagai masukan yang berharga untuk menyempurnakannya. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

(8)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Burung merupakan satwaliar yang memiliki kemampuan hidup di hampir semua tipe habitat, dari kutub sampai gurun, dari hutan kornifer sampai hutan tropis, dari sungai, rawa-rawa sampai lautan. Burung mempunyai mobilitas yang tinggi dan kemampuan beradaptasi terhadap berbagai tipe habitat yang luas (Welty 1982). Salah satu tipe ekosistem yang digunakan oleh burung adalah hutan tanaman (Alikodra 2002) yang merupakan bentuk habitat baru yang berbeda dengan kondisi sebelumnya. Hutan tanaman hanya berupa tegakan vegetasi tanaman sejenis (monokultur), dan adanya dominasi campur tangan manusia di dalamnya menyebabkan keadaan tingkat keragaman jenis yang rendah dan ketidakseimbangan keadaan faktor-faktor lingkungan di hutan tanaman (Djunaidah 1994). Berbeda dengan hutan alam yang terdiri atas berbagai jenis vegetasi dan strata sehingga hutan alam memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi. Hutan tanaman merupakan salah satu kawasan budidaya yang umumnya memiliki keanekaragaman yang rendah dan seragam (Gani 1993).

Burung adalah bagian dari keanekaragaman hayati yang harus dijaga kelestariaannya dari kepunahan maupun penurunan keanekaragaman jenisnya. Burung memiliki banyak manfaat dan fungsi bagi manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Manfaat dan fungsi burung secara garis besar dapat digolongkan dalam nilai budaya, estetik, ekologis, ilmu pengetahuan dan ekonomis (Yuda 1995). Alikodra (2002) dan Ontario et al. (1990) menambahkan bahwa burung memiliki peranan penting dari segi penelitian, pendidikan, dan untuk kepentingan rekreasi dan pariwisata.

(9)

burung semakin berkurang dengan bertambahnya kegiatan yang dilakukan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kegiatan-kegiatan tersebut dapat menyebabkan kepunahan yang melampaui tingkat pengembaliannya (Primack et al. 1998).

Selama ini konservasi burung di Indonesia masih terpusat pada kawasan-kawasan konservasi yang ditetapkan pemerintah, seperti di dalam cagar alam, suaka margasatwa dan taman nasional. Namun demikian, terdapat burung-burung yang hidup di luar kawasan konservasi seperti hutan tanaman, perkebunan, pemukiman, areal persawahan dan lainnya. Dari faktor tersebut perlu dikaji peranan hutan tanaman terhadap pelestarian burung terutama kemampuan untuk menampung keanekaragaman jenis burung. Perhatian terhadap konservasi burung tidak hanya semata -mata tertuju pada habitat-habitat alam, sebab pengurangan jenis tidak hanya akan terjadi di dalam habitat alam saja tetapi juga di luar habitat alaminya seperti di hutan tanaman.

Pada masa yang akan datang diperkirakan luas hutan tanaman akan semakin bertambah dan konversi hutan ala m meningkat sehingga hutan alam mengalami kerusakan dan pengurangan luasannya. Oleh karena itu pengelolaan pada hutan tanaman perlu diperhatikan, agar kelestarian burung tetap terjaga. Perubahan dan penurunan jenis burung pada akhirnya menyebabkan terja dinya kepunahan secara lokal terhadap berbagai jenis burung. Oleh karena itu hutan tanaman diharapkan memiliki kemampuan untuk menampung keanekaragaman jenis burung. Walaupun tingkat keanekaragaman burung pada hutan tanaman lebih rendah dari pada hutan alam (Fraser 1995).

(10)

Tujuan Penelitian

(11)

KAJIAN KEANEKARAGAMAN JENIS BURUNG

DI BERBAGAI TIPE LANSKAP HUTAN TANAMAN PINUS

(Studi Kasus : Daerah Aliran Sungai Ciliwung Hulu)

TIARA SUKRA DEWI

E 34101056

DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(12)

KAJIAN KEANEKARAGAMAN JENIS BURUNG

DI BERBAGAI TIPE LANSKAP HUTAN TANAMAN PINUS

(Studi Kasus : Daerah Aliran Sungai Ciliwung Hulu)

TIARA SUKRA DEWI

E 34101056

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada

Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata

DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(13)

Judul Skripsi : Kajian Keanekaragaman Jenis Burung di Berbagai Tipe Lanskap Hutan Tanaman Pinus (Studi Kasus : Daerah Aliran Sungai Ciliwung Hulu).

Nama : Tiara Sukra Dewi

NRP : E 34101056

Departemen : Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata

Menyetujui, Komisi Pembimbing

Ketua Anggota

Dr. Ir Lilik Budi Prasetyo, M.Sc Ir. Jarwadi Budi Hernowo, M.ScF

131760841 131685543

Mengetahui, Dekan Fakultas Kehutanan

Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, MS 131430799

(14)

ABSTRAK

TIARA SUKRA DEWI. Kajian Keanekaragaman Jenis Burung di Berbagai Tipe

Lanskap Hutan Tanaman Pinus (Studi Kasus : Daerah Aliran Sungai Ciliwung Hulu). Dibimbing oleh LILIK BUDI PRASETYO dan JARWADI BUDI HERNOWO.

Burung merupakan satwaliar yang memiliki kemampuan hid up di hampir semua tipe habitat. Salah satu tipe ekosistem yang digunakan oleh burung adalah hutan tanaman pinus. Sehingga hutan tanaman diharapkan memiliki kemampuan untuk menampung keanekaragaman jenis burung. Kemampuan adaptasi burung terhadap hutan tanaman diduga dipengaruhi oleh beberapa faktor lanskap. Pengaruh dari faktor-faktor lanskap tersebut dapat dianalisis dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis burung (termasuk jenis penting) di areal hutan tanaman pinus yang dipengaruhi oleh faktor -faktor lanskap.

Penelitian dilakukan pada hutan tanaman Pinus di Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung Hulu dan Laboratorium Analisis Lingkungan dan Pemodelan Spasial Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, IPB. Bahan yang digunakan adalah burung, citra Ikonos tahun 2003 dan peta rupa bumi skala 1 : 25.000. Alat yang digunakan antara lain alat tulis, kamera, Global Positioning System (GPS), binokuler, buku panduan pengenalan jenis burung, pencatat waktu, pita ukur, kompas serta tape recorder dan kaset. Pengambilan data burung di lapangan dilakukan inventarisasi dengan menggunakan metode IPA (Indices Ponctuels d’Abondence). Dalam metode ini, pengamat berhenti pada suatu titik pada hutan pinus, dan menghitung semua burung yang terdeteksi selama selang waktu 20 menit. Pengamatan dimulai pada pagi hari pukul 06.00 - 09.00 WIB. Pada setiap lokasi pengamatan di buat 6 titik pengamatan dan jarak antar titik adalah 200 m dengan pengulangan sebanyak 5 kali setiap lokasi.

(15)

Hasil pengamatan yang dilakukan di 4 lokasi dapat dijumpai sebanyak 35 jenis burung yang termasuk ke dalam 19 famili. Pada lokasi A dan B ditemukan sebanyak 16 jenis burung. Pada lokasi C ditemukan jenis paling banyak yaitu 27 jenis dan lokasi D dapat dijumpai sebanyak 22 jenis burung. Indeks keanekaragaman di lokasi A yaitu 2,13; lokasi B 2,33;lokasi C 2,98 dan di lokasi D 2,47. Tingginya keane karagaman jenis burung di lokasi C diduga karena adanya pengaruh dari faktor lanskap seperi bentuk patch, luas patch dan jarak lokasi pengamatan ke hutan alam. Lokasi C merupakan areal lanskap yang paling luas yaitu 294,82 ha. Bentuk lanskap yang memanjang dengan nilai Total Edge yaitu 169942,54 m. Jarak ke hutan alam diduga juga berpengaruh terhadap keanekaragaman jenis burung pada lokasi C yaitu 1100 m.

Pada lokasi penelitian dijumpai 6 jenis burung dilindungi yaitu Cekakak Jawa (Halcyon cyanoventris), Cekakak sungai (Todirhampus chloris), Tepus pipi-perak (Stachyris melanothorax), Burung-madu sriganti (Nectarinia jugularis), Raja-udang meninting (Alcedo meninting) dan Burung-madu kelapa (Anthreptes malacensis). Jenis burung endemik di Jawa dapat dijumpai sebanyak 3 jenis yaitu Ceka kak Jawa (Halcyon cyanoventris), Tepus pipi-perak (Stachyris melanothorax) dan Cinenen pisang (Orthotomus sutorius).

Pada lokasi penelitian dijumpai beberapa jenis burung yang dominan yaitu Kacamata gunung (Zosterops montanus), Walet linci (Collocalia linchi), Perenjak Jawa (Prinia familiaris), Tepus pipi-perak (Stachyris melanotorax), Cinenen Jawa (Ortothomus sepium), Layang-layang batu (Hirundo tahitica), Gelatik-batu kelabu (Parus major), dan Kacamata biasa (Zosterops palpebrosus).

(16)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia -Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini berjudul “ Kajian Keanekaragaman Jenis Burung di Berbagai Tipe Lanskap Hutan Tanaman Pinus (Studi Kasus : Daerah Aliran Sungai Ciliwung Hulu)”.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini, antara lain :

1. Dr. Ir. Lilik Budi Prasetyo M.Sc dan Ir. Jarwadi Budi Hernowo MSc.F sebagai pembimbing yang telah banyak memberikan masukan dan arahan selama penulis menyelesaikan skripsi ini.

2. Ir. M. Chamim Mashar, MM dan Ir. Deded Sarip Nawawi, M.Sc sebagai dosen penguji dari Departemen Manajemen Hutan dan Departemen Hasil Hutan.

3. Ayah, Ibu, Uda Al, Deded, Yayat, Muhdian Prasetya Darmawan dan keluarga besar di Pasaman yang telah banyak membantu penulis dalam hal materiil, moril dan terutama atas doa-doanya.

4. Semua keluarga di Sukagalih, Safari dan Tugu atas kesediaannya membantu penulis selama berada di lapangan.

5. Keluarga Marhamah atas canda dan tawanya terutama atas nasihat dan tausiyahnya yang dapat membangkitkan semangat.

6. Keluarga besar KSH Ceria ’38 yang telah menemani hari-hari penulis selama menjalani perkuliahan di kampus Fahutan yang ASIK.

7. Teman-teman seperjuangan di Lab Spatial Database and Analysis Facilities (SDAF) atas semua bantuan, semangat dan canda tawanya.

Bogor, November 2005

(17)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Sukamenanti pada tanggal 9 Januari 1983 dari ayah Sukarman, SP dan ibu Rasinah. Penulis merupakan putri kedua dari empat bersaudara.

Penulis menempuh pendidikan menengah atas di SMUN 1 Pasaman sampai pada tahun ajaran 1998/1999. Pada tahun ajaran 1999/2000 penulis melanjutkan pendidikan menengah atas di SMUN 5 Bogor dan lulus pada tahun 2001. Pada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB pada Program Studi Konservasi Sumberdaya Hutan, Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan.

Selama mengikuti perkuliahan, penulis pernah menjadi pengurus DKM Ibadurrahman (2001/2002) bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia. Selama menjalani perkuliahan, penulis menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan (Himakova). Pada bulan Juni 2004 penulis mengikuti Praktek Pengenalan Hutan di Cagar Alam Leuweung Sancang dan Cagar Alam serta Taman Wisata Alam Kamojang. Penulis juga melakukan Praktek Pengelolaan Hutan pada bulan Juli-Agustus 2004 di Perum Perhutani Unit III Jawa Barat, KPH Kuningan. Kemudian pada bulan Februari-April 2005 penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapang Profesi Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan, penulis melakukan penelitian dan menyusun karya ilmiah dengan judul ”Kajian Keanekaragaman Jenis Burung di Berbagai Tipe Lanskap Hutan Tanaman Pinus (Studi Kasus : Daerah Aliran Sungai Ciliwung Hulu)” di bimbing oleh:

Dr. Ir. Lilik Budi Prasetyo, M.Sc dan Ir. Jarwadi Budi Hernowo, MSc.F.

Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna, karena itu kritik dan saran sangat pe nulis harapkan sebagai masukan yang berharga untuk menyempurnakannya. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

(18)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Burung merupakan satwaliar yang memiliki kemampuan hidup di hampir semua tipe habitat, dari kutub sampai gurun, dari hutan kornifer sampai hutan tropis, dari sungai, rawa-rawa sampai lautan. Burung mempunyai mobilitas yang tinggi dan kemampuan beradaptasi terhadap berbagai tipe habitat yang luas (Welty 1982). Salah satu tipe ekosistem yang digunakan oleh burung adalah hutan tanaman (Alikodra 2002) yang merupakan bentuk habitat baru yang berbeda dengan kondisi sebelumnya. Hutan tanaman hanya berupa tegakan vegetasi tanaman sejenis (monokultur), dan adanya dominasi campur tangan manusia di dalamnya menyebabkan keadaan tingkat keragaman jenis yang rendah dan ketidakseimbangan keadaan faktor-faktor lingkungan di hutan tanaman (Djunaidah 1994). Berbeda dengan hutan alam yang terdiri atas berbagai jenis vegetasi dan strata sehingga hutan alam memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi. Hutan tanaman merupakan salah satu kawasan budidaya yang umumnya memiliki keanekaragaman yang rendah dan seragam (Gani 1993).

Burung adalah bagian dari keanekaragaman hayati yang harus dijaga kelestariaannya dari kepunahan maupun penurunan keanekaragaman jenisnya. Burung memiliki banyak manfaat dan fungsi bagi manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Manfaat dan fungsi burung secara garis besar dapat digolongkan dalam nilai budaya, estetik, ekologis, ilmu pengetahuan dan ekonomis (Yuda 1995). Alikodra (2002) dan Ontario et al. (1990) menambahkan bahwa burung memiliki peranan penting dari segi penelitian, pendidikan, dan untuk kepentingan rekreasi dan pariwisata.

(19)

burung semakin berkurang dengan bertambahnya kegiatan yang dilakukan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kegiatan-kegiatan tersebut dapat menyebabkan kepunahan yang melampaui tingkat pengembaliannya (Primack et al. 1998).

Selama ini konservasi burung di Indonesia masih terpusat pada kawasan-kawasan konservasi yang ditetapkan pemerintah, seperti di dalam cagar alam, suaka margasatwa dan taman nasional. Namun demikian, terdapat burung-burung yang hidup di luar kawasan konservasi seperti hutan tanaman, perkebunan, pemukiman, areal persawahan dan lainnya. Dari faktor tersebut perlu dikaji peranan hutan tanaman terhadap pelestarian burung terutama kemampuan untuk menampung keanekaragaman jenis burung. Perhatian terhadap konservasi burung tidak hanya semata -mata tertuju pada habitat-habitat alam, sebab pengurangan jenis tidak hanya akan terjadi di dalam habitat alam saja tetapi juga di luar habitat alaminya seperti di hutan tanaman.

Pada masa yang akan datang diperkirakan luas hutan tanaman akan semakin bertambah dan konversi hutan ala m meningkat sehingga hutan alam mengalami kerusakan dan pengurangan luasannya. Oleh karena itu pengelolaan pada hutan tanaman perlu diperhatikan, agar kelestarian burung tetap terjaga. Perubahan dan penurunan jenis burung pada akhirnya menyebabkan terja dinya kepunahan secara lokal terhadap berbagai jenis burung. Oleh karena itu hutan tanaman diharapkan memiliki kemampuan untuk menampung keanekaragaman jenis burung. Walaupun tingkat keanekaragaman burung pada hutan tanaman lebih rendah dari pada hutan alam (Fraser 1995).

(20)

Tujuan Penelitian

(21)

TINJAUAN PUSTAKA

Ekologi Lanskap

Sudut pandang ekologi menyatakan bahwa lanskap merupakan sebuah areal

heterogen yang tersusun dari ekosistem yang saling berinteraksi dan memiliki pola semacam yang berulang-ulang (Forman & Godron 1986). Ekologi lanskap penting bagi perlindungan keanekaragaman hayati, karena banyak spesies yang hidupnya tidak hanya pada suatu habitat tunggal saja, melainkan berpindah-pindah antara beberapa habitat atau hidup di perbatasan antara dua tipe habitat. Keberadaan dan kerapatan berbagai spesies mungkin akan dipengaruhi oleh ukuran-ukuran dari kepingan habitat dan dipengaruhi pula oleh seberapa jauh hubungan antara habitat tersebut. Dalam rangka meningkatkan jumlah dan keanekaragaman satwa, maka diusahakan untuk menciptakan variasi lanskap yang terbesar yang dapat dicapai (Yanher, 1988 dalam Primack et al. 1998). Penggunaan lanskap oleh manusia merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan dalam merancang kawasan perlindungan (Primack et al. 1998) dalam rangka menjaga kelestarian keanekaragaman hayati. Keanekaragaman hayati perlu dikelola pada tingkat lanskap regional misalnya pada selurus daerah aliran sungai atau barisan pegunungan, dimana ukuran dari satuan lanskapnya akan lebih mendekati keutuhan satuan sebelum terjadinya gangguan oleh manusia (Grumbina 1994b; Noss & Cooprrider 1994 diacu dalam Primack et al. 1998).

(22)

Menurut Forman & Godron (1986) ada tiga karakteristik yang difokuskan dalam mempelajari lanskap ekologi, yaitu :

a) Struktur, yaitu hubungan spasial antara ekositem yang berbeda (atau elemen lanskap yang ada.

b) Fungsi, yaitu interaksi diantara elemen spasial, yaitu aliran energi, materi, dan spesies diantara komponen elemen lanskap.

c) Perubahan, yaitu perubahan struktur dan fungsi dari lanskap.

Forman & Godron (1986) membagi prinsip-prinsip umum ekologi lanskap menjadi : 1) Prinsip struktur dan fungsi lanskap

Struktur pembentuk lanskap adalah heterogen/beragam baik dalam tipe, ukuran dan bentuknya, karena itu memiliki perbedaan dalam distribusi spesies, energi, materi diantara patch, koridor dan matriks yang ada. Sebagai konsekuensinya, fungsi lanskap akan berbeda dalam hal aliran spesies, energi dan materi diantara elemen pembentuknya.

2) Prinsip keanekaragaman hayati

Heterogenitas lanskap akan menurunkan keragaman spesies interior, sebaliknya akan meningkatkan keragaman edge dan spesies yang membutuhkan dua atau lebih elemen lanskap. Selain dari itu akan meningkatkan total potensi keberadaan spesies.

3) Prinsip pergerakan spesies

Ekspansi dan kontraksi spesies diantara elemen lanskap mempengaruhi dan dipengaruhi oleh heterogenitas lanskap.

4) Prinsip trans por hara mineral/nutrien

Laju distribusi/perpindahan hara mineral diantara elemen lanskap meningkat dengan adanya peningkatan intensitas gangguan (disturbance).

5) Prinsip perpindahan energi

Perpindahan energi panas dan perpindahan biomassa antara elemen lanskap meningkat dengan meningkatnya heterogenitas lanskap.

6) Prinsip perubahan lanskap

Bila tidak terganggu, horizontal lanskap mempunyai kecenderungan untuk menjadi lebih homogen. Sedangkan bila ada gangguan yang moderat, maka akan menjadi lebih heterogen, dan bila terjadi gangguan yang sangat besar maka akan dapat meningkatkan/menurunkan heterogenitas.

Menurut Forman & Godron (1986), tingkat stabilitas lanskap dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu :

(23)

b) Sistem dengan recovery yang cepat, dicirikan dengan keberadaan tingkat biomassa yang rendah, padang alang-alang, daerah pertanian.

c) Sistem dengan tingkat resistensi yang tinggi terhadap ganggua n, dicirikan dengan keberadaan biomassa yang sangat besar, misal hutan.

Patch

Terbentuknya Patch

Bentuk/struktur lanskap merupakan akibat adanya proses alam/geologi dan gangguan. Gangguan ini bisa dibedakan menjadi gangguan alami dan gangguan manusia. Gangguan alami misalnya bencana alam (banjir, gunung meletus, penyakit), sedangkan gangguan manusia bisa berupa eksploitasi hutan, peladang berpindah dan lain-lain. Interaksi ini menimbulkan beragam bentuk, ukuran tipe dan luasan elemen lanskap (Forman & Godron 1986).

Dalam konsep ekologi lanskap, habitat berdasarkan luasannya (dominansi) dibedakan menjadi matriks dan patch. Matriks adalah habitat homogen yang paling berbeda dalam suatu lanskap. Sedangkan patch adalah habitat homogen yang berbeda dengan habitat sekelilingnya. Terjadinya patch dapat dibagi menjadi tiga yaitu disturbance patch (patch yang terganggu), remnant patch dan environmental patch (Forman & Godron 1986). Disturbance patch dan remnant patch berdasarkan gangguannya dapat dibagi lagi menjadi cronic disturbance yaitu gangguan yang terjadi cukup lama dan terus menerus. Single disturbance yaitu gangguan yang hanya terjadi sementara dan tidak menganggu aktifitas ekologi.

Bentuk Patch

(24)

jumlah patch/habitat juga berpengaruh pada kelestarian keanekaragaman hayati. Berdasarkan teori biogeografi bentuk habitat/kawasan konservasi yang paling bagus adalah sebuah areal isodiametric tunggal yang seluas mungkin.

Daerah konservasi dengan bentuk membulat akan meminimalkan rasio atau perbandingan edge-to-area (antara pinggir dengan luas keseluruhan), lebih tinggi dibandingkan dengan bentuk-bentuk lain. Kawasan yang demikian mempunyai pusat yang berada relatif lebih jauh dari tepi. Kawasan yang mempunyai bentuk memanjang akan memiliki tepi atau pinggir yang luas, dan seluruh lokasi di kawasan tersebut akan berada dekat tepi. Kebanyakan kawasan mempunyai bentuk yang tidak beraturan karena lahan konservasi biasanya diperoleh secara kebetulan (Primack et al. 1998).

Koridor habitat adalah salah satu struktur lanskap yang merupakan jalur-jalur lahan yang dilindungi yang menghubungkan satu kawasan dengan kawasan lainnya (Simberlof f et al 1992 diacu dalam Primack et al 1998). Koridor habitat mempunyai fungsi untuk menghubungkan kawasan dilindungi sehingga membentuk suatu sistem yang besar. Koridor tersebut memungkinkan satwa untuk menyebar dari satu cagar ke cagar yang lain. Selain itu koridor tidak hanya memberikan lebih dari sekedar perlindungan saja, tetapi juga menyediakan sumberdaya bagi burung (Forman & Godron 1986). Hutan merupakan koridor yang paling efektif untuk menunjang keanekaragaman jenis burung (Alikodra 2002).

Hubungan Antara Bentuk Patch dan Keanekaragaman Burung

Primack et al. (1998) menyatakan bahwa cagar alam yang besar dapat mengurangi edge effects (efek tepi), serta dapat mencakup lebih banyak spesies dan mempunyai keanekaragaman yang lebih besar dibandingkan cagar alam yang berukuran lebih kecil. Hal ini disebabkan karena cagar alam yang berukuran besar akan lebih mampu menampung banyak spesies, karena mampu menampung lebih banyak individu dan karena memiliki habitat yang lebih beragam. Antara lingkungan dengan kehidupan satwaliar baik dalam areal yang sempit maupun areal yang luas selalu terjadi hubungan yang bersifat timbal balik (Alikodra 2002).

(25)

Tetapi luas wilayah tidak begitu berarti bila dibandingkan dengan jumlah habitat dan sumberdaya yang ditampungnya. Pulau-pulau yang luas memiliki jumlah spesies yang lebih besar dari pada pulau yang sempit (Wolf 1991). Karena pulau-pulau yang luas biasanya memiliki tipe lingkungan dan komunitas yang lebih banyak dari pulau-pulau yang kecil. Pulau-pulau yang besar menyediakan kemungkinan isolasi geografis yang lebih sedikit dan jumlah populasi yang lebih besar untuk tiap-tiap spesies sehingga memperbesar kemungkinan spesiasi dan memperkecil kemungkinan kepunahan dari spesies yang baru terbentuk atau dari spesies yang baru datang. Diasumsikan bahwa penyempitan habitat alami pada suatu pulau yang memiliki sejumlah spesies akan menyebabkan berkurangnya jumlah spesiesnya (Primack et al. 1998).

Mengembangkan sebanyak mungkin tepian karena hidupan liar adalah hasil dimana dua habitat bertemu (Yoakum & Dasmann 1971 diacu dalam Primack et al. 1998). Cagar kecil yang terpecah-pecah menjadi satuan-satuan habitat berukuran kecil mungkin mempunyai jumlah spesies yang tinggi, namun kemungkinan spesies-spesies tersebut pada dasarnya merupakan spesies-spesies gulma, yaitu spesies-spesies yang keberadaannya tergantung pada dampak kegiatan manusia.

Struktur lanskap dapat mempengaruhi pergerakan satwa (Forman & Godron 1986), karena fragmentasi lanskap yang terjadi menyebabkan gap yang memisahkan populasi satwa ke dalam patch-patch habitat dan menghalangi pergerakan satwa. Pergerakan satwa melintasi gap antar patch akan bervariasi antar tiap spesies, tipe patch habitat, tipe matrik, dan faktor lain seperti variasi cuaca, musim, rute alternatif, serta resiko yang mungkin dihadapi predator dan jarak perjalanan (St. Clair et al. diacu dalam Cahyadi 2003). Keterhubungan lanskap ditentukan oleh konfigurasi lanskap yang menyokong keterhubungan habitat dalam bentuk habitat koridor (Bennet 1999 diacu dalam Cahyadi 2003).

(26)

spesies-spesies pada fragmen besar. Pada fragmen yang luas sering dihuni oleh banyak spesies, sedang pada fragmen yang lebih kecil dihuni oleh sejumlah kecil spesies burung (Jati 1998).

Fragmentasi habitat adalah peristiwa yang menyebabkan habitat yang luas dan berkelanjutan diperkecil atau dibagi menjadi dua atau lebih fragmen (Wilcove et al 1986; Shafer 1990 diacu dalam Primack et al. 1998). Primack et al. (1998) juga menyatakan bahwa fragmentasi habitat dapat mengurangi atau pemusnahan populasi dengan cara membagi populasi yang tersebar luas menjadi dua atau lebih sub populasi dalam daerah-daerah yang luasnya terbatas. Hal ini disebabkan karena fragmentasi dapat memperkecil potensi suatu spesies untuk menyebar dan melakukan kolonisasi serta fragmentasi habitat dapat mengurangi daerah jelajah dari hewan asli. Kemudian Wiens (1989) menyatakan bahwa dengan adanya fragmentasi maka merupakan salah satu faktor terjadinya pengelompokan suatu jenis burung.

Primack et al. (1998) menyatakan bahwa suatu habitat yang luas dapat mendukung satu populasi yang besar, tetapi jika sudah terbagi dalam fragmen mungkin saja tidak ada satu fragmen pun yang dapat mendukung sub populasi yang cukup untuk bertahan. Habitat yang telah terfragmentasi, berbeda dari habitat asalnya karena fragmen memiliki daerah tepi yang lebih luas dari pada habitat asal dan daerah tengah (pusat) lebih dekat ke daerah tepi sehingga lingkungan mikro daerah tepi berbeda dengan lingkungan mikro di bagian tengah hutan.

Efek Tepi (Edge Effect)

(27)

Bio-ekologi Burung

Penyebaran Burung

Burung dapat menempati tipe habitat yang beranekaragam, baik habitat hutan maupun habitat bukan hutan seperti tanaman perkebunan, tanaman pertanian, pekarangan, gua, padang rumput, savana dan habitat perairan (Alikodra 2002). Secara umum, burung memanfaatkan habitat tersebut sebagai tempat mencari makan, beraktifitas, berkembangbiak dan berlindung. Hernowo (1985) menyatakan bahwa terdapat hubungan antara penyebaran jenis burung dengan tingkat dominasi burung, dimana jenis yang memiliki penyebaran dan dominasi yang tinggi maka jenis tersebut lebih survival terhadap perubahan lingkungan yang akan terjadi dan akan lebih sering dijumpai.

Penyebaran burung dipengaruhi oleh kesesuaian lingkungan tempat hidup burung, meliputi adaptasi burung terhadap perubahan lingkungan, kompetisi dan seleksi alam (Welty 1982). Penyebaran burung sangat erat kaitannya dengan ketersediaan pakan, sehingga habitat burung berbeda antara jenis satu dengan yang lainnya, dikarenakan jenis makanan yang berbeda pula (Peterson 1980 diacu dalam Mulyani 1985). Banyak spesies burung yang hanya menempati habitat tertentu atau tahapan tertentu dari suatu habitat (Primack et al. 1998).

Ada burung yang hidup di hutan lebat, hutan kurang lebat, semak-semak, dan rerumputan. Sebaliknya ada juga burung yang hidup di lapangan terbuka tanpa atau dengan sedikit tumbuhan. Kebanyakan burung-burung ini menemukan makanannya pada tumbuhan atau di tanah. Ada burung yang menangkap burung yang lebih kecil atau serangga sebagai makanannya (Ensiklopedi Indonesia 1992). Pergerakan satwaliar baik dalam skala sempit maupun luas merupakan usaha untuk memenuhi tuntutan hidupnya. Dalam membantu pergerakan tersebut maka diperlukan suatu koridor yang dapat menghubungkan dengan sumber keanekaragaman (Alikodra 2002).

(28)

Keanekaragaman Habitat

Burung sebagai salah satu komponen ekosistem memerlukan tempat atau ruang untuk mencari makan, minum, berlindung, bermain dan tempat untuk berkembang biak, tempat yang menyediakan kebutuhan tersebut membentuk suatu kesatuan yang disebut habitat (Alikodra 2002). Habitat adalah suatu kawasan yang terdiri dari berbagai komponen, baik fisik maupun abiotik yang merupakan satu kesatuan dan dipergunakan sebagai tempat hidup serta berkembang biak satwa liar (Alikodra 2002). Habitat secara sederhana dapat dikatakan sebagai tempat hidup burung itu berada. Pada prinsipnya burung memerlukan tempat untuk mencari makan, berlindung, berkembang biak dan bermain. Tempat yang menyediakan keadaan yang sesuai dengan kepentingan diatas disebut dengan habitat (Odum 1993), karena habitat merupakan bagian penting bagi distribusi dan jumlah burung (Bibby et al. 2000). Habitat juga berfungsi sebagai tempat untuk bersembunyi dari musuh yang akan menyerang dan mengganggunya (Endah 2002).

Dasman (1964) diacu dalam Alikodra (2002) menyatakan bahwa habitat itu terdiri dari elemen-elemen pembentuk sistem yang kompleks disebut ekosistem yang di dalamnya berbagai spesies selalu berinteraksi dengan lingkungannya. Pengertian lain dari habitat yang dinyatakan Alikodra (2002) yaitu suatu kawasan yang dapat memenuhi semua kebutuhan dasar dari populasi yang ada di dalamnya.

Satwaliar menempati habitat sesuai dengan lingkungan yang diperlukan untuk mendukung kehidupannya. Habitat yang sesuai bagi suatu jenis belum tentu sesuai untuk jenis lainnya, karena setiap jenis satwaliar menghendaki kondisi habitat yang berbeda-beda (Alikodra 2002). Dasman (1964), Wiersum (1973), Alikodra (1983), dan Bailey (1984) diacu dalam Alikodra (2002) menyatakan bahwa habitat mempunyai fungsi dalam penyediaan makanan, air dan pelindung.

Menurut Alikodra (2002) keanekaragaman habitat dapat dibagi menjadi : 1.Hutan hujan tropis

Di dalam hutan hujan tropis terdapat berbagai jenis burung. Jumlah jenis burung yang tinggi di hutan dataran rendah umumnya berkaitan erat dengan perbedaan struktur dan keanekar agaman habitatnya.

2.Hutan gambut

(29)

3.Hutan rawa air tawar

Hutan ini berbatasan dengan hutan mangrove, kadang-kadang tergantung air tawar yang kaya akan mineral dengan pH 6 atau lebih, permukaan airnya turun naik sehingga dapat terjadi pengeringan tanah secara periodik. Umumnya jenis burung yang menghuni hutan rawa adalah burung pemakan buah yang khas serta dilindungi yaitu dari famili Bucerotidae.

Khususnya di Way Kambas, hutan rawa digunakan sebagai tempat hidup dari berbagai jenis bangau dan kuntul, dan kadang-kadang bebek hutan bersayap putih atau bebek serati.

4.Hutan pantai

Hutan ini terdapat di daerah pantai berpasir kering. Vegetasi pada hutan pantai ini toleran terhadap siraman air asin, dan tanah yang miskin hara serta mengalami kering secara musiman. Jenis satwaliar pada hutan ini sangat terbatas. Berbagai jenis burung migrasi seperti Tringa spp., Scolopax spp., sering dijumpai sedang mencari makanan di daerah pantai.

5.Hutan mangrove

Hutan ini terdapat di daerah pantai yang selalu atau secara teratur tergenang air laut. Lapisan tajuknya hanya terdiri dari satu lapis. Pada musim berkembang biak berbagai jenis pohon di hutan mangrove digunakan sebagai tempat bersarang burung-burung merandai (Egretta spp. dan Ardea spp.).

6.Hutan produksi

Hutan produksi dapat dibedakan menjadi hutan tanaman dan hutan alam. Hutan produksi pada hutan alam umumnya merupakan habitat berbagai jenis burung. Berbeda dengan hutan produksi di hutan alam, jenis pohon pada hutan tanaman lebih terbatas sehingga jenis burung yang ada juga terbatas.

7.Gua karst

Gua karst merupakan ekosistem yang khas yang terjadi karena proses kimiawi dan daya erosi. Gua juga merupakan habitat bagi burung seperti walet. Walet bersarang dan berkembangbiak di dalam gua, tetapi mencari makan di luar gua. Burung walet merupakan penghuni beberapa gua di Indonesia. Dari Sulawesi dikenal tiga jenis burung walet, yang semuanya menghuni gua.

8.Daerah persawahan

(30)

9.Pekarangan

Pekarangan yang ditanami dengan tanaman buah-buahan, akan mempunyai pengaruh yang besar bagi kehidupan burung. Daerah pemukiman penduduk dengan pola pekarangan yang banyak terdapat tanaman buah-buahan dapat menjadi suatu pertahanan yang kokoh untuk pelestarian burung. Umumnya burung pemakan buah datang untuk mencari buah-buahan di pekarangan. Selain untuk mencari makanan, pohon-pohon di pekarangan juga digunakan untuk tempat tidur dan bersarang. Komposisi jenis tanaman pekarangan dapat menentukan komposisi jenis burung. Keanekaragaman tanaman pekarangan mempengaruhi kehadiran berbagai jenis burung.

Faktor yang menentukan keberadaan burung adalah ketersediaan maka nan, tempat untuk istirahat, main, kawin, bersarang, bertengger, dan berlindung. Kemampuan areal menampung burung yang ditentukan oleh luasan, komposisi dan struktur vegetasi, banyaknya tipe ekosistem dan bentuk habitat. Burung merasa betah tinggal di suatu tempat apabila terpenuhi tuntutan hidupnya antara lain habitat yang mendukung dan aman dari gangguan (Hernowo 1985). Kelengkapan komponen habitat mempengaruhi banyaknya jenis burung di habitat tersebut (Mulyani 1985). Kelangsungan hidup burung tidak ha nya ditentukan oleh jumlahnya saja, melainkan harus didukung oleh kondisi lingkungan yang cocok (Alikodra 2002). Suatu wilayah yang sering dikunjungi burung disebabkan karena habitat tersebut dapat mensuplai makanan, minuman serta berfungsi sebagai tempat berlindung/sembunyi, tempat tidur dan tempat kawin (Boughey 1973; Pyke 1983; Van Noordwijk 1985 diacu dalam Alikodra 2002).

(31)

Keanekaragaman Jenis

Keragaman merupakan sifat komunitas yang menunjukkan tingkat keanekaragaman jenis organisme yang ada di dalamnya. Menurut Krebs (1978) keragaman (diversity) yaitu banyaknya jenis yang biasanya diberi istilah kekayaan jenis (species richnes). Odum (1971) diacu dalam Djunaidah (1994) mengatakan bahwa keragaman jenis tidak hanya berarti kekayaan atau banyaknya jenis, tetapi juga kemerataan (evenness) dari kelimpahan individu tiap jenis.

Krebs (1978) menyebutkan ada enam faktor yang saling berkaitan yang menentukan naik turunnya keragaman jenis suatu komunitas yaitu : waktu, heterogenitas ruang, persaingan, pemangsaan, kestabilan lingkungan dan produktivitas. Selain ke enam faktor tersebut, Soerianegara (1996) menambahkan bahwa keanekaragaman jenis tidak hanya ditentukan oleh banyaknya jenis, tetapi ditentukan juga oleh banyaknya individu dari setiap jenis.

Keanekaragaman jenis burung berbeda dari suatu tempat ke tempat lainnya, hal ini tergantung pada kondisi lingkungan dan faktor yang mempengaruhinya. Distribusi vertikal dari dedaunan atau stratifikasi tajuk merupakan faktor yang mempengaruhi keanekaragaman jenis burung. Keanekaragaman merupakan khas bagi suatu komunitas yang berhubungan dengan banyaknya jenis dan jumlah individu tiap jenis sebagai komponen penyusun komunitas (Helvoort 1981). Keanekaragaman jenis menyangkut dua hal yaitu kekayaan dan sebaran keseragaman.

(32)

Kelimpahan Burung

Kelimpahan adalah istilah umum yang digunakan untuk suatu populasi satwa dalam hal jumlah yang sebenarnya dan kecenderungan naik turunnya populasi atau keduanya (Shaw 1985 diacu dalam Mahmud 1991). Kelimpahan erat kaitannya dengan distribusi, sehingga biasanya kedua istilah ini seringkali digunakan bersama-sama (Andrewartha & Birch 1954 diacu dalam Mahmud 1991). Kelimpahan dapat dinyatakan juga sebagai jumlah organisme per unit area (kepadatan absolut), atau sebagai kepadatan relatif, yaitu kepadatan dari satu populasi terhadap populasi lainnya (Krebs 1978). Kelimpahan relatif adalah perbandingan kelimpahan individu tiap jenis terhadap kelimpahan (jumlah) seluruh individu dalam suatu komunitas (Krebs 1978). Kelimpahan burung pemakan buah mungkin dapat dihubungkan dengan kelimpahan pohon yang sedang berbuah (Bibby et al. 2000).

Welty (1982) mengemukakan bahwa modifikasi lingkungan alami menjadi lahan pertanian, perkebunan, kota, jalan raya dan kawasan industri berakibat buruk bagi burung. Walaupun modifikasi tertentu habitat alami dapat membawa keberuntungan bagi spesies-spesies tertentu, namun secara keseluruhan berakibat merusak kehidupan burung.

Faktor sejarah juga penting dalam menentukan pola kekayaan spesies, wilayah de ngan geologi lebih tua memiliki lebih banyak keanekaragaman daripada wilayah yang lebih muda. Wilayah yang lebih tua memiliki lebih banyak waktu menerima spesies yang tersebar dari bagian dunia dan lebih banyak waktu bagi spesies yang ada untuk menjalani radiasi adaptif pada kondisi lokal. Pola kekayaan spesies juga dipengaruhi oleh variasi lokal seperti topografi, iklim dan lingkungan. Pada komunitas darat, kekayaan spesies cenderung meningkat pada daerah yang lebih rendah, radiasi matahari yang lebih banyak, dan curah hujan. Kekayaan spesies juga lebih besar dimana tidak ada topografi yang rumit yang memungkinkan isolasi genetik, adaptasi lokal, dan spesiasi untuk timbul (Primack et al. 1998).

Burung Sebagai Indikator Lingkungan

(33)

et al. 2000). Hal tersebut disebabkan karena satwa burung terdapat hampir di seluruh habitat daratan pada permukaan bumi ini dan bersifat sensitif pada kerusakan lingkungan. Pengetahuan taksonomi dan sebaran burung relatif banyak diketahui, dan lebih baik dibandingkan biota yang berukuran besar dan ke las-kelas lainnya. Penggunaan burung sebagai indikator nilai keanekaragaman hayati merupakan satu jalan tengah yang terbaik antara akan kebutuhan informasi ilmiah yang akurat dengan keterbatasan waktu yang yang ada bagi aksi konservasi (Indrawan & Ermayanti 1997 diacu dalam Primack et al. 1998). Ada beberapa jenis burung yang memiliki kepekaan tertentu terhadap kesehatan lingkungan habitatnya, salah satu diantaranya sebangsa burung raja udang (Sozer et al. 1999).

Sistem Informasi Geografis (SIG)

Definisi

Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah suatu sistem penanganan dan pengolahan data geografi, yaitu data dan informasi yang terpaut pada bentangan bumi. Dalam hal ini istilah SIG dikaitkan dengan penerapan komputer dalam menangani data dan informasi. Kemudian ada yang mendefinisikan bahwa SIG adalah suatu sistem perangkat lunak, perangkat keras, prosedur yang dirancang untuk mendukung pemasukan, pengelolaan, analisis, modeling, dan presentasi data spasial/keruangan untuk perencanaan dan praktek-praktek pengelolaan. Primack et al. (1998) menyatakan bahwa SIG merupakan suatu perkembangan terbaru dalam gap analisis, yang menggunakan komunitas untuk menggabungkan data yang melimpah mengenai lingkungan alami dengan informasi mengenai distribusi spesies.

Fungsi Sistem Informasi Geografis (SIG)

Sistem Informasi Geografi mempunyai tiga fungsi utama, yaitu :

1) Menyimpan, mengelola dan mengintegrasikan sejumlah data spasial yang telah terambil.

2) Mengartikan dan menganalisis data komponen geografis yang berhubungan secara khusus.

(34)

dalam SIG tidak hanya berisi peta-peta atau gambar, tetapi juga konsep pangkalan data (database) yang merupakan input dari SIG ( ESRI 1990).

Tidak jauh berbeda dengan pernyataan dari ESRI (1990), Primack et al. (1998) juga menyatakan bahwa pada dasarnya pendekatan SIG meliputi penyimpanan, penampilan dan manipulasi tipe data pemetaan yang sifatnya beragam, seperti tipe-tipe vegetasi, iklim, tanah, topografi, geologi, hidrologi, dan distribusi-distribusi spesies. Pendekatan ini dapat menunjukkan korelasi antara elemen-elemen biotik dan abiotik dalam lanskap.

Komponen Dasar Sistem Informasi Geografis (SIG)

Sistem Informasi Geografis mempunyai empat komponen dasar, yaitu perangkat keras, perangkat lunak, data serta operator/sumberdaya manusia . Komponen tersebut saling berhubungan. Perangkat keras berupa komputer yang dilengkapi dengan alat masukan (digitizer, keyboard), alat penyimpan (hard disk, CD Rom), alat untuk memproses atau processor dan alat untuk pengeluaran (printer, plotter). Perangkat lunak merupakan komponen untuk mengintegrasikan berbagai macam data masukan yang akan diproses dalam SIG. Data merupakan komponen utama yang akan diproses dengan menggunakan SIG sesuai dengan kebutuhannya. Sumberdaya manusia merupakan pengguna sistem dan yang mengoperasikan perangkat lunak maupun perangkat keras.

Sistem Informasi Geografis mempunyai lima komponen sub-sistem, yaitu proses pemasukan data dan pembetulan, penyimpan data dan pengolah data dasar, keluaran data dan penyajian, transformasi data, dan interaksi dengan pengguna (Purwadhi 1999).

Pangkalan Data (Data base)

Data dan informasi dalam SIG ditetapkan oleh dua unsur pokok, yaitu:

1. Data Spasial (lokasional atau kartografik), yaitu posisi yang berhubungan dengan tempat dan kedudukan obyek dalam ruang, dimana dalam suatu peta disajikan dalam bentuk titik, garis dan poligon tersebar pada kerangka geografis.

(35)

dengan koordinat geografis (lintang, bujur, ketinggian), (2) data atribut yang tidak berkaitan dengan posisi geografis (iklim, jenis tanah, dan sebagainya), (3) hubungan data spasial, atribut dan waktu (Widjojo 1993).

Pada umumnya, model pangkalan data dapat dikelompokkan menjadi tiga bentuk, yaitu : (1) model hierarki, yaitu menghimpun data untuk area yang lebih kecil sehingga area tersebut terkelompok dipadukan menjadi area yang lebih besar, (2) model jaringan (eksak), yaitu membuat jaringan dimana informasi pada satu file komputer terdiri dari banyak feature geografi dan informasi tambahan pada file lainnya tentang kumpulan feature yang sama, (3) model relasional (fuzzy), yaitu mengga bungkan dua kumpulan data dan mencatat kombinasinya (ESRI 1990).

Perangkat Lunak (Software) Arc/Info

(36)

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

Letak dan Luas

Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung Hulu terletak pada koordinat geografis 106o48’45” – 107o00’30” Bujur Timur dan 6o36’30” – 6o46’30” Lintang Selatan. Daerah Aliran Sungai Ciliwung Hulu berada di wilayah administrasi Pemerintah Daerah Bogor, Propinsi Jawa Barat. Bagian hulu DAS Ciliwung sebagian besar termasuk wilayah Kabupaten Bogor (Kecamatan Megamendung, Cisarua dan Ciawi) dan sebagian kecil Kotamadya Bogor (Kecamatan Bogor Timur dan Bogor Selatan).

Luas DAS Ciliwung Hulu adalah ± 14,876 ha yang terdiri dari empat sub DAS, yaitu:

a.Sub DAS Ciesek seluas 2452,78 ha

b.Sub DAS Hulu Ciliwung seluas 4593,03 ha c.Sub DAS Cibogo Cisarua seluas 4110,34 ha

d.Sub DAS Ciseuseupan Cisukabirus seluas 3719,85 ha

Bagian hulu DAS Ciliwung mencakup areal seluas 14,876 ha yang merupakan daerah pegunungan (Tabel 1). Pada bagian hulu paling sedikit terdapat tujuh sub DAS yaitu Tugu, Cisarua, Cibogo, Cisukabirus, Ciesek, Ciseuseupan dan Katulampa (Prasetyo et al. 2004).

Tabel 1. Luas wilayah berdasarkan perbatasan sub-sub DAS Ciliwung Hulu Kecamatan Sub DAS Megamendung 2218.98 853.08 1064.10 1868.52 6004.68

Sukaraja 0 0 0 221.47 221.47

Bogor timur 0 0 0 368.84 368.84

Jumlah 2452.78 4593.03 4110.03 3719.85 14876 Sumber : BRLKT (2001)

Iklim

(37)

DAS Ciliwung Hulu menurut sistem klasifikasi Smith & Ferguson yang didasarkan pada besarnya curah hujan, yaitu bulan basah (> 200 mm) dan bulan kering (< 100 mm) adalah termasuk kedalam tipe curah hujan A (BRLKT 2001). Prasetyo et al. (2004) menyatakan bahwa rata-rata curah hujan tahunan berkisar dari 1000 mm di hilir sampai 4500 mm di bagian hulu.

Tanah dan Geologi

Jenis-jenis tanah yang ada di wilayah DAS Ciliwung Hulu meliputi jenis komplek Aluvial kelabu, Andosol coklat dan Regosol coklat, Latosol coklat, dan Latosol coklat kemerahan. Jenis tanah yang tersebar secara luas di sub DAS Ciliwung Hulu adalah Latosol coklat kemerahan dan Latosol coklat sebesar 32,89% dari total luas areal sub DAS. Daerah Aliran Sungai Ciliwung Hulu dibangun oleh formasi geologi volkanik, yaitu komplek utama Gunung Salak dan komplek Gunung Pangrango. Wilayah ini merupakan daerah pengunungan dengan elevasi antara 300 sampai 3000 mdpl.

Bahan induk yang terdapat pada DAS Ciliwung Hulu adalah berupa tufa volkanik dan merupakan dasar pembentuk tanah jenis Latosol. Adanya pencampuran bahan volkanik tua dan yang lebih muda memungkinkan terbentuknya tanah lain yang berasosiasi dengan Latosol adalah Regosol dan Andosol. Jenis tanah Latosol dan asosiasinya memiliki sifat tanah yang baik yaitu tekstur liat berdebu hingga lempung berliat, struktur granular dan remah, kedalaman efektif umumnya > 90 cm, dan agak tahan terhadap erosi, serta pH tanah yang agak netral dan kandungan bahan organik yang rendah atau sedang.

Geomorfologi, Topografi dan Bentuk wilayah

(38)

Tabel 2. Pola penutupan lahan di wilayah DAS Ciliwung Bagian Hulu

Luas Jenis Penutupan Lahan di

DAS Ciliwung Hulu Ha %

1. Hutan 5183,5 33,8

2. Kebun campuran 5136,2 33,5 3. Semak belukar 365,3 2,4

4. Ladang 595,9 3,9

5. Sawah 165,2 1,1

6. Kebun teh 1180,9 7,7

7. Daerah terbangun 1336,2 8,7

8. Situ/sungai 115,2 0,8

9. Tidak ada data 1244,1 8,1 Sumber : Prasetyo et al. (2004)

Hidrologi

(39)
(40)

METODE PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di dua tempat. Pengambilan data lapangan dilakukan di hutan tanaman Pinus yang terletak di Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung Hulu. Pengolahan dan analisis citra dilakukan di Laboratorium Analisis Lingkungan dan Pemodelan Spasial Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, IPB. Pengambilan data keanekaragaman jenis burung dilakukan pada bulan Juni 2005 sampai Juli 2005 (Tabel 3).

Tabel 3. Lokasi pengamatan keanekaragaman jenis burung Hutan Tanaman

Lokasi A 6 Transek jalur Daerah perkebunan teh Lokasi B 6 Transek jalur Daerah pemukiman Lokasi C 6 Transek jalur Daerah riparian Lokasi D 6 Transek jalur Dekat hutan alam

Pemilihan lokasi berdasarkan pada bentuk patch, luas patch, jarak dari lokasi ke sumber keanekaragaman dan pengaruh dari lingkungan sekitarnya. Pada lokasi A untuk melihat pengaruh perkebunan teh terhadap keanekaragaman jenis burung. Lokasi B untuk melihat pengaruh pemukiman terhadap keanekaragaman jenis burung. Lokasi C dipilih untuk melihat pengaruh keberadaan sungai terhadap jenis burung. Pada lokasi D untuk melihat pengaruh hutan alam. Berdasarkan pernyataan Utari (2000) bahwa kondisi vegetasi stratifikasi yang lengkap akan meningkatkan relung bagi burung yang ada di dalamnya.

Bahan dan Alat

(41)

mengolah dan menganalisis citra adalah satu paket Sistem Informasi Geografis (perangkat keras dan lunak) termasuk Pc dan software Arc View 3.2.

Teknik Pengumpulan Data

Survey Pendahuluan

Survey pendahuluan dilakukan untuk mengetahui keadaan di lapangan dan mengetahui lokasi pengamatan tersebut. Pengambilan titik-titik di lapangan menggunakan Global Positioning System (GPS) yang digunakan untuk geokoreksi citra dan membantu untuk kegiatan klasifikasi penutupan lahan. Survey ini dilakukan untuk memastikan bahwa lokasi tersebut adalah hutan tanaman Pinus. Selain itu juga dilakukan studi literatur untuk mengetahui kondisi umum lokasi penelitian.

Pengumpulan Data Burung di Lapangan

Pengambilan data burung di lapangan dilakukan inventarisasi dengan menggunakan metode IPA (Indices Ponctuels d’Abondence). Metode ini cocok digunakan untuk suatu area yang luas dan seragam. Dalam metode ini, pengamat berhenti pada suatu titik di habitat yang diamati, dan menghitung semua burung yang terdeteksi selama selang waktu 20 menit. Pengamatan dimulai pada pagi hari pukul 06.00 - 09.00 WIB pada jalur pengamatan yang telah ditentukan. Penentuan jalur pengamatan di lapangan dilakukan secara terarah, agar burung yang ditemui adalah jenis burung yang ada di habitat tersebut. Hasil yang didapat dengan metode ini berupa kelimpahan relatif.

(42)

200 m

1000 m

Gambar 2. Bentuk titik pengamatan dengan menggunakan metode Point Count atau IPA

Pengumpulan Data Spasial DAS Ciliwung Hulu

Pengumpulan data spasial dilakukan dengan mengumpulkan citra Ikonos tahun 2003 dan peta rupa bumi. Posisi titik pengamatan ditandai dengan menggunakan Global Positioning System (GPS). Adapun data yang diambil di lapangan yaitu titik-titik untuk geokoreksi pada hutan tanaman dan pengamatan penggunaan lahan di sekitar lokasi pengamatan burung.

Pengambilan Data Habitat

Pengamatan struktur vertikal penutupan tajuk dilakukan dengan membuat diagram profil pohon. Dalam pengukuran struktur vertikal, dibuat petak ukur pengamatan berukuran 50 x 20 m. Pengukuran dilakukan terhadap kedudukan vegetasi, penutupan tajuk, arah tajuk, tinggi tajuk, tinggi bebas cabang vegetasi dan diameter batang setinggi dada. Pengambilan data habitat ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pemanfaatan habitat oleh burung-burung yang ada di lokasi penelitian.

Pengolahan Data

Kelimpahan Burung

Kelimpahan burung merupakan total jumlah individu burung yang ditemukan selama pengamatan. Perhitungan jumlah dari jenis-jenis burung yang ada dengan melihat nilai kelimpahan tiap-tiap spesies (van Balen, 1984) yaitu :

Pi =

burung total

i spesies

(43)

Keanekaragaman Jenis Burung

Menurut Odum (1993) untuk melihat nilai keanekaragaman jenis dapat dilakukan dengan mengunakan rumus berikut :

H’ =

Piln Pi Dimana : H’ = nilai keanekaragaman jenis

Untuk mengetahui penyebaran individu burung diukur dari nilai keseragaman antar jenis burung (Odum 1993), sebagai berikut :

E =

LnS

H' dimana : S = banyaknya jenis burung tiap plot

e = nilai keseimbangan antar jenis

Sebaran Burung

Sebaran burung dapat dianalisa dengan mengunakan rumus :

Frekuensi Jenis (Fj) =

Burung dikatakan dominan dalam suatu habitat apabila kerapatan relatifnya lebih besar dari 5%, memiliki kerapatan sedang apabila kerapatan relatifnya 2-5% dan dikatakan tidak dominan jika kerapatan relatifnya kurang dari 2 % (Helvoort, 1981).

Nilai kerapatan relatif didapatkan dari rumus :

Kerapatan Jenis (Kj) =

Indeks Kesamaan Jenis Burung

Kesamaan jenis burung di tiap lokasi dapat dilihat dengan indeks kesamaan jenis (Similarity Index) dengan melakukan analisis dendrogram. Indeks yang digunakan adalah indeks kesamaan jenis Jaccard (1901) diacu dalam Krebs (1978).

(44)

Citra Ikonos

Penentuan lokasi pengamatan

Klasifikasi citra dengan screen digitizing

Citra hasil klasifikasi

Cek lapangan Peta lokasi pengamatan

Pemotongan citra dengan buffering point 500 m

Dimana : a = Jumlah jenis yang umum di komunit as A dan B

b = Jumlah jenis yang ada di komunitas A tapi tidak ada di komunitas B c = Jumlah jenis yang ada di komunitas B tapi tidak ada di komunitas A

Pengolahan Data Spasial Elemen Lanskap

Pengolahan data spasial dilakukan dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Sistem Informasi Geografis digunakan untuk menggabungkan data spasial dan data atribut, melakukan penampalan (overlay) data-data spasial. Pengolahan citra dilakukan dalam beberapa tahapan (Gambar 3).

Gambar 3. Proses pengolahan citra

Ada beberapa tahapan analisis citra dengan ikonos untuk mendeteksi tingkat keanekaragaman burung pada lokasi pengamatan di DAS Ciliwung Hulu adalah :

1.Pemotongan Citra (Subset Image)

Pemotongan citra dilakukan dengan memotong wilayah yang menjadi objek studi. Dibuat dengan buffering point dengan jarak 500 m dari lokasi penelitian. 2.Pengklasifikasian Citra (Image Clasification)

(45)

Tahapan klasifikasi dilakukan dengan metode screening digitiser yakni dengan mendeliniasi pola -pola penggunaan lahan yang ada secara visual pada layar monitor menggunakan Arc View 3.2.

3.Meletakkan titik-titik pengamatan, sehingga terbentuk peta baru. Dalam peta baru dilakukan pengukuran kuantitas elemen lanskap.

Menurut Elkie et al. (1999) untuk mengetahui data kuantitas lanskap dapat digunakan Patch Analisys dengan software Arc View sehingga dapat diketahui nilai-nilai sebagai berikut :

a. Class Area (CA) : jumlah keseluruhan area dari patch

pada kelas yang sama

b. Total Lanscape Area (TLA) : total lanskap

c. Number of Pathces (NumP) : jumlah keseluruhan patch d. Mean Patch Size (MPS) : rata-rata luasan patch e. Median Patch Size (MePS) : nilai tengah luasan patch

f. Patch Size of Standard Deviation (PSSD) : standar deviasi pada patch, bila PSSD = 0 maka patch memiliki ukuran yang sama atau hanya ada satu patch

g. Patch Size Coefficient of Variance (PSCoV): koefisien variansi dari patch

(PSSD/MPS x 100%)

h. Total Edge (TE) : total perimeter edge

i. Edge Density (ED) : jumlah edge relatif terhadap total

area (TE/TLA)

j. Mean Patch Edge (MPE) : rata-rata panjang edge per patch

(TE/NumP)

k. Mean Perimeter-Area Ratio (MPAR) : jumlah dari rasio perimeter dengan luasan patch dibagi jumlah patch l. Mean Shape Index (MSI) : kekomplekan bentuk yaitu jumlah

(46)

Pengambilan data keanekaragaman jenis

burung

Pengukuran data kuantitatif lanskap dengan Patch

Analysis

m. Area-Weighted Shape Index (AWSI) :area yang penting bagi kekomplekan bentuk

n. Mean Patch Fractal Dimension (MPFD) :mengukur tingkat kekomplekan bentuk

o. Area-Weighted Mean Patch Fractal Dimension :area yang penting bagi kompleksitas bentuk

p. Shannons Diversity Index (SDI) : mengukur keragaman patch

q. Shannons Evennes Index (SEI) : mengukur distribusi dan kelimpahan patch.

Alur kerja dari penelitian ini adalah sebagai berikut : Citra Ikonos Tahun 2003

Interpretasi secara screnn digitizing

Penggunaan lahan

Ground checking

Peletakan plot contoh pengamatan

Pengaruh lanskap terhadap keanekaragaman jenis burung

Gambar 4. Bagan alir penelitian

Analisis Data

(47)
(48)

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL

Kondisi Lanskap di Lokasi Penelitian

Dari hasil interpretasi citra Ikonos tahun 2003 didapatkan informasi bahwa lokasi C memiliki jarak yang paling dekat dengan hutan alam yaitu 1100 m. Lokasi yang paling jauh dengan hutan alam adalah lokasi A yaitu 2888 m. Pada lokasi B dan D memiliki jarak sejauh 2657 dan 1677 m dari hutan alam sebagai sumber keanekaragaman yang paling tinggi. Hasil pengukuran ketinggian tempat dengan bantuan Global Positioning System (GPS) diketahui bahwa lokasi A dan D berada pada ketinggian 1100-1200 mdpl. Lokasi B berada pada ketinggian 1000-1100 mdpl dan lokasi C berada pada ketinggian yang paling rendah yaitu 950-960 mdpl.

Kondisi lanskap lokasi penelitian yang dipengaruhi oleh jarak ke hutan alam dan ketinggian tempat diduga dapat berpengaruh terdapat keanekaragaman jenis burung yang dijumpai di lokasi penelitian. Dari hasil pengamatan dapat dijumpai 16 jenis burung di lokasi A dan B. Jumlah jenis burung yang paling banyak dijumpai adalah pada lokasi C yaitu 27 jenis. Pada lokasi D dijumpai sebanyak 16 jenis burung (Tabel 4).

Tabel 4. Jarak ke hutan alam dan ketinggian tempat di lokasi penelitian. Lokasi Jarak (m) Ketinggian (mdpl) Juml ah Jenis

Lokasi A 2888 1100-1200 16 Lokasi B 2657 1000-1100 16 Lokasi C 1100 950-960 27 Lokasi D 1677 1100-1200 22

Elemen Lanskap pada Lokasi Penelitian

(49)

Hasil interpretasi dan analisis citra didapatkan nilai kuantitatif lanskap plot contoh penelitian yang disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Hasil analisis data lanskap luas area, patch, dan edge dengan menggunakan Patch /Habitat Analys is pada lokasi penelitian.

(50)

Tabel 5 (Lanjutan)

Sumber : Ikonos Tahun 2003

Keterangan : CA = Class Area; NumP = Number of Pacthes; MPS = Mean Patch Size; PSCoV =

Patch Size Coefficient of Variance; PSSD = Patch Size of Standard Deviation; TE = Total Edge; ED = Edge Density; MPE = Mean Patch Edge.

Pengaruh Faktor Lanskap Terhadap Jenis Burung

Luas Area. Matriks merupakan habitat homogen yang paling berbeda dalam

suatu lanskap. Pada Tabel 5 dapat dilihat bahwa pada lokasi A tipe penggunaan lahan yang merupakan matriks adalah kebun teh (35,76 ha). Matriks pada lokasi B (66,96 ha), C (145,06 ha) dan D (57,55 ha) adalah pertanian lahan kering. Luas total lanskap pada lokasi A (124,77 ha), lokasi B (203,67 ha), lokasi C (294,82 ha) dan lokasi D (240,86 ha).

Patch. Nilai Number of Patches (NumP) menunjukkan banyaknya patch pada tiap penutupan lahan. Pada Tabel 5 dapat dilihat bahwa pemukiman memiliki jumlah patch yang paling banyak di lokasi A (39), lokasi B (135) dan lokasi D (93). Pada lokasi C, pertanian lahan kering memiliki jumlah patch yang paling banyak (176). Jumlah total patch pada lokasi A adalah 195, lokasi B (341); lokasi C (320) dan lokasi D (288).

Nilai Mean Patch Size (MPS) merupakan nilai rata-rata ukuran patch. Nilai MPS terbesar pada lokasi A terdapat pada kebun teh (17,88 ha). Hutan Pinus memiliki nilai MPS terbesar di lokasi B yaitu 7,61 ha. Lokasi C memilik i nilai MPS terbesar pada hutan alam yaitu 14,83 ha. Pada lokasi D dengan nilai MPS terbesar pada kebun teh (11,41 ha). Nilai MPS untuk total lanskap lokasi A dan lokasi B tidak terlalu berbeda jauh yaitu 0,64 ha dan 0,60 ha. Nilai MPS lokasi C dan lokasi D masing-masing 0,92 ha dan 0,84 ha.

(51)

paling besar terdapat pada hutan pinus seluas 5,50 dan 8,52 ha. Lokasi D memiliki nilai PSSD paling besar pada kebun teh yaitu 9,03 dan hutan alam memiliki nilai PSSD = 0. Nilai total lanskap untuk PSSD pada lokasi A yaitu 3,21; lokasi B (1,30); lokasi C (2,38) dan lokasi D (2,53).

(52)

Nilai Patch Size Coeeficient of Variance (PSCoV) yang paling besar di lokasi A, B, C dan D adalah pemukiman yaitu 295,5; 265,39; 214,18 dan 245,51%. Pada lokasi D terdapat nilai PSCoV = 0 yaitu pada penutupan lahan hutan alam. Nilai PSCoV untuk total lanskap di lokasi A yaitu 431,41%; lokasi B (217,58%); lokasi C (257,81%) dan lokasi D (302,82%).

(53)

Edge. Pada lokasi A nilai TE paling besar terdapat pada semak belukar yaitu 14027,34 m. Total edge pada lokasi B (45916,41 m); lokasi C (92117,87 m) dan lokasi D ( 27236,66 m) memiliki nilai paling besar pada pertanian lahan kering. Total Edge untuk total lanskap area pada lokasi A yaitu sepanjang 76146,53 m. Total Edge untuk lokasi B yaitu 147027,08 m. Lokasi C memiliki nilai TE sebesar 169942,54 m dan lokasi D sebesar 126271,34 m.

(54)

Nilai Edge Density (ED) merupakan jumlah relatif edge untuk area lanskap atau menunjukkan besarnya kepadatan edge. Nilai ED terbesar pada lokasi A terdapat pada semak belukar 128,19 m/ha. Pertanian lahan kering memiliki nilai ED terbesar pada lokasi B (225,44 m/ha), C (312,46 m/ha ) dan D (113,08 m/ha). Nilai ED untuk total lanskap pada lokasi A sebesar 610,29 m/ha, lokasi B dengan nilai ED 721,88 m/ha. Nilai ED pada lokasi C yaitu 576,43 m/ha dan lokasi D sebesar 524,25 m/ha.

Nilai MPE (Mean Patch Edge) terbesar di lokasi A terdapat pada kebun teh yaitu 2801,45 m. Hutan pinus di lokasi B memiliki nilai MPE terbesar yaitu 3194,12 m. Pada lokasi C dan D, hutan alam memiliki nilai MPE terbesar yaitu 4581,28 dan 2260,36 m. Nilai MPE untuk total lanskap terbesar ditemukan pada lokasi C yaitu 531,07 m, kemudian disusul oleh lokasi D sebesar 438,44 m, lokasi B dengan MPE sebesar 431,16 m dan yang terakhir lokasi A yaitu 390,50 m.

Nilai kuantitaf lanskap berupa kekomplekan bentuk, keanekaragaman dan distribusi patch disajikan pada Tabel 6.

(55)

Tabel 6 (Lanjutan)

Sumber : Ikonos Tahun 2003

Keterangan : MSI = Mean Shape Index; MPAR = Mean Perimeter-Area Ratio; MPFD = Mean Patch Fractal Dimention; SDI = Shannons Diversity Index; SEI = Shannons Ev eness Index.

Ukuran kompleksitas dari bentuk bisa dilihat dari shape metrics. Nilai yang bisa dihitung pada shape metrics adalah Mean Shape Index (MSI). Lokasi A memiliki nilai MSI sebesar 1,54, diikuti oleh lokasi B sebesar 1,49, lokasi C sebesar (1,50) dan lokasi D sebesar 1,48.

Nilai MPAR terbesar terdapat pada lokasi A (1686,72 m/ha), diikuti oleh lokasi D (14,99 m/ha), kemudian pada lokasi B (1429,80 m/ha) dan MPAR terkecil terdapat pada lokasi C (1221,01 m/ha).

(56)
(57)

a b

c

Keanekaragaman dan Distribusi Patch dalam Lanskap. Keanekaragaman

patch pada suatu lanskap bisa dilihat dari nilai Shannons Index Diversity (SDI). Nilai SDI paling besar terdapat pada lokasi D (2,14), kemudian lokasi A (2,10), diikuti oleh lokasi B (1,64) dan yang paling kecil terdapat di lokasi D (1,57).

Kelimpahan dan distribusi patch ditunjukkan oleh nilai Shannons Evenness Index (SEI). Nilai SEI pada lokasi A merupakan nilai yang paling besar (0,95), kemudian lokasi D (0,89), disusul oleh lokasi B (0,79) dan yang paling kecil adalah lokasi C (0,68). Lokasi A memiliki distribusi patch yang merata dibandingkan lokasi lainnya.

Gambar 10 (a) Hutan pinus di lokasi D, (b) Hutan pinus di lokasi A, (c) Hutan pinus di lokasi B.

Pengaruh Penggunaan Lahan di Sekitar Lokasi Terhadap Jenis Burung

Figur

Tabel 1.  Luas wilayah berdasarkan perbatasan sub-sub DAS Ciliwung Hulu

Tabel 1.

Luas wilayah berdasarkan perbatasan sub-sub DAS Ciliwung Hulu p.36
Gambar 1.  Citra DAS Ciliwung Hulu tahun 2003

Gambar 1.

Citra DAS Ciliwung Hulu tahun 2003 p.39
Tabel 3.  Lokasi pengamatan keanekaragaman jenis burung

Tabel 3.

Lokasi pengamatan keanekaragaman jenis burung p.40
Gambar 2.  Bentuk titik pengamatan dengan menggunakan metode Point Count   atau IPA

Gambar 2.

Bentuk titik pengamatan dengan menggunakan metode Point Count atau IPA p.42
Gambar 3.  Proses pengolahan citra

Gambar 3.

Proses pengolahan citra p.44
Gambar 4.  Bagan alir penelitian

Gambar 4.

Bagan alir penelitian p.46
Gambar 5.  Peta lokasi penelitian

Gambar 5.

Peta lokasi penelitian p.47
Tabel 5.  Hasil analisis data lanskap luas area, patch, dan edge dengan menggunakan  Patch/Habitat Analysis pada lokasi penelitian

Tabel 5.

Hasil analisis data lanskap luas area, patch, dan edge dengan menggunakan Patch/Habitat Analysis pada lokasi penelitian p.49
Gambar 6.  Penutupan lahan pada lokasi A.

Gambar 6.

Penutupan lahan pada lokasi A. p.51
Gambar 7.  Penutupan lahan pada lokasi B.

Gambar 7.

Penutupan lahan pada lokasi B. p.52
Gambar 8.  Penutupan lahan pada lokasi C.

Gambar 8.

Penutupan lahan pada lokasi C. p.53
Tabel 6.  Nilai kuantitatif lanskap dari rasio perimeter area, kekomplekan bentuk,

Tabel 6.

Nilai kuantitatif lanskap dari rasio perimeter area, kekomplekan bentuk, p.54
Tabel 6 (Lanjutan)

Tabel 6

(Lanjutan) p.55
Gambar 9.  Penutupan lahan pada lokasi D.

Gambar 9.

Penutupan lahan pada lokasi D. p.56
Gambar 10 (a) Hutan pinus di lokasi D, (b) Hutan pinus di lokasi A,

Gambar 10

(a) Hutan pinus di lokasi D, (b) Hutan pinus di lokasi A, p.57
Gambar 11a.  Sungai Cihanjawar di lokasi C

Gambar 11a.

Sungai Cihanjawar di lokasi C p.58