Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Islam (S.Kom.I)
Angga Gurnita NIM: 107051002354
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
Diajukan Kepada Fakultas IImu Dakwah dan Ilmu Komunikasi
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Islam (S.Kom.i)
Oleh:
Angga Gurnita
NIM:
107051002354JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA 1432 Ht201t M
Pembimbing
telah diujikan dalam sidang munaqasah Fakultas Ilmu Dakwah dan IImu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 27 September 2011. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I) pada Program Studi Komunikasi dan Penviaran Islam.
Jakarta,2T September 201 1 Sidang Munaqasah
Ketua Merangkap Anggota, Sekretaris Merangkap Anggota,
,L
Drs. Jumroni. M.SiNIP. 19630515 199203 1006
Anggota,
Penguji I Penguji II
q;e
Gun Gun Heryanto, M.SiNIP. I 97 6081220050 I I 00s
i. Umi Mus
NIP. 1971081 99703 0202
172001122002
Pembimbing
persyaratan memperoleh gelar strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai
dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau
merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi
yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Tangerang, 27 September 2011
iv
Skripsi ini dibuat dengan mengambil judul Respon Masyarakat Terhadap Metode Dakwah Kiai Cepot karena penulis ingin mengetahui bagaimana respon warga terhadap Metode dakwah bil lisan Kiai Cepot. Metode Dakwah bil lisan adalah cara penyampaian dakwah yang disampaikan melalui lisan atau ucapan. Warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh Tangerang Banten adalah orang-orang yang berada disekitar tempat tinggal Kiai Cepot yang selalu aktif menghadiri ceramah-ceramah Kiai Cepot.
Adapun perumusan masalah dari penelitian ini adalah: Bagaimana respon kognitif warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh Tangerang Banten terhadap metode ceramah Kiai Cepot? Bagaimana respon afektif warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh Tangerang Banten terhadap metode ceramah Kiai Cepot? Bagaimana respon konatif warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh Tangerang Banten terhadap metode ceramah Kiai Cepot?
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teori S-O-R. Teori S-O-R ini menjelaskan bahwa reaksi tertentu akan timbul akibat stimulus tertentu, sehingga seseorang dapat mengharapkan dan memperkirakan pesan yang disampaikan terhadap reaksi komunikan. Dalam hal ini, peneliti tertarik untuk mengetahui respon warga terhadap metode ceramah Kiai Cepot.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian kuantitatif. Sedangkan data-data yang diperoleh dalam penelitian dengan beberapa cara yaitu cara observasi yang didalamnya terdiri dari menghadiri ceramah serta melakukan wawancara dengan narasumber. Angket yang didalamnya berisi daftar pertanyaan guna mengetahui respon warga. Dokumentasi yang didalamnya terdiri dari data-data buku, brosur dan foto-foto yang berhubungan dengan bahan skripsi.
v
Alhamdulillahirabbil ‘alamin, hanya ucapan dan rasa syukur yang
mampu terucap atas segala nikmat, karunia dan rahmat-Nya. Tiada daya dan
upaya melainkan atas kehendak-Nya, begitu pun dalam menyelesaikan penulisan
skripsi ini. Kemudahan dan pertolongan Allah senantiasa penulis rasakan,
sehingga penulisan dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Respon
Masyarakat Terhadap Metode Dakwah Kiai Cepot.” Penulisan skripsi ini di buat sebagai salah satu syarat kelulusan strata satu (S1) Jurusan Komunikasi dan
Penyiaran Islam Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Shalawat serta salam semoga senantiasa
tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat, tabi’in
-tabi’in yang selalu mengikuti ajarannya.
Perasaan bahagia dan haru berbaur menjadi satu atas terselesaikannya
skripsi ini. Namun, penulis menyadari atas bimbingan, bantuan, dan dorongan dari
semua pihaklah, penulisan skripsi ini dapat terselesaikan. Oleh karena itu pada
kesempatan inilah, izinkan penulis mengucapkan terima kasih pada semua pihak
yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini baik secara moril maupun
materil, terutama yang paling terhormat kedua orang tua saya tercinta Alm.
Suwitairi semoga ayah tenang di surga dan E. Hasanah yang selalu mencurahkan
kasih sayang, pendidikan, dan motivasi kepada penulis. Kesabaran, rasa cinta, dan
vi
1. Bapak Dr. Arief Subhan M.Ag. selaku Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan
Komunikasi beserta Pembantu Dekan dan jajarannya.
2. Bapak Dr. Jumroni M.Si selaku Ketua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran
Islam. Serta para dosen dan staff pengajar Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu
Komunikasi yang telah mengajarkan banyak hal selama penulis melakukan
studi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Hj. Umi Musyaroffah. M.A, selaku sekertaris Jurusan Komunikasi dan
Penyiaran Islam, terima kasih atas segala bantuannya.
4. Dr. Hj. Roudhonah. M.A, tiada kata yang sangat pantas terucap selain terima
kasih yang mendalam atas kesediaannya untuk meluangkan waktu di
tengah-tengah kesibukannya guna memberikan arahan, masukan, diskusi, dan
membimbing kepada penulis untuk dapat menyelesaikan skripsi ini.
5. Bapak K.H. Drs. Ahmad Ihsan (Kiai Cepot), selaku narasumber, terima kasih
atas kesediaan waktunya untuk wawancara dan foto bareng bersama penulis
dalam rangka pengumpulan data penulis.
6. Hj. Rukoyah, terima kasih atas waktu dan bantuannya.
7. Bapak Halimi, selaku ketua RT 004 RW 02 Kelurahan Kenanga, terima kasih
telah memberikan izin bagi penulis untuk melakukan penelitian di Kelurahan
Kenanga RT 004 RW 02 dan kesediaan waktunya untuk wawancara dan foto
vii
beserta keponakan tercinta Naurah Qolbia Salamah, terima kasih atas do’a
dan dukungan yang telah diberikan.
10.Teman-teman KPI C angkatan 2007, yang telah bersama-sama berjuang dan
menimba ilmu di kampus kita tercinta ini. Terutama penulis ucapkan terima
kasih kepada Nuni dan Arip Hidayat atas segala bantuannya.
11.Berbagai pihak yang tidak mungkin disebutkan satu persatu yang telah
membantu dalam kelancaran penulisan skripsi ini.
Semoga Alah SWT senantiasa memberikan Rahmat dan Karunia-Nya
kepada semua pihak di atas yang telah memberikan segala bantuannya kepada
penulis.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Tangerang, 27 September 2011
viii
DAFTAR ISI ... viii-x
DAFTAR TABEL... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah... 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 5
1. Pembatasan Masalah ... 5
2. Perumusan Masalah ... 5
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 5
1. Tujuan Penelitian ... 5
2. Manfaat Penelitian ... 6
D. Tinjauan Pustaka ... 6
E. Metodologi Penelitian ... 7
1. Metode Penelitian ... 7
2. Subjek dan Objek Penelitian ... 8
3. Teknik Pengumpulan Data ... 8
4. Populasi Dan Sampling ... 9
5. Teknik Pengambilan Sample ... 10
6. Definisi Operasional ... 11
ix
BIL LISAN ... 27
A. Respon ... 27
1. Pengertian Respon ... 27
2. Teori S-O-R ... 29
3. Jenis-Jenis Respon ... 32
4. Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Respon ... 33
B. Ruang Lingkup Dakwah ... 34
1. Pengertian Dakwah ... 34
2. Unsur-Unsur Dakwah ... 35
3. Bentuk-Bentuk Dakwah ... 48
4. Landasan Hukum Dakwah ... 51
BAB III GAMBARAN UMUM TENTANG WARGA KENANGA RT 004 RW 02 CIPONDOH TANGERANG BANTEN DAN BIOGRAFI KIAI CEPOT ... 55
A. Profil Warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh Tangerang Banten . 55 1. Data Warga ... 55
2. Data Pendidikan ... 58
3. Data Mata Pencaharian Warga ... 59
x
BAB 1V RESPON WARGA KENANGA RT 004 RW 02 CIPONDOH TANGERANG BANTEN TERHADAP METODE DAKWAH
BIL LISAN KIAI CEPOT ... 67
A. Profil Responden ... 67
B. Respon Kognitif Warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh Tangerang Banten Terhadap Metode Ceramah Kiai Cepot ... 71
C. Respon Afektif Warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh Tangerang Banten Terhadap Metode Ceramah Kiai Cepot ... 76
D. Respon Konatif Warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh Tangerang Banten Terhadap Metode Ceramah Kiai Cepot ... 80
BAB V PENUTUP ... 84
A. Kesimpulan ... 84
B. Saran-Saran ... 85
xi
Tabel 2 : Hasil Pengujian Validitas Questioner Respon Kognitif ... 21
Tabel 3 : Hasil Pengujian Validitas Questioner Respon Afektif ... 22
Tabel 4 : Hasil Pengujian Validitas Questioner Respon konatif ... 23
Tabel 5 : Jumlah Warga Berdasarkan Jenis Kelamin ... 55
Tabel 6 : Jumlah Warga Berdasarkan Kewarganegaraan ... 56
Tabel 7 : Jumlah Warga Berdasarkan Agama ... 57
Tabel 8 : Jumlah Warga Berdasarkan Tingkat Usia ... 57
Tabel 9 : Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 58
Tabel 10 : Berdasarkan Mata Pencaharian ... 59
Tabel 11 : Jenis Kelamin Responden ... 67
Tabel 12 : Jenis Pekerjaan Responden ... 69
Tabel 13 : Latar Belakang Pendidikan Responden ... 70
1
A. Latar Belakang Masalah
Berdakwah dalam Islam merupakan kegiatan yang mempunyai
cakupan yang sangat luas. Berdakwah di dalamnya terdapat unsur-unsur
penting yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya, yaitu
da’i, mad’u, metode, materi, media dan tujuan. Dan dalam pelaksanaannya
dapat melalui berbagai cara, yaitu: melalui lisan (bil lisan), tulisan (bil qalam)
dan perbuatan nyata (bil hal).1
Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai kenyataan bahwa tata
cara memberikan sesuatu lebih penting dari sesuatu yang diberikan itu
sendiri. Secangkir teh pahit dan sepotong ubi goreng yang disajikan dengan
cara yang sopan dan ramah, akan lebih terasa nikmat disantap ketimbang
seporsi makanan lezat dan mahal harganya, tetapi disajikan dengan cara yang
tidak sopan dan menyakiti hati orang yang menerimanya.
Gambaran tersebut, mengandung ungkapan bahwa tata cara atau
metode sangatlah penting. Betapa pun sempurnanya materi, lengkapnya
bahan dan aktualnya isu-isu yang disajikan, tetapi bila disajikan dengan cara
yang tidak sistematis dan sembarangan, akan menimbulkan kesan yang tidak
menyenangkan. Tetapi sebaliknnya, walaupun materi kurang sempurna,
bahan sederhana dan isu-isu yang disampaikan kurang aktual, namun
1Hamzah Ya’qub,
[image:13.595.115.523.78.451.2]disajikan dengan cara yang menarik dengan menggugah, maka akan
menimbulkan kesan yang menggembirakan.
Pemilihan cara atau metode yang tepat, menjadi bagian strategis dari
kegiatan dakwah itu sendiri. Sehinga seorang da’i hendaknya memiliki cara
atau metode tertentu dalam penyampaian dakwah yang disukai dan mudah
dipahami oleh mad’u.
Pada masa modern seperti sekarang ini, dakwah bil lisan tetap
dilakukan da’i, karena setiap da’i tentu mempunyai ciri khas dalam
penyampaian dakwah bil lisannya seperti melalui ceramah, dzikir, tanya
jawab, seminar, ataupun diskusi.
Salah seorang da’i yang melakukan kegiatan dakwah bil lisan adalah
Kiai Cepot. Nama asli beliau adalah K.H. Drs. Ahmad Ihsan. Beliau adalah
seorang pimpinan Pondok Pesantren Modern Ibadurrahman yang terletak di
Jl. KH. Hasyim Asyari Gg. Masjid RT 004 RW 02 Kel. Kenanga Cipondoh
Kota Tangerang Banten. Beliau sangat dikenal di kalangan para santri dan
warga sekitar karena kepribadiannya yang selalu ceria, mudah senyum, selalu
menyapa terhadap siapa pun orang yang bertemu dengannya.2 Selain beliau
dikenal sebagai seorang pimpinan Pondok Pesantren Modern Ibadurrahman,
beliau juga dikenal sebagai seorang da’i yang mempunyai keunikan dan ciri
khas dalam setiap penyampaian dakwah Islamiyahnya oleh masyarakat luas.
Dakwah yang dilakukan oleh Kiai Cepot adalah dakwah bil lisan,
maksudnya adalah beliau berdakwah melalui perkataan-perkataan atau
2
ucapan-ucapan yang biasanya disebut dengan ceramah. Beliau berceramah
dengan suara lantang, tegas, serta sambil sesekali menirukan gaya tokoh
pewayangan nusantara terkenal yang bernama Cepot. Tentu keahlian cara
penyampaian ceramah yang unik tersebut merupakan pemberian dari Allah
SWT yang diberikan kepada dirinya. Beliau selalu berceramah baik di
pesantren yang secara rutin dilakukan dihadapan para santrinya selepas shalat
jum’at, mengisi ceramah pada acara-acara peringatan hari besar Islam,
khutbah jum’at, undangan pengajian, sunatan, acara nikahan, ulang tahun,
baik diwarga sekitar atau pun warga luas, serta berceramah di televisi, dan
lain sebagainya.3
Dalam setiap ceramah yang di lakukan, Kiai Cepot selalu berpakaian
unik sambil memegang tongkat dan sering kali melakukan gerakan-gerakan
yang menyerupai Cepot, sehingga tidak jarang menimbulkan senyuman atau
pun tawa dari para mad’unya. Dengan cara berceramah seperti ini, tentu
dilakukan oleh beliau untuk menarik perhatian para mad’u agar
mendengarkan ceramahnya dan ceramah yang disampaikannya pun tidak
terkesan monoton, yang dapat menyebabkan mad’u malas mendengarkan
ceramah beliau. Selain itu, agar dapat membantu para mad’u dalam
mencerna dan memahami isi pesan-pesan dakwah Islamiyah yang
disampaikan beliau. Walaupun beliau dalam berceramah sering menirukan
gerak-gerik Cepot dan menimbulkan rasa humor saat beliau berceramah,
3
dihadapan para mad’unya, tentu tidak mengurangi isi pesan dakwah
Islamiyah yang disampaikan beliau.
Dari keunikan cara ceramahnya, beliau selalu mendapat undangan
ceramah dari warga sekitar atau pun warga dari berbagai daerah,
kelompok-kelompok pengajian, atau pun acara-acara pemerintah. Sampai saat ini, beliau
sudah berceramah keberbagai pelosok daerah di Indonesia, diantaranya
Batam, Balik papan, Samarinda, Banjarmasin, Kutai, Jambi, Sukabumi,
Karawang, Garut, Tangerang, dan sebagainya, kecuali Papua.4
Saat ini, beliau aktif berceramah di setiap undangan-undangan, beliau
juga aktif mengisi ceramah di televisi. Yang terbaru adalah beliau mengisi
ceramah dalam program Indahnya Sore yang disiarkan oleh MNCTV setip
hari Minggu sore pukul 15.00 WIB. Dalam Program Indahnya Sore tersebut,
Kiai Cepot, berperan sebagai da’i yang berceramah dihadapan para audience.
Sebelum beliau mengisi ceramah dalam program Indahnya Sore, beliau juga
pernah mengisi ceramah-ceramah agama di stasiun televisi SCTV, JakTV,
dan Banten TV.
Dari penampilan ceramahnya di stasiun televisi dan masyarakat,
tentunya banyak dari para pemirsa dan pendengar yang menilai baik
terhadap metode ceramah yang diterapkan Kiai Cepot dalam kegiatan dakwah
Islamiyahnya. Tidak sedikit da’i-da’i pemula mengikuti cirri khas beliau
dalam setiap ceramah-ceramah yang mereka lakukan guna mendukung
keberhasilan ceramah yang mereka sampaikan.
4
Dari pemaparan di atas, tergambar jelas bahwa ceramah dengan
menirukan gerak-gerik Cepot yang dilakukan Kiai Cepot merupakan ciri khas
beliau dalam penyampaian pesan dakwah Islamiyahnya. Dari sinilah penulis
tertarik untuk melakukan penelitian yang diangkat sebagai judul skripsi
“Respon Masyarakat Terhadap Metode Dakwah Kiai Cepot.” B. Pembatasan Dan Perumusan Masalah
1. Pembatasan Masalah
Dari penjelasan latar belakang di atas, penulis membatasi
masalahnya pada respon warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh
Tangerang Banten terhadap metode ceramah yang digunakan Kiai Cepot.
Dengan melihat tingkat respon kognitif, respon afektif, dan respon
konatif.
2. Perumusan Masalah
Dari penjelasan latar belakang di atas, penulis merumuskan
masalah sebagai berikut:
a. Bagaimana respon kognitif warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh
Tangerang Banten terhadap metode ceramah Kiai Cepot,?
b. Bagaimana respon afektif warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh
Tangerang Banten terhadap metode ceramah Kiai Cepot?
c. Bagaimana respon konatif warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh
C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah sebagai
berikut:
a. Untuk mengetahui respon kognitif warga Kenanga RT 004 RW 02
Cipondoh Tangerang Banten terhadap metode Ceramah Kiai cepot.
b. Untuk mengetahui respon afektif warga Kenanga RT 004 RW 02
Cipondoh Tangerang Banten terhadap metode ceramah Kiai Cepot.
c. Untuk mengetahui respon konatif warga Kenanga RT 004 RW 02
Cipondoh Tangerang Banten terhadap metode ceramah Kiai Cepot.
3. Manfaat Penelitian
a. Manfaat akademis penelitian ini adalah untuk menambah khazanah
keilmuan bagi mahasiswa mengenai metode dakwah, terutama metode
dakwah bil Lisan. Penelitian ini diharapkan bisa memberikan
konstribusi positif, umumnya bagi mahsiswa Fakultas Ilmu Dakwah
dan Ilmu Komunikasi (FIDKOM) dan khususnya bagi mahasiswa
jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI).
b. Manfaat praktis penelitian ini adalah untuk menjadi salah satu acuan
atau pedoman para praktisi dakwah dalam meningkatkan metode
D. Tinjauan Pustaka
Sebelum melakukan penelitian dan skripsi ini, penulis telah terlebih
dahulu melakukan tinjauan pustaka. Sebelumnya telah ada skripsi yang
berjudul “ Respon Jamaah Majelis Ta’lim At-Tarbiyah terhadap Metode
Dakwah K.H Edi Junaedi Nawawi ” yang dibuat oleh Siti Buraedah pada
tahun 2009. Skripsi ini membahas tentang respon jamaah terhadap metode
dakwah bil hal yang digunakan oleh K.H Edi Junaedi Nawawi. Selain itu
juga penulis menemukan skripsi dengan judul “Respon Jamaah Majlis Dzikir
As-Samawat terhadap Metode Dakwah K.H. Sa’adih Al-Batawi di Puri
Kembangan-Jakarta Barat” yang dibuat oleh Lianasari Situmeang pada tahun
2008. Skripsi ini membahas tentang metode dakwah melalui pelaksanaan
kegiatan shalat Magrib dan Isya berjama’ah, dzikir bersama dan pengobatan
alternatif gratis yang ditujukan untuk semua kalangan.
Sedangkan penulis merasa tertarik untuk mengambil judul Skripsi
dengan judul “Respon Masyarakat Terhadap Metode Dakwah Kiai Cepot.”
Perbedaan skripsi ini dengan skripsi-skripsi tersebut adalah lebih
mengkhususkan pembahasan kepada respon warga Kenanga RT 004 RW 02
terhadap metode ceramah Kiai Cepot. Skipsi ini juga hanya membatasi pada
respon kognitif, afektif, dan konatif warga Kelurahan Kenanga, RT 004 RW
Untuk mempermudah dalam penulisan skripsi ini, penulis
menggunakan buku pedoman penulisan skripsi, tesis, dan disertasi yang di
terbitkan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Perss tahun 2007.5
E. Metodologi Penelitian
1. Metode Penelitian
Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, karena
pendekatan kuantitatif dapat menghasilkan data yang akurat setelah
perhitungan angka yang tepat. Pendekatan kuantitatif ini merupakan salah
satu pendekatan dalam penelitian yang lebih ditekankan pada data yang
dapat dihitung untuk menghasilkan penafsiran kuantitatif yang kokoh.6
Pendekatan kuantitatif sifatnya adalah objektif, karena pada dasarnya
penulis dapat melihat langsung sebuah keadaaan yang sebenarnya terjadi.
2. Subjek dan Objek Penelitian
Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah warga
Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh Tangerang Banten, dengan alasan
warga dekat dengan kediaman Kiai Cepot dan warga sering menghadiri
ceramah-ceramah beliau pada saat acara-acara yang diadakan di pondok
pesantren modern Ibadurrahman ataupun acara-acara yang diadakan warga
sekitar. Adapun yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah respon
5
Hamid Nasuhi, dkk, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis dan Disertasi),
(UIN Jakarta: CeQda, 2007), cet. Ke-1
6
warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh Tangerang Banten terhadap
dakwah bil lisan Kiai Cepot.
3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik Pengumpulan Data dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
a. Angket/Questioner yaitu suatu alat pengumpulan data berisi daftar
pertanyaan secara tertulis yang ditujukan kepada subjek atau responden
penelitian.7 Dalam penelitian ini, angket disebar kepada warga
Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh Tangerang Banten, sebanyak 71
angket.
b. Wawancara yaitu sebuah proses memperoleh keterangan untuk tujuan
penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara
pewawancara dengan responden atau orang yang diwawancarai, dengan
atau tanpa mengunakan pedoman (guide) wawancara.8 Disini, peneliti
sebagai pewawancara yang mengajukan pertanyaan kepada individu
sebagai objek yang diwawancarai yang memberikan jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan. Dalam penelitian ini, objek yang diwawancarai
adalah KH. Ahmad Ihsan atau Kiai Cepot, Ketua RT 004, dan salah
seorang ustadz yang tinggal di lingkungan tersebut.
c. Dokumentasi yaitu pengumpulan data yang berkaitan dengan masalah
penelitian, dapat berupa buku, majalah, artikel, foto, gambar, dan
7 Faisal Sanafih, Format-Format Penelitian Social, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), hal.122
8
lain.9 Dalam penelitian ini, peneliti mengumpulkan data dokumentasi
berupa foto-foto, brosur, dan buku-buku yang ada kaitannya dengan
skripsi yang dibahas.
4. Populasi Dan Sampling
Populasi adalah sekumpulan elemen dan unsur yang menjadi objek
penelitian. Populasi bisa berbentuk lembaga, individu, kelompok,
dokumen atau konsep. Sehingga objek-objek ini biasa menjadi sumber
penelitian10. Sedangkan sample adalah sebagian dari populasi.
Dalam penelitian ini populasinya adalah warga Kenanga RT 004
RW 02 Cipondoh Tangerang Banten yang berumur diatas 15 tahun
berjumlah 243 orang.
5. Teknik Pengambilan Sample
Adapun Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan
menggunakan teknik purposive sampling. Teknik sampling ini digunakan
pada penelitian-penelitian yang lebih mengutamakan tujuan penelitian dari
pada sifat populasi dalam menentukan sampel penelitian. Karena dalam
penelitian ini akan meneliti respon warga mengenai metode dakwah bil
lisan Kiai Cepot, maka peneliti akan menjadikan warga Kenanga RT 004
RW 02 sebagai sampel penelitian. Hal ini berangkat dari asumsi bahwa
warga Kenanga RT 004 RW 02 adalah orang yang lebih banyak tahu
mengenai metode ceramah Kiai Cepot.
9
Nana Danapriatna dan Roni Setiawan, Pengantar Statistika, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2005), cet. ke-1, h.9
10
Untuk mengetahui jumlah sampel yang digunakan, maka peneliti
menggunakan rumus slovin dengan sampling error 10% . Karena dalam
rumus slovin menjelaskan bahwa untuk mencapai keakuratan data, maka
pengambilan sampel dari populasi dalam sebuah penelitian batas sampling
errornya antara 1%-10%. Jadi dari jumlah 243 warga Kenanga RT 004
RW 02 yang berumur diatas 15 tahun, peneliti mengambil sampel warga
dengan sampling error 10%, sehingga di dapat 71 sampel. Untuk lebih
jelasnya sebagai berikut:
n = N 1+Ne²
Keterangan
n = Ukuran sampel
N = Ukuran populasi
e = Kelongaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sample
yang dapat ditolerir, misalnya 2%, kemudian e ini di kuadratkan.11
243
1+(243 x 10/100)2
243
1+ (243 x 0,1)2
243
1+ (243x0.01)
11
243
1+ 2,43
243 = 70,84
= 71 orang3,43
Sampel = 71 orang
Dari perhitungan rumus slovin maka diperolehlah jumlah sample
penelitian yang akan digunakan yaitu berjumlah 71 responden.
6. Definisi Operasional
Definisi operasional mengatakan bagaimana operasi atau kegiatan
yang harus dilakukan untuk memperoleh data atau indikator yang
menunjukan konsep yang dimaksud. Definisi inilah yang diperlukan dalam
penelitian karena definisi ini menghubungkan konsep atau konstruk yang
diteliti dengan gejala empirik.12
Dalam penelitian tentang respon warga Kenanga RT 004 RW 02
Cipondoh Tangerang Banten Terhadap Dakwah Bil Lisan Kiai Cepot
terdapat 2 variabel yaitu variabel independent dan dependen. Variabel
yang mempengaruhi disebut variabel penyebab, bebas, atau independent
variabel (x), yaitu dakwah bil lisan Kiai Cepot. Sedangkan variabel akibat
disebut dengan variabel tidak bebas, terikat, atau dependent variabel (y),
warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh Tangerang Banten.
12
Dalam penelelitian ini, ada sesuatu yang akan dilihat berdasarkan
variabel yang ada. Hal ini dapat terlihat pada gambar sebagai berikut:
a. variabel Independent Variabel Dependent
Warga Kenanga RT 004 RW 02
Cipondoh Tangerang Banten
Metode ceramah Respon kognitif
Respon afektif
Respon konatif
Keterangan:
Pada gambar tersebut, dapat diamati bahwa ruang lingkup respon
mencakup respon kognitif, afektif dan konatif terhadap metode ceramah
Kiai Cepot. Dari metode ceramah ini hal yang ingin diketahui apakah
minat atau tanggapan terhadap ceramah Kiai Cepot rendah, sedang, atau
tinggi. Setelah mengetahui bagaimana kadar tanggapan respon, peneliti
dapat menilai atau melihat bagaimana metode ceramah tersebut dapat
menarik warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh Tangerang Banten
untuk melihat dan menyukainya ceramah Kiai Cepot sehingga mempunyai
kadar rendah, sedang, dan tinggi.
a. Variabel Independent Metode ceramah
1). Definisi Operasional
Dakwah yang cara penyampaiannya melalui ucapan.
2). Indikator
b) Kesesuaian materi yang disampaikan dengan al-Qur’an dan
hadist.
b. Variabel Dependent
Warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh Tangerang Banten
Merupakan sekumpulan orang yang tinggal di Kelurahan
Kenanga RT 004 RW 02, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang
Banten. Dalam hal ini, tentunya warga Kenanga RT 004 RW 02
Cipondoh Tangerang Banten akan memberikan respon terhadap
dakwah bil lisan Kiai Cepot. Dalam bahasa respon, ada 2 macam
respon yaitu respon positif maupun negatif. Berbicara tentang respon,
berbicara pula tentang jenis-jenis respon:
1). Respon kognitif
a). Definisi Operasional
Respon kognitif, yaitu respon yang berkaitan erat dengan
pengetahuan, keterampilan dan informasi seseorang mengenai
sesuatu. Respon ini timbul apabila adanya perubahan terhadap
yang dipahami atau dipersepsikan oleh khalayak.
b). Indikator
(1) Wawasan mengenai agama Islam.
(2) Pemahaman mengenai materi yang disampaikan.
(3) Kecakapan dalam penyampaian materi-materi ceramah.
2). Respon Afektif
a). Definisi operasional
Respon afektif, yaitu respon yang berhubungan dengan
emosi, sikap dan menilai seseorang terhadap sesuatu. Respon ini
akan timbul apabila ada perubahan sikap pada apa yang disukai
khalayak terhadap sesuatu.
b). Indikator
(1) Ketertarikan dalam ceramah yang disampaikan.
(2) Perhatian terhadap ceramah yang disampaikan.
(3) Suka atau tidaknya terhadap metode ceramah yang
digunakan dan materi yang disampaikan.
(4) Baik atau buruk metode ceramah yang digunakan dan
materi yang disampaikan.
3). Respon konatif
a). Definisi Operasional
Respon konatif, yaitu respon yang berhubungan dengan
perilaku nyata, yang meliputi tindakan atau kebiasaan.
b). Indikator
(1) Mengikuti kegiatan ceramah.
(2) Menjalankan kewajiban sesuai syariat agama Islam.
(3) Merealisasikan materi ceramah dalam kehidupan
(4) Menggunakan metode ceramah Kiai Cepot dalam kegiatan
dakwah.
7. Analisis data
Teknik analisis data kuantitatif yaitu suatu metode analisis yang
dilakukan dengan cara mengumpulkan, mengolah, menyajikan data
berwujud angka.
a. Untuk mengetahui bagaimana distribusi frekuensi pada suatu data,
maka peneliti menggunakan rumus :
N = fx x 100%
N
Keterangan:
N = Jumlah kejadian
fx = Frekuensi individu
b. Likert
Dalam menganalisis data, peneliti menggunakan skala
likert dengan ketentuan untuk pernyataan positif diberi skor
sebagaimana berikut:
a. Sangat Setuju (SS) diberi skor 4
b. Setuju (S) diberi skor 3
c. Tidak Setuju (TS) diberi skor 2
d. Sangat Tidak Setuju (STS) diberi skor 1
Adapun nilai negatif diberikan skor sebagaimana berikut:
b. Setuju (S) diberi skor 2
c. Tidak Setuju (TS) diberi skor 3
d. Sangat Tidak Setuju (STS) diberi skor 4
c. Mean adalah nilai tengah atau kecenderungan tengah yag memberikan
gambaran umum dari suatu segi pengamatan, analisis rata-rata
digunakan untuk menentukan kategori dari setiap skala. Rumus:
Keterangan:
N = Rata-rata
= Pengamatan
n = Jumlah pengamatan
d. Validitas
Validitas menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur itu
mengukur apa yang ingin diukur, dalam penelitian ini uji validitas
dilakukan kepada kuesioner atau pertanyaan-pertanyaan yang akan
diajukan kepada responden, Rumus:
= N ( ∑ xy ) –( ∑x . ∑y)
[image:29.595.147.528.78.494.2]Untuk mengetahui ketepatan atau kelayakan alat pengukur serta
kesesuaiannya, maka di bawah ini penulis melakukan pengujian alat
ukur dengan cara menguji setiap butir pertanyaan dengan menggunakan
Korelasi Product Moment 13 untuk mendapatkan data atau alat
pengukuran yang tepat dan sesuai. Berikut ini merupakan hasil dari
pengujian instruments atau alat berupa angket yang telah dilakuan oleh
[image:30.595.131.515.174.725.2]penulis.
Tabel 1 Pengujian Validitas
Pertanyaan no.1
X² X Y X.Y Y²
9 3 99 297 9801
9 3 85 255 7225
4 2 84 168 7056
9 3 103 309 10609
9 3 86 258 7396
9 3 99 297 9801
9 3 96 288 9216
16 4 121 484 14641
9 3 116 348 13456
9 3 109 327 11881
16 4 98 392 9604
9 3 100 300 10000
9 3 96 288 9216
9 3 98 294 9604
9 3 102 306 10404
16 4 121 484 14641
16 4 126 504 15876
9 3 98 294 9604
9 3 94 282 8836
16 4 98 392 9604
13
9 3 103 309 10609
9 3 102 306 10404
4 2 98 196 9604
9 3 90 270 8100
9 3 96 288 9216
16 4 110 440 12100
1 1 34 34 1156
9 3 113 339 12769
1 1 34 34 1156
9 3 103 309 10609
16 4 116 464 13456
16 4 136 544 18496
16 4 113 452 12769
16 4 113 452 12769
9 3 107 321 11449
16 4 116 464 13456
9 3 105 315 11025
9 3 99 297 9801
16 4 125 500 15625
16 4 136 544 18496
9 3 124 372 15376
16 4 119 476 14161
16 4 103 412 10609
9 3 109 327 11881
9 3 118 354 13924
16 4 113 452 12769
16 4 113 452 12769
16 4 116 464 13456
16 4 122 488 14884
16 4 121 484 14641
16 4 109 436 11881
∑ 580 ∑ 168 ∑ 5345 ∑ 18162 ∑ 577887
Keterangan:
X : Jumlah skors pertanyaan
r hitung =
= N . ( ∑ xy ) –( ∑x . ∑y)
√ [ N . ∑x² - ( ∑x )² ] . [ N . ∑y² - ( ∑y)² ]
= (51 x 18162) – (168 x 5345)
[ (51 x 580) – (168 x 168)] . [(51 x 577887) – (5345 x 5345)]
= 28302
1224755472
= 0, 80870929
Dari hasil perhitungan dengan menggunakan rumus Kolerasi
Pruduct Moment, penulis menemukan hasil perhitungan sebagai
[image:32.595.148.527.82.446.2]berikut:
Tabel 2
Hasil Pengujian Validitas Questioner Respon Kognitif No. r Hitung Pertanyaan
1. 0,80
2. 0.77
3. 0.83
4. 0,55
5. 0,80
6. 0,58
7. 0.76
8. 0,81
9. 0,73
10. 0,78
11. 0,79
12. 0,74
13. 0,79
14. 0,72
15. 0,76
Keterangan :
r hitung pertanyaan no.1 = 0,80
r hitung pertanyaan no.2 = 0.77
r hitung pertanyaan no.3 = 0.83
r hitung pertanyaan no.4 = 0,55
r hitung pertanyaan no.5 = 0,80
r hitung pertanyaan no.6 = 0,58
r hitung pertanyaan no.7 = 0.76
r hitung pertanyaan no.8 = 0,81
r hitung pertanyaan no.9 = 0,73
r hitung pertanyaan no.10 = 0,78
r hitung pertanyaan no.11 = 0,79
r hitung pertanyaan no.12 = 0,74
r hitung pertanyaan no.13 = 0,79
r hitung pertanyaan no.14 = 0,72
r hitung pertanyaan no.15 = 0,76
Tabel 3
Hasil Pengujian Validitas Questioner Respon Afektif No. r Hitung Pertanyaan
17. 0,77
18. 0,74
19. 0,79
20. 0,80
21. 0,80
22. 0,71
23. 0,79
24. 0,66
25. 0,76
26. 0,84
27. 0,74
28. 0,75
Keterangan :
r hitung pertanyaan no.17 = 0,77
r hitung pertanyaan no.18 = 0,74
r hitung pertanyaan no.19 = 0,79
r hitung pertanyaan no.20 = 0,80
r hitung pertanyaan no.21 = 0,80
r hitung pertanyaan no.22 = 0,71
r hitung pertanyaan no.23 = 0,79
r hitung pertanyaan no.24 = 0,66
r hitung pertanyaan no.25 = 0,76
r hitung pertanyaan no.26 = 0,84
r hitung pertanyaan no.27 = 0,74
Tabel 4
Hasil Pengujian Validitas Quesioner Respon Konatif No. R Hitung Pertanyaan
29. 0,77
30. 0,76
31. 0,65
32. 0,82
33. 0,40
34. 0,62
Keterangan :
r hitung pertanyaan no.29 = 0,77
r hitung pertanyaan no.30 = 0,76
r hitung pertanyaan no.31 = 0,65
r hitung pertanyaan no.32 = 0,82
r hitung pertanyaan no.33 = 0,40
r hitung pertanyaan no.34 = 0,62
Dari hasil perhitungan r di atas dicocokan dengan ukuran
kekuatan hubungan berdasarkan koefisien asosiasi, yakni:
Kurang dari 0,27 : Hubungan rendah sekali, tidak valid.
0,27 - 0,37 : Hubungan rendah tetapi pasti.
0,38 - 0,68 : Hubungan yang cukup berarti.
0,69 - 0,90 : Hubungan yang tinggi, kuat.
Berdasarkan r tabel, r hitung dikatakan memiliki taraf
signifikansi 5% jika:
dk-2 = 51 - 2
= 49
Untuk r tabel, N = 49, maka r tabelnya adalah 0,27, jika r hitung
> r tabel maka ia memiliki signifikansi tapi jika jika r hitung < r tabel
maka ia tidak memiliki signifikansi.
Dari tabel di atas, setelah penulis melakukan pengujian validitas
dan ralibilitas sesuai dengan ketentuan rumus validitas, maka
didapatkan item yang valid dan realibel yang berjumlah 34 item
questioner menunjukan bahwa semua item questioner yang dibuat oleh
penulis dapat dinyatakan valid dan realibel.
Maka dalam analisis peneliti akan menggunakan seluruh item
yang berjumlah 34 item questioner yang dianggap valid. Item tersebut
terdiri dari 16 item questioner respon kognitif, 12 item questioner
respon afektif dan 6 item questioner respon konatif.
F.Sistematika Penulisan
Agar mengetahui gambaran yang jelas tentang hal-hal yang diuraikan
dalam penulisan ini, maka penulis membagi sistematika penyusunannya
menjadi lima bab, pada tiap-tiap bab terdiri dari sub-sub bab dengan penulisan
BAB I Pendahuluan
Latar Belakang Masalah, Pembatasan dan Perumusan
Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Tinjauan Pustaka
Metodologi Penelitian dan Sistematika Penulisan.
BAB II Kajian Teori
Pengertian Respon, Teori S-O-R, Jenis-Jenis Respon,
Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Respon, Pengertian
Dakwah, Unsur-Unsur Dakwah, Bentuk-Bentuk Dakwah,
Landasan Hukum Dakwah.
BAB III Gambaran Umum Tentang Warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh Tangerang Banten Dan Biografi Kiai Cepot
Profil Warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh
Tangerang Banten, Data Warga, Data Pendidikan, Data
Mata Pencaharian Warga, Biografi Kiai Cepot, Riwayat
Hidup Kiai Cepot, Latar Belakang Pendidikan Kiai Cepot,
Karir Dakwah Kiai Cepot.
BAB IV Respon Warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh Tangerang Banten Terhadap Metode Dakwah Bil Lisan Kiai
Cepot
Profil Responden, Respon Kognitif Warga Kenanga RT
004 RW 02 Cipondoh Tangerang Banten Terhadap Metode
Ceramah Kiai Cepot, Respon Afektif Warga Kenanga RT
Ceramah Kiai Cepot, Respon Konatif Warga Kenanga RT
004 RW 02 Cipondoh Tangerang Banten Terhadap Metode
Ceramah Kiai Cepot.
BAB V Penutup
27
A. Respon
1. Pengertian Respon
Respon menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tanggapan,
reaksi dan jawaban terhadap suatu gejala atau peristiwa yang terjadi1.
Menurut Ahmad Subandi, respon adalah sebagai istilah umpan
balik (feed back) yang memiliki peran atau pengaruh yang besar baik
atau tidaknya suatu komunikasi.2
Menurut Hunt, orang dewasa mempunyai sejumlah besar unit
untuk memproses informasi. Unit-unit ini dibuat khusus untuk
menangani representasi fenomenal dari keadaan di luar yang ada dalam
diri seorang individu (internal environment). Lingkungan internal ini
dapat digunakan untuk memperkirakan peristiwa-peristiwa yang terjadi
di luar. Proses yang berlangsung secara rutin inilah yang oleh Hunt
dinamakan respon.
Menurut Scheerer yang disadur oleh Sarlito, respon adalah proses
pengorganisasian rangsang. Rangsang proksimal diorganisasikan
1
DEPDIKBUT, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1996), edisi ke-3, h.838
2
sedemikian rupa hingga terjadi representasi fenomenal dari rangsang
proksimal itu.3
Menurut Jalaludin Rakhmat, respon adalah suatu kegiatan dari
organisme itu bukanlah semata-mata suatu gerakan yang positif, setiap
jenis kegiatan yang ditimbulkan oleh suatu perangsang dapat disebut juga
respon. Secara umum respon atau tanggapan dapat diartikan sebagai hasil
atau kesan yang di dapat dari pengamatan tentang subjek, peristiwa, atau
hubungan–hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi
dan menafsirkan pesan-pesan.4
Dapat disimpulkan bahwa respon terbentuk dari proses
rangsangan atau pemberian aksi atau sebab terhadap subjek peristiwa
yang berujung pada hasil kreasi dan akibat dari proses rangsangan
tersebut.
Dalam proses dakwah, respon akan terjadi pada para mad’u.
Dakwah yang disampaikan oleh seorang da’i dengan metode ceramah
tertentu akan menimbulkan reaksi bermacam-macam pada mad’u. Reaksi
yang terjadi pada mad’u ini disebut respon. Respon dapat bersifat positif
dan dapat bersifat negatif.
3
Sarlito Wirawan Sarwono, Teori-Teori Psikologi Sosial, (Jakarka: PT. RajaGrafindo Persada, 2005), h. 87
4
2. Teori S-O-R
Teori S-O-R (Stimulus, Organism, Response) yang berasal dari
psikologi dan kemudian menjadi teori komunikasi. Karena objek material
dari psikologi dan komunikasi adalah sama yaitu manusia yang jiwanya
meliputi komponen-komponen, sikap, opini, perilaku, kognisi, afeksi,
dan konatif.
Menurut teori S-O-R, bahwa reaksi tertentu akan timbul akibat
stimulus tertentu, sehingga seseorang dapat mengharapkan dan
memperkirakan pesan yang disampaikan terhadap reaksi komunikan.5
Model dapat terlihat pada gambar berikut:
Gambar di atas menunjukan bahwa komunikasi dapat
berlangsung apabila komunikan menaruh perhatian, pengertian, serta
penerimaan terhadap pesan yang disampaikan oleh komunikator. Setelah
itu akan dilanjutkan kedalam proses berikutnya yaitu perubahan sikap, ini
dapat diartikan juga suatu respon atau tanggapan terhadap pesan tersebut.
5
Onong Uchjana Effendy, Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi, (Bandung: Citra Aditiya Bakti, 2003), h. 254-255
Stimulus Organisme:
- Perhatian
- Pengertian
- Penerimaan
Respon
[image:41.595.143.520.149.592.2]Sedangkan stimulus yang dimaksud diatas dapat berupa kata-kata verbal
atau pun non verbal dari komunikator kepada komunikan.6
Dalam pembahasan teori respon tidak lepas dari proses teori
komunikasi terhadap orang-orang yang terlibat proses komunikasi,
komunikasi menampakan jalinan sistem utuh dan signifikan sehingga
proses komunikasinya akan berjalan secara efektif dan efisien apabila
unsur-unsur didalamnya terdapat keteraturan.7 Seperti yang dikatakan
Harold D. Laswell (1948), ia mengemukakan lima segi yang merupakan
bidang analisis komunikasi, yang kemudian dikenal dengan formula
Laswell yaitu siapa, berkata apa, melalui saluran apa, kepada siapa, dan
bagaimana efeknya.
│
←
Keterangan:
a. Sender yaitu komunikator yang menyampaikan pesan kepada
seorang atau sejumlah orang.
6
Ibid h.256
7
Winarmi, Komunikasi Massa, (Malang: UMM Pres, 2003), cet. ke-1, h. 58 Response Feedback
Noise
b. Encoding yaitu penyandian, yaitu proses pengalihan pikiran dalam
bentuk lambang. Dalam hal ini dapat berupa pengalihan pikiran
dalam bentuk pesan verbal seperti kata-kata atau pun pesan non
verbal seperti gerakan-gerakan.
c. Message yaitu pesan yang merupakan serangkaian lambang
bermakna yang disampaikan oleh komunikator.
d. Media yaitu seluruh alat komunikasi, tempat berlalunya pesan dari
komunikator kepada komunikan.
e. Decoding yaitu pengawasandian, yaitu proses dimana komunikan
menetapkan makna dalam lambang yang disampaikan oleh
komunikator kepadanya. Dalam hal ini dapat diartikan sebagai
proses pemberian arti atau pemahaman oleh komunikan terhadap
pesan-pesan yang disampaikan komunikator.
f. Response yaitu tanggapan seperangkat reaksi kepada komunikator
setelah diterpa pesan.
g. Feedback yaitu umpan balik, yaitu tanggapan komunikan apabila
tersampaikan kepada komunikator.
h. Noise yaitu ganguan tak terencana yang terjadi dalam proses
komunikasi sebagai akibat diterimanya pesan yang disampaikan
oleh komunikator kepadanya. Ada 2 jenis gangguan terhadap
jalanya komunikasi yang menurut sifatnya dapat diklasifikasikan
1). Gangguan mekanik (Mechanical Channel noise)
Yang dimaksud dengan gangguan mekanik adalah
gangguan yang disebabkan saluran komunikasi atau kegaduhan
yang bersifat fisik.
2). Gangguan Semantik (Semantic Noise)
Gangguan jenis ini bersangkutan dengan komunikasi
yang pengertiannya menjadi rusak. Ganguan semantik tersaring
kedalam pesan melalui penggunaan bahasa. Lebih banyak
kekacauaan mengenai pengertian suatu istilah atau konsep yang
terdapat pada komunikator, akan lebih banyak gangguan
semantik dalam pesannya. Gangguan semantik terjadi dalam
salah pengertian.
Pada hakikatnya orang-orang yang terlibat dalam
komunikasi menginterfrestasikan bahasa yang menyalurkan
suatu pesan dengan berbagai cara, karena itu mereka
mempunyai pengertian yang berbeda. Seorang komunikan
mungkin menerima suatu pesan dengan jelas sekali, baik secara
mekanik maupun secara phonetik , secara fisik berlaku dengan
keras dan jelas tetapi disebabkan kesukaran pengertian
komunikasi menjadi gagal.8
Model komunikasi diatas, menegaskan faktor-faktor kunci dalam
komunikasi efektif. Komunikator harus tahu khalayak mana yang
8
dijadikannya sasaran dan tanggapan apa yang diinginkannya. Ia harus
terampil dalam menyandi pesan dengan memperhitungkan bagaimana
komunikan sasaran mengawasandi pesan. Komunikator harus
mengirimkan pesan melalui media yang efisien dalam mencapai
khalayak sasaran.9
3. Jenis-Jenis Respon
Respon akan terjadi karena beberapa hal. Terjadinya respon akan
sangat tergantung dengan penyebab yang menimbulkannya. Menurut
Jalaluddin Rahmat, respon terbagi atas tiga bagian yaitu:
a. Respon kognitif, yaitu respon yang timbul setelah adanya pemahaman
terhadap sesuatu yag terkait dengan informasi atau pengetahuan.
Terjadi bila ada perubahan pada apa yang diketahui, atau dipersepsi
oleh khalayak.
b. Respon afektif, yaitu respon yang timbul karena adanya perubahan
perasaan terhadap sesuatu yang terkait dengan emosi, sikap dan nilai.
timbul bila ada perubahan pada apa yang dirasakan, disenangi, atau
dibenci khalayak.
c. Respon konatif, yaitu respon yang berupa tindakan, kegiatan atau
kebiasaan yang terkait dengan perilaku nyata. Merujuk pada perilaku
nyata yang dapat diamati; yang meliputi pola-pola tindakan, kegiatan,
atau kebiasaan berperilaku.10
9
Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi:Teori dan Praktik, (Bandung: PT. Rosda Karya, 2007), cet 21 h. 18-19
10
4. Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Respon
Menurut Bimo Walgito, terdapat dua faktor yang menyebabkan
individu melakukan respon, yaitu:
a. Faktor internal, yaitu faktor yang ada pada diri individu. Manusia terdiri
dari dua unsur, yaitu: jasmani dan rohani, maka seseorang yang
mengadakan tanggapan terhadap suatu stimulus tetap dipengaruhi oleh
eksistensi kedua unsur tersebut. Apabila terganggu salah satu unsur
tersebut, maka akan melahirkan respon yang berbeda intensitasnya pada
diri individu yang melakukan respon, atau akan berbeda responnya
tersebut diantara satu orang dengan orang lain.
b. Faktor eksternal, yaitu faktor yang ada pada lingkungan. Faktor ini
biasa dikenal juga dengan faktor stimulus. Faktor ini berhubungan
dengan objek yang diamati, sehingga menimbulkan stimulus, kemudian
stimulus tersebut sampai pada indera yang menggunakannya.11
Dari pemaparan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa setiap
individu dapat mengamati segala sesuatu hal atau pun kegiatan yang
timbul akibat adanya stimulus dengan alat indra yang dimilikinya,
sehingga timbul suatu bayangan yang tertinggal dalam ingatan setiap
individu tersebut setelah adanya pengamatan dan dapat ditimbulkan
kembali sebagai jawaban dan tanggapan.
11
B. Ruang Lingkup Dakwah
1. Pengertian Dakwah
Secara etimologi, Kata “dakwah” berasal dari bahasa Arab yang
berarti ajakan, seruan, panggilan, undangan12. Menurut Warson
Munawwir, menyebutkan bahwa dakwah artinya adalah memanggil (to
call), mengundang (to in vite), mengajak (to summer), menyeru (to
propose), mendorong (to urge) dan memohon (to Pray).13
Secara terminologi, ada beberapa definisi dakwah yang
dikemukakan oleh para ahli mengenai dakwah, yaitu:
a. Menurut Bakhil Khauli, dakwah adalah suatu proses menghidupkan
peraturan-peraturan Islam dengan maksud memindahkan umat dari satu
keadaan kepada keadaan lain.14
b. Menurut Syekh Ali Mahfuzd, dakwah adalah mengajak manusia untuk
mengerjakan kebaikan dan mengikuti petunjuk, menyuruh mereka
berbuat baik dan melarang mereka dari perbuatan jelek agar mereka
mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat.15
c. Menurut M. Quraish Shihab, dakwah adalah seruan atau ajakan kepada
keinsyafan atau usaha mengubah situasi kepada situasi yang lebih baik
dan sempurna, baik terhadap pribadi maupun masyarakat. Perwujudan
dakwah bukan sekadar usaha peningkatan pemahaman dalam tingkah
12
Toha Yahya Omar, Islam dan Dakwah, (Jakarta: Al-Mawardi Prima, 2004), h. 67
13
Warson Munawwir, Kamus al-Munawwir, (Surabaya: Pustaka Progresif, 1994), h. 439
14
Ghazali Darussalam, Dinamika Ilmu Dakwah Islamiyah, (Malaysia: Nur Niaga SDN.BHD, 1996), cet. ke-1, h. 5
15
laku dan pandangan hidup saja, tetapi juga menuju sasaran yang lebih
luas. Apalagi pada masa sekarang ini, ia harus lebih berperan menuju
kepada pelaksanaan ajaran Islam secara lebih menyeluruh dalam
berbagai aspek.16
d. Menurut Toha Yahya Omar, M.A, dakwah adalah mengajak manusia
dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah
Tuhan, untuk keselamatan dan kebahagiaan mereka di dunia dan
akhirat.17
Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
dakwah adalah sebagai kegiatan mengajak, menyeru, mendorong manusia
dengan bijaksana kepada kebaikan yang sesuai dengan perintah Allah
SWT serta menjauhi apa yang dilarang oleh Allah SWT agar selamat serta
bahagia di dunia dan akhirat.
2. Unsur-Unsur Dakwah
a. Subjek Dakwah (da’i)
Subjek dakwah (da’i) adalah pelaku dakwah. Dalam
pengertian yang khusus, da’i adalah orang yang mengajak kepada orang
lain baik secara langsung atau tidak langsung dengan kata-kata,
perbuatan atau tingkah laku ke arah kondisi yang baik atau lebih baik
menurut al-Qur’an dan sunnah. Da’i pada dasarnya adalah penyeru
kejalan Allah, pengibar panji-panji Islam, dan pejuang (mujahid) yang
16
M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an, Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung: Mizan, 2001), cet ke-22, h. 194
17
mengupayakan terwujudnya sistem Islam dalam realitas kehidupan
umat manusia. Sebagai penyeru ke jalan Allah SWT, da’i tidak bisa
tidak harus memiliki pemahaman yang luas mengenai Islam sehingga
dapat menjelaskan ajaran Islam kepada masyarakat dengan baik dan
benar. Ia juga harus memiliki semangat dan gairah ke Islaman yang
tinggi yang menyebabkan ia setiap saat dapat menyeru manusia kepada
kebaikan dan mencegah mereka dari kejahatan, meskipun untuk itu ia
harus menghadapi tantangan yang berat.18 Faktor subjek dakwah sangat
menentukan keberhasilan aktivitas dakwah. Maka subjek dakwah
hendaklah mampu menjadi penggerak dakwah islamiyah yang
profesional.
Secara garis besar subjek dakwah atau da’i mengandung dua
pengertian:
1) Secara umum adalah setiap muslim atau muslimat yang berdakwah
sebagai kewajiban yang melekat dan tidak terpisahkan dari misinya
sebagai penganut Islam, sesuai dengan perintah “Ballighu „anni
walaw ayat.”
2) Secara khusus adalah mereka yang mengambil keahlian khusus
(mutakhashshish-spesialis) dalam bidang dakwah Islam, dengan
kesungguhan luar biasa dan dengan qudwah hasanah.19
18
Sayyid Sabiq, Dakwah al-Islam, (Bairut: Dar al-Kitab al-Arabi, 1973), cet. Ke-1, h. 293-295
19
Seorang da’i, hendaklah memiliki kepribadian yang baik.
Seorang da’i menurut Yusup Qardlawi, harus melengkapi dirinya
dengan tiga senjata, yaitu iman, akhlak mulia, ilmu pengetahuan dan
wawasan. Hal ini karena seorang da’i merupakan figur yang di contoh
baik perkataan maupun tingkah lakunya. Da’i adalah pemandu bagi
orang-orang yang ingin mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat.
Disamping memiliki kepribadian yang baik, seorang da’i
haruslah menguasai materi, metode, media, serta mengetahui psikologi
mad’unya. Karena kesiapan da’i (subjek dakwah) baik penguasaan
terhadap materi, maupun penguasaan terhadap metode, media dan
psikologi sangat menentukan gerakan dakwah untuk mencapai
keberhasilan.
Syarat-syarat da’i secara khusus meliputi komponen yang ada
dalam kegiatan da’i dalam dakwah yaitu:
1) Mengajak orang menyembah Allah semata. Termasuk dalam Syarat
ini adalah patuh, selalu ingat dan bersyukur kepada-Nya, serta tidak
melakukan hal-hal yang dilarang.
2) Beramal shaleh dengan melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi
segala larangan, melakukan hal-hal yang sunah, menjauhi yang
makruh, dan senantiasa mengajak orang lain ke jalan Allah SWT.
3) Memiliki loyalitas pada Islam dan kepatuhannya pada hukum, sebagai
realisasi dari ucapan syukur kepada Allah SWT yang telah
Apabila seorang da’i sudah melaksanakan ketiga syarat
tersebut, setiap ucapannya akan didengar dan di ikuti oleh
orang-orang.
Dalam al-Qur’an surat Ali Imran ayat 160-161, bahwa seorang
da’i haruslah memiliki sifat-sifat mahmudah sebagai berikut :
Artinya: “Jika Allah SWT menolong kamu maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu , tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolong setelah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah SWT saja orang-orang mukmin bertawakal.” “Dan tidak mungkin seorang nabi berkhianat (dalam urusan harta rampasan perang). Barang siapa berkhianat niscaya pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatinnya itu. Kemudian setiap orang akan diberi balasan yang sempurna sesuai apa yang
dilakukannya, dan mereka tidak di zalimi.” (QS. Ali Imran 160-161)
Pada surat Ali Imran ayat 160 menjelaskan bahwa “Jika Allah
hendak menolong kamu, maka tak ada manusia atau jin atau makhluk apa
pun yang dapat mengalahkan kamu betapapun besarnya kemampuannya;
jika Allah menbiarkan kamu, yakni tidak memberimu pertolongan maka
siapakah gerangan yang dapat menolong kamu sesudah-Nya, yakni selain
Allah? Jelas tak ada! Kamu mengaku percaya kepada Allah, maka
berupaya dan berserah dirilah kepada-Nya. Karena itu pula hendaklah
kepada Allah saja bukan kepada nabi, wali atau penguasa, atau kekuatan
yang tidak berserah diri kepada Allah, maka pasti ada sesuatu yang kurang
dalam imannya.”
Pada ayat 161 berhubungan erat dengan ayat sebelumnya. Ayat ini
berbicara tentang khianat, sedangkan sifat ini merupakan salah satu sebab
utama ketidak hadiran pertolongan Allah. Sebaliknya menjauhi khianat
merupakan syarat utama bagi kehadiran pertolongan-Nya. Sementara
ulama menyebutkan bahwa salah satu sebab petaka dalam perang Uhud
adalah apa yang dinamakan khianat oleh ayat ini. Pasukan pemanah
meninggalkan posisi mereka, untuk mengambil harta rampasn perang,
karena mereka khawatir jangan sampai harta rampasan itu dimonopoli oleh
anggota pasukan lain yang bebas berkeliaran di medan perang setelah
terlihatnya tanda-tanda kekalahan kaum musyrikin pada awal perang.
Dalam konteks ini, diriwayatkan bahwa Rasul SAW menyindir para
pemanah itu dengan sabdanya: “Apakah kami akan berkhianat dan tidak
membagi buat kalian ghanimah (harta rampasan perang)?” Memang, tulis
al-Biqa’i para pemanah itu bergegas meninggalkan posisi mereka untuk
mengambil harta rampasan perang sebelum waktunya, disebabkan oleh
beberapa kemungkinan. Boleh jadi dengan maksud menyembunyikan apa
atau sebagian yang diambilnya; boleh jadi juga karena khawatir jangan
sampai pimpinan mereka tidak membaginya, atau khawatir adanya khianat
yang mengakibatkan Nabi SAW tidak membaginya dengan adil. Kalau
bukan hal-hal ini penyebabnya, maka tentu saja ketergesaan itu, adalah
Mutawalli asy-Sya’rawi mengemukakan pandangan yang sedikit
berbeda. Menurutnya, dalam perang Badar Rasul SAW mengumumkan
bahwa “Siapa yang membunuh seseorang maka harta rampasan perang
yang ditemukan bersama sang terbunuh, menjadi miliknya.”
Kebijaksanaan ini, beliau tetapkan untuk mendorong semangat juang
kaum muslimin. Ketika perang Uhud, para pemanah menduga bahwa
ketentuan Rasul di atas tetap berlaku, bahkan ada yang menduga mereka
tidak akan diberi harta rampasan. Tentu saja tidak membagi harta
rampasan untuk semua pasukan adalah tidak adil. Ia merupakan salah satu
bentuk penghianatan, maka karena itu ayat ini berbicara tentang
penghianatan.
Ayat ini menegaskan bahwa: Tidak mungkin dalam satu waktu atau
keadaan seorang nabi berkhianat karena salah satu sifat mutlak nabi
adalah amanah, termasuk tidak mungkin berhianat dalam urusan harta
rampasan perang. Hal itu tidak mungkin bagi semua nabi, apalagi nabi
Muhammad SAW, penghulu para nabi. Umatnya pun tidak wajar
melakukan penghianatan. Barang siapa berkhianat dalam urusan
rampasan perang, atau dalam hal apa pun, maka pada hari kiamat dia akan
datang membawa apa yang dikhianatinya itu; kemudian setiap diri akan
baik atau buruk sedang mereka tidak dianiaya sedikit pun. Bahkan yang
berbuat baik diberi ganjaran lebih.20
Sehingga dapat dikatakan bahwa ayat diatas menyebutkan seorang
da’i haruslah mempunyai sifat-sifat yang baik dalam bermasyarakat dan
bernegara, yaitu:
1) Lemah lembut dalam menjalankan dakwahnya sebagai seorang da’i.
2) Bermusyawarah dalam setiap urusan, termasuk urusan dakwah.
3) Tekad yang bulat dalam menjalankan dakwah.
4) Tawakal kepada Allah SWT.
5) Memohon kepada Allah SWT sebagai aspek konsekuensi dari tawakal.
6) Menjauhi kecurangan, dan lain sebagainya.
Selain itu, da’i akan berhasil dalam tugas melaksanakan dakwah
jika di bekali kemampuan-kemampuan yang berkaitan dengannya.
Kompetensi-kompetensi yang harus dimiliki antara lain:
1) Kemampuan berkomunikasi.
2) Kemampuan penguasaan diri.
3) Kemampuan pengetahuan psikologi.
4) Kemampuan pengetahuan kependidikan.
5) Kemampuan pengetahuan di bidang pengetahuan umum.
6) Kemampuan dibidang al-Qur’an.
7) Kemampuan pengetahuan dibidang ilmu hadist.
8) Kemampuan di bidang ilmu agama secara integral.21
20
b. Objek Dakwah
Objek dakwah ( Mad’u ) yaitu masyarakat sebagai penerima
dakwah. Masyarakat baik individu maupun kelompok, sebagai objek
dakwah, memiliki strata dan tingkatan yang berbeda-beda. Mad’u
merupakan peserta dakwah, baik perseorangan, kolektif, laki-laki atau
perempuan, anak-anak atau orang dewasa. Mad’u bersifat heterogen, baik
dari sudut ideologi, misalnya atheis, animis, musyrik, munafik, fasik dan
muslim, juga dari sudut lainnya seperti intelektualitas, status sosial,
kesehatan, pendidikan, dan lain-lain.22
Dalam hal ini seorang da’i dalam aktivitas dakwahnya,
hendaknya memahami karakter dan siapa yang akan menerima
pesan-pesan dakwahnya. Da’i dalam menyampaikan pesan-pesan-pesan dakwah
Islamiyahnya, perlu mengetahui klasifikasi dan karakter objek dakwah, hal
ini penting agar pesan-pesan dakwah bisa diterima dengan baik oleh
mad’u.
Dengan mengetahui karakter dan kepribadian mad’u sebagai
penerima dakwah, maka dakwah lebih terarah karena tidak disampaikan
secara sembarangan tetapi mengarah kepada profesionalisme. Maka mad’u
sebagai sasaran atau objek dakwah akan dengan mudah menerima
pesan-pesan dakwah yang disampaikan oleh da’i, karena baik materi, metode,
maupun media yang digunakan dalam berdakwah harus sesuai dengan
kondisi mad’u sebagai objek dakwah.
21
Slamet Muhaimin Abda, Prinsip-Prinsip Metode Dakwah, (Surabaya: al-Ikhlas, 1944), 69-77
22
c. Materi Dakwah
Materi dakwah adalah isi pesan dakwah Islam atau segala sesuatu
yang harus disampaikan subjek kepada objek dakwah, yaitu keseluruhan
ajaran Islam yang ada di dalam Kitabullah maupun Sunah Rasul-Nya.23
Pesan atau materi dakwah harus disampaikan secara menarik agar tidak
monoton sehingga merangsang objek dakwah untuk mendengarkan serta
mengkaji tema-tema Islam yang pada gilirannya objek dakwah akan
mengkaji lebih mendalam mengenai materi agama Islam dan
meningkatkan kualitas pengetahuan keislaman untuk pengalaman
keagamaan objek dakwah.
Materi dakwah yang akan disampaikan seorang da’i harus
mempertimbangkan kondisi serta situasi mad’u sebagai penerima dakwah.
Karena materi dakwah yang disampaikan oleh subjek dakwah (da’i) sesuai
dengan kondisi serta situasi mad’u, akan mudah diterima dan dipahami
oleh mad’u sebagai penerima dakwah.
d. Metode Dakwah
Dari segi bahasa metode berasal dari dua kata yaitu “meta”
(melalui) dan “hodos” (jalan, cara).24 Dengan demikian kita dapat artikan
bahwa metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai
suatu tujuan. Sumber lain menyebutkan bahwa metode berasal dari bahasa
Jerman methodica, artinya ajaran tentang metode. Dalam bahasa Yunani
metode berasal dari kata methodos artinya jalan yang dalam bahasa Arab
23
H. Hafi Anshari, Pemahaman Dan Pengamalan Dakwah, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1993), h. 140
24
disebut thariq.25 Jadi metode dapat disimpulkan sebagai cara yang telah
diatur dan melalui proses pemikiran untuk mencapai suatu maksud.
Metode dakwah merupakan cara-cara atau strategi dalam
penyampaian dakwah Islamiyah, baik individu, kelompok, mau pun
masyarakat luas agar pesan-pesan dakwah yang disampaikan mudah
diterima. Dalam penyampaian dakwah Islamiyah, hendaklah menggunakan
metode yang tepat dan sesuai dengan kondisi mad’u. Dengan penggunaan
metode dakwah Islamiyah yang tepat dan sesuai dengan kondisi mad’u,
tentunya akan mempermudah seorang da’i dalam menyampaikan pesan
-pesan dakwahnya serta mempermudah mad’u dalam memahami isi -pesan
dakwah Islamiyah.
Metode Dakwah dapat di bagi beberapa macam, diantaranya:
1) Al- Hikmah
Dalam dakwah, hikmah adalah penentu kesuksesan suatu
dakwah Islamiyah. Dalam menghadapi mad’u yang beraneka ragam
tingkat pendidikan, strata sosial, serta latar belakang budaya yang
berbeda, tentunya setiap da’i memerlukan hikmah. Karena dengan
hikmah setiap dakwah Islamiyah yang disampaikan setiap da’i dapat
memasuki ruang hati dan pikiran mad’u dengan tepat. Oleh sebab itulah
setiap da’i di tuntut untuk mampu mengetahui dan memahami kondisi
setiap mad’unya.
25
Ada saatnya seorang da’i menjadi efektif ketika berbicara
ketika dia mampu mengetahui dan memahami kondisi setiap mad’unya
dan ada saatnya seorang dai menjadi bencana ketika berbicara, ketika
dia tidak mampu untuk mengetahui dan memahami kondisi mad’unya.
Kepampuan seorang da’i menempatkan dirinya kapan harus berbicara
dan kapan harus memilih diam, itu juga adalah hikmah yang
menentukan keberhasilan dakwah.