• Tidak ada hasil yang ditemukan

Respon masyarakat terhadap metode dakwah kiai Cepot

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Respon masyarakat terhadap metode dakwah kiai Cepot"

Copied!
175
0
0

Teks penuh

(1)

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi

Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Islam (S.Kom.I)

Angga Gurnita NIM: 107051002354

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(2)

Diajukan Kepada Fakultas IImu Dakwah dan Ilmu Komunikasi

Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Islam (S.Kom.i)

Oleh:

Angga Gurnita

NIM:

107051002354

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UIN SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA 1432 Ht201t M

Pembimbing

(3)

telah diujikan dalam sidang munaqasah Fakultas Ilmu Dakwah dan IImu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 27 September 2011. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I) pada Program Studi Komunikasi dan Penviaran Islam.

Jakarta,2T September 201 1 Sidang Munaqasah

Ketua Merangkap Anggota, Sekretaris Merangkap Anggota,

,L

Drs. Jumroni. M.Si

NIP. 19630515 199203 1006

Anggota,

Penguji I Penguji II

q;e

Gun Gun Heryanto, M.Si

NIP. I 97 6081220050 I I 00s

i. Umi Mus

NIP. 1971081 99703 0202

172001122002

Pembimbing

(4)

persyaratan memperoleh gelar strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai

dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau

merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi

yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Tangerang, 27 September 2011

(5)

iv

Skripsi ini dibuat dengan mengambil judul Respon Masyarakat Terhadap Metode Dakwah Kiai Cepot karena penulis ingin mengetahui bagaimana respon warga terhadap Metode dakwah bil lisan Kiai Cepot. Metode Dakwah bil lisan adalah cara penyampaian dakwah yang disampaikan melalui lisan atau ucapan. Warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh Tangerang Banten adalah orang-orang yang berada disekitar tempat tinggal Kiai Cepot yang selalu aktif menghadiri ceramah-ceramah Kiai Cepot.

Adapun perumusan masalah dari penelitian ini adalah: Bagaimana respon kognitif warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh Tangerang Banten terhadap metode ceramah Kiai Cepot? Bagaimana respon afektif warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh Tangerang Banten terhadap metode ceramah Kiai Cepot? Bagaimana respon konatif warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh Tangerang Banten terhadap metode ceramah Kiai Cepot?

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teori S-O-R. Teori S-O-R ini menjelaskan bahwa reaksi tertentu akan timbul akibat stimulus tertentu, sehingga seseorang dapat mengharapkan dan memperkirakan pesan yang disampaikan terhadap reaksi komunikan. Dalam hal ini, peneliti tertarik untuk mengetahui respon warga terhadap metode ceramah Kiai Cepot.

Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian kuantitatif. Sedangkan data-data yang diperoleh dalam penelitian dengan beberapa cara yaitu cara observasi yang didalamnya terdiri dari menghadiri ceramah serta melakukan wawancara dengan narasumber. Angket yang didalamnya berisi daftar pertanyaan guna mengetahui respon warga. Dokumentasi yang didalamnya terdiri dari data-data buku, brosur dan foto-foto yang berhubungan dengan bahan skripsi.

(6)

v

Alhamdulillahirabbil ‘alamin, hanya ucapan dan rasa syukur yang

mampu terucap atas segala nikmat, karunia dan rahmat-Nya. Tiada daya dan

upaya melainkan atas kehendak-Nya, begitu pun dalam menyelesaikan penulisan

skripsi ini. Kemudahan dan pertolongan Allah senantiasa penulis rasakan,

sehingga penulisan dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Respon

Masyarakat Terhadap Metode Dakwah Kiai Cepot.” Penulisan skripsi ini di buat sebagai salah satu syarat kelulusan strata satu (S1) Jurusan Komunikasi dan

Penyiaran Islam Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam

Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Shalawat serta salam semoga senantiasa

tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat, tabi’in

-tabi’in yang selalu mengikuti ajarannya.

Perasaan bahagia dan haru berbaur menjadi satu atas terselesaikannya

skripsi ini. Namun, penulis menyadari atas bimbingan, bantuan, dan dorongan dari

semua pihaklah, penulisan skripsi ini dapat terselesaikan. Oleh karena itu pada

kesempatan inilah, izinkan penulis mengucapkan terima kasih pada semua pihak

yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini baik secara moril maupun

materil, terutama yang paling terhormat kedua orang tua saya tercinta Alm.

Suwitairi semoga ayah tenang di surga dan E. Hasanah yang selalu mencurahkan

kasih sayang, pendidikan, dan motivasi kepada penulis. Kesabaran, rasa cinta, dan

(7)

vi

1. Bapak Dr. Arief Subhan M.Ag. selaku Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan

Komunikasi beserta Pembantu Dekan dan jajarannya.

2. Bapak Dr. Jumroni M.Si selaku Ketua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran

Islam. Serta para dosen dan staff pengajar Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu

Komunikasi yang telah mengajarkan banyak hal selama penulis melakukan

studi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Hj. Umi Musyaroffah. M.A, selaku sekertaris Jurusan Komunikasi dan

Penyiaran Islam, terima kasih atas segala bantuannya.

4. Dr. Hj. Roudhonah. M.A, tiada kata yang sangat pantas terucap selain terima

kasih yang mendalam atas kesediaannya untuk meluangkan waktu di

tengah-tengah kesibukannya guna memberikan arahan, masukan, diskusi, dan

membimbing kepada penulis untuk dapat menyelesaikan skripsi ini.

5. Bapak K.H. Drs. Ahmad Ihsan (Kiai Cepot), selaku narasumber, terima kasih

atas kesediaan waktunya untuk wawancara dan foto bareng bersama penulis

dalam rangka pengumpulan data penulis.

6. Hj. Rukoyah, terima kasih atas waktu dan bantuannya.

7. Bapak Halimi, selaku ketua RT 004 RW 02 Kelurahan Kenanga, terima kasih

telah memberikan izin bagi penulis untuk melakukan penelitian di Kelurahan

Kenanga RT 004 RW 02 dan kesediaan waktunya untuk wawancara dan foto

(8)

vii

beserta keponakan tercinta Naurah Qolbia Salamah, terima kasih atas do’a

dan dukungan yang telah diberikan.

10.Teman-teman KPI C angkatan 2007, yang telah bersama-sama berjuang dan

menimba ilmu di kampus kita tercinta ini. Terutama penulis ucapkan terima

kasih kepada Nuni dan Arip Hidayat atas segala bantuannya.

11.Berbagai pihak yang tidak mungkin disebutkan satu persatu yang telah

membantu dalam kelancaran penulisan skripsi ini.

Semoga Alah SWT senantiasa memberikan Rahmat dan Karunia-Nya

kepada semua pihak di atas yang telah memberikan segala bantuannya kepada

penulis.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Tangerang, 27 September 2011

(9)

viii

DAFTAR ISI ... viii-x

DAFTAR TABEL... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 5

1. Pembatasan Masalah ... 5

2. Perumusan Masalah ... 5

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 5

1. Tujuan Penelitian ... 5

2. Manfaat Penelitian ... 6

D. Tinjauan Pustaka ... 6

E. Metodologi Penelitian ... 7

1. Metode Penelitian ... 7

2. Subjek dan Objek Penelitian ... 8

3. Teknik Pengumpulan Data ... 8

4. Populasi Dan Sampling ... 9

5. Teknik Pengambilan Sample ... 10

6. Definisi Operasional ... 11

(10)

ix

BIL LISAN ... 27

A. Respon ... 27

1. Pengertian Respon ... 27

2. Teori S-O-R ... 29

3. Jenis-Jenis Respon ... 32

4. Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Respon ... 33

B. Ruang Lingkup Dakwah ... 34

1. Pengertian Dakwah ... 34

2. Unsur-Unsur Dakwah ... 35

3. Bentuk-Bentuk Dakwah ... 48

4. Landasan Hukum Dakwah ... 51

BAB III GAMBARAN UMUM TENTANG WARGA KENANGA RT 004 RW 02 CIPONDOH TANGERANG BANTEN DAN BIOGRAFI KIAI CEPOT ... 55

A. Profil Warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh Tangerang Banten . 55 1. Data Warga ... 55

2. Data Pendidikan ... 58

3. Data Mata Pencaharian Warga ... 59

(11)

x

BAB 1V RESPON WARGA KENANGA RT 004 RW 02 CIPONDOH TANGERANG BANTEN TERHADAP METODE DAKWAH

BIL LISAN KIAI CEPOT ... 67

A. Profil Responden ... 67

B. Respon Kognitif Warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh Tangerang Banten Terhadap Metode Ceramah Kiai Cepot ... 71

C. Respon Afektif Warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh Tangerang Banten Terhadap Metode Ceramah Kiai Cepot ... 76

D. Respon Konatif Warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh Tangerang Banten Terhadap Metode Ceramah Kiai Cepot ... 80

BAB V PENUTUP ... 84

A. Kesimpulan ... 84

B. Saran-Saran ... 85

(12)

xi

Tabel 2 : Hasil Pengujian Validitas Questioner Respon Kognitif ... 21

Tabel 3 : Hasil Pengujian Validitas Questioner Respon Afektif ... 22

Tabel 4 : Hasil Pengujian Validitas Questioner Respon konatif ... 23

Tabel 5 : Jumlah Warga Berdasarkan Jenis Kelamin ... 55

Tabel 6 : Jumlah Warga Berdasarkan Kewarganegaraan ... 56

Tabel 7 : Jumlah Warga Berdasarkan Agama ... 57

Tabel 8 : Jumlah Warga Berdasarkan Tingkat Usia ... 57

Tabel 9 : Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 58

Tabel 10 : Berdasarkan Mata Pencaharian ... 59

Tabel 11 : Jenis Kelamin Responden ... 67

Tabel 12 : Jenis Pekerjaan Responden ... 69

Tabel 13 : Latar Belakang Pendidikan Responden ... 70

(13)

1

A. Latar Belakang Masalah

Berdakwah dalam Islam merupakan kegiatan yang mempunyai

cakupan yang sangat luas. Berdakwah di dalamnya terdapat unsur-unsur

penting yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya, yaitu

da’i, mad’u, metode, materi, media dan tujuan. Dan dalam pelaksanaannya

dapat melalui berbagai cara, yaitu: melalui lisan (bil lisan), tulisan (bil qalam)

dan perbuatan nyata (bil hal).1

Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai kenyataan bahwa tata

cara memberikan sesuatu lebih penting dari sesuatu yang diberikan itu

sendiri. Secangkir teh pahit dan sepotong ubi goreng yang disajikan dengan

cara yang sopan dan ramah, akan lebih terasa nikmat disantap ketimbang

seporsi makanan lezat dan mahal harganya, tetapi disajikan dengan cara yang

tidak sopan dan menyakiti hati orang yang menerimanya.

Gambaran tersebut, mengandung ungkapan bahwa tata cara atau

metode sangatlah penting. Betapa pun sempurnanya materi, lengkapnya

bahan dan aktualnya isu-isu yang disajikan, tetapi bila disajikan dengan cara

yang tidak sistematis dan sembarangan, akan menimbulkan kesan yang tidak

menyenangkan. Tetapi sebaliknnya, walaupun materi kurang sempurna,

bahan sederhana dan isu-isu yang disampaikan kurang aktual, namun

1Hamzah Ya’qub,

[image:13.595.115.523.78.451.2]
(14)

disajikan dengan cara yang menarik dengan menggugah, maka akan

menimbulkan kesan yang menggembirakan.

Pemilihan cara atau metode yang tepat, menjadi bagian strategis dari

kegiatan dakwah itu sendiri. Sehinga seorang da’i hendaknya memiliki cara

atau metode tertentu dalam penyampaian dakwah yang disukai dan mudah

dipahami oleh mad’u.

Pada masa modern seperti sekarang ini, dakwah bil lisan tetap

dilakukan da’i, karena setiap da’i tentu mempunyai ciri khas dalam

penyampaian dakwah bil lisannya seperti melalui ceramah, dzikir, tanya

jawab, seminar, ataupun diskusi.

Salah seorang da’i yang melakukan kegiatan dakwah bil lisan adalah

Kiai Cepot. Nama asli beliau adalah K.H. Drs. Ahmad Ihsan. Beliau adalah

seorang pimpinan Pondok Pesantren Modern Ibadurrahman yang terletak di

Jl. KH. Hasyim Asyari Gg. Masjid RT 004 RW 02 Kel. Kenanga Cipondoh

Kota Tangerang Banten. Beliau sangat dikenal di kalangan para santri dan

warga sekitar karena kepribadiannya yang selalu ceria, mudah senyum, selalu

menyapa terhadap siapa pun orang yang bertemu dengannya.2 Selain beliau

dikenal sebagai seorang pimpinan Pondok Pesantren Modern Ibadurrahman,

beliau juga dikenal sebagai seorang da’i yang mempunyai keunikan dan ciri

khas dalam setiap penyampaian dakwah Islamiyahnya oleh masyarakat luas.

Dakwah yang dilakukan oleh Kiai Cepot adalah dakwah bil lisan,

maksudnya adalah beliau berdakwah melalui perkataan-perkataan atau

2

(15)

ucapan-ucapan yang biasanya disebut dengan ceramah. Beliau berceramah

dengan suara lantang, tegas, serta sambil sesekali menirukan gaya tokoh

pewayangan nusantara terkenal yang bernama Cepot. Tentu keahlian cara

penyampaian ceramah yang unik tersebut merupakan pemberian dari Allah

SWT yang diberikan kepada dirinya. Beliau selalu berceramah baik di

pesantren yang secara rutin dilakukan dihadapan para santrinya selepas shalat

jum’at, mengisi ceramah pada acara-acara peringatan hari besar Islam,

khutbah jum’at, undangan pengajian, sunatan, acara nikahan, ulang tahun,

baik diwarga sekitar atau pun warga luas, serta berceramah di televisi, dan

lain sebagainya.3

Dalam setiap ceramah yang di lakukan, Kiai Cepot selalu berpakaian

unik sambil memegang tongkat dan sering kali melakukan gerakan-gerakan

yang menyerupai Cepot, sehingga tidak jarang menimbulkan senyuman atau

pun tawa dari para mad’unya. Dengan cara berceramah seperti ini, tentu

dilakukan oleh beliau untuk menarik perhatian para mad’u agar

mendengarkan ceramahnya dan ceramah yang disampaikannya pun tidak

terkesan monoton, yang dapat menyebabkan mad’u malas mendengarkan

ceramah beliau. Selain itu, agar dapat membantu para mad’u dalam

mencerna dan memahami isi pesan-pesan dakwah Islamiyah yang

disampaikan beliau. Walaupun beliau dalam berceramah sering menirukan

gerak-gerik Cepot dan menimbulkan rasa humor saat beliau berceramah,

3

(16)

dihadapan para mad’unya, tentu tidak mengurangi isi pesan dakwah

Islamiyah yang disampaikan beliau.

Dari keunikan cara ceramahnya, beliau selalu mendapat undangan

ceramah dari warga sekitar atau pun warga dari berbagai daerah,

kelompok-kelompok pengajian, atau pun acara-acara pemerintah. Sampai saat ini, beliau

sudah berceramah keberbagai pelosok daerah di Indonesia, diantaranya

Batam, Balik papan, Samarinda, Banjarmasin, Kutai, Jambi, Sukabumi,

Karawang, Garut, Tangerang, dan sebagainya, kecuali Papua.4

Saat ini, beliau aktif berceramah di setiap undangan-undangan, beliau

juga aktif mengisi ceramah di televisi. Yang terbaru adalah beliau mengisi

ceramah dalam program Indahnya Sore yang disiarkan oleh MNCTV setip

hari Minggu sore pukul 15.00 WIB. Dalam Program Indahnya Sore tersebut,

Kiai Cepot, berperan sebagai da’i yang berceramah dihadapan para audience.

Sebelum beliau mengisi ceramah dalam program Indahnya Sore, beliau juga

pernah mengisi ceramah-ceramah agama di stasiun televisi SCTV, JakTV,

dan Banten TV.

Dari penampilan ceramahnya di stasiun televisi dan masyarakat,

tentunya banyak dari para pemirsa dan pendengar yang menilai baik

terhadap metode ceramah yang diterapkan Kiai Cepot dalam kegiatan dakwah

Islamiyahnya. Tidak sedikit da’i-da’i pemula mengikuti cirri khas beliau

dalam setiap ceramah-ceramah yang mereka lakukan guna mendukung

keberhasilan ceramah yang mereka sampaikan.

4

(17)

Dari pemaparan di atas, tergambar jelas bahwa ceramah dengan

menirukan gerak-gerik Cepot yang dilakukan Kiai Cepot merupakan ciri khas

beliau dalam penyampaian pesan dakwah Islamiyahnya. Dari sinilah penulis

tertarik untuk melakukan penelitian yang diangkat sebagai judul skripsi

“Respon Masyarakat Terhadap Metode Dakwah Kiai Cepot.” B. Pembatasan Dan Perumusan Masalah

1. Pembatasan Masalah

Dari penjelasan latar belakang di atas, penulis membatasi

masalahnya pada respon warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh

Tangerang Banten terhadap metode ceramah yang digunakan Kiai Cepot.

Dengan melihat tingkat respon kognitif, respon afektif, dan respon

konatif.

2. Perumusan Masalah

Dari penjelasan latar belakang di atas, penulis merumuskan

masalah sebagai berikut:

a. Bagaimana respon kognitif warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh

Tangerang Banten terhadap metode ceramah Kiai Cepot,?

b. Bagaimana respon afektif warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh

Tangerang Banten terhadap metode ceramah Kiai Cepot?

c. Bagaimana respon konatif warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh

(18)

C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah sebagai

berikut:

a. Untuk mengetahui respon kognitif warga Kenanga RT 004 RW 02

Cipondoh Tangerang Banten terhadap metode Ceramah Kiai cepot.

b. Untuk mengetahui respon afektif warga Kenanga RT 004 RW 02

Cipondoh Tangerang Banten terhadap metode ceramah Kiai Cepot.

c. Untuk mengetahui respon konatif warga Kenanga RT 004 RW 02

Cipondoh Tangerang Banten terhadap metode ceramah Kiai Cepot.

3. Manfaat Penelitian

a. Manfaat akademis penelitian ini adalah untuk menambah khazanah

keilmuan bagi mahasiswa mengenai metode dakwah, terutama metode

dakwah bil Lisan. Penelitian ini diharapkan bisa memberikan

konstribusi positif, umumnya bagi mahsiswa Fakultas Ilmu Dakwah

dan Ilmu Komunikasi (FIDKOM) dan khususnya bagi mahasiswa

jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI).

b. Manfaat praktis penelitian ini adalah untuk menjadi salah satu acuan

atau pedoman para praktisi dakwah dalam meningkatkan metode

(19)

D. Tinjauan Pustaka

Sebelum melakukan penelitian dan skripsi ini, penulis telah terlebih

dahulu melakukan tinjauan pustaka. Sebelumnya telah ada skripsi yang

berjudul “ Respon Jamaah Majelis Ta’lim At-Tarbiyah terhadap Metode

Dakwah K.H Edi Junaedi Nawawi ” yang dibuat oleh Siti Buraedah pada

tahun 2009. Skripsi ini membahas tentang respon jamaah terhadap metode

dakwah bil hal yang digunakan oleh K.H Edi Junaedi Nawawi. Selain itu

juga penulis menemukan skripsi dengan judul “Respon Jamaah Majlis Dzikir

As-Samawat terhadap Metode Dakwah K.H. Sa’adih Al-Batawi di Puri

Kembangan-Jakarta Barat” yang dibuat oleh Lianasari Situmeang pada tahun

2008. Skripsi ini membahas tentang metode dakwah melalui pelaksanaan

kegiatan shalat Magrib dan Isya berjama’ah, dzikir bersama dan pengobatan

alternatif gratis yang ditujukan untuk semua kalangan.

Sedangkan penulis merasa tertarik untuk mengambil judul Skripsi

dengan judul “Respon Masyarakat Terhadap Metode Dakwah Kiai Cepot.”

Perbedaan skripsi ini dengan skripsi-skripsi tersebut adalah lebih

mengkhususkan pembahasan kepada respon warga Kenanga RT 004 RW 02

terhadap metode ceramah Kiai Cepot. Skipsi ini juga hanya membatasi pada

respon kognitif, afektif, dan konatif warga Kelurahan Kenanga, RT 004 RW

(20)

Untuk mempermudah dalam penulisan skripsi ini, penulis

menggunakan buku pedoman penulisan skripsi, tesis, dan disertasi yang di

terbitkan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Perss tahun 2007.5

E. Metodologi Penelitian

1. Metode Penelitian

Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, karena

pendekatan kuantitatif dapat menghasilkan data yang akurat setelah

perhitungan angka yang tepat. Pendekatan kuantitatif ini merupakan salah

satu pendekatan dalam penelitian yang lebih ditekankan pada data yang

dapat dihitung untuk menghasilkan penafsiran kuantitatif yang kokoh.6

Pendekatan kuantitatif sifatnya adalah objektif, karena pada dasarnya

penulis dapat melihat langsung sebuah keadaaan yang sebenarnya terjadi.

2. Subjek dan Objek Penelitian

Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah warga

Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh Tangerang Banten, dengan alasan

warga dekat dengan kediaman Kiai Cepot dan warga sering menghadiri

ceramah-ceramah beliau pada saat acara-acara yang diadakan di pondok

pesantren modern Ibadurrahman ataupun acara-acara yang diadakan warga

sekitar. Adapun yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah respon

5

Hamid Nasuhi, dkk, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis dan Disertasi),

(UIN Jakarta: CeQda, 2007), cet. Ke-1

6

(21)

warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh Tangerang Banten terhadap

dakwah bil lisan Kiai Cepot.

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik Pengumpulan Data dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:

a. Angket/Questioner yaitu suatu alat pengumpulan data berisi daftar

pertanyaan secara tertulis yang ditujukan kepada subjek atau responden

penelitian.7 Dalam penelitian ini, angket disebar kepada warga

Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh Tangerang Banten, sebanyak 71

angket.

b. Wawancara yaitu sebuah proses memperoleh keterangan untuk tujuan

penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara

pewawancara dengan responden atau orang yang diwawancarai, dengan

atau tanpa mengunakan pedoman (guide) wawancara.8 Disini, peneliti

sebagai pewawancara yang mengajukan pertanyaan kepada individu

sebagai objek yang diwawancarai yang memberikan jawaban atas

pertanyaan-pertanyaan. Dalam penelitian ini, objek yang diwawancarai

adalah KH. Ahmad Ihsan atau Kiai Cepot, Ketua RT 004, dan salah

seorang ustadz yang tinggal di lingkungan tersebut.

c. Dokumentasi yaitu pengumpulan data yang berkaitan dengan masalah

penelitian, dapat berupa buku, majalah, artikel, foto, gambar, dan

7 Faisal Sanafih, Format-Format Penelitian Social, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), hal.122

8

(22)

lain.9 Dalam penelitian ini, peneliti mengumpulkan data dokumentasi

berupa foto-foto, brosur, dan buku-buku yang ada kaitannya dengan

skripsi yang dibahas.

4. Populasi Dan Sampling

Populasi adalah sekumpulan elemen dan unsur yang menjadi objek

penelitian. Populasi bisa berbentuk lembaga, individu, kelompok,

dokumen atau konsep. Sehingga objek-objek ini biasa menjadi sumber

penelitian10. Sedangkan sample adalah sebagian dari populasi.

Dalam penelitian ini populasinya adalah warga Kenanga RT 004

RW 02 Cipondoh Tangerang Banten yang berumur diatas 15 tahun

berjumlah 243 orang.

5. Teknik Pengambilan Sample

Adapun Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan

menggunakan teknik purposive sampling. Teknik sampling ini digunakan

pada penelitian-penelitian yang lebih mengutamakan tujuan penelitian dari

pada sifat populasi dalam menentukan sampel penelitian. Karena dalam

penelitian ini akan meneliti respon warga mengenai metode dakwah bil

lisan Kiai Cepot, maka peneliti akan menjadikan warga Kenanga RT 004

RW 02 sebagai sampel penelitian. Hal ini berangkat dari asumsi bahwa

warga Kenanga RT 004 RW 02 adalah orang yang lebih banyak tahu

mengenai metode ceramah Kiai Cepot.

9

Nana Danapriatna dan Roni Setiawan, Pengantar Statistika, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2005), cet. ke-1, h.9

10

(23)

Untuk mengetahui jumlah sampel yang digunakan, maka peneliti

menggunakan rumus slovin dengan sampling error 10% . Karena dalam

rumus slovin menjelaskan bahwa untuk mencapai keakuratan data, maka

pengambilan sampel dari populasi dalam sebuah penelitian batas sampling

errornya antara 1%-10%. Jadi dari jumlah 243 warga Kenanga RT 004

RW 02 yang berumur diatas 15 tahun, peneliti mengambil sampel warga

dengan sampling error 10%, sehingga di dapat 71 sampel. Untuk lebih

jelasnya sebagai berikut:

n = N 1+Ne²

Keterangan

n = Ukuran sampel

N = Ukuran populasi

e = Kelongaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sample

yang dapat ditolerir, misalnya 2%, kemudian e ini di kuadratkan.11

243

1+(243 x 10/100)2

243

1+ (243 x 0,1)2

243

1+ (243x0.01)

11

(24)

243

1+ 2,43

243 = 70,84

= 71 orang

3,43

Sampel = 71 orang

Dari perhitungan rumus slovin maka diperolehlah jumlah sample

penelitian yang akan digunakan yaitu berjumlah 71 responden.

6. Definisi Operasional

Definisi operasional mengatakan bagaimana operasi atau kegiatan

yang harus dilakukan untuk memperoleh data atau indikator yang

menunjukan konsep yang dimaksud. Definisi inilah yang diperlukan dalam

penelitian karena definisi ini menghubungkan konsep atau konstruk yang

diteliti dengan gejala empirik.12

Dalam penelitian tentang respon warga Kenanga RT 004 RW 02

Cipondoh Tangerang Banten Terhadap Dakwah Bil Lisan Kiai Cepot

terdapat 2 variabel yaitu variabel independent dan dependen. Variabel

yang mempengaruhi disebut variabel penyebab, bebas, atau independent

variabel (x), yaitu dakwah bil lisan Kiai Cepot. Sedangkan variabel akibat

disebut dengan variabel tidak bebas, terikat, atau dependent variabel (y),

warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh Tangerang Banten.

12

(25)

Dalam penelelitian ini, ada sesuatu yang akan dilihat berdasarkan

variabel yang ada. Hal ini dapat terlihat pada gambar sebagai berikut:

a. variabel Independent Variabel Dependent

Warga Kenanga RT 004 RW 02

Cipondoh Tangerang Banten

Metode ceramah Respon kognitif

Respon afektif

Respon konatif

Keterangan:

Pada gambar tersebut, dapat diamati bahwa ruang lingkup respon

mencakup respon kognitif, afektif dan konatif terhadap metode ceramah

Kiai Cepot. Dari metode ceramah ini hal yang ingin diketahui apakah

minat atau tanggapan terhadap ceramah Kiai Cepot rendah, sedang, atau

tinggi. Setelah mengetahui bagaimana kadar tanggapan respon, peneliti

dapat menilai atau melihat bagaimana metode ceramah tersebut dapat

menarik warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh Tangerang Banten

untuk melihat dan menyukainya ceramah Kiai Cepot sehingga mempunyai

kadar rendah, sedang, dan tinggi.

a. Variabel Independent Metode ceramah

1). Definisi Operasional

Dakwah yang cara penyampaiannya melalui ucapan.

2). Indikator

(26)

b) Kesesuaian materi yang disampaikan dengan al-Qur’an dan

hadist.

b. Variabel Dependent

Warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh Tangerang Banten

Merupakan sekumpulan orang yang tinggal di Kelurahan

Kenanga RT 004 RW 02, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang

Banten. Dalam hal ini, tentunya warga Kenanga RT 004 RW 02

Cipondoh Tangerang Banten akan memberikan respon terhadap

dakwah bil lisan Kiai Cepot. Dalam bahasa respon, ada 2 macam

respon yaitu respon positif maupun negatif. Berbicara tentang respon,

berbicara pula tentang jenis-jenis respon:

1). Respon kognitif

a). Definisi Operasional

Respon kognitif, yaitu respon yang berkaitan erat dengan

pengetahuan, keterampilan dan informasi seseorang mengenai

sesuatu. Respon ini timbul apabila adanya perubahan terhadap

yang dipahami atau dipersepsikan oleh khalayak.

b). Indikator

(1) Wawasan mengenai agama Islam.

(2) Pemahaman mengenai materi yang disampaikan.

(3) Kecakapan dalam penyampaian materi-materi ceramah.

(27)

2). Respon Afektif

a). Definisi operasional

Respon afektif, yaitu respon yang berhubungan dengan

emosi, sikap dan menilai seseorang terhadap sesuatu. Respon ini

akan timbul apabila ada perubahan sikap pada apa yang disukai

khalayak terhadap sesuatu.

b). Indikator

(1) Ketertarikan dalam ceramah yang disampaikan.

(2) Perhatian terhadap ceramah yang disampaikan.

(3) Suka atau tidaknya terhadap metode ceramah yang

digunakan dan materi yang disampaikan.

(4) Baik atau buruk metode ceramah yang digunakan dan

materi yang disampaikan.

3). Respon konatif

a). Definisi Operasional

Respon konatif, yaitu respon yang berhubungan dengan

perilaku nyata, yang meliputi tindakan atau kebiasaan.

b). Indikator

(1) Mengikuti kegiatan ceramah.

(2) Menjalankan kewajiban sesuai syariat agama Islam.

(3) Merealisasikan materi ceramah dalam kehidupan

(28)

(4) Menggunakan metode ceramah Kiai Cepot dalam kegiatan

dakwah.

7. Analisis data

Teknik analisis data kuantitatif yaitu suatu metode analisis yang

dilakukan dengan cara mengumpulkan, mengolah, menyajikan data

berwujud angka.

a. Untuk mengetahui bagaimana distribusi frekuensi pada suatu data,

maka peneliti menggunakan rumus :

N = fx x 100%

N

Keterangan:

N = Jumlah kejadian

fx = Frekuensi individu

b. Likert

Dalam menganalisis data, peneliti menggunakan skala

likert dengan ketentuan untuk pernyataan positif diberi skor

sebagaimana berikut:

a. Sangat Setuju (SS) diberi skor 4

b. Setuju (S) diberi skor 3

c. Tidak Setuju (TS) diberi skor 2

d. Sangat Tidak Setuju (STS) diberi skor 1

Adapun nilai negatif diberikan skor sebagaimana berikut:

(29)

b. Setuju (S) diberi skor 2

c. Tidak Setuju (TS) diberi skor 3

d. Sangat Tidak Setuju (STS) diberi skor 4

c. Mean adalah nilai tengah atau kecenderungan tengah yag memberikan

gambaran umum dari suatu segi pengamatan, analisis rata-rata

digunakan untuk menentukan kategori dari setiap skala. Rumus:

Keterangan:

N = Rata-rata

= Pengamatan

n = Jumlah pengamatan

d. Validitas

Validitas menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur itu

mengukur apa yang ingin diukur, dalam penelitian ini uji validitas

dilakukan kepada kuesioner atau pertanyaan-pertanyaan yang akan

diajukan kepada responden, Rumus:

= N ( ∑ xy ) –( ∑x . ∑y)

[image:29.595.147.528.78.494.2]
(30)

Untuk mengetahui ketepatan atau kelayakan alat pengukur serta

kesesuaiannya, maka di bawah ini penulis melakukan pengujian alat

ukur dengan cara menguji setiap butir pertanyaan dengan menggunakan

Korelasi Product Moment 13 untuk mendapatkan data atau alat

pengukuran yang tepat dan sesuai. Berikut ini merupakan hasil dari

pengujian instruments atau alat berupa angket yang telah dilakuan oleh

[image:30.595.131.515.174.725.2]

penulis.

Tabel 1 Pengujian Validitas

Pertanyaan no.1

X Y X.Y

9 3 99 297 9801

9 3 85 255 7225

4 2 84 168 7056

9 3 103 309 10609

9 3 86 258 7396

9 3 99 297 9801

9 3 96 288 9216

16 4 121 484 14641

9 3 116 348 13456

9 3 109 327 11881

16 4 98 392 9604

9 3 100 300 10000

9 3 96 288 9216

9 3 98 294 9604

9 3 102 306 10404

16 4 121 484 14641

16 4 126 504 15876

9 3 98 294 9604

9 3 94 282 8836

16 4 98 392 9604

13

(31)

9 3 103 309 10609

9 3 102 306 10404

4 2 98 196 9604

9 3 90 270 8100

9 3 96 288 9216

16 4 110 440 12100

1 1 34 34 1156

9 3 113 339 12769

1 1 34 34 1156

9 3 103 309 10609

16 4 116 464 13456

16 4 136 544 18496

16 4 113 452 12769

16 4 113 452 12769

9 3 107 321 11449

16 4 116 464 13456

9 3 105 315 11025

9 3 99 297 9801

16 4 125 500 15625

16 4 136 544 18496

9 3 124 372 15376

16 4 119 476 14161

16 4 103 412 10609

9 3 109 327 11881

9 3 118 354 13924

16 4 113 452 12769

16 4 113 452 12769

16 4 116 464 13456

16 4 122 488 14884

16 4 121 484 14641

16 4 109 436 11881

∑ 580 ∑ 168 ∑ 5345 ∑ 18162 ∑ 577887

Keterangan:

X : Jumlah skors pertanyaan

(32)

r hitung =

= N . ( ∑ xy ) –( ∑x . ∑y)

√ [ N . ∑x² - ( ∑x )² ] . [ N . ∑y² - ( ∑y)² ]

= (51 x 18162) – (168 x 5345)

[ (51 x 580) – (168 x 168)] . [(51 x 577887) – (5345 x 5345)]

= 28302

1224755472

= 0, 80870929

Dari hasil perhitungan dengan menggunakan rumus Kolerasi

Pruduct Moment, penulis menemukan hasil perhitungan sebagai

[image:32.595.148.527.82.446.2]

berikut:

Tabel 2

Hasil Pengujian Validitas Questioner Respon Kognitif No. r Hitung Pertanyaan

1. 0,80

2. 0.77

3. 0.83

4. 0,55

5. 0,80

6. 0,58

7. 0.76

8. 0,81

9. 0,73

10. 0,78

11. 0,79

12. 0,74

13. 0,79

14. 0,72

15. 0,76

(33)

Keterangan :

r hitung pertanyaan no.1 = 0,80

r hitung pertanyaan no.2 = 0.77

r hitung pertanyaan no.3 = 0.83

r hitung pertanyaan no.4 = 0,55

r hitung pertanyaan no.5 = 0,80

r hitung pertanyaan no.6 = 0,58

r hitung pertanyaan no.7 = 0.76

r hitung pertanyaan no.8 = 0,81

r hitung pertanyaan no.9 = 0,73

r hitung pertanyaan no.10 = 0,78

r hitung pertanyaan no.11 = 0,79

r hitung pertanyaan no.12 = 0,74

r hitung pertanyaan no.13 = 0,79

r hitung pertanyaan no.14 = 0,72

r hitung pertanyaan no.15 = 0,76

(34)

Tabel 3

Hasil Pengujian Validitas Questioner Respon Afektif No. r Hitung Pertanyaan

17. 0,77

18. 0,74

19. 0,79

20. 0,80

21. 0,80

22. 0,71

23. 0,79

24. 0,66

25. 0,76

26. 0,84

27. 0,74

28. 0,75

Keterangan :

r hitung pertanyaan no.17 = 0,77

r hitung pertanyaan no.18 = 0,74

r hitung pertanyaan no.19 = 0,79

r hitung pertanyaan no.20 = 0,80

r hitung pertanyaan no.21 = 0,80

r hitung pertanyaan no.22 = 0,71

r hitung pertanyaan no.23 = 0,79

r hitung pertanyaan no.24 = 0,66

r hitung pertanyaan no.25 = 0,76

r hitung pertanyaan no.26 = 0,84

r hitung pertanyaan no.27 = 0,74

(35)

Tabel 4

Hasil Pengujian Validitas Quesioner Respon Konatif No. R Hitung Pertanyaan

29. 0,77

30. 0,76

31. 0,65

32. 0,82

33. 0,40

34. 0,62

Keterangan :

r hitung pertanyaan no.29 = 0,77

r hitung pertanyaan no.30 = 0,76

r hitung pertanyaan no.31 = 0,65

r hitung pertanyaan no.32 = 0,82

r hitung pertanyaan no.33 = 0,40

r hitung pertanyaan no.34 = 0,62

Dari hasil perhitungan r di atas dicocokan dengan ukuran

kekuatan hubungan berdasarkan koefisien asosiasi, yakni:

Kurang dari 0,27 : Hubungan rendah sekali, tidak valid.

0,27 - 0,37 : Hubungan rendah tetapi pasti.

0,38 - 0,68 : Hubungan yang cukup berarti.

0,69 - 0,90 : Hubungan yang tinggi, kuat.

(36)

Berdasarkan r tabel, r hitung dikatakan memiliki taraf

signifikansi 5% jika:

dk-2 = 51 - 2

= 49

Untuk r tabel, N = 49, maka r tabelnya adalah 0,27, jika r hitung

> r tabel maka ia memiliki signifikansi tapi jika jika r hitung < r tabel

maka ia tidak memiliki signifikansi.

Dari tabel di atas, setelah penulis melakukan pengujian validitas

dan ralibilitas sesuai dengan ketentuan rumus validitas, maka

didapatkan item yang valid dan realibel yang berjumlah 34 item

questioner menunjukan bahwa semua item questioner yang dibuat oleh

penulis dapat dinyatakan valid dan realibel.

Maka dalam analisis peneliti akan menggunakan seluruh item

yang berjumlah 34 item questioner yang dianggap valid. Item tersebut

terdiri dari 16 item questioner respon kognitif, 12 item questioner

respon afektif dan 6 item questioner respon konatif.

F.Sistematika Penulisan

Agar mengetahui gambaran yang jelas tentang hal-hal yang diuraikan

dalam penulisan ini, maka penulis membagi sistematika penyusunannya

menjadi lima bab, pada tiap-tiap bab terdiri dari sub-sub bab dengan penulisan

(37)

BAB I Pendahuluan

Latar Belakang Masalah, Pembatasan dan Perumusan

Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Tinjauan Pustaka

Metodologi Penelitian dan Sistematika Penulisan.

BAB II Kajian Teori

Pengertian Respon, Teori S-O-R, Jenis-Jenis Respon,

Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Respon, Pengertian

Dakwah, Unsur-Unsur Dakwah, Bentuk-Bentuk Dakwah,

Landasan Hukum Dakwah.

BAB III Gambaran Umum Tentang Warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh Tangerang Banten Dan Biografi Kiai Cepot

Profil Warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh

Tangerang Banten, Data Warga, Data Pendidikan, Data

Mata Pencaharian Warga, Biografi Kiai Cepot, Riwayat

Hidup Kiai Cepot, Latar Belakang Pendidikan Kiai Cepot,

Karir Dakwah Kiai Cepot.

BAB IV Respon Warga Kenanga RT 004 RW 02 Cipondoh Tangerang Banten Terhadap Metode Dakwah Bil Lisan Kiai

Cepot

Profil Responden, Respon Kognitif Warga Kenanga RT

004 RW 02 Cipondoh Tangerang Banten Terhadap Metode

Ceramah Kiai Cepot, Respon Afektif Warga Kenanga RT

(38)

Ceramah Kiai Cepot, Respon Konatif Warga Kenanga RT

004 RW 02 Cipondoh Tangerang Banten Terhadap Metode

Ceramah Kiai Cepot.

BAB V Penutup

(39)

27

A. Respon

1. Pengertian Respon

Respon menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tanggapan,

reaksi dan jawaban terhadap suatu gejala atau peristiwa yang terjadi1.

Menurut Ahmad Subandi, respon adalah sebagai istilah umpan

balik (feed back) yang memiliki peran atau pengaruh yang besar baik

atau tidaknya suatu komunikasi.2

Menurut Hunt, orang dewasa mempunyai sejumlah besar unit

untuk memproses informasi. Unit-unit ini dibuat khusus untuk

menangani representasi fenomenal dari keadaan di luar yang ada dalam

diri seorang individu (internal environment). Lingkungan internal ini

dapat digunakan untuk memperkirakan peristiwa-peristiwa yang terjadi

di luar. Proses yang berlangsung secara rutin inilah yang oleh Hunt

dinamakan respon.

Menurut Scheerer yang disadur oleh Sarlito, respon adalah proses

pengorganisasian rangsang. Rangsang proksimal diorganisasikan

1

DEPDIKBUT, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1996), edisi ke-3, h.838

2

(40)

sedemikian rupa hingga terjadi representasi fenomenal dari rangsang

proksimal itu.3

Menurut Jalaludin Rakhmat, respon adalah suatu kegiatan dari

organisme itu bukanlah semata-mata suatu gerakan yang positif, setiap

jenis kegiatan yang ditimbulkan oleh suatu perangsang dapat disebut juga

respon. Secara umum respon atau tanggapan dapat diartikan sebagai hasil

atau kesan yang di dapat dari pengamatan tentang subjek, peristiwa, atau

hubungan–hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi

dan menafsirkan pesan-pesan.4

Dapat disimpulkan bahwa respon terbentuk dari proses

rangsangan atau pemberian aksi atau sebab terhadap subjek peristiwa

yang berujung pada hasil kreasi dan akibat dari proses rangsangan

tersebut.

Dalam proses dakwah, respon akan terjadi pada para mad’u.

Dakwah yang disampaikan oleh seorang da’i dengan metode ceramah

tertentu akan menimbulkan reaksi bermacam-macam pada mad’u. Reaksi

yang terjadi pada mad’u ini disebut respon. Respon dapat bersifat positif

dan dapat bersifat negatif.

3

Sarlito Wirawan Sarwono, Teori-Teori Psikologi Sosial, (Jakarka: PT. RajaGrafindo Persada, 2005), h. 87

4

(41)

2. Teori S-O-R

Teori S-O-R (Stimulus, Organism, Response) yang berasal dari

psikologi dan kemudian menjadi teori komunikasi. Karena objek material

dari psikologi dan komunikasi adalah sama yaitu manusia yang jiwanya

meliputi komponen-komponen, sikap, opini, perilaku, kognisi, afeksi,

dan konatif.

Menurut teori S-O-R, bahwa reaksi tertentu akan timbul akibat

stimulus tertentu, sehingga seseorang dapat mengharapkan dan

memperkirakan pesan yang disampaikan terhadap reaksi komunikan.5

Model dapat terlihat pada gambar berikut:

Gambar di atas menunjukan bahwa komunikasi dapat

berlangsung apabila komunikan menaruh perhatian, pengertian, serta

penerimaan terhadap pesan yang disampaikan oleh komunikator. Setelah

itu akan dilanjutkan kedalam proses berikutnya yaitu perubahan sikap, ini

dapat diartikan juga suatu respon atau tanggapan terhadap pesan tersebut.

5

Onong Uchjana Effendy, Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi, (Bandung: Citra Aditiya Bakti, 2003), h. 254-255

Stimulus Organisme:

- Perhatian

- Pengertian

- Penerimaan

Respon

[image:41.595.143.520.149.592.2]
(42)

Sedangkan stimulus yang dimaksud diatas dapat berupa kata-kata verbal

atau pun non verbal dari komunikator kepada komunikan.6

Dalam pembahasan teori respon tidak lepas dari proses teori

komunikasi terhadap orang-orang yang terlibat proses komunikasi,

komunikasi menampakan jalinan sistem utuh dan signifikan sehingga

proses komunikasinya akan berjalan secara efektif dan efisien apabila

unsur-unsur didalamnya terdapat keteraturan.7 Seperti yang dikatakan

Harold D. Laswell (1948), ia mengemukakan lima segi yang merupakan

bidang analisis komunikasi, yang kemudian dikenal dengan formula

Laswell yaitu siapa, berkata apa, melalui saluran apa, kepada siapa, dan

bagaimana efeknya.

Keterangan:

a. Sender yaitu komunikator yang menyampaikan pesan kepada

seorang atau sejumlah orang.

6

Ibid h.256

7

Winarmi, Komunikasi Massa, (Malang: UMM Pres, 2003), cet. ke-1, h. 58 Response Feedback

Noise

(43)

b. Encoding yaitu penyandian, yaitu proses pengalihan pikiran dalam

bentuk lambang. Dalam hal ini dapat berupa pengalihan pikiran

dalam bentuk pesan verbal seperti kata-kata atau pun pesan non

verbal seperti gerakan-gerakan.

c. Message yaitu pesan yang merupakan serangkaian lambang

bermakna yang disampaikan oleh komunikator.

d. Media yaitu seluruh alat komunikasi, tempat berlalunya pesan dari

komunikator kepada komunikan.

e. Decoding yaitu pengawasandian, yaitu proses dimana komunikan

menetapkan makna dalam lambang yang disampaikan oleh

komunikator kepadanya. Dalam hal ini dapat diartikan sebagai

proses pemberian arti atau pemahaman oleh komunikan terhadap

pesan-pesan yang disampaikan komunikator.

f. Response yaitu tanggapan seperangkat reaksi kepada komunikator

setelah diterpa pesan.

g. Feedback yaitu umpan balik, yaitu tanggapan komunikan apabila

tersampaikan kepada komunikator.

h. Noise yaitu ganguan tak terencana yang terjadi dalam proses

komunikasi sebagai akibat diterimanya pesan yang disampaikan

oleh komunikator kepadanya. Ada 2 jenis gangguan terhadap

jalanya komunikasi yang menurut sifatnya dapat diklasifikasikan

(44)

1). Gangguan mekanik (Mechanical Channel noise)

Yang dimaksud dengan gangguan mekanik adalah

gangguan yang disebabkan saluran komunikasi atau kegaduhan

yang bersifat fisik.

2). Gangguan Semantik (Semantic Noise)

Gangguan jenis ini bersangkutan dengan komunikasi

yang pengertiannya menjadi rusak. Ganguan semantik tersaring

kedalam pesan melalui penggunaan bahasa. Lebih banyak

kekacauaan mengenai pengertian suatu istilah atau konsep yang

terdapat pada komunikator, akan lebih banyak gangguan

semantik dalam pesannya. Gangguan semantik terjadi dalam

salah pengertian.

Pada hakikatnya orang-orang yang terlibat dalam

komunikasi menginterfrestasikan bahasa yang menyalurkan

suatu pesan dengan berbagai cara, karena itu mereka

mempunyai pengertian yang berbeda. Seorang komunikan

mungkin menerima suatu pesan dengan jelas sekali, baik secara

mekanik maupun secara phonetik , secara fisik berlaku dengan

keras dan jelas tetapi disebabkan kesukaran pengertian

komunikasi menjadi gagal.8

Model komunikasi diatas, menegaskan faktor-faktor kunci dalam

komunikasi efektif. Komunikator harus tahu khalayak mana yang

8

(45)

dijadikannya sasaran dan tanggapan apa yang diinginkannya. Ia harus

terampil dalam menyandi pesan dengan memperhitungkan bagaimana

komunikan sasaran mengawasandi pesan. Komunikator harus

mengirimkan pesan melalui media yang efisien dalam mencapai

khalayak sasaran.9

3. Jenis-Jenis Respon

Respon akan terjadi karena beberapa hal. Terjadinya respon akan

sangat tergantung dengan penyebab yang menimbulkannya. Menurut

Jalaluddin Rahmat, respon terbagi atas tiga bagian yaitu:

a. Respon kognitif, yaitu respon yang timbul setelah adanya pemahaman

terhadap sesuatu yag terkait dengan informasi atau pengetahuan.

Terjadi bila ada perubahan pada apa yang diketahui, atau dipersepsi

oleh khalayak.

b. Respon afektif, yaitu respon yang timbul karena adanya perubahan

perasaan terhadap sesuatu yang terkait dengan emosi, sikap dan nilai.

timbul bila ada perubahan pada apa yang dirasakan, disenangi, atau

dibenci khalayak.

c. Respon konatif, yaitu respon yang berupa tindakan, kegiatan atau

kebiasaan yang terkait dengan perilaku nyata. Merujuk pada perilaku

nyata yang dapat diamati; yang meliputi pola-pola tindakan, kegiatan,

atau kebiasaan berperilaku.10

9

Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi:Teori dan Praktik, (Bandung: PT. Rosda Karya, 2007), cet 21 h. 18-19

10

(46)

4. Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Respon

Menurut Bimo Walgito, terdapat dua faktor yang menyebabkan

individu melakukan respon, yaitu:

a. Faktor internal, yaitu faktor yang ada pada diri individu. Manusia terdiri

dari dua unsur, yaitu: jasmani dan rohani, maka seseorang yang

mengadakan tanggapan terhadap suatu stimulus tetap dipengaruhi oleh

eksistensi kedua unsur tersebut. Apabila terganggu salah satu unsur

tersebut, maka akan melahirkan respon yang berbeda intensitasnya pada

diri individu yang melakukan respon, atau akan berbeda responnya

tersebut diantara satu orang dengan orang lain.

b. Faktor eksternal, yaitu faktor yang ada pada lingkungan. Faktor ini

biasa dikenal juga dengan faktor stimulus. Faktor ini berhubungan

dengan objek yang diamati, sehingga menimbulkan stimulus, kemudian

stimulus tersebut sampai pada indera yang menggunakannya.11

Dari pemaparan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa setiap

individu dapat mengamati segala sesuatu hal atau pun kegiatan yang

timbul akibat adanya stimulus dengan alat indra yang dimilikinya,

sehingga timbul suatu bayangan yang tertinggal dalam ingatan setiap

individu tersebut setelah adanya pengamatan dan dapat ditimbulkan

kembali sebagai jawaban dan tanggapan.

11

(47)

B. Ruang Lingkup Dakwah

1. Pengertian Dakwah

Secara etimologi, Kata “dakwah” berasal dari bahasa Arab yang

berarti ajakan, seruan, panggilan, undangan12. Menurut Warson

Munawwir, menyebutkan bahwa dakwah artinya adalah memanggil (to

call), mengundang (to in vite), mengajak (to summer), menyeru (to

propose), mendorong (to urge) dan memohon (to Pray).13

Secara terminologi, ada beberapa definisi dakwah yang

dikemukakan oleh para ahli mengenai dakwah, yaitu:

a. Menurut Bakhil Khauli, dakwah adalah suatu proses menghidupkan

peraturan-peraturan Islam dengan maksud memindahkan umat dari satu

keadaan kepada keadaan lain.14

b. Menurut Syekh Ali Mahfuzd, dakwah adalah mengajak manusia untuk

mengerjakan kebaikan dan mengikuti petunjuk, menyuruh mereka

berbuat baik dan melarang mereka dari perbuatan jelek agar mereka

mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat.15

c. Menurut M. Quraish Shihab, dakwah adalah seruan atau ajakan kepada

keinsyafan atau usaha mengubah situasi kepada situasi yang lebih baik

dan sempurna, baik terhadap pribadi maupun masyarakat. Perwujudan

dakwah bukan sekadar usaha peningkatan pemahaman dalam tingkah

12

Toha Yahya Omar, Islam dan Dakwah, (Jakarta: Al-Mawardi Prima, 2004), h. 67

13

Warson Munawwir, Kamus al-Munawwir, (Surabaya: Pustaka Progresif, 1994), h. 439

14

Ghazali Darussalam, Dinamika Ilmu Dakwah Islamiyah, (Malaysia: Nur Niaga SDN.BHD, 1996), cet. ke-1, h. 5

15

(48)

laku dan pandangan hidup saja, tetapi juga menuju sasaran yang lebih

luas. Apalagi pada masa sekarang ini, ia harus lebih berperan menuju

kepada pelaksanaan ajaran Islam secara lebih menyeluruh dalam

berbagai aspek.16

d. Menurut Toha Yahya Omar, M.A, dakwah adalah mengajak manusia

dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah

Tuhan, untuk keselamatan dan kebahagiaan mereka di dunia dan

akhirat.17

Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa

dakwah adalah sebagai kegiatan mengajak, menyeru, mendorong manusia

dengan bijaksana kepada kebaikan yang sesuai dengan perintah Allah

SWT serta menjauhi apa yang dilarang oleh Allah SWT agar selamat serta

bahagia di dunia dan akhirat.

2. Unsur-Unsur Dakwah

a. Subjek Dakwah (da’i)

Subjek dakwah (da’i) adalah pelaku dakwah. Dalam

pengertian yang khusus, da’i adalah orang yang mengajak kepada orang

lain baik secara langsung atau tidak langsung dengan kata-kata,

perbuatan atau tingkah laku ke arah kondisi yang baik atau lebih baik

menurut al-Qur’an dan sunnah. Da’i pada dasarnya adalah penyeru

kejalan Allah, pengibar panji-panji Islam, dan pejuang (mujahid) yang

16

M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an, Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung: Mizan, 2001), cet ke-22, h. 194

17

(49)

mengupayakan terwujudnya sistem Islam dalam realitas kehidupan

umat manusia. Sebagai penyeru ke jalan Allah SWT, da’i tidak bisa

tidak harus memiliki pemahaman yang luas mengenai Islam sehingga

dapat menjelaskan ajaran Islam kepada masyarakat dengan baik dan

benar. Ia juga harus memiliki semangat dan gairah ke Islaman yang

tinggi yang menyebabkan ia setiap saat dapat menyeru manusia kepada

kebaikan dan mencegah mereka dari kejahatan, meskipun untuk itu ia

harus menghadapi tantangan yang berat.18 Faktor subjek dakwah sangat

menentukan keberhasilan aktivitas dakwah. Maka subjek dakwah

hendaklah mampu menjadi penggerak dakwah islamiyah yang

profesional.

Secara garis besar subjek dakwah atau da’i mengandung dua

pengertian:

1) Secara umum adalah setiap muslim atau muslimat yang berdakwah

sebagai kewajiban yang melekat dan tidak terpisahkan dari misinya

sebagai penganut Islam, sesuai dengan perintah “Ballighu „anni

walaw ayat.”

2) Secara khusus adalah mereka yang mengambil keahlian khusus

(mutakhashshish-spesialis) dalam bidang dakwah Islam, dengan

kesungguhan luar biasa dan dengan qudwah hasanah.19

18

Sayyid Sabiq, Dakwah al-Islam, (Bairut: Dar al-Kitab al-Arabi, 1973), cet. Ke-1, h. 293-295

19

(50)

Seorang da’i, hendaklah memiliki kepribadian yang baik.

Seorang da’i menurut Yusup Qardlawi, harus melengkapi dirinya

dengan tiga senjata, yaitu iman, akhlak mulia, ilmu pengetahuan dan

wawasan. Hal ini karena seorang da’i merupakan figur yang di contoh

baik perkataan maupun tingkah lakunya. Da’i adalah pemandu bagi

orang-orang yang ingin mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat.

Disamping memiliki kepribadian yang baik, seorang da’i

haruslah menguasai materi, metode, media, serta mengetahui psikologi

mad’unya. Karena kesiapan da’i (subjek dakwah) baik penguasaan

terhadap materi, maupun penguasaan terhadap metode, media dan

psikologi sangat menentukan gerakan dakwah untuk mencapai

keberhasilan.

Syarat-syarat da’i secara khusus meliputi komponen yang ada

dalam kegiatan da’i dalam dakwah yaitu:

1) Mengajak orang menyembah Allah semata. Termasuk dalam Syarat

ini adalah patuh, selalu ingat dan bersyukur kepada-Nya, serta tidak

melakukan hal-hal yang dilarang.

2) Beramal shaleh dengan melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi

segala larangan, melakukan hal-hal yang sunah, menjauhi yang

makruh, dan senantiasa mengajak orang lain ke jalan Allah SWT.

3) Memiliki loyalitas pada Islam dan kepatuhannya pada hukum, sebagai

realisasi dari ucapan syukur kepada Allah SWT yang telah

(51)

Apabila seorang da’i sudah melaksanakan ketiga syarat

tersebut, setiap ucapannya akan didengar dan di ikuti oleh

orang-orang.

Dalam al-Qur’an surat Ali Imran ayat 160-161, bahwa seorang

da’i haruslah memiliki sifat-sifat mahmudah sebagai berikut :

                                                                     

Artinya: “Jika Allah SWT menolong kamu maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu , tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolong setelah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah SWT saja orang-orang mukmin bertawakal.” “Dan tidak mungkin seorang nabi berkhianat (dalam urusan harta rampasan perang). Barang siapa berkhianat niscaya pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatinnya itu. Kemudian setiap orang akan diberi balasan yang sempurna sesuai apa yang

dilakukannya, dan mereka tidak di zalimi.” (QS. Ali Imran 160-161)

Pada surat Ali Imran ayat 160 menjelaskan bahwa “Jika Allah

hendak menolong kamu, maka tak ada manusia atau jin atau makhluk apa

pun yang dapat mengalahkan kamu betapapun besarnya kemampuannya;

jika Allah menbiarkan kamu, yakni tidak memberimu pertolongan maka

siapakah gerangan yang dapat menolong kamu sesudah-Nya, yakni selain

Allah? Jelas tak ada! Kamu mengaku percaya kepada Allah, maka

berupaya dan berserah dirilah kepada-Nya. Karena itu pula hendaklah

kepada Allah saja bukan kepada nabi, wali atau penguasa, atau kekuatan

(52)

yang tidak berserah diri kepada Allah, maka pasti ada sesuatu yang kurang

dalam imannya.”

Pada ayat 161 berhubungan erat dengan ayat sebelumnya. Ayat ini

berbicara tentang khianat, sedangkan sifat ini merupakan salah satu sebab

utama ketidak hadiran pertolongan Allah. Sebaliknya menjauhi khianat

merupakan syarat utama bagi kehadiran pertolongan-Nya. Sementara

ulama menyebutkan bahwa salah satu sebab petaka dalam perang Uhud

adalah apa yang dinamakan khianat oleh ayat ini. Pasukan pemanah

meninggalkan posisi mereka, untuk mengambil harta rampasn perang,

karena mereka khawatir jangan sampai harta rampasan itu dimonopoli oleh

anggota pasukan lain yang bebas berkeliaran di medan perang setelah

terlihatnya tanda-tanda kekalahan kaum musyrikin pada awal perang.

Dalam konteks ini, diriwayatkan bahwa Rasul SAW menyindir para

pemanah itu dengan sabdanya: “Apakah kami akan berkhianat dan tidak

membagi buat kalian ghanimah (harta rampasan perang)?” Memang, tulis

al-Biqa’i para pemanah itu bergegas meninggalkan posisi mereka untuk

mengambil harta rampasan perang sebelum waktunya, disebabkan oleh

beberapa kemungkinan. Boleh jadi dengan maksud menyembunyikan apa

atau sebagian yang diambilnya; boleh jadi juga karena khawatir jangan

sampai pimpinan mereka tidak membaginya, atau khawatir adanya khianat

yang mengakibatkan Nabi SAW tidak membaginya dengan adil. Kalau

bukan hal-hal ini penyebabnya, maka tentu saja ketergesaan itu, adalah

(53)

Mutawalli asy-Sya’rawi mengemukakan pandangan yang sedikit

berbeda. Menurutnya, dalam perang Badar Rasul SAW mengumumkan

bahwa “Siapa yang membunuh seseorang maka harta rampasan perang

yang ditemukan bersama sang terbunuh, menjadi miliknya.”

Kebijaksanaan ini, beliau tetapkan untuk mendorong semangat juang

kaum muslimin. Ketika perang Uhud, para pemanah menduga bahwa

ketentuan Rasul di atas tetap berlaku, bahkan ada yang menduga mereka

tidak akan diberi harta rampasan. Tentu saja tidak membagi harta

rampasan untuk semua pasukan adalah tidak adil. Ia merupakan salah satu

bentuk penghianatan, maka karena itu ayat ini berbicara tentang

penghianatan.

Ayat ini menegaskan bahwa: Tidak mungkin dalam satu waktu atau

keadaan seorang nabi berkhianat karena salah satu sifat mutlak nabi

adalah amanah, termasuk tidak mungkin berhianat dalam urusan harta

rampasan perang. Hal itu tidak mungkin bagi semua nabi, apalagi nabi

Muhammad SAW, penghulu para nabi. Umatnya pun tidak wajar

melakukan penghianatan. Barang siapa berkhianat dalam urusan

rampasan perang, atau dalam hal apa pun, maka pada hari kiamat dia akan

datang membawa apa yang dikhianatinya itu; kemudian setiap diri akan

(54)

baik atau buruk sedang mereka tidak dianiaya sedikit pun. Bahkan yang

berbuat baik diberi ganjaran lebih.20

Sehingga dapat dikatakan bahwa ayat diatas menyebutkan seorang

da’i haruslah mempunyai sifat-sifat yang baik dalam bermasyarakat dan

bernegara, yaitu:

1) Lemah lembut dalam menjalankan dakwahnya sebagai seorang da’i.

2) Bermusyawarah dalam setiap urusan, termasuk urusan dakwah.

3) Tekad yang bulat dalam menjalankan dakwah.

4) Tawakal kepada Allah SWT.

5) Memohon kepada Allah SWT sebagai aspek konsekuensi dari tawakal.

6) Menjauhi kecurangan, dan lain sebagainya.

Selain itu, da’i akan berhasil dalam tugas melaksanakan dakwah

jika di bekali kemampuan-kemampuan yang berkaitan dengannya.

Kompetensi-kompetensi yang harus dimiliki antara lain:

1) Kemampuan berkomunikasi.

2) Kemampuan penguasaan diri.

3) Kemampuan pengetahuan psikologi.

4) Kemampuan pengetahuan kependidikan.

5) Kemampuan pengetahuan di bidang pengetahuan umum.

6) Kemampuan dibidang al-Qur’an.

7) Kemampuan pengetahuan dibidang ilmu hadist.

8) Kemampuan di bidang ilmu agama secara integral.21

20

(55)

b. Objek Dakwah

Objek dakwah ( Mad’u ) yaitu masyarakat sebagai penerima

dakwah. Masyarakat baik individu maupun kelompok, sebagai objek

dakwah, memiliki strata dan tingkatan yang berbeda-beda. Mad’u

merupakan peserta dakwah, baik perseorangan, kolektif, laki-laki atau

perempuan, anak-anak atau orang dewasa. Mad’u bersifat heterogen, baik

dari sudut ideologi, misalnya atheis, animis, musyrik, munafik, fasik dan

muslim, juga dari sudut lainnya seperti intelektualitas, status sosial,

kesehatan, pendidikan, dan lain-lain.22

Dalam hal ini seorang da’i dalam aktivitas dakwahnya,

hendaknya memahami karakter dan siapa yang akan menerima

pesan-pesan dakwahnya. Da’i dalam menyampaikan pesan-pesan-pesan dakwah

Islamiyahnya, perlu mengetahui klasifikasi dan karakter objek dakwah, hal

ini penting agar pesan-pesan dakwah bisa diterima dengan baik oleh

mad’u.

Dengan mengetahui karakter dan kepribadian mad’u sebagai

penerima dakwah, maka dakwah lebih terarah karena tidak disampaikan

secara sembarangan tetapi mengarah kepada profesionalisme. Maka mad’u

sebagai sasaran atau objek dakwah akan dengan mudah menerima

pesan-pesan dakwah yang disampaikan oleh da’i, karena baik materi, metode,

maupun media yang digunakan dalam berdakwah harus sesuai dengan

kondisi mad’u sebagai objek dakwah.

21

Slamet Muhaimin Abda, Prinsip-Prinsip Metode Dakwah, (Surabaya: al-Ikhlas, 1944), 69-77

22

(56)

c. Materi Dakwah

Materi dakwah adalah isi pesan dakwah Islam atau segala sesuatu

yang harus disampaikan subjek kepada objek dakwah, yaitu keseluruhan

ajaran Islam yang ada di dalam Kitabullah maupun Sunah Rasul-Nya.23

Pesan atau materi dakwah harus disampaikan secara menarik agar tidak

monoton sehingga merangsang objek dakwah untuk mendengarkan serta

mengkaji tema-tema Islam yang pada gilirannya objek dakwah akan

mengkaji lebih mendalam mengenai materi agama Islam dan

meningkatkan kualitas pengetahuan keislaman untuk pengalaman

keagamaan objek dakwah.

Materi dakwah yang akan disampaikan seorang da’i harus

mempertimbangkan kondisi serta situasi mad’u sebagai penerima dakwah.

Karena materi dakwah yang disampaikan oleh subjek dakwah (da’i) sesuai

dengan kondisi serta situasi mad’u, akan mudah diterima dan dipahami

oleh mad’u sebagai penerima dakwah.

d. Metode Dakwah

Dari segi bahasa metode berasal dari dua kata yaitu “meta”

(melalui) dan “hodos” (jalan, cara).24 Dengan demikian kita dapat artikan

bahwa metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai

suatu tujuan. Sumber lain menyebutkan bahwa metode berasal dari bahasa

Jerman methodica, artinya ajaran tentang metode. Dalam bahasa Yunani

metode berasal dari kata methodos artinya jalan yang dalam bahasa Arab

23

H. Hafi Anshari, Pemahaman Dan Pengamalan Dakwah, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1993), h. 140

24

(57)

disebut thariq.25 Jadi metode dapat disimpulkan sebagai cara yang telah

diatur dan melalui proses pemikiran untuk mencapai suatu maksud.

Metode dakwah merupakan cara-cara atau strategi dalam

penyampaian dakwah Islamiyah, baik individu, kelompok, mau pun

masyarakat luas agar pesan-pesan dakwah yang disampaikan mudah

diterima. Dalam penyampaian dakwah Islamiyah, hendaklah menggunakan

metode yang tepat dan sesuai dengan kondisi mad’u. Dengan penggunaan

metode dakwah Islamiyah yang tepat dan sesuai dengan kondisi mad’u,

tentunya akan mempermudah seorang da’i dalam menyampaikan pesan

-pesan dakwahnya serta mempermudah mad’u dalam memahami isi -pesan

dakwah Islamiyah.

Metode Dakwah dapat di bagi beberapa macam, diantaranya:

1) Al- Hikmah

Dalam dakwah, hikmah adalah penentu kesuksesan suatu

dakwah Islamiyah. Dalam menghadapi mad’u yang beraneka ragam

tingkat pendidikan, strata sosial, serta latar belakang budaya yang

berbeda, tentunya setiap da’i memerlukan hikmah. Karena dengan

hikmah setiap dakwah Islamiyah yang disampaikan setiap da’i dapat

memasuki ruang hati dan pikiran mad’u dengan tepat. Oleh sebab itulah

setiap da’i di tuntut untuk mampu mengetahui dan memahami kondisi

setiap mad’unya.

25

(58)

Ada saatnya seorang da’i menjadi efektif ketika berbicara

ketika dia mampu mengetahui dan memahami kondisi setiap mad’unya

dan ada saatnya seorang dai menjadi bencana ketika berbicara, ketika

dia tidak mampu untuk mengetahui dan memahami kondisi mad’unya.

Kepampuan seorang da’i menempatkan dirinya kapan harus berbicara

dan kapan harus memilih diam, itu juga adalah hikmah yang

menentukan keberhasilan dakwah.

Gambar

Gambaran tersebut, mengandung ungkapan bahwa tata cara atau
gambaran umum dari suatu segi pengamatan, analisis rata-rata
Tabel 1  Pengujian Validitas
Tabel 2  Hasil Pengujian Validitas Questioner Respon Kognitif
+7

Referensi

Dokumen terkait

Selain itu sebagai pelayan kita juga diingatkan bahwa dalam memenuhi panggilan pelayanan tidak perlu mempermasalahkan siapakah yang terdahulu, siapa yang paling unggul,

Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 yang belum berlaku efektif di Desa Manggihan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang menyebabkan warga yang ingin melangsungkan

Dari berbagai pendapat tadi, kemudian penulis menyimpulkan bahwa Ṣirâṭ dan Sabîl tidak hanya berarati jalan, namun bisa dipahami dengan maksud lain tergantung kata

Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan masalah yang akan dibahas yaitu jumlah penduduk Kota Sorong sampai dengan tahun 2026, besar kebutuhan air

Kesimpulan yang didapat dari penelitian perancangan sistem pakar yang digunakan untuk diagnosis penyakit Pneumonia pada balita yang menerapkan Algoritme K-Nearest

Kecepatan sesaat suatu benda, dapat dihitung dengan menggunakan nilai limit dari kecepatan rata-rata pada selang waktu yang sangat kecil yaitu mendekati nol.. Jadi, kecepatan

Penelitian yang berjudul “ Sejarah Tambang Minyak Petrochina di Geragai 20012- 2015” ini menjelaskan tentang sejarah dan perkembangan perusahaan tambang minyak Petrochina

Berdasarkan hasil analisis tes akhir dan uji hipotesis menunjukkan bahwa kemampuan representasi matematis siswa kelas eksperimen yang diberikan model pembelajaran