• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh tata kelola ekonomi daerah terhadap tingkat kemiskinan di Wilayah Nusa Tenggara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh tata kelola ekonomi daerah terhadap tingkat kemiskinan di Wilayah Nusa Tenggara"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH TATA KELOLA EKONOMI DAERAH

TERHADAP TINGKAT KEMISKINAN

DI WILAYAH NUSA TENGGARA

MOCHAMAD FITRA HARDIANSYAH

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI STUDI PEMBANGUNAN

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Pengaruh Tata Kelola Ekonomi Daerah Terhadap Tingkat Kemiskinan di Wilayah Nusa Tenggara adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Nopember 2014

Mochamad Fitra Hardiansyah

(4)

ABSTRAK

MOCHAMAD FITRA HARDIANSYAH. Pengaruh Tata Kelola Ekonomi Daerah Terhadap Tingkat Kemiskinan di Wilayah Nusa Tenggara. Dibimbing oleh DEWI ULFAH WARDANI

Kemiskinan menjadi indikator tingkat kesejahteraan masyarakat. Di semua negara, kemiskinan menjadi permasalahan ekonomi yang harus diselesaikan. Penelitian ini menganalisis pengaruh TKED terhadap tingkat kemiskinan di wilayah Nusa Tenggara dengan metode Analisis Regresi Berganda dan menganalisis perkembangan TKED dengan metode uji beda. Hasil estimasi menunjukan 4 variabel sub-indeks TKED berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan. Akan tetapi 3 variabel berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan. Sementara 2 sisa variabel lainnya tidak berpengaruh signifikan. Berdasarkan hasil uji beda, sub-indeks infrastruktur daerah, perizinan usaha, biaya transaksi serta keamanan dan penyelesaian konflik membaik pada tahun 2011 karena mengalami peningkatan rata-rata yang signifikan. Akan tetapi sub-indeks kapasitas dan integritas bupati/walikota mengalami penurunan yang signifikan pada tahun 2011. Sementara sisanya yakni sub-indeks akses lahan, peraturan daerah, interaksi pemda dengan pelaku usaha serta program pengembangan pelaku usaha swasta tidak mengalami perubahan yang signifikan.

Kata Kunci : Analisis Regresi Berganda, Kemiskinan, TKED, Uji Beda, Uji Ekonometrika

ABSTRACT

MOCHAMAD FITRA HARDIANSYAH. Impact of Local Economic Governance on Poverty Rate in Region of Nusa Tenggara. Supervised by DEWI ULFAH WARDANI

Poverty is an indicator of the rate of social welfare. In all countries, poverty becomes economic problems to be solved. This research analyzed the effect of Local Economic Governance on poverty rates in the region of Nusa Tenggara with Multiple Regression Analysis method and analyze the development of local economic governance with t-test. Resuts shows that 4 the sub-indexs variables TKED are significant negative impact on poverty rates. However, three variables are positive and significant impact on poverty rates. While 2 other variables had no significant effect. Based on the t-test, the sub-index of the region's infrastructure, business licensing, transaction costs as well as security and conflict settlement are improved in 2011 because of an increase in the average significantly. However, the sub-index of the capacity and integrity of regents / mayors decrease significatly in 2011. While the rest of the sub-indexs of land access, local regulations, local government interaction with entrepreneurs and private businesses development program did not change significantly.

Keywords : Multiple Regression Analysis, Poverty, Local Economic Governance,

(5)

PENGARUH TATA KELOLA EKONOMI DAERAH

TERHADAP TINGKAT KEMISKINAN

DI

WILAYAH NUSA TENGGARA

MOCHAMAD FITRA HARDIANSYAH

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI STUDI PEMBANGUNAN

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(6)
(7)
(8)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga skripsi ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Januari 2014 ini ialah Pengaruh Tata Kelola Ekonomi Daerah terhadap Tingkat Kemiskinan di Wilayah Nusa Tenggara.

Terima Kasih penulis ucapkan kepada Ibu Ir. Dewi Ulfah Wardani, M.Si selaku pembimbing selama proses penyelesaian skripsi, Komite Pemantau Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD), Badan Pusat Statistik (BPS) yang telah membantu dan memberikan dta informasi dalam proses pengumpulan data penelitian. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada bapak tercinta Uju Juansyah dan Ibu tercinta Subaikah, S.Pd. serta adik-adik tercinta yakni Rani Dewi Rubianti dan Rival Fauzi Rahman yang senantiasa mendoakan dan memberikan kasih sayang. Kepada teman sebimbingan skripsi yakni Egi, Shinta, Diyane, Dessy dan Kak Gress yang telah membantu dan memberikan segala saran dalam penyusunan penulisan skripsi. Kepada sahabat terbaik Ajron, Hariz, Riki, Adit, Mirsad, Kautsar, Rouuf, Lundu, Sarifah, Dila, Ulfa, Dara, AR, keluarga Ilmu Ekonomi 47, Formasi 2013-2014 dan Pondok Pesantren Al-Ihya yang selalu memberikan motivasi, nasehat dan mendoakan yang terbaik bagi Penulis.

Semoga skripsi ini bermanfaat.

Bogor, Nopember 2014

Mochamad Fitra Hardiansyah

(9)

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 3

Tujuan Penelitian 4

Manfaat Penelitian

Ruang Lingkup Penelitian

4 4

TINJAUAN PUSTAKA 4

Kemiskinan 4

Tata Kelola Ekonomi Daerah 5

Trickle Down Effect 9

Penelitian Terdahulu 9

Kerangka Pemikiran 12

Hipotesis Penelitian 13

METODE PENELITIAN 13

Jenis Dan Sumber Data 13

Metode Analisis Data 13

Analisis Deskriptif 13

Analisi Uji Beda Tahun 2007 dan 2011 14

Analisis Regresi Berganda 14

Uji Ekonometrika 15

HASIL DAN PEMBAHASAN 16

Perkembangan TKED di Wilayah Nusa Tenggara 16 Kondisi Kemiskinan di Wilayah Nusa Tenggara tahun 2011 21 Pengaruh Tata Kelola Ekonomi Daerah Terhadap Tingkat

Kemiskinan di Wilayah Nusa Tenggara

22

Uji Ekonometrika 23

Analisis Regresi Berganda 23

PENUTUP 26

Simpulan 26

Saran 27

DAFTAR PUSTAKA 27

LAMPIRAN 29

(10)

DAFTAR TABEL

1. Tingkat kemiskinan Tingkat Kemiskinan menurut provinsi tahun 2011 1

2. Variabel-Variabel Pembentuk Akses Lahan 6

3. Variabel-Variabel Pembentuk Infrastruktur Daerah 6

4. Variabel-Variabel Pembentuk Perizinan Usaha 7

5. Variabel-Variabel Pembentuk Peraturan Daerah 7

6. Variabel-Variabel Pembentuk Biaya Transaksi 7

7. Variabel-Variabel Pembentuk Kapasitas Dan Integritas Bupati/Walikota 8 8. Variabel-Variabel Pembentuk Interaksi Dan Pengembangan Pelaku Usaha 8 9. Variabel-Variabel Pembentuk Program Pengembangan Usaha Swasta 8 10.Variabel-Variabel Pembentuk Keamanan Dan Penyeleseaian Konflik 8 11.Uji Beda Sub Indeks Akses Lahan Tahun 2007 dan 2011 17 12.Uji Beda Sub Indeks Infrastruktur Daerah Tahun 2007 dan 2011 17 13.Uji Beda Sub Indeks Perizinan Usaha Tahun 2007 dan 2011 18 14.Uji Beda Sub Indeks Peraturan Daerah Tahun 2007 dan 2011 18 15.Uji Beda Sub Indeks Biaya Transaksi Tahun 2007 dan 2011 19 16.Uji Beda Sub Indeks Kapasitas dan Integritas Bupati/Walikota

Tahun 2007 dan 2011 20

17.Uji Beda Sub Indeks Interaksi dan Pelaku Usaha Tahun 2007 dan 2011 20 18.Uji Beda Sub Indeks Program Pengembangan Usaha Swasta

Tahun 2007 dan 2011 21

19.Uji Beda Sub Indeks Keamanan dan Penyeleseaian Konflik

Tahun 2007 dan 2011 21

20.Nilai Estimasi 24

DAFTAR GAMBAR

1. Kerangka Pemikiran 12

2. Kondisi Kemiskinan di NTB dan NTT 22

DAFTAR LAMPIRAN

1. Skor Sub-indeks TKED tahun 2011 29

2. Skor Sub-indeks TKED tahun 2007 30

3. Data Kemiskinan Kabupaten /Kota di Wilayah Nusa Tenggara 31

4. Uji Kenormalan 32

5. Uji White (Heteroskedastisitas) 32

6. Autokorelasi 32

7. Multikolinearitas 33

8. Uji Beda DI Wilayah Nusa Tenggara tahun 2007 dan 2011 33

9. Uji Beda Provinsi NTB tahun 2007 dan 2011 34

10.Uji Beda Provinsi NTT tahun 2007 dan 2011 34

(11)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Masalah kemiskinan merupakan salah satu persoalan mendasar yang menjadi pusat perhatian pemerintah di negara manapun. Kemiskinan adalah situasi serba kekurangan dari penduduk yang disebabkan oleh terbatasnya modal yang dimiliki, rendahnya pengetahuan dan keterampilan, rendahnya produktivitas, rendahnya pendapatan, lemahnya nilai tukar hasil produksi penduduk miskin, dan terbatasnya kesempatan berperan serta dalam pembangunan. Rendahnya pendapatan penduduk miskin mengakibatkan rendahnya pendidikan dan kesehatan sehingga mempengaruhi produktivitas mereka yang sudah rendah dan meningkatkan beban ketergantungan bagi masyarakat. Penduduk yang masih berada di bawah garis kemiskinan mencakup mereka yang berpendapatan sangat rendah, tidak berpendapatan tetap, atau tidak berpendapatan sama sekali.

Tabel 1 Persentasi Kemiskinan Menurut Provinsi Tahun 2011 (persen)

Provinsi Tingkat

Kemiskinan Provinsi

Tingkat Kemiskinan

DKI Jakarta 3.75 Sulawesi Barat 13.89

Bali 4.2 Jawa Timur 14.23

Kalimantan Selatan 5.29 Sumatra Selatan 14.24 Bangka Belitung 5.75 Sulawesi Tenggara 14.56

Banten 6.32 Jawa Tengah 15.76

Kalimantan Tengah 6.56 Sulawesi Tengah 15.83

Kalimantan Timur 6.77 DI Yogyakarta 16.08

Kepulauan Riau 7.4 Lampung 16.93

Riau 8.47 Bengkulu 17.5

Sulawesi Utara 8.51 Gorontalo 18.75

Kalimantan Barat 8.6 Aceh 19.57

Jambi 8.65 NTB 19.73

Sumatra Barat 9.04 NTT 21.23

Maluku Utara 9.18 Maluku 23

Sulawesi Selatan 10.29 Papua Barat 31.92

Jawa Barat 10.65 Papua 31.98

Sumatra |Utara 11.33 Rata-rata 12.49

Sumber : BPS 2011

(12)

sangat makmur. Masih banyaknya kekayaan alam yang belum digali dan dimanfaatkan secara maksimal membuat masyarakat di wilayah Nusa Tenggara berpendapatan rendah.

Mencermati tingkat dan jumlah kemiskinan yang tinggi di wilayah Nusa Tenggara, maka efektivitas program pengentasan kemiskinan tidak dapat lepas dari peranan aktif pemerintah daerah, baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota. Diperlukan partisipasi aktif dari Pemerintah Daerah dan Masyarakat untuk mempertajam program dan target penerima sasaran melalui inisiatif dan kearifan lokal.

Strategi pembangunan ekonomi suatu Negara akan terpusat pada upaya pembentukan modal, serta bagaimana menanamkannya secara seimbang, menyebar, terarah, dan memusatkan, sehingga dapat menimbulkan efek pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi menjadi tolak ukur utama bagi keberhasilan pembangunan. Harapannya masyarakat dapat merasakan atau menikmati pertumbuhan ekonomi melalui proses merambat ke bawah (trickle down effect). Peran serta pemerintah dalam pembuatan kebijakan menjadi alat untuk memberantas kemiskinan. Di era otonomi daerah, pemerintah daerah memiliki keleluasaan dalam perumusan permasalahan dan kebijakan pembangunan perekonomian. Pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi diharapkan akan mampu menjamin efisiensi dan efektifitas pelaksanaan pembangunan perekonomian, sehingga dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat. Dalam mengentaskan kemiskinan dan memperbaiki kualitas hidup manusia yang diukur indeks pembangunan manusia (IPM) mutlak diperlukan intervensi negara dan program khusus yang menyentuh langsung masyarakat (Boediono 2012).

Dalam mengukur tata kelola pemerintah di bidang ekonomi, sejak tahun 2001 sampai tahun 2011 KPPOD (Komite Pemantau Pelaksanaan Otonomi Daerah) bekerjasama dengan The Asia Foundation meneliti dan memberikan gambaran terkait Tata Kelola Ekonomi Daerah. Hal ini dapat digunakan sebagai basis bagi pemerintahan daerah untuk melaksanakan reformasi tata kelola pemerintahan. Pemerintahan kabupaten/kota diharapkan dapat mengidentifikasi dan memprioritaskan faktor-faktor yang dianggap penting oleh pelaku usaha, dan selanjutnya merumuskan kebijakan serta upaya-upaya reformasi yang dapat dilaksanakan untuk memperbaiki iklim usaha di daerah.

Upaya-upaya perbaikan tersebut dilakukan bersama-sama stakeholders

yang ada di daerah melalui dialog yang konstruktif antara pelaku usaha dan pemerintah dalam mengatasi kendala usaha di daerah. Diharapkan juga dapat mendorong kompetisi antar daerah yang sehat dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif, sehingga pada akhirnya akan meningkatkan daya saing ekonomi nasional. Pemerintah provinsi dan pusat diharapkan dapat memfasilitasi proses belajar bersama, sehingga kabupaten/kota yang satu dapat belajar dari yang lebih maju. Selain itu, hasil studi ini juga dapat digunakan oleh pemerintah pusat dan provinsi sebagai bagian dari pemantauan dan evaluasi pemerintah daerah. Lebih jauh lagi, hasil penelitian ini dapat digunakan untuk memberikan insentif dan disinsentif fiskal maupun non-fiskal kepada pemerintah kabupaten/kota. Prioritas fasilitasi dan bantuan teknis dari segi lokasi maupun aspek tata kelola ekonomi daerah juga dapat direncanakan berdasarkan hasil studi ini (KPPOD 2011).

(13)

Perumusan Masalah

Untuk Percepatan Penanggulangan Kemiskinan telah dikeluarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2010. Disadari bahwa kemiskinan merupakan permasalahan bangsa yang mendesak dan memerlukan langkah-langkah penanganan dan pendekatan yang sistematik, terpadu dan menyeluruh, dalam rangka mengurangi beban dan memenuhi hak-hak dasar warga negara secara layak melalui pembangunan inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan untuk mewujudkan kehidupan yang bermartabat. Strategi percepatan penanggulangan kemiskinan dilakukan dengan : (1) mengurangi beban pengeluaran masyarakat miskin, (2) meningkatkan kemampuan dan pendapatan masyarakat miskin, (3) mengembangkan dan menjamin keberlanjutan Usaha Mikro dan Kecil, (4) mensinergikan kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan.

Otonomi daerah yang terjadi di tengah persaingan global yang ketat, memerlukan peran Pemerintah Daerah (Pemda) untuk memperbaiki TKED dengan mensinergikan kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan. Wilayah pemerintahan daerah kabupaten relatif lebih luas daripada wilayah pemerintahan daerah kota. Oleh karenanya, di wilayah kabupaten banyak terdapat desa tertinggal, untuk menjangkau pemerataan pembangunan di seluruh wilayah dibutuhkan anggaran yang lebih besar. Dana yang tersedia tidak cukup untuk membenahi program pemerataan ekonomi di daerah tertinggal.

Berdasarkan data BPS, tingkat kemiskinan berdasarkan kabupaten/kota di wilayah Nusa Tenggara sangat tinggi melebihi rata-rata kemiskinan di Indonesia sebesar 12,49 % pada tahun 2011. Dua puluh empat dari 29 kabupaten di wilayah Nusa Tenggara memiliki tingkat kemiskinan di atas rata-rata kemiskinan Indonesia. Bahkan diantaranya memiliki kemiskinan mencapai 39.27 % yakni Kabupaten Lombok Utara, NTB.

Menurut KPPOD, nilai indeks TKED terkecil di wilayah Nusa Tenggara adalah Kabupaten Lombok Tengah Hal ini mengindikasikan buruknya kualitas pelayanan publik, rendahnya infrastruktur daerah ,rendahnya tingkat pertumbuhan ekonomi dan kinerja pemerintah dan sebagainya. Selain itu perkembangan TKED di wilayah Nusa Tenggara tahun 2007 dan 2011, sebagian kabupaten/kota mengalami penurunan dan peningkatan.

Keberhasilan potensi ekonomi daerah akan bergantung pada bagaimana daerah menyusun dan mengelola wilayahnya, termasuk strategi tata kelola ekonomi daerah demi meningkatkan investasi dan minat investor. Sesuai dengan kerangka desentralisasi fiskal, politik, dan administrasi, strategi penanggulangan kemiskinan salah satunya adalah perencanaan tata kelola ekonomi daerah yang akurat dan tepat sasaran sebagai program pembangunan pemerintah. Tingginya tingkat kemiskinan di wilayah Nusa Tenggara mungkin disebabkan oleh rendahnya kualitas Tata Kelola Ekonomi Daerah di wilayah Nusa Tenggara. Ketika kualitas berubah di tahun 2007 dan tahun 2011 mungkin disebabkan oleh kinerja pemerintahannya dalam mengevaluasi setiap kebijakan dalam mengelola ekonomi daerahnya.

Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan maka permasalahan pokok yang akan diangkat dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana perkembangan Tata Kelola Ekonomi Daerah wilayah Nusa Tenggara di tahun 2007 dan 2011 ?

(14)

Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah, maka tujuan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Mendeskripsikan dan menganalisis perkembangan tata kelola ekonomi daerah wilayah Nusa Tenggara di tahun 2007 dan 2011

2. Menganalisis pengaruh tata kelola ekonomi daerah kabupaten/kota terhadap tingkat kemiskinan di wilayah Nusa Tenggara tahun 2011

Manfaat Penelitian

1. Bagi pemerintah, diharapkan penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menetapkan kebijakan seputar pengembangan Tata Kelola Ekonomi Daerah yang dalam usaha mengurangi kemiskinan dan sebagai bahan evaluasi dalam menetapkan kebijakan di masa yang akan datang.

2. Bagi para akademisi, penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi dan informasi bagi penelitian-penelitian lainnya.

3. Bagi masyarakat umum, penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi dan pengetahuan umum mengenai kondisi perkembangan Kemiskinan dan Tata Kelola Ekonomi Daerah wilayah Nusa Tenggara

Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini difokuskan menganalisis pengaruh tata kelola ekonomi daerah terhadap tingkat kemiskinan pada tahun 2011 di Wilayah Nusa Tenggara dengan metode regresi linear berganda dan menganalisis perkembangan tata kelola ekonomi daerah pada tahun 2007 dan 2011 dengan metode uji beda. Variabel TKED yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari sembilan aspek sebagai berikut : akses lahan, infrastruktur, perizinan usaha, kualitas peraturan di daerah, biaya transaksi, kapasitas dan integritas bupati/walikota, interaksi pemda dengan pelaku usaha, program pengembangan usaha swasta serta keamanan dan penyelesaian konflik.

TINJAUAN PUSTAKA

Kemiskinan

(15)

kapita, distribusi pendapatan nasional, tingkat kemiskinan, dan tingkat kesejahteraan masyarakat. Langkah yang ditempuh oleh pemerintah dalam usahanya meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mengurangi kemiskinan yaitu menambah kapital atau mengadakan investasi baru dalam sektor tertentu. Peranan pemerintah dan sektor swasta memberikan andil yang cukup besar dalam rangka penanaman modal atau investasi demi bertambahnya lapangan kerja di berbagai sektor ekonomi.

Menurut Todaro (1997) menyatakan bahwa variasi kemiskinan di negara berkembang disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: (1) perbedaan geografis, jumlah penduduk dan tingkat pendapatan, (2) perbedaan sejarah, sebagian dijajah oleh Negara yang berlainan, (3) perbedaan kekayaan sumber daya alam dan kualitas sumber daya manusianya, (4) perbedaan peranan sektor swasta dan negara, (5) perbedaan struktur industri, (6) perbedaan derajat ketergantungan pada kekuatan ekonomi dan politik negara lain dan (7) perbedaan pembagian kekuasaan, struktur politik dan kelembagaan dalam negeri.

Pada dasarnya definisi kemiskinan dapat dilihat dari dua sisi, yaitu : a. Kemiskinan absolut

Kemiskinan yang dikaitkan dengan perkiraan tingkat pendapatan dan kebutuhan yang hanya dibatasi pada kebutuhan pokok atau kebutuhan dasar minimum memungkinkan seseorang untuk hidup secara layak. Dengan demikian kemiskinan dengan membandingkan tingkat pendapatan orang dengan tingkat pendapatan yang dibutuhkan untuk memperoleh kebutuhan dasarnya yakni makanan, pakaian dan perumahan agar dapat menjamin kelangsungan hidupnya. Kemiskinan absolut adalah suatu keadaan apabila seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup minimum, memelihara fisik, sehingga tidak dapat bekerja penuh dan efisien. Kemiskinan jenis ini ditentukan oleh nutrisi yang dibutuhkan setiap orang. Nutrisi akan mempengaruhi jumlah kalori yang dibutuhkan terutama untuk dapat bekerja.

b. Kemiskinan relatif

Kemiskinan dilihat dari aspek ketimpangan sosial, karena ada orang yang sudah dapat memenuhi kebutuhan dasar minimumnya tetapi masih jauh lebih rendah dibanding masyarakat sekitarnya (lingkungannya). Semakin besar ketimpangan antara tingkat penghidupan golongan atas dan golongan bawah maka akan semakin besar pula jumlah penduduk yang dapat dikategorikan miskin, sehingga kemiskinan relatif erat hubungannya dengan masalah distribusi pendapatan.

Williamson dalam Adianti (2005) mengatakan bahwa penduduk tanpa sumberdaya ekonomi untuk hidup dengan standar kehidupan yang layak disebut sebagai orang miskin. Aluko dalam Adianti (2005) menyatakan bahwa kemiskinan sebagai kekurangan dari konsumsi kebutuhan-kebutuhan dasar. Dengan kata lain adalah kekurangan dalam konsumsi makanan, pakaian, atau tempat tinggal. Kemiskinan juga didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk mendapatkan standar kehidupan minimum.

Tata Kelola Ekonomi Daerah

(16)

perizinan usaha, kualitas peraturan di daerah, biaya transaksi, kapasitas dan integritas bupati/walikota, interaksi pemda dengan pelaku usaha, program pengembangan usaha swasta serta keamanan dan penyelesaian konflik.

Studi Tata Kelola Ekonomi Daerah (TKED) bertujuan untuk memberikn gambaran mengenai kualitas tata kelola ekonomi daerah yang diharapkan dapat menciptakan iklim kompetisi antar kabupaten/kota yang sehat. Bagi pemerintah provinsi hasil TKED dapat digunakan sebagai salah satu alat pemantauan kinerja kabupaten/kota dan dapat digunakan untuk menentukan prioritas dari sisi aspek TKED maupun lokasi, fasilitasi dan dukungan bagi kabupaten/kota dalam memperbaiki kinerjanya. Bagi pelaku usaha, hasil studi TKED diharapkan dapat memberikan informasi mengenai kualitas tata kelola ekonomi di masing-masing kabupaten/kota yang dapat membantu mereka melakukan keputusan investasi, pengembangan usaha dang mengurangi kemiskinan.

KPPOD bekerjasama dengan The Asia Foundation berupaya mendorong perbaikan tata kelola ekonomi daerah guna meningkatkan iklim investasi Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melakukan sejumlah kajian terkait dengan iklim investasi daerah di Indonesia. Upaya ini mulai dilakukan sejak tahun 2001 melalui studi Daya Tarik Investasi Daerah, yang pada tahun 2007 disempurnakan menjadi studi Tata Kelola Ekonomi Daerah (TKED). Pada tahun 2007, studi TKED dilaksanakan di 243 kabupaten/kota di Indonesia. Metodologi yang sama digunakan untuk studi TKED pada 23 kabupaten/kota di Aceh pada tahun 2008 dan 2010 (termasuk dua kabupaten di Pulau Nias, Sumatera Utara).

Tata Kelola Ekonomi ekonomi dinilai atas indikator yang telah ditentukan Komite Pemantau Pelaksanaan Otonomi Daerah. Berikut Indikator TKED yang telah ditetapkan leh KPPOD :

1. Akses Lahan

Tabel 2 Variabel-variabel pembentuk akses lahan Variabel Pembentuk Akses Lahan

(1) Waktu yang diperlukan untuk mengurus sertifi kat tanah; (2) Kemudahan untuk mendapatkan tanah;

(3) Frekuensi penggusuran tanah;

(4) Frekuensi kasus konflik kerjasama atas penggunaan tanah; dan

(5) Penilaian keseluruhan atas dampak lahan terhadapkelangsungan usaha.

2. Infrastruktur Daerah

Tabel 3 Variabel-variabel pembentuk infrastruktur daerah Variabel Pembentuk Akses Lahan

(1) Tingkat kualitas infrastruktur daerah;

(2) Lama perbaikan infrastruktur daerah bila mengalami kerusakan; (3) Tingkat pemakaian genset;

(4) Lamanya (frekuensi) pemadaman listrik; dan

(17)

3. Perizinan Usaha

Tabel 4 Variabel-variabel pembentuk perizinan usaha Variabel Perizinan Usaha

(1) Persentase perusahaan yang mempunyai Tanda Daftar Perusahaan (TDP); (2) Persepsi kemudahan memperoleh TDP dan rata-rata waktu perolehan TDP; (3) Tingkat biaya dan persepsi terhadap biaya TDP yang memberatkan usaha; (4) Persepsi bahwa pelayanan izin usaha adalah bebas kolusi, efisien dan bebas pungutan liar (pungli);

(5) Persentase keberadaan mekanisme pengaduan; dan (6) Persentase tingkat hambatan izin usaha terhadap usaha.

4. Peraturan di Daerah

Tabel 5 Variabel-variabel pembentuk peraturan di daerah Aspek Yuridis

1. Relevansi acuan yuridis

2. Penggunaan acuan yuridis yang terbaru (up-to-date) 3. Kelengkapan yuridis

Aspek Subtansi

4. Keterkaitan tujuan dan isi 5. Kejelasan obyek

6. Kejelasan subyek

7. Kejelasan hak dan kewajiban wajib pungut atau pemda

8. Kejelasan standar waktu, biaya dan prosedur, atau struktur dan standar tarif 9. Kesesuaian filosofi dan prinsip pungutan

Aspek Prinsip

10. Keutuhan wilayah ekonomi nasional dan prinsip perdagangan domestik yang bebas (free internal trade)

11. Persaingan sehat

12. Dampak ekonomi negatif

13. Hambatan akses masyarakat dan kepentingan umum (misalnya, lingkungan hidup)

14. Pelanggaran kewenangan pemerintahan

5. Biaya Transaksi

Tabel 6 Variabel-variabel pembentuk biaya transaksi Variabel Pembentuk Biaya Transaksi

(1) Pemahaman kepala daerah terhadap masalah dunia usaha; (2) Profesionalisme birokrat daerah;

(3) Tindakan kepala daerah yang menguntungkan diri sendiri; (4) Ketegasan kepala daerah terhadap korupsi birokratnya; (5) Karakter kepemimpinan kepala daerah; dan

(18)

6. Kapasitas dan Integritas Bupati/walikota

Tabel 7 Variabel-variabel pembentuk Kapasitas dan Integrasi Bupati/walikota Variabel Pembentuk Kapasiats dn Integritas Bupati/walikota

(1) Tingkat hambatan retribusi daerah terhadap kinerja perusahaan;

(2) Tingkat pembayaran donasi terhadap pemda;

(3) Tingkat hambatan donasi/sumbangan kepada pemda terhadap kinerja perusahaan;

(4) Pembiayaan biaya informal pelaku usaha terhadap kepolisian; dan (5) Tingkat hambatan biaya transaksi terhadap kinerja perusahaan.

7. Interaksi Pemda dan Pelaku Usaha

Tabel 8 Variabel-variabel pembentuk Interaksi Pemda dan Pelaku Usaha Variabel Pembentuk Kapasiats dan Integritas Bupati/walikota

(1) Keberadaan forum komunikasi pemda dengan pelaku usaha; (2) Tingkat pemecahan permasalahan dunia usaha oleh pemda; (3) Tingkat dukungan pemda terhadap pelaku usaha daerah;

(4) Tingkat kebijakan pemda yang berorientasi untuk mendorong iklim investasi;

(5) Tingkat kebijakan non-diskriminatif pemda;

(6) Tingkat pengaruh kebijakan pemda terhadap pengeluaran dunia usaha; (7) Tingkat kepastian hukum pemda terkait dunia usaha; dan

(8) Tingkat hambatan interaksi pemda dengan pelaku usaha.

8. Program Pengembangan Usaha Swasta

Tabel 9. Variabel-Variabel Pembentuk Program Pengembangan Usaha Swasta

9. Keamanan dan Penyelesaian Konflik

Tabel 10. Variabel-Variabel Pembentuk Keamanan Dan Penyelesaian Konflik

Variabel Pembentuk Program Pengembangan dengan Pelaku Usaha (1) Tingkat pengetahuan akan keberadaan PPUS;

(2) Tingkat partisipasi dalam PPUS;

(3) Tingkat manfaat PPUS terhadap pelaku usaha; dan (4) Dampak PPUS terhadap kinerja perusahaan.

Variabel Pembentuk Keamanan dan Penyelesaian Konflik (1) Tingkat kejadian pencurian di tempat usaha;

(2) Kualitas penanganan masalah kriminal oleh polisi;

(3) Kualitas penanganan masalah demonstrasi buruh oleh polisi; dan (4) Tingkat hambatan keamanan dan penyelesaian konfl ik

(19)

Trickle Down Effect

Trickle down effect merupakan sistem Pertumbuhan ekonomi hasil dari pembangunan yang akan dinikmati oleh si miskin melalui proses merambat ke bawah (trickle down effect) atau melalui tindakan pemerintah mendistribusikan hasil pembangunan. Ketimpangan atau ketidakmerataan adalah prasyarat atau kondisi yang harus terjadi guna memungkinkan terciptanya pertumbuhan, yaitu melalui proses akumulasi modal oleh lapisan kaya. Kenaikan kapasitas atau kemampuan ekonomi masyarakat kaya akan menggulirkan (trickle down)

peningkatan kesejahteraan pula pada kalangan menengah ke bawah. Kebijakan

trickle down effect menempatkan masyarakat kaya sebagai ujung tanduk pembangunan perekonomian.

Penelitian Terdahulu

Istiandari (2009) menganalisis tentang Tata Kelola Ekonomi Daerah dan Kesejahteraan Masyarakat di Indonesia. PDRB Perkapita dan Tingkat Kemiskinan dijadikan variabel untuk mewakili tingkat kesejahteraan daerah, sementara Indeks TKED dijadikan variabel penjelas disamping beberapa variabel lainnya yaitu PAD dan IPM. Model menggunakan dummy daerah kabupaten-kota, Untuk melihat apakah ada perbedaan pengaruh Indeks TKED antara daerah Kabupaten dan Kota. Hasil estimasi untuk menjelaskan hubungan antara PDRB Perkapita dengan Indeks Tata Kelola Ekonomi Daerah. memperlihatkan bahwa selain tata kelola ekonomi (TKED), variabel IPM dan PAD yang berasal dari kekayaan alam daerah memiliki hubungan yang signifikan terhadap laju pertumbuhan PDRB per kapita. Dampak yang berasal dari kedua variabel endowment tersebut bersifat positif yang mengindikasikan bahwa daerah yang memiliki kualitas sumber daya manusia yang tinggi dan jumlah kekayaan alam yang melimpah merupakan daerah dengan laju pertumbuhan pendapatan per kapita yang tinggi, demikian pula sebaliknya. Sementara dampak positif yang berasal dari variabel dummy

yang berinteraksi dengan TKED mengindikasikan bahwa di wilayah kota, tata kelola ekonomi daerah lebih cepat berpengaruh terhadap laju pertumbuhan PDRB. Tingkat kesejahteraan masyarakat juga dapat dilihat dari tingkat kemiskinan suatu daerah. Berbeda dengan PDRB Perkapita, tingkat kesejahteraan memiliki hubungan yang bersifat negatif dengan kemiskinan.

Chairul et al. (2013) menganalisis pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap kemiskinan secara langsung, selanjutnya menganalisis pengaruh investasi dan tenaga kerja terhadap pertumbuhan ekonomi, serta bagaimana pengaruh estimasi pertumbuhan ekonomi hasil analisis variabel investasi dan tenaga kerja terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa data time series, 1980-2010, yaitu data investasi asing langsung (FDI), investasi pemerintah, tenaga kerja, PDB, dan kemiskinan. Metode analisis yang digunakan adalah Ordinary Least Square

(20)

pengaruh estimasi pertumbuhan ekonomi terhadap tingkat kemiskinan juga tidak begitu besar namun hubungannya negatif dan signifikan. Untuk itu pemerintah hendaknya tidak hanya mengejar angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi saja akan tetapi lebih daripada itu pertumbuhan ekonomi harus berkualitas dan berkeadilan yaitu pertumbuhan yang dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Evy et al menganalisis Pengaruh Investasi, dan Belanja Pemerintah terhadap tingkat Kemiskinan di Kabupaten Kutai Kartanegara. Model yang digunakan dalam analisis adalah model ekonometrik, sedangkan metode yang digunakan adalah metode Odinary Least Square (OLS) dan analisis jalur (Path Analysis) yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen baik secara langsung maupun tidak langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengeluaran anggaran berpengaruh negatif terhadap tingkat kemiskinan. Sementara sisanya tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat kemiskinan di Kabupaten Kutai Kartanegara.

Karlinda (2012) menganalisis Keterkaitan antara Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota dengan Tata Kelola Ekonomi Daerah di Provinsi Jawa Tengah. Data yang digunakan adalah data sekunder tahun 2007 berupa data TKED kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Tengah tahun 2007 yang diperoleh dari Komite Pemantauan Penyelenggaraan Otonomi Daerah (KPPOD), data Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) diperoleh dari Kementerian Keuangan, serta Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita, pertumbuhan ekonomi dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) diperoleh dari Badan Pusat Statistik Jawa Tengah. Data sekunder lain yang masih terkait dalam penelitian ini diperoleh dari artikel, jurnal, skripsi dan tesis dari perpustakaan IPB, internet dan lembaga lainnya. Berdasarkan analisis regresi OLS, variabel yang berpengaruh signifikan terhadap PDRB per kapita adalah IPM, belanja modal dan belanja pendidikan pemerintah, lama kepengurusan sertifikat tanah. IPM, belanja modal, belanja pendidikan berpengaruh positif terhadap PDRB per kapita. Variabel lama pengurusan sertifikat tanah berpengaruh negatif terhadap PDRB per kapita. Hasil regresi OLS juga menunjukkan bahwa variabel belanja kesehatan, variabel persentase perusahaan yang memiliki TDP dan kualitas infratruktur jalan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Variabel IPM dan belanja pendidikan memiliki pengaruh positif namun tidak signifikan.

(21)

faktor-faktor yang berpengaruh nyata terhadap pendapatan pada taraf nyata 10 persen adalah

tenaga kerja dan investasi, sedangkan variabel lahan dan variabel dummy

kota/kabupaten berpengaruh nyata satu persen.

Mega (2014) menganalisis pengaruh TKED terhadap tingkat pengangguran kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa sembilan sub indeks TKED, belanja modal dan investasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa beberapa kabupaten/kota di Jawa Timur memiliki skor TKED sepuluh besar skala nasional. Untuk membandingkan perkembangan TKED 2007 dan 2011, peneliti menggunakan metode uji beda. Hasil estimasi uji beda adalah tiga sub indeks meningkat, satu menurun dan enam tidak berubah dari tahun 2007 ke tahun 2011. Selain itu metode yang selanjutnya digunakan adalah metode regresi berganda menghasilkan sub indeks program pengembangan usaha swasta tidak berpengaruh terhadap tingkat pengangguran, sedangkan belanja modal, investasi dan delapan sub indeks TKED berpengaruh terhadap tingkat pengangguran.

Hesti (2014) menganalisis Pengaruh tata kelola ekonomi daerah terhadap Tingkat Kemiskinan dan Indeks Pembangunan Manusia di Kawasan Timur Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan TKED, kemiskinan dan IPM di wilayah Kawasan Timur Indonesia (KTI) serta untuk menganalisis pengaruh TKED terhadap tingkat kemiskinan dan IPM. Data diolah dengan menggunakan analisis deskriptif dan analisis regresi linier berganda dengan estimasi Ordinary Least Square. Hasil analisis menunjukkan bahwa kondisi TKED di KTI masih timpang. Tingkat kemiskinan kabupaten/kota di wilayah KTI masih tinggi dan nilai IPM relatif masih rendah. Variabel yang secara signifikan mampu meningkatkan nilai IPM di KTI adalah perizinan usaha, peraturan daerah, Kapasitas dan integritas bupati/walikota, keamanan dan penyelesaian konflik, PDRB per Kapita serta belanja pendidikan. Sedangkan variabel yang dapat menurunkan tingkat kemiskinan adalah infrastruktur daerah, perizinan usaha, kapasitas dan integritas bupati/walikota, keamanan dan penyelesaian konflik, PDRB per kapita dan belanja pendidikan.

Shinta (2014) menganalisis pengaruh tata kelola ekonomi daerah terhadap tingkat investasi di Indonesia pada tahun 2011. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa data Investasi sebagai variabel dependen serta infrastruktur daerah, program pengembangan usaha swasta, interaksi pemda dan pelaku usaha, akses lahan, perizinan usaha dan belanja modal sebagai variabel independen. Metode yang digunakan adalah regresi linear berganda dengan estimasi Ordinary Least Square. Hasil analisis menunjukan bahwa hanya program pengembangan usaha swasta yang memiliki hubungan negatif terhadap realisasi investasi Indonesia, sedangkan akses lahan tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap realisasi investasi. Sementara, variabel lain memiliki hubungan yang positif terhadap realisasi investasi di Indonesia.

(22)

Kerangka Penelitian

Gambar 1 Kerangka Pemikiran

Pembangunan ekonomi diantaranya bertujuan untuk meningkatkan

kesejahteraan manusia dan investasi. Tingkat investasi diwakili oleh kualitas atau performa tata kelola ekonomi daerah. Sedangkan salah satu tolak ukur tingkat kesejahteraan manusia diwakili oleh tingkat kemiskinan. Semakin kecil tingkat

kemiskinan maka semakin besar tingkat kesejahteraan manusia. Tingkat

kemiskinan akan bergantung pada bagaimana usaha pemerintah daerah menyusun dan mengelola wilayahnya, termasuk strategi Tata Kelola Ekonomi Daerah (TKED) yang dibuat sebagai implemetasi kebijakan pemerintah daerah. Tata kelola ekonomi daerah dikelompokkan menjadi 9 aspek, yaitu akses lahan, infrastruktur, perizinan usaha, kualitas peraturan di daerah, biaya transaksi, kapasitas dan integritas bupati/walikota, interaksi pemda dengan pelaku usaha, program pengembangan usaha swasta serta keamanan dan penyelesaian konflik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara Tata Kelola Ekonomi Daerah dengan kemiskinan di Kabupaten dan Kota.

Pembangunan Ekonomi

Tata-Kelola Ekonomi Daerah : 1. Akses Lahan

2. Infrastruktur Daerah 3. Perizinan Usaha

4. Kualitas Peraturan Di Daerah 5. Biaya Transaksi

6. Kapasitas Dan Integritas Bupati/Walikota 7. Interaksi Pemda Dengan Pelaku Usaha 8. Program Pengembangan Usaha Swasta Dan 9. Keamanan Dan Penyelesaian Konflik

Kesejahteraan Manusia

Implementasi Kebijakan Peningkatan Investasi

(23)

Hipotesis Penelitian

Berdasarkan teori dan penelitan terdahulu dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut : Sembilan sub-indeks tata kelola ekonomi daerah yaitu akses lahan, infrastruktur, perizinan usaha, peraturan di daerah, biaya transaksi, kapasitas dan integritas bupati/walikota, interaksi pemda dengan pelaku usaha, program pengembangan usaha swasta serta keamanan dan penyelesaian konflik berhubungan negatif dengan tingkat kemiskinan

METODE PENELITIAN

Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder tahun 2007 dan 2011 di Wiayah Nusa Tenggara. Data TKED yang digunakan dalam penelitian diperoleh dari KPPOD (Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah) sementara persentasi kemiskinan diperoleh dari BPS (Badan Pusat Statistik).

Data yang digunakan dalam pembentukan variabel dependen dan independen untuk menganalisis pengaruh TKED terhadap kemiskinan adalah : 1. Kemiskinan

2. akses lahan, 3. infrastruktur, 4. perizinan usaha,

5. kualitas peraturan di daerah, 6. biaya transaksi,

7. kapasitas dan integritas bupati/walikota, 8. interaksi pemda dengan pelaku usaha,

9. program pengembangan usaha swasta dan serta 10. keamanan dan penyelesaian konflik

Pengolahan data dilakukan dengan bantuan perangkat lunak Microsoft Excel

2010,Eviews 6dan SPSS 15.

Metode Analisis Data

Analisis Deskriptif

(24)

Analisis Uji Beda Tahun 2007 dan 2011

Uji beda atau t-test digunakan untuk menentukan apakah dua populasi yang tidak berhubungan memiliki nilai rata-rata yang berbeda berdasarkan selang kepercayaan. Uji beda t-test dilakukan dengan cara membandingkan perbedaan antara dua nilai rata-rata dengan standar error dari perbedaan rata-rata dua sampel atau dapat ditulis dengan rumus sebagai berikut :

Keterangan :

rata-rata populasi tahun 2007 rata-rata populasi tahun 2011

S = standar deviasi

Uji beda harus memenuhi tiga asumsi yaitu, data terdistribusi normal, data dipilih secara acak dan data yang digunakan berupa data numerik (skala dan interval). Jika asumsi-asumsi tersebut tidak terpenuhi maka harus mentransformasi metode dari parametrik menjadi non-parametrik. Uji beda pada penelitian ini digunakan untuk meliat perbedaaan rata-rata antara Tata Kelola Ekonomi Daerah di wilayah Nusa Tenggara.

Analisis Regresi Berganda

Gujarati (2006) mendefinisikan analisis regresi sebagai kajian terhadap hubungan satu variabel yang disebut sebagai variabel yang diterangkan (the explained variabel) dengan satu atau dua variabel yang menerangkan (the explanatory). Jika variabel dependen lebih dari satu, maka analisis regresi disebut regresi linear berganda. Model analisis berganda atau metode kuantitatif yang digunakan untuk menghubungkan peubah respon Y yang dikaji dengan beberapa peubah bebas X. Pemilihan peubah bebas berdasarkan teori ekonomi, intuisi, pengalaman masa lalu, maupun studi terdahulu (Juanda 2009). Pada penelitian ini bertujuan untuk mencari hubungan antara Tata Kelola Ekonomi Daerah sebagai peubah bebas X dengan Tingkat kemiskinan sebagai peubah respon Y.

KMi = α0i + α1LnALi + α2LnIDi + α3LnPUi + α4LnPDi + α5LnBTi + α6LnKIPi +

α7LnIPPi + α8KPKi +α9PPUSi +

ε

i Keterangan :

KMi = Tingkat Kemiskinan (%)

AL = Variabel Akses Lahan (Skor 1-100)

ID = Variabel Infrastruktur Daerah (Skor 1-100) PU = Perizinan Usaha (Skor 1-100)

PD = Peraturan Daerah (Skor 1-100) BT = Biaya Transaksi (Skor 1-100)

KIP = Kapasitas dan Integritas bupati/walikota (Skor 1-100) IPP = Interaksi Pemda dan Pelaku Usaha (Skor 1-100) KPK = Keamanan dan Penyelesaian Konflik (Skor 1-100) PPUS = Program Pengembangan Usaha Swasta (Skor 1-100)

(25)

Uji Ekonometrika

Model estimasi yang ideal dan optimal harus menghasilkan estimator yang memenuhi kriteria Best Linear Unbiased Estimator (BLUE) yaitu :

a. Estimator linear artinya estimator merupakan sebuah fungsi linear atas sebuah variabel dependen yang stokastik.

b. Estimator tidak bias artinya nilai ekspektasi sesuai dengan nilai yang sebenarnya.

c. Estimator harus mempunyai varians yang minimum. Estimator yang tidak bias dan memiliki varians minimum disebut estimator yang efisien.

Uji ekonometrika yang akan digunakan dalam penelitian ini untuk mendeteksi adanya pelanggaran asumsi klasik adalah sebagai berikut :

1. Uji Normalitas

Uji asumsi normalitas dilakukan untuk melihat apakah error term

terdistribui secara normal atau tidak. Jika asumsi normalitas tidak dipenuhi maka prosedur pengujian dengan uji t-statistic menjadi tidak sah. Pengujian asumsi normalitas dapat dilakukan dengan uji Jarque-Bera atau dengan melihat plot dari sisaan. Hipotesis dalam pengujian normalitas adalah:

H0 : Residual terdistribusi normal H1 : Residual tidak terdistribusi normal

Dasar penolakan H0 dilakukan dengan membandingkan nilai probabilitas

Jarque-Bera dengan taraf nyata α sebesar 0.05. Jika nilai probabilitas Jarque-Bera lebih besar dari taraf nyata α maka dapat dikatakan tidak cukup bukti untuk

menolak H0 yang artinya residual terdistribusi normal. 2. Heteroskedastisitas

Jika ragam sisaan tidak sama atau Var( = E( 2) = 2untuk pengamatan tip ke- dari peubah-peubah bebas dalam model regresi maka dapat dikatakan ada masalah heteroskedastisitas pada model. Masalah heteroskedastisitas sering terjadi dalam data cross section (Juanda 2009). Jika terjadi heteroskedastisitas maka akibatnya adalah :

a. Dugaan parameter koefisien regresi dengan metode OLS tetap tidak bias, dan masih konsisten tapi standar errornya bias ke bawah

b. Penduga OLS tidak efisien lagi

Cara mendeteksi terjadinya heteroskedastisitas pada model adalah dengan uji white. Uji white tidak harus mengasumsikan bahwa komponen sisaan menyebar normal. Hipotesis dalam pengujian heteroskedastisitas adalah :

H0 : tidak ada heteroskedastisitas H1 :ada heteroskedastisitas

Jika p-valueobs* < α, maka tolak H0, Jika p-valueobs* ≥ α, maka terima H0.

3. Multikolinearitas

(26)

4. Autokorelasi

Autokorelasi berarti adanya korelasi antara anggota observasi satu dengan observasi yang lain yang berlainan waktu. Dalam kaitannya dengan asumsi metode OLS, autokorelasi merupakan korelasi antara satu variabel gangguan dengan variabel gangguan yang lain. Sedangkan salah satu asumsi penting metode OLS berkaitan dengan variabel gangguan adalah tidak adanya hubungan antara variabel gangguan satu dengan variabel gangguan yang lain. Tidak adanya serial korelasi antara variabel gangguan ini sebelumnya dinyatakan. Pengujian autokorelasi bisa menggunakan Uji Breusch-Godfrey. Hipotesis dalam pengujian autokorelasi adalah :

H0 :Tidak ada autokorelasi H1 : ada autokorelasi

Jika p-value obs* <α maka tolak H0, Jika p-value obs* ≥α

HASIL DAN PEMBAHASAN

Perkembangan TKED di Wilayah Nusa Tenggara

Menurut KPPOD 2011 (Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah), hasil TKED (Tata Kelola Ekonomi Daerah) digunakan oleh pemerintah pusat dan provinsi untuk memantau, membantu dan memberi insentif kabupaten/kota di wilayahnya dalam menyusun prioritas kegiatannya dalam memfasilitasi dan membantu pemerintah kabupaten/kota memperbaiki kinerjanya. Selain itu hasil TKED diharapkan dapat menciptakan kompetisi yang sehat antar daerah dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif dan dapat meningkatkan daya saing ekonomi nasional.

(27)

1. Akses Lahan

Dunia usaha sangat dipengaruhi oleh akses lahan karena pelaku usaha atau perusahaan tidak dapat melakukan usaha atau investasi jika tidak ada izin untuk mengakses lahan. Secara keseluruhan rata-rata sub-indeks akses lahan wilayah Nusa Tenggara terbilang tinggi karena selalu berada diatas 75. Data kuantitatif merekam pendapat tentang pelayanan Badan Pertanahan Nasional (BPN) di wilayah Nusa Tenggara, bahwa di NTT lama pengurusan tanah lebih singkat dibandingkan di NTB.

Tabel 11 Uji Beda Sub Indeks Akses Lahan Tahun 2007 dan 2011 Variabel Wilayah Rata-rata

2007

Peningkatan kualitas infrastruktur di NTB dan NTT menyebabkan peningkatan kualitas infrastruktur daerah di wilayah Nusa Tenggara meningkat signifikan pada tahun 2011 dibanding pada tahun 2007. Peningkatan tersebut berada pada level ‘sedang’ yakni pada angka 50 < x < 75. Menurut Kementrian Pekerjaan Umum, infrastruktur di Wilayah Nusa Tenggara bertambah baik karena pada tahun 2011 di NTT dan NTB dibangun danau dan selokan guna menambah jumlah sumber air untuk mengantisipasi terjadinya kekeringan dan membantu petani dalam hal pengairan sawah. Selain itu adanya perbaikan jalan yang dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum guna mempermudah akses dan distribusi hasil produksi ke luar daerah walaupun lebar jalan masih berada di bawah standar.

Tabel 12 Uji Beda Sub Indeks Infrastruktur Daerah Tahun 2007 dan 2011 Variabel Wilayah Rata-rata

(28)

Tabel 13 Uji Beda Sub Indeks Perizinan Usaha Tahun 2007 dan 2011 Variabel Wilayah Rata-rata

2007

Berdasarkan hasil uji beda, peraturan daerah provinsi NTT mengalami penurunan yang signifikan. Sedangkan di NTB mengalami peningkatan walaupun tidak signifikan. Hal ini menyebabkan kondisi rata-rata di wilayah Nusa Tenggara tidak mengalami perubahan yang signifikan.

Peraturan daerah sangat penting bagi kesejahteraan masyarakat. Peraturan yang rumit dan membingungkan dapat menjadi kendala bagi pelaku usaha di daerah, karena hal tersebut dapat mengakibatkan ketidakpastian dan mempersempit perdagangan dan akses pasar. Tahun 2007 dan 2011 pemerintah wilayah Nusa tenggara berhasil mempertahankan kualitas peraturan daerahnya. Disamping itu kondisi kualitas peraturan daerah di wilayah Nusa Tenggara tergolong tinggi karena selalu berada di atas nilai 80.

Tabel 14 Uji Beda Sub Indeks Peraturan Daerah Tahun 2007 dan 2011 Variabel Wilayah Rata-rata

2007

Dari aspek subtantif KPPOD mengharapkan peraturan daerah yang dikeluarkan gubernur dapat menjaga Keutuhan wilayah ekonomi nasional,prinsip

perdagangan domestik yang bebas (free internal trade,) persaingan sehat dan

mengurangi hambatan akses masyarakat serta kepentingan umum. Secara tertulis

(29)

pelibatan/pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan wilayah; dan mengembangkan aksesibilitas antara kota dan pedesaan untuk mengurangi disparitas perkembangan wilayah menuju pola pembangunan yang terpadu dan berkelanjutan.

5. Biaya Transaksi

Nilai sub-indeks biaya transaksi yang tinggi artinya jumlah biaya transaksi yang harus dibayarkan oleh pelaku usaha terbilang rendah. Biaya transaksi mencakup pajak, retribusi dan Donasi. Rata-rata sub-indeks biaya transaksi wilayah Nusa Tenggara mengalami peningkatan yang signifikan dan nilainya tinggi pada tahun 2011.

Tabel 15 Uji Beda Sub Indeks Biaya Transaksi Tahun 2007 dan 2011 Variabel Wilayah Rata-rata

2007

Rata-rata sub-indeks biaya transaksi di NTT lebih besar dibandingkan di NTB baik pada tahun 2007 maupun pada tahun 2011. Menurut KPPOD hal ini terjadi karena biaya transaksi di NTB lebih memberatkan pelaku usaha dibandingkan di NTT. Biaya transaksi tinggi membuat tingkat keberatan pelaku usaha meningkat. Tingkat retribusi yang lebih besar menjadi penyebab utama biaya transaksi di NTB lebih besar dibandingkan NTT.

6. Kapasitas dan Integritas Bupati/Walikota

(30)

Tabel 16 Uji Beda Sub Indeks Kapasitas dan Integritas Bupati/Walikota Tahun 2007 dan 2011

Variabel Wilayah Rata-rata

2007

7. Interaksi Pemda dan Pelaku Usaha

Interaksi Pemda dengan Pelaku Usaha sangat penting untuk memastikan bahwa kebijakan dan investasi publik yang dilakukan pemda sejalan dengan kebutuhan pelaku usaha. Sebaliknya, interaksi yang tidak efektif antara pemda dengan pelaku usaha dapat mengakibatkan penerapan kebijakan yang menghambat pertumbuhan kegiatan usaha (KPPOD 2011). Jika dibandingkan dengan rata-rata indeks di Indonesia tahun 2011 sebesar 51.632, rata-rata sub-indeks di wilayah Nusa Tenggara sama besarnya dengan rata-rata sub-sub-indeks interaksi pemda dan pelaku usaha Indonesia.

Tabel 17 Uji Beda Sub Indeks Interaksi Pemda dan Pelaku Usaha Tahun 2007 dan 2011

Variabel Wilayah Rata-rata 2007

Forum Komunikasi merupakan wadah untuk menjalin interaksi antara pemda dengan pelaku usaha. Baik tahun 2007 maupun 2011, sub-indeks TKED interaksi pemda dan pelaku usaha di NTT lebih baik dibandingkan NTB. Berdasarkan hasil wawancara KPPOD terhadap pelaku usaha, hanya 23.13 % pelaku usaha di NTB menyatakan adanya forum komunikasi yang dilakukan bupati/walikota dengan pelaku usaha. Sedangkan di NTT lebih besar dibandingkan NTB, 28.02 % pelaku usaha di NTT menyatakan adanya forum komunikasi antara bupati/walikota dengan pelaku usaha.

8. Program Pengembangan Usaha Swasta

(31)

pengembangan usaha swasta di Indonesia merupakan terendah diantara sub-indeks tata kelola ekonomi daerah lainnya. Hal ini menunjukan rendahnya tingkat pengetahuan pelaku usaha mengenai forum komunikasi dan berbagai kegiatan program pengembangan usaha swasta. Sehingga Pemerintah dituntut menciptakan inovasi baru untuk berinteraksi dan membantu pengembangan dunia usaha, terutama pelaku usaha skala mikro dan kecil.

Tabel 18 Uji Beda Sub Indeks Program Pengembangan Usaha Swasta Tahun 2007 dan 2011

Variabel Wilayah Rata-rata

2007

9. Keamanan dan Penyelesaian konflik

Rata-rata keamanan penyelesaian konflik di NTB maupun NTT mengalami peningkatan pada tahun 2011 sehingga secara keseluruhan kondisi keamanan dan penyelesaian konflik di wilayah Nusa Tenggara membaik dibandingkan tahun 2007. Menurut KPPOD tahun 2011, 19 kabupaten/kota yang ada di NTT, sepuluh di antaranya dinyatakan tidak pernah mengalami kejadian pencurian di tempat usaha selama setahun terakhir. Kesepuluh daerah tersebut adalah Alor, Lembata, Flores Timur, Sikka, Ngada, Manggarai,Rote Ndao, Manggarai Barat, Nagekeo, Manggarai Timur.

Tabel 19 Uji Beda Sub Indeks Program Pengemba Keamanan dan Penyelesaian Konflik Usaha Swasta Tahun 2007 dan 2011

Variabel Wilayah Rata-rata

2007

Kondisi Kemiskinan di Wilayah Nusa Tenggara tahun 2011

(32)

Kota Mataram merupakan kabupaten/kota di NTB yang memiliki persentasi kemiskinan terkecil sebesar 13.18%. Sedangkan persentasi terbesar jumlah kemiskinan berdasarkan kabupaten dan kota tahun 2011 di Provinsi NTB adalah Kabupaten Lombok Utara sebesar 39.27 %.

Kabupaten/kota di NTT yang memiliki persentasi kemiskinan tekecil berdasarkan kabupaten/kota tahun 2011 adalah Kabupaten Flores Timur sebesar 9.06%. Sedangkan persentasi kemiskinan terbesar berdasarkan kabupaten dan kota tahun 2011 di Provinsi NTT adalah Kabupaten Sumba Barat Daya sebesar 32.1%. Menurut BPS, Nusa Tenggara Timur masuk kategori termiskin keempat di Indonesia setelah Papua, Papua Barat dan Maluku.

39.27

Sumber : BPS 2011 (diolah)

Ket : = NTB

= NTT

= Rata-rata Kemiskinan Indonesia (12.49 %)

Gambar 11. Kondisi Kemiskinan di NTB dan NTT

Warga yang berada di garis kemiskinan cenderung tidak dapat memenuhi kebutuhan pokoknya seperti pangan, sandang dan papan. Kondisi itu akan berimplikasi pada kesehatan, terutama anak-anak akan menderita gizi kurang dan gizi buruk. Di NTB dan NTT masih dijumpai beranekaragam permasalahan gizi seperti gizi lebih, gizi kurang dan gizi buruk. Status gizi masyarakat bisa dilihat dari masalah gizi lebih, gizi kurang dan gizi buruk dalam tiga tahun terakhir yang cenderung menurun. Dalam penanganan masalah terkait pangan dan gizi, beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain, adalah rendahnya daya beli masyarakat dan perilaku sosial budaya yang tidak menunjang kesehatan masyarakat.

Pengaruh Tata Kelola Ekonomi Daerah Terhadap Tingkat Kemiskinan di Wilayah Nusa Tenggara

(33)

di wilayah Nusa Tenggara sebagai variabel dependen sementara 9 sub-indeks TKED (Tata Kelola Ekonomi Daerah) sebagai variabel independen.

Uji Ekonometrika

Dalam melakukan analisis data kuantitatif seringkali digunakan uji persyaratan analisis. Menurut Gujarati (2006) agar model regresi tidak bias atau agar model regresi BLUE (Best Linear Unbiased Estimator) maka perlu dilakukan uji asumsi klasik terlebih dahulu. Model regresi berganda yang ideal dan optimal harus menghasilkan estimator yang memenuhi kriteria BLUE yaitu :

a. Estimator linear artinya estimator merupakan sebuah fungsi linear atas sebuah variabel dependen yang stokastik.

d. Estimator tidak bias artinya nilai ekspektasi sesuai dengan nilai yang sebenarnya.

e. Estimator harus mempunyai varians yang minimum. Estimator yang tidak bias dan memiliki varians minimum disebut estimator yang efisien.

Berikut hasil uji asumsi klasik yang digunakan pada penelitian ini : a. Uji Normalitas

Dari hasil estimasi diketahui nilai probabilitas Jarque-Bera sebesar 0.331784. Nilai probabilitas tersebut lebih besar dari taraf nyata lima persen, maka dapat dikatakan tidak cukup bukti untuk menolak H0 yang artinya residual error terdistribusi normal dalam model.

b. Heteroskedastisitas

Hasil output menunjukkan nilai Obs*R-squared adalah sebesar 2.402944 sedangkan nilai probabilitas (chi-square) adalah 0.7910 (lebih besar daripada α = 0,05), dengan demikian kita dapat menerima hipotesis nol bahwa data tidak mengandung masalah heteroskedastisitas.

c. Multikolinearitas

Pengujian adanya multikolinearitas dapat dilihat dari nilai matriks korelasi antar variabel independen. Hasil estimasi bahwa nilai masing-masing koefisien korelasi antar peubah independen tidak lebih besar dari 0.8 (rule of thumb dari ada atau tidaknya multikolinearitas). Dari hasil tersebut dapat dikatakan bahwa model yang digunakan terbebas dari masalah multikolinearitas yang berarti tidak ada hubungan linear antara peubah independennya.

d. Autokorelasi

Gejala autokorelasi dapat dideteksi dengan uji Breusch Godfrey Serrial Correlation Langrange Multiplier Test. Hasilnya nilai probability Obs*R-squared-nya sebesar 0.4985 lebih besar dari pada taraf nyata 5% maka terima H0 yang berarti model persamaan yang digunakan tidak mengalami masalah autokorelasi.

Analisis Linear Berganda

(34)

ini didapatkan R2 sebesar 0.9988 artinya variabel independen mampu menjelaskan variabel dependen sebesar 99.88 % sisanya dijelaskan oleh variabel lain di luar model.

Tabel 20 Nilai Estimasi

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

LnKIP -6.3984 0.7194 -8.8936 0.0000*

LnIPP 8.7256 2.3185 3.7634 0.0013*

LnID -12.389 2.2382 -5.5354 0.0000*

LnBT -6.7250 4.8127 -1.3973 0.1784

LnKPK 3.1533 1.4135 2.2308 0.0379**

LnAL 6.5336 5.9822 1.0921 0.2884

LnPD 19.580 1.6879 11.600 0.0000*

LnPPUS -13.075 0.3101 -42.160 0.0000*

LnPU -5.896 2.4524 -2.4041 0.0266**

C 36.248 36.735 0.9867 0.3362

Weighted Statistics

R-squared 0.9989

Adjusted R-squared 0.9983 Durbin-Watson stat 2.1185 Prob(F-statistic) 0.0000

Ket :

*) = Signifikan pada α 1 %

**) = Signifikan pada α 5 %

***) = Signifikan pada α 10 %

Dari hasil estimasi model, empat sub-indeks Tata Kelola Ekonomi Daerah yaitu variabel kapasitas dan integritas bupati/walikota (KIP), infrastruktur daerah (ID), program pengembangan usaha swasta (PPUS) dan perizinan usaha (PU) memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap tingkat kemiskinan. Sebaliknya tiga variabel yaitu interaksi pemda dan pelaku usaha (IPP), keamanan dan penyelesaian konflik (KPK) serta peraturan daerah (PD) berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan di wilayah Nusa Tenggara. Sementara sisanya yaitu variabel biaya transaksi (BT) dan akses lahan (AL) tidak berpengaruh signifikan terhadap terhadap Tingkat Kemiskinan di Wilayah Nusa Tenggara

(35)

lapangan kerja untuk masyarakat. Sehingga masyarakat mempunyai pendapatan dari lapangan kerja yang disediakan oleh para investor.

Interaksi pemda dan pelaku usaha (IPP) berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan di Nusa Tenggara. Hal ini dikarenakan informasi mengenai masalah dunia usaha yang disampaikan dalam forum yang diadakan oleh pemda tidak sesuai dengan permasalahan yang sebenarnya dihadapi oleh pelaku usaha, sehingga menjadi tidak tepat sasaran. Misalnya, dalam forum yang diadakan, pemda hanya membahas mengenai birokrasi untuk pengurusan usaha yang secara umum sudah diketahui oleh pelaku usaha. Hal penting yang sebaiknya dibahas dalam forum tersebut salah satunya adalah mengenai pentingnya CSR (Coorporate Social Responsibility) bagi perusahaan. Dimana dengan adanya CSR dapat mensejahterakan masyarakat melalui program penanggulangan kemiskinan (Hesti 2014).

Sesuai dengan hipotesis bahwa variabel infrastruktur daerah (ID) memiliki hubungan negatif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan di wilayah Nusa Tenggara dan mempunyai elastisitas sebesar 12.389. Interpretasinya adalah ketika infrastruktur daerah terjadi peningkatan sebesar 1 % maka akan menurunkan tingkat kemiskinan sebesar 12.389 %, cateris paribus. Infrastruktur daerah seperti jalan kabupaten/kota yang baik, penyediaan listrik, lampu penerangan jalan, air bersih dan telekomunikasi merupakan faktor pendukung terciptanya kegiatan ekonomi yang efisien dan efektif. Apabila hal tersebut terjadi, biaya yang dikeluarkan oleh pelaku usaha akan semakin kecil dan harga barang akan semakin murah. Masyarakat sebagai pelaku konsumsi dapat meningkatkan daya beli sehingga tingkat kemiskinan dapat dikurangi dengan peningkatan daya beli masyarakat.

Variabel Peraturan Daerah (PD) memiliki hubungan positif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan di wilayah Nusa Tenggara. Nilai elastisitas peraturan daerah sebesar 19.58014 artinya setiap peningkatan 1% Peraturan Daerah (PD) akan meningkatkan jumlah kemiskinan sebesar 19.58%, cateris paribus. Aspek yuridis, subtansi dan prinsip merupakan indikator penilaian peralturan daerah secara tertulis sebagai gambaran kualitas peraturan daerah. Artinya penilaian KPPOD terhadap kualitas peraturan daerah hanya melihat secara tertulis saja tanpa melihat impelementasinya di lapangan. Jika kualitas peraturan daerah sudah dinilai baik oleh KPPOD, belum tentu pelaksanaannya sesuai dengan penilaian KPPOD. Peraturan daerah tersebut belum tentu dapat mendorong perkembangan usaha yang dapat mengurangi masalah kemiskinan di daerah (Hesti 2014).

(36)

industri di Wilayah Nusa Tenggara yang tergolong sedikit. Sehingga tingkat kepercayaan pelaku usaha kepada polisi semakin tinggi terkait keamanan di wilayah Nusa Tenggara.

Hasil estimasi mengindikasikan bahwa terdapat hubungan negatif dan signifikan antara program Pengembangan Usaha Swasta (PPUS) dengan tingkat kemiskinan di wilayah Nusa Tenggara. Maka dapat dikatakan sesuai dengan hipotesis yang diperkirakan. Nilai elastisitas program pengembangan usaha swasta adalah sebesar 13.075 artinya ketika terjadi peningkatan program pelaku usaha sebesar 1 % maka akan menurunkan tingkat kemiskinan sebesar 13.075 %,

cateris paribus. Program pengembangan usaha swasta yang dilakukan oleh pemda dapat menjadi cara yang efektif untuk meningkatkan kemampuan manajemen dan keterampilan tenaga kerja, serta dapat menghubungkan pelaku usaha dengan pasar di luar daerah. Jika saja kemampuan masyarakat semakin terampil dalam mengembangkan usahanya maka hasil produksi dapat diterima secara luas oleh masyarakat karena hasil produksi yang inovatif dan kreatif. Jika hal ini terjadi maka akan memacu peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi kemiskinan.

Variabel perizinan usaha (PU) sesuai dengan hipotesis yang diperkirakan karena memiliki hubungan negatif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan di wilayah Nusa Tenggara. Nilai elastisitas Perizinan Usaha sebesar 5.896. Interpretasinya adalah setiap peningkatan 1 % perizinan usaha akan menurunkan tingkat kemiskinan sebesar 5.896, cateris paribus. Kemudahan mendapatkan TDP (tanda daftar perusahaan) akan memudahkan para pelaku usaha dan masyarakat memulai usahanya sehingga bertambahnya investasi akan memacu peningkatan kesejahteraan masyarakat yang ditandai dengan berkurangnya tingkat kemiskinan.

PENUTUP

Simpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan pada penelitian yang telah dilakukan, maka diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1. Wilayah Nusa Tenggara baik pada tahun 2007 maupun 2011 memiliki 3 sub-indeks bernilai tinggi yaitu akses lahan, peraturan daerah dan biaya transaksi. Beberapa sub-indeks TKED yang mengalami peningkatan yang signifikan di tahun 2007 dan tahun 2011 yaitu sub indeks infrastruktur daerah, perizinan usaha, biaya transaksi serta keamanan dan penyelesaian konflik. Sebaliknya satu sub indeks yang mengalami penurunan signifikan yaitu sub indeks kapasitas dan integritas bupati/walikota. Sedangkan 4 sisa sub-indeks lainnya yaitu akses lahan, peraturan daerah, interaksi pemda dan pelaku usaha serta program pengembangan usaha tidak mengalami perubahan yang signifikan 2. Hasil analisis regresi berganda menunjukan, 4 variabel tata kelola ekonomi

(37)

Daerah, Program Pengembangan Usaha Swasta serta Perizinan Usaha memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan. Sebaliknya tiga variabel yaitu Interaksi Pemda dan Pelaku Usaha (IPP), Keamanan dan Penyelesaian Konflik (KPK) dan Peraturan Daerah (PD) berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan di wilayah Nusa Tenggara. Sementara sisanya yaitu variabel Biaya Transaksi (BT) dan Akses Lahan (AL) tidak berpengaruh signifikan terhadap terhadap Tingkat Kemiskinan di Wilayah Nusa Tenggara

Saran

1. Dalam penanggulangan kemiskinan dan peningkatan investasi, pemerintah daerah wilayah Nusa Tenggara diharapkan memperbaiki kondisi sub-indeks Kapasitas dan Integritas Bupati/Walikota yang mengalami penurunan dan berpengaruh signifikan terhadap tingkat kemiskinan di wilayah Nusa Tenggara. Selain itu Pemerintah daerah diharapkan memperbaiki sub-indeks infrastruktur daerah dan program pengembangan usaha yang tergolong kecil dan berhubungan negatif signifikan terhadap tingkat kemiskinan.

2. Pemerintah derah hendaknya meningkatkan publikasi yang kreatif, tepat sasaran dan merata terutama kepada para pelaku usaha skala mikro atau kecil mengenai forum komunikasi dan berbagai program pengembangan usaha demi meningkatkan kemampuan manajemen dan keterampilan tenaga kerja, serta dapat menghubungkan pelaku usaha dengan pasar di luar daerah.

3. Nilai sub-indeks peraturan daerah tidak mencerminkan keberhasilan program pemerintah dalam mengurangi kemiskinan di Wilayah Nusa Tenggara karena penilaian KPPOD terhadap peraturan daerah hanya secara tertulis saja. Maka KPPOD hendaknya menilai peraturan daerah dilihat berdasarkan implementasinya di lapangan.

4. Menjadikan peningkatan kualitas sarana dan prasarana sebagai program utama pemerintah wilayah Nusa Tenggara guna mempromosikan potensi alam, pariwisata, meningkatkan daya tarik investor dalam menanamkan modal serta guna mengurangi jumlah daerah tertinggal di Wilayah Nusa Tenggara.

DAFTAR PUSTAKA

Ambar, Hesty. Pengaruh Tata Kelola Ekonomi Daerah Terhadap Tingkat Kemiskinan dan Indeks Pembangunan Manusia di Kawasan Timur Indonesia [Skripsi]. Bogor (ID). IPB.

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2012. Data & Informasi Kemiskinan Kabupaten/Kota 2011. Jakarta (ID): BPS Republik Indonesia.

(38)

Istiandari, R. 2009. Tata Kelola Ekonomi Daerah dan Kesejahteraan Masyarakat di Indonesia [jurnal]. Jakarta (ID): KPPOD Brief.

Juanda, Bambang. 2009. Ekonometrika: Pemodelan dan Pendugaan. Bogor (ID): IPB Press.

Karlinda, E. 2012. Keterkaitan Antara Tata Kelola Ekonomi Daerah dengan Produk Domestik Regional Bruto Per Kapita dan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota Propinsi Jawa Tengah [Skripsi]. Bogor (ID). IPB.

[KPPOD] Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah. 2007. Tata Kelola Ekonomi Daerah 2007. Jakarta: KPPOD Pusat.

[KPPOD] Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah. 2010. Tata Kelola Ekonomi Daerah 2010. Jakarta: KPPOD Pusat.

[KPPOD] Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah. 2011. Tata Kelola Ekonomi Daerah 2011. Jakarta: KPPOD Pusat.

Mankiw. 2006. Makroekonomi. Edisi Keenam. Jakarta (ID): Erlangga.

Nizar C, Hamzah A, Syahnur S. 2013. Pengaruh Investasi dan Tenaga Kerja terhadap Pertumbuhan Ekonomi serta Hubungannya terhadap Tingkat Kemiskinan di Indonesia [jurnal]. Aceh (ID) : Pascasarjana Universitas Syiah Kuala, vol I no : 2

Pratiwi, Shinta. 2014. Hubungan Realisasi Investasi dengan Tata Kelola Ekonomi Daerah dan belanja Modal Daerah di Indonesia [Skripsi]. Bogor (ID). IPB.

Sukirno S. 2010. Ekonomi Pembangunan: Proses, Masalah, dan Dasar Kebijakan. Jakarta (ID): Kencana.

Todaro MP, Smith SC. 2006. Pembangunan Ekonomi. Munandar H, AL Puji, penerjemah. Edisi Ke-9. Jakarta (ID): Erlangga. Terjemahan dari:

Economic Development.

Wahyu, Mega. 2014. Pengaruh Tata Kelola Ekonomi Daerah Terhadap Tingkat Pengangguran Kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur. [Skripsi). Bogor (ID). IPB.

Wahyuni E, Rachma A, Michael. Pengaruh Investasi dan Belanja Pemerintah terhadap Pertumbuhan Ekonomi serta Implikasinya Kepada Kemiskinan di Kabupaten Kutai Kartanegara [jurnal]. Kutai Kartanegara (ID) : Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman

(39)

LAMPIRAN

Lampiran 1 Skor Sub-indeks TKED tahun 2011

(40)
(41)

Lampiran 3 Data Kemiskinan Kabupaten /Kota di Wilayah Nusa Tenggara Tahun 2011

Provinsi Kabupaten/Kota Kemiskinan

NTB

Lombok Barat 19.7

Bima 17.66

Lombok Timur 21.71

Kota Bima 19.41

Sumbawa 19.82

Dompu 18.17

Lombok Utara 39.27

Lombok Tengah 18.14

Sumbawa Barat 19.88

Kota Mataram 13.18

NTT

Manggarai Timur 25.21

Sumba Timur 31.34

Kota Kupang 9.76

Belu 15.12

Rote Ndao 29.11

Manggarai Barat 18.9

Kupang 20.13

Alor 11.02

Flores Timur 9.06

Ende 20.37

Manggarai 21.39

Sumba Barat 29.84

Nagekeo 12.01

Ngada 11.36

Timor Tengah Utara 21.33

Timor Tengah Selatan 26.96

Sikka 12.63

Lembata 25.17

Sumba Barat Daya 32.1

Gambar

Tabel 1 Persentasi Kemiskinan Menurut Provinsi Tahun 2011 (persen)
Tabel 7 Variabel-variabel pembentuk Kapasitas dan Integrasi Bupati/walikota
Gambar 1 Kerangka Pemikiran
Gambar 11. Kondisi Kemiskinan di NTB dan NTT

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Pemahaman Perwira TNI yang masih mencampur adukkan antara keahlian militer dan keterampilan militer, membuat seluruh Perwira dalam penelitian Muhadjir Effendy menganggap

09/PVI-ULP/MT/APBD-BLH.KON/X/2015 Tanggal 09 Oktober 2015 dengan ini Pokja VI ULP Kabupaten Maluku Tengah, mengumumkan Pemenang Pengadaan Barang/Jasa untuk pekerjaan tersebut

Salah satu penyebab penyalahgunaan obat adalah kurangnya pengetahuan.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan siswa kelas XI terhadap

Goodwill pada entitas asosiasi atau ventura bersama merupakan selisih lebih yang terkait dengan biaya perolehan investasi pada entitas asosiasi atau ventura bersama dengan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui untuk mengetahui efektivitas ion kalsium dan pH saliva sesudah mengonsumsi yoghurt yang mengandung probiotik dua strains

Berdasarkan hasil penelitian, metode SPT (shortest processing time) dan EDD (earliest due date) merupakan metode yang paling baik yang bisa meminimalkan keterlambatan

Secara khusus, dalam kaitan dengan fokus kegiatan ini, yang menjadi pertanyaan adalah, apa implikasi keduanya terhadap dinamika pluralisme agama di Indonesia3.