DAFTAR PUSTAKA
A. Buku
Cunningham, William et. al., Terrorism: Concepts, Causes, and Conflict Resolution.Virginia: Defense Threat Reduction Agency Fort Belvoir, January2003
Direktorat Intelejen Pampol, Teori Dasar Intelejen, Polda Sumatra Utara, Medan,1996.
Hardiman, F. Budi, dkk. Terorisme, Definisi, Aksi dan Regulasi. Jakarta Imparsial, 2005.
Kamri Ahmad, Terorisme, HAM dan Hukum, Makassar, 21 Agustus 2008
Lamintang, P. A. F. Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia . Bandung: Sinar Baru, 1990.
Mansur, Dikdik M Arief dan Elisatris Gultom. Cyber Law: Aspek Hukum Teknologi Informasi. Bandung: PT. Refika Aditama, 2005.
Moeljatno. Asas-Asas Hukum Pidana. cet. 7. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002 Prodjodikoro, Wirjono. Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia. cet. 3. Bandung:
PT. Rafika Aditama, 2003.
Sasangka, Hari dan Lily Rosita, Hukum Petunjuk dalam Perkara Pidana. Semarang: Mandar Maju, 2003.
Sianturi, S. R. Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya. Jakarta: Alumni Ahaem – Petehaem, 1989.
Soetomo, A. Hukum Acara Pidana Indonesia dalam Praktek. Jakarta: Pustaka Kartini, 1990.
Soekanto Soerjono S, 1994, Metode Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta
Soetomo, A. Hukum Acara Pidana Indonesia dalam Praktek. Jakarta: Pustaka Kartini, 1990
B. Peraturan Perundang – Undangan
Amandemen Undang-undang Dasar 1945
KUHP
KUHAP
Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2002, tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Indonesia. Undang-Undang Tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP). UU No. 8, LN. No. 76 Tahun 1981, TLN. 3209.
Indonesia. Undang-undang Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, Menjadi Undang-undang. UU No. 15, LN. No. 45 Tahun 2003, TLN. No. 4284, Penjelasan umum Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.
Kitab Undang Undang Hukum Pidana. Prof.Moeljanto, S.H., cet. 21. Jakarta: Bumi Aksara, 2001.
C. Bahan Lain:
http://gerbang.jabar.co.id/gerbang/indeks.php?indek=16&idberita=680, diakses tanggal 8 November 2010
BAB III
PERANAN KEPOLISIAN RESORT KOTA MEDAN (UNIT JATANRAS) DALAM MENGUMPULKAN INFORMASI DAN KETERANGAN LAIN GUNA MELENGKAPI PEMBUKTIAN YANG TERKAIT
TINDAK PIDANA TERORISME
A. Tinjauan Polresta Medan dan Susunan Fungsi Unit Jatanras
Satuan Reserse Kriminal Polresta Medan disingkat Sat Reskrim merupakan satuan kerja fungsi kepolisian yang bekerja dalam menangani kejadian tindak pidana baik berdasarkan laporan masyarakat secara langsung atau temuan anggota Kepolisian ketika melaksanakan tugas di Lapangan. Sat Reskrim Polresta Medan memiliki 5 Unit kerja yaitu:
1. Unit I Resum (Reserse Umum)
2. Unit II Ranmor (Kendaraan Bermotor)
3. Unit III Jatanras (Kejahatan dengan Kekerasan) 4. Unit IV PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) 5. Unit V Krimsus (Kriminal Khusus)
bertanggung jawab dalam tindakan pertama untuk olah TKP kejadian tindak pidana atau gangguan kamtibmas umum seperti Kejadian gantung diri, orang tenggelam, Kebakaran, dll. Unit Identifikasi Reskrim juga bertanggung jawab dalam dokumentasi giat kepolisian di lingkungan Polres Merangin. Bentuk pelayanan yang diberikan untuk masyarakat adalah Pelayanan Sidik Jari.
SAT RESKRIM bertugas membina Fungsi dan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan penyelidikan dan penyidikan tindak pidana, termasuk fungsi identifikasi dalam rangka penegakan hukum, koordinasi dan pengawasan operasional dan administrasi penyidikan PPNS sesuai ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku. Dalam pelaksanaan tugas dan kewajibannya Kasat Reskrim dibantu oleh KBO dan KANIT. Kasat Reskrim Polresta Medan bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada Kapolresta dan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari dibawah kendali Waka Polresta.
Unit Jatanras dipimpin oleh seorang Kanit Jatanras dengan dibantu oleh beberapa Kasubnit serta Bintara Administrasi (Bamin). Menganalisa dan memberikan petunjuk tentang laporan Polisi yang diterima kepada Kasubnit dan Penyidik/Penyidik Pembantu yang di tunjuk untuk menanganinya. Memberikan arahan dan petunjuk kepada Kasubnit Lidik berikut anggota lidik tentang pelaksanaan tugas penyelidikan yang berkaitan dengan tindak pidana tertentu dan membuat laporan pelaksanaan tugas lidik.
B. Kegiatan yang Dilakukan Dalam Upaya Mengumpulkan Alat Bukti
Penyelidikan merupakan tahapan dimana proses yang mendahului suatu yang bertujuan untuk mengumpulkan keterangan-keterangan/ data- data yang digunakan untuk:
1. Menentukan apakah apakah suatu peristiwa yang terjadi merupakan suatu tindak pidana atau bukan sehingga dapat dilakukan penyidikan;
2. Persiapan pelaksanaan tahap penindakan penyelidikan.
Dimana nanti disusul dengan penyidikan yang bertugas untuk mengumpulkan fakta-fakta yang ada dalam tempat kejadian perkara. Setelah menemukan hasil pada tahap penyidikan, penyidik membuat berkas perkara berdasarkan hasil penyidikan tersebut diatas dan selanjutnya menyerahkan kepada penuntut umum sebagai institusi yang bertindak dan berwenang melakukan penuntutan dalam perkara pidana.
Pemeriksaan suatu perkara pidana di dalam suatu proses peradilan pada hakekatnya adalah bertujuan untuk mencari kebenaran materiil (materiile waarheid) terhadap perkara tersebut.27
Dalam usaha memperoleh bukti-bukti yang diperlukan guna kepentingan pemeriksaan suatu perkara pidana, seringkali para penegak hukum dihadapkan Hal ini dapat dilihat dari adanya berbagai usaha yang dilakukan oleh aparat penegak hukum dalam memperoleh bukti-bukti yang dibutuhkan untuk mengungkap suatu perkara baik pada tahap pemeriksaan pendahuluan seperti penyidikan dan penuntutan maupun pada tahap persidangan perkara tersebut.
27
pada suatu masalah atau hal-hal tertentu yang tidak dapat diselesaikan sendiri dikarenakan masalah tersebut berada di luar kemampuan atau keahliannya. Dalam hal demikian maka bantuan seorang ahli sangat penting diperlukan dalam rangka mencari kebenaran materiil selengkap-lengkapnya bagi para penegak hukum tersebut.
Mengenai keterangan ahli sebagaimana disebutkan dalam kedua pasal KUHAP diatas, diberikan pengertiannya pada Pasal 1 butir ke - 28 KUHAP, yang menyatakan: “Keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan”. Bantuan seorang ahli yang diperlukan dalam suatu proses pemeriksaan perkara pidana, baik pada tahap pemeriksaan pendahuluan dan pada tahap pemeriksaan lanjutan di sidang pengadilan, mempunyai peran dalam membantu aparat yang berwenang untuk membuat terang suatu perkara pidana, mengumpulkan bukti - bukti yang memerlukan keahlian khusus, memberikan petunjuk yang lebih kuat mengenai pelaku tindak pidana, serta pada akhirnya dapat membantu hakim dalam menjatuhkan putusan dengan tepat terhadap perkara yang diperiksanya.
bertujuan untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti tersebut dapat membuat terang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya. Berdasarkan hasil yang didapat dari tindakan penyidikan suatu kasus pidana, hal ini selanjutnya akan diproses pada tahap penuntutan dan persidangan di pengadilan.
Terkait dengan bantuan keterangan ahli yang diperlukan dalam proses pemeriksaan suatu perkara pidana, maka bantuan ini pada tahap penyidikan juga mempunyai peran yang cukup penting untuk membantu penyidik mencari dan mengumpulkan bukti-bukti dalam usahanya menemukan kebenaran materiil suatu perkara pidana. Dalam kasus - kasus tertentu, bahkan penyidik sangat bergantung terhadap keterangan ahli untuk mengungkap lebih jauh suatu peristiwa pidana yang sedang ditanganinya. Kasus - kasus tindak pidana seperti pembunuhan, penganiayaan dan perkosaan merupakan contoh kasus dimana penyidik membutuhkan bantuan tenaga ahli seperti dokter ahli forensik atau dokter ahli lainnya, untuk memberikan keterangan medis tentang kondisi korban yang selanjutnya cukup berpengaruh bagi tindakan penyidik dalam mengungkap lebih lanjut kasus tersebut.
ditemukan pada pemeriksaan barang bukti, berdasarkan sumpah pada waktu menerima jabatan, serta berdasarkan pengetahuannya yang sebaik-baiknya.
Peranan visum et repertum dalam pengungkapan suatu kasus tindak pidana terorisme sebagaimana terjadi dalam pencurian di Bank CIMB Niaga di Medan, menunjukkan peran yang cukup penting bagi tindakan pihak Kepolisian selaku aparat penyidik. Pembuktian terhadap unsur tindak pidana teroris dari hasil pemeriksaan yang termuat dalam visum et repertum, menentukan langkah yang diambil pihak Kepolisian dalam mengusut suatu kasus.
C. Jaringan Itelejen dan Pemberdayaan Masyarakat
Aksi cepat dan sinergis jajaran Detasemen Khusus 88 Kepolisian RI dalam penyergapan kelompok teroris di Aceh Besar dan Pamulang (Tangerang Selatan) patut diacungi jempol. Keberhasilan ini juga mengingatkan semua pihak bahwa Indonesia belum sepenuhnya aman dari ancaman dan gerakan terorisme, karena orang-orang yang sudah direkrut dan jaringan yang telah terbentuk masih ada. Dengan demikian, ancaman teror dan aksi kekerasan dengan korban yang sering kab di luar dugaan dikhawatirkan terulang di negeri ini.
Petaka aksi teror dan kekerasan dengan dampak destruktif, yang kerap terjadi di negeri ini, menunjukkan masih adanya kelemahan dalam banyak aspek kehidupan bangsa kita. Karena itu, berbagai kasus teror tersebut tidak cukup dilihat dari aspek keamanan negara saja secara kuratif, tetapi juga perlu ditinjau dari aspek sosial-budaya secara preventif, yang melibatkan masyarakat luas. Pandangan tersebut sangat penting, karena keberadaan para pelaku teror, baik yang menjadi otak dan tokoh kunci maupun operator dan pelaku di lapangan, ternyata dengan mudah bisa masuk ke lingkup sosial masyarakat tertentu dan memperoleh dukungan. Dengan demikian, selain harus dihadapi dengan pendekatan keamanan (security), misalnya oleh Polri dan dukungan TNI, penanganan terorisme juga perlu mempertimbangkan potensi nonmiliter, seperti aspek sosial-budaya bangsa.Pendekatan sosial-budaya bangsa ini penting diaktualisasi guna memperkuat daya tangkal dan daya tahan masyarakat terhadap penyebaran terorisme dan penyusupan ideologi gerakan radikal lainnya. Upaya ini strategis, karena dalam ranah sosial-budaya terdapat nilai dan pandangan masyarakat tentang kehidupannya, termasuk di dalamnya yang menyangkut masalah ekonomi, politik, dan keamanan lingkungannya.
Usaha – usaha dan kemampuan yang dilakukan oleh pihak kepolisian Resort kota Medan dalam melawan upaya mengumpulkan alat bukti:
1. Menciptakan dan Increasing Capabilities dari Anti Terrorist Unit. a. Pembentukan satuan kerja anti terrorism pada Unit Jatanras. b. Meningkatkan koordinasi kecerdasan (inteligen dan
c. Pembentukan Tim Khusus Anti Teroris:
2. Meningkatkan koordinasi regional (sumatera) dan nasional:
a. Mengambil bagian di dalam pertemuan-pertemuan forum regional .
b. Meningkatkan pertukaran data dan informasi kecerdasan (informasi inteligen)
3. Meningkatkan mutu ketrampilan dari Anti Terrorist Unit.
a. Perhebat aktivitas pendeteksian dan pembongkaran jaringan teroris
b. Menemukan dan memaksimalkan dukungan pelatihan untuk kemampua n Anti Terrorist .
c. Meningkat;kan kemampuan anti peralatan teroris teknologi: Telekomunikasi-telekomunikasi, Identifikasi, mobilitas /transportation)
4. Meningkatkan Kemampuan untuk Mencegah Terorisme.
a. Meningkatkan sistem keamanan lingkungan kita yang pribadi: lingkungan kerja, lingkungan hotel, pusat belanja dan proyek-proyek penting.
b. Meningkatkan kewaspadaan di antara masyarakat kepada ancaman dari terorisme:
2. Dorong peran dari masyarakat yang berpengaruh menggambarkan dan figur-figur religius mengembangkan masyarakat.
Berkaitan dengan hal itu pula, maka penguatan modal sosial-budaya untuk menolak doktrin-doktrin terorisme dan gerakan radikalisme tak bisa lepas dari keberadaan dan partisipasi masyarakat atau komponen bangsa dengan berbagai organisasi dan institusi yang ada di dalamnya. Ruang publik dan institusi ini merupakan tempat bagi tumbuh dan berlakunya modal sosial-budaya yang dimaksud. Karena itu pula, beralasan kalau partisipasi masyarakat dan civil society layak diapresiasi untuk kepentingan gerakan kontraterorisme dan deradikalisme. Pendekatan sosial-budaya ini juga akan ikut memperbaiki kondisi kehidupan sosial-budaya bangsa Indonesia dewasa ini yang memprihatinkan. Ada beberapa hal dalam kehidupan sosial-budaya bangsa Indonesia yang tidak adequate, seperti ketahanan budaya yang rapuh, tidak memiliki sikap adaptif-kritis, konsumtif-hedonis, mentalitas menerabas, serta kebanggaan dan kepercayaan diri sebagai bangsa yang menurun.
D. Kendala yang Dihadapi Polresta Medan dalam Mengumpulkan Alat Bukti Terkait Tindak Pidana Terorisme
terorisme di suatu negara umumnya mempunyai hubungan yang erat dengan jaringan terorisme internasional. Keadaan ini mengakibatkan beberapa aksi terorisme di Indonesia belum diungkap seluruhnya oleh aparat keamanan di Indonesia. Sementara itu aksi-aksi terorisme semakin canggih dan menggunakan teknologi yang tinggi. Tanpa adanya peningkatan kualitas dan kapasitas intelijen, aksi terorisme semakin sulit diungkapkan.
Dampak yang ditimbulkan dari aksi-aksi terorisme merusak mental, semangat, dan daya juang masyarakat dan dalam skala luas dan jangka panjang dapat melumpuhkan kehidupan masyarakat. Sebagai contoh, dampak tragedi bom Bali pada bulan Oktober 2002 telah menurunkan kegiatan ekonomi lokal sepanjang tahun 2003 dengan berkurangnya pendapatan penduduk Bali sekitar 43 persen antara lain karena pemutusan hubungan kerja terhadap 29 persen tenaga kerja di Bali. Tragedi Bali juga berpenengaruh dalam perkonomian nasional antara lain dengan menurunnya arus wisatawan mancanegara (wisman) sebanyak 30 persen. Dalam intensitas yang tinggi dan terus menerus, terorisme dapat mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara.
dengan semangat saling menyalahkan. Alangkah damainya dunia ini bila Muhamadiyah atau NU sebagai basis masyarakat muslim yang besar di dunia, mengawali membuka komunikasi dengan masyarakat dunia lainnya. Awal semangat komunikasi tersebut bukan semata menghilangkan bahaya teroris itu sendiri, tetapi saling introspeksi tentang kelemahan dan kekurangannya sehingga kenapa teroris tersebut menjadi bahaya laten.
Di dalam negeri semua pihak harus saling bergandeng tangan bersatu, bukan untuk saling menyelahkan tetapi justru untuk saling introspeksi diri. Dalam jangka pendek mungkin saja mempersempit ruang gerak dan penangkapan dalang teroris di Indonesia harus segera dilakukan. Tetapi hal ini bukan solusi utama dalam penghancuran terorisme di Indonesia. Penjagaan super ketat di berbagai plasa dan hotel paska pengeboman, bukanlah tindakan yang utama. Karena saat ini pasti para teroris akan lenyap ditelan bumi. Yang nantinya mereka akan menebar teror bom yang mungkin lebih menakutkan lagi.
dan maraknya toleransi dalam kehidupan beragama dapat menghindarkan pemikiran radikal dan fundamental yang mengarah pada aksi-aksi kekerasan.
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan
3. Bahwa peranan bukti forensik dalam mengungkap tindak pidana terorisme pada tahap penyidikan ditinjau dari UU No.15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dan UU No.8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang - Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) Terdapat kelemahan akibat kurangnya koordinasi antara berbagai lembaga tidak sesuai dengan prinsip – pripsip yang terdapat dalam pemeriksaan suatu perkara pidana di dalam suatu proses peradilan pada hakekatnya adalah bertujuan untuk mencari kebenaran materiil (materiile waarheid) terhadap perkara tersebut. Hal ini dapat dilihat dari adanya berbagai usaha yang dilakukan oleh aparat penegak hukum dalam memperoleh bukti-bukti yang dibutuhkan untuk mengungkap suatu perkara baik pada tahap pemeriksaan pendahuluan seperti penyidikan dan penuntutan maupun pada tahap persidangan perkara.
pembuktian inilah ditentukan nasib terdakwa, apakah ia bersalah atau tidak. Dalam proses pembuktian terdapat tiga hal paling utama, yaitu sistem pembuktian, beban pembuktian, dan alat bukti. Pada proses penyelesaian terhadap tindak pidana terorisme, pembuktian sangat terkait erat dengan Hak Asasi Manusia (HAM). Untuk membuktian seseorang terlibat atau tidak dalam tindak pidana terorisme, proses pembuktian memegang peranan sangat penting, mengingat banyak pemidanaan dalam Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme berupa hukuman seumur hidup atau hukuman mati yang sesungguhnya bertentangan dengan HAM. Untuk itu perlu dikaji mengenai sistem pembuktian, beban pembuktian, dan alat bukti terkait tindak pidana terorisme sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.
B. Saran
komponen bangsa. Penegakan hukum dapat diwujudkan dan telah dilengkapi dengan perangkat peraturan perundang-undangan, kerjasama internasional tidak menimbulkan pro dan kontra pemahaman. Kesadaran masyarakat secara aktif berbuat dan melakukan deteksi dini, identifikasi dini dan penangkalan terhadap perkembangan ancaman terorisme yang dilandasi rasa tanggung jawab dan kesadaran yang tinggi, sebagai bangsa yang bermartabat. Dengan landasan Wawasan Nusantara yang tangguh, bangsa Indonesia diharapkan memiliki sikap mental dan perilaku yang mampu mendeteksi, mengidentifikasi, menilai dan menganalisis sejak dini secara hati-hati terhadap berbagai bentuk ancaman terutama teroris internasional di Indonesia.
BAB II
TINJAUAN YURIDIS BUKTI FORENSIK DAN LAPORAN INTELEJEN DALAM MENGUNGKAP TINDAK PIDANA TERORISME
PADA TAHAP PENYIDIKAN
A. Sebelum Berlakunya Undang - Undang No.15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.
Usaha memberantas Terorisme telah dilakukan sejak menjelang pertengahan abad ke-20. Pada tahun 1937 lahir Konvensi Pencegahan dan Penghukuman Terorisme (Convention for The Prevention and Suppression of Terrorism)Crimes against State. Melalui European Convention on The Supression of Terrorism (ECST) tahun 1977 di Eropa, makna Terorisme mengalami suatu pergeseran dan perluasan paradigma, yaitu sebagai suatu perbuatan yang semula dikategorikan sebagai Crimes against State (termasuk pembunuhan dan percobaan pembunuhan Kepala Negara atau anggota keluarganya), menjadi Crimes against Humanity, yang menjadi korban adalah masyarakat sipil.17
17
Loebby Loqman, Op. cit., hal. 26.
Sebelum adanya UU No.15 Tahun 2003, kejahatan terorisme di Indonesia masih dikategorikan sebagai tindak pidana makar. Makar merupakan kejahatan terhadap keamanan negara dan termasuk kedalam delik politik. Kejahatan terhadap negara atau makar memiliki unsur yang sama dengan delik percobaan, yakni dimulai dengan adanya niat dan permulaan pelaksanaan. Akan tetapi didalam makar tidak ada alasan penghapus penuntutan, sedangkan pada percobaan apabila pelaku kejahatan membatalkan niat jahatnya oleh diri sendiri maka hapuslah penuntutan pidana terhadap perbuatan tersebut. Perbedaan lain yang terdapat antara makar dengan percobaan adalah bahwa makar memiliki kekhususan pada objeknya, karena objek dalam perbuatan makar hanyalah terhadap beberapa hal berikut ini, antara lain :
1. Terhadap Presiden dan Wakil Presiden; 2. Terhadap Kedaulatan Negara; dan 3. Terhadap Pemerintah.
Makar merupakan kejahatan politik yang mana hanya terdapat dua kemungkinan dengan akibat yang berbeda. Pertama, jika makar berhasil dilakukan dalam artian perbuatan makar didukung oleh rakyat maka makar ini dijadikan sumber hukum abnormal. Sedangkan, apabila makar ini gagal dilakukan maka pelaku-pelaku yang terlibat akan dijerat dengan pasal-pasal makar sebagaimana tercantum dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, yakni yang terdapat pada pasal-pasal berikut ini :
• Pasal 106 tentang separatisme atau usaha memisahkan diri dari negara kesatuan Indonesia dan menundukkan diri pada negara lain (objek dalam pasal ini adalah kedaulatan negara);
• Pasal 107 tentang usaha menggulingkan pemerintahan dengan maksud ingin menggantikan posisi orang yang digulingkan;
• Pasal 108 tentang melawan terhadap pemerintahan yang sah tanpa maksud ingin menggantikan posisi dan perlawanan ini menggunakan senjata; dan
• Pasal 110 tentang konspirasi.
Otomatis dalam hal pembuktian tindak pidana terorisme sebelum adanya UU No.15 tahun 2003, masih mengacu pada unsur – unsur yang terdapat pada pasal – pasal tersebut di atas.
B. Dalam Undang - Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang – Undang Hukum Acara Pidana
Suatu pembuktian menurut hukum merupakan suatu proses menentukan substansi atau hakekat adanya fakta-fakta yang diperoleh melalui ukuran yang layak dengan pikiran yang logis terhadap fakta pada masa lalu yang tidak terang menjadi fakta yang terang dalam hubungannya didalam perkara pidana. Hukum pembuktian pada dasarnya merupakan ketentuan yang mengatur mengenai proses pembuktian.
Indonesia sekarang ini telah mempunyai landasan hukum untuk tindak pidana terorisme yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, yang mulai berlaku tanggal 18 Oktober 2002. Dan Perpu ini telah disahkan oleh DPR RI menjadi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003. Rancangan Undang - Undang Intelijen Negara mempunyai semangat untuk memaksimalkan peran badan intelijen dalam upaya melakukan pencegahan untuk mengamankan negara, namun dalam praktik seringkali mempunyai semacam benturan-benturan dengan hak asasi manusia dan akses publik.
akhirnya ditetapkan menjadi Undang - Undang No 15 Tahun 2003 Tentang Penetapan Perpu No 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme Menjadi Undang-undang. Sebagaimana Perpu No 1, pemerintah juga membuat Undang - Undang No.16 Tahun 2003 Tentang Penetapan Perpu Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Pemberlakuan Perpu Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme pada Peristiwa Peledakan Bom di Bali tanggal 12 Oktober 2002 menjadi Undang - Undang.
Begitu pun halnya dengan Rancangan Undang - Undang Rahasia Negara, dapat berpengaruh cukup banyak terhadap badan intelijen, sehingga informasi yang bersifat publik yang ada padanya tertutup atau sangat sedikit dapat diakses oleh publik. Maraknya aksi tindak pidana terorisme, seperti yang terjadi di Bali beberapa tahun lalu dan belum tuntasnya penangkapan tokoh-tokoh teroris yang selama ini dicari, semakin menguatkan pendapat bahwa badan intelijen di Indonesia kurang bertenaga. Kurang bertenaganya badan intelijen, karena akibat terbatasnya kewenangan, sebab tidak memiliki kekuasaan untuk menangkap, memeriksa, dan menahan orang yang dicurigai merencanakan atau pun pelaku teror.
manusia. Intelijen harus selaras dengan prinsip prinsip negara demokrasi yang menjamin hak asasi manusia dan akses publik. Dalam kerangka inilah akuntabilitas terhadap publik dan hak publik harus terjamin.
Hukum Pidana khusus, bukan hanya mengatur hukum pidana materielnya saja, akan tetapi juga hukum acaranya, oleh karena itu harus diperhatikan bahwa aturan-aturan tersebut seyogyanya tetap memperhatikan asas-asas umum yang terdapat baik dalam ketentuan umum yang terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) bagi hukum pidana materielnya sedangkan untuk hukum pidana formilnya harus tunduk terhadap ketentuan yang terdapat dalam Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana/KUHAP).
penyimpangan, harus dicari apa dasar penyimpangan tersebut, karena setiap perubahan akan selalu berkaitan erat dengan Hak Asasi Manusia. Atau mungkin karena sifatnya sebagai Undang-Undang yang khusus, maka bukan penyimpangan asas yang terjadi di sini, melainkan pengkhususan asas yang sebenarnya menggunakan dasar asas umum, namun dikhususkan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang khusus sifatnya yang diatur oleh Undang-Undang Khusus tersebut.
Sesuai pengaturan Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana/KUHAP), penyelesaian suatu perkara Tindak Pidana sebelum masuk dalam tahap beracara di pengadilan, dimulai dari Penyelidikan dan Penyidikan, diikuti dengan penyerahan berkas penuntutan kepada Jaksa Penuntut Umum. Pasal 17 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana/KUHAP) menyebutkan bahwa perintah Penangkapan hanya dapat dilakukan terhadap seseorang yang diduga keras telah melakukan Tindak Pidana berdasarkan Bukti Permulaan yang cukup. Mengenai batasan dari pengertian Bukti Permulaan itu sendiri, hingga kini belum ada ketentuan yang secara jelas mendefinisikannya dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang menjadi dasar pelaksanaan Hukum Pidana. Masih terdapat perbedaan pendapat di antara para penegak hukum. Sedangkan mengenai Bukti Permulaan dalam pengaturannya pada Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, pasal 26 menyatakan :
(2). Penetapan bahwa sudah dapat atau diperoleh Bukti Permulaan yang cukup sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dilakukan proses pemeriksaan oleh Ketua dan Wakil Ketua Pengadilan Negeri.
(3). Proses pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilaksanakan secara tertutup dalam waktu paling lama 3 (tiga) hari.
(4). Jika dalam pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan adanya Bukti Permulaan yang cukup, maka Ketua Pengadilan Negeri segera memerintahkan dilaksanakan Penyidikan.
Undang-Undang Antiterorisme kini diberlakukan di banyak negara untuk mensahkan kesewenang-wenangan (arbitrary detention) pengingkaran terhadap prinsip free and fair trial. Laporan terbaru dari menyatakan bahwa penggunaan siksaan dalam proses interogasi terhadap orang yang disangka teroris cenderung meningkat. Hal ini seperti Hal seperti inilah yang harus dihindari, karena Tindak Pidana Terorisme harus diberantas karena alasan Hak Asasi Manusia, sehingga pemberantasannya pun harus dilaksanakan dengan mengindahkan Hak Asasi Manusia.
menjadi patokan dalam proses pembuktian di Indonesia, gunanya adalah tidak lain dari untuk mencari suatu kebenaran materil. Hal ini sejalan dengan tujuan hukum acara pidana yang antara lain dapat dibaca didalam pedoman pelaksanan KUHAP yang dikeluarkan oleh Menteri kehakiman sebagai berikut :18
Prinsip batas minimal pembuktian yang terdiri sekurang-kurangnya dua alat bukti, bisa terdiri dari dua orang saksi atau saksi di tambah satu alat bukti yang lain, hal ini merupakan batasan pembuktian yang lebih ketat dari pada dahulu yang di atur di dalam HIR yaitu pada Pasal 292 sampai dengan Pasal 322 tentang permusyawaratan, bukti dan putusan hakim, hal ini sangat berdampak pada suasana penyidikan yang tidak lagi main tangkap dulu baru nanti di pikirkan pembuktian, namun metode kerja penyidik menurut KUHAP haruslah di balik yaitu lakukan penyidikan dengan cermat dengan teknik dan taktis investigasi yang mampu mengumpulkan bukti yakni alat-alat bukti yang sah menurut Pasal 184
“ Tujuan dari hukum acara pidana adalah untuk mencari dan mendapatkan atau setidak-tidaknya mendekati kebenaran materil, ialah kebenaran yang selengkap-lengkapnya dari suatu perkara pidana dengan menerapkan ketentuan hukum acara pidana secara jujur dan tepat dengan tujuan untuk mencari siapakah pelaku yang dapat di dakwakan melakukan suatu pelangaran hukum, dan selanjutnya meminta pemeriksaan dan putusan dari pengadilan guna menemukan apakah terbukti bahwa suatu tindak pidana telah dilakukan dan apakah orang yang di dakwakan itu dapat di persalahkan.”
18
KUHAP dan termasuk bukti lain yang berasal dari barang-barang bukti hasil kejahatan. Dari bukti bukti tersebut baru dilakukan pembuktian.
Mengenai barang-barang bukti yang dimaksud yaitu diatur didalam Pasal 39 KUHAP tentang apa apa yang dapat dikenakan tidakan penyitaan oleh penyidik di tempat kejadian perkara yang dapat dikatakan sebagai barang bukti. Di pengadilan barang bukti tersebut dipergunakan pada saat pemeriksaan barang bukti guna dilakukanya pengesahan terhadap barang bukti tersebut yang dilakukan dengan cara memperlihatkan langsung kepada terdakwa maupun saksi, lalu diberikan pertanyaan baik kepada terdakwa maupun saksi yang berhubungan dengan barang bukti yang dihadirkan didalam persidangan guna terang dan ditemukannya fakta-fakta mengenai kesalahan terdakwa atau ketidaksalahan tedakwa sendiri (guilty or not guilty). Hal ini mengisyaratkan kepada kita bahwa pentingnya adanya pemeriksaan barang bukti di pengadilan guna mengungkapkan suatu peristiwa pidana.
jika hakim mendapatkan keyakinan dengan alat bukti yang sah, bahwa benar telah terjadi perbuatan yang dapat dihukum dan bahwa orang yang dituduh itulah yang salah tentang perbuatan itu.”
Hal ini menjelaskan kepada kita bahwa didalam sistem pumbukt ian di Indonesia baik dahulu yang di atur di dalam HIR maupun sekarang yang diatur di dalam KUHAP mengisyaratkan pentingnya keyakinan hakim dalam pembuktian perkata pidana. Pasal 187 KUHAP menegaskan bahwasanya Surat sebagaimana tersebut pada Pasal 184 ayat (1) huruf c, dibuat atas sumpah jabatan atau dikuatkan dengan sumpah, adalah:
a. Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang berwenang atau yang dibuat di hadapannya, yang memuat keterangan tentang kejadian atau keadaan yang didengar, dilihat atau yang dialaminya sendiri, disertai dengan alasan yang jelas dan tegas tentang keterangannya itu;
b. Surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau surat yang dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam tata laksana yang menjadi tanggung jawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal atau sesuatu keadaan;
c. Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dari padanya;
Jadi, print out SMS hanya dapat dijadikan alat bukti dipersidangan pidana bilamana print out tersebut diperkuat oleh sumpah dari pihak yang menerbitkan print out tersebut tanpa diperkuat sumpah, maka fhotocopy print out SMS tersebut hanya berlaku sebagai alat bukti petunjuk sebagaimana dimaksud dan di atur Pasal 188 KUHAP sebagai berikut :
(1) Petunjuk adalah perbuatan, kejadian atau keadaan, yang karena persesuaiannya,
baik antara yang satu dengan yang lain, maupun dengan tindak pidana itu sendiri, menandakan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana dan siapa pelakunya.
(2) Petunjuk sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat diperoleh dari:
a. Keterangan saksi; b. Surat;
c. Keterangan Terdakwa.
(3) Penilaian atas kekuatan pembuktian dari suatu petunjuk dalam setiap keadaan tertentu dilakukan oleh hakim dengan arif lagi bijaksana setelah ia mengadakan pemeriksaan dengan penuh kecermatan dan kesaksamaan berdasarkan hati nuraninya.
pelaku dan aktor intelektual dibalik peristiwa tersebut. Hal ini menjadi prioritas utama dalam penegakan hukum. Untuk melakukan pengusutan, diperlukan perangkat hukum yang mengatur tentang Tindak Pidana Terorisme. Menyadari hal ini dan lebih didasarkan pada peraturan yang ada saat ini yaitu Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) belum mengatur secara khusus serta tidak cukup memadai untuk memberantas Tindak Pidana Terorisme19, Pemerintah Indonesia merasa perlu untuk membentuk Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, yaitu dengan menyusun Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) nomor 1 tahun 2002, yang pada tanggal 4 April 2003 disahkan menjadi Undang-Undang dengan nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Keberadaan Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme di samping KUHP dan Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP), merupakan Hukum Pidana Khusus. Hal ini memang dimungkinkan, mengingat bahwa ketentuan Hukum Pidana yang bersifat khusus, dapat tercipta karena:20
1. Adanya proses
masyarakat. Karena pengaruh perkembangan zaman, terjadi perubahan pandangan dalam masyarakat. Sesuatu yang mulanya dianggap bukan sebagai Tindak Pidana, karena perubahan pandangan dan norma di
19
Indonesia, Undang-Undang Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, UU No.15 tahun 2003, LN. No.45 tahun 2003, TLN. No.4284, Konsiderans.
20
masyarakat, menjadi termasuk Tindak Pidana dan diatur dalam suatu perundang-undangan Hukum Pidana.
2. Undang-Undang yang ada dianggap tidak memadai lagi terhadap perubahan norma dan perkembangan teknologi dalam suatu masyarakat, sedangkan untuk perubahan undang-undang yang telah ada dianggap memakan banyak waktu.
3. Suatu keadaan yang mendesak sehingga dianggap perlu diciptakan suatu peraturan khusus untuk segera menanganinya.
4. Adanya suatu perbuatan yang khusus
proses yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang telah ada akan mengalami kesulitan dalam pembuktian.
C. Sistem Pembuktian, Beban Pembuktian, Alat Bukti Dalam Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Tindak Pidana Terorisme.
Diperlukannya undang-undang ini karena pemerintah menyadari tindak pidana terorisme merupakan suatu tindak pidana yang luar biasa (extraordinary crime), sehingga membutuhkan penanganan yang luar biasa juga (extraordinary measures). Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 ini selain mengatur aspek materil juga mengatur aspek formil. Sehingga, undang-undang ini merupakan undang-undang khusus (lex specialis) dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana dan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana. Dengan adanya undang-undang ini diharapkan penyelesaian perkara pidana yang terkait dengan terorisme dari aspek materil maupun formil dapat segera dilakukan.
menghadirkan alat bukti tersebut, apakah dihadirkan cukup dengan perangkat lunaknya (software) ataukah harus dengan perangkat kerasnya (hardware).
Pembuktian merupakan proses acara pidana yang memegang peranan penting dalam pemeriksaan sidang di pengadilan. Melalui pembuktian inilah ditentukan nasib terdakwa, apakah ia bersalah atau tidak. Darwan Prinst mendefinisikan pembuktian sebagai “pembuktian suatu peristiwa pidana telah terjadi dan terdakwalah yang bersalah melakukannya, sehingga harus mempertanggungjawabkannya.”21. Sesungguhnya, tujuan dari pembuktian adalah berusaha untuk melindungi orang yang tidak bersalah. Dalam hal pembuktian, hakim perlu memperhatikan kepentingan masyarakat dan kepentingan terdakwa. Kepentingan masyarakat berarti, apabila seseorang telah melanggar ketentuan perundang-undangan, ia harus mendapat hukuman yang setimpal dengan kesalahannya. Sementara yang dimaksud dengan kepentingan terdakwa adalah, terdakwa harus tetap diperlakukan adil sehingga tidak ada seorang pun yang tidak bersalah akan mendapat hukuman, (asas persumtion of innocent) atau sekalipun ia bersalah ia tidak mendapat hukuman yang terlalu berat (dalam hal ini terkandung asas equality before the law).22
Sekalipun secara konteks yuridis teoritis, proses pembuktian dilakukan di pengadilan pada tahap pembuktian, sesungguhnya proses pembuktian sendiri telah dimulai pada tahap penyidikan. Pada tahap ini, penyidik mengolah apakah
21
http://gudangilmuhukum.blogspot.com/2010/08/terorisme.html 22
peristiwa yang terjadi merupakan peristiwa pidana atau hanya merupakan peristiwa biasa. Penyidik juga mencari dan mengumpulkan serta menganalisis bukti yang ia temukan. Dalam proses pembuktian terdapat tiga hal paling utama, yaitu sistem pembuktian, beban pembuktian, dan alat bukti. Pada proses penyelesaian terhadap tindak pidana terorisme, pembuktian sangat terkait erat dengan Hak Asasi Manusia (HAM). Untuk membuktian seseorang terlibat atau tidak dalam tindak pidana terorisme, proses pembuktian memegang peranan sangat penting, mengingat banyak pemidanaan dalam Undang - Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Terorisme, berupa hukuman seumur hidup atau hukuman mati yang sesungguhnya bertentangan dengan HAM. Untuk itu perlu dikaji mengenai sistem pembuktian, beban pembuktian, dan alat bukti terkait tindak pidana terorisme sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Terorisme. Menurut doktrin, terdapat empat sistem pembuktian, yaitu sebagai berikut :23
a. Sistem pembuktian semata-mata berdasarkan keyakinan hakim (conviction intime). Dalam sistem ini, penentuan seorang terdakwa bersalah atau tidak hanya didasari oleh penilaian hakim. Hakim dalam melakukan penilaian memiliki subjektifitas yang absolut karena hanya keyakinan dan penilaian subjektif hakim lah yang menentukan keterbuktian kesalahan terdakwa. Mengenai dari mana hakim
23
mendapat keyakinannya, bukanlah suatu permasalahan dalam sisitem ini. Hakim dapat memperoleh keyakinannya dari mana saja.
b. Sistem pembuktian berdasarkan keyakinan hakim atas alasan logis (La Conviction Raisonee/Conviction Raisonee). Dalam hal sistem pembuktian ini, faktor keyakinan hakim telah dibatasi. Keyakian hakim dalam sistem pembukt ian ini tidak seluas pada sistem pembuktian conviction intime karena keyakinan hakim harus disertai alasan logis yang dapat diterima akal sehat. Sistem yang disebut sebagai sistem pembuktian jalan tengah ini disebut juga pembuktian bebas karena hakim diberi kebebasan untuk menyebut alasan keyakinannya (vrije bewijstheorie).
mengikat hakim secara ketat menurut peraturan pembuktian yang keras.
d. Sistem pembuktian Undang - Undang secara negatif (negatief wettelijk bewijstheori). Sistem pembuktian ini menggabungkan antara faktor hukum positif sesuai ketentuan perundang-undangan dan faktor keyakinan hakim. Artinya, dalam memperoleh keyakinannya, hakim juga terikat terhadap penggunaan alat bukti yang ditentukan oleh Undang-Undang.
Undang - Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Terorisme tidak secara khusus diatur mengenai syarat minimum alat bukti, atau pun ketentuan mengenai keyakinan hakim, sehingga tidak terlihat sistem pembuktian apa yang digunakan dalam Undang - Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Terorisme. Namun, dengan menggunakan penafsiran secara a contrario terhadap prinsip lex specialis derogat legi generalis, ketentuan mengenai sistem pembuktian dalam Undang - Undang Nomor 15 Tahun 2003 menggunakan ketentuan yang terdapat dalam Pasal 183 KUHAP, yaitu sistem pembuktian Undang - Undang secara negatif ). Dengan demikian, hakim dapat memutus seseorang bersalah melakukan tindak pidana terorisme apabila dari dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan kalau terdakwalah yang melakukan tindak pindana terorisme tersebut.
bukti yang diatur dalam undang-undang pidana formil tersebut tetap merujuk pada alat bukti yang diatur dalam KUHAP. Undang - Undang No. 15 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Terorisme selain mengatur tentang pidana material yaitu tentang macam pidana yang diklasifikasikan sebagai terorisme atau unsur tindak pidana terorisme juga mengatur aspek formil atau acara dari pidana terorisme tersebut. Dalam sub bab ini yang akan dibahas secara khusus adalah terkait dengan alat bukti yang diatur dalam Undang - Undang No. 15 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Terorisme. Pengaturan mengenai alat bukti dalam Undang - Undang No. 15 Tahun 2003 diatur dalam Pasal 27, sebagaimana berikut: Alat bukti pemeriksaan tindak pidana terorisme meliputi:
4. alat bukti sebagaimana dimaksud dalam Hukum Acara Pidana; 4. alat bukti lain berupa informasi yang diucapkan, dikirimkan,
diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu; dan
4. data, rekaman, atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan/atau didengar, yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang di atas kertas, benda fisik apapun selain kertas, atau yang terekam secara elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada :
(1). tulisan, suara, atau gambar;
(3). huruf, tanda, angka, simbol, atau perforasi yang memiliki makna atau dapat dipahami oleh orang yang mampu membaca atau memahaminya.
Dikaitkan dengan tindak pidana terorisme, pengaturan alat bukti berupa informasi dan dokumen elektronik sangat diperlukan. Alasannya, aksi terorisme semakin gencar dan menghalalkan segala cara untuk dapat beraksi. Aksi terorisme yang dilakukan pun lebih pintar yaitu dengan digunakannya teknologi modern.
D. Dasar Hukum Laporan Intelijen
apa saja yang dapat dimasukkan ke dalam kategori Laporan Intelijen, serta bagaimana sebenarnya hakekat Laporan Intelijen, sehingga dapat digunakan sebagai Bukti Permulaan. Terutama karena ketentuan pasal 26 ayat (1) tersebut memberikan wewenang yang begitu luas kepada penyidik untuk melakukan perampasan kemerdekaan yaitu penangkapan, terhadap orang yang dicurigai telah melakukan Tindak Pidana Terorisme, maka kejelasan mengenai hal tersebut sangatlah diperlukan agar tidak terjadi pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia dengan dilakukannya penangkapan secara sewenang-wenang oleh aparat, dalam hal ini penyidik.
Demikian pula perlu dirumuskan tentang pengaturan, cara mengajukan tuntutan terhadap petugas yang telah salah dalam melakukan tugasnya, oleh orang-orang yang menderita akibat kesalahan itu dan hak asasinya telah terlanggar, karena banyak Pemerintah suatu negara dalam melakukan pencegahan maupun penindakan terhadap perbuatan teror melalui suatu pengaturan khusus yang bersifat darurat, dimana aturan darurat itu dianggap telah jauh melanggar bukan saja hak seseorang terdakwa, akan tetapi juga terhadap Hak Asasi Manusia. Aturan darurat sedemikian itu telah memberikan wewenang yang berlebih kepada penguasa di dalam melakukan penindakan terhadap perbuatan teror.
teroris cenderung meningkat. Hal seperti inilah yang harus dihindari, karena Tindak Pidana Terorisme harus diberantas karena alasan Hak Asasi Manusia, sehingga pemberantasannya pun harus dilaksanakan dengan mengindahkan Hak Asasi Manusia.
E. Laporan Intelejen yang Dapat Dijadikan Bukti Permulaan
Tidak semua data intelijen bisa digunakan polisi untuk menyidik kasus tindak pidana terorisme. Menurut Direktur Jenderal Perundang-undangan Departemen Kehakiman dan HAM Abdul Gani Abdullah, satu-satunya laporan yang digunakan adalah laporan yang sudah diotentifikasi Kepala Badan Intelijen Nasional. Setiap laporan Intelijen dapat dan tidak dapatnya digunakan sebagai pendukung bukti permulaan adalah tergantung penyidik dalam menilai setiap laporan yang disajikan oleh intelijen yaitu dengan cara mengukur tingkat keakuratan setiap laporan intelijen, Laporan intelijen dapat dijadikan bukti permulaan apabila semua unsure - unsur ini terpenuhi dalam suatu kasus, diantaranya : Siapa pelaku aksi terorisme ( kelompok / organisasi), Orang-orang yang berhubungan dengan pelaku aksi terorisme (membantu) memberi fasilitas atau penyandang dana, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, Sasaran aksi terorisme, ada tidaknya suatu rencana aksi terorisme, modus aksi terorisme.
intelijen harus mampu memutus jaringan seperti ini. Anggota Intelijen Detasemen 88 Antiteror, sebagai alat negara dalam mencegah dan menanggulangi terorisme diharapkan untuk berbuat dan bertindak mengacu sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku karena jika tidak sesuai dengan aturan yang ada maka akan bisa menjadi boomerang bagi lembaga Kepolisian sendiri sendiri terutama Detasemen 88 Antiteror pada khususnya, jangan sampai salah tangkap dan harus mengingat azas Praduda tak bersalah ( presumption of innocence ) dan seringkali mereka tidak mengindahkan azas ini sehingga sering muncul permasalahan.
M. Karyadi, seorang purnawirawan berpangkat komisaris besar polisi, dalam bukunya, Intelijen: Pengawas Keselamatan Negara, membagi intelijen ke dalam 2 jenis :24
4. Intelijen terbuka (open intelligence);
Ia menjelaskan bahwa kegiatan intelijen terbuka dilakukan secara terang-terangan, misalnya membaca dan mempelajari buku-buku dan kesusasteraan mengenai persoalan tertentu; membaca, mempelajari, dan mengikuti secara terus-menerus pengumuman-pengumuman resmi pemerintah negara lain; membaca dan mempelajari berita-berita dalam surat kabar atau media elektronik; mendengarkan, mencatat, dan mempelajari siaran-siaran radio luar dan dalam negeri, pemerintah maupun swasta, juga radio gelap; membaca dan mempelajari dokumen-dokumen, statistik-statistik, dan
24
sebagainya; melihat, memperhatikan, dan mempelajari dengan tajam segala sesuatu yang dialami pada waktu mengadakan peninjauan di suatu tempat atau daerah.
5. Intelijen rahasia (secret intelligance).
Intelijen rahasia merupakan intelijen yang melakukan kegiatannya secara tertutup, seperti mencari dan mengumpulkan bahan-bahan keterangan dan data-data secara tidak terang-terangan; membinasakan atau mengurangi kekuatan material lawannya dengan jalan sabotase dan lain-lain secara tersembunyi; merusak jiwa atau moral lawan dengan jalan propaganda yang menjelek-jelekkan; mengacau, membunuh, menculik, membakar dan sebagainya bukan dengan jalan terang-terangan.
Dibanding organisasi - organisasi lainnya di sektor keamanan, badan intelijen memang memiliki keunikan yang menyulitkan pengendalian dan permintaan pertanggunjawaban dari badan tersebut. Kerumitan utama dari suatu badan intelijen adalah kebutuhannya untuk menjaga kerahasiaan agar dapat berfungsi secara efektif. Bila lembaga intelijen membuka kegiatan-kegiatannya kepada publik maka tindakannya itu sama dengan membongkar rahasianya kepada target-target operasinya. Lembaga intelijen harus menjaga kerahasiaan anggaran, operasi serta hasil maupun prestasi kerjanya. Karena itu pekerjaan lembaga intelijen tidak diperdebatkan secara terbuka atau di parlemen seintensif perdebatan tentang bagian-bagian fungsi pemerintah lainnya yang diawasi secara cermat oleh media. Tingkat kerahasiaan tentang masalah-masalah intelijen selalu dijaga dalam tubuh pemerintahan dan hal ini menimbulkan konflik yang tak terselesaikan dengan gagasan demokrasi. Akibatnya lembaga intelijen tetap menjadi identitas yang paling sulit dan paling sedikit dikendalikan.
Dalam negara demokrasi, badan intelijen harus berusaha untuk bekerja secara efektif, netral dan non-partisan serta mematuhi etika profesional dan beroperasi sesuai dengan mandat legalnya selaras dengan norma-norma legal-konstitusional serta praktek-praktek negara demokrasi.25
25
Gill, Peter. 2003. Democratic and Parliamentary Accountability of Intelligence Services after September 11th. Geneva, January 2003. Geneva Centre for the Democratic Control of the Armed Forces. Working Paper No. 103.
dan agar reformasi apapun menyangkut badan intilejen dilakukan sesuai dengan norma dan standar demokrasi.
Dapat dilihat dari kasus Bank CIMB dimana Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri (BHD) menegaskan, komplotan perampok Bank CIMB Niaga yang terjadi 18 Agustus 2010 silam terkait dengan jaringan terorisme. Penegaskan itu disampaikan Kapolri dalam keterangan pers, di Mapolda Sumut, Medan, Senin (20/9), menyusul penangkapan oleh Densus 88 di Tanjung Balai, Belawan (Sumut) dan Lampung. Kelompok ini juga memiliki kaitan dengan gebong teroris Dulmatin yang sudah mati ditembak. Tertangkapnya gembong Fadli Sadama yang berperan sebagai otak perampokan Bank CIMB Medan beberapa bulan lalu, dilakukan oleh pihak tim densus 88 yang dibantu dengan adanya beberapa informasi yang didapat dari tersangka yang berhasil ditangkap yaitu Abah alias Abu jihad, wakilnya Emir Mustaqim yang tergabung dalam kelompok Al-Qaeda Aceh. Dari informasi yang diberikan oleh Abah alias Abu Jihad inilah maka tim densus 88 segera bertindak cepat untuk menangkap tersangka yang lain.
terorisme sudah diwujudkan dalam berbagai konvensi internasional yang menegaskan bahwa terorisme merupakan kejahatan yang mengancam perdamaian dan keamanan umat manusia sehingga seluruh anggota PBB termasuk Indonesia wajib mendukung dan melaksanakan resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengutuk dan menyerukan seluruh anggota PBB untuk mencegah dan memberantas terorisme melalui pembentukan peraturan perundang-undangan nasional negaranya.
Aparat penegak hukum harus bertindak tegas terhadap penanganan dan pengungkapan suatu tindak kejahatan para pelaku tindak pidana terorisme lewat lembaga peradilan. Melalui lembaga peradilan ini, penegak hukum tindak pidana terorisme selain menerapkan Undang- undang Nomor 15 Tahun 2003 Jo. Perpu Nomor 1 Tahun 2002 tidak kalah pentingnya dengan penerapan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. KUHAP mengatur sistem peradilan pidana yang terdiri dari beberapa subsistem, singkatnya, dalam berperkara melalui proses acara pidana perlu ditempuh beberapa tahapan antara lain penyelidikan, penyidikan, penuntutan, pemeriksaan di pengadilan, putusan, dan eksekusi.
Hukum Acara Pidana/KUHAP) menyebutkan bahwa perintah Penangkapan hanya dapat dilakukan terhadap seseorang yang diduga keras telah melakukan Tindak Pidana berdasarka pengertian Bukt i Permulaan itu sendiri, hingga kini belum ada ketentuan yang secara jelas mendefinisikannya dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang menjadi dasar pelaksanaan Hukum Pidana. Masih terdapat perbedaan pendapat di antara para penegak hukum. Sedangkan mengenai Bukti Permulaan dalam pengaturannya pada Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, pasal 26 berbunyi:26
1. Untuk memperoleh Bukti Permulaan yang cukup, penyidik dapat
menggunakan setia
2. Penetapan bahwa sudah dapat atau diperoleh Bukti Permulaan yang cukup sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dilakukan proses pemeriksaan oleh Ketua dan Wakil Ketua Pengadilan Negeri.
3. Proses pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilaksanakan secara tertutup dalam waktu paling lama 3 (tiga) hari. 4. Jika dalam pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)
ditetapkan adanya Bukti Permulaan yang cukup, maka Ketua Pengadilan Negeri segera memerintahkan dilaksanakan Penyidikan.
26
Permasalahannya adalah masih terdapat kesimpang siuran tentang pengertian Bukti Permulaan itu sendiri, sehingga sulit menentukan apakah yang dapat dikategorikan sebagai Bukti Permulaan, termasuk pula Laporan Intelijen, apakah dapat dijadikan Bukti Permulaan. Selanjutnya, menurut pasal 26 ayat 2, 3 dan 4 Undang-Undang Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, penetapan suatu Laporan Intelijen sebagai Bukti Permulaan dilakukan oleh Ketua/Wakil Ketua Pengadilan Negeri melalui suatu proses/mekanisme pemeriksaan secara tertutup.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hak untuk hidup adalah hak asasi yang paling dasar bagi seluruh manusia. Hak hidup merupakan bagian dari hak asasi yang memiliki sifat tidak dapat ditawar lagi (non derogable rights). Artinya, hak ini mutlak harus dimiliki setiap orang, karena tanpa adanya hak untuk hidup, maka tidak ada hak-hak asasi lainnya. Hak tersebut juga menandakan setiap orang memiliki hak untuk hidup dan tidak ada orang lain yang berhak untuk mengambil hak hidupnya.Salah satu contoh penghilangan hak hidup tanpa alas hak adalah pembunuhan melalui aksi teror. Aksi teror jelas telah melecehkan nilai kemanusiaan, martabat, dan norma agama. Teror juga telah menunjukan gerakannya sebagai tragedi atas hak asasi manusia. 1
Bahwa tindak pidana terorisme yang selama ini terjadi telah mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat serta merupakan ancaman serius terhadap kedaulatan negara, sehingga pencegahan dan pemberantasan tindak pidana terorisme perlu dilakukan secara berencana dan berkesinambungan guna memelihara kehidupan yang aman, damai, dan sejahtera berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Aksi
1
terorisme yang terjadi di Indonesia hingga dewasa ini nampaknya juga belum bisa teratasi secara tuntas. Inilah salah satu permasalahan yang sedang dihadapi pemerintah saat ini, kenyataannya sampai sekarang para pelaku aksi terror belum bisa semuanya ditangkap bahkan sekarang aksi teror tidak hanya terjadi dikota- kota besar melainkan sudah masuk kedaerah-daerah.
Terorisme merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan peradaban serta merupakan salah satu ancaman serius terhadap kedaulatan setiap negara karena terorisme sudah merupakan kejahatan yang bersifat internasional yang menimbulkan bahaya terhadap keamanan, perdamaian dunia serta merugikan kesejahteraan masyarakat sehingga perlu dilakukan pemberantasan secara berencana dan berkesinambungan sehingga hak asasi orang banyak dapat dilindungi dan dijunjung tinggi. Pernyataan tersebut sejalan dengan tujuan bangsa Indonesia yang terdapat dalam Undang-undang Dasar 1945 yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.
Aksi terorisme di Indonesia mencuat ke permukaan setelah terjadinya Bom Bali I pada 12 Oktober 2002, Peristiwa ini tepatnya terjadi di Sari Club dan Peddy’s Club, Kuta, Bali.2
2
http://www.riaupos.com/berita.php?act=full&id=4339&kat=9
Jakarta pada September 2000, serta penyanderaan dan pendudukan perusahaan Mobil Oil oleh Gerakan Aceh Merdeka pada tahun yang sama.3
Pada sebuah proses penyelesaian perkara pidana, proses pembuktian merupakan suatu proses pencarian kebenaran materiil atas suatu peristiwa pidana.
Indonesia sebagai negara hukum (rechtstaat) memiliki kewajiban untuk melindungi harkat dan martabat manusia. Demikian pula dalam hal perlindungan warga negara dari tindakan terorisme. Salah satu bentuk perlindungan negara terhadap warganya dari tindakan atau aksi terorisme adalah melalui penegakan hukum, termasuk di dalamnya upaya menciptakan produk hukum yang sesuai. Upaya ini diwujudkan pemerintah dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2002, yang kemudian disetujui oleh DPR menjadi Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.
Diperlukannya undang-undang ini karena pemerintah menyadari tindak pidana terorisme merupakan suatu tindak pidana yang luar biasa (extraordinary crime), sehingga membutuhkan penanganan yang luar biasa juga (extraordinary measures). Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 ini selain mengatur aspek materil juga mengatur aspek formil. Sehingga, undang-undang ini merupakan undang-undang khusus (lex specialis) dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana dan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana. Dengan adanya undang-undang ini diharapkan penyelesaian perkara pidana yang terkait dengan terorisme dari aspek materil maupun formil dapat segera dilakukan.
3
“Bom Bali Rencananya untuk Memperingati Setahun Bom WTC”,
Hal ini berbeda jika dibandingkan proses penyelesaian perkara perdata yang merupakan proses pencarian kebenaran formil. Proses pembuktian sendiri merupakan bagian terpenting dari keseluruhan proses pemeriksaan persidangan. Hukum acara pidana di dalam bidang pembuktian mengenal adanya Alat Bukti dan Barang Bukti, di mana keduanya dipergunakan di dalam persidangan untuk membuktikan tindak pidana yang didakwakan terhadap terdakwa. Alat bukti yang sah untuk diajukan di depan persidangan, seperti yang diatur Pasal 184 Undang-undang Nomor 8 tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP) adalah:4
a. keterangan saksi b. keterangan ahli c. surat
d. petunjuk
e. keterangan terdakwa
Pada perkembangannya, alat bukti sebagaimana yang diatur dalam KUHAP tidak lagi dapat mengakomodir perkembangan teknologi informasi, hal ini menimbulkan permasalahan baru. Salah satu masalah yang muncul akibat perkembangan teknologi informasi adalah lahirnya suatu bentuk kejahatan baru yang sering disebut dengan cybercrime, dalam istilah yang digunakan oleh Barda Nawawi Arief disebut dengan tindak pidana mayantara. Secara garis besar cybercrime terdiri dari dua jenis, yaitu kejahatan yang menggunakan teknologi
4
informasi (TI) sebagai fasilitas dan kejahatan yang menjadikan sistem dan fasilitas teknologi informasi sebagai sasaran.
Tentu saja upaya penegakan hukum tidak boleh berhenti dengan ketidakadaan hukum yang mengatur penggunaan barang bukti maupun alat bukti berupa informasi elektronik di dalam penyelesaian suatu peristiwa hukum. Selain itu, proses mengajukan dan proses pembuktian alat bukti yang berupa data digital perlu pembahasan tersendiri mengingat alat bukti dalam bentuk informasi elektronik ini serta berkas acara pemeriksaan telah melalui proses digitalisasi dengan proses pengetikan (typing), pemeriksaan (editing) dan penyimpanan (storing) dengan menggunakan komputer. Namun, hasilnya tetap saja dicetak di atas kertas (printing process). Dengan demikian, diperlukan kejelasan bagaimana mengajukan dan melakukan proses pembuktian terhadap alat bukti yang berupa data digital. Proses pembuktian suatu alat bukti yang berupa data digital ini juga menyangkut aspek validasi data digital yang dijadikan alat bukti tersebut. Aspek lain terkait adalah masalah menghadirkan alat bukti tersebut, apakah dihadirkan cukup dengan perangkat lunaknya (software) atau harus dengan perangkat kerasnya (hardware).
melatarbelakangi penulis untuk mengangkatnya menjadi topik pembahasan dalam penulisan skripsi dengan judul ”TINJAUAN YURIDIS PERANAN BUKTI FORENSIK DAN LAPORAN INTELEJEN PADA TAHAP PENYIDIKAN TINDAK PIDANA TERORISME DI KOTA MEDAN.”
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang, maka peneliti mengidentifikasikan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana peranan bukti forensik dan laporan intelejen dalam mengungkap tindak pidana terorisme pada tahap penyidikan ditinjau dari Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)?
2. Peranan Kepolisian Resort kota Medan (Unit Jatanras) dalam mengumpulkan informasi dan keterangan lain guna melengkapi pembuktian yang terkait tindak pidana terorisme?
C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dengan diadakannya penelitian ini adalah sebagai berikut:
penyidikan ditinjau dari UU No.15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Terorisme dan UU No.8 Tahun 1981 tentang Kitab
Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).
b. Mengetahui tentang Peranan Kepolisian Resort kota Medan (Unit Jatanras) dalam mengumpulkan informasi dan keterangan lain guna melengkapi pembuktian yang terkait tindak pidana terorisme.
2. Manfaat Penelitian
Diharapkan karya akhir ini dapat bermanfaat dengan optimal, baik secara akademis maupun praktis. Adapun penelitian ini memiliki manfaat sebagai berikut :
a. Manfaat Akademis
Penelitian ini ditujukan untuk menambah pengetahuan dibidang hukum khususnya hukum pidana baik untuk kalangan mahasiswa sendiri atau para akademisi sebagai bibit unggul yang akan menjadi kalangan yang berguna dan menjadi generasi penerus bangsa di masa yang akan datang.
b. Manfaat Praktis
D. Keaslian Penulisan
Penulisan skripsi ini adalah murni dan benar – benar berasal dari pemikiran penulis dan pertanyaan - pertanyaan yang timbul dari dalam diri penulis bahwa terhadap judul diperlukannya suatu pembahasan yang lebih dalam, keaslian penulisan ini dapat dibuktikan karena sebelum penulisan ini berlangsung penulis telah melakukan pengecekan terhadap judul ini terlebih dahulu ke Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara apakah mengenai judul ini telah dibahas sebelumnya atau tidak, hasil dari pengecekkan tersebut adalah penulis telah mendapatkan persetujuan dari pihak perpustakaan dan jurusan bahwasanya judul ini dapat dilanjutkan penulisannya.
E. Tinjauan Kepustakaan 1. Definisi Terorisme
Terorisme adalah The use or threat of violance to intimidate or cause panic, esp. as a means of affecting political conduct.5
5
http://www.thefreedictionary.com/terror
intimidasi atau sabotase. Sasaran intimidasi dan sabotase umumnya langsung, sedangkan terorisme tidak. Korban tindakan Terorisme seringkali adalah orang yang tidak bersalah. Kaum teroris bermaksud ingin menciptakan sensasi agar masyarakat luas memperhatikan apa yang mereka perjuangkan. Tindakan teror tidaklah sama dengan vandalisme, yang motifnya merusak benda-benda fisik.
Teror berbeda pula dengan mafia. Tindakan mafia menekankan omerta, tutup mulut, sebagai sumpah. Omerta merupakan bentuk ekstrem loyalitas dan solidaritas kelompok dalam menghadapi pihak lain, terutama penguasa. Berbeda dengan Yakuza atau mafia Cosa Nostra yang menekankan kode omerta, kaum teroris modern justru seringkali mengeluarkan pernyataan dan tuntutan. Mereka ingin menarik perhatian masyarakat luas dan memanfaatkan media massa untuk menyuarakan pesan perjuangannya.6
Sejauh ini belum ada batasan yang baku untuk mendefinisikan apa yang dimaksud dengan Terorisme. Menurut Prof. M. Cherif Bassiouni, ahli Hukum Pidana Internasional, bahwatidak mudah untuk mengadakan suatu pengertian yang identik yang dapat diterima secarauniversal sehingga sulit mengadakan pengawasan atas makna Terorisme tersebut. Sedangkanmenurut Prof. Brian Jenkins, Phd., Terorisme merupakan
6
pandangan yang subjektif, hal manadidasarkan atas siapa yang memberikan batasan pada saat dan kondisi tetentu.7
Belum tercapainya kesepakatan mengenai apa pengertian terorisme tersebut, tidak menjadikan terorisme dibiarkan lepas dari jangkauan hukum. Usaha memberantas Terorisme tersebut telah dilakukan sejak menjelang pertengahan abad ke-20. Pada tahun 1937 lahir Konvensi Pencegahan dan Penghukuman Terorisme (Convention for The Prevention and Suppression of Terrorism), dimana Konvensi ini mengartikan terorisme sebagai Crimes against State. Melalui European Convention on The Supression of Terrorism (ECST) tahun 1977 di Eropa, makna Terorisme mengalami suatu pergeseran dan perluasan paradigma, yaitu sebagai suatu perbuatan yang semula dikategorikan sebagai Crimes against State (termasuk pembunuhan dan percobaan pembunuhan Kepala Negara atau anggota keluarganya), menjadi Crimes against Humanity, dimana yang menjadi korban adalah masyarakat sipil. Crimes against Humanity masuk kategori Gross Violation of Human Rights (Pelanggaran HAM Berat) yang dilakukan sebagai bagian yang meluas/sistematik yang diketahui bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil, lebih diarahkan pada jiwa-jiwa orang tidak bersalah (Public by innocent), sebagaimana terjadi di Bali.8
7
http://definisi-pengertian.blogspot.com/2009/12/definisi-dan-pengertian-terorisme_31.html 8
Pasal 3 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia yang berbunyi, “Setiap orang berhak atas kehidupan, kebebasan dan keselamatan sebagai individu.” Dengan adanya rasa takut dan cemas yang melanda warga masyarakat yang diakibatkan oleh terorisme, maka para teroris telah merampas hak asasi orang lain tentang rasa aman. Di sini kita bisa melihat bahwa sasaran utama terorisme bukan lagi sekadar kejahatan terhadap negara atau kelompok atau individu, melainkan kejahatan terhadap HAM.
Terorisme disebut banyak orang sebagai sebuah kejahatan yang extraordinary, karenanya terorisme pun harus diperlakukan secara extraordinary.9
2. Terorisme dalam Perspektif Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)
Namun, apakah cukup manusiawi apabila penanganan terhadap kasus terorisme harus dilakukan dengan memperlakukan para tersangka teroris secara tidak manusiawi? Ataukah justru sebaliknya, masyarakat akan merasa sangat puas ketika melihat aparat keamanan berhasil ‘menghabisi’ para tersangka teroris?
Di Indonesia, berdasarkan undang-undang pemberantasan tindak pidana terorisme, seseorang yang dicurigai sebagai anggota terorisme, polisi hanya berkenan menahan selama tujuh hari tanpa surat perintah penahanan. Ini masih terlalu ringan bilamana dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia atau Singapura.
9
Di Malaysia dan Singapura misalnya, pelaku terorisme diperlakukan dengan sangat ketat. Untuk pelaku terorisme diberlakukan prosedur hukum yang tidak biasanya seperti pada kejatahan-kejahatan biasa. Umpamanya, untuk penangkapan, polisi tidak perlu menggunakan surat perintah penangkapan maupun surat perintah penahanan. Begitu pula tenggang waktu penahanan serta lamanya penahanan. Semuanya dilakukan secara ekstra ketat, sehingga adakalanya si pelaku diperlakukan di luar sistem due process of law. Tidak heran pelaku terorisme ditahan hingga bertahun-tahun tanpa proses.
Secara hukum positif, Indonesia pun mengenal pembatasan hak-hak yang relatif itu sebagaimana diatur di dalam UU No 3 Drt Tahun 1959 mengenai keadaan bahaya atau public emergency. Sekalipun demikian, walaupun hak-hak absolut non derogable rights seperti right to life tetap harus pula dijunjung tinggi, tetapi juga social rights tidak boleh terabaikan sebagai bagian dari pemeliharaan generasi.10
Menyadari hal ini dan lebih didasarkan pada peraturan yang ada saat ini yaitu Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) belum mengatur secara khusus serta tidak cukup memadai untuk memberantas Tindak Pidana Terorisme, Pemerintah Indonesia merasa perlu untuk membentuk Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, yaitu dengan menyusun Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang
10
(Perpu) nomor 1 tahun 2002, yang pada tanggal 4 April 2003 disahkan menjadi Undang-Undang dengan nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Keberadaan Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme di samping KUHP dan Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP), merupakan Hukum Pidana Khusus. Hal ini memang dimungkinkan, mengingat bahwa ketentuan Hukum Pidana yang bersifat khusus, dapat tercipta karena adanya proses kriminalisasi atas suatu perbuatan tertentu di dalam masyarakat. Karena pengaruh perkembangan zaman, terjadi perubahan pandangan dalam masyarakat. Sesuatu yang mulanya dianggap bukan sebagai Tindak Pidana, karena perubahan pandangan dan norma di masyarakat, menjadi termasuk Tindak Pidana dan diatur dalam suatu perundang-undangan Hukum Pidana.
Kriminalisasi Tindak Pidana Terorisme sebagai bagian dari perkembangan hukum pidana dapat dilakukan melalui banyak cara, seperti:11
a. Melalui sistem evolusi berupa amandemen terhadap pasal-pasal KUHP.
b. Melalui sistem global melalui pengaturan yang lengkap di luar KUHP termasuk kekhususan hukum acaranya.
c. Sistem kompromi dalam bentuk memasukkan bab baru dalam KUHP tentang kejahatan terorisme.
Akan tetapi tidak berarti bahwa dengan adanya hal yang khusus dalam kejahatan terhadap keamanan negara berarti penegak hukum mempunyai wewenang yang lebih atau tanpa batas semata-mata untuk memudahkan pembuktian bahwa seseorang telah melakukan suatu kejahatan terhadap keamanan negara, akan tetapi penyimpangan tersebut adalah sehubungan dengan kepentingan yang lebih besar lagi yaitu keamanan negara yang harus dilindungi. Demikian pula susunan bab-bab yang ada dalam peraturan khusus tersebut harus merupakan suatu tatanan yang utuh. Selain ketentuan tersebut, Pasal 103 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) menyebutkan bahwa semua aturan termasuk asas yang terdapat dalam buku I Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) berlaku pula bagi peraturan pidana di luar Kitab Undang-Undang
11
Hukum Pidana (KUHP) selama peraturan di luar Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tersebut tidak mengatur lain.
3. Terorisme dan Alat Bukti Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)
Dalam hukum acara pidana Indonesia (KUHAP), sistem administrasi peradilan pidana sangatlah tidak memadai apabila ketentuan ini diterapkan untuk pelaku terorisme karena penahanan berdasarkan Pasal 21 KUHAP, ketentuan ini sangatlah mudah dan biasa-biasa saja untuk sebuah kejahatan luar biasa seperti terorisme. Oleh sebab itulah, sangat dimungkinkan aparat penegak hukum (khususnya aparat kepolisian) menyimpang dari prinsip-prinsip tentang due process of law, atau equality before the law yang terdapat dalam ICCPR (International Covenant on Civil and Political Rights) yang sudah diratifikasi oleh Indonesia. Pembatasan terhadap prinsip-prinsip tersebut dapat dilakukan karena undang-undang pun mengenal apa yang disebut derogable rights, hak-hak yang bersifat relatif.12
Sebagai Undang-Undang khusus, berarti Undang-Undang Nomor 15 tahun 2003 mengatur secara materiil dan formil sekaligus, sehingga terdapat pengecualian dari asas yang secara umum diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)/Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) (lex specialis derogat lex generalis). Keberlakuan 12
lex specialis derogat lex generalis, harus memenuhi criteria bahwa pengecualian terhadap Undang-Undang yang bersifat umum, dilakukan oleh peraturan yang setingkat dengan dirinya, yaitu Undang-Undang.
Pasal-pasal KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana) tentang pembuktian dalam acara pemeriksaan biasa diatur didalam Pasal 183 sampai 202 KUHAP. Pasal 183 KUHAP yang menyatakan Hakim tidak boleh menjatuhkan Pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya ada dua alat bukti yang sah, ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana telah terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya. Dengan suatu alat bukti saja umpamanya dengan keterangan dari seorang saksi, tidaklah diperoleh bukti yang sah, akan tetapi haruslah dengan keterangan beberapa alat bukti. Dengan demikian maka kata-kata “alat-alat bukti yang sah” mempunyai kekuatan dan arti yang sama dengan “bukti yang sah”. Selain dengan bukti yang demikian diperlukan juga keyakinan hakim yang harus di peroleh atau ditimbulkan dari dari alat-alat bukti yang sah.
Sedangkan yang dimaksud dengan alat-alat bukti yang sah adalah sebagaimana yang diterangkan di dalam Pasal 184 KUHAP sebagai berikut :
a. Keterangan saksi; b. Keterangan ahli; c. Surat;
e. Keterangan terdakwa.
Seperti diketahui bahwa didalam pembuktian tidaklah mungkin dan dapat tercapai kebenaran mutlak (absolut). Bahwa semua pengetahuan kita hanya bersifat relatif, yang didasarkan pada pengalaman, penglihatan, dan pemikiran tentang sesuatu yang selalu tidak pasti benar. Jika diharuskan adanya syarat kebenaran mutlak untuk dapat menghukum seseorang, maka sebagian besar dari pelaku tindak pidana tidaklah dapat di hukum, pastilah dapat mengharapkan bebas dari penjatuhan pidana. Satu-satunya yang dapat diisyaratkan dan yang sekarang dilakukan adalah adanya suatu kemungkinan besa