• Tidak ada hasil yang ditemukan

Meningkatkan Kemampuan Interaksi Sosial Siswa dengan Menggunakan Assertive Training di SMA Muhammadiyah 2 Bandar Lampung

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Meningkatkan Kemampuan Interaksi Sosial Siswa dengan Menggunakan Assertive Training di SMA Muhammadiyah 2 Bandar Lampung"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

(1)

MENGGUNAKAN ASSERTIVE TRAINING DI SMA MUHAMMADIYAH 2 BANDAR LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2013-2014

Oleh

NURAINI INDRIYANI

Masalah dalam penelitian ini adalah rendahnya interaksi sosial siswa. Permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah dapat meningkatkan interaksi sosial siswa dengan menggunakan assertive training?. Tujuan penelitian ini adalah untukmeningkatkan kemampuan interaksi sosial siswamelalui assertive training.

Penelitian ini bersifat quasi eksperimental dengan jenis desain One Group Pretest-Postest. Subjek penelitian ini sebanyak 8 orang siswa yang memiliki interaksi sosial rendah. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan pedoman observasi.

Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa interaksi sosial siswa mengalami peningkatan yang signifikan dengan menggunakan teknik assertive training, dengan peningkatan 84%, terbukti dari hasil pretest dan posttest diperoleh Zhitung = 2,536 dan Ztabel 0,05 = 4. Zhitung < Ztabel. Dengan demikian Ha diterima, artinya terdapat peningkatan interaksi sosial dengan menggunakan teknik assertive training pada siswa XI IPS di SMA Muhammadiyah 2 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2013-2014.

Kesimpulan adalah terdapat peningkatan kemampuan interaksi sosial setelah diberi teknik assertive training pada siswa kelas XI IPS SMA Muhammadiyah 2 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2013-2014 setelah diberi teknik assertive training.

Saran yang diberikan adalah (1) siswa yang memiliki kemampuan interaksi sosial yang rendah hendaknya berusaha untuk meningkatkan kemampuan interaksi sosialnya, sehingga dalam menjalankan kegiatan sehari-hari tidak mengalami suatu hambatan dalam membina hubungan dengan orang lain. (2) guru bimbingan konseling hendaknya melakukan teknik assertive training dalam meningkatkan kemampuan interaksi sosial siswa, (3) peneliti lain yang akan melakukan penelitian tentang interaksi sosial dengan teknik assertive training hendaknya dapat menggunakan subjek yang berbeda dan meneliti variabel lain dengan mengontrol variabel-variabel yang sudah diteliti sebelumnya.

(2)

MENINGKATKAN KEMAMPUAN INTERAKSI SOSIAL SISWA DENGAN MENGGUNAKAN ASSERTIVE TRAINING DI SMA

MUHAMMADIYAH 2 BANDAR LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2013/2014

Oleh : Nuraini Indriyani

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN

Pada

Program Studi Bimbingan dan Konseling Jurusan Ilmu Pendidikan

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG

(3)
(4)
(5)
(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis lahir pada tanggal 21 Juli 1991 di Kota Manna, Bengkulu Selatan. Penulis merupakan anak pertama dari pasangan Harmoko, S.IP., dan Puji Sri Handayani, AKS.

Penulis menempuh pendidikan formal diawali dari: TK Totokaton, Punggur, Lampung, lulus pada tahun 1997; SD Negeri 10 Kota Manna, Bengkulu Selatan, lulus tahun 2003; SMP Negeri 2 Kota Manna, lulus tahun 2006; kemudian melanjutkan ke SMA Negeri 5 Bengkulu Selatan, lulus tahun 2009.

Tahun 2009, penulis terdaftar sebagai mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling, Jurusan Ilmu Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung. Selanjutnya, penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Praktik Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah (PLBK-S) di SD Negeri 1 Bandar Agung. Kedua kegiatan itu dilaksanakan di Dusun XVI, Desa Bandar Agung, Kecamatan Bandar Sribhawono, Kabupaten Lampung Timur, Lampung, di tahun 2012.

(7)

“Pahlawan

bukanlah orang yang meletakkan pedang

kepundak lawan, tetapi pahlawan sebenarnya ialah

orang yang sanggup menguasai diri sendiri dikala ia

marah”

(Nabi Muhammad SAW)

“Keyakinan Menciptakan Kenyataan”

(8)

PERSEMBAHAN

Bismillahirahmanirrohim…..

Dengan penuh rasa syukur kepada Allah SWT atas terselesaikannya

penulisan skripsi ini, ku persembahkan karya kecilku ini untuk:

Ayahandaku Harmoko „Saimanto‟ dan Ibundaku Puji Sri Handayani, yang selalu senantiasa mendo‟akanku dalam setiap sujudnya. Terimakasih atas

semua yang telah kalian berikan kepadaku, pelajaran mengenai betapa indahnya saling mencintai dalam kesederhanaan kehidupan, memberiku perhatian, pengertian, serta dukungan luar biasa sehingga kalianlah sumber

motivasiku.

Adinda ku tercinta, Melati Puspita Sari, yang selalu memberikan senyum kebahagiaan di hari-hari ku.. “Mbak sayang adek Ta..”

Semua Keluarga Besar, Saudara-saudaraku, Sahabat-sahabatku, Kakanda, Ayunda, Adinda, dan Seseorang yang spesial di hati. Aku sangat menyayangi

kalian, dari dulu hingga batas waktu yang telah ditentukan Allah kepadaku.

(9)

Segala puji bagi Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. yang tak henti-hentinya melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Sholawat beriring salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, selalu dinantikan syafaatnya di yaumul akhir nanti. Aamiin.

Terimakasih yang tak henti-hentinya saya ucapkan kepada ayahanda dan ibunda yang selalu mendoakan dan cinta serta semangat kepada penulis.

Dalam penyelesaian skripsi ini, penulis tidaklah sendiri, melainkan mendapat masukan, bimbingan, dorongan, serta nasihat dari berbagai pihak. Karena itu, penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada:

1. Bapak Dr. Bujang Rahman, M.Si., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.

2. Bapak Drs. Baharudin Risyak, M.Pd., selaku Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.

3. Bapak Drs. Yusmansyah, M.Si., selaku Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Lampung.

(10)

5. Bapak Drs. Syaifudin Latif, M.Pd, selaku Pembimbing I yang telah menyediakan waktunya dalam memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

6. Ibu Ranni Rahmayanthi Z., S.Pd., M.A., selaku Pembimbing II yang telah memberikan motivasi, bimbingan, saran, dan arahan kepada penulis selama ini. 7. Ibu Diah Utaminingsih, S.Psi., M.A., Psi., selaku penguji yang telah banyak

memberikan masukan, kritik dan saran yang membangun.

8. Bapak dan Ibu Dosen Bimbingan dan Konseling Unila. Terimakasih atas bimbingan dan ilmu yang telah diberikan selama ini.

9. Ibu Dra. H. Iswani selaku Kepala Sekolah, Ibu Khaeranie. MR. S. Psi., M.PD I., selaku koordinator guru BK sekaligus guru pembimbing, siswa yang menjadi subjek penelitian dan seluruh warga SMA Muhammadiyah 2 Bandar Lampung, yang telah memberikan kesediaan membantu penulis melaksanakan penelitian. 10. Bapak O’o dan Bu Puji, serta adinda semata wayang, adek Ita (si Ucil), yang

telah memberikan kasih sayang, semangat dan doa yang tak hentinya kepada mbak, dan mbak akan selalu berusaha yang terbaik untuk kalian.

(11)

kuat. Terimakasih untuk hari-harinya yang indah.

13.Sahabat terbaikku semasa sekolah dan hingga kini: Resti Pratidina Putri (A’res) dan Dessy Purnama Sari (I’des), terimakasih telah melengkapi cerita kehidupan Mb’in. Sungguh ku sangat bangga dan bahagia telah memiliki kalian.

14.Sahabat-sahabat perjuanganku Bimbingan dan Konseling angkatan 2009: Andreas, Irma, Ita, Christina, Yuda, Tudi (Atu Dian), Berlina, Erwin, Ijul, Adit, Hany, adek Asti, Heri, Halen, Ayu, Archi, Nelly O., Nelly H., Octaria, Yulia, Hesti, Asri, Yuni, Nurjanah, Fitri, R.A. Syifa, Shifa N.I., Ferlysta, Tika, Suci, Nike, Esty, Defiana, Dwi, Shella, Awan, Nanda, Ikhwan, Putri, Rista, Nisa, Dewi (Alm), Ulvi (Alm), Teguh ngguh, Karnaen, Scholastika, Terimakasih atas bantuan, dukungan, doa dan motivasinya.

15.Kakak dan adik tingkatku di Bimbingan dan Konseling Unila, terimakasih atas hari-hari yang berharga di kampus ini.

16.Saudara 1 angkatanku di Menwa (Resimen Mahasiswa), XXXI: Bina si wakil kepala bujang, Irma mbak boy, Ita si tukang nekad, Menyos si miss sleep, Nyus si muka India, Bli Gusti ndut, Bang ndut Ganda, Mas Harist si mamas tampan kata sinduk, Mas Gun si kapas, Bang Poer si muka polos, dan Afdal si uda Ganteng. Terimakasih untuk kalian yang telah menguatkanku, mengajakku tertawa dan menangis bersama. 31 Bravo !

(12)

Fahruddin, Mas Yoan, Kak Wira, Mas Haris (Alm), serta Ayundaku: Uncu Fitri, Mbak Santi, Mbak Ana, Mbak Meita, Ngah Wina, dan untuk semua yang tak dapat ku sebutkan satu persatu, terimakasih atas semua pelajaran kehidupan yang kalian berikan sehingga menjadikan adinda ini sesosok tidak kenal menyerah. 18.Adindaku di Menwa: Amin, Benny, Arief, Arifin, Yogi, Mulyati, Puji, Limah,

Sudiro, Evi, Samsul Anwar, Syahroni, Harianto Agusman dan semua yang telah berbaret ungu. Tingkatkan korsa dan semangat kalian. Kekuatan 55 !!!

19.Teman-teman KKN dan PLBK-S serta keluarga besar pak Sutino, yang telah memberikan pengalaman kehidupan bermasyarakat saat masih menduduki bangku perkuliahan ini.

20.Kerabat di kost Feby: Ani, Mbak Nyang, Nurul, teh Lindi, Endang, Ijah, Putri, Mbak Neti, Eka, Dona, Mbak I’in dan semua yang telah memberikan semangat

serta hari-hari selama di kosan ini.

21.Sahabat dan teman-teman yang ada di dalam dan di luar kampus yang tak dapat ku sebutkan satu persatu, terimakasih telah mengisi ruang hari-hariku.

Semoga Allah SWT membalas amal dan kebaikan semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga bermanfaat. Aamiin.

Bandar Lampung, 2014 Penulis,

(13)

DAFTAR ISI

A. Latar Belakang Masalah ... 1

1. Identifikasi Masalah ... 6

2. Pembatasan Masalah ... 7

3. Rumusan Masalah ... 8

B. Tujuan Penelitian dan Kegunaan ... 8

C. Ruang Lingkup penelitian ... 9

D. Kerangka Pikir ... 10

E. Hipotesis ... 14

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Interaksi Sosial ... 15

A.1. PengertianInteraksi Sosial ... 15

A.2. Faktor yang mempengaruhi Interaksi sosial ... 17

A.3. Syarat interaksi sosial ... 23

A.4. Bentuk-bentuk interaksi sosial ... 26

A.5. Kriteria untuk Menganalisis Proses Interaksi ... 30

B. TeknikAssertive Training ... 31

B.1.Pengertian Assertive Training ... 31

B.2. Kelebihan dan kekurangan Assertive Training ... 33

B.3. Tujuan Assertive Training ... 34

B.4. Manfaat Assertive Training ... 35

B.5. Tahapan Pelaksanaan Assertive Training ... 36

C. KeterkaitanAntara Interaksi Sosial dan TeknikAssertive Training ... 38

III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan tempat penelitian ... 41

(14)

C. Variabel penelitian ... 42

D. Definisi Operasional Variabel ... 42

E. Subyek Penelitian ... 44

F. Teknik Pengumpulan Data ... 45

G. Uji Instrumen ... 50

1. Uji Validitas ... 50

2. Uji Reliabilitas ... 51

H. Teknik Analisis Data ... 52

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 54

1. Gambaran Hasil Pra Assertive Training ... 54

2. Deskripsi Data ... 55

3. Pelaksanaan Assertive Training ... 58

4. Deskripsi Data Interaksi Sosial Siswa ... 61

5. Grafik Perubahan Kemampuan Interaksi Sosial Siswa ... 63

6. Uji Hipotesis ... 64

7. Deskripsi Hasil yang Diperoleh Setiap Pertemuan ... 65

B. Pembahasan ... 86

V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 91

1. Kesimpulan Statistik ... 91

2. Kesimpulan Penelitian ... 91

(15)

DAFTAR TABEL

Halaman TABEL

3.1 Kisi-Kisi Pedoman Observasi ... 46

4.1 Data Siswa yang Memiliki Interaksi Sosial Rendah ... 55

4.2 Kriteria Kemampuan Interaksi Sosial Siswa ... 56

4.3 Data Pretest Siswa ... 57

4.4 Tahapan pelaksanaan penelitian ... 58

4.5 Data kemampuan interaksi sosial siswa ... 62

4.6 Uji Signifikansi Menggunakan Uji Beda Wilcoxon ... 65

4.7 Tabel Perilaku Siswa Rifki ... 66

4.8 Tabel Perilaku Siswa Ubai ... 69

4.9 Tabel Perilaku Siswa Fausan ... 72

4.10Tabel Perilaku Siswa Eliza... 74

4.11Tabel Perilaku Siswa Sarah ... 77

4.12 Tabel Perilaku Siswa Rendi ... 79

4.13 Tabel Perilaku Siswa Rico ... 82

(16)

DAFTAR GAMBAR

Halaman GAMBAR

1.1 Alur Kerangka Pikiran ... 13

3.1 One Group Pretest – Posttest Design ... 39

4.1 Grafik Peningkatan Interaksi Sosial Subjek ... 63

4.2 Grafik Peningkatan Interaksi Sosial Rifki ... 67

4.3 Grafik Peningkatan Interaksi Sosial Ubai ... 70

4.4 Grafik Peningkatan Interaksi Sosial Fausan ... 73

4.5 Grafik Peningkatan Interaksi Sosial Eliza ... 75

4.6 Grafik Peningkatan Interaksi Sosial Sarah ... 78

4.7 Grafik Peningkatan Interaksi Sosial Rendi ... 80

4.8 Grafik Peningkatan Interaksi Sosial Rico ... 83

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman LAMPIRAN

1. Kisi-Kisi Observasi Interaksi Sosial ... 93

2. Lembar Observasi ... 94

3. Pedoman Pelaksaan ... 96

4. Hasil Penelitian Para Ahli ... 108

5. Hasil Uji Coba ... 109

6. Hasil Observasi Uji Coba ... 110

7. Hasil Realibilitas Hasil Observasi ... 111

8. Tahap Pelaksanaan ` ... 112

9. Hasil Wawancara ... 113

10.Nama Siswa yang Direkomendasikan ... 119

11.Hasil Observasi Pretest ... 120

12.Hasil Observasi Posttest pertama ... 121

13.Hasil Observasi Posttestkedua ... 122

14.Narasi Assertive Training ... 123

15.Data Peningkatan Kemampuan Interaksi Sosial ... 149

16.Hasil Uji Wilcoxon ... 153

17.Tabel Nilai-Nilai Kritis Z untuk Uji Wilcoxon ... 154

18.Foto Kegiatan Assertive Training ... 155

(18)

I.PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Manusia tak akan terlepas dari kodratnya, yaitu manusia sebagai makhluk sosial, yang mana ia harus hidup berdampingan dengan manusia lainnya dan sepanjang hidupnya bersosialisasi dengan orang lain dalam proses interaksi. Interaksi sosial menghasilkan banyak bentuk sosialisasi. Bisa berupa interaksi antar individu, interaksi individu dengan kelompok, dan interaksi antar kelompok. Sedangkan syarat terjadinya interaksi sosial adalah terjadi kontak sosial dan terjadi komunikasi.

(19)

Interaksi sosial dapat membantu individu mengembangkan potensi yang berada didalam dirinya melalui bantuan orang lain. Tanpa adanya interaksi, maka manusia tak dapat berbuat apapun. Interaksi sosial terjadi jika dua orang atau lebih saling berhadapan, bekerja sama, berbicara, berjabat tangan atau bahkan terjadi persaingan dan pertikaian.

Melalui interaksi sosial, seseorang dapat saling menunjukkan perilaku satu sama lain, dan hal ini menyebabkan pertukaran perilaku antar pribadi. Mereka dapat saling mempengaruhi satu sama lain, dengan cara mengimitasi, sugesti yang timbul, adanya identifikasi, dan timbulnya simpati terhadap orang lain.

Namun tak selamanya interaksi itu berjalan lancar, karena masing-masing

individu memiliki tingkat kesukarannya dalam melakukan interaksi sosial ini.

Berinteraksi sosial mampu menyatukan dua orang atau lebih, ataupun

sebaliknya. Dalam interaksi sosial dibutuhkan kemampuan individu untuk

menyatakan dan mengekspresikan dirinya dengan enak dalam berbagai situasi

sosial. Interaksi sosial ini mengajarkan individu untuk mengungkapkan diri

dengan cara sedemikian sehingga terefleksi kepekaannya terhadap perasaan

dan hak orang lain. Seperti yang dikemukakan oleh Murray dan McClelland

(dalam Walgito, 2002:57), bahwa individu mempunyai motif atau dorongan

sosial. Dengan adanya dorongan atau motif sosial pada individu, maka

individu akan mencari orang lain untuk mengadakan hubungan atau untuk

mengadakan interaksi. Dengan demikian, maka akan terjadilah interaksi

(20)

3

Siswa sebagai anggota masyarakat hendaknya memiliki kemampuan interaksi

sosial yang baik, terutama di lingkungan sekolah. Hal ini disebabkan karena

sebagian besar waktu siswa digunakan untuk berinteraksi dengan orang-orang

yang berada di lingkungan sekolahnya. Tak heran jika siswa satu sama lain

sangat saling mempengaruhi, baik dari perilaku, cara berbicara, cara

berpakaian, dan lain-lain. Namun permasalahan yang sering ditemui saat ini

adalah beberapa siswa yang mengalami kesulitan dalam interaksi sosial

sehingga ia merasa dikucilkan dari teman-temannya yang lebih mampu

berinteraksi dengan orang-orang di lingkungan sekolah. Sedangkan di

lingkungan sekolah siswa dituntut mampu berkomunikasi dengan baik dengan

warga sekolah yakni guru, staf tata usaha dan teman sebaya, maupun personil

sekolah lainnya.

Slameto (2003:68) mengatakan bahwa metode mengajar guru yang kurang

berinteraksi dengan siswa secara akrab, akan menyebabkan proses

belajar-mengajar kurang lancar, siswa akan merasa jauh dari guru, sehingga

menyebabkan siswa enggan berpartisipasi secara aktif dalam proses

pembelajaran. Sikap siswa yang akhirnya kurang berpartisipasi aktif dalam

kegiatan belajar tersebut merupakan salah satu interaksi sosial yang rendah.

Selain itu, apabila ketika siswa yang ingin bertanya namun guru

memarahinya, maka akan berdampak pada perilaku siswa yang selanjutnya

mungkin saja tidak berani lagi untuk bertanya bahkan dalam hal lain,

(21)

mereka menjadi marah di dalam kelas. Hal-hal seperti itu harus diperhatikan

dalam pola mengajar guru karena akan membawa dampak terhadap perilaku

siswa yang selanjutnya bisa saja berdampak terhadap prestasi belajar siswa.

Berdsarkan uraian diatas, maka penulis memberikan suatu alternatif penyelesaian terhadap permasalahan tersebut. Salah satu cara yang dapat digunakan dalam meningkatkan interaksi sosial siswa dengan menggunakan teknik assertive training. Satu solusi dari pendekatan behavior yang notabene dengan cepat mencapai popularitas adalah assertive training.

Dalam teknik konseling assertive training, individu dapat melatih dirinya dalam mengungkapkan perasaan yang ia rasakan yang selama ini ia pendam. Teknik ini membantu individu mengatakan “tidak” dan meningkatkan penghargaan terhadap dirinya. Dengan hal ini telah terbentuk, maka interaksi sosial menjadi lebih lancar. Karena dengan assertive training ini, dapat berhubungan dengan individu lain dengan konflik, kekhawatiran dan penolakan yang lebih sedikit dan membantu individu mengungkapkan rasa kasih dan respon-respon positif yang lain.

(22)

5

interaksi sosialnya terhadap teman-temannya dan warga sekolah yang lain dapat berkurang.

Jadi teknik yang diajarkan dalam assertive training sangat bermanfaat sebagai salah satu penyelesaian masalah, untuk berbagai macam karakteristik kepribadian yang unik, dapat digunakan untuk banyak hal, diantaranya adalah meningkatkan kemampuan interaksi sosial siswa.

Menurut Corey (2009) pendekatan behavioral berupa assertive training ini bisa diterapkan terutama pada situasi interpersonal dimana individu mengalami kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa menyatakan atau menegaskan diri adalah tindakan yang layak atau benar. Pendapat tersebut didukung oleh Lutfi (2007) yang menyatakan bahwa assertive training merupakan latihan keterampilan sosial yang diberikan pada individu yang diganggu kecemasan, tidak mampu mempertahankan hak-haknya, terlalu lemah, membiarkan orang lain merongrong dirinya, tidak mampu mengekspresikan amarahnya dengan benar dan cepat tersinggung.

(23)

Berpedoman pada observasi awal yang dilakukan di SMAN 2

Muhammadiyah Bandar Lampung, tepatnya pada kelas XI IPS, penulis

mendapatkan bahwa ada siswa yang terisolir dari teman sekelasnya, hal ini

ditandai dengan kecenderungan siswa diam dan menyendiri dan kurang suka

berkumpul dengan teman-temannya pada saat jam belajar mengajar

berlangsung dan pada waktu jam istirahat, ada siswa yang susah

mengemukakan pendapat dimuka umum, baik dalam kelas maupun

lingkungan sekolah, ada siswa yang sulit bekerja dalam kelompok, hal ini

ditandai dengan kurang aktifnya siswa dalam diskusi kelompok, ada siswa

yang suka bertindak semena-mena terhadap teman sekelasnya, dan dengan

sesuka hatinya meminta temannya yang untuk melakukan pekerjaan kelas.

Hal-hal tersebut merupakan bagian dari interaksi sosial siswa dengan teman

sebaya yang rendah di lingkungan sekolahnya.

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Meningkatkan Kemampuan Interaksi

(24)

7

1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, dapat terlihat masalah dalam penelitian ini adalah rendahnya interaksi sosial siswa, maka dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut:

1. Siswa masih takut mengungkapkan yang ia rasakan dikarenakan menghindari terjadinya konflik satu sama lain

2. Ada siswa yang suka menyendiri dari teman-temannya.

3. Siswa kurang mampu mengemukakan pendapat dengan penuh keyakinan dihadapan teman sebayanya

4. Terdapat siswa yang tidak mau bertegur sapa terlebih dahulu apabila

bertemu dengan guru dan teman-temannya

5. Ada siswa yang sulit bekerja sama dalam suatu kelompok

6. Ada siswa yang semena-mena terhadap teman sekelasnya

2. Pembatasan Masalah

(25)

Kemampuan Interaksi Sosial Siswa Melalui Assertive Training di SMA Muhammadiyah 2 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2013-2014”.

3. Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, maka rumusan masalah dalam

penelitian ini yaitu “Apakah dapat meningkatkan kemampuan interaksi

sosial dengan menggunakan teknik assertive training pada siswa kelas XI

IPS di SMA Muhammadiyah 2 Bandar Lampung tahun pelajaran 2013 –

2014?”.

B. Tujuan Penelitian dan Kegunaan

1. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan interaksi sosial siswa melalui assertive training di SMA Muhammadiyah 2 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2013 – 2014.

2. Kegunaan Penelitian

Manfaat penelitian ini dapat dilihat dari segi teoritis dan praktis yaitu sebagai berikut:

1. Secara teoritis

(26)

9

tentang peningkatan interaksi sosial pada siswa SMA Muhammadiyah 2 Bandar Lampung.

2. Secara Praktis

Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan, sumbangan informasi dan pemikiran bagi guru bimbingan konseling di sekolah, guru bidang studi, dan terhadap siswa di SMA Muhammadiyah 2 Bandar Lampung mengenai peningkatan interaksi sosial siswa melalui teknik assertive training.

C. Ruang Lingkup Penelitian

Dalam hal ini penulis membatasi ruang lingkup penelitian ini agar penelitian lebih jelas dan tidak menyimpang dari tujuan yang telah ditetapkan, diantaranya adalah;

1. Ruang lingkup ilmu

Penelitian ini termasuk dalam ruang lingkup ilmu bimbingan dan konseling.

2. Ruang lingkup objek

(27)

3. Ruang lingkup subjek

Ruang lingkup subjek penelitian ini adalah siswa SMA Muhammadiyah 2 Bandar Lampung kelas XI pada jurusan IPS.

4. Ruang lingkup wilayah

Ruang lingkup wilayah dalam penelitian ini adalah SMA Muhammadiyah 2 Bandar Lampung.

5. Ruang lingkup waktu

Ruang lingkup waktu dalam penelitian ini dilakukan pada semester genap tahun pelajaran 2013-2014.

D. Kerangka Pikir

Kerangka pikir merupakan gambaran mengenai hubungan antarvariabel dalam

suatu penelitian, yang diuraikan oleh jalan pikiran melalui kerangka logis.

Kerangka pikir memuat teori, dalil, atau konsep-konsep yang akan dijadikan

dasar dalam penelitian.

Siswa adalah makhluk sosial yang merupakan anggota masyarakat, setiap

siswa hendaknya memiliki kemampuan interaksi sosial yang baik, terutama di

(28)

11

digunakan untuk berinteraksi dengan orang-orang yang berada di lingkungan

sekolahnya, baik itu dengan teman sebaya, guru atau warga sekolah lainnya.

Namun tidak sedikit siswa yang mengalami hambatan dalam berkomunikasi,

disadari ataupun tidak. Sehingga kelancaran ia dalam berinteraksi sangat

kurang. Untuk membantu siswa mengungkapkan apa yang dirasakan,

diinginkan, dan membantu siswa meningkatkan kemampuannya

mengekspresikan dirinya dengan nyaman dalam berbagai situasi sosial.

Dengan interaksi yang baik kepada teman sebaya serta kepada pendidik di

sekolah, secara tidak langsung siswa mampu meningkatkan prestasi belajar

siswa. Semakin ia aktif dalam proses belajar mengajar, maka semakin baik

materi yang ia dapatkan.

Namun jika siswa tidak mampu berinteraksi dengan baik, maka ia akan

memiliki rasa takut dalam menanyakan pelajaran yang belum ia mengerti.

Dan bahkan ia ragu bertanya dengan temannya sendiri. Hal ini membuktikan

bahwa interaksi sosial memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari.

Pernyataan tersebut sejalan dengan pernyataan Slameto (2003:54) bahwa

faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar itu banyak jenisnya, namun

dapat digolongkan menjadi dua, yaitu internal dan eksternal. Salah satu faktor

dari faktor eksternal adalah faktor sekolah yang didalamnya termuat interaksi

(29)

Masalah dalam penelitian ini adalah interaksi sosial. Berdasarkan penelitian

pendahuluan pada siswa SMA Muhammadiyah 2 Bandar Lampung, masalah

dalam interaksi sosial juga sering ditemukan pada siswa, seperti siswa masih

takut mengungkapkan yang ia rasakan dikarenakan ia menghindari konflik,

adapula siswa yang enggan bertegur sapa dengan guru, terdapat siswa yang

terisolir dari rekan-rekannya.

Pada penelitian ini, peneliti mencoba mengemukakan alternatif lain untuk menyelesaian permasalahan tersebut yaitu melalui teknik assertive training. Corey (2009:215) menjelaskan bahwa:

assertive training (latihan asertif) merupakan penerapan latihan tingkah laku dengan sasaran membantu individu-individu dalam mengembangkan cara-cara berhubungan yang lebih langsung dalam situasi-situasi interpersonal. Fokusnya adalah mempraktekkan melalui permainan peran, kecakapan-kecakapan bergaul yang baru diperolah sehingga individu-individu diharapkan mampu mengatasi ketakmemadaiannya dan belajar mengungkapkan perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran mereka secara lebih terbuka disertai keyakinan bahwa mereka berhak untuk menunjukkan reaksi-reaksi yang terbuka itu.

(30)

13

penguat dalam situasi interpersonal melalui suatu ekspresi perasaan atau keinginan.

Menurut Corey (1995:8) menyatakan bahwa asumsi dasar dari pelatihan asertifitas adalah bahwa setiap orang mempunyai hak untuk mengungkapkan perasaannya, pendapat apa yang diyakini serta sikapnya terhadap orang lain dengan tetap menghormati dan menghargai hak-hak orang tersebut.

Dapat disimpulkan bahwa asertivitas merupakan suatu kemampuan individu

untuk mengungkapkan apa yang diinginkan, dirasakan dan dipikirkan dengan

jujur pada orang lain namun tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta

perasaan orang lain yang tujuan dari sikap asertif adalah untuk menyenangkan

orang lain dan menghindari konflik dengan segala akibatnya.

Melalui assertive training kurang tegasnya siswa yang menjadi kurang efektifnya interaksi sosial siswa dapat diubah menjadi lebih asertif sehingga siswa bisa memiliki kemampuan interaksi sosial yang lebih baik, sehingga interaksi sosial siswa pun terbentuk dan meningkat menjadi lebih baik. Dan siswa yang memiliki sikap agresif dapat mengendalikan dirinya sehingga ia mampu berinteraksi menjadi lebih baik lagi.

Berdasarkan uraian tersebut, maka muncul kerangka pikir untuk melihat

apakah kemampuan interaksi sosial siswa dapat ditingkatkan dengan

menggunakan teknik assertive training. Untuk lebih memperjelas maka

(31)

Gambar 1.1. Alur kerangka pikir

E. Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah terdapat peningkatan kemampuan interaksi sosial setelah diberi teknik assertive training pada siswa kelas XI IPS SMA Muhammadiyah 2 Bandar Lampung tahun pelajaran 2013-2014.

Berdasarkan hipotesis penelitian tersebut, maka hipotesis statistik yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Ho : Kemampuan interaksi sosial tidak dapat ditingkatkan pada siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 2 Bandar Lampung tahun pelajaran 2013-2014 dengan menggunakan teknik assertive training.

Ha : Kemampuan interaksi sosial dapat ditingkatkan pada siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 2 Bandar Lampung tahun pelajaran 2013-2014 dengan menggunakan teknik assertive training.

Penggunaan teknik

Assertive Training

Rendahnya interaksi sosial siswa

(32)

II. TINJAUAN PUSTAKA

Penelitian ini berjudul “Meningkatkan Kemampuan Interaksi Sosial Siswa

Dengan Menggunakan Assertive Training di SMA Muhammadiyah 2 Bandar Lampung”. Untuk itu teori yang sesuai dengan penelitian yang akan dilaksanakan, yaitu hal – hal yang berhubungan dengan interaksi sosial dan teknik assertive training, serta keterkaitan antara interaksi sosial dengan teknik assertive training.

A. Interaksi Sosial

A.1. Pengertian Interaksi Sosial

(33)

proses sosial karena tanpa adanya interaksi sosial, maka kegiatan– kegiatan antar satu individu dengan yang lain tidak dapat disebut interaksi.

Newcomb (dalam Santoso, 2010:163) mengatakan bahwa interaksi sosial

adalah peristiwa yang kompleks, termasuk tingkah laku yang berupa

rangsangan dan reaksi keduanya, dan yang mungkin mempunyai satu arti

sebagai rangsangan dan yang lain sebagai reaksi.

Sargent (dalam Santoso, 2010:164) mengatakan bahwa interaksi sosial

dapat diterangkan sebagai suatu fungsi individu yang ikut berpartisipasi /

ikut serta dalam situasi sosial yang mereka setujui.

Sutherland (dalam Santoso, 2010:164) menyatakan bahwa interaksi

sosial adalah suatu hubungan yang mempunyai pengaruh secara dinamis

antara individu dengan individu dan antara individu dengan kelompok

dalam situasi sosial.

(34)

17

secara aktif. Dalam interaksi juga lebih dari sekedar terjadi hubungan antara pihak- pihak yang terlibat melainkan terjadi saling mempengaruhi.

A.2. Faktor Yang Mempengaruhi Interaksi Sosial

Menurut Soekanto (2010: 54), proses interaksi sosial yang terjadi dalam masyarakat bersumber dari beberapa faktor, yaitu :

1. Faktor Imitasi

(35)

meniru perilaku individu lain yang tidak baik atau menyimpang dari nilai dan norma yang berlaku dimasyarakat.

2. Faktor Sugesti

Sugesti merupakan suatu proses dimana seorang individu menerima suatu cara pandangan tingkah laku dari orang lain tanpa kritik terlebih dahulu. Akibatnya, pihak yang dipengaruhi akan tergerak mengikuti pandangan itu dan menerimanya secara sadar atau tidak sadar tanpa berpikir panjang. Karena itu dalam psikologi, dibedakan menjadi dua:

a. Auto-sugesti, yaitu sugesti terhadap diri yang datang dari dirinya sendiri

b. Hetero-Sugesti, yaitu sugesti yang datang dari orang lain.

Dalam ilmu sosial, sugesti dapat dirumuskan sebagai suatu proses dimana seseorang individu menerima suatu cara penglihatan, atau pedoman tingkah laku dari orang lain tanpa kritik terlebih dahulu. Sugesti akan mudah terjadi apabila memenuhi syarat-syarat berikut:

1) Sugesti karena hambatan berfikir

(36)

19

lelah berfikirnya, atau kalau individu itu terkena stimulus yang bersifat emosionil. Orang yang berjam-jam rapat biasanya telah lelah dan enggan berfikir secara berat, sehingga dalam keadaan demikian ini individu akan mudah menerima pendapat atau sugesti dari pihak lain.

2) Sugesti karena keadaan pikiran yang terpecah belah

Orang itu akan mudah juga menerima sugesti dari orang lain apabila kemampuan berpikirnya terpecah belah. Orang yang sedang mengalami kebingungan pada umumnya akan mudah menerima apa yang dikemukakan oleh orang lain tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Secara psikologis, orang yang sedang mengalami kebingungan ingin segera mencari pegangan untuk mengakhiri kebingungan itu. Selama individu mengalami kebingungan, maka selama itulah jiwanya terpecah belah. Kalau andai kata keadaan masyarakat dalam keadaan kebingungan, maka hal ini memberikan suasana yang menguntungkan untuk memberikan sugesti - sugesti yang berupa pandangan-pandangan, pendapat-pendapat, norma-norma, dan sebagainya.

3) Sugesti Karena Mayoritas

(37)

golongan itu menyetujui pendapat atau pandangan tersebut. Orang akan merasa terasing apabila ia menolak pendapat atau pandangan tersebut.

Orang akan beranggapan karena sebagian besar dari anggota telah menyetujuinya, maka ia akan merasa terasing atau tersingkir jika tidak ikut menerimanya.

4) Sugesti karena will to believe

Bila dalam diri individu telah ada pendapat yang mendahuluinya dan pendapat ini masih dalam keadaan yang samar dan pendapat tersebut searah dengan apa yang disugestikan, maka pada umumnya orang itu akan mudah menerima pendapat tersebut. Orang yang ada dalam keadaan ragu-ragu akan mudah menerima sugesti dari pihak lain. Dengan demikian, segesti itu akan meyakinkan tentang pendapatnya yang masih dalam keadaan samar-samar.

3. Faktor Identifikasi

(38)

21

Awalnya anak mengidentifikasi dirinya sendiri dengan orang tuanya, tetapi lambat laun setelah dewasa, identifikasinya dapat beralih dari orang tuanya kepada orang yang berwatak luhur, dan sebagainya. Timbul persoalan: apakah bedanya identifikasi dengan imitasi? Imitasi dapat berlangsung antara orang-orang yang tidak mengenal, sedangkan identifikasi perlu dimulai lebih dahulu dengan teliti sebelum mereka mengidentifikasi dirinya.

4. Faktor Simpati

Simpati adalah perasaan tertariknya orang yang satu terhadap orang lain. Simpati timbul tidak atas dasar logis rasionil, melainkan berdasarkan penilaian perasaan seperti juga pada proses identifikasi. Bahkan orang dapat tiba-tiba merasa tertarik kepada orang lain dengan sendirinya karena keseluruhan cara-cara bertingkah laku menarik baginya.

(39)

Simpati dapat dirumuskan sebagai perasaan tertariknya orang yang satu terhadap orang lain. Seperti pada proses identifikasi, proses simpati pun kadang-kadang berjalan tidak atas dasar logis rasionil, melainkan berdasarkan penilaian perasaan. Tertariknya ini bukan pada salah satu ciri tertentu dengan orang itu, tetapi keseluruhan pola tingkah lakunya.

Dengan demikian simpati hanya berlangsung dan berkembang dalam relasi kerja sama antara dua orang atau lebih terdapat saling pengertian.

Simpati terbagi menjadi 2 bentuk, yaitu:

a) Yang menimbulkan respon yang cepat hampir seperti refleks, misalnya kalau kita melihat orang dipukul dengan keras kita merasa ngeri. Hal seperti ini kita rasakan penderitaan orang lain seperti terjadi dengan diri sendiri. Pertama kita hanya kita merasa takut bila dipukul dan akhirnya apabila kita melihat persoalan yang sama lalu kita asosiasikan dengan pengalaman yang menakutkan kita.

(40)

23

A.3. Syarat Interaksi Sosial

Interaksi sosial merupakan fondasi dari hubungan yang berupa tindakan yang berdasarkan norma dan nilai sosial yang berlaku dan diterapkan didalam masyarakat. Dengan adanya nilai dan norma yang berlaku, interaksi sosial itu sendiri dapat berlangsung dengan baik jika aturan-aturan dan nilai-nilai yang ada dapat dilakukan dengan baik. Jika tidak adanya kesadaran atas pribadi masing-masing, maka proses sosial tersebut tidak dapat berjalan sesuai dengan yang kita harapkan. Didalam kehidupan sehari-hari dibutuhkan interaksi sosial.

Menurut Soekanto (2010:58) interaksi sosial tidak mungkin terjadi tanpa adanya dua syarat, yaitu kontak sosial dan komunikasi.

a. Kontak Sosial

Kata “kontak” (Inggris: “contact") berasal dari bahasa Latin con atau

cum yang artinya bersama-sama dan tangere yang artinya menyentuh.

(41)

1. Kontak sosial dapat bersifat positif atau negatif. Kontak sosial positif mengarah pada suatu kerja sama, sedangkan kontak sosial negatif mengarah pada suatu pertentangan atau konflik.

2. Kontak sosial dapat bersifat primer atau sekunder. Kontak sosial primer terjadi apabila para peserta interaksi bertemu muka secara langsung. Misalnya, kontak antara guru dan murid di dalam kelas, penjual dan pembeli di pasar tradisional, atau pertemuan ayah dan anak di meja makan. Sementara itu, kontak sekunder terjadi apabila interaksi berlangsung melalui suatu perantara. Misalnya, percakapan melalui telepon. Kontak sekunder dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Kontak sekunder langsung misalnya terjadi saat ketua RW mengundang ketua RT datang ke rumahnya melalui telepon. Sementara jika Ketua RW menyuruh sekretarisnya menyampaikan pesan kepada ketua RT agar datang ke rumahnya, yang terjadi adalah kontak sekunder tidak langsung.

b. Komunikasi

(42)

25

1. Komunikator, yaitu orang yang menyampaikan pesan, perasaan, atau pikiran kepada pihak lain.

2. Komunikan, yaitu orang atau sekelompok orang yang dikirimi pesan, pikiran, atau perasaan.

3. Pesan, yaitu sesuatu yang disampaikan oleh komunikator. Pesan dapat berupa informasi, instruksi, dan perasaan.

4. Media, yaitu alat untuk menyampaikan pesan. Media komunikasi dapat berupa lisan, tulisan, gambar, dan film.

5. Efek, yaitu perubahan yang diharapkan terjadi pada komunikan, setelah mendapatkan pesan dari komunikator.

Ada tiga tahap penting dalam proses komunikasi. Ketiga tahap tersebut adalah sebagai berikut.

- Encoding

(43)

- Penyampaian

Pada tahap ini, istilah atau gagasan yang sudah diwujudkan dalam bentuk kalimat dan gambar disampaikan. Penyampaian dapat berupa lisan, tulisan, dan gabungan dari keduanya.

- Decoding

Pada tahap ini dilakukan proses mencerna dan memahami kalimat serta gambar yang diterima menurut pengalaman yang dimiliki.

A.4. Bentuk – Bentuk Interaksi Sosial

Menurut Deuttch serta Park dan Buergess (dalam Santoso, 2010:191),

bentuk-bentuk interaksi sosial yang dapat saja terjadi dalam sebuah

situasi sosial ataupun kelompok sosial. meliputi:

a) Kerjasama (Coorporation) b) Persaingan (Competition) c) Pertentangan (Conflict) d) Persesuaian (Acomodation) e) Perpaduan (Assimilation)

Bentuk-bentuk tersebut dapat lebih dijelaskan sebagai berikut:

a) Kerja Sama (Coorporation)

Menurut Sargent (Santoso, 2010:191), kerja sama adalah usaha yang

dikoordinasikan yang ditujukan kepada tujuan yang dapat dipisahkan.

(44)

27

kekurangmampuan individu untuk memenuhi kebutuhan dengan usaha

sendiri sehingga individu yang bersangkutan memerlukan bantuan

individu lain.

Dari uraian tersebut dapat diketahui bahwa kerja sama merupakan bentuk

interaksi sosial yang positif, dimana dibutuhkan rasa saling memahami

dan kekompakan dalam melakukan sebuah kerja sama.

b) Persaingan (Competition)

Deuttch (dalam Santoso, 2010:193) menyatakan bahwa,

“persaingan adalah bentuk interaksi sosial di mana seseorang

mencapai tujuan, sehingga individu lain akan dipengaruhi untuk mencapai tujuan mereka. Dalam persaingan, setiap individu dapat mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan cara mereka masing-masing tanpa lepas dari pengaruh individu lain.”

Suatu persaingan pasti terjadi dalam interaksi sosial, karena setiap

individu yang berada dalam suatu situasi sosial itu pasti memiliki tujuan

yang ingin mereka capai, dimana tujuan individu itu bisa saja sama

dengan individu lain yang berada dalam kelompok sosial yang sama.

Misalnya, persaingan dalam memperebutkan juara kelas, tentu saja siswa

akan bersaing baik melalui nilai-nilai tugas, ujian dan kegiatan-kegiatan

belajar yang diadakan di kelasnya untuk menjadi yang terbaik, dan dalam

hal itu tentu saja tidak terlepas dari interaksi siswa itu baik dengan teman

(45)

c) Pertentangan (Conflict)

Sargent (dalam Santoso, 2010:194) memberi pengertian bahwa,

“konflik adalah proses yang berselang-seling dan terus-menerus

serta mungkin timbul pada beberapa waktu, lebih stabil berlangsung dalam proses interaksi sosial. Lebih lanjut, konflik dapat mengarah pada proses penyerangan karena adanya beberapa

sebab seperti kekecewaan dan kemarahan.”

Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa sebuah konflik itu bisa saja

muncul dalam suatu hubungan, maka individu diharapkan dapat

mengatasi konflik tersebut agar tidak berkepanjangan dan menyebabkan

pertengkaran sehingga proses interaksi sosial dapat berjalan dengan baik.

d) Persesuaian (Acomodation)

Sargent (dalam Santoso, 2010:195) mengemukakan bahwa persesuaian

adalah suatu proses peningkatan untuk saling beradaptasi atau

penyesuaian. Tujuan persesuaian menurut Santoso (2010:195) antara lain:

1) Untuk mengurangi pertentangan antarindividu/kelompok karena adanya perbedaan.

2) Untuk mencegah meledaknya pertentangan yang bersifat sementara.

3) Untuk memungkinkan adanya kerja sama antarkelompok. 4) Untuk mengadakan integrasi antarkelompok sosial yang

saling terpisah.

Dari uraian tersebut maka persesuaian itu sangat penting untuk disadari

dan dilakukan dalam sebuah interaksi agar interaksi dapat berjalan

(46)

29

menimbulkan suatu kerja sama yang baik antarindividu maupun

antarkelompok.

e) Perpaduan (Assimilation)

Sargent (dalam Santoso, 2010:197) mengemukakan bahwa,

“Perpaduan adalah suatu proses saling menekan dan melebur

dimana seseorang atau kelompok memperoleh pengalaman, perasaan dan sikap dari individu dalam kelompok lain. Perpaduan ini memberi gambaran tentang penerimaan pengalaman, perasaan dan sikap oleh individu/kelompok lain, sehingga hal ini

mempercepat proses perpaduan.”

Menurut Santoso (2010:199), terdapat dua bentuk perpaduan antara lain

yaitu Alienation dan Stratification.

1) Alienation, yaitu suatu bentuk perpaduan di mana individu-individu kurang baik di dalam interaksi sosial. Misalnya, perpaduan antara orang kulit putih dan orang kulit hitam. 2) Stratification, yaitu suatu proses di mana individu yang

mempunyai kelas, kasta, kedudukan, memberi batas yang jelas dalam kehidupan masyarakat. Misalnya, kehidupan kasta di Bali.

Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa perpaduan adalah dimana

terdapat hal yang beragam atau kelompok yang berbeda dalam suatu

konteks sosial. Interaksi sosial yang baik akan mencerminkan perilaku

(47)

A.5. Kriteria untuk Menganalisis Proses Interaksi Sosial

Dalam menentukan kriteria untuk menganalisis proses intraksi sosial,

Bales (Santoso, 2010:181) menempuh langkah-langkah sebagai berikut:

a) Bidang-bidang proses interaksi sosial yang meliputi:

(1) Bidang sosio-emosional yang berupa reaksi-reaksi positif, yang

meliputi: (i) menunjukkan solidaritas, member hadiah; (ii)

menunjukkan ketegangan positif, kepuasan, tatanan;(iii)

menunjukkan persetujuan, pengertian, penerimaan.

(2) Bidang-bidang tugas untuk memberi jawaban, meliputi: (i)

memberi saran, tujuan; (ii) memberi pendapat, penilaian; (iii)

member orientasi, informasi.

(3) Bidang-bidang tugas untuk meminta tugas, meliputi: (i) meminta

saran, nasihat; (ii) meminta pendapat, penilaian; (iii) meminta

orientasi, informasi

(4) Bidang-bidang serta emosional yang berupa reaksi-reaksi negatif

yang meliputi: (i) menunjukkan pertentangan, mempertahankan

pendapat sendiri; (ii) menunjukkan ketegangan, acuh tak acuh;

(iii) menunjukkan ketidak setujuan, penolakan.

b) Analisis proses interaksi sosial

Bales (Santoso, 2010:182) menganalisis proses interaksi sosial

dengan menyusun bidang-bidang proses interaksi sosial agar mudah

(48)

31

proses interaksi sosial dengan profile analysis/ analisis tingkah laku.

Analisis tingkah laku tersebut mengukur tentang solidaritas,

kepuasan, persetujuan, memberi saran, memberi pendapat, meminta

informasi, meminta pendapat, meminta saran, ketidaksetujuan,

ketegangan dan pertentangan. Analisis tersebut dapat dibuat

menggunakan diagram.

B. Assertive Training

B.1. Pengertian Assertive Training

Assertive training merupakan salah satu teknik dalam terapi behavioral.

Menurut Willis (2004:69) terapi behavioral berasal dari dua arah konsep

yakni Pavlovian dari Ivan Pavlov dan Skinerian dari B.F Skinner.

Mula-mula terapi ini dikembangkan oleh Wolpe untuk menanggulangi neurosis.

Neurosis dapat dijelaskan dengan mempelajari perilaku yang tidak adaptif

melalui proses belajar. Dengan kata lain perilaku yang menyimpang

bersumber dari hasil belajar di lingkungan.

Asertivitas merupakan suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa

yang diinginkan, dirasakan dan dipikirkan pada orang lain namun tetap

(49)

setiap orang mempunyai hak untuk mengungkapkan perasaannya, pendapat, apa yang diyakini serta sikapnya terhadap orang lain dengan tetap menghormati dan menghargai hak-hak orang tersebut. Dapat dikatakan bahwa latihan asertif merupakan latihan keterampilan-sosial yang diberikan pada individu yang diganggu kecemasan, tidak mampu mempertahankan hak-haknya, terlalu lemah, membiarkan orang lain merongrong dirinya, tidak mampu mengekspresikan amarahnya dengan benar dan cepat tersinggung.

Assertiveness adalah sifat orang yang terbuka (proaktif) dan dapat

langsung mengemukakan keterbukaan diri. Sifat ini cenderung untuk memimpin daripada mengikuti dan serta merta dapat bertindak apabila memungkinkan. Tipe asertif akan cepat merasa mendapat kesempatan yang tidak boleh disia-siakan, mandiri dalam bertindak, cenderung memberi perintah daripada melakukan sendiri. Lebih memberikan instruksi dibandingkan kerjasama.

(50)

33

B.2. Kelebihan dan Kekurangan Assertive Training

Seperti halnya teknik yang lain, Assetive Training juga memiliki

kelebihan dan kekurangan. Kekurangan dan kelebihan yang terdapat

dalam pelatihan ketegasan ini sebagai berikut:

1. Kelebihan assertive training

a. Melatih individu yang tidak dapat menyatakan kemarahan dan

kejengkelan

b. Melatih individu yang mempunyai kesulitan untuk berkata tidak

dan yang membiarkan orang lain memanfaatkannya

c. Melatih individu yang merasa bahwa dirinya tidak memiliki hak

untuk menyatakan pikiran, kepercayaan, dan

perasaan-perasaannya

d. Melatih individu yang sulit mengungkapkan rasa kasih dan

respon-repon positif yang lain

Dari beberapa kelebihan assertive training (pelatihan ketegasan) ini

dapat disimpulkan bahwa teknik ini dapat melatih individu yang tidak

punya keberanian menyampaikan keinginannya sehingga menjadi

percaya diri dan memiliki keberanian untuk mengungkapkan apa yang

ia rasakan dan pikirkan namun tetap dapat menjaga perasaan orang

lain yang menjadi lawan bicaranya.

2. Kelemahan assertive training

a. Perasaan takut menyakiti

(51)

Dari beberapa kelemahan pelatihan ketegasan ini dapat disimpulkan bahwa jika seorang individu belum mampu menguasai dirinya, hal ini akan menjadi ketakutan yang timbul dari dirinya, seperti ia takut akan dijauhi oleh temannya, takut terjadi konflik dan takut menyakiti perasaan lawan bicaranya.

Biasanya hal tersebut dikatakan sebagai hambatan mental.

hambatan-hambatan mental untuk bersikap dan bertindak lugas juga

harus dapat dibuang atau dikurangi. Hambatan mental untuk bersikap

lugas biasanya bersumber dari pikiran-pikiran irasional dan irealistik

yang sebelumnya dalam jangka waktu lama telah terinternalisasi tanpa

kritik. Jadi dengan pemberian penguatan positif dalam pemikirannya

akan membuat seseorang tersebut mampu menguasai dirinya.

B.3. Tujuan Assertive Training

Teknik assertive training dalam pelaksanaannya tentu memiliki beberapa

tujuan yang ingin dicapai oleh konselor dan klien. Day (2008:338)

menjelaskan bahwa assertive training membantu klien belajar

kemandirian sosial yang diperlukan untuk mengekspresikan diri mereka

dengan tepat.

Sedangkan menurut Fauzan (2010), terdapat beberapa tujuan assertive

(52)

35

a. Mengajarkan individu untuk menyatakan diri mereka dalam suatu cara sehingga memantulkan kepekaan kepada perasaan dan hak-hak orang lain;

b. Meningkatkan keterampilan perilakunya sehingga mereka bisa menentukan pilihan apakah pada situasi tertentu perlu berperilaku seperti apa yang diinginkan atau tidak;

c. Mengajarkan pada individu untuk mengungkapkan diri dengan cara sedemikian rupa sehingga terefleksi kepekaanya terhadap perasaan dan hak orang lain;

d. Meningkatkan kemampuan individu untuk menyatakan dan mengekspresikan dirinya dengan enak dalam berbagai situasi sosial;

e. Menghindari kesalahpahaman dari pihak lawan komunikasi.

Berdasarkan paparan diatas, dapat disimpulkan bahwa tujuan assertive training adalah untuk melatih individu mengungkapkan dirinya,

mengemukakan apa yang dirasakan dan menyesuaikan diri dalam berinteraksi tanpa adanya rasa cemas karena setiap individu mempunyai hak untuk mengungkapkan perasaan, pendapat, apa yang diyakini serta sikapnya. Dengan demikian individu dapat menghindari terjadinya kesalahpahaman dalam berkomunikasi.

B.4. Manfaat Assertive Training

Setiap pelatihan yang diberikan tentu tidak hanya sebagai pelatihan, namun pasti memiliki berbagai manfaat bagi individu yang mendapatkan pelatihan tersebut. Menurut pendapat Corey (2009:213), manfaat latihan asertif yaitu membantu bagi orang-orang yang:

(53)

b. menunjukkan kesopanan yang berlebihan dan selalu mendorong orang lain untuk mendahuluinya ;

c. memiliki kesulitan untuk mengatakan “tidak”;

d. mengalami kesulitan untuk mengungkapkan afeksi dan respon-respon positif lainnya merasa tidak punya hak untuk memiliki perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran sendiri.

Berdasarkan pendapat yang telah disebutkan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa manfaat latihan asertif adalah membantu peningkatan kemampuan mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan dan dipikirkan pada orang lain namun tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan orang lain.

B.5. Tahapan Pelaksanaan Assertive Training

Prosedur adalah tata cara melakukan suatu instruksi. Pelaksanaan

assertive training memiliki beberapa tahapan atau prosedur yang akan

dilalui ketika pelaksanaan latihan. Pada umumnya teknik untuk

melakukan latihan asertif, mendasarkan pada prosedur belajar dalam diri

seseorang yang perlu diubah, diperbaiki dan diperbarui. Masters (dalam

Gunarsih, 2007:217-220) meringkas beberapa jenis prosedur latihan

asertif, yakni:

1. Identifikasi terhadap keadaan khusus yang menimbulkan persoalan

(54)

37

2. Memeriksa apa yang dilakukan atau dipikirkan klien pada situasi

tersebut. Pada tahap ini, akan diberikan juga materi tentang

perbedaan perilaku agresif, asertif, dan pasif.

3. Dipilih sesuatu situasi khusus dimana klien melakukan permainan

peran (role play) sesuai dengan apa yang ia perlihatkan.

4. Diantara waktu-waktu pertemuan, konselor menyuruh klien melatih

dalam imajinasinya, respon yang cocok pada beberapa keadaan.

Kepada mereka juga diminta menyertakan pernyataan diri yang

terjadi selama melakukan imajinasi. Hasil apa yang dilakukan pasien

atau klien, dibicarakan pada pertemuan berikutnya.

5. Konselor harus menentukan apakah klien sudah mampu memberikan

respon yang sesuai dari dirinya sendiri secara efektif terhadap

keadaan baru, baik dari laporan langsung yang diberikan maupun dari

keterangan orang lain yang mengetahui keadaan pasien atau klien.

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa assertive training

merupakan terapi perilaku yang dirancang untuk mengembangkan

keterampilan-keterampilan individu yang diganggu kecemasan dengan

berbagai teknik yang ada agar individu tersebut dapat memiliki perilaku

(55)

C. Keterkaitan antara Interaksi Sosial dengan Assertive Training

Menurut Soekanto (2010: 58), interaksi sosial merupakan kunci semua kehidupan sosial. Dengan tidak adanya komunikasi ataupun interaksi antar satu sama lain maka tidak mungkin ada kehidupan bersama. Jika hanya fisik yang saling berhadapan antara satu sama lain, tidak dapat menghasilkan suatu bentuk kelompok sosial yang dapat saling berinteraksi. Maka dari itu dapat disebutkan bahwa interaksi merupakan dasar dari suatu bentuk proses sosial karena tanpa adanya interaksi sosial, maka kegiatan–kegiatan antar satu individu dengan yang lain tidak dapat disebut interaksi.

Interaksi sosial akan berlangsung apabila seorang individu melakukan tindakan dan dari tindakan tersebut menimbulkan reaksi individu yang lain. Interaksi sosial terjadi jika dua orang atau lebih saling berhadapan, bekerja sama, berbicara, berjabat tangan atau bahkan terjadi persaingan dan pertikaian.

Beberapa situasi peristiwa yang sering dialami seseorang saat berinteraksi

sosial diantaranya ialah ketika datang ke rumah mereka seorang salesman atau

salesgirl menawarkan setengah mendesak-desak agar tuan rumah bersedia

membeli apa yang mereka jajakan. Dengan setengah terpaksa tuan rumah

membeli barang yang ditawarkan sekalipun ia tidak membutuhkan. Dibelinya

barang itu, dan setelah itu ia menyesali perbuatannya. Tetapi bagaimana lagi,

ia merasa tidak enak kalau tidak membeli barang yang telah ditawarkan tadi.

Sebagian orang mungkin terpaksa diam saja, tidak mampu meminta haknya,

(56)

39

pengembaliannya kurang, mendapat pengembalian uang lusuh yang ia tidak

suka atau bahkan uang itu tidak laku kerena ada bagian yang robek

terpenggal. Sebagian yang lain lagi hanya mampu bersungut-sungut, berpaling

menutup hidung dan terbatuk-batuk ketika terganggu asap rokok orang lain.

Penggalan-penggalan ilustrasi di atas mencerminkan betapa sebagian orang

tidak memiliki sikap asertif dalam interaksi sosial. Keasertifan atau kelugasan

merupakan kemampuan untuk menyadari keinginan dan perasaan diri dan

untuk mempertahankan hak-hak diri tanpa perlu melanggar hak orang lain

dalam memenuhi kebutuhannya. Kemampuan untuk bersikap asertif (tegas)

adalah bagian penting dalam membuat batasan tentang diri sendiri dalam

suatu interaksi sosial. Dalam hal ini dapat dibuat perbedaaan yang jelas antara

keseganan, kepatuhan, agresi, dan asertif.

Assertive training (latihan ketegasan) banyak dibutuhkan orang yang selama

hidupnya acap kali diperdaya orang lain atau terlalu lemah untuk memperoleh

kejelasan batasan diri dan pengambilan sikap lugas, tegas, dalam berhubungan

dengan orang lain. Sikap asertif atau tegas yang berada diantara submisif

(dikendalikan, pasif) dan agresif untuk sebagian orang sulit ditentukan

posisinya untuk disikapi sehingga pemberian wawasan dan pengenalan

prosedur pelatihannya diperlukan. Idealnya assertive training diterapkan

dalam proses kelompok sebab dengan begitu dapat dihadirkan situasi yang

mendekati situasi nyata sebagaimana situasi sosial dalam kehidupan

(57)

Berdasarkan hal tersebut, maka diperkirakan diketahui bahwa interaksi sosial

erat kaitannya dengan assertive training. Hal itu dapat dilihat dari pengertian

asertif itu sendiri yaitu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang

diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain. Kemampuan untuk

berperilaku asertif tersebut sangat diperlukan dalam mengungkapkan apa yang

ia rasakan pada saat berada pada lingkungan sosial dan melakukan interaksi

sosial, sehingga diperlukan pelatihan asertif (assertive training) dalam upaya

(58)

41

O1 X O2

III. METODELOGI PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMA Muhammadiyah 2 Bandar Lampung yang berlokasi di Jalan Hi. Z. A. Pagaralam No. 14 Labuhan Ratu, Bandar Lampung. Waktu penelitian ini adalah pada tahun pelajaran 2013-2014.

B. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen semu (quasi eksperimental). Eksperimen semu yaitu untuk memperoleh informasi yang merupakan perkiraan bagi informasi yang dapat diperoleh dengan eksperimen yang sebenarnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol dan atau memanipulasikan semua semua variabel yang relevan. (Noor, 2011: 112).

Desain penelitian yang digunakan adalah One-Group Pretest-Posttest Design. Pada desain ini, adanya pretest sebelum diberikan perlakuan dan posttest setelah diberi perlakuan, dengan demikian hasil perlakuan dapat diketahui lebih akurat karena dapat dibandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan. Desain ini dapat digambarkan sebagai berikut ;

(59)

Keterangan :

O1 = Keadaan interaksi sosial siswa sebelum diberi perlakuan

X = Treatment/ perlakuan yang diberikan (teknik assertive training) O2 = Keadaan interaksi sosial siswa setelah diberi perlakuan

C. Variabel Penelitian

Variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian dari suatu penelitian dengan tujuan untuk memperoleh informasi agar bisa ditarik suatu kesimpulan. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode eksperimen semu.

Variabel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah variabel bebas (independen) dan variabel terikat (dependen), yaitu :

a. Variabel bebas (independen) adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel dependen (terikat). Biasanya dinotasikan dengan simbol X. Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu teknik assertive training.

b. Variabel terikat (dependen) adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Biasa dinotasikan dengan Y. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah interaksi sosial.

D. Definisi Operasional Variabel

(60)

43

operasional variabel merupakan uraian yang berisikan tentang sejumlah indikator yang dapat diamati dan diukur untuk mengidentifikasikan variabel atau konsep yang digunakan.

Definisi operasional interaksi sosial dalam penelitian ini adalah hubungan timbal balik antar individu dengan individu, kelompok dengan kelompok, dan individu dengan kelompok, dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya dan masing-masing orang yang terlibat di dalamnya memainkan peran secara aktif, yang sesuai dengan teori Bales (Santoso, 2010:181) yang ditandai indikatornya menggunakan beberapa bidang,

meliputi:

(1) Bidang sosio-emosional yang berupa reaksi-reaksi positif, yang

meliputi:

- menunjukkan solidaritas, memberi hadiah;

- menunjukkan ketegangan positif, kepuasan, tatanan;

- menunjukkan persetujuan, pengertian, penerimaan.

(2) Bidang-bidang tugas untuk memberi jawaban, meliputi:

- memberi saran, tujuan;

- memberi pendapat, penilaian;

- memberi orientasi, informasi.

(3) Bidang-bidang tugas untuk meminta tugas, meliputi:

- meminta saran, nasihat;

(61)

- meminta orientasi, informasi

(4) Bidang-bidang serta emosional yang berupa reaksi-reaksi negatif

yang meliputi:

- menunjukkan pertentangan, mempertahankan pendapat sendiri;

- menunjukkan ketegangan, acuh tak acuh;

- menunjukkan ketidak setujuan, penolakan.

Assertive training atau latihan asertif adalah suatu proses latihan keterampilan-sosial yang diberikan pada individu untuk membantu peningkatan kemampuan dalam mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan dan dipikirkan kepada orang lain namun tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan orang lain.

Adapun yang menjadi dasar pembuatan indikator dalam penelitian ini yang nantinya akan dipecah lagi menjadi deskriptor adalah sesuai ciri-ciri interaksi sosial, yaitu bidang sosio-emosional yang berupa reaksi-reaksi positif, bidang-bidang pemberian jawaban, bidang-bidang meminta tugas, serta emosional yang berupa reaksi-reaksi negatif.

E. Subyek Penelitian

(62)

45

Untuk mengetahui interaksi sosial siswa, peneliti melakukan wawancara kepada wali kelas dan observasi kepada siswa. maka diperoleh subyek penelitian sebanyak delapan siswa yang memiliki interaksi sosial yang rendah. Alasan peneliti menggunakan subyek penelitian adalah karena penelitian ini merupakan aplikasi layanan bimbingan kelompok untuk meningkatkan konsep diri positif siswa dan hasil dari proses bimbingan kelompok ini tidak dapat digeneralisasikan, antara subyek yang satu tidak dapat mewakili subyek yang lain karena setiap individu berbeda.

F. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang digunakan untuk memperoleh data atau informasi yang diperlukan, guna mencapai objektifitas yang tinggi. Untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:

1. Observasi

(63)

Tujuan observasi dalam penelitian ini adalah mendapatkan data diri subyek serta hal-hal yang berkaitan dengan rendahnya kemampuan interaksi sosial siswa, di dalam maupun di luar lingkungan sekolah.

Berikut ini merupakan kisi-kisi observasi yang akan menjadi pedoman peneliti dalam melakukan observasi:

Tabel 3.1 kisi-kisi pedoman observasi

Variabel Indikator Deskriptor

Interaksi 2. Perilaku memberikan

jawaban

2.1Memberikan saran 2.2Memberikan penilaian 2.3Memberikan orientasi 2.4Memberikan informasi 3. Perilaku meminta tugas 3.1Meminta saran

3.2 Meminta penilaian 4.3 Menunjukkan sikap acuh tak acuh 4.4 Menunjukkan ketidaksetujuan

(64)

47

observer. Untuk item pernyataan yang positif, skor 5 diberikan jika perilaku muncul sebanyak 4 kali atau lebih dari 4 kali, skor 4 jika muncul sebanyak 3 kali, skor 3 jika muncul sebanyak 2 kali, skor 2 jika perilaku muncul sebanyak 1 kali dan skor 1 jika perilaku sama sekali tidak muncul selama observasi. Untuk item pernyataan yang negatif, skor 1 diberikan jika perilaku muncul sebanyak 4 kali atau lebih dari 4 kali, skor 2 jika muncul sebanyak 3 kali, skor 3 jika muncul sebanyak 2 kali, skor 4 jika perilaku muncul sebanyak 1 kali dan skor 5 jika perilaku sama sekali tidak muncul selama observasi. Perhitungan skor pada lembar observasi dilakukan dengan menghitung skor total yang diperoleh muncul atau tidaknya perilaku yang diamati.

(65)

membantu saya melaksanakan penelitian ini sesuai petunjuk dari kepala sekolah. Lalu ditunjuklah ibu Rani sebagai guru BK penanggung jawab kelas XI. Setelah mengemukakan maksud dan tujuan, bu Rani memberikan masukan agar wali kelas sebagai observer kedua. Karena wali kelas memiliki kedekatan dengan murid yang akan menjadi subjek penelitian.

Peneliti melakukan wawancara kepada wali kelas, dan setelah mendapatkan nama-nama siswa, peneliti lalu bertanya dengan guru BK terkait nama-nama tersebut. Mengenai sikap selama di sekolah tersebut. Dari keterangan wali kelas dan guru BK, peneliti mulai melaksanakan observasi pertama (sebelum perlakuan), sebagai pretest.

Peneliti kemudian memanggil nama-nama tersebut untuk bertemu di ruang BK untuk berkenalan dan melaksanakan kesepakatan dalam kegiatan assertive training. Pada saat yang bersamaan, peneliti melakukan observasi kembali saat dan setelah pemberian treatment.

2. Wawancara

(66)

49

Peneliti menggunakan wawancara bebas terpimpin, yang dalam pelaksanaannya peneliti sudah membawa pedoman tentang apa saja yang ditanyakan secara garis besar.

Berikut merupakan kisi-kisi pedoman wawancara kepada wali kelas XI IPS 1, 2 dan 3:

Tabel 3.2 Kisi-kisi Wawancara

No. Identifikasi Masalah Pertanyaan

1

Siswa masih takut mengungkapkan yang ia rasakan karena ingin menghindari konflik

Apakah ada siswa yang masih merasa takut dan ragu-ragu untuk

mengungkapkan perasaannya karena ingin menghindari konflik?

2

Ada siswa yang suka menyendiri dari teman-temannya

Apakah sering bapak/ ibu lihat siswa yang masih menyendiri dan tidak bergabung dengan teman-temannya?

3

Siswa kurang mampu

mengemukakan pendapat di depan teman sebayanya

Seberapa sering bapak/ ibu melihat siswa yang masih kurang mampu mengungkapkan apa yang ia rasakan didepan teman-temannya?

4

Terdapat siswa yang tidak mau bertegur sapa terlebih dahulu apabila bertemu dengan guru dan teman-temannya

Jika berpapasan dengan bapak/ ibu, siapa saja siswa yang enggan bertegur sapa ?

5

Ada siswa yang sulit bekerjasama dalam satu kelompok

Saat diberikan tugas kelompok, apakah ada siswa yang mengalami kesulitan dalam kerjasama dengan

kelompoknya?

6

Ada siswa yang semena-mena terhadap teman sekelasnya

Gambar

Gambar 1.1. Alur kerangka pikir
Tabel 3.1 kisi-kisi pedoman observasi
Tabel 3.2 Kisi-kisi Wawancara

Referensi

Dokumen terkait

Zastrow mengemukakan dengan jelas tentang perbedaan bentuk atau ciri-ciri interaksi individu yang pasif, agresif dan asertif sebagai berikut;(1)dalam perilaku pasif,

Suatu persaingan pasti terjadi dalam interaksi sosial, karena setiap individu yang berada dalam suatu situasi sosial itu pasti memiliki tujuan yang ingin mereka

Dalam penelitian ini variabel terkait adalah percaya diri, jadi ada yang mempengaruhi variabel bebas yaitu layanan konseling kelompok dengan teknik assertive training dan

training yang bertujuan meningkatkan kepercayaan diri peserta didik. Pelaksanaan konseling kelompok teknik. assertive training dilaksakan pada tanggal 03 agustus 2017

latihan asertif akan membantu peserta didik dalam meningkatkan hubungan interpersonal pesrta didik. Salah satu bentuk hubungan interpersonal dapat terjalin dengan

Berdasarkan hasil penelitian konseling kelompok dengan teknik assertive training untuk meningkatkan konsep diri yang rendah pada peserta didik kelas VIII di SMP PGRI 6

training pada anak yang memiliki tingkat penyesuaian sosial yang rendah. Pengembangan riset psikologi yang dilakukan akan meningkatkan

Sedangkan latihan asertif pada dasarnya merupakan suatu strategi terapi dalam pendekatan perilaku yang digunakan untuk mengembangkan perilaku asertif pada seseorang