L.I.1 Memahami dan Menjelaskan Limfadenopati
L.O.1.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Limfadenopati L.O.1.2 Memahami dan Menjelaskan Etilogi Limfadenopati L.O.1.3 Memahami dan Menjelaskan Klasifikasi Limfadenopati L.O.1.4 Memahami dan Menjelaskan Manifestasi Klinis Limfadenopati L.I.2 Memahami dan Menjelaskan Patofisiologi Limfadenopati
L.I.1 Memahami dan Menjelaskan Limfadenopati
L.O.1.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Limfadenopati
Limfadenopati merupakan pembesaran kelenjar getah bening dengan ukurannlebih besar dari 1 cm.Kepustakaan lain mendefinisikan limfadenopati sebagai abnormalitas ukuran atau karakter kelenjar getah bening. Terabanya kelenjar getah bening supraklavikula, iliak, atau poplitea dengan ukuran berapa pun dan terabanya kelenjar epitroklear dengan ukuran lebih besar dari 5 mm merupakan keadaan abnormal. L.O.1.2 Memahami dan Menjelaskan Etiologi Limfadenopati
Banyak keadaan yang dapat menimbulkan limfadenopati. Keadaan-keadaan tersebut dapat diingat dengan mnemonik MIAMI: malignancies (keganasan), infections (infeksi), autoimmune disorders (kelainan autoimun), miscellaneous and unusual conditions (lain-lain dan kondisi tak-lazim), dan iatrogenic causes (sebab-sebab iatrogenik)
Penyebab Karateristik Diagnostik
Keganasan - Limfoma
- Leukimia - Sarkoma Kaposi - Neoplasma Kulit - Metastasis
Infeksi - Bruselosis
- Cat-scratch disease
- CMV
- HIV, infeksi primer - Limfogranuloma venereum
- Mononukleosis -Faringitis -Rubela -Tuberkulosis -Tularemia -Demam tifoid
Demam, keringat malam, penurunan
berat badan,
asimptomatik Memar, splenomegali Lesi kulit karakteristik Lesi kulit karakteristik Bervariasi tergantung tumor primer
Demam, menggigil, malaise
Demam, menggigil, atau asimptomatik
Hepatitis, pneumonitis, asimptomatik, infl uenza-like illness Nyeri, promiskuitas seksual Demam, malaise, splenomegali Demam, eksudat orofaringeal Ruam karakteristik, demam
Demam, keringat malam, hemoptisis, riwayat kontak
Demam, ulkus pada tempat gigitan
Demam, konstipasi,
Biopsi kelenjar
Pemeriksaan
hematologi, aspirasi sumsum tulang Biopsi lesi Biopsi lesi Biopsi
Kultur darah, serologi Diagnosis klinis, biopsi
Antibodi CMV, PCR
HIV RNA
Diagnosis klinis, titer MIF
Pemeriksaan hematologi,
Monospot, serologi EBV
Kultur tenggorokan Serologi
-Sifilis
-Hepatitis virus
Autoimun
- Lupus eritematosus sistemik
- Artritis rheumatoid
- Dermatomiositis
- Sindrom Sjogren
Lain-lain/kondisi tak-lazim - Penyakit Kawasaki
- Sarkoidosis
Iatrogenik - Serum sickness - Obat
diare, sakit kepala, nyeri perut, rose spot
Ruam, ulkus tanpa nyeri Demam, mual, muntah, diare, icterus, artritis, nefritis, anemia, ruam, penurunan berat badan Artitis simetris, kaku pada pagi hari, demam
Perubahan kulit, kelemahan otot proksimal Keratokonjungtivitis, gangguan ginjal, vasculitis
Demam, konjungtivitis, strawberry tongue
Perubahan kulit, dispnea, adenopati hilar
Demam, urtikaria, fatigue
Limfadenopati asimptomatik
Kultur darah, serologi
Kultur darah, kultur sumsum tulang Rapid plasma reagin Serologi hepatitis, uji fungsi hati
Klinis, ANA,ds DNA, LED, hematologi Klinis, radiologi, faktor reumatoid, LED, hematologi EMG, kreatin kinase serum, biopsi otot Uji Schimmer, biopsi bibir, LED,
hematologi
Kriteria klinis
ACE serum, foto
toraks, biopsi
paru/kelenjar hilus
Klinis, kadar
komplemen Penghentian obat Obat – obat yang dapat menyebabkan limfadenopati antara lain allopurinol, atenolol,
kaptopril, karbamazepi, emas, hidralazin, penisilin, fenitoin, pirimidon, pirimetamin, kuinidin, trimetoprimsulfametoksazol, sulindak.
Penyebab limfadenopati yang jarang dapat disingkat menjadi SHAK • Silikosis/beriliosis
• Sarkoidosis
• Storage disease: penyakit Gaucher, penyakit Niemann Pick, penyakit Fabry, penyakiT Tangier
• Hipertiroidisme • Histiositosis X
• Hipertrigliseridemia berat
• Hiperplasia angiofolikular: penyakit Castelman • Limfadenopati angioimunoblastik
• Penyakit Kawasaki • Limfadenitis Kikuchi • Penyakit Kimura
Penyakit Kawasaki
diketahui. Biasanya bersifat swasirna (self- limiting) dengan manifestasi inflamasi lain yang berlangsung kurang lebih 12 hari. Dapat terjadi komplikasi berupa aneurisma arteri koroner, kardiomiopati, gagal jantung, infark miokard, aritmia, dan oklusi arteri perifer.
Limfadenitis Kikuchi
Limfadenitis Kikuchi, disebut juga penyakit Kikuchi, penyakit Kikuchi-Fujimoto, atau limfadenitis nekrotikans histiositik Kikuchi, merupakan limfadenopati jinak yang penyebabnya tidak diketahui dengan karakteristik limfadenopati servikal dan demam. Penyebabnya diduga merupakan respons limfosit T dan histiosit terhadap infeksi. Infeksi yang diduga menjadi penyebab meliputi Epstein Barr virus (EBV), human herpesvirus 6, human herpesvirus 8, human immunodeficiency virus (HIV), parvovirus B19, paramyxoviruses, parainfluenza virus, Yersinia enterocolitica, dan toksoplasma.
Penyakit Kimura
Merupakan kelainan alergi inflamatorik dengan penyebab tidak diketahui; penyakit endemik di Asia. Penyakit Kimura merupakan keadaan yang jinak, tetapi dapat disalahtafsirkan sebagai keganasan. Gambaran klinisnya berupa nodul subkutan di daerah servikal disertai limfadenopati servikal dan/ atau pembesaran kelenjar parotis. Manifestasi sistemik hanya berupa keterlibatan ginjal. Disebut juga limfogranuloma eosinofilik.
Lokasi limfadenopati
Limfadenopati daerah kepala dan leher Kelenjar getah bening servikal teraba pada sebagian besar anak, tetapi ditemukan juga pada 56% orang dewasa. Penyebab utama limfadenopati servikal adalah infeksi; pada anak, umumnya berupa infeksi virus akut yang swasirna. Pada infeksi mikobakterium atipikal, cat-scratch disease,
toksoplasmosis, limfadenitis Kikuchi, sarkoidosis, dan penyakit Kawasaki, limfadenopati dapat berlangsung selama beberapa bulan. Limfadenopati supraklavikula kemungkinan besar (54%- 85%) disebabkan oleh keganasan.3 Kelenjar getah bening servikal yang mengalami inflamasi dalam beberapa hari, kemudian berfluktuasi (terutama pada anak-anak) khas untuk limfadenopati akibat infeksi stafilokokus dan streptokokus.1 Kelenjar getah bening servikal yang berfluktuasi dalam beberapa minggu sampai beberapa bulan tanpa tanda-tanda inflamasi atau nyeri yang signifikan merupakan petunjuk infeksi mikobakterium, mikobakterium atipikal atau Bartonella henselae (penyebab cat scratch disease).1
Kelenjar getah bening servikal yang keras, terutama pada orang usia lanjut dan perokok menunjukkan metastasis keganasan kepala dan leher (orofaring, nasofaring, laring, tiroid, dan esofagus).1 Limfadenopati servikal merupakan manifestasi limfadenitis tuberkulosa yang paling sering (63-77% kasus), disebut skrofula. Kelainan ini dapat juga disebabkan oleh mikobakterium non- tuberkulosa.9 Limfadenopati epitroklear
Terabanya kelenjar getah bening epitroklear selalu patologis. Penyebabnya meliputi infeksi di lengan bawah atau tangan, limfoma, sarkoidosis, tularemia, dan sifilis sekunder.
Limfadenopati aksila
dapat disebabkan oleh limfoma atau melanoma di ekstremitas, yang bermetastasis ke kelenjar getah bening ipsilateral.3
Limfadenopati supraklavikula
Limfadenopati supraklavikula mempunyai keterkaitan erat dengan keganasan. Pada penelitian, keganasan ditemukan pada 34% dan 50% penderita. Risiko paling tinggi ditemukan pada penderita di atas usia 40 tahun.1 Limfadenopati supraklavikula kanan berhubungan dengan keganasan di mediastinum, paru, atau esofagus.
Limfadenopati supraklavikula kiri (nodus Virchow) berhubungan dengan keganasan abdominal (lambung, kandung empedu, pankreas, testis, ovarium, prostat).1 Limfadenopati inguinal
Limfadenopati inguinal sering ditemukan dengan ukuran 1-2 cm pada orang normal, terutama yang bekerja tanpa alas kaki. Limfadenopati reaktif yang jinak dan infeksi merupakan penyebab tersering limfadenopati inguinal. Limfadenopati inguinal jarang disebabkan oleh keganasan. Karsinoma sel skuamosa pada penis dan vulva, limfoma, serta melanoma dapat disertai limfadenopati inguinal. Limfadenopati inguinal ditemukan pada 58% penderita karsinoma penis atau uretra.3
Limfadenopati generalisata
Limfadenopati generalisata lebih sering disebabkan oleh infeksi serius, penyakit autoimun, dan keganasan, dibandingkan dengan limfadenopati lokalisata. Penyebab jinak pada anak adalah infeksi adenovirus. Limfadenopati generalisata dapat disebabkan oleh leukemia, limfoma, atau penyebaran kanker padat stadium lanjut. Limfadenopati generalisata pada penderita luluh imun (immunocompromised) dan AIDS dapat terjadi karena tahap awal infeksi HIV, tuberkulosis,
kriptokokosis,sitomegalovirus,toksoplasmosis, dan sarkoma Kaposi. Sarkoma Kaposi dapat bermanifestasi sebagai limfadenopati generalisata sebelum timbulnya lesi kulit.Kelompok kelenjar getah bening dan daerah drainasenya dapat dilihat pada gambar Lokasi kelenjar getah bening daerah leher dapatdibagimenjadi
level.Pembagian ini berguna untuk memperkirakan sumber keganasan primer yang mungkin bermetastasis ke kelenjar getah bening tersebut dan tindakan diseksi leher. L.O.1.3 Memahami dan Menjelaskan Klasifikasi Limfadenopati
Berdasarkan luas limfadenopati:
Generalisata: limfadenopati pada 2 atau lebih regio anatomi yang berbeda.3 Lokalisata: limfadenopati pada 1 regio.
Dari semua kasus pasien yang berobat ke sarana layanan kesehatan primer, sekitar 3/4 penderita datang dengan limfadenopati lokalisata dan 1/4 sisanya datang dengan limfadenopati generalisata
Limfadenopati generalisata yang persisten (persistent generalized lymphadenopathy/PGL) adalah limfadenopati pada beberapa kelenjar getah bening yang bertahan lama. PGL adalah gejala khusus infeksi HIV yang timbul pada lebih dari 50% Odha dan sering disebabkan oleh infeksi HIV sendiri. Batasan limfadenopati pada infeksi HIV adalah sbb.:
• Melibatkan sedikitnya dua kelompok kelenjar getah bening;
• Sedikitnya dua kelenjar yang simetris berdiameter lebih dari 1cm dalam setiap kelompok;
• Berlangsung lebih dari satu bulan; dan • Tidak ada infeksi lain yang menyebabkannya.
bawah, di ketiak serta di tempat lain, tidak termasuk kunci paha. Biasanya kulit pada kelenjar yang bengkak karena PGL akibat HIV tidak berwarna merah. Kelenjar yang bengkak kadang kala sulit dilihat, dan lebih mudah ditemukan melalui menyentuhnya. Biasanya kelenjar ini berukuran serupa kacang polong sampai buah anggur, dan bila diraba, merasa seperti buah anggur.PGL berkembang secara pelan dan mungkin dapat menghilang pada saat jumlah CD4 menurun menjelang 200. Kurang lebih 30% orang dengan PGL juga mengalami splenomegali (pembesaran limpa).
Level I
Sublevel I A (submental) Sublevel I B
(submandibular)
Kelenjar getah bening dalam batas segitiga antara m. digastrikus bagian anterior dan tulang hioid.
Kelompok ini mempunyai risiko metastasis keganasan dari dasar mulut, anterior lidah, anterior mandibula, bibir bawah
Kelenjar getah bening dalam batas m.digastrik bagian anterior, m. Stilohioid, dan mandibula.
Kelompok ini mempunyai risiko metastasis keganasan dari kavum oral, kavum nasal anterior, jaringan lunak wajah, dan glandula submandibularis.
Level II (jugular atas) Sublevel IIA Sublevel IIB
Kelenjar getah bening di antara vena jugularis interna 1/3 atas, nervus asesorius spinalis mulai dari basis kranii sampai bagian inferior tulang hioid.
Kelompok ini mempunyai risiko untuk metastasis keganasan dari kavum oral, kavum nasi, nasofaring, orofaring, hipofaring, laring, dan kelenjar parotis.
Terletak di bagian anterior nervus asesorius spinalis Terletak di bagian anterior nervus asesorius spinalis
Level III (jugular tengah)
Kelenjar getah bening di antara vena jugularis interna 1/3 tengah, mulai bagian inferior tulang hioid sampai bagian inferior kartilago krikoidea Kelompok ini mempunyai risiko metastasis keganasan dari kavum oral, nasofaring, orofaring, hipofaring, dan laring
Level IV (jugular bawah)
Kelenjar getah bening di antara vena jugularis interna 1/3 bawah, mulai bagian inferior kartilago krikoidea sampai klavikula Kelompok ini mempunyai risiko metastasis keganasan dari hipofaring, tiroid, esofagus bagian servikal, dan laring
Level V
(posterior triangle group)
Sublevel VA Sublevel VB
Kelenjar getah bening di sekitar nervus asesoris pertengahan bawah dan arteri servikal transversa
Kelompok ini mempunyai risiko metastasis keganasan dari nasofaring, orofaring, dan struktur kulit pada posterior kepala dan leher
Di atas batas inferior arkus krikoideus anterior, termasuk kelenjar asesoris spinal
Di bawah batas inferior arkus krikoideus anterior, termasuk kelenjar supraklavikula (kecuali nodus Virchow di level IV)
(anterior triangle group)
(suprasternal notch)
Kelompok ini mempunyai risiko untuk metastasis keganasan dari tiroid, laring bagian glotis dan subglotis, apeks sinus piriformis, dan esofagus bagian servikal
L.O.1.4 Memahami dan Menjelaskan Manifestasi Klinis Limfadenopati
Demam, nyeri tenggorokan dan batuk mengarahkan kepada penyebab infeksi saluran pernapasan bagian atas. Demam, keringat malam dan penurunan berat badan mengarahkan kepada infeksi tuberculosis atau keganasan. Demam yang tidak jelas penyebabnya, rasa lelah dan nyeri sendi meningkatkan kemungkinan oleh penyakit kolagen atau penyakit serum (serum sickness – di tambah riwayat obat – obatan atau produk darah). Adanya peradangan tonsil (amandel) sebelumnya mengarahkan kepada infeksi oleh streptococcus, luka lecet pada wajah atau leher atau tanda – tanda infeksi mengarahkan penyebab infeksi staphylococcus dan adanya infeksi gigi dan gusi juga dapat mengarahkan kepada infeksi bakteri anaerob. Transfusi darah sebelumnya dapat mengarahkan kepada cytomegalovirus, Epstein barr atau HIV. Adanya tenggorokan yang merah, bercak bercak putih pada tonsil, binti – bintik merah pada langit – langit mengarahkan infeksi oleh bakteri streptococcus. Adanya selaput pada dinding tenggorok, tonsil, langit – langit yang sulit di lepas dan bila di lepas berdarah, pembengkakan pada jaringan lunak leher ( bull neck ) mengarahkan kepada infeksi oleh bakteri difteri. Faringitis, ruam – ruam dan pembesaran limpa mengarahkan kepada infeksi Epstein barr virus. Adanya radang pada selaput mata dan bercak koplik mengarahkan kepada campak. Adanya pucat, bintik bintik pendaragan, memar yang tidak jelas penyebabnya dan pembesaran hati dan limpa mengarahkan kepada leukemia, kemerahan pada mata, peradangan pada tenggorok,
strawberry tongue, perubahan pada tangan dan kaki mengarahkan kepada penyakit Kawasaki.
L.I.2 Memahami dan Menjelaskan Patofisiologi Limfadenopati
Limfadenopati terjadi bila limfonodus lokak dan pembuluh darah mengalirkan materi terinfeksi, yang tertangkap dalam jaringan folikular nodus . Peningkatan aliran limfatik adalah karateristik dari inflamasi local. Bila terjadi inflamasi pembuluh limfatik. Sistem limfe membantu mempertahankan infeksi tetap terlokalisasi dan terisolasi dari aliran darah. Limfadenopati bisa di sebut juga pembesaran kelenjar limfe sebagai respons terhadap proliferasi limfosit T atau limfosit B.
L.I.3 Memahami dan Menjelaskan Diagnosis dan Diagnosis Banding Limfadenopati Anamnesis
• Umur penderita dan lamanya limfadenopati
Kemungkinan penyebab keganasan sangat rendah pada anak dan meningkat seiring bertambahnya usia. Kelenjar getah bening teraba pada periode neonatal dan sebagian besar anak sehat mempunyai kelenjar getah bening servikal, inguinal, dan aksila yang teraba. Sebagian besar penyebab limfadenopati pada anak adalah infeksi atau penyebab yang bersifat jinak. Berdasarkan sebuah laporan, dari 628 penderita yang menjalani biopsi karena limfadenopati, penyebab yang jinak dan swasirna (self-limiting) ditemukan pada 79% penderita berusia kurang dari 30 tahun, 59% penderita antara 31-50 tahun, dan 39% penderita di atas 50 tahun.3
Di sarana layanan kesehatan primer, penderita berusia 40 tahun atau lebih dengan limfadenopati mempunyai risiko keganasan sekitar 4%. Pada usia di bawah 40 tahun, risiko keganasan sebagai penyebab limfadenopati sebesar 0,4%.2 Limfadenopati yang berlangsung kurang dari 2 minggu atau lebih dari 1 tahun tanpa progresivitas ukuran mempunyai kemungkinan sangat kecil bahwa etiologinya adalah keganasan.3
• Pajanan
limfadenopati persisten. Pajanan setelah bepergian dan riwayat vaksinasi penting diketahui karena dapat berkaitan dengan limfadenopati persisten, seperti tuberkulosis, tripanosomiasis, scrub typhus,
leishmaniasis, tularemia, bruselosis, sampar, dan anthrax. Pajanan rokok, alkohol, dan radiasi
ultraviolet dapat berhubungan dengan metastasis karsinoma organ dalam, kanker kepala dan leher, atau kanker kulit. Pajanan silikon dan berilium dapat menimbulkan limfadenopati. Riwayat kontak seksual penting dalam menentukan penyebab limfadenopati inguinal dan servikal yang ditransmisikan secara seksual. Penderita acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) mempunyai beberapa kemungkinan penyebab limfadenopati; risiko keganasan, seperti sarkoma Kaposi dan limfoma maligna non-Hodgkin meningkat pada kelompok ini. Riwayat keganasan pada keluarga, seperti kanker payudara atau familial dysplastic nevus syndrome dan melanoma, dapat membantu menduga penyebab limfadenopati.3 • Gejala yang menyertai
Gejala konstitusi, seperti fatigue, malaise, dan demam, sering menyertai limfadenopati servikal dan limfositosis atipikal pada sindrom mononukleosis. Demam, keringat malam, dan penurunan berat badan lebih dari 10% dapat merupakan gejala limfoma B symptom. Pada limfoma Hodgkin, B symptom
didapatkan pada 8% penderita stadium I dan 68% penderita stadium IV. B symptom juga didapatkan pada 10% penderita limfoma non-Hodgkin. Gejala artralgia, kelemahan otot, atau ruam dapat menunjukkan kemungkinan adanya penyakit autoimun, seperti artritis reumatoid, lupus eritematosus, atau dermatomiositis. Nyeri pada limfadenopati setelah penggunaan alkohol merupakan hal yang jarang, tetapi spesifik untuk limfoma Hodgkin.
Pemeriksaan Fisik
• Karakter dan ukuran kelenjar getah bening
Kelenjar getah bening yang keras dan tidak nyeri meningkatkan kemungkinan penyebab keganasan atau penyakit granulomatosa. Limfoma Hodgkin tipe sklerosa nodular mempunyai karakteristik terfiksasi dan terlokalisasi dengan konsistensi kenyal. Limfadenopati karena virus mempunyai karakteristik bilateral, dapat digerakkan, tidak nyeri, dan berbatas tegas. Limfadenopati dengan konsistensi lunak dan nyeri biasanya disebabkan oleh inflamasi karena infeksi. Pada kasus yang jarang, limfadenopati yang nyeri disebabkan oleh perdarahan pada kelenjar yang nekrotik atau tekanan dari kapsul kelenjar karena ekspansi tumor yang cepat.3
Pada umumnya, kelenjar getah bening normal berukuran sampai diameter 1 cm, tetapi beberapa penulis menyatakan bahwa kelenjar epitroklear lebih dari 0,5 cm atau kelenjar getah bening inguinal lebih dari 1,5 cm merupakan hal abnormal. Terdapat laporan bahwa pada 213 penderita dewasa, tidak ada keganasan pada penderita dengan ukuran kelenjar di bawah 1 cm, keganasan ditemukan pada 8% penderita dengan ukuran kelenjar 1-2,25 cm dan pada 38% penderita dengan ukuran kelenjar di atas 2,25 cm. Pada anak, kelenjar getah bening berukuran lebih besar dari 2 cm disertai gambaran radiologi toraks abnormal tanpa adanya gejala kelainan telinga, hidung, dan tenggorokan merupakan gambaran prediktif untuk penyakit granulomatosa (tuberkulosis, cat- scratch disease, atau sarkoidosis) atau kanker (terutama limfoma).2 Tidak ada ketentuan pasti mengenai batas ukuran kelenjar yang menjadi tanda kecurigaan keganasan. Ada laporan bahwa ukuran kelenjar maksimum 2 cm dan 1,5 cm merupakan batas ukuran yang memerlukan evaluasi lebih lanjut untuk menentukan ada tidaknya keganasan dan penyakit granulomatosa.
Kesulitan diagnosis adalah jika anamnesis dan pemeriksaan fisik tidak mengarah pada diagnosis tertentu yang dapat dilanjutkan dengan uji spesifik. Tidak ada bukti yang mendukung manfaat pemberian antibiotik atau steroid pada keadaan ini, bahkan sebaiknya dihindari karena akan mengaburkan atau memperlambat diagnosis. Belum terdapat kesepakatan lama observasi yang diperlukan pada keadaan limfadenopati yang tidak diketahui penyebabnya. Beberapa ahli
merekomendasikan perlunya evaluasi lebih spesifik atau biopsi pada limfadenopati noninguinal yang tidak diketahui penyebabnya dan berlangsunglebihdari1 bulan.
Diagnosis ditegakkan bila terdapat demam >5 hari dengan minimal 4 dari 5 gejala berikut: Injeksi konjungtiva bulbar bilateral
Perubahan membran mukosa oral (fisura dan kemerahan pada bibir, faring,
• Perubahan pada ekstremitas (eritema telapak tangan dan kaki, edema tangan dan kaki pada fase akut, dan deskuamasi periungual pada fase konvalesen) Ruam polimorfik
Limfadenopati servikal (minimal 1 kelenjar dengan diameter >1,5 cm).
Diagnosis Banding
Benjolan di leher sering kali di salah artikan sebagai limfadenopati : Gondongan : pembesaran kelenjar parotis akibat infeksi virus
Kista ductus thyroglosuss : berada di garis tengah dan bergerak dengan menelan Kista dermoid : benjolan di garis tengah dapat padat atau berisi cairan
Hemangioma : kelainan pembuluh darah sehingga timbul benjolan berisi jalinan pembuluh darah
L.I.1.4 Memahami dan Menjelaskan Penatalaksanaan Limfadenopati
Penatalaksanaan limfadenopati di dasarkan pada etiologi. Banyak limfadenopati yang dapat sembuh dengan sendiri. Biopsi di lakukan bila terdapat tanda dan gejala yang mengarah pada keganasan dan pada pembesaran yang menetap.
Limfadenopati pada adanak – anak biasanya di sebabkan oleh virus dan sembuh sendiri, walaupun pembesaran dapat berlangsung mingguan. Pengobatan pada limfadenitis adalah antibiotic oral 10 hari dengan pemantauan dalam 2 hari pertama flucloxacillin 26 mg/kg BB empat kali sehari. Bila ada reaksi alergi terhadap antibiotic golongan peneisilin dapa diberikan cephalexin 25 mg/kg BB ( sampai dengan 500 mg) tiga kali sehari atau eritromisin 15 mg/kg BB ( sampai dengan 500 mg ) tiga kali sehari. Bila penyebab limfadenopat adalah mycobacterium tuberculosis maka di berikan obat anti tuberculosis selama 9 – 12 bulan. Bila di sebabkan mycobacterium selain tuberculosis maka memerlukan
pengangkatan KGB yang terinfeksi atau bila pembedahan tidak memungkinkan atau tidak maksimal di berikan antibiotic golongan makrolida dan anti mycobacterium.
Biopsi kelenjar
Jika diputuskan tindakan biopsi, idealnya dilakukan pada kelenjar yang paling besar, paling dicurigai, dan paling mudah diakses dengan pertimbangan nilai diagnostiknya. Kelenjar getah bening inguinal mempunyai nilai diagnostik paling rendah. Kelenjar getah bening supraklavikular mempunyai nilai diagnostik paling tinggi. Meskipun teknik pewarnaan imunohistokimia dapat meningkatkan sensitivitas dan spesifisitas biopsi aspirasi jarum halus, biopsi eksisi tetap merupakan prosedur diagnostik terpilih. Adanya gambaran arsitektur kelenjar pada biopsi merupakan hal yang penting untuk diagnostik yang tepat, terutama untuk membedakan limfoma dengan hiperplasia reaktif yang jinak.3