• Tidak ada hasil yang ditemukan

RABUN DEKAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "RABUN DEKAT"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

RABUN DEKAT (HIPERMETROPIA)

Definisi

HIPERMETROPIA adalah suatu kondisi ketika kemampuan refraktif mata terlalu lemah yang menyebabkan sinar yang sejajar dengan sumbu mata tanpa akomodasi difokuskan di belakang retina. Gangguan ini terjadi pada diameter anteroposterior bola mata yang pendek sehingga jarak antara lensa dan retina juga pendek dan sinar difokuskan di belakang retina. Hal ini menyebabkan kesulitan melihat objek dekat dan disebut farsightedness atau hyperopia (Indriani Istiqomah, 2004 : 205).

Hipermetropi adalah cacat mata yang disebabkan oleh lensa mata terlalu pipih sehingga bayangan dari benda yang dekat jatuh dibelakang retina. Hipermetropi disebut pula juga rabun dekat, karena tidak dapat melihat benda yang jaraknya dekat. Penderita hipermetropi hanya mampu melihat jelas benda yang jauh. Untuk menolong penderita hipermetropi, dipakai kacamata lensa cembung (lensa positif). (Abdullah, Mikrajuddin, dkk, 2007. IPA Terpadu SMP dan MTS.Tanpa Kota. ESIS, 87-88).

Hipermetropi atau rabun dekat merupakan keadaan gangguan kekuatan pembiasan mata dimana sinar sejajar jauh tidak cukup dibiaskan sehingga titik fokusnya terletak dibelakang retina. Pada hipermetropia sinar sejajar difokuskan di belakang makula lutea (Sidarta Ilyas, 2010 : 78).

Hipermetropia dapat disebabkan :

a. Hipermetropia sumbu atau hipermetropia aksial merupakan kelainan refraksi akibat bola mata pendek, atau sumbu anteroposterior yang pendek.

b. Hipermetropia kurvatur, dimana kelengkungan kornea atau lensa kurang sehingga bayangan difokuskan di belakang retina

c. Hipermetropia refraktif, dimana terdapat indeks bias kurang pada sistem optik mata (Sidarta Ilyas, 2010 : 78).

Klasifikasi Hipermetropia

Hipermetropi dikenal dalam bentuk : a. hipermetropia manifes

ialah hipermetropia yang dapat dikoreksi dengan kacamata positif maksimal yang memberikan tajam penglihatan normal. Hipermetropia ini terdiri atas hipermetropia absolute ditambah dengan hipermetropia fakultatif. Hipermetropia

(2)

manifest didapatkan tanpa sikloplegik dan hipermetropia yang dapat dilihat dengan koreksi kacamata maksimal.

b. hipermeropia absolut

dimana kelainan refraksi tidak diimbangi dengan akomodasi dan memerlukan kacamata positif untuk melihat jauh. Biasanya hipermetropia laten yang ada berakhir dengan hipermetropia absolute ini. Hipermetropia manifes yang tidak memakai tenaga akomodasi sama sekali disebut sebagai hipermetropia absolute, sehingga jumlah hipermetropia fakultatif dengan hipermetropia absolute adalah hipermetropia manifes. c. hipermetropia fakultatif

dimana kelainan hipermetropia dengan diimbangi dengan akomodasi ataupun dengan kaca mata positif. Pasien yang hanya mempunyai hipermetropi fakultatif akan melihat normal tanpa kaca mata positif yang memberikan penglihatan normal maka otot akomodasinya akan mendapatkan istirahat. Hipermetropia manifest yang masih memakai tenaga akomodasi disebut sebagai hipermetropia fakultatif.

d. hipermetropia laten

dimana kelainan hipermetropia tanpa sikloplegia (atau dengan obat yang melemahkan akomodasi) diimbangi seluruhnya dengan akomodasi. Hipermetropia laten hanya dapat diukur bila diberikan sikloplegia. Makin muda makin besar komponen hipermetropia laten seseorang. Makin tua seseorang akan terjadi kelemahan akomodasi sehingga hipermetropia laten menjadi hipermetropia fakultatif dan kemudian akan menjadi hipermetropia absolut. Hipermetropia laten sehari-hari diatasi pasien dengan akomodasi terus-menerus, terutama bila pasien masih muda dan daya akomodasinya masih kuat.

e. hipermetropia total

hipermetropia yang ukurannya didapatkan sesudah diberikan sikloplegia. (Sidarta Ilyas, 2010 : 78-79).

Patofisiologi

Sumbu utama bola mata yang terlalu pendek, daya pembiasan bola mata yang terlalu lemah, kelengkungan kornea dan lensa tidak adekuat perubahan posisi lensa dapat menyebapkan sinar yang masuk dalam mata jatuh di belakang retina sehingga penglihatan dekat jadi terganggu (Sidarta Ilyas, 2010 : 78-79).

Komplikasi

Penyulit yang dapat terjadi pada pasien dengan hipermetropia adalah esotropia dan glaukoma. Esotropia atau juling ke dalam dapat terjadi akibat pasien selamanya melakukan akomodasi. Glaukoma sekunder terjadi akibat hipertrofi otot siliar pada badan siliar yang akan mempersempit sudut bilik mata (Sidarta Ilyas, 2010 : 81).

Gejala

Gejala yang ditemukan pada hipermetropia adalah penglihatan dekat dan jauh kabur, sakit kepala, silau, dan kadang rasa juling atau lihat ganda. Pasien hipermetropia sering disebut sebagai pasien rabun dekat.

Pasien dengan hipermetropia apapun penyebabnya akan mengeluh matanya lelah dan sakit karena terus menerus harus berakomodasi untuk melihat atau memfokuskan

(3)

bayangan yang terletak di belakang makula agar terletak di daerah makula lutea. Keadaan ini disebut astenopia akomodatif. Akibat terus menerus berakomodasi, maka bola mata bersama-sama melakukan konvergasi dan mata akan seering terlihat mempunyai kedudukan esotropia atau juling ke dalam (Sidarta Ilyas, 2010 : 79).

Gejala klinis hipermetropia : a. subjektif :

1) kabur bila melihat dekat

2) mata cepat lelah, berair, sering mengantuk dan sakit kepala (astenopia akomodatif).

b. objektif :

1) pupil agak miosis

2) bilik mata depan lebih dangkal (Indriani Istiqomah, 2004 : 206).

Pengobatan

Pengobatan hipermetropia adalah diberikan koreksi hipermetropia manifes dimana tanpa sikloplegia didapatkan ukuran lensa positif maksimal yang memberikan tajaman penglihatan normal.

Bila terdapat juling ke dalam atau esotropia diberikan kacamata koreksi hipermetropia total. Bila terdapat tanda atau bakat juling keluar (eksoforia) maka diberikan kacamata koreksi positif kurang.

Pada pasien dengan hipermetropia sebaiknya diberikan kacamata sferis positif terkuat atau lensa positif terbesar yang masih memberikan tajam penglihatan maksimal. Bila pasien dengan + 3.0 ataupun dengan + 3.25 memberikan ketajaman penglihatan 6/6, maka diberikan kacamata + 3.25. Hal ini untuk memberikan istirahat pada mata. Pada pasien dimana akomodasi masih sangat kuat atau pada anak-anak, maka sebaiknya pemeriksaan dilakukan dengan memberikan sikloplegik atau melumpuhkan otot akomodasi. Dengan melumpuhkan otot akomodasi, maka pasien akan mendapatkan koreksi kacamata dengan mata yang istirahat.

Pada pasien muda dengan hipermetropia tidak akan memberikan keluhan karena matanya masih masih mampu melalukan akomodasi kuat untuk melihat benda dengan jelas. Pada pasien dengan banyak membaca atau mempergunakan matanya, terutama pada pasien yang telah lanjut, akan memberikan keluhan kelelahan setelah membaca. Keluhan tersebut berupa sakit kepala, mata terasa pedas dan tertekan.

Pada pasien ini diberikan kacamata sferis positif terkuat yang memberikan penglihatan maksimal.

Penyulit yang dapat terjadi pada pasien dengan hipermetropia adalah esotropia dan glaucoma. Estropia atau juling ke dalam terjadi akibat pasien selamanya melakukan akomodasi. Glaukoma sekunder terjadi akibat hipertrofi otot silisr pada badan siliar yang akan mempersempit sudut bilik mata. (Sidarta Ilyas, 2010 : 80-81).

Sumber :

http://cupdate1.blogspot.com/2014/10/askep-hipermetropia.html

Referensi

Dokumen terkait

Salah satu komplikasi bedah katarak adalah dapat mempengaruhi kelengkungan kornea (selaput bening mata), dimana kelengkungan kornea ini jika bertambah dapat menyebabkan

kornea, panjang bola, bilik mata depan dan posisi lensa intra okuler di dalam mata.. PENGUKURAN

(kornea, humor akuos,lensa, badan kaca)  kemudian sinar dipusatkan di retina  bayangan akan diteruskan ke otak melalui saraf penglihatan.  Bila terdapat kelainan

(14) Pesakit yang mempunyai pengukuran kuasa pembiasan kornea yan tidak stabil (radius kelengkungan) atau gambar Meyer yang tidak teratur (astigmatisme tidak teratur).

Fokus utama dari lensa tipis dengan permukaan bola adalah titik F di mana sinar yang sejajar dan berada dekat pada sumbu utama (sumbu x), terpusatkan; titik fokus ini

Bila terdapat kelainan pembiasan sinar oleh kornea (mendatar, mencembung) atau adanya perubahan panjang (lebih panjang, oleh kornea (mendatar, mencembung) atau adanya

Lensa kontak adalah penutup dari kaca atau plastik yang melengkung digunakan langsung diatas bola mata atau kornea mata untuk memperbaiki kesalahn refraksi mata (Anderson,

Nanoftalmia memiliki gejala khas yaitu hyperopia yang tinggi, panjang aksial bola mata yang pendek, kornea yang datar, rasio lensa-mata yang tinggi dan bilik mata depan yang